Mengabadikan Warisan Perahu Tradisional Lewat Tulisan

Bekerja mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Itulah yang saya dapatkan saat bersama Horst Liebner. Beberapa tulisan yang tiap bagiannya jumlahnya tidak lebih dari 200 kata mesti kami bahas selama berjam-jam. Tahulah, gaya bahasanya Horst yang dipengaruhi sastra Melayu klasik sehingga saya harus mencocokkan dengan gaya bahasa Indonesia yang sesuai bahasa percakapan sehari-hari yang tidak terlalu kaku pada tata bahasa Indonesia.

Perbedaan cara pandang ini memperkaya cara berpikir saya terutama wawasan tentang perahu tradisional. Sebagai bahasa ibu saya, bahasa Konjo untuk istilah perahu ternyata memiliki makna yang jauh lebih luas dan sering kali berbeda dengan bahasa percakapan sehari-hari. Saya makin sadar bahwa banyak hal sederhana namun berharga yang kerap luput dari perhatian, padahal hal-hal tersebut sangat berguna bagi pengembangan pengetahuan yang kini bisa saya dalami dari Horst dan para Panrita Lopi (Ahli Pembuat Perahu).

Tantangan yang saya hadapi saat Horst meminta saya menulis tentang kayu perahu adalah runtutan alur cerita yang memudahkan pembaca umum tertarik ingin tahu lebih banyak. Ia memberikan segala informasi yang saya butuhkan dan turut menemani saya bertemu dengan beberapa Panrita Lopi besar para bos penyuplai kayu untuk wawancara. Tapi karena alur cerita yang saya buat tidak sesuai dengan alur yang ia inginkan, pada akhirnya, ia menulis sendiri sementara saya menjadi editor sambil berdiskusi atau berdebat.

Rekan yang menemani, Anjar S. Masiga, seorang jurnalis sekaligus juga pemerhati warisan budaya pembuatan perahu tradisional, membaca narasi. Kami berdua mendengar untuk menganalisa kesesuaian kosakata yang tepat dan nyaman didengar. Saya sering mendukung dan sekaligus mengkritik plus-minus tulisan itu. Ini sesi yang menarik karena dari tulisan yang sedikit nan berkualitas itu, banyak pengetahuan perahu yang diperdebatkan untuk mencapai kesepakatan bersama.


Setelah merangkum, Horst mengingatkan, “Menulislah tentang kayu ulin.” Kami telah menyelesaikan pembahasan tentang kayu lokal, kayu yang tersedia di Sulawesi. Saya punya cukup wawasan tentang ini karena pernah berkeliling pulau Kalimantan. Beberapa tempat yang saya temui seperti di Kota Baru, Batu Licin dan pulau Sebuku di Kalimantan Selatan, terdapat orang turunan Desa Ara—Desa di Bulukumba—yang menceritakan diri mereka hingga tinggal di Kalimantan karena alasan membuat perahu.

Data ini diperkuat oleh hasil wawancara saya dengan Daeng Masarro, seorang Panrita Lopi senior asal Ara yang memiliki pengalaman membuat perahu di Kalimantan serta alasan perajin perahu Bulukumba bertebaran bekerja di Kalimantan.

Saya berencana menulis di hari esok. Karena itu, saya manfaatkan waktu menulis tentang esai ini. Di sisi lain, Anjar yang berada di samping saya menanyakan berbagai hal tentang ulin sembari tangan dan pikirannya sedang fokus di depan laptop mengetik. “Saya ingin urusan tentang kayu selesai hari ini,” kata Anjar. “karena besok saya mau menulis hal lain.” Pikirannya pun sudah terdesain membuat paragraf yang singkat dan padat makna. Saya senang ia selangkah lebih cepat dan berharap ia menyelesaikan beberapa bagian penting tentang ulin tersebut.

Saya hanya perlu melihat hal-hal lainnya yang belum ia bahas yang membuat saya bisa turut ambil bagian kecil untuk melengkapi dan memperkaya tulisan tentang perahu tradisional Indonesia yang digagas oleh Horst Liebner.

Pada pembahasan berikutnya, segala hal tentang kayu ulin yang kami susun akan kembali dipermantap dengan memangkas pemborosan kata untuk mempertahankan kualitas tulisan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 19 Juli 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *