Kategori: Uncategorized

  • Ujian dengan Jalan Kaki

    Ujian dengan Jalan Kaki

    Ujian sekolah dan kuliah di dua universitas adalah ujian kehidupanmu nak yang akan menguatkanmu menghadapi ujian kehidupan.

    Ada hal yang selalu teringat dan sulit kulupakan. Saat Nashwa pakai sepatu sekolah diteras rumah, ia berkata “Bapak, ada hapalan sekolah saya lupa. Tunggu beberapa menit bapak. Saya hapal dulu”, tambahnya. Ia duduk dan menghapal dengan caranya. Setelah yakin, ia berkata kepadaku, “Saya sudah hapal bapak”.

    Seketika terasa ada kebahagian yg seolah mengatakan “Kamu hebat nak”, kataku dalam hati.

    Saya pun mengantarnya berangkat dgn memakai motor Honda Supra tuaku. Nashwa suka duduk di depan menikmati perjalanan hingga sampai di depan pagar sekolahnya,

    Sesuatu yang selalu menjadi kebiasaan Nashwa raih tangan saya sembari mencium sambil sy berucap, “Nu jago ini anakkue…pintar, ehhh… Jangan jajan sembarangan. Kalau mau pulang, tunggu adek Muh Dzaki Munadhil Irfan biar bersamaan pulangnya nak.

    Saat waktu tiba pulang sekolah, terkadang saya menjemput, tapi anak anaku kebanyakan pulang dengan jalan kaki bersama adiknya–
    Hal yg berbeda dari kebanyakan orang tua yang selalu menjemput anak² mereka.

    Angka 99 dimulai dari angka 1.

    Sesuatu yang terkadang saya sengaja untuk tidak menjemput mengundang tanya. Itu benar! Nashwa bertanya. “Bapak, kenapa tidak menjemputku?” Saya cuma tersenyum sambil meraihnya, memeluknya dan menciumnya. Itulah jawabanku agar anak anak tidak selalu dalam zona nyaman. Ini juga nanti akan menjadi cerita yang indah saat mengenang masa sekolahnya.

    Sekarang Nashwa sebentar lagi akan menyelesaikan study-nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ujian jalan kaki untuk tidak selalu dalam zona nyaman pada akhirnya jadi pembelajaran untuk membentuk karakternya dan kemandiriannya dalam menghadapi ujian kehidupan.

    Aris Irfan

    Bulukumba, Selasa, 16 Mei 2026

  • Pemimpin Kecil

    Pemimpin Kecil

    Pelajar yang mempunyai kecerdasan lebih di atas rekan-rekan kelasnya sebaiknya diberi kepercayaan. Guru dapat menunjuknya untuk memimpin beberapa orang agar ia mengajarkan materi yang telah ia pahami. Ia akan tambah paham dan kembali belajar menjelaskan pemahamannya. Mental percaya diri pun terbangun. Sedangkan pelajar yang diajar merasa bisa lebih santai karena diajar oleh temannya sendiri dan pasti ingin selevel dalam hal kecerdasan.

    Adam anak yang cepat memahami pelajaran. Ia akan menggambar atau menemani rekan di dekatnya untuk bicara manakala ia telah mengerti materi yang sedang dipelajari. Pengaruhnya ini cepat menyebar di mana kelas suara di kelas akan lebih riuh tapi bukan membahas pelajaran tetapi gossip ala anak anak.

    Apakah Adam harus dihukum? Tidak perlu. Kita buat ia sibuk tapi harus tetap diawasi dengan jalan menunjuknya menjadi memimpin. Ia bertanggungjawab mengajarkan hal yang ia pahami. dua sampai tiga orang yang ia didik cukup sebagai langkah awal agar ia tidak kewalahan mengkondisikan kelas. Namun ini harus tetap diawasi karena bisa jadi Adam tidak membahas pelajaran alias kembali bergosip.

    Begitupun pada Nabila dan Aliza. Keduanya masing-masing menunjuk beberapa orang yang mereka senangi untuk diajar. Setelah itu, kelas dibuat terpisah namun tidak berjauhan agar nuansa belajarnya saling terlihat. Waktu yang diberikan sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk memahamkan. Ketika jam yang ditentukan berakhir, setiap kelompok tampil menerangkan hal yang dipelajari. Di sini terlihat kelompok mana yang lebih mampu belajar secara team.

    Untuk melihat titik kelemahan, bisa jadi yang memimpin kurang tahu cara menjelaskan pemahamannya kepada rekannya atau pelajar yang diajar belum tidak cocok dengan metode ini. Pendekatan personal pun dilakukan oleh guru agar ke depan mereka dapat lebih kompak dalam mencapai target pelajaran.

    Penulis membaca bahwa cara belajar ini terlihat lebih rileks. Karena tidak tergantung pada guru utama kelas, mereka cenderung berpikir lebih kreatif dengan menciptakan cara sendiri dalam memahami suatu materi. Dan itu dibuat dari hasil musyawarah yang kemudian disepakati oleh pemimpinnya masing-masing.

    Kecerdasan lebih dan kepercayaan yang diberikan kepada pelajar yang cerdas tersebut adalah kekuatan yang dahsyat yang sangat efektif digunakan untuk mempengaruhi rekan-rekan yang lain untuk ikut cerdas dan terpercaya—mereka juga ingin memperoleh kesempatan menjadi pemimpin kecil.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 15 Mei 2026

  • Karena Perjuangan dan Cinta

    Karena Perjuangan dan Cinta

    “Eh. Jadi tentara anakku”, kata Daeng Uttang sambil menatap foto anaknya berseragam tentara. Saya turut senang tapi merespon dengan biasa saja. “Coba lihat fotonya Deng?” kataku. Ia mengarahkan handphone ke wajahku. Saya girang. “Wah, itu langsung mengingatkanku pada wajahnya yang persis sama sewaktu dia masih anak anak, masa ketika ia bebas bermandikan matahari dengan bermain, tertawa riang ataupun ngambek.

    Pendidikan Pratama Bintara (Dikmaba) TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) bukan dunia bermain. Itu sungguhan dan nyawa taruhannya. “Mengapa wajah Azizah bisa kembali seindah anak kecil tanpa dosa?” tanyaku dalam hati. Daeng Uttang tiba tiba bilang, “Dulu Azizah setelah tamat SMA daftar tentara, tidak lulus”, kenangnya. “Sekarang ia dimudahkan.” Cita citanya terwujud dengan terlebih dahulu meraih Juara 2 Lomba Dayung untuk Indonesia pada Asean Games di Thailand, 2025. Pemerintah memberikan “tiket” untuk atlet berprestasi tanpa biaya. Allah SWT menunjukkan jalan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

    “Azizah itu bisa renang?”, tanyaku. “Untungnya di masa anak anak ia kursus renang bersama Aliyah, kakakknya di Mattoanging”, kenang Daeng Uttang. “Pelatihnya bilang anak anak saya berbakat jadi atlet nasional. Sebagai bapak, saya tambah semangat mengantar mereka”, tambahnya sembari tersenyum. “Iya ya. Coba dia nda tahu renang, setengah hidup dia di TNI Angkatan Laut. Dan mana berani dia mau jadi pedayung”, tambahku menguatkan rasa senangnya.

    Daeng Uttang kini bersiap-siap mengunjungi anaknya di Surabaya yang dalam waktu dekat karena masa pendidikan Azizah akan selesai. Pertemuannya akan berlangsung sangat singkat karena Azizah akan kembali jadi atlet dayung Pelatnas (Pelatihan Nasional) untuk memperjuangkan dan mengharumkan nama baik Indonesia di kejuaraan yang lebih tinggi.

    Ada momen tertentu di mana Daeng Uttang ingin berkumpul bersama kedua anaknya Aliyah dan Azizah di rumah, Makassar. Mengingat kesibukan, itu sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Sang Kakak, Aliyah, sedang pelatihan di Jakarta untuk peningkatan kariernya di Perbankan tidak lama lagi akan selesai dan Azizah yang terdaftar sebagai mahasiswa di UNM (Universitas Negeri Makassar) tentu punya urusan dengan kampus yang sesekali membuatnya bisa pulang kampung. Pada momen kebersamaan berharga itulah, kedua anak membahagiakan ini dapat berziarah ke makam ibunya Nur Wahidah Bakkas Tumengkol bersama sang ayah, Daeng Uttang.

    Ketika sang anak mencapai cita-cita, orang tua bahagia. Apakah orang tua menuntut anak anaknya untuk dapat membahagiakan orang tuanya? Sekilas mengutip Murtadha Muthahhari, sama sekali tidak. Kebahagiaan orang tua ketika melihat anak anaknya bahagia. Itu cukup. Itu adalah cinta, anugerah yang tanpa perlu diperjuangkan oleh manusia diberikan oleh Allah SWT yang dikhususkan kepada orang tua tepat ketika anak itu lahir ke bumi, menyanyangi anak tanpa batas.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Jum’at 8 Mei 2026

  • Obrolan Ringan dengan Horst Liebner

    Obrolan Ringan dengan Horst Liebner

    Bertamu ke rumah Dr. Horst Liebner di Gowa, Sulawesi Selatan seolah menggugah semangatku untuk masuk lagi dalam dunia perdebatan pemikiran. Di ruang kerjanya yang teduh dikelilingi perpustakaan mini, ia menyedorkan beberapa referensi buku berbobot, sebagian isinya ia terangkan dan menjadi alasan mengapa gaya penulisannya dipengaruhi sastra.

    Saya kaget betul dengan hobinya pada sastra. Seorang tokoh yang dikenal bukan hanya jago teori tentang perahu tradisional tapi juga seorang pelaut ulung yang suka “terus terang” alias apa adanya pada hal yang masuk akal atau tidak masuk akal ternyata
    memasukkan lagu music wreck yang dengan senang hati ia tempatkan di halaman depan thesis S 3-nya. Banyak bagian lembaran buku yang ia perlihatkan dan terangkan mengapa penulisannya seperti sekarang ini.

    Semua ini berawal dari pernyataan bahwa saya mengerti gaya penulisan Pak Horst karena penulis sudah sering membaca tulisannya. Gaya penulisannya bukan kebiasaan orang Indonesia. Ia okay saja dan menambahkan bahwa dirinya dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Ya, beberapa kosa kata yang tidak lazim digunakan bahasa Indonesia sekarang sesekali diselipkan ke dalam tulisannya. Orang harus mengecek kamus lagi untuk mengingatnya.

    Obrolan ringan kami berlanjut pada tata bahasa. Saya tahu ia paham tata bahasa dan tidak perlu bertanya ke penulis tapi ia tetap bertanya. Beberapa paragraf secara acak dari tulisannya kami bahas, tidak ada yang salah sama sekali. Untuk apa Pak Horst mengecek itu semua? Ia paham beragam bahasa dan tentu ilmunya jauh lebih luas. Penulis mengikuti alur berpikirnya, masuk ke dunianya dengan harapan, siapa tahu ada hal yang baru ditemukan. Ternyata, gaya bahasa saja yang beda, struktur tetap sama.

    Kemudian Pak Horst mengenalkan buku Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori ditulis oleh N. F. Alifera at Al. Katanya buku ini dibuat oleh orang Rusia. Sungguh menarik, bukan pada alirannya yang waktu itu masih komunis tapi pada keahlian orang asing yang mampu membedah bahasa Indonesia dengan sangat detail. Buku seperti inilah yang selama ini saya cari. Katanya, buku itu ia pelajari sewaktu S 2 di Indonesia tepatnya di UNHAS (Universitas Hasanuddin).

    Beberapa data tentang dokumentasi pelayaran zaman Belanda pun ia perlihatkan. Ia dengan senang hati membantu menerjemahkan semua hal yang penulis tanyakan. “Sayang sekali ya, kita orang Indonesia kebanyakan tidak mengerti Bahasa Belanda lagi”, pikir penulis. Bagusnya lagi, Belanda itu punya data yang bisa diakses melalui internet. Tapi kan, segelintir dari kita saja yang bisa membacanya. Sebaiknya sekolah atau universitas berkenan mengkampanyekan dan membuka kembali Bahasa Belanda agar kita tidak buta data sejarah.

    Dari situ penulis melihat perkembangan pelayaran dan perahu yang ada di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan yang memang terkenal dunia maritimnya. dan tertarik untuk turut berkontribusi lebih jauh. Selama ini, penulis menulis “suka suka aja”. Belajar dan berdiskusi lebih banyak dengan Pak Horst, penulis mungkin saja akan membuat sesuatu yang berharga untuk pengembangan maritim kita.

    Menulis tentang pelayaran, sastra dan perdebatan pemikiran, penulis jalani dan nikmati saja. Bulukumba adalah tanah kelahiran dan tempat tinggal penulis menetap sekarang ini yang erat kaitannya dengan laut. Adakah itu akan bermanfaat bagi orang lain? Semoga saja. Sekian dulu.

    Saya dari tadi mau olahraga otak dengan main catur. 😀

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 12 Mei 2026

  • Juara 1 Grammar pada English Fair UNM

    Juara 1 Grammar pada English Fair UNM

    Kompetisi mengasah kecerdasan manusia tanpa bantuan AI (Artificial Inteligence) kecerdasan mesin digelar oleh FBS UNM (Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar) dengan tema “Empowering Students through English for Global Competence” pada 7 -9 Mei 2026. Pembulatan 500 peserta, tepatnya 497 peserta jurusan Bahasa Inggris bertarung. Mengangetkan! Dari enam kategori kompetisi, Grammar Competition (Kompetisi tata bahasa) paling ketat diikuti 269 peserta. Itu kompetisi rumit karena melibatkan urusan berpikir logis. terlebih lagi kurikulum sekolah Indonesia tidak fokus pada grammar lagi.

    Respon Orang Tua Widya 
    Juara 1 (satu) Grammar Competition diraih oleh mahasiswi semester dua, Andi Widya Maulidyah. Dari mana Widya bisa secepat itu menjadi yang terbaik? Investasi pendidikan. Widya sejak di SDN 221, SMPN 2 hingga tamat SMAN 1 Bulukumba telah ikut kursus Inggris. Tantenya Andi Ayu Cahyani memperkenalkan RBB (Rumah Belajar Bersama) dan langsung disambut oleh kedua orang tuanya Andi Halil Badawi dan Nuraidah Arifin Sallatu. Sang ayah yang mengetahui minat dan bakat anaknya tanpa lelah mengantar kursus sementara sang ibu yang acap kali mengunggah kegiatan Widya di media sosial termasuk takkala Widya lulus di UNM jalur prestasi, 2025.

    Mari kita simak ekpresi kebahagiaan orang tua dari sang ayah di facebook pribadinya:
    Alhamdilillah, tidak sia-sia anak gadisku kursus di Rumah Belajar Bersama Bulukumba. Hari ini dapat kabar darinya: Juara 1 Final English Fair 2026 di Kampus UNM dari 300 peserta menjadi 30 lalu masuk final 8 orang dan akhirnya juara satu.

    Sang Ayah yang menetap di Bulukumba langsung menyambut rasa bahagianya ketika mengetahui anaknya di Makassar meraih juara satu.

    Hal senada juga disampaikan oleh sang ibu juga di facebook:
    Masya Allah Tabarakallahu. Selamat nak, Andi Widya Maulidyah atas pencapaiannya lomba English Grammar at English Fair 2026 UNM dari 300 peserta menjadi 30 besar, dari 30 besar menjadi 8 besar dan dari 8 besar menjadi juara 1.

    Ibunya Widya sangat bersyukur dengan capaian anaknya yang luar biasa. Meraih juara satu untuk mahasiswa semester awal bukan hal mudah tapi anaknya mampu membuktikan bahwa itu bisa.

    Widya yang semasa sekolah telah tamat buku Basic Grammar, Pre Intermediate Grammar, Intermediate Grammar standar internasional katya Betty Scrampfer Azar dan beberapa bagian TOEFL (Test of English as a Foreign Language) serta membaca buku beragam buku bahasa inggris seperti Decisive Moments, Indonesia’s Long Road to Democracy (Detik-Detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia menuju Demokrasi) karya B. J. Habibie, karya L. G. Alexander dan lainnya. Dengan aksen British English (Bahasa Inggris ala orang Inggris, bukan Amerika) mengekspresikan rasa senangnya dengan mengatakan:

    Honestly, I still can’t fully believe it because winning first place against so many participants means a lot to me but I also feel like I wouldn’t have achieve all of this without your teachings and guidance for all this science. I learnt a lot from Rumah Belajar Bersama. Thank you very much.

    Terjemahan bebas:
    “Sejujurnya, saya masih belum sepenuhnya percaya karena memenangkan juara pertama melawan begitu banyak peserta sangatlah berarti bagiku. Namun, saya juga merasa tidak akan bisa mencapai semua ini tanpa ajaran dan bimbingan kalian dalam bidang sains. Saya telah belajar banyak dari Rumah Belajar Bersama. Terima kasih banyak.”

    Daftar nama juara 1, 2 dan 3.

    Karena Widya pelajar yang punya kemampuan di atas rata-rata, ia seringkali dipercaya oleh guru RBB untuk meng-handle para pelajar berbakat yang sedang berkembang. Sebelumnya, hal yang sama juga diberikan kepada sepupunya, Andi Junila yang kini telah malang melintang di berbagai macam negeri. Pelajar Andi Aufassaif Mallombassi Patwa, seorang alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo, sekolah didirikan B. J. Habibie, yang sanggup belajar Inggris sekitar 11.30 jam sehari berpikir penting menghubungi Widya untuk menghadapi Ujian Tulis dan Lisan Tenses luar kepala. Widya berkenan dan Aufa pun lulus Basic Grammar di RBB. Beberapa kelas yang sudah cukup punya kapasitas bagus, kadang-kadang diberikan ke Widya sebagai pembelajaran micro teaching untuk membangun kepercayaan dirinya dan mental kepemimpinnya.

    Widya yang telah memberikan penjelasan semacam micro teaching kepada Aufa kini mendengarkan penjelasan Aufa untuk mengetahui tingkat pemahamannya pada tenses luar kepala, 2025.

    Untuk hal tersebut, mari kita dengar pendapatnya:
    What I gained during my time learning in RBB was not only about knowledge but also confidence and deeper understanding grammar especially. Honestly, all of you guys are the ones who taught me grammar until I was finally able to reach this point and achieve something like this. I am truly grateful for all the lessons and support you’ve given to me.

    Terjemahan:
    “Apa yang saya dapatkan selama belajar di RBB bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga rasa percaya diri dan pemahaman yang mendalam, khususnya mengenai grammar (tata bahasa). Sejujurnya, kalian semua yang mengajariku grammar hingga akhirnya saya bisa mencapai titik ini dan meraih prestasi seperti sekarang. Saya sungguh bersyukur atas semua pelajaran dan dukungan yang telah kalian berikan kepadaku.”

    Cara Belajar Widya

    The Little Girl at the Window (Gadis Cilik di Jendela) buku mengkisahkan Totto Chan yang penuh rasa ingin tahu, bukan kaku. Jepang terkenal dengan konsep belajar disiplin dan tegas. Sayang sekali Totto Chan dengan pemikiran dan prilakunya yang mengeksplorasi dunia sekelilingya, ia suka berdiri di jendela memanggil pemusik datang ke kelas, bertanya pada burung saat belajar, membuka dan menutup laci membuat gurunya sangat jengkel, ia dianggap anak nakal padahal tidak.

    Semua itu adalah ekspresi polos anak kecil yang tidak dapat diterima oleh sekolah di Jepang. Beruntung, ibunya menemukan sekolah baru dibuat dari gerbong kereta bekas. Sosaku Kobayashi, Kepala sekolah menyakinkan bahwa Totto Chan anak yang baik. Kisah nyata kehidupan Tetsuko Kuroyanagi, sang penulis buku, sangat terkenal dan bahkan dijadikan film animasi pada 2023.

    Widya tidak pernah nakal di kelas, punya keceriaan belajar layaknya Totto Chan. Ia menemukan belajar Inggris untuk menyenangkan dan menarik. Tidak ada sekolah bekas rel kereta api, ia ke RBB. Tidak ada pertentangan sama sekali antara bermain dan belajar,. Seandainya ia punya ide kebebasan berekspresi seperti Totto Chan, itu sama sekali bukan masalah selama ia mampu mengerjakan tugasnya. Malahan, ia lebih banyak berimajinasi dan berkreasi pada soal soal yang ia pelajari. Kalau ia mendapatkan masalah, ia akan termenung sambil sesekali memegang pulpen hingga titik tertentu, ia mengatakan, “Kudapatmi”. Bila ditanya, ia akan menjelaskan dengan cara berpikirnya sendiri. Mengagumkan.

    Guru yang memang memberikan penjelasan dan pertanyaan itu penting namun yang lebih penting adalah melatih dan memberikan kebebasan berpikir. Benar atau salah pada jawaban bukan soal utama. Bila pelajar salah, kesalahan tersebut dijadikan alat untuk menunjukkan jalan yang benar. Dan bila benar, itu sudah sesuai target yang kita inginkan sambil memperhatikan dasar argumentasi yang dibangun. Kehidupan dalam belajar merupakan proses untuk mengembangkan pola pikir.
    Masa SD Widya di RBB juga suka banyak bermain. Di SMP, ia terlihat lebih banyak belajar dengan sedikit bermain dan saat SMA, ia menikmati pelajaran, tidak ada waktu bermain. Ia datang, duduk, mengerjakan latihan dan hampir tidak bergeser dari tempat duduknya hingga kelasnya selesai, 90 menit. Bila ia punya waktu luang, 02 sampai 2.30 jam fokus belajar dan bahkan lebih saat ada kegitan Kampung Belajar, ia sering masuk di pagi sore dan kadang kadang di malam hari dalam sehari.
    Dari jam belajar yang padat itulah, Widya sudah mampu memahami teks inggris sehingga ia tidak merasa perlu untuk bertanya kecuali pada hal yang benar-benar yang sulit dimengerti. Cukup dengan penjelasan sekilas, ia kembali bekerja. Itulah ia mengapa guru RBB menyebut bahwa dirinya mengerti pelajaran grammar tingkat universitas karena apa yang guru ajarkan padanya itu adalah materi tingakt universitas.

    Yang dahsyat lainnya adalah kemampuan belajar ototidak dari Widya. Ia banyak belajar dari rumahnya. Tiba-tiba ia pintar pengucapan ala British English tanpa pernah mendapatkan tanpa pernah ikut kelas pronunciation. Itu ia peroleh dari berselancar di internet. Guru di RBB yang mengerti aksen British English tahu bahwa apa yang disampaikan Widya bukan hanya benar tapi juga terdengar indah dengan intonasi yang khas. Dan karena grammar-nya sudah bagus, otomatis cara bicara tertata dengan baik. Itu keren.

    Betapapun pilihan belajar Widya sebatas grammar saja, ia aktif juga ikut EPC (English Practice Club) yang isinya orang dewasa dari berbagai latar belakang. Pengalaman berharga pertamanya saat ia menjadi pembicara Gen-Z faces the Future di EPC ketika masih duduk di SMP, 2021. Anda bisa tebak bagaimana anak gadis remaja berjuang untuk berbicara di depan khalayak umum yang bukan seumurannya meskipun panelisnya Aufa, anak yang baru tamat SMP. Terlihat keduanya bisa berbicara fasih karena mereka terlebih dahulu mencari bahan bacaan berhubungan dengan tema dan berlatih praktek bicara. Andi Ayu Cahyani, Ketua EPC waktu itu, membuka ruang lebih luas kepada remaja yang kemudian anaknya Dzaki yang juga SMP bisa tampil juga di EPC.

    Andi Widya Maulidyah dan Andi Aufassaif Mallombassi Patwa ketika masih pelajar sekolah menjadi pembicara di English Practice Club. Yang bertindak sebagai moderator adalah Mr. Umam, guru pesantren Babul Khaer Bulukumba. Foto pada 2021.

    Seseorang yang naik kekuasaan tanpa perjuangan akan turun tanpa kehormatan, kata filsuf Aristoteles. Apa yang diperjuangkan Widya pada Grammar Competition di UNM hingga menjadi yang terbaik dari yang terbaik adalah proses belajar yang panjang, tidak instant. Dibalik semua itu, dibalik kesuksesan itu, ada orang tua bersama keluarga, pelajar itu sendiri dan lingkungan belajar yang tepat yang sesuai minat dan bakat untuk berkembang. Selebihnya adalah doa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa 12 Mei 2026

  • Widya: Juara 1 English Fair UNM 2026

    Widya: Juara 1 English Fair UNM 2026

    Andi Widya Maulidyah yang masih semester dua kini jadi juara 1 English Fair di UNM (Universitas Negeri Makassar), 2026. Sang ayah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Rumah Belajar Bersama yang telah mendidik Widya Bahasa Inggris dalam jangka waktu yang panjang, sejak SD hingga jelang tamat SMA.

    Sewaktu SMA, Widya pernah gagal lomba pidato. Saya heran, seolah tidak percaya dan menanyakan kepadanya. Ternyata Widya diam diam belajar otodidak British English. Pronunciation and Accent) (Pengucapan dan Aksen) sangat bagus tapi juri pada nga respon. Indonesia itu dominan ala American English, kebanyakan di medsos dan Film itu ngomong American. Bila cara bicara Widya tidak dimengerti orang kebanyakan, wajarlah tapi bukan berarti dia salah.

    Insya Allah cara belajar Widya akan saya tulis dalam waktu dekat. Penulis sudah berusaha dari tadi tapi kepalaku masih agak pening. Thank you.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba Senin 10 Mei 2026.

  • Kita Punya Solusi

    Kita Punya Solusi

    Sophie Amundsen seorang gadis remaja 14 tahun dalam Dunia Sophie (Sophie’s World) menggambarkan sejarah filsafat yang rumit menjadi cerita yang mudah, menarik, dan mudah dimengerti. Sebuah novel karya kelas dunia yang membuat pembaca terperangkap dalam rasa ingin tahu tiada henti yang tanpa sadar pembaca telah tergiring mempelajari pemikiran barat dari klasik hingga modern. Siapa Sophie dan siapa yang terus-menerus mengirimkan surat kepadanya? Itulah pertanyaan misteri yang muncul dalam benak pembaca.

    Bagaimana pula pelajar Indonesia akrab dengan karya karya kelas dunia? Bisakah mereka membayangkan atau membaca buku buku berbahasa Inggris? Rumit kan. Pasca perang fisik kemerdekaan, kemampuan berbahasa asing orang Indonesia tidak menanjak nanjak. Padahal para proklamator kita jago Bahasa Asing, bukan Inggris saja. Muchtar Lubis, wartawan senior Indonesia di tahun 70-an telah mengkritik rendahnya sarjana Indonesia yang tidak bisa berbahasa asing. Hingga tahun 2026 ini, Bahasa Inggris masih saja asing di lidah kebanyakan para pelajar Indonesia.

    Para intelektual muda kita sekarang gelisah melihat kenyataan di atas dan mengambil langkah solutif dengan turut terlibat aktif meringankan masalah, menyapa pelajar sekolah melalui pembelajaran Inggris online kepada pelajar sekolah. Penyederhanaan masalah tentu tidak secanggih cara Jostein Gaarder sebagaimana termaktub dalam Sophie’s World namun itu cukup untuk memulai langkah langkah memungkinkan punya dampak besar juga.

    Mari kita lirik kegiatan pemuda intelek, Agung Pratama Salassa berbagi pemahaman online Bahasa Inggris dengan pelajar SMAN 2 Bulukumba (09/10). Menurutnya, para siswa antusias dan tetap mencoba memberanikan diri untuk berbicara bahasa inggris, meskipun sempat ada kendala seperti suara kurang jelas atau keluar otomatis entah karena jaringan atau memang pembatasan durasi penggunaan aplikasi zoom,

    Bila Sophie selalu mendapatkan kiriman surat misterius, Agung pada pembelajarannya memberikan efek kejut dengan tidak terfokus pada pertanyaan yang mungkin sudah bisa ditebak, tapi mengembangkan pertanyaannya dari jawaban dari para siswa . Ia mengajak untuk menulusuri lebih jauh dengan memberikan information questions (informasi pertanyaan) why and how (mengapa dan bagaimana) untuk berpikir kritis. Untuk lebih jelas, mari kita simak komentar Agung:

    Saya berikan opsi tambahan seperti salah satu siswa yang menyukai musik metal, kenapa dan bagaimana dengan dangdut? atau pertanyaan tentang kenapa harus Pentol nama kucingnya, kenapa bukan Bakso atau Somay saja namanya. Ternyata itu karena keluarganya punya usaha Pentol jadi nama kucingnya Pentol.” Lebih lanjut lagi, “Jadi mungkin ini yang membuat sedikit kegelisahan dari siswa yg nantinya saya tanya tanya karena dari jawabannya bisa muncul pertanyaan baru lagi”.

    Mengenai kwalitas siswa, Agung menilai ada satu siswa yang kemampuannya sudah baik, Speaking-nya bukan ditahap pemula bernama Muh. Ahnaf Ibrahim, umur masih 16 tahun. Anak remaja itu mampu berbicara Bahasa Inggris dengan lancar karena Mamanya selalu berbicara pakai bahasa inggris kepadanya di setiap hari minggu, aturan berlaku di rumahnya.

    Sophie Amundsen mengerti tentang tahapan pola pikir filsafat barat yang rumit yang ia terus terus jelajahi dalam kehidupan kesehariannya. Itu tumbuh karena rasa ingin tahu dari surat surat misterius Alberto Knox. Guru guru Bahasa Inggris kita tidak mesti berperan layaknya Alberto Knox tapi mereka bertanggungjawab untuk memunculkan rasa penasaran, ingin tahu lebih banyak dan mengondisikan lingkungan efektif berbahasa Inggris seperti yang dilakukan Muh. Ahnaf Ibrahim di rumahnya. Dengan ini, kita pasti bisa merubah arah pola belajar Bahasa Inggris di Indonesia. Dunia Sophie dan karya karya kelas dunia lainnya dapat dinikmati oleh gerenasi penerus kita. Apakah Anda punya ide yang lain?

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Minggu 10 Mei 2026

    Catatan:
    Pembelajaran Bahasa Inggris online dilaksanakan antara pelajar SMAN 2 Bulukumba dengan pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama). Mr. Agung dari RBB mendidik pelajar SMAN 2 dan Miss Fathy Cayadi mendidik pelajar RBB. Agar tidak menyita waktu, zoom online dilakukan secara terpisah tapi dilaksanakan pada waktu bersamaan yaitu pada jam 16.00 Wita pada Sabtu, 9 Mei 2026.

  • Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Apa yang pemuda harus lakukan? Di tengah kebingungan putus kuliah di Makassar, Agung Pratama Salassa memecah kebuntuan berpikir dengan menemukan langkah yang tepat membangun masa depan. Ia memutuskan pergi jauh belajar Bahasa di Kampung Inggris, Desa Tulungrejo, Kediri,  Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung, ia tinggal selama tujuh tahun di sana.

    Pemuda Bulukumba hanya berbekal informasi berangkat seorang diri, tidak mengenal siapa pun. Saat tiba di Camp Asset (Associtaon of Sulawesi Students) di kampung Inggris, orang-orang Sulawesi tidak langsung percaya begitu saja. Ia orang asing dan diinterogasi. Karena niatnya yang benar, interogasi malah berbuah keparcayaan. Agung diterima. Dari situ, ia tahu bahwa terdapat ribuan pelajar dari Sulawesi ada di kampung Inggris. Ada lima camp Asset: . Laga Ligo, Sam Ratulangi, Halu Oleo untuk Camp Putra dan Camp Tanriabeng dan Andi Depu untuk Camp Putri. Selebihnya mereka tinggal di berbagai macam Camp yang disediakan lembaga kursus atau masyarakat setempat.

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    Oleh para senior, Agung memperoleh saran yang baik. Pemula tidak perlu sok pintar. Karena itu, ia mengikuti kursus pemula tentang vocabularies (kosa kata) di mana 100 kata wajib dihapal setiap hari, Basic Speaking and grammar (Dasar berbicara dan tata bahasa). Pengetahuan yang diperoleh di kursus wajib disebarkan di Asset yang mempunyai pertemuan dua kali sehari; setelah shalat Subuh dan Maghrib secara berjamaah. Awalnya ia sulit beradaptasi. Beberapa waktu berlalu, ia sadar bahwa ternyata belajar mendalam itu adalah review (mengulangi hal-hal penting). Tinggal di Camp juga wajib Speaking English sehingga segala aktivitas keseharian otomatis berbahasa Inggris.

    Karena pemahaman dan peningkatan kwalitas belajar, Agung kecanduan belajar. Tidak terasa, ia telah belajar selama dua tahun. Ia tidak berhenti, tidak pulang kampung. Rasa ingin tahunya makin tak terbendung layaknya orang yang kehausan di tengah gurun di bawah pancaran sinar matahari membakar. Bagaimana ia bisa tinggal lebih lama? Ia merancang strategi cerdas dengan menyampaikan kepada orang tuanya bahwa ia hendak kuliah di Pare, mengambil jurusan Manajemen di  Universitas Islam Kadiri. Kenapa bukan jurusan Bahasa Inggris? Itu terlalu mudah. Ia percaya keahlian berbahasa Inggris bisa tanpa universitas. Semua kebutuhan bahasa Inggris minus skripsi telah tersedia. Dengan memilih manajemen, ia memperoleh ilmu tambahan. Usulan diterima oleh orang tua.

    Agung mencetak rekor, tujuh tahun belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, lima tahun kuliah hingga sarjana. Orang-orang biasanya datang belajar untuk beberapa bulan atau satu sampai dua tahun. Tiga tahun itu sudah hebat. Ketika belajar Bahasa Inggris menjadi bagiabn dari kehidupan sehari-hari, perhatian Agung ketertarikan mendalam pada pronunciation (pengucapan) yang dilengkapi dengan cara membaca phonetic symbol tertera di kamus. Tantangan menyenangkan lainnya adalah grammar karena otaknya terpicu berpikir kritis untuk menemukan alasan dibalik terbentuknya suatu kalimat, frase dan kalimat. Sekelumit itu yang banyak berperan menganalisa persoalan tingkat tinggi semisal materi TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Test System).

    Agung yang setelah berada di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur, kembali ke pulang kampung di Bulukumba dan mengajar Grammar di Rumah Belajar Bersama.

    Sisi Lain Kampung Inggris
    Tinggal di kampung mengajarkan makna kemanusiaan. Agung pernah menjadi ketua di salah satu Camp Asset merasakan bagaimana cara menguatkan ikatan persaudaraan, dan  berempati. Asset sebagai perkumpulan daerah terbesar dan tertua di Pare seringkali mengadakan open donasi bagi pelajar yang tertimpa masalah, bazar untuk penggalangan dana dan donor darah. Jaringan, perkawanan dan kepercayan pun terbangun. Para pemuda juga belajar berorganisasi, menggerakkan orang banyak sebagaimana aktivitas para mahasiswa yang kuliah.

    Aktivitas belajar memang sangat kondusif. Menjelang matahari terbit, orang-orang telah ramai belajar di camp masing masing. Setelahnya, orang-orang bisa memilih lembaga kursus yang sesuai kebutuhannya mulai dari pagi hingga malam hari, pukul 21.00 Wita. Di sela-sela waktu istirahat, suasana Bahasa Inggris dapat dilakukan di mana saja. Di kantin, di jalan, di café dll karena Kampung Inggris adalah kumpulan manusia yang datang dari berbagai macam penjuru Indonesia khusus belajar Inggris.

    Kampung Inggris adalah sebuah desa.  Biaya makanan dan minuman, camp dan kursus masih terjangkau. Ada juga yang agak mahal tapi tidak harga selangit seperti di kota-kota besar. Belajar sepanjang hari disertai cuaca yang panas di siang hari membuat orang mudah lapar dan haus. Dan di malam hari cuaca cenderung lebih dingin.  Orang yang baru datang ke sana harus lebih pandai manajemen keuangan karena tanpa terasa uang habis, efek hampir segalanya serba murah sehingga uang mudah keluar. Kegagalan manajemen keuangan membuat orang tidak bisa tinggal lebih lama.

    Masyarakat setempat juga sangat welcome dengan pendatang. Penduduk menyewakan rumahnya untuk camp, kursus, kos-kosan. Sebagian membuat warung makan. Polusi rendah karena para pelajar dianjurkan bersepeda. Ini lahan bisnis yang sangat menguntungkan juga karena para pelajar mayoritas bersepeda. Penyewaan atau penjualan dan bengkel sepeda baru dan bekas tersedia di berbagai sudut.

    Kampung Inggris juga pertemuan manusia yang bercita-cita. Pelajar sekolah, mahasiswa,  pemuda-pemudi dan bahkan yang mau S 2 dan S 3 pun berkumpul di sana. Cita-citanya berbeda tapi punya kepentingan sama, Bahasa Inggris. Terdapat energi positif di mana mereka akan saling berbagi cerita bagaimana cara mewujudkan impiannya. Pola ini terbentuk secara alami, kultural.

    Inspirator Berikutnya
    Dari perjalanan kehidupan masa muda Agung, kita dapat bercermin bahwa masa muda jangan berlalu begitu saja tanpa membekali diri dengan pengetahuan. Bagi Agung, pilihannya Bahasa Inggris, berpengetahuan tinggi tanpa perlu sarjana Bahasa Inggris di universitas. Pemuda yang lain bisa memilih sendiri sesuai dengan bakatnya . Yang terpenting ialah ada sebuah inisiatif dari pemuda itu sendiri untuk merubah diri dengan melakukan sesuatu yang ia percaya dapat membangun masa depan. Agung adalah contoh pemuda dan berikutnya andalah yang menjadi inspirator berikutnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 4 Mei 2026

  • Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

    Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

    Penemuan merubah arah pengetahuan dan dunia. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī dikenal dengan bapak Aljabar (Algebra) dan angka nol yang berkat jasanya yang luar biasa itu, kita dapat menyaksikan pengembangan teknologi seperti penemuan komputer melalui oposisi biner (0 vs 1).

    Tanpa penemuan intelektual Persia (sekarang Iran) ini, kita bisa bayangkan betapa gelapnya dunia ilmu pengetahuan khususnya Matematika. Barat yang pada masa itu di mana awalnya menggunakan angka Romawi berubah, berhasil melewati dark ages (zaman kegelapan) berkat karya-karya Al-Khwārizmī diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh cendekiawan Eropa.

    Nama Al-Khwārizmī sangat besar. Agar tidak muluk-muluk, mari kita tarik ke Indonesia terutama dunia pendidikan guru. Ansar Langnge, seorang guru Matematika di Bulukumba, Sulawesi Selatan mendapat pengakuan dan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2015 berkat karyanya pada Penggunaan Alat Peraga Tongmini untuk Meningkatkan Kemampuan Menyelasaikan Pembagian Bilangan Bulat Siswa kelas VIIB SMPN 11 Bulukumba. Ansar tidak mengubah dunia seperti Al-Khwārizmī tapi ia telah memberikan peranan yang sangat besar dalam turut merubah wajah pendidikan Matematika yang begitu sangat menakutkan di sekolah-sekolah Indonesia.

    Penghargaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada Anshar Langnge berhasil menyederhanakan Bilangan Bulat menggunakan alat peraga Tongmini.

    Pembelajaran tentang bilangan bulat yang biasanya hadir di papan tulis seringkali masih terlihat abstrak dapat tergambar lebih visual dalam bentuk alat peraga dengan harga terjangkau, lebih mudah dipahami oleh siswa. Bukankah itu mengubah kerumitan  menjadi lebih kemudahan? Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa orang yang pintar itu adalah orang yang mampu menyederhanakan persoalan rumit menjadi sederhana. Guru intelek yang seperti Anshar mampu menjawab persoalan tersebut.

    Setiap siswa-siswi berprestasi mandapatkan kehormatan untuk hadir di tengah lapangan dan mendapatkan apresiasi dari Ansar Langnge, Kepala Sekolah. Hal ini melahirkan kebanggaan bagi sang juara dan motivasi bagi pelajar lainnya untuk turut berjuang meraih prestasi.

    ”Berapa orang Sulawesi-Selatan yang mendapat penghargaan?”, tanya penulis sembari menatap piagamnya. “Saya satu-satunya guru dari Sulawesi Selatan berangkat Yogyakarta untuk menerima penghargaan itu”, katanya dengan suara tenang. Sosoknya yang ramah, murah senyum dan pandai bergaul menambah kesan bahwa ia sama sekali bukan guru killer (menakutkan. Diambil dari Bahasa Inggris: pembunuh). Dari “satu-satunya”, terbetik sebuah kritik dan harapan. Kita masih banyak kekurangan guru yang mau berkreasi meskipun Kementrian Pendidikan Pendidikan Nasional telah membuka ruang untuk berkarya. Padahal, itu adalah peluang besar untuk menaikkan kwalitas dan karir guru.

    Sosok Ansar Langnge yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selama dalam kepemimpinannya, sekolah ini makin terus meningkatkan jumlah siswa siswi berprestasi mulai dari lokal hingga nasional.

    Ansar kini menjabat (Kepsek) Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, sebuah sekolah lokal terbaik dari generasi ke generasi. Perpaduan antara sosok Kepsek inovatif dengan siswa-siswi berbakat menambah daya ledak kemajuan sekolah ini. Karena begitu banyaknya yang berprestasi, ia mengatakan tiap minggu, maksudnya Senin di hari upacara, ada proses penghormatan kepada siswa siswi yang berprestasi akademik dan akademik meliputi juara tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional. Bagaimana bisa sehebat itu? Menurutnya, sekolah melakukan pemetaan yang terstruktur dan rapi pada pengenalan pada bakat dan minat siswa dan kemudian mendorong siswa tersebut mengikuti lomba.

    Ansar Langnge juga aktif membangun jaringan dan memperkuat ikatan persaudaraan. Pada foto ini, ia melantik IKA (Ikatan Alumni) SMPN 1 Bulukumba, 2026.

    Bangunan fisik sekolah yang megah dilengkapi segala fasilitas pendukungnya—Betapapun itu super penting—memang menjadi kebanggaan, digembor-gemborkan sebagai sebuah kemajuan mentereng tapi apa guna semua itu bila otak siswanya kosong? Sekolah sekedar sebagai alat legitimasi mendapatkan ijazah, pemikiran mundur layaknya dark ages, masa kelam Eropa. Sekolah bukan iklan hotel mewah bintang lima. Iklan terbaik sekolah adalah bukti peningkatan kwalitas sumber daya manusia yang dapat meyakinkan para siswanya menuntut ilmu itu sangat penting agar punya masa depan.

    Banyak lemari berisi Piala juara siswa siswi SMPN 1 Bulukumba di ruang Kepala Sekolah.

    Bila barat berinisiatif mengejar ketertinggalannya dengan menerjemahkan karya Al-Khwārizmī dan kemudian diterjemahkan ke segala bahasa, apakah karya Ansar Langnge itu dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah dan Pusat untuk diterapkan di sekolah?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 3 Mei 2026

  • Children’s Leadership Training

    Children’s Leadership Training

    Adam was the star that night .
    He has gained the trust to lead two of his classmates, Abizar and Sirin. When asked by the teacher to freely choose a lesson, Adam said, “Lesson 1 to 10.” The teacher responded, “You’re overdoing it, Adam. You know your friends have understood those lessons.” He thought for a moment, “Lesson 11 to 20.” That was also too easy, but because Adam was the one we were training to lead, whatever he determined was simply agreed upon.

    At the beginning of reading lesson 11, he immediately read several sentences. His reading speed was difficult to follow. For that, he received a suggestion to read slowly so that his classmates could follow correctly. If there was a mistake in reading, Adam only laughed without making any correction. They all seemed to want to finish their reading quickly to get playtime.

    Adam’s desire to speed up the reading did not go smoothly. He was the one who received the reprimand, not the students who made the mistakes. A leader must be able to direct the people they lead, but for Adam, that had no effect at all. He was merely proud to be appointed as a leader with the consideration of being more fluent and having finished the Basic Reading book. If someone is not fluent in reading, that is each person’s private business, that’s not Adam’s responsibility.

    When it was time to break, Adam played on an Android. Not long after, he studied a storybook, the second book which was his main task. It was a bit difficult for him to switch back to the book. With a bit of firmness, he put the Android into his bag. The story title ‘In a Department Store’ he completed well with his same-level classmates. After that, all students asked for a rest. It turned out, all the children who brought Androids wanted to play games again.

    This was actually quite fair. There was a time for study, there was a time for Android. Unfortunately, if most children bring Androids, the social interaction among them would decrease because they all focused on their Androids. They usually suggested making a game, but with the Androids in their hands, they had no more suggestions and even though the teacher gave a review, it was rejected. The children who did not bring Androids gathered to follow Adam. Here, Adam felt like he truly became a leader.

    Leadership can be designed in a learning environment started from the smallest things like what Adam experienced. Children indeed do not yet understand the duties and responsibilities of a leader and still need to be under supervision while leading. It is the time in the process that will make him understand why he is chosen to be a leader. And when they grow up later, they will understand the importance of leadership training that is taught culturally at class.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Thursday, April 30, 2026