Kategori: Uncategorized

  • Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Apa yang pemuda harus lakukan? Di tengah kebingungan putus kuliah di Makassar, Agung Pratama Salassa memecah kebuntuan berpikir dengan menemukan langkah yang tepat membangun masa depan. Ia memutuskan pergi jauh belajar Bahasa di Kampung Inggris, Desa Tulungrejo, Kediri,  Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung, ia tinggal selama tujuh tahun di sana.

    Pemuda Bulukumba hanya berbekal informasi berangkat seorang diri, tidak mengenal siapa pun. Saat tiba di Camp Asset (Associtaon of Sulawesi Students) di kampung Inggris, orang-orang Sulawesi tidak langsung percaya begitu saja. Ia orang asing dan diinterogasi. Karena niatnya yang benar, interogasi malah berbuah keparcayaan. Agung diterima. Dari situ, ia tahu bahwa terdapat ribuan pelajar dari Sulawesi ada di kampung Inggris. Ada lima camp Asset: . Laga Ligo, Sam Ratulangi, Halu Oleo untuk Camp Putra dan Camp Tanriabeng dan Andi Depu untuk Camp Putri. Selebihnya mereka tinggal di berbagai macam Camp yang disediakan lembaga kursus atau masyarakat setempat.

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    Oleh para senior, Agung memperoleh saran yang baik. Pemula tidak perlu sok pintar. Karena itu, ia mengikuti kursus pemula tentang vocabularies (kosa kata) di mana 100 kata wajib dihapal setiap hari, Basic Speaking and grammar (Dasar berbicara dan tata bahasa). Pengetahuan yang diperoleh di kursus wajib disebarkan di Asset yang mempunyai pertemuan dua kali sehari; setelah shalat Subuh dan Maghrib secara berjamaah. Awalnya ia sulit beradaptasi. Beberapa waktu berlalu, ia sadar bahwa ternyata belajar mendalam itu adalah review (mengulangi hal-hal penting). Tinggal di Camp juga wajib Speaking English sehingga segala aktivitas keseharian otomatis berbahasa Inggris.

    Karena pemahaman dan peningkatan kwalitas belajar, Agung kecanduan belajar. Tidak terasa, ia telah belajar selama dua tahun. Ia tidak berhenti, tidak pulang kampung. Rasa ingin tahunya makin tak terbendung layaknya orang yang kehausan di tengah gurun di bawah pancaran sinar matahari membakar. Bagaimana ia bisa tinggal lebih lama? Ia merancang strategi cerdas dengan menyampaikan kepada orang tuanya bahwa ia hendak kuliah di Pare, mengambil jurusan Manajemen di  Universitas Islam Kadiri. Kenapa bukan jurusan Bahasa Inggris? Itu terlalu mudah. Ia percaya keahlian berbahasa Inggris bisa tanpa universitas. Semua kebutuhan bahasa Inggris minus skripsi telah tersedia. Dengan memilih manajemen, ia memperoleh ilmu tambahan. Usulan diterima oleh orang tua.

    Agung mencetak rekor, tujuh tahun belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, lima tahun kuliah hingga sarjana. Orang-orang biasanya datang belajar untuk beberapa bulan atau satu sampai dua tahun. Tiga tahun itu sudah hebat. Ketika belajar Bahasa Inggris menjadi bagiabn dari kehidupan sehari-hari, perhatian Agung ketertarikan mendalam pada pronunciation (pengucapan) yang dilengkapi dengan cara membaca phonetic symbol tertera di kamus. Tantangan menyenangkan lainnya adalah grammar karena otaknya terpicu berpikir kritis untuk menemukan alasan dibalik terbentuknya suatu kalimat, frase dan kalimat. Sekelumit itu yang banyak berperan menganalisa persoalan tingkat tinggi semisal materi TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Test System).

    Agung yang setelah berada di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur, kembali ke pulang kampung di Bulukumba dan mengajar Grammar di Rumah Belajar Bersama.

    Sisi Lain Kampung Inggris
    Tinggal di kampung mengajarkan makna kemanusiaan. Agung pernah menjadi ketua di salah satu Camp Asset merasakan bagaimana cara menguatkan ikatan persaudaraan, dan  berempati. Asset sebagai perkumpulan daerah terbesar dan tertua di Pare seringkali mengadakan open donasi bagi pelajar yang tertimpa masalah, bazar untuk penggalangan dana dan donor darah. Jaringan, perkawanan dan kepercayan pun terbangun. Para pemuda juga belajar berorganisasi, menggerakkan orang banyak sebagaimana aktivitas para mahasiswa yang kuliah.

    Aktivitas belajar memang sangat kondusif. Menjelang matahari terbit, orang-orang telah ramai belajar di camp masing masing. Setelahnya, orang-orang bisa memilih lembaga kursus yang sesuai kebutuhannya mulai dari pagi hingga malam hari, pukul 21.00 Wita. Di sela-sela waktu istirahat, suasana Bahasa Inggris dapat dilakukan di mana saja. Di kantin, di jalan, di café dll karena Kampung Inggris adalah kumpulan manusia yang datang dari berbagai macam penjuru Indonesia khusus belajar Inggris.

    Kampung Inggris adalah sebuah desa.  Biaya makanan dan minuman, camp dan kursus masih terjangkau. Ada juga yang agak mahal tapi tidak harga selangit seperti di kota-kota besar. Belajar sepanjang hari disertai cuaca yang panas di siang hari membuat orang mudah lapar dan haus. Dan di malam hari cuaca cenderung lebih dingin.  Orang yang baru datang ke sana harus lebih pandai manajemen keuangan karena tanpa terasa uang habis, efek hampir segalanya serba murah sehingga uang mudah keluar. Kegagalan manajemen keuangan membuat orang tidak bisa tinggal lebih lama.

    Masyarakat setempat juga sangat welcome dengan pendatang. Penduduk menyewakan rumahnya untuk camp, kursus, kos-kosan. Sebagian membuat warung makan. Polusi rendah karena para pelajar dianjurkan bersepeda. Ini lahan bisnis yang sangat menguntungkan juga karena para pelajar mayoritas bersepeda. Penyewaan atau penjualan dan bengkel sepeda baru dan bekas tersedia di berbagai sudut.

    Kampung Inggris juga pertemuan manusia yang bercita-cita. Pelajar sekolah, mahasiswa,  pemuda-pemudi dan bahkan yang mau S 2 dan S 3 pun berkumpul di sana. Cita-citanya berbeda tapi punya kepentingan sama, Bahasa Inggris. Terdapat energi positif di mana mereka akan saling berbagi cerita bagaimana cara mewujudkan impiannya. Pola ini terbentuk secara alami, kultural.

    Inspirator Berikutnya
    Dari perjalanan kehidupan masa muda Agung, kita dapat bercermin bahwa masa muda jangan berlalu begitu saja tanpa membekali diri dengan pengetahuan. Bagi Agung, pilihannya Bahasa Inggris, berpengetahuan tinggi tanpa perlu sarjana Bahasa Inggris di universitas. Pemuda yang lain bisa memilih sendiri sesuai dengan bakatnya . Yang terpenting ialah ada sebuah inisiatif dari pemuda itu sendiri untuk merubah diri dengan melakukan sesuatu yang ia percaya dapat membangun masa depan. Agung adalah contoh pemuda dan berikutnya andalah yang menjadi inspirator berikutnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 4 Mei 2026

  • Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

    Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

    Penemuan merubah arah pengetahuan dan dunia. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī dikenal dengan bapak Aljabar (Algebra) dan angka nol yang berkat jasanya yang luar biasa itu, kita dapat menyaksikan pengembangan teknologi seperti penemuan komputer melalui oposisi biner (0 vs 1).

    Tanpa penemuan intelektual Persia (sekarang Iran) ini, kita bisa bayangkan betapa gelapnya dunia ilmu pengetahuan khususnya Matematika. Barat yang pada masa itu di mana awalnya menggunakan angka Romawi berubah, berhasil melewati dark ages (zaman kegelapan) berkat karya-karya Al-Khwārizmī diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh cendekiawan Eropa.

    Nama Al-Khwārizmī sangat besar. Agar tidak muluk-muluk, mari kita tarik ke Indonesia terutama dunia pendidikan guru. Ansar Langnge, seorang guru Matematika di Bulukumba, Sulawesi Selatan mendapat pengakuan dan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2015 berkat karyanya pada Penggunaan Alat Peraga Tongmini untuk Meningkatkan Kemampuan Menyelasaikan Pembagian Bilangan Bulat Siswa kelas VIIB SMPN 11 Bulukumba. Ansar tidak mengubah dunia seperti Al-Khwārizmī tapi ia telah memberikan peranan yang sangat besar dalam turut merubah wajah pendidikan Matematika yang begitu sangat menakutkan di sekolah-sekolah Indonesia.

    Penghargaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada Anshar Langnge berhasil menyederhanakan Bilangan Bulat menggunakan alat peraga Tongmini.

    Pembelajaran tentang bilangan bulat yang biasanya hadir di papan tulis seringkali masih terlihat abstrak dapat tergambar lebih visual dalam bentuk alat peraga dengan harga terjangkau, lebih mudah dipahami oleh siswa. Bukankah itu mengubah kerumitan  menjadi lebih kemudahan? Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa orang yang pintar itu adalah orang yang mampu menyederhanakan persoalan rumit menjadi sederhana. Guru intelek yang seperti Anshar mampu menjawab persoalan tersebut.

    Setiap siswa-siswi berprestasi mandapatkan kehormatan untuk hadir di tengah lapangan dan mendapatkan apresiasi dari Ansar Langnge, Kepala Sekolah. Hal ini melahirkan kebanggaan bagi sang juara dan motivasi bagi pelajar lainnya untuk turut berjuang meraih prestasi.

    ”Berapa orang Sulawesi-Selatan yang mendapat penghargaan?”, tanya penulis sembari menatap piagamnya. “Saya satu-satunya guru dari Sulawesi Selatan berangkat Yogyakarta untuk menerima penghargaan itu”, katanya dengan suara tenang. Sosoknya yang ramah, murah senyum dan pandai bergaul menambah kesan bahwa ia sama sekali bukan guru killer (menakutkan. Diambil dari Bahasa Inggris: pembunuh). Dari “satu-satunya”, terbetik sebuah kritik dan harapan. Kita masih banyak kekurangan guru yang mau berkreasi meskipun Kementrian Pendidikan Pendidikan Nasional telah membuka ruang untuk berkarya. Padahal, itu adalah peluang besar untuk menaikkan kwalitas dan karir guru.

    Sosok Ansar Langnge yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selama dalam kepemimpinannya, sekolah ini makin terus meningkatkan jumlah siswa siswi berprestasi mulai dari lokal hingga nasional.

    Ansar kini menjabat (Kepsek) Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, sebuah sekolah lokal terbaik dari generasi ke generasi. Perpaduan antara sosok Kepsek inovatif dengan siswa-siswi berbakat menambah daya ledak kemajuan sekolah ini. Karena begitu banyaknya yang berprestasi, ia mengatakan tiap minggu, maksudnya Senin di hari upacara, ada proses penghormatan kepada siswa siswi yang berprestasi akademik dan akademik meliputi juara tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional. Bagaimana bisa sehebat itu? Menurutnya, sekolah melakukan pemetaan yang terstruktur dan rapi pada pengenalan pada bakat dan minat siswa dan kemudian mendorong siswa tersebut mengikuti lomba.

    Ansar Langnge juga aktif membangun jaringan dan memperkuat ikatan persaudaraan. Pada foto ini, ia melantik IKA (Ikatan Alumni) SMPN 1 Bulukumba, 2026.

    Bangunan fisik sekolah yang megah dilengkapi segala fasilitas pendukungnya—Betapapun itu super penting—memang menjadi kebanggaan, digembor-gemborkan sebagai sebuah kemajuan mentereng tapi apa guna semua itu bila otak siswanya kosong? Sekolah sekedar sebagai alat legitimasi mendapatkan ijazah, pemikiran mundur layaknya dark ages, masa kelam Eropa. Sekolah bukan iklan hotel mewah bintang lima. Iklan terbaik sekolah adalah bukti peningkatan kwalitas sumber daya manusia yang dapat meyakinkan para siswanya menuntut ilmu itu sangat penting agar punya masa depan.

    Banyak lemari berisi Piala juara siswa siswi SMPN 1 Bulukumba di ruang Kepala Sekolah.

    Bila barat berinisiatif mengejar ketertinggalannya dengan menerjemahkan karya Al-Khwārizmī dan kemudian diterjemahkan ke segala bahasa, apakah karya Ansar Langnge itu dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah dan Pusat untuk diterapkan di sekolah?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 3 Mei 2026

  • Children’s Leadership Training

    Children’s Leadership Training

    Adam was the star that night .
    He has gained the trust to lead two of his classmates, Abizar and Sirin. When asked by the teacher to freely choose a lesson, Adam said, “Lesson 1 to 10.” The teacher responded, “You’re overdoing it, Adam. You know your friends have understood those lessons.” He thought for a moment, “Lesson 11 to 20.” That was also too easy, but because Adam was the one we were training to lead, whatever he determined was simply agreed upon.

    At the beginning of reading lesson 11, he immediately read several sentences. His reading speed was difficult to follow. For that, he received a suggestion to read slowly so that his classmates could follow correctly. If there was a mistake in reading, Adam only laughed without making any correction. They all seemed to want to finish their reading quickly to get playtime.

    Adam’s desire to speed up the reading did not go smoothly. He was the one who received the reprimand, not the students who made the mistakes. A leader must be able to direct the people they lead, but for Adam, that had no effect at all. He was merely proud to be appointed as a leader with the consideration of being more fluent and having finished the Basic Reading book. If someone is not fluent in reading, that is each person’s private business, that’s not Adam’s responsibility.

    When it was time to break, Adam played on an Android. Not long after, he studied a storybook, the second book which was his main task. It was a bit difficult for him to switch back to the book. With a bit of firmness, he put the Android into his bag. The story title ‘In a Department Store’ he completed well with his same-level classmates. After that, all students asked for a rest. It turned out, all the children who brought Androids wanted to play games again.

    This was actually quite fair. There was a time for study, there was a time for Android. Unfortunately, if most children bring Androids, the social interaction among them would decrease because they all focused on their Androids. They usually suggested making a game, but with the Androids in their hands, they had no more suggestions and even though the teacher gave a review, it was rejected. The children who did not bring Androids gathered to follow Adam. Here, Adam felt like he truly became a leader.

    Leadership can be designed in a learning environment started from the smallest things like what Adam experienced. Children indeed do not yet understand the duties and responsibilities of a leader and still need to be under supervision while leading. It is the time in the process that will make him understand why he is chosen to be a leader. And when they grow up later, they will understand the importance of leadership training that is taught culturally at class.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Thursday, April 30, 2026

  • Belajar tanpa Batas

    Belajar tanpa Batas

    Better” (Lebih baik). Itulah ekspresi pengembangan dikatakan oleh Miss Salma Minasaroh dari Lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah saat menutup pembelajaran Bahasa Inggris online tahap ketiga (29/04). Lima orang anak anak RBB (Rumah Belajar Bersama) di Bulukumba , Sulawesi Selatan hadir dari sembilan yang lolos klasifikasi. Peserta memang sengaja dibuat terbatas agar kelas pembelajaran lebih efektif, tidak boros waktu.

    Keterikatan belajar tanya-jawab online ini semakin meningkat karena
    berkenalan dengan orang baru dan mendapat perhatian dari orang pintar melahirkan kebanggaan tersendiri baginya. Para pelajar ingin agar ekspresi mereka dapat didengarkan dan diakui. Dan bagi penulis, ini mampu memberikan cara pandang baru dari kebiasaan anak-anak menggunakan android untuk bermain games menjadi sarana belajar. Aturan ketat dibuat agar mereka berjuang dan merasa menjadi istimewa ketika terpilih.

    Sehari sebelum pertemuan, ada usaha di mana beberapa pelajar yang tidak termasuk kategori diperjuangkan oleh rekan-rekannya untuk tetap bisa ikut.

    “Dua sampai tiga orang belum boleh gabung karena belum lancar bicara”, kata guru RBB.
    “Kasi ikut saja Mr.. nanti saya bantu” kata Adam.
    “Please, Mr.”, kata yang lainnya.

    Mereka pun mengurangi jatah keluar main dan saling praktek tanya-jawab lebih serius. Melihat usaha ala “gotong royong” itu, usulan mereka diterima.

    Sebagai konsekuensi, kemampuan akselerasi dalam menyampaikan pendapat lebih terlihat jelas: bicara lancar dan tidak terlihat grogi lagi. Anak anak tidak saling berebutan lagi untuk dapat kesempatan berbicara dan menanti dengan sabar mendapatkan giliran karena mereka tahu bahwa dengan jumlah peserta yang sedikit, kesempatan untuk dapat bicara jauh lebih banyak.

    Dalam hal materi pembelajaran, kemajuan yang berarti ini dipengaruhi oleh 20 model soal yang dibuat Salma dengan memasukkan information Question (Pertanyaan Informasi) seperti what, where, why dan who (Apa, di mana, kenapa dan siapa), bukan lagi soal yang mayoritas yes no questions seperti pembelajaran online Part 1. Otomatis, setiap pelajar diajak membuat argumentasi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.Bahasa Inggris telah berfungsi sebagai alat untuk membangun kemandirian anak untuk punya pendapat sendiri.

    Kemana Arah Pendidikan Kita?
    Sebagaimana yang kita sering dengar, Indonesia itu tidak kekurangan intelektual, bertaburan di mana mana. Sebagian orang yang cerdas kita malahan memilih berkarir di luar negeri karena merasa tidak dihargai di Indonesia. Sebagian tetap tinggal di dalam negeri dan melakukan perubahan secara kultural, di luar sistem pemerintahan.

    Dengan menemukan pelajar pelajar berbakat mulai dari anak anak hingga dewasa, kita dapat membangun koneksi yang tidak dibatasi oleh dengan siapapun, kalangan intelektual baik dalam dan luar negeri. Mereka dapat diundang mengisi pembelajaran secara online kepada para pelajar berbakat tersebut. Dari situ, kita dapat membaca pemikiran-pemikiran yang brilian yang kemudian kita tulis dan sebarkan untuk dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

    Sedangkan dalam pendekatan struktural, kementrian Pendidikan RI telah menerapkan wajib belajar Bahasa Inggris di SD sejak 2025, sebuah solusi menghadapi lemahnya pelajar Indonesia berbahasa asing selama puluhan tahun Bahasa Inggris mulai di di SMP.

    Sayang sekali, langkahnya pembenahan di SD masih terseok-seok. Ada kurikulum dalam bentuk buku sebagai bahan pelajaran. Masalahnya, kebanyakan guru yang mengajar tidak tahu berbahasa Inggris. Itu salah siapa? Bukan salah guru, salah sistem yang tidak merekrut guru-guru yang tepat mengisi pos tersebut. Alasan klasik adalah keterbatasan anggaran.

    Sebenarnya sih, selama ada niat dan usaha yang sungguh-sungguh, pasti ada jalan. “Bukankah kesulitan itu adalah kesempatan untuk melakukan yang lebih baik (better)?”, kata B. J. Habibie. Seribu langkah dimulai dari satu langkah. Sekecil apapun langkah kita, we just want to make something (Kita hanya ingin membuat sesuatu), mengutip Salma, “Better”.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026

  • Everyone Actively Learns

    Everyone Actively Learns

    Simple and engaging. That’s what we found when Steven Riley, a senior teacher from Australia, taught for a day at RBB (Rumah Belajar Bersama) in Bulukumba District, South Sulawesi, Indonesia. In communication, he taught intonation, which closely relates to question and answer exchanges. First, he asked about all the participants’ well-being and names while observing how they responded. Then, the students were asked to make statements addressed to him.

    Starting from that brief conversation, Steven who has traveled far and wide, even to Japan immediately understood the students’ capacities. Soon after that, he approached those who lacked confidence in speaking and greeted them using every day conversational vocabularies. The atmosphere then became more relaxed and more prepared. After that, he gave examples of how to control pitch. “If you want to ask a question, raise the pitch at the end of the sentence. On the other hand, if you want to answer, just lower the pitch at the end,” he said. It’s that simple.

    The lesson continued. Because Steven spoke entirely in English, he also used body language so that his explanations could be understood. The writer occasionally stepped in to help translate only the more complex parts to help students grasp more quickly. Otherwise, they were encouraged to try to interprete everything Steven explained on their own.

    Controlling pitch may seem trivial, but most students did not yet know how to raise or lower their voices properly with a pleasant tone. Steven did not give up. This seasoned the teacher knew exactly how to handle it. Each student who failed to speak correctly was asked to repeat. And if they still failed, even at the age of 72, he showed no signs of fatigue and did not hesitate to actively walk around, approaching each student one by one to help them follow what he said until they reached a level of voice he considered comfortable to listen.

    After that, Steven trained speaking skills further. To teach directions, he first drew arrows for north, south, east, and west. Then, he created winding roads with three juctions and four juctions. He also drew houses, schools, offices, and more. “Where is the school?” Steven asked. The answer was not just pointing at the drawing but explaining it. Students had to say things like “Go straight to the west, turn left, then right at the intersection” and so on. The answers varied because different locations were being asked about.

    Steven’s Teaching Outcomes
    Steven’s interactive two-way learning approach successfully stimulated thinking, encouraged active speaking, and directly ensured students’ level of understanding. Even passive students began to think and prepare themselves, anticipating that they might be asked questions. Meanwhile, those who were already confident in speaking became more creative and critical in expressing their opinions.

    The learning atmosphere also became livelier because communication was built among students and between students and the teacher. A teacher with an open mindset like Steven is appropriate to this method. He was prepared for the possibility of unexpected critical questions. Steven’s experience, insight, and mental readiness in managing the class made the learning process very enjoyable from start to finish, which lasted about 90 minutes.

    Steven Riley is actually no longer working as a teacher but as a contractor in France. He met Anjas, a guide who understands maps and the needs of his guests, which allowed Steven to channel his passion for teaching by coming to RBB. Steven’s teaching method is closely related to pronunciation, speaking, and intonation was excellent and became a valuable reference to be followed up in supporting the acceleration of students’ learning abilities.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Tuesday, April 28, 2026

  • Jurus Belajar

    Jurus Belajar

    Jurus Kung Fu mabuk sangat cocok bagi para pelajar yang sebenarnya tidak kurang perhatian dalam belajar. Mereka datang ke kelas untuk sekedar menutupi tuntutan orang tuanya. Tidak perlu banyak hal yang harus dibebankan padanya. Yang penting, mereka membaca dan praktek. Paham atau tidak, itu urusan belakangan. Berada di lingkungan belajar itu sudah cukup membantu mereka mengurangi bermain android–Masalah besar yang dihadapi kids zaman now. Kita doakan saja agar mereka bisa paham dengan pembiasaan belajar.

    Sementara itu, para pelajar yang sudah punya sedikit lebih bagus dari yang dijelaskan di atas cocok pakai jurus Kung Fu Master–Keahlian diperoleh dari ketekuna, disiplin dan waktu yang lama. Mereka mendapatkan pelajaran yang lebih terstruktur dan punya jam tambahan di luar jam belajar wajibnya. Ada waktu bermain tapi relatif lebih sedikit. Sebelum jemputan orang tuanya datang, sedapat mungkin belajar.

    Afifah dan Zhah adalah pelajar kelas Reading (Bacaan) tapi ia tertarik belajar Grammar (tata Bahasa. Melihat para pelajar grammar punya kemampuan berbeda dengan dirinya, mereka penasaran. Untuk setelah jam belajar reading-nya selesai, kami pun memintanya mencatat beberapa hal penting pada Tenses. Kemudian, mereka pun berlatih lisan pada tenses luar kepala dengan target bukan sebatas tahu tahu paham.

    Ah, yes! Faktor kebiasaan membaca
    pasti sangat mempengaruhi kecepatan berpikir. Para pelajar ini sudah sering menemukan kalimat yang sama atau minimal mirip tapi belum tahu kenapa ditulis seperti demikian–Tentu karena tidak tahu grammar. Jadi, dengan mendapatkan dasar dasar grammar, mereka lebih girang dan bersemangat mencari tahu lebih jauh. Hal ini kami lihat dari kebiasaannya bertanya, Apa maksudnya ini dan itu? Kenapa bisa begitu dan begitu? Rasa ingin tahu tersebut memotivasinya untuk memenuhi target yang ingin dicapai.

    Jurus Kung Fu Mabuk atau Jurus Kung Fu Master, itu adalah istilah atau klasifikasi saja. Yang utama adalah kesediaan menghadapi proses belajar. Dalam menjalaninya, tentu ada kemudahan, ada kesulitan saling silih berganti. Mari terus melangkah memperbaiki cara belajar kita. Siapa tahu, ada jurus Kung Fu Belajar lainnya yang ditemukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukimba, Sabtu, 25 April 2025

  • Ingat Judul

    Ingat Judul

    Saya sesekali berusaha mengingat apa sih judul skripsi saya dulu. Ada ‘Ahmadinejad’ lah. Setelah itu saya nga tahu lagi. Maklum waktu itu Presiden Ahmadinejad lagi pusat perhatian dunia melabrak George W. Bush (Jr.) dan antek ateknya, Israel.

    Tanpa sengaja saya menemukan skripsi saya di internet. Saya sangat ingin membaca pikiran saya sendiri. Sayangnya, itu cuma bagian cover saja, kata pengantar sekaligus ucapan terima kasih dan daftar isi yang ditampilkan.
    Tapi saya senanglah. Minimal ingat judul, ‘Sikap Kritis Ahmadinejad terhadap Holocaust dan Palestina’. Thank you website UMY.

    Saat membaca Kata Pengantar, saya ucapan terima kasihku banyak juga. Ada dosen kampus, keluarga, rekan rekan seperjuangan di HMI dan Rausyan Fikr oleh almarhum Ust. Andi Muhammad Safwan.

    Ust. Safwan bertanya,
    ‘Kamu nga mau sarjana, Patwa?’.

    Kujawab cepat, ‘Tentu maulah.’

    ‘Kenapa belum sarjana juga?’ tanyanya.

    ‘Saya masih mau menikmati duit orang tua buat nambah nambah uang saku beli buku.’ kataku.
    Padahal saya sudah punya beberapa pekerjaan serabutan dan ingin lebih banyak santai dengan tetap menyandang status mahasiswa.

    “Tidak kasihan sama orang tuamu?”, tanyanya penasaran.

    “Kasihan. Saya malah tidak enak. Ayahku bilang bila saya mau kuliah lebih lama lagi, saya tetap dibiayai.”

    “Apa judul skripsimu?”

    “Sikap Kritis Ahmadinejad terhadap Holocaust dan Palestina. Tapi itu tidak kukerjakan. Kubiarkan saja”.

    “Kenapa?”

    “Banyak kegiatan Ust.”, kataku ngeles.

    “Udah, kamu tinggal di sini saja (maksudnya di RausyanFikr). Gunakan segala fasilitas yang ada di sini hingga skripsimu selesai. Satu minggu itu bisa tuntas.”

    Saya tergugah dengan perhatiannya tapi saya menolak dengan halus untuk tinggal di Rausyan Fikr. Saya tahu saya bisa menyelesaikan skripsi saya dengan cepat karena hampir segala buku yang kubutuhkan telah kumiliki. Masalah utamanya terletak pada setan yang bernama malas.

    Yang penting adalah saya sesekali dapat berdiskusi dengan Ust. Safwan untuk menyelesaikan yang sulit kumengerti pada tulisanku. Dan Alhamdulillah, beliau selalu berkenan meluangkan waktunya untukku.

    Di Asrama Empat Merapi Sul-Sel di Jalan Sunaryo No. 4 Kota Baru, Yogyakarta, saya duduk di teras asrama sembari menatap pohon rambutan yang rindang. Tiba tiba, selembar daun muda gugur dengan sangat lambat jatuh ke tanah. Kubertanya, “Kenapa bukan daun yang kuning yang gugur, daun lebih tua?” Lama merenung, kutemukan hubungannya dengan diriku.

    Ayahku sudah semakin berumur selalu mengatakan kepada seluruh anaknya bahwa doanya tiap hari yaitu ingin melihat ketujuh orang anaknya sarjana sebelum dipanggil kembali ke Pammasena Puangnga (Pangkuan kasih sayang-Nya). Saya adalah anak satu satunya yang belum sarjana. Kalau saya tidak segera sarjana, saya khawatir, saya lah daun hijau itu, gugur. Saya ingin ayahku bahagia di masa tuanya, mewujudkan doa hariannya dalam shalatnya. Daun yang kuning belum gugur.

    Pada akhirnya skripsi pun selesai kutulis dalam waktu yang ternyata “cepat juga tapi tiga bulan. Pada akhirnya, ayahku pun berkunjung ke Yogyakarta. Alhamdulillah.

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Jum’at 24 April 2026

  • Kenapa Harus Olahraga?

    Kenapa Harus Olahraga?

    Tidak berolahraga itu benar benar menyiksa. Cedera sakit pinggang menyebabkan penulis berhenti latihan karate selama beberapa bulan. Tubuh mengembang seperti bola, malas bergerak semakin menghantui hari hari yang berlalu. Akal sehat memerintahkan untuk aktif lagi latihan.

    Di awal-awal kembali latihan, beratnya minta ampun. Sip up yang sudah mencapai 500 kali dalam sehari kini baru 20 kali saja, otot perut tertarik. Pukulan dan tendangan tidak terbentuk, lambat dan nafas pendek menyebabkan pandangan mata berkunang-kunang. Jam istirahat lebih banyak dari jam latihan.

    Pengajaran para karate ka untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas, kepala tidak boleh tunduk, jangan jongkok, tetap tegakkan badan agar peredaran darah ke otak tetap lancar. Latihan menggunakan nafas perut diaktifkan untuk menghalau nafas pendek, menormalkan pernafasan. Mudah lelah rasanya seolah kembali berlatih dari awal. Ya, itulah konsekuensi yang harus dihadapi dari orang yang terlalu banyak menunda waktu.

    Jalan sehat itu sebenarnya tidak mahal selama konsistensi berolah raga dilaksanakan. Kita harus menemukan alasan yang tepat mengapa kita harus berolahraga. Pendapat yang paling lazim adalah alasan kesehatan. Bagi karate ka yang mau ujian, pasti ia berpikir bahwa bila tidak latihan, ia akan bonyok di ujian. Dan bagi yang lain bisa mengatakan ini stategi memperlambat penuaan.

    Memulai kembali olahraga cenderung sulit memulainya lagi setelah beristirahat dalam waktu tertentu. Siapkah kita hidup lebih tersiksa? Makanan yang kita konsumsi sehari-hari mayoritas mengandung zat kimia, pengawet dan semacamnya. Bagaimana cara membakarnya? Konsumsi obat? Bersediakah akal sehat kita memerintahkan untuk berhenti olahraga?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 21 April 2026

  • Wasit Juri Karate Indonesia

    Wasit Juri Karate Indonesia

    Karate bukan sekedar urusan membela diri yang berisi kumite dan Kata (Bertarung dan jurus-jurus untuk bertarung) tapi ia juga ruang kejuaraan untuk pengembangan diri dalam bentuk kejuaraan. Indonesia kemudian ikut serta dalam kejuaraan menggunakan aturan WKF (World Karate Federation) ala Eropa, bulan aturan Jepang, tempat asal kelahiran karate.

    Alasannya sederhana. WKF lebih menekankan pada olah raga, bukan lagi bela diri. Ini cukup aman bagi para atlet, tidak ada serangan telak dan keras yang boleh dilakukan. Bila itu terjadi, petarung diskualifikasi. Itu tentu bertolak belakang dengan tradisi kejuaraan karate Jepang masih mengedepankan pertarungan yang saling baku hantam dengan keras, karate tradisional. Skin touch (Sentuhan ringan) pada lawan sama sekali tidak dihitung.

    14 April 2026, FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan mengadakan pelatihan dan ujian Wasit-Juri dan Pelatih. Semua itu untuk mengisi ruang ruang kejuaraan di Indonesia. Hanya para peserta yang terdiri sabuk hitam yang berhak mengikuti dan bisa menjadikan bagian dari jenjang karir.

    Soal soal WKF menyangkut test tulis dan praktek. Karena asalnya berbahasa Inggris, soal itu terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Transfer penerjemahan Bahasa Inggris ke Indonesia terkadang membuat para peserta terkendala memahami isi soal disebabkan oleh terjemahan yang buruk. Sebagai penyelamatan, mereka harus belajar pada orang yang sebelumnya telah lulus dan benar benar mengerti isi penjelasan saat pelatihan.

    Kendala lain, jumlah soal yang sangat banyak. Soal kumite lebih dari 250 lebih dan Kata hampir dua ratus. Namanya juga soal, tipuan soal pasti berlaku. Karena itu, pemahaman disertai logika yang bisa mengatasi tipuan soal tersebut. Beruntung, jumlah soal kumite yang akan diujikan sekitar 70 dan Kata sekitar 50. Tapi kan, soal diacak. Tidak ada pilihan lain selain belajar. Bagi yang cukup waktu belajar, ia dapat mempelajari semua soal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

    Para wasit juri dan pelatih pendamping atlet yang ber-license ini yang banyak mempengaruhi perkembangan kejuaraan karate Indonesia. Menang atau kalah dari para atlet yang berbakat berada dalam keputusannya. Dari sini, atlet atlet terbaik akan lahir mewakili Indonesia di kejuaraan antar negara dan dunia yang memakai sistem WKF.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Minggu 10 April 2026

  • Mengembangkan Otak Anak

    Mengembangkan Otak Anak

    Mengajar anak anak dengan menargetkan memahami suatu materi tertentu dengan pemahaman yang utuh bukan perkara yang mudah. Saat sedang belajar saja, mereka sering bertanya, ‘Kapan keluar main?’ Mereka suka cepat-cepat menyelesaikan tugas hanya karena ingin keluar main, bermain main.

    Istilah ‘main-main’ yang merupakan kesenangan anak anak yang tidak bisa diganggu gugat itu dapat disetel untuk memenuhi target belajarnya. Bagi anak-anak yang lebih dahulu menyelesaikan tugas, mereka memperoleh keluar main lebih awal. Mereka pun akan berlomba.

    Tapi ada juga anak anak yang tidak suka pendekatan ini sehingga jurus yang kita gunakan adalah sedikit ancaman dengan mengatakan tidak ada keluar main bagi yang tidak menyelesaikan tugas. Karena tidak ingin kesempatan bermain hilang, mereka segera mengerjakan tugasnya dengan cara bertanya ke teman-temannya dengan maksud menjawab latihan dengan cepat.

    Kendala yang sering muncul adalah keakraban antara guru dan anak-anak seringkali membuat guru tidak diperhatikan. Hal ini dipengaruhi oleh sikap guru yang memberikan kebebasan berekspresi pada muridnya. Ketika guru sedang menjelaskan, sebagian murid akan berbicara yang menyebabkan penjelasan guru tidak mereka dengar. Kebisingan kelas terjadi, ruang belajar tidak kondusif, suara bertabrakan.

    Sekali waktu, penulis pernah tidak mau mengajar satu kelas anak anak. Mereka berusaha datang merayu tapi penulis tidak menggubris. ‘Silahkan keluar main sepuasnya. Anggap saja waktu belajar itu waktu keluar main’, kata penulis. ‘Saya tidak mau mengajar kalian lagi’. Gertakan ini sengaja diberikan agar mereka bisa berpikir serius mencari akal menemukan solusi.

    Solusi Cerdas Anak anak
    Anak-anak terdiam dan berkumpul berdiskusi dan kemudian menemukan solusi sendiri. Mereka sepakat membaca materi pelajarannya secara bersama-sama tanpa guru. Bila ada yang bikin gaduh, mereka saling menegur untuk kembali fokus pada pelajaran. Sebagai penguat, rekaman video dibuat sebagai bukti bahwa mereka telah berubah. Setelah selesai, video tersebut diperlihatkan ke penulis.

    Negosiasi anak-anak berjalan sukses. Karena senang dengan trik rayuannya, penulis Kembali mendidik malam itu juga. Sebagai balasannya, mereka dapat games. Mereka bergembira karena guru kelasnya bersedia kembali mengadakan dan games adalah kesukaannya yang selalu dinantikan setelah belajar.

    Kesulitan dalam mendidik anak-anak dapat terselesaikan dengan tidak semata-mata menargetkan mereka untuk paham materi dalam waktu yang singkat mengingat ada ruang bermain yang harus dipenuhi. Percepatan dalam dilakukan dengan cara mengemas kelas belajar dalam suasana bermain dan menjawab waktu keluar main dapat diisi dengan permainan yang mengembangkan otak anak dan berpikir.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 April 2026