Penulis: Zulkarnain Patwa

  • RBB Meruntuhkan Kemustahilan Tenses Sejak SD

    RBB Meruntuhkan Kemustahilan Tenses Sejak SD

    Sebuah kelas yang terdiri dari pelajar kelas 3 sampai 6 SD sedang didesain menguasai struktur nominal dan verbal tenses di luar kepala. Ini langkah yang sangat berani, jarang atau mungkin saja tidak pernah dilakukan di pendidikan formal. Berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget, para akademisi yang sealiran dengannya pasti akan berargumen anak-anak SD belum waktunya belajar materi tenses dengan alasan bahwa mereka belum bisa berpikir abstrak. Hal ini diperkuat dengan kurikulum bahasa Inggris untuk SD di Indonesia tidak membahasnya secara khusus—hanya memasukkan tenses dalam bentuk bacaan.

    Apa yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu bagus sebagai langkah pembuka tetapi itu tidak cukup. Kenapa? Karena tenses tidak selesai dibahas hingga tamat SD. Wajarlah bila kemampuan pelajar menjawab soal-soal sangat rendah; pondasi dasar tidak kokoh.

    Mengatasi masalah tersebut, rekan-rekan pengajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) memberikan solusi. Sekitar 10 orang anak SD di kelas malam dari berbagai tingkatan kelas di sekolah sekarang sedang giat-giatnya saling bahu-membahu untuk menguasai tenses di luar kepala dengan segala bentuk perubahannya. Subject-verb agreement (Kesesuaian subjek dan kata kerja) melibatkan subjek tunggal dan jamak: I, you, they, we, he, she and it.

    Patut diingat, anak-anak tersebut sebelumnya telah dibiasakan membaca buku berbahasa Inggris di RBB sebagai strategi mengakrabkan diri pada bacaan dan wawasan luar. Mereka pasti mengenal beragam kalimat. Dengan menghadirkan subjek tunggal dan jamak, mereka tidak akan dengan mudah menganggap remeh pelajaran tenses. Mereka secara tidak langsung dilatih untuk mampu berpikir lebih dalam mengucapkan kalimat yang benar. Oleh karena itu, saat guru meminta setoran simple present pada nominal atau verbal tenses yang berisi empat perubahan kalimat pada setiap subjek, mereka tidak langsung menyatakan sanggup melainkan berlatih lebih dahulu. Barulah setelah beberapa waktu, mereka akan berani tampil di depan kamera rekaman video live (siaran langsung) di akun Facebook RBB.

    Untuk melihat kualitas pelajar, setoran tenses dilakukan per individu. Agar terlihat lebih menarik, tantangannya adalah hanya pelajar yang bisa menyetor tenses diizinkan keluar main. Semua anak pasti suka keluar main sehingga mereka berusaha. Bagaimana dengan anak yang tidak bisa menyetor? Setoran ini diperkenankan untuk dipraktikkan secara berpasangan (peer tutoring) agar seorang pelajar yang belum terlalu lancar bisa mengikuti rekannya dalam berbicara dengan benar. Jadi, semua orang di kelompok kecil ini merasa berusaha sehingga keluar main itu dianggap hal yang berharga, bukan karena ada jam tertentu yang diberikan untuk keluar main.

    Kemungkinan untuk menghadapi materi yang berat seperti perfect dan perfect progressive sudah diantisipasi. Sejak awal, anak-anak ini telah dibekali latihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) di hampir tiap pertemuan belajar. Mereka diakrabkan pada puluhan perubahan verb 1, 2 and 3 (kata kerja 1, 2, dan 3) yang disertai dengan artinya dalam bahasa Indonesia. Ini dibaca secara bersama-sama dengan pendampingan guru dan kemudian, diulang per individu hingga paham, bukan hapal. Kalaupun hapal, itu efek dari pemahaman saja.

    Ketika mereka sampai pada materi perfect, verb 3 secara otomatis berfungsi dan diberikan penjelasan tentang cara memasukkan dalam kalimat. Pendekatan melalui rumus tentu mengikuti agar terdapat kekayaan penjelasan dalam memahamkan tenses yang dianggap super rumit ini.

    Pada kenyataannya, RBB memandang tenses itu adalah pelajaran yang mudah diajarkan. Jauh sebelum anak-anak ini berlatih secara berkelompok, ada banyak anak-anak SD di RBB yang telah sanggup menguasai tenses di luar kepala. Bahkan ada yang bisa menjawab tanpa bantuan kotak kosong tenses (hanya berisi nama tenses, tanpa rumus dan kalimat) sama sekali. Linknya dapat Anda tonton di sini:

    Lagi pula, anak-anak ini terinspirasi belajar tenses karena melihat rekan sebayanya mampu berbahasa Inggris lebih baik dalam menjawab soal-soal tertulis dan berbicara lebih tertata. Selain itu, terdapat kesadaran dari guru-guru RBB dalam mempersiapkan para pelajarnya untuk mampu bersaing di tingkat internasional nantinya.

    Perbandingan lainnya adalah dunia pendidikan Islam sejak berabad-abad yang lalu telah mentradisikan kebiasaan anak-anak bukan hanya SD tetapi TK untuk mempelajari dan menghapal Al Qur’an. Teori Jean Piaget yang meskipun berkontribusi besar dalam dunia pendidikan tidak selamanya sesuai. Ada banyak hal yang berbeda dan mampu terbukti tanpa harus mengikuti Piaget.

    Ini adalah bukti bahwa otak anak kecil sebenarnya sanggup menerima materi yang dianggap berat oleh orang dewasa. Untuk bisa berjalan efektif, kita bisa berkaca dari RBB pada jangkauan yang lebih kecil dan pendidikan dunia Islam pada cakupan yang lebih luas.

    Lifelong education (Pendidikan sepanjang masa). Pendidikan yang berkualitas yang mampu menjawab tantangan zaman harus dimulai sejak usia ini. Beranikah kita mendorong anak-anak kita mengikuti pembelajaran seperti ini?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 24 Juli 2026

  • Perjalanan Alika Menembus Kotak Kosong Tenses

    Perjalanan Alika Menembus Kotak Kosong Tenses

    Mumtazah Al Hakim anak yang telah lama belajar Reading (bacaan) di Rumah Belajar Bersama (RBB) dengan kemampuan menamatkan dua buku bacaan berbahasa Inggris lengkap dengan latihan soal ceritanya. Pada buku ketiga, Pre-Intermediate, ia pun sudah hampir tamat. Karena referensi buku-bukunya itu terbitan asing dan juga dipelajari oleh mahasiswa jurusan bahasa Inggris di Sulawesi Selatan, anak kelas 1 SMP ini relatif tidak punya kendala berarti di pelajaran bahasa Inggris sekolah. Ia terlihat santai saja belajar.

    Penulis yang bagian dari pengajar bahasa Inggris di RBB yang merasa gregetan karena Alika yang sudah hampir tamat tiga buku baru tahu tenses, bukan paham di luar kepala. Beberapa kali penulis turut mendidiknya untuk memahamkan. Namun, penulis heran kenapa ia belum tuntas materi tenses itu.

    Kedekatan penulis dengan Alika memang agak berjarak. Penulis bukan guru utamanya Alika. Ia berada di bawah tanggung jawab Mr. Ancha dan ia betah berguru ke guru kelasnya itu. Penulis hanya guru pembantu yang bertugas mengecek capaian kemampuan pelajar dan mengajarkan materi-materi yang diperlukan.

    Hal lain yang sangat memberatkan adalah sesekali penulis menegur Alika karena kebiasaannya bermain game di kelas. Kesenangan yang diganggu pastilah memunculkan rasa jengkel di dalam hati. Ia merasa tidak etis saja memprotes guru. Penulis sadar akan persoalan itu dan selalu berusaha mencari cara menemukan waktu yang tepat untuk mengkomunikasikannya dengan baik.

    Hari ini, ada momentum yang baik. Alika, nama panggilan Mumtazah Al Hakim, sedang menanti guru matematikanya, Miss Uci, belum datang mengajar “Ayo, Alika. Kita belajar tenses,” ajak penulis. Ia tersenyum tapi tidak kuasa menolak. “Tidak perlu khawatir. Saya tidak pernah membencimu,” kata penulis. “Yang saya benci adalah sikapmu yang kebanyakan main, bukan dirimu,” terang penulis dengan nada meyakinkan. Ia berpikir, menimbang-nimbang pernyataan itu. Kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya menuju meja pelatihan yang berisi kotak kosong tenses yang berisi seluruh nama tenses tanpa rumus dan contoh kalimat.

    Alika memulai kalimat positive (pernyataan) pada 16 perubahan kalimat. Di setiap perpindahan kalimat positive tense, ia menunjuk kotak kosong itu sebagai tanda bahwa ia melakukan perpindahan kalimat secara lisan. Setelah lancar, ia masuk pada kalimat positive interrogative (pertanyaan positif). Lalu, kalimat negative (negatif atau penolakan) dan negative interrogative (pertanyaan negatif).

    Seperti apa hasilnya? Alika mampu melakukannya dengan baik. Pada kalimat yang ia praktikkan itu, kemampuannya di atas 90 persen. Ini sudah cukup untuk mengantarkannya pada latihan tenses secara acak pada pertemuan berikutnya.

    Hampir bersamaan dengan selesainya latihan, guru Matematika-nya Alika pun datang. Penulis dan Alika sama-sama puas dengan capaian ini. Modal berharga ini akan sangat berguna membantunya menuntaskan latihan buku reading-nya pada tingkat Pre-Intermediate dan sekaligus juga memperkuatnya memahami tenses di luar kepala baik secara teratur ataupun acak.

    Dari proses belajar yang dijelaskan di atas, ketika Alika yang berumur 13 ini mampu menuntaskan tiga atau bahkan sampai lima buku reading berbahasa Inggris dan tenses serta berbagai basic Grammar lainnya, ia adalah bagian dari pelajar yang layak menjadi contoh yang layak diikuti pada pengembangan berbahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis 23 Juli 2026

  • Sampah Plastik Merusak Keindahan Pantai Bulukumba

    Sampah Plastik Merusak Keindahan Pantai Bulukumba

    Kebersihan pantai adalah masalah utama yang dihadapi Bulukumba yang kaya dengan beragam keindahan pantai. Persoalan ini tidak ada habisnya. Sampah plastik kiriman dari laut dan sampah dari darat menutup pasir putih Bira yang telah terkenal di mana mana.

    Kesadaran kita memang sedang diuji. Uang yang begitu besar mengalir dari sektor wisata dan pantai yang indah yang menjadikan nama Bulukumba populer masih saja terkepung dengan persoalan klasik ini.

    Sebagai langkah konkret, para pemerhati lingkunganlah yang turun langsung mengadakan agenda rutin membersihkan pantai

    Untuk mengetahui jumlah sampah plastik yang dikumpulkan, mari kita sejenak melirik capaian pemerhati lingkungan ini dalam bentuk ukuran berat.

    Bulan April, 1.400 kg
    Mei, 169,3 kg
    Juni, 245 kg
    Juli, 37,2 kg

    Total : 1.848,2 kg.

    Sekadar catatan, jumlah plastik terkumpul pada bulan Juli lebih sedikit bukan karena plastik sudah jarang ditemukan di pantai tetapi karena keterbatasan jumlah relawan yang sempat turun ke lapangan secara langsung.

    Dalam waktu dekat, 2 ton plastik akan dikumpulkan. Jumlah sampah ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan plastik yang tidur pulas di sepanjang pantai merusak kenyamanan semua orang yang berada di pantai termasuk para bule senang bermandikan matahari.

    Data ini diperoleh dari Sudar, seorang pelatih penyelam di Indo Ocean, berkonsentrasi di Pantai Bira dan Marumasa. Sudar tidak sendirian. Beberapa pemerhati lingkungan dari masyarakat setempat yang biasa turut ambil bagian kerja bakti sosial ini adalah mahasiswa KKN UGM di Desa Bira, Dego-Dego Na Bira, Nusa Bira Indah, dan termasuk Pemerintah Desa Bira juga menggalakkan gerakan ini dengan mengajak rakyatnya membersihkan area dekat pelabuhan dan Pantai Panrang Luhu.

    Sewaktu baru saja selesai membersihkan pantai di Bira (22/07), penulis berbicara santai dengan beberapa wisatawan yang berada di sekitar pantai. Beberapa orang Belanda yang penulis temani berbicara terkesan dengan aktivitas yang dilakukan. Penulis menyatakan hadir untuk mendukung dengan mencatatkan kegiatan ini, menyebarkannya di media sosial agar lebih banyak orang tergugah dan peduli hal-hal kecil yang berdampak besar.

    Membangkitkan kesadaran sosial itu memang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sangat panjang; lebih panjang dari hamparan pasir putih di Bulukumba. Dari dahulu hingga sekarang persoalan plastik belum selesai. Bahkan, Pemerintah Daerah Bulukumba pun yang mempunyai kekuatan yang memaksa melalui aturan regulasi masih belum punya tenaga yang cukup untuk menuntaskannya. Mereka memang berbuat, tetapi kenyataannya, sebaran plastik masih sangat melimpah. Artinya, tenaga yang mereka miliki masih sangat terbatas dibandingkan dengan plastik yang melintas batas.

    Tapi bukan berarti bahwa kita harus menyerah. Seorang relawan plastik dari Jepang yang tinggal selama dua tahun di Bulukumba pernah menjadi relawan di Dinas Lingkungan Hidup Bulukumba menyatakan bahwa Jepang saja butuh 40 tahun mengkampanyekan diri agar plastik tidak dibuang di sembarang tempat. Indonesia khususnya di Bulukumba selama berpuluh-puluh tahun masih sedang menghadapi hari-hari yang panjang bertarung kewalahan sampah plastik yang belum tahu kapan bisa tuntas.

    Yang jelas, ini adalah tantangan pemerhati lingkungan dan pemerintah untuk terus-menerus berusaha tiada henti. Hanya dengan tindakan ini kita dapat yakin bahwa suatu saat, pantai kita ini terbebas dari plastik.

    Apakah kita membutuhkan jumlah relawan yang lebih banyak dari jumlah plastik atau apakah Pemerintah Daerah mempunyai langkah strategis yang membuat orang yang buang plastik di sembarang tempat itu mengangkat kedua tangan untuk menyerah? Atau, apakah plastik itu bagian dari keindahan sehingga harus dipertahankan keberadaannya di pantai?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu 22 Juli 2026

  • Siasat Cerdik Belajar Irregular Verbs

    Siasat Cerdik Belajar Irregular Verbs

    Irregular Verbs (Kata kerja yang tidak beraturan) adalah kelas kata yang menarik, sesuatu yang tidak hadir dalam bahasa Indonesia. Berlari, berpikir, dan makan tidak mengalami perubahan kata bila dikerjakan masa lampau, sekarang, dan masa akan datang. Bahasa Inggris tidak demikian.

    Makan
    To eat, eat, eats, ate, eaten, eating.
    Berpikir
    To think, think, thinks, thought, thought, thinking.
    Berlari
    To run, run, runs, ran, run, running.

    Ini semua wajib dikenalkan Lantas bagaimana cara menyederhanakannya? Mudah. Kita mengajak dengan istilah bermain kosakata. Kata “bermain” itu disukai anak-anak. Satu dua perubahan kosakata semisal eat, ate, eaten dan think, thought, thought cukup mereka kenali sebagai langkah pembuka dengan jalan membaca bersama dengan pelafalan yang benar. Perubahan lainnya seperti to eat, eats, eating dan to think, thinks, thinking nanti diajarkan saat membuat kalimat agar bahan pelajaran tidak bertumpuk dalam satu waktu. Setelah paham dua perubahan kosakata kata, tambahkan dua atau tiga kosakata lagi. Begitu seterusnya hingga puluhan dan bahkan ratusan kata mereka kuasai.

    Anak-anak yang cepat memahami pelajaran membantu rekan terdekatnya. Tentu, mereka takkan mengelak karena senang selalu bersama best friend-nya. Pelajar yang tidak punya best friend diajak bergaul. Bila gagal, guru kelas yang turun langsung mengadakan pendampingan kepada anak tersebut. Terkadang juga, beberapa anak yang meskipun bersama best friend-nya belajar bersama, mereka terlambat mengerti. Ini juga bagian dari tugas guru untuk memberikan pengarahan lebih lanjut.

    Ketika kelas seperti ini berjalan, dalam beberapa waktu, anak-anak akan selalu mengangkat tangan untuk menyatakan “saya sudah hapal.” Guru menyambut, “Silahkan setor hapalan.” Ia pun menunjukkan kemampuannya. Dengan memberikan pujian yang tulus capaiannya itu membuat anak-anak akan meminta lagi kosakata yang baru. Tiap dari mereka akan berhenti manakala sudah merasa capek.

    Pada pertemuan berikutnya, anak-anak tidak akan kaget lagi melihat perubahan kata kerja pada kalimat simple present atau simple past. Mereka akan tahu apa manfaat “permainan” kosakata. Bagi guru yang kreatif, mereka biasanya memanfaatkan untuk mengajarkan tenses–perubahan kalimat berdasarkan waktu dan kejadian atau kondisi–secara keseluruhan. Ini karena kata kerja merupakan inti pada perubahan kalimat.

    Ketika inti telah berada dalam genggaman, yang lain dengan serta merta mengikut asalkan disertai dengan penjelasan yang masuk akal sesuai kemampuan daya serap pelajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 22 Juli 2026

  • Mengakhiri Pemborosan Waktu Belajar Bahasa Inggris

    Mengakhiri Pemborosan Waktu Belajar Bahasa Inggris

    Ini bukan cerita khayalan melainkan kenyataan yang diceritakan. Tenses di luar kepala adalah materi biasa diajarkan kepada anak SD di Rumah Belajar Bersama (RBB). Anak-anak dibiasakan membaca perubahan tenses dalam kotak yang berisi kalimat dan kemudian praktik dengan kotak kosong, tanpa kalimat.

    Kenapa tenses sangat penting? Bayangkan saja, pelajar SMP, SMA dan bahkan di perkuliahan pun, materi ini masih diajarkan. Sungguh begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia bila kita tidak memulai pengajaran ini sejak SD. Seharusnya, para pelajar itu sudah mempelajari hal lainnya, tetapi karena inti perubahan kalimat ini belum tuntas, itu diulang lagi pada pendidikan lanjutan. Ini namanya pemborosan waktu.

    Saat menjadi mahasiswa dan belajar di Kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, penulis menemukan di berbagai macam tempat kursus di mana para pelajar sekolah, mahasiswa dan bahkan S-2 sekalipun masih berantakan memahami tenses.

    Beruntung, ada beberapa tempat kursus yang sangat peduli penguatan materi ini sehingga penyelamatan dapat dilakukan. Penulis dan pelajar lainnya sadar bahwa tanpa tenses, kami akan sangat kesulitan mengerti teks berbahasa Inggris dan tertatih-tatih dan bahkan bisa stres mendalami materi lanjutan. Misal, bagaimana mungkin memahamkan conditional sentences atau question tag tanpa dasar tenses?

    Sebenarnya, materi ini sederhana. Satu kata kerja semisal “go” sudah dapat menerapkannya. Subjek I, you, they, we, he, she, dan it dimainkan untuk mengasah otak. Beragam subjek menimbulkan variasi kalimat sehingga merangsang ketajaman berpikir untuk mengolah perubahan kalimat yang subjeknya tunggal atau jamak.

    Cara memahamkan bisa dengan membaca berulang-ulang hingga melekat di luar kepala. Membaca meskipun dengan teks yang sama, itu menambah pemahaman baru dari pengetahuan yang sebelumnya. Peran guru untuk mendidik secara konsisten serta penjelasan seperlunya pada tiap-tiap perubahan kalimat dibutuhkan agar pelajar sedikit demi sedikit mengetahui fungsinya. Jalan inilah yang mengantarkan para pelajar mengerti di luar kepala dengan membuktikan praktik kalimat dengan kotak kosong saja.

    Selanjutnya, kebiasaan literasi berbahasa Inggris itu harus selalu dihadirkan agar pelajar bisa sering melihat struktur kalimat. Mereka akan sadar bahwa betapa berharganya tenses itu karena tidak ada kalimat tidak berpola tenses. Dari sini, pelajar juga akan merasa lebih nyaman, percaya diri dan lancar membaca karena arti bacaan dan struktur saling terkait, tidak bisa dipisahkan.

    Namun, sebagian pendapat beranggapan bahwa tidak perlu tenses; pembiasaan membaca dan bicara saja sudah cukup. Banyak orang Barat berbahasa Inggris tanpa mengerti tata bahasa dan mampu membaca dengan baik. Kritik ini ada benarnya juga. Pertanyaannya, apakah keseharian kita berbahasa Inggris? Apakah literatur yang kita baca selama ini berbahasa Inggris?

    Penulis sendiri sejak kelas 4 SD sudah diajarkan oleh (alm.) ayah untuk berbicara dengan dirinya dan diajak berbicara dengan orang asing di Pantai Bira, membaca majalah dan buku-buku berbahasa Inggris. Banyak hal diketahui tanpa lewat hafalan, pembiasaan saja.

    Persoalannya, ketika dihadapkan pada persoalan makna yang mendalam dari struktur kalimat pada bacaan, penulis tidak mampu menemukannya. Justru, anak-anak sekarang ini bisa melakukannya karena selain membaca dan bicara, mereka belajar tata bahasa. Ini berkebalikan dengan penulis yang nanti setelah mahasiswa baru bisa mengerti lebih baik. Di sinilah penulis merasa menyesal mengabaikan tata bahasa sewaktu masih anak-anak dan penyesalan itu sebaiknya tidak terulang pada pelajar lainnya, setidaknya kepada pelajar yang berada di lingkungan terdekat.

    Tenses di luar kepala berikut dengan fungsi-fungsinya bagi anak SD sebagai strategi menghemat waktu belajar ini bukanlah hal yang luar biasa. Biasa saja. Ia menjadi luar biasa karena sedikit orang yang mau dan berani melakukannya.

    Apakah kita mau menjadi bagian dari sedikit itu dan menjadikan luar biasa itu menjadi hal biasa?

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 21 Juli 2026

  • Rahasia Sukses Juara Bahasa Inggris

    Rahasia Sukses Juara Bahasa Inggris

    Generasi penerus tenses di luar kepala sedang dimassifikasi. Rumah Belajar Bersama (RBB) telah membuktikan para pelajarnya mulai dari pelajar kelas 3 SD hingga orang dewasa mampu memahami tenses di luar kepala. Untuk kenyataan yang terbaru pada 2026 ini, contoh pada Faika Qhinara Putri Ridwan, kelas 3 SD, dan Adeeva Syaqila Zulfikar, kelas 4 SD, sama-sama meraih emas olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional dan Andi Widya Maulidyah, mahasiswa baru angkatan 2025, juara 1 kejuaraan grammar tingkat mahasiswa di Universitas Negeri Makassar (UNM) adalah bukti para pelajar berprestasi yang dibangun dari pondasi tenses untuk memudahkannya pada pembelajaran tingkat tinggi lainnya.

    Ketika melihat prestasi atas, hal ini menandakan bahwa tenses bukan hal yang mustahil untuk dibumikan bagi pelajar SD hingga dewasa. Oleh karena itu, para guru di RBB pun berpikir untuk mencetak lebih banyak lagi pelajar yang menguasai tenses. Tak heran bila pada bahasa Inggris kelas malam yang hampir semuanya anak-anak SD berlatih kini tenses di luar kepala.

    Anak-anak SD di RBB sekarang ini semarak belajar tenses. Ini bukanlah hal yang sulit diterapkan karena terdapat trik penyederhanaan materi. Trik tersebut membuat anak-anak berlomba-lomba menyetor perubahan kalimat pada tenses secara individual, bukan dengan pendekatan rumus. Terbangun sebuah persepsi kompetisi yang positif: Bila Faika dan Adeeva bisa melakukan hal yang luar biasa, mereka juga tertantang untuk melakukan hal yang sama. Menariknya, kedua anak berprestasi itu selalu mau membantu berbagi trik menguasai tenses.

    Fenomena ini berbanding terbalik dengan arah pembelajaran bahasa Inggris umum di Indonesia yang tidak lagi memasukkan seluruh tenses dengan segala perubahannya sebagai bahan utama dalam membangun fondasi bahasa Inggris karena mereka ingin menumbuhkan kemampuan skill, aktif berbicara. Keaktifan berbicara dalam bahasa Inggris daripada grammar seringkali disampaikan oleh Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendiknasmen). Grammar memang masih ada tetapi itu bukan lagi perhatian utama. Padahal, menjawab ujian sekolah atau soal olimpiade sangat membutuhkan pemahaman grammar.

    Berbeda dengan RBB. Ia menerapkan keaktifan berbicara dalam mengajarkan tenses. Speaking dan grammar (bicara dan tata bahasa) adalah satu kesatuan yang tidak dibenturkan atau menganaktirikan satu diantara keduanya. Pelajar yang aktif speaking biasanya lemah dalam ujian tulis, sementara pelajar yang aktif dalam penguasaan grammar biasanya kaku dalam speaking.

    Selain itu, para pelajar diwajibkan membaca buku berbahasa Inggris. Dengan rancangan literasi ini, mereka mengetahui struktur tenses, ragam pembelajaran grammar dan penambahan wawasan karena bacaan buku mereka adalah buku asing. Jadi, pembelajaran bahasa Inggris yang demikian ini menyentuh dan memperkaya berbagai macam aspek.

    Pembelajaran bahasa Inggris terus melakukan pembaharuan yang mampu bertahan dan beradaptasi pada perubahan zaman. Kita tidaklah mungkin mencetak pelajar yang mempunyai pemahaman dan pengaplikasian mumpuni bila malas berkreasi atau berinovasi. Apa yang dilakukan RBB semisal mengajarkan tenses di kepala nantinya bukan hal baru lagi. Bila ia tidak melakukan pembaharuan, ia juga akan tertinggal. Namun, apa yang ia terapkan saat ini dalam bentuk pengajaran tenses sebagai gerbang pembuka grammar tingkat lanjut, reading dan speaking sangat bermanfaat untuk melahirkan para juara bahasa Inggris di masa akan datang.

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Senin, 20 Juli 2026

  • Mengabadikan Warisan Perahu Tradisional Lewat Tulisan

    Mengabadikan Warisan Perahu Tradisional Lewat Tulisan

    Bekerja mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Itulah yang saya dapatkan saat bersama Horst Liebner. Beberapa tulisan yang tiap bagiannya jumlahnya tidak lebih dari 200 kata mesti kami bahas selama berjam-jam. Tahulah, gaya bahasanya Horst yang dipengaruhi sastra Melayu klasik sehingga saya harus mencocokkan dengan gaya bahasa Indonesia yang sesuai bahasa percakapan sehari-hari yang tidak terlalu kaku pada tata bahasa Indonesia.

    Perbedaan cara pandang ini memperkaya cara berpikir saya terutama wawasan tentang perahu tradisional. Sebagai bahasa ibu saya, bahasa Konjo untuk istilah perahu ternyata memiliki makna yang jauh lebih luas dan sering kali berbeda dengan bahasa percakapan sehari-hari. Saya makin sadar bahwa banyak hal sederhana namun berharga yang kerap luput dari perhatian, padahal hal-hal tersebut sangat berguna bagi pengembangan pengetahuan yang kini bisa saya dalami dari Horst dan para Panrita Lopi (Ahli Pembuat Perahu).

    Tantangan yang saya hadapi saat Horst meminta saya menulis tentang kayu perahu adalah runtutan alur cerita yang memudahkan pembaca umum tertarik ingin tahu lebih banyak. Ia memberikan segala informasi yang saya butuhkan dan turut menemani saya bertemu dengan beberapa Panrita Lopi besar para bos penyuplai kayu untuk wawancara. Tapi karena alur cerita yang saya buat tidak sesuai dengan alur yang ia inginkan, pada akhirnya, ia menulis sendiri sementara saya menjadi editor sambil berdiskusi atau berdebat.

    Rekan yang menemani, Anjar S. Masiga, seorang jurnalis sekaligus juga pemerhati warisan budaya pembuatan perahu tradisional, membaca narasi. Kami berdua mendengar untuk menganalisa kesesuaian kosakata yang tepat dan nyaman didengar. Saya sering mendukung dan sekaligus mengkritik plus-minus tulisan itu. Ini sesi yang menarik karena dari tulisan yang sedikit nan berkualitas itu, banyak pengetahuan perahu yang diperdebatkan untuk mencapai kesepakatan bersama.


    Setelah merangkum, Horst mengingatkan, “Menulislah tentang kayu ulin.” Kami telah menyelesaikan pembahasan tentang kayu lokal, kayu yang tersedia di Sulawesi. Saya punya cukup wawasan tentang ini karena pernah berkeliling pulau Kalimantan. Beberapa tempat yang saya temui seperti di Kota Baru, Batu Licin dan pulau Sebuku di Kalimantan Selatan, terdapat orang turunan Desa Ara—Desa di Bulukumba—yang menceritakan diri mereka hingga tinggal di Kalimantan karena alasan membuat perahu.

    Data ini diperkuat oleh hasil wawancara saya dengan Daeng Masarro, seorang Panrita Lopi senior asal Ara yang memiliki pengalaman membuat perahu di Kalimantan serta alasan perajin perahu Bulukumba bertebaran bekerja di Kalimantan.

    Saya berencana menulis di hari esok. Karena itu, saya manfaatkan waktu menulis tentang esai ini. Di sisi lain, Anjar yang berada di samping saya menanyakan berbagai hal tentang ulin sembari tangan dan pikirannya sedang fokus di depan laptop mengetik. “Saya ingin urusan tentang kayu selesai hari ini,” kata Anjar. “karena besok saya mau menulis hal lain.” Pikirannya pun sudah terdesain membuat paragraf yang singkat dan padat makna. Saya senang ia selangkah lebih cepat dan berharap ia menyelesaikan beberapa bagian penting tentang ulin tersebut.

    Saya hanya perlu melihat hal-hal lainnya yang belum ia bahas yang membuat saya bisa turut ambil bagian kecil untuk melengkapi dan memperkaya tulisan tentang perahu tradisional Indonesia yang digagas oleh Horst Liebner.

    Pada pembahasan berikutnya, segala hal tentang kayu ulin yang kami susun akan kembali dipermantap dengan memangkas pemborosan kata untuk mempertahankan kualitas tulisan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 Juli 2026

  • Tidak Ada Game di Alam Kubur

    Tidak Ada Game di Alam Kubur

    Manusia lahir, muda, tua, dan mati, kata Ferdowsi. Begitulah kisah intelektual Persia yang mempersingkat jalan perjalanan hidup manusia ketika sang Raja Persia meminta agar intelektual mencatat perjalanan hidup manusia. Sebelumnya, sang raja menginginkan dibuatkan buku untuk ia baca. Ribuan ton buku dibuat. Raja tidak punya cukup waktu, sibuk. Singkat cerita, lahirlah kalimat di atas. Sang Raja terpukau. Menerima. Titik.

    Kisah klasik ini menjadi tamparan keras bagi manusia modern saat ini, yang sering kali gagal menghargai waktu akibat jebakan teknologi. Manusia yang dikaruniai umur panjang banyak yang benar-benar menyia-nyiakan waktu. Di zaman yang serba canggih ini, dunia digital mengubah perilaku manusia yang rambatannya sampai ke anak kecil. Permainan rakyat di mana sosialisasi sesama manusia di lingkungan sekitar yang nyata, kini berubah menjadi permainan game Android di dunia maya. Sialnya, perilaku ini juga menjangkiti orang dewasa—tidak hanya game, tetapi judi juga. Tidak peduli manusia itu pintar atau tidak, kreativitas manusia lumpuh oleh angan-angan kesenangan palsu.

    Bisa dibayangkan, berapa banyak waktu habis percuma mengurusi hal-hal tidak penting itu? Bagaimana kita mengingatkan atau mengecam? Anak-anak masih mungkin kita tegur karena otak dan fisiknya yang masih terbatas. Orang dewasa? Mereka mempunyai otak dan kekuatan untuk menolak. Ya, apa pun itu, kita harus mengingatkan.

    Bagi anak-anak, betapapun mereka disibukkan dengan kegiatan nyata dengan sosialisasi di lingkungan sekitarnya, mereka tetap saja ingin selalu bermain Android. Masalahnya bertambah runyam ketika orang dewasa itu memakai Android setiap hari. Anak-anak itu peniru ulung. Ketika mereka melihat orang dewasa, bagaimana mungkin orang dewasa itu melarang memakai Android? Orang dewasa sebaiknya menjadi contoh agar bisa diikuti oleh anak-anak. Ketika daya ‘hipnotis’ Android tidak bisa dihentikan, maka jam penggunaannya perlu dipersingkat. Oleh karena itu, batasan dengan bijaksana menjadi satu-satunya solusi. Dengan apa? Dengan menyibukkan diri membuat aktivitas lainnya.

    Menemukan Jalur yang Benar
    Kita tentu tidak ingin mati bersama Android. Percaya atau tidak, tidak ada lagi game di alam kubur. Sebelum generasi penerus ini hancur, kita harus bisa memandang bahwa Android itu mempunyai beragam fasilitas yang jauh lebih bermanfaat. Itulah yang perlu dimasifkan untuk mendukung cita-cita, segala minat dan bakat manusia yang luar biasa itu bisa dikorelasikan dengan Android untuk mencari data yang mendukung pemaksimalan potensi diri agar dapat mengisi pengetahuan yang dibutuhkan.

    Ini proses peralihan dari manusia Android yang terninabobokan oleh kecanduan game dan semacamnya ke arah yang lebih positif. Layaknya pisau. Pisau bisa digunakan untuk membunuh manusia atau memotong kue. Jadi, manusialah yang mengatur, bukan diatur oleh Android.

    Apakah kita bagian dari manusia lahir, muda, tua, dan akan mati? Ke arah mana kita akan menggunakan waktu singkat kita yang tersisa? Apakah kita termasuk manusia yang merugi?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 Juli 2026

  • Kreativitas Miss Fathy pada Bacaan dan Percakapan

    Kreativitas Miss Fathy pada Bacaan dan Percakapan

    Mengupayakan kualitas belajar yang berbobot yang menyenangkan adalah langkah konkrit oleh Miss Fathy Cayadi pada pengajaran bahasa Inggris berbasis literasi yang dikombinasikan dengan praktik bicara merupakan harapan yang ia terus gerakkan di Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete. Ia dengan mantap berhasil mengorelasikan bacaan buku dengan praktik langsung bicara di kelas.

    Seperti apa yang Miss Fathy lakukan pada pengajarannya kali ini? Untuk lebih jelas, mari kita simak aktivitasnya:

    1. Membaca isi buku pada lesson 10 dan ditindaklanjuti dengan mengerjakan latihannya. Lalu, praktik tentang lawan kata sifat disertai pembedaan subjek he, she, dan it (dia untuk laki-laki, dia untuk perempuan, dan benda tunggal selain manusia).

    2. Pada lesson 11, para pelajar membaca percakapan yang menanyakan kepemilikan menggunakan “whose” (milik siapa). Setelah itu praktiknya adalah mengambil pulpen milik siswa dan kemudian bertanya, “Whose pen is this?” Jawaban, “I think this is my pen.” Tanya-jawab satu persatu ini dibuat secara bergiliran hingga semuanya berbicara.

    3. Pada lesson 12, penggunaan possessive adjective (kata sifat kepemilikan). Contoh: This is my handbag or this is your handbag (Ini adalah tas jinjingku atau ini adalah tas jinjingmu).

    4. Pada lesson 13 dan 14 kepemilikan menggunakan ‘s. Contoh: This is Malika’s pen or this is Afif’s pen (Ini pulpennya Malika atau ini pulpennya Afif.

    5. Pada lesson 15, pembelajaran tentang warna. Contoh: What colour’s your umbrella? (Warna apa payungmu?).

    6. Pada lesson 16, materinya masih membahas tentang warna dan kepemilikan namun Miss Fathy membuat lesson ini lebih semarak dengan adegan games, memutar musik sambil memindahkan satu benda keliling dan bertanya, “Punya siapa?” Pelajar tutup mata, Miss Fathy tidak terlihat karena para pelajar tutup mata. Dia lalu mengambil satu pulpen pelajar. Mereka bertanya tentang ciri-ciri benda tersebut. Is it blue? Is it long? etcetera ((Apakah itu biru? Apah itu panjang?) dan lainnya.

    Untuk pemula, materi ini terlihat padat. Namun, karena waktu belajar cukup panjang yaitu tiga jam semua itu bisa dipahamkan dan diolah dengan suasana serius tapi santai di mana para pelajar rileks tanpa kehilangan fokus dalam belajar.

    Mengkombinasikan buku bacaan dengan praktik bicara yang sesuai konteks keadaan pelajar memang membutuhkan kreativitas guru. Apa yang diajarkan Miss Fathy adalah
    Literacy-Based Communicative Language Teaching yang
    sangat selaras target capaian pembelajaran bahasa Inggris yang selain menguatkan pembelajaran akademik, itu juga sangat bermanfaat dalam percakapan sehari-hari.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 18 Juli 2026

  • Perulangan yang Mencerahkan

    Perulangan yang Mencerahkan

    Sebagian orang mengatakan bahwa perulangan itu membosankan. Sebagian lagi bilang bahwa perulangan itu pendalaman–inilah yang Rumah Belajar Bersama (RBB) percaya. Merujuk Imam Ali bin Abi Thalib bahwa ilmu yang diajarkan, niscaya bertambah ilmunya bagi yang mengajarkan itu dan bagi yang belajar pun tercerahkan.

    Miss Fathy Cayadi pengampu RBB di Tanete melakukan review pada Basic Reading mulai dari lesson (pelajaran) 1 sampai 8. Pelajarannya mencakup cara bertanya menggunakan yes-no questions (pertanyaan ya atau tidak), percakapan sehari-hari dan sebuah information question (pertanyaan informasi ) menggunakan what (apa). Langkah ini memastikan pelajaran diserap dengan baik sehingga untuk melanjutkan pelajaran pada pertemuan berikutnya, pelajar tidak akan mengalami permasalahan yang berarti, penguatan basic di atas segalanya.

    Selain pembelajaran serius itu, ada juga yang tidak serius. Sebenarnya, materi ini serius karena isinya wawasan tentang bahasa Inggris juga. Cuma saja, kemasannya tidak nampak serius sehingga terkesan begitu mengasyikkan. Pelajar yang anak sekolah zaman now suka games. Miss Fathy memainkan:

    1. Rock, scissors, and paper (Batu, gunting, dan kertas).
    * Mengambil kertas yang berisi pertanyaan. Misal, do you have a pet? (Apakah kamu punya hewan peliharaan?).
    2. Kertas bergambar untuk mengetahui pekerjaan. Permainan mengambil gambar sesuai profesi yang disebut ini disertai kewajiban menjawab pertanyaan pada sebuah profesi.

    Games yang menyenangkan ini sebenarnya bagian dari perulangan yang sebagian materinya terdapat di dalam lesson 1 sampai 8. Jadi, dari beberapa pendekatan belajar ini, terlihat jelas bahwa ada upaya penyederhanaan masalah, membongkar pemahaman bahasa Inggris yang selama ini diklaim susah, padahal mudah, semudah pelajar yang sedang belajar tersebut.

    Bila konsep belajar seperti ini diterapkan, masih sanggupkah kita berpikir bahasa Inggris itu susah?Bila konsep belajar seperti ini diterapkan, Apakah perulangan itu membosankan? Masih sanggupkah kita berpikir bahasa Inggris itu susah? Bisakah kaum terdidik kita melakukan hal yang lebih baik?

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba Jum’at, 17 Juli 2026