Ini bukan cerita khayalan melainkan kenyataan yang diceritakan. Tenses di luar kepala adalah materi biasa diajarkan kepada anak SD di Rumah Belajar Bersama (RBB). Anak-anak dibiasakan membaca perubahan tenses dalam kotak yang berisi kalimat dan kemudian praktik dengan kotak kosong, tanpa kalimat.
Kenapa tenses sangat penting? Bayangkan saja, pelajar SMP, SMA dan bahkan di perkuliahan pun, materi ini masih diajarkan. Sungguh begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia bila kita tidak memulai pengajaran ini sejak SD. Seharusnya, para pelajar itu sudah mempelajari hal lainnya, tetapi karena inti perubahan kalimat ini belum tuntas, itu diulang lagi pada pendidikan lanjutan. Ini namanya pemborosan waktu.

Saat menjadi mahasiswa dan belajar di Kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, penulis menemukan di berbagai macam tempat kursus di mana para pelajar sekolah, mahasiswa dan bahkan S-2 sekalipun masih berantakan memahami tenses.
Beruntung, ada beberapa tempat kursus yang sangat peduli penguatan materi ini sehingga penyelamatan dapat dilakukan. Penulis dan pelajar lainnya sadar bahwa tanpa tenses, kami akan sangat kesulitan mengerti teks berbahasa Inggris dan tertatih-tatih dan bahkan bisa stres mendalami materi lanjutan. Misal, bagaimana mungkin memahamkan conditional sentences atau question tag tanpa dasar tenses?

Sebenarnya, materi ini sederhana. Satu kata kerja semisal “go” sudah dapat menerapkannya. Subjek I, you, they, we, he, she, dan it dimainkan untuk mengasah otak. Beragam subjek menimbulkan variasi kalimat sehingga merangsang ketajaman berpikir untuk mengolah perubahan kalimat yang subjeknya tunggal atau jamak.
Cara memahamkan bisa dengan membaca berulang-ulang hingga melekat di luar kepala. Membaca meskipun dengan teks yang sama, itu menambah pemahaman baru dari pengetahuan yang sebelumnya. Peran guru untuk mendidik secara konsisten serta penjelasan seperlunya pada tiap-tiap perubahan kalimat dibutuhkan agar pelajar sedikit demi sedikit mengetahui fungsinya. Jalan inilah yang mengantarkan para pelajar mengerti di luar kepala dengan membuktikan praktik kalimat dengan kotak kosong saja.

Selanjutnya, kebiasaan literasi berbahasa Inggris itu harus selalu dihadirkan agar pelajar bisa sering melihat struktur kalimat. Mereka akan sadar bahwa betapa berharganya tenses itu karena tidak ada kalimat tidak berpola tenses. Dari sini, pelajar juga akan merasa lebih nyaman, percaya diri dan lancar membaca karena arti bacaan dan struktur saling terkait, tidak bisa dipisahkan.
Namun, sebagian pendapat beranggapan bahwa tidak perlu tenses; pembiasaan membaca dan bicara saja sudah cukup. Banyak orang Barat berbahasa Inggris tanpa mengerti tata bahasa dan mampu membaca dengan baik. Kritik ini ada benarnya juga. Pertanyaannya, apakah keseharian kita berbahasa Inggris? Apakah literatur yang kita baca selama ini berbahasa Inggris?

Penulis sendiri sejak kelas 4 SD sudah diajarkan oleh (alm.) ayah untuk berbicara dengan dirinya dan diajak berbicara dengan orang asing di Pantai Bira, membaca majalah dan buku-buku berbahasa Inggris. Banyak hal diketahui tanpa lewat hafalan, pembiasaan saja.
Persoalannya, ketika dihadapkan pada persoalan makna yang mendalam dari struktur kalimat pada bacaan, penulis tidak mampu menemukannya. Justru, anak-anak sekarang ini bisa melakukannya karena selain membaca dan bicara, mereka belajar tata bahasa. Ini berkebalikan dengan penulis yang nanti setelah mahasiswa baru bisa mengerti lebih baik. Di sinilah penulis merasa menyesal mengabaikan tata bahasa sewaktu masih anak-anak dan penyesalan itu sebaiknya tidak terulang pada pelajar lainnya, setidaknya kepada pelajar yang berada di lingkungan terdekat.
Tenses di luar kepala berikut dengan fungsi-fungsinya bagi anak SD sebagai strategi menghemat waktu belajar ini bukanlah hal yang luar biasa. Biasa saja. Ia menjadi luar biasa karena sedikit orang yang mau dan berani melakukannya.
Apakah kita mau menjadi bagian dari sedikit itu dan menjadikan luar biasa itu menjadi hal biasa?
Zulkarnain Patwa
Selasa, 21 Juli 2026

Tinggalkan Balasan