SI (Syarikat Islam) is a large organization working in religion, social affairs, trade, education, and very important, politics; it doctrine its intellectual figures to fight against Dutch colonialism. Take for example H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, Semaun, Kartosuwiryo, Muso, and many more.
Differences in ideology made them clash with each other. H.O.S. Cokroaminoto and Agus Salim represented the religious nationalist group and clashed with Semaun and Muso. Meanwhile, Soekarno, who was a pure nationalist, very clearly clashed with Kartosuwiryo, who wanted to establish the Islamic State of Indonesia.
Cross-Faction Meeting
Several figures in Bulukumba gathered to form the SI board. Will they clash with each other too? Syahruni Haris sees that as just a historical nostalgia. “Learn from past mistakes, do not repeat bad history but create new history,” explained this Vice Chairman of the legislative assembly in Bulukumba regency.
As a follow-up to unify their perception, a meeting of several Bulukumba figures from various backgrounds—from the “left, right, front, and back” groups (the author’s term)—gathered at Circle on Saturday, May 16, 2026.
Will they clash with each other like their predecessors?
The present era is no longer about ideological clashes and physical warfare like the independence era, but about how to fill the independence, as explained below.
Answering the Challenges of the Era for SI Bulukumba
From its great history, it is important to remember that SI did not disband but continues to move dynamically according to the changing times. Currently, the General Chairman of central SI is Prof. Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., the former Chief Justice of the Constitutional Court.
In this year of 2026, SI is present in Bulukumba Regency, South Sulawesi.
Ahmad Said, the Chairman of the Bulukumba SI Branch Council, gave an introduction stating that SI Bulukumba will monitor the policies of the Indonesian government in Bulukumba, oversee the running of the local government, and be actively involved in advocating and educating Muslims, as done by Islamic organizations. SI, which was originally SDI (Syarikat Dagang Islam), certainly has a high focus on reviving the spirit of public entrepreneurship by supporting cooperative programs, not as an antithesis but as an initiation of what the government has done today.
The idea was well received. Abdul Kahar Muslim as the Branch Leader and Iwan Salassa, the Vice Chairman of the Bulukumba SI Branch, added that the representation of women figures in SI is also very important to fight for the rights of women’s struggle.
Several members of the Bulukumba Branch of Syarikat Islam gathered to devise the organization’s future strategic steps. Photo Source: H. A. Abdul Haris on Saturday, May 16, 2026
Next Steps
Of course, there are still many smart ideas that must be born and worked on. H. A. Haris Ishak, the Secretary of the Bulukumba SI Branch, views that other systematic strategic activity plans will be discussed at the SI Work Program Meeting, which will then be socialized to the public so that people connected to the SI program can be actively involved and participate.
“May Allah SWT always grant the gifts of health, blessings, and His mercy to all of us,” closed Abdul Kahar Muslim.
Closing
SI has produced great ideas and figures according to their respective ideologies. It has the awareness not to fall into Indonesia’s dark history. Now, the figures of SI Bulukumba emphasize more on combining all the resources they have to collaborate in supporting the work programs that will strengthen SI’s mission: Independence of the Ummah, Economic independence, Inclusive dakwah, and Social justice.
SI (Syarikat Islam) organisasi besar bergerak dalam keagamaan, sosial, perdagangan, pendidikan dan yang sangat penting adalah politik; mendokrin tokoh intelektualnya melawan kolonialisme Belanda. Sebut saja H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, Semaun, Kartosuwiryo, Muso dan masih banyak lagi.
Perbedaan ideologi membuat mereka saling hantam. H.O.S. Cokroaminoto dan Agus Salim mewakili kelompok nasionalis religius bentrok dengan Semaun dan Muso, Sukarno yang nasionalis tulen sangat terang saling gasak dengan Kartosuwiryo yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia. Itulah sekilas sejarahnya.
Pertemuan Lintas Kubu
Beberapa tokoh Bulukumba berkumpul membentuk pengurus SI. Apakah mau saling gasak juga? Syahruni Haris memandang bahwa itu sekedar nostalgia sejarah. “Belajar dari kesalahan terdahulu, jangan mengulang sejarah buruk tapi ciptakan sejarah baru”, terang Wakil Ketua DPRD Bulukumba ini.
Sebagai tindak lanjut penyatuan persepsi, pertemuan beberapa toloh bulukumba dari berbagai latar belakang—dari aliran “kiri, kanan, depan maupun belakang” (istilah penulis)—berkumpul di Circle pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Apakah mereka akan saling berbenturan seperti para pendahulu?
Zaman now bukan lagi terletak pada benturan ideologi dan perang fisik seperti masa kemerdekaan itu melainkan bagaimana mengisi kemerdekaan seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.
Sebagian para pengurus Syarikat Islam Cabang Bulukumba yang sedang berkumpul menggagas langkah strategis SI ke depan. Sumber Foto: H. A. Haris Ishak pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Menjawab Tantangan Zaman SI Bulukumba
Dari sejarahnya yang besar itu, patut diingat SI tidak bubar tapi terus bergerak dinamis sesuai perubahan zaman. Saat ini Ketua Umum pusat SI dijabat oleh Prof. Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi .
Pada 2026 ini, SI hadir di Kab. Bulukumba, Sulawesi-Selatan.
Ahmad Said, Ketua Dewan SI Cabang Bulukumba, memberikan pengantar bahwa SI Bulukumba akan mengawal kebijakan pemerintah RI di Bulukumba, mengawasi jalannya roda pemerintahan daerah, dan turut terlibat aktif mengadvokasi dan mengedukasi kaum muslimin sebagaimana dilakukan organisasi Islam. SI yang awalnya adalah SDI (Syarikat Dagang Islam) pasti punya konsentrasi yang tinggi dalam membangkitkan kembali spirit kewirausahaan masyarakat dengan mendukung program koperasi, bukan sebagai anti tesa tetapi sebagai inisiasi dari apa yang telah dilakukan pemerintah saat ini.
Gagasan tersebut disambut baik. Abdul Kahar Muslim selaku Pimpinan Cabang dan Iwan Salassa, Wakil Ketua SI Cabang Bulukumba menambahkan bahwa tokoh keterwakilan perempuan di SI juga sangat penting untuk memperjuangkan hak-hak perjuangan perempuan.
Langkah Selanjutnya
Tentu, masih banyak ide cerdas yang harus dilahirkan dan dikerjakan. H. A. Haris Ishak, Sekretaris SI Cabang Bulukumba, memandang bahwa rancangan kegiatan strategis yang tersistematis lainnya akan dibahas pada Rapat Program Kerja SI yang kemudian akan sosialisasikan kepada publik agar masyarakat yang terhubung dengan program SI dapat terlibat aktif berpartisipasi.
“Semoga Allah SWT selalu melimpahkan anugerah kesehatan, berkah, dan rahmat-Nya kepada kita semua,” tutup Abdul Kahar Muslim.
Penutup
SI telah mencetak ide-ide dan tokoh-tokoh besar yang sesuai dengan ideologi masing-masing. Ia punya kesadaran untuk tidak jatuh pada sejarah kelam Indonesia. Kini, para tokoh-tokoh SI Bulukumba lebih menekankan pada penggabungan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk dikolaborasikan dalam mendukung program kerja yang akan memperkuat misi SI: Kemerdekaan Umat, Kemandirian ekonomi, Dakwah inklusif dan Keadilan sosial. Adakah sejarah baru yang akan tercipta?
Bridging smart teachers and talented students together has happened many times through a partnership between GAIA in Pati, Central Java, and RBB (Rumah Belajar Bersama) in Bulukumba, South Sulawesi. What made this fifth online English meeting special was that each institution sent four students to participate in a question and answer session.
This idea came up after Miss Salma Minasaroh from GAIA filled the teaching sessions four times. The RBB children were very excited to learn from her. It would be much better if the GAIA children could also join, so that students across islands—Java and Sulawesi—could connect. She agreed. To make it effective, the number of participants was very limited so that everyone had enough chance to speak and answer twenty questions.When they met on the screen, the children just looked at each other. None of them greeted each other or started a conversation until the silence was broken when Miss Salma took over the class for the English lesson.
The question and answer session went very smoothly. Only one or two English words from the students’ conversation were hard to understand. In short, the English learning process ran normally. The secret lay in the skill and experience of the teacher, an alumna of two universities, UAD and UGM Yogyakarta. She knew exactly how to manage a classroom and the students had practiced well on the question and answer materials that would be discussed online.
After understanding the basics of simple conversation, our students should be motivated to be brave enough to communicate with other people, not just their teachers. Yes, we know that children tend to be shy around people they just met. That is our challenge for the future, so they can become close friends with fellow Indonesian students before stepping further into international relations between countries.
GAIA and RBB, which are part of the institutions focused on developing the quality of Indonesian students, are certainly ready to move in that direction. Based on the evaluation above, a better plan for the next online learning has been prepared. Knowledge and mental strength must walk hand in hand. Do you have any interesting ideas too? Let’s see. That’s all for now
Ujian sekolah dan kuliah di dua universitas adalah ujian kehidupanmu nak yang akan menguatkanmu menghadapi ujian kehidupan.
Ada hal yang selalu teringat dan sulit kulupakan. Saat Nashwa pakai sepatu sekolah diteras rumah, ia berkata “Bapak, ada hapalan sekolah saya lupa. Tunggu beberapa menit bapak. Saya hapal dulu”, tambahnya. Ia duduk dan menghapal dengan caranya. Setelah yakin, ia berkata kepadaku, “Saya sudah hapal bapak”.
Seketika terasa ada kebahagian yg seolah mengatakan “Kamu hebat nak”, kataku dalam hati.
Saya pun mengantarnya berangkat dgn memakai motor Honda Supra tuaku. Nashwa suka duduk di depan menikmati perjalanan hingga sampai di depan pagar sekolahnya,
Sesuatu yang selalu menjadi kebiasaan Nashwa raih tangan saya sembari mencium sambil sy berucap, “Nu jago ini anakkue…pintar, ehhh… Jangan jajan sembarangan. Kalau mau pulang, tunggu adek Muh Dzaki Munadhil Irfan biar bersamaan pulangnya nak.
Saat waktu tiba pulang sekolah, terkadang saya menjemput, tapi anak anaku kebanyakan pulang dengan jalan kaki bersama adiknya–
Hal yg berbeda dari kebanyakan orang tua yang selalu menjemput anak² mereka.
Angka 99 dimulai dari angka 1.
Sesuatu yang terkadang saya sengaja untuk tidak menjemput mengundang tanya. Itu benar! Nashwa bertanya. “Bapak, kenapa tidak menjemputku?” Saya cuma tersenyum sambil meraihnya, memeluknya dan menciumnya. Itulah jawabanku agar anak anak tidak selalu dalam zona nyaman. Ini juga nanti akan menjadi cerita yang indah saat mengenang masa sekolahnya.
Sekarang Nashwa sebentar lagi akan menyelesaikan study-nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ujian jalan kaki untuk tidak selalu dalam zona nyaman pada akhirnya jadi pembelajaran untuk membentuk karakternya dan kemandiriannya dalam menghadapi ujian kehidupan.
Aris Irfan
Bulukumba, Selasa, 16 Mei 2026
Pelajar yang mempunyai kecerdasan lebih di atas rekan-rekan kelasnya sebaiknya diberi kepercayaan. Guru dapat menunjuknya untuk memimpin beberapa orang agar ia mengajarkan materi yang telah ia pahami. Ia akan tambah paham dan kembali belajar menjelaskan pemahamannya. Mental percaya diri pun terbangun. Sedangkan pelajar yang diajar merasa bisa lebih santai karena diajar oleh temannya sendiri dan pasti ingin selevel dalam hal kecerdasan.
Adam anak yang cepat memahami pelajaran. Ia akan menggambar atau menemani rekan di dekatnya untuk bicara manakala ia telah mengerti materi yang sedang dipelajari. Pengaruhnya ini cepat menyebar di mana kelas suara di kelas akan lebih riuh tapi bukan membahas pelajaran tetapi gossip ala anak anak.
Apakah Adam harus dihukum? Tidak perlu. Kita buat ia sibuk tapi harus tetap diawasi dengan jalan menunjuknya menjadi memimpin. Ia bertanggungjawab mengajarkan hal yang ia pahami. dua sampai tiga orang yang ia didik cukup sebagai langkah awal agar ia tidak kewalahan mengkondisikan kelas. Namun ini harus tetap diawasi karena bisa jadi Adam tidak membahas pelajaran alias kembali bergosip.
Begitupun pada Nabila dan Aliza. Keduanya masing-masing menunjuk beberapa orang yang mereka senangi untuk diajar. Setelah itu, kelas dibuat terpisah namun tidak berjauhan agar nuansa belajarnya saling terlihat. Waktu yang diberikan sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk memahamkan. Ketika jam yang ditentukan berakhir, setiap kelompok tampil menerangkan hal yang dipelajari. Di sini terlihat kelompok mana yang lebih mampu belajar secara team.
Untuk melihat titik kelemahan, bisa jadi yang memimpin kurang tahu cara menjelaskan pemahamannya kepada rekannya atau pelajar yang diajar belum tidak cocok dengan metode ini. Pendekatan personal pun dilakukan oleh guru agar ke depan mereka dapat lebih kompak dalam mencapai target pelajaran.
Penulis membaca bahwa cara belajar ini terlihat lebih rileks. Karena tidak tergantung pada guru utama kelas, mereka cenderung berpikir lebih kreatif dengan menciptakan cara sendiri dalam memahami suatu materi. Dan itu dibuat dari hasil musyawarah yang kemudian disepakati oleh pemimpinnya masing-masing.
Kecerdasan lebih dan kepercayaan yang diberikan kepada pelajar yang cerdas tersebut adalah kekuatan yang dahsyat yang sangat efektif digunakan untuk mempengaruhi rekan-rekan yang lain untuk ikut cerdas dan terpercaya—mereka juga ingin memperoleh kesempatan menjadi pemimpin kecil.
“Eh. Jadi tentara anakku”, kata Daeng Uttang sambil menatap foto anaknya berseragam tentara. Saya turut senang tapi merespon dengan biasa saja. “Coba lihat fotonya Deng?” kataku. Ia mengarahkan handphone ke wajahku. Saya girang. “Wah, itu langsung mengingatkanku pada wajahnya yang persis sama sewaktu dia masih anak anak, masa ketika ia bebas bermandikan matahari dengan bermain, tertawa riang ataupun ngambek.
Pendidikan Pratama Bintara (Dikmaba) TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) bukan dunia bermain. Itu sungguhan dan nyawa taruhannya. “Mengapa wajah Azizah bisa kembali seindah anak kecil tanpa dosa?” tanyaku dalam hati. Daeng Uttang tiba tiba bilang, “Dulu Azizah setelah tamat SMA daftar tentara, tidak lulus”, kenangnya. “Sekarang ia dimudahkan.” Cita citanya terwujud dengan terlebih dahulu meraih Juara 2 Lomba Dayung untuk Indonesia pada Asean Games di Thailand, 2025. Pemerintah memberikan “tiket” untuk atlet berprestasi tanpa biaya. Allah SWT menunjukkan jalan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
“Azizah itu bisa renang?”, tanyaku. “Untungnya di masa anak anak ia kursus renang bersama Aliyah, kakakknya di Mattoanging”, kenang Daeng Uttang. “Pelatihnya bilang anak anak saya berbakat jadi atlet nasional. Sebagai bapak, saya tambah semangat mengantar mereka”, tambahnya sembari tersenyum. “Iya ya. Coba dia nda tahu renang, setengah hidup dia di TNI Angkatan Laut. Dan mana berani dia mau jadi pedayung”, tambahku menguatkan rasa senangnya.
Daeng Uttang kini bersiap-siap mengunjungi anaknya di Surabaya yang dalam waktu dekat karena masa pendidikan Azizah akan selesai. Pertemuannya akan berlangsung sangat singkat karena Azizah akan kembali jadi atlet dayung Pelatnas (Pelatihan Nasional) untuk memperjuangkan dan mengharumkan nama baik Indonesia di kejuaraan yang lebih tinggi.
Ada momen tertentu di mana Daeng Uttang ingin berkumpul bersama kedua anaknya Aliyah dan Azizah di rumah, Makassar. Mengingat kesibukan, itu sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Sang Kakak, Aliyah, sedang pelatihan di Jakarta untuk peningkatan kariernya di Perbankan tidak lama lagi akan selesai dan Azizah yang terdaftar sebagai mahasiswa di UNM (Universitas Negeri Makassar) tentu punya urusan dengan kampus yang sesekali membuatnya bisa pulang kampung. Pada momen kebersamaan berharga itulah, kedua anak membahagiakan ini dapat berziarah ke makam ibunya Nur Wahidah Bakkas Tumengkol bersama sang ayah, Daeng Uttang.
Ketika sang anak mencapai cita-cita, orang tua bahagia. Apakah orang tua menuntut anak anaknya untuk dapat membahagiakan orang tuanya? Sekilas mengutip Murtadha Muthahhari, sama sekali tidak. Kebahagiaan orang tua ketika melihat anak anaknya bahagia. Itu cukup. Itu adalah cinta, anugerah yang tanpa perlu diperjuangkan oleh manusia diberikan oleh Allah SWT yang dikhususkan kepada orang tua tepat ketika anak itu lahir ke bumi, menyanyangi anak tanpa batas.
Bertamu ke rumah Dr. Horst Liebner di Gowa, Sulawesi Selatan seolah menggugah semangatku untuk masuk lagi dalam dunia perdebatan pemikiran. Di ruang kerjanya yang teduh dikelilingi perpustakaan mini, ia menyedorkan beberapa referensi buku berbobot, sebagian isinya ia terangkan dan menjadi alasan mengapa gaya penulisannya dipengaruhi sastra.
Saya kaget betul dengan hobinya pada sastra. Seorang tokoh yang dikenal bukan hanya jago teori tentang perahu tradisional tapi juga seorang pelaut ulung yang suka “terus terang” alias apa adanya pada hal yang masuk akal atau tidak masuk akal ternyata
memasukkan lagu music wreck yang dengan senang hati ia tempatkan di halaman depan thesis S 3-nya. Banyak bagian lembaran buku yang ia perlihatkan dan terangkan mengapa penulisannya seperti sekarang ini.
Semua ini berawal dari pernyataan bahwa saya mengerti gaya penulisan Pak Horst karena penulis sudah sering membaca tulisannya. Gaya penulisannya bukan kebiasaan orang Indonesia. Ia okay saja dan menambahkan bahwa dirinya dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Ya, beberapa kosa kata yang tidak lazim digunakan bahasa Indonesia sekarang sesekali diselipkan ke dalam tulisannya. Orang harus mengecek kamus lagi untuk mengingatnya.
Obrolan ringan kami berlanjut pada tata bahasa. Saya tahu ia paham tata bahasa dan tidak perlu bertanya ke penulis tapi ia tetap bertanya. Beberapa paragraf secara acak dari tulisannya kami bahas, tidak ada yang salah sama sekali. Untuk apa Pak Horst mengecek itu semua? Ia paham beragam bahasa dan tentu ilmunya jauh lebih luas. Penulis mengikuti alur berpikirnya, masuk ke dunianya dengan harapan, siapa tahu ada hal yang baru ditemukan. Ternyata, gaya bahasa saja yang beda, struktur tetap sama.
Kemudian Pak Horst mengenalkan buku Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori ditulis oleh N. F. Alifera at Al. Katanya buku ini dibuat oleh orang Rusia. Sungguh menarik, bukan pada alirannya yang waktu itu masih komunis tapi pada keahlian orang asing yang mampu membedah bahasa Indonesia dengan sangat detail. Buku seperti inilah yang selama ini saya cari. Katanya, buku itu ia pelajari sewaktu S 2 di Indonesia tepatnya di UNHAS (Universitas Hasanuddin).
Beberapa data tentang dokumentasi pelayaran zaman Belanda pun ia perlihatkan. Ia dengan senang hati membantu menerjemahkan semua hal yang penulis tanyakan. “Sayang sekali ya, kita orang Indonesia kebanyakan tidak mengerti Bahasa Belanda lagi”, pikir penulis. Bagusnya lagi, Belanda itu punya data yang bisa diakses melalui internet. Tapi kan, segelintir dari kita saja yang bisa membacanya. Sebaiknya sekolah atau universitas berkenan mengkampanyekan dan membuka kembali Bahasa Belanda agar kita tidak buta data sejarah.
Dari situ penulis melihat perkembangan pelayaran dan perahu yang ada di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan yang memang terkenal dunia maritimnya. dan tertarik untuk turut berkontribusi lebih jauh. Selama ini, penulis menulis “suka suka aja”. Belajar dan berdiskusi lebih banyak dengan Pak Horst, penulis mungkin saja akan membuat sesuatu yang berharga untuk pengembangan maritim kita.
Menulis tentang pelayaran, sastra dan perdebatan pemikiran, penulis jalani dan nikmati saja. Bulukumba adalah tanah kelahiran dan tempat tinggal penulis menetap sekarang ini yang erat kaitannya dengan laut. Adakah itu akan bermanfaat bagi orang lain? Semoga saja. Sekian dulu.
Saya dari tadi mau olahraga otak dengan main catur. 😀
Kompetisi mengasah kecerdasan manusia tanpa bantuan AI (Artificial Inteligence) kecerdasan mesin digelar oleh FBS UNM (Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar) dengan tema “Empowering Students through English for Global Competence” pada 7 -9 Mei 2026. Pembulatan 500 peserta, tepatnya 497 peserta jurusan Bahasa Inggris bertarung. Mengangetkan! Dari enam kategori kompetisi, Grammar Competition (Kompetisi tata bahasa) paling ketat diikuti 269 peserta. Itu kompetisi rumit karena melibatkan urusan berpikir logis. terlebih lagi kurikulum sekolah Indonesia tidak fokus pada grammar lagi.
Respon Orang Tua Widya
Juara 1 (satu) Grammar Competition diraih oleh mahasiswi semester dua, Andi Widya Maulidyah. Dari mana Widya bisa secepat itu menjadi yang terbaik? Investasi pendidikan. Widya sejak di SDN 221, SMPN 2 hingga tamat SMAN 1 Bulukumba telah ikut kursus Inggris. Tantenya Andi Ayu Cahyani memperkenalkan RBB (Rumah Belajar Bersama) dan langsung disambut oleh kedua orang tuanya Andi Halil Badawi dan Nuraidah Arifin Sallatu. Sang ayah yang mengetahui minat dan bakat anaknya tanpa lelah mengantar kursus sementara sang ibu yang acap kali mengunggah kegiatan Widya di media sosial termasuk takkala Widya lulus di UNM jalur prestasi, 2025.
Mari kita simak ekpresi kebahagiaan orang tua dari sang ayah di facebook pribadinya:
Alhamdilillah, tidak sia-sia anak gadisku kursus di Rumah Belajar Bersama Bulukumba. Hari ini dapat kabar darinya: Juara 1 Final English Fair 2026 di Kampus UNM dari 300 peserta menjadi 30 lalu masuk final 8 orang dan akhirnya juara satu.
Sang Ayah yang menetap di Bulukumba langsung menyambut rasa bahagianya ketika mengetahui anaknya di Makassar meraih juara satu.
Hal senada juga disampaikan oleh sang ibu juga di facebook:
Masya Allah Tabarakallahu. Selamat nak, Andi Widya Maulidyah atas pencapaiannya lomba English Grammar at English Fair 2026 UNM dari 300 peserta menjadi 30 besar, dari 30 besar menjadi 8 besar dan dari 8 besar menjadi juara 1.
Ibunya Widya sangat bersyukur dengan capaian anaknya yang luar biasa. Meraih juara satu untuk mahasiswa semester awal bukan hal mudah tapi anaknya mampu membuktikan bahwa itu bisa.
Widya yang semasa sekolah telah tamat buku Basic Grammar, Pre Intermediate Grammar, Intermediate Grammar standar internasional katya Betty Scrampfer Azar dan beberapa bagian TOEFL (Test of English as a Foreign Language) serta membaca buku beragam buku bahasa inggris seperti Decisive Moments, Indonesia’s Long Road to Democracy (Detik-Detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia menuju Demokrasi) karya B. J. Habibie, karya L. G. Alexander dan lainnya. Dengan aksen British English (Bahasa Inggris ala orang Inggris, bukan Amerika) mengekspresikan rasa senangnya dengan mengatakan:
Honestly, I still can’t fully believe it because winning first place against so many participants means a lot to me but I also feel like I wouldn’t have achieve all of this without your teachings and guidance for all this science. I learnt a lot from Rumah Belajar Bersama. Thank you very much.
Terjemahan bebas:
“Sejujurnya, saya masih belum sepenuhnya percaya karena memenangkan juara pertama melawan begitu banyak peserta sangatlah berarti bagiku. Namun, saya juga merasa tidak akan bisa mencapai semua ini tanpa ajaran dan bimbingan kalian dalam bidang sains. Saya telah belajar banyak dari Rumah Belajar Bersama. Terima kasih banyak.”
Daftar nama juara 1, 2 dan 3.
Karena Widya pelajar yang punya kemampuan di atas rata-rata, ia seringkali dipercaya oleh guru RBB untuk meng-handle para pelajar berbakat yang sedang berkembang. Sebelumnya, hal yang sama juga diberikan kepada sepupunya, Andi Junila yang kini telah malang melintang di berbagai macam negeri. Pelajar Andi Aufassaif Mallombassi Patwa, seorang alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo, sekolah didirikan B. J. Habibie, yang sanggup belajar Inggris sekitar 11.30 jam sehari berpikir penting menghubungi Widya untuk menghadapi Ujian Tulis dan Lisan Tenses luar kepala. Widya berkenan dan Aufa pun lulus Basic Grammar di RBB. Beberapa kelas yang sudah cukup punya kapasitas bagus, kadang-kadang diberikan ke Widya sebagai pembelajaran micro teaching untuk membangun kepercayaan dirinya dan mental kepemimpinnya.
Widya yang telah memberikan penjelasan semacam micro teaching kepada Aufa kini mendengarkan penjelasan Aufa untuk mengetahui tingkat pemahamannya pada tenses luar kepala, 2025.
Untuk hal tersebut, mari kita dengar pendapatnya: What I gained during my time learning in RBB was not only about knowledge but also confidence and deeper understanding grammar especially. Honestly, all of you guys are the ones who taught me grammar until I was finally able to reach this point and achieve something like this. I am truly grateful for all the lessons and support you’ve given to me.
Terjemahan:
“Apa yang saya dapatkan selama belajar di RBB bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga rasa percaya diri dan pemahaman yang mendalam, khususnya mengenai grammar (tata bahasa). Sejujurnya, kalian semua yang mengajariku grammar hingga akhirnya saya bisa mencapai titik ini dan meraih prestasi seperti sekarang. Saya sungguh bersyukur atas semua pelajaran dan dukungan yang telah kalian berikan kepadaku.”
Cara Belajar Widya The Little Girl at the Window (Gadis Cilik di Jendela) buku mengkisahkan Totto Chan yang penuh rasa ingin tahu, bukan kaku. Jepang terkenal dengan konsep belajar disiplin dan tegas. Sayang sekali Totto Chan dengan pemikiran dan prilakunya yang mengeksplorasi dunia sekelilingya, ia suka berdiri di jendela memanggil pemusik datang ke kelas, bertanya pada burung saat belajar, membuka dan menutup laci membuat gurunya sangat jengkel, ia dianggap anak nakal padahal tidak.
Semua itu adalah ekspresi polos anak kecil yang tidak dapat diterima oleh sekolah di Jepang. Beruntung, ibunya menemukan sekolah baru dibuat dari gerbong kereta bekas. Sosaku Kobayashi, Kepala sekolah menyakinkan bahwa Totto Chan anak yang baik. Kisah nyata kehidupan Tetsuko Kuroyanagi, sang penulis buku, sangat terkenal dan bahkan dijadikan film animasi pada 2023.
Widya tidak pernah nakal di kelas, punya keceriaan belajar layaknya Totto Chan. Ia menemukan belajar Inggris untuk menyenangkan dan menarik. Tidak ada sekolah bekas rel kereta api, ia ke RBB. Tidak ada pertentangan sama sekali antara bermain dan belajar,. Seandainya ia punya ide kebebasan berekspresi seperti Totto Chan, itu sama sekali bukan masalah selama ia mampu mengerjakan tugasnya. Malahan, ia lebih banyak berimajinasi dan berkreasi pada soal soal yang ia pelajari. Kalau ia mendapatkan masalah, ia akan termenung sambil sesekali memegang pulpen hingga titik tertentu, ia mengatakan, “Kudapatmi”. Bila ditanya, ia akan menjelaskan dengan cara berpikirnya sendiri. Mengagumkan.
Guru yang memang memberikan penjelasan dan pertanyaan itu penting namun yang lebih penting adalah melatih dan memberikan kebebasan berpikir. Benar atau salah pada jawaban bukan soal utama. Bila pelajar salah, kesalahan tersebut dijadikan alat untuk menunjukkan jalan yang benar. Dan bila benar, itu sudah sesuai target yang kita inginkan sambil memperhatikan dasar argumentasi yang dibangun. Kehidupan dalam belajar merupakan proses untuk mengembangkan pola pikir.
Masa SD Widya di RBB juga suka banyak bermain. Di SMP, ia terlihat lebih banyak belajar dengan sedikit bermain dan saat SMA, ia menikmati pelajaran, tidak ada waktu bermain. Ia datang, duduk, mengerjakan latihan dan hampir tidak bergeser dari tempat duduknya hingga kelasnya selesai, 90 menit. Bila ia punya waktu luang, 02 sampai 2.30 jam fokus belajar dan bahkan lebih saat ada kegitan Kampung Belajar, ia sering masuk di pagi sore dan kadang kadang di malam hari dalam sehari.
Dari jam belajar yang padat itulah, Widya sudah mampu memahami teks inggris sehingga ia tidak merasa perlu untuk bertanya kecuali pada hal yang benar-benar yang sulit dimengerti. Cukup dengan penjelasan sekilas, ia kembali bekerja. Itulah ia mengapa guru RBB menyebut bahwa dirinya mengerti pelajaran grammar tingkat universitas karena apa yang guru ajarkan padanya itu adalah materi tingakt universitas.
Yang dahsyat lainnya adalah kemampuan belajar ototidak dari Widya. Ia banyak belajar dari rumahnya. Tiba-tiba ia pintar pengucapan ala British English tanpa pernah mendapatkan tanpa pernah ikut kelas pronunciation. Itu ia peroleh dari berselancar di internet. Guru di RBB yang mengerti aksen British English tahu bahwa apa yang disampaikan Widya bukan hanya benar tapi juga terdengar indah dengan intonasi yang khas. Dan karena grammar-nya sudah bagus, otomatis cara bicara tertata dengan baik. Itu keren.
Betapapun pilihan belajar Widya sebatas grammar saja, ia aktif juga ikut EPC (English Practice Club) yang isinya orang dewasa dari berbagai latar belakang. Pengalaman berharga pertamanya saat ia menjadi pembicara Gen-Z faces the Future di EPC ketika masih duduk di SMP, 2021. Anda bisa tebak bagaimana anak gadis remaja berjuang untuk berbicara di depan khalayak umum yang bukan seumurannya meskipun panelisnya Aufa, anak yang baru tamat SMP. Terlihat keduanya bisa berbicara fasih karena mereka terlebih dahulu mencari bahan bacaan berhubungan dengan tema dan berlatih praktek bicara. Andi Ayu Cahyani, Ketua EPC waktu itu, membuka ruang lebih luas kepada remaja yang kemudian anaknya Dzaki yang juga SMP bisa tampil juga di EPC.
Andi Widya Maulidyah dan Andi Aufassaif Mallombassi Patwa ketika masih pelajar sekolah menjadi pembicara di English Practice Club. Yang bertindak sebagai moderator adalah Mr. Umam, guru pesantren Babul Khaer Bulukumba. Foto pada 2021.
Seseorang yang naik kekuasaan tanpa perjuangan akan turun tanpa kehormatan, kata filsuf Aristoteles. Apa yang diperjuangkan Widya pada Grammar Competition di UNM hingga menjadi yang terbaik dari yang terbaik adalah proses belajar yang panjang, tidak instant. Dibalik semua itu, dibalik kesuksesan itu, ada orang tua bersama keluarga, pelajar itu sendiri dan lingkungan belajar yang tepat yang sesuai minat dan bakat untuk berkembang. Selebihnya adalah doa.
Andi Widya Maulidyah yang masih semester dua kini jadi juara 1 English Fair di UNM (Universitas Negeri Makassar), 2026. Sang ayah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Rumah Belajar Bersama yang telah mendidik Widya Bahasa Inggris dalam jangka waktu yang panjang, sejak SD hingga jelang tamat SMA.
Sewaktu SMA, Widya pernah gagal lomba pidato. Saya heran, seolah tidak percaya dan menanyakan kepadanya. Ternyata Widya diam diam belajar otodidak British English. Pronunciation and Accent) (Pengucapan dan Aksen) sangat bagus tapi juri pada nga respon. Indonesia itu dominan ala American English, kebanyakan di medsos dan Film itu ngomong American. Bila cara bicara Widya tidak dimengerti orang kebanyakan, wajarlah tapi bukan berarti dia salah.
Insya Allah cara belajar Widya akan saya tulis dalam waktu dekat. Penulis sudah berusaha dari tadi tapi kepalaku masih agak pening. Thank you.
Sophie Amundsen seorang gadis remaja 14 tahun dalam Dunia Sophie (Sophie’s World) menggambarkan sejarah filsafat yang rumit menjadi cerita yang mudah, menarik, dan mudah dimengerti. Sebuah novel karya kelas dunia yang membuat pembaca terperangkap dalam rasa ingin tahu tiada henti yang tanpa sadar pembaca telah tergiring mempelajari pemikiran barat dari klasik hingga modern. Siapa Sophie dan siapa yang terus-menerus mengirimkan surat kepadanya? Itulah pertanyaan misteri yang muncul dalam benak pembaca.
Bagaimana pula pelajar Indonesia akrab dengan karya karya kelas dunia? Bisakah mereka membayangkan atau membaca buku buku berbahasa Inggris? Rumit kan. Pasca perang fisik kemerdekaan, kemampuan berbahasa asing orang Indonesia tidak menanjak nanjak. Padahal para proklamator kita jago Bahasa Asing, bukan Inggris saja. Muchtar Lubis, wartawan senior Indonesia di tahun 70-an telah mengkritik rendahnya sarjana Indonesia yang tidak bisa berbahasa asing. Hingga tahun 2026 ini, Bahasa Inggris masih saja asing di lidah kebanyakan para pelajar Indonesia.
Para intelektual muda kita sekarang gelisah melihat kenyataan di atas dan mengambil langkah solutif dengan turut terlibat aktif meringankan masalah, menyapa pelajar sekolah melalui pembelajaran Inggris online kepada pelajar sekolah. Penyederhanaan masalah tentu tidak secanggih cara Jostein Gaarder sebagaimana termaktub dalam Sophie’s World namun itu cukup untuk memulai langkah langkah memungkinkan punya dampak besar juga.
Mari kita lirik kegiatan pemuda intelek, Agung Pratama Salassa berbagi pemahaman online Bahasa Inggris dengan pelajar SMAN 2 Bulukumba (09/10). Menurutnya, para siswa antusias dan tetap mencoba memberanikan diri untuk berbicara bahasa inggris, meskipun sempat ada kendala seperti suara kurang jelas atau keluar otomatis entah karena jaringan atau memang pembatasan durasi penggunaan aplikasi zoom,
Bila Sophie selalu mendapatkan kiriman surat misterius, Agung pada pembelajarannya memberikan efek kejut dengan tidak terfokus pada pertanyaan yang mungkin sudah bisa ditebak, tapi mengembangkan pertanyaannya dari jawaban dari para siswa . Ia mengajak untuk menulusuri lebih jauh dengan memberikan information questions (informasi pertanyaan) why and how (mengapa dan bagaimana) untuk berpikir kritis. Untuk lebih jelas, mari kita simak komentar Agung:
“Saya berikan opsi tambahan seperti salah satu siswa yang menyukai musik metal, kenapa dan bagaimana dengan dangdut? atau pertanyaan tentang kenapa harus Pentol nama kucingnya, kenapa bukan Bakso atau Somay saja namanya. Ternyata itu karena keluarganya punya usaha Pentol jadi nama kucingnya Pentol.” Lebih lanjut lagi, “Jadi mungkin ini yang membuatsedikit kegelisahan dari siswa yg nantinya saya tanya tanya karena dari jawabannya bisa muncul pertanyaan baru lagi”.
Mengenai kwalitas siswa, Agung menilai ada satu siswa yang kemampuannya sudah baik, Speaking-nya bukan ditahap pemula bernama Muh. Ahnaf Ibrahim, umur masih 16 tahun. Anak remaja itu mampu berbicara Bahasa Inggris dengan lancar karena Mamanya selalu berbicara pakai bahasa inggris kepadanya di setiap hari minggu, aturan berlaku di rumahnya.
Sophie Amundsen mengerti tentang tahapan pola pikir filsafat barat yang rumit yang ia terus terus jelajahi dalam kehidupan kesehariannya. Itu tumbuh karena rasa ingin tahu dari surat surat misterius Alberto Knox. Guru guru Bahasa Inggris kita tidak mesti berperan layaknya Alberto Knox tapi mereka bertanggungjawab untuk memunculkan rasa penasaran, ingin tahu lebih banyak dan mengondisikan lingkungan efektif berbahasa Inggris seperti yang dilakukan Muh. Ahnaf Ibrahim di rumahnya. Dengan ini, kita pasti bisa merubah arah pola belajar Bahasa Inggris di Indonesia. Dunia Sophie dan karya karya kelas dunia lainnya dapat dinikmati oleh gerenasi penerus kita. Apakah Anda punya ide yang lain?
Zulkarnain Patwa
Makassar, Minggu 10 Mei 2026
Catatan:
Pembelajaran Bahasa Inggris online dilaksanakan antara pelajar SMAN 2 Bulukumba dengan pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama). Mr. Agung dari RBB mendidik pelajar SMAN 2 dan Miss Fathy Cayadi mendidik pelajar RBB. Agar tidak menyita waktu, zoom online dilakukan secara terpisah tapi dilaksanakan pada waktu bersamaan yaitu pada jam 16.00 Wita pada Sabtu, 9 Mei 2026.