Seorang rekan di Jawa berkesempatan memberikan pelatihan tenses di luar kepala kepada pelajar di daerah Bulukumba melalui zoom. Saya membaca pesannya ketika masih berada di Desa Darubia untuk urusan tulisan tentang perahu tradisioanal. Saat sore hari, saya sudah berada di kota dan kerkomunikasi dengan rekan-rekan pengajar untuk mengetahui beberapa orang pelajar berbakat dapat bergabung lima orang masuk dalam daftar. Barulah setelah itu, saya yakin dan menghubungi Salma Minasaroh bahwa kegiatan zoom di malam hari dapat dilaksanakan.
Sore itu juga, dua orang pelajar yang masuk dalam daftar hadir di lingkungan belajar kami. Saya langsung mengajaknya me-review tenses termasuk menghapal irregular verbs sebagai antisipasi beragam soal yang akan keluar. Kemudian, beberapa waktu berlalu. saya berkata, “Kalian boleh istirahat kalau sudah merasa yakin dengan kemampuan diri kalian. Kalau belum, saling berlatihlah sesama rekanmu,” kataku. Ungkapan ini mengajak mereka memilih yang mereka anggap terbaik, tidak ada paksaan. Mereka tetap belajar hingga menjelang Maghrib.
Di malam hari, kelima pelajar yang disebutkan di atas hadir semua. Ada yang mengagetkan. Ternyata jumlah peserta enam orang. Ini karena nama Aska; satu nama yang dimiliki dua orang pelajar. Kedua orang itu datang. Karena ini masih latihan, saya menerima mereka semuanya. Siapa pun mereka, mereka mempunyai keberanian untuk hadir meskipun pada akhirnya, salah satu dari kedua anak ini kewalahan menghadapi soal di zoom. Saya melihat kejadian itu dan seoarang wajah yang tampak kebingungan saya beri pilihan, mau ikut lanjut zoom atau keluar zoom untuk belajar tenses. Pilihan dia adalah berlatih tenses. Itulah yang saya ajarkan padanya agar kedatangannya tidak sia-sia.
Sementara itu, para pelajar yang sedang zoom sekadar saya lirik sesekali saja. Miss Salma memberikan soal tenses secara acak. Ada yang terbatata-bata dan ada pula yang lancar dalam merespon jawaban. Yang saya ingin telusuri lebih jauh nantinya adalah apakah model pelatihan ini lebih memotivasi mereka belajar atau tidak. Saya malah berharap bahwa para pelajar itu kebanyakan tidak sanggup menjawab soal karena agar mereka tahu masih banyak hal yang mereka belum ketahui. Soalnya, mereka selalu mengatakan bahwa pelajaran sekolah itu terlalu mudah. Dengan mendapatkan kesulitan, mereka tidak gampang menganggap remeh pelajaran.
Pembelajaran melampaui pelajaran sekolah itu memang penting, tetapi yang lebih penting lagi menciptakan tantangan yang lebih besar agar para pelajar tidak mudah menganggap remeh pelajarannya. Memberikan tantangan memaksa mereka harus berpikir lebih cerdas dalam menyelesaikan masalah. Kita sebagai pendidik cukup mengukur saja seberapa besar masalah yang diprediksikan mampu mereka selesaikan: sesuai kemampuan daya tampung otak.
Beruntung, cara berpikir demikian ini tidak saja dimiliki oleh kami di Rumah Belajar Bersama (RBB). Salma, pendiri lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah, juga menerapkan hal yang sama. Ia memberikan beberapa arahan dalam menjawab soal yang benar, bukan memberitahu jawaban sehingga pelajar itu mampu menemukan jawaban menggunakan pikiran mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka berproses mengenali kualitas diri mereka sendiri. Mengutip Ali bin Abi Thalib, “Siapa yang mengenal kualitas dirinya, niscaya dia akan selamat.”
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 8 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan