Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Mimpi Pelajar Bulukumba Menembus Dunia

    Mimpi Pelajar Bulukumba Menembus Dunia

    Sebuah pertemuan yang cukup mengagetkan bagi para pelajar ketika Victor dari Spanyol dan Jessica dari Prancis mengunjungi kelas belajar. Para pelajar saling berbisik untuk menjawab rasa penasarannya. Mereka semua kemudian diajak duduk satu meja bersama Victor dan Jessica.

    Saat berada di dalam ruang kelas, Mr. Agung Pratama Salassa, guru Bahasa Inggris, menyambut dengan penuh ramah tamah dan memberikan pengantar tentang para pelajarnya yang mayoritas oleh anak anak dan remaja itu. Setelah itu para pelajar diajak untuk berdialog. Wah! Sebagian besar berharap mendapatkan pertanyaan dan dua orang bule itu pun berpikir sama. Diam sejenak. Keheningan terpecahkan melalui kepandaian bergaul Jessica. Ia menyapa beberapa orang dan mendapatkan balasan dalam Bahasa Inggris. Suasana terlihat lebih akrab.

    Tak berselang lama, Lulu yang telah tamat SMA mendapatkan beberapa pertanyaan. Ia yang kesempatan berharga tersebut memanfaatkan diri untuk berbicara sebaik yang ia bisa dengan menceritakan keinginannya berkuliah di Amerika Serikat atau Jepang.

    Untuk bisa kuliah di universitas terbaik dan turut aktif dalam pergaulan dunia, Lulu sedang belajar Bahasa Inggris dan Jepang. Ia juga pernah belajar Bahasa Mandarin. Beberapa orang keluarganya pun belajar bahasa asing di RBB, tempat dimana ia belajar Bahasa Inggris. Tak lupa, Lala, sepupunya Lulu, yang kini mengajar di sekolah Internasional di Bali adalah contoh keluarga dekat yang ia ingin ikuti jejaknya. Dari Lala, ia terinspirasi belajar bahasa asing.

    ‘Wow, keluarga yang luar biasa!”, ekspresi Jessica dalam Bahasa Inggris dan pernyataan itu didukung oleh Victor. Jessica mencoba mengecek lebih jauh. “Apakah Bahasa Jepang itu sulit?” tanya Jessica dalam Bahasa Inggris. “Tidak”, jawab Lulu. “Saya pernah belajar Bahasa Mandarin. Itu ada kemiripan dengan Bahasa Jepang”, tambahnya meyakinkan.

    Singkat kisah, dari obrolan santai tersebut, Jessica dan Victor membaca bahwa anak mudi sembilan belas tahun itu tidak sekedar punya mimpi dan cita-cita yang tinggi tapi juga usaha yang nyata. Mereka bertemu di kelas Bahasa Inggris. Terlihat dari ekspresi wajah Lulu senang mendapatkan sambutan hangat karena pembicaraannya dapat dimengerti betapapun ia masih di level Basic English di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Pelajar yang lain yang setara kemampuannya dengan Lulu tentu juga ingin ikut berbicara. Namun, mereka mengerti bahwa keduanya merupakan tamu Kak Aris Irfan–Pimpinan Cahaya Bone of Kalla Travel dan Owner Villa Malomo–yang sudah waktunya harus meninggalkan kota Bulukumba menuju Bira yang menjadi tujuan utama mereka. Terlebih lagi, Kak Irfan ditemani istrinya tercinta sudah cukup lama sabar menanti. Rekan-rekan pun sesegera mungkin berfoto bersama sebagai tanda akhir dan sekaligus kenangan dari pertemuan yang mencerdaskan ini.

    Apa yang dilakukan Kak Irfan sudah memberikan kontribusi besar mendukung kemajuan pelajar Indonesia di daerah untuk lebih berani dan aktif berbahasa Inggris dengan penutur asing. Kepada Kak Irfan, Mademoiselle Jessica dan Señor Victor, kami semua yang terlibat aktif dalam dunia pendidikan berterima kasih sedalam-dalamnya atas kebaikan hati kalian semua. Karena anda semua, pertemuan berharga yang tidak terbayangkan ini terlaksana.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 5 Juni 2026

  • Berebut Memimpin Kelas

    Berebut Memimpin Kelas

    Pelajaran Parts of the body (Bagian-Bagian dari Tubuh) adalah games yang sangat disukai anak-anak. Mereka tidak terlihat bosan dan terus membuat pertanyaan secara bergantian. Seorang pemimpin yang berdiri paling depan membuat pertanyaan, “What is the English word for nadi?” (Apa bahasa Inggris dari nadi?). Yang sanggup menjawab dengan benar berhak jadi pemimpin, sedangkan yang salah mundur ke baris paling belakang. Setiap orang berusaha menjawab benar, ingin memimpin.

    Anak-anak yang berada di dalam barisan juga saling berbisik. “Saya lupa Bahasa Inggrismya siku”. Rekannya memberitahukan, “elbow“, katanya. Dan ada pula yang mendatangi guru kelas menanyakan kosakata yang ia lupa.

    Cara belajar yang ini sangat efektif membuat anak-anak rajin bertanya tanpa diminta untuk bertanya. Diri mereka sendiri merasa butuh untuk mengetahui, bukan guru. Yang membuat games lebih seru adalah beberapa anak yang memimpin memberikan pertanyaan sulit agar mereka mempunyai kesempatan memimpin permainan lebih lama. Anak yang tidak mampu menjawab mempunyai rasa ingin tahu yang lebih tinggi dan berharap bisa menjawab untuk memimpin.

    Memperkenalkan kosakata dipraktekkan secara bersama-sama di kelas terlihat mengesankan. Tapi untuk membuat anak-anak lebih bergembira, games pilihan yang menyenangkan. Terdapat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan secara individu membuat anak tersebut sadar akan tingkat kemampuannya sendiri. Dan tentu saja, mereka tidak ingin selalu gagal dalam menjawab.

    Selain itu, ada kondisi dimana mereka bertindak selangkah lebih maju. Mereka bisa berkreasi sendiri membuat aturan permainan. Guru sekedar memperhatikan saja agar kelas berjalan efektif sambil tetap menyemangati dan mengingatkan kosakata yang membuat mereka gagal dalam menjawab.

    Games tentang Parts of the Body adalah contoh percakapan sederhana dalam mengasah keberanian berbicara Inggris. Ada tanya-jawab, rasa ingin tahu dan pelatihan kepemimpinan ala anak-anak.

    Apakah anak-anak bagian dari games belajar tersebut?

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 5 Juni 2026

  • Rahasia Anak SD Jago Tenses di Luar Kepala

    Rahasia Anak SD Jago Tenses di Luar Kepala

    Tiga orang anak SD belajar praktik lisan tenses di luar kepala. Bagi orang luar, itu terkesan istimewa karena pelajaran ini untuk SMP dan SMA. Tapi di RBB (Rumah Belajar Bersama), ini hal biasa karena banyak anak-anak SD telah lulus ujian tulis dan lisan tenses.

    Bagaimana hal ini bisa diterapkan? Guru mendeteksi cara belajar muridnya. Ada yang suka melalui pendekatan contoh kalimat dan ada juga yang melalui pendekatan rumus. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah memberikan pemahaman tentang apa itu tense, makna dan fungsi tenses secara perlahan. Dengan memahami, murid akan lebih mudah menghafal.

    Dalam penerapan, satu contoh kalimat sudah cukup untuk merubah satu kalimat menjadi sedikitnya delapan puluh delapan perubahan kalimat secara teratur pada verbal tenses. Setelah lancar, beragam kalimat bisa dipakai hingga murid mampu merubah tenses secara acak.

    Latihan dilakukan secara tulis untuk mengikat makna, merujuk catatan bila lupa dan lisan untuk mengasah kesesuaian pikiran dan bicara. Praktek sedikitnya diulang sebanyak 40 kali yang oleh RBB disebut sebagai Metode 40. Dalam artian, 40 kali praktik secara berulang adalah ukuran standar untuk mengerti.

    Tapi patut diingat, ada murid yang dapat mengerti tanpa harus mengulang sebanyak 40 kali. Tapi bagi murid yang belum mengerti meskipun telah diulang sebanyak 40 kali, perulangan terus dilakukan hingga mengerti. 40 dipakai sebagai ukuran standar rata-rata perulangan latihan. Dalam istilah akademik, ini dapat juga disebut the law of repetition (hukum perulangan).

    Apakah perulangan membosankan? Ini sangat tergantung dari cara mendidik murid. Oleh karena itu, pelajar dilatih menjawab soal-soal cerita, berbicara inggris secara teratur, menunjukkan materi basic grammar (tata bahasa dasar) yang erat kaitannya dengan tenses. Motivasi belajar pun menjadi meningkat karena mereka percaya tenses adalah yang sangat penting dikuasai untuk memudahkannya menghadapi persoalan Bahasa Inggris baik dalam reading, grammar dan speaking sekalipun.

    Seiring dengan perkembangan pemahaman, beragam perubahan kata kerja dikenalkan untuk memperkaya kemampuan mengubah kalimat. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan kelas kata (parts of speech) lainnya sehingga murid tahu peletakan kata yang benar dalam suatu kalimat.

    Para murid yang mampu mencapai tahapan ini akan lebih cepat mengembangkan diri mempelajari materi lanjutan karena fondasi yang kokoh telah dibangun. Dan itu akan lebih berarti bila dapat diterapkan sejak SD.

    Kini sudah saatnya kita melakukan terobosan belajar sehingga persepsi tentang Bahasa Inggris itu susah berubah menjadi mudah. Pemahaman tenses di luar kepala itu dapat diterapkan kepada anak-anak, hal yang tidak difokuskan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui kurikulum sekolah di Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 4 Juni 2026

  • Menyeimbangkan Mengaji dan Calistung

    Menyeimbangkan Mengaji dan Calistung

    Calistung (Baca Tulis dan Hitung) adalah sama pentingnya dengan mengaji. Kenapa? Karena menuntut ilmu itu adalah sebuah kewajiban, larangan menjadi bodoh. Ketika anak-anak sejak usia dini bisa belajar bacaan Arab dalam artian bahasa yang dipakai Al-Qur’an, mereka tidak boleh terlambat mengenal bahasa ibunya, Bahasa Indonesia.

    Kenapa Penting?
    Di SD, anak-anak yang terlambat tahu calistung akan merasa tidak percaya diri kepada rekannya yang telah pandai. Mereka terlambat memahami pelajaran. Ini akan memunculkan rasa malas untuk ke sekolah dan terpisah dari pergaulan anak sebayanya. Parahnya, mereka seringkali dicap bodoh, nakal dan stigma negatif lainnya dilekatkan padanya. Padahal, mereka tidak punya kesalahan. Mereka tidak tahu saja cara belajar calistung sederhana yang tepat seperti rekan-rekannya.

    Untuk menghindari stigma buruk tersebut, orang tua anak sangat perlu berperan aktif mendidik anaknya di rumah. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah tanggungjawab sekolah. Betul. Cuma saja, seorang guru mengelola sejumlah anak kecil dalam jumlah cukup besar yang isi kepalanya bermain dalam satu kelas bukan persoalan mudah. Waktu belajar anak kelas 1 dan 2 SD pun sangat terbatas.

    Pengalaman orang tua anak yang anak-anaknya cepat pintar membaca dan menulis patut dijadikan contoh. Mereka menyiapkan bahan pelajaran seperti gambar alphabet dan angka, buku bergambar dan papan belajar di rumah. Orang tua bermain bersama anaknya sehingga anak merasa akrab, tidak asing dengan dunia belajar.

    Ada juga yang berpikir praktis dengan cara memasukkan anaknya ke bimbingan belajar dengan alasan kesulitan mendidik di rumah atau sibuk. Pendekatan ini tidak salah karena ada solusi. Namun menyediakan bahan pelajaran di rumah yang sesuai kebutuhan anak akan membuat anak lebih sering melihat bahan pelajaran yang diajarkan di sekolah. Apa yang ada di sekolah juga ada di rumah.

    Di RBB (Rumah Belajar Bersama), beberapa anak yang duduk di kelas 3, 4 dan 5 SD bergabung belajar Baca Tulis dan Hitung. Itu sangat terlambat tapi masih lebih baik karena ada usaha penyelamatan. Selama jam belajar di RBB, mereka memaksimalkan diri berlatih membaca dan menulis dengan tekun melalui panduan guru yang berpengalaman, mengetahui pendekatan yang tepat. Tahap demi tahap dipelajari secara terstruktur. Setelah dididik, bagi anak-anak tanpa hambatan khusus, 3 sampai 4 bulan adalah waktu cukup lama untuk bisa lancar. Ternyata, masalah utamanya bukan karena anak-anak tersebut bodoh tapi karena mereka perlu menemukan lingkungan yang tepat untuk belajar.

    Pendidikan keluarga di rumah, sekolah dan lembaga pendidikan alternatif adalah pilihan yang hadir untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh anak-anak kita. Mengaji dan calistung adalah pengetahuan yang wajib kita terapkan pada anak usia dini agar terdapat keseimbangan antara pendidikan agama dan pengetahuan umum.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 4 Juni 2026

  • Ketagihan Belajar Tercipta

    Ketagihan Belajar Tercipta

    Tepat sesuai jadwal, pada jam 19.15 Wita kelas Reading (Membaca ) mulai. Anak-anak mengikuti listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) pada cerita “Help!”. Selain cara mendapatkan cara mengatur tinggi rendahnya suara, mereka juga tahu kapan menggunakannya pada kalimat yang tepat. Kemudian, mereka mengulangi praktik bacaan yang sama dengan bantuan guru. Suara mereka terdengar lebih kompak dan semarak.

    Sebenarnya, meskipun mereka sangat bersemangat, ternyata bacaan tersebut agak sulit dibaca dengan sempurna. Penulis yang bertindak sebagai pengajar langsung mengalihkan pelajaran pada lesson (pelajaran) yang lebih mudah, lesson 1 sampai 5. Mereka senang dan merasa tidak perlu bantuan sama sekali. Namun beberapa kesalahan kecil tetap penulis perbaiki di sela sela bacaannya. Misalnya, kata “with” mereka sebut “waith” dan “murderer’s” mereka sebut marderers.

    Pembiasaan reading ini akan punya pengaruh besar dalam speaking (bicara). Soalnya, salah ucap bisa salah makna, tafsir. Penguatannya mesti dilakukan sedini mungkin melalui pendekatan literasi agar mempunyai efek ganda: mampu mengenal tulisan Inggris dan bicara dengan benar. Itulah yang dibangun dalam dunia akademik.

    Karena pelajaran di atas cukup menyita energi yang besar, anak-anak diberikan kesenangan dengan keluar main. Saat masuk kelas lagi, pelajarannya tentang Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) sekitar 25 kotakata mulai dari neck (leher) sampai two thumbs up (dua jempol). Mereka suka mengunakan tubuhnya sendiri sebagai alat peraga.

    Kemudian, waktu keluar main diberikan lagi. “Hore”, sorak anak-anak.

    Pada akhir pelajaran, anak-anak mengusulkan games. Karena ingatan tentang Parts of the Body masih segar, soal tebakan dengan siapapun yang angkat tangan paling awal, dialah yang berhak menjawab. Games ini sangat seru sehingga guru sulit menentukan siapa yang paling cepat angkat tangan. Guru sering diprotes oleh anak yang merasa lebih dahulu angkat tangan tapi tidak mendapatkan kesempatan.

    Menghindari perdebatan lebih lanjut, guru meminta seorang sukarelawan yang khusus mengamati pelajar yang lebih dahulu angkat tangan sekaligus mengecek kebenaran jawaban. Faika bersedia mengambil peran tersebut dan diterima. Bagi anak-anak, itu lebih baik karena Faika sudah tahu jawaban, saingan berkurang. Games ini terus dimainkan hingga waktu jam belajar selesai, 20.45 Wita.

    Kombinasi belajar dengan pendekatan bermain dan literasi buku ini mempunyai daya tarik yang kuat. Anak-anak tidak bosan dan bahkan merasa belajar adalah dunia bermainnya. Wah, betapa indahnya kehidupan anak-anak yang kesehariannya belajar. Itu adalah lifestyle, bukan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 3 Juni 2026

  • Waktu dan Seni Menang dalam Kehidupan

    Waktu dan Seni Menang dalam Kehidupan

    Dalam kehidupan, manusia menjalani kehidupan seiring dengan perjalanan waktu. Manusia yang memanfaatkan waktu dengan baik akan jadi pemenang. Bagiamana cara memanfaatkan? Dengan cara menentukan cita-cita dalam hidup dan menggunakan waktu sebanyak mungkin dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

    Dilema Durasi dan Fokus Belajar
    Mari kita telaah sedikit lebih lanjut dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan alternatif, para guru dan pelajar belajar dalam waktu tertentu. Misal 90 menit dalam satu pertemuan. Kebanyakan orang biasanya bosan bila belajar penuh selama 90 menit tersebut. Itulah mengapa ada yang disebut jam istirahat sekitar 15 menit. Jadi waktu yang efektif belajar selama 75 menit. Sedangkan bagi para pelajar yang dewasa, mereka cenderung memanfaatkan waktu 90 menit tersebut dengan belajar tanpa istirahat.

    Pelajar sekolah yang cenderung mendapatkan perhatian yang lebih tinggi agar waktu belajarnya maksimal. Mereka datang belajar dengan membawa smartphone untuk bermain games. Waktu istirahatnya digunakan bermain games dan bila memasuki jam belajar, mereka masih saja bermain sambil pura-pura memperhatikan pelajaran, menaruh smartphone di bawah meja agar tidak dilihat oleh gurunya. Membiarkan kejadian seperti ini, itu sama saja menyia-nyiakan waktu. Mustahil mencetak pelajar yang punya pemahaman yang baik bila perhatian di games lebih banyak daripada pelajaran. Karena itu, tidak boleh ada smartphone selama jam belajar kecuali guru yang menganjurkan untuk penggunaan fasilitas belajar.

    Tantangan Gadget di Meja Belajar
    Yang perlu menjadi titik perhatian lainnya adalah waktu jam istirahat harus bisa konsisten. Pelajar yang anak-anak itu selalu ingin punya waktu bermain melebihi waktu yang diberikan. Guru perlu membuat beragam trik untuk mengajak mereka mau kembali ke dalam kelas agar jam belajar lebih banyak daripada jam bermain. Hal ini karena anak-anak masih belum terlalu mengerti pentingnya belajar sehingga mereka harus selalu diarahkan dan didampingi secara langsung.

    Menyangkut pemahaman terhadap suatu materi juga membutuhkan jangka waktu tertentu. Kendalanya terletak pada tingkat pemahaman pelajar, ada yang cepat dan ada juga yang lambat paham. Wajar saja bila tidak semua pelajar yang bisa tepat waktu. Untuk mengakali pelajar yang lambat memahami pelajaran, motivasi dan pendampingan yang lebih intens sebaiknya diberikan melalui review hingga benar-benar mengerti. Rekan pelajar yang lebih dahulu paham dapat diminta membantu. Semua orang yang berada di lingkungan belajar tersebut saling bahu-membahu memaksimalkan kecerdasannya terbagi kepada pelajar yang membutuhkan bantuan. Dengan demikian, semua bisa selesai sesuai waktu yang ditetapkan.

    Pilihan di Tangan Kita
    Kehidupan manusia itu singkat, berakhir dengan kematian. Perjalanannya dihiasi oleh warna-warni. Kita harus cerdas memilih warna yang tepat. Kesalahan dalam memilih melahirkan penyesalan. Masa yang telah berlalu tidak mungkin kembali lagi. Selama kita masih punya kesempatan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, itu adalah kesempatan terbaik memanfaatkan waktu yang tersisa.

    Apakah kita akan keluar sebagai pemenang atau pecundang? Biarlah waktu yang menjawabnya.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 3 Juni 2026

  • Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Anak-anak yang ujian akhir semester sekolah tidak menurunkan semangat mereka untuk tetap datang belajar Bahasa Inggris. Kami para pengajar mengerti bahwa belajar dalam bentuk bermain mesti lebih dominan agar tidak ada perasaan terbebani.

    Ketika kelas baru dimulai, materi yang anak-anak mempelajari adalah Parts of the body (bagian-bagian dari tubuh). Mereka bergembira mengucapkan kosa-kata yang disebut sambil menyentuh anggota tubuhnya. Misal, menyebut mustache, nostril and nose (kumis, lobang hidung dan hidung) diucapkan secara bersamaan saat memegang anggota tubuh yang disebutkan. Metode ini disebut Total Physical Response (Respon Fisik Menyeluruh).

    Pelajar yang lebih cepat mengerti menjadi pemimpin. Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya) diterapkan. Sirin dan Nabila yang terpilih menjadi melatih rekan-rekannya dengan cara membentuk dua kelompok. Setelah lima menit, kedua kelompok tersebut secara bergiliran praktik siaran langsung di Facebook.

    Pada sesi berikutnya, pelajaran mengarah pada literasi. Terdapat delapan lesson diselesaikan dan dibaca bersama-sama. Yang tidak lancar sekedar memperhatikan bacaan dan yang lancar bersuara nyaring. Tidak ada teguran dari guru pada pelajar yang tidak lancar membaca. Selama mereka memperhatikan bacaan, itu sudah cukup. Perhatian sudah cukup untuk membuatnya mengerti. Dalam hatinya, mereka pasti juga ingin lancar sebagaimana teman-temannya.

    Pelajaran akhir diisi dengan bernyanyi Make a Circle (Membuat sebuah Lingkaran) dan If You’re Happy (Jika Kamu Bahagia). Ini dilakukan dengan suara yang semarak dan gerakan tubuh yang energik. Dan setelahnya, mereka meminta bebas bermain sesukanya, lima menit sebelum jam pelajaran berakhir.

    Sebelum pulang, anak-anak bercerita bahwa ujian sekolahnya tidak susah. Apa buktinya? Mereka mengatakan bahwa soal-soal ujian gampang. Penulis tidak memberikan pertanyaan lanjutan yang berat dan membiarkan mereka percaya bahwa menghadapi ujian sekolahnya selama seminggu yang sedang berlangsung dari 2 Juni hingga minggu depan dapat mereka hadapi dengan Positive Mindset (Pemikiran Positif).

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026

  • Loncatan Belajar di Luar Kebiasaan

    Loncatan Belajar di Luar Kebiasaan

    Nurailu Sholehah bercita-cita kuliah di jurusan sastra Inggris atau Jepang di Universitas Hasanuddin. Setelah tamat SMA, ia memanfaatkan waktunya belajar Bahasa Inggris di RBB (Rumah Belajar Bersama) dengan mengikuti dua kelas yaitu pada Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa) menghabiskan waktu minimal tiga jam sehari.

    Lulu, panggilan akrab gadis delapan belas tahun ini, di luar dugaan menyelesaikan buku Reading tahap dua hampir dalam dua bulan dengan kemampuan menjawab soal-soal esai yang sedikit sulit karena terdapat Information Questions (Pertanyaan Informasi) yang membutuhkan argumentasi. Sekarang ia berada pada tahap ketiga, Pre-Intermediate, membahas seluruh Information Questions dan membuat cerita berbahasa Inggris.

    Keunikan belajar Lulu terletak pada kemampuannya menjawab soal-soal reading yang membutuhkan grammar dimana Lulu sendiri masih berada di bab 8 dari 16 bab yang harus ia selesaikan pada Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar). Itu berarti ia telah mengerti garis umum dari grammar (tata bahasa) tapi belum tuntas secara detail. Oleh karena itu, satu orang guru turut aktif memberikan materi tambahan agar ia tidak kewalahan menghadapi materinya yang bertambah rumit.

    Lulu diselamatkan oleh spirit belajarnya yang luar biasa. Sebagai pengajar kelas tambahan, saat penulis memberikan materi review grammar, ia bisa praktik lisan dengan baik dan menuntaskan nominal dan verbal dalam simple present tense. Kemudian, ia mencatat kembali pola tenses untuk memperkaya model pendekatan cara belajar. Ia menambahkan catatannya pada Present Progressive sebagai penguat latihan lisan nantinya. Latihan tulisnya sih sudah tuntas.

    Awal-awal lesson pada buku Pre-Intermediate Reading tersebut, Lulu akan mendapatkan pendalaman soal cerita pada tenses. Ini kesempatan yang bagus untuk memahamkan tenses di luar kepala. Kemudian, materi lanjutan setelah tenses seperti passive, gerund clause dan lainnya yang penulis akan pandu diselaraskan dengan buku Reading-nya saja.

    Betapapun ia mendapatkan loncatan pelajaran, buku Basic Grammar-nya tidak boleh ditinggalkan, harus tuntas agar ia tetap memperoleh pelajaran yang tersistematis. Inilah yang kita yakin yang akan memudahkannya mengorelasikan dengan materi grammar tingkat menengah yang ia pelajari.

    Para pengajar mengharap Lulu mampu menyelesaikan pelajaran Bahasa Inggris tingkat Intermediate baik di Reading dan Grammar. Bila terdapat waktu yang cukup, ia dapat memperoleh bekal writing (menulis) dan TOEFL dan IELTS sebagai persiapan untuk memperoleh beasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026

  • Menerobos Kemustahilan Kurikulum Bahasa Inggris

    Menerobos Kemustahilan Kurikulum Bahasa Inggris

    Ini adalah sekilas kisah anak-anak yang sangat jarang terjadi dalam dunia pendidikan. Kemampuan Faika Qinara Putri Ridwan, kelas 3 SDN 2 Terang-Terang Bulukumba, memahami seluruh perubahan struktur tenses di luar kepala mengingatkan penulis dengan Asse Icha (Asse Nur Izza Maharani) yang mampu melakukan hal yang sama sewaktu dia juga masih kelas 3 SDN 10 Ela-Ela Bulukumba. Ini terkesan istimewa karena ini sangat langka anak anak berumur sembilan tahun bisa praktik lisan tenses tanpa melihat buku catatan.

    Bila Faika meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Academic Olympiad) 2026, Icha dipercaya menjadi guru Bahasa Inggris di pesantren Gontor 5 Jawa-Timur sejak masa sekolah hingga tamat kuliah di Unida (Universitas Darussalam), Kampus Gontor. Karena pengabdian mengajar itulah, ia dapat potongan pembayaran. Bahkan, Icha yang lingkungan kesehariannya akrab berbahasa arab selama mengaku bahwa tenses memudahkannya mempelajari struktur tata bahasa Arab ketika ia masih kelas 1 Tsanawiyah (SMP).

    Kesamaan Masa Kecil
    Faika dan Icha sama-sama atlet karate di INKAI Bulukumba dilatih oleh Sensei Sarif (Pasele Mattaro Mattaro) dan Senpai Rauf. Faika juga dilatih oleh Senpai Riri. Di sini mereka mendapatkan pelatihan fisik untuk kesehatan, penguatan mental untuk berani menghadapi tantangan berat dan membangun kepercayaan diri dan kedisiplinan memperkokoh fisik dan mentalnya.

    Dalam hal Matematika, Kalau Faika terlatih berhitung dari orang tuanya–Nurlaelah dan suaminya yang sarjana teknik. Icha berlatih pada ibunya Fatmawati Fatwa, dan penulis dimana saat masih kelas 2 SD, ia sudah paham perkalian 1 sampai 9. Ada bekal untuk agak agak abstrak dan logis. Dan dalam hal literasi, masing-masing orang tua membiasakannya membaca buku di rumah. Dukungan tambahan literasi mereka dapatkan ketika berada di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Faika sedang praktik lisan tenses dengan sekedar mengandalkan otaknya saja untuk bisa merubah seluruh struktur tenses di Rumah Belajar Bersama. Foto pada Senin, 1 April 2026.

    Dari karate, Matematika dan literasi yang telah tertanam sejak kecil, semua itu adalah modal yang memberanikan para pengajar RBB untuk menerobos kemustahilan. Fisik yang sehat, mental pejuang dan rajin membaca adalah bukti bahwa anak-anak tersebut siap mendapatkan materi tenses yang penuh dengan tantangan berpikir kreatif dan logis untuk sampai pada tingkat pemahaman yang baik.

    Asse Nur Izza Maharani yang sempat bertemu B. J. Habibie, Presiden RI ke 3, di Taman Pintar Yogyakarta pada 15 Agustus 2012. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Sebagai pembanding, anda bisa bayangkan, para mahasiswa pun masih harus belajar tenses hanya karena materi dasar ini tidak tuntas di kurikulum SD, SMP dan SMA. Para dosen tahu bahwa mereka kesulitan mengajarkan perubahan kalimat sederhana dan memahamkan materi lanjutan bila para mahasiswa tidak punya pemahaman dasar yang kokoh.

    Tantangan Kita
    Penerapan tenses pada anak-anak bukanlah hal mustahil. Dua contoh dari anak kelas 3 SD bukanlah generalisasi tapi sebuah tanda bahwa kita mesti mampu mendeteksi potensi kecerdasan yang dimiliki anak-anak untuk dimaksimalkan sesegera mungkin. Penulis yakin masih banyak anak-anak Indonesia yang punya bakat seperti Faika dan Icha. Bagi pemerhati pendidikan, ini adalah tantangan kita semua untuk mendeteksi dan mendidiknya dengan penuh rasa tanggungjawab agar tercipta pelajar Indonesia yang punya daya saing global seperti yang diharapkan Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 April 2026

    Catatan tambahan:
    Anda bisa menonton siaran langsung (live) dari Faika praktik tenses di link FB ini:

    Part 1
    https://www.facebook.com/share/v/1BVhPAyVDX/

    Part 2
    https://www.facebook.com/share/v/1DJ67oMZHT/

  • Menyiksa?

    Menyiksa?

    Jadwal anak-anak yang sedang belajar ini sungguh padat. Betapa tidak, seiring dengan matahari terbit, mereka pergi sekolah hingga siang. Setelah istirahat sejenak di rumahnya, mereka lanjut lagi berangkat mengaji hingga jelang Maghrib. Otak dan fisik mereka pasti lelah.

    Malam hari, mereka ikut Bahasa Inggris. Terlebih lagi, mulai 2 Juni 2026 ini, mereka menghadapi ujian akhir semester di sekolah untuk naik kelas di SD.

    Bagaimana mengelola anak-anak seperti ini?

    Oleh karena itu, guru Bahasa Inggris di RBB (Rumah Belajar Bersama) memperlakukan murid-murid ini seperti kawan dekat agar mereka lebih rileks belajar. Karena kawan, mereka sering kali protes dengan alasan bahwa pelajaran mereka terlalu berat atau banyak. Padahal, sebenarnya pelajarannya sama saja dengan pelajar Inggris di sore hari di RBB. Karenanya, memberikan dua kali waktu istirahat dalam 90 menit belajar terasa fair. Ini dalam rangka menciptakan bahagia belajar.

    Dari anak-anak ini, para guru belajar bagaimana menciptakan metode belajar yang dalam bentuk permainan. Lagu, games, gerakan tubuh disertai praktik bicara dan beragam permainan lainnya dikemas yang isinya Bahasa Inggris. Ini diselingi dengan literasi, membaca buku berbahasa Inggris sebagai inti pelajarannya. Bila otak guru gagal berpikir kreatif, kelasnya pasti membosankan.

    Jalan terakhir yang kita tempuh adalah memberikan pujian yang tulus tiap kali anak-anak ini memperoleh kemajuan belajar. Pujian itulah yang membuat mereka tetap bersemangat, merasa dihargai dan bernilai dari setiap usahanya. Mereka bangga dan entah mengapa, mereka terlihat punya energi baru, menganggap bahwa belajar itu bukan lagi sebagai beban, melainkan pembuktian bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026