Kategori: Uncategorized

  • Murid Mengatur Guru Menuju Merdeka

    Murid Mengatur Guru Menuju Merdeka

    Ketika kelas dibuka, seorang anak langsung mengusulkan praktik latihan percakapan. “Mister, supaya semua bisa bicara, semua diberikan pertanyaan tentang benda-benda yang ada di sekitar kita,” kata Nisa. “Iya, Mister,” sahut yang lainnya. Guru langsung sepakat dan mengusulkan untuk mengumpulkan benda-benda yang dapat ditaruh di atas meja. Setelah terkumpul, seseorang bertindak sebagai pemimpin dengan bertanya, “What is that?” (Apa itu?). Para pelajar secara serempak akan menjawab, “That is a notebook” (Itu adalah sebuah buku catatan). Pemimpin kelas dilakukan secara bergantian hingga mereka paham inti pelajaran sederhana ini.

    Usulan kedua pun hadir. Anak-anak menginginkan tanya-jawab yang sedikit panjang dalam bentuk percakapan, juga. Mereka pun membuat cerita:

    A: Who sells Cing Cau at your school?
    B: They are Dama, Attar, and Adam.
    A: How much is it?
    B: It is Rp7.000,-
    A: Who buys it?
    B: Imam buys it.
    A: Ok. Thank you for your information.
    B: You are welcome.

    Terjemahan:
    A: Siapa yang menjual Cing Cau di sekolahmu?
    B: Mereka adalah Dama, Attar, dan Adam.
    A: Berapa harganya?
    B: Harganya Rp7.000,-
    A: Siapa yang membeli?
    B: Imam yang membeli.
    A: Ok. Terima kasih atas informasi Anda.
    B: Sama-sama.

    Cerita ini dianggap sangat berkesan karena ini berdasarkan usulan anak-anak itu sendiri. Guru kelas hanya membantu menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, mereka tidak kewalahan menghafal percakapan itu dan dengan segera berlomba-lomba untuk menyetor percakapan secara berpasangan. Ini agak berbeda bila mereka diminta menghafal percakapan dari buku. Kemungkinan besar, penyebabnya adalah konteks percakapan sesuai dengan kehidupan sehari-hari mereka.

    Hal berikutnya adalah membaca percakapan yang tertera di papan tulis dan menerjemahkan secara bersama-sama—tidak ada terjemahan bahasa Indonesia di papan tulis. “Yang berani tampil adalah yang terbaik malam ini,” kata guru. Adeeva, Audree dan Belva mengacungkan tangan. Satu per satu membaca dan menerjemahkan dengan caranya sendiri. Hasilnya, ketiganya disebut terbaik. Nabila berkata kepada rekan kelasnya, “Saya tahu cuma saya tidak mau tampil.” Pelajar yang lainnya hanya terdiam sambil berpikir-pikir untuk memilih tampil atau tidak. Sejurus kemudian keheningan itu terpecahkan. “Pada pertemuan belajar berikutnya, semoga kalian berani juga tampil dan menjadi bagian dari yang terbaik,” kata guru menyemangati.

    Sesi pelajaran berikutnya adalah review of parts of the body (revisi pada bagian-bagian dari tubuh) mulai dari rambut hingga jari kaki. Usulan dari seorang pelajar ini ditolak oleh beberapa anak karena menganggap itu terlalu mudah. Namun, guru bertanya, “Apakah kalian menguasainya?” Mereka menjawab, “Iya. Tentu saja.” Pancingan berlanjut, “Apakah kalian bisa membuktikannya?” Tantangan diterima dengan jawaban, “Bisa.” Seluruh pelajar mempraktikkan parts of the body secara bersama. Terdapat beberapa kata yang terlupakan—itulah pentingnya review.

    Pelajaran diakhiri dengan game kosakata. Anak-anak menentukan sebuah huruf berdasarkan jari yang dihitung menggunakan huruf. Jika hitungan jatuh pada huruf ‘n’, setiap peserta menyebut kosakata Inggris yang dimulai dari huruf n seperti number, nostril, dan nose. Pelajar yang paling banyak menyebut dianggap paling cerdas dan memperoleh pengakuan, sedangkan pelajar yang tidak menyebut satu kata pun mendapatkan hukuman dalam bentuk petikan tangan, sebuah aturan yang dibuat oleh mereka sendiri. Karena ini permainan, pujian dan hukuman ini membuat mereka tertawa bahagia.

    Mayoritas pelajaran pada pertemuan ini adalah usulan dari para pelajar itu sendiri. Mereka perlu dilibatkan secara langsung pada pembelajaran yang mereka suka, bukan dipaksa suka. Keaktifan mereka menandakan tidak ada yang merasa terpaksa belajar. Mereka bukan lagi sebagai objek tetapi subjek alias pelaku yang menumbuhkan jati diri mereka sendiri: pelajar merdeka. Demikian kilasan aktivitas belajar pada kelas malam di Rumah Belajar Bersama (RBB) yang selalu memotivasi para pelajarnya untuk berani berpikir secara mandiri.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 14 September 2026

  • The Champion Mentality: Conquering Fear and Building Discipline

    The Champion Mentality: Conquering Fear and Building Discipline

    A legend is born from a long struggle. Muhammad Ali once talked about people who became famous because of boxing. But did Ali become famous because of boxing? According to him, he was the one who made boxing famous. This was a very bold statement, and he never changed it. Do you know why? Because he trained very hard, but his will was stronger than his training. He was also not afraid of going to prison when he and most Americans opposed the U.S. involvement in the Vietnam War. He never gave up on what he believed in.

    The Hollywood Walk of Fame placed Muhammad Ali’s name as the only one displayed on the wall, not on the floor like other great world figures. The name ‘Muhammad’ on Muhammad Ali is an honor, and no one should step on it. It represents self-esteem, principles, and honor achieved through a strong attitude.

    The fun learning days at Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete have been running normally. Now, it is the time to upgrade their learning quality. Lessons on changing tenses are being deepened by Fajar Hamzah (Mr. Ancha). With bright faces and confident looks, the students are becoming braver to mention tenses from memory using a ‘blank box’ method, just to know which tense they will present during a live broadcast on social media. They break through their fear of speaking and deliver sentences with the correct structure.

    Their seriousness in learning increases even more after Mr. Agung Pratama Salassa arrived at class to give a written test—in the previous meeting, they also took a written test. The goal is to make tests, which are often considered scary, feel normal to them. Moreover, the target score is more than 90 percent correct so that their English can be useful in the academic world.

    So, do not be surprised if students who are good at speaking and answer written questions correctly can still get a score of zero just because they put a comma, question mark, or period in the wrong place. This is mental training. Mr. Agung knows that the habit of not using capital letters at the beginning of a sentence comes from lack of discipline when writing in Indonesian, which then affects their English. Therefore, if the correct writing in English becomes a habit, it will definitely have a good effect on their Indonesian, because both languages use the Latin alphabet and have many similarities in using punctuation marks.

    With the implementation of this strict rule, Miss Fathy Cayadi said, “With a fairly large and varied number of questions, many students are nervous. But it does not mean they give up, because they think they should be able to get a good score after succeeding in the oral practice.” This contradiction inside the students is like an effort to build a champion’s mindset like Muhammad Ali: high discipline, strong will, and the courage to face challenges.

    In line with that, B. J. Habibie said, “You must always be consistent in pursuing a discipline of science that you learn. Because with consistency, you can be like me.” Andi Widya Maulidyah, an alumna of RBB Bulukumba and now a student at Universitas Negeri Makassar (UNM), achieved 1st place in the Grammar Hacks Competition at English Fair, 2026. This is because she has been learning English since elementary school. During middle and high school, she never won. She realized her quality was very good and only needed time to fight in the right place. She kept fighting until she became the only one who defeated all the senior students competing in the university, the best of the best.

    1st Place Certificate for Andi Widya Maulidyah, RBB Bulukumba Alumna.

    Students can follow the footsteps of those successful people by learning from the journeys of their lives. As long as RBB Tanete students also walk the path of those great champions, one day they will surely prove something great too.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, September 13, 2026

  • Mentalitas Juara: Menaklukkan Ketakutan dan Membangun Disiplin

    Mentalitas Juara: Menaklukkan Ketakutan dan Membangun Disiplin

    Seorang legenda lahir dari perjuangan yang panjang. Muhammad Ali pernah mengatakan bahwa orang terkenal karena tinju. Apakah Ali terkenal karena tinju? Menurutnya, dialah yang membuat tinju itu terkenal. Popularitas olahraga tinju itu sendiri meroket ke seluruh dunia karena persona dan kehebatannya baik di dalam ring tinju maupun di luar. Pernyataan ini sangat berani dan dia tidak pernah mengeditnya. Tahu kenapa? Karena ia berlatih dengan sangat giat, tetapi keinginannya lebih kuat daripada latihannya. Dia pun tidak takut ancaman penjara ketika dirinya dan sebagian besar rakyat Amerika Serikat menentang keterlibatan Amerika pada perang di Vietnam. Dia tidak kenal menyerah pada apa yang dia yakini.

    Hollywood Walk of Fame (Jalur Ketenaran Hollywood) menempatkan nama Muhammad Ali sebagai satu-satunya nama yang terpampang di dinding, bukan di lantai sebagaimana tokoh-tokoh besar dunia. Nama ‘Muhammad’ yang melekat pada Muhammad Ali adalah kehormatan, tidak boleh diinjak oleh siapa pun. Itu adalah harga diri, prinsip, dan kehormatan yang diraih lewat keteguhan sikap.

    Masa-masa belajar dengan menyenangkan di RBB Tanete telah berjalan normal. Kini saatnya menaikkan kualitas belajar mereka. Kalimat pada perubahan tenses terus diperdalam oleh Fajar Hamzah (Mr. Ancha). Dengan wajah berseri dan terlihat percaya diri, para pelajar pun terlihat makin berani tampil mengutarakan tenses di luar kepala dengan modal ‘kotak kosong’, sekadar untuk mengetahui tenses apa yang mereka akan setor saat siaran langsung di media sosial. Mereka menjebol ketakutan berbicara dan penyampaian pembicaraan dengan struktur yang benar.

    Kesungguhan belajar ini terus bertambah setelah Mr. Agung Pratama Salassa hadir memberikan ujian tertulis—pertemuan belajar sebelumnya, mereka juga mendapatkan ujian tertulis. Tujuannya agar ujian yang seringkali dianggap menakutkan itu biasa saja bagi mereka. Lagi pula, target nilai yang ingin dicapai di atas 90 persen benar sehingga bahasa Inggris itu dapat berfungsi dalam dunia akademis.

    Jadi, jangan heran bila para pelajar yang jago speaking dan benar dalam menjawab soal tulisan masih bisa dapat nilai nol hanya karena salah dalam menempatkan tanda baca koma, tanda tanya, dan titik. Inilah pembinaan mental. Mr. Agung tahu bahwa kebiasaan tidak menulis dengan huruf kapital pada awal kalimat disebabkan tidak disiplin saat menulis dalam bahasa Indonesia dan kemudian berefek pada bahasa Inggris. Oleh karena itu, jika kebenaran menulis dalam bahasa Inggris telah dibiasakan, itu pasti berefek ke dalam bahasa Indonesia karena kedua bahasa ini sama-sama menggunakan alfabet Latin dan mempunyai banyak kemiripan dalam peletakan tanda baca.

    Dengan penerapan aturan yang ketat ini, Miss Fathy Cayadi berkata, “Dengan jumlah soal yang lumayan banyak dan variatif, banyak pelajar yang tegang, tetapi bukan berarti mereka menyerah karena mereka berpikir mestinya bisa mendapatkan nilai bagus setelah sanggup pada latihan lisan.” Kontradiksi yang terjadi dalam diri para pelajar ini layaknya upaya membangun mentalitas juara layaknya Muhammad Ali: kedisiplinan tinggi, tekad yang kuat, dan keberanian untuk menghadapi tantangan.

    Senada dengan hal itu, B. J. Habibie mengatakan, “Harus selalu konsisten dalam menekuni suatu disiplin ilmu yang Anda pelajari. Karena dengan konsisten, Anda bisa seperti saya.” Andi Widya Maulidyah, alumni RBB Bulukumba dan sekarang menjadi mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), mencatatkan namanya sebagai juara 1 pada Grammar Hacks Competition at English Fair, 2026. Hal itu karena sejak SD ia belajar bahasa Inggris. Selama masa SMP dan SMA, ia tidak pernah juara. Ia tahu kualitas dirinya sangat baik dan hanya butuh waktu bertarung di tempat yang tepat. Ia terus berjuang hingga ia menjadi satu-satunya mahasiswa baru yang mengalahkan seluruh mahasiswa senior yang berkompetisi di universitas, best of the best (terbaik dari yang terbaik).

    Sertifikat juara 1 Andi Widya Maulidyah, alumni RBB Bulukumba.

    Para pelajar bisa mengikuti jejak orang sukses dengan memetik pelajaran dari perjalanan hidup mereka. Selama pelajar RBB Tanete juga menapaki jalan para juara hebat itu, suatu saat mereka pasti akan membuktikan hal dahsyat juga.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 13 September 2026

  • Menembus Batas Kecerdasan Pelajar Bhs. Inggris di RBB Tanete

    Menembus Batas Kecerdasan Pelajar Bhs. Inggris di RBB Tanete

    Kalau Anda menjawab satu pertanyaan, Anda menemukan satu jawaban. Tetapi, kalau Anda rajin bertanya, Anda akan belajar seumur hidup. Jalan ini sangat penting untuk memunculkan rasa ingin tahu. Ketika ini menginternalisasi dalam diri pelajar, siapa yang dapat menghalangi faktor internal perkembangan kecerdasan?

    Sehubungan dengan hal itu, Miss Fathy Cayadi mengajarkan speaking (berbicara) menggunakan dummy subject (subjek semu) menggunakan ‘there’ (di sana bermakna ada atau adakah). Miss Fathy mengatakan, “Hari ini Rumah Belajar Bersama (RBB) khusus membahas lesson 41–43. Contoh: ‘is there any…?’, ‘is there a…?’, ‘are there any…?’, dan ‘are there some…?’. Ini gampang dan saya yakin kalian bisa.”

    Agar tidak terlihat rumit, kalimat pertanyaan itu diolah dalam bentuk percakapan, tanya jawab. Bahan bercakapnya adalah contoh-contoh yang sudah benar, merujuk pada buku. Kemudian, benda-benda yang ada di sekeliling dijadikan pembelajaran lanjutan. Awalnya, mereka dipandu guru untuk mengungkapkan pikiran mereka dengan benar dan terus dimotivasi untuk mampu berpikir mandiri.

    Setelah puas berbicara, barulah penjelasan tata bahasa mengikuti. Begitulah strategi jitu dari Miss Fathy menumbuhkan keberanian berbicara kepada anak didiknya di RBB Tanete.

    Apakah usaha pemahaman materi berhenti sampai di situ? Tidak. Pelajar tidak hanya perlu tahu bertanya dan menjawab secara lisan. Hal penting lainnya adalah menjawab soal secara tertulis. Saat pembahasan materi, setiap pelajar tidak pernah dihalangi untuk bertanya mengapa suatu jawaban salah dan mereka bebas mengutarakan pembelaan pada jawaban yang dipilih. Ini adalah proses membangun kesadaran metakognitif—mereka belajar memahami bagaimana cara mereka berpikir. Efeknya, suasana kelas belajar terasa sangat demokratis. Tidak ada larangan dalam menyampaikan pendapat: dilarang melarang. Rasa takut salah berbicara dalam bahasa Inggris menjadi berkurang dan berubah menjadi berani berbicara.

    Pembelajaran ini memberikan kita pelajaran bahwa guru yang cerdas itu tidak sekadar mengajarkan pengetahuannya, tetapi juga para pelajarnya mengetahui cara mengembangkan cara berpikir mereka. Bahasa Inggris di RBB Tanete telah menjadi alat untuk membuka kemerdekaan berpikir dalam belajar yang mana ini sangat berguna untuk menemukan cara berpikir yang sangat efektif dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.

    Pembelajaran di RBB Tanete itu sedikit banyak mempunyai kesamaan dengan keterampilan abad 21 mendengungkan 4C: Critical Thinking, Communication, Collaboration, Creativity (Pemikiran Kritis, Komunikasi, Kolaborasi, dan Kreativitas). Hal ini sangat jelas bahwa RBB Tanete tidak sedang menargetkan para pelajar mereka untuk menyelesaikan pelajaran sekolah saja, melainkan merancang para pelajar mereka untuk setara dengan para pelajar kelas dunia.

    Karena itu, bertanyalah. Siapa yang tahu bahwasanya keterampilan abad 22 nanti sudah dapat dipikirkan dan ditemukan di abad 21? Itu adalah tugas RBB dan kita semua.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 12 September 2026

  • Inilah Merdeka Belajar

    Inilah Merdeka Belajar

    Pembelajaran di akhir minggu diupayakan sesantai mungkin. Ini semacam ‘hadiah’ kecil karena pada minggu-minggu sebelumnya, anak-anak belajar dengan serius: praktik lisan tenses di luar kepala dan menjawab soal-soal latihan. Kontan saja, mereka menolak. Guru tidak ingin membebani materi terbaru. Sebagai jalan tengah, tuntutannya dipenuhi dengan praktik lisan tenses secara bersama-sama dan perorangan.

    Lalu, guru memberikan waktu keluar main. “Tidak mau,” kata seorang anak, “Kita sebaiknya belajar perkalian.” Guru langsung merespons, “Ini bukan kelas matematika, tetapi bila kalian mau, boleh saja asalkan soal dan jawaban disebut dengan bahasa Inggris.” Anak-anak pun menunjuk Adeeva sebagai pemimpin yang mengatur permainan ini dengan menggunakan kartu. Mereka berlomba menjawab hingga puas. Setelah itu, mereka pun mau keluar main tanpa diminta.

    Pada pembelajaran selanjutnya, Nisa mengusulkan untuk menyebut angka satu sampai satu juta dalam bahasa Inggris. Ia bersedia menjawab semua soal yang diberikan. Guru pun bertanya hingga angka ribuan. Mengetahui Nisa sudah mampu menjawab dengan baik, semua anak diperkenankan bertanya hingga angka ratusan juta. Nisa meladeni semua pertanyaan, meskipun ia kadang-kadang membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari yang sebelumnya.

    Guru kemudian bertanya, “Apakah kalian mengakui kecerdasan Nisa?” Sebagian menjawab ‘ya’, tetapi sebagian menolak. Penolakan itu terjadi karena mereka menganggap soal seperti itu gampang dijawab, sedangkan mereka yang menerima karena mengakui kecerdasan Nisa.

    Permainan terakhir adalah bermain tebak-tebakan kosakata dalam bahasa Inggris. Misal, bila mereka sepakat huruf ‘q’, maka jawaban harus dimulai huruf q seperti queen, Qatar, dan Qur’an. Yang paling sulit mereka jawab adalah huruf yang dimulai ‘x’ dan ‘z’. Namun, ada juga yang mampu menjawab dengan mengatakan x-ray dan Zimbabwe. Huruf yang lainnya relatif lebih mudah karena mereka telah terbiasa dengan bacaan berbahasa Inggris.

    Belajar menggunakan kurikulum itu memang bagus dan tersistematis, tetapi belajar tanpa terlebih dahulu merujuk kurikulum pembelajaran dalam artian meminta anak-anak bersantai dalam belajar juga baik seperti yang terjadi di atas. Malahan, para pelajar yang menuntut belajar dan menciptakan ‘kurikulum sendiri’–pakar pendidikan menyebutnya kurikulum organik: berbasis pada kebutuhan pembelajar–bukan tuntutan kurikulum atau tuntutan guru. Itulah gambaran kecil pada kemerdekaan belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 11 September 2026

  • The English Spirit of Alika and Faika at RBB

    The English Spirit of Alika and Faika at RBB

    Alika and Faika practiced speaking English together for a long time—almost forty minutes. They chose to talk using a Basic Grammar book, focusing on conversations they had already answered before.

    The teacher let them choose their own topics. They were excited and even argued a bit about who would pick first. The teacher did not stop them. He wanted them to learn how to solve disagreements and make decisions together without always asking their teacher for help. In the end, they successfully made a deal.

    Because there was no pressure, their conversation flowed naturally. They only stopped when they felt tired. “The conversation was fun, but I am sleepy now,” Faika said. Alika added, “I understand what we said because I practice reading a lot. I already know many words.” The teacher asked, “Do you agree that you understand it because you did the exercises?” They quickly answered, “Yes, we agree.”

    They kept talking. Alika felt that speaking with correct grammar makes it easier to understand written texts. “But learning grammar without speaking is useless, because we won’t know how to use it,” Faika explained. “Why?” asked the teacher. Both girls went silent. “Because the purpose of language is communication,” the teacher said, helping them express their thoughts. “Yes, that is what I meant,” Faika replied.

    Since they already enjoy reading English books, these children now understand that speaking, grammar, and reading are all connected. You cannot separate them; they must support each other. There are two important skills they have not tried yet: writing essays and practicing British or American pronunciation. Looking at their talents, writing takes more energy than pronunciation. Therefore, the fastest goal they can achieve next is pronunciation, which is closely related to speaking. They can learn this naturally by practicing how to link or cut words and phrases whenever they talk.

    These basics are very important parts of English, which are usually taught in universities or professional courses with complete lesson plans. However, Alika and Faika do not need to wait until college, because they can already learn these lessons at Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Zulkarnain Patwa
    Thursday, September 10, 2026

  • Jiwa Bhs. Inggris Alika dan Faika di RBB

    Jiwa Bhs. Inggris Alika dan Faika di RBB

    Sebuah percakapan berbahasa Inggris secara terstruktur telah dikerjakan oleh Alika dan Faika. Waktunya lumayan panjang: hampir empat puluh menit. Mereka bersepakat berdialog pada buku Basic Grammar yang berisi percakapan yang latihannya telah mereka selesaikan.

    Keduanya diberikan kebebasan memilih bahan yang disukai. Mereka senang dan sesekali saling berdebat untuk mendahului pilihan percakapannya. Guru kelasnya tidak menyela karena berpikir bahwa ini bagian dari cara melatih membangun kesepakatan ketika terjadi perbedaan pendapat tanpa harus mengandalkan orang yang mempunyai otoritas yang lebih tinggi. Pada akhirnya, mereka saling berkompromi.

    Karena tidak ada paksaan, obrolan mereka mengalir apa adanya sehingga mereka menyatakan berhenti ketika mencapai tahapan capek. “Percakapannya seru, cuma saja saya sudah mengantuk,” kata Faika. Alika menyambung, “Saya mengerti isi percakapan itu karena saya sudah sering latihan membaca. Banyak kosakata yang telah saya ketahui.” Guru menambahkan, “Apakah kalian sepakat bahwa kalian mengerti karena telah mengerjakan latihan?” Dengan jeda waktu yang sedikit saja, mereka menjawab, “Sepakat.”

    Pembicaraan pun berlanjut. Alika memandang bahwa berbicara sesuai standar tata bahasa memudahkannya mengerti soal tulisan. “Tetapi belajar tata bahasa tanpa percakapan juga tidak akan tahu apa gunanya,” terang Faika. “Mengapa?” tanya guru. Keduanya terdiam. “Karena tujuan bahasa adalah komunikasi,” ungkap guru untuk mewakilkan pikiran mereka yang terlambat dirangkai. “Iya. Maksud saya begitu,” balas Faika.

    Sehubungan dengan kebiasaan membaca buku dalam bahasa Inggris telah terbangun, anak-anak ini telah sampai pada pemahaman bahwa percakapan, tata bahasa, dan membaca adalah bagian yang saling terkait. Tidak bisa disalahkan satu sama lainnya, melainkan harus saling mendukung. Dua hal yang penting tersisa belum mereka terapkan: mengarang dan pengucapan yang mengikuti aksen Amerika atau Inggris. Memperhatikan bakat mereka, kemampuan mengarang memang membutuhkan energi lebih dibandingkan pengucapan, sehingga satu hal yang paling cepat untuk dicapai adalah pengucapan yang erat kaitannya dengan percakapan. Itu bisa dibiasakan dan diajarkan langsung melalui cara penyambungan atau pemotongan kata atau frasa setiap kali mereka bercakap-cakap.

    Dasar-dasar tersebut adalah bagian terpenting dari bahasa Inggris yang diajarkan di universitas atau lembaga pendidikan nonformal yang mempunyai kurikulum komprehensif. Alika dan Faika tidak perlu menunggu hingga kuliah karena sebagian materi itu bisa mereka dapatkan di Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 10 September 2026

  • Abizar: Resilient in the Ocean of Learning

    Abizar: Resilient in the Ocean of Learning

    Every time he reads seriously, his hands shake. His English reading is also hesitant and broken. However, one thing makes him strong: his learning spirit never fades. He loves to play, but whenever the teacher calls him to read, he willingly leaves all his activities. He is A. Abizar Mappajaji, a boy who loves to be taught directly by his teacher.

    In the classroom, only one or two girls want to pair up with Abizar for speaking practice. He does not care. For him, having a partner is enough. The most important thing is that he actively completes his assignments and work with great enthusiasm.

    Outside the classroom, his name is called most often. “His name is not Abizar, Mister. It’s Azibar,” said one child. “Yes, Azibar,” another chimed in. Shouldn’t we avoid changing people’s names as we please? Abizar is aware of this, but he does not protest and takes it as a joke. The name ‘Azibar’ is heard most often during playtime. The children say it with a cheerful and happy heart.

    Recently, Abizar took a random tenses writing exercise. His mind still struggled to understand the changes of tenses in sentences. He always sat patiently, waiting until his teacher was no longer busy answering other students’ questions. When the room grew quiet, Abizar said, “Please, show me how!.” The teacher, who pays great attention to Abizar, immediately guided him until all the question sheets were answered. He never argued with anything his teacher asked him to do.

    A major challenge Abizar faces is his handwriting, which still has many corrections. He does not rush to ask for a new sheet of paper; he chooses a harder challenge instead. “Abizar, do you want to continue or tidy up your writing?” the teacher asked. “I want to tidy it up first, Mister,” he answered firmly. A new piece of paper was given to him to rewrite the correct answers nicely.

    Abizar with his classmates.

    In the writer’s view, Abizar holds the signs of success. If we divide students into two sides, many smart children often take their lessons for granted and stop paying close attention. As a result, they only know bits and pieces and do not understand the lesson fully. Abizar is the opposite. He learns little by little and does it continuously. Like a marathon, the human learning journey is very long: elementary school, middle school, high school, university, and non-formal environments. With his dedication to learning, Abizar’s knowledge will likely grow as high as a mountain. This makes perfect sense. Time will prove this thought right.

    On the other hand, there are also many smart children who are diligent, humble, and understand their lessons completely. Reality is not just black and white.

    Who could predict that Abizar would become a great person? Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) once told a story about a young man studying at a pesantren (Islamic boarding school) in Bangkalan, Madura. His knowledge was ordinary compared to his peers. Many students had memorized a lot of the Al-Qur’an. This young man had not memorized the Al-Qur’an, but he had one thing: devotion (khidmah) to his teacher. His task, which he did sincerely, was taking care of his teacher’s horses—feeding them and cleaning the stables belonging to Kiai Syaikhona Kholil. Who would have thought that in the future, this young man would be known as the founder of Nahdlatul Ulama (NU), the largest Islamic organization in the world. He is K.H. Hasyim Asy’ari.

    In the tradition of Islamic education, especially in pesantrens, Intelligence Quotient is not everything. The blessing of knowledge comes from a clean heart and sincerity in serving (khidmah) the teacher. Imam Ali bin Abi Thalib said, “Knowledge is light, and light is given to those who clean their hearts.” Of course, developing the brain must also keep moving forward.

    This connects back to Abizar’s story, as he does not take shortcuts and focuses on the learning process. He is a nine-year-old boy who, in his daily life, is humble, not arrogant, and fully focused on his learning journey. “When he was very small, Abizar learned to read at the Rumah Belajar Bersama (RBB).” After he became fluent, he graduated and chose to learn English. In this class, Abizar’s mind and heart are shaped to be stronger in facing the ocean of life as he grows into a teenager and an adult.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Thursday, September 10, 2026

  • Abizar: Tangguh Menghadapi Samudra Belajar

    Abizar: Tangguh Menghadapi Samudra Belajar

    Setiap kali membaca dengan serius, tangannya gemetar. Bacaan berbahasa Inggrisnya pun terbata-bata, tetapi satu hal yang membuatnya tangguh: semangat belajar yang tidak pernah padam. Ia suka bermain. Bila guru memanggil untuk membaca, ia rela meninggalkan semua aktivitasnya. Ia adalah A. Abizar Mappajaji, bocah yang senang diajar langsung oleh gurunya.

    Di ruang kelas, satu atau dua anak perempuan saja yang ingin berpasangan dengan Abizar dalam praktik berbicara. Ia juga tidak peduli. Baginya, asalkan sudah ada rekan, itu sudah cukup. Yang terpenting adalah ia juga aktif mengerjakan tugas yang diberikan: bekerja dengan penuh semangat.

    Di luar ruang kelas, ia anak yang paling sering disebut namanya. “Bukan Abizar panggilannya, Mister. Azibar,” kata seorang anak. “Iya. Azibar,” sahut yang lainnya. Bukankah kita tidak boleh menyebut atau mengganti nama orang seenaknya? Abizar sadar akan hal itu, terlihat tidak protes, dan menganggapnya candaan. Nama ‘Azibar’ yang paling sering disebut saat bermain. Lidah anak-anak suka menyebutkan dengan suasana hati riang gembira.

    Baru-baru ini, Abizar mengikuti latihan tulis tenses secara acak. Pikirannya masih kesulitan mengetahui perpindahan tense dalam kalimat. Ia selalu duduk sabar menanti hingga gurunya tidak begitu sibuk lagi menjawab pertanyaan murid-murid. Ketika suasana agak tenang, Abizar berkata, “Tolong kasih tahu caranya.” Guru yang memang sangat perhatian kepada Abizar akan segera mendampingi hingga semua lembaran soal terjawab. Ia tidak pernah membantah apa pun yang diminta oleh gurunya untuk dikerjakan.

    Abizar bersama rekan-rekannya di kelas Bahasa Inggris.

    Kendala besar yang Abizar hadapi adalah tulisannya yang masih banyak coretan. Ia tidak terburu-buru untuk meminta lembaran kertas baru, tantangannya juga lebih sulit. “Abizar mau lanjut atau merapikan tulisan?” tanya guru. “Saya mau rapikan dulu, Mister,” jawabnya lugas. Kertas baru diberikan untuk menyalin ulang jawaban yang telah ia buat dengan benar.

    Dalam pandangan penulis, Abizar mengantongi tanda-tanda kesuksesan. Jika dibagi dalam dua kutub, banyak anak yang pintar terlalu sering menganggap remeh pelajarannya sehingga tidak begitu perhatian lagi. Akibatnya, mereka tahu sepotong-potong saja, tidak memahami pelajaran secara utuh. Abizar adalah kebalikannya. Ia mengetahui sedikit demi sedikit dan terus berkelanjutan. Layaknya lari maraton, perjalanan manusia dalam belajar itu sangat panjang: SD, SMP, SMA, dan universitas serta lingkungan nonformal. Abizar yang teguh dalam belajar, pengetahuannya kemungkinan besar akan menggunung. Begitulah logika dalam pikiran. Waktu yang akan membuktikan bahwa kebenaran dalam pikiran ini menjadi nyata.

    Fakta lain, ada banyak anak pintar yang juga tekun, rendah hati, dan memahami pelajaran secara utuh. Realitas tidak se-hitam-putih itu.

    Siapa yang bisa memprediksi bahwa Abizar bisa menjadi orang yang hebat? Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) pernah bercerita tentang seorang pemuda yang nyantri di Bangkalan, Madura. Ilmunya biasa saja dibandingkan rekan-rekan lainnya. Santri-santri sudah banyak menghafal Al-Qur’an. Pemuda itu tidak hafal Al-Qur’an, tetapi ia mempunyai satu hal, berkhidmat ke gurunya. Tugas pemuda itu yang ia laksanakan dengan tulus adalah mengurus kuda: memberi makan, dan membersihkan kandang kuda milik gurunya, Kiai Syaikhona Kholil. Siapa sangka, di kemudian hari, pemuda itu dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), pendiri organisasi Islam terbesar sedunia. Ia adalah K. H. Hasyim Asy’ari.

    Dalam tradisi pendidikan Islam khususnya pesantren, kecerdasan isi kepala bukanlah segalanya. Keberkahan ilmu itu lahir dari kebersihan hati dan ketulusan dalam melayani (khidmah) kepada guru. Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ilmu itu cahaya dan cahaya itu diturunkan kepada orang yang membersihkan hatinya.” Tentunya, penjelajahan pencerdasan otak harus terus bergerak juga.

    Seperti halnya kisah Abizar sebelumnya yang tidak memilih jalan pintas dan fokus pada proses belajar. Ia anak sembilan tahun yang dalam kehidupan kesehariannya rendah hati, tidak sombong dan fokus menjalani proses belajar. Kita tidak tahu pasti apakah jejak kehidupannya juga akan menjadi tokoh besar atau tidak. Tetapi, beberapa hal kecil yang mirip dengan K. H. Hasyim Asy’ari juga ia lakukan.

    “Sewaktu masih sangat kecil, Abizar belajar membaca di Rumah Belajar Bersama (RBB).” Setelah lancar, ia menyatakan diri tamat dan kemudian, memilih belajar bahasa Inggris. Di kelas inilah pikiran dan hati Abizar ditempa lebih tangguh menghadapi samudra kehidupan menuju masa remaja, muda dan dewasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis 10 September 2026

  • Menjebol Siri’ Pendidikan

    Menjebol Siri’ Pendidikan


    Seorang anak kecil sembilan tahun, masih sangat berwajah polos dan memancarkan cahaya mata ingin mengetahui banyak hal. Ia menamatkan buku Basic Reading (bacaan dasar) kurang dari satu bulan, 144 lessons. Ia juga telah hampir menyelesaikan tenses teratur di luar kepala, pelajaran setingkat SMP dan SMA yang hampir ditinggalkan oleh kurikulum Indonesia. Namanya Ashimah Nusaibah Shiddiqah. Seorang anak kecil berusia sembilan tahun yang masih sangat berwajah polos dan memancarkan cahaya mata ingin mengetahui banyak hal. Ia menamatkan buku Basic Reading (bacaan dasar) kurang dari satu bulan: 144 lessons. Ia juga telah hampir menyelesaikan tenses, pelajaran setingkat SMP dan SMA yang hampir ditinggalkan oleh kurikulum Indonesia, secara teratur di luar kepala. Namanya Ashimah Nusaibah Shiddiqah.

    Ashimah dengan dua orang anak segudang prestasi tingkat provinsi hingga nasional.

    Fajar Hidayat, sang paman, mempunyai rekam jejak kuliah di Universitas Glasgow, bagian dari universitas terbaik dunia kedokteran di Skotlandia. Ia juga relawan kemanusiaan di Masjid Jami’ Glasgow.

    Dokter Fajar Hidayat. Adik kandung Dokter Yuni yang kuliah di Inggris. Sumber gambar: drg. Yuni Afriani Salim.

    Yuni Afriani Salim, ibu Ashimah, seorang dokter gigi yang bercita-cita menjadikan anaknya memiliki kecerdasan almarhum pamannya yang bersekolah hingga ke luar negeri. Ia ingin anaknya mempunyai kepekaan sosial. Lalu, seorang polisi yang aktivitasnya melebihi intelijen sangat rajin mengikuti video jejak perkembangan Ashimah di media sosial. Setiap video live Ashimah sebisa mungkin tidak terlewatkan ia tonton. Polisi muda ini adalah Aswar Adjieafry Zed, ayah Ashimah. Kedua orang tua ini sangat percaya bahwa kemajuan anaknya bersumber dari pendidikan.

    Ashimah belajar bersama Faika (jilbab putih), pelajar kelas 4 SD yang meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional diselenggarakan oleh National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO) pada 17 Februari 2026.

    Tetapi, Ashimah dianggap oleh ibunya kurang pandai Matematika. Di kelas 4 SD, ia masih belum menguasai perkalian 1 sampai 9. Ini hal biasa di sekolah zaman sekarang. Anak-anak yang lain banyak mengalami nasib yang sama. B. J. Habibie mengatakan bahwa gen pada super intelligence software (perangkat lunak kecerdasan luar biasa) anak itu ada pada ibunya. Mungkin ibu ini ‘menyerah’ dengan sistem yang ada sehingga berpikir anaknya kurang pandai berhitung. Padahal, ia sendiri pandai berhitung. “Selain Inggris, saya ikutkan juga Ashimah les Matematika. Kalau dalam beberapa bulan, ia tidak bisa Matematika, saya sebaiknya hentikan saja di Matematika. Itu mungkin bukan bakatnya,” kata ibunya.

    Ashimah bersama Adeeva, peraih emas Olimpiade Bahasa Inggris diselenggarakan oleh GEMANESIA dan KOMPAS pada 23 Juni 2026.

    Teori pendidikan modern hebat dalam hal mengukur umur dan kemampuan anak dalam berhitung. Sayangnya, itu sering kebablasan karena banyak anak yang sudah mencapai kelas 4 SD belum tuntas perhitungan sederhana: sungguh terlambat.

    Sukreni Abdullah (Daeng Reni)—dokter gigi juga, seorang pelajar yang berasal dari Kalumpang, Kec. Bonto Tiro, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada tahun 80-an telah menjadi representasi terbaik Sulsel untuk kejuaraan cerdas cermat di Jakarta. Menurut pengakuannya, anak cerdas Desa Tri Tiro di SD Inpres 196 Kalumpang ini gagal juara satu nasional bukan karena tidak tahu jawaban atau kalah cerdas, tetapi sorotan video kamera TVRI membuatnya terhenyak kaget, demam panggung. Pikirannya buyar. Ia kembali ke kampung halaman dan menceritakan kepada keluarga serta rekan-rekannya tentang kesiapan mental anak ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga dan tanpa didampingi langsung oleh orang tua. Hal ini sangat perlu diperhatikan.

    Sukreni Abdullah bersama kedua orang tuanya Puang Dullah (Alm.), Ummi Sia, dan Daeng Accul serta anak-anaknya.

    Fukushima, Tokyo dan Miyagi—hanya contoh karena hampir seluruh Jepang sangat aktif karena terletak di empat pertemuan lempeng tektonik—negeri Jepang paling rawan terkena gempa bumi. Keadaan alam memaksa mereka berpikir untuk mampu membuat bangunan kokoh anti gempa. Seorang rekan Andi Dayat sarjana teknik bercerita, pada pondasi bangunan kokoh di Jepang, ada bantalan karet laminasi, inti timbal, pegas baja raksasa dan peredam hidrolik. Gedung tidak roboh, hanya bergoyang-goyang, serasa bayi yang diayun-ayun oleh ibunya. Gempa megathrust sekali pun kini tidak semencekam dahulu kala.Fukushima, Tokyo, dan Miyagi—hanya contoh; hampir seluruh Jepang sangat aktif karena terletak di empat pertemuan lempeng tektonik—adalah bagian dari negeri Jepang yang paling rawan terkena gempa bumi. Keadaan alam memaksa mereka berpikir untuk mampu membuat bangunan kokoh anti gempa. Seorang rekan, Andi Dayat, sarjana teknik, bercerita bahwa pada pondasi bangunan kokoh di Jepang, ada bantalan karet laminasi, inti timbal, pegas baja raksasa, dan peredam hidrolik. Gedung tidak roboh dan hanya bergoyang-goyang: serasa bayi yang diayun-ayun oleh ibunya. Gempa megathrust sekali pun kini tidak semencekam dahulu kala.

    Kecerdasan manusia Jepang dalam menghadapi tantangan alam.

    Bonto Tiro yang alamnya berbatu karang, tidak ramah untuk pertanian besar. Makanan kesehariannya hanya jagung yang diolah berbentuk seperti beras, disebut beras jagung. Enak dimakan jika baru saja dimasak atau hangat. Bila dingin, beras jagung ini keras membatu. Beras padi hanya milik orang kota. Beras dari kota itu primadona, betapa pun di kemudian hari hasil penelitian mengatakan beras jagung itu sangat sehat karena tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis seperti yang biasanya terjadi setelah memakan beras padi.

    SDN Inpres 196 dan SDN Inpres 134, dua sekolah dalam satu tempat tanpa dipisahkan oleh pagar. Di sinilah Daeng Reni, Fatmawati Patwa dan Saiful Patwa pernah bersekolah. Ummi Sia, ibu Daeng Reni, mengajar dan sebelum pensiun pernah menjadi Kepala Sekolah di SDN Inpres 134.

    Bonto Tiro yang alamnya berbatu karang tidak ramah untuk pertanian besar. Makanan kesehariannya disebut beras jagung: hanya jagung yang diolah berbentuk seperti beras. Beras jagung enak dimakan jika baru saja dimasak atau hangat. Bila dingin, beras jagung ini keras membatu. Beras padi hanya milik orang kota. Beras dari kota itu primadona, betapa pun di kemudian hari hasil penelitian mengatakan beras jagung itu sangat sehat karena tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis seperti yang biasanya terjadi setelah memakan beras padi.Untuk mengubah nasib, ada budaya siri’ (malu). Lebih baik mati daripada hidup menanggung siri’. Rakyat Bonto Tiro meledakkan energi siri’-nya ke arah pendidikan, bukan berkelahi untuk saling membunuh bila ada yang menghina. Siri’ ko punna tala sikola (malulah kamu atau kalian bila tidak sekolah/terdidik): sebuah proses pembudayaan pada pengalihan dari adu fisik ke adu otak. Tak heran, harta benda mudah dikorbankan untuk pendidikan anak-anak hingga minimal selesai tahap S-1. Hasilnya, Bonto Tiro di kemudian hari menjadi buah bibir sebagai sarang pendidikan termaju dengan mencetak sarjana terbanyak di Sulsel. Tentu saja, kesuksesan ini tidak berdiri sendiri. Faktor pendukung lainnya, seperti kualitas guru sekolah yang berdedikasi tinggi dan menjalankan kurikulum secara cepat, turut mempengaruhi.

    B. J. Habibie dengan Asse Nur Izza Maharani, anak dari Fatmawati Patwa di Taman Pintar Yogyakarta, 2013.

    Sewaktu TK hingga kelas 3 SD, penulis tinggal di Kalumpang, di rumah Daeng Reni. Abdullah Demma (Puang Dullah) dan Syamsiah Lambero (Ummi Sia), orang tua Daeng Reni, tiap hari memberikan soal aritmatika (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). Bila menginginkan sesuatu, penulis terlebih dahulu harus mampu menjawab soal. Di waktu bermain juga begitu. Itu sudah semacam lifestyle. Di kelas 1 SD, penulis sudah lancar perkalian. Anak-anak lain di sekolah juga banyak yang bisa. Itu hal biasa saja, tetapi istimewa buat kampung yang lain. Mungkin.

    Fatmawati Patwa bersama anaknya Lala yang kini kuliah di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.

    Hampir semua—kata ‘hampir’ untuk menghindari hal yang luput dari perhatian—anak yang tinggal di rumah Daeng Reni pendidikannya berhasil. Dua orang kakak penulis, yaitu Fatmawati Patwa dan Saipul Patwa, juga berhasil. Fatmawati Patwa selalu mempunyai nilai rata-rata 10 di rapor selama bersekolah di Pondok Pesantren Modern IMMIM serta Pondok Pesantren Madinah. Kemudian, Saipul Patwa—nama panggilannya adalah Sampulo (sepuluh) karena terlalu sering dapat nilai sepuluh—menjadi pelajar SMA terbaik se-Bulukumba dan mendapatkan tiket sekolah khusus di Makassar yang dirancang oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel.

    Saipul Patwa bersama anaknya Aufa Patwa sewaktu masih bersekolah di MAN Insan Cendekia Gorontalo, sebuah sekolah yang didirikan oleh B. J. Habibie. Setelah tamat SMA, Aufa bercita-cita kuliah di Universitas Harvard di Amerika Serikat, tetapi orang tuanya meminta S-1 di Indonesia. Pilihan terdekat pun jatuh ke Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulsel.

    Keterbatasan alam menambah klaim manusia untuk berkeluh kesah. “Jangan mengeluh! Mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa,” kata Soekarno. Keterbatasan itu dijebol. Di genggaman tangan orang-orang yang mempunyai ketangguhan mental dan kemandirian, mereka berpikir untuk menolak menyerah. Penanaman spirit yang tangguh ini sangat penting ditanamkan sejak usia anak-anak seperti Ashimah yang sedang didesain membongkar kemustahilan lewat jalur pendidikan nonformal di Rumah Belajar Bersama (RBB). Rumah Belajar Bersama pun mendorong agar lifestyle kesuksesan cara belajar yang dijelaskan di atas diterapkan secara bersama oleh orang tua anak di rumah masing-masing.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 9 September, 2026