Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Melawan Candu Smartphone

    Melawan Candu Smartphone

    Apple terkenal dengan kecanggihan teknologi smartphone. Steve Jobs, think tank sekaligus pendiri Apple, berdalih bahwa ia sengaja tidak memberikan smartphone kepada anaknya dengan alasan agar tidak merampas masa kecilnya. Ia tidak menjelaskan betapa besarnya bahaya yang ditimbulkan dari efek dampak psikologis kepada otak anak.

    Coba kita perhatikan sebagian besar anak-anak yang memakai smartphone. Isinya games. Ternyata, masalah ini juga terjadi pada orang dewasa. Bila kita ke warkop ((warung kopi) tak jarang sekolompok manusia kita temui sibuk games dan bahkan hingga judi online dikemas dalam bentuk games. Waktu habis duduk di depan layar.

    Perubahan sosial apa yang kita harapkan dari generasi yang seperti itu? Sebagian orang berpikir, peduli amat. Itu urusan pribadi mereka. Sebagian lagi prihatin menyaksikan fenomena sosial yang mengubah cara hidup manusia zaman sekarang ini. Keprihatinannya itu mendorong untuk berbuat sesuatu.

    Dunia bermain anak harus kita dekatkan dengan permainan rakyat, memperbanyak interaksi sosial yang secara otomatis mengurangi jadwalnya dengan smartphone. Peran utama untuk mengelola pengaturan jadwal tersebut berada dalam tanggungjawab orang tua. Tapi tak jarang kita menemui alasan dimana orang tua merasa sibuk sehingga tidak punya cukup waktu untuk mengontrol anak-anaknya sehingga jalan singkat dengan memberikan smartphone sebagai solusi agar anak-anaknya tidak ngambek. Dan ya, anak-anak tidak bikin repot lagi bila keinginannya terhadap smartphone terpenuhi.

    Oh, justru dari situlah masalah besar dimulai. Anak-anak akan kecanduan games, menghabiskan waktu tanpa guna dan tidak perhatian lagi untuk mengisi bekal ilmu pengetahuan berharga yang mempengaruhi masa depannya. Kalaupun ada, keinginan belajar dan memorinya sangat pendek. Kenapa? Anak yang kecanduan tidak memikirkan lagi selain games. Belajar adalah musuh karena merebut waktunya untuk bersenang-senang. Titik.

    Rantai masalah ini harus diputus, tidak peduli apapun resikonya. Bila tidak berani bersikap dari sekarang, masalah yang jauh lebih besar pasti datang. Kita melahirkan generasi konsumtif, minus kreativitas. Kita juga menyia-nyiakan dan bahkan membuang potensi satu generasi penerus ummat manusia yang seharusnya dapat ditangani sejak masa usia dini.

    Era digitalisasi ini yang mempunyai daya rusak yang dahsyat kepada anak-anak dapat dibendung melalui pendidikan dalam keluarga–anak anak paling dekat dengan keluarganya sendiri. Kalaupun tidak bisa menghindari smartphone, orang tua mesti punya sikap tegas terhadap jadwal penggunaan smartphone secara terbatas.

    Cara bijak berikutnya adalah menyibukkan anak-anak dengan mengikuti kegiatan yang sesuai minat dan bakatnya: mengaktifkan pada kegiatan olahraga, bermain dengan pernainan anak-anak untuk menumbuhkan keceriaan bersama, dan atau membawanya pada lingkungan belajar yang cocok untuk menumbuhkan kreativitas berpikir.

    Apakah perlu mengikuti langkah Steve Jobs yang tidak memberikan smartphone kepada anaknya? Keputusan berada pada kendali orang tua dalam mengarahkan jalan kehidupan masa depan anak-anaknya. Life is a choice, hidup adalah pilihan.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 28 Mei 2026

  • Strategi Pencerdasan Sang Juara Inggris

    Strategi Pencerdasan Sang Juara Inggris

    Peraih emas Olimpiade Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Olympiad) Februari 2026 ini sebenarnya tidak suka grammar (tata bahasa). Ia hebat karena rajin membaca buku Inggris dan menjawab soal-soal cerita Inggris. Kebutuhan grammar-nya sebatas untuk menjawab soal dengan benar. Baginya itu cukup.

    Pada awal kali belajar grammar, ia mau gabung beberapa pertemuan saja. Itu pun karena program liburan Kampung Belajar yang ia ikuti di RBB (Rumah Belajar Bersama) mewajibkan ia belajar grammar. Perlahan-lahan, ia menghindar, tidak mau masuk kelas lagi.

    Penulis bertanya, “Kenapa tidak masuk kelas grammar, Faika?”
    “Saya tidak mau. Pusing kepalaku”, katanya spontan.
    “Kenapa bisa pusing?”, penulis berusaha mendeteksi masalah.
    “Saya pusing karena saya tidak mengerti pelajarannya. Itu sangat susah”, jawabnya jujur.
    “Baiklah. Kalau begitu, mari kita membaca latihan grammar yang kamu telah selesaikan.” bujuk penulis.
    “Iya. Tapi tidak jawab soal kan?” katanya penasaran.
    “Iya. Yang penting Faika mau membaca buku grammar, itu cukup.
    “Oke”, balasnya riang.

    Agar Faika senang, penulis memilih materi grammar yang mempunyai dialog. Ia senang dan mengira itu seperti materi conversation (percakapan) saja, sedangkan bagi penulis, itu adalah review grammar. Cara belajar Faika ini terus berlaku hingga Kampung Belajar selesai dalam sebulan.

    Mengatasi Kebingungan Belajar Grammar
    Faika Qinara Putri Ridwan anak kelas 3 SD yang punya mental juara didapatkan dari karate sejak ia TK dan punya segudang prestasi di karate. Kini ia juara Bahasa Inggris se-Indonesia dan pasti akan banyak melibatkan diri di lomba Bahasa Inggris juga. Bila ia tidak dibekali pengetahuan yang terus bertambah, ia pasti akan tertinggal.

    Penulis berdiskusi dengan Mr. Ancha, gurunya Faika di kelas Reading untuk mencari solusi. Kesimpulan yang diambil adalah menghubungi ibunya Nurlaelah agar merubah cara pandang Faika. Beberapa rekan kelasnya telah paham materi tenses di luar kepala dan semestinya ia juga bisa. Dorongan untuk mengubah cara pandang tentang grammar dari lingkungan keluarga pasti mempengaruhi Faika. Dan sang ibu menyanggupi permintaan tersebut.

    Perubahan itu berefek nyata. Ibunya pasti telah memberikan saran terbaik buat Faika. Beberapa hari yang lalu, Faika meminta untuk diuji kemampuannya pada tenses.
    Faika berkata “Mr., saya sudah mengerti tenses.
    “Ah, yang benar Faika. Kamu belum berlatih lagi”, kata penulis.
    “Sudah. Saya sudah berlatih ke Mr. Anca”, katanya percaya diri.
    “Coba buktikan. Ambil kotak kosong tenses dan jawab semampumu”.

    Faika menghadirkan kotak tenses. Kalimat yang ia pakai “I write” untuk merubah ke 16 tenses di mana tiap tenses terdapat empat perubahan kalimat. Setelah istirahat sejenak, ia lanjutkan lagi pada kalimat “You write”. Ia mampu melakukannya secara lisan, lumayan bagus. Link siaran langsung (live) dapat anda tonton di sini:

    Tahap 1
    https://www.facebook.com/share/v/1Cwr2bhJTh/

    Tahap 2
    https://www.facebook.com/share/v/14gkHU5zGFN/

    “Wah, ini luar biasa”, pikir penulis dalam hati. Sebagai pengajar, ada harapan dan kepercayaan diri yang tumbuh dari dalam diri penulis bahwa Faika mampu bersaing lebih ketat dengan para pelajar terbaik di Indonesia. Ia akan dididik lebih tersistematis hingga pada akhirnya ia mampu menjawab seluruh soal-soal lisan tenses secara acak.

    Dukungan lainnya yang menguatkan Faika adalah literasi. Saat ini ia telah sampai pada buku Pre-Intermediate Reading di mana buku pelajarannya biasanya dipelajari oleh pelajar SMP dan SMA. Ia hanya perlu didesain agar ia tertatih tanpa beban alias dengan senang hati membaca buku-buku Inggris yang melampaui pelajaran sekolahnya. Ia pasti akan membuka jendela dunia yang luas, wawasan bertambah dengan bacaan asing.

    Mengikutkan pelajar untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris dan menanamkan pemikiran untuk bisa menjadi juara adalah strategi cerdas untuk membuat pelajar mau belajar lebih fokus belajar secara mendalam. Hal yang sulit namun penting seperti grammar yang awalnya tidak disukai oleh Faika bisa dicarikan solusi, bukan ditinggalkan mengingat materi tersebut berguna untuk Olimpiade dan kejuaraan lainnya. Tapi yang patut diingat, Olimpiade adalah jalan saja agar para pelajar kita berpengetahuan.

    Apakah Anda juga punya ide yang sedang dijalankan? Mari kita berbagi inspirasi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu 27 Mei 2026

  • Jelang Idul Adha, Anak-Anak RBB memilih Belajar

    Jelang Idul Adha, Anak-Anak RBB memilih Belajar

    Sehari sebelum hari raya Idul Adha (26/05/2026), banyak pelajar memilih libur di kegiatan belajar informalnya seperti di RBB (Rumah Belajar Bersama), Bulukumba, Sulawesi-Selatan. Namun hal tersebut berbeda dengan anak-anak pelajar Inggris di kelas malam ini. Mereka antusias datang belajar, tidak ada urusan dengan liburan. Toh, belajarnya di malam hari.

    Saat memasuki jam belajar pada 19.15 Wita, anak-anak bertanya, “Kita akan membaca buku apa,. Mr.?”. Penulis mencoba menjaga suasana hati mereka yang riang gembira. “Bagaimana kalau kita review bacaan Basic Reading saja, anak-anak?”. Mereka menjawab dengan serempak, “Setuju”. Maka buku yang berisi bahan percakapan dibaca bersama. Setelah itu, penulis berbagi cara pronunciation (pengucapan) yang tepat agar apa yang mereka ucapkan tidak salah ucap sehingga tidak terjadi kesalahan makna. Mereka mengikuti melalui pendekatan listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi).

    Selain itu, anak-anak ini juga berlatih seni berbicara agar suaranya enak didengarkan. Karena bahan bacaannya dalam bentuk dialog, cara bertanya dan menjawab pertanyaan menjadi titik fokus. “Bila bersuara, usahakan menjelang akhir kata dari sebuah pertanyaan, naikkan suara kalian”, kata penulis. “Kalau sebaliknya yaitu saat menjawab, itu gampang. Cukup turunkan suara kalian saja”, tambah penulis. Dengan cepat mereka mengerti dan mengulangi praktik bacaan sesuai yang dianjurkan. Perubahan perlahan-lahan nampak setelah berkali-kali melawan kebosanan me-review bacaan hingga benar.

    Anak-anak ini berhasil membaca sekitar 25 lessons (pelajaran) yang tentunya diselingi dengan istirahat sebanyak dua kali. Pada saat sedang berlatih bicara secara bersama-sama, mereka tidak lagi fokus pada kesalahan cara baca tapi bagaimana mereka membaca dengan nyaman dengan memunculkan irama suara yang sesuai. Ya, terkadang tercipta ketidaksesuaian karena ada yang membaca lebih cepat dan ada pula yang membaca lebih lambat. Tugas penulis menyelaraskan agar bacaan mampu dibaca secara serentak. Dengan demikian, mereka menikmati perpindahan satu lesson ke lesson yang lainnya.

    Setelah itu, Belva berkomentar. “Mr., kenapa kita tidak membaca lagi buku yang ada tulisan ‘Believe me’ said Mr. Green to Peter. You need a cup of tea”‘ (Percayalah padaku, kata Pak Green ke Peter. Kamu butuh secangkir teh). Nabila juga memberikan dukungan, “Iya Mr. Ayo kita belajar buku itu sekarang”. Pelajar yang lainnya ikut-ikutan, “Iya. Iya”. Seolah-olah anak-anak ini tidak mengenal capek untuk suatu pelajaran yang menurutnya menarik.

    Penulis langsung mengerti bahwa maksud Belva adalah buku pronunciation (pengucapan). “Nanti kalian bisa belajar itu lagi. Kalau kalian rajin membaca buku reading kalian, saya janji akan mengajarkan pronunciation”, terang penulis. “Buku yang kalian sedang pelajari sekarang ini memperbaiki pengucapan kalian juga. Ini lebih mudah karena kalian sudah mengenal kosa-katanya”. Seluruh peserta kelas mengerti. Tapi Belva kemudian menyambung, “Tapi janji ya?”, tanyanya. “Iya, saya janji”.

    Menjelang pulang, anak-anak tetap ingin riang gembira. Nabila mengusulkan praktik Preposition of Place dan Parts of the body (Kata depan untuk Tempat dan Bagian-Bagian dari Tubuh). Dipimpin oleh Nabila, mereka bergerak seirama dengan apa yang mereka ucapkan, terlihat anggun dan mengesankan. Pada akhirnya mereka puas tepat waktu jam belajar kelas malam selesai pada 20.45 Wita.

    Malam terus larut menuju lebaran Idul Adha, Rabu 27 Mei 2026. Semua kegiatan belajar di hari raya besar tentu diliburkan. Melalui tulisan ini, penulis menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H./2026 M. Setelah ini, ayo kita kembali belajar, jadikan belajar bagian dari kehidupan sehari-hari, lifestyle.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu 27 Mei 2026

  • Peradaban Tulis dan Peradaban Mulut

    Peradaban Tulis dan Peradaban Mulut

    Memasuki bulan kedua belajar Bahasa Inggris secara intensif, Lulu telah mengerjakan banyak latihan Reading dan Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Ia bekerja tiada henti untuk menamatkan buku. Ini layak jadi contoh bagi pemuda pemudi yang punya cita-cita tertentu melalui jalur pembelajaran bahasa asing.

    Latihan menjawab soal itu tidak cukup. Karena itu, Lulu mencoba latihan lisan pada grammar, simple present. Praktek tanpa teks membuatnya kewalahan. Ia masih sulit membedakan penggunaan do, does atau am, is, are pada kalimat verbal maupun nominal. Pikirannya masih campur aduk. Guru yang membantu untuk memahami di luar kepala menyarankan agar menulis bahan yang akan dibicarakan agar ia punya bilamana ia salah ucap. Kemudian, ia praktek lagi. Setiap kali ia salah, ia membuka catatannya. Sekitar 20 menit, ia pun akhirnya mengerti.

    Agar Lulu tidak lupa bahwa sebenarnya ia telah melewati pelajaran tersebut, ia ajak untuk membaca buku latihan grammar-nya yang telah ia kerjakan. Semua hal tentang perubahan kalimat pada simple present ia baca lagi untuk menyesuaikan kebenarannya di ‘peradaban tulis’ juga berlaku di ‘peradaban mulut’. Setelah itu, guru kelas pun yakin bahwa ia mengerti. Ia pun puas.

    Sebelum kelas berakhir, Lulu penasaran untuk mengetahui seluruh perubahan tenses di luar kepala. Ia mengatakan, “Saya ingin praktik lisan lagi di pertemuan selanjutnya”. Guru menanggapi, “Belajar di RBB (Rumah Belajar Bersama) itu mewajibkan lulus tulis dan lisan’. Karena itu, inisiatif Lulu untuk praktek lisan sudah tepat.

    Dua kelas intensif tingkat dasar yang Lulu ikuti yaitu Reading dan Grammar mensyaratkan ia lulus dua buku Inggris disertai kemampuan berbicara secara lisan pada materinya. Ia siap menghadapi dan terus belajar menghadapi tantangan tersebut. Dan ini sejalan dengan cita-citanya yang membuahkan pengetahuan Bahasa Inggris yang punya daya saing.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 27 Mei 2026

  • Hebat! Anak Kelas 4 SD Paham Passive

    Hebat! Anak Kelas 4 SD Paham Passive

    Pernahkah kita membayangkan ada anak kelas 4 SD dapat dengan mudah mengerti seluruh struktur perubahan passive—kalimat pada kata kerja “me-” menjadi “di-“? Adeeva dalam sekali penjelasan materi sanggup memahami dan dikuatkan dengan latihan lisan yang disiarkan secara langsung (live) di Facebook sekitar 38.50 menit. Bagi Anda yang mengerti passive, Anda bisa mengecek tingkat keberhasilannya di link ini: https://www.facebook.com/share/v/18mZ6c9HQ4/

    Keputusan mendidik materi lanjutan tersebut hanya dapat kita berikan pada pelajar yang sanggup paham tenses di luar kepala yang bertujuan untuk menghindari kebingungan dalam belajar grammar (tata bahasa). Kita ingin membantah bahwa grammar itu sulit diajarkan. Dan benar, Adeeva mudah dan cepat mengoreksi manakala ia mengalami kesalahan dalam praktik bicaranya.

    Setelah itu, Adeeva istirahat. Ia kemudian berdialog dengan guru kelasnya.

    “Adeeva, mana yang lebih sulit, tenses atau passive?” tanya guru kelas.”Passive,” jawab Adeeva.
    “Mana lebih cepat dimengerti, tenses atau passive?” lanjut gurunya.
    “Lebih lama tenses.” ungkapnya. Materi ini ia pelajari sekitar sebulan.
    “Bisakah pelajar mengerti passive bila tidak mengerti tenses?”
    “Tidak,” katanya lugas.
    “Sudah ada teman kelasmu yang dapat materi ini?”
    “Belum,” terangnya.

    Adeeva sengaja diajak berdialog agar ia makin mengenali potensi dan kualitas dirinya yang sedang berkembang. Sejurus kemudian, ia diminta membuka buku bacaan cerita Inggrisnya yang mengandung materi passive. Beberapa kalimat dianalisis strukturnya dan diterjemahkan. Ternyata struktur passive persis seperti yang baru saja ia pelajari. Hatinya senang.

    Keterhubungan antara reading (bacaan) dengan grammar harus selalu didekatkan untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Ini perlu dilakukan secara terus-menerus hingga sampai pada pemahaman total, minimal 90 persen ke atas. Latihan menjawab soal-soal tulisan passive juga mengikuti sehingga tidak ada lagi keraguan, komprehensif.

    Adeeva bukanlah anak SD yang pertama di RBB (Rumah Belajar Bersama) yang telah mendapatkan materi passive, tetapi bagian dari segelintir anak yang punya loncatan belajar di atas rata-rata. Dalam dua atau tiga minggu ke depan, perubahan active (tenses) ke passive dan passive ke active secara acak mampu ia tuntaskan. Semoga!

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 26 Mei 2026

  • Bangkitkan Energi Positif

    Bangkitkan Energi Positif

    Seorang anak pendiam mengikuti kelas Bahasa Inggris. Bisa? Bisalah. Hal yang pertama kami ingatkan adalah banyak membaca. Ia mengangguk sebagai tanda menerima. Ketikan membaca suara kecil, mungkin masih pemalu dan takut ketahuan salah. Berkali-kali bacaannya diminta diulang hingga ia cukup percaya diri. Volume suaranya mulai beranjak naik.

    Penulis sengaja mengajak Sopan untuk duduk berdua saja, tiada pelajar lain di dekatnya. Ia perlu kenyamanan tanpa ada gangguan dari rekan yang bisa meledek bila ia salah. Sekitar lima belas menit ia membaca dengan suara nyaring. Lalu, suaranya mulaii melemah. Dia pasti capek. “Sopan, bisa terus melanjutkan bacaan tanpa suara saja?” Jawabannya “ya” dengan anggukan kepala. “Okay. Kita sama-sama membaca sampai puasa”, kata penulis.

    Lima belas menit berlalu. Terlihat wajah Sopan lelah.
    “Mau istirahat?” tanya guru.
    Kali ini ia berbicara, “Iya”. Ia menutup bukunya dan tetap duduk di tempatnya.

    Penulis terus membaca sembari sesekali menatapnya. Saat wajahnya sudah mulai terlihat segar kembail,
    “Sopan, intinya rajin membaca saja. Kamu pasti bisa”, kata penulis menyemangati.
    “Cara kamu membaca lebih bagus sekarang dari yang sebelumnya kan?’ pertanyaan ini membuatnya tersenyum.
    “Iya”, jawanya lagi.

    Di sini, Sopan sudah berubah. Ia sudah mulai akrab dan suka membaca karena kepercayaan dirinya terbangun dengan membaca. Ia tahu bahwa ia sanggup membaca dengan benar dan perulangan dilakukan untuk kemahirannya sendiri. Dan yang berkesan, ia tidak protes. Dan haknya untuk istirahat pun terpenuhi.

    Di waktu bersantai, Sopan juga berkesempatan untuk memperhatikan keadaan di lingkungan belajarnya di mana para pelajar sibuk menuntut ilmu. Energi positif sedikit banyak terserap dalam dirinya. Terlebih, ia tidak diperkenankan membawa handphone karena ibunya memberitahu bahwa ia banyak main games android. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain selain melihat keadaan sekelilingnya.

    Kita semua berproses untuk berubah yang penekanannya terletak pada ilmu pengetahuan lewat literasi. Orang yang aktif berbicara akan punya lebih banyak bahan berbobot untuk dibicarakan, tidak asal bunyi . Siapa tahu, orang yang pendiam seperti Sopan dan anak-anak yang senasib dengannya suatu saat akan jadi pembicara yang hebat?

    Overall, keep working hard.

    Zulkarnain Patwa
    Senin, 25 Mei 2026

  • Waktu

    Waktu

    Orang yang datang tepat waktu itu menggembirakan. A. Zafira Aeesyaputri punya cara cerdas untuk tidak terlambat datang belajar. Ia biasanya tiba di RBB (Rumah Belajar Bersama) sebelum jam 19.00 di mana kelasnya mulai 19.15 Wita, Senin sampai Jum’at. Waktu luang itu ia gunakan untuk makan malam dan bermain sembari menanti jam belajar tiba.

    Pada waktu jam belajar, Aeesya tidak terlalu peduli dengan literasi–dunia anak memang begitu. Tapi ia sangat menikmati pelajaran bila saja yang di dekat tempat duduknya adalah rekan yang punya semangat belajar yang bagus. Ia sangat perhatian pada bacaannya tanpa harus diminta. Kebalikannya sudah bisa ditebak. Bila rekan-rekan yang duduk disampingnya suka bermain saja, kelas jadi riuh, penuh canda tawa.

    Strategi lain yang kita gunakan pada Aeesyah yaitu memintanya membaca seorang diri ketika ia terpisah dari rekan kumpulan bermainnya. Awalnya, ia pasti menolak. Penolakannya itu berbuah penerimaan bila kita mengajaknya berdialog dengan elegan.

    “Aeesya, membaca yuk?”,
    “Capekka Mr.”, katanya. “Saya sudah membaca bersama-sama dengan teman-teman tadi”.
    “Mau pintar seperti temanmu Faika atau Adeeva?”, tanya guru.
    “Mau”, jawabnya cepat.
    “Apa yang mereka lakukan?” Pertanyaan ini mengajak Aeesya menemukan jawaban sendiri.
    “Membaca”, balasnya..
    “Kalau begitu, supaya Aeesya tambah pintar juga, ayo membaca”, sang guru menatap serius wajah Aeesya. “Nanti saya bantu kalau ada yang sulit dimengerti”, lanjut gurunya.
    Aeesya berpikir sejenak. “Tapi sedikit saja kubaca?” harapnya.
    “Iya. Yang penting, Aeesya mau membaca. Kalau sudah mau, kamu pasti akan jadi hebat”, kata gurunya meyakinkan.

    Aeesya terkadang lupa bahwa ia sudah banyak membaca dan terus disemangati. Ia akan sadar bila ia melihat rekannya yang lain asyik bermain atau kalau ia sudah merasa capek. Itu waktu tepat untuk membuatnya bersenda gurau dengan teman-temannya.

    Meyakinkan anak-anak bahwa mereka hebat, pintar, cerdas serta segala kosa-kata yang memotivasi semangat belajar harus selalu kita dengungkan disertai usaha mencari cara agar mereka mau berusaha. Tidak boleh hanya motivasi kosong–harus serta merta diikuti dengan pendampingan.

    Tugas guru yang tercerahkan bukan sebatas jam belajar. Jam luang anak-anaknya bisa dimanfaatkan untuk belajar asalkan mereka tidak merasa terpaksa. Guru harus mampu berpikir maksimalkan waktu anak didiknya untuk lebih banyak belajar daripada bermain. Setelah itu, kreativitas berpikir mengelola kelas lebih efektif pasti ditemukan seiring perjalanan waktu.

    Waktu itu sangat berharga. Orang barat bilang, time is money (Waktu adalah uang). Dalam ajaran Islam, Tuhan bersumpah, demi waktu. Kita diwajibkan untuk tidak membuang waktu percuma. Aeesya dan semua anak-anak yang sering datang belajar tepat waktu punya kesempatan lebih besar untuk belajar lebih dari yang lainnya.

    Apakah kita punya alasan yang cukup untuk menyia-nyiakannya waktu?

    Zulkarnain Patwa
    Senin, 25 Mei 2026

  • Bergaul dengan Ahli Perahu

    Bergaul dengan Ahli Perahu

    Menulis bersama Dr. Horst Liebner membuat saya berpikir berat karena apa yang sebenarnya ia minta untuk saya tulis ia sudah ketahui. Orang tahu ia tokoh yang mengetahui secara mendalam tentang seluk beluk perahu Indonesia khususnya Sulawesi Selatan dan Barat, terdokumentasikan lewat buku-bukunya dan thesis kuliahnya.

    Membalas tulisan singkat bersama Dr. Horst Liebner di Bantilang Pak Najib. Foto pada Minggu, 25 Mei 2026

    Beruntung, pertemuan saya di Tanah Beru ini, kami sekedar menambah sedikit tulisan yang telah dibuat dan sedikit berdebat tentang penggunaan kata yang tepat. Ini yang asyik. Pertimbangan yang dipakai adalah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan otak masing-masing yang sesuai cita rasa sendiri yang dirasakan nyaman dan mudah diterima publik. Ini yang lama. Namanya juga rasa, itu sangat personal, tidak ada ukuran yang pas. Namun setelah kami saling bertukar pikiran, ternyata ada juga kesepakatan yang dicapai. Dua bagian tulisan selesai di Bantilang Pak Najib.

    Setelah itu, saya mencari bahan pembuatan kayu pada perahu. Wawancara dengan Pak Najib telah sangat membantu namun saya mesti berkeliling di berbagai Bantilang untuk bisa melihat lebih dekat yang akhirnya itu menganttarkan saya sampai di Kaluku Bodo, dekat pelabuhan Tanah Beru.

    Saya bertemu dengan Pak Pudding dan Fian, anaknya. Kayu lokal dan kayu dari luar pulau disebutkan. Karena ramai. Kemudian, Pak Horst datang juga. Eh, malah berdebat tentang perahu zaman Belanda hingga Sawerigading segala, asal usul manusia dan perahu. Terjadi benturan antara rasionalitas dengan folklor, cerita rakyat. Saya tidak mau terlibat dan memilih sesekali berkomentar bila ada perdebatan yang tajam. Ya, semacam iklan agar suasana lebih santai.

    Diskusi yang kemudian berlanjut dengan debat dengan Horst Liebner, Pak Pudding dan Fian di Kaluku Bodo tepatnya di Bantilang Pak Pudding. Foto pada Minggu, 25 Mei 2026.

    Tapi saya heran juga. Kok saya menikmati perdebatan mereka. Dari sore hingga matahari tenggelam, saya tetap tinggal. Baru setelah menjelang Isya, kami memutuskan untuk bubar. Nampaknya, bila bertemu lagi, perdebatan intelektual akan terulang kembali. Saya pikir itu bagus karena kritisisme memang perlu dibangun. Pembahasannya pun konstruktif, kenapa harus ditolak.

    Saya berharap bila tulisanku nanti tentang kayu yang digunakan pada pembuatan perahu juga mereka perdebatkan sehingga saya tidak memilih lagi jadi penonton tapi pelaku debat yang mempertahankan pendapat.

    Asyik juga bergaul bersama Pak Horst. Saya merasa bisa mengenal lebih dekat cara berpikir kritisnya dan Panrita Lopi (Ahli pembuat perahu) yang berkat ilmunya yang luar biasa dan tenaganya membuat perahu, Indonesia dikenal juga dengan negeri maritim.

    Nanti lanjut lagi. Mau main catur 😀

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 24 Mei 2026

    Bergaul dengan Ahli Perahu

    Menulis bersama Dr. Horst Liebner membuat saya berpikir berat karena apa yang sebenarnya ia minta untuk saya tulis telah ia ketahui. Orang tahu ia tokoh yang mengetahui secara mendalam tentang seluk-beluk perahu Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan dan Barat. Semua itu terdokumentasikan lewat buku-bukunya dan tesis kuliahnya.

    Beruntung, dalam pertemuan kami di Tanah Beru ini, kami sekadar menambah sedikit tulisan yang telah dibuat dan sedikit berdebat tentang penggunaan kata yang tepat. Ini yang asyik. Pertimbangan yang dipakai adalah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan otak masing-masing sesuai cita rasa sendiri yang dirasakan nyaman dan mudah diterima publik. Ini yang lama. Namanya juga rasa. Itu sangat personal dan tidak ada ukuran yang pas. Namun, setelah kami saling bertukar pikiran, ternyata ada juga kesepakatan yang dicapai. Dua bagian tulisan selesai di Bantilang (tempat pembuatan perahu) Pak Najib.

    Setelah itu, saya mencari bahan pembuatan kayu pada perahu. Wawancara dengan Pak Najib telah sangat membantu. Namun, saya mesti berkeliling di berbagai Bantilang untuk bisa melihat lebih dekat–yang akhirnya itu mengantarkan saya sampai di Kaluku Bodo, dekat pelabuhan Tanah Beru.

    Saya bertemu dengan Pak Pudding dan Fian, anaknya. Kayu lokal dan kayu dari luar pulau disebutkan karena ramai. Kemudian, Pak Horst datang juga. Eh, malah berdebat tentang perahu zaman Belanda hingga Sawerigading segala–asal usul manusia dan perahu. Terjadi benturan antara rasionalitas dengan folklor, cerita rakyat. Saya tidak mau terlibat dan memilih sesekali berkomentar bila ada perdebatan yang tajam. Ya, semacam iklan agar suasana lebih santai.

    Tapi saya heran juga: kok saya menikmati perdebatan mereka? Dari sore hingga matahari tenggelam, saya tetap tinggal. Baru setelah menjelang Isya, kami memutuskan untuk bubar. Nampaknya, bila bertemu lagi, perdebatan intelektual akan terulang kembali. Saya pikir itu bagus karena kritisisme memang perlu dibangun. Pembahasannya pun konstruktif: kenapa harus ditolak?

    Saya berharap bahwa tulisan saya nanti tentang kayu yang digunakan pada pembuatan perahu juga mereka perdebatkan. Dengan demikian, saya tidak memilih lagi jadi penonton, tapi pelaku debat yang mempertahankan pendapat.

    Asyik juga bergaul bersama Pak Horst. Saya merasa bisa mengenal lebih dekat cara berpikir kritisnya. Saya juga berterima kasih kepada Panrita Lopi (ahli pembuat perahu), yang berkat ilmu dan tenaganya membuat perahu, Indonesia dikenal dengan negeri maritim.

    Nanti lanjut lagi. Mau main catur. 😀

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 24 Mei 2026

  • Bahagia dan Cerdas Belajar Bhs. Inggris

    Bahagia dan Cerdas Belajar Bhs. Inggris

    Sebuah kebahagiaan mendapatkan kunjungan silaturahmi dari seorang rekan yang aktif mengkampayekan Bahasa Inggris. Fathy Cayadi, guru SMAN 2 Bululumba, kesehariannya menyebarkan kegiatan berbahasa Inggris dan juga sering menulis status di media sosial berbahasa Inggris. Kegiatan itu juga dilakukan oleh RBB (Rumah Belajar Bersama) yang membuat pertemuan terasa akrab, satu frekuensi.

    Miss Fate, panggilan akrab Fathy Cayadi, menindaklanjuti niatnya agar RBB membuka cabang di Kec. Tanete, Bululumba. Kenapa ia berpikir menggandeng RBB? Ia adalah seorang guru yang punya kualitas yang baik juga. Untuk apa? Menurut pembacaannya yang telah lama ia perhatikan di media sosial, RBB mampu menciptakan pembelajaran yang komprehensif meliputi speaking, grammar, reading and pronunciation (bicara, tata bahasa, bacaan dan pengucapan). Yang membuatnya lebih terkesan bagaimana anak anak SD dan bahkan anak TK pun menikmati pelajaran dan punya kemampuan yang di atas rata-rata anak kebanyakan. Penguatannya sangat jelas dengan siaran langsung (live), tidak ada editing.

    Diskusi tentang strategi pembelajaran Bahasa Inggris yang tepat sasaran. Terlihat Zulkarnain Patwa yang sedang menjelaskan, Miss Fathy Cayadi yang berjilbab sedang asyik memperhatikan dan Mr. Fajar Hamzah di tengah juga sedang asyik menikmati pembicaraan tentang pengembangan cara mengajar. Foto pada Kamis, 21 Mei 2025. Foto pada Kamis, 21 Mei 2025.

    Kemudian, pada rapat dikemas suasana santai itu, Miss Fate menambahkan, “Masyarakat Tanete sudah sangat menyadari tentang pentingnya bahasa Inggris” Terangnya. “Dan mereka mencari wadah lembaga yang berkualitas”, ungkap guru yang pernah mengajar di SMA 10 sekitar delapan belas tahun.

    Minat belajar sangat tinggi itu, Miss Fate butuh suatu lembaga benar-benar punya kesanggupan. Dan RBB telah membuktikannya.
    Hal ini ia sampaikan kepada seluruh team pengajar Bahasa Inggris agar sistem pengajaran RBB dapat diterapkan juga di Tanete yang mencakup pelajar SD, SMP, SMA dan umum.

    Mr. Ancha yang mengajarkan reading and speaking dan Mr. Agung yang mengajarkan grammar masing-masing menjelaskan cara pengajaran yang ditetapkan untuk menerobos hal hal yang dianggap mustahil oleh kebanyakan orang. Pada intinya, pembelajaran terstruktur yang sesuai kemampuan otak pelajar diajarkan dan pembuktiannya dites dengan ujian tulis dan lisan, tidak ada KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). “Tidak peduli siapapun orangnya. Kalau lulus, ya lulus. Kalau tidak, ya tidak”, sambung penulis. Dengan hasil penilaian ujian yang sesuai fakta, para pelajar mengukur diri dan termotivasi melakukan hal lebih baik.

    Miss Fathy Cayadi bersama suaminya dan guru-guru Bahasa Inggris Rumah Belajar Bersama. Foto pada Kamis, 21 Mei 2025.

    Kesepahaman dan kesepakatan ini akan ditindaklanjuti oleh team RBB, merencanakan kunjungan ke Tanete untuk merancang format yang lebih tepat dan detail agar apa yang diharapkan oleh Miss Fate, para pelajar, dan masyarakat umum di Tanete. For sure, kualitas RBB di kota Bulukumba dan di Kec. Tanete minimal sama. Bila ada perbedaan, perbedaan itu wajib pada wilayah yang konstruktif (membangun) dan itu pasti tantangan dan tanggungjawab kita semua untuk selalu berkreasi, dan berinovasi.

    Hubungan baik dari awalnya silaturahmi ini bukan sekedar memperkokoh ikatan persaudaraan tetapi juga solusi dari rekan-rekan pemerhati pendidikan khususnya Bahasa Inggris dalam menyebarkan penyederhanaan pelajaran Inggris yang selama ini dianggap rumit. Kita semua tentu akan terus berbagi cerita dan inspirasi di media sosial hingga kita semua sampai pada tahap bahagia belajar Bahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Sabtu, 23 Mei 2026

  • Rekayasa Literasi

    Rekayasa Literasi

    Dengan menanamkan kebiasaan membaca sejak masa anak-anak, niscaya kita tidak perlu khawatir lagi tentang kualitas pendidikan kita. Kebiasaan itulah yang akan melekat di dalam dirinya seiring dengan pertumbuhannya. Inilah rekayasa yang sedang kami jalankan melalui pembelajaran Bahasa Inggris.

    Sekelompok kecil anak-anak ini baru merasa belajar bila mereka telah membaca. “Saya belum membaca lesson Mr. karena saya terlambat datang”, kata Aliza. “Saya mau membaca seorang diri saja”, lanjutnya. Ada rasa “cemburu” positif pada anak yang sudah memperoleh kesempatan. Cara berpikir ini lazim juga terjadi pada anak-anak lainnya yang belakangan mendapatkan jatah membaca didampingi langsung oleh guru kelasnya.

    Melewati Masa Sulit
    Bila mengingat awal-awal memperjuangkan literasi, susahnya minta ampun. Anak-anak berpikir bahwa Bahasa Inggris itu sekedar bicara tanpa harus membaca. Bila ada yang ditunjuk untuk membaca di depan kelas, ia akan berlari meninggalkan ruang belajar, bersembunyi seolah-olah tidak bisa ditemukan. Ah, betapa repotnya urusan ini! Untuk membuatnya bisa kembali di kelas, guru memberikan janji games (bermain) kosakata Inggris. Itu diterima. Dan agar tidak melarikan diri lagi, guru menawarkan bacaan yang mudah baginya.

    Melalui proses perjalanan waktu yang cukup panjang, suasana berubah. Anak-anak mulai terinspirasi dari rekan-rekannya yang rajin membaca dan lancar bicara Inggris. Anak-anak yang tidak mau rajin membaca akan merasa tertinggal. Hal pendukung lainnya, pelajar yang lancar membaca tersebut selalu dengan senang hati mau membantu untuk membetulkan bacaan yang salah. Mereka tidak berkompetisi untuk menjadi yang terbaik di mana yang kalah dipersepsikan tidak baik tapi saling bekerjasama melakukan yang terbaik.

    Tantangan
    RBB (Rumah Belajar Bersama) tidak mau mencetak generasi yang sekedar mampu bicara saja. Okay, mampu berbicara Inggris tanpa tahu tulisan, itu baik saja. Tapi jika kita ingin melangkah lebih jauh, apakah itu berfungsi dalam dunia akademik? Pasti tidak. Kita ingin generasi penerus itu mampu bicara Inggris, membaca buku berbahasa Inggris dan menulis dalam Bahasa Inggris.

    Kalau kita punya pengetahuan tersebut, kenapa tidak diajarkan sekalian saja? Ada yang berpikir bahwa itu rumit. Tidak masalah. Mengutip B. J. Habibie, “Kerumitan adalah kesempatan untuk melakukan hal yang lebih baik”. Lagi pula, setelah rumit, pasti mudah.

    Kemudahan membaca yang disukai anak-anak adalah membaca bersama-sama. Mereka yang belum terlalu fasih pun tidak keberatan, ikut membaca dengan suara yang diperkecil. Pelajar yang bacaannya bagus dan percaya diri akan menyaringkan suaranya sehingga secara tidak langsung mereka yang kurang lancar itu dapat mengetahui langsung cara membaca yang benar. Dan saat terjadi evaluasi (review), selalu terlihat kemajuan berarti.

    Alangkah baiknya bila kebiasaan membaca ini tidak sekedar terjadi di RBB saja tapi juga di rumah masing-masing, sekolah atau lingkungan manapun juga sehingga kita dapat mengatakan setiap tempat adalah membaca.

    Adakah rekayasa pengembangan literasi atau kualitas pendidikan yang lebih canggih?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 22 Mei 2026