Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Berbahasa Inggris (Tidak) Mengandalkan Sekolah

    Berbahasa Inggris (Tidak) Mengandalkan Sekolah

    Mungkinkah pelajar lancar berbahasa Inggris mengandalkan pelajaran sekolah? Pelajaran ini diajarkan sekali dalam seminggu mulai dari SD, SMP dan SMA. Itu bukan masalah bila saja keseharian mereka akrab berbicara inggris dengan sesama pelajar dan guru. Ah! Itu hanya terjadi di sekolah standar internasional yang harganya selangit. Kalau di sekolah negeri, mungkin ada tapi mayoritas tidak, terlebih bagi daerah yang jauh dari pusat kota.

    Strategi pemerintah membekali pelatihan guru SD pada Bahasa Inggris adalah niat baik karena guru sekolah akan terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan pelajarnya. Masalahnya, apakah pelatihan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendiknasmen) menyediakan waktu belajar yang cukup? Jangan-jangan, kursus yang disediakan orang pendidikan informal sebanyak 3 x sampai 5 seminggu dengan durasi 90 menit tiap pertemuan itu lebih banyak daripada yang diadakan Kemendikdasmen. Bila sekedar mengadakan pelatihan dalam seminggu atau sekali belajar dalam seminggu, pastilah pengetahuan guru sekolah tertinggal jauh. Wajar bila persepsi masyarakat umum tidak berubah bahwa sekolah tidak menjamin kemampuan pelajar berbahasa Inggris. Oleh karena itu, orang tua mendorong anaknya ikut kursus seperti di Kampung Inggris Pare, Kab. Kediri, Jawa Timur dan tempat lainnya yang dipercaya lebih profesional.

    Kemudian, mengapa pemerintah tidak merekrut sarjana Pendidikan Bahasa Inggris? Bukankah itu tugas dan tanggungjawab pemerintah mengurangi pengangguran terdidik? Alasan klasik yaitu keterbatasan anggaran adalah jurus ampuh yang selalu berulang. Pilihan mendidik guru sekolah dianggap paling rasional untuk menyesuaikan anggaran yang tersedia. Para sarjana bahasa Inggris silahkan mencari pekerjaan di jalur yang lain.

    Dari segi kualitas, pengetahuan para sarjana jauh lebih kompeten dibandingkan mendidik guru mulai dari nol. Abdul Mu’ti, Menteri Dikdasmen, mengkampanyekan pelajar Indonesia mempunyai daya saing global. Sebagai penyemangat, itu bagus saja tetapi dengan tidak memberdayakan sarjana yang punya keahlian, kita telah membuang langkah percepatan pencerdasan anak bangsa yang diharapkan punya daya saing di kancah internasional. Tidak ada keberanian melakukan perombakan radikal pada kuantitas jam pelajaran dan kualitas pengajar.

    Karena program pelatihan untuk para guru sudah terlanjur berjalan, kita tidak bisa berharap lagi kepada para sarjana. Bukankah lebih baik bila duit anggaran tersebut langsung saja diserahkan ke guru yang bersangkutan? Layaknya beasiswa unggulan yang mengikat, duitnya langsung diserahkan ke rekening guru. Biarlah mereka menentukan sendiri kemana harus belajar dengan pilihan jadwal yang lebih memadai, padat. Kementrian tinggal buat standarnisasi saja yang harus dipenuhi. Misal, bila tidak dipenuhi, uang dikembalikan.

    Bila tawaran ini berbenturan dengan birokrasi negara di BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) karena dianggap penyelewengan, pemerintah dapat merumuskan sistem akuntabilitas yang baru yang lebih fleksibel namun ketat guna memastikan guru yang terpilih berkomitmen penuh mencapai target. Sedangkan sekolah daerah terpencil yang jauh dari akses pendidikan dapat mengakses pelajaran yang telah dibuat dan tetap belajar lewat online yang telah disediakan oleh Mendikdasmen.

    Solusi berikutnya adalah sekolah membuat komunitas bahasa Inggris didampingi dan diawasi perkembangannya oleh Dinas Pendidikan setempat. Ini untuk menyiasati jam belajar di kelas yang sangat terbatas. Untuk lebih semarak, setiap kegiatan resmi sekolah, para pelajar diberikan ruang untuk memandu acara dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris serta menyemarakkan lomba berbahasa inggris lebih massif dimulai dari internal sekolah itu sendiri agar minat berbahasa asing tersebar lebih luas.

    Pada akhirnya, dengan lebih banyak jam belajar disertai dengan proses belajar yang berkualitas, keahlian dalam hal ini bahasa Inggris pasti tercipta yang dapat disiapkan menghadapi kompetisi global.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 12 Juni 2026

  • Kampung Belajar Inggris

    Kampung Belajar Inggris

    Jadwal:
    15 Juni sampai 10 Juli 2026
    6 x belajar dalam sehari
    180 jam dalam sebulan
    Belajar tiap Senin – Jum’at

    Materi:
    * Speaking (Bicara)
    * Reading (Bacaan)
    * Grammar (Tata Bahasa)
    * Pronunciation (Pengucapan)
    Note:
    Pelajaran disesuaikan tingkat kemampuan pelajar mencakup materi basic hingga advance (dasar hingga tingkat tinggi).

    Jam Belajar:
    Pagi
    09.00 – 10.30
    10.30 – 12.00
    Siang/Sore
    13.30 – 15.00
    15.00 – 16.30
    16.30 – 18.00
    Malam
    19.15 – 20.45

    Total: 180 jam belajar.

    Hari Belajar:
    Tiap Senin – Jum’at. Sabtu dan Minggu libur.

    Fasilitas
    * Buku Grammar
    * Buku Reading dan modul terjemahan
    * Kamus Inggris – Inggris
    * Modul Pronunciation

    Biaya:
    Rp. 1.300.000,- (Satu Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah).

    Pilihan Tinggal di Camp
    Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah).

    Sertifikat bagi pelajar yang lulus.

    Telp./WA:
    * 0821-9716-3489
    * 0877-5534-6689

    Penyelenggara:
    Rumah Belajar Bersama
    Jl. Teratai No. 16, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan

  • Kampung Belajar Inggris

    Kampung Belajar Inggris

    Jadwal:
    15 Juni sampai 10 Juli 2026
    6 x belajar dalam sehari
    180 jam dalam sebulan
    Belajar tiap Senin – Jum’at

    Materi:
    * Speaking (Bicara)
    * Reading (Bacaan)
    * Grammar (Tata Bahasa)
    * Pronunciation (Pengucapan)
    Note:
    Pelajaran disesuaikan tingkat kemampuan pelajar mencakup materi basic hingga advance (dasar hingga tingkat tinggi).

    Jam Belajar:
    Pagi
    09.00 – 10.30
    10.30 – 12.00
    Siang/Sore
    13.30 – 15.00
    15.00 – 16.30
    16.30 – 18.00
    Malam
    19.15 – 20.45

    Total: 180 jam belajar.

    Hari Belajar:
    Tiap Senin – Jum’at. Sabtu dan Minggu libur.

    Fasilitas
    * Buku Grammar
    * Buku Reading dan modul terjemahan
    * Kamus Inggris – Inggris
    * Modul Pronunciation

    Biaya:
    Rp. 1.300.000,- (Satu Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah).

    Pilihan Tinggal di Camp
    Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah).

    Sertifikat bagi pelajar yang lulus.

    Telp./WA:
    * 0821-9716-3489
    * 0877-5534-6689

    Penyelenggara:
    Rumah Belajar Bersama
    Jl. Teratai No. 16, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan

  • (Tidak) Berbobot

    (Tidak) Berbobot

    Sebuah kenyataan tak terbantahkan ketika Adeeva, anak kelas 4 SD, mampu praktik lisan pada active and passive voices (kalimat aktif dan pasif) dengan beragam bentuk perubahan berbekal kotak kosong tanpa melihat catatan sama sekali dan disiarkan secara live (siaran langsung) di Facebook. Orang bisa mengamati dan menyaksikan apakah Adeeva menyontek atau tidak. Penulis yang memandu secara terus-terang menyatakan bahwa Adeeva mengerti perubahan tersebut di luar kepala.

    Karena latihan tersebut disertai dengan praktik lisan, ini adalah bukti bahwa belajar grammar (tata bahasa) tidak membuat anak-anak SD gagap berbicara Inggris. Justru ini bekal berharga untuk speaking (bicara) sesuai standar bahasa yang sangat berguna dalam percakapan dan pembelajaran akademik. Mengajarkan speaking tanpa perlu perhatian yang sama pentingnya dengan grammar dengan alasan belum waktunya anak-anak SD belajar grammar adalah bayang-bayang ketakutan saja atau sebuah simplifikasi (penyederhanaan) untuk menghindari kompleksitas pengajaran yang berbobot.

    Orang bisa berpikir bahwa ini adalah generalisasi–satu contoh yang sukses dijadikan klaim untuk banyak orang. Itu benar. Tapi apa salahnya satu contoh yang baik tersebut dijadikan acuan untuk diterapkan kepada para pelajar dalam skala yang lebih luas? Dengan metode belajar yang tepat, itu adalah peluang untuk membantah generalisasi. Apakah anak-anak SD yang mayoritas bisa seperti Adeeva masih dapat disebut generalisasi? Keadaan pasti akan berbalik. Justru anak-anak SD yang tidak mampu itulah yang disebut generalisasi.

    Para intelektual yang bergelut dalam dunia pendidikan sudah saatnya melakukan terobosan dengan mematahkan argumentasi para pendesain kurikulum bahasa Inggris sekolah yang hanya menitikberatkan pada speaking. Mana lah mungkin membaca teks dan menjawab pelajaran sekolah dengan baik bila tidak mengerti grammar? Terlebih, bahasa Indonesia mengunakan hukum D-M (Diterangkan-Menerangkan), sedangkan bahasa Inggris menggunakan hukum M-D (Menerangkan-Diterangkan). Terbalik, kan? Bisakah itu dipahamkan dengan mayoritas speaking saja? Mau tidak mau, dasar-dasar grammar pasti berlaku. Dan itu minimal dijelaskan pada frase dan paling efektif di kalimat dengan menggunakan tenses–orang berkomunikasi paling sering memakai kalimat.

    Patut diingat, selain pendalaman grammar pada tenses dan passive yang dituduh tidak relevan bagi anak-anak, apa yang dilakukan Adeeva sejalan dengan kurikulum melalui cara pembiasaan literasi pada buku reading (bacaan) yang mempunyai tuntutan menjawab soal-soal sebagai pembuktian pemahaman terhadap bacaan. Nah, dalam menjawab soal, grammar mutlak perlunya, tidak cukup dengan modal speaking. Misal: Does Anita go to school? Jawaban yang tepat: Yes, she does. Anita goes to school. Anak-anak yang sekedar belajar speaking biasanya menjawab: Yes. Anita go to school. Pendengar bisa paham dan mengerti maksudnya, tapi jawaban itu salah.

    Kemudian, untuk apa pula pemerintah mengizinkan Olimpiade Bahasa Inggris yang soalnya jauh lebih rumit? Pelajar yang mengandalkan speaking dari sekolah–itu yang dominan diajarkan–tanpa pembelajaran grammar yang baik, mereka pasti tersingkir. Pembelajaran ala sekolah tidak akan mencetak para juara. Tugas kurikulum pemerintah memang bukan mencetak para juara, tapi di sisi lain, pemerintah memberikan jalan lebar bagi penyelenggara untuk membuat soal yang melampaui kurikulum. Kan itu tidak fair bagi pelajar.

    Pada akhirnya, kombinasi praktik lisan, reading, dan grammar harus mampu berjalan seiring untuk menutup celah kelemahan pembelajaran bahasa Inggris dalam dunia akademik.

    Have they read books or have books been read by them? (Sudahkah mereka membaca buku-buku atau apakah buku-buku telah dibaca oleh mereka?) adalah hal biasa untuk Adeeva pahami dan dipraktekkan olehnya baik dalam bentuk active atau passive.

    Zulkarnain Patwa 
    Bulukumba, Kamis, 11 Juni 2026

  • Menghapus Kemustahilan

    Menghapus Kemustahilan

    “Mr. jangan beri tahu saya. Tolong perhatian saja!”, kata Faika ketika sedang berlatih pengantar 88 perubahan kalimat tenses secara acak di luar kepala. Saat itu, ia sedang kesulitan menjawab sehingga guru memberikan sedikit bantuan, namun bantuan itu ditolaknya karena ia percaya diri sanggup melakukannya tanpa bantuan siapa pun. Kepercayaan dirinya tumbuh karena ia sudah memahami seluruh perubahan tersebut secara teratur.

    Anak berumur sembilan tahun ini sungguh mempunyai daya juang yang jarang dimiliki anak seumurannya. Hal ini terlihat dari permintaannya untuk praktik kalimat pada setiap subjek: I, you, they, we, he, she, dan it. Coba bayangkan, dari setiap subjek tersebut, terdapat 88 perubahan kalimat kecuali subjek I hanya 86. Itu berarti 614 perubahan kalimat yang ia praktikkan tanpa melihat catatan, sebuah tantangan yang memang ia inginkan disiarkan secara langsung (live) di Facebook. Tiap pertemuan belajar, ia pun suka mengganti verb (kata kerja), membuat kalimat baru, membuktikan bahwa ia memahami perubahan verb dan praktik sedikitnya 128 perubahan kalimat.

    Alasan paling kuat mengapa Faika jauh lebih tekun belajar Inggris dari sebelumnya ialah ajang Olimpiade Bahasa Inggris di masa mendatang. “Meskipun pernah meraih emas se-Indonesia, kamu pasti kalah jika tidak lebih tekun belajar”, ungkap gurunya mengingatkan. “Iye, pale“, (pale: baiklah), balas Faika. Beberapa contoh soal-soal rumit olimpiade terbaru untuk kelas 3 dan 4 SD sengaja diperlihatkan kepadanya agar semangat belajarnya tetap membara. Strategi ini efektif membuatnya fokus, terlebih kedua orang tuanya di rumah aktif mencari informasi olimpiade yang diadakan di Indonesia.

    Tapi jangan kira Faika ini memanfaatkan seluruh waktu jam belajarnya saat berada di kelas Bahasa Inggrisnya di Rumah Belajar Bersama (RBB). Di samping sifatnya suka bergaul dan suka bermain sebagaimana anak-anak lainnya, ia juga dikenal sebagai anak periang dan berani berpendapat. Ia selalu meminta jam keluar mainnya ditambah, termasuk berani protes bila tidak diberikan jam tambahan untuk bermain. Otaknya tidak tertekan pada sebuah sistem yang kaku. Usulannya itu kadang-kadang diterima dan ditolak oleh gurunya dengan mempertimbangkan apakah anak-anak masih fit (segar dan fokus) belajar atau tidak.

    Faika dan anak-anak lainnya sengaja diberikan kebebasan berpendapat agar kreativitas berpikirnya tidak terpenjara. Apa pun pendapatnya perlu kita dengarkan agar mereka terbiasa mengungkapkan ide-idenya secara terbuka. Bila terdapat perbedaan, itu tidak serta-merta dikunci dengan aturan, melainkan dibahas bersama hingga pada tahap tertentu anak-anak mengerti kenapa idenya diterima atau ditolak. Dengan demikian, mereka merasa dihargai dan berusaha mencari alasan lebih bagus jika suatu saat mempunyai usulan baru.

    Dunia belajar tidak semata-mata penguasaan materi akademis atau angka superioritas di atas kertas, melainkan juga ruang pertumbuhan karakter, daya juang dan kebebasan berekspresi anak. Biarkan anak-anak berkembang menjadi dirinya sendiri minimal seperti halnya Faika yang menemukan kemandiriannya sendiri dalam menjawab soal.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 10 Juni 2026

  • Keunggulan Grammar

    Keunggulan Grammar

    1. Keputusan para pelajar sekolah mengikuti kelas grammar (tata bahasa) di Rumah Belajar Bersama (RBB) cukup mengagetkan karena kurikulum sekolah sekarang tidak membahas materi tersebut secara mendalam. Pada awal kedatangan, mereka tidak tahu sama sekali pembagian Bahasa Inggris mencakup speaking, listening, reading and pronunciation (Bicara, Mendengarkan, Membaca, dan Pengucapan). Alasan utama memilih kelas grammar karena mereka ingin pandai menjawab soal-soal sekolah.

    “Gampang sekali ujian semester sekolah”, kata seorang pelajar SMP yang didukung oleh pelajar SMA yang baru saja ujian kenaikan kelas. Mereka tahu cara menjawab sesuai kaidah tata bahasa. Lalu, bagaimana mereka mengerti soal-soal bacaan? Grammar yang diajarkan RBB juga membantu menjawab soal-soal dalam bentuk bacaan. Malahan, pelajar juga dilatih menjawab persoalan grammar menjadi suatu teks cerita panjang atau artikel sederhana.

    Fenomena serupa juga dialami pelajar lainnya. Di RBB, beberapa orang pelajar SMP dan SMA yang telah tamat Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar) melanjutkan ke buku Pre-Intermediate. Itu berarti mereka memperoleh manfaat sehingga mendalami grammar lebih detail. Pelajaran sekolah diangggap biasa karena tidak sering dibahas. Justru, pembahasan yang sering mereka diskusikan adalah tantangan soal-soal yang diberikan oleh Agung Pratama Salassa, guru grammar di RBB.

    Tapi, menjadi penganut grammar punya masalah juga. Mereka yang keasyikan ribuan soal tanpa rajin praktik speaking (bicara) kewalahan berkomunikasi. Itu adalah konsekuensi karena pilihannya hanya kelas grammar saja. Strategi penyelamatan dibuat dengan mengajak mereka membaca dengan suara nyaring pada hasil latihannya. Dengan demikian, meskipun sedikit, setidaknya mereka dapat pengantar pelajaran Reading dan Pronunciation serta beberapa bagian pada speaking yang berpola grammar. Kemampuannya dalam hal ini relatif biasa saja karena itu memang bukan tujuan utama mereka.

    Bila menggali lebih jauh, para grammarian yang juga ikut kelas Reading dan Speaking, memiliki kemampuan berbicara sesuai standar internasional. Penyampaiannya tidak hanya tertata rapi dan hemat kata tapi juga padat makna dan mudah dimengerti. Otak mereka sudah terlatih untuk mengungkapkan pernyataan yang benar agar lawan bicaranya dapat dengan cepat tahu maksudnya.

    Keunggulan lain yang diperoleh adalah bekal untuk menjadi penulis. Pelajar yang mengetahui grammar pasti bisa menyusun kalimat yang rapi dan teratur. Tingkat kesalahannya relatif lebih rendah dibandingkan pelajar speaking dan lainnya karena mereka telah terlatih menggunakan logika dalam membolak-balik kata. Ini sangat berguna bagi orang yang aktif dalam dunia akademik.

    Di balik kelebihan dan kelemahan pelajar grammar, semua itu dapat dijadikan peluang untuk lebih ahli berbahasa Inggris dengan cara tetap menekuni grammar sembari mempelajari bagian lain dari pengetahuan tersedia pada Bahasa Inggris: speaking, listening, reading and pronunciation. Itu dapat dilakukan secara mandiri ataupun ikut bergabung di kelas belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 9 Juni 2026

  • Revolusi Prancis yang Gagal Masuk ke Palampang

    Revolusi Prancis yang Gagal Masuk ke Palampang

    Kedai Kopi Litera di Palampang, Kec. Rilau Ale satu-satunya kedai kopi rakyat yang menyediakan beragam buku di Kab. Bulukumba, Sulawesi-Selatan. Sang pendiri Alfian Nawawi berusaha agar obrolan warung kopi itu tidak sebatas ruang santai tapi juga secara perlahan berisi kajian yang ada nuansa intelek. Karena itu berbagai buku disediakan di hampir tiap sudut ruangan.

    Alfian terinspirasi oleh kakaknya, (Alm.) Ir. Usdar Nawawi, jurnalis dan penulis buku untuk membuat perpustakaan mini di Kedai Litera. Ada secercah harapan terhadap penyebaran benih pencerahan melalui pendekatan intelektual di lingkungan terdekatnya. Dan benar, saat mengunjungi ke kedai ini, atmosfer perjuangan literasi langsung terasa dari cara Alfian mengisahkan kegigihannya pada literasi di Palampang. Dan di kota Bulukumba, ia berperan besar turut menghadirkan (Alm.) Nirwan Ahmad Arsuka, tokoh utama literasi Indonesia panel dengan Tommy Satria, wakil Bupati Bulukumba pada waktu itu di Cempaka Asri Bulukumba.

    Kedai Kopi Zaman Pencerahan Eropa
    Pada age of Enlightenment (Zaman Pencerahan) di Eropa, perkumpulan di kedai kopi terkenal di Perancis pada abad 17 dan 18. Para sastrawan, pemikir, budayawan dan kemudian diikuti rakyat kebanyakan berkumpul di berbagai kedai kopi membahas isu negara yang lagi ditimpa derita kelaparan massal berkelanjutan pada pemerintahan raja Louis XVI. Raja despotik ini tak berkutik menghadapi pembauran kelas sosial manusia di kedai kopi melahirkan Liberté (Kebebasan), Égalité (Kesetaraan), dan Fraternité (Persaudaraan). Raja dan istrinya,
    Ratu Marie Antoinette bergelar Madame Déficit (Nyonya Defisit), yang suka menghabiskan duit negara dengan bermewah-mewah di tengah kemeralatan rakyat berkecamuk dimana-mana ditangkap dan lehernya ditempatkan di pisau guillotine. Saat kepala mereka menggelinding, nyawa dan kekuasaan lenyap, berakhir.

    Literasi bawah tanah–dalam artian penyelundupan buku terlarang dan berita politik melalui kedai kopi ini–mencapai puncaknya ketika Napoleon Bonaparte melakukan
    kudeta militer (Coup d’état) pada 1799.

    Revolusi Kesadaran
    Berbeda dengan kedai kopi Prancis yang melahirkan gerakan politik yang revolusioner, Kedai Litera di Bulukumba mengambil jalan yang berbeda: fokus pada revolusi kesadaran melalui pendidikan rakyat. Kedai ini juga telah menyiapkan panggung mini buat para seniman muda-mudi untuk bermain musik dan bernyanyi, ruang podcast untuk menyalurkan ide-ide kreatif serta ruang diskusi yang disebarkan di berbagai macam media sosial. Tak lupa, Latar belakang Alfian sebagai jurnalis aktif turut memperkuat gerakan ini melalui publikasi dan dokumentasi setiap denyut aktivitas literasi di kedainya ke ruang publik.

    Ketika teror covid 19, ia sibuk mengajak guru Bahasa Inggris untuk mengadakan pelajaran di kedainya, lengkap dengan masker sebagai tanda kepatuhan pada protokol kesehatan. Tidak ada ide pembangkangan di sana. Yang ada adalah ide kebebasan berpendapat yang bertanggungjawab yang mana ini dijamin oleh undang-undang.

    Membaca spirit dari kedai kopi di Prancis memang terlalu besar, tak dapat disejajarkan bila dibandingkan dengan secuil Kedai Litera di Palampang. Tapi jangan lupa semangat kesetaraan (Égalité) universal di meja kopi tempat semua orang dari berbagai kelas bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Silakan berkunjung dan membuktikan sendiri suasana di Kedai Litera.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 8 Juni 2026

  • Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    When nothing is impossible, impossibility is nothing. That is a thing without not (Ketika tidak ada yang mustahil, kemustahilan itu tidak ada. Begitulah kenyataannya, tanpa pengecualian). Ungkapan filosofis ini terpahat dalam pikiran saat penulis berdiskusi dengan Fathy Cayadi, guru Bahasa Inggris tingkat SMA, mengingatkan akan kebutuhan paling mendasar yang dihadapi para pelajar sekolah. Sebagai seorang pengajar berpengalaman, ia menjelaskan keunggulan dan kelemahan kurikulum yang berlaku saat ini.

    Penulis tertarik tidak membenturkan pemahaman Bahasa Inggris sekolah vs luar sekolah (pendidikan alternatif), melainkan mencari hal-hal yang belum atau tidak dikerjakan. Menurut Fathy, kurikulum SMA sudah tidak lagi mencantumkan listening (mendengarkan) pada UAN (Ujian Akhir Nasional), grammar (tata bahasa) sekadarnya saja, dan pronunciation (pengucapan) sama sekali tidak digubris. Malahan, jam belajar dipangkas empat jam menjadi tiga jam, sekali belajar dalam seminggu. Orang bisa melihat hal-hal tersebut masalah, namun diskusi itu bersepakat memanfaatkannya sebagai peluang untuk menggarapnya karena hal tersebut tetap penting dan bermanfaat.

    Pembicaraan kemudian mengarah pada strategi yang efektif untuk memahamkan pelajaran. Ciri khas yang menjadi keunggulan guru tetap dipertahankan sembari terus memperbarui dan mempertajam materi yang akan diajarkan. Berbagai literatur dari penulis asing yang diterapkan di universitas di luar negeri dibedah dan dibandingkan dengan kurikulum Indonesia dan kemudian disesuaikan dengan pelajaran yang sesuai konteks pelajar Indonesia. Prediksinya, materi tentu lebih padat ketika Fathy membumikan kegiatan mengajarnya di luar jam sekolah di Tanete.

    Pelajar SD, SMP, dan SMA akan dipersiapkan punya daya saing dengan memotivasi mereka mengikuti berbagai lomba pidato, debat, storytelling, dan lainnya, termasuk olimpiade Bahasa Inggris tingkat lokal, provinsi dan nasional. Dan bagi pelajar dan umum yang belum minat kompetisi, mereka dididik sesuai kebutuhannya hingga mempunyai skill (keterampilan) yang cukup untuk menghadapi dunia kerja yang mereka cita-citakan. Jadi keberagaman motivasi orang belajar bahasa Inggris dapat difasilitasi.

    Pikiran dan aksi untuk bergerak lebih cepat, maju dan terarah sesuai target tidaklah sulit bila hasil kesepakatan diskusi dikerjakan secara bersama-sama. Jam terbang pengajar pasti berpengaruh besar. Fathy telah lama mengajar di sekolah dan akrab dengan plus-minus kurikulum sekolah di Indonesia, kini akan menjadi bagian dari Rumah Belajar Bersama (RBB)–dikenal sebagai lembaga yang mengedepankan kualitas. Dengan modal tersebut, ia pasti punya “ramuan” mengajar yang lebih terbarukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 7 Juni 2026

  • Jebakan Cerdas

    Jebakan Cerdas

    Apa guna sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah? Untuk mengubah dan mengembangkan cara pandang. Apakah mengubah cara pandang bisa didapatkan tanpa sekolah? Bisa. Dengan apa? Dengan literasi.

    Bagaimana menggandengkan sekolah dengan literasi? Penulis pernah menyediakan ribuan buku dalam bentuk perpustakaan mini untuk mengajak para pemuda-pemudi untuk rajin membaca dan mendiskusikan hasil bacaan. Beberapa waktu gerakan ini dapat berjalan lancar namun seiring waktu, komunitas kecil tersebut bubar karena ada urusan yang dianggap lebih penting daripada kegiatan berwacana. Kendala yang ditemukan, buku yang menjadi kesepakatan bersama untuk dibahas tidak dibaca sehingga enggan untuk terlibat dalam diskusi yang mengharuskan mereka menjelaskan isi bacaan.

    Penulis berpikir bahwa menggerakkan pemuda-pemudi mengurusi persoalan intelektual memang berat, sedikit peminatnya atau tidak menemukan peminat yang tepat. Penulis mencoba beralih ke pelajar SMA dan SMP. Sama saja. Alasan tumpukan tugas sekolah membuat mereka tidak punya cukup waktu untuk membaca.

    Pilihan terakhir jatuh pada anak SD dan TK. Mereka yang suka bermain itu diajak duduk sejenak membaca buku cerita bergambar sambil bermain didampingi oleh guru. Ternyata, banyak anak-anak cilik yang antusias. Bagi mereka yang belum suka membaca diminta duduk dengan anak-anak lainnya yang sedang asyik membaca. Perlahan-lahan tapi pasti, mereka turut terpengaruh untuk mengambil dan membuka buku.

    Menyaksikan secara langsung minat baca yang hidup ini, penulis dan rekan-rekan pemerhati literasi mencoba menyediakan buku-buku anak-anak yang lebih lengkap dengan cara meminjam buku dari Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bulukumba. Perpusda tahu betul perjuangan Perpustakaan Rumah Belajar Bersama (RBB) dan meyakinkan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan untuk menyumbangkan buku ke RBB.

    Selain itu, RBB juga terdaftar di Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) lembaga non-profit didirikan oleh (Alm.) Kak Nirwan Ahmad Arsuka. Penulis ingat dimana Kak Nirwan yang langsung menghubungi penulis agar RBB masuk daftar PBI. Itu adalah sebuah kehormatan dan kenangan manis tersendiri diajak oleh tokoh utama literasi Indonesia yang mengabadikan hidupnya pada literasi.

    Penulis berterima kasih kepada Kakak senior Muhammad Ridwan Alimuddin, rekan akrab Kak Nirwan dan pendiri Perahu Pustaka yang menurut pengakuan Kak Nirwan bahwa karena berkat jasa Perahu Pustaka mengantarkan buku ke pulau-pulau terpencil, dirinya diundang oleh Presiden RI, menguatkan jejaring ini sekaligus merekatkan ingatan penulis sebagai sesama alumni mahasiswa Yogyakarta yang berada pada frekuensi yang sama.

    Agar tradisi literasi mengakar kuat, RBB membuka kelas Reading (Bacaan) pada kelas Bahasa Inggris. Secara otomatis, setiap kali pelajar datang, tugasnya adalah membaca. Setelah itu, mereka ditawarkan membaca dalam bahasa Indonesia.

    Karena peminat Bahasa Inggris mencakup SD, SMP, SMA, mahasiswa dan Umum, mereka mau tidak mau membaca buku cerita berbahasa Inggris. Bagaimana dengan pelajar yang memilih kelas Grammar and Speaking (Tata Bahasa dan Bicara)? Sama saja. Mereka semua punya buku yang wajib dibaca, dikerjakan latihannya dan dipraktekkan dalam bentuk bicara. Bahasa Inggris menjadi gerbang utama membuka literasi dan memperkenalkan perpustakaan yang lumayan kaya dengan beragam buku berbahasa Indonesia dan asing.

    Ayo isi liburan di Kampung Belajar. Belajar Bahasa Inggris secara intensif: 6 x pertemuan tiap hari, 180 jam dalam sebulan dari 15 Juni – 10 Juli 2026.

    Tantangan super berat mengatasi kebuntuan menghidupkan gerakan literasi terjawab dengan terus menghadapi masalah hingga pada satu titik sebuah sistem seperti di atas dapat diwujudkan. Pada akhirnya, berbagai macam kalangan baik yang sekolah ataupun sudah tidak sekolah dapat memperkaya khazanah pemikiran untuk mengembangkan dan mengubah cara pandang yang membuatnya bisa memilih jalan yang tepat sesuai dengan alur kehidupannya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 6 Juni, 2026

  • The Dream of Bulukumba Students to See the World

    The Dream of Bulukumba Students to See the World

    It was a very surprising day for the students. Victor from Spain and Jessica from France visited an English class. The students whispered to each other because they were curious to know. Then, they sat at the same table with Victor and Jessica.

    In the classroom, Mr. Agung Pratama Salassa, the English teacher, welcomed the guests warmly. He told the guests that most of his students were children and teenagers. After that, they all started a simple conversation. Apart from a few words, most students hoped to get questions, and the two foreigners thought the same. The room was quiet for a moment. Then, Jessica broke the silence with her friendly personality. She greeted some students, and they answered in the same. The atmosphere became closer and warmer.

    Soon after that, Lulu, a recent high school graduate got some questions. She used this valuable chance to speak as best as she could. She talked about her dream to study in the United States or Japan. To study at a top university and join the world community, Lulu is learning English and Japanese. She also learned Mandarin before. Some of her family members are also learning foreign languages at Rumah RBB (Rumah Belajar Bersama) where she is learning English now. Her elder cousin, Lala, is teaching at an international school in Bali now. Lala is the close family example that Lulu wants to follow. Lala is one of the important persons who has inspired her to learn foreign languages.

    “Wow, that is amazing family”, Jessica said and Victor agreed. Jessica asked more questions. “Is Japanese language difficult?”, Jessica asked. “No”, Lulu answered. “I have learned Mandarin before. It is similar to Japanese”, she added confidently.

    Jessica and Lulu

    In short, from this good understanding, Jessica and Victor saw that the 19-year-old girl did not just have big dreams but also made a real effort. This meeting made Lulu very happy. She smiled because the guests could understand her words, even though she is still at the Basic English level at RBB.

    Try to talk with children

    Other students at the same level also wanted to speak. However, they understood that the two kind foreign guests were the visitors of Kak Aris Irfan—the Head of Cahaya Bone of Kalla Travel and the Owner of Villa Malomo. It was time for them to leave Bulukumba and go to Bira, their main destination. Moreover, Kak Irfan and his beloved wife had been waiting patiently for a long time. Therefore, the students quickly took some pictures together as memories of this inspiring meeting which almost ended.

    Kak Rani, a teacher of learning to read, write and Math for kids and Mademoiselle Jessica.

    Kak Irfan did a great thing. He supported local Indonesian students to be brave and speak English with foreigners. To Kak Irfan, Mademoiselle Jessica, and Señor Victor, all of us in informal education thank you very much for your kindness. Because of you all, this unpredictable, unimaginable and valuable meeting came true.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Friday, June 5, 2026