Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Seni Berbicara Inggris di Kampung Belajar

    Seni Berbicara Inggris di Kampung Belajar

    Penyederhanaan pada kerumitan berbicara dalam bahasa Inggris terletak pada materi pronunciation (pengucapan). Materi ini sengaja diberikan pada minggu terakhir, minggu keempat di Kampung Belajar karena para pelajar yang kebanyakan masih pemula terlebih dahulu praktik speaking and reading (bicara dan bacaan) yang berguna memperbanyak pemahaman kosakata.

    Melalui pola pembelajaran Exercising Spoken English, pronunciation tingkat dasar yang diajarkan adalah perbedaan:

    1. i: vs i
    Seat vs sit
    Feel vs fill
    Sheep vs ship

    2. e vs ae
    Bed vs bad
    Bend vs band
    Dead vs dad.

    3. e vs ei
    Ate vs eight
    Debt vs date
    Get vs gate

    Pengajaran pemahaman penyebutan kata dengan benar ini ditindaklanjuti dengan bacaan paragraf yang berisi tentang materi tersebut di atas. Guru juga menyederhanakan masalah dengan memberikan terjemahan sehingga para pelajar tahu arti isi bacaan. Mereka juga akan sadar bahwa bila mereka salah dalam membaca, arti bacaan akan melenceng jauh.

    Bacaan dilakukan secara berulang-ulang agar terdapat kesempatan yang cukup untuk merasakan, mengetahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan. Keindahan irama suara juga dibuat sedemikian rupa agar Pengucapan dari tiap kata pada kalimat dinikmati. Perlahan tapi pasti, para pelajar mampu melakukannya dengan serempak, nada suara yang bersemangat dan menyenangkan didengarkan.

    Karena penekanan pronunciation ini pada British English (Bahasa Inggris orang Inggris), sebagian kata terkesan agak aneh bagi peserta semisal kata Sunday, private dan lainnya. Hal yang dianggap aneh dan menjadi bahan pertanyaan adalah kesempatan yang baik untuk menjelaskan bahwa pengucapan British English itu punya perbedaan—betapapun mempunyai banyak kesamaan—dengan American English (Bahasa Inggris orang Amerika). Itu juga waktu yang tepat untuk memberikan beberapa contoh lainnya sehingga mereka dapat membandingkan dengan baik di antara keduanya.

    Penulis yang mendidik para pelajar itu merasa bahagia menyaksikan mereka menikmati pelajaran. Strategi penguatan pada literasi dengan suara nyaring selama tiga minggu di Kampung Belajar yang kemudian dikunci dengan pronunciation di minggu keempat berdampak besar pada kenyamanan dan kemudahan dalam melafalkan bahasa Inggris lebih tepat. Namun, bukan berarti pengetahuan yang diperoleh ini dianggap cukup. Justru, ini adalah jalan pembuka untuk memberikan pelajaran yang lebih mendalam hingga kelas selesai pada Jum’at, 10 Juli 2026.

    Zulkarnain Patwa
    Rumah Belajar Bersama di Bulukumba pada Selasa, 7 Juli 2026

  • Kelas 3 SD, Faika Lolos Lagi Olimpiade Inggris Nasional

    Faika Qhinara Putri Ridwan kembali lolos Olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional di Sigma Sains Student Olympiad (SSSO) pada ujian online pada Minggu, 5 Juli 2026. Faika berpeluang kembali mengulangi kesuksesannya yang pada Februari 2026 meraih emas pada bahasa Inggris di National Science and Mathematics Olympiad (NSMAO).

    Pengumuman kelolosan Faiika ke tahap nasional pada Olimpiade Inggris.

    Keputusan mengikutkan kejuaraan besar bagi anak kelas 3 di SDN 2 Terang-Terang Bulukumba ini berdasarkan kualitas pengetahuan yang terus berkembang yang Faika miliki, dukungan penuh dari orang tua, dan kebiasaan mengikuti kejuaraan karate sejak TK—sekitar 15 medali yang telah ia peroleh meliputi kejuaraan tingkat provinsi dan nasional: Piala Presiden RI dan Kemenpora RI.

    Tantangan memang sangat perlu diberikan pada pelajar yang punya kemampuan di atas rata-rata. Bila tidak, ia akan bosan. Bila Faika belajar bahasa Inggris untuk mengatasi pelajaran sekolah, itu terlalu mudah—memungkinkannya untuk bersantai-santai saja. Kalau ia bertarung dengan pelajar terbaik se-Indonesia, tentu daya juga dan semangat belajar lebih maju mesti tumbuh. Hal inilah yang sedang berjalan pada Faika dan beberapa rekan-rekannya di Rumah Belajar Bersama (RBB), tempat ia berguru bahasa Inggris.

    Peluang Faika untuk menjadi pandai berbahasa Inggris terbuka lebar. Ukurannya bukan saja karena ia ikut olimpiade tapi karena ada keberlanjutan dalam belajar. Pada liburan sekolah tahun ini, ia bergabung di Kampung Belajar—mulai pagi, siang dan sore hingga malam—dan di luar waktu liburan, ia tetap aktif pada kelas intensif di RBB. Karena intensitas belajar yang sangat tinggi disertai kualitas pembelajaran yang detail, wajarlah bila guru-guru di RBB merekomendasikannya untuk mengikuti olimpiade. Soal-soal yang tidak lazim akan selalu ia temui yang membantu membuatnya mengerti mengapa guru-gurunya memberikan materi yang berbeda dari kebanyakan anak-anak SD seumurannya.

    Olimpiade memang memicu semangat belajar yang tinggi dan memunculkan rasa bangga saat meraih posisi yang terbaik. Namun, di balik itu, kita sedang mempersiapkan pelajar Indonesia yang mempunyai daya saing yang unggul sebagaimana harapan B. J. Habibie yang percaya bahwa dengan ilmu pengetahuan, Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lainnya.

    Selamat berjuang melakukan yang terbaik dan meraih yang terbaik, Faika. Semoga dirimu juga suatu saat menjadi bagian dari cucu intelektual Habibie.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 6 Juli 2026

  • Kecerdikan Fauzan Belajar-Mengajar

    Kecerdikan Fauzan Belajar-Mengajar

    Fauzan Saputra anak yang cerdas tapi punya banyak trik untuk tidak banyak belajar. Sekali waktu, Fauzan pulang jam 04.30 sore padahal jadwal pulangnya seharusnya sampai jam 06.00 sore. Guru kelas tak melarang karena ia beralasan kurir sudah menunggu.

    Segera setelah itu, guru mengabarkan ke ibunya Fauzan. Ibunya sangat kaget. Kenapa ia pulang secepat itu? Kelas siang hingga sore di Kampung Belajar yang berpusat di Rumah Belajar Bersama (RBB)
    yang Fauzan ikuti mulai dari 01.30 siang sampai 06.00 sore. Setelah mengerti persoalan, ibunya turun tangan langsung, pulang ke rumahnya dari tempat kerja dan mengantarnya kembali ke RBB. Fauzan disambut dengan tawa oleh rekan-rekannya.

    Perilaku cerdik mengakali kelas di atas tidak pernah diulangi Fauzan lagi. Pada sore ini, ia ditunjuk untuk memimpin dua orang anak yang masih sangat pemula dan reading (bacaan). Mengetahui dirinya sebagai “penguasa kecil”, ia langsung memilih lesson (pelajaran) 143, satu lesson menuju lembaran terakhir pada buku. Dua orang muridnya, Heri dan Aul, pun tertatih-tatih, tidak bisa membaca dengan benar. Ia tertawa saja dan membiarkan bacaan dibaca apa adanya. Sesekali ia membantu memperbaiki bacaan. Hal ini beberapa kali ia lakukan pada lesson bacaan sulit.

    Setelah itu, Fauzan berkata, “Sekarang kalian bebas memilih lesson.” Nampaknya ia sendiri merasa tidak nyaman dan kewalahan memimpin anak yang tidak bisa mengikuti bacaannya. Anak-anak itu meminta lesson 4, bacaan yang sangat gampang. Ia menolak dan memutuskan untuk membaca lesson 19. Keadaan ini membuat muridnya sedikit lega. Lumayanlah, ini lebih baik daripada lesson 100 ke atas, pikir anak-anak itu. Fauzan pun senang, bacaannya bisa diikuti.

    Namun, bukan Fauzan tidak serta merta membuat segala urusan jadi mudah. “Saya tidak bisa terlalu baik,” katanya. Ia kembali menaikkan bacaan pada lesson 40-an ke atas. Ini ia lakukan hingga lesson 49. Melihat dua muridnya tidak terlalu fasih, ia berbaik hati menurunkan ke lesson 7 dan bacaan mudah lainnya.

    Dari cerita di atas, terlihat jelas bahwa Fauzan memahami seluruh isi bacaan karena ia bisa mengacak bacaan sesuka hatinya. Ia pun memainkan emosi pelajarnya dengan memberikan bacaan mudah dan sulit, mengulangi bacaan agar dapat diikuti dengan benar: suatu tanda bahwa di balik kesulitan yang ia berikan, ia ingin membahagiakan rekannya juga. Dan satu hal lagi, ia tidak pernah memarahi muridnya yang tidak bisa mengikutinya. Selama pelajaran berlangsung, ia memandu dengan sabar dan tenang. Suasana kelas terasa akrab dan ia tidak dipersepsikan sebagai pemimpin kelas yang menyiksa rekan kelasnya.

    Kecerdasan Fauzan dari mencari ide meninggalkan kelas kini diubah menjadi ide mengelola kelas. Ilmunya pun yang sudah lumayan bagus dapat ia review dengan mengajar sembari terus melakukan pendalaman belajar selama ia berada di Kampung Belajar semasa liburan. Semoga kepemimpinan kecil yang ia dapatkan ini dapat ia terapkan saat ini kembali bersekolah di pesantren.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 6 Juli 2026

  • Daya Ledak Kebiasaan

    Daya Ledak Kebiasaan

    Kebiasaan yang punya daya ledak yang tinggi butuh konsistensi. Kenapa seorang penulis memilih menulis setiap hari?

    Menurut Anjar, rekan perjalanan dari kota Bulukumba ke Tanah Beru, menulis seperti obat yang bisa membantu menguraikan permasalahan di diri sendiri yang barangkali tidak bisa didiskusikan dengan orang lain.

    Rakyat di pulau Liukang yang membutuhkan listrik.

    Anjar bercerita. Menurutnya, kemarahan disampaikan ke orang lain, itu malah membuat hubungan menjadi buruk. Tetapi dengan menguraikan kemarahan melalui tulisan, kemarahan tersalurkan tanpa harus memperburuk hubungan. “Dan ketika saya kembali membacanya, saya merasa punya sisi kebijaksinian dalam hidup–bukan kebijaksanaan” terang Anjar.

    Anda boleh sepakat atau tidak. Yang jelas, dengan alasan yang ia jelaskan di atas, ia terbiasa menulis. Konsistennya dalam menyuarakan kebutuhan listrik yang berkeadilan yang akses 24 jam untuk rakyat di Pulau Liukang di Bulukumba mendapatkan respon positif. PLN telah menyalurkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Ini karena ia tidak hanya turun langsung ke lapangan tetapi juga karena narasi kampanye yang ia sebarkan di media sosial secara masif.

    Sementara itu, penulis sendiri masih dalam tahap dalam upaya mencari daya ledak. Dengan cara menulis, proses perjalanan hidup dicatat setiap hari. Dari sini, penulis dapat mengecek apakah perpindahan dari hari ke hari tersebut mengalami perkembangan atau penurunan. Itu adalah data sejarah yang dapat digunakan membaca masa depan.

    Beberapa hal penting juga yang dipikirkan pada hari menulis, entah terwujud atau tidak dituangkan. Pembaca dapat mengambil manfaat dari ide-ide yang dianggap cocok untuk diterapkan. Yang tidak cocok dikritisi yang memungkinkan untuk diubah. Dengan demikian gagasan yang lebih baik bisa lahir.

    Namanya juga menulis hal-hal sederhana, semacam catatan harian. Orang bilang, itu biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Cuma saja, patut diingat bahwa catatan harian pernah punya daya ledak di Indonesia. Ingat buku Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib? Buku yang terbit pada 1981 punya daya ledak yang luar biasa. Kejaksaan Agung memang tidak melarangnya tapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan buku itu berbahaya dan sesat.

    Apakah Anda punya daya ledak yang tidak sesat?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu 5 Juli 2026

  • Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Ketelitian dan musyawarah itu penting untuk membuat sesuatu hal berharga. Apa sulitnya Doktor Horst Liebner menulis tentang perahu? Karyanya bertaburan di mana-mana dan ia memang hidup di tengah masyarakat perajin perahu selama berpuluh-puluh tahun. Antropolog yang juga pecinta sastra ini kaya dengan struktur tata bahasa dan cita rasa bahasa dalam menulis.

    Beberapa tulisan pendek telah Pak Horst sodorkan untuk saya baca, kami diskusikan, dan kami kritisi. Ia suka manambahkan kata tunjuk atau artikel (demonstrative adjective or article) seperti kata “itu” dan kata keterangan (adverb) yang membuat tulisannya lebih menarik. Menurutnya, ia sering menggunakan artikel karena dipengaruhi oleh bahasa Jerman, bahasa ibunya—memperjelas kata yang sebelumnya telah disebutkan. Saya mengakui penggunaannya pada kata keterangan untuk memperindah tulisannya.

    Bagi saya, semuanya benar. Cuma saja, untuk sebuah tulisan yang harus pendek, sebaiknya itu dihapus saja. Diskusi kami kadang-kadang jadi tajam dalam mempertahankan pendapat masing-masing yang dianggap benar.

    Dalam beberapa hal, ia bersedia mengubah pendapatnya, “Hapus saja,” katanya. Tapi, bagian lain, “Tidak. Itu penting,” lanjutnya.

    Saya paham bahwa kekhasan dan gaya bahasa seorang penulis perlu tetap dijaga. Karena itu, saya tidak mendebat lagi.

    Toh, menghapus kata atau tidak sama sekali tidak mengubah inti tulisan. Bila dihapus, tulisan lebih pendek, dan bila tidak dihapus, tulisan itu sudah pendek. Kami hanya sekadar berusaha mencari kosakata yang nyaman untuk pembaca. Itulah yang kami diskusikan panjang lebar selama berjam-jam untuk mendapatkan kualitas bahasa yang terbaik.

    Secara pribadi, saya merasa sangat bersyukur bisa mengakrabkan pemikiran secara intelektual dengan Pak Horst. Layaknya diskusi akademik, tidak ada rasa sungkan untuk berbeda pendapat. Mendebatnya bukanlah sesuatu yang dipersepsikan merendahkan orang, tapi itu malah menjadi perhatian lebih untuk mengetahui sejauh mana ketajaman argumentasi. Kultur seperti inilah yang harus dibangun bila kita ingin memajukan ilmu pengetahuan.

    Kebebasan Berpendapat di Indonesia

    Kultur akademis yang mapan ini mengingatkan saya pada warisan intelektual terbesar yang pernah dibawa pulang oleh B.J. Habibie dari Jerman ke Indonesia. Ia menginspirasi bahwa manusia Indonesia harus punya kemerdekaan berpikir yang bertanggungjawab. Pernyataannya itu bukan sebatas slogan. Saat menjadi presiden, ia memerintahkan untuk melepaskan tahanan politik, termasuk orang-orang yang bertentangan dengannya.

    Keberanian dan konsistensi Habibie tidak hanya berhenti sampai di situ saja. “I will never, never tolerate that the Indonesian government will interfere with the freedom of the press,” kata Habibie kepada Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists). Terjemahan bebasnya adalah: “Saya tidak akan pernah, tidak akan pernah mentoleransi bahwa pemerintah Indonesia akan mengintervensi kebebasan pers.”

    Kebebasan pers lama dibredel oleh pemerintahan Soekarno dan dibuka oleh Soeharto selebar-lebarnya dengan mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

    Bagaimana Anda mau mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unggul kalau diberikan kendala-kendala yang tidak bisa bergerak? Pertanyaan Habibie ini kemudian Pak Horst lanjutkan dengan menyatakan bahwa ia selalu merencanakan dan membantu agar supaya Indonesia mandiri. Pembuatan proses nilai tambah suatu produk bisa dilaksanakan meskipun susah.

    Doktor Kita Berani Didebat?
    Indonesia dan Jerman pernah sama-sama melewati otoritarianisme. Jerman trauma dengan rezim Nazi dan Komunis di Eropa Timur, serta Indonesia di masa Orde Lama dan Orde Baru masih menganut paham feodalisme.

    Zaman terus bergerak dan kita tentu tidak ingin kembali ke masa lalu itu. Mikrokultur dari potret pada budaya akademis seperti yang tergambarkan pada diskusi dengan Dr. Horst Liebner adalah kultur Jerman yang menghargai ketajaman argumentasi, lugas tanpa tedeng aling-aling, dan objektif. Berbeda pendapat bukanlah serangan personal dan merendahkan derajat orang lain. Berdebat dengan seorang doktor yang namanya sudah sangat terkenal sebagai pakar maritim, khususnya perahu tradisional Indonesia di Sulawesi Selatan, adalah hal biasa dan perlu dibiasakan.

    Apakah doktor-doktor di Indonesia juga berpikir seperti itu juga? Masihkah Indonesia terjebak pada feodalisme intelektual?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 4 Juli 2026

  • Metode Lintas Usia: Kotak Kosong dan Batu

    Metode Lintas Usia: Kotak Kosong dan Batu

    Berangkat dari sebuah pertanyaan berani, “Saya sudah hafal Tenses,” kata Fifi, pelajar di Kampung Belajar. Novi, rekan kelas Fifi, mengatakan hal yang sama. Tersirat makna bahwa materi tersebut sebagai hal biasa saja. Mereka butuh tantangan baru.

    Guru kelas tahu bahwa kedua pelajar tersebut butuh istirahat sejenak. Setelah itu, mereka kembali berlatih berbekal kotak-kotak kosong tenses. Apa yang mereka katakan tadi benar—mampu praktik lisan tenses secara teratur di luar kepala. Ayla, Fauzan, dan Faika yang cukup bagus pemahamannya diajak memberikan soal secara acak.

    Saat mereka berlatih bersama, terdapat sedikit hambatan. Soal yang diberikan tidak cukup variatif, tetapi sebagai pengantar, itu sudah lumayan. Guru kelas tidak puas. Ia menargetkan para muridnya punya kecepatan dalam menjawab.

    Di hari berikutnya, Adeeva, anak kelas IV Sekolah Dasar yang juga peraih emas Olimpiade bahasa Inggris pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS), diajak bergabung. Ia terlihat sungkan dan masih agak kewalahan juga membuat soal lisan secara acak. Sebagai alternatif, mereka sama-sama berlatih secara bergantian saling memberikan soal untuk dijawab. Perlahan-lahan, mereka tahu cara membuat soal acak yang memancing adrenalin untuk menjawab soal dengan cepat.

    Anak-anak ini juga mendapatkan pelatihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan), sebuah pengantar agar mereka tidak kewalahan mempelajari tenses nantinya.

    Keakraban pun tumbuh secara alami. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri, keenam pelajar tersebut memimpin kelas secara bergantian—satu orang menyebut kalimat. Misal: She was catching a ball, past progressive tense (Dia sedang menangkap sebuah bola, tenses pada past progressive). Kemudian, yang memimpin meletakkan sebuah batu di atas kotak kosong. Bila batu itu berada di kotak kosong present perfect progressive dengan perintah negative interrogative, mereka pun berlomba-lomba mengubah kalimatnya menjadi “hasn’t she been catching a ball?”. Perpindahan kalimat ini terus dilakukan hingga seluruh perubahan kalimat tenses tuntas.

    Kumpulan pelajar di Kampung Belajar.

    Latihan bersama ini menutup celah dalam kelambanan menjawab. Selain itu, yang memimpin kelas sudah berpikir membuat soal yang sulit dijawab—mereka sudah sama-sama tahu bahwa soal yang tidak menjebak dengan mudah ditaklukkan. Kualitas pelajaran meningkat berkat kreativitas mereka sendiri.

    Perlombaan menjawab soal latihan.

    Itu desain Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB). Mengolah dan berbagi pengetahuan sesama rekan untuk memperdalam pemahaman. Setiap kali pelajar merasa pemahamannya meningkat seperti yang disampaikan Fifi dan Novi, maka tingkatan materi pun dengan sendirinya ditambah—materi disampaikan secara bertahap, terukur, dan sistematis agar mereka mampu menyerapnya dengan baik dan disebarkan kepada sesama.

    Bukankah orang menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat itu tidak akan mengurangi ilmu pengetahuannya?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 3 Juli 2026

  • Wawasan Dunia dan Jalangkote Menyatu

    Wawasan Dunia dan Jalangkote Menyatu

    Pembelajaran pagi hari di Kampung Belajar adalah kelanjutan tentang kota-kota besar. Bila pada sehari sebelumnya membahas kota di Eropa, Afrika dan Amerika, kali ini pembahasannya mencakup Asia. Terdapat 17 nama kota yang mewakili tiap negara. Islamabad, Jakarta. Untuk meringkas, Phnom Penh adalah contoh yang dapat disebut di sini. “Will you go to Islamabad?” (Akankah kamu pergi ke Islamabad?) dan “Where is Islamabad?” (Dimana Islamabad?). Kalimat tersebut digunakan untuk menyebut semua kota yang menjadi bahan pelajaran.

    Para pelajar meminta waktu sekitar sepuluh menit untuk mampu menguatkan pemahaman guna menjawab soal-soal yang dibuat secara acak oleh teman kelasnya sendiri saat pelajaran tanya jawab dibuat dalam bentuk games.

    Ketika game dimulai, permainan terlihat seru karena semuanya berusaha menjawab dengan benar guna memperoleh kesempatan memimpin kelas dan membuat soal lisan. Peserta terlihat saling bergantian memimpin dan bahkan, soal lisan agak terlambat dikeluarkan hanya karena mencari pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

    Setelah pelajaran tersebut dipahami dengan baik, para pelajar keluar main, istirahat sejenak.

    Pada pelajaran berikutnya, mereka masuk pada gerakan literasi, berlatih membaca percakapan dalam bahasa Inggris. Setiap selesai satu lesson, mereka berpasangan praktik bicara. Materi ini tiap hari dilakukan sehingga wajar bila mereka tidak lagi terlihat kaku dalam membaca dan berbicara.

    Hal positif lainnya yang memunculkan decak kagum adalah tiga pelajar yang bukan lagi pelajar SD mampu melakukan perubahan kalimat secara acak pada seluruh tenses. Percepatan ini terjadi disebabkan mereka mau berlatih di waktu-waktu senggang. Saat mereka bermain smartphone pada jam istirahat, mereka diminta berlatih kepada sesama rekan yang ingin menguasai tenses.

    Guru kelas memang mendampingi tapi ia sengaja tidak terlibat langsung. Buku catatan dijadikan acuan tatkala mereka menghadapi kesulitan. Mereka saling berdiskusi menemukan jawaban yang benar, ada upaya penajaman pemikiran, tidak mengandalkan jawaban guru lagi. Lagi pula, guru yang sudah tahu kualitas muridnya yang telah berkembang pesat dalam tiga minggu biasanya menunjukkan cara menjawab, bukan jawaban.

    Ketika kelas belajar telah selesai, Miss Fathy Cayadi yang dalam waktu dekat akan membuka cabang Rumah Belajar Bersama datang bersilaturahmi ke pelajar di Kampung Belajar. Kemampuan speaking (bicara) Miss Fathy yang bagus menarik perhatian, hampir semuanya tidak mau pulang ke rumahnya, memilih berdialog dalam bahasa Inggris. Para pelajar senang mendapat berbagai macam pertanyaan. Lagi pula, bila ada yang tidak dimengerti, Miss Fathy membantu menerjemahkan dan selalu memotivasi semua yang hadir untuk aktif berbicara. Tiada seorangpun terlihat lelah, padahal selain pelajar baru saja belajar selama tiga jam, terhitung jam 09.00 pagi sampai 12.00 siang, cuaca yang panas terik di siang hari, tidak menjadi alasan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing untuk istirahat sejenak sebelum memasuki pelajaran berikutnya pada 13.30.

    Miss Fathy Cayadi yang senang berakrab ria dengan para pelajar bahasa Inggris di Kampung Belajar.

    Faktor pendukung yang nampaknya mempengaruhi pelajar tersebut tidak pulang adalah Jalangkote yang sangat enak dalam jumlah besar dibawa Miss Fathy. Makanan itu dinikmati oleh semua: para pelajar dan guru. Ini sudah seperti pengganti makan siang. Rasa lapar berlalu. Tak heran, mereka semua betah berdiskusi santai dan riang gembira selama lebih dari satu jam dan disiarkan secara live (langsung) di Facebook.

    Aktif berbicara dengan Miss Fathy adalah wujud tindak lanjut dari pelajaran yang diperoleh di kelas meliputi reading, conversation dan tenses. Mereka semua merasa bernilai karena apa yang mereka sampaikan dalam bahasa Inggris dapat dimengerti oleh Miss Fathy.

    Lalu, bagaimana dengan wawasan kota-kota dan negara-negara di dunia? bahasa Inggris yang mereka pelajari di Kampung Belajar ini akan menjadi pendukung utama ketika suatu saat berkunjung ke tempat tersebut.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 2 April 2026

  • Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

    Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

    Kisah Mr. Hill yang seorang pilot yang pernah bekerja di Royal Air Force (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) terbang dari satu negara ke negara lainnya hingga hampir berkeliling ke seluruh dunia digambarkan sebagai seorang lelaki yang beruntung. Tetapi, istrinya dianggap tidak beruntung, hanya tinggal di rumah.

    Para pelajar di Kampung Belajar seperti senasib dengan istri Mr. Hill. Semuanya tidak pernah ke luar negeri. Perbedaannya mereka anak sekolah dan pemuda-pemudi, belum menikah dan masih punya waktu yang cukup panjang untuk berproses. Penulis lantas tertarik mengenalkan mereka kota-kota besar yang cukup populer di dunia.

    Karena kelas tersebut tentang bahasa Inggris, dibuatlah kalimat,
    “Will you go to Accra?” (Akankah kamu pergi ke Accra?).

    Kata “Accra” kemudian di ganti dengan Bombay, Athena, Berlin, Geneva, London, Madrid, Moscow, New York, Paris, Rome, Stockholm, Sydney, Teheran dan Tokyo.

    Nama-nama tersebut memancing rasa ingin tahu di negeri mana kota tersebut. Pertanyaan berikutnya pun hadir.

    “Where is Accra?” Dimana Accra?
    Jawabannya, “Accra is in Ghana.” Accra di Ghana, sebuah negara di Afrika. Seperti halnya yang di atas, kata “Accra” diganti dengan nama-nama kota lainnya. Para pelajar mengenal kota-kota dan negara-negara di dunia yang luas ini. Wawasan tentang geografi bertambah.

    Agar tidak mudah lupa, games dibuat, menanyakan kembali materi, tiap orang mendapatkan soal secara bergiliran secara acak. Games ini sepenuhnya dirancang oleh pelajar di mana guru tidak terlibat langsung agar tidak ada tekanan dan kreatif mengembangkan pola games yang sedang dijalankan. Imajinasi berkembang dan materi tersebut dapat dihapal bukan lewat hapalan tapi pemahaman dengan cara bermain.

    Sebagian anak tertarik untuk mengenal lebih jauh. Apakah kota Stockholm itu di Swedia di benua Eropa atau Amerika? Pelajar yang tahu langsung menyebut Eropa. Ada juga yang kemudian bercita-cita untuk keliling dunia seperti Mr. Hill dan ada pula yang ingin tahu apa istimewanya kota-kota dan negara-negara tersebut.

    Model pembelajaran bahasa Inggris ini sangat efektif meningkatkan rasa ingin tahu. Seorang guru yang berwawasan dapat memberikan sekilas pengantar dengan memberikan penjelasan langsung tentang negara-negara tersebut. Selanjutnya, para pelajar bisa diajak menggunakan smartphone-nya untuk berselancar lebih jauh di internet tentang berbagai hal yang ditanyakan. Jadi, mereka memanfaatkan smartphone bukan lagi sebatas main games.

    Selain itu, buku-buku perlu disiapkan yang berhubungan dengan hal di atas sehingga literasi digital dan dunia nyata berimbang. Bila perlu, pelajar diajak membaca buku-buku yang sederhana dalam bahasa Inggris. Niat hati belajar bahasa Inggris dihubungkan langsung dengan ilmu pengetahuan.

    Pelajar kita memang tidak seberuntung pelajar di negeri-negeri jauh seperti di Eropa dan Amerika yang berkeliling dunia. Bukan hanya Mr. Mill yang beruntung itu, para pemuda-pemudi mereka berkeliling dunia. Ini sangat mudah mendeteksinya. Kunjungi saja pusat-pusat wisata seperti Bira, Bali, Borobudur dan lainnya. Tanyakan saja negara-negara mana saja yang mereka pernah kunjungi. Tidak perlu kaget bila jawaban mereka ialah tidak terhitung.

    Lalu, bagaimana caranya bisa beruntung juga? Bila menjadi bukan keturunan orang yang sangat kaya raya, sebaiknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya saja dan bercita-cita beruntung, keliling dunia juga layaknya Mr. Hill atau mencontoh orang-orang sukses lainnya.

    Apakah Anda ingin juga seperti Mr. Hill atau istri Mr. Hill?

    Lalu, pilihan mana yang Anda ambil? Menjadi penjelajah dunia seperti Mr. Hill, atau seperti istrinya?

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 2 Juli 2026

    Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

    Kisah Mr. Hill, seorang pilot yang pernah bekerja di Royal Air Force (Angkatan Udara Kerajaan Inggris), terbang dari satu negara ke negara lainnya hingga hampir berkeliling ke seluruh dunia digambarkan sebagai seorang lelaki yang beruntung. Tetapi, istrinya dianggap tidak beruntung karena hanya tinggal di rumah.

    Para pelajar di Kampung Belajar seperti senasib dengan istri Mr. Hill. Semuanya tidak pernah ke luar negeri. Perbedaannya adalah bahwa mereka anak sekolah dan pemuda-pemudi, belum menikah, dan masih punya waktu yang cukup panjang untuk berproses. Penulis lantas tertarik mengenalkan kepada mereka kota-kota besar yang cukup populer di dunia.

    Karena kelas tersebut tentang bahasa Inggris, dibuatlah kalimat, “Will you go to Accra?” (Akankah kamu pergi ke Accra?).

    Kata “Accra” kemudian diganti dengan Bombay, Athena, Berlin, Geneva, London, Madrid, Moscow, New York, Paris, Rome, Stockholm, Sydney, Teheran, dan Tokyo.

    Nama-nama tersebut memancing rasa ingin tahu di negeri mana kota tersebut. Pertanyaan berikutnya pun hadir.

    “Where is Accra?” (Di mana Accra?) Jawabannya, “Accra is in Ghana.” Accra di Ghana, sebuah negara di Afrika. Seperti halnya yang di atas, kata “Accra” diganti dengan nama-nama kota lainnya. Para pelajar mengenal kota-kota dan negara-negara di dunia yang luas ini. Wawasan tentang geografi bertambah.

    Agar tidak mudah lupa, games dibuat, guru menanyakan kembali materi, dan tiap orang mendapatkan soal secara bergiliran secara acak. Games ini sepenuhnya dirancang oleh pelajar di mana guru tidak terlibat langsung agar tidak ada tekanan dan kreatif mengembangkan pola games yang sedang dijalankan. Imajinasi berkembang dan materi tersebut dapat dihafal bukan lewat hafalan, tapi pemahaman dengan cara bermain.

    Sebagian anak tertarik untuk mengenal lebih jauh. Apakah kota Stockholm itu di Swedia di benua Eropa atau Amerika? Pelajar yang tahu langsung menyebut Eropa. Ada juga yang kemudian bercita-cita untuk keliling dunia seperti Mr. Hill dan ada pula yang ingin tahu apa istimewanya kota-kota dan negara-negara tersebut.

    Model pembelajaran bahasa Inggris ini sangat efektif meningkatkan rasa ingin tahu. Seorang guru yang berwawasan dapat memberikan sekilas pengantar dengan melontarkan penjelasan langsung tentang negara-negara tersebut. Selanjutnya, para pelajar bisa diajak menggunakan smartphone-nya untuk berselancar lebih jauh di internet tentang berbagai hal yang ditanyakan. Jadi, mereka memanfaatkan smartphone bukan lagi sebatas main games.

    Selain itu, buku-buku yang berhubungan dengan hal di atas perlu disiapkan sehingga literasi digital dan dunia nyata berimbang. Bila perlu, pelajar diajak membaca buku-buku yang sederhana dalam bahasa Inggris. Niat hati belajar bahasa Inggris dihubungkan langsung dengan ilmu pengetahuan.

    Pelajar kita memang tidak seberuntung pelajar di negeri-negeri jauh seperti di Eropa dan Amerika yang berkeliling dunia. Bukan hanya Mr. Hill yang beruntung itu, para pemuda-pemudi mereka juga berkeliling dunia. Ini sangat mudah mendeteksinya. Kunjungi saja pusat-pusat wisata seperti Bira, Bali, Borobudur, dan lainnya. Tanyakan saja negara-negara mana yang pernah mereka kunjungi. Tidak perlu kaget bila jawaban mereka ialah tidak terhitung.

    Lalu, bagaimana caranya bisa beruntung juga? Bila menjadi bukan keturunan orang yang sangat kaya raya, sebaiknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya saja dan bercita-cita beruntung: keliling dunia juga layaknya Mr. Hill atau mencontoh orang-orang sukses lainnya.

    Apakah Anda ingin juga seperti Mr. Hill atau istri Mr. Hill?

    Lalu, pilihan mana yang Anda ambil? Menjadi penjelajah dunia seperti Mr. Hill, atau seperti istrinya?

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 1 Juli 2026

  • Pos tanpa judul 2604

    “Apa pelajaran, Mister?” tanya Faika saat baru saja tiba di kelas pagi Kampung Belajar.

    “Kamu pimpin saja kelas anak-anak SD,” kata guru. “Pelajarannya bebas. Mau membaca bersama atau bercakap, atur sajalah”.

    Faika terlihat senang. Sejurus kemudian, ia pun meminta lima orang anak SD membuka buku Basic Reading (Bacaan Dasar) yang berisi conversation (percakapan). Faika mendisiplinkan rekan-rekannya dengan “menyita” handphone agar penjelasannya diperhatikan. Selanjutnya, ia meminta membuka lesson (pelajaran) yang agak sulit dibaca. Listen and repeat (Mendengarkan dan mengulangi) dimulai. Setiap Faika selesai bicara, seluruh peserta mengulang kalimat yang baru saja didengarkan.

    Aul, kelas 3 SD, kesulitan mengikuti bacaan.

    “Faika lesson 1 (pelajaran 1) saja,” harapnya.

    Heri, rekan duduk Aul, menyambung, “Iya. Lesson 2 juga.”

    Faika tertawa. “Tidak! Semakin kalian minta lesson 1 dan 2, semakin kalian tidak saya berikan lesson yang gampang itu.”

    “Ayolah, Faika. Saya janji saya akan buatkan kamu satu gedung mengatasnamakan namamu.”
    Faika hanya mendengarkan, tidak menanggapi.

    Kemudian, pelajaran terus berlanjut. Faika menentukan lesson baru meminta tiap pelajar berpasangan bercakap. Percakapan berjalan normal, tidak ada kendala yang berarti karena semua kosakata yang sulit diucapkan diperbaiki oleh rekan bicaranya sendiri atau Faika yang bertindak mengawasi secara langsung memberi tahu tiap kesalahan.

    Saat materi kembali lagi ke listen and repeat, Aul sesekali mendahului bacaan Faika sehingga suasana kelas terlihat tidak kompak.

    “Hei, jangan melambung. Saya kasih nanti pelajaran yang sulit,” protes Faika ke Aul. Aul terdiam sejenak, takut dengan ancaman Faika. Dia tidak berani lagi menentang.

    Tidak lama kemudian, Aul berhasil memutar otaknya. Ia pun kembali menebar janji.

    “Faika, lesson yang gampang saja,” terang Aul. “Betul ini. Nanti, saya buatkan dua gedung atas namamu,” lanjutnya.

    Kali ini Faika tertawa. “Tidak usah. Nanti kamu menghilang,” balas Faika.

    Aul tidak berkutik. Ia harus rela mulutnya komat-kamit tanpa pengucapan yang baik pada isi bacaan lesson yang serba sulit.

    Aul menampakkan wajah yang hampir tak berdaya, namun Faika tetap fokus pada lesson yang hampir berada di tengah halaman buku. Tidak ada tanda-tanda ia akan mengarahkan lesson 1 sampai 10.

    Namun, setelah pelajaran sudah cukup lama berlangsung, keadaan tiba-tiba berubah–tanpa alasan, tanpa iming-iming janji yang bertambah. Faika memperkenankan agar lesson 1 dan 2 dibaca. Aul dan Heri dan semua anak-anak senang. It bacaan paling mudah. Semuanya unjuk kebolehan juga, terlihat fasih melafalkan tiap kata.

    Lalu, pelajaran beralih ke lesson 20, bacaan andalan untuk semua. Kalimat pada lesson tersebut, dapat dibuat seperti games, diikuti dengan gerakan akting gerakan tubuh, terlihat seru dan menggembirakan.

    “Aul,” kata Faika. “Kamu yang pimpin mengucapkan look at them (lihatlah mereka).” Pelajar yang lain akan menindaklanjuti dengan pernyataan disertai gerakan tubuh tiap kali “look at them” disebut.

    Betapa girang hatinya Aul. Ia tidak menyangka mendapatkan kesempatan untuk jadi pusat perhatian teman kelas meskipun itu hanya sesaat.

    “Terima kasih banyak, Faika,” ungkap Aul. Pada bacaan tersebut, Aul sangat lancar berbicara, seolah-olah ia bukan pelajar pemula lagi. Ia bangga, tersenyum, dan menepuk dada.

    Setelah itu, Faika kembali memimpin kelas dan meminta rekan-rekannya membaca beberapa lessons lagi. Sebelum lanjut, ada beberapa peserta mengusulkan keluar main tapi itu tidak ditanggapi karena menurut Faika, beberapa bacaan penting belum selesai. Lembaran buku kembali dibuka.

    “Ulangi! Ulangi lagi! Saya belum puas,” kata Faika. Cara membaca rekan kelasnya dianggap tidak sesuai standar, tidak enak pula didengar. Semua pun berusaha sebaik-baiknya dengan harapan usulan untuk istirahat yang dari tadi mereka usulkan segera diberikan. Beberapa perbaikan diberikan dan diucapkan lagi secara bersamaan. Irama suara terdengar kompak dan sesuai standar pengucapan. Istirahat pun diberikan.

    Faika, anak 9 tahun, telah memperoleh pengalaman dalam hal cara mengelola kelas dengan baik dan berhasil membangun kepercayaan dirinya lewat micro teaching. Ia kini tahu bahwa menjadi pemimpin itu harus berilmu pengetahuan dan pandai membuat management kelas agar orang yang dipimpin tersebut dapat diarahkan dengan benar guna mencapai tujuan bersama.

    Aul yang meskipun mendapatkan banyak lesson yang sulit, ia tidak menyerah. Ia menerapkan cara berpikirnya sendiri, negosiasi. Biarpun segala iming-imingnya tidak mempan, pada akhirnya ia memperoleh lesson yang ia inginkan tanpa harus berjanji menambah jumlah gedung yang ia akan buat atas nama Faika.

    Dari cerita di atas, Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) tersebut memang berisi pelajaran bahasa Inggris, tapi di situ tergambarkan bahwa banyak hal dicapai memanfaatkan ketertarikan pelajar mempelajari bahasa. Bahasa dijadikan alat untuk membangun mental kepemimpinan, literasi dan kreativitas lainnya.

    Apakah pendidikan kita berani dan siap membuka kebebasan berpikir dan berekspresi? Bukankah pendidikan itu membebaskan?

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 30 Juni 2026

  • Keajaiban Lidah dan Logika dalam Bahasa Inggris

    Keajaiban Lidah dan Logika dalam Bahasa Inggris

    Ketika melihat atau mendidik orang dewasa belajar bahasa Inggris yang tidak tahu alasan penempatan verb (kata kerja) dengan benar, itu mengingatkan masa penulis belajar bahasa Inggris. Meskipun waktu itu tidak tahu banyak tentang seluk-beluk penamaan  kata, penulis sedikit lebih beruntung karena pembicaraan Inggris itu sudah terbiasa dilakukan di rumah dan ditambah lagi majalah bulanan berbahasa Inggris dari Jerman dan buku-buku dari ayah penulis baca. No matter what it means, tanpa memedulikan artinya. Yang menarik adalah cara membuat irama naik turunnya suara dan cara pengucapan yang terdengar keren.

    Kebiasaan tersebut ternyata membuat penulis lumayan fasih bercakap-cakap dengan orang asing. Zaman dahulu, banyak turis yang mau ke pantai Bira kesasar di kota Bulukumba di Sulawesi Selatan karena tidak mendapatkan mobil pete-pete (angkot) di sore hari. Mereka kebanyakan berdiri di pinggir jalan raya arah ke Bira, dekat Masjid Borong Kalukue di kota Bulukumba. Ayah penulis–(Alm.) Drs. H. Patiroi, yang biasanya shalat Magrib di Masjid Borong Kalukue seringkali bertemu para turis yang tidak tahu di mana harus menginap diajak bermalam di rumah, tanpa pernah bayar–kebiasaan masyarakat setempat.

    Dari sini, terjadi keakraban dengan orang-orang penjuru dunia dan ayah saling kirim surat–awal tahun 90-an belum ada handphone. Bila turis itu mengirimkan hadiah, umumnya dalam bentuk buku. Mereka tahu ayah adalah pembaca dan rumah kami pun berisi banyak buku. Penulis kecipratan dapat bacaan, layaknya Dunia dalam Berita yang membahas isu internasional, tayang malam hari di TVRI. Otomatis bahasa Inggris itu akrab dalam pergaulan di rumah. Ayah pun menyediakan masing-masing satu koper kaset lengkap dengan bukunya–lupa judulnya–untuk bahasa Inggris dan Arab. Sayangnya, penulis hanya mau peduli Inggris saja.

    Dibalik kemudahan tersebut, penulis abai pada satu hal, grammar (tata bahasa). Orang Indonesia lancar bicara Indonesia tapi tidak tahu struktur. Begitulah nasib. Jawaban ujian Inggris sekolah di SMP dan SMA bukan karena pintar, tapi karena merasa ini cocok di lidah–efek kebiasaan membaca teks berbahasa Inggris–atau tidak. Untungnya sih, mayoritas benar, tidak tahu alasannya apa.

    Kebuntuan grammar tersebut membuat penulis mengunjungi Kampung Inggris di Pare. Ini bermula ketika gagal masuk kelas internasional di kuliah, tidak bisa menulis dengan struktur yang benar. Padahal syarat untuk mendaftar terpenuhi, dua semester mendapatkan minimal satu ada nilai A dan B pada bahasa Inggris. Mendapatkan nilai double A pada dua semester tidak cukup memghadapi ujian menulis esai dalam bahasa Inggris yang wajib memasukkan gerund, tiga bentuk clause dan lainnya untuk bisa lulus di kelas mentereng itu. Singkat kata, keok.

    Kegagalan itu mendorong rasa ingin tahu. Kampung Inggris di Pare, Kediri Jawa Timur jadi pilihan. Dari basis pendidikan kerakyatan dengan pengetahuan super itulah yang menyadarkan bahwa betapa pentingnya memahami dasar-dasar grammar (tata bahasa). Bayangkan, pembagian kelas kata saja tidak dimengerti. Clause dan materi rumit lainnya sebenarnya itu biasa hadir dalam teks bacaan tapi karena tidak tahu asal pembentukannya, itu rumitnya luar biasa. Tapi enjoy aja. Pelajar Indonesia lainnya juga yang ada di sana kebanyakan tidak mengerti juga. Setelah paham dasar-dasar tersebut, penulis bisa sedikit melaju agak cepat, diuntungkan kebiasaan membaca teks Inggris semasa sejak kecil.

    Setelah mempelajari banyak hal di berbagai macam kursus, barulah penulis punya kepercayaan diri yang cukup untuk menulis. Bekal itulah yang kemudian penulis rancang untuk turut terlibat mendesain para aktivis mahasiswa untuk ikut kejuaraan pidato dan debat antar mahasiswa dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Karena tradisi membaca dibangun, banyak rekan-rekan yang menyabet juara.

    Dari pengalaman tersebut, jalan pintas pun diambil. Setiap pelajar yang belajar bahasa Inggris sebaiknya tidak hanya pandai bicara saja tetapi juga pandai grammar. Siapa tahu, pelajar tersebut aktif dalam dunia akademik. Jika itu terjadi, mereka tidak perlu lagi mengalami nasib yang seperti penulis alami. Jika tidak, minimal kemampuan berkomunikasi tertata baik, tidak terbalik-balik dan mudah dipahami orang lain. Kepercayaan diri berbicara pun lebih tinggi karena ada keyakinan bahwa apa yang disampaikan sudah tersusun dengan benar.

    Mengkondisikan percakapan dan grammar bagi pemula itu tidak mudah. Terlebih, ada pemahaman bahwa ketika belajar bicara, bicara saja. Tidak perlu peduli grammar agar lekas lancar bercakap. Ketika belajar grammar, tidak usah mengurus percakapan. Grammar itu menjawab soal-soal tertulis, bukan bicara.

    Tapi, bukankah orang bisa berbicara dengan tata bahasa yang baik? Itu dapat dipelajari sejak menjadi pelajar pemula dengan meniru kalimat baku (pattern drilling) atau lewat cerita pendek. Bila pembiasaan itu dimulai sejak awal belajar, itu akan terus terbawa hingga berada di tingkat atas. Agar lebih kokoh, semua itu semestinya diikuti dengan penjelasan argumentatif, ditujukan pada orang dewasa atau pelajar yang dianggap sudah mampu diajak berpikir logis. Penulis memilih jalan tersebut, tapi tidak menyalahkan pada orang lain yang memilih jalan yang berbeda.

    Pengalaman perjalanan hidup sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir dalam menentukan suatu jalan yang ditempuh. Apa yang diyakini terbaik, itulah yang semestinya dijalani dan diterapkan pada diri sendiri dan disebarkan pelajar yang lainnya. Sukses atau tidak atau mengalami perubahan metode atau tidak, perjalanan waktu yang akan membuktikannya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 29 Juni 2026