Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Mengabdi untuk Rakyat Desa di Akhir Pekan

    Mengabdi untuk Rakyat Desa di Akhir Pekan

    Kebutuhan belajar bagi rakyat di desa segera terpenuhi bila ada kesadaran dari rakyat itu sendiri. Kaum terdidiknya harus turun langsung dan hidup bersama rakyatnya untuk mengetahui masalah dan menyikapinya.

    Fajar Hamzah alias Mr. Ancha pemuda Desa Barugae di Kecamatan Tanete, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan memang tidak tinggal di desanya melainkan di Kota Bulukumba. Ia bekerja sebagai tenaga pendidik di Rumah Belajar Bersama (RBB), Senin sampai Jum’at. Pada hari liburnya yaitu Sabtu dan Minggu, ia meluangkan waktu pulang kampung. Ia mengamalkan ilmunya dengan mengajak warga desa yang masih sekolah untuk belajar

    Kehadiran Mr. Ancha yang menggunakan kurikulum RBB yang dikombinasikan dengan pengalamannya mengajar memudahkan rakyat di desanya mampu mengakses pengetahuan sebagaimana pelajar di kota.

    Malahan, pelajar desa mendapatkan manfaat lebih karena anak-anak yang belajar itu tidak diminta mengeluarkan duit. Gerakan amal tanpa menarik pembayaran ini sengaja dibuat untuk menarik perhatian rakyat agar lebih sadar pada pendidikan, tidak merasa khawatir atau terbebani di tengah keadaan ekonomi yang serba sulit.

    Bila pada pertemuan perdana minggu lalu, pelajar desa itu belajar bahasa Inggris, minggu kedua ini, peminat pelajar pun makin berkembang. Beberapa anak tertarik belajar matematika. Oleh karena itu, Modul Perkalian dan Pembagian ala Metode 40–pengulangan latihan tulis dan lisan minimal sebanyak 40 kali agar pelajaran dipahami di luar kepala–dari RBB langsung diserahkan kepada Mr. Ancha untuk dibagikan kepada siapa pun yang berminat.

    Bahasa Inggris dan matematika untuk tingkatan dasar sengaja diberikan karena itulah yang menjadi masalah utama anak-anak. Untuk tindak lanjut pada materi yang tingkat menengah dan atas akan diajarkan sesuai perkembangan pelajar. Intinya, bila pelajaran dasar tersebut dituntaskan, dengan sendirinya materi pelajarannya meningkat.

    Jadi, persoalan kurikulum pendidikan bukanlah masalah. Justru yang menjadi masalah adalah apakah ada warga terdidik desa yang juga mau turut terlibat agar Mr. Ancha tidak berjuang sendiri? Apakah minat pelajar untuk ingin tahu lebih banyak terus tumbuh? Apakah kita mempunyai gagasan baru untuk turut serta menyukseskannya?

    Zulkarnain Patwa
    Sabtu, 1 Agustus 2026

  • Kreativitas dan Inovasi Pendidikan dari RBB Tanete

    Kreativitas dan Inovasi Pendidikan dari RBB Tanete

    Perpaduan speaking and grammar (bicara dan tata bahasa) dikemas dalam bentuk game dan percakapan diolah dengan baik oleh Miss Fathy. Game penuh dengan kalimat acak simple present pada nominal tense di mana pelajar yang telah dibekali teori dilatih berpikir mandiri mengatur kalimat menjadi terstruktur. Tiap kalimat diucapkan dengan suara lantang, diperdengarkan ke seluruh pelajar.

    Penguatan pada penggunaan be—am, is, are—bukan lagi sebatas kebenaran karena sering mengucapkan dengan benar tetapi berdasarkan pemahaman. Konsekuensi yang mengikuti adalah kesesuaian subjek dalam hal ini pronoun (kata ganti) dengan kata kerja “be” tidak bisa ditawar-tawar. Ini memang sedikit rumit. Miss Fathy tidak kehabisan akal. Ia menguatkan penjelasannya menggunakan gambar. Pandangan mata sangat membantu memahamkan apa yang didengar dan kemudian diucapkan baik secara perorangan ataupun bersama-sama.

    Kreativitas tidak hanya berhenti sampai di situ. Para pelajar pun memperoleh soal esai. Segera setelah menyelesaikan soal “Peradaban tulis” ini, pembahasannya dibarengi dengan “peradaban lisan.” Target utamanya pada grammar adalah pemahaman seluruh struktur perubahan tenses di luar kepala.

    Kemudahan dalam meruntuhkan materi simple ini akan terus berkembang dan diuji pada materi progressive, perfect, dan perfect progressive, pelajaran sekolah tingkat SMP dan SMA. Bercermin dari metode pengajaran yang fun di atas, para pelajar sekolah dari segala tingkatan menikmati proses belajar ini. Terlebih, Rumah Belajar Bersama (RBB) baik di kota Bulukumba dan RBB di Tanete yang dipelopori oleh Miss Fathy sama-sama berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa tenses bisa dipahamkan kepada mayoritas para pelajar SD. Namun, sebelum melangkah jangkauan yang lebih luas itu, pembuktiannya terlebih dahulu diterapkan kepada pelajar RBB sendiri.

    Kreativitas dan inovasi yang terbukti efektif di lapangan—bukan di atas lembaran kertas laporan—diterima sebagai solusi dari kebuntuan pelajar kita mempelajari bahasa Inggris. Berbagai kesulitan belajar yang dihadapi pada pelajar kita selama ini sudah saatnya diberikan jawaban dalam bentuk tindakan yang konkret dengan mencontoh hal-hal positif yang kita temukan di lingkungan sekitar.

    Bukankah mengambil manfaat kebaikan dari hal yang baik itu baik?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 31 Juli 2026

  • Penulusuran Ruang Belajar Terbaik

    Penulusuran Ruang Belajar Terbaik

    Sebuah kalimat seakan menghilangkan rasa lelah guru dalam berjuang. “Mauka (baca: saya mau) juga kuasai tenses,” kata Izzatunnisa. Ide ini tiba-tiba saja terucap dari mulutnya setelah ia memimpin lomba penjumlahan berbahasa Inggris.

    Sebelum terjadi kesepakatan berhitung, Nisa sudah mengatakan bahwa ia tidak mau membaca, diskusi, ataupun latihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan). Itulah mengapa kelas dimulai dengan game, bermain kartu. Beruntung, Nisa paling pintar di antara teman-temannya yang hadir sehingga ia tidak diperkenankan menjadi peserta melainkan menjadi juri sekaligus pengendali kartu untuk penjumlahan. Ia bangga dengan posisi itu.

    Beberapa waktu setelah game itu usai, Nisa meminta untuk divideo secara live (siaran langsung) pada Future Progressive and Past Future Progressive dengan segala perubahan kalimat disertai pergantian subjek. “Kalimat tenses itu cuma dibolak-balik saja,” ungkapnya dengan penuh percaya diri. Ia melewati tahapan ini dengan mulus.

    Anak kelas 4 SD ini telah menyelesaikan delapan tenses dari enam belas tenses yang wajib ia kuasai. Untuk menyelesaikan delapan tenses berikutnya di perfect dan perfect progressive tinggal menunggu waktu. Nisa sudah punya niat yang kuat, bacaan berbahasa Inggrisnya pun sudah banyak dan kemampuannya menemukan alur yang tepat pada perubahan kalimat yang baru saja ia praktikkan.

    Dalam waktu dekat, ia diprediksi akan melakukan loncatan belajar yang sangat pesat mengingat rekan-rekannya yang pintar menjawab soal-soal di sekolah dan sebagian dari pelajar yang menguasai tenses telah meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris SD tingkat nasional yang titik beranjaknya dari penguasaan tenses. Guru juga telah berjanji bahwa apabila Nisa berhasil menuntaskan seluruh tenses, ia akan memperoleh pelatihan dasar-dasar soal olimpiade.

    Untuk memaksimalkan potensi anak seperti Nisa perlu kesabaran ekstra. Asse Icha, keponakan penulis, pernah berguru ke Ust. Saefuddin, guru Math Master dan penemu sempoa 99 di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Waktu itu, penulis melihat Icha tidak menuliskan apa pun di buku catatannya pada pelajaran cara hitung cepat yang baru saja diajarkan padanya. “Icha, catat itu. Nanti kamu lupa,” kata penulis. Icha hanya terdiam, menunjukkan wajah kurang simpatik atas teguran itu.

    Melihat kondisi itu, Saefuddin langsung menengahi. “Tidak usah diganggu. Biarkan saja. Saat Icha berada di dalam kelas, itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Kalau dia tidak paham, saya ikutkan dengan doa.” Kata “doa” langsung menyadarkan penulis bahwa guru tersebut menggunakan dimensi spiritual dalam mengamalkan ilmunya. Ia menciptakan kondisi senyaman mungkin buat pelajarnya. Dan Icha merasa betah.

    Kelancaran Nisa dalam membolak-balikkan kalimat Future Progressive tersebut tentu tidak terjadi begitu saja. Memotret pengalaman berharga dari Pare, penulis sebelumnya telah mengantisipasi kendala belajar anak-anak dengan membuatkan kotak tenses berisi perubahan kalimat dalam bentuk kertas tebal di-laminating plastik agar tidak mudah rusak–sebelumnya hanya kotak kosong–guna memudahkan pelajar yang catatannya berhamburan. Cara ini efektif. Malahan, hampir semua anak meminta agar kotak tersebut bisa dibawa untuk dipelajari di rumah masing-masing.

    Usaha itu memang tidak mengkhianati hasil. Manusia kadang kala lupa sehingga berhenti pada saat selangkah lagi menuju sukses. Karena umumnya tidak tahu “selangkah menuju sukses” itu, berjuang itu tidak boleh berhenti. Urusan lainnya, kita serahkan kepada Allah SWT. Siapa yang dapat memprediksi Nisa tiba-tiba saja berniat menguasai tenses yang merupakan pelajaran tingkat SMP dan SMA?

    Sejatinya, tugas kita sebagai pendidik hanyalah terus bergerak tanpa henti—menyediakan kotak-kotak tenses baru atau alat peraga yang sesuai materi pelajaran, menciptakan kenyamanan, dan merawat niat belajar anak—hingga langkah kecil mereka tiba-tiba menjelma menjadi loncatan sukses yang tak terduga.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 31 Juli 2026

  • Catatan Dua Jendela

    Catatan Dua Jendela

    Semasa mahasiswa, Catatan Pinggir (Caping) pernah saya beli mulai dari jilid 1 sampai 7. Saya baca, tidak semuanya, mayoritas. Namanya juga Caping, tulisan itu bebas ke mana-mana, tanpa beban memasukkan informasi yang penulis suka, memberitahu cerita lampau yang terlupakan. Menyambung rangkaian paragraf yang entah bagaimana caranya bisa terhubung. Mengagumkan.

    Namun, saya pikir itu bacaan santai saja. Sesekali tulisan dahsyat Goenawan Mohamad itu saya kejar di akun Facebook-nya. Dapat. Daya kejutnya tidak pernah hilang. Justru, yang membuat saya terkejut adalah buku yang saya beli dahulu hilang. Saya anggap biasa saja. Ada yang suka, silakan. Silakan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pencerdasan diri dan orang di sekitar.

    Masalah hadir ketika saya melatih diri fokus menulis setiap hari, minimal satu esai. Tulisanku bebas, suka-suka saja. Yang penting, ada tulisan. Kalau pas lagi ada inspirasi, bagus. Kalau tidak, saya buat sendiri inspirasi agar konsistensi menulis tidak putus. Ini telah berjalan selama empat bulan. Saya pikir, kok saya merasa penting membaca lagi Caping itu. Saya kembali mengejarnya, membeli Caping 13, 14, dan 15.

    Apa yang ingin saya cari? Saya pun masih tidak tahu. Saya ingin membacanya saja. Saya memang ingin mengumpulkan tulisanku itu menjadi buku, tidak sehebat Catatan Pinggir. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, betapapun saya cukup rajin membaca, saya merasa masih sangat miskin kosakata dan ingin memperkaya melalui pendekatan Caping. Siapa tahu, saya bisa juga menuliskan hal-hal sederhana dengan untaian kata yang menawan.

    Semalam jelang dini hari, saya membaca Caping 15 selama hampir dua jam. Pada bagian awal yang biasanya disebut Kata Pengantar didahului Kata Penutup. Goenawan menulis, “46 tahun, 2.027 tulisan, 15 jilid buku—dan rubrik Catatan Pinggir di majalah Tempo pun beristirahat. Saya memutuskan untuk tidak menulis lagi setiap minggu.” Caping memang telah ditutup tetapi esai penulis kesohor kita ini tidak berhenti meskipun tidak panjang lagi. Kita tetap bisa menikmatinya tanpa harus menuntut beragam ide dihamparkan dalam satu esai. Semoga semua itu juga dapat terdokumentasikan seperti Caping.

    Saya sendiri pun sedang berjuang untuk mampu menggenapkan tulisan menjadi sebuah buku. Catatan harian berserakan mungkin saja dapat berguna bagi orang lain. Tidak ada niat untuk menyusun alur sistematika penulisan layaknya buku resmi yang dibagi dalam beberapa bab. Bagiku itu cukup seperti Caping, kumpulan judul dalam satu buku. Karena keseharianku bergelut dengan dunia pembelajaran bahasa Inggris, banyak hal yang kutulis erat kaitannya dengan pembelajaran bahasa Inggris. Jadi, sepertinya itu lebih tepat bila buku itu diterbitkan dalam versi dwibahasa: Indonesia dan Inggris. Satu buku cukup untuk memulai.

    Masa mahasiswa menikmati Caping 1 sampai 7 telah lama berlalu. Caping 15 pun berakhir. Para penulis yang lebih muda terinspirasi, bukan dengan niat untuk melampaui Goenawan Mohamad namun mengikuti jejaknya mengabadikan sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini. Kehidupan dicatat, pelajaran untuk kita semua.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 30 Juli 2026

  • Standar Juara Olimpiade Inggris di RBB

    Standar Juara Olimpiade Inggris di RBB

    Ketika guru sedang asyik duduk santai menyaksikan seorang pelajar bernama Nabila menyetor pemahaman tenses di luar kepala pada materi perfect progressive, Audrey, anak yang baru saja tiba di kelas tiba-tiba berkata, “Mister, saya juga mau ikut olimpiade bahasa Inggris.” Guru menyambut, “Itu bagus, Audrey,” balas guru, “tapi ada syaratnya, kuasai tenses di luar kepala lebih dahulu. Setelah itu, kamu bisa dapat materi olimpiade.”

    Audrey yang dengan terus terang mau ikut olimpiade bahasa Inggris juga. Ia kini lebih siap untuk belajar lebih tekun lagi.

    Audrey kemudian mendekati Adeeva yang pernah meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris KOMPAS pada Juni 2026. “Apa yang perlu dipelajari kalau mau ikut olimpiade?” tanya Audrey ke Adeeva. “Kuasai saja tenses,” jawab Adeeva. Adeeva, yang saat ini baru naik kelas 5 SD, telah memahami seluruh struktur tenses sewaktu kelas 4 SD.

    Sebenarnya, tenses itu hanyalah syarat yang dibuat agar pelajar lebih peduli pada akar-akar pengetahuan yang paling mendasar. Ini adalah standar aman untuk memudahkan memahami teks bacaan dan soal jebakan grammar (tata bahasa). Tenses tentu saja tidak cukup tetapi itu adalah pengantar utama untuk mengerti materi lainnya. Misal, bagaimana memahamkan conditional sentences, question tag atau dasar-dasar clauses yang menjadi bahan soal olimpiade bila tidak mengerti tenses? Itu pasti sangat sulit.

    Nabila, Audrey dan rekan-rekan kelasnya pun fokus pada materi tenses. Adeeva bertindak membantu pelajar yang kesulitan menyusun perubahan kalimat. Hal ini memudahkan guru dalam mengajar karena tidak semua kebingungan pelajar ditimpakan ke guru. Sebagian anak bertanya ke Adeeva sehingga pelajaran berjalan lebih efektif.

    Dari sekitar sepuluh orang, mayoritas saat ini masih berada pada setoran pemahaman materi simple. Melihat kondisi kelas yang sedang kondusif karena semuanya tertarik berlatih tenses, dibuatlah langkah percepatan di mana tiap pelajar menyetor minimal dua tenses. Cara ini efektif membuat mereka lebih banyak belajar daripada bermain. Waktu mereka lebih banyak digunakan untuk mengejar target yang diberikan.

    Dengan berbekal kotak kosong tenses, tiap anak menyetor tenses di luar kepada dan disiarkan secara live (siaran langsung). Pada foto adalah Izzatunnisa, kelas 4 SD.

    Karena tenses bukanlah hal yang mudah bagi pelajar SD, guru memberikan pilihan: setoran dapat dilakukan secara perorangan atau berpasangan. Maksudnya, anak-anak yang masih sulit membayangkan perubahan kalimat dengan benar dapat berlatih dengan pasangannya. Strategi ini cukup jitu. Sebagian kecil memilih belajar sendiri, percaya diri bisa tanpa bantuan orang lain. Anak-anak yang merasa belum lancar memilih rekan yang mereka anggap lebih pintar agar bisa mengikuti atau mengajak best friend-nya untuk belajar bersama karena merasa lebih nyaman. Belajar sesama rekan sebaya pun berlaku.

    Latihan bersama sebelum tampil di depan kamera.

    Dalam lima belas menit, mereka berlomba-lomba mengacungkan tangan untuk tampil lebih awal di depan kamera live (siaran langsung) di akun Facebook RBB. Alasannya, mereka ingin cepat keluar main dan menyatakan diri sebagai bagian dari anak yang sanggup mengerti satu bagian tense. Mereka lupa bahwa mereka masih harus menyetor satu tenses berikutnya. Tapi paling tidak, mereka mempunyai spirit, kemauan, dan bukti kemajuan belajar. Anak-anak SD sekarang ini berpeluang besar memahami tenses.

    Keyakinan terhadap pembelajaran ala RBB ini bukan sekadar cara mengamankan agar para pelajarnya lebih banyak berprestasi di tingkat nasional melainkan sebuah cara agar terdapat pondasi yang kokoh sehingga bekal bahasa Inggris yang mereka pelajari dapat digunakan di berbagai macam dimensi kehidupan sesuai kebutuhan dari pelajar tersebut. Dari tenses, itu bisa, pengetahuannya bertanggung-jawab. Percayalah!

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 29 Juli 2026

  • Seni Mengajar dan Belajar Bahasa Inggris

    Seni Mengajar dan Belajar Bahasa Inggris

    Anak-anak baru saja mendapatkan pelajaran serius berupa simple present pada verbal tense dengan menggunakan subjek I, you, they, we dan he, she, it. Pelajaran ini cukup menguras energi karena kedua penggolongan subjek tersebut mempunyai struktur kalimat yang berbeda. Terlebih, mereka diminta tampil satu per satu setelah melakukan praktik secara bersama-sama.

    Begitu materi melelahkan itu usai, permintaan keluar main pun bergema. Guru menanggapi dengan sangat baik, memberikan waktu istirahat selama lima belas menit. Cuma saja, mereka tidak dibolehkan lagi bermain-main sambil berlari ke mana-mana. Selain bisa mengganggu kelas lain yang sedang belajar, mereka seringkali berlari sambil berteriak-teriak. Mereka sepakat dan membuat permainan yang tidak menciptakan kebisingan berlebihan.

    Sewaktu jam bermain selesai, guru bertanya, “Apakah kalian masih mau belajar tenses?” Dengan serentak, anak-anak menjawab, “Tidak.” Pertanyaan lain menyusul, “Kalian mau membaca?” Jawaban mereka tidak berubah, “Tidak.”
    “Baiklah kalau begitu,” balas guru yang tidak ingin memberikan beban pelajaran. “Apa yang kalian inginkan?”
    “Main games,” ungkap anak-anak itu dengan semangat.
    “Boleh,” kata guru menanggapi. “Kalian bermain kartu. Belajar penjumlahan dalam bahasa Inggris.”
    Anak-anak sepakat.
    Aturannya, “Dua kartu ditaruh di meja. Orang yang menaruh di meja wajib menyebut tiap angka di kartu itu. Peserta yang ingin menjawab harus menjumlahkan kedua kartu itu dan wajib menyebut jawabannya dalam bahasa Inggris.”
    Singkat cerita, aturan ini disepakati.

    Tanpa terasa, mereka kembali belajar angka dalam bahasa Inggris. Kemampuan dasar-dasar berhitung sederhana pun lebih terasah. Terkadang anak-anak menjawab dalam bahasa Indonesia. Sang pemberi soal menolak untuk membenarkan meskipun jawabannya benar. Ini adalah kelas bahasa Inggris, bukan kelas Matematika.

    Seiring berjalannya waktu, menyaksikan keseruan bermain ini, guru tidak terlibat secara langsung lagi. Semua yang bermain sudah mengetahui aturan permainan dan saling mengingatkan atau menegur bila terjadi kesalahan. Kelas ini berjalan lancar.

    Sekelompok kecil pelajar lain yang masih sangat pemula turut menonton dan penasaran. “Mau ikut bermain?” tanya guru. “Tidak, Mister.” Guru mengerti bahwa anak-anak itu kurang bisa mengikuti ritme permainan karena mereka melihat kakak-kakak kelasnya itu menjawab soal dengan cepat, sementara mereka sendiri belum terlalu menguasai angka satu sampai dua puluh dalam bahasa Inggris.

    Ide membuat kelompok baru pun lahir. Para penonton itu diajak membuat kumpulan baru dan guru itu langsung turun tangan melakukan pendampingan. “Kalian sebut saja angka yang saya taruh di atas meja.” Mereka mengerti. Saat bermain, ternyata, mereka tidak butuh waktu yang lama untuk mengerti angka satu sampai sepuluh.

    Kemudian, permainan sedikit ditingkatkan. Dua buah kartu ditaruh di atas meja dan harus disebut dalam bahasa Inggris juga. Jawaban mereka lumayan bagus. Seorang pelajar yang paling cepat dalam menjawab diminta memimpin kelas. Ia setuju, memegang kartu dan menirukan cara menurunkan kartu di atas meja seperti yang dilakukan guru sebelumnya. Anak-anak pun berlomba-lomba menjawab.

    Dari dua kelas yang berbeda tersebut, semuanya mampu membuat ruang bermain dan belajar di mana mereka sendiri yang mengelolanya. Guru hanya sesekali menjadi penengah manakala terjadi keributan atau persoalan yang sulit mereka selesaikan. Karena keasyikan bermain dan tidak mau mengganti permainan ataupun pelajaran yang lain, mereka terus bermain hingga jam belajar selesai.

    Dari kejadian di atas, pembelajaran serius seperti tenses itu memang banyak menguras otak atau energi namun tidak boleh ditinggalkan karena itu adalah bahan dasar percakapan yang terstruktur serta sangat berguna untuk bacaan. Pembelajaran “tidak serius” dalam bentuk bermain telah berhasil didesain bukan sebatas bermain. Konsep yang diberikan memang dalam bentuk bermain agar belajar itu terasa lebih dinikmati, tetapi isinya adalah pelajaran bahasa Inggris plus berpikir logis yang ujungnya diucapkan dalam bahasa Inggris.

    Pada akhirnya, semuanya adalah belajar. Apakah Anda termasuk pelajar serius atau “tidak serius” alias bermain? Temukanlah cara belajar yang membahagiakan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 28 Juli 2026

  • Melampaui Kurikulum Sekolah Lewat “Kotak Kosong”

    Melampaui Kurikulum Sekolah Lewat “Kotak Kosong”

    Passive di luar kepala adalah konsekuensi logis bagi pelajar yang telah mengerti tenses di luar kepala. Alat peraga pun sama, kotak kosong. Yang membedakannya dengan tenses, kalimat pada future progressive, past future progressive, dan seluruh perfect progressive tidak dipakai dalam passive. Bahkan, dalam penjelasan karya Betty Scrampfer Azar, hanya present perfect yang digunakan.

    Rumah Rumah Belajar Bersama (RBB) memasukkan past perfect, future perfect dan past future perfect karena hal ini akan sangat berguna pada materi tindak lanjut yaitu adverbial clause khususnya conditional sentences: type 3 di mana if past perfect bertemu dengan past future perfect.

    Untuk membuktikan efektivitas kurikulum ini, RBB menerapkannya pada kelas penguatan lisan. Salah satu pelajar yang mendapatkan kesempatan ini adalah Muhammad Sandy Junandra dengan nama panggilan Andra. Ia diperkenankan berlatih pada penguatan seluruh perubahan passive karena ia telah memenuhi syarat, mengerti tenses secara utuh.

    Andra dengan sigap menyelesaikan perubahan passive secara lisan. Puas dengan capaian itu, obrolan santai antara guru dengan pelajar pun terjadi.

    Guru kelas bertanya, “Apakah Andra mau mengerti passive sepotong-potong atau seluruhnya?” Anak remaja tiga belas tahun ini berpikir sejenak. Sejurus kemudian ia menjawab, “Sepotong-potong saja Mister.” Guru mengerti bahwa anak ini sebenarnya mau istirahat. Guru lalu mengecek tingkat kelelahannya. “Apakah kamu masih sanggup melanjutkan materi?” Andra dengan jujur menjawab, “bisa.”

    Tingkat kesulitan pelajaran dinaikkan. Andra terlebih dahulu mengucapkan satu kalimat aktif (baca: tenses) dan kemudian diubah ke passive. Begitulah yang ia harus lakukan hingga seluruh kalimat aktif dan passive pada kotak kosong diselesaikan. Awalnya, ia agak kewalahan karena logika pembalikan kalimat di mana subjek menjadi objek dan objek menjadi subjek dipikirkan pada setiap pergantian kalimat, namun seiring waktu ia dengan cepat beradaptasi, mampu mempraktikkan semua kalimat. Sesekali ia salah mengucapkan beberapa kata tetapi dengan cepat ia sadar dan memperbaikinya sendiri.

    Strategi penguasaan materi di luar kepala ini berfungsi untuk dipakai dalam speaking (berbicara). Biasanya, orang yang hanya belajar grammar (tata bahasa ) tidak lancar dalam berbicara. Dengan memberlakukan tenses dan passive sebagai bagian dari praktik lisan, pelajar seperti Andra yang hanya memilih mengikuti kelas grammar ini mempunyai bekal yang baik dalam pengembangan speaking atau conversation (percakapan). Jadi, ia tidak hanya mempunyai bekal yang bagus dalam pembelajaran akademik dalam menjawab soal-soal tulisan tetapi juga mampu menggunakan struktur yang rapi dalam pergaulan berbahasa Inggris sehari-hari.

    Andra dan pelajar lainnya di RBB yang mempunyai kapasitas seperti yang dijelaskan di atas sudah punya modal besar mendalami materi Pre-Intermediate Grammar. Tenses itu semacam kunci untuk memasuki pintu depan dari sebuah rumah. Setelah membuka pintu, pelajar akan mudah mengelilingi seisi rumah, termasuk sudut-sudutnya. Salah satu bukti kemudahannya ialah Andra dengan cepat memahami passive di luar kepala. Materi yang lainnya yang meskipun mungkin tidak semudah passive akan mengikuti.

    Keberhasilan Andra membuka “pintu depan” grammar ini menjadi bukti nyata bahwa batasan usia bukanlah hambatan dalam belajar. Mampukah kita mencetak anak-anak Indonesia yang bisa mempelajari materi yang melebihi pelajaran sekolah? Andra anak kelas 1 SMP yang menurut kurikulum sekolah, passive nanti dipelajari di kelas 3 SMP.

    Catatan:
    Anda bisa menonton live (siaran langsung) Andra pada pelatihan passive di link:

    http://Melampaui Kurikulum Sekolah Lewat “Kotak Kosong”

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 27 Juli 2026

  • Spirit “Kampung Inggris” di Jalan Sunyi Bulukumba

    Spirit “Kampung Inggris” di Jalan Sunyi Bulukumba

    Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah Kampung Inggris untuk menarik perhatian publik. Berbagai lembaga pendidikan dengan sengaja menggunakan frasa ini untuk meyakinkan publik bahwa apa yang mereka tawarkan itu sepertinya sama dengan Kampung Inggris yang telah teramat populer itu.

    Tapi, tahukah kita spirit Kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Kec. Pare, Kab. Kediri di Jawa Timur dibangun? Itu adalah pendidikan berbasis kerakyatan. Karena harga yang terjangkau dengan kualitas yang sangat bagus, orang dari berbagai macam kalangan datang belajar. Ada yang sekali, dua dan bahkan sampai lima kali belajar dalam sehari. Waktu belajar mulai dari Senin sampai Jum’at, Sabtu dan Minggu libur. Mengenai materi, itu sudah lengkap—segala tingkatan pelajaran tersedia.

    Salah seorang perantau ilmu yang pernah ke Pare adalah Fajar Hamzah alias Mr. Ancha. Pemuda terdidik ini sebelum menamatkan kuliahnya di UIN (Universitas Islam Negeri) jidan Muhammadiyah Makassar, ia pernah tinggal di Kampung Inggris itu di Jawa Timur selama dua tahun di sekitar tahun 2000-an ke atas. Ia berguru mulai dari nol hingga tahapan terumit seperti TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Testing System). Ilmu itulah yang ia gunakan untuk lulus TOEFL saat mengikuti kuliah S-2 di UGM Yogyakarta serta memberikan bantuan pelatihan TOEFL kepada rekan-rekan kuliahnya yang terkendala pada TOEFL.

    Setelah meraih gelar master di jurusan Filsafat, Mr. Ancha kembali ke Sulawesi Selatan. Saat ini, ia sedang mengajar di Bulukumba, tepatnya di Rumah Belajar Bersama (RBB) di kota Bulukumba bersama rekan-rekannya yang juga alumni Pare. Seperti halnya di Pare, ia mengajar dari Senin sampai Jum’at. Di sela-sela waktu libur yaitu Sabtu dan Minggu, ia pulang ke kampung halamannya di Barugae di Kec. Tanete, Kab. Bulukumba untuk mengunjungi keluarga dan berbagi ilmu kepada anak-anak.

    Memori ketika ia sekolah di kampung masih terekam baik dalam ingatannya. Mr. Ancha sadar bahwa masih sangat banyak anak di pelosok desa yang tidak mempunyai akses belajar yang berkualitas mumpuni. Bermodalkan papan tulis dan spidol, ia mengumpulkan anak-anak kampung untuk diajak belajar. Bagaimana dengan tempat belajar? Layaknya Pare, semua tempat adalah belajar. Ancha mengajak mereka belajar di sebuah teras rumah dikelilingi pohon yang rindang di mana tiap anak membawa sendiri kursi dari rumahnya masing-masing. Kelas belajar ini menyatu dengan alam.

    Anak-anak yang di bawah umur seperti TK dan kelas 1 SD menyanyikan lagu ABC dalam bahasa Inggris. Karena anak-anak SD lainnya juga suka dan belum mahir alphabet bahasa Inggris, mereka semua bernyanyi dengan riang gembira. Ini terdengar seperti paduan suara, tetapi orang tahu bahwa ini pelajaran bahasa Inggris. Menyenangkan, kan?

    Anak-anak yang sedikit lebih besar kemudian berlatih simple present sebagai bekal untuk bahan percakapan. Nama-nama hari dan kejadian berhubungan dengan kehidupan sehari-hari lainnya juga dikenalkan. Melalui pendekatan sederhana ini, bahasa Inggris terasa tidak asing, tidak memusingkan kepala sebagaimana yang mereka dapatkan di pendidikan formal.

    Materi sederhana yang disukai anak-anak Barugae di kampung halamannya Mr. Ancha.

    Setelah beberapa kali latihan, anak-anak itu merasa sanggup mengucapkan dengan baik. Mereka pun terlihat percaya diri tampil di depan rekaman video siaran langsung di akun Facebooknya RBB. Wajah, senyum dan nada suara mereka sangat menggemaskan. Penonton tersentuh dengan semangat belajarnya. Pembelajaran ini seakan menjawab akan kebutuhan mereka terhadap hadirnya pendidikan alternatif yang telah lama mereka nantikan di kampung halamannya.

    Di balik senyum ceria anak-anak di layar kaca media sosial tersebut, tersimpan sebuah ironi besar tentang ketimpangan pendidikan formal kita. Kita tahu, tindakan kecil yang sangat berharga dari Mr. Ancha ini adalah tindak lanjut dari pendidikan kerakyatan ala Kampung Inggris; ada kesadaran untuk membantu orang lain. Ia tahu kampungnya tidak pernah tersentuh pelajaran seperti yang ia ajarkan. Ia juga mengerti bahwa pelajaran bahasa Inggris di SD tidak bisa diandalkan karena kebanyakan guru yang diminta mengajar di sekolah itu bukan berlatar belakang jurusan bahasa Inggris. Buktinya, anak-anak menyebut alphabet saja masih sangat kewalahan. Ini adalah akibat dari keputusan pemerintah untuk tidak merekrut sarjana bahasa Inggris mengajar di SD.

    Spirit berbagi pengetahuan ala Kampung Inggris inilah yang mesti perlu terus hidup di hati di kalangan orang terpelajar kita sekaligus mengambil langkah nyata agar dapat memberikan manfaat di lingkungan terdekatnya. Kesederhanaan, semangat belajar yang tidak pernah padam, dan kualitas pengetahuan yang handal mesti terus dijaga. Para alumninya yang mengerti spirit ini pasti tidak melupakan sisi humanisme yang mereka telah dapatkan, sebisa mungkin tidak berjarak dengan rakyatnya dengan jalan turut aktif mencerdaskan.

    Nah, siapa yang akan peduli pada rakyat yang mempunyai kemampuan ekonomi terbatas untuk mengakses pendidikan alternatif yang berkualitas itu? Siapa yang bertugas bila pendidikan itu bila hanya dapat diakses oleh orang yang berduit saja? Ke mana rakyat itu mengadu? Mengutip pemikiran Ali Syariati, itu adalah tugas dan tanggung jawab kaum intelektual yang tercerahkan. Mr. Ancha adalah salah seorang yang mengambil jalan sunyi tersebut.

    Akankah Kampung Inggris itu tetap melekat di hati rakyat?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 26 Juli 2026

  • Peluang Emas Pelajar RBB Tanete Menuju Prestasi Nasional

    Peluang Emas Pelajar RBB Tanete Menuju Prestasi Nasional

    Dalam sebuah diskusi, Fathy Cayadi menginginkan para pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete berprestasi tingkat nasional juga. “Saya ingin anak-anak saya juara olimpiade bahasa Inggris juga,” katanya dengan nada bersemangat. Pernyataan ini adalah tanda bahwa ia mempunyai spirit yang luar biasa dan kesiapan memberikan pelajaran di atas rata-rata kepada para pelajarnya.

    RBB di Tanete baru mulai 10 Juli 2026. Pembelajaran yang terstruktur rapi dan terukur dibuktikan dengan pemahaman Reading (Bacaan) telah mencapai lesson 20 disertai pemahaman yang baik dari para pelajarnya membuat rekan-rekan pengajar RBB di Kota Bulukumba tertarik untuk mengecek secara langsung.

    Pada pertemuan belajar kali ini (25/07), Fajar Hamzah dikenal dengan Mr. Ancha dan Mr. Agung Pratama Salassa pengajar RBB di kota Bulukumba, secara khusus mengunjungi RBB di Tanete untuk mendukung ide Miss Fathy. Target awal yang hendak dicapai adalah penguasaan tenses di luar kepala. Sesuai dengan buku Reading, lesson 20 berkutat pada simple present menggunakan be (am, is, are) yang orang Indonesia menyebutnya nominal tense. Segala bentuk perubahan simple present tersebut diajarkan dan diusahakan mampu dipraktikkan tanpa harus melihat buku catatan lagi.

    Praktik Reading dan speaking yang dilakukan pada minggu-minggu sebelumnya sangat membantu menguatkan pelajaran simple present tense ini. Ini bukan berarti materi ini tanpa kendala, tetapi kendala pada kerumitan memahamkan tense menjadi lebih mudah karena sebenarnya, para pelajar telah sering menggunakan “be” dalam kalimat. Kini, pengetahuan mereka disusun lebih tertata. Singkatnya, mereka tahu kapan dan mengapa menggunakan am, is, are dalam kalimat.

    Menurut hasil pengajaran Mr. Ancha, para pelajar cepat beradaptasi pada pembelajaran tenses dari bahasa Indonesia ke Inggris. Kelas pun kelas atraktif, terdapat kreativitas meng-explore kosakata.

    Standar Kualitas RBB
    Optimisme Miss Fathy di Tanete memiliki landasan yang kuat karena metode yang diterapkan di sana sudah teruji di RBB Kota Bulukumba.
    Karena itu, di masa akan datang, RBB di Tanete bisa melakukan hal yang sama seperti RBB di kota Bulukumba karena menggunakan kurikulum dan metode pengajaran yang sama. Sebagai gambaran dalam mencetak generasi unggul, kita dapat melihat rekam jejak para pelajar RBB terdahulu yang telah melalui proses pematangan belajar secara matang dan konsisten.

    Titik awal di mana pelajar punya peluang besar dalam bahasa Inggris tingkat akademik adalah memahami tenses di luar kepala yang tentunya disertai dengan pemahaman parts of speech (kelas kata) agar mengetahui jebakan kata pada kalimat yang dihadirkan dalam soal. Kemudian, pembelajaran rumit lainnya akan jauh lebih mudah disedekahkan.

    Andi Widya Maulidyah, alumni RBB, pada 9 Mei 2026 meraih juara 1 pada kompetisi pada Grammar Hack Competition at English Fair 2026 di Universitas Negeri Makassar (UNM).

    Seorang pelajar mahasiswa semester dua bernama Andi Widya Maulidyah, alumni RBB, pada 9 Mei 2026 meraih juara 1 pada kompetisi pada Grammar Hack Competition at English Fair 2026 di Universitas Negeri Makassar (UNM). Merujuk ayahnya Widya, dari ratusan peserta yang ikut, saingan anaknya sangat ketat karena harus berhadapan angkatan senior; 2024, 2023, dan bahkan 2022 jumlahnya hampir 300 orang. Terlebih kompetisi dilakukan hanya dengan modal tangan kosong, tidak boleh melibatkan kecerdasan AI (Artificial Intelligence). Ini murni mengandalkan kemampuan pribadi.

    Karena pondasi Widya yang kokoh dengan menamatkan beragam buku mulai dari tingkat dasar hingga intermediate dan pengantar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) selama belajar di RBB, kompetisi “tangan kosong” itu menjadi keunggulan bagi Widya. Sejak SD hingga tamat SMA, ia telah terbiasa dengan ribuan soal mulai yang mudah sampai yang sulit sekalipun. Ia telah sampai pada tahap kematangan berpikir.

    Jadi, kompetisi bahasa Inggris itu bukanlah hal yang mengagetkan. Menjadi juara 1 adalah konsekuensi logis dari hasil perjuangannya selama bertahun-tahun. Kekagetan UNM dan publik mungkin karena umurnya yang masih terlalu muda tetapi pengetahuannya sudah melampaui pembelajaran yang dipelajari di kampusnya, semester dua.

    kesuksesan metode RBB di Bulukumba tidak hanya melahirkan juara tingkat mahasiswa, tetapi juga tingkat SD, dan keberhasilan di Bulukumba itulah yang kini sedang dibumikan juga oleh RBB Tanete.

    Beberapa anak-anak RBB di kota Bulukumba yang telah menguasai tenses dan dasar-dasar grammar lainnya reading dan sering latihan soal mengikuti olimpiade bahasa Inggris. Dari proses belajar yang memenuhi standar itu, pelajar RBB bisa merebut emas pada kompetisi tingkat nasional.

    Dari sini kita dapat memetik suatu pelajaran bahwa untuk menjadi yang terbaik, kita mesti mempersiapkan materi yang berkualitas agar anak didik kita mempunyai kepercayaan diri bersaing dengan siapapun juga. Spirit yang dimiliki oleh Miss Fathy dengan mendorong anak didiknya mengikuti olimpiade sangat baik ditanamkan kepada para pelajarnya agar motivasi belajar semakin meningkat. Mereka bukan lagi sekadar belajar, melainkan membangun impian yang tinggi juga.

    Cuma saja, proses ini tidak instant. Pengetahuan yang unggul itu harus diikuti dengan ketekunan, kesabaran dan belajar mencintai apa yang sedang dipelajari. Ketika terjatuh, harus segera bangkit. Jangan meratapi kejatuhan. Jatuh adalah pembelajaran untuk tidak jatuh. Orang-orang yang seperti itulah yang bisa meraih kesuksesan.

    Widya semasa sekolah pernah beberapa kali mengikuti kejuaraan dan gagal. Ia tidak berhenti, terus berbenah diri dengan mencari titik dan menyelesaikan kelemahan dirinya. Dari perbaikan kelemahan itu, ia menjadi kuat dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik.

    Anak-anak SD juara olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional di RBB pun demikian. Mereka bertahun-tahun belajar. Meskipun telah juara, mereka tetap selalu update soal-soal olimpiade yang baru. Mereka sadar, bila tidak terus melakukan perkembangan pada diri, mereka akan tertinggal dan posisi yang terbaik itu tinggal jadi kenangan saja.

    Diskusi pengajar RBB tentang kendala yang dihadapi pelajar sekolah dalam belajar berbahasa Inggris. Mereka pun menemukan solusi.

    Para pelajar RBB di Tanete mempunyai peluang yang sama untuk berprestasi dengan RBB di Bulukumba. Ilmu dan metode pembelajarannya sama. Daya juang dan daya tahan dalam proses belajar yang berkelanjutan akan diuji melalui perjalanan waktu yang akan membuktikan segalanya.

    Menjadi juara olimpiade bahasa Inggris atau juara apapun juga itu baik namun yang lebih baik adalah ilmu pengetahuannya karena itulah yang mengantarkan pelajar kita menjadi juara dan berbuat hal-hal penting lainnya yang erat kaitannya dalam menjalani kehidupan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 25 Juli 2026

  • Sentuhan Magis Miss Fathy Menghadapi Kebuntuan Berbahasa Inggris

    Sentuhan Magis Miss Fathy Menghadapi Kebuntuan Berbahasa Inggris

    Miss Fathy Cayadi yang mendidik pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete mengombinasikan pembelajaran bahasa Inggris dengan sangat fun. Speaking, Pronunciation, and Reading (bicara, pengucapan, dan bacaan) terasa sangat mengalir seolah-olah pelajaran itu semacam permainan saja.

    Ketika kelas mulai dibuka dengan games ular tangga, para pelajar yang didominasi anak SD girang. Rasa gembira itu langsung ditindaklanjuti dengan percakapan sehari-hari berbahasa Inggris dari guru yang erat kaitannya dengan ular tangga. Otak mereka dengan serta-merta terkoneksi dengan istilah asing, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerti karena ini praktik review dari pembelajaran minggu lalu.

    Kesenangan belajar tidak berhenti sampai di situ saja. Anak-anak menyanyikan lagu English Alphabet (huruf berbahasa Inggris) dan Days of the Week (nama-nama hari dalam seminggu). Days of the week itu yang dieja dalam bahasa Inggris. Jadi, mereka mendapatkan Basic Pronunciation (dasar pengucapan) dan memori tentang hari yang lebih lama diingat karena mereka diminta mampu mengucapkan tiap huruf secara perorangan.

    Mengubah Citra Buruk Literasi Indonesia
    Pengantar di atas adalah pembuka jalan menuju pembelajaran selanjutnya, “Reading”. Ini adalah momok menakutkan. Penelitian PISA (Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional) menyatakan pelajar Indonesia termasuk bagian dari pelajar yang minat bacanya sangat rendah. Kita tidak bisa membantah penelitian itu tetapi RBB walaupun dengan sumber daya yang terbatas turut mengambil bagian untuk mengubah fakta dan citra buruk tersebut.

    Pada buku basic Reading, Miss Fathy melanjutkan lesson (pelajaran) 18, 19, dan 20. Terdapat praktik bicara dengan suara nyaring dalam bentuk bacaan percakapan. Tahap ini, materi Reading, Speaking, dan Pronunciation menyatu. Terlebih lagi, mereka belajar dasar-dasar grammar pada penggunaan be (am, is dan are) yang hadir dalam buku materi “Reading” dan cara menggunakan possessive adjective (kata sifat kepemilikan) my, her, your, etc.

    Kenapa materi “Reading” yang berisi banyak ragam pembelajaran itu tidak dianggap beban? Itu karena kecerdasan Miss Fathy yang berhasil memberikan pengantar pembuka pelajaran yang menarik perhatian. Para pelajarnya tanpa sadar masuk pada pembelajaran yang sedikit rumit, tetapi tidak dianggap rumit oleh pelajar itu sendiri. Kelas belajar sealami mungkin sehingga perkembangan tingkatan materi bukan hal yang mengagetkan lagi, biasa saja. Seperti itulah rangkuman gambaran belajar selama tiga jam pada Jum’at, 24 Juli 2026.

    Ironi Guru Formal dan Kebuntuan Pemerintah
    Penyelamatan terhadap kebuntuan dan kebutuhan berbahasa Inggris yang jauh dari pusat pendidikan atau kota seperti yang dilakukan Miss Fathy semestinya layak dicontoh. Orang-orang terdidik kita jika tidak mengambil inisiatif atau langkah cerdas, niscaya tidak akan ada perubahan yang berarti. Kalaupun ada, pasti lambat.

    Pemerintah menerapkan pembelajaran bahasa Inggris mulai di kelas 3 SD. Guru-guru sekolah di Bulukumba belum pernah mendapatkan pelatihan pengajaran bahasa Inggris dari Kementerian Pendidikan. Dinas Pendidikan Bulukumba pun belum pernah terdengar bersuara menawarkan solusi. Pada akhirnya guru sekolah yang tidak tahu bahasa Inggris diberikan beban untuk mengajar. Ketika pekerjaan diserahkan bukan pada ahlinya, hasilnya sudah pasti dapat ditebak, berantakan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Bulukumba tetapi di berbagai macam daerah di Indonesia.

    Oleh karena itu, pendidikan alternatiflah saat ini yang bisa mengambil alih peluang tersebut. Namun, ini juga masih menyisakan pertanyaan. Apakah orang-orang terdidik kita mau turun langsung mendidik generasi penerus yang ada di lingkungan terdekatnya?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 25 Juli 2026