Kejadian ini cukup mengejutkan. Setelah jam istirahat selesai, anak-anak meminta untuk tidak belajar lagi. Terlihat kompak, satu suara. Penulis yang bertugas mengajar bertanya dalam hati, ada apa gerangan? Mungkin saja, mereka kecapekan atau mau melanjutkan permainannya yang belum selesai.
Waktu yang tersisa sepuluh menit. “Okelah. Kalian boleh tidak belajar di kelas,” kata penulis. “Silakan buat sesuatu yang menarik menurut kalian.” Tanpa komando, segelintir anak-anak mengisi kursi yang ada di depan ruang kelas. Mereka duduk membicarakan sesuatu dalam bahasa Inggris dicampur dengan bahasa Indonesia.
Ternyata mereka membuat games dalam bahasa Inggris. Seseorang yang bertanya dan yang lain berpikir dan berlomba menjawab. Orang yang memberikan jawaban yang benar berhak memberikan pertanyaan.
Mengapa anak-anak itu tidak melibatkan guru? Mereka percaya bahwa mereka bisa membuat sesuatu hal yang menarik. Kreativitas berpikir menciptakan kemandirian, tanpa ketergantungan kepada guru. Guru yang menghargai kreativitas pasti tidak merasa tersinggung bila tidak diajak, tapi malahan bangga dengan upaya kemandirian yang dilakukan para pelajarnya.
Di sini, kita juga dapat membaca bahwa ada ruang kebebasan yang sengaja diciptakan. Anak-anak tidak merasa sungkan menyampaikan pendapatnya yang cenderung berbeda dengan gurunya. Dari perbedaan tersebut, ternyata mereka membuat sesuatu yang gurunya pun tidak pernah membayangkannya. Itu sungguh menggugah pikiran dan mengejutkan suasana.
Apa yang kita harapkan lebih jauh dari para pelajar kita adalah bahwa ke depan, mereka bisa menciptakan lingkungan belajar di mana pun berada. Keberadaan mereka di Rumah Belajar Bersama (RBB)—tempat utama mereka Belajar bahasa Inggris dan berpikir bebas—hanyalah sementara. Mereka akan tumbuh dewasa, meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu atau bekerja di suatu tempat, entah di mana. Bekal kreativitas belajar tersebut yang mereka bawa dan dapat diterapkan di wilayah tempat tinggal mereka sehingga dunia belajar itu terus berjalan.
Apakah kita juga penganut paham pembelajar sepanjang hayat?
Hilal kelas 6 SD dan Adeeva kelas 5 SD adalah anak yang telah berada pada buku tahap ketiga dengan kualifikasi kemampuan membaca teks Inggris disertai jawaban soal yang sesuai aturan grammar. Betapapun demikian, ini bukan jaminan bahwa mereka cukup andal. Oleh karena itu, mereka diajak untuk me-review materi.
Hilal membaca buku cerita berbahasa Inggris dan Adeeva membaca terjemahan bacaan cerita tersebut ke dalam bahasa e.
Pada buku ketiga, kedua anak ini membaca lesson 1 sampai 5. Hilal membaca cerita berbahasa Inggris, sementara Adeeva menterjemahkan tiap bacaan pada kalimat dalam bahasa Indonesia. Pertukaran berbahasa Inggris dan Indonesia ini dilakukan secara bergiliran di setiap lesson.
Hilal yang membaca soal-soal pada buku cerita berbahasa Inggris.
Mengenai soal-soal pada cerita, meskipun mereka sudah mengerjakan secara tertulis, hal tersebut belum dibahas karena pembelajaran ini memasuki tahapan menjawab tanpa teks. Sebagai langkah awal, mereka diajak menikmati bacaan tanpa harus berpikir berat.
Adeeva membaca soal-soal berbahasa Inggris. Hilal mendengar dan berusaha menjawab secara lisan.
Perlakuan berbeda ketika membahas buku tahap kedua, QuestionsandAnswers. Mereka tidak lagi membahas teks cerita tapi soal-soal cerita secara lisan. Teks bahasa Indonesia dihilangkan. Hilal melihat buku untuk membaca soal-soal cerita, Adeeva tangan kosong, mengandalkan otak saja untuk menjawab. Begitu juga sebaliknya. Mereka sukses menyelesaikan dua lessons:
1. A Good Book yang berisi 27 soal 2. In the Park yang berisi 25 soal.
Mereka kemudian istirahat.
Pembelajaran selanjutnya, Adeeva seorang diri belajar karena Hilal mempunyai urusan lain. Guru kelas turun langsung bertanya, membahas 4 lessons:
1. He’s not an Artist, 24 soal.
2. What is the Baby Doing?, 24 soal.
3. In a Department Store, 25 soal.
4. A Modern Picture, 26 soal.
Jadi, total soal cerita yang dijawab secara mandiri dalam satu pertemuan adalah 181 soal. Jumlah yang banyak ini merupakan hal yang biasa saja dan malahan itu akan ditingkatkan karena mereka dirancang untuk persiapan olimpiade bahasa Inggris dan kompetisi internasional nantinya. Sekadar catatan, Adeeva telah meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS) pada 23 Juni 2026.
Proses review ini sangat berharga. Adeeva yang kualitasnya cukup meyakinkan ternyata ia beberapa kali masih membuat kesalahan kecil. Misal:
Pertanyaan: + Does she paint pictures at school or does she read books?
Jawaban Adeeva: – She does paint pictures. – She paint pictures.
Jawaban sebenarnya – She paints pictures.
Adeeva telah paham kalimat simplepresent di atas tapi sebagaimana pelajar Indonesia pada umumnya, ia kadang-kadang terjebak kata “does” dan lupa menambahkan “s” pada kata kerja yang subjeknya tunggal. Latihan ini segera menyadarkan hal-hal kecil tapi penting untuk tidak boleh dilupakan.
Contoh lain pada kalimat presentprogressive:
Pertanyaan: + What is Mr. Mason doing?
Jawaban Adeeva: – He standing in front of a car. – Mr. Mason standing in front of a car.
Jawaban sebenarnya: – He is standing in front of a car. – Mr. Mason is standing in front of a car.
Ia terlalu terburu-buru menjawab. Setelah diingatkan bahwa ada kata yang terlupakan, ia memasukkan “is”, mengoreksi sendiri.
Kecanggihan itu terletak pada kesederhanaan itu sendiri, kata Steve Jobs pendiri Apple Computer. Kesalahan simple (sederhana) yang dibuat oleh Adeeva adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan, sebab ia adalah segelintir anak yang tergolong memahami seluruh perubahan tenses di luar kepala. Oleh karena itu, review memastikan semua “lubang-lubang” kecil tertutupi dengan sempurna.
Apakah kita punya kesungguhan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia?
Malu. Itulah yang dikatakan para pemuda-pemudi yang ingin belajar bahasa Inggris namun tidak mengikuti kelas. Bahkan, tidak sedikit yang bercita-cita untuk bekerja atau kuliah ke luar negeri. Obrolan ini sekadar angin lalu, tidak ditindaklanjuti dengan belajar mandiri atau mengikuti lingkungan belajar.
Hayyul Kayyum, pemudi dua puluh satu tahun mengambil langkah yang berbeda. Dipengaruhi oleh pamannya, Nur Anjas, professional guide di Bira, ia bergabung mengikuti dua kelas intensif meliputi Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Dua buku Reading telah ia tuntaskan sementara buku grammar tingkat dasar yang tebalnya hampir 600 halaman hampir ia tamatkan juga.
Tidak malu. Begitulah perasaan Ayu, nama panggilan Hayyul Kayyum, saat berlatih bahasa Inggris dengan orang yang lebih muda ataupun yang lebih tua darinya. Ia malah terinspirasi melihat pelajar sekolah sangat lancar menjawab soal-soal latihan dan praktik bicara. Dari sini, ia memetik pelajaran bahwa ia dapat belajar kepada sesama pelajar–tanpa peduli umur–pada materi yang ia ingin kuasai. Gurunya juga berpikir bahwa kita semua sedang belajar.
Penulis terkadang berbagi ilmu dengan Ayu khususnya penguasaan tenses di luar kepala. Saat ini ia telah hampir menguasai nominal and verbal tenses disertai segala bentuk perubahannya. Tak heran, ia mampu mempercepat cara belajarnya di grammar. Sebab, semua kalimat Inggris pasti berpola tenses. Begitupun juga saat ia menyelesaikan soal-soal reading. Jawaban harus berstruktur.
Dalam satu bulan ke depan, Ayu tampaknya akan menamatkan buku basic grammar-nya. Ia telah sampai bab 13 dari 16 bab. Hal ini karena ia didukung waktu belajar yang padat, sekitar 20 sampai 23 kali pertemuan dalam sebulan dengan durasi 90 menit tiap belajar. Ia juga sudah bisa mengerjakan latihan secara mandiri sehingga ia dapat menggunakan waktu luang di rumah untuk menamatkan buku secepat mungkin. Toh, bila ia salah dalam menjawab dari latihan mandirinya itu, gurunya selalu mengoreksi, mengarahkan pada alur berpikir yang benar.
Berikutnya, karena Ayu tidak mengikuti kelas speaking, untuk mematangkan kemampuan berbicaranya, ia dianjurkan me-review buku tahap keduanya–Pre-Intermediate Reading. Seorang pelajar atau guru akan membaca soal pada buku sedangkan Ayu diminta menjawab secara lisan, tanpa buku lagi. Dialog semacam ini akan menguatkan pemahaman cerita-cerita berbahasa Inggris karena soal bersumber dari cerita dan sekaligus mengasah kemampuannya berinteraksi dengan orang lain.
Ide ini sebagai solusi agar kapasitas Ayu multitalenta: reading, speaking, and grammar. Harapannya, ia terus aktif belajar minimal hingga menamatkan diri pada tahap intermediate. Jadi kemampuannya bukan lagi sebatas bahasa Inggris pasaran tetapi juga bisa digunakan dalam dunia akademik. Artinya, dimanapun ia berada, bahasa Inggris dapat ia gunakan untuk bekerja ataupun kuliah.
Malu dan tidak malu. Ayu mewarisi dan hidup dalam keseharian yang menganut budaya siri’ (malu). Sebenarnya, ia malu duduk belajar bersama pelajar sekolah namun ia berhasil mengelola malu ke arah yang positif. Ia siri’ bila ia tidak sanggup melakukan hal mampu dilakukan oleh orang yang lebih muda darinya. Siri’ inilah yang memotivasinya belajar dengan sungguh-sungguh. Dari usahanya ini, ia pun tidak menyangka dirinya sanggup mengerti pembelajaran basic English secara detail. Ia senang dan bangga.
Terakhir, ia siri’ kepada pamannya Mr. Anjas yang memberikan fasilitas belajar dengan cara membuktikan bahwa apa yang ia sedang pelajari saat ini mampu ia pertanggungjawabkan dengan kemahiran berbahasa Inggris yang baik.
Bukankah dunia belajar orang dewasa seperti Ayu ini bukan angin lalu?
Bertambah. Nabila Ayudia Varisha pelajar kelas 4 SD juga tertarik mengerti tenses di luar kepala. Pada malam ini, ia berhasil praktik lisan pada simplepresent dan simplepast. Motivasi ini muncul karena ia melihat rekan-rekan SD lainnya di Rumah Belajar Bersama (RBB) bisa mengubah struktur tenses pada 16 kotak kosong.
Pada dua tenses tersebut, Nabila sudah hampir menguasai materi itu. Ia hanya sesekali melihat catatan, utamanya pada simple past. Sebenarnya, kalimat ini jauh lebih mudah karena kata kerja tidak dipengaruhi oleh subjek, sementara di simple present, subjek berpengaruh. Kesalahan kecil ini terjadi karena intensitas latihannya masih lebih sedikit. Melalui pembiasaan, ia pasti bisa sebagaimana simple present yang telah ia lalui dengan baik.
Empat belas tenses lainnya dengan segala bentuk perubahannya sedang menanti. Nabila menyatakan siap menghadapi tantangan itu.
Keinginan yang kuat disertai kesiapan adalah modal utama untuk membuatnya mau mengeluarkan energi lebih untuk belajar. Para guru dan rekan-rekan kelasnya yang telah menguasai tenses juga dengan senang hati berbagi ilmu, memberikan soal-soal untuk mematangkan pemahamannya.
Karena Nabila mengikuti kelas intensif—Belajar dari Senin sampai Jum’at—ia sangat berpeluang menguasai tenses dalam satu bulan ke depan. Ia anak yang sudah mempunyai perbendaharaan kosakata Inggris yang cukup banyak karena telah menamatkan satu buku dan rajin membaca. Bila ia mau sedikit meluangkan waktu bermainnya lebih sedikit dari biasanya atau datang ke kelas lebih cepat dan berlatih lagi sebelum pulang, ia pasti akan melakukan loncatan belajar yang sangat berarti. Rekannya yang lebih dahulu menguasai tenses melakukan hal demikian.
Nabila dan pelajar lainnya yang tuntas tenses akan memperoleh pelajaran yang tidak biasa. Mereka, bila berminat, akan didesain untuk bisa mengikuti Olimpiade bahasa Inggris. Itu adalah cara agar pelajaran tingkat tinggi bisa diajarkan dan pelajar pun bersemangat karena apa yang mereka pelajari berfungsi. Ini sengaja diciptakan untuk memicu semangat belajar yang lebih tinggi. Soalnya, bila mengandalkan kurikulum sekolah saja, mereka akan cenderung mengganggap remeh, terlalu mudah bagi anak yang sudah terbiasa menamatkan buku. Lagi pula, tenses secara mendalam tidak diajarkan di sekolah lagi.
Apakah Nabila bisa tergolong pelajar SD memahami tenses di luar kepala dalam satu bulan ke depan? Waktu yang akan menjawabnya.
Sekali ditulis, seribu kali diulang. Pepatah Arab ini diterapkan kepada Faika Qhinara Putri Ridwan. Anak kelas 4 SD yang telah tamat buku QuestionandAnswer ini kembali menjawab soal, bukan dengan tulisan lagi tetapi dengan lisan. Dalam proses ini, seorang pelajar membaca soal, sementara Faika menjawab dengan mengandalkan ingatan.
Faika Qhinara Putri Ridwan, pelajar Rumah Belajar Bersama.
Pada sesi pertama, Alika, pelajar yang juga tamat buku yang sama, menanyakan isi cerita. Soal tersebut terbagi tiga: yes-no questions (jawaban ya atau tidak), choice (pilihan), andinformation questionsusing what (pertanyaan informasi menggunakan what).
Rekan-rekan Faika memberikan soal dari bacaan secara bergantian. Di sini, Faika tidak diperkenankan membaca buku lagi agar daya ingatnya lebih ia aktifkan.
Pada yes-no questions, Faika hampir menjawab dengan sempurna. Ini memang sederhana. Misal:
+ Is Robert Jones a detective? – Yes, he is. + Is Robert Jones a librarian? – No, he isn’t. + Can she paint pictures? – No, she can’t.
Pada choice, ia sudah harus menjawab dalam bentuk kalimat sehingga ia harus berpikir mengubah pertanyaan positive interrogative (kalimat tanya) ke kalimat positive (pernyataan).
Misal: + Does the inspector want a book or a ladder? – The inspector wants a book. + Is Mr. Price upstairs or downstairs? – Mr. Price is upstairs. + Is Mrs. Robinson talking to Mrs. Price or to her husband? – Mrs. Robinson is talking to Mrs. Price.
Sebenarnya jawaban pendek bisa dibuat, namun, karena Faika telah mengerti tenses, ia wajib menjawab dalam kalimat utuh sebagai praktik penguatan dan bukti bahwa ia menggunakan simplepresent dan present progressive dengan benar.
Pada informationquestions, Faika memberikan informasi jawaban. Misal:
+ What is John going to do? – John is going to see his baby. + What do they want? – They want a coat. + What does Sally do with the pictures? – Sally shows the pictures to her mother.
Dari cerita lesson (pelajaran) 1 sampai 7, terdapat 175 soal yang dijawab oleh Faika dalam satu pertemuan. Sebagai gambaran lebih lanjut, buku tersebut terdiri dari 48 lessons. Itu berarti ribuan soal akan ia jawab secara lisan.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa ini penyiksaan bagi anak berumur sembilan tahun. Tidak juga. Sejak awal, penulis telah menjelaskan bahwa Faika telah menamatkan buku tersebut, menjawab soal-soal secara tertulis. Ini adalah materi tindak lanjut di mana jawaban tulisan dijadikan bahan lisan sehingga kecerdasan berbahasa itu tidak hanya terlihat di atas kertas tetapi juga tampak dalam percakapan sehari-hari.
“Indonesia is a piece of heaven brought down to earth (qit’atun min al-jannah),” said Sheikh Mahmud Shaltut (former Grand Sheikh of Al-Azhar, Egypt) to Bung Karno. As a great speaker, Bung Karno often quoted this beautiful expression to share the beauty of Indonesia’s nature with the international world—short, solid, and clear.
But, is the piece of natural beauty in Bulukumba, South Sulawesi, being taken care of properly? Nature is like humans: a man’s muscular body or a woman’s beauty will fade if not cared for. As humans grow older, that beauty fades little by little.
Trying to pull a long piece of plastic buried in the beach. Photo Source: Rumah Belajar Bersama.
Trying to pull a long piece of plastic buried in the beach. Photo Source: Rumah Belajar Bersama
What about the nature where we live?
Recently, the writer joined a plastic waste cleanup activity at Marumasa Beach, Darubia Village, Bulukumba Regency, South Sulawesi. This was done with 28 students from Gadjah Mada University (UGM) doing their Student Community Service (KKN) Period II 2026. They went live on TikTok using the account Kareba Umba together with Dego-Dego Na Bira, Indo Ocean, and Rumah Belajar Bersama (RBB). The beauty of Marumasa Beach, with its crystal-clear water, is very similar to Bira Beach—Darubia Village was originally part of Bira Village before it was split into a new village. Its condition is very sad. It looks like there is no care at all there. The entire beach is full of plastic waste, pieces of wood washed up from the sea, bottles, and other things. Marumasa looks beautiful in advertisements, but terrible in real life.
All environmentalists gather in front of a pile of plastic that has been put into sacks and is ready to be transported by a pickup truck. Photo Source: UGM KKN Students on Saturday, June 27, 2026.
Whose fault is it? The east or west wind cycles are blamed for bringing trash to the beach. The author, who often traveled back and forth from South Sulawesi to Java while studying at Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), often saw large amounts of trash thrown directly into the sea from ships. That is what washes up and dirties various beaches in Indonesia. Some of it wraps around coral reefs, destroying underwater life, or is eaten by marine animals, which are then eaten by humans. Without realizing it, humans are eating sick animals or animals mixed with plastic.
The condition of the beach before being cleaned. Photo Source: Rumah Belajar Bersama.
Humans on land behave the same way. They choose a beautiful beach and, at the same time, turn that beach into a trash can by throwing away plastic as they please. The entire beach is full of plastic wrappers from drinks and food, bottles, sandals, and many more that cannot be counted. Is all of that sent from the sea? Plastic that looks new with food leftovers cannot possibly come from the sea and be left just like that. Surely all of that comes from the behavior of humans on land.
The beach cleanup movement by these environmental-loving youths is a moral call to preserve this nature. Their main job is not cleaning up trash, and it cannot be done every day. They are guests who do not stay permanently, but their presence leaves a mark: not just arguing or throwing criticism on social media—they take real action.
Kareba Kumba
After weighing the plastic waste, which was more than 140 kg, Marumasa Beach looks beautiful again for a moment. According to a volunteer, the plastic waste they have managed to collect has reached more than one ton: the result of many visits to the beach. That number is quite shocking and often escapes our attention. This will continue to increase to numbers we never imagined.
Besides awareness campaigns, providing trash cans around the beach is very important to put in certain places. The village can also revive the spirit of gotong-royong (working together), inviting local people to do community work on certain days that match the habits of the local community.
Indiz from Dego Dego Na Bira and a volunteer from Indo Ocean at Marumasa beach.
Going a step further, Nur Anjas, a tourism player whose name is recorded in the Lonely Planet book—a world travel guide book, hopes that Indiz as an environmental activist and also a member of the Darubia Village Consultative Council (BadanPermusyawaratanDesa) can coordinate closely with the Village Head. This is to plan the best steps to start a cleanliness program from the road after Tana Beru to the Lahongka slope, which is filled with scattered trash on the roadside. Anjas’s concern comes from the guests staying at his lodge, Nusa Bira Indah, combined with his own field observations.
Plastic waste put into sacks
If those steps fail, business owners should make rules, or the village and local governments must strictly enforce the law against tourists who litter, at least in tourist areas. If this rule is considered impossible, why can Bali limit single-use plastics and Singapore enforce strict fines? Romi, an Indo Ocean volunteer from Germany who also picked up trash, explained that there is a fine of 200 Euros if you litter. That is equal to four million forty thousand Rupiah with an exchange rate of twenty thousand two hundred Rupiah.
Anjar S. Masiga, the volunteer who invited the author to join the beach cleanup.
Otherwise, who can guarantee that the various beaches that have been cleaned will not be dirty the following week? Unlike humans who definitely grow old, the beach and the universe with everything in it will remain beautiful for thousands of years if humans have the awareness to protect it.
The writer with Romi, a volunteer from Germany who is active in diving activities in Bira.
Every one of us must be able to take care of nature—or at least feel responsible for the homeland of Indonesia—and at the very least, not throw plastic anywhere, especially on beaches and in the sea. If we make this nature our home, and then that home is destroyed, is there another home to live in? Do we want to turn a piece of heaven into a piece of hell?
Zulkarnain Patwa
Bira Beach in Bulukumba on Saturday, July 27, 2026
Tanpa teks di papan tulis dan buku bacaan, percakapan sederhana yang berhubungan dengan dunia anak dimulai. Karena ini hari pertama sekolah setelah liburan semester genap, sebuah pertanyaan yang menyangkut hal itu mengikuti. What time did you go to school this morning? (Jam berapa kamu pergi ke sekolah tadi pagi?) Jawaban, Iwent to school at 7 this morning (Saya pergi ke sekolah jam 7 tadi pagi).
Tanya jawab singkat itu dipraktikkan secara bersama dan kemudian, setiap anak bertanya kepada anak lainnya secara bergiliran. Setelah cukup menikmati dan mengerti, pertanyaan berikutnya pun hadir. What time did you go home? (Jam berapa kamu pulang ke rumah?). Jawaban, I went home at 12 o’clock. (Saya pulang ke rumah pada jam 12). Metode pengulangan yang sama seperti yang dilakukan sebelumnya kembali dilakukan.
Setelah itu, semua anak bebas memilih pasangan dan diberikan waktu lima menit untuk menguasai percakapan tersebut. “Percakapan kalian akan direkam secara live (langsung) di Facebook,” kata guru. Semua pun bergegas berlatih, tidak ingin tampil terlihat tolol (fear of looking foolish). Mereka tahu bahwa siaran langsung tidak bisa diedit. Sesuai yang diharapkan, sepuluh orang pelajar yang membentuk lima pasangan bicara tanpa teks, mengandalkan hapalannya. Yang lancar bicara meminta lebih dahulu direkam, sedangkan yang belum terlalu lancar meminta agar diperkenankan dapat dibantu oleh rekannya mengingat bahan pembicaraan. Karena ini bukan ujian, guru pun memperbolehkan.
Pada sesi pelajaran kedua, jumlah pertanyaan bertambah. Tiga pertanyaan disertai jawaban. Diantaranya:
+ What time did you go to eat dinner?
(Jam berapa kamu makan malam?)
– I went to eat dinner at 7 in the evening.
(Saya pergi makan malam pada jam 7 malam.)
+ What time did you go to play games?
(Jam berapa kamu pergi bermain games?)
– I went to play games at 8 in the evening.
(Saya pergi bermain games pada jam 8 malam.)
+ What time did you go to sleep?
(Jam berapa kamu pergi tidur?)
– I went to sleep at 10 in the evening.
(Saya pergi tidur pada jam 10 malam).
Total lima kali bertanya ini tidaklah memberatkan pikiran anak anak. Semua pertanyaan diawali “What time did you go …?” serta jawaban “I went…” sengaja dibuat demikian agar otak anak-anak tidak lelah berpikir, merasa mudah. Beban hapalan pun dianggap tidak terlalu banyak, tidak merasa tersiksa di kelas untuk segera mendapatkan jam keluar main. Mereka bahagia.
Kalimat What time did you go to eat dinner? atau What time did you go to sleep? mungkin terasa kurang natural atau alami betapapun itu mempunyai alasan pembenaran di grammar (tata bahasa). Terus terang, ini memang masalah tapi setidaknya ada satu pola yang sama baik dalam bertanya dan menjawab yang memudahkan otak mencerna dibandingkan membuat jawaban yang kata kerjanya berubah ke verb 2 seperti eat menjadi ate, sleep menjadi slept, atau play menjadi played.
Untuk lebih lanjut, persoalan tersebut nanti diperkenalkan di materi khusus di simple past. Karena ini percakapan, grammar untuk sementara disimpan dan akan bahan percakapan ini nantinya bisa jadi contoh untuk membenarkan atau menyalahkan suatu struktur dalam kalimat.
Menjelang akhir pelajaran, teks percakapan tersebut ditulis di papan dengan maksud anak-anak bisa mengingat dan merujuk pada hal-hal yang mereka lupakan sekaligus memastikan mereka tidak hanya pandai berbicara alias buta huruf, tetapi juga menguasai kemampuan literasi (membaca dan menulis)Tingkat kesalahan membaca teks pun lebih rendah karena mereka sebelumnya sudah tahu cara mengucapkan sebelum teks masuk dalam pikiran mereka. Lagi pula ada anak-anak yang suka menulis. Dengan menulis, ia lebih cepat paham.
Tanpa teks dan teks pada akhirnya saling mendukung dalam upaya memahamkan. Penggabungan ini memperkaya cara belajar anak berbahasa Inggris.
Mengejutkan! Seorang anak dua belas tahun bernama Fathiyah Syabila Nur Faisyal telah menulis sebuah buku berbahasa Inggris berjudul 10 Months of Hardwork. Faisyal, ayahnya, memperkenalkan buku itu. Setelah membaca sekilas, isinya tentang shortstory collections (Koleksi cerita pendek) yang lumayan tebal, 192 halaman. Bahasanya cukup sederhana, cocok ditawarkan buat para pelajar yang suka olimpiade bahasa Inggris sebagai penguatan pada teks reading (bacaan).
“Saya baru mau menulis seperti ini, Fathiyah sudah melakukannya,” ungkap penulis yang menyangka ada anak yang mampu melakukan hal tidak lazim dan luar biasa. Penulis kemudian berbagi cerita tentang pelajar Sekolah Dasar (SD) yang mempunyai daya saing seperti beberapa pelajar SD di Bulukumba yang telah meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris.
Buku Ten Months of Hardwork karya Fathiyah Syabila Nur Faysal, terbit tahun 2026.
Adapun sang ayah bercerita bahwa setiap anak di sekolah anaknya, Al Biruni di Makassar, wajib membuat karya. Sedangkan penulis, menekankan penguatan grammar (tata bahasa) bila Fathiyah ingin berkompetisi olimpiade dan penguatan yang lebih kokoh dalam menulis.
Sebagai bentuk apresiasi kepada Fathiyah, penulis meminta agar buku yang jumlahnya sangat terbatas itu berkenan dijual. Ini sebagai bukti konkret untuk memotivasi pelajar yang berada di lingkungan penulis untuk melakukan hal yang sama seperti Fathiyah: menulis bukanlah kemustahilan bagi pelajar SD lainnya.
Lalu, Faisyal berbicara dengan Fathiyah, Fathiyah bersedia menjual bukunya. Alhamdulillah! Ada data sejarah yang bisa dibedah.
“Tolong tanda tangani,” kata penulis. “Ini untuk kedua kalinya saya meminta tanda tangan. Pertama adalah Yudi Latif pada buku Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20.”
Tanda tangan Fathiyah pada karya bukunya.
Fathiyah tidak tahu siapa itu Yudi Latif dan tokoh-tokoh besar lainnya yang penulis hadiri bedah bukunya. Ia pun tidak perlu tahu. Yang ia perlu ketahui bahwa apa yang ia lakukan itu sangat berharga.
Sebagai bentuk dukungan lanjutan kepada Fathiyah, penulis menanyakan kepada Faisyal agar menyediakan papan tulis. Bila ada kesempatan, mengkaji struktur penulisan Fathyah dan sekaligus pendalaman grammar dapat dilakukan. Ini dapat dilaksanakan lagi pada pertemuan berikutnya saat penulis berkunjung ke Makassar lagi. Faisyal mengangguk.
Begitulah! Di balik kesuksesan anak itu, orang tua memiliki peranan yang sangat vital karena ia sadar akan pengetahuan yang dibutuhkan oleh anaknya yang sesuai tuntunan perubahan zaman. Pada titik ini, Faisyal mampu membaca dengan sangat baik terhadap bakat anaknya dalam dunia komunikasi dan memberikan energi penuh agar anaknya mampu mengerti bahasa asing.
Sehubungan dengan hal itu, ketertarikan kepada Fathiyah muncul untuk mendukung faktor wow pada potensi pelajar yang berbakat. Penulis teringat pada Andi Widya Maulidyah, pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB), mahasiswa baru di Universitas Negeri Makassar (UNM), yang pada 2026 ini baru saja meraih juara 1 Kompetisi Grammar di universitas. Fathyah bisa melakukan hal yang sama dan mempersiapkan diri untuk kompetisi yang lebih tinggi hingga ke tahap internasional.
Bisakah para intelektual kita turut aktif berpikir mencetak pelajar yang “mengejutkan?”
Far, far, far and near, near, near (jauh, jauh ,jauh dan dekat, dekat, dekat) adalah permainan mengenalkan kosakata dasar bagi para pemula yang diterapkan oleh Fathy Cayadi dalam menyederhanakan pelajaran bahasa Inggris. Total Physical Response Respon Fisik (Respons Fisik Total) melalui ucapan kata atau perintah dengan gerakan tubuh secara langsung adalah metode belajar bagi anak-anak dan remaja di Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete ini memudahkan untuk mengerti arti kata, tentunya terlebih dahulu dipahamkan dengan penerjemahan dalam bahasa Indonesia. Kemudian, permainan seru-seruan pun mengikuti.
Patut diingat bahwa betapapun permainan menyenangkan, itu sama sekali tidak cukup. Pembelajaran yang lebih kaya kosakata mengikuti. Miss Fathy dan Mr. Ancha memberikan pengenalan pekerjaan secara bergantian dalam bentuk percakapan sesama pelajar.
1. Pekerjaan. “What’s your job?” (Apa pekerjaanmu?). Pertanyaan ini otomatis membuat mereka merasa perlu tahu berbagai macam pekerjaan. Doctor, engineer, teacher dan sebagainya menjadi bahan jawaban percakapan.
2. Kepemilikan. Misal, My book atau Ahmad’s book (bukuku atau bukunya Ahmad).
3. Kata kerja. Misal go, went, gone (pergi) atau be (am, is, are). Ini baru pengenalan saja tanpa perlu mengaji lebih jauh. Setelah mereka cukup akrab, ini berfungsi untuk mengenal tenses, konsep tentang kejadian pada waktu tertentu.
Tiga jam belajar adalah waktu yang cukup panjang sehingga beberapa kali review sangat efektif memahamkan materi. Penguatan lebih mendalam dilakukan dengan literasi, membaca buku Inggris disertai modul terjemahan bahasa Indonesia.
Materi itu terlihat banyak. Agar pelajar tidak jenuh, terdapat beberapa kali waktu keluar main plus istirahat karena shalat Ashar. Ini membuat para pelajar terlihat fresh (segar), siap menerima pelajaran baru.
Betapapun masih pemula, kondisi kelas mulai diupayakan lebih banyak berbicara dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesia masih digunakan untuk memahamkan maksud dari materi yang diajarkan.
Kemungkinan dua sampai tiga bulan untuk membuat pelajar akrab dengan dasar-dasar bahasa Inggris dengan maksud memperoleh perbendaharaan kata sudah cukup banyak. Kemudian, guru dapat mengelolanya lebih mendalam dengan mengombinasikan antara speaking, reading dan pronunciation (bicara, bacaan dan pengucapan).
Semangat dan konsistensi belajar akan mewujudkan harapan indah tersebut menjadi nyata.
Jangan mengandalkan sumber daya alam (SDA). Andalkanlah sumber daya manusia (SDM) yang terbarukan. Itulah pengingat B. J. Habibie kepada Indonesia yang selalu mendengungkan SDA. SDA tanpa SDM, nilainya sangat rendah. Dan untuk menciptakan daya saing global, Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), mendorong pelajar Indonesia menguasai bahasa Inggris.
Kemampuan berbahasa Inggris di Indonesia sangat banyak dipengaruhi oleh pendidikan alternatif karena kurangnya jam belajar bahasa Inggris dan pembiasaan bahasa Inggris di sekolah. Kemudian, muncullah beragam ide. Dalam skala mikro, Fathy Cayadi, guru bahasa Inggris di SMA 2 Tanete di Bulukumba, membaca dengan baik peluang ini. Ia mengadakan penelitian tidak resmi dengan menjejajaki lembaga pendidikan yang dianggapnya mempunyai kualitas yang punya daya saing. Pilihannya jatuh pada Rumah Belajar Bersama (RBB).
Oleh RBB, Fathy dipercaya punya kemampuan praktik bahasa Inggris yang bagus untuk menangani pelajar sekolah. Namun, ia tidak serta merta bangga. Berbekal pengetahuan Inggrisnya, ia mampu membaca bahwa RBB menerobos pembelajaran yang tidak lazim dilakukan. Karena itu Ia ingin kurikulum RBB yang meliputi Reading, Speaking, Grammar dan Pronunciation (Bacaan, Bicara, Tata Bahasa dan Pengucapan) diterapkan juga di Tanete.
Ditilik dari kejadian terbaru, tahun 2026 ini, pelajar RBB yang baru saja kuliah bernama Andi Widya Maulidyah meraih emas pada grammar (tata bahasa) di Universitas Negeri Makassar dan bahkan, dua pelajar SD meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional: Faiqa Qhinara Putri Ridwan pada National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO) dan Adeeva Syakila Zulfikar pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS).
Capaian pada orang dewasa hingga anak-anak ini memberikan sinyal bahwa RBB mengendepankan SDM—inspirasi B. J. Habibie—dan turut mempersiapkan dan memperbanyak para pelajarnya pada kompetisi tingkat nasional dan internasional nantinya. Untuk itu pelebaran sayap lembaga seperti cabang di Tanete perlu diperluas dalam rangka merekrut dan membina pelajar berbakat.
Tanete Menjawab Tantangan Zaman
Penulis yang mengunjungi kelas perdana RBB di Tanete melihat potensi yang sangat besar dari para pelajar Miss Fathy. Spirit belajar mereka hampir sama dengan pelajar RBB di Kota Bulukumba. Mereka mampu mengikuti pelajaran, mendengar dengan baik dan berbicara dengan benar. Mereka hanya perlu mendapatkan pelajaran yang tersistematis.
Setelah mengetahui peluang pencerdasan yang sangat potensial dari pelajar di Tanete ini, yang dibutuhkan saat ini adalah konsistensi jam belajar yang melebihi jam belajar sekolah dan pendampingan pemahaman pelajaran yang berkelanjutan–inilah posisi yang paling penting dari Miss Fathy.
Kombinasi yang apik antar guru dan para pelajar akan terwujud dengan dukungan orang tua pelajar. Kita tahu tantangan terberat pelajar zaman sekarang ini adalah gadget yang membunuh kreatifitas pelajar. Orang tua sadar bahwa mengikutkan anak pelajaran bahasa Inggris dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif, solusi pengetahuan dari kebuntuan menghabiskan waktu dengan percuma bermain games.
Ini adalah kunci menuju tangga keberhasilan. “Kebanyakan pelajar yang bergabung,” kata Fathy, “karena orang tuanya yang menganjurkan. Ini adalah suatu bukti bahwa masyarakat Tanete juga punya kesadaran akan pentingnya bahasa Inggris di zaman sekarang.”
oplus_0
Guru, pelajar dan orang tua saling kait mengait sehingga perlu terus terkoordinasi dengan baik agar percepatan pencerdasan itu dapat dibumikan di lingkungan terdekat, tempat di mana kegiatan belajar tersebut berlangsung. Saatnya berpikir bahwa sumber daya alam adalah pendukung pengembangan SDM.