Hancurkan Pembelajaran Menyiksa Anak

Konsep bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain bagi anak-anak itu tidak pernah lekang ditelan oleh zaman. Kebutuhan kodrati anak-anak adalah bagaimana mereka bisa bermain, sedangkan pemikiran orang dewasa atau orang tua yang sadar pendidikan adalah bagaimana anak-anak bisa belajar, terdidik. Perbedaan ini sering kali dipertentangkan. “Kalau tidak mau pergi belajar, kamu akan mendapatkan hukuman,” kata seorang ayah kepada anaknya. Sang anak takut dan terpaksa, tidak mempunyai pilihan lain—sebenarnya ia bukan tidak mau belajar, tetapi ia tidak tertarik dengan kelas yang membosankan.

Apakah ada jalan tengah? Dua arus pemikiran ini tidaklah mutlak harus berbenturan, dibagi dalam dua kutub yang bertentangan. Dengan menggabungkan antara kepentingan orang dewasa dengan dunia anak yang sangat senang bermain, itu dapat membuat metode mengajar yang ramah dalam mengembangkan otak anak-anak: belajar dan bermain saling beriringan.

Memaksa anak duduk diam menghafal materi di bawah bayang-bayang ancaman adalah bentuk penyiksaan psikologis yang justru mematikan fungsi memori otak mereka. Oleh karena itu, rutinitas kelas yang kaku harus segera dirombak melalui pendekatan rekreatif yang mampu memulihkan kesiapan belajar anak secara tepat dan bijak. Ice breaking secara harfiah berarti “memecahkan es” adalah sebuah istilah yang sangat populer untuk memecahkan kebuntuan dalam memulai pembelajaran, mencairkan suasana. Permainan ini biasanya singkat karena tujuan utamanya mengembalikan konsentrasi belajar. Apakah permainan bisa panjang? Sangat memungkinkan. Strategi yang paling jitu dengan cara menghubungkan ice breaking dengan pelajaran yang sedang diajarkan.

Anak-anak mendengarkan dan menyanyikan lagu days of the week (hari-hari dalam seminggu). Lalu, mereka menyebutkan nama-nama hari itu. Memicu kepercayaan diri anak pun ditumbuhkan. Satu per satu maju menulis di papan tulis untuk menuliskan apa yang mereka sebutkan dalam bahasa Inggris. Setelah tuntas, mereka bermain secara berkelompok. Kata ‘nama hari’ dimasukkan dalam kalimat. Misalnya, “Saya pergi ke sekolah pada hari Senin” dalam bahasa Inggris juga.

Hal lainnya, kumpulan kertas terpotong-potong yang berisi beragam kosakata disusun menjadi kalimat. Apakah ini cukup? Cukup apabila anak-anak sudah mengerti isi pelajaran, bukan permainan. Sebaliknya, karena ini menyenangkan, permainan yang lebih seru akan dibuat lagi bagi pelajar yang belum mengerti dengan baik, sedangkan bagi pelajar yang telah mengerti bertugas membantu memahamkan isi materi; dengan demikian, egoisme kecerdasan pribadi dikikis dan berubah menjadi kepedulian kepada sesama rekan. Ia bangga memperoleh kepercayaan guru dan belajar bertanggung-jawab turut aktif mencerdaskan orang-orang yang berada di sekitarnya. Sementara pelajar yang sedang berusaha memahami itu mendapatkan informasi tentang cara mengerti isi pelajaran. Keakraban sesama pelajar pun terasa semakin erat, saling mendukung dan mencerdaskan.

Kurikulum Rumah Belajar Bersama (RBB) sangat mendukung kreativitas guru dalam menorobos kemustahilan, bertentangan penuh dengan model kurikulum yang kaku. RBB Tanete menikmati cara belajar cerdas di atas. Miss Fathy Cahyadi dipercaya sebagai ujung tombak RBB Tanete juga mempunyai segudang ide ‘ice breaking’ yang dapat diterapkan mulai dari awal hingga akhir pembelajaran di mana materinya saling berkaitan. Pengenalan tentang hari berlanjut dalam bentuk percakapan. Ia bisa bertanya langsung ataupun para pelajar saling berpasangan menanyakan, “what day is today, what day was yesterday, and what day will be tomorrow?” (Hari apa hari ini, hari apa kemarin, dan hari apa besok?).

Ketika para pelajar masih belum puas, tambahan pertanyaan, “What day was the day before yesterday and what day is the day after tomorrow?” (Hari apa dua hari yang lalu dan hari apa dua hari ke depan?). Keberlanjutan pelajaran yang tersistematis tiada henti yang bukan hanya happy ending (berakhir dengan bahagia), melainkan from happy starting to happy ending (dari awal hingga akhir bahagia).

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 10 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *