The Real Vacation of a Danish Diving Instructor
Caoralia Liveaboard became an introduction to the diving world of Ditte Spanggaard, a Danish diving instructor working aboard the luxurious Pinisi sailing boat built in Bira, Bulukumba Regency, South Sulawesi Province in 2019. According to its official description, the name âCaroliaâ is inspired by the word “coral” and the Latin suffix â-ia,â expressing the idea of a âNation of Corals.â Ditte seems to work in a place perfectly suited to her expertise. She appears not to work in order to go on vacation, but rather to vacation together with guests who have worked hard to afford a journey aboard Coralia.
Together with Coralia, Ditte has been exploring diving destinations and marine tourism routes across eastern Indonesia, including Raja Ampat, Komodo National Park, Banda Islands, Alor, and Cenderawasih Bay.
If you are accustomed to diving, you will know how to be as relaxed as in this photograph. Photo source: Ditte.
âLast year, I worked in Una-Una in the Togean Islands of Central Sulawesi,â Ditte explained. It was an extraordinary underwater destination. âSo, I want to come back to Indonesia,â the Danish woman continued.
Based on her personal experience, Una-Una occupies the top place among her favorite diving destinations, followed by Raja Ampat, the Banda Islands, Alor, and even Timor-Leste, although it is not part of Indonesia.
For divers, marine creatures are part of the beauty that delights the eyes. As you can see, the jellyfish drift freely through the water. Photo source: Ditte.
As a diving instructor working aboard a ship, does Ditte spend more of her life at sea than on land?
For a moment, she paused in thought. âI donât know,â she answered.
âHer life is on the boat. It is understandable that her vacation time at Cosmos Bungalow in Bira is relatively short,â the writer thought. A moment later, she smiled warmly and said honestly, âEvery two months on the boat, one month off. Thatâs the cycle.â
Notice her hands. Underwater, it is impossible to communicate by speaking, so divers use sign language through hand gestures to communicate. Photo source: Ditte.
âI like Indonesia, the people, and working in Indonesia,â Ditte added.
Her presence in Bira was part of her life journey to experience natural beauty different from anything she had seen before. She also admired local culture. Unfortunately, she did not have the opportunity to visit Kajang during her stay in Bulukumba.
The indigenous Ammatoa Kajang Indigenous Community live in harmony with nature: walking barefoot, wearing black clothing, and protecting their customary forest without electricity or excessive modernization. In their tradition, anyone who cuts down one tree must plant two trees in return.
The underwater world also has its own forests in the form of colorful coral reefs. Photo source: Ditte.
According to Imam Shamsi Ali, a prominent figure from Kajang now known in New York City, the Kajang peopleâs commitment to environmental conservation has drawn international attention. They are recognized as guardians of tropical forests and as an inspiration showing how humanity and nature can live in harmony rather than in conflict.
What else makes people want to explore the world?
âI could travel the world for food,â Ditte said. âI love trying different kinds of food.â
Among Indonesian dishes, her favorite is Gado-Gado. Since she was visiting South Sulawesi, the writer suggested she try Coto Makassarâa traditional beef soup with thick spiced broth and roasted peanuts from Makassar. Ditte seemed interested in trying it.
As for Denmark, anyone familiar with the country would certainly know The Little Mermaid, the most famous statue in Copenhagen. Ditte also briefly explained the idea of a âhalf flat,â a small beautiful house in the Danish countryside. She then mentioned a unique tower in Copenhagen surrounded by larger buildings. Since there was no more time to ask further questions, the tower she referred to was perhaps The Round Tower, or RundetĂĽrn, an iconic 17th-century structure famous for its panoramic 360-degree view of Copenhagen and its spiral ramp leading all the way to the top.
Ditte with the diving life that brings happiness to her world. Photo source: Ditte.
The car from Bulukumba to Makassar was scheduled to depart exactly at nine in the morning. Aris Irfan, Manager of Cahaya Bone from Kalla Travel, invited Ditte to get ready.As a memory, we took a photograph together and promised to preserve this simple yet meaningful conversation in writingâa remembrance of a brief but pleasant friendship.
Ditte, Irfan, and the writer at the Cahaya Bone Travel office of Kalla Transport in Bulukumba. This photo serves as a memory for someone far away, preserving a meaningful moment of friendship. Photo source: Aris Irfan, Monday, May 11, 2026.
Ditte tried to make the most of her limited time on land by visiting famous places that were not included in Coralia Liveaboardâs itinerary. Perhaps this was her real vacation before returning once again to the diving worldâa world that many people would consider a dream holiday in itself.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Wednesday, May 13, 2026
Coralia Liveaboard adalah sebuah pengantar untuk mengenali dunia selam DitteSpanggaard, instruktur selam di kapal pesiar mewah dibuat dengan layar Pinisi di Desa Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 2019. Merujuk situs resminya, kata “coral” (Karang) dan akhiran Latin “-ia,” yang mengekspresikan gagasan tentang Bangsa Karang. Ditte bekerja di tempat yang tepat yang sesuai keahliannya. Ia seolah tidak perlu bekerja untuk pergi berlibur tapi berlibur bersama para tamu yang telah mencari duit untuk dapat berlibur di Coralia.
Bersama Coralia, Ditte menikmati destinasi diving dan wisata bahari di Indonesia timur dengan rute Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, Kepulauan Banda, Alor dan Teluk Cenderawasih.
Bila anda terbiasa menyelam, anda akan tahu bagaimana cara untuk bisa serileks mungkin seperti pada foto ini. Sumber Foto: Ditte.
âTahun lalu, saya bekerja di Una-Una di kepulauan Togean, Sulawesi Tengahâ terang Ditte. Itu adalah destinasi wisata bawah laut yang menakjubkan. âJadi, saya ingin kembali lagi ke Indonesiaâ, lanjut orang Denmark ini. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia Una-Una sangat spesial ditempatkan di urutan pertama dan kemudian diikuti Raja Ampat, Kepulauan Banda, Alor dan juga Timur Leste meskipun itu bukan Indonesia.
Bagi penyelam, makhluk laut itu adalah bagian dari keindahan untuk memanjakan mata. Ubur ubur bergerak dengan bebas. Sumber Foto: Ditte.
Sebagai intruktur selam yang bekerja di atas kapal, apakah Ditte perempuan yang kehidupannya lebih banyak di laut daripada di darat? Sejenak ia merenung. âSaya tidak tahuâ, jawabnya. âHidupnya di atas kapal. Wajarlah bila waktu berliburnya di Cosmos Bungalow di Bira relatif singkatâ, pikir penulis. Sejurus kemudian, ia tersenyum manis dan berkata dengan terus terang, âSetiap dua bulan saya di kapal, satu bulan istirahat. Begitulah perputarannyaâ.
Perhatikan tangannya. Di dalam laut, anda tidak akan mungkin menggunakan mulut untuk bicara sehingga komunikasi yang dibuat dalam bentuk bahasa isyarat dengan gerakan tangan: Sumber Foto: Ditte.
âSaya suka Indonesia, orang-orangnya dan bekerja di Indonesiaâ, tambah Ditte. Keberadannya di Bira adalah bagian dari perjalanan hidupnya untuk menikmati keindahan alam yang berbeda yang ia pernah lihat sebelumnya. Ia juga mengagumi budaya. Sayangnya, ia tidak sempat mengenal Kajang pada kunjungannya ke Bulukumba. Masyarakat adat Amma Toa di Kajang hidup menyatu dengan alam, dengan berjalan dengan kaki telanjang, berpakaian serba hitam, tanpa listrik atau modernisasi apapun juga tidak diberlakukan oleh Amma Toa (Kepala Adat Kajang) untuk menjaga kelestarian alamnya. Setiap orang yang menebang satu pohon harus menanam dua pohon.
Alam bawah laut juga punya hutan dalam bentuk karang yang berwarna warni. Akankah kita merusak alam bawah laut yang indah ini? Sumber Foto: Ditte.
Menurut pemahaman Imam Syamsi Ali, orang asli Kajang yang kini jadi tokoh New York AS, komitmen orang Kajang kini dikenal penjaga hutan tropis terbaik, inspirasi untuk melestarikan alam. Manusia dan alam hidup selaras dan bersinergi, bukan bertentangan.
Apa lagi hal yang membuat orang mau menjelajahi dunia? âSaya bisa berkeliling dunia untuk makananâ, terang Ditte. âSaya suka mencoba berbagai macam makananâ. Untuk makanan Indonesia, makanan favoritnya adalah Gado-Gado. Karena dia sedang berada di Sulawesi-Selatan, penulis menyarankan untuk mecoba Coto MakassarâSup daging sapi dengan kuah kental berbumbu rempah dan kacang tanah sangrai. Ia mengerti dan sepertinya tertarik untuk mencobanya.
Sedangkan mengenai Denmark, Orang yang mempelajari Denmark tentu tahu, The Little Mermaid, patung paling terkenal di Copenhagen. Ditte tertarik sedikit menjelaskan tentang Half Flat, semacam rumah kecil yang indah di tanah pertanian. âHal yang spesifik, kami mempunyai menara special yang dikelilingi menara yang tinggi. Karena waktu untuk bertanya lebih jauh tidak ada lagi, menara yang ia maksudkan mungkin saja RundetĂĽrn (The Round Tower) yang merupakan arsitektur abad 17 yang sangat ikonik, view 360° kota Copenhagen dan spiral ramp berputar 7½ kali sampai puncak.
Ditte dengan kehidupan dunia selamnya yang membahagiakan hidupnya. Sumber Foto: Ditte
Mobil dari Bulukumba ke Makassar akan berangkat tepat jam 9 pagi. Aris Irfan, Manager Cahaya Bone of Kalla Travel, mempersilahkan Ditte bersiap siap. Untuk kenangan, kami foto bersama dan berjanji akan merekam pembicaraan sederhana yang berkesan baik di hati ini untuk dijadikan tulisan sebagai sebagai kenangan persahabatan yang singkat yang menyenangkan.
Malomo Villa yang merupakan salah satu tempat beristirahat terbaik ketika Anda berkunjung ke pantai Bira. Sumber Foto: Aris Irfan.
Oh iya, Irfan juga terlibat aktif dalam dunia bahari dan punya Malomo Villa di Bira yang bangunannya semi modern yang dekorasinya hasil kombinasi jiwa seninya bersama para ahli pengrajin kayu yang handal.
Ditte, Irfan dan Penulis saat berada di kantor Travel Cahaya Bone of Kalla Transport di Bulukumba. Foto adalah kenangan pada orang jauh untuk mengingat moment persahabatan yang berharga. Sumber Foto: Aris Irfan pada Senin, 11 Mein 2026.
Ditte berusaha menikmati waktunya yang sangat terbatas berada di darat sebaik-baiknya dengan mengunjugi tempat wisata yang terkenal yang tidak masuk daftar kunjungan Coralia Liveaboard. Ini adalah liburannya yang sesungguhnya sebelum ia kembali bekerja di dunia selam di mana orang lain menganggapnya sebagai liburan.
Keistimewaan anak ini adalah di umurnya lima tahun, ia sudah lancar membaca dalam bahasa Indonesia, mengaji dan Bahasa Inggris. Berhitung sudah menjadi bagian kesehariannya karena ibunya guru Matematika. Olahraga yang ia suka adalah karate.
Namanya Afwa. Sekarang ia sudah enam tahun. Tiap kali ketemu, ia selalu minta untuk diajar. Ia suka bawa bukunya sendiri tapi kadang juga lupa. Jadi ia sering ke perpustakaan Rumah Belajar Bersama, ambil buku bacaan dan kemudian mengatakan, “Siapma Mister” (Saya sudah siap Mister). Bacaannya sudah pertengahan Basic Reading tapi kalau ia capek atau penulis lagi sibuk dimana sulit untuk mengoreksi bacaannya secara langsung, Lesson 1 sampai 10 akan jadi hiburannya. Ia sudah sangat mahir bacaan itu. Yang terpenting, setiap datang ke RBB, ada waktu untuk membaca.
Urusan berhitung, Afwa sudah sampai perkalian tujuh tapi ia merasa belum terlalu lancar. Jadi ia menawar untuk latihan lisan perkalian dua dan tiga saja. Tak mengapa ia mengikuti the law of repetition (Hukum perulangan). Perlahan lahan ia pasti akan suka perkalian tujuh, delapan dan sembilan. Bila itu tuntas, urusan matematikanya pasti terasa sangat ringan saat masuk SD nanti.
Kalau karate, sekarang Afwa agak jarang latihan setelah sakit. Mungkin ia perlu banyak nonton video karate untuk mengembalikan semangatnya. Soalnya, ia tertarik gabung karena sering nonton latihan karate.
Tahun ini, Afwa kemungkinan akan masuk SD dan akan tinggal di kampung halaman neneknya di Turungan Beru di Kec. Herlang, Kab. Bulukumba. Suasana pedesaan dekat laut akan membuatnya akrab dengan alam. Semoga orang orang yang mendidiknya nanti di sana bisa memaksimalkan bakat anak yang luar biasa ini.
Paling sedikit, bacaan buku cerita anak anak berbahasa Inggris, Indonesia dan Matematika selalu tersedia untuk Afwa. Sedangkan mengajinya cenderung aman karena neneknya sendiri adalah guru mengaji di Masjid. Bagaimana dengan hobi karate? Karena tidak ada dojo (tempat latihan) karate hobby itu sepertinya akan beralih ke berenang di laut dekat rumah neneknya.
Bertamu ke rumah Dr. Horst Liebner di Gowa, Sulawesi Selatan seolah menggugah semangatku untuk masuk lagi dalam dunia perdebatan pemikiran. Di ruang kerjanya yang teduh dikelilingi perpustakaan mini, ia menyedorkan beberapa referensi buku berbobot, sebagian isinya ia terangkan dan menjadi alasan mengapa gaya penulisannya dipengaruhi sastra.
Saya kaget betul dengan hobinya pada sastra. Seorang tokoh yang dikenal bukan hanya jago teori tentang perahu tradisional tapi juga seorang pelaut ulung yang suka “terus terang” alias apa adanya pada hal yang masuk akal atau tidak masuk akal ternyata
memasukkan lagu music wreck yang dengan senang hati ia tempatkan di halaman depan thesis S 3-nya. Banyak bagian lembaran buku yang ia perlihatkan dan terangkan mengapa penulisannya seperti sekarang ini.
Semua ini berawal dari pernyataan bahwa saya mengerti gaya penulisan Pak Horst karena penulis sudah sering membaca tulisannya. Gaya penulisannya bukan kebiasaan orang Indonesia. Ia okay saja dan menambahkan bahwa dirinya dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Ya, beberapa kosa kata yang tidak lazim digunakan bahasa Indonesia sekarang sesekali diselipkan ke dalam tulisannya. Orang harus mengecek kamus lagi untuk mengingatnya.
Obrolan ringan kami berlanjut pada tata bahasa. Saya tahu ia paham tata bahasa dan tidak perlu bertanya ke penulis tapi ia tetap bertanya. Beberapa paragraf secara acak dari tulisannya kami bahas, tidak ada yang salah sama sekali. Untuk apa Pak Horst mengecek itu semua? Ia paham beragam bahasa dan tentu ilmunya jauh lebih luas. Penulis mengikuti alur berpikirnya, masuk ke dunianya dengan harapan, siapa tahu ada hal yang baru ditemukan. Ternyata, gaya bahasa saja yang beda, struktur tetap sama.
Kemudian Pak Horst mengenalkan buku Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori ditulis oleh N. F. Alifera at Al. Katanya buku ini dibuat oleh orang Rusia. Sungguh menarik, bukan pada alirannya yang waktu itu masih komunis tapi pada keahlian orang asing yang mampu membedah bahasa Indonesia dengan sangat detail. Buku seperti inilah yang selama ini saya cari. Katanya, buku itu ia pelajari sewaktu S 2 di Indonesia tepatnya di UNHAS (Universitas Hasanuddin).
Beberapa data tentang dokumentasi pelayaran zaman Belanda pun ia perlihatkan. Ia dengan senang hati membantu menerjemahkan semua hal yang penulis tanyakan. “Sayang sekali ya, kita orang Indonesia kebanyakan tidak mengerti Bahasa Belanda lagi”, pikir penulis. Bagusnya lagi, Belanda itu punya data yang bisa diakses melalui internet. Tapi kan, segelintir dari kita saja yang bisa membacanya. Sebaiknya sekolah atau universitas berkenan mengkampanyekan dan membuka kembali Bahasa Belanda agar kita tidak buta data sejarah.
Dari situ penulis melihat perkembangan pelayaran dan perahu yang ada di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan yang memang terkenal dunia maritimnya. dan tertarik untuk turut berkontribusi lebih jauh. Selama ini, penulis menulis “suka suka aja”. Belajar dan berdiskusi lebih banyak dengan Pak Horst, penulis mungkin saja akan membuat sesuatu yang berharga untuk pengembangan maritim kita.
Menulis tentang pelayaran, sastra dan perdebatan pemikiran, penulis jalani dan nikmati saja. Bulukumba adalah tanah kelahiran dan tempat tinggal penulis menetap sekarang ini yang erat kaitannya dengan laut. Adakah itu akan bermanfaat bagi orang lain? Semoga saja. Sekian dulu.
Saya dari tadi mau olahraga otak dengan main catur. đ
Kompetisi mengasah kecerdasan manusia tanpa bantuan AI (Artificial Inteligence) kecerdasan mesin digelar oleh FBS UNM (Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar) dengan tema “Empowering Students through English for Global Competence” pada 7 -9 Mei 2026. Pembulatan 500 peserta, tepatnya 497 peserta jurusan Bahasa Inggris bertarung. Mengangetkan! Dari enam kategori kompetisi, Grammar Competition (Kompetisi tata bahasa) paling ketat diikuti 269 peserta. Itu kompetisi rumit karena melibatkan urusan berpikir logis. terlebih lagi kurikulum sekolah Indonesia tidak fokus pada grammar lagi.
Respon Orang Tua WidyaÂ
Juara 1 (satu) Grammar Competition diraih oleh mahasiswi semester dua, Andi Widya Maulidyah. Dari mana Widya bisa secepat itu menjadi yang terbaik? Investasi pendidikan. Widya sejak di SDN 221, SMPN 2 hingga tamat SMAN 1 Bulukumba telah ikut kursus Inggris. Tantenya Andi Ayu Cahyani memperkenalkan RBB (Rumah Belajar Bersama) dan langsung disambut oleh kedua orang tuanya Andi Halil Badawi dan Nuraidah Arifin Sallatu. Sang ayah yang mengetahui minat dan bakat anaknya tanpa lelah mengantar kursus sementara sang ibu yang acap kali mengunggah kegiatan Widya di media sosial termasuk takkala Widya lulus di UNM jalur prestasi, 2025.
Mari kita simak ekpresi kebahagiaan orang tua dari sang ayah di facebook pribadinya:
Alhamdilillah, tidak sia-sia anak gadisku kursus di Rumah Belajar Bersama Bulukumba. Hari ini dapat kabar darinya: Juara 1 Final English Fair 2026 di Kampus UNM dari 300 peserta menjadi 30 lalu masuk final 8 orang dan akhirnya juara satu.
Sang Ayah yang menetap di Bulukumba langsung menyambut rasa bahagianya ketika mengetahui anaknya di Makassar meraih juara satu.
Hal senada juga disampaikan oleh sang ibu juga di facebook:
Masya Allah Tabarakallahu. Selamat nak, Andi Widya Maulidyah atas pencapaiannya lomba English Grammar at English Fair 2026 UNM dari 300 peserta menjadi 30 besar, dari 30 besar menjadi 8 besar dan dari 8 besar menjadi juara 1.
Ibunya Widya sangat bersyukur dengan capaian anaknya yang luar biasa. Meraih juara satu untuk mahasiswa semester awal bukan hal mudah tapi anaknya mampu membuktikan bahwa itu bisa.
Widya yang semasa sekolah telah tamat buku Basic Grammar, Pre Intermediate Grammar, Intermediate Grammar standar internasional katya Betty Scrampfer Azar dan beberapa bagian TOEFL (Test of English as a Foreign Language) serta membaca buku beragam buku bahasa inggris seperti Decisive Moments, Indonesiaâs Long Road to Democracy (Detik-Detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia menuju Demokrasi)Â karya B. J. Habibie, karya L. G. Alexander dan lainnya. Dengan aksen British English (Bahasa Inggris ala orang Inggris, bukan Amerika) mengekspresikan rasa senangnya dengan mengatakan:
Honestly, I still canât fully believe it because winning first place against so many participants means a lot to me but I also feel like I wouldnât have achieve all of this without your teachings and guidance for all this science. I learnt a lot from Rumah Belajar Bersama. Thank you very much.
Terjemahan bebas:
“Sejujurnya, saya masih belum sepenuhnya percaya karena memenangkan juara pertama melawan begitu banyak peserta sangatlah berarti bagiku. Namun, saya juga merasa tidak akan bisa mencapai semua ini tanpa ajaran dan bimbingan kalian dalam bidang sains. Saya telah belajar banyak dari Rumah Belajar Bersama. Terima kasih banyak.â
Daftar nama juara 1, 2 dan 3.
Karena Widya pelajar yang punya kemampuan di atas rata-rata, ia seringkali dipercaya oleh guru RBB untuk meng-handle para pelajar berbakat yang sedang berkembang. Sebelumnya, hal yang sama juga diberikan kepada sepupunya, Andi Junila yang kini telah malang melintang di berbagai macam negeri. Pelajar Andi Aufassaif Mallombassi Patwa, seorang alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo, sekolah didirikan B. J. Habibie, yang sanggup belajar Inggris sekitar 11.30 jam sehari berpikir penting menghubungi Widya untuk menghadapi Ujian Tulis dan Lisan Tenses luar kepala. Widya berkenan dan Aufa pun lulus Basic Grammar di RBB. Beberapa kelas yang sudah cukup punya kapasitas bagus, kadang-kadang diberikan ke Widya sebagai pembelajaran micro teaching untuk membangun kepercayaan dirinya dan mental kepemimpinnya.
Widya yang telah memberikan penjelasan semacam micro teaching kepada Aufa kini mendengarkan penjelasan Aufa untuk mengetahui tingkat pemahamannya pada tenses luar kepala, 2025.
Untuk hal tersebut, mari kita dengar pendapatnya: What I gained during my time learning in RBB was not only about knowledge but also confidence and deeper understanding grammar especially. Honestly, all of you guys are the ones who taught me grammar until I was finally able to reach this point and achieve something like this. I am truly grateful for all the lessons and support youâve given to me.
Terjemahan:
âApa yang saya dapatkan selama belajar di RBB bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga rasa percaya diri dan pemahaman yang mendalam, khususnya mengenai grammar (tata bahasa). Sejujurnya, kalian semua yang mengajariku grammar hingga akhirnya saya bisa mencapai titik ini dan meraih prestasi seperti sekarang. Saya sungguh bersyukur atas semua pelajaran dan dukungan yang telah kalian berikan kepadaku.”
Cara Belajar Widya The Little Girl at the Window (Gadis Cilik di Jendela) buku mengkisahkan Totto Chan yang penuh rasa ingin tahu, bukan kaku. Jepang terkenal dengan konsep belajar disiplin dan tegas. Sayang sekali Totto Chan dengan pemikiran dan prilakunya yang mengeksplorasi dunia sekelilingya, ia suka berdiri di jendela memanggil pemusik datang ke kelas, bertanya pada burung saat belajar, membuka dan menutup laci membuat gurunya sangat jengkel, ia dianggap anak nakal padahal tidak.
Semua itu adalah ekspresi polos anak kecil yang tidak dapat diterima oleh sekolah di Jepang. Beruntung, ibunya menemukan sekolah baru dibuat dari gerbong kereta bekas. Sosaku Kobayashi, Kepala sekolah menyakinkan bahwa Totto Chan anak yang baik. Kisah nyata kehidupan Tetsuko Kuroyanagi, sang penulis buku, sangat terkenal dan bahkan dijadikan film animasi pada 2023.
Widya tidak pernah nakal di kelas, punya keceriaan belajar layaknya Totto Chan. Ia menemukan belajar Inggris untuk menyenangkan dan menarik. Tidak ada sekolah bekas rel kereta api, ia ke RBB. Tidak ada pertentangan sama sekali antara bermain dan belajar,. Seandainya ia punya ide kebebasan berekspresi seperti Totto Chan, itu sama sekali bukan masalah selama ia mampu mengerjakan tugasnya. Malahan, ia lebih banyak berimajinasi dan berkreasi pada soal soal yang ia pelajari. Kalau ia mendapatkan masalah, ia akan termenung sambil sesekali memegang pulpen hingga titik tertentu, ia mengatakan, âKudapatmiâ. Bila ditanya, ia akan menjelaskan dengan cara berpikirnya sendiri. Mengagumkan.
Guru yang memang memberikan penjelasan dan pertanyaan itu penting namun yang lebih penting adalah melatih dan memberikan kebebasan berpikir. Benar atau salah pada jawaban bukan soal utama. Bila pelajar salah, kesalahan tersebut dijadikan alat untuk menunjukkan jalan yang benar. Dan bila benar, itu sudah sesuai target yang kita inginkan sambil memperhatikan dasar argumentasi yang dibangun. Kehidupan dalam belajar merupakan proses untuk mengembangkan pola pikir.
Masa SD Widya di RBB juga suka banyak bermain. Di SMP, ia terlihat lebih banyak belajar dengan sedikit bermain dan saat SMA, ia menikmati pelajaran, tidak ada waktu bermain. Ia datang, duduk, mengerjakan latihan dan hampir tidak bergeser dari tempat duduknya hingga kelasnya selesai, 90 menit. Bila ia punya waktu luang, 02 sampai 2.30 jam fokus belajar dan bahkan lebih saat ada kegitan Kampung Belajar, ia sering masuk di pagi sore dan kadang kadang di malam hari dalam sehari.
Dari jam belajar yang padat itulah, Widya sudah mampu memahami teks inggris sehingga ia tidak merasa perlu untuk bertanya kecuali pada hal yang benar-benar yang sulit dimengerti. Cukup dengan penjelasan sekilas, ia kembali bekerja. Itulah ia mengapa guru RBB menyebut bahwa dirinya mengerti pelajaran grammar tingkat universitas karena apa yang guru ajarkan padanya itu adalah materi tingakt universitas.
Yang dahsyat lainnya adalah kemampuan belajar ototidak dari Widya. Ia banyak belajar dari rumahnya. Tiba-tiba ia pintar pengucapan ala British English tanpa pernah mendapatkan tanpa pernah ikut kelas pronunciation. Itu ia peroleh dari berselancar di internet. Guru di RBB yang mengerti aksen British English tahu bahwa apa yang disampaikan Widya bukan hanya benar tapi juga terdengar indah dengan intonasi yang khas. Dan karena grammar-nya sudah bagus, otomatis cara bicara tertata dengan baik. Itu keren.
Betapapun pilihan belajar Widya sebatas grammar saja, ia aktif juga ikut EPC (English Practice Club) yang isinya orang dewasa dari berbagai latar belakang. Pengalaman berharga pertamanya saat ia menjadi pembicara Gen-Z faces the Future di EPC ketika masih duduk di SMP, 2021. Anda bisa tebak bagaimana anak gadis remaja berjuang untuk berbicara di depan khalayak umum yang bukan seumurannya meskipun panelisnya Aufa, anak yang baru tamat SMP. Terlihat keduanya bisa berbicara fasih karena mereka terlebih dahulu mencari bahan bacaan berhubungan dengan tema dan berlatih praktek bicara. Andi Ayu Cahyani, Ketua EPC waktu itu, membuka ruang lebih luas kepada remaja yang kemudian anaknya Dzaki yang juga SMP bisa tampil juga di EPC.
Andi Widya Maulidyah dan Andi Aufassaif Mallombassi Patwa ketika masih pelajar sekolah menjadi pembicara di English Practice Club. Yang bertindak sebagai moderator adalah Mr. Umam, guru pesantren Babul Khaer Bulukumba. Foto pada 2021.
Seseorang yang naik kekuasaan tanpa perjuangan akan turun tanpa kehormatan, kata filsuf Aristoteles. Apa yang diperjuangkan Widya pada Grammar Competition di UNM hingga menjadi yang terbaik dari yang terbaik adalah proses belajar yang panjang, tidak instant. Dibalik semua itu, dibalik kesuksesan itu, ada orang tua bersama keluarga, pelajar itu sendiri dan lingkungan belajar yang tepat yang sesuai minat dan bakat untuk berkembang. Selebihnya adalah doa.
Andi Widya Maulidyah yang masih semester dua kini jadi juara 1 English Fair di UNM (Universitas Negeri Makassar), 2026. Sang ayah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Rumah Belajar Bersama yang telah mendidik Widya Bahasa Inggris dalam jangka waktu yang panjang, sejak SD hingga jelang tamat SMA.
Sewaktu SMA, Widya pernah gagal lomba pidato. Saya heran, seolah tidak percaya dan menanyakan kepadanya. Ternyata Widya diam diam belajar otodidak British English. Pronunciation and Accent) (Pengucapan dan Aksen) sangat bagus tapi juri pada nga respon. Indonesia itu dominan ala American English, kebanyakan di medsos dan Film itu ngomong American. Bila cara bicara Widya tidak dimengerti orang kebanyakan, wajarlah tapi bukan berarti dia salah.
Insya Allah cara belajar Widya akan saya tulis dalam waktu dekat. Penulis sudah berusaha dari tadi tapi kepalaku masih agak pening. Thank you.
Sophie Amundsen seorang gadis remaja 14 tahun dalam Dunia Sophie (Sophie’s World) menggambarkan sejarah filsafat yang rumit menjadi cerita yang mudah, menarik, dan mudah dimengerti. Sebuah novel karya kelas dunia yang membuat pembaca terperangkap dalam rasa ingin tahu tiada henti yang tanpa sadar pembaca telah tergiring mempelajari pemikiran barat dari klasik hingga modern. Siapa Sophie dan siapa yang terus-menerus mengirimkan surat kepadanya? Itulah pertanyaan misteri yang muncul dalam benak pembaca.
Bagaimana pula pelajar Indonesia akrab dengan karya karya kelas dunia? Bisakah mereka membayangkan atau membaca buku buku berbahasa Inggris? Rumit kan. Pasca perang fisik kemerdekaan, kemampuan berbahasa asing orang Indonesia tidak menanjak nanjak. Padahal para proklamator kita jago Bahasa Asing, bukan Inggris saja. Muchtar Lubis, wartawan senior Indonesia di tahun 70-an telah mengkritik rendahnya sarjana Indonesia yang tidak bisa berbahasa asing. Hingga tahun 2026 ini, Bahasa Inggris masih saja asing di lidah kebanyakan para pelajar Indonesia.
Para intelektual muda kita sekarang gelisah melihat kenyataan di atas dan mengambil langkah solutif dengan turut terlibat aktif meringankan masalah, menyapa pelajar sekolah melalui pembelajaran Inggris online kepada pelajar sekolah. Penyederhanaan masalah tentu tidak secanggih cara Jostein Gaarder sebagaimana termaktub dalam Sophie’s World namun itu cukup untuk memulai langkah langkah memungkinkan punya dampak besar juga.
Mari kita lirik kegiatan pemuda intelek, Agung Pratama Salassa berbagi pemahaman online Bahasa Inggris dengan pelajar SMAN 2 Bulukumba (09/10). Menurutnya, para siswa antusias dan tetap mencoba memberanikan diri untuk berbicara bahasa inggris, meskipun sempat ada kendala seperti suara kurang jelas atau keluar otomatis entah karena jaringan atau memang pembatasan durasi penggunaan aplikasi zoom,
Bila Sophie selalu mendapatkan kiriman surat misterius, Agung pada pembelajarannya memberikan efek kejut dengan tidak terfokus pada pertanyaan yang mungkin sudah bisa ditebak, tapi mengembangkan pertanyaannya dari jawaban dari para siswa . Ia mengajak untuk menulusuri lebih jauh dengan memberikan information questions (informasi pertanyaan) why and how (mengapa dan bagaimana) untuk berpikir kritis. Untuk lebih jelas, mari kita simak komentar Agung:
“Saya berikan opsi tambahan seperti salah satu siswa yang menyukai musik metal, kenapa dan bagaimana dengan dangdut? atau pertanyaan tentang kenapa harus Pentol nama kucingnya, kenapa bukan Bakso atau Somay saja namanya. Ternyata itu karena keluarganya punya usaha Pentol jadi nama kucingnya Pentol.” Lebih lanjut lagi, “Jadi mungkin ini yang membuatsedikit kegelisahan dari siswa yg nantinya saya tanya tanya karena dari jawabannya bisa muncul pertanyaan baru lagi”.
Mengenai kwalitas siswa, Agung menilai ada satu siswa yang kemampuannya sudah baik, Speaking-nya bukan ditahap pemula bernama Muh. Ahnaf Ibrahim, umur masih 16 tahun. Anak remaja itu mampu berbicara Bahasa Inggris dengan lancar karena Mamanya selalu berbicara pakai bahasa inggris kepadanya di setiap hari minggu, aturan berlaku di rumahnya.
Sophie Amundsen mengerti tentang tahapan pola pikir filsafat barat yang rumit yang ia terus terus jelajahi dalam kehidupan kesehariannya. Itu tumbuh karena rasa ingin tahu dari surat surat misterius Alberto Knox. Guru guru Bahasa Inggris kita tidak mesti berperan layaknya Alberto Knox tapi mereka bertanggungjawab untuk memunculkan rasa penasaran, ingin tahu lebih banyak dan mengondisikan lingkungan efektif berbahasa Inggris seperti yang dilakukan Muh. Ahnaf Ibrahim di rumahnya. Dengan ini, kita pasti bisa merubah arah pola belajar Bahasa Inggris di Indonesia. Dunia Sophie dan karya karya kelas dunia lainnya dapat dinikmati oleh gerenasi penerus kita. Apakah Anda punya ide yang lain?
Zulkarnain Patwa
Makassar, Minggu 10 Mei 2026
Catatan:
Pembelajaran Bahasa Inggris online dilaksanakan antara pelajar SMAN 2 Bulukumba dengan pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama). Mr. Agung dari RBB mendidik pelajar SMAN 2 dan Miss Fathy Cayadi mendidik pelajar RBB. Agar tidak menyita waktu, zoom online dilakukan secara terpisah tapi dilaksanakan pada waktu bersamaan yaitu pada jam 16.00 Wita pada Sabtu, 9 Mei 2026.
“She is great and has high interest to improve her English”, pujian manis dari Fathy Cayadi guru SMAN 2 Bulukumba kepada Lulu peserta English online. Betapa tidak, 20 soal yang menuntut alasan karena soal soalnya banyak mengandung why (kenapa) dijawab lugas oleh Lulu, Fate, panggilan akrab Fathy Cayadi, yang merupakan guru Bahasa Inggris yang aktif speaking menikmati mengkondisikan agar peserta tidak memikirkan selain Bahasa Inggris dan Lulu mengikuti dengan baik. pengajarannya mengarah pada total English.
Pilihan untuk terhubung dengan guru berbakat dan berpengalaman pada pendidikan formal di SMA 10 Bulukumba ini sebagai pengingat bahwa sekolah juga punya banyak kualifikasi guru yang berkualitas. Beragam Pendidikan non formal sebut saja salah satunya RBB (Rumah Belajar Bersama) adalah lembaga yang cenderung punya kurikulum dan kepercayaan sendiri dalam mengajarkan Bahasa Inggris sama sekali tidak mengikuti kurikulum sekolah tapi yakin bisa menyelesaikan pelajaran sekolah. Kehadiran Miss Fate adalah jalan pembuka dalam jembatan membangun kesepahaman dari cara guru mengajar dan murid belajar pada pelajar yang cenderung percaya pada pendidikan non formal.
Miss Fate (gambar kecil), guru SMAN 2 Bulukumba sedang memberikan berbagai macam pertanyaan agar Lulu aktif berbicara Inggris.
Lulu yang telah tamat SMA ini menemukan juga pelajaran yang sangat berharga dan terbaru dari Miss Fate. Di RBB, ia adalah pelajar kelas Reading and Grammar (Membaca Buku Inggris dan Tata Bahasa), bukan speaking (bicara). Ia sengaja diikutkan online speaking oleh Ancha dan Mr. Agung Pratama Salassa untuk membaca apakah ia mampu mengikuti pembelajaran ala guru sekolah. Dan ternyata, tidak ada pertentangan sama sekali. Soal tanya jawab yang terlebih dahulu dipelajari untuk online dibuat oleh Miss Fate. Dan kemudian, keduanya aktif berkomunikasi hingga semua soal materi tanya jawab tuntas.
Dari sini kita dapat menarik benang merah bahwa pendidikan formal dan non formal mempererat hubungan simbiosis mutualisme dalam melakukan rekayasa sosial lebih lanjut untuk membumikan pelajaran Bahasa Inggris. Dengan demikian, pelajar kita akan semakin termudahkan dan memperkaya khazanah intelektual dalam mempelajari metode pembelajaran bahasa Inggris yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kreativitas Anak Anak
Sekelompok kecil anak SD (Sekolah Dasar) penuh semangat diberikan kesempatan oleh Mr. Agung bergabung dengan Miss Fate mengalami kesulitan untuk masuk pada pembelajaran online hanya karena persoalan jaringan internet yang buruk. Berkali kali mereka mencoba, gagal. Pelajar yang berhasil masuk, kurang mendapatkan suara yang jernih.
Adeeva yang sempat bergabung di kelas speaking tanya jawab online dengan Miss Fate.
Persoalan yang lain adalah keempat anak ini yang sebelumnya telah empat kali mendapatkan pembelajaran online dengan guru Miss Salma Minasaroh di Jawa Tengah cukup kaget karena pertanyaan yang disampaikan kepada mereka dalam bentuk acak. Mereka telah mempersiapkan diri namun ‘acak’ cukup membuat mereka kebingungan dan sekaligus mempunyai tantangan terbaru. Yang menggembirakan adalah semuanya berusaha maksimal untuk mengerti pembicaraan Miss Fate betapapun mereka pada akhirnya mengaku belum mengerti. Mereka tetap perhatian mendengarkan dengan sesekali bicara tapi karena jaringan hal yang tidak bisa dikompromikan, kelasnya berakhir dengan sendirinya.
Nabila juga sempat bergabung sejenak di kelas online Miss Fate.
Namun anak anak ini tidak patah semangat. Mereka sepakat membuat ruang sendiri. Apa yang mereka lakukan? Membuat kelas online di mana mereka sendiri yang saling bertanya dan menjawab. Yang bertanya seolah olah menjadi guru dan yang menjawab menjadi murid, begitupun sebaliknya. Karena berkreasi tanpa pengawasan, mereka sering berbicara dalam Bahasa Indonesia juga. Menggemaskan!
Kilas Balik
‘Great‘ adalah pujian dan ‘high interest‘ adalah rasa ingin tahu tingkat tinggi. Ini adalah kombinasi ungkapan yang luar biasa dari Miss Fate dalam membaca dengan tepat pada kemampuan pelajar yang ia didik sehari. Lulu adalah pelajar pemula yang belum cukup sebulan belajar di RBB. You know, pernyataan Miss Fate tersebut sejalan pemikiran guru guru di RBB.
Anak anak SD sedang dalam tahap perkembangan. Daya juang belajarnya yang juga tinggi adalah adalah potensi kekayaan intelektual generasi anak bangsa yang mempunyai titik belajar Bahasa Inggris lebih awal dari kebanyakan orang. Ketika mereka nantinya di SMP dan SMA, Bahasa Inggris adalah pelajaran yang biasa saja dalam pikirannya. Begitulah harapannya.
Perjalanan waktu yang akan membuktikan semua yang tertulis di atas. Sekian.
Bila bukan kita sendiri yang memulai, siapa lagi? Pertanyaan ini seringkali kita temukan dari para tokoh besar untuk menggugah hati publik untuk berbuat sesuatu. Para orang terdidik kita yang tahu masalah perlu berbuat untuk terjun langsung memperbaiki keadaan, tanpa menunggu.
Pemerintah melalui Mendikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah)
telah merancang strategi penerapan pembelajaran di Bahasa Inggris di SD (Sekolah Dasar) pada 2027. Pada 2026 ini, banyak SD telah memberikan pelajaran tersebut di kelas. Namanya juga tahap uji coba, pasti banyak masalah yang menumpuk. Tapi paling tidak, kosa kata Inggris telah mulai diakrabkan kepada anak SD melalui buku kurikulum dengan bantuan pengajaran dari guru sekolah. Untuk percepatan, Orang tua murid pun memberikan perhatian lebih dengan mengikutkan anak anaknya di lembaga pendidikan alternatif.
Dengan memanfaatkan teknologi, kita dapat terhubung dengan orang orang yang berkualitas di manapun berada, Salma Minasaroh telah di Jateng (Jawa Tengah) seringkali menyediakan waktu untuk tanya jawab online kepada pelajar SD di RBB (Rumah Belajar Bersama) di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Anak anak kelas malam yang lebih suka banyak bermain daripada belajar itu punya motivasi belajar lebih tinggi berlatih speaking dalam bentuk tanya jawab ketika diberitahu bahwa mereka akan mendapatkan pembelajaran online lagi dari Miss Salma. Segala bahan tanya jawabnya yang akan dibahas pada speaking online mereka kerjakan dengan penuh semangat. Tanpa disadari, mereka sendiri yang mengurangi waktu bermainnya.
Pada pertemuan online keempat (6/05/2026), Miss Salma dari lembaga GAIA, Pati, Jateng menyampaikan bahwa dari tujuh orang yang terjaring, peserta bernama Adeeva, Faika, Nabila dan Adam termasuk pelajar yang mengalami perkembangan pesat dalam praktek bicara. Semua pertanyaan mampu mereka jawab dengan pengucapan hampir sempurna dan terlihat percaya diri berpendapat.
Patut diingat, setiap pelajar tidak ada yang dibeda-bedakan. Semua mendapatkan 20 soal yang sama dan kemudian dinilai. Penyebutan keempat nama pelajar berbakat itu sebagai bahan motivasi kepada pelajar lainnya. Kita berharap nama nama yang baru dapat disebut juga pada pertemuan berikutnya.
Pelajar saat Belajar Online
Tujuh orang anak terjaring dan berada di RBB saat belajar online. Ada yang duduk tenang, sesekali bergeser dari tempat duduknya untuk menyapa atau membantu rekannya yang kesulitan menjawab. Sebagian lagi, mereka suka berbuat sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan pelajaran. Semua yang mereka lakukan itu tidak diketahui oleh Miss Salma. Hebatnya, saat namanya disebut, mereka akan segera berlari di depan kamera dan terlihat siap untuk menjawab pertanyaan.
Para guru RBB tidak banyak memberikan teguran. Mereka diberikan kebebasan sealami mungkin agar dapat membaca prilaku anak. Segi positif yang bisa kita deteksi adalah meskipun menghilang dari camera, mereka tetap merasa punya tanggung jawab berbicara Inggris dengan gurunya. Keberanian ini muncul karena mereka telah mempelajari bahan yang akan dibicarakan.
Beberapa anak mengeluh. “Saya belum ditanya”, katanya. Ada keinginan besar untuk berbicara. Persoalannya, wajah mereka seringkali menghilang dari camera–biasanya karena pergi bermain–sehingga terkadang nama mereka agak lambat disebut. Sementara wajah yang selalu terpampang di camera, punya kesempatan lebih banyak praktek.
Oh iya, terdapat satu dua orang anak yang sulit menjawab dengan benar meskipun Miss Salma berkali-kali mengulang pertanyaannya dan bahkan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk memahamkan. Hal ini terjadi karena mereka kurang tepat, lain soal lain pula jawabnya. Guru RBB tidak membantu, membiarkan saja mereka kebingungan sebagai pengingat agar lebih perhatian di kelas sebelum online. Beruntung, teman temannya punya solidaritas dan mau menolong sehingga terselamatkan dari pertanyaan yang membingungkan pikiran. Mereka pun bergembira.
Penutup
Inisiatif memulai dan berbagi bekal pengetahuan dari GAIA dan RBB lintas batas pulau dalam bentuk online ini adalah gerakan kecil yang sengaja kita hadirkan secara terang kepada publik agar terdapat solusi lebih lanjut dari merosotnya kemampuan pelajar Indonesia dalam berbahasa asing utamanya Inggris.
Kita tahu, pada zaman kemerdekaan, tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Harta, Sjahrir, Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara dan masih banyak lagi rata rata punya kemampuan berbahasa asing lebih dari satu bahasa. Itu bukti bahwa Indonesia punya rekam jejak sejarah bahwa bahasa asing itu hal yang biasa saja.
Untuk mewujudkan hal tersebut, kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan para intelektual kultural–bukan yang duduk dalam pemerintahan–adalah cara yang sangat efektif dalam mencetak generasi pelajar Indonesia yang oleh Abdul Mu’ti Mendikdasmen kita diharapkan punya daya saing global.
Seorang anak kelas 3 SD belajar Perkalian dan Pembagian 2 sampai 9 dengan metode 40, latihan berulang sebanyak 40 kali dengan menulis dan kemudian menjawab lisan secara teratur dan acak. Ini pengantar utama untuk percepatan dasar dasar berhitung.
Perkalian dasar cukup dalam satu bulan saja atau tiga bulan untuk waktu yang lama, tidak perlu tiga tahun. Mengapa pelajaran itu jadi lambat? Perhatian yang kurang. Masa Orde Baru dengan CBSA (Cara belajar siswa aktif), guru sekolah akan sangat tegas pada siswanya yang tidak hapal perkalian. Mistar melayang bila tidak sanggup menjawab. Terkesan keras namun cara itu efektif membuat yang malas jadi rajin.
Kita lihat sekarang. Kurikulum terus berganti seiring pergantian rezim. Coba cek di kelas 4 sampai kelas 6 SD. Berapa banyak siswa-siswi paham perkalian? Bila dalam satu kelas terdapat 10 orang mampu menjawab secara acak dengan cepat, itu sudah hal luat biasa. Pada zaman CBSA, itu biasa saja.
Lantas, kepada siapakah kesalahan harus dijatuhkan? Kepada guru, orang tua atau pelajar itu sendiri? Daripada repot saling menyalahkan, mengambil inisiatif dengan bergabung ke pendidikan alternatif semacam kursus adalah solusi. Halik terpengaruh dengan lingkungan belajarnya di mana ia juga ingin lancar perkalian seperti anak anak seumurannya.
Para pemerhati pendidikan yang tidak bersentuhan langsung dengan kebijakan pendidikan formal seringkali merancang model pembelajaran yang tidak dikerjakan oleh pendidikan formal. Wajar saja bila pembelajaran yang tidak dapat dimaksimalkan di sekolah–Apapun nama kurikulumnya–dijadikan daya tarik untuk turut membantu mencerdaskan pelajar Indonesia. Hal hal kecil tapi sangat penting seperti Perkalian dan Pembagian ala Metode 40 seperti yang dilakukan Halik kelas 3 SD di foto ini adalah contoh kecil yang dilakukan oleh LKP (Lembaga Kursus dan Pelatihan), istilah Dinas Pendidikan di Indonesia.