Mengupayakan kualitas belajar yang berbobot yang menyenangkan adalah langkah konkrit oleh Miss Fathy Cayadi pada pengajaran bahasa Inggris berbasis literasi yang dikombinasikan dengan praktik bicara merupakan harapan yang ia terus gerakkan di Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete. Ia dengan mantap berhasil mengorelasikan bacaan buku dengan praktik langsung bicara di kelas.
Seperti apa yang Miss Fathy lakukan pada pengajarannya kali ini? Untuk lebih jelas, mari kita simak aktivitasnya:
1. Membaca isi buku pada lesson 10 dan ditindaklanjuti dengan mengerjakan latihannya. Lalu, praktik tentang lawan kata sifat disertai pembedaan subjek he, she, dan it (dia untuk laki-laki, dia untuk perempuan, dan benda tunggal selain manusia).
2. Pada lesson 11, para pelajar membaca percakapan yang menanyakan kepemilikan menggunakan “whose” (milik siapa). Setelah itu praktiknya adalah mengambil pulpen milik siswa dan kemudian bertanya, “Whose pen is this?” Jawaban, “I think this is my pen.” Tanya-jawab satu persatu ini dibuat secara bergiliran hingga semuanya berbicara.
3. Pada lesson 12, penggunaan possessive adjective (kata sifat kepemilikan). Contoh: This is my handbag or this is your handbag (Ini adalah tas jinjingku atau ini adalah tas jinjingmu).
4. Pada lesson 13 dan 14 kepemilikan menggunakan ‘s. Contoh: This is Malika’s pen or this is Afif’s pen (Ini pulpennya Malika atau ini pulpennya Afif.
5. Pada lesson 15, pembelajaran tentang warna. Contoh: What colour’s your umbrella? (Warna apa payungmu?).
6. Pada lesson 16, materinya masih membahas tentang warna dan kepemilikan namun Miss Fathy membuat lesson ini lebih semarak dengan adegan games, memutar musik sambil memindahkan satu benda keliling dan bertanya, “Punya siapa?” Pelajar tutup mata, Miss Fathy tidak terlihat karena para pelajar tutup mata. Dia lalu mengambil satu pulpen pelajar. Mereka bertanya tentang ciri-ciri benda tersebut. Is it blue? Is it long? etcetera ((Apakah itu biru? Apah itu panjang?) dan lainnya.
Untuk pemula, materi ini terlihat padat. Namun, karena waktu belajar cukup panjang yaitu tiga jam semua itu bisa dipahamkan dan diolah dengan suasana serius tapi santai di mana para pelajar rileks tanpa kehilangan fokus dalam belajar.
Mengkombinasikan buku bacaan dengan praktik bicara yang sesuai konteks keadaan pelajar memang membutuhkan kreativitas guru. Apa yang diajarkan Miss Fathy adalah
Literacy-Based Communicative Language Teaching yang
sangat selaras target capaian pembelajaran bahasa Inggris yang selain menguatkan pembelajaran akademik, itu juga sangat bermanfaat dalam percakapan sehari-hari.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 18 Juli 2026

Tinggalkan Balasan