Lubang Kecil, Persiapan Pelajar Kelas Dunia

Hilal kelas 6 SD dan Adeeva kelas 5 SD adalah anak yang telah berada pada buku tahap ketiga dengan kualifikasi kemampuan membaca teks Inggris disertai jawaban soal yang sesuai aturan grammar. Betapapun demikian, ini bukan jaminan bahwa mereka cukup andal. Oleh karena itu, mereka diajak untuk me-review materi.

Hilal membaca buku cerita berbahasa Inggris dan Adeeva membaca terjemahan bacaan cerita tersebut ke dalam bahasa e.

Pada buku ketiga, kedua anak ini membaca lesson 1 sampai 5. Hilal membaca cerita berbahasa Inggris, sementara Adeeva menterjemahkan tiap bacaan pada kalimat dalam bahasa Indonesia. Pertukaran berbahasa Inggris dan Indonesia ini dilakukan secara bergiliran di setiap lesson.

Hilal yang membaca soal-soal pada buku cerita berbahasa Inggris.

Mengenai soal-soal pada cerita, meskipun mereka sudah mengerjakan secara tertulis, hal tersebut belum dibahas karena pembelajaran ini memasuki tahapan menjawab tanpa teks. Sebagai langkah awal, mereka diajak menikmati bacaan tanpa harus berpikir berat.

Adeeva membaca soal-soal berbahasa Inggris. Hilal mendengar dan berusaha menjawab secara lisan.

Perlakuan berbeda ketika membahas buku tahap kedua, Questions and Answers. Mereka tidak lagi membahas teks cerita tapi soal-soal cerita secara lisan. Teks bahasa Indonesia dihilangkan. Hilal melihat buku untuk membaca soal-soal cerita, Adeeva tangan kosong, mengandalkan otak saja untuk menjawab. Begitu juga sebaliknya. Mereka sukses menyelesaikan dua lessons:

1. A Good Book yang berisi 27 soal 2. In the Park yang berisi 25 soal.

Mereka kemudian istirahat.

Pembelajaran selanjutnya, Adeeva seorang diri belajar karena Hilal mempunyai urusan lain. Guru kelas turun langsung bertanya, membahas 4 lessons:

1. He’s not an Artist, 24 soal.
2. What is the Baby Doing?, 24 soal.
3. In a Department Store, 25 soal.
4. A Modern Picture, 26 soal.

Jadi, total soal cerita yang dijawab secara mandiri dalam satu pertemuan adalah 181 soal. Jumlah yang banyak ini merupakan hal yang biasa saja dan malahan itu akan ditingkatkan karena mereka dirancang untuk persiapan olimpiade bahasa Inggris dan kompetisi internasional nantinya. Sekadar catatan, Adeeva telah meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS) pada 23 Juni 2026.

Proses review ini sangat berharga. Adeeva yang kualitasnya cukup meyakinkan ternyata ia beberapa kali masih membuat kesalahan kecil. Misal:

Pertanyaan:
+ Does she paint pictures at school or does she read books?

Jawaban Adeeva:
– She does paint pictures.
– She paint pictures.

Jawaban sebenarnya
– She paints pictures.

Adeeva telah paham kalimat simple present di atas tapi sebagaimana pelajar Indonesia pada umumnya, ia kadang-kadang terjebak kata “does” dan lupa menambahkan “s” pada kata kerja yang subjeknya tunggal. Latihan ini segera menyadarkan hal-hal kecil tapi penting untuk tidak boleh dilupakan.

Contoh lain pada kalimat present progressive:

Pertanyaan:
+ What is Mr. Mason doing?

Jawaban Adeeva:
– He standing in front of a car.
– Mr. Mason standing in front of a car.

Jawaban sebenarnya:
– He is standing in front of a car.
– Mr. Mason is standing in front of a car.

Ia terlalu terburu-buru menjawab. Setelah diingatkan bahwa ada kata yang terlupakan, ia memasukkan “is”, mengoreksi sendiri.

Kecanggihan itu terletak pada kesederhanaan itu sendiri, kata Steve Jobs pendiri Apple Computer. Kesalahan simple (sederhana) yang dibuat oleh Adeeva adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan, sebab ia adalah segelintir anak yang tergolong memahami seluruh perubahan tenses di luar kepala. Oleh karena itu, review memastikan semua “lubang-lubang” kecil tertutupi dengan sempurna.

Apakah kita punya kesungguhan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 16 Juli 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *