Pernahkah kita membayangkan ada anak kelas 4 SD dapat dengan mudah mengerti seluruh struktur perubahan passiveâkalimat pada kata kerja “me-” menjadi “di-“? Adeeva dalam sekali penjelasan materi sanggup memahami dan dikuatkan dengan latihan lisan yang disiarkan secara langsung (live) di Facebook sekitar 38.50 menit. Bagi Anda yang mengerti passive, Anda bisa mengecek tingkat keberhasilannya di link ini: https://www.facebook.com/share/v/18mZ6c9HQ4/
Keputusan mendidik materi lanjutan tersebut hanya dapat kita berikan pada pelajar yang sanggup paham tenses di luar kepala yang bertujuan untuk menghindari kebingungan dalam belajar grammar (tata bahasa). Kita ingin membantah bahwa grammar itu sulit diajarkan. Dan benar, Adeeva mudah dan cepat mengoreksi manakala ia mengalami kesalahan dalam praktik bicaranya.
Setelah itu, Adeeva istirahat. Ia kemudian berdialog dengan guru kelasnya.
“Adeeva, mana yang lebih sulit, tenses atau passive?” tanya guru kelas.”Passive,” jawab Adeeva.
“Mana lebih cepat dimengerti, tenses atau passive?” lanjut gurunya.
“Lebih lama tenses.” ungkapnya. Materi ini ia pelajari sekitar sebulan.
“Bisakah pelajar mengerti passive bila tidak mengerti tenses?”
“Tidak,” katanya lugas.
“Sudah ada teman kelasmu yang dapat materi ini?”
“Belum,” terangnya.
Adeeva sengaja diajak berdialog agar ia makin mengenali potensi dan kualitas dirinya yang sedang berkembang. Sejurus kemudian, ia diminta membuka buku bacaan cerita Inggrisnya yang mengandung materi passive. Beberapa kalimat dianalisis strukturnya dan diterjemahkan. Ternyata struktur passive persis seperti yang baru saja ia pelajari. Hatinya senang.
Keterhubungan antara reading (bacaan) dengan grammar harus selalu didekatkan untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Ini perlu dilakukan secara terus-menerus hingga sampai pada pemahaman total, minimal 90 persen ke atas. Latihan menjawab soal-soal tulisan passive juga mengikuti sehingga tidak ada lagi keraguan, komprehensif.
Adeeva bukanlah anak SD yang pertama di RBB (Rumah Belajar Bersama) yang telah mendapatkan materi passive, tetapi bagian dari segelintir anak yang punya loncatan belajar di atas rata-rata. Dalam dua atau tiga minggu ke depan, perubahan active (tenses) ke passive dan passive ke active secara acak mampu ia tuntaskan. Semoga!
Seorang anak pendiam mengikuti kelas Bahasa Inggris. Bisa? Bisalah. Hal yang pertama kami ingatkan adalah banyak membaca. Ia mengangguk sebagai tanda menerima. Ketikan membaca suara kecil, mungkin masih pemalu dan takut ketahuan salah. Berkali-kali bacaannya diminta diulang hingga ia cukup percaya diri. Volume suaranya mulai beranjak naik.
Penulis sengaja mengajak Sopan untuk duduk berdua saja, tiada pelajar lain di dekatnya. Ia perlu kenyamanan tanpa ada gangguan dari rekan yang bisa meledek bila ia salah. Sekitar lima belas menit ia membaca dengan suara nyaring. Lalu, suaranya mulaii melemah. Dia pasti capek. “Sopan, bisa terus melanjutkan bacaan tanpa suara saja?” Jawabannya “ya” dengan anggukan kepala. “Okay. Kita sama-sama membaca sampai puasa”, kata penulis.
Lima belas menit berlalu. Terlihat wajah Sopan lelah.
“Mau istirahat?” tanya guru.
Kali ini ia berbicara, “Iya”. Ia menutup bukunya dan tetap duduk di tempatnya.
Penulis terus membaca sembari sesekali menatapnya. Saat wajahnya sudah mulai terlihat segar kembail,
“Sopan, intinya rajin membaca saja. Kamu pasti bisa”, kata penulis menyemangati.
“Cara kamu membaca lebih bagus sekarang dari yang sebelumnya kan?’ pertanyaan ini membuatnya tersenyum.
“Iya”, jawanya lagi.
Di sini, Sopan sudah berubah. Ia sudah mulai akrab dan suka membaca karena kepercayaan dirinya terbangun dengan membaca. Ia tahu bahwa ia sanggup membaca dengan benar dan perulangan dilakukan untuk kemahirannya sendiri. Dan yang berkesan, ia tidak protes. Dan haknya untuk istirahat pun terpenuhi.
Di waktu bersantai, Sopan juga berkesempatan untuk memperhatikan keadaan di lingkungan belajarnya di mana para pelajar sibuk menuntut ilmu. Energi positif sedikit banyak terserap dalam dirinya. Terlebih, ia tidak diperkenankan membawa handphone karena ibunya memberitahu bahwa ia banyak main games android. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain selain melihat keadaan sekelilingnya.
Kita semua berproses untuk berubah yang penekanannya terletak pada ilmu pengetahuan lewat literasi. Orang yang aktif berbicara akan punya lebih banyak bahan berbobot untuk dibicarakan, tidak asal bunyi . Siapa tahu, orang yang pendiam seperti Sopan dan anak-anak yang senasib dengannya suatu saat akan jadi pembicara yang hebat?
Orang yang datang tepat waktu itu menggembirakan. A. Zafira Aeesyaputri punya cara cerdas untuk tidak terlambat datang belajar. Ia biasanya tiba di RBB (Rumah Belajar Bersama) sebelum jam 19.00 di mana kelasnya mulai 19.15 Wita, Senin sampai Jum’at. Waktu luang itu ia gunakan untuk makan malam dan bermain sembari menanti jam belajar tiba.
Pada waktu jam belajar, Aeesya tidak terlalu peduli dengan literasi–dunia anak memang begitu. Tapi ia sangat menikmati pelajaran bila saja yang di dekat tempat duduknya adalah rekan yang punya semangat belajar yang bagus. Ia sangat perhatian pada bacaannya tanpa harus diminta. Kebalikannya sudah bisa ditebak. Bila rekan-rekan yang duduk disampingnya suka bermain saja, kelas jadi riuh, penuh canda tawa.
Strategi lain yang kita gunakan pada Aeesyah yaitu memintanya membaca seorang diri ketika ia terpisah dari rekan kumpulan bermainnya. Awalnya, ia pasti menolak. Penolakannya itu berbuah penerimaan bila kita mengajaknya berdialog dengan elegan.
“Aeesya, membaca yuk?”,
“Capekka Mr.”, katanya. “Saya sudah membaca bersama-sama dengan teman-teman tadi”.
“Mau pintar seperti temanmu Faika atau Adeeva?”, tanya guru.
“Mau”, jawabnya cepat.
“Apa yang mereka lakukan?” Pertanyaan ini mengajak Aeesya menemukan jawaban sendiri.
“Membaca”, balasnya..
“Kalau begitu, supaya Aeesya tambah pintar juga, ayo membaca”, sang guru menatap serius wajah Aeesya. “Nanti saya bantu kalau ada yang sulit dimengerti”, lanjut gurunya.
Aeesya berpikir sejenak. “Tapi sedikit saja kubaca?” harapnya.
“Iya. Yang penting, Aeesya mau membaca. Kalau sudah mau, kamu pasti akan jadi hebat”, kata gurunya meyakinkan.
Aeesya terkadang lupa bahwa ia sudah banyak membaca dan terus disemangati. Ia akan sadar bila ia melihat rekannya yang lain asyik bermain atau kalau ia sudah merasa capek. Itu waktu tepat untuk membuatnya bersenda gurau dengan teman-temannya.
Meyakinkan anak-anak bahwa mereka hebat, pintar, cerdas serta segala kosa-kata yang memotivasi semangat belajar harus selalu kita dengungkan disertai usaha mencari cara agar mereka mau berusaha. Tidak boleh hanya motivasi kosong–harus serta merta diikuti dengan pendampingan.
Tugas guru yang tercerahkan bukan sebatas jam belajar. Jam luang anak-anaknya bisa dimanfaatkan untuk belajar asalkan mereka tidak merasa terpaksa. Guru harus mampu berpikir maksimalkan waktu anak didiknya untuk lebih banyak belajar daripada bermain. Setelah itu, kreativitas berpikir mengelola kelas lebih efektif pasti ditemukan seiring perjalanan waktu.
Waktu itu sangat berharga. Orang barat bilang, time is money (Waktu adalah uang). Dalam ajaran Islam, Tuhan bersumpah, demi waktu. Kita diwajibkan untuk tidak membuang waktu percuma. Aeesya dan semua anak-anak yang sering datang belajar tepat waktu punya kesempatan lebih besar untuk belajar lebih dari yang lainnya.
Apakah kita punya alasan yang cukup untuk menyia-nyiakannya waktu?
Menulis bersama Dr. Horst Liebner membuat saya berpikir berat karena apa yang sebenarnya ia minta untuk saya tulis ia sudah ketahui. Orang tahu ia tokoh yang mengetahui secara mendalam tentang seluk beluk perahu Indonesia khususnya Sulawesi Selatan dan Barat, terdokumentasikan lewat buku-bukunya dan thesis kuliahnya.
Membalas tulisan singkat bersama Dr. Horst Liebner di Bantilang Pak Najib. Foto pada Minggu, 25 Mei 2026
Beruntung, pertemuan saya di Tanah Beru ini, kami sekedar menambah sedikit tulisan yang telah dibuat dan sedikit berdebat tentang penggunaan kata yang tepat. Ini yang asyik. Pertimbangan yang dipakai adalah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan otak masing-masing yang sesuai cita rasa sendiri yang dirasakan nyaman dan mudah diterima publik. Ini yang lama. Namanya juga rasa, itu sangat personal, tidak ada ukuran yang pas. Namun setelah kami saling bertukar pikiran, ternyata ada juga kesepakatan yang dicapai. Dua bagian tulisan selesai di Bantilang Pak Najib.
Setelah itu, saya mencari bahan pembuatan kayu pada perahu. Wawancara dengan Pak Najib telah sangat membantu namun saya mesti berkeliling di berbagai Bantilang untuk bisa melihat lebih dekat yang akhirnya itu menganttarkan saya sampai di Kaluku Bodo, dekat pelabuhan Tanah Beru.
Saya bertemu dengan Pak Pudding dan Fian, anaknya. Kayu lokal dan kayu dari luar pulau disebutkan. Karena ramai. Kemudian, Pak Horst datang juga. Eh, malah berdebat tentang perahu zaman Belanda hingga Sawerigading segala, asal usul manusia dan perahu. Terjadi benturan antara rasionalitas dengan folklor, cerita rakyat. Saya tidak mau terlibat dan memilih sesekali berkomentar bila ada perdebatan yang tajam. Ya, semacam iklan agar suasana lebih santai.
Diskusi yang kemudian berlanjut dengan debat dengan Horst Liebner, Pak Pudding dan Fian di Kaluku Bodo tepatnya di Bantilang Pak Pudding. Foto pada Minggu, 25 Mei 2026.
Tapi saya heran juga. Kok saya menikmati perdebatan mereka. Dari sore hingga matahari tenggelam, saya tetap tinggal. Baru setelah menjelang Isya, kami memutuskan untuk bubar. Nampaknya, bila bertemu lagi, perdebatan intelektual akan terulang kembali. Saya pikir itu bagus karena kritisisme memang perlu dibangun. Pembahasannya pun konstruktif, kenapa harus ditolak.
Saya berharap bila tulisanku nanti tentang kayu yang digunakan pada pembuatan perahu juga mereka perdebatkan sehingga saya tidak memilih lagi jadi penonton tapi pelaku debat yang mempertahankan pendapat.
Asyik juga bergaul bersama Pak Horst. Saya merasa bisa mengenal lebih dekat cara berpikir kritisnya dan Panrita Lopi (Ahli pembuat perahu) yang berkat ilmunya yang luar biasa dan tenaganya membuat perahu, Indonesia dikenal juga dengan negeri maritim.
Nanti lanjut lagi. Mau main catur đ
Zulkarnain Patwa
Minggu, 24 Mei 2026
Bergaul dengan Ahli Perahu
Menulis bersama Dr. Horst Liebner membuat saya berpikir berat karena apa yang sebenarnya ia minta untuk saya tulis telah ia ketahui. Orang tahu ia tokoh yang mengetahui secara mendalam tentang seluk-beluk perahu Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan dan Barat. Semua itu terdokumentasikan lewat buku-bukunya dan tesis kuliahnya.
Beruntung, dalam pertemuan kami di Tanah Beru ini, kami sekadar menambah sedikit tulisan yang telah dibuat dan sedikit berdebat tentang penggunaan kata yang tepat. Ini yang asyik. Pertimbangan yang dipakai adalah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan otak masing-masing sesuai cita rasa sendiri yang dirasakan nyaman dan mudah diterima publik. Ini yang lama. Namanya juga rasa. Itu sangat personal dan tidak ada ukuran yang pas. Namun, setelah kami saling bertukar pikiran, ternyata ada juga kesepakatan yang dicapai. Dua bagian tulisan selesai di Bantilang (tempat pembuatan perahu) Pak Najib.
Setelah itu, saya mencari bahan pembuatan kayu pada perahu. Wawancara dengan Pak Najib telah sangat membantu. Namun, saya mesti berkeliling di berbagai Bantilang untuk bisa melihat lebih dekat–yang akhirnya itu mengantarkan saya sampai di Kaluku Bodo, dekat pelabuhan Tanah Beru.
Saya bertemu dengan Pak Pudding dan Fian, anaknya. Kayu lokal dan kayu dari luar pulau disebutkan karena ramai. Kemudian, Pak Horst datang juga. Eh, malah berdebat tentang perahu zaman Belanda hingga Sawerigading segala–asal usul manusia dan perahu. Terjadi benturan antara rasionalitas dengan folklor, cerita rakyat. Saya tidak mau terlibat dan memilih sesekali berkomentar bila ada perdebatan yang tajam. Ya, semacam iklan agar suasana lebih santai.
Tapi saya heran juga: kok saya menikmati perdebatan mereka? Dari sore hingga matahari tenggelam, saya tetap tinggal. Baru setelah menjelang Isya, kami memutuskan untuk bubar. Nampaknya, bila bertemu lagi, perdebatan intelektual akan terulang kembali. Saya pikir itu bagus karena kritisisme memang perlu dibangun. Pembahasannya pun konstruktif: kenapa harus ditolak?
Saya berharap bahwa tulisan saya nanti tentang kayu yang digunakan pada pembuatan perahu juga mereka perdebatkan. Dengan demikian, saya tidak memilih lagi jadi penonton, tapi pelaku debat yang mempertahankan pendapat.
Asyik juga bergaul bersama Pak Horst. Saya merasa bisa mengenal lebih dekat cara berpikir kritisnya. Saya juga berterima kasih kepada Panrita Lopi (ahli pembuat perahu), yang berkat ilmu dan tenaganya membuat perahu, Indonesia dikenal dengan negeri maritim.
Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Pepatah Arab yang diadopsi Melayu mengingatkan betapa berharganya masa anak-anak, fase di mana otaknya berkembang dan daya ingat masih sangat luar biasa. Mereka menjadi peniru ulung pada lingkungan terdekatnya.
Masyarakat yang mayoritas muslim Indonesia sangat peduli agar anak-anaknya pandai mengaji. Marak di lingkungan kita di mana hari anak-anak mengaji dari siang hingga sore hari. Dan karena Al Qur’an berbahasa Arab, bahasa Arab bukan hal asing meskipun bahasa Indonesia memakai huruf latin.
Ini adalah tradisi, kekayaan yang telah lama tertanam kuat di masyarakat kita. Ketika anak anak diwajibkan belajar dasar-dasar agama dengan mengaji, orang tua cukup mempertahankan cara berpikir ini dalam ilmu pengetahuan umum agar pelajaran sekolahnya tidak tertinggal. Kita tahu Matematika dan Bahasa Inggris itu pelajaran yang sulit bagi pelajar sekolah. Persoalan ini pasti dengan mudah diselesaikan bila saja berpikir bahwa belajar ilmu pengetahuan umum sama pentingnya dengan belajar agama.
Muhammadiyah adalah contoh menyejarah yang mengintegrasikan agama dan ilmu umum yang diklaim berasal dari barat. Awalnya organisasi modern ini dituduh kafir namun waktu membuktikan bahwa ide yang ia usung itu sesuai dengan tuntutan zaman. Kesuksesan merubah cara pandang. Sekarang ini sekolah tinggi dan universitas baik negeri maupun swasta memasukkan ilmu umum di fakultas.
Kita yang telah sadar akan pentingnya keselarasan tersebut di atas perlu membagi waktu tepat buat anak-anak kita agar mereka berkesempatan mempelajari ilmu agama dan ilmu umum. Bila sejak kecil mereka telah akrab dengan beragam ilmu pengetahuan, mereka punya bekal yang lebih banyak untuk menentukan jalan hidup atau cita-cita yang paling tepat buatnya.
Akankah kita melewatkan masa terbaik “mengukir di atas batu”? Semua kembali pada keluarga dari anak-anak tersebut utamanya orang tua.
Saat ponsel istriku berbunyi, terdengar percakapan yang begitu asyik dan bahagia.
Istriku berkata “Iya rinduku”. Nama pun terucap yang memastikan kalau yang menelpon adalah sahabatnya semasa kuliah, bernostalgia dan berencana bertemu.
Keesokan hari, setelah menunggu deringan ponsel sahabatnya tentang kepastian kedatangannya, rasa penasaran itu terjawab setelah tangannya tergerak meraih ponsel dan jari jemarinya pun menekan nomor kontak.
Sontak istri saya gembira dan bahagia mendengar kalau sahabatnya telah berada di Jeneponto.
Saya pun turut merasakan kebahagian istriku akan arti dan nilai persahabatanya.
Lelah dalam perjalanan jauh, akhirnya kerinduan mereka terbayarkan saat tiba dan bertemu di Villa Malomo Bira. Rangkulan hangat dan cipika cipiki tak terhindarkan.
Villa Malomo adalah pilihan yang bijak yang menginap di Bira
Nostalgia berlanjut dengan cerita cerita masa lalu sembari menikmati pisang goreng dan seduhan teh panas sampai larut malam. Setelah puas, terdengar suara menguap dan hingga akhirnya mereka sepakat untuk beristirahat, tidur malam di kamar masing masing.
Kamar Villa Malomo.
Kicauan burung menyambut pagi terdengar di sela-sela pohon saat kami sedang duduk santai di Lounge Villa Malomo Bira menikmati secangkir teh dan kopi.
Bira yang terkenal dengan keindahan pantai dan pasir putihnya membuat kaki ingin bergegas melangkah berkeliling. Rencanapun disusun dan pilihan spot pertama yang dikunjungi adalah Titik Nol. Setelah sampai, japretan demi japretan sulit terhenti dengan gaya khas masing masing.
Setelah menikmati panorama keindahan laut dikelilingi tebing yang lingkungan yang alamnya natural, waktupun harus memisahkan mereka karena kewajiban untuk masuk kantor.
Kata “Iya, rinduku” terjawab sudah.
Ini layaknya orang yang kehausan terlepas dahaganya.
Dan di Villa Malomo Bira menjadi saksi kisah ini kutulis.
The Ministry of Primary and Secondary Education (Kemendigdasmen) no longer focuses on grammar in school English lessons. Instead, they focus more on active speaking. They believe this is effective for elementary and junior high school students.
On the other hand, alternative education centers like RBB (Rumah Belajar Bersama) do the opposite. They design lessons so elementary school students can memorize grammar, especially tenses and their changes. For them, this is the most basic material for understanding sentences.
If students learn too much grammar, will their speaking skills become slow?
The answer can be yes if the lesson only focuses on grammar. However, the answer is no if the lesson also includes reading and speaking.
Then, how can students answer test questions correctly if they do not know basic grammar, such as parts of speech and tenses? Do elementary and junior high school English tests focus on speaking?
To answer the first question: written tests always require correct grammar. The only exception is multiple-choice questions, where students just click the answer they think is right. In multiple-choice tests, if students do not know the answer, they can guess. There is a chance to get it right by luck. However, on essay questions, the chance of guessing correctly is very low.
To answer the second question: speaking tests are not common yet. This is because the current school curriculums (K13 and Merdeka Curriculum) still use written formats. Even at the university level, TOEFL tests do not always include a speaking section.
The Solution
Adeeva, a 4th-grade student, has memorized English tenses perfectly. Is her speaking rigid because she learns too much grammar? Not at all. Before learning grammar, she finished two English reading books. In the first book, she practiced reading aloud and understanding the meaning. In the second book, she answered questions based on stories. In this second stage, basic grammar was introduced because she needed it to write the correct answers.
Now, she is reading her third book, Pre-Intermediate Reading, where the questions require more than just basic tenses.
The benefit for Adeeva is that her speaking is more structured and organized. She feels more confident to speak because she knows what she says is correct. This is because her Reading, Speaking, and Grammar lessons work well together.
By keeping grammar in the lessons, our students will also have a great chance to write essays, articles, or other texts. Writing is an important part of academic life. We can encourage children and teenagers to write down their ideas and even write books.
Elementary school students have a great opportunity to be like Adeeva. They can master tenses without missing school curriculum targets, as long as we combine different English lessons properly.
By 2027, the Ministry will implement English lessons starting from the 3rd grade of elementary school. They hope this will help students speak actively. After that, they will evaluate the pros and cons of the curriculum. Then, they can design a more comprehensive learning system to create globally competitive students.
Will grammar get more attention in the future? Letâs wait and see.
Overall, we may take different steps, but we have the same goal: to educate our nationâs children.
SI (Syarikat Islam) is a large organization working in religion, social affairs, trade, education, and very important, politics; it doctrine its intellectual figures to fight against Dutch colonialism. Take for example H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, Semaun, Kartosuwiryo, Muso, and many more.
Differences in ideology made them clash with each other. H.O.S. Cokroaminoto and Agus Salim represented the religious nationalist group and clashed with Semaun and Muso. Meanwhile, Soekarno, who was a pure nationalist, very clearly clashed with Kartosuwiryo, who wanted to establish the Islamic State of Indonesia.
Cross-Faction Meeting
Several figures in Bulukumba gathered to form the SI board. Will they clash with each other too? Syahruni Haris sees that as just a historical nostalgia. “Learn from past mistakes, do not repeat bad history but create new history,” explained this Vice Chairman of the legislative assembly in Bulukumba regency.
As a follow-up to unify their perception, a meeting of several Bulukumba figures from various backgroundsâfrom the “left, right, front, and back” groups (the author’s term)âgathered at Circle on Saturday, May 16, 2026.
Will they clash with each other like their predecessors?
The present era is no longer about ideological clashes and physical warfare like the independence era, but about how to fill the independence, as explained below.
Answering the Challenges of the Era for SI Bulukumba
From its great history, it is important to remember that SI did not disband but continues to move dynamically according to the changing times. Currently, the General Chairman of central SI is Prof. Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., the former Chief Justice of the Constitutional Court.
In this year of 2026, SI is present in Bulukumba Regency, South Sulawesi.
Ahmad Said, the Chairman of the Bulukumba SI Branch Council, gave an introduction stating that SI Bulukumba will monitor the policies of the Indonesian government in Bulukumba, oversee the running of the local government, and be actively involved in advocating and educating Muslims, as done by Islamic organizations. SI, which was originally SDI (Syarikat Dagang Islam), certainly has a high focus on reviving the spirit of public entrepreneurship by supporting cooperative programs, not as an antithesis but as an initiation of what the government has done today.
The idea was well received. Abdul Kahar Muslim as the Branch Leader and Iwan Salassa, the Vice Chairman of the Bulukumba SI Branch, added that the representation of women figures in SI is also very important to fight for the rights of women’s struggle.
Several members of the Bulukumba Branch of Syarikat Islam gathered to devise the organization’s future strategic steps. Photo Source: H. A. Abdul Haris on Saturday, May 16, 2026
Next Steps
Of course, there are still many smart ideas that must be born and worked on. H. A. Haris Ishak, the Secretary of the Bulukumba SI Branch, views that other systematic strategic activity plans will be discussed at the SI Work Program Meeting, which will then be socialized to the public so that people connected to the SI program can be actively involved and participate.
“May Allah SWT always grant the gifts of health, blessings, and His mercy to all of us,” closed Abdul Kahar Muslim.
Closing
SI has produced great ideas and figures according to their respective ideologies. It has the awareness not to fall into Indonesia’s dark history. Now, the figures of SI Bulukumba emphasize more on combining all the resources they have to collaborate in supporting the work programs that will strengthen SI’s mission: Independence of the Ummah, Economic independence, Inclusive dakwah, and Social justice.
SI (Syarikat Islam) organisasi besar bergerak dalam keagamaan, sosial, perdagangan, pendidikan dan yang sangat penting adalah politik; mendokrin tokoh intelektualnya melawan kolonialisme Belanda. Sebut saja H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, Semaun, Kartosuwiryo, Muso dan masih banyak lagi.
Perbedaan ideologi membuat mereka saling hantam. H.O.S. Cokroaminoto dan Agus Salim mewakili kelompok nasionalis religius bentrok dengan Semaun dan Muso, Sukarno yang nasionalis tulen sangat terang saling gasak dengan Kartosuwiryo yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia. Itulah sekilas sejarahnya.
Pertemuan Lintas Kubu
Beberapa tokoh Bulukumba berkumpul membentuk pengurus SI. Apakah mau saling gasak juga? Syahruni Haris memandang bahwa itu sekedar nostalgia sejarah. âBelajar dari kesalahan terdahulu, jangan mengulang sejarah buruk tapi ciptakan sejarah baruâ, terang Wakil Ketua DPRD Bulukumba ini.
Sebagai tindak lanjut penyatuan persepsi, pertemuan beberapa toloh bulukumba dari berbagai latar belakangâdari  aliran âkiri, kanan, depan maupun belakangâ (istilah penulis)âberkumpul di Circle pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Apakah mereka akan saling berbenturan seperti para pendahulu?
Zaman now bukan lagi terletak pada benturan ideologi dan perang fisik seperti masa kemerdekaan itu melainkan bagaimana mengisi kemerdekaan seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.
Sebagian para pengurus Syarikat Islam Cabang Bulukumba yang sedang berkumpul menggagas langkah strategis SI ke depan. Sumber Foto: H. A. Haris Ishak pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Menjawab Tantangan Zaman SI Bulukumba
Dari sejarahnya yang besar itu, patut diingat SI tidak bubar tapi terus bergerak dinamis sesuai perubahan zaman. Saat ini Ketua Umum pusat SI dijabat oleh Prof. Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi .
Pada 2026 ini, SI hadir di Kab. Bulukumba, Sulawesi-Selatan.
Ahmad Said, Ketua Dewan SI Cabang Bulukumba, memberikan pengantar bahwa SI Bulukumba akan mengawal kebijakan pemerintah RI di Bulukumba, mengawasi jalannya roda pemerintahan daerah, dan turut terlibat aktif mengadvokasi dan mengedukasi kaum muslimin sebagaimana dilakukan organisasi Islam. SI yang awalnya adalah SDI (Syarikat Dagang Islam) pasti punya konsentrasi yang tinggi dalam membangkitkan kembali spirit kewirausahaan masyarakat dengan mendukung program koperasi, bukan sebagai anti tesa tetapi sebagai inisiasi dari apa yang telah dilakukan pemerintah saat ini.
Gagasan tersebut disambut baik.  Abdul Kahar Muslim selaku  Pimpinan Cabang dan Iwan Salassa, Wakil Ketua SI Cabang Bulukumba menambahkan bahwa tokoh keterwakilan perempuan di SI juga sangat penting untuk memperjuangkan hak-hak perjuangan perempuan.
Langkah Selanjutnya
Tentu, masih banyak ide cerdas yang harus dilahirkan dan dikerjakan. H. A. Haris Ishak, Sekretaris SI Cabang Bulukumba, memandang bahwa rancangan kegiatan strategis yang tersistematis lainnya akan dibahas pada Rapat Program Kerja SI yang kemudian akan sosialisasikan kepada publik agar masyarakat yang terhubung dengan program SI dapat terlibat aktif berpartisipasi.
“Semoga Allah SWT selalu melimpahkan anugerah kesehatan, berkah, dan rahmat-Nya kepada kita semua,” tutup Abdul Kahar Muslim.
Penutup
SI telah mencetak ide-ide dan tokoh-tokoh besar yang sesuai dengan ideologi masing-masing. Ia punya kesadaran untuk tidak jatuh pada sejarah kelam Indonesia. Kini, para tokoh-tokoh SI Bulukumba lebih menekankan pada penggabungan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk dikolaborasikan dalam mendukung program kerja yang akan memperkuat misi SI: Kemerdekaan Umat, Kemandirian ekonomi, Dakwah inklusif dan Keadilan sosial. Adakah sejarah baru yang akan tercipta?
Bridging smart teachers and talented students together has happened many times through a partnership between GAIA in Pati, Central Java, and RBB (Rumah Belajar Bersama) in Bulukumba, South Sulawesi. What made this fifth online English meeting special was that each institution sent four students to participate in a question and answer session.
This idea came up after Miss Salma Minasaroh from GAIA filled the teaching sessions four times. The RBB children were very excited to learn from her. It would be much better if the GAIA children could also join, so that students across islandsâJava and Sulawesiâcould connect. She agreed. To make it effective, the number of participants was very limited so that everyone had enough chance to speak and answer twenty questions.When they met on the screen, the children just looked at each other. None of them greeted each other or started a conversation until the silence was broken when Miss Salma took over the class for the English lesson.
The question and answer session went very smoothly. Only one or two English words from the students’ conversation were hard to understand. In short, the English learning process ran normally. The secret lay in the skill and experience of the teacher, an alumna of two universities, UAD and UGM Yogyakarta. She knew exactly how to manage a classroom and the students had practiced well on the question and answer materials that would be discussed online.
After understanding the basics of simple conversation, our students should be motivated to be brave enough to communicate with other people, not just their teachers. Yes, we know that children tend to be shy around people they just met. That is our challenge for the future, so they can become close friends with fellow Indonesian students before stepping further into international relations between countries.
GAIA and RBB, which are part of the institutions focused on developing the quality of Indonesian students, are certainly ready to move in that direction. Based on the evaluation above, a better plan for the next online learning has been prepared. Knowledge and mental strength must walk hand in hand. Do you have any interesting ideas too? Let’s see. That’s all for now