Kategori: Uncategorized

  • Kurikulum Sakit Perut Salah Obat

    Kurikulum Sakit Perut Salah Obat

    Kunjungan Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, ke sebuah SMK benar-benar menelanjangi kemampuan dasar berhitung pendidikan kita. KDM bertanya perkalian dan pembagian dasar, “14 x 2? 24 : 2?, 12 x 3? Taruna, 12 x 3, berapa Taruna?” Pakaian seragam yang rapi nan menawan itu seolah menampakkan wajah terlihat cerdas, namun itu sama sekali tidak dapat membantu. Ya, pakaian memang tidak mencerminkan isi kepala. Hampir semua pelajar di sekolah itu yang mendapatkan pertanyaan tidak sanggup mengucapkan dua angka puluhan dengan benar. Segelintir pelajar yang mampu menjawab dengan benar pun membutuhkan waktu yang lama. “Kaget, Pak,” kata seorang pelajar. “Bukan kaget. Tidak biasa,” balas KDM. “Masa kalah sama anak-anak Nabire,” lanjutnya. Anak SD dari Papua dibenturkan dengan SMK.

    Satu contoh pelajar SMK yang tidak bisa matematika dijadikan landasan untuk menganggap semua SMK atau SMA tidak bisa matematika disebut overgeneralization (baca:melebih-lebihkan). Apakah contoh dari KDM ini overgeneralization? Hanya orang yang mempunyai pengaruh besar seperti KDM yang bebas memvideokan secara langsung. Maukah pemerintah membuka keran lebih luas untuk diteliti atau, paling tepatnya, memberikan nilai rapor matematika sesuai dengan capaian pelajar yang sesungguhnya?

    Sebagai bagian dari pejabat pemerintah, KDM tidak sedang ingin mempermalukan pelajar SMK itu, tetapi ia sedang membuka mata kita lebih luas bahwa betapa akut persoalan pendidikan: matematika SD tidak bisa dijawab oleh SMK. Ia tidak menyebut secara langsung bahwa kurikulum pendidikan Indonesia telah salah urus. Ketika fakta bicara, 1001 pembelaan pembenaran tak berkutik.

    Sejak tahun ajaran 2025-2026, Koding (Coding) dan Kecerdasan Artifisial (AI) telah diperkenalkan secara bertahap kepada sekolah. Itu mengesankan. Tapi, bagaimana mungkin anak-anak bisa menguasai logika algoritma dan teknologi digital masa depan bila mereka lumpuh pada persoalan-persoalan berhitung paling dasar? Memperkenalkan tantangan penguasaan teknologi masa depan adalah hal penting dan mendesak agar tidak terus menjadi konsumen teknologi. Namun, hal yang paling penting dan paling mendesak ada pada menuntaskan numerasi agar pelajar bisa koding. Janganlah kita jatuh pada lubang yang sama. Bila masih terperosok, mereka akan menggunakan komputer atau HP untuk bermain game dengan alasan belajar koding.

    Hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) 2025 dari pelajar kita di bawah 15 tahun, media Kompas merilis bahwa Indonesia berada di urutan terbawah (peringkat ke-8) di ASEAN dalam domain matematika, berada di bawah Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Filipina, bahkan Kamboja yang mencatatkan lompatan skor yang cukup ekstrem.

    Singapura: 563 poin, Kamboja: 366 poin, dan Indonesia: 364 poin, turun 2 poin dari 366 poin pada 2022. Indonesia tertinggal hampir 200 poin dan Kamboja yang nilainya rendah, negeri kecil itu masih menang dua poin dari Indonesia. Poin tertinggi jatuh pada China: 612 poin. Dari 90 negara, Indonesia menduduki peringkat 78. Untuk dapat dihitung bisa berkompetisi secara global, poin yang Indonesia harus capai adalah 472. Indonesia yang masih berada pada 364 poin harus bisa mengejar minimal 111 poin, hal yang belum pernah diraih selama menjadi anggota PISA sejak tahun 2000.

    Bagaimana dengan realitas anak-anak SD tahun 2026? “Saya pusing dengan murid-muridku,” kata Miss Uci, penggiat pendidikan. “Anak-anak yang dua bulan saja beristirahat les, mereka sepertinya lupa perkalian dan pembagian. Jadi, saya harus meluangkan waktu lagi untuk mengulangi pelajaran mereka. Padahal, sebelum istirahat les, mereka sudah bisa sedikit menalar, bukan menghafal.” Anak-anak itu tetap aktif bersekolah, namun kemampuan berhitung  mereka turun drastis. Kemungkinan besar, mereka kembali pada model pembelajaran yang usang: menghafal saja tanpa konsep proses berpikir tentang cara mendapatkan jawaban.

    Karena itu, rekan-rekan pemerhati matematika di lingkungan belajar pendidikan alternatif itu turut serta mendidik anak-anak agar kemampuan bernalar lebih kuat melekat dalam pikiran anak-anak. Masalah kasuistik kecil merepotkan ini pun teratasi.

    Para pemerhati pendidikan alternatif itu sadar betul bahwa sandaran terakhir dari harapan orang tua dari pelajar ada pada mereka. Selain kerja tim (teamwork), mereka pun selalu mengecek tingkat kemampuan para pelajar agar materi yang diberikan sesuai dengan kapasitas otak mereka. Mengajarkan aljabar pada anak SD itu sangat bisa. Mengajarkan perkalian kepada pelajar SMP dan SMA pun itu wajib ketika aritmatika dasar mereka belum beres.

    Kurikulum bukan didasarkan pada tingkat umur atau tingkat kelas di sekolah, melainkan ukuran kemampuan otak mencerna pelajaran. Untuk apa mengajarkan trigonometri pada anak SMA yang masih belum tahu perkalian dasar tingkat SD? Itu sungguh menghabiskan waktu, anggaran, dan tenaga secara percuma saja. Obat sakit perut janganlah diberikan kepada pasien yang sakit gigi. Meskipun tidak mati, pasien itu bisa sakit hati.

    Sebelum pendidikan Indonesia tertinggal dari Malaysia, para pelajar Malaysia dengan bangga dapat kuliah ke Indonesia. Indonesia mengirim guru dan dosen untuk membantu kurikulum Malaysia. Masa keemasan Indonesia yang digelari “Abang Tua” pada 70-an hingga 80-an ini berakhir ketika Malaysia pada akhirnya membangun kemandiriannya. Sekarang, pelajar Indonesia yang menjadi bangga kuliah ke Malaysia. Bahkan, Indonesia mengirim (Tenaga Kerja Indonesia) TKI, pekerja kasar dalam jumlah besar.

    Komedian Cak Lontong menghibur dengan nada satire. Menurutnya, sumber daya manusia (SDM) Indonesia kualitasnya menurun. Data tidak bisa dibantah, tapi kesimpulan mereka seratus persen salah. Tahun 90-an dan 2000-an, pembantu yang diimpor dari Indonesia. Bukan kualitas SDM Indonesia yang turun, kita tetap hebat. Yang turun adalah selera mereka yang turun. Dulu mereka suka guru, sekarang mereka suka pembantu.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 24 September 2026

  • Ilusi Pendidikan Gotong Royong

    Ilusi Pendidikan Gotong Royong

    Seorang anak bertanya, “Mister, kenapa pelajaran bahasa Inggris di sini berbeda dengan di sekolah?” Pertanyaan ini bagus karena ia telah membandingkan meskipun belum tahu bahwa apa yang ia pelajari sebenarnya menyelesaikan pelajaran sekolahnya. Untuk apa orang tuanya mengirim anaknya untuk menambah jam belajar di lembaga nonformal bila mereka yakin pada pelajaran sekolah? Sang guru kemudian menjawab, “Pelajaran kalian di sini sama sekali tidak mengikuti kurikulum sekolah. Buku-buku yang kamu pelajari dari literatur Inggris dari Amerika Serikat, standar internasional. Jadi, kalau kamu mengerti materinya, kemungkinan besar pelajaran sekolahmu jauh lebih mudah.”

    Seorang anak yang lain mendengar obrolan itu menambahkan, “Iya, Mister. Gampang sekali pelajaran sekolah.” Guru mencoba mengkritik, “Jangan menganggap remeh. Coba buktikan bahwa itu gampang?” Bocah itu tersenyum lalu berkata, “Pelajaran cuma apa itu bahasa Inggris dari meja, papan tulis, buku serta lainnya.” Guru menanggapi, “Iya. Itu memang mudah. Cuma, kalau kamu mau tidak belajar lebih bisa tidak mengerti?” “Iya juga sih. Teman-teman banyak yang tidak bisa bahasa Inggris,” jawabnya tanda sepakat.

    Cerita ini adalah gambaran dari realitas pendidikan kita di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk fasilitas yang serba canggih. Kurikulum bahasa Inggris sekolah itu bagus. Guru-guru sekolah tidak boleh disalahkan. Mendidik adalah tanggung jawab guru, kenapa tidak boleh disalahkan atas rendahnya kualitas mengajar mereka? Karena sejatinya, mereka bukan guru bahasa Inggris yang “terpaksa” mengajar bahasa Inggris. Ini adalah efek dari keputusan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang tidak merekrut sarjana bahasa Inggris sebagai guru sekolah. Kemendikdasmen lebih mendidik guru sekolah yang sudah ada untuk belajar bahasa Inggris.

    Persoalan yang muncul adalah guru-guru tersebut belum tentu minat bahasa Inggris dan meskipun mengikuti pelatihan, waktu untuk menjadi cukup mahir pasti panjang. Belum lagi masalah jatah mendapatkan pelatihan gratis itu bertahap. Sekolah yang terlambat mendapatkan pelatihan pasti lebih jauh tertinggal. Kesenjangan pendidikan menganga dengan sangat lebar. Banyak hal jadi terlambat, telat (bukan telak). Dinas Pendidikan di daerah yang sesungguhnya tahu masalah ini, tetapi tidak mengambil inisiatif membuat solusi melengkapi kegagalan pendekatan struktural ini. Fungsi otonomi daerah yang seharusnya bisa melahirkan solusi lokal berada di garis merah, gagal. Menunggu instruksi pusat dan keterbatasan anggaran adalah jalur paling aman. Tidak ada kegagalan dan tidak ada yang dilanggar.

    Kita beruntung karena di tengah maraknya kapitalisasi pendidikan, masih banyak lembaga pendidikan nonformal yang masih mempunyai spirit Ki Hadjar Dewantara atau tokoh intelektual lainnya, memanusiakan manusia dengan menawarkan pendidikan dengan harga terjangkau. Tetapi ingat, itu tetap berbayar karena minimal lembaga itu masih harus membiayai denyut nadi napas lembaga dan berjuang untuk para guru yang berkualitas dan berdedikasi yang tinggi untuk bisa hidup lumayan layak. Anak-anak yang kehidupan orang tuanya berada pada kehidupan ekonomi lemah—dalam piramida, ini adalah basis paling bawah dan terbanyak. Mayoritas dari mereka tidak dapat tertampung meskipun terdapat beasiswa. Mereka harus puas dengan mengandalkan pelajaran sekolah saja.

    Lembaga nonformal ini bergerak bukan atas dasar mencari keuntungan kapitalis semata, melainkan manifestasi nyata dari Sila Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Paham sosialis ala Indonesia itu masih hidup tidak pernah dihapus. Menurut B. J. Habibie, basis kelas menengah itu sebenarnya mempunyai peranan penting untuk membantu gerakan sosialis tersebut. Ya, itu semacam strategi untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

    Ide ini bagus karena terjadi kolaborasi untuk saling bahu-membahu—gotong royong bila mengikuti istilah budaya orang Indonesia. Lembaga-lembaga yang membangun kemandirian dan mempunyai kreativitas tersendiri, meskipun mengalami krisis kepercayaan pada sistem pendidikan, semestinya bersedia untuk mau bergandengan tangan. Sejatinya, kesadaran dan persatuanlah yang akan membuat rakyat dan negeri tercinta kita ini jadi maju.

    Cap “berbeda” dan “terlalu gampang” yang dengan gamblang disebutkan anak-anak adalah jurang pemisah dari sistem pendidikan yang saling bertolak belakang perlu diubah untuk saling tarik-menarik ke depan memajukan pendidikan Indonesia. Betapapun ini hampir mustahil, setidaknya kita tidak boleh kehilangan harapan. Apakah ini ilusi atau nyata? Nanti waktu menjawabnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 23 September 2026

  • Siri’ Menjadi Bahan Bakar Belajar

    Siri’ Menjadi Bahan Bakar Belajar

    Kemampuan lisan tidak selalu berbanding lurus dengan tulisan. Anak-anak SD di kelas malam terkenal jago tenses di luar kepala dan sering divideo secara live (siaran langsung) di media sosial. Kebanggaan mereka ini tidak bertahan lama setelah Mr. Agung, guru grammar (tata bahasa) berbakat, hadir memberikan simulasi ujian tenses. Jangankan pelajar yang baru menguasai tenses, para juara olimpiade bahasa Inggris SD tingkat nasional pun terjungkal.

    Persoalannya terletak pada perubahan kata kerja, ketelitian, dan waktu yang diberikan sangat terbatas—mengikuti ujian standar internasional. Ada seorang anak yang jawabannya sangat bagus, tetapi lupa menulis nama pada lembaran ujiannya sehingga ia harus rela hasil kerjanya tidak diperiksa, nol; seisi ruangan bernasib sama, kecewa berat dan menangis. Karena senasib, beban kecewa itu dibagi rata dengan saling menyemangati dengan berbagi cerita untuk meringankan beban.

    Namun, kejadian ini adalah hal biasa. Ribuan pelajar telah mendapatkan pelatihan mental seperti ini. Ujian tulis yang diberikan sengaja meliputi seluruh bentuk perubahan tenses agar klaim target memahami tenses di luar kepala benar-benar teruji. Ketika gagal dalam ujian tulis, itu berarti pendalaman materi masih sangat dibutuhkan hingga semua celah kelemahan dapat tertutupi. Lagipula, gagal dalam proses belajar itu penting. Mengikuti alur berpikir Kang Jalal, lebih baik anak-anak itu gagal sekarang daripada nanti di puncak kesuksesannya terjatuh. Itu pasti jauh lebih menyakitkan. Mereka harus mengerti makna perjuangan, segera bangkit setelah jatuh. Selain itu, ada hal kecil yang terselubung dalam diri pelajar yang hendak diruntuhkan, yaitu menganggap remeh pelajaran: ego kehebatan diri yang sering menjangkiti pelajar yang pintar.

    Oleh karena itu, saat ini pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) diberikan variasi soal tulis, tanpa meninggalkan latihan lisan agar tercipta kombinasi pemahaman yang lebih utuh. Pengenalan kata kerja yang baru serta bentuk perubahannya mengikuti agar mereka bisa memindahkan tenses dengan benar. Mereka tentu lebih perhatian karena tidak ingin mengulang kegagalan yang sama pada simulasi ujian tulis itu, menolak jatuh pada lubang yang sama.

    Pada tahap ini, RBB memanfaatkan budaya siri’ (malu) anak-anak Sulawesi Selatan itu ke arah pendidikan. Mereka merasa sangat malu bila gagal. Tentu saja, betapa pun mereka masih pelajar SD, mereka sedikit banyak sudah mengetahui apa itu siri’. Inilah yang selalu didengungkan, dimasifikasi. Tiada seorang pun dari mereka yang harga dirinya jatuh. Maka, untuk menjaga kehormatan mereka, tidak ada pilihan lain selain belajar lebih giat. Guru-guru RBB dengan sabar dan tabah akan terus mendampingi mereka hingga ujian tulis itu berbanding lurus dengan kemampuan lisan mereka.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 22 September 2026

  • Menyelamatkan “Saudara-Saudara” Pinisi

    Menyelamatkan “Saudara-Saudara” Pinisi

    Membuat tulisan tentang perahu tradisional bersama Dr. Horst H. Liebner tidak butuh banyak kata, sebisa mungkin sedikit saja dengan makna yang padat. Yang banyak adalah pembahasannya. Membahas 50, 100 sampai 200 kata saja menghabiskan lebih dari empat jam. Terlebih lagi, pembahasan yang sama akan diulang lagi di hari berikutnya.

    Ah! Bagi kita orang Indonesia, itu mungkin terasa sangat melelahkan termasuk saya. Sesuatu yang sudah tersusun rapi masih saja didiskusikan atau diperdebatkan. Apakah memang begini cara otak orang Jerman yang cerdas itu bekerja? Kami—Horst, Anjar dan saya—pun harus menginap dua hari di Bira untuk memperluas waktu saling bersilat lidah untuk mencari penempatan kalimat yang benar dan mudah dipahami pada tulisan itu.

    Kertas tulisan yang menjadi bahan pembahasan 

    Kok masih diperdebatkan ya? Itu berarti masih ada masalah. Dari sini saya mendapatkan pelajaran bahwa sesuatu yang sungguh berkualitas baik mesti selalu siap dikoreksi dan mau menerima perubahan untuk mendapatkan hasil yang semudah dan sepraktis mungkin bagi pembaca.

     

    Dr. Horst Liebner terus menerus berusaha memperbaiki tulisan dari hasil kajian bersama.

    Setelah puluhan lembar dari kumpulan tulisan yang sangat pendek itu dihamparkan di atas meja, semakin jelas segala kelemahan yang telah dibuat. Kami pun terus merevisi dan mencari solusi agar setiap satu tulisan terhubung dengan lainnya, saling kait mengait. Karena bekerja dengan sebuah team yang meskipun sedikit, beragam solusi dihadirkan dan kemudian solusi terbaik dari hasil bermusyawarah–bukan debat lagi–disepakati.

    Sekadar info tambahan, apa yang kami sedang kerjakan ini adalah hal yang sama berharga karena kami mengabadikan berbagai macam model perahu tradisional dengan segala bagian-bagiannya serta bagaimana para Panrita Lopi membuat perahu. Bila tidak dicatat, khazanah kekayaan ilmu pengetahuan yang luar biasa ini akan tenggelam oleh zaman, tidak meninggalkan jejak abadi. Lagi pula, bahasa yang digunakan diupayakan sebisa mungkin dipahami oleh generasi gen Z dan Alfa. Misalnya, halo cess atau gitu kan? Itulah mengapa struktur tata bahasa yang rapi digabungkan dengan gaya bahasa anak-anak zaman sekarang.

    Di sela-sela kesibukan. Kami sempat berfoto. Ada rekan Nur Anjas, seorang guide profesional di Bira dan manager Nusa Bira Indah Hotel, bersilaturahmi ke tempat kami sedang bekerja di Bira Dive Camp.

    Ke depan, orang akan lebih mengerti bahwa pengetahuan perahu tradisional Indonesia dari Bulukumba yang pembuatannya menyebar di kecamatan Bonto Bahari: Tanah Beru, Lemo-Lemo, Bira, dan Ara serta sekarang di Samboang Kecamatan Bonto Tiro dapat terwariskan kepada generasi berikutnya. Perahu Pinisi yang mendunia itu mempunyai banyak ‘saudara’ yang disiap diperkenankan kepada dunia minimal dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bira, 21 September 2026

  • Menanam Bibit Literasi  Global di RBB Tanete

    Menanam Bibit Literasi Global di RBB Tanete

    Orang yang bisa berbahasa Inggris dianggap pintar. Anggapan umum ini berkembang begitu saja tanpa pernah dikoreksi ulang. Itu aneh tapi nyata. Ukuran kepintaran mungkin saja karena kebanyakan orang tidak bisa berbahasa Inggris sehingga sedikit orang yang pintar itu terlihat istimewa.

    Padahal, persoalan bahasa tidak sesederhana itu. Banyak orang yang bisa berbahasa Indonesia tetapi buta huruf. Demikian halnya dalam bahasa Inggris. Banyak orang Indonesia bisa berbahasa Inggris, tetapi buta huruf juga: bahasa hanya jadi ‘gaya-gayaan’, bukan alat pengetahuan. Tidak dapat dipungkiri bahwa para guide, pelayan hotel, dan pedagang mampu berbahasa Inggris dengan baik dengan kebiasaan berbahasa saja dan berfungsi dengan baik. Cuma saja, kemampuan mereka masih sangat terbatas.

    Kemampuan berbicara itu semestinya mampu dibarengi dengan membaca, literasi. Bacaan buku berbahasa Inggris itu jauh lebih kompleks karena orang harus tahu cara pengucapan dengan benar. Itu tentu membutuhkan panduan dari guru yang mempunyai keahlian dalam berbicara atau pengucapan karena dalam pandangan orang Indonesia, bahasa Inggris itu lain di tulisan lain pula pengucapannya. Untuk urusan lebih tinggi, bahasa Inggris menjadi alat untuk berpengetahuan, membaca pemikiran orang luar.

    Maka tidak mengherankan bila RBB Tanete membangun kemampuan pelajarnya yang multifungsi. Dengan memanfaatkan Youtube, kemampuan pelajar dilatih akrab dengan aktivitas sehari-hari. I make my bed dan I clean my room (Saya merapikan tempat tidurku dan saya membersihkan kamarku), dan sederet contoh lainnya memudahkan orang untuk berbicara.

    Kemudian, agar tidak mencetak pelajar yang buta huruf, pelajar pun didekatkan dengan literasi. Pembahasan buku ada lesson 47, 48 dan 49 mengacu pada kemampuan tanya jawab. Do you like milk? Does he like coffee? dan Arika likes milk, but she doesn’t like coffee (Apakah kamu suka susu? Apakah dia suka kopi?, dan Dia suka susu, tetapi dia tidak suka kopi). Setiap kesalahan yang dibuat pada dialog, mereka kembali merujuk kepada buku. Berangkat dari hal ringan itu, mereka terus dilatih hingga mampu membaca buku-buku yang tebal nantinya. Dengan demikian, buta huruf Inggris terbantahkan.

    Itu terlihat sangat sederhana, kan? Tetapi, justru karena sederhana, itu jadi mudah. Kerumitan itu terjadi karena para pelajar tidak dibiasakan membaca saja. Karena ini sudah dipersepsikan tidak rumit, anak-anak SD hingga SMA pun senang belajar. Setiap kali belajar, praktik percakapan dan literasi diajarkan.

    Miss Fathy Cayadi, guru yang mengajarkan materi ini di RBB Tanete, perlahan tapi pasti turut membantu mengubah pemahaman pelajar bahwa gadget dengan pelajaran di YouTube adalah alat belajar, bukan sekadar nonton atau main game. Mengelola kemampuan berbicara berbasis pada buku adalah cara yang paling efektif untuk membiasakan para pelajar suka membaca, pengetahuan luas yang tidak sempat dijelaskan oleh guru dapat diperoleh dengan bacaan.

    Ukuran standar kecerdasan pelajar yang bisa berbahasa Inggris menjadi lebih bermakna, wawasan lebih luas dan percakapan pun akan jauh lebih berbobot.

    Di masa yang akan datang, kepada orang-orang yang pintar berbahasa Inggris seperti inilah yang dapat terlibat aktif dalam pergaulan dunia seperti yang dinyatakan di dalam Undang-Undang 1945: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. RBB Tanete turut menanam bibitnya dan menumbuhkannya.

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 20 September 2026

  • Pintar Bareng di RBB Tanete

    Pintar Bareng di RBB Tanete

    Pendapat umum adalah pelajar Indonesia kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris. Ah! Itu memang kenyataan yang terjadi. Kita bisa saja membantahnya dengan seribu alasan masuk akal dan tidak masuk akal. Fakta akan selalu lebih mudah dipercaya daripada argumentasi pembenaran. Misalnya, di sekolah bertaraf internasional, kemampuan bahasa Inggris para pelajar mereka bagus. Baiklah. Bagaimana dengan sekolah umum? Apakah kita berani mengatakan itu bagus juga?

    Segelintir pelajar saja yang bisa menikmati sekolah berfasilitas mewah, super mahal dan itu hanya tersedia di kota besar.Artinya, begitu banyak pelajar Indonesia yang tidak bisa mengakses. Bagi orang yang percaya pada ilmu pengetahuan, itu adalah masalah besar yang semakin dipikirkan semakin bikin pusing kepala karena kapitalisasi pendidikan sangat menyulitkan sebagian besar orang Indonesia mengakses pendidikan yang berkualitas. Tingkat kesejahteraan ekonomi rakyat kebanyakan masih belum merata yang membuat mereka tidak bisa lebih leluasa bergerak.

    Ada yang bisa pintar dengan belajar secara mandiri lewat YouTube atau media sosial lainnya. Sayangnya, itu juga sangat sedikit karena harus ada inisiatif pribadi dari pelajar itu sendiri.

    Di sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, ada kecanggihan dibalut dalam bentuk kesederhanaan. Kurikulum pembelajarannya pun sangat terstruktur rapi. Gurunya pun sangat cerdas mengelola bahan pelajaran. Sebagai contoh, pada lesson 45 dan 46, kata can dan can’t (bisa dan tidak bisa) bahan percakapan yang bisa melibatkan lebih dari dua orang. “Can Rafli play football?” (Dapatkah Rafli bermain sepak bola?). Rafli akan ditanya apakah ia bisa bermain sepak bola atau tidak: kemungkinan jawaban, “Yes, he can atau No, he can’t.” Pembahasan ini pun merambah ke makhluk hidup lainnya: “Can a bird swim?” (Dapatkah seekor burung terbang?) atau “Can a rabbit fly?” (Dapatkah seekor kelinci terbang?). Para pelajar dilatih kreatif berpikir.

    Fathy Cayadi, sang pengampu di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete sangat senang pada keaktifan para pelajar bercakap. “Anak-anak kami telah memahami penggunaan can dan cannot dengan baik serta menemukan dan menyampaikan informasi dengan baik pula,” ungkap Fathy dengan nada gembira. Menjelang kelas belajar berakhir, ia pun menambahkan pembelajaran verbs (kata kerja) agar penggunaan kalimat di pertemuan berikutnya lebih beragam. Semua proses belajar mereka ini dibangun dengan semangat bekerja sama, pintar bareng, bukan seorang diri.

    Marilah kita memandang pembelajaran bahasa Inggris itu bukan dari pendekatan pendidikan formal saja, mengecek pada pendidikan nonformal juga. Kita akan menemukan bahwa banyak pelajar Indonesia yang aktif berbahasa Inggris itu karena mereka aktif di lembaga nonformal. Meskipun bersekolah di pendidikan formal, kemampuan mereka bisa setara dengan para pelajar di sekolah internasional. RBB turut terlibat mengelola dan mencetak pelajar yang mempunyai keahlian di atas rata-rata.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 19 September 2026

  • Jangan Ikut Tolol!

    Jangan Ikut Tolol!

    Lomba menjawab verbal tenses di luar kepala untuk lima orang anak berumur sembilan dan sepuluh tahun ini bukan lagi dominan adu kecerdasan, melainkan adu kecepatan. Sebegitu cepatnya mereka mengangkat tangan, guru yang memberikan soal merasa kewalahan menunjuk siapa yang paling awal mengangkat tangan untuk mendapatkan kesempatan menjawab. Akhirnya, beberapa murid ditunjuk khusus bertugas untuk siapa yang lebih dahulu berhak menjawab. Para pelajar lainnya yang sedang dalam proses penguasaan tenses di luar kepala dengan penuh perhatian menyaksikan lomba dalam bentuk permainan ini. Mereka juga berharap untuk bisa ikut terlibat aktif seperti ini nantinya.

    Bukti konkret tidak biasa ini menyadarkan kita bahwa sesungguhnya banyak anak Indonesia itu tidak tolol pada pelajaran bahasa Inggris. Mereka hanya tidak mendapatkan akses yang benar untuk berbahasa Inggris. Pemahaman seluruh verbal tenses itu bukan pelajaran SD, tetapi kenapa anak-anak bisa? Persoalan metode mengajar dan kualitas sumber daya manusia (SDM) guru yang menjadi hambatan utama karena Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI tidak merekrut guru sarjana bahasa Inggris di SD.  Dengan adanya contoh keberhasilan kecil dari anak-anak itu, inilah yang membalikkan pemahaman di mana rasa takut belajar berganti menjadi berani dan antusias.

    Jika pihak yang bertanggung jawab mengatur pendidikan itu mempunyai kepedulian pada model pendidikan yang berkualitas baik yang ada di wilayahnya mau mengambil pelajaran, pastilah cerita kebuntuan pelajar segera teratasi. Mereka cukup mengkloning dan menerapkannya secara struktural. Jangkauannya pasti lebih luas, dirasakan secara lebih merata. Tapi, kan itu ‘jika’, sebatas angan-angan saja. Mereka itu lebih suka menggembor-gemborkan pembangunan fisik untuk mengukur kemajuan pendidikan daripada SDM. Padahal, kedua-duanya mesti saling berjalan secara bergandengan layaknya pasangan suami istri. Kan, itu lebih harmoni.

    Bila kita terus terjebak dalam alur berpikir kaku seperti itu, kita hanya akan melanggengkan ketertinggalan pendidikan kita. Untuk itu, kita tidak perlu menanti dalam waktu yang tidak pasti hingga terjadi perubahan. Itu sangat membosankan dan melelahkan. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah bertindak sesegera mungkin untuk menjadi bagian dari solusi agar masa depan anak-anak kita itu berwawasan dan berpengetahuan tinggi: bekal berharga yang akan mereka gunakan dalam menumbuhkan kemampuan berdaya saing, bukan jadi penonton di negeri sendiri. Rumah Belajar Bersama (RBB) dan lembaga pendidikan alternatif lainnya yang masih peduli pada pendidikan yang memanusiakan manusia itu masih banyak bertebaran di sekitar kita.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 18 September 2026

  • Futri: Langkah Solutif Persiapan S-3

    Futri: Langkah Solutif Persiapan S-3

    Seorang alumni S-2 ingin lanjut S-3 di Malaysia mengikuti kelas bahasa Inggris. Pilihannya unik. “Saya mau kelas pronunciation (cara pengucapan)?” kata Futri Syam. “Hah! Kenapa? Biasanya mahasiswa lanjut S-3 itu mempersiapkan diri pada tes TOEFL atau IELTS,” balas guru bahasa Inggris yang sedang ia temani berbicara. “Karena saya ingin lebih percaya diri berbicara,” balas Futri. “Okay. Tapi, saya ingin tahu dulu kemampuan reading dan speaking-mu (membaca dan berbicaramu) agar tahu tingkat apa yang saya ajarkan,” tanggap guru itu.

    Kemudian, sang guru pun mengambil buku reading yang bercerita dan disodorkan ke Futri. Ia membaca dengan suara nyaring beberapa paragraf. “Bacaanmu cukup baik. Mendengar nada suaramu itu, kamu ada bakat. Cuma, ini tidak diasah dengan baik saja. Pertahankan saja semangat belajarmu ini. Orang sepertimu tidak butuh waktu lama di kelas pronunciation. Satu bulan cukuplah,” respons guru itu. “Baik,” jawab Futri singkat.

    Ketika kelas perdana berjalan, Futri dengan sigap mengetahui cara membedakan kata yang pengucapannya sangat mirip, hanya dibedakan dengan nada lebih panjang dan pendek. Puluhan kosakata dan paragraf pendek ia baca dengan lancar. Untuk lebih matang, ia diminta mengulangi beberapa kali agar selain pemahaman lebih melekat, ia pun tahu cara menggabungkan atau penyingkatan beberapa kata yang sesuai aturan dan tentunya enak didengar.

    Kemudahan yang Futri peroleh ini karena ia mempunyai niat dan latar belakangnya dari pendidikan agama Islam. Ini mirip saja dengan ilmu tajwid dalam mengaji atau bahasa Arab. Beberapa kosakata Inggris yang sulit ia sebutkan dihubungkan dengan bahasa Arab sehingga dengan cepat ia menemukan cara yang tepat dalam mengucapkan kata dengan benar.

    Pertemuan belajar di hari pertama ini berjalan dengan sangat lancar. Menjelang kelas selesai, guru berkata, “Hari ini tidak ada rekaman video. Besok, semua pelajaran yang kamu dapatkan akan direkam. Silakan berlatih di rumah.” Maksudnya, Futri ada kesempatan berlatih di rumah sehingga penampilannya pada video yang akan disebar di media sosial terlihat lebih sempurna. Tentu saja, ia (Futri) tahu akan hal ini. Sebagai pendukung, MP3 tentang materi pronunciation yang sedang ia pelajari diberikan untuk bahan rujukan. Futri sangat senang dan terlihat siap menghadapi pelajaran hari esok.

    Futri adalah salah satu di antara sekian banyak mahasiswa Indonesia yang terkendala dalam bahasa Inggris yang mengambil langkah solutif untuk bisa lebih aktif dalam pergaulan akademis dan internasional. Ia sadar akan kemampuan dirinya bahwa kuliah di luar negeri itu bukan sebatas formalitas kelulusan tes bahasa Inggris saja seperti yang telah ia lalui di S-1 dan S-2.

    Agar lebih bersinergi, Futri pun dimotivasi oleh guru Rumah Belajar Bersama (RBB), tempat ia belajar, agar ia bisa menjadikan bahasa Inggris itu sebagai alat untuk membaca literatur asing yang mendukung pengembangan pengetahuannya saat proses perjalanan meraih gelar doktor di S-3-nya nanti. Ia sepakat.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 17 September 2026

  • RBB Turut Membantah Juara Dunia Catur

    RBB Turut Membantah Juara Dunia Catur

    Ketika dua orang sahabat akrab telah selesai belajar di sore hari, mereka bersepakat untuk tidak pulang dan menanti malam hari untuk pembelajaran bahasa Inggris. Beberapa waktu menjelang Maghrib dimanfaatkan untuk berlatih catur. Semua pasukan catur beserta notasi langkah catur dijelaskan dalam bahasa Inggris. Mereka tertarik dengan notasi karena selain kemampuan linguistik juga terasah, mereka juga berpikir secara tepat menempatkan anak buah catur dengan tepat—sebuah sistem koordinat matematika aljabar standar internasional.

    Proses mempelajari notasi catur.

    Di luar dari perkiraan, setelah memahami semua langkah catur, Alika dan Faika mencoba untuk bertanding. Di sini, guru tidak terlibat lagi dan membiarkan mereka saling memakan pasukan. Mereka pun saling mengingatkan bila ada langkah yang salah. Skor berakhir satu sama.

    Di waktu keluar main pada pembelajaran bahasa Inggris, Alika dan Faika meminta izin lagi bermain catur. Mereka tidak begitu minat lagi kejar-kejaran sebagaimana anak-anak lainnya. Pilihan bermain dengan olahraga asah otak jauh lebih menyenangkan. Mungkin mereka akan olahraga fisik lagi bila otaknya lelah. Menjelang pulang, mereka mengatakan skor dua sama. Ternyata, ada kompetisi terselubung di antara mereka.

    Pengenalan catur buat anak-anak bukan tanpa alasan. Bobby Fischer, Juara dunia catur pada 1972, menerangkan bahwa catur itu pelatih kemampuan menganalisis, imajinasi dan kreativitas. Sayangnya, ia tidak percaya kualitas otak perempuan sehingga permainan itu tidak cocok buat perempuan. Beruntung Judit Polgar adalah perempuan pertama di era modern yang telak membantah itu. Jika Fischer meraih gelar grand master pada umur 15 tahun 6 bulan 1 hari, Judit malahan lebih cepat; 15 tahun 4 bulan. Sekarang ini, kejuaraan catur wanita telah diselenggarakan. Bahkan ada pertandingan tanpa batas gender di mana perempuan yang sanggup mengalahkan laki-laki bergelar grand master. Dari kompetisi tersebut, Judit diakui sebagai pecatur wanita terkuat sepanjang masa, setidaknya hingga masa sekarang ini.

    Anak-anak senang belajar catur.

    Kedua gadis cilik ini dengan sengaja diperkenalkan catur oleh Rumah Belajar Bersama (RBB) bukan untuk maksud membuat atlet catur. Selain Rusia, Tiongkok, dan Hungaria yang sudah punya sejarah catur yang kuat, negara-negara seperti Armenia (2011), Georgia (2022) dan Spanyol (2015) menerapkan catur di SD dengan maksud untuk melatih logika, konsentrasi berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah serta Matematika.

    Indonesia tidak menerapkan hal demikian. Lembaga nonformal seperti RBB merasa beruntung bisa menerapkan catur bagi segelintir para pelajarnya yang berminat karena olahraga catur bisa dimanfaatkan di waktu senggang, hal yang lebih baik daripada membuang waktu secara percuma.

    Bila suatu saat, Alika, Faika dan pelajar lainnya yang berminat catur di kemudian menjadi atlet catur berprestasi juga, itu adalah bonus saja. Target utama RBB adalah mencerdaskan para pelajar dengan mencari strategi memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama mereka berada di RBB. Salah satu pilihan terbaik yang ada saat ini adalah catur.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 15 September 2026