Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Keselarasan Ilmu Sejak Usia Dini

    Keselarasan Ilmu Sejak Usia Dini

    Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Pepatah Arab yang diadopsi Melayu mengingatkan betapa berharganya masa anak-anak, fase di mana otaknya berkembang dan daya ingat masih sangat luar biasa. Mereka menjadi peniru ulung pada lingkungan terdekatnya.

    Masyarakat yang mayoritas muslim Indonesia sangat peduli agar anak-anaknya pandai mengaji. Marak di lingkungan kita di mana hari anak-anak mengaji dari siang hingga sore hari. Dan karena Al Qur’an berbahasa Arab, bahasa Arab bukan hal asing meskipun bahasa Indonesia memakai huruf latin.

    Ini adalah tradisi, kekayaan yang telah lama tertanam kuat di masyarakat kita. Ketika anak anak diwajibkan belajar dasar-dasar agama dengan mengaji, orang tua cukup mempertahankan cara berpikir ini dalam ilmu pengetahuan umum agar pelajaran sekolahnya tidak tertinggal. Kita tahu Matematika dan Bahasa Inggris itu pelajaran yang sulit bagi pelajar sekolah. Persoalan ini pasti dengan mudah diselesaikan bila saja berpikir bahwa belajar ilmu pengetahuan umum sama pentingnya dengan belajar agama.

    Muhammadiyah adalah contoh menyejarah yang mengintegrasikan agama dan ilmu umum yang diklaim berasal dari barat. Awalnya organisasi modern ini dituduh kafir namun waktu membuktikan bahwa ide yang ia usung itu sesuai dengan tuntutan zaman. Kesuksesan merubah cara pandang. Sekarang ini sekolah tinggi dan universitas baik negeri maupun swasta memasukkan ilmu umum di fakultas.

    Kita yang telah sadar akan pentingnya keselarasan tersebut di atas perlu membagi waktu tepat buat anak-anak kita agar mereka berkesempatan mempelajari ilmu agama dan ilmu umum. Bila sejak kecil mereka telah akrab dengan beragam ilmu pengetahuan, mereka punya bekal yang lebih banyak untuk menentukan jalan hidup atau cita-cita yang paling tepat buatnya.

    Akankah kita melewatkan masa terbaik “mengukir di atas batu”? Semua kembali pada keluarga dari anak-anak tersebut utamanya orang tua.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 21 Mei 206

  • Kerinduan yang Terbayarkan

    Kerinduan yang Terbayarkan

    Oleh: Aris Irfan
    Bira, Kamis, 21 Mei 202

    Saat ponsel istriku berbunyi, terdengar percakapan yang begitu asyik dan bahagia.
    Istriku berkata “Iya rinduku”. Nama pun terucap yang memastikan kalau yang menelpon adalah sahabatnya semasa kuliah, bernostalgia dan berencana bertemu.

    Keesokan hari, setelah menunggu deringan ponsel sahabatnya tentang kepastian kedatangannya, rasa penasaran itu terjawab setelah tangannya tergerak meraih ponsel dan jari jemarinya pun menekan nomor kontak.
    Sontak istri saya gembira dan bahagia mendengar kalau sahabatnya telah berada di Jeneponto.

    Saya pun turut merasakan kebahagian istriku akan arti dan nilai persahabatanya.

    Lelah dalam perjalanan jauh, akhirnya kerinduan mereka terbayarkan saat tiba dan bertemu di Villa Malomo Bira. Rangkulan hangat dan cipika cipiki tak terhindarkan.

    Villa Malomo adalah pilihan yang bijak yang menginap di Bira

    Nostalgia berlanjut dengan cerita cerita masa lalu sembari menikmati pisang goreng dan seduhan teh panas sampai larut malam. Setelah puas, terdengar suara menguap dan hingga akhirnya mereka sepakat untuk beristirahat, tidur malam di kamar masing masing.

    Kamar Villa Malomo.

    Kicauan burung menyambut pagi terdengar di sela-sela pohon saat kami sedang duduk santai di Lounge Villa Malomo Bira menikmati secangkir teh dan kopi.

    Bira yang terkenal dengan keindahan pantai dan pasir putihnya membuat kaki ingin bergegas melangkah berkeliling. Rencanapun disusun dan pilihan spot pertama yang dikunjungi adalah Titik Nol. Setelah sampai, japretan demi japretan sulit terhenti dengan gaya khas masing masing.

    Setelah menikmati panorama keindahan laut dikelilingi tebing yang lingkungan yang alamnya natural, waktupun harus memisahkan mereka karena kewajiban untuk masuk kantor.

    Kata “Iya, rinduku” terjawab sudah.
    Ini layaknya orang yang kehausan terlepas dahaganya.

    Dan di Villa Malomo Bira menjadi saksi kisah ini kutulis.

  • Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

    Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

    Belva dan Gavino dua orang bersaudara yang selalu menyapa dalam Bahasa Inggris baik saat baru datang ke kelas ataupun mau pulang. Ini mereka lakukan sejak pertama kali bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama) dan terus bertahan sampai sekarang.

    Hebatnya lagi, mereka selalu bertanya hal hal yang baru yang mereka dapatkan di luar kelas. Misalnya, secara tiba-tiba mereka bertanya, ‘What is the English of cicak?’ Kata ‘cicak’ tidak didapatkan dari kelas tapi dari rumahnya. Beragam kosa-kata baru digunakan untuk mengetes rekan kelasnya dan bahkan ke gurunya.

    Ini menandakan bahwa dua orang bersaudara ini belajar di rumahnya. Orang tuanya nampaknya memberikan fasilitas tambahan seperti buku-buku dan mengajarkan hal-hal yang sederhana yang mampu dicerna oleh otak anak-anak.

    Keunggulan lain yang Belva dan Gavino peroleh ialah meskipun keduanya tidak full masuk kelas yaitu lima kali belajar dalam seminggu karena ikut kelas Matematika di mana sebagian jamnya bertabrakan dengan kelas Inggris, mereka tidak ketinggalan materi, bersedia membaca lebih banyak yang membuatnya lekas tamat buku basic Reading (Bacaan Dasar). Cara membacanya pun cukup bagus dan jelas dimengerti. Hal yang wajar ketika gurunya memperkenannya masuk pada buku reading tahap kedua.

    Kendala
    Belva dan Gavino mengikuti kelas mengaji di siang hingga sore hari, jam yang tidak bisa diganggu gugat mengingat orang tua berpikir bahwa mengaji itu wajib. Di sini lain, orang tuanya juga sadar bahwa Bahasa Inggris dan Matematika juga sangat penting agar anak-anaknya nyambung pelajaran sekolah dan
    bekal untuk punya daya saing dalam menempuh cita-citanya.

    Matematika dan Bahasa Inggris pada akhirnya dipelajari di malam hari. Penulis seringkali mengajaknya untuk mengikuti kelas Bahasa Inggris setelah kelas Matematikanya selesai. Belva dan Gavino lebih sering menolak daripada menerima dengan alasan capek. Maklum, anak-anak juga punya keinginan untuk bermain dan haknya itu harus diberikan. Tapi tak jarang juga, saat bermain, mereka tiba-tiba bergabung di kelas Inggris karena melihat pelajarannya seru, seperti bermain.

    Pada pembelajaran ala bermain itu, pengetahuan yang diperoleh sedikit. Bukan masalah, minimal menambah kosa-kata. Pada akhirnya, pemikiran sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit adalah pilihan terbaik.

    Khusus untuk jam pelajaran Bahasa Inggris, tidak ada kendala yang berarti. Ketekunannya dalam membaca disertai menjawab soal-soal cerita bisa diandalkan. Dengan demikian, mereka punya peluang besar untuk tamat pada buku kedua.

    Seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan Belva dan Gavino menyapa di RBB dan di lingkungan orang berbahasa Inggris pasti akan berkembang. Mereka pasti akan bisa bercerita banyak hal, bukan lagi ‘what is the English of …?’ tapi pada hal yang berhubungan dengan pengembangan wawasan. Itulah harapan kita semua.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba,. Rabu 20 Mei 2026

  • Different Approaches

    Different Approaches

    The Ministry of Primary and Secondary Education (Kemendigdasmen) no longer focuses on grammar in school English lessons. Instead, they focus more on active speaking. They believe this is effective for elementary and junior high school students.

    On the other hand, alternative education centers like RBB (Rumah Belajar Bersama) do the opposite. They design lessons so elementary school students can memorize grammar, especially tenses and their changes. For them, this is the most basic material for understanding sentences.

    If students learn too much grammar, will their speaking skills become slow?

    The answer can be yes if the lesson only focuses on grammar. However, the answer is no if the lesson also includes reading and speaking.
    Then, how can students answer test questions correctly if they do not know basic grammar, such as parts of speech and tenses? Do elementary and junior high school English tests focus on speaking?

    To answer the first question: written tests always require correct grammar. The only exception is multiple-choice questions, where students just click the answer they think is right. In multiple-choice tests, if students do not know the answer, they can guess. There is a chance to get it right by luck. However, on essay questions, the chance of guessing correctly is very low.

    To answer the second question: speaking tests are not common yet. This is because the current school curriculums (K13 and Merdeka Curriculum) still use written formats. Even at the university level, TOEFL tests do not always include a speaking section.

    The Solution

    Adeeva, a 4th-grade student, has memorized English tenses perfectly. Is her speaking rigid because she learns too much grammar? Not at all. Before learning grammar, she finished two English reading books. In the first book, she practiced reading aloud and understanding the meaning. In the second book, she answered questions based on stories. In this second stage, basic grammar was introduced because she needed it to write the correct answers.

    Now, she is reading her third book, Pre-Intermediate Reading, where the questions require more than just basic tenses.

    The benefit for Adeeva is that her speaking is more structured and organized. She feels more confident to speak because she knows what she says is correct. This is because her Reading, Speaking, and Grammar lessons work well together.
    By keeping grammar in the lessons, our students will also have a great chance to write essays, articles, or other texts. Writing is an important part of academic life. We can encourage children and teenagers to write down their ideas and even write books.

    Elementary school students have a great opportunity to be like Adeeva. They can master tenses without missing school curriculum targets, as long as we combine different English lessons properly.

    By 2027, the Ministry will implement English lessons starting from the 3rd grade of elementary school. They hope this will help students speak actively. After that, they will evaluate the pros and cons of the curriculum. Then, they can design a more comprehensive learning system to create globally competitive students.
    Will grammar get more attention in the future? Let’s wait and see.

    Overall, we may take different steps, but we have the same goal: to educate our nation’s children.

    Zulkarnain Patwa
    Tuesday, May 19, 2026

  • Beda Langkah

    Beda Langkah

    Kemendigdasmen (Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah) tidak menekankan lagi pada pendekatan grammar (Tata Bahasa) pada pelajaran Bahasa Inggris sekolah. Kementrian ini lebih fokus pada keaktifan berbicara para siswa. Menurutnya, ini efektif bagi anak-anak yang masih SD dan SMP.

    Berkebalikan dari hal di atas, lembaga pendidikan alternatif semacam RBB (Rumah Belajar Bersama) malah mendesain anak anak SD menguasai grammar khususnya tenses di luar kepala lengkap dengan segala perubahannya. Ini adalah materi paling mendasar pada tahu perpindahan kalimat.

    Apakah pelajar yang terlalu banyak grammar, kemampuan berbicara para pelajar bisa jadi lambat?

    Bisa ya bila saja pembelajarannya dominasi grammar dan bisa tidak bila pelajaran reading dan speaking dimaksukkan.

    Lantas, bagaimana para pelajar itu menjawab soal-soal dengan benar bila tidak punya fondasi grammar minimal kelas kata dan tenses? Apakah ujian Bahasa Inggris SD dan SMP mengarah ke speaking (bicara)?

    Menjawab pertanyaan pertama, ujian tulis selalu menuntut kebenaran tata bahasa kecuali jawaban dalam pilihan ganda, tinggal klik aja yang yang dianggap benar. Dalam pilihan ganda, bila pelajar tidak tahu, tebak-tebakan pasti berlaku. Ada peluang untuk bisa benar, tergantung tebakan tepat atau tidak. Pada soal essai, kemungkinan tebak-tebakan sangat rendah.

    Menjawab pertanyaan kedua, ujian speaking pasti belum berlaku mengingat kurikulum yang dipakai sekarang masih kurikulum K 13 dan Merdeka. Bahkan di tingkat universitas, ujian TOEFL tidak menawarkan ujian bicara.

    Solusi
    Adeeva seorang anak kelas 4 SD malah menguasai materi tenses luar kepala. Apakah ia kaku berbicara karena kebanyakan belajar grammar? Tentu tidak. Sebelum memasuki pelajaran grammar, ia menamatkan dua buku Reading (bacaan) berbahasa Inggris. Satu buku khusus sekedar membaca dengan suara nyaring disertai pemahaman arti bacaan dan satunya lagi, ia menjawab soal-soal cerita. Tahap kedua ini, dasar dasar grammar dimasukkan karena jawaban yang benar dibutuhkan.

    Sekarang, ia sedang berada pada buku ketiga, Pre Intermediate Reading di mana jawaban pada soal sudah melebihi materi tenses.

    Keuntungan yang Adeeva peroleh adalah kemampuan berbicara yang lebih terstruktur, tidak terbolak-balik. Ia pun lebih percaya diri untuk mengatakan sesuatu karena apa yang ia sampaikan telah ia yakini benar. Ya, itu karena ada keselarasan antara Reading, Speaking dan Grammar.

    Selain itu, dengan tidak mengesampingkan grammar, pelajar kita sangat berpeluang untuk menulis essai atau artikel dan lainnya. Bukankah menulis bagian dari tuntutan akademik? Kita tentu bisa mendorong anak anak dan remaja menuliskan gagasan-gagasannya dan bahkan mendorongnya menulis buku.

    Anak anak SD sangat berpeluang besar untuk punya kemampuan seperti Adeeva sanggup menguasai tenses luar kepala tanpa kehilangan target kurikulum selama kita mampu melakukan kombinasi pembelajaran yang tepat pada beragam materi dalam Bahasa Inggris yang tersedia.

    Pada 2027, Kemendigdasmen akan menerapkan Bahasa Inggris mulai dari kelas 3 SD dengan harapan keaktifan berbicara siswa-siswi dapat berjalan dengan baik. Setelah itu, mereka akan membaca plus minus dari penerapan kurikulum dan dapat merancang pembelajaran yang lebih komprehensif agar target mencetak pelajar yang punya daya saing global yang mereka inginkan dapat terwujud.

    Apakah grammar akan mendapatkan perhatian lebih? Let’s wait and see.

    Overall, kita bisa beda langkah tapi punya tujuan yang sama yaitu mencerdaskan anak bangsa.

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 19 Mei 2026

  • Membangkitkan Literasi Pelajar

    Membangkitkan Literasi Pelajar

    Menamatkan buku disertai pemahaman adalah hal istimewa bagi pelajar Indonesia. Betapa tidak, penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) pada 2022, literasi pelajar Indonesia berumur 15 tahun berada pada urutan 68 dari 81 negara, nomer 13 terbawah. Indonesia meraih Skor 359 dengan ukuran rata rata 476 untuk skor rata-rata negara. Hasil penelitian PISA pada 2025 belum terpublikasikan pada 2026.

    Skor Indonesia di PISA dari tahun ke tahun.

    Muhammad Sandy Junandra, umur 12, bagian dari sedikit anak yang punya literasi yang baik dengan pembuktian menamatkan buku Basic English Grammar (Tata Bahasa Inggris Dasar) yang tebalnya hampir 600 halaman. Buku karya Betty Scrampfer Azar berstandar internasional itu berisi segudang soal-soal latihan didahului kotak penjelasan untuk cara mengerjakan. Pelajar kelas 1 SMP ini harus berjuang hampir satu tahun untuk menyelesaikan 16 bab.

    Sebenarnya Andra (Maksudnya Muhammad Sandy Junandra) bisa lebih cepat menyelesaikan buku grammar itu”, Kata Agung Pratama Salassa. “Ia lebih banyak bersantai mengerjakannya sehingga ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya butuh waktu agak lama”, lanjut guru kelas grammar-nya itu di RBB (Rumah Belajar Bersama). “Padahal, membaca dari kemampuannya sewaktu Ramadhan, fokus belajar Andra sangat bagus. Ia seharusnya bisa jauh lebih cepat tamat”, ungkap Agung tahu potensi pelajarnya.

    Agung Pratama Salassa bersama Andra.

    Sepertinya Andra butuh mendapatkan tantangan yang besar. “Biarpun tidak pergi ke sekolah, Saya bisa tahu Bahasa Inggris”, kata Andra. “Yang dibahas di sekolah masih simple present dan simple past saja”, tambahnya. Penulis mengerti bahwa materi itu telah ia telah pelajari tahun lalu. Dari sini terlihat bahwa meskipun dirinya tidak menamatkan buku, ia sudah merasa sanggup. Tuntutan RBB lah yang mewajibkannya tamat agar ia bisa mendapatkan pelajaran yang lebih tinggi.

    Karena kurikulum sekolah tidak membahas grammar secara detail, penulis mencoba menanyakan bacaan Inggris pada buku kurikulumnya. Andra mengaku dirinya tidak mempunyai masalah sama sekali. “Cukup dibaca saja”, terangnya. “Apakah kamu mengerti?” tanya penulis. “Ya” jawabnya dengan penuh percaya diri. Penulis tidak menanyakan lebih jauh cara menjawab soal-soal pada bacaan tersebut karena yakin bahwa jawabannya pasti sama saja. Pendeknya, dengan mempelajari grammar, ia mudah mengerti bacaan Inggris karena buku grammar di RBB yang ia pelajari juga banyak mengandung cerita-cerita berbahasa Inggris.

    Untuk pembelajaran lanjutan, Andra tidak bisa berkomentar seringan itu lagi. Mr. Agung tidak serta merta memperbolehkan Andra masuk pada buku tahap kedua, Pre Intermediate Grammar karena pendalaman Kelas Kata, Frase dan Klausa yang sebagian materinya yang tidak dibahas di basic kini wajib ia pahami. Menurut Mr. Agung, Ini langkah penguatan agar lebih siap mengahadapi soal-soal yang lebih kompleks. Dan Andra tidak keberatan, terlihat menikmati pelajaran yang nampaknya baru buatnya itu.

    Tiada hari tanpa belajar.

    Untuk percepatan kecerdasan dan menciptakan semangat belajar lebih tinggi, Andra perlu mengikuti lomba Bahasa Inggris khususnya grammar karena itu adalah keahlian yang sedang ia dalami. Ada baiknya juga ia aktif menjadi anggota Perpustakaan Daerah Bulukumba untuk memperkaya khazanah intelektualnya. Mengenai reading and speaking (Bacaan dan bicara), ia bisa berselancar di internet untuk membiasakan membaca teks berbahasa inggris dan mencari perkumpulan orang yang aktif speaking secara online.

    Gerakan literasi seperti yang dilakukan Andra layak dicontoh, turut membantu menyelesaikan pelajaran sekolah. Ketika ia mengerti minimal buku bacaan Inggris sekolah, ia telah mempunyai modal untuk melangkah pada buku buku Inggris non sekolah.

    Pilihan untuk belajar selain dari pendidikan formal adalah solusi untuk membantah penelitian PISA di masa akan datang. Sekarang ini, Perpustakaan Daerah di berbagai macam daerah juga aktif menjalin kerjasama dengan pendidikan formal. Ruang ruang literasi akan berjalan lebih massif bila pendidikan formal dan non formal saling mendukung gerakan literasi. Bukankah negara-negara yang maju itu punya literasi yang mapan? Indonesia pun bisa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 18 Mei 2026

  • A New History of Syarikat Islam Bulukumba

    A New History of Syarikat Islam Bulukumba

    SI (Syarikat Islam) is a large organization working in religion, social affairs, trade, education, and very important, politics; it doctrine its intellectual figures to fight against Dutch colonialism. Take for example H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, Semaun, Kartosuwiryo, Muso, and many more.

    Differences in ideology made them clash with each other. H.O.S. Cokroaminoto and Agus Salim represented the religious nationalist group and clashed with Semaun and Muso. Meanwhile, Soekarno, who was a pure nationalist, very clearly clashed with Kartosuwiryo, who wanted to establish the Islamic State of Indonesia.

    Cross-Faction Meeting
    Several figures in Bulukumba gathered to form the SI board. Will they clash with each other too? Syahruni Haris sees that as just a historical nostalgia. “Learn from past mistakes, do not repeat bad history but create new history,” explained this Vice Chairman of the legislative assembly in Bulukumba regency.

    As a follow-up to unify their perception, a meeting of several Bulukumba figures from various backgrounds—from the “left, right, front, and back” groups (the author’s term)—gathered at Circle on Saturday, May 16, 2026.

    Will they clash with each other like their predecessors?

    The present era is no longer about ideological clashes and physical warfare like the independence era, but about how to fill the independence, as explained below.

    Answering the Challenges of the Era for SI Bulukumba
    From its great history, it is important to remember that SI did not disband but continues to move dynamically according to the changing times. Currently, the General Chairman of central SI is Prof. Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., the former Chief Justice of the Constitutional Court.

    In this year of 2026, SI is present in Bulukumba Regency, South Sulawesi.

    Ahmad Said, the Chairman of the Bulukumba SI Branch Council, gave an introduction stating that SI Bulukumba will monitor the policies of the Indonesian government in Bulukumba, oversee the running of the local government, and be actively involved in advocating and educating Muslims, as done by Islamic organizations. SI, which was originally SDI (Syarikat Dagang Islam), certainly has a high focus on reviving the spirit of public entrepreneurship by supporting cooperative programs, not as an antithesis but as an initiation of what the government has done today.

    The idea was well received. Abdul Kahar Muslim as the Branch Leader and Iwan Salassa, the Vice Chairman of the Bulukumba SI Branch, added that the representation of women figures in SI is also very important to fight for the rights of women’s struggle.

    Several members of the Bulukumba Branch of Syarikat Islam gathered to devise the organization’s future strategic steps. Photo Source: H. A. Abdul Haris on Saturday, May 16, 2026

    Next Steps
    Of course, there are still many smart ideas that must be born and worked on. H. A. Haris Ishak, the Secretary of the Bulukumba SI Branch, views that other systematic strategic activity plans will be discussed at the SI Work Program Meeting, which will then be socialized to the public so that people connected to the SI program can be actively involved and participate.
    “May Allah SWT always grant the gifts of health, blessings, and His mercy to all of us,” closed Abdul Kahar Muslim.

    Closing
    SI has produced great ideas and figures according to their respective ideologies. It has the awareness not to fall into Indonesia’s dark history. Now, the figures of SI Bulukumba emphasize more on combining all the resources they have to collaborate in supporting the work programs that will strengthen SI’s mission: Independence of the Ummah, Economic independence, Inclusive dakwah, and Social justice.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sunday, May 17, 2026

  • Sejarah Baru pada Syarikat Islam Bulukumba

    Sejarah Baru pada Syarikat Islam Bulukumba

    SI (Syarikat Islam) organisasi besar bergerak dalam keagamaan, sosial, perdagangan, pendidikan dan yang sangat penting adalah politik; mendokrin tokoh intelektualnya melawan kolonialisme Belanda. Sebut saja H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, Semaun, Kartosuwiryo, Muso dan masih banyak lagi.

    Perbedaan ideologi membuat mereka saling hantam. H.O.S. Cokroaminoto dan Agus Salim mewakili kelompok nasionalis religius bentrok dengan Semaun dan Muso, Sukarno yang nasionalis tulen sangat terang saling gasak dengan Kartosuwiryo yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia. Itulah sekilas sejarahnya.

    Pertemuan Lintas Kubu
    Beberapa tokoh Bulukumba berkumpul membentuk pengurus SI. Apakah mau saling gasak juga? Syahruni Haris memandang bahwa itu sekedar nostalgia sejarah. “Belajar dari kesalahan terdahulu, jangan mengulang sejarah buruk tapi ciptakan sejarah baru”, terang Wakil Ketua DPRD Bulukumba ini.

    Sebagai tindak lanjut penyatuan persepsi, pertemuan beberapa toloh bulukumba dari berbagai latar belakang—dari  aliran “kiri, kanan, depan maupun belakang” (istilah penulis)—berkumpul di Circle pada Sabtu, 16 Mei 2026.

    Apakah mereka akan saling berbenturan seperti para pendahulu?

    Zaman now bukan lagi terletak pada benturan ideologi dan perang fisik seperti masa kemerdekaan itu melainkan bagaimana mengisi kemerdekaan seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

    Sebagian para pengurus Syarikat Islam Cabang Bulukumba yang sedang berkumpul menggagas langkah strategis SI ke depan. Sumber Foto: H. A. Haris Ishak pada Sabtu, 16 Mei 2026.

    Menjawab Tantangan Zaman SI Bulukumba
    Dari sejarahnya yang besar itu, patut diingat SI tidak bubar tapi terus bergerak dinamis sesuai perubahan zaman. Saat ini Ketua Umum pusat SI dijabat oleh Prof. Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi .

    Pada 2026 ini, SI hadir di Kab. Bulukumba, Sulawesi-Selatan.

    Ahmad Said, Ketua Dewan SI Cabang Bulukumba, memberikan pengantar bahwa SI Bulukumba akan mengawal kebijakan pemerintah RI di Bulukumba, mengawasi jalannya roda pemerintahan daerah, dan turut terlibat aktif mengadvokasi dan mengedukasi kaum muslimin sebagaimana dilakukan organisasi Islam. SI yang awalnya adalah SDI (Syarikat Dagang Islam) pasti punya konsentrasi yang tinggi dalam membangkitkan kembali spirit kewirausahaan masyarakat dengan mendukung program koperasi, bukan sebagai anti tesa tetapi sebagai inisiasi dari apa yang telah dilakukan pemerintah saat ini.

    Gagasan tersebut disambut baik.  Abdul Kahar Muslim selaku  Pimpinan Cabang dan Iwan Salassa, Wakil Ketua SI Cabang Bulukumba menambahkan bahwa tokoh keterwakilan perempuan di SI juga sangat penting untuk memperjuangkan hak-hak perjuangan perempuan.

    Langkah Selanjutnya
    Tentu, masih banyak ide cerdas yang harus dilahirkan dan dikerjakan. H. A. Haris Ishak, Sekretaris SI Cabang Bulukumba, memandang bahwa rancangan kegiatan strategis yang tersistematis lainnya akan dibahas pada Rapat Program Kerja SI yang kemudian akan sosialisasikan kepada publik agar masyarakat yang terhubung dengan program SI dapat terlibat aktif berpartisipasi.

    “Semoga Allah SWT selalu melimpahkan anugerah kesehatan, berkah, dan rahmat-Nya kepada kita semua,” tutup Abdul Kahar Muslim.

    Penutup
    SI telah mencetak ide-ide dan tokoh-tokoh besar yang sesuai dengan ideologi masing-masing. Ia punya kesadaran untuk tidak jatuh pada sejarah kelam Indonesia. Kini, para tokoh-tokoh SI Bulukumba lebih menekankan pada penggabungan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk dikolaborasikan dalam mendukung program kerja yang akan memperkuat misi SI: Kemerdekaan Umat, Kemandirian ekonomi, Dakwah inklusif dan Keadilan sosial. Adakah sejarah baru yang akan tercipta?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 17 Mei 2026

  • Mental Strengthening for Students

    Mental Strengthening for Students

    Bridging smart teachers and talented students together has happened many times through a partnership between GAIA in Pati, Central Java, and RBB (Rumah Belajar Bersama) in Bulukumba, South Sulawesi. What made this fifth online English meeting special was that each institution sent four students to participate in a question and answer session.

    This idea came up after Miss Salma Minasaroh from GAIA filled the teaching sessions four times. The RBB children were very excited to learn from her. It would be much better if the GAIA children could also join, so that students across islands—Java and Sulawesi—could connect. She agreed. To make it effective, the number of participants was very limited so that everyone had enough chance to speak and answer twenty questions.When they met on the screen, the children just looked at each other. None of them greeted each other or started a conversation until the silence was broken when Miss Salma took over the class for the English lesson.

    The question and answer session went very smoothly. Only one or two English words from the students’ conversation were hard to understand. In short, the English learning process ran normally. The secret lay in the skill and experience of the teacher, an alumna of two universities, UAD and UGM Yogyakarta. She knew exactly how to manage a classroom and the students had practiced well on the question and answer materials that would be discussed online.

    After understanding the basics of simple conversation, our students should be motivated to be brave enough to communicate with other people, not just their teachers. Yes, we know that children tend to be shy around people they just met. That is our challenge for the future, so they can become close friends with fellow Indonesian students before stepping further into international relations between countries.

    GAIA and RBB, which are part of the institutions focused on developing the quality of Indonesian students, are certainly ready to move in that direction. Based on the evaluation above, a better plan for the next online learning has been prepared. Knowledge and mental strength must walk hand in hand. Do you have any interesting ideas too? Let’s see. That’s all for now

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sunday, May 17, 2026

  • Penguatan Mental Pelajar

    Penguatan Mental Pelajar

    Mempertemukan guru dan pelajar berbakat telah berulang-ulang terlaksana melalui kerjasama antara GAIA di Pati, Jawa Tengah dan RBB (Rumah Belajar Bersama), Bulukimba, Sulawesi Selatan. Yang istimewa pada pertemuan kelima English online ini adalah masing masing lembaga memasukkan empat orang pelajarnya untuk materi tanya jawab.

    Ide ini muncul setelah Miss Salma Minasaroh dari GAIA telah empat kali mengisi materi. Anak-anak RBB sangat antusias belajar darinya. Alangkah ini lebih baik bila anak-anak GAIA juga dapat terlibat agar terdapat keterhubungan pelajar lintas pulau: Jawa dan Sulawesi. Dia sepakat. Agar efektif, jumlah peserta dibuat sangat terbatas agar semua peserta punya kesempatan cukup untuk berbicara menjawab dua puluh soal.

    Saat bertemu di layar, anak anak itu saling tatap muka saja. Tidak ada di antara mereka yang saling menyapa dan memulai pembicaraan hingga keheningan terpecahkan ketika Miss Salma mengambil alih kelas untuk pembelajaran Bahasa Inggris.

    Tanya jawab berlangsung sangat lancar. Satu dua kata kosa kata Inggris saja dari pembicaraan para pelajar itu yang sulit dimengerti. Pendek kata, urusan pembelajaran Bahasa Inggris berjalan normal. Rahasianya terletak pada kemampuan dan pengalaman guru alumni dua universitas yaitu UAD dan UGM Yogyakarta tersebut yang sudah tahu betul cara mengelola kelas belajar dan para pelajar yang telah berlatih dengan matang pada materi tanya jawab yang akan dibahas secara online.

    Setelah memahami dasar dasar percakapan sederhana, para pelajar kita sebaiknya dimotivasi untuk berani berkomunikasi dengan orang lain, bukan sebatas guru saja. Ya, kita tahu anak anak itu cenderung pemalu pada orang yang mereka baru kenal. Itulah yang menjadi tantangan kita ke depan agar mereka mampu berakrab ria sesama pelajar Indonesia sebelum melangkah lebih jauh pada pergaulan internasional antar negara.

    GAIA dan RBB yang termasuk bagian dari lembaga yang fokus pada pengembangan kwalitas pelajar Indonesia tentu siap mengerakkan ke arah tersebut. Berangkat dari evaluasi di atas, rancangan lebih baik pada pembelajaran online berikutnya telah disiapkan. Pengetahuan dan mental harus saling bergandeng tangan. Apakah Anda punya ide menarik juga? Let’s see. Sekian.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 17 Mei 2026