Manusia lahir, muda, tua, dan mati, kata Ferdowsi. Begitulah kisah intelektual Persia yang mempersingkat jalan perjalanan hidup manusia ketika sang Raja Persia meminta agar intelektual mencatat perjalanan hidup manusia. Sebelumnya, sang raja menginginkan dibuatkan buku untuk ia baca. Ribuan ton buku dibuat. Raja tidak punya cukup waktu, sibuk. Singkat cerita, lahirlah kalimat di atas. Sang Raja terpukau. Menerima. Titik.

Kisah klasik ini menjadi tamparan keras bagi manusia modern saat ini, yang sering kali gagal menghargai waktu akibat jebakan teknologi. Manusia yang dikaruniai umur panjang banyak yang benar-benar menyia-nyiakan waktu. Di zaman yang serba canggih ini, dunia digital mengubah perilaku manusia yang rambatannya sampai ke anak kecil. Permainan rakyat di mana sosialisasi sesama manusia di lingkungan sekitar yang nyata, kini berubah menjadi permainan game Android di dunia maya. Sialnya, perilaku ini juga menjangkiti orang dewasa—tidak hanya game, tetapi judi juga. Tidak peduli manusia itu pintar atau tidak, kreativitas manusia lumpuh oleh angan-angan kesenangan palsu.
Bisa dibayangkan, berapa banyak waktu habis percuma mengurusi hal-hal tidak penting itu? Bagaimana kita mengingatkan atau mengecam? Anak-anak masih mungkin kita tegur karena otak dan fisiknya yang masih terbatas. Orang dewasa? Mereka mempunyai otak dan kekuatan untuk menolak. Ya, apa pun itu, kita harus mengingatkan.

Bagi anak-anak, betapapun mereka disibukkan dengan kegiatan nyata dengan sosialisasi di lingkungan sekitarnya, mereka tetap saja ingin selalu bermain Android. Masalahnya bertambah runyam ketika orang dewasa itu memakai Android setiap hari. Anak-anak itu peniru ulung. Ketika mereka melihat orang dewasa, bagaimana mungkin orang dewasa itu melarang memakai Android? Orang dewasa sebaiknya menjadi contoh agar bisa diikuti oleh anak-anak. Ketika daya ‘hipnotis’ Android tidak bisa dihentikan, maka jam penggunaannya perlu dipersingkat. Oleh karena itu, batasan dengan bijaksana menjadi satu-satunya solusi. Dengan apa? Dengan menyibukkan diri membuat aktivitas lainnya.
Menemukan Jalur yang Benar
Kita tentu tidak ingin mati bersama Android. Percaya atau tidak, tidak ada lagi game di alam kubur. Sebelum generasi penerus ini hancur, kita harus bisa memandang bahwa Android itu mempunyai beragam fasilitas yang jauh lebih bermanfaat. Itulah yang perlu dimasifkan untuk mendukung cita-cita, segala minat dan bakat manusia yang luar biasa itu bisa dikorelasikan dengan Android untuk mencari data yang mendukung pemaksimalan potensi diri agar dapat mengisi pengetahuan yang dibutuhkan.

Ini proses peralihan dari manusia Android yang terninabobokan oleh kecanduan game dan semacamnya ke arah yang lebih positif. Layaknya pisau. Pisau bisa digunakan untuk membunuh manusia atau memotong kue. Jadi, manusialah yang mengatur, bukan diatur oleh Android.
Apakah kita bagian dari manusia lahir, muda, tua, dan akan mati? Ke arah mana kita akan menggunakan waktu singkat kita yang tersisa? Apakah kita termasuk manusia yang merugi?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 19 Juli 2026

Tinggalkan Balasan