Sebuah keluhan anak-anak, What a “bad day!” (Betapa buruk hari ini!) merupakan gambaran pelajaran yang sungguh menakutkan dan menyiksa yang sedang mereka hadapi. Mereka sangat tidak tertarik dengan pelajaran tenses (perubahan kalimat-kalimat berdasarkan waktu dan kejadian), penggunaan kalimat secara benar baik untuk berbicara maupun menulis. Bayangkan saja, aturan ketat berlaku: salah huruf atau kesalahan tanda baca sudah digolongkan salah. Dalam pelajaran bahasa Indonesia selalu dimaklumi sehingga mereka terbiasa menulis dengan huruf kecil pada awal kalimat atau huruf kapital bukan pada tempatnya. Mungkin.

Ketegangan belajar itu kemudian ‘dihancurkan’ dengan menyatakan bahwa tenses utamanya nominal tenses adalah pelajaran yang sangat mudah. Dengan menggunakan bahasa sederhana, penggunaan kata kerja “be” sebagai inti perubahan kalimat untuk saat ini, lampau, dan akan datang dijelaskan dengan logika yang dapat dijangkau pemikiran anak-anak. Setelah itu, mereka bertanya dan dilatih menemukan jawaban dari pertanyaannya.

Wajah gembira mulai nampak. Terlebih lagi saat pelajaran dalam bentuk kuis, “Beberapa anak berani tampil maju ke depan sampai dua kali untuk membaca jawabannya,” kata Mr. Ancha yang mendidik anak-anak itu. “Bahkan, sebagian anak yang tadinya pendiam pun jadi berani tampil ke depan membaca dengan suara nyaring,” lanjutnya.

Sementara itu, untuk latihan tulis, meskipun sebagian sudah mengerti simple tenses (perubahan kalimat-kalimat sederhana) di luar kepala, anak-anak itu sudah lebih teliti dalam menulis jawaban. Mereka tidak mau lagi mengalami nasib buruk seperti latihan tulis pada pelajaran sebelumnya: tanda baca, salah huruf, atau peletakan huruf kapital atau kecil sudah mulai berkurang, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa masih terjadi kesalahan berulang.

Aturan ketat ini sengaja diberlakukan agar mereka mampu mengamankan diri dalam dunia akademis nantinya. Karena aturan tata bahasa ini berlaku umum, peluang mereka untuk bersaing di tingkat yang lebih luas seperti nasional dan internasional terbuka lebar. Inilah salah satu alasan mengapa mereka dididik dengan cara yang tidak lazim. Seiring dengan perjalanan waktu, mereka akan sadar bahwa semua yang mereka pelajari itu adalah hal luar biasa, mendukung masa depan mereka.
Potret ketegasan dan kehangatan mengajar inilah yang saat ini dirasakan oleh para pelajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete. Terlebih lagi, keberadaan Miss Fathy Cayadi, guru yang pandai dalam mengelola kelas speaking dan reading (berbicara dan membaca) memperkaya dan mempercepat keahlian berbahasa Inggris. Kombinasi pembelajaran yang saling melengkapi ini sangat mirip dengan RBB Bulukumba yang juga memadukan berbagai keahlian guru untuk memberikan pembelajaran terbaik kepada anak-anak didiknya
Dengan konsistensi selalu berpikir dan melakukan yang terbaik, banyak dari para pelajarnya mulai dari SD hingga universitas mampu menjadi bagian dari yang terbaik dari berbagai macam kompetisi berbahasa Inggris. Bila kelak anak-anak RBB Tanete juga melakukan yang sama atau lebih, mereka tentu akan mengingat masa sulit di mana mereka pernah mengatakan, “What a bad day” dan akan mengubahnya menjadi “What a wonderful day”. Begitulah harapannya.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 11 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan