Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Dobrakan Literasi Bahasa Inggris

    Dobrakan Literasi Bahasa Inggris

    Gerakan penguasaan tenses di luar kepala sangat gencar dilakukan oleh Rumah Belajar Bersama (RBB). Jika ini diajarkan pada orang dewasa, itu hal wajar saja. Apa yang RBB lakukan itu jauh dari bayangan banyak orang. Lembaga pendidikan ini tidak hanya menyasar orang dewasa dan remaja, tetapi juga anak SD. Tidak main-main, sekitar 1.000 perubahan kalimat tenses tanpa melihat catatan dipraktikkan oleh anak-anak dan biasanya itu disiarkan secara live (siaran langsung) di akun Facebook-nya.

    Terdapat tiga orang pelajar SD yang menamatkan verbal tenses secara teratur. Mereka adalah Belva, kelas 5 SD, Gavino, kelas 4 SD, dan Adam, kelas 5 SD.

    Beberapa rekan sarjana pendidikan bahasa Inggris yang penulis ajak berbagi pemahaman heran mengapa anak-anak ini diajarkan materi yang tidak lazim bagi umurnya. Jangankan kurikulum pendidikan Indonesia, sekolah standar internasional pun masih enggan melakukannya karena kajian seperti ini biasanya khusus dibahas secara mendalam pada grammar (tata bahasa) atau karena mereka memiliki filosofi pendidikan yang berbeda. Mereka membahas tenses, namun tidak spesifik mengkaji secara khusus. Alasan paling umum adalah menyita waktu yang sangat banyak dan otak anak-anak belum tepat mendapatkan pelajaran yang berisi rumus kaku.

    Pada awalnya, guru-guru RBB yang semuanya pernah belajar selama bertahun-tahun sebelum menjadi alumni Kampung Inggris Pare, Kab. Kediri, Jawa Timur itu juga berpikiran sama. Kendala mulai muncul ketika anak-anaknya yang sudah terbiasa dengan buku bacaan berbahasa Inggris kesulitan dalam memahami struktur bacaan dan menjawab soal-soal cerita. Mereka selalu merasa kewalahan dan hal yang membuat tambah repot, mereka tidak mau mengerjakan latihan bila tidak didampingi satu per satu oleh guru kelas. Target membangun kemandirian belajar menemui jalan buntu.

    Menghadapi masalah besar ini, para guru RBB itu rapat, mengambil keputusan ekstrem. Menurut mereka, jalan paling singkat adalah pemahaman tenses di luar kepala. Mereka sadar bahwa ini sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Pertimbangannya, para guru berpengalaman ini mengenang masa-masa belajar di Kampung Inggris, tempat belajar orang dewasa saja kewalahan menguasainya. Kemudian, karena ini dianggap jalan terbaik, mereka menggabungkan–lebih tepatnya mengombinasikan–teknik mengajar, membuat penyederhanaan rumus dan menciptakan berbagai variasi yang ramah anak. Hasilnya, anak-anak pun berlomba-lomba menguasai tenses tanpa pernah bertanya mengapa harus mempelajarinya.

    Strategi ini berjalan mulus. Adam tiba-tiba tersadar, “Untuk apa belajar ini, Mister?” Ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Guru kelas tahu rasa ingin tahu Adam sedang berkembang. “Agar bacaan pada buku berbahasa Inggris-mu lebih baik,” jawab guru itu. “Adam kan sudah tamat satu buku, tetapi kamu masih selalu kewalahan dalam memahami teks bacaan dan menjawab soal-soal,” lanjut guru. Mendengarkan penjelasan yang melibatkan perjalanan belajar Adam itu, ia berpikir sejenak dan kemudian, menganggukkan kepalanya sebagai tanda sepakat.

    Adam pun mengerti bahwa tidak lama lagi dirinya dan rekan-rekan kelasnya akan kembali pada gerakan literasi berbahasa Inggris, membaca buku dengan suara nyaring dan bercakap berdasarkan teks dialog. Ia juga berharap penjelasan gurunya itu terbukti. “Jadi nanti, saya membaca lagi?” tanya Adam. “Iya. Kamu harus rajin cari ilmu dengan membaca,” balas gurunya dengan singkat.

    Berbeda halnya dengan Belva dan Gavino. Kedua anak bersaudara ini tidak menghiraukan cara berpikir Adam. Setiap datang belajar, sang kakak, Belva, menolak semua tawaran guru: tidak mau percakapan dan bacaan. Sang adik, Gavino, mengikuti kakaknya. Untuk bisa lekas paham dan tamat, Belva selalu memanggil sahabat karibnya, Adeeva, yang sudah mahir tenses di luar kepala dan juga pernah meraih Olimpiade Bahasa Inggris tingkat SD se-Indonesia. Belva dan Gavino hanya mau bermain bila tugas cicilan setoran tenses-nya selesai. Strategi belajar itu membuat kedua anak ini mudah menguasai tenses.

    Fokus penguasaan satu materi dari Belva yang dipatuhi oleh pengikut setianya Gavino sangat baik dan terbukti mampu menyelesaikan tugas tenses teratur. Sekarang ini, mereka belajar tenses acak secara tertulis dan lisan–tahapan lanjutan bagi semua pelajar yang telah menamatkan tenses teratur.

    Setelah itu, guru akan mencari momentum yang tepat agar cara berpikir Belva itu diperbincangkan, mencari jalan tengah agar bisa disandingkan dengan pemikiran Adam. Pendekatan yang akan digunakan mempertanyakan apa kegunaan mempelajari tenses. Belva tentu akan mencari jawaban dan kemungkinan besar ia akan sepakat menggunakannya untuk kebutuhan percakapan dan bacaan buku berbahasa Inggris, target literasi.

    Kreativitas untuk meremukkan ketidakmampuan pelajar Indonesia dari RBB ini adalah salah satu contoh dari sekian banyak lembaga pendidikan alternatif di Indonesia. Kelompok kaum terdidik ini dalam kesehariannya selalu berusaha membaca dengan jeli persoalan pendidikan yang sedang dihadapi, menemukan akar masalah dan menawarkan solusi dalam bentuk tindakan. Gerakan mereka ini luar biasa karena hendak mendobrak kevakuman dan bahkan ketakutan pelajar dan ketidakpercayaan diri pelajar dalam berbahasa Inggris.

    Sebagian orang mungkin menganggapnya biasa saja atau bahkan tidak peduli. Mereka tidak tahu bahwa desain ini adalah investasi jangka panjang. Tenses misalnya, itu sangat berguna untuk kepentingan akademis dan non akademis. Melalui proses belajar terus berkelanjutan disertai inovasi tiada henti, daya ledak dalam bentuk mencetak generasi terdidik yang mampu bersaing sesuai bidangnya pasti tercipta di masa yang akan datang. Itu karena mereka menemukan pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 21 Agustus 2026

  • Menempa Pendidikan Layaknya Kayu Besi

    Menempa Pendidikan Layaknya Kayu Besi

    Menamatkan buku Basic Grammar (Tata Bahasa Inggris Dasar) melahirkan kebanggaan. Kualifikasi jelas, tuntas 16 bab latihan tulis dan menguasai perubahan nominal tenses dan verbal tenses di luar kepala. Namun, itu bukan berarti pelajar langsung bisa naik tingkat, mendapatkan buku tahap kedua, yaitu Pre-Intermediate Grammar. Review materi wajib dilakukan sebagai pembuktian bahwa pelajar tersebut dikatakan layak menyandang status tamat Basic.

    Gambaran pelajar didikan Mr. Agung Pratama Salassa di Rumah Belajar Bersama (RBB) ini adalah wujud pembelajaran yang mengedepankan kualitas. Pengetahuan yang diperoleh harus mampu dipertanggungjawabkan dengan bukti yang nyata. Pelatihan berulang dengan beragam soal mengacu pada 16 bab itu diolah kembali sembari mencari celah yang belum dimengerti dengan baik.

    Muhammad Athar Al Gazi adalah satu dari sekian banyak pelajar RBB yang memperoleh pengalaman berharga itu. Dalam pandangan Mr. Agung, tiga hal penting yang menjadi perhatiannya buat Athar:

    1. Athar adalah pelajar teliti dan rapi, tetapi lambat mengerjakan latihan.

    2. Athar mudah menerima dan cepat memahami materi.

    3. Karena Athar mengikuti dua kelas yaitu Matematika dan Bahasa Inggris, ia datang ke RBB saat ada pelajaran Matematika dan kemudian masuk ke kelas Bahasa Inggris. Ia sering tidak mengikuti jadwal kelas Bahasa Inggris bila tidak bertepatan dengan hari belajar Matematika.

    Atas dasar mengatasi kelemahan lambat mengerjakan latihan dan kurang aktif memanfaatkan jam belajar yang disediakan, Mr. Agung memutuskan untuk melakukan pemantapan latihan untuk Athar.

    Melalui izin dari Mr. Agung, penulis dapat berbagi ilmu dengan Athar. Dalam satu pertemuan, ia mengerti cara memindahkan semua kalimat pasif. Itu capaian yang luar biasa bagi anak kelas 2 SMP—mengutip Athar, di sekolah ia baru belajar simple present dan simple past tenses. Dalam latihan lisan bermodalkan kotak kosong untuk mengetahui arah perubahan kalimat pasif, penulis menangkap bahwa ia tahu jawaban dari tiap pertanyaan. Hanya saja, ia sedikit lambat merespons secara langsung dalam bentuk bicara karena keasyikan dalam berpikir. Solusinya, ia perlu lebih banyak latihan lisan saja.

    Mengajarkan materi pasif adalah proses pengecekan apakah Athar paham tenses atau tidak. Karena ia telah mengerti pasif, itu adalah bukti bahwa ia memahami seluruh perubahan tenses. Athar juga menyadari bahwa dirinya tidak mungkin paham pasif bila tidak mengerti tense. Materi ini menjadi pengantar menuju grammar tahap kedua. Pembahasan detail ada pada buku latihan nantinya. Dalam pemahaman penulis, ia tergolong anak yang sudah siap menerima tantangan baru.

    Bila mengikuti logika modal, pelajar yang naik level akan membayar lebih mahal. Alasannya adalah kualitas pelajaran juga meningkat. Namun, Athar harus bersabar lebih lama—hampir dua bulan menanti untuk bisa masuk tahap kedua. Pembayarannya pun masih terhitung pada tahap basic.

    Pembelajaran ini juga bagian dari pembinaan mental. Pelajar diajak untuk merenungi dirinya sendiri, mencari bahan-bahan yang belum mereka kuasai untuk di-review. Setelah tuntas, kepercayaan diri pasti meningkat. Kapasitas pelajar yang diperkenankan masuk buku tahap kedua itu benar-benar meyakinkan.

    Dari segi pembelajaran, mengedepankan pelajar yang terlebih dahulu mempunyai kualifikasi yang bagus akan jauh memudahkan menganalisis pelajaran yang sulit. Selain itu, guru juga akan sangat terbantu mengajarkan pendalaman dan percepatan materi. Itulah yang ingin digerakkan pada buku grammar (tata bahasa) tahap kedua.

    Setelah kelas belajar selesai, penulis berbicara dengan Mr. Agung dan menyampaikan capaian yang diperoleh Athar. Mr. Agung berpendapat bahwa Athar sudah diperkenankan naik ke tingkat tahap kedua.

    Model pendidikan ini adalah antitesis dari pendidikan instan yang sering hadir ditawarkan di era modern ini. Ciri pendidikan instan adalah mengejar target untuk memenuhi standar formalitas, pelajar yang tamat bisa langsung naik level, orientasi bisnis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, dan mencetak mentalitas pelajar yang rapuh atau manja.

    Athar yang sedang berpikir menemukan jawaban yang tepat pada latihan pasif secara lisan.

    Sedangkan metode RBB yang diterapkan kepada Athar dan kawan-kawan memang kurang populis di era modern ini, tetapi berdampak lebih besar untuk jangka waktu yang panjang. Karakteristiknya dapat dilihat dari target pemahaman hakiki, ada kewajiban mengikuti uji kelayakan, orientasi kualitas dan membentuk jiwa pelajar, dan membentuk mentalitas tangguh dan percaya diri.

    Sejatinya, kita tidak boleh lupa siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Kayu endemik Sulawesi adalah kayu besi dengan kualitas terbaik, tetapi pertumbuhannya lambat. Namun, untuk kebutuhan pasar yang ingin serba instan, orang Sulawesi mengimpor kayu jati putih yang kualitasnya tidak layak dibandingkan dengan kayu besi.

    Kayu apa yang kita akan pilih? Maukah kita meluangkan waktu yang cukup dan melatih kesabaran dalam menuntut ilmu guna mendapatkan kualitas terbaik?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 20 Agustus 2026

  • Rumus Rumit Menjadi Mainan Anak Sembilan Tahun

    Rumus Rumit Menjadi Mainan Anak Sembilan Tahun

    Pelajar tidak tertarik menjawab soal karena tidak tahu cara menjawabnya, terlebih bila aturan menjawab itu harus diikuti dengan struktur tata bahasa yang benar. Peristiwa ini terjadi pada anak-anak yang telah tamat bacaan Basic Reading (Bacaan Dasar) yang sudah terbiasa membaca, tetapi tidak mau menjawab soal bacaan, betapapun isi bacaan telah dimengerti.

    Audrey Naiara Vaiezt, anak berumur sembilan tahun, dan rekan-rekan sekelasnya mengalami nasib sulit di atas. Mereka ini suka teks bacaan percakapan juga dan sangat aktif berbicara secara berpasangan—bekal berbicara diperoleh dari kebiasaan membaca dengan suara nyaring. Sebaliknya, bila diminta menjawab hasil bacaan, minat mereka sangat rendah, mereka seakan-akan tidak tertarik. Kemampuan otak belum mampu mencerna cara menjawab sesuai kaidah tata bahasa, meskipun berkali-kali dijelaskan. Mereka tahu bila diberi tahu dan itu harus selalu diberi tahu pada setiap nomor soal.

    Audrey dinyatakan tamat tenses teratur di luar kepala dan bersiap menghadapi tenses acak di luar kepala dengan modal kotak kosong seperti yang ada di tangannya.

    Atas dasar mencetak anak-anak yang bisa menamatkan buku bacaan berbahasa Inggris tidak mudah, anak-anak ini adalah aset yang berharga yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Karena itu, solusi pemahaman tenses di luar kepala diberikan. Audrey termasuk anak yang baru saja menamatkan seluruh perubahan kalimat tenses secara teratur dan sekarang, ia berlatih tenses acak.

    Ini sungguh aneh, tetapi nyata. Tenses di luar kepala itu adalah materi sangat susah dibandingkan dengan menjawab soal-soal bacaan sederhana. Bagi Audrey dkk, itu malahan bahan pelajaran yang jauh lebih sederhana dan menarik perhatian. Menyadari ketertarikan mereka ini, fokus penguasaan tenses secara utuh menjadi fokus utama saat ini.

    Latihan berpikir sebelum bicara.

    Ketika rekan-rekan kelas Audrey yang telah tamat buku Basic Reading itu telah menyelesaikan materi tenses di luar kepala, pembelajaran akan dikembalikan ke literasi, bacaan cerita dan percakapan berbasis akademis. Dalam artian, keseimbangan kelas terjaga sekaligus menghindari kebuntuan menjawab soal. Itu hampir dapat dipastikan bahwa mereka mampu menikmati pembelajaran karena mereka telah mempunyai bekal yang cukup untuk memikirkan pola kalimat yang tepat dalam menulis jawaban.

    Anak-anak ini tidak menyadari bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana mereka kembali tertarik pada literasi. Apa yang telah diajarkan di atas ditargetkan untuk mudah menjawab soal-soal bacaan. Bahasa Inggris ingin dijadikan alat untuk mengejar ilmu pengetahuan. Kemampuan membaca, tata bahasa dan bercakap dalam bahasa Inggris adalah pemantik agar pelajar mudah mengakses ilmu pengetahuan dari luar, bukan bersumber dari bahasa ibu.

    Tahapan selanjutnya yang ingin dicapai adalah anak-anak mampu membaca buku-buku cerita berbahasa Inggris yang lebih panjang. Selama ini, judul cerita yang mereka baca masih dalam bentuk lesson (pelajaran), sekitar satu atau dua lembar tiap lesson, meskipun itu berisi banyak lesson. Ke depan, mereka akan dilatih untuk membaca esai, novel, atau cerpen yang tulisannya cukup panjang. Itu adalah suatu bentuk pembelajaran yang menuai hasil, bukan target meraih nilai sekolah yang baik. Toh, pembelajaran bahasa Inggris hingga tamat SD itu belum melewati materi tenses.

    Audrey mengusahakan diri untuk selalu memberikan jawaban yang terbaik.

    Segala masalah pembelajaran yang dituangkan dalam tulisan ini tidak dengan serta-merta membuat kita menurunkan kualitas pembelajaran. Bagi pembaca yang berkecimpung dalam jurusan bahasa Inggris atau semacamnya tentu tahu bahwa materi pada kasus di atas justru ditingkatkan. Yang membedakan adalah terdapat strategi yang jitu untuk tidak lepas dari jalur pembelajaran yang ingin dicapai. Malahan, dengan menerapkan strategi belajar tersebut, lompatan pembelajaran yang tingkat tinggi sangat mungkin tercapai kepada para pelajar SD.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 19 Agustus 2026

  • Membangun Penyederhanaan Logika Sejak Dini

    Membangun Penyederhanaan Logika Sejak Dini

    Mendidik pelajar khususnya anak-anak SD berpikir logis dengan pendekatan bahasa Inggris sungguh bukan urusan yang mudah. Dalam beberapa contoh kasus, beberapa pelajar yang kecerdasan mereka di atas rata-rata mudah untuk dikelola. Atas dasar kesuksesan kecil ini, beberapa rekan guru mengambil hipotesis bahwa hal tersebut dapat diterapkan pada jangkauan lebih luas.

    Minat pelajar kebanyakan pada bahasa Inggris. Para guru sepakat untuk menguatkan logika berpikir pada pemahaman tenses—kalimat yang berhubungan dengan waktu dan kejadian atau kondisi. Parts of speech (Kelas kata) yang seharusnya lebih detail belum diajarkan secara mendalam karena guru berpikir bahwa Parts of speech itu lebih baik diajarkan dalam bentuk kalimat. Membedah parts of speech terkesan sangat teoretis, membosankan bagi anak-anak. Penguatan parts of speech yang diberikan ditekankan pada perubahan verb (kata kerja) mengingat itu adalah inti kalimat dalam bahasa Inggris. Hal yang lainnya diajarkan saat mereka bertanya untuk menjawab rasa ingin tahu. Hal yang paling penting adalah kalimat yang dipelajari mempunyai struktur yang benar.

    Ketika anak-anak belajar tenses, mayoritas anak-anak belum bisa berpikir abstrak, pendekatan rumus dan penjelasan yang logis pun masih sulit dicerna. Para guru pun kemudian berkreasi melebihi apa yang telah dilakukan. Peta alur perubahan kalimat pada seluruh tense lebih disederhanakan yang membuat anak-anak mudah memahami perubahan kalimat. Mereka diminta menyetor perubahan kalimat tanpa membaca teks. Aturan ini menjadikannya berpikir untuk mau mencari jalan sendiri menguasai pelajaran di luar kepala. Guru juga memberikan motivasi, menyebut nama-nama pelajar yang berumur sembilan dan sepuluh tahun yang sanggup menyetor tenses. Semangat belajar pun makin membara.

    Meskipun mayoritas anak-anak tersebut menyelesaikan seluruh setoran perubahan tenses, bukan berarti mereka telah mencapai logika berpikir yang matang. Yang mengendap dalam pikiran mereka adalah kalimat yang mereka telah setor—masih kewalahan dalam mengelola contoh kalimat yang berbeda. Oleh karena itu, variasi kalimat itu belum diberikan. Guru mengajarkan kembali kalimat itu secara acak. Ternyata, cara berpikir mereka berkembang. Mereka saling bekerja sama berlatih cara memindahkan kalimat acak baik secara tertulis ataupun lisan.

    Langkah penyederhanaan berikutnya datang dari usulan anak-anak itu sendiri. Guru pun dengan senang hati menerima usulan itu. Setiap anak menyetor tenses acak dengan caranya sendiri. Ini menunjukkan bahwa cara pandang mereka makin maju, tidak terpaku lagi pada guru kelas. Anak-anak, disadari atau tidak, telah mengerti pola kalimat dan pandai dalam mencari solusi. Mereka memang belum sampai pada tahap berpikir logis, tetapi sedikitnya tenses menjadi pengantar yang nantinya diajarkan untuk berpikir logis melalui materi Two—Concept Events (Konsep Dua Kejadian).

    Pembelajaran bahasa Inggris atau ilmu pengetahuan apapun semestinya diajarkan dengan cara yang sederhana dan mengajak pelajar untuk berani berpikir mandiri. Dan sejatinya, pendidikan itu adalah perubahan pola pikir yang memerdekakan manusia.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 18 Agustus 2026

  • 17 Agustus dan Wajah Culas Pendidikan Indonesia

    17 Agustus dan Wajah Culas Pendidikan Indonesia

    Pada 1901, benih ide kemerdekaan Indonesia lahir. Ratu Wilhelmina mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan Politik Etis: Irigasi, Pendidikan, Transmigrasi. Politik Etis dikenal juga dengan Politik Balas Budi atas tingginya penderitaan rakyat Indonesia pada waktu itu. Ini tak lepas dari kritik berbagai pihak, termasuk orang-orang Belanda.

    Pertama, Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker (1820–1887), menulis Max Havelaar pada tahun 1860 untuk mengkritik Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Kedua, Van Deventer (1857–1915) memaparkan data bahwa Belanda telah mengeruk keuntungan sekitar 187 juta gulden dari keringat rakyat Hindia Belanda. Gagasannya ini kelak dirangkum menjadi Trias Van Deventer (Edukasi, Irigasi, Transmigrasi). Ketiga, Pieter Brooshooft (1845–1921) mendesak pemerintah kolonial membentuk partai atau haluan politik yang beretika guna menyelamatkan rakyat bumiputera dari kepunahan ekonomi. Sebenarnya masih banyak tokoh sosialis yang mengkritisi, tetapi cukup tiga orang itu sebagai representasinya.

    Awalnya, maksud pendidikan itu adalah untuk mencetak pegawai kelas rendahan (pennelikker; secara harfiah, artinya adalah “penjilat pena”. Para juru tulis zaman dulu sering membasahi bulu pena dengan ludah agar tinta tidak menggumpal sehingga aliran tinta pada kertas lebih lancar.) yang dikhususkan untuk para bangsawan dan orang kaya.

    Ada yang menarik. Belanda menciptakan gelar ‘Andi’ bagi pelajar di Sulawesi–waktu itu belum ada Sulawesi Selatan. Menurut Andi Mattalatta, istilah ‘Andi’ itu digunakan untuk memudahkan membedakan orang yang mendapatkan pendidikan ala Belanda dengan yang tidak dan mengenali dalam merekrut pegawai. Ide ‘Andi’ ini digagas oleh B. F. Matthes yang mempelopori pengumpulan manuskrip terpanjang dunia, I La Galigo.

    Sebagian kelompok yang tidak mau kompromi dengan Belanda memilih jalur lain. Kajang di Tana Toa–mengutip pemikiran Abdul Kahar Muslim yang saat ini ketua SI (Syarikat Islam) Bulukumba 2026: orang Kajang (khususnya kawasan adat wilayah Amma Toa) jangankan sekolah, bicara dengan orang Belanda saja tidak mau. Mereka tidak rela menjadi kaki tangan Belanda. Isolasi total ini demi menjaga kedaulatan spiritual dan kulturalnya. Sekolah ala Belanda itu adalah perpanjangan tangan keserakahan penjajah, eksploitasi manusia, dan sumber daya alam. Itu sangat bertentangan dengan prinsip hidup orang Kajang, yaitu kamase-masea (hidup bersahaja atau sederhana).

    Di Yogyakarta beda lagi. Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa. Gelar feodalisme tidak berlaku di Taman Siswa. Untuk laki-laki dipanggil ‘Ki’ dan perempuan dipanggil ‘Nyi’ atau ‘Ni’ demi kesetaraan dengan rakyat. Itu counter-culture politik yang radikal terhadap strata sosial kaku buatan kolonial dan keraton yang sama-sama berpaham feodal. Ia mulai dari dirinya sendiri. Gelar kebangsawanan sebagai ‘Raden’ dari Ki Hadjar pun ia tanggalkan.

    Pribumi di Pulau Jawa dan Sumatra banyak yang lolos dari jebakan ‘pegawai rendahan’, bukan jongos yang sedikit dipoles dengan istilah pendidikan karena mereka mampu sekolah hingga sarjana. Mereka inilah yang menggagas ide republik. Di dada mereka ditanamkan persatuan kepada rakyat dan cita-cita Indonesia merdeka adil dan makmur.

    Di balik dahsyatnya tokoh-tokoh di Jawa dan Sumatra itu, ada satu tokoh yang berpendidikan tinggi dari Sulawesi bernama Dr. Sam Ratulangi dari Manado, gubernur pertama Sulawesi pasca Indonesia merdeka. Ia adalah rekan baik Dr. Mohamad Hatta yang dikenal lewat tulisan-tulisannya. Bahkan, dalam tulisan Hatta, Ir. Soekarno mengaku kepada Hatta bahwa nama Indonesia pertama kali Bung Karno kenali dari tulisan Ratulangi–ini mesti dicek lebih jauh.

    Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 mengakhiri zaman feodalisme. Republik Indonesia berdiri. Ki Hadjar Dewantara ditunjuk oleh Soekarno di dalam Kabinet Presidensial menjadi Menteri Pengajaran (Pendidikan) Pertama pada 19 Agustus 1945 sampai 14 Nopember 1945. Di sinilah letak rintisan pendidikan Indonesia. Di kemudian hari, tepatnya 6 September 1977, lahirlah Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan atau semangat). Maksudnya, guru atau orang tua harus berdiri di belakang untuk mengawasi, memberi kebebasan, dan mendorong mereka agar berani maju. Ide yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara itu secara resmi ditetapkan sebagai logo Kementerian Pendidikan Indonesia dan masih berlaku hingga saat ini.

    Ditilik dari landasan filosofis, pendidikan Indonesia itu seharusnya tidak mundur. Pada 8 Juni 2003, pemerintah bersama DPR menetapkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) di mana 20 persen dana pendidikan harus dialokasikan di luar gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan.

    Di atas kertas, perlindungan ini semestinya tidak membuat pendidikan Indonesia jauh tertinggal. Pembiayaan pendidikan yang dominan ke arah pembangunan fisik yang jika duitnya dikorupsi, itu menjadi pangkal masalah. Fokus pada pembiayaan pembangunan non fisik, yaitu pada pencerdasan anak bangsa, yang menjadi inti pendidikan itu kurang disentuh. Wajar Indonesia selalu tertinggal, kalah dengan negara-negara tetangga.

    Pendidikan kita mencetak ‘buruh bersertifikat’. Fokus utamanya memproduksi kebutuhan pasar untuk memenuhi kebutuhan industri. Pendidikan tercerabut dari akarnya yang hendak memanusiakan manusia.

    Nilai mentereng di atas kertas untuk pemenuhan dokumen administratif. Guru menghabiskan waktunya mengisi aplikasi dan laporan yang dituntut sukses. Ini banyak menyita pekerjaan yang seharusnya Tut Wuri Handayani: mengamati perkembangan anak didik.

    Komersialisasi pendidikan makin nampak di depan mata. Sekolah internasional dengan segala fasilitasnya yang serba mewah menjanjikan kualitas pendidikan menjadi barang mewah. Orang yang berduit mendapatkan fasilitas pendidikan yang terbaik. Apakah ini bukan reproduksi sistem pendidikan dan reproduksi sistem kasta feodal dalam bentuk kapital ekonomi atau kapitalisme pendidikan?

    Apakah feodalisme terselubung dalam bentuk upeti dari pemberian proyek masih berlaku? Pendidikan model apa yang telah dicetak Indonesia pasca kemerdekaan? Apakah kemerdekaan Indonesia itu memerdekakan pendidikan Indonesia?

    Apakah pada tanggal 17 Agustus 2026, orang-orang mengingat bahwa pendidikan adalah jalan utama lahirnya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 17 Agustus 2026

  • Seputar Kemerdekaan

    Seputar Kemerdekaan

    Dwi Tunggal antara Sukarno dan Hatta sungguh dahsyat, Indonesia merdeka–tanpa menaikkan peran toko-tokoh lainnya. Dari dua kepala jadi satu ini, benarkah mereka bersatu? Hatta mundur sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956, tanda pemikiran mereka berbeda, Dwi Tunggal masuk dalam kotak sejarah selagi keduanya masih hidup

    Bersambung….
    Makassar, Minggu, 16 Agustus 2027

  • Persoalan Matematika Dasar

    Persoalan Matematika Dasar

    Matematika selalu menjadi momok mengerikan bagi pelajar SD. Penyebabnya sederhana. Sejak kelas 1 sampai kelas 3 SD, perhitungan dasar sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian tidak dimatangkan dengan baik. Akibatnya, ketika anak kelas 4 sampai 6 SD, materi lanjutan seperti pecahan, persen kuadrat dll. tidak bisa diolah.

    Fakta demikian bertaburan di sekitar kita. Untuk menguji apakah anak-anak bisa mengerjakan pelajaran Matematika sekolah, cukup cek saja dasar-dasar Aritmatika di atas. Bila hal itu belum tuntas, hampir dapat dipastikan bahwa Matematika-nya bermasalah.

    Bersambung….

    Zulkarnain Patwa
    Palopo, Sabtu, 15 Agustus 2026

  • Kehebohan Berkelanjutan: Garis Panjang Belajar Bahasa Inggris RBB

    Kehebohan Berkelanjutan: Garis Panjang Belajar Bahasa Inggris RBB

    Heboh mereka. Ungkapan kegembiraan belajar yang digambarkan Miss Fathy. Literasi berbahasa Inggris dikemas dalam bentuk permainan. Potongan kertas yang berisi kosakata dibuat. Tugas tiap kelompok yang bersaing adalah membuat kalimat sesuai permintaan guru. Literasi berbahasa Inggris ini berdasarkan teks yang ada dalam buku Basic Reading dari lesson (pelajaran) 25 sampai 28. Agar lebih semarak, ada juga kalimat yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

    Metode mengajar yang terstruktur dan tidak membosankan ini menjadi impian setiap pelajar. Kadangkala, permainan sering dibuat untuk mengesankan kegiatan belajar itu bombastis, inti pelajaran tidak kesampaian. Kelas Miss Fathy ini justru tidak memisahkan antara belajar dengan bermain. Permainan para pelajar adalah belajar.

    Kekayaan belajar berikutnya adalah grammar (tata bahasa). Kalimat yang digunakan adalah simple present pada nominal tense untuk penguatan penggunaan kata kerja be: am, is, are. Materi ini sengaja berkali-kali diulang dalam berbagai pertemuan agar anak-anak tahu dan tidak kewalahan saat membandingkan dengan simple present pada verbal tense. Beberapa contoh kalimat verbal tense juga diberikan, namun belum diberikan penjelasan yang lebih mendalam sebagaimana detailnya pada nominal tense.

    Kegiatan belajar yang terakhir adalah membangun mental percaya diri. Buku Basic Reading dibaca dengan suara nyaring tiap individu dan direkam. Setiap anak berpikir untuk berusaha tampil dengan baik karena video tersebut akan ditonton oleh orang tua pelajar dan publik—disebarkan di media sosial. Anak-anak secara otomatis telah belajar mempersiapkan diri sendiri tanpa harus diceramahi. Tidak seorang pun yang ingin tampil di depan kamera video dengan penampilan dan pembicaraan yang buruk.

    Pekerjaan membuat video pelajar secara perorangan memang paling banyak menyita waktu. Kesalahan dalam berbicara untuk pemula pasti terjadi sehingga guru memberikan perbaikan yang membuat durasi belajar bertambah. Namun, semua itu bukanlah keluhan bagi Miss Fathy. Dia sadar bahwa untuk menghasilkan kualitas yang mumpuni, kreativitas berpikir dibarengi dengan bekerja ekstra adalah konsekuensi. Pilihan ini dilakukan secara sadar, bukan paksaan.

    Gerakan literasi berbahasa Inggris.

    Capaian yang berharga dari pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete di atas suatu saat akan disandingkan dengan RBB Bulukumba. Selain aktivitas bersama seperti yang telah dijelaskan, para pelajar tersebut akan diajak ke tempat wisata seperti Bira, Kajang, atau Tanah Beru untuk berkomunikasi dengan para wisatawan mancanegara. Segala pengetahuan yang telah diperoleh akan lebih cepat berkembang dan memicu keinginan untuk belajar lebih giat bila bertemu dengan orang yang tepat, dalam hal ini bule yang tidak bisa berbahasa Indonesia, melainkan Inggris.

    Mengantisipasi gagap bicara, kehabisan ide, atau kendala yang di luar prediksi, para pelajar akan berlatih membuat pertanyaan. Berdasarkan pengalaman lapangan, mengetahui 40 soal pertanyaan adalah angka yang sudah cukup untuk membuat obrolan dengan bule tidak terhenti. Sebaiknya pertanyaan tersebut mampu dihafal di luar kepala. Kalaupun tidak, mereka bisa membawa kertas catatan pertanyaan demi mengefektifkan obrolan berbahasa Inggris tersebut. Bila memungkinkan, pembicaraan direkam untuk bahan evaluasi lebih lanjut yang dapat dibahas di kelas.

    Jadi, kehebohan belajar itu tidak berhenti di satu titik. Titik tanda berhenti sebuah kalimat. Titik bisa juga dimanfaatkan untuk membuat garis panjang. Nah, garis panjang dalam belajar inilah yang direncanakan menciptakan kehebohan berkelanjutan.

    Zulkarnain Patwa
    Palopo, Jum’at 14 Agustus 2026

  • Saat Membaca Kehilangan Makna

    Saat Membaca Kehilangan Makna

    Pelajar kelas Reading (Membaca) biasanya membaca tanpa perlu tahu banyak tentang unsur yang membentuk suatu kalimat. Sesuai namanya, Reading aktivitasnya adalah terus membaca dari satu buku ke buku yang lain secara berkelanjutan.

    Bacaan berbahasa Inggris itu terasa hambar bagi pelajar bila mereka tidak mengerti makna. Makna mendalam ditemukan dari proses pembelajaran struktur. Alika Mumtazah Al Hakim adalah pelajar kelas Reading. Setelah cukup akrab dengan buku asing, perlahan-lahan ia dilatih tidak mengandalkan modul terjemahan buku Reading-nya. Ia mendapatkan materi Passive — pembalikan kalimat aktif ke pasif.

    Ini karena gurunya itu pernah berjanji. “Bila kamu mengerti tenses (kalimat aktif), belajar kalimat apa pun pasti bisa,” sang guru berkata. Alika anak kelas 1 SMP telah memahami dasar-dasar tenses. Janji itu pun diwujudkan.

    Berikut ini kalimat yang Alika pelajari.Misalnya pada passive. I speak English (Saya berbicara bahasa Inggris).Kalimat aktif itu diubah ke pasif menjadi English is spoken by me (Bahasa Inggris dibicarakan oleh saya).

    Kuncinya terletak pada be + V3. Rumus itulah yang diolah dalam bentuk perubahan kalimat dengan bantuan kotak kosong passive. Karena Alika telah mengerti cara memainkan be dalam hal ini “is” saat belajar tenses, maka perubahan dan perpindahan kalimat dengan mudah ia lakukan—hal lebih detail tidak dijelaskan di sini untuk menghindari pembahasan yang terlalu teoretis. Hebatnya, ia mampu mempraktikkan secara lisan ke sepuluh kotak passive—bukan enam belas sebagaimana tenses. Enam passive yang tersisa tidak diajarkan karena itu tidak dipakai dalam kebiasaan native speakers (penutur asli) baik dalam bahasa pergaulan sehari-hari maupun dalam bahasa resmi.

    Alika tersenyum puas atas capaiannya ini, yang hanya dalam sekali pertemuan memahami pasif. “Saya tidak menyangka, Mister. Ternyata, saya bisa. Dulu, saya berpikirnya cuma ha ho ha ho,” kata Alika.”Apa itu ha ho?” tanya guru yang heran dengan istilah baru anak remaja itu.”Item maksudnya, saya merasa otak saya tidak bisa pelajaran seperti ini. Saya bangga bisa melakukannya,” terang Alika dengan senyum merekah.

    Pada pertemuan pembelajaran yang mendatang, Alika akan melakukan review pada dua buku bacaan cerita berbahasa Inggris. Tugasnya adalah mencari kalimat passive dan berlatih menerjemahkan bacaan yang sesuai dengan konteks cerita. Variasi bentuk passive semacam stative passive dan lainnya dengan serta merta mengikuti.

    Para pembelajar bahasa di era modern ini lebih menekankan pada kemampuan berbicara dan membaca. Fokus pembahasan tentang kaidah tata bahasa tidak menjadi perhatian utama lagi. Begitulah yang terjadi di Indonesia. Akibatnya, tingkat pemahaman terhadap bacaan lebih rendah meskipun banyak membaca. Memahami bacaan lewat terjemahan itu memang membantu, tetapi itu pengantar saja. Kedalaman makna dari bahasa dalam mengungkap hal-hal terselubung ditemukan dalam tata bahasa itu sendiri. Dalam bahasa Inggris, itu disebut grammar.

    Kesadaran pelajar kita masih dominan pada keaktifan berbicara, mengamankan pelajaran sekolah atau kuliah. Kepentingan ini sebenarnya baik saja, ada alasan mengapa orang harus berbahasa Inggris. Kita perlu selangkah lebih maju dengan menjadikan bahasa itu sebagai alat pengetahuan. Bacaan buku kurikulum sekolah bukan karena mengejar nilai bagus. Mereka bisa diajak berpikir bahwa itu cara menemukan hal yang baru. Para mahasiswa yang telah lulus TOEFL pun biasanya tidak belajar bahasa lebih lanjut lagi. Buku yang direkomendasikan dosen untuk kebutuhan kuliah hampir tidak pernah dibaca—sebuah tanda miskin literasi.

    Agar kebuntuan ini teratasi, pelajar zaman sekarang sangat perlu diajak untuk mau belajar secara komprehensif. Memulai dari speaking, reading, atau grammar etc. (bicara, bacaan, atau tata bahasa dll.), tergantung kesukaan saja. Minimal tiga elemen dasar ini sebaiknya mampu dipelajari—tidak saling dibenturkan—agar pelajar bisa menggunakan pengetahuan bahasanya lebih efisien dan multi fungsi.

    Zulkarnain Patwa
    Palopo, 13 Agustus 2026

  • Menembus Kemustahilan Bahasa Inggris

    Menembus Kemustahilan Bahasa Inggris

    Dua orang anak kembali berhasil menyetor perubahan verbal tenses di luar kepala secara teratur (11/08/2026). Mereka punya daya juang yang tinggi menyicil setoran dari hari demi hari. Saat tuntas, mereka seakan tidak percaya bisa melakukannya.

    Faika Nada Salfa yang baru saja selesai setoran tenses dengan kotak kosong tenses di tangannya sebagai alat bantunya.n

    Tidak ada piala kemenangan atau pesta gegap gempita. Sesaat setelah menyelesaikan setoran terakhir yaitu past future perfect progressive or continuous, Faika Nada Salfa berkata, “Saya sangat senang bisa lulus.” Lalu, anak kelas 4 SD ini melanjutkan, “Saya mau tenses acak dan latihan tulisnya juga seperti teman-temanku yang lain tapi itu besok saja.” Guru kelas menanggapi, “Iya. Besok saja. Latihanmu malam ini sangat banyak. Selamat ya dan sampai ketemu di pelajaran tenses acak.” Guru tahu bahwa setoran tenses teratur telah menguras banyak tenaga dan pikiran Faika. Ia butuh waktu untuk siap menghadapi materi baru yang ia sudah tahu bahwa itu lebih variatif dari yang ia pelajari sebelumnya.

    Sementara itu, A. Althaf Adam Al Arkhan punya langkah cerdas untuk bisa segera tamat. Ia melihat di papan pengumuman di mana Audrey, saingan terdekatnya, sudah hampir tamat, dua kotak setoran tenses yang belum diselesaikan. Saat jam kelas belajar telah selesai, Adam memohon agar diberikan waktu untuk menyetor latihannya sambil menanti jemputan. Guru yang tidak sedang sibuk, tidak keberatan. Dengan sigap, Adam yang juga masih menyisakan dua setoran tenses yang belum selesai menuntaskan semuanya. Total 16 verbal tenses, 958 perubahan kalimat sanggup ia praktikkan tanpa teks catatan.

    Ucapan selamat pun juga tertuju pada Adam. “Saya bisa melambungi Audrey,” katanya bangga sambil tersenyum. “Saya tidak menyangka saya bisa menyelesaikan tenses. Padahal, saya itu banyak main. Cuma, sebelum saya main, saya perhatikan kalimat yang mau saya setor. Saya coba hapal sedikit dan kemudian pergi bermain,” katanya dengan suasana hati yang senang.

     A. Althaf Adam Al Arkhan sukses juga sukses pada tenses di luar kepala.

    Adam memang termasuk anak yang suka telat, telat datang ke kelas dan telat pulang karena jemputannya sering terlambat datang. Beruntung, ia memiliki strategi tersendiri dan rajin bertanya pada hal yang ingin ia ketahui. Karena itu, ia merasa bangga bisa melambungi Audrey. Sedangkan Audrey, pada pertemuan belajar semalam, ia berada di kelas Matematika hingga kelas jam belajar bahasa Inggris selesai, tidak sempat menyetor hapalan. Karena itu, kesempatan terbaik ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Adam.

    Faika dan Adam memperhatikan lembaran kertas latihan tenses acak. “Wah, ini susah sekali. Saya tidak tahu cara mengerjakannya,” kata Adam ke gurunya.

    “Ya? Itu hasil pekerjaan teman kelasmu: Adeeva, Nabila dan Nisa. Pada awalnya, mereka juga tidak bisa. Lihat jawaban mereka, itu semua selesai dan dijawab dengan benar.”

    “Coba saya baca lagi soalnya,” kata Adam. Adam kebingungan membaca perintah perpindahan kalimat. “Saya benar-benar tidak tahu, Mister,” ungkapnya dengan yakin.

    “Dulu kamu tidak tahu tenses teratur, tidak tahu bicara dan membaca. Sekarang kamu bisa,” balas guru yang berusaha mendobrak rasa takut Adam. “Sekarang kamu tidak tahu tenses acak. Kalau teman-teman kelasmu bisa, apakah kamu tidak bisa?” tanya guru menyentil emosi dan pikiran Adam.

    “Bisa. Besok malam saya latihan,” balas anak kelas 5 SD itu. Sesaat kemudian, ia pun pamit pulang, jemputannya telah datang.

    Kekhawatiran Adam dan Faika ini beralasan. Jangankan anak SD, pelajar orang dewasa pun masih banyak tidak sanggup menyelesaikan tenses di luar kepala. Metode dan kreativitas dari guru-guru Rumah Belajar Bersama (RBB) yang telah membongkar hal yang tidak lazim ini, hampir tidak pernah dikerjakan.

    Ini terlihat istimewa karena terobosan ini tidak dikerjakan oleh kurikulum pendidikan Indonesia. Bagi RBB dan lembaga yang sealiran dengannya, desain ini hal yang biasa saja. Sederhana. Bila tenses mampu diajarkan kepada anak SD, apakah orang dewasa yang kapasitas berpikirnya lebih matang itu tidak bisa? Cemburu yang baik itu memicu daya juang untuk belajar hingga tuntas, minimal tenses seperti pembahasan kali ini untuk mencapai sukses belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 12 Agustus 2026