Kategori: Uncategorized

  • Keunggulan Grammar

    Keunggulan Grammar

    1. Keputusan para pelajar sekolah mengikuti kelas grammar (tata bahasa) di Rumah Belajar Bersama (RBB) cukup mengagetkan karena kurikulum sekolah sekarang tidak membahas materi tersebut secara mendalam. Pada awal kedatangan, mereka tidak tahu sama sekali pembagian Bahasa Inggris mencakup speaking, listening, reading and pronunciation (Bicara, Mendengarkan, Membaca, dan Pengucapan). Alasan utama memilih kelas grammar karena mereka ingin pandai menjawab soal-soal sekolah.

    “Gampang sekali ujian semester sekolah”, kata seorang pelajar SMP yang didukung oleh pelajar SMA yang baru saja ujian kenaikan kelas. Mereka tahu cara menjawab sesuai kaidah tata bahasa. Lalu, bagaimana mereka mengerti soal-soal bacaan? Grammar yang diajarkan RBB juga membantu menjawab soal-soal dalam bentuk bacaan. Malahan, pelajar juga dilatih menjawab persoalan grammar menjadi suatu teks cerita panjang atau artikel sederhana.

    Fenomena serupa juga dialami pelajar lainnya. Di RBB, beberapa orang pelajar SMP dan SMA yang telah tamat Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar) melanjutkan ke buku Pre-Intermediate. Itu berarti mereka memperoleh manfaat sehingga mendalami grammar lebih detail. Pelajaran sekolah diangggap biasa karena tidak sering dibahas. Justru, pembahasan yang sering mereka diskusikan adalah tantangan soal-soal yang diberikan oleh Agung Pratama Salassa, guru grammar di RBB.

    Tapi, menjadi penganut grammar punya masalah juga. Mereka yang keasyikan ribuan soal tanpa rajin praktik speaking (bicara) kewalahan berkomunikasi. Itu adalah konsekuensi karena pilihannya hanya kelas grammar saja. Strategi penyelamatan dibuat dengan mengajak mereka membaca dengan suara nyaring pada hasil latihannya. Dengan demikian, meskipun sedikit, setidaknya mereka dapat pengantar pelajaran Reading dan Pronunciation serta beberapa bagian pada speaking yang berpola grammar. Kemampuannya dalam hal ini relatif biasa saja karena itu memang bukan tujuan utama mereka.

    Bila menggali lebih jauh, para grammarian yang juga ikut kelas Reading dan Speaking, memiliki kemampuan berbicara sesuai standar internasional. Penyampaiannya tidak hanya tertata rapi dan hemat kata tapi juga padat makna dan mudah dimengerti. Otak mereka sudah terlatih untuk mengungkapkan pernyataan yang benar agar lawan bicaranya dapat dengan cepat tahu maksudnya.

    Keunggulan lain yang diperoleh adalah bekal untuk menjadi penulis. Pelajar yang mengetahui grammar pasti bisa menyusun kalimat yang rapi dan teratur. Tingkat kesalahannya relatif lebih rendah dibandingkan pelajar speaking dan lainnya karena mereka telah terlatih menggunakan logika dalam membolak-balik kata. Ini sangat berguna bagi orang yang aktif dalam dunia akademik.

    Di balik kelebihan dan kelemahan pelajar grammar, semua itu dapat dijadikan peluang untuk lebih ahli berbahasa Inggris dengan cara tetap menekuni grammar sembari mempelajari bagian lain dari pengetahuan tersedia pada Bahasa Inggris: speaking, listening, reading and pronunciation. Itu dapat dilakukan secara mandiri ataupun ikut bergabung di kelas belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 9 Juni 2026

  • Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    When nothing is impossible, impossibility is nothing. That is a thing without not (Ketika tidak ada yang mustahil, kemustahilan itu tidak ada. Begitulah kenyataannya, tanpa pengecualian). Ungkapan filosofis ini terpahat dalam pikiran saat penulis berdiskusi dengan Fathy Cayadi, guru Bahasa Inggris tingkat SMA, mengingatkan akan kebutuhan paling mendasar yang dihadapi para pelajar sekolah. Sebagai seorang pengajar berpengalaman, ia menjelaskan keunggulan dan kelemahan kurikulum yang berlaku saat ini.

    Penulis tertarik tidak membenturkan pemahaman Bahasa Inggris sekolah vs luar sekolah (pendidikan alternatif), melainkan mencari hal-hal yang belum atau tidak dikerjakan. Menurut Fathy, kurikulum SMA sudah tidak lagi mencantumkan listening (mendengarkan) pada UAN (Ujian Akhir Nasional), grammar (tata bahasa) sekadarnya saja, dan pronunciation (pengucapan) sama sekali tidak digubris. Malahan, jam belajar dipangkas empat jam menjadi tiga jam, sekali belajar dalam seminggu. Orang bisa melihat hal-hal tersebut masalah, namun diskusi itu bersepakat memanfaatkannya sebagai peluang untuk menggarapnya karena hal tersebut tetap penting dan bermanfaat.

    Pembicaraan kemudian mengarah pada strategi yang efektif untuk memahamkan pelajaran. Ciri khas yang menjadi keunggulan guru tetap dipertahankan sembari terus memperbarui dan mempertajam materi yang akan diajarkan. Berbagai literatur dari penulis asing yang diterapkan di universitas di luar negeri dibedah dan dibandingkan dengan kurikulum Indonesia dan kemudian disesuaikan dengan pelajaran yang sesuai konteks pelajar Indonesia. Prediksinya, materi tentu lebih padat ketika Fathy membumikan kegiatan mengajarnya di luar jam sekolah di Tanete.

    Pelajar SD, SMP, dan SMA akan dipersiapkan punya daya saing dengan memotivasi mereka mengikuti berbagai lomba pidato, debat, storytelling, dan lainnya, termasuk olimpiade Bahasa Inggris tingkat lokal, provinsi dan nasional. Dan bagi pelajar dan umum yang belum minat kompetisi, mereka dididik sesuai kebutuhannya hingga mempunyai skill (keterampilan) yang cukup untuk menghadapi dunia kerja yang mereka cita-citakan. Jadi keberagaman motivasi orang belajar bahasa Inggris dapat difasilitasi.

    Pikiran dan aksi untuk bergerak lebih cepat, maju dan terarah sesuai target tidaklah sulit bila hasil kesepakatan diskusi dikerjakan secara bersama-sama. Jam terbang pengajar pasti berpengaruh besar. Fathy telah lama mengajar di sekolah dan akrab dengan plus-minus kurikulum sekolah di Indonesia, kini akan menjadi bagian dari Rumah Belajar Bersama (RBB)–dikenal sebagai lembaga yang mengedepankan kualitas. Dengan modal tersebut, ia pasti punya “ramuan” mengajar yang lebih terbarukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 7 Juni 2026

  • Jebakan Cerdas

    Jebakan Cerdas

    Apa guna sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah? Untuk mengubah dan mengembangkan cara pandang. Apakah mengubah cara pandang bisa didapatkan tanpa sekolah? Bisa. Dengan apa? Dengan literasi.

    Bagaimana menggandengkan sekolah dengan literasi? Penulis pernah menyediakan ribuan buku dalam bentuk perpustakaan mini untuk mengajak para pemuda-pemudi untuk rajin membaca dan mendiskusikan hasil bacaan. Beberapa waktu gerakan ini dapat berjalan lancar namun seiring waktu, komunitas kecil tersebut bubar karena ada urusan yang dianggap lebih penting daripada kegiatan berwacana. Kendala yang ditemukan, buku yang menjadi kesepakatan bersama untuk dibahas tidak dibaca sehingga enggan untuk terlibat dalam diskusi yang mengharuskan mereka menjelaskan isi bacaan.

    Penulis berpikir bahwa menggerakkan pemuda-pemudi mengurusi persoalan intelektual memang berat, sedikit peminatnya atau tidak menemukan peminat yang tepat. Penulis mencoba beralih ke pelajar SMA dan SMP. Sama saja. Alasan tumpukan tugas sekolah membuat mereka tidak punya cukup waktu untuk membaca.

    Pilihan terakhir jatuh pada anak SD dan TK. Mereka yang suka bermain itu diajak duduk sejenak membaca buku cerita bergambar sambil bermain didampingi oleh guru. Ternyata, banyak anak-anak cilik yang antusias. Bagi mereka yang belum suka membaca diminta duduk dengan anak-anak lainnya yang sedang asyik membaca. Perlahan-lahan tapi pasti, mereka turut terpengaruh untuk mengambil dan membuka buku.

    Menyaksikan secara langsung minat baca yang hidup ini, penulis dan rekan-rekan pemerhati literasi mencoba menyediakan buku-buku anak-anak yang lebih lengkap dengan cara meminjam buku dari Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bulukumba. Perpusda tahu betul perjuangan Perpustakaan Rumah Belajar Bersama (RBB) dan meyakinkan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan untuk menyumbangkan buku ke RBB.

    Selain itu, RBB juga terdaftar di Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) lembaga non-profit didirikan oleh (Alm.) Kak Nirwan Ahmad Arsuka. Penulis ingat dimana Kak Nirwan yang langsung menghubungi penulis agar RBB masuk daftar PBI. Itu adalah sebuah kehormatan dan kenangan manis tersendiri diajak oleh tokoh utama literasi Indonesia yang mengabadikan hidupnya pada literasi.

    Penulis berterima kasih kepada Kakak senior Muhammad Ridwan Alimuddin, rekan akrab Kak Nirwan dan pendiri Perahu Pustaka yang menurut pengakuan Kak Nirwan bahwa karena berkat jasa Perahu Pustaka mengantarkan buku ke pulau-pulau terpencil, dirinya diundang oleh Presiden RI, menguatkan jejaring ini sekaligus merekatkan ingatan penulis sebagai sesama alumni mahasiswa Yogyakarta yang berada pada frekuensi yang sama.

    Agar tradisi literasi mengakar kuat, RBB membuka kelas Reading (Bacaan) pada kelas Bahasa Inggris. Secara otomatis, setiap kali pelajar datang, tugasnya adalah membaca. Setelah itu, mereka ditawarkan membaca dalam bahasa Indonesia.

    Karena peminat Bahasa Inggris mencakup SD, SMP, SMA, mahasiswa dan Umum, mereka mau tidak mau membaca buku cerita berbahasa Inggris. Bagaimana dengan pelajar yang memilih kelas Grammar and Speaking (Tata Bahasa dan Bicara)? Sama saja. Mereka semua punya buku yang wajib dibaca, dikerjakan latihannya dan dipraktekkan dalam bentuk bicara. Bahasa Inggris menjadi gerbang utama membuka literasi dan memperkenalkan perpustakaan yang lumayan kaya dengan beragam buku berbahasa Indonesia dan asing.

    Ayo isi liburan di Kampung Belajar. Belajar Bahasa Inggris secara intensif: 6 x pertemuan tiap hari, 180 jam dalam sebulan dari 15 Juni – 10 Juli 2026.

    Tantangan super berat mengatasi kebuntuan menghidupkan gerakan literasi terjawab dengan terus menghadapi masalah hingga pada satu titik sebuah sistem seperti di atas dapat diwujudkan. Pada akhirnya, berbagai macam kalangan baik yang sekolah ataupun sudah tidak sekolah dapat memperkaya khazanah pemikiran untuk mengembangkan dan mengubah cara pandang yang membuatnya bisa memilih jalan yang tepat sesuai dengan alur kehidupannya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 6 Juni, 2026

  • The Dream of Bulukumba Students to See the World

    The Dream of Bulukumba Students to See the World

    It was a very surprising day for the students. Victor from Spain and Jessica from France visited an English class. The students whispered to each other because they were curious to know. Then, they sat at the same table with Victor and Jessica.

    In the classroom, Mr. Agung Pratama Salassa, the English teacher, welcomed the guests warmly. He told the guests that most of his students were children and teenagers. After that, they all started a simple conversation. Apart from a few words, most students hoped to get questions, and the two foreigners thought the same. The room was quiet for a moment. Then, Jessica broke the silence with her friendly personality. She greeted some students, and they answered in the same. The atmosphere became closer and warmer.

    Soon after that, Lulu, a recent high school graduate got some questions. She used this valuable chance to speak as best as she could. She talked about her dream to study in the United States or Japan. To study at a top university and join the world community, Lulu is learning English and Japanese. She also learned Mandarin before. Some of her family members are also learning foreign languages at Rumah RBB (Rumah Belajar Bersama) where she is learning English now. Her elder cousin, Lala, is teaching at an international school in Bali now. Lala is the close family example that Lulu wants to follow. Lala is one of the important persons who has inspired her to learn foreign languages.

    “Wow, that is amazing family”, Jessica said and Victor agreed. Jessica asked more questions. “Is Japanese language difficult?”, Jessica asked. “No”, Lulu answered. “I have learned Mandarin before. It is similar to Japanese”, she added confidently.

    Jessica and Lulu

    In short, from this good understanding, Jessica and Victor saw that the 19-year-old girl did not just have big dreams but also made a real effort. This meeting made Lulu very happy. She smiled because the guests could understand her words, even though she is still at the Basic English level at RBB.

    Try to talk with children

    Other students at the same level also wanted to speak. However, they understood that the two kind foreign guests were the visitors of Kak Aris Irfan—the Head of Cahaya Bone of Kalla Travel and the Owner of Villa Malomo. It was time for them to leave Bulukumba and go to Bira, their main destination. Moreover, Kak Irfan and his beloved wife had been waiting patiently for a long time. Therefore, the students quickly took some pictures together as memories of this inspiring meeting which almost ended.

    Kak Rani, a teacher of learning to read, write and Math for kids and Mademoiselle Jessica.

    Kak Irfan did a great thing. He supported local Indonesian students to be brave and speak English with foreigners. To Kak Irfan, Mademoiselle Jessica, and Señor Victor, all of us in informal education thank you very much for your kindness. Because of you all, this unpredictable, unimaginable and valuable meeting came true.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Friday, June 5, 2026

  • Mimpi Pelajar Bulukumba Menembus Dunia

    Mimpi Pelajar Bulukumba Menembus Dunia

    Sebuah pertemuan yang cukup mengagetkan bagi para pelajar ketika Victor dari Spanyol dan Jessica dari Prancis mengunjungi kelas belajar. Para pelajar saling berbisik untuk menjawab rasa penasarannya. Mereka semua kemudian diajak duduk satu meja bersama Victor dan Jessica.

    Saat berada di dalam ruang kelas, Mr. Agung Pratama Salassa, guru Bahasa Inggris, menyambut dengan penuh ramah tamah dan memberikan pengantar tentang para pelajarnya yang mayoritas oleh anak anak dan remaja itu. Setelah itu para pelajar diajak untuk berdialog. Wah! Sebagian besar berharap mendapatkan pertanyaan dan dua orang bule itu pun berpikir sama. Diam sejenak. Keheningan terpecahkan melalui kepandaian bergaul Jessica. Ia menyapa beberapa orang dan mendapatkan balasan dalam Bahasa Inggris. Suasana terlihat lebih akrab.

    Tak berselang lama, Lulu yang telah tamat SMA mendapatkan beberapa pertanyaan. Ia yang kesempatan berharga tersebut memanfaatkan diri untuk berbicara sebaik yang ia bisa dengan menceritakan keinginannya berkuliah di Amerika Serikat atau Jepang.

    Untuk bisa kuliah di universitas terbaik dan turut aktif dalam pergaulan dunia, Lulu sedang belajar Bahasa Inggris dan Jepang. Ia juga pernah belajar Bahasa Mandarin. Beberapa orang keluarganya pun belajar bahasa asing di RBB, tempat dimana ia belajar Bahasa Inggris. Tak lupa, Lala, sepupunya Lulu, yang kini mengajar di sekolah Internasional di Bali adalah contoh keluarga dekat yang ia ingin ikuti jejaknya. Dari Lala, ia terinspirasi belajar bahasa asing.

    ‘Wow, keluarga yang luar biasa!”, ekspresi Jessica dalam Bahasa Inggris dan pernyataan itu didukung oleh Victor. Jessica mencoba mengecek lebih jauh. “Apakah Bahasa Jepang itu sulit?” tanya Jessica dalam Bahasa Inggris. “Tidak”, jawab Lulu. “Saya pernah belajar Bahasa Mandarin. Itu ada kemiripan dengan Bahasa Jepang”, tambahnya meyakinkan.

    Singkat kisah, dari obrolan santai tersebut, Jessica dan Victor membaca bahwa anak mudi sembilan belas tahun itu tidak sekedar punya mimpi dan cita-cita yang tinggi tapi juga usaha yang nyata. Mereka bertemu di kelas Bahasa Inggris. Terlihat dari ekspresi wajah Lulu senang mendapatkan sambutan hangat karena pembicaraannya dapat dimengerti betapapun ia masih di level Basic English di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Pelajar yang lain yang setara kemampuannya dengan Lulu tentu juga ingin ikut berbicara. Namun, mereka mengerti bahwa keduanya merupakan tamu Kak Aris Irfan–Pimpinan Cahaya Bone of Kalla Travel dan Owner Villa Malomo–yang sudah waktunya harus meninggalkan kota Bulukumba menuju Bira yang menjadi tujuan utama mereka. Terlebih lagi, Kak Irfan ditemani istrinya tercinta sudah cukup lama sabar menanti. Rekan-rekan pun sesegera mungkin berfoto bersama sebagai tanda akhir dan sekaligus kenangan dari pertemuan yang mencerdaskan ini.

    Apa yang dilakukan Kak Irfan sudah memberikan kontribusi besar mendukung kemajuan pelajar Indonesia di daerah untuk lebih berani dan aktif berbahasa Inggris dengan penutur asing. Kepada Kak Irfan, Mademoiselle Jessica dan Señor Victor, kami semua yang terlibat aktif dalam dunia pendidikan berterima kasih sedalam-dalamnya atas kebaikan hati kalian semua. Karena anda semua, pertemuan berharga yang tidak terbayangkan ini terlaksana.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 5 Juni 2026

  • Berebut Memimpin Kelas

    Berebut Memimpin Kelas

    Pelajaran Parts of the body (Bagian-Bagian dari Tubuh) adalah games yang sangat disukai anak-anak. Mereka tidak terlihat bosan dan terus membuat pertanyaan secara bergantian. Seorang pemimpin yang berdiri paling depan membuat pertanyaan, “What is the English word for nadi?” (Apa bahasa Inggris dari nadi?). Yang sanggup menjawab dengan benar berhak jadi pemimpin, sedangkan yang salah mundur ke baris paling belakang. Setiap orang berusaha menjawab benar, ingin memimpin.

    Anak-anak yang berada di dalam barisan juga saling berbisik. “Saya lupa Bahasa Inggrismya siku”. Rekannya memberitahukan, “elbow“, katanya. Dan ada pula yang mendatangi guru kelas menanyakan kosakata yang ia lupa.

    Cara belajar yang ini sangat efektif membuat anak-anak rajin bertanya tanpa diminta untuk bertanya. Diri mereka sendiri merasa butuh untuk mengetahui, bukan guru. Yang membuat games lebih seru adalah beberapa anak yang memimpin memberikan pertanyaan sulit agar mereka mempunyai kesempatan memimpin permainan lebih lama. Anak yang tidak mampu menjawab mempunyai rasa ingin tahu yang lebih tinggi dan berharap bisa menjawab untuk memimpin.

    Memperkenalkan kosakata dipraktekkan secara bersama-sama di kelas terlihat mengesankan. Tapi untuk membuat anak-anak lebih bergembira, games pilihan yang menyenangkan. Terdapat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan secara individu membuat anak tersebut sadar akan tingkat kemampuannya sendiri. Dan tentu saja, mereka tidak ingin selalu gagal dalam menjawab.

    Selain itu, ada kondisi dimana mereka bertindak selangkah lebih maju. Mereka bisa berkreasi sendiri membuat aturan permainan. Guru sekedar memperhatikan saja agar kelas berjalan efektif sambil tetap menyemangati dan mengingatkan kosakata yang membuat mereka gagal dalam menjawab.

    Games tentang Parts of the Body adalah contoh percakapan sederhana dalam mengasah keberanian berbicara Inggris. Ada tanya-jawab, rasa ingin tahu dan pelatihan kepemimpinan ala anak-anak.

    Apakah anak-anak bagian dari games belajar tersebut?

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 5 Juni 2026

  • Menyeimbangkan Mengaji dan Calistung

    Menyeimbangkan Mengaji dan Calistung

    Calistung (Baca Tulis dan Hitung) adalah sama pentingnya dengan mengaji. Kenapa? Karena menuntut ilmu itu adalah sebuah kewajiban, larangan menjadi bodoh. Ketika anak-anak sejak usia dini bisa belajar bacaan Arab dalam artian bahasa yang dipakai Al-Qur’an, mereka tidak boleh terlambat mengenal bahasa ibunya, Bahasa Indonesia.

    Kenapa Penting?
    Di SD, anak-anak yang terlambat tahu calistung akan merasa tidak percaya diri kepada rekannya yang telah pandai. Mereka terlambat memahami pelajaran. Ini akan memunculkan rasa malas untuk ke sekolah dan terpisah dari pergaulan anak sebayanya. Parahnya, mereka seringkali dicap bodoh, nakal dan stigma negatif lainnya dilekatkan padanya. Padahal, mereka tidak punya kesalahan. Mereka tidak tahu saja cara belajar calistung sederhana yang tepat seperti rekan-rekannya.

    Untuk menghindari stigma buruk tersebut, orang tua anak sangat perlu berperan aktif mendidik anaknya di rumah. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah tanggungjawab sekolah. Betul. Cuma saja, seorang guru mengelola sejumlah anak kecil dalam jumlah cukup besar yang isi kepalanya bermain dalam satu kelas bukan persoalan mudah. Waktu belajar anak kelas 1 dan 2 SD pun sangat terbatas.

    Pengalaman orang tua anak yang anak-anaknya cepat pintar membaca dan menulis patut dijadikan contoh. Mereka menyiapkan bahan pelajaran seperti gambar alphabet dan angka, buku bergambar dan papan belajar di rumah. Orang tua bermain bersama anaknya sehingga anak merasa akrab, tidak asing dengan dunia belajar.

    Ada juga yang berpikir praktis dengan cara memasukkan anaknya ke bimbingan belajar dengan alasan kesulitan mendidik di rumah atau sibuk. Pendekatan ini tidak salah karena ada solusi. Namun menyediakan bahan pelajaran di rumah yang sesuai kebutuhan anak akan membuat anak lebih sering melihat bahan pelajaran yang diajarkan di sekolah. Apa yang ada di sekolah juga ada di rumah.

    Di RBB (Rumah Belajar Bersama), beberapa anak yang duduk di kelas 3, 4 dan 5 SD bergabung belajar Baca Tulis dan Hitung. Itu sangat terlambat tapi masih lebih baik karena ada usaha penyelamatan. Selama jam belajar di RBB, mereka memaksimalkan diri berlatih membaca dan menulis dengan tekun melalui panduan guru yang berpengalaman, mengetahui pendekatan yang tepat. Tahap demi tahap dipelajari secara terstruktur. Setelah dididik, bagi anak-anak tanpa hambatan khusus, 3 sampai 4 bulan adalah waktu cukup lama untuk bisa lancar. Ternyata, masalah utamanya bukan karena anak-anak tersebut bodoh tapi karena mereka perlu menemukan lingkungan yang tepat untuk belajar.

    Pendidikan keluarga di rumah, sekolah dan lembaga pendidikan alternatif adalah pilihan yang hadir untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh anak-anak kita. Mengaji dan calistung adalah pengetahuan yang wajib kita terapkan pada anak usia dini agar terdapat keseimbangan antara pendidikan agama dan pengetahuan umum.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 4 Juni 2026

  • Ketagihan Belajar Tercipta

    Ketagihan Belajar Tercipta

    Tepat sesuai jadwal, pada jam 19.15 Wita kelas Reading (Membaca ) mulai. Anak-anak mengikuti listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) pada cerita “Help!”. Selain cara mendapatkan cara mengatur tinggi rendahnya suara, mereka juga tahu kapan menggunakannya pada kalimat yang tepat. Kemudian, mereka mengulangi praktik bacaan yang sama dengan bantuan guru. Suara mereka terdengar lebih kompak dan semarak.

    Sebenarnya, meskipun mereka sangat bersemangat, ternyata bacaan tersebut agak sulit dibaca dengan sempurna. Penulis yang bertindak sebagai pengajar langsung mengalihkan pelajaran pada lesson (pelajaran) yang lebih mudah, lesson 1 sampai 5. Mereka senang dan merasa tidak perlu bantuan sama sekali. Namun beberapa kesalahan kecil tetap penulis perbaiki di sela sela bacaannya. Misalnya, kata “with” mereka sebut “waith” dan “murderer’s” mereka sebut marderers.

    Pembiasaan reading ini akan punya pengaruh besar dalam speaking (bicara). Soalnya, salah ucap bisa salah makna, tafsir. Penguatannya mesti dilakukan sedini mungkin melalui pendekatan literasi agar mempunyai efek ganda: mampu mengenal tulisan Inggris dan bicara dengan benar. Itulah yang dibangun dalam dunia akademik.

    Karena pelajaran di atas cukup menyita energi yang besar, anak-anak diberikan kesenangan dengan keluar main. Saat masuk kelas lagi, pelajarannya tentang Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) sekitar 25 kotakata mulai dari neck (leher) sampai two thumbs up (dua jempol). Mereka suka mengunakan tubuhnya sendiri sebagai alat peraga.

    Kemudian, waktu keluar main diberikan lagi. “Hore”, sorak anak-anak.

    Pada akhir pelajaran, anak-anak mengusulkan games. Karena ingatan tentang Parts of the Body masih segar, soal tebakan dengan siapapun yang angkat tangan paling awal, dialah yang berhak menjawab. Games ini sangat seru sehingga guru sulit menentukan siapa yang paling cepat angkat tangan. Guru sering diprotes oleh anak yang merasa lebih dahulu angkat tangan tapi tidak mendapatkan kesempatan.

    Menghindari perdebatan lebih lanjut, guru meminta seorang sukarelawan yang khusus mengamati pelajar yang lebih dahulu angkat tangan sekaligus mengecek kebenaran jawaban. Faika bersedia mengambil peran tersebut dan diterima. Bagi anak-anak, itu lebih baik karena Faika sudah tahu jawaban, saingan berkurang. Games ini terus dimainkan hingga waktu jam belajar selesai, 20.45 Wita.

    Kombinasi belajar dengan pendekatan bermain dan literasi buku ini mempunyai daya tarik yang kuat. Anak-anak tidak bosan dan bahkan merasa belajar adalah dunia bermainnya. Wah, betapa indahnya kehidupan anak-anak yang kesehariannya belajar. Itu adalah lifestyle, bukan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 3 Juni 2026

  • Waktu dan Seni Menang dalam Kehidupan

    Waktu dan Seni Menang dalam Kehidupan

    Dalam kehidupan, manusia menjalani kehidupan seiring dengan perjalanan waktu. Manusia yang memanfaatkan waktu dengan baik akan jadi pemenang. Bagiamana cara memanfaatkan? Dengan cara menentukan cita-cita dalam hidup dan menggunakan waktu sebanyak mungkin dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

    Dilema Durasi dan Fokus Belajar
    Mari kita telaah sedikit lebih lanjut dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan alternatif, para guru dan pelajar belajar dalam waktu tertentu. Misal 90 menit dalam satu pertemuan. Kebanyakan orang biasanya bosan bila belajar penuh selama 90 menit tersebut. Itulah mengapa ada yang disebut jam istirahat sekitar 15 menit. Jadi waktu yang efektif belajar selama 75 menit. Sedangkan bagi para pelajar yang dewasa, mereka cenderung memanfaatkan waktu 90 menit tersebut dengan belajar tanpa istirahat.

    Pelajar sekolah yang cenderung mendapatkan perhatian yang lebih tinggi agar waktu belajarnya maksimal. Mereka datang belajar dengan membawa smartphone untuk bermain games. Waktu istirahatnya digunakan bermain games dan bila memasuki jam belajar, mereka masih saja bermain sambil pura-pura memperhatikan pelajaran, menaruh smartphone di bawah meja agar tidak dilihat oleh gurunya. Membiarkan kejadian seperti ini, itu sama saja menyia-nyiakan waktu. Mustahil mencetak pelajar yang punya pemahaman yang baik bila perhatian di games lebih banyak daripada pelajaran. Karena itu, tidak boleh ada smartphone selama jam belajar kecuali guru yang menganjurkan untuk penggunaan fasilitas belajar.

    Tantangan Gadget di Meja Belajar
    Yang perlu menjadi titik perhatian lainnya adalah waktu jam istirahat harus bisa konsisten. Pelajar yang anak-anak itu selalu ingin punya waktu bermain melebihi waktu yang diberikan. Guru perlu membuat beragam trik untuk mengajak mereka mau kembali ke dalam kelas agar jam belajar lebih banyak daripada jam bermain. Hal ini karena anak-anak masih belum terlalu mengerti pentingnya belajar sehingga mereka harus selalu diarahkan dan didampingi secara langsung.

    Menyangkut pemahaman terhadap suatu materi juga membutuhkan jangka waktu tertentu. Kendalanya terletak pada tingkat pemahaman pelajar, ada yang cepat dan ada juga yang lambat paham. Wajar saja bila tidak semua pelajar yang bisa tepat waktu. Untuk mengakali pelajar yang lambat memahami pelajaran, motivasi dan pendampingan yang lebih intens sebaiknya diberikan melalui review hingga benar-benar mengerti. Rekan pelajar yang lebih dahulu paham dapat diminta membantu. Semua orang yang berada di lingkungan belajar tersebut saling bahu-membahu memaksimalkan kecerdasannya terbagi kepada pelajar yang membutuhkan bantuan. Dengan demikian, semua bisa selesai sesuai waktu yang ditetapkan.

    Pilihan di Tangan Kita
    Kehidupan manusia itu singkat, berakhir dengan kematian. Perjalanannya dihiasi oleh warna-warni. Kita harus cerdas memilih warna yang tepat. Kesalahan dalam memilih melahirkan penyesalan. Masa yang telah berlalu tidak mungkin kembali lagi. Selama kita masih punya kesempatan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, itu adalah kesempatan terbaik memanfaatkan waktu yang tersisa.

    Apakah kita akan keluar sebagai pemenang atau pecundang? Biarlah waktu yang menjawabnya.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 3 Juni 2026

  • Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Anak-anak yang ujian akhir semester sekolah tidak menurunkan semangat mereka untuk tetap datang belajar Bahasa Inggris. Kami para pengajar mengerti bahwa belajar dalam bentuk bermain mesti lebih dominan agar tidak ada perasaan terbebani.

    Ketika kelas baru dimulai, materi yang anak-anak mempelajari adalah Parts of the body (bagian-bagian dari tubuh). Mereka bergembira mengucapkan kosa-kata yang disebut sambil menyentuh anggota tubuhnya. Misal, menyebut mustache, nostril and nose (kumis, lobang hidung dan hidung) diucapkan secara bersamaan saat memegang anggota tubuh yang disebutkan. Metode ini disebut Total Physical Response (Respon Fisik Menyeluruh).

    Pelajar yang lebih cepat mengerti menjadi pemimpin. Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya) diterapkan. Sirin dan Nabila yang terpilih menjadi melatih rekan-rekannya dengan cara membentuk dua kelompok. Setelah lima menit, kedua kelompok tersebut secara bergiliran praktik siaran langsung di Facebook.

    Pada sesi berikutnya, pelajaran mengarah pada literasi. Terdapat delapan lesson diselesaikan dan dibaca bersama-sama. Yang tidak lancar sekedar memperhatikan bacaan dan yang lancar bersuara nyaring. Tidak ada teguran dari guru pada pelajar yang tidak lancar membaca. Selama mereka memperhatikan bacaan, itu sudah cukup. Perhatian sudah cukup untuk membuatnya mengerti. Dalam hatinya, mereka pasti juga ingin lancar sebagaimana teman-temannya.

    Pelajaran akhir diisi dengan bernyanyi Make a Circle (Membuat sebuah Lingkaran) dan If You’re Happy (Jika Kamu Bahagia). Ini dilakukan dengan suara yang semarak dan gerakan tubuh yang energik. Dan setelahnya, mereka meminta bebas bermain sesukanya, lima menit sebelum jam pelajaran berakhir.

    Sebelum pulang, anak-anak bercerita bahwa ujian sekolahnya tidak susah. Apa buktinya? Mereka mengatakan bahwa soal-soal ujian gampang. Penulis tidak memberikan pertanyaan lanjutan yang berat dan membiarkan mereka percaya bahwa menghadapi ujian sekolahnya selama seminggu yang sedang berlangsung dari 2 Juni hingga minggu depan dapat mereka hadapi dengan Positive Mindset (Pemikiran Positif).

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026