Membongkar Mitos Berbahasa Inggris

Banyak orang berpikir bahwa belajar bahasa Inggris itu diukur dengan kemampuan berbicara. Pada satu tahap, itu betul. Anak kecil saja tidak membutuhkan tulisan untuk pandai berbicara, hanya mengikuti kebiasaan bahasa ibunya yang berada di lingkungan kehidupannya.

Bagaimana dengan anak-anak yang sudah mampu membaca? Apakah mereka dibiarkan saja terus berbicara tanpa perlu didekatkan dengan dunia literasi? Pikiran paling umum yang berkembang yaitu kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris itu sudah cukup untuk dianggap pintar. Pemahaman ini telah menjadi sebegitu dominan sehingga kita hampir tidak sempat melihat bahwa ada hal yang lebih penting, terlupakan dan bahkan hampir seperti mitos yang kebenarannya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Anak-anak yang terbiasa membaca buku dengan suara nyaring dan berlatih latihan soal-soal tata bahasa bukan hanya mampu menyalakan api literasi, tetapi juga mengerti isi bancaannya. Baru-baru ini, Faika Qhinara Putri Ridwan, seorang anak 9 tahun, saat delapan tahun telah meraih emas di Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional pada Februari 2026, diajak kembali mereview bacaannya pada buku tata bahasa Inggris yang berisi tentang percakapan. Ia telah mengerti dengan baik perbedaan struktur yang cukup rumit sehingga ketika ia menerjemahkan bacaannya ke dalam bahasa Indonesia, ia layaknya seorang penerjemah yang ulung. Ia tidak sedang menghafal karena bacaannya itu adalah kumpulan soal yang tidak pernah dituntut untuk dihafal, melainkan di analisis dengan teka teki logika yang menumbuhkan rasa penasaran untuk dipecahkan.

Faika dan rekan-rekan belajarnya sedang melepaskan diri dari jebakan dogma, asal bisa berbicara Inggris sudah dianggap pintar. Pada kenyataannya, kebiasaan membaca dengan suara nyaring itu membuat anak ini sanggup berbicara dengan orang lokal maupun orang asing dalam bahasa Inggris. Pertanyaannya? Mampukah anak-anak yang dididik sebatas berani bercakap itu melakukan hal yang dilakukan Faika? Dinding pembatas terlalu tebal untuk ditembus.

Kami mengumpulkan orang-orang yang berani melawan mitos, mau berjuang untuk mendobrak segala kekakuan belajar itu. Tidak ada anak bodoh. Mereka hanya perlu menemukan sebuah tempat dan metode belajar yang benar-benar tepat. Dengan demikian, para pelajar kita yang selama ini dihantui oleh pikiran yang rumit dalam memahami bahasa Inggris menjadi sederhana. Kami tidak sekadar melatih anak-anak untuk berani bercakap. Kami membuka gerbang pembuka alat ilmu pengetahuan dunia yang sangat luas. Kegiatan berpikir aksi nan dahsyat itu berada di Rumah Belajar Bersama (RBB) Bulukumba.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 13 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *