Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Kwalitas English SD Meragukan

    Kwalitas English SD Meragukan

    Bahasa Inggris pelajaran wajib mulai tahun 2027/2028 merupakan Wujud komitmen pemerintah untuk menyiapkan profil lulusan yang produktif dan berdaya saing global. Pernyataan Abdul Mu’ti Menteri Mendikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah) dalam Konferensi Internasional TEFLIN (Teaching English as a Foreign Language) ke-71 digelar di Universitas Brawijaya, Malang, 2025. Kini, buku pelajaran Bahasa Inggris telah tersebar di SD (sekolah Dasar) se-Indonesia. Menggembirakan.

    Masalah muncul ketika guru-guru SD yang bukan sarjana Bahasa Inggris atau tidak punya dasar-dasar Bahasa Inggris mengajar. Kontan saja, meteri pelajaran seperti anak TK saja, sekedar penegenalan kosa-kata. Para guru itu juga takut khawatir banyak bicara Inggris manakala ada murid-muridnya di kelas yang ikut kursus telah sampai pada kemahiran tertentu.  Guru jadi kurang percaya diri—Sebuah fakta berkebalikan dengan target Abdul Mu’ti yang ingin anak-anak punya kepercayaan diri berkomunikasi dengan penekan literasi. Mana bisa literasi English dibebankan pada guru yang bukan ahlinya. Cara penyebutan bahasa inggis sangat jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia sehingga ide besar mulia ini tidak boleh memasang sembarang orang saja. Apakah itu semata-mata salah guru? Bukan. Itu kesalahan penerapan kebijakan.

    Sebenarnya pemerintah pusat itu sudah dapat mengurangi ‘pengangguran terdidik’ dengan merekrut para sarjana Bahasa Inggris mengajar. Dinas Pendidikan Daerah cukup mencari cara cerdas saja cara memberdayakan pemuda pemudi Indonesia yang terdidik itu. Membuat program pelatihan untuk (calon) para guru Bahasa Inggris harus benar-benar punya niat mencerdaskan. Dalam arti, berhenti mengadakan pelatihan yang sekedar menghabiskan anggaran.

    Ada contoh yang menggelikan. Terdapat pelatihan untuk Program Sekolah Berbahasa Inggris para guru SD dan SMP pada 2025. Pelatihannya sekejap saja. Anggaran untuk investasi sumber daya manusia disulap jadi seremonial. Mana  mungkin mencetak guru yang berkwalitas yang pelatihannya hanya sehari atau dua hari? Kalau dibilang ada hasil, coba cek perubahan apa yang terjadi pada anak-anak sekolah di daerah yang mengadakan tersebut dan kemudian, bandingkan berapa besar dana yang dihabiskan.

    Ketika ditanya lebih lanjut, kenapa ini tidak tercapai? Jawaban klasik adalah keterbatasan anggaran. Biarpun anggaran selangit bila tidak punya pemetaan penggunaan anggaran pendidikan secara yang benar, pasti kurang. Butuh keselarasan antara ide dan tindakan praktis dalam mempersiapkan generasi yang punya daya saing global sebagaimana yang didengungkan oleh Abdul Mu’ti. Tugas berat Menteri Pendidikan kita adalah harus bekerja ekstra agar anggaran pendidikannya tepat sasaran agar idenya itu tidak berakhir laksana pepatah; tong kosong, nyaring bunyinya.

    Apakah rencana Mendikdasmen tetap kokoh mau melatih sekitar 90.000 hingga 150.000 guru SD untuk siap mengajar pada 2027? Itu bukan pekerjaan mudah mempersiapkan manusia pintar untuk siap mengajar. Atau apakah Mendikdasmen mau membuka lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran dengan merekrut sarjana Bahasa Inggris? Itu tugas pemerintah untuk memberikan jawaban tepat sasaran.

    Solusi pembenahan bahasa Inggris dari Abdul Mu’ti adalah pilihan terbaik yang dimiliki Indonesia saat sekarang. Kita ingat, betapa beratnya pelajar mengerti Bahasa Inggris ketika kurikulum mewajibkan pelajaran Bahasa Inggris di SMP, sungguh menakutkan. Itu karena tidak ada sama sekali dasar-dasar pembelajaran semasa SD. Hancur lebur. Yang selamat adalah pelajar yang ikut kursus atau orang tuanya yang mengajarkan Bahasa Inggris di rumahnya. Akankah kita menghancurkan? Atau ide kritis Rocky Gerung, menyelamatkan bangsa dengan cara membunuh elit?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa 5 Mei 2026

    Sumber:
    https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/13897-perkuat-kompetensi-global-bahasa-inggris-akan-wajib-pada-sekolah-dasar-mulai-ta-20272028
    https://edukasi.kompas.com/read/2025/10/22/210316471/bahasa-inggris-jadi-mapel-wajib-sd-mendikdasmen-tidak-banyak-grammar.
    https://www.instagram.com/reel/DRdiVc0k_Bc/

  • Agung: Breaking the Deadlock of Youth

    Agung: Breaking the Deadlock of Youth

    What Should Youth Do? In the midst of the confusion of dropping out of college in Makassar, Agung Pratama Salassa broke his mental deadlock by finding the right step to build his future. He decided to travel far to study English in Kampung Inggris (English Village), Tulungrejo Village, Kediri, East Java. He didn’t half-measure; he stayed there for seven years.

    This young man from Bulukumba left only with information, traveling alone without knowing anyone. When he arrived at ASSET (Association of Sulawesi Students) Camp in Kampung Inggris, the fellow Sulawesi residents didn’t trust him immediately. As a stranger, he was interrogated. However, because his intentions were sincere, the interrogation turned into trust. Agung was accepted. From there, he learned that there were thousands of students from Sulawesi in the village. There are five ASSET camps: Laga Ligo, Sam Ratulangi, and Halu Oleo for men, and Camp Tanriabeng and Andi Depu for women. The rest stay in various camps provided by language institutions or the local community.

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    From his seniors, Agung received nice advice: as a beginner, don’t act like a know-it-all. Thus, he took a beginner’s course focusing on vocabulary—where 100 words had to be memorized daily—as well as Basic Speaking and Grammar. The knowledge gained in class had to be shared at ASSET, which held meetings twice a day after the Subuh (dawn) and Maghrib (sunset) prayers. Initially, he struggled to adapt. As time passed, he realized that deep learning is essentially “reviewing” (repeating important things). Living in the camp also mandated speaking English, making daily activities automatically conducted in the language.

    Due to his growing and the quality of his studies, Agung became “addicted” to learning. Without realizing it, he had studied for two years. He didn’t stop; he didn’t go back home in Bulukumba. His curiosity was as unstoppable as a thirsty person in a desert under the scorching sun. How could he stay longer? He devised a clever strategy by telling his parents he wanted to go to college in Pare, majoring in Management at the Islamic University of Kadiri (UNISKA). Why not English? To him, that was too easy. He believed English proficiency could be achieved without a university degree. Everything needed for English—minus a thesis—was already available there. By choosing management, he gained additional knowledge. His parents accepted the proposal.

    Agung set a record: seven years studying English in Kampung Inggris and five years of university until graduation. Most people come to study for a few months or one to two years; three years is already considered impressive. When English became part of his daily life, Agung developed a deep interest in pronunciation, complemented by learning phonetic symbols in the dictionary. Another enjoyable challenge was grammar, as it triggered his critical thinking to find the reasoning behind the formation of sentences and phrases. These intricacies played a major role in analyzing high-level materials such as TOEFL and IELTS.

    “After spending time in Kampung Inggris, Pare, East Java, Agung returned to his hometown in Bulukumba. Now he is teaching grammar at Rumah Belajar Bersaman in Bulukumba.”

    The Other Side of Kampung Inggris
    Living in the village taught the meaning of humanity. Having served as a leader in one of the ASSET camps, Agung experienced how to strengthen bonds of brotherhood and empathy. As the largest and oldest regional association in Pare, ASSET frequently organizes donations for students in trouble, bazaars for fundraising, and blood drives. Networks, friendships, and trust are built there. Young people also learn to organize and mobilize others, much like student activists on campus.
    The learning environment is very conducive. Before sunrise, camps are already busy with students. Afterward, they can choose courses according to their needs from morning until 9:00 PM. During breaks, English practice happens everywhere—in canteens, on the streets, or in cafes—because Kampung Inggris is a gathering of people from all corners of Indonesia specifically to learn English.

    Kampung Inggris is a village where the cost of food, camp, and courses remains affordable. Some options are pricier, but not sky-high like in big cities. Studying all day in hot daytime weather makes one easily hungry and thirsty, while nights tend to be cooler. Newcomers must manage their finances wisely; because almost everything is cheap, money can slip away unnoticed. Financial mismanagement is often why people cannot stay longer.

    The local community is very welcoming. Residents rent out their homes for camps, courses, and boarding. Others open food stalls. Pollution is low because students are encouraged to use bicycles. This is also a profitable business niche; since the majority of students cycle, rentals, sales, and repair shops for both new and used bikes are found on every corner.
    Kampung Inggris is a meeting point for dreamers. Students, college students, youths, and even those pursuing Master’s or Doctoral degrees gather there. Their goals differ, but they share a common interest, English. There is a positive energy where they share stories on how to achieve their dreams. This pattern is formed naturally and culturally.

    The Next InspiratorFrom Agung’s journey, we can reflect that youth should not pass by without equipping oneself with knowledge. For Agung, his choice was English—attaining high proficiency without needing an English degree from a university. Other youths can choose according to their own talents. The most important thing is the initiative to change oneself by doing something they believe will build their future. Agung is an example, and you could be the next inspirator.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Monday, May 5, 2026

  • Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Apa yang pemuda harus lakukan? Di tengah kebingungan putus kuliah di Makassar, Agung Pratama Salassa memecah kebuntuan berpikir dengan menemukan langkah yang tepat membangun masa depan. Ia memutuskan pergi jauh belajar Bahasa di Kampung Inggris, Desa Tulungrejo, Kediri,  Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung, ia tinggal selama tujuh tahun di sana.

    Pemuda Bulukumba hanya berbekal informasi berangkat seorang diri, tidak mengenal siapa pun. Saat tiba di Camp Asset (Associtaon of Sulawesi Students) di kampung Inggris, orang-orang Sulawesi tidak langsung percaya begitu saja. Ia orang asing dan diinterogasi. Karena niatnya yang benar, interogasi malah berbuah keparcayaan. Agung diterima. Dari situ, ia tahu bahwa terdapat ribuan pelajar dari Sulawesi ada di kampung Inggris. Ada lima camp Asset: . Laga Ligo, Sam Ratulangi, Halu Oleo untuk Camp Putra dan Camp Tanriabeng dan Andi Depu untuk Camp Putri. Selebihnya mereka tinggal di berbagai macam Camp yang disediakan lembaga kursus atau masyarakat setempat.

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    Oleh para senior, Agung memperoleh saran yang baik. Pemula tidak perlu sok pintar. Karena itu, ia mengikuti kursus pemula tentang vocabularies (kosa kata) di mana 100 kata wajib dihapal setiap hari, Basic Speaking and grammar (Dasar berbicara dan tata bahasa). Pengetahuan yang diperoleh di kursus wajib disebarkan di Asset yang mempunyai pertemuan dua kali sehari; setelah shalat Subuh dan Maghrib secara berjamaah. Awalnya ia sulit beradaptasi. Beberapa waktu berlalu, ia sadar bahwa ternyata belajar mendalam itu adalah review (mengulangi hal-hal penting). Tinggal di Camp juga wajib Speaking English sehingga segala aktivitas keseharian otomatis berbahasa Inggris.

    Karena pemahaman dan peningkatan kwalitas belajar, Agung kecanduan belajar. Tidak terasa, ia telah belajar selama dua tahun. Ia tidak berhenti, tidak pulang kampung. Rasa ingin tahunya makin tak terbendung layaknya orang yang kehausan di tengah gurun di bawah pancaran sinar matahari membakar. Bagaimana ia bisa tinggal lebih lama? Ia merancang strategi cerdas dengan menyampaikan kepada orang tuanya bahwa ia hendak kuliah di Pare, mengambil jurusan Manajemen di  Universitas Islam Kadiri. Kenapa bukan jurusan Bahasa Inggris? Itu terlalu mudah. Ia percaya keahlian berbahasa Inggris bisa tanpa universitas. Semua kebutuhan bahasa Inggris minus skripsi telah tersedia. Dengan memilih manajemen, ia memperoleh ilmu tambahan. Usulan diterima oleh orang tua.

    Agung mencetak rekor, tujuh tahun belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, lima tahun kuliah hingga sarjana. Orang-orang biasanya datang belajar untuk beberapa bulan atau satu sampai dua tahun. Tiga tahun itu sudah hebat. Ketika belajar Bahasa Inggris menjadi bagiabn dari kehidupan sehari-hari, perhatian Agung ketertarikan mendalam pada pronunciation (pengucapan) yang dilengkapi dengan cara membaca phonetic symbol tertera di kamus. Tantangan menyenangkan lainnya adalah grammar karena otaknya terpicu berpikir kritis untuk menemukan alasan dibalik terbentuknya suatu kalimat, frase dan kalimat. Sekelumit itu yang banyak berperan menganalisa persoalan tingkat tinggi semisal materi TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Test System).

    Agung yang setelah berada di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur, kembali ke pulang kampung di Bulukumba dan mengajar Grammar di Rumah Belajar Bersama.

    Sisi Lain Kampung Inggris
    Tinggal di kampung mengajarkan makna kemanusiaan. Agung pernah menjadi ketua di salah satu Camp Asset merasakan bagaimana cara menguatkan ikatan persaudaraan, dan  berempati. Asset sebagai perkumpulan daerah terbesar dan tertua di Pare seringkali mengadakan open donasi bagi pelajar yang tertimpa masalah, bazar untuk penggalangan dana dan donor darah. Jaringan, perkawanan dan kepercayan pun terbangun. Para pemuda juga belajar berorganisasi, menggerakkan orang banyak sebagaimana aktivitas para mahasiswa yang kuliah.

    Aktivitas belajar memang sangat kondusif. Menjelang matahari terbit, orang-orang telah ramai belajar di camp masing masing. Setelahnya, orang-orang bisa memilih lembaga kursus yang sesuai kebutuhannya mulai dari pagi hingga malam hari, pukul 21.00 Wita. Di sela-sela waktu istirahat, suasana Bahasa Inggris dapat dilakukan di mana saja. Di kantin, di jalan, di café dll karena Kampung Inggris adalah kumpulan manusia yang datang dari berbagai macam penjuru Indonesia khusus belajar Inggris.

    Kampung Inggris adalah sebuah desa.  Biaya makanan dan minuman, camp dan kursus masih terjangkau. Ada juga yang agak mahal tapi tidak harga selangit seperti di kota-kota besar. Belajar sepanjang hari disertai cuaca yang panas di siang hari membuat orang mudah lapar dan haus. Dan di malam hari cuaca cenderung lebih dingin.  Orang yang baru datang ke sana harus lebih pandai manajemen keuangan karena tanpa terasa uang habis, efek hampir segalanya serba murah sehingga uang mudah keluar. Kegagalan manajemen keuangan membuat orang tidak bisa tinggal lebih lama.

    Masyarakat setempat juga sangat welcome dengan pendatang. Penduduk menyewakan rumahnya untuk camp, kursus, kos-kosan. Sebagian membuat warung makan. Polusi rendah karena para pelajar dianjurkan bersepeda. Ini lahan bisnis yang sangat menguntungkan juga karena para pelajar mayoritas bersepeda. Penyewaan atau penjualan dan bengkel sepeda baru dan bekas tersedia di berbagai sudut.

    Kampung Inggris juga pertemuan manusia yang bercita-cita. Pelajar sekolah, mahasiswa,  pemuda-pemudi dan bahkan yang mau S 2 dan S 3 pun berkumpul di sana. Cita-citanya berbeda tapi punya kepentingan sama, Bahasa Inggris. Terdapat energi positif di mana mereka akan saling berbagi cerita bagaimana cara mewujudkan impiannya. Pola ini terbentuk secara alami, kultural.

    Inspirator Berikutnya
    Dari perjalanan kehidupan masa muda Agung, kita dapat bercermin bahwa masa muda jangan berlalu begitu saja tanpa membekali diri dengan pengetahuan. Bagi Agung, pilihannya Bahasa Inggris, berpengetahuan tinggi tanpa perlu sarjana Bahasa Inggris di universitas. Pemuda yang lain bisa memilih sendiri sesuai dengan bakatnya . Yang terpenting ialah ada sebuah inisiatif dari pemuda itu sendiri untuk merubah diri dengan melakukan sesuatu yang ia percaya dapat membangun masa depan. Agung adalah contoh pemuda dan berikutnya andalah yang menjadi inspirator berikutnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 4 Mei 2026

  • Recognition of the Ministry of Education to Ansar Langnge

    Recognition of the Ministry of Education to Ansar Langnge

    Inventions change the course of knowledge and the world. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī is known as the Father of Algebra and the pioneer of the number zero. For his extraordinary contributions, we witness the development of technology today, such as the computer through binary opposition (0 vs 1).

    Without the intellectual breakthrough of this Persian scholar, we can only imagine how dark the world of science—especially mathematics—would be. The West, which initially used Roman numerals, successfully transitioned through the Dark Ages because Al-Khwārizmī’s works were translated into Latin by European scholars.

    The name Al-Khwārizmī is monumental. To keep it grounded, let’s bring the focus to Indonesia, specifically the world of teacher education. Ansar Langnge, a Mathematics teacher in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia received recognition and an award from the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia in 2015. This was for his work on the use of “Tongmini” (Mini stick) as teaching aids to improve the ability of Grade VIIB students at Sate Junior High School 11 Bulukumba to solve integer division. Ansar did not change the world like Al-Khwārizmī, but he played a significant role in transforming the face of Mathematics education, which is often seen as terrifying in Indonesian schools.

    Award from the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia to Anshar Langnge for successfully simplifying Whole Numbers using the Tongmini (Mini Stick).

    Learning about integers, which is usually presented abstractly on the whiteboard, became more visual through affordable teaching aids that were easier for students to grasp. Is that not turning complexity into simplicity? Jalaluddin Rakhmat once said that a smart person is one who is able to simplify a complex problem. An intellectual teacher like Ansar is capable of answering that challenge.

    Every outstanding student receives the honor of standing in the middle of the field and receiving appreciation from Ansar Langnge, the headmaster. This generates pride for the champion and motivation for other students to strive for achievement.

    “How many people from South Sulawesi received this award?” I asked while looking at his certificate. “I was the only teacher from South Sulawesi who went to Yogyakarta to receive that award,” he said in a calm voice. His friendly, smiling persona and easy-going nature reinforced the impression that he is far from being a “killer” teacher. From the word “only,” a critique and a hope emerged. We still lack teachers who are willing to be creative, even though the Ministry of National Education has opened doors for innovation. In fact, it is a great opportunity to improve teacher quality and career paths.

     

    The figure of Anshar Langnge who is now the headmaster of State Junior High School 1 Bulukumba.

    Ansar Langnge now is a headmaster of State Junior High School 1 Bulukumba in South Sulawesi, the best high local school across generations. Under his leadership, the school continues to increase its number of high-achieving students, from local to national levels. The combination of an innovative principal and talented students creates a powerful momentum for progress. Because there are so many achievements, he mentioned that every week—specifically during the Monday flag ceremony—there is an appreciation ceremony for students with academic and non-academic achievements at the District, Provincial, and National levels. How can it be that great? According to him, the school performs structured and neat mapping to identify student talents and interests, then encourages them to participate in competitions.

    Ansar Langnge is also very active in building networks and strengthening brotherhood bonds. In this photo, he inaugurated the IKA (Alumni Association) of State Junior High School 1 Bulukumba, 2026.

    The grand physical structure of a school, equipped with all its supporting facilities—as important as they are—indeed becomes a source of pride and is often touted as a sign of progress. But what is the use of it all if the students’ minds are empty? A school should not merely be a tool for legitimizing certicates, reflecting backward thinking like Europe’s Dark Ages. A school is not a five-star hotel advertisement. The best advertisement for a school is the proof of improved human resource quality that convinces its students that pursuing knowledge is vital for their future.

    If the West has succeeded in taking the initiative to catch up by translating Al-Khwārizmī’s works and then translating them into all languages, can Ansar Langnge’s work be followed up by the Regional and Central Government to be implemented in schools?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, May 3, 2026

  • Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

    Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

    Penemuan merubah arah pengetahuan dan dunia. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī dikenal dengan bapak Aljabar (Algebra) dan angka nol yang berkat jasanya yang luar biasa itu, kita dapat menyaksikan pengembangan teknologi seperti penemuan komputer melalui oposisi biner (0 vs 1).

    Tanpa penemuan intelektual Persia (sekarang Iran) ini, kita bisa bayangkan betapa gelapnya dunia ilmu pengetahuan khususnya Matematika. Barat yang pada masa itu di mana awalnya menggunakan angka Romawi berubah, berhasil melewati dark ages (zaman kegelapan) berkat karya-karya Al-Khwārizmī diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh cendekiawan Eropa.

    Nama Al-Khwārizmī sangat besar. Agar tidak muluk-muluk, mari kita tarik ke Indonesia terutama dunia pendidikan guru. Ansar Langnge, seorang guru Matematika di Bulukumba, Sulawesi Selatan mendapat pengakuan dan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2015 berkat karyanya pada Penggunaan Alat Peraga Tongmini untuk Meningkatkan Kemampuan Menyelasaikan Pembagian Bilangan Bulat Siswa kelas VIIB SMPN 11 Bulukumba. Ansar tidak mengubah dunia seperti Al-Khwārizmī tapi ia telah memberikan peranan yang sangat besar dalam turut merubah wajah pendidikan Matematika yang begitu sangat menakutkan di sekolah-sekolah Indonesia.

    Penghargaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada Anshar Langnge berhasil menyederhanakan Bilangan Bulat menggunakan alat peraga Tongmini.

    Pembelajaran tentang bilangan bulat yang biasanya hadir di papan tulis seringkali masih terlihat abstrak dapat tergambar lebih visual dalam bentuk alat peraga dengan harga terjangkau, lebih mudah dipahami oleh siswa. Bukankah itu mengubah kerumitan  menjadi lebih kemudahan? Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa orang yang pintar itu adalah orang yang mampu menyederhanakan persoalan rumit menjadi sederhana. Guru intelek yang seperti Anshar mampu menjawab persoalan tersebut.

    Setiap siswa-siswi berprestasi mandapatkan kehormatan untuk hadir di tengah lapangan dan mendapatkan apresiasi dari Ansar Langnge, Kepala Sekolah. Hal ini melahirkan kebanggaan bagi sang juara dan motivasi bagi pelajar lainnya untuk turut berjuang meraih prestasi.

    ”Berapa orang Sulawesi-Selatan yang mendapat penghargaan?”, tanya penulis sembari menatap piagamnya. “Saya satu-satunya guru dari Sulawesi Selatan berangkat Yogyakarta untuk menerima penghargaan itu”, katanya dengan suara tenang. Sosoknya yang ramah, murah senyum dan pandai bergaul menambah kesan bahwa ia sama sekali bukan guru killer (menakutkan. Diambil dari Bahasa Inggris: pembunuh). Dari “satu-satunya”, terbetik sebuah kritik dan harapan. Kita masih banyak kekurangan guru yang mau berkreasi meskipun Kementrian Pendidikan Pendidikan Nasional telah membuka ruang untuk berkarya. Padahal, itu adalah peluang besar untuk menaikkan kwalitas dan karir guru.

    Sosok Ansar Langnge yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selama dalam kepemimpinannya, sekolah ini makin terus meningkatkan jumlah siswa siswi berprestasi mulai dari lokal hingga nasional.

    Ansar kini menjabat (Kepsek) Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, sebuah sekolah lokal terbaik dari generasi ke generasi. Perpaduan antara sosok Kepsek inovatif dengan siswa-siswi berbakat menambah daya ledak kemajuan sekolah ini. Karena begitu banyaknya yang berprestasi, ia mengatakan tiap minggu, maksudnya Senin di hari upacara, ada proses penghormatan kepada siswa siswi yang berprestasi akademik dan akademik meliputi juara tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional. Bagaimana bisa sehebat itu? Menurutnya, sekolah melakukan pemetaan yang terstruktur dan rapi pada pengenalan pada bakat dan minat siswa dan kemudian mendorong siswa tersebut mengikuti lomba.

    Ansar Langnge juga aktif membangun jaringan dan memperkuat ikatan persaudaraan. Pada foto ini, ia melantik IKA (Ikatan Alumni) SMPN 1 Bulukumba, 2026.

    Bangunan fisik sekolah yang megah dilengkapi segala fasilitas pendukungnya—Betapapun itu super penting—memang menjadi kebanggaan, digembor-gemborkan sebagai sebuah kemajuan mentereng tapi apa guna semua itu bila otak siswanya kosong? Sekolah sekedar sebagai alat legitimasi mendapatkan ijazah, pemikiran mundur layaknya dark ages, masa kelam Eropa. Sekolah bukan iklan hotel mewah bintang lima. Iklan terbaik sekolah adalah bukti peningkatan kwalitas sumber daya manusia yang dapat meyakinkan para siswanya menuntut ilmu itu sangat penting agar punya masa depan.

    Banyak lemari berisi Piala juara siswa siswi SMPN 1 Bulukumba di ruang Kepala Sekolah.

    Bila barat berinisiatif mengejar ketertinggalannya dengan menerjemahkan karya Al-Khwārizmī dan kemudian diterjemahkan ke segala bahasa, apakah karya Ansar Langnge itu dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah dan Pusat untuk diterapkan di sekolah?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 3 Mei 2026

  • Dari Hal Biasa ke Luar Biasa

    Dari Hal Biasa ke Luar Biasa

    “Memilih lesson (Pelajaran), Mr.”, anak anak mengusulkan ketika kelas baru saja mulai. Usulan diterima. “Okay. Tiap orang boleh memilih satu lesson dan memimpin kelas secara bergantian saat membaca pilihan lesson tersebut”, kata guru kelas. Mereka sepakat.

    Secara tiba tiba, Nisa mengangkat tangan paling cepat untuk dapat memimpin paling awal. Yang tercepat selanjutnya diikuti oleh Adeeva, Belva dan Gavino. Pada pilihan cerita, yang memimpin kegiatan listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) namun soal soal pada cerita dibaca secara bersamaan, tanpa menjawab soal karena fokus kali ini pada perbaikan pengucapan (Pronunciation) dan intonasi (Intonation).

    Praktek berbicara Inggris sesama rekan.

    Nisa memilih lesson 3, He’s not an Artist. Adeeva memilih lesson 48, The Ploughboy. Bacaan ini tergolong sulit sehingga ia agak sulit diikuti oleh rekan kelasnya untuk membaca dengan tepat. Belva memih lesson 2, In the Park dan Gavino memilih A Good Book. Kedua bersaudara ini sangat menikmati karena mereka sudah tahu dengan baik cara melafalkan dengan benar.

    Setelah itu, waktu keluar main selama lima belas menit. Dunia bermain mereka semarak dan ribut. Ada juga yang saling mendukung dan menyalahkan tapi kemudian berdamai. Ini terlihat seru karena ada sosialisasi, dunia anak anak mereka tidak dirampas oleh smartphone.

    Ketika kelas berjalan kembali, mereka membuat percakapan di mana setiap orang berpasangan sesuai pilihannya. Faika yang berada di kelas lain turut bergabung. Selain itu, ia juga bertugas sebagai pembaca narasi sebelum percakapan dimulai. Pembelajaran bukanlah hal yang sulit dan semuanya mampu berdialog dengan lancar betapapun dialognya masih harus merujuk pada buku.

    Pada tahap akhir, anak anak memberanikan diri untuk praktek bicara tanpa teks. Tiga orang mau tampil yaitu Faika, Nisa dan Adeeva. Mereka sepakat berakting sesuai alur cerita pada A Good Book. Setelah beberapa kali latihan memainkan peran sebagai inspektur Robert Jones, Miss Green dan Narrator, mereka pun mengusulkan agar aktivitas percakapannya direkam. Hingga waktu jam belajar telah habis, tidak ada satu pun yang mau pulang dan tetap meminta pergantian peran pada dialog dilakukan secara bergantian hingga semuanya dapat giliran. Dan pada akhirnya, apa yang mereka inginkan tercapai.

    Semangat dan ketekunan belajar yang luar biasa, bukan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 1 Mei 2026

  • Children’s Leadership Training

    Children’s Leadership Training

    Adam was the star that night .
    He has gained the trust to lead two of his classmates, Abizar and Sirin. When asked by the teacher to freely choose a lesson, Adam said, “Lesson 1 to 10.” The teacher responded, “You’re overdoing it, Adam. You know your friends have understood those lessons.” He thought for a moment, “Lesson 11 to 20.” That was also too easy, but because Adam was the one we were training to lead, whatever he determined was simply agreed upon.

    At the beginning of reading lesson 11, he immediately read several sentences. His reading speed was difficult to follow. For that, he received a suggestion to read slowly so that his classmates could follow correctly. If there was a mistake in reading, Adam only laughed without making any correction. They all seemed to want to finish their reading quickly to get playtime.

    Adam’s desire to speed up the reading did not go smoothly. He was the one who received the reprimand, not the students who made the mistakes. A leader must be able to direct the people they lead, but for Adam, that had no effect at all. He was merely proud to be appointed as a leader with the consideration of being more fluent and having finished the Basic Reading book. If someone is not fluent in reading, that is each person’s private business, that’s not Adam’s responsibility.

    When it was time to break, Adam played on an Android. Not long after, he studied a storybook, the second book which was his main task. It was a bit difficult for him to switch back to the book. With a bit of firmness, he put the Android into his bag. The story title ‘In a Department Store’ he completed well with his same-level classmates. After that, all students asked for a rest. It turned out, all the children who brought Androids wanted to play games again.

    This was actually quite fair. There was a time for study, there was a time for Android. Unfortunately, if most children bring Androids, the social interaction among them would decrease because they all focused on their Androids. They usually suggested making a game, but with the Androids in their hands, they had no more suggestions and even though the teacher gave a review, it was rejected. The children who did not bring Androids gathered to follow Adam. Here, Adam felt like he truly became a leader.

    Leadership can be designed in a learning environment started from the smallest things like what Adam experienced. Children indeed do not yet understand the duties and responsibilities of a leader and still need to be under supervision while leading. It is the time in the process that will make him understand why he is chosen to be a leader. And when they grow up later, they will understand the importance of leadership training that is taught culturally at class.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Thursday, April 30, 2026

  • Dua Bersaudara

    Dua Bersaudara

    Dua orang bersaudara yang waktu pulang sekolahnya aktif dengan kegiatan. Tita dan Zhah telah mengikuti dua kelas sekaligus; Bahasa Inggris dan Matematika. Itu adalah cara praktis yang membantunya menyelesaikan persoalan sekolah. Orang tuanya tidak repot lagi memikirkan PR (Pekerjaan Rumah).

    Miss Ulfi, guru kelas Matematika, terlebih dahulu menekankan Matematika Dasar sembari membantu menyelesaikan pelajaran sekolah. Dengan kesabaran dan ketekunan, hal itu mengantarkannya Tita sampai pada pembelajaran tingkat Persamaan Liniar, Aljabar dan Garis dan Sudut, pelajaran SMP. Sedangkan Zhah, anak kelas 4 SD tidak kerepotan lagi materi KPK, Pecahan, Panjang dan Berat. Kendala mereka terletak pada cara menjawab pembagian puluhan dengan cepat namun Miss Ulfi percaya hal ini bisa diatasi dengan sering memberikan latihan di sela-sela pembelajaran, waktu yang relatif santai.

    Pada Bahasa Inggris, Tita memilih Grammar (Tata Bahasa) yang berguna untuk jawab-jawab soal sekolah. Sedangkan Zhah memilih Reading (Bacaan) untuk mengasah kemampuan berbicara dan cerita cerita berbahasa Inggris. Perbedaan pilihan ini sebenarnya dapat mereka gunakan untuk saling mengisi di rumah. Tapi ya, namanya juga anak anak, keduanya masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri sehingga kami di RBB (Rumah Belajar Bersama) mengajak mereka untuk saling support dalam berbahasa Inggris.

    Karena waktu belajar mereka hingga dari siang hingga jelang Maghrib, sebelum pulang, kami meminta waktunya sejenak untuk pendalaman pembelajaran. Beruntung orang tuanya yang menjemput bersedia menanti sedikit lebih lama dan kedua anak ini juga mau untuk mendapatkan pelajaran tambahan. Mereka tahu bahwa target belajar yang dicapai adalah kapasitas ilmu yang berguna melebihi pelajaran sekolah. Untuk itu, beberapa pelajaran yang belum berhubungan dengan pelajaran sekolahnya diberikan.

    Mempelajari Matematika dan Bahasa Inggris oleh kedua orang bersaudara ini adalah pilihan yang tepat. Kita tahu, itu momok menakutkan bagi kebanyakan pelajar sekolah. Mereka biasanya membawa setumpuk persoalan sekolah dan selesaikan dengan banyak berdialog dengan guru guru kelas. Selebihnya, waktu dunia anak yaitu bermain mereka dapatkan untuk melepaskan rasa lelah selama berada di RBB.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 20 April 2026

  • Melatih Kepemimpinan Anak

    Melatih Kepemimpinan Anak

    Adam jadi bintang malam ini. Ia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dua orang rekannya Abizar dan Sirin. Ketika diminta oleh guru bebas memilih lesson (pelajaran),
    Adam mengatakan, “Lesson 1 sampai 10”. Guru merespon “Kelewatan kau Adam. Kamu tahu teman-temanmu itu telah paham materi itu”. Ia pun berpikir sejenak, “Lesson 11 sampai 20”. Itu juga juga terlalu mudah tapi karena Adam yang sedang kita latih memimpin, apa yang ia tentukan, disepakati saja.

    Pada awal bacaan lesson 11, ia langsung membaca beberapa kalimat. Kecepatan membacanya sulit diikuti. Untuk itu, ia mendapat saran untuk membaca perlahan saja agar rekan rekannya bisa mengikuti dengan benar. Bila ada yang salah dalam membaca, Adam hanya tertawa tanpa melakukan pembenaran. Mereka semua terlihat ingin segera menyelesaikan bacaannya untuk mendapatkan waktu bermain.

    Keinginan Adam untuk mempercepat bacaan tidak berjalan mulus. Dia yang mendapat teguran, bukan pelajar yang membuat kesalahan. Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan orang yang dipimpinnya tapi bagi Adam, itu tidak berpengaruh sama sekali. Ia cuma bangga ditunjuk jadi pemimpin dengan pertimbangan lebih lancar dan tamat bacaan Basic Reading. Kalau tidak lancar membaca, itu urusan pribadi tiap orang.

    Waktu keluar main, Adam bermain android. Tidak berapa lama berselang, ia mempelajari buku cerita, buku kedua yang menjadi tugas utamanya. Ia agak susah beralih ke buku lagi. Dengan sedikit ketegasan, ia menaruh android fam tas. Judul cerita ‘In a Department Store’ ia selesaikan dengan baik bersama rekan-rekan selevelnya. Setelah itu, semuanya minta istirahat. Ternyata, semua anak yang bawa android ingin bermain games lagi.

    Ini sebenarnya cukup adil. Ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk android. Sayangnya, bila kebanyakan anak-anak yang bawa android, sosialisasi bermain sesama mereka akan berkurang karena mereka semua akan fokus pada androidnya. Mereka biasanya mengusulkan untuk membuat permainan tapi dengan adanya android, mereka tidak punya usulan lagi dan meskipun guru memberikan ulasan, itu ditolak. Anak anak yang tidak bawa android berkumpul mengikuti Adam. Di sini, Adam merasa benar benar jadi pemimpin.

    Kepemimpinan dapat didesain dalam lingkungan belajar dimulai dari hal hal terkecil seperti yang dialami oleh Adam. Anak anak memang belum mengerti tugas dan tanggungjawab seorang pemimpin dan perlu tetap dalam pendampingan ketika memimpin. Waktu berproses yang akan membuatnya mengerti mengapa ia dipilih jadi pemimpin. Dan saat mereka dewasa nanti, mereka akan paham pentingnya latihan kepemimpinan yang diajarkan secara kultural di kelas belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026

  • Belajar tanpa Batas

    Belajar tanpa Batas

    Better” (Lebih baik). Itulah ekspresi pengembangan dikatakan oleh Miss Salma Minasaroh dari Lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah saat menutup pembelajaran Bahasa Inggris online tahap ketiga (29/04). Lima orang anak anak RBB (Rumah Belajar Bersama) di Bulukumba , Sulawesi Selatan hadir dari sembilan yang lolos klasifikasi. Peserta memang sengaja dibuat terbatas agar kelas pembelajaran lebih efektif, tidak boros waktu.

    Keterikatan belajar tanya-jawab online ini semakin meningkat karena
    berkenalan dengan orang baru dan mendapat perhatian dari orang pintar melahirkan kebanggaan tersendiri baginya. Para pelajar ingin agar ekspresi mereka dapat didengarkan dan diakui. Dan bagi penulis, ini mampu memberikan cara pandang baru dari kebiasaan anak-anak menggunakan android untuk bermain games menjadi sarana belajar. Aturan ketat dibuat agar mereka berjuang dan merasa menjadi istimewa ketika terpilih.

    Sehari sebelum pertemuan, ada usaha di mana beberapa pelajar yang tidak termasuk kategori diperjuangkan oleh rekan-rekannya untuk tetap bisa ikut.

    “Dua sampai tiga orang belum boleh gabung karena belum lancar bicara”, kata guru RBB.
    “Kasi ikut saja Mr.. nanti saya bantu” kata Adam.
    “Please, Mr.”, kata yang lainnya.

    Mereka pun mengurangi jatah keluar main dan saling praktek tanya-jawab lebih serius. Melihat usaha ala “gotong royong” itu, usulan mereka diterima.

    Sebagai konsekuensi, kemampuan akselerasi dalam menyampaikan pendapat lebih terlihat jelas: bicara lancar dan tidak terlihat grogi lagi. Anak anak tidak saling berebutan lagi untuk dapat kesempatan berbicara dan menanti dengan sabar mendapatkan giliran karena mereka tahu bahwa dengan jumlah peserta yang sedikit, kesempatan untuk dapat bicara jauh lebih banyak.

    Dalam hal materi pembelajaran, kemajuan yang berarti ini dipengaruhi oleh 20 model soal yang dibuat Salma dengan memasukkan information Question (Pertanyaan Informasi) seperti what, where, why dan who (Apa, di mana, kenapa dan siapa), bukan lagi soal yang mayoritas yes no questions seperti pembelajaran online Part 1. Otomatis, setiap pelajar diajak membuat argumentasi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.Bahasa Inggris telah berfungsi sebagai alat untuk membangun kemandirian anak untuk punya pendapat sendiri.

    Kemana Arah Pendidikan Kita?
    Sebagaimana yang kita sering dengar, Indonesia itu tidak kekurangan intelektual, bertaburan di mana mana. Sebagian orang yang cerdas kita malahan memilih berkarir di luar negeri karena merasa tidak dihargai di Indonesia. Sebagian tetap tinggal di dalam negeri dan melakukan perubahan secara kultural, di luar sistem pemerintahan.

    Dengan menemukan pelajar pelajar berbakat mulai dari anak anak hingga dewasa, kita dapat membangun koneksi yang tidak dibatasi oleh dengan siapapun, kalangan intelektual baik dalam dan luar negeri. Mereka dapat diundang mengisi pembelajaran secara online kepada para pelajar berbakat tersebut. Dari situ, kita dapat membaca pemikiran-pemikiran yang brilian yang kemudian kita tulis dan sebarkan untuk dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

    Sedangkan dalam pendekatan struktural, kementrian Pendidikan RI telah menerapkan wajib belajar Bahasa Inggris di SD sejak 2025, sebuah solusi menghadapi lemahnya pelajar Indonesia berbahasa asing selama puluhan tahun Bahasa Inggris mulai di di SMP.

    Sayang sekali, langkahnya pembenahan di SD masih terseok-seok. Ada kurikulum dalam bentuk buku sebagai bahan pelajaran. Masalahnya, kebanyakan guru yang mengajar tidak tahu berbahasa Inggris. Itu salah siapa? Bukan salah guru, salah sistem yang tidak merekrut guru-guru yang tepat mengisi pos tersebut. Alasan klasik adalah keterbatasan anggaran.

    Sebenarnya sih, selama ada niat dan usaha yang sungguh-sungguh, pasti ada jalan. “Bukankah kesulitan itu adalah kesempatan untuk melakukan yang lebih baik (better)?”, kata B. J. Habibie. Seribu langkah dimulai dari satu langkah. Sekecil apapun langkah kita, we just want to make something (Kita hanya ingin membuat sesuatu), mengutip Salma, “Better”.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026