Kategori: Uncategorized

  • Upaya Nakes Menembus Timur Tengah

    Upaya Nakes Menembus Timur Tengah

    Aneh tapi nyata. Itulah yang terjadi bagi para Tenaga Kesehatan (Nakes) Indonesia yang melamar pekerjaan di Timur Tengah. Mereka wajib wawancara dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Arab. Kata calon peserta, itu karena mereka akan melayani manusia dari seluruh penjuru dunia di mana bahasa Inggris sebagai penghubung.

    Memperhatikan model tes wawancara, soal-soalnya relatif mudah, seputar alasan mengapa mereka memilih kerja di Arab dan tentang keahlian yang mereka miliki. Itu semacam obrolan santai untuk mengakrabkan diri saat berkenalan dengan orang asing. Namun, urusan ini bukan perkara mudah bagi sarjana kesehatan itu betapa pun mereka telah belajar bahasa Inggris di SMP, SMA dan kampus perkuliahan.

    Dua orang dewasa, Nurdillah, alumni STIKES Muhammadiyah Sidrap dan Nirfiani, alumni AKBID Thahira Al Baeti Bulukumba tidak punya pilihan lain selain belajar bahasa Inggris. Rumah Belajar Bersama (RBB) menerima karena lembaga ini sudah terbiasa mendidik nakes yang mencari rezeki di negeri jauh. Keduanya belajar cara menghadapi wawancara dimulai cara berkenalan hingga urusan penting menangani pasien. Seperti kebanyakan orang, lidah mereka kaku, seakan semua pelajaran bahasa Inggris semasa menuntut ilmu menguap. Kejadian ini hal biasa. Lembaga nonformal sudah terbiasa menangani masalah klasik ini dan selalu mempunyai jurus untuk menangani gagap bicara. Lagi pula, buat apa mereka datang ke RBB jika bahasa Inggris pada pendidikan formal sudah tuntas?

    Para pelajar itu diajak untuk memikirkan segala pembicaraan yang ingin mereka katakan. Tugas utamanya adalah mengungkapkan dalam bahasa Indonesia. Fajar Hamzah (Mr. Ancha) menerjemahkan semua kalimat mereka ke dalam bahasa Inggris. Kemudian, mereka praktik bicara. Percakapan sederhana berbahasa Inggris pun mulai sedikit terlihat. Selanjutnya, mereka bersama-sama memetakan kemungkinan soal yang akan keluar pada tes wawancara nanti. Setelah mencapai kesepakatan, mereka membuat tanya jawab di mana seseorang menjadi pewawancara dan seorang lagi diwawancarai. Simulasi tes wawancara ini dirancang sesantai mungkin agar kalimat-kalimat yang telah dipelajari mudah diucapkan kembali. Sebagai antisipasi, ketika lupa, mereka boleh melihat buku catatan. Praktik ini terus dikembangkan hingga mereka merasa tidak perlu merujuk pada buku catatannya lagi.

    Setelah melewati tiga pertemuan belajar, keduanya sudah tidak lagi ketakutan berbahasa Inggris. Perlahan tapi pasti, mereka pun bergaul dengan pelajar sekolah di lingkungan RBB dan saling bertanya dalam bahasa Inggris. Bahkan, sesekali semuanya berkumpul membaca buku berbahasa Inggris dengan suara nyaring secara bersama-sama dengan tujuan melatih pengucapan, menghilangkan kekakuan lidah. Keakraban pun terjalin.

    Kini, perlahan tapi pasti, asumsi ketakutan berbahasa Inggris itu terkikis. Bergaul dengan pelajar sekolah membuat mereka bisa belajar sembari bermain. Menariknya lagi, mereka saling berbagi bahan pelajaran yang telah didapatkan. Ternyata, pergaulan tanpa memandang jarak umur di lingkungan belajar itu menambah wawasan.

    Dengan kondisi belajar di atas, dua atau tiga bulan adalah waktu yang sudah sangat ideal menghadapi tes ujian nakes yang hendak ke luar negeri. Mereka tidak harus belajar bahasa Inggris sebagaimana anak muda-mudi yang hendak lanjut S-2 yang menuntut pembelajaran tingkat tinggi karena wajib menghadapi tes TOEFL atau IELTS.

    Juara Olimpiade Bahasa Inggris SD tingkat Nasional dari pelajar RBB.

    Jadi, bagi para nakes yang terobsesi melihat negeri jauh dan tentu saja ingin mendapatkan gaji yang jauh lebih layak dibandingkan di dalam negeri tidak perlu khawatir. Ketakutan berbahasa Inggris tetap mengendap abadi dalam pikiran itu hanya karena tidak mencoba saja mencari pengalaman belajar yang baru. Perjalanan belajar Nurdillah dan Nirfiani yang sedang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik patut ditiru dalam memajukan kualitas diri. Mereka bermimpi ke luar negeri disertai dengan aksi nyata.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 2 September 2026

  • Dari Bulukumba untuk Dunia: Mengikis Batas Belajar

    Dari Bulukumba untuk Dunia: Mengikis Batas Belajar

    Sebagai pelajar dan guru, kita tidak perlu sungkan, terlebih lagi malu belajar. Penulis baru saja belajar dan memperoleh inspirasi dari seorang anak yang bernama Athirah Salsabila Nur Faisyal di Makassar. Anak kecil imut ini berumur sembilan tahun, lancar berbahasa Inggris. Penulis yang sejak kecil sudah akrab berbahasa Inggris sangat tertarik berbicara dengannya dan bahkan membuat dokumentasi video.

    Athirah suka berbahasa Inggris karena ia bercita-cita untuk menjadi seorang pramugari. Dengan cara itu, keinginannya berkeliling dunia dapat terwujud. Ia juga ingin belajar bahasa Arab, Korea, dan Jepang—negeri yang ingin ia kunjungi yang ia kenal dari hasil berselancar informasi di internet. Selain itu, ia juga sangat antusias menjelaskan tentang hobinya dan teman terbaiknya yang meninggalkannya. Obrolan kami sangat lancar dan mengalir apa adanya. Tanpa sadar, pembicaraan santai nan akrab ini berlangsung sekitar lima belas menit. Selesai.

    Penulis berpikir, bisakah anak-anak daerah mempunyai kemampuan seperti Athirah? Tentu saja bisa. Penulis adalah anak desa dari Bulukumba yang sejak kecil sudah bisa berbahasa Inggris seperti Athirah. Bedanya, Athirah mendapatkan fasilitas sekolah internasional, sedangkan penulis SD Negeri saja. Beruntung, di Bulukumba ada Rumah Belajar Bersama (RBB) di mana anak-anak daerah yang meskipun fasilitas belajarnya biasa saja, para pelajarnya bisa mendapatkan pelajaran berstandar internasional juga.

    Saat pulang kampung ke Bulukumba, penulis langsung melirik Faika, anak berumur sembilan tahun juga. Awalnya, materi yang ingin penulis ajarkan adalah materi olimpiade bahasa Inggris mengingat ia ingin lagi meraih emas tingkat nasional, tetapi karena pengalaman berkesan bersama Athirah di Makassar, penulis mengajaknya untuk berbicara Inggris. Ia sepakat, sama sekali bukan masalah berarti baginya. Diskusi berjalan selama hampir delapan belas menit.

    Faika yang ingin menjadi dokter mempunyai kesamaan dengan Athirah, keliling dunia. Impian yang indah itu tidak dibiarkan sebatas mimpi, melainkan diwujudkan dengan belajar bahasa Inggris sejak usia belia. Memperhatikan spirit belajarnya yang luar biasa, kemungkinan besar, kedua anak berbakat yang belum saling kenal ini akan belajar bahasa asing lainnya. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk dapat mewujudkannya.

    Sebagaimana halnya Athirah dan Faika, berpuluh-puluh juta anak Indonesia pasti juga mempunyai impian yang indah juga. Kita tidak mengenalnya saja. Mereka tentu ingin mempunyai masa depan yang cerah. Anak-anak di daerah banyak yang berpotensi untuk pintar, masih banyak yang belum kita ketahui. Kita perlu langkah untuk lebih dekat kepada mereka. Suatu keberuntungan, atas inisiatif Miss Fathy Cayadi, kini RBB di Kecamatan Tanete, Bulukumba telah dibuka sekitar dua bulan lalu. Anak-anak Tanete pun mempelajari segala hal yang dahulu dipelajari oleh Faika. Itu berarti, selama mereka tekun belajar, mereka sangat berpeluang untuk menjadi generasi penerus anak-anak hebat.

    Kini saatnya kita menyerap inspirasi, menyerap energi positif dari siapa pun tanpa perlu sungkan dan malu untuk membangun kualitas sumber daya manusia pelajar Indonesia hingga sampai ke pelosok desa. Kita ubah nasib bangsa kita dengan pendidikan. Mengutip B. J. Habibie, “Hanya dengan ilmu pengetahuan, kita sanggup sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya.”

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 1 September 2026

    Link video Athirah:
    https://youtu.be/F4fkLvRg3RQ?si=0D7B6V8pQHI1VRvo

    Link video Faika:
    https://youtu.be/HqOoy1uAKfQ?si=7diiB6i5tV7D-uwW

  • Seni Mengemas Bahasa Inggris

    Seni Mengemas Bahasa Inggris

    Kalimat-kalimat berbahasa Inggris diucapkan anak-anak dengan kaidah yang benar. Dengan memanfaatkan hari Senin ini, mereka mengucapkan tiga hal. Pertama, saya pergi ke sekolah hari ini (I go to school today). Kedua, saya tidak pergi ke sekolah kemarin (I did not to school yesterday). Ketiga, saya pergi ke sekolah besok (I will go to school tomorrow). Semua kalimat itu diucapkan dalam bahasa Inggris.

    Materi berbicara ini diberikan sesuai konteks kehidupan mereka. Pada Senin, mereka pergi ke sekolah. Kemarin tepatnya hari Minggu, mereka tidak sekolah. Besok pada Selasa, mereka akan pergi ke sekolah. Begitulah alam pikiran bersama yang terbangun sehingga tidak perlu repot menjelaskan banyak hal.

    Patut diakui, beberapa anak agak kesulitan membedakan hari ini (today) dengan kemarin (yesterday), terbalik dalam menerjemahkan. Ini menghadirkan gelak tawa riuh di kelas. Namun, anak-anak yang menjadi bahan tertawaan tersebut tidak merasa tersinggung. Malahan, mereka turut tertawa. Tahu kenapa? Karena mereka semua sudah akrab dan ada bantuan dari rekan untuk membenarkan penerjemahan sederhana yang salah.

    Inilah pentingnya review yang dilakukan secara serentak. Kegiatan ini bukan saja memperdalam materi, tetapi juga mengikis rasa tidak percaya diri dalam berbicara. Tiada seorang pun yang tidak mendapatkan giliran dalam berbicara, meskipun anak yang masih ragu selalu memilih paling akhir berbicara. Mereka mendengarkan review rekan-rekannya untuk dipahami hingga pada akhirnya berani berbicara.

    Pada tata bahasa (grammar), materi di atas adalah simple tense (kalimat sederhana yang berhubungan dengan waktu). Karena dianggap seru, pelajaran berlanjut ke continuous atau progressive (kejadian yang sedang berlangsung). Pertama, saya sedang pergi ke RBB sekarang (I am going to RBB now). Kedua, saya tidak sedang pergi ke RBB kemarin (I was not going to RBB kemarin). Ketiga, saya akan sedang pergi ke RBB besok (I will be going to RBB tomorrow).

    Secara sederhana, cara pengajaran ini sama seperti sebelumnya, review juga. Apakah perulangan ini membosankan? Tidak juga karena cara ini disukai anak-anak, tidak membingungkan dan menyelaraskan pemahaman di kelas. Target capaian belajar dalam sekali pertemuan pun tercapai.

    Para pendidik dan orang-orang yang bergelut dalam bahasa Inggris pasti tahu bahwa rancangan Rumah Belajar Bersama (RBB) sedang menggabungkan kemampuan berbicara dengan grammar. Ini menghemat waktu dan akan sangat berguna untuk pergaulan sehari-hari dan kebutuhan akademik karena bahannya mengikuti struktur tata bahasa yang dikemas seperti tidak sedang belajar tata bahasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 31 Agustus 2026

  • Mendobrak Batas Logika Berbahasa Inggris

    Mendobrak Batas Logika Berbahasa Inggris

    Membayangkan anak-anak SD belajar tata bahasa dalam bahasa Indonesia itu hampir tidak mungkin, terlebih lagi dalam bahasa Inggris. Kemampuan logika berpikir anak yang dianggap belum mampu berpikir demikian. Memang seperti itulah bahasa. Ia alat komunikasi yang paling umum berguna untuk percakapan sehari-hari.

    Mengapa kita tidak mendorong bahasa percakapan sehari-hari itu sebagai bagian pelajaran tata bahasa? Banyak argumentasi yang memberikan jawaban dengan alasan yang logis. Namun, bila ada argumentasi yang logis yang mendukung bahwa tata bahasa itu bisa diajarkan ke anak-anak, kenapa kita harus menolak?

    Pada dasarnya manusia menyukai terobosan ke arah hidup yang lebih baik. Karena mengajarkan tata bahasa Inggris kepada anak-anak SD di Rumah Belajar Bersama (RBB) telah terbukti efektif di Bulukumba itu dan itu kemudian ditindaklanjuti di RBB Tanete, kelas bimbingan Miss Fathy Cayadi.

    Mr. Agung Pratama Salassa adalah guru handal RBB Bulukumba yang spesifikasi keahliannya adalah mengajar tata bahasa Inggris. Dibantu dengan guru-guru RBB yang lain yang juga mempunyai pemikiran yang sama dengan Mr. Agung, kelas grammar mulai dari anak SD hingga orang dewasa dapat dikelola dengan sangat baik. Kecerdasan per individu dari guru digabungkan menjadi kekuatan team sehingga daya ledaknya lebih dahsyat.

    Dari sinergi inilah, para pelajar RBB meraih juara Olimpiade Bahasa Inggris SD, 2026 dan Juara 1 Kompetisi Grammar tingkat mahasiswa jurusan bahasa Inggris di Universitas Negeri Makassar (UNM), 2026. Juara terbarukan lainnya sedang diperjuangkan untuk dicetak lebih banyak lagi di tahun-tahun mendatang.

    Mencerdaskan, Bukan Slogan
    Kehadiran Mr. Agung di RBB Tanete didikan Miss Fathy berbagi materi dasar seperti tenses di luar kepala—hal yang dianggap bukan materi dasar oleh banyak lembaga pendidikan dan kurikulum pendidikan—rumit dipikiran banyak orang itu menjadi sangat ringan. Pengajaran dibangun berdasarkan berdiri kokoh karena kerja sama team itu diniatkan untuk mencerdaskan, bukan slogan.

    Segala hal yang pernah dipelajari sebelumnya dicek ulang dan dikembangkan lebih lanjut. Anak-anak RBB membuktikan kesanggupannya. Namun, patut ingat, untuk mencapai kebanggaan itu, para pelajar pemula harus mengikuti proses pembelajaran yang telah disediakan: teguh dalam berjuang, sabar dan tidak kenal menyerah.

    Satu hal poin penting lainnya yang diperoleh pada pembelajaran standar internasional di lembaga yang merakyat ini adalah anak-anak memperoleh pelajaran jujur, teliti, dan disiplin ditanamkan dengan baik sejak usia dini. Jadi, terdapat capaian berbahasa Inggris yang sekaligus menambah nilai kualitas pribadi pelajar yang dapat dijadikan panduan untuk menjalani kehidupan menuju kesuksesan.

    Zulkarnain Patwa
    Gowa, Minggu, 30 Agustus 2026

  • Balon Udara

    Balon Udara

    Mengajarkan materi tingkat tinggi pada anak-anak dan remaja pasti dianggap susah. Alasan paling lazim adalah kemampuan daya otak mereka dipaksa berpikir sebelum waktunya. Itu sama saja menyiksa pelajar dengan dalih mendidik.

    Pembenaran ini makin kokoh karena kita sering kali lupa untuk menguatkan pengetahuan yang paling mendasar. Misal, untuk apa membuang banyak waktu untuk mengajarkan pecahan, kuadrat, persen bagi pelajar yang belum paham aritmatika (perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan)? Oh, itu karena pelajarnya sudah bukan lagi kelas 3 SD sehingga mereka mau tidak mau harus belajar materi itu. Dengan mempertahankan argumen ini, Matematika selamanya menjadi momok menakutkan bagi pelajar kita.

    Pelajaran yang lebih menakutkan terjadi pada bahasa Inggris. Berbicara dengan pengucapan yang benar, membaca buku, dan menjawab soal lebih jauh tertinggal. Mengapa? Persoalannya mirip dengan Matematika. Materi dasar tidak tuntas. Tambahan satu lagi, guru yang bukan bidangnya yang tidak mempunyai keahlian bahasa dituntut mengajar. Efeknya jelas. Banyak pelajar di SD, SMP, SMA, dan bahkan sampai mahasiswa masih sangat kewalahan mengucapkan kosakata sederhana bahasa Inggris. Padahal, di pendidikan formal mereka terus belajar.

    Mari kita umpamakan masalah ini seperti balon raksasa yang ditiup dengan pompa. Balon itu semakin membesar hingga pada titik tertentu tidak mampu lagi menampung udara, meledak. Suara ledakannya itu menyadarkan bahwa orang yang dipercaya memegang amanat mengembangkan balon tidak mampu mengelola dengan becus.

    Peniup balon harus tahu jumlah volume udara yang dibutuhkan agar balon tidak meledak. Buat apa terus-menerus membesarkan balon bila akhirnya harus meledak? Kita perlu mengukur. Kita tidak usah terburu-buru mengajarkan materi pecahan dan semacamnya bila tidak menguatkan aritmatika. Pelajar hanya akan bertambah frustrasi.

    Bahasa Inggris juga demikian. Bukankah bahasa itu alat komunikasi? Buat apa menggelontorkan dana yang besar bila tidak mampu mendesain lingkungan berbahasa Inggris? Tidak ada gunanya merevisi atau merombak kurikulum bila tidak menciptakan kebiasaan berbahasa Inggris minimal di waktu tertentu sebagaimana yang diterapkan di dunia pesantren. Bukankah itu juga yang diterapkan di negara-negara maju?

    Untuk Matematika, ini bukan maksud bernostalgia pada zaman penerapan Kurikulum 1984 yang menggunakan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Anak-anak SD selalu mendapatkan pertanyaan perkalian lisan dari gurunya. Pertanyaan itu biasanya diberikan sebelum masuk kelas, saat pelajaran berlangsung, atau sebelum pulang. Memang sih, ada mistar yang siap melayang bila siswa tidak sanggup menjawab dengan benar. Namun, dari rasa takut kena hukuman itu, anak-anak belajar minimal berusaha menguasai perkalian. Hal-hal yang berharga dari CBSA ini layak untuk diambil intisarinya.

    Sekarang kita coba berpikir bahwa masalah persoalan dasar itu telah tuntas. Percepatan atau akselerasi bisa dibuat. Di sinilah pentingnya guru-guru yang berwawasan itu berani mengkreasikan materi yang diajarkan. Kecerdasannya menjebol status quo. Mereka menyederhanakan pelajaran tingkat tinggi dimulai dengan materi yang erat kaitannya yang dipahami pada tingkatan dasar. Setelah itu, berselancar ke mana pun akan jauh lebih ringan.

    Soal olimpiade SD saja itu ribetnya minta ampun buat kebanyakan pelajar. Jika pengajarannya biasa saja, hanya sedikit pelajar saja yang mempunyai keberanian berkompetisi. Para guru yang mempunyai keberanian, kecerdasan, dan kreativitas yang bisa mengelola persoalan ini yang membuat para pelajarnya berkualitas dan mempunyai daya saing.

    Orang bisa sepakat atau tidak dengan pendapat ini. Yang tidak sepakat bisa mengkritiknya dengan harapan memunculkan ide yang lebih cerdas dan membuktikannya. Sedangkan yang sepakat seperti Rumah Belajar Bersama, lembaga ini terus membumikan gagasan ini dan terus mencetak pelajar terbaik yang bukan hanya juara olimpiade, tetapi menjadikan ilmu pengetahuan itu menginternalisasi dalam diri yang berguna untuk menapaki perjalanan hidup di muka bumi ini.

    Zulkarnain Patwa
    Jeneponto, Jumat, 28 Agustus 2026

  • Tragedi Gadget

    Tragedi Gadget

    Dewasa ini, kita sering menjumpai anak-anak mulai kelas 4 sampai 6 SD yang tidak bisa membaca. Meskipun tidak memenuhi standar, mereka tetap saja naik kelas. Dampaknya, beban guru kelas di sekolah bertambah. Akibatnya, para guru harus mengurusi materi pelajaran yang seharusnya bukan lagi di tingkatan kelasnya. Selama murid-murid itu rajin ke sekolah, mereka tidak boleh tinggal kelas.

    Baco, nama samaran dengan tiada maksud menyinggung siapa pun yang mempunyai kesamaan nama, anak kelas 4 SD yang belum sanggup membaca. Guru sekolahnya menyarankan untuk kursus Baca, Tulis, dan Hitung di Rumah Belajar Bersama (RBB)—sebuah rekomendasi berdasarkan fakta selama lebih dari lima belas tahun bahwa banyak anak yang sejak usia dini telah belajar di RBB pandai membaca, menulis, dan berhitung sederhana.

    Setelah Baco bergabung, para guru RBB segera mendeteksi bahwa pandangan mata Baco tidak bisa fokus. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman mengajar, mereka sudah tahu penyebabnya. Sebelum guru menarik kesimpulan, anak itu lebih dahulu mengaku bahwa ia selalu main gadget. Baco selalu mengingat, “Saya mau main HP,” katanya saat jam belajar sedang berlangsung. Sudah pasti, HP tidak diberikan. Perasaannya menjadi gundah gulana dan tidak peduli dengan pelajaran di sekelilingnya. Pikiran kacau dan daya ingat sangat rendah. Ia tidak bisa berontak karena suasana kelas tidak memberikan dukungan, tiada yang memperhatikan keinginannya ini.

    Guru dengan penuh kesabaran dan ketenangan menanti waktu yang tepat untuk mendidik Baco. Seperti yang telah diprediksi, apa yang telah diajarkan berlalu begitu saja. Ini bukan lagi apa yang masuk di telinga kiri, keluar di telinga kanan, tetapi apa yang masuk di telinga kiri memantul keluar. Tidak ada yang tertinggal. Ini memang masalah pelik, tetapi bukan berarti tidak mempunyai solusi.

    Beberapa anak yang pengalaman hidupnya mirip dengan Baco juga terperangkap dengan gadget. Solusinya sederhana, bila masalah ini hanya karena gadget, tidak ada game gadget selama di RBB. Pikiran anak-anak diarahkan agar mau bersosialisasi dengan anak lainnya yang tidak memikirkan gadget. Game-nya dalam bentuk dunia nyata, bermain di dunia nyata dengan rekan sebaya. Ada keringat untuk menyehatkan fisik.

    Dalam hal pengajaran, para guru RBB berjuang tiada henti dengan sering mengulangi pelajaran anak-anak tersebut hingga ada sedikit pelajaran yang mampu mengendap dalam pikiran mereka. Dalam dua bulan, daya ingat mereka terlihat sedikit berkembang. Mereka bisa mengingat suku kata dan mampu membaca lebih baik. Dua bulan terkesan lama dengan kemajuan yang kecil. Bukankah mereka selama bertahun-tahun tidak bisa membaca itu waktunya jauh lebih lama? Belajar bukan seperti makan mie instan. Proses belajar yang menunjukkan kemajuan ini mesti terus dipelihara dan dikembangkan.

    Orang tua murid pasti menginginkan anak-anak mereka normal sebagaimana anak-anak lainnya. Untuk itu, mereka perlu memberikan pengarahan yang tepat disertai ketegasan pada penggunaan gadget. Aturan pembatasan gadget yang konsisten dan disiplin di Rumah Belajar seharusnya diselaraskan dengan rumah tempat tinggal anak-anak itu. Merujuk kata “Rumah”, tempat tinggal dan juga tempat belajar. Sebuah kata yang mengandung harapan yang ingin dicapai ialah menjadikan rumah sebagai tempat belajar. Kesepahaman yang mesti dibangun ‘bersama’.

    Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Persoalan kasuistik seperti Baco ini tentu banyak bertebaran di lingkungan sekitar kita. Sinergi antara guru sekolah, orang tua murid, dan RBB tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus bersatu padu dalam mengatasi persoalan perusakan otak generasi penerus kita lewat game gadget yang sesungguhnya hanya memberikan kesenangan semu. Masa emas mereka untuk belajar terbuang dengan percuma.

    Tentu saja, ini perlu ditindaklanjuti dengan komunikasi lebih berkesinambungan untuk menemukan akar masalah hingga keputusan yang diambil oleh guru-guru di RBB tepat sasaran untuk diterapkan hingga anak-anak itu dapat kembali hidup normal, bahagia seperti anak-anak lainnya. Mereka juga berhak mempunyai masa depan yang cerah. Hal itu dibangun melalui perubahan pola pikir yang jalan terbaiknya ditemukan melalui jalur pendidikan.

    Di RBB, urusan Baca, Tulis, dan Hitung sudah lazim dituntaskan sejak kelas 1 SD. Kalaupun itu harus mundur diselesaikan di kelas 4 SD, solusinya cukup dalam beberapa bulan, bukan tahunan. Tragedi gadget berakhir.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 27 Agustus 2026

  • Menguji Ilusi atau Visi Delapan Bahasa Prabowo

    Menguji Ilusi atau Visi Delapan Bahasa Prabowo

    SD kelas 1, mereka harus mulai bahasa asing. Bahasa-bahasa yang terpenting: bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Rusia, dan Prancis. Itulah penggalan pidato Presiden Prabowo saat Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026. Itu artinya presiden tidak sedang main-main.

    Sebelumnya, di Istana Kepresidenan Élysée, Paris, Prancis, pada Kamis, 28 Mei 2026, ia juga telah memanfaatkan isu bahasa Prancis kepada Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Bahasa Portugis kepada Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 23 Oktober 2025. Prabowo memanfaatkan isu bahasa sebagai strategi diplomasi bilateral.

    Presiden menyebut SD kelas 1 adalah kejutan, entah apakah itu tidak sengaja atau ada pengaruh semangat mencerdaskan yang masih tetap hidup dari dalam diri presiden. Penulis yang telah aktif mengajar dua dekade dan lebih satu dekade di Rumah Belajar Bersama (RBB), Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), melakukan hal mirip, tetapi itu dalam ruang lingkup yang sangat kecil. Kami (baca: Penulis, Mr. Fajar Hamzah dan Mr. Agung Pratama Salassa, alumni Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur) mendidik anak TK secara tidak sengaja. Pada 2021, Faika Qinara Putri Ridwan, anak TK, meraih juara karate internal INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) Sulsel. Atas prestasi itu, Faika berhak mendapatkan beasiswa di RBB dengan pilihan bahasa Inggris, bukan Matematika.

    Waktu itu Faika belum bisa membaca. Pada 2025, satu lagi anak TK, Afwa Afiza Arsi, setiap hari berada di RBB karena mengikuti ibunya, Miss Uci, guru Matematika RBB. Afwa sering memperhatikan pelajar membaca buku bahasa Inggris. Ia yang sudah pandai membaca dalam bahasa Indonesia itu merasa penasaran ingin membaca dalam bahasa Inggris yang dianggapnya bukan aneh, melainkan menarik.

    Singkat cerita, pada Februari 2026, Faika yang hobi mengikuti kejuaraan meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO). Sedangkan Afwa, ia telah masuk SD pada 2026. Ia tampaknya satu-satunya anak kelas 1 SD di Bulukumba yang lancar membaca buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kemampuan ini yang jarang dimiliki anak seumurannya di Indonesia. Kebanyakan anak kelas 1 SD masih belajar mengeja alfabet dan suku kata dalam bahasa Indonesia.

    Dari peristiwa kecil itu, mungkin seperti itulah gambaran yang diharapkan presiden dalam bentuk skala besar. Prabowo dalam pidatonya itu mengatakan, “Anak-anak kita harus punya akses kepada pendidikan terbaik agar mereka nanti kalau masuk ke …” ia berpikir sejenak, “kalau sudah mencari lapangan kerja, mereka punya kemampuan lebih, mereka bisa diterima di mana-mana. Mereka bisa bekerja dengan pihak mana pun.”

    Persoalannya, jangankan beragam bahasa asing, bahasa Inggris saja yang sedang diterapkan kepada anak-anak kelas 3 SD sekarang ini tidak memperlihatkan tanda-tanda keberhasilan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memilih menjalankan proyek mendidik guru kelas sekolah yang tidak punya dasar atau kemungkinan besar tidak minat untuk belajar bahasa Inggris, bukan merekrut sarjana bahasa Inggris yang sekarang ini banyak menjadi “pengangguran terdidik”. Pemerintah menyia-nyiakan sumber daya manusia siap kerja yang sudah tersedia dengan satu alasan klasik, keterbatasan anggaran.

    Kenapa kita tidak belajar dari Iran? Contoh negara apa pun, boleh saja. Di tengah impitan hegemoni dan embargo Amerika Serikat dan Eropa, Iran percaya diri membangun kekuatan internalnya dengan memanfaatkan intelektual dalam negerinya. Keterbatasan membuat mereka lebih kreatif. Berdasarkan platform International IQ Test (IIT) yang dirilis pada 2026, Iran menduduki posisi keempat dunia dengan rata-rata skor IQ 104,80, sedangkan Indonesia menduduki posisi 126 dengan rata-rata skor IQ 89,96.

    Ini memang kontras dengan pemikiran B. J. Habibie, manusia yang dikenal superjenius Indonesia yang tidak percaya dengan standar IQ. Menurut Habibie, “Tidak ada gunanya Anda memiliki IQ tinggi tapi pemalas, tidak memiliki disiplin. Yang penting adalah Anda sehat dan mau berkorban untuk masa depan yang cerah. Dan Anda konsisten, bekerja keras, berdisiplin.”

    Kendati demikian, IQ orang Indonesia yang diklaim rendah bisa dibalik. Kemampuan dwibahasa (bilingual) sejak dini—seperti pengalaman belajar Faika dan Afwa—mampu memicu proses pengembangan kecerdasan otak dan meningkatkan fungsi kognitif (IQ) anak, sehingga klaim IQ rendah itu bisa dipatahkan lewat aksi nyata, bukan sekadar menjelaskan kehebatan teori pengajaran di atas tumpukan lembaran kertas.

    Dalam arti lain, klaim usang tentang keterbatasan anggaran bukanlah batu sandungan untuk mewujudkan niat baik presiden. Ia hanya perlu menindaklanjutinya melalui regulasi yang benar dengan jalan membuka akses seluas-luasnya dalam merekrut dan memberdayakan para intelektual Indonesia yang sebenarnya banyak yang hebat, tetapi mereka lebih memilih tiarap daripada muncul di permukaan karena sistem yang tidak memberikan mereka peluang sehingga mereka tidak percaya lagi pada pemerintah. Mengutip Prabowo, “Pelajaran apa pun, kita kumpulkan guru-guru terbaik,” menjadi tugas utama para pengambil kebijakan untuk mendukung, meyakinkan, dan membuktikan kepada rakyat bahwa Presiden Prabowo tidak “omon-omon”.

    Apakah mungkin Presiden Prabowo akan berpidato agar anak TK mulai belajar bahasa asing? Apakah Kemendikdasmen dan jajarannya di Dinas Pendidikan Provinsi dan Daerah serta dinas yang terkait, mempunyai konsistensi, disiplin, dan kerja keras dalam menindaklanjuti pidato Prabowo? Dan satu hal lagi, selama 81 tahun Indonesia merdeka, berapa tahun lagi anak-anak SD di Indonesia hingga bisa akrab berbicara dalam empat sampai lima bahasa asing seperti di Finlandia? Prabowo dalam pidatonya di atas itu sedikitnya menyebut delapan bahasa asing.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 26 Agustus 2026

  • Mimpi Berbahasa Inggris di Siang Bolong

    Mimpi Berbahasa Inggris di Siang Bolong

    Mochtar Lubis, tokoh pers legendaris Indonesia, di tahun 70-an mengkritik para sarjana terdidik Indonesia yang semakin tidak pandai berbahasa asing. Itu wajar saja karena pada zaman mereka, berbicara dalam berbagai macam bahasa asing seperti bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Jepang dan lainnya hal biasa saja. Masihkah kritik ini relevan di 2026? Pemerintah menjawabnya dengan memasukkan bahasa Inggris sebagai pelajaran wajib di SD, bukan lagi mulai di SMP.

    Ini langkah cerdas. Bahasa Inggris tingkat SMP itu sungguh sangat sulit dipahami bila tidak diberikan penjelasan dasar di SD. Tetapi, apakah kita bisa percaya ini bisa berhasil? Tunggu dulu. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja mendidik para guru sekolah SD untuk bisa berbahasa Inggris. Ini sangat terlambat. Penerapan kurikulum yang sedang dijalankan tidak merekrut sarjana terdidik dari jurusan bahasa Inggris. Para gurunya masih sedang belajar. Ini layaknya latihan pada saat kejuaraan sedang berlangsung.

    Itulah mengapa Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur dan lembaga pendidikan berkualitas berbasis kerakyatan itu selalu menjadi pilihan dan solusi terbaik. Para pelajar, mahasiswa, dan sarjana atau pencari kerja yang menuntut keahlian berbahasa Inggris belajar pada guru-guru di sana. Mereka tidak peduli apakah guru itu sarjana atau tidak. Yang menjadi acuan utamanya adalah kualitas. Jadi, tidak mengherankan bila tamatan SMP atau SMA mendidik orang yang lebih tinggi status pendidikannya. Menariknya, di sana tidak ada persoalan status pendidikan.

    ‘Benturan status’ menyakitkan malah terjadi di sekolah. Para guru kelas yang baru belajar bahasa Inggris itu kewalahan menghadapi murid-murid mereka yang telah mengikuti les bahasa Inggris. Murid terlihat lebih cerdas daripada gurunya. Ini menyiksa batin guru, penghinaan secara tidak langsung. Buku pelajaran yang telah dirancang bagus itu tidak bisa bergerak dengan baik karena sumber daya manusia tidak mencukupi bagaimana cara mengajarkan dengan tepat. Alih-alih, Para pelajar umumnya mempelajari sebatas kosakata hingga tamat SD. Melafalkan kosakata sederhana seperti study, answered, and wait (belajar, menjawab, dan menunggu) saja masih sering kita jumpai salah ucap oleh para guru sekolah. Apakah itu kesalahan dalam pengucapan dari guru atau ‘dosa’ negara yang salah memasang guru?

    Dengan adanya Otonomi Daerah, kabupaten sebenarnya bisa berkreasi. Dinas Pendidikan di daerah tahu masalah ini. Kenapa mereka lebih banyak diam? Alasannya sama dengan pemerintah pusat, keterbatasan anggaran. Pusat tidak merekrut guru bahasa Inggris karena anggaran tidak cukup. Daerah berpikir bahwa banyak anggarannya dari pusat berkurang karena alasan efisiensi. Padahal, masalah utamanya adalah mereka tidak menjadikan masalah ketidakmampuan pelajar Indonesia aktif dalam pergaulan dunia ini sebagai skala prioritas. Lucunya lagi, beberapa daerah yang sumber daya alamnya telah menjadi objek wisata mancanegara dibiarkan begitu saja. Tidak ada persiapan untuk pengembangan bahasa Inggris yang masif di wilayah tersebut untuk para pelajar dan pemuda-pemudi. Ucapan yang terbaik menghadapi kebisuan isu ini adalah diam.

    Impian mencetak pelajar Indonesia mempunyai daya saing global yang didengungkan Kemendikdasmen secara otomatis diamini oleh Dinas Pendidikan di tiap daerah benar-benar mimpi di siang bolong, bukan kenyataan. Bahasa Inggris yang seharusnya menjadi solusi malahan menjadi beban pelajaran tambahan. Dari dulu, kritik tentang banyaknya mata pelajaran sekolah tidak terpangkas.

    Bila pemerintah tidak berbenah diri, sandaran penyelamatan berbahasa Inggris yang seharusnya kembali bertumpu pada sekolah tidak bisa lagi dijadikan patokan. Orang tua pelajar akan berpikir model Kampung Inggris yang menerapkan harga manusiawi dan pendidikan alternatif yang mempunyai spirit pendidikan yang memanusiakan manusia dengan memberikan harga terjangkau menjadi solusi. Dengan demikian, masyarakat yang ekonominya sedang terpuruk karena efek efisiensi anggaran yang mengguncang Indonesia tetap bisa mengakses pendidikan yang layak. Sila Pancasila terakhir, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Titik.

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Selasa, 25 Agustus 2026

  • Mendobrak Sistem Pendidikan yang Melelahkan

    Mendobrak Sistem Pendidikan yang Melelahkan

    Pelajar kita setiap hari kelelahan dalam belajar. Mereka sekolah dengan bertumpuk-tumpuk pelajaran berbeda-beda mulai dari pagi sampai siang. Umumnya, orang tua yang sadar pada agama dan pendidikan, melanjutkan anak-anaknya pada les mengaji atau kegiatan yang mirip lainnya hingga sore. Anak-anak hampir tidak ada waktu istirahat hingga jelang Maghrib, matahari tenggelam.

    Jangan takut menjadi diri sendiri.

    Persoalan ini tidak berhenti sampai di situ. Di malam hari, sebagian dari mereka biasanya diikutkan les matematika dan/atau bahasa Inggris. Pikiran dan fisik mereka sangat terkuras. Melelahkan.

    Mari membuat sesuatu yang lebih baik untuk generasi penerus kita.

    Kita melakukan ini dengan dalih pendidikan. Kita lupa bahwa kita sedang merampas kebahagiaan anak-anak kita untuk bermain. Ada yang membela dengan memberikan Android pada anaknya. Itu bukan solusi melainkan menambah masalah karena Android itu hanya berfungsi sebagai games, membuang banyak waktu. Radiasi Android merusak otak, mata, dan lainnya serta sosialisasi langsung kepada sesama anak sangat terbatas. Kita mengira ini solusi, tetapi kenyataannya ini ilusi—malahan menciptakan masalah yang jauh lebih besar.

    Anak-anak dilatih untuk mengandalkan pikirannya sendiri.

    Lalu, apakah pilihan kita? Apakah kita memberhentikan anak-anak di sekolah atau les? Tentu tidak. Ajaran agama yang mulia menganjurkan bahwa belajar itu sejak dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Apakah Android itu dibuang ke tempat sampah? Tidak juga. Generasi kids zaman now tidak bisa menghindari kemajuan teknologi. Kita sekarang hidup di zaman teknologi serba modern di mana android dan teknologi semacamnya tidak bisa ditolak keberadaannya; lifestyle (bagian dari kehidupan sehari-hari).

    Permainan asah otak.

    Tetapi, apakah kita akan membiarkan kondisi anak-anak kita terus seperti ini? Segala model pendidikan yang melelahkan, meresahkan, dan membosankan itu sudah saatnya kita tinggalkan. Kita kubur semua kepalsuan yang mengatasnamakan solusi. Kita masuk ke sebuah era yang baru. Sebuah metode pembelajaran yang menggabungkan kelemahan menjadi kekuatan harus hadir.

    Membangun minat belajar dan mengolah kecerdasan anak-anak.

    Pertama, kita memangkas semua sub-sub pelajaran yang tidak penting. Kita mengajarkan hal-hal yang terpenting saja. Setelah itu, sub-sub bagian lainnya dengan sendirinya mengikuti.

    Jangan lupa membaca.

    Kedua, setiap anak belajar dengan cara bermain. Guru yang kreatif pasti mempunyai segudang ide untuk membuat suasana belajar yang mengaktifkan keceriaan dan kecerdasan anak didiknya. Mereka dilatih dan diberikan kebebasan untuk saling berbagi ilmu dengan cara yang mereka sukai.

    We are the future of the world.

    Ketiga, kita memanfaatkan teknologi Android. Dunia maya banyak model pembelajaran yang dalam bentuk games. Otak mereka dilatih untuk berpikir bahwa pendidikan itu bisa dalam bentuk permainan games yang menyenangkan. Waktunya dibatasi agar mereka tidak terlalu tergantung pada android. Setelah itu, mereka berlatih untuk berpikir lebih mandiri, bergantung pada otak mereka sendiri.

    Be happy!

    Kita membuat solusi tanpa harus merampas kebahagiaan anak-anak kita. Semua ini Anda dapatkan dalam satu tempat yaitu di Rumah Belajar Bersama, ‘Rumah’ yang terus memenuhi segala kebutuhan dan mendobrak kebuntuan ‘Belajar’ untuk kepentingan ‘Bersama’ dalam mencerdaskan lingkungan terdekatnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 24 Juli 2026

  • Menghentikan Pembelajaran yang Kaku

    Menghentikan Pembelajaran yang Kaku

    Pembelajaran bahasa Inggris telah menjadi sangat kaku dengan kurikulum yang membosankan. Pelajar hanya belajar bukan karena melihat pelajaran itu menarik, melainkan karena tuntutan kewajiban. Pelajar patuh mengikuti pelajaran hanya karena ingin mendapatkan nilai rapor yang bagus.

    Bahasa Inggris bukan itu. Ia adalah alat komunikasi. Oleh karena itu, kita perlu membuat pertanyaan yang tepat. Apa yang harus dilakukan? Kapan? Praktik bicara sekarang juga. Tidak ada waktu untuk menunda. Pelajar yang mengulur-ngulur waktu akan selalu tertinggal jauh dan selalu terlambat untuk maju.

     

    Grammar (tata bahasa) adalah kumpulan rumus yang memusingkan kepala. Rumus-rumus kaku membuat pelajar terdiam, tidak berkutik, dan tidak sanggup berbicara. Itu semua tidak masuk akal, musuh kita semua. Musuh utama kita adalah kegagalan dalam menyederhanakan grammar itu menjadi pelajaran yang menyenangkan.

    Di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete, segalanya sedang berubah. Miss Fathy Cayadi mengajarkan Lesson (pelajaran) 30 dan 31 yang membahas grammar khususnya materi present progressive (kalimat yang menyatakan kejadian yang sedang berlangsung saat ini). Para pelajar tidak dicecoki rumus yang memusingkan kepala, tetapi menjadikan rumus itu dalam bentuk kalimat yang biasa digunakan dalam keseharian. Tidak ada rasa takut karena kalimat yang dipilih adalah bagian dari kehidupan mereka.

    Para pelajar diarahkan untuk berani berbicara, membaca dengan suara nyaring, dan membuat kalimat. Semua pelajar praktik secara perorangan untuk memastikan setiap dari mereka bertindak dengan benar. Satu hal penting lainnya, semua ini dikemas dalam suasana yang menyenangkan sehingga pelajar mencapai bahagia belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 23 Agustus 2026