Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Inspirasi Paman di Glasgow bagi Ashimah di RBB

    Inspirasi Paman di Glasgow bagi Ashimah di RBB

    Ashimah Nusaibah Shiddiqah seorang anak berwajah polos dan rasa ingin tahu yang tinggi serta bertekad kuat yang terbaca dari pancaran matanya baru saja bergabung di kelas Bahasa Inggris dan Matematika. Pada saat itu, ia diantar langsung oleh ibu kandungnya, drg. Yuni Afriani Salim, mendaftar di Rumah Belajar Bersama (RBB). Kami cukup terkesan karena biasanya seorang pemula, terlebih yang belum akrab dengan metode RBB, memilih satu kelas saja.

    Ada apa gerangan? Sudah jelas, kesadaran terhadap pendidikan dari dokter ini juga tinggi. Pasti ada sesuatu yang berharga di balik pilihan menyibukkan anak belajar di sore hari. Belum sempat pertanyaan itu diajukan, Dokter Yuni berkata, “Saya dulu pernah ke sini, mau memasukkan Ashimah untuk persiapan kelas Olimpiade Bahasa Inggris,” katanya lugas.

    Penulis berusaha mengumpulkan ingatan yang terlupakan. “Oh iya, ingat,” kata penulis, “kami mohon maaf tidak bisa melayani anaknya Bu Dokter waktu itu karena jadwal kejuaraannya sudah terlalu mepet,” terang penulis. Dokter muda yang mengabdi di Puskesmas Gantarang itu pun maklum. Ia sangat paham bahwa untuk sebuah kualitas, itu butuh proses yang panjang.

    Fondasi Kokoh Menuju Olimpiade
    Untuk desain olimpiade, RBB menetapkan beberapa syarat harus dipenuhi semisal pelajar wajib minimal menamatkan buku Basic Reading (Bacaan Dasar) yang berisi tentang mengakrabkan diri dari keterasingan bahasa asing, membangun kepercayaan diri, dan merobohkan asumsi bahasa Inggris itu susah. Bahan materinya kosakata dan percakapan sehari-hari. Ini tidak repot, cukup rajin membaca dengan suara nyaring dan mengetahui arti bacaan hingga 144 lesson (pelajaran). Tuntas.

    Sesuatu hal yang biasa bagi RBB melatih pelajarnya memahami materi tenses di luar kepala tanpa rumus, melainkan modal kotak kosong seperti yang tepat ada di hadapan Ashimah.

    Reading tahap kedua bernama Preface to Pre-Intermediate Reading (Pengantar untuk Bacaan Persiapan Pre Intermediate). Ada bahan percakapan dan paling banyak cerita yang masih sederhana. Itu setingkat pelajar SMP dan SMA di Indonesia. Bedanya, pembaca disuguhkan puluhan soal dalam setiap lesson yang mengajak pembaca mengetahui secara mendalam isi cerita. Total soal 1.236 dalam 48 lesson.

    Tidak ada konsep membaca sepintas lalu di sini karena semua hal penting, bukan sekadar kumpulan untaian kata yang indah dan terstruktur, melainkan juga bagian dari wawasan tentang dunia luar. Pembaca diajak berimajinasi dan berpikir tentang kejadian di berbagai belahan dunia yang disajikan dalam bentuk kisah yang kosakatanya masih agak lazim ditemukan. Pemahaman dibuktikan dengan jawaban benar pada soal.

    Tahapan ini seharusnya beriringan dengan grammar (tata bahasa). Tiap pertanyaan tidak bisa dijawab dengan gaya speaking (berbicara). Karena itulah, meskipun pelajar tidak mengikuti kelas grammar, mereka dibekali bonus pelajaran tenses agar mudah mengetahui arah alur cerita bacaan, bentuk soal, dan menjawab dengan struktur yang rapi dan tepat. Mengantisipasi kewalahan, strategi yang matang telah dibuat melalui pelatihan tenses sejak pelajar itu masih di Basic Reading agar mereka lebih siap ketika memasuki buku tahap kedua.

    Sebanyak 1.436 perubahan kalimat yang diucapkan pelajar di luar kepala meliputi verbal tense dan nominal tense—kalimat yang diucapkan sebenarnya jauh lebih banyak karena pelajar berlatih secara berulang-ulang hingga pemahamannya merekat kuat dalam kepala. 5.000 kali? 10.000 kali? Jawaban bisa beragam, tergantung daya serap otak pelajar itu sendir. Berapa kali diulang bukan hitungan utama. Bila pelajar lebih banyak praktik, proses belajarnya jauh lebih banyak, lebih baik. Tapi, apa pun itu, intinya mereka mampu paham tenses di luar kepala secara teratur dan acak.

    Wajarlah bila pelajar yang selesai basic tenses ini, buku Reading tahap keduanya agak mudah diselesaikan. Kemudian, mereka pun siap diolah lebih lanjut. Begitulah gambaran kecil dari perjuangan para pelajar SD yang berguru di RBB hingga para pelajarnya meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris tingkat nasional.

    Warisan Inspirasi sang Paman
    Diskusi santai bersama Bu Dokter pun kemudian berlanjut.

    “Apakah ibu berkenan mempersiapkan Ashimah untuk olimpiade di masa akan datang?” tanya penulis.

    Dokter Yuni menjawab, “Iya, mau.”

    Sejurus kemudian, ia bercerita, “Adik saya, Fajar Hidayat, pernah kuliah S-2 Universitas Glasgow, Inggris Raya.” Ia pun tak.lupa memperlihatkan gambarnya dengan toga sarjananya yang mengagumkan itu.

    Dokter Fajar peraih beasiswa bergengsi Chevening Award dari Inggris Raya yang menyaring calon pemimpin masa depan dunia. University of Glasgow di Skotlandia itu institusi kedokteran yang mendunia dengan jejak rekam di bidang kardiovaskular, peredaran darah manusia—Fajar memilih jurusan tersebut. Gerakan sosialnya selama di Glasgow adalah relawan di Glasgow Central Mosque (Masjid Jami’ Glasgow) di mana ia banyak meluangkan waktunya mengorganisasi dan menyalurkan makanan halal, rakyat yang ekonomi lemah dan pengungsi yang hidupnya serba susah.

    Dokter Fajar Hidayat. Adik kandung Dokter Yuni yang kuliah di Inggris. Sumber gambar: drg. Yuni Afriani Salim.

    Lebih lanjut, penulis menyambung. “Itu sangat bagus. Ada pamannya Ashimah yang bisa membantu mengajarkan untuk mempercepat kecerdasan anak Anda,” sambut penulis.

    “Sayangnya umurnya pendek,” lanjutnya.

    “Maksudnya sudah almarhum?” Pertanyaan ini memotong pembicaraan karena kaget dan hendak memastikan.

    “Iya,” balasnya singkat.

    “Oh! Sungguh sangat disayangkan. Saya turut berduka cita. Paling tidak, Ashimah mempunyai inspirasi dari keluarga terdekatnya,” balas penulis.

    “Iya. Itulah mengapa saya sangat ingin Ashimah menjadi penerusnya,” respon Dokter Yuni.

    Sebagai penguat, penulis mengatakan, “Insya Allah, itu bisa. Kalau saya perhatikan anak-anak RBB yang berprestasi,” raut wajah dokter itu terlihat bersemangat setelah mendengarkan klausa tersebut, “orang tuanya rata-rata mempunyai kesadaran pendidikan yang tinggi seperti Bu Dokter. Pada saatnya nanti, guru-guru dan saya pun akan memberikan pelatihan olimpiade buat Ashimah. Semoga ia mampu mengikuti jejak pamannya yang pintar itu.”

    “Amin,” balas dokter Yuni.

    Memicu Kompetisi demi Penguatan Fondasi Ilmu
    Beberapa hari kemudian, Ashimah masuk kelas di RBB. Dalam tiga hari, ia telah menyelesaikan 65 lesson pada buku Basic Reading. Guru kelasnya, Mr. Ancha berkomentar, “Ashimah dianggap remeh oleh Valerio, teman kelasnya. Vale mengatakan bahwa Ashimah itu lemah. Ashimah tersinggung dan ingin melambung bacaannya Vale.” Mr. Ancha berhasil menanamkan kompetisi terselubung dalam pembelajarannya. “Itu bagus Mr. Ancha. Usahakan Vale juga banyak membaca agar kompetisinya terus terjaga dan tetap mengarah pada hal positif—menjadikan keduanya lebih baik.”

    Capaian pembelajaran Ashimah dalam diagram batang.

    Sedangkan dalam pembelajaran tenses secara lisan, anak sembilan tahun ini telah berlatih empat tense: Simple present, simple past, simple future, dan simple past future meliputi 240 perubahan kalimat dalam tiga hari juga. Penulis tidak akan terburu-buru memindahkannya pada perfect tense karena selain itu agak rumit untuk pemula, Ashimah perlu meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia pelajari di luar kepala itu sudah yakin ia kuasai dengan baik atau mastery learning (penguatan fondasi). Video belajarnya pun diunggah ke channel YouTube dan Facebook sebagai data sejarah, ditonton ibunya dan netizen yang berselancar di dunia maya.

    Dengan menggunakan kotak kosong tenses, Ashimah sedang menjalani proses belajar latihan tenses di luar kepala.

    Mengenai Matematika, penulis belum menelusuri lebih jauh. Penulis berakrab ria dengan permainan kartu untuk mengetahui kemampuannya dalam dasar aritmatika pada bagian penjumlahan dan perkalian. Ia bisa menjawab dengan benar, baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Dalam penjumlahan, ia lumayan cepat, tetapi dalam perkalian, ia butuh waktu sedikit lebih lama. Karena itu, modul Perkalian dan Pembagian ala Metode 40—semacam perulangan latihan sebagaimana bahasa Inggris—diberikan kepadanya untuk berlatih di rumah.

    Proses belajar yang berkualitas memang membutuhkan waktu yang panjang, tekad yang kuat dan kesabaran menjalani proses guna menuntaskan akar-akar ilmu pengetahuan. Layaknya rumpun bambu, tahun-tahun pertama, fokusnya pada penguatan akar. Setelah itu, bambu akan menjulang tinggi hingga 20 sampai 25 meter dalam beberapa minggu saja. Ia sangat tinggi dan tidak mudah tumbang.

    Ashimah berlatih tenses bersama Ken. Mereka berdua setara dalam hal materi ini.

    Dokter Yuni melakukan hal hal sama. Di pagi hari, Ashimah beranjak ke sekolah hingga siang. Setelah itu, ia lanjut belajar hingga sore menjelang Maghrib, matahari tenggelam. Sebuah proses perjalanan yang panjang yang membutuhkan energi yang luar biasa. Sang Dokter telah menanamkan makna perjuangan jauh sebelum anaknya mengerti apa itu perjuangan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 11 Nopember 2026

  • Menemukan Jalan Pintas Berbahasa Inggris

    Menemukan Jalan Pintas Berbahasa Inggris

    Tenses adalah pintu gerbang untuk memasuki cabang pembelajaran bahasa Inggris yang luas. Lalu, apa itu tenses? Tenses adalah kalimat yang menghubungkan antara waktu dan kejadian atau kondisi. Sederhana, ia memperjelas kejadian di masa lampau, sekarang, dan akan datang.

    Orang yang buta huruf, fasih bicara tetapi tidak pandai membaca dan menulis tidak butuh tenses. Orang yang fasih bicara itu sudah lumayan bagus karena pada intinya bahasa itu alat komunikasi. Mereka sudah bisa memenuhi satu bagian terpenting dari bahasa. Tetapi, apakah manusia hanya puas sampai tahap Speaking (Berbicara) saja? Tentu tidak. Masih ada Reading, Pronunciation, Grammar, dan Writing (Membaca, Pengucapan, Tata Bahasa dan Menulis).

    Mengapa tenses sebagai solusi jalan pintas tercepat untuk semua cabang bahasa Inggris di atas? Beberapa argumentasi di bawah ini yang dihimpun dari pengalaman mengajar sepertinya layak menjadi bahan pertimbangan untuk diterima. Kalau pun tidak, itu bisa menjadi bahan dasar membangun kritisisme yang akan lebih memperkaya kemampuan kita belajar bahasa asing, khususnya Inggris.

    Pertama, ketika mengajarkan perubahan kalimat dalam tense, pelajar diminta bersuara nyaring. Itu jelas, membangkitkan kepercayaan diri untuk berani berbicara (speaking). Ini mirip dengan Audio-Lingual Method (Metode Audio-Lingual). Persamaannya terletak pada pengulangan struktur kalimat untuk membangun memori otot lidah dan percaya diri.

    Kedua, dari suara yang dihasilkan, pronunciation (pengucapan) benar atau salah dapat diketahui dan diperbaiki. Ini yang sangat membutuhkan perhatian yang tinggi mengingat pelafalan kata dalam bahasa Inggris sungguh jauh berbeda dengan bahasa Indonesia.

    Ketiga, tense adalah bagian dari pembelajaran grammar (tata bahasa). Otomatis apa yang diucapkan sesuai standar tata bahasa itu sendiri. Pelajar akan tahu perubahan kelas kata, minimal verb (kata kerja) dan subjek dalam bentuk noun or pronoun (kata benda atau kata ganti) karena perubahan verb dipengaruhi oleh subjek.

    Keempat, buku resmi untuk kebutuhan Reading menggunakan aturan grammar. Tulisan tidak resmi yang bertebaran di media sosial, betapapun tidak sepenuhnya sesuai kaidah grammar, mayoritas masih sesuai dengan alur grammar. Justru dengan mengetahui tenses, pembaca mempunyai sedikit wawasan untuk mengetahui celah kesalahan teks. Language Awareness (Kesadaran Bahasa) ini mengantarkan orang yang paham tata bahasa memiliki kepekaan instingtif untuk mendeteksi mana yang formal dan mana yang berupa bahasa gaul.

    Kelima, setiap kalimat berpola tense. Jadi apapun yang ditulis, pasti berpola tense. Dalam penulisan formal, hanya orang yang mengerti tata bahasa yang mempunyai kemampuan menulis secara akademis.

    Mungkin saja, ada yang berpikir bahwa memilih jalur mempelajari tense di atas bukan jalan pintas, melainkan jalan rumit. Orang yang baru belajar bahasa Inggris sudah dicecoki logika berpikir untuk mencocokkan kata yang tepat. Itu memperlambat kemampuan berbicara. Cukup memperbanyak kosakata saja dan kemudian dipakai berkomunikasi.

    Pendapat tersebut mengandung kebenaran. Tetapi, bagaimana saat hendak menggabungkan kosakata yang telah dihafal itu menjadi kalimat? Apakah itu tidak membutuhkan logika sederhana juga?

    Kosakata memang perlu. Tanpa kata, kalimat tidak mungkin terbentuk. Menggabungkan kata, itu butuh logika. Alangkah lebih baik bila logika sederhana tersebut diarahkan pada tense saja sembari terus mengajarkan hafalan kosakata baru. Kosakata yang baru itu dipakai dalam tense. Hal ini senada dengan teori lexical approach yang pernah digagas Michael Lewis. Dari grammar atau tenses, kalimat logis dan bermakna.

    Sejujurnya, mengajarkan tenses kepada pelajar pemula dan anak-anak bukan perkara yang mudah. Kita akan menemukan penghalang besar di mana kemampuan berpikir logis dalam berbahasa dari setiap pelajar berbeda-beda. Tetapi, dengan terus menyuguhkan kalimat yang terstruktur, pelajar tersebut terbiasa menyampaikan hal yang benar. Waktu yang menyadarkan mereka bahwa apa yang mereka pelajari itu sesungguhnya jalan pintas terbaik untuk memenuhi kebutuhan berbahasa Inggris yang lebih kompleks dan komprehensif.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin 10 Agustus 2026

  • Menjinakkan “Hantu” Bahasa Inggris

    Menjinakkan “Hantu” Bahasa Inggris

    Kids zaman now (Anak zaman sekarang) meme yang meledak pada 2017. Lidah orang Indonesia mudah menyebutnya dan enak didengar. Warganet pun ramai menggunakannya, lisan dan tulisan. Tapi, tahukah kita bahwa sepenggal kalimat ini sebenarnya sindiran pada anak-anak yang dewasa sebelum waktunya. Mereka lebih tampil beda di ruang publik. Pengaruhnya jelas, dunia digital sejak usia dini.

    oppo_34

    Menggunakan Android adalah permainan anak-anak. Buku dianggap pelajaran. Padahal, bacaan begitu banyak bertebaran di dunia maya. Namanya juga anak-anak, mereka tidak peduli semua itu. Target utama mereka bermain games.

    Fathy Cayadi tidak membenturkan antara dunia belajar zaman old dengan zaman now, tetapi menggabungkannya. Dengan handphone dan laptop sederhana, ia bermain online games membahas tentang adjective (kata sifat). Seperti yang bisa kita tebak, anak-anak girang. Senangnya bukan main, kayak bermain.

    Setelah semangat belajar sangat hidup, Miss Fathy kemudian mengajak para pelajarnya membuka buku Basic Reading membahas lesson 23 sampai 27. Anak-anak belajar meletakkan sebuah kata benda yang tepat pada adjective. Pembahasan tentang penggunaan a or an (sebuah) diberikan karena dalam aturan grammar (tata bahasa), a or an—meskipun dikategorikan sebagai article (kata sandang)—bisa berfungsi sebagai adjective. Misal, a book. Kata “a” bisa disebut sebagai kata sandang dan bisa juga disebut sebagai adjective–karena menjelaskan ke “book”, kata benda. Setiap kata yang menjelaskan benda disebut adjective.

    Struktur itu sebenarnya membentuk noun phrase (frasa benda). Namun, agar tidak bingung, penjelasan mendalam tentang frasa sengaja tidak dibahas secara mendalam. Yang terpenting, peletakan adjective-nya sudah benar. Secara tidak langsung mereka telah belajar frasa. Nanti pada waktu yang tepat, argumentasi mengapa dikatakan frasa akan dijelaskan.

    Pembelajaran lainnya tentang penggunaan objek pronoun (kata ganti) pada kalimat. Ini juga sangat penting dipahamkan karena objek pronoun dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris. Kata saya, mereka, kami dll. (I, they, we etc.) tidak berubah dalam tata bahasa Indonesia ketika berposisi sebagai subjek atau objek, sementara dalam bahasa Inggris, subjek I, they, we, etc. tatkala diletakkan di objek menjadi me, them, us, etc.

    Materi yang tidak kalah menariknya adalah percakapan pada lesson 23 dan 24 yang dibuat sesuai konteks bacaan. Misal, dalam percakapan terdapat kalimat “give me a glass” (berikan saya sebuah gelas). Guru, dalam hal ini Miss Fathy, mengajarkan, “give me a book or give me a pen.” Benda-benda yang berada dalam jangkauan pelajar menjadi bahan perbincangan.

    Dari sini, kita dapat membaca pembelajaran Miss Fathy kali ini menggabungkan dunia digital lewat online games, literasi dengan buku, dan lingkungan sekitar yang membuat anak-anak dapat melihat benda pada kosakata Inggris yang digunakan.

    Kombinasi tiga pilar dalam pembelajaran ini berhasil menciptakan suasana kelas yang hidup dan menyenangkan. Pendekatan komprehensif tersebut terbukti ampuh mengikis bayangan “hantu” menakutkan tentang bahasa Inggris sehingga ketakutan serupa yang dulu menghantui pelajar generasi zaman old tidak terjadi lagi di zaman now pada para pelajar di kelas ini. Kita tahu pelajar sekolah zaman old itu terpaksa belajar bahasa Inggris hanya demi memenuhi tuntutan kurikulum sekolah.

    Zaman terus bergerak. Sindiran meme kids zaman now yang lahir pada 2017 itu di ruang kelas Miss Fathy di Belajar Bersama (RBB) Tanete pada 2026 ini mengalami perubahan makna ke arah positif. Buktinya, kelas berakhir dengan setoran tenses di luar kepala yang disiarkan secara live (langsung) pada materi simple tenses di mana setiap anak tampil perorangan menyetor perubahan kalimat tanpa melihat teks buku.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 9 Agustus 2026

  • Melawan Lupa di Jendela Kelas

    Melawan Lupa di Jendela Kelas

    Satu kata yang ampuh untuk melahirkan kemahiran. Perulangan namanya. Kata ini mengingatkan apa pun yang terlupakan. Dari perulangan itu pula, kita bisa lebih mahir dari sebelumnya.

    Untuk sebuah ingatan, Milan Kundera mempunyai kalimat magis, “perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingat melawan lupa.” Kalimat di dalam The Book of Laughter and Forgetting (Kitab Tawa dan Lupa) bermakna bahwa kekuasaan otoriter melanggengkan kendali mereka dengan cara menghapus sejarah dan memanipulasi memori kolektif masyarakat. Tipuan maut ini membuat orang kesulitan menemukan kebenaran sejarah.

    Fathy Cayadi bukanlah seorang kritikus sejarah. Ia pendidik, menumpahkan segenap ilmu pengetahuannya untuk mendidik generasi. Ia pun tidak sedahsyat sastrawan Ceko-Prancis itu, tetapi ia mempunyai langkah yang sama dalam “melawan lupa”.

    Guru bahasa Inggris ini paling sering mengadakan review pembelajaran. Buku-buku pelajaran yang telah dibaca pelajarnya dianggapnya tidak cukup. Ia berkreasi mencetak lembaran kertas bergambar yang menarik sesuai dengan bacaan yang telah dipelajari. Cara pandang pun menjadi lebih kaya.

    Apa saja yang Miss Fathy review (revieu)? Penggunaan article a or an (kata sandang bermakna sebuah, seorang, sebiji dll.), verb be: am, is, are (kata kerja be: am, is, are) yang berhubungan dengan pekerjaan dan preposition in, on, under etc. (kata depan bermakna di dalam, di atas, di bawah dll.).

    Bagi Miss Fathy dan orang yang biasanya berkecimpung dalam pelajaran itu pasti menganggapnya mudah. Bagi pelajar pemula, pasti tidak semudah itu, Fergusso. Itu sulit, butuh latihan berulang-ulang. Kesadaran itulah yang dihantarkan Miss Fathy ke dalam alam pikiran pelajarannya.

    Kemudian, apa manfaat lain yang diperoleh? Selain mengikat makna pada lesson (pelajaran) 1 sampai 20 pada buku Basic Reading (Bacaan Dasar), itu juga meyakinkan bahwa lesson berikutnya siap dipelajari. Terbukti, lesson 21 sampai 24 yang berisi percakapan dan penjelasan kosakata melalui gambar berjalan lebih mulus.

    Jadi, pembelajaran itu bukan hanya menyenangkan karena adanya permainan, tetapi materinya berhasil dibuat semenarik mungkin. Tetsuko Kuroyanagi dalam novel otobiografi fenomenalnya menggambarkan dirinya sebagai Totto Chan lebih menyukai memperhatikan pengamen di jalan melalui jendela sekolah daripada pelajaran yang diajarkan di dalam kelas. Gadis cilik di jendela itu harus angkat kaki–pindah sekolah karena guru menganggap perilaku Totto Chan bermasalah. Padahal, bisa jadi karena kelas tidak dikreasikan sehingga alunan musik rakyat lebih enak didengar daripada suara guru.

    Tidak perlu kaget, kemampuan berbicara pelajar Miss Fathy di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete ini akan berbanding lurus dengan kemampuan pelajar di RBB Bulukumba. Keduanya sama-sama menggunakan the law of repetition (hukum perulangan) yang digerakkan dengan kreativitas demi menepis perulangan yang membosankan. Hal yang membosankan itu tidak pernah menarik untuk diingat sebagaimana tidak menariknya para penguasa yang cuma berpura-pura peduli pada pendidikan.

    Dalam konteks bernegara, bukanlah peringatan kemerdekaan 17 Agustus itu perulangan? Indonesia melawan lupa untuk tidak mau dijajah lagi. Dalam dunia pendidikan, dari perulangan yang dimasifikasi, kemahiran apa yang tidak bisa diciptakan? Apakah pemerintah masih ingat bahwa untuk menjadi bangsa yang besar, kualitas pendidikan harus diutamakan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu 8 Agustus 2026

  • Meniti Tiga Kekuatan Bahasa

    Meniti Tiga Kekuatan Bahasa

    Kesulitan mengkombinasikan pelajaran grammar and speaking (tata bahasa dan bicara) akhirnya terjawab. Bila pada pertemuan sebelumnya, anak-anak terlebih dahulu mendalami tenses–bagian dasar yang sulit dari tata bahasa—kemudian speaking, tenses dinikmati tetapi energi untuk speaking telah habis karena energi berpikir telah terkuras habis. Ketika speaking di awal, semua semangat. Grammar yang diletakkan di sesi kedua tetap menyenangkan.

    Kebutuhan manusia untuk berbicara memang lebih dahulu daripada memikirkan ilmu tata bahasa. Anak kecil bisa berbicara lancar jauh sebelum mengenal huruf, tulisan dan segala aturannya. Kenyataan yang tak terbantahkan ini yang sangat perlu diterapkan dalam pembelajaran bahasa.

    Penulis berpikir bahwa para pelajar yang sudah mengenal banyak kosakata terlebih sudah tahu percakapan sehari-hari dan telah dibiasakan membaca buku-buku berbahasa Inggris bisa diajak untuk mempelajari banyak hal dalam satu waktu. Uji coba yang dijelaskan di atas adalah catatan perjalanan proses belajar untuk mencari hal mana yang paling efektif didahulukan. Hasil sementara yang didapatkan adalah speaking, lalu grammar. Istilah sementara dipakai karena siapa tahu di kemudian hari ada penemuan yang lebih menarik. Lagi pula, ini baru satu contoh kasus yang belum dibandingkan dengan yang lainnya.

    Kepedulian untuk menguatkan kemampuan berbahasa Inggris kepada para pelajar tak lepas dari pengalaman pribadi. Sejak kecil, berumur sekitar sembilan tahun, penulis sudah berbahasa Inggris dengan almarhum ayah, Drs. H. Patiroi, yang sering mengajak penulis ke Pantai Bira untuk berenang dan berkomunikasi dengan orang asing. Kadang-kadang orang barat itu diajak datang ke rumah. Literatur ayah dalam bahasa Inggris dan Arab juga banyak di mana penulis menikmatinya di waktu senggang.

    Masalah yang tidak terselesaikan adalah grammar. Ternyata, itu sangat berguna dalam dunia akademis. Semasa mahasiswa, penulis pernah terhalang masuk kelas internasional hanya karena tidak bisa menulis dengan benar, tata bahasa kacau. Solusinya, penulis berguru ke Kampung Inggris di Pare, Jawa Timur selama satu setengah tahun.

    Dari pengalaman berharga itu, penulis menginginkan kesadaran tentang grammar sangat penting ditanamkan sejak anak-anak. Tiga kekuatan utama terletak pada speaking, reading, and grammar (berbicara, bacaan, dan tata bahasa) dapat tumbuh secara beriringan, bukan saling menyalahkan. Di kalangan pelajar bahasa Inggris, isu yang sering muncul, grammar tidak penting, yang penting adalah paham apa yang dibicarakan. Sebaliknya, grammarian (penganut grammar) juga membalas, orang yang terbiasa speaking tetapi tidak tahu grammar, bicaranya terbalik-balik. Padahal, semuanya penting, tergantung kebutuhan masing-masing. Sedangkan reading yang berhubungan dengan pengembangan wawasan, jarang kena hujatan.

    Satu hal yang hampir terlupakan adalah writing (menulis). Pelajar yang aktif dalam dunia writing membutuhkan kekayaan kosakata dan grammar—hal yang mutlak—membuat tulisan diterima secara universal betapapun di setiap daerah atau negara menggunakan aksen bicara yang berbeda.

    Sungguh sangat elok jika pelajar kita sanggup semuanya. Sederhananya, bila bahasa Inggris dibagi menjadi dua yaitu formal dan non-formal, maka pelajar yang memenuhi syarat di atas bisa mencapai semuanya.

    Pekerjaan mengombinasikan pelajaran bahasa Inggris itu memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Sumber daya manusia yang handal yang mau berpikir dan bekerja ekstra adalah pilihan yang tepat mengerjakan tugas ini. Mereka inilah yang mampu menyesuaikan teori yang tidak sesuai dengan fakta dan bahkan mencari solusi yang baru dari persoalan kesulitan pelajar berbahasa Inggris.

    Apakah kita bagian dari solusi atau masalah?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 7 Agustus 2026

  • Kertas Sakti

    Kertas Sakti

    Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di mana sebuah kelas belajar di malam hari terkondisikan untuk mau memahami tenses di luar kepala. Pertama, semua peserta anak SD. Kedua, jadwal anak-anak itu sangat padat. Pagi sampai siang, mereka pergi ke sekolah dan siang sampai sore jelang Maghrib mengaji. Di malam hari, kami bertemu mereka. Mereka mau main-main saja karena capek belajar. Ketiga, mengingat alasan kedua itu, pelajaran yang diberikan kepada mereka tidak sepadat dengan pelajar di kelas sore.

    Alasan mengapa mereka betah belajar karena anak-anak ini diberikan kebebasan berpendapat. Usulannya didengarkan dan dimusyawarahkan bersama. Tidak ada perasaan tertekan. Tekanan hanya diberikan bila melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Misalnya, mereka yang tidak memperhatikan pelajaran di waktu jam belajar mendapatkan teguran. Guru pun membuat cara agar semangat belajar lebih tinggi dengan jalan berjanji memberikan jam keluar main lebih banyak bila semua perhatian pada pelajaran. Mereka bersorak bergembira. Teguran kepada para pelajar malas bukan lagi datang dari guru, melainkan dari sesama rekan pelajar. “Jangan begitu (baca: malas). Nanti jam keluar main kita lebih sedikit,” ungkap anak-anak mengingatkan rekannya.

    Lantas, dari mana spirit menguasai tenses itu tumbuh? Beberapa anak-anak yang sangat tekun belajar terlebih dahulu dilatih. Setelah sukses, mereka menjadi contoh bagi yang lainnya. “Tenses itu susah, mister,” seorang anak bernama Audrey mengeluh. “Ya? Itu teman-teman bermainmu bisa. Kalau mereka bisa, masa kamu tidak bisa? Mau tidak lebih pintar?” balas guru. “Iya ya. Maulah pintar, Mister,” Audrey merespons. Pelajar yang lain yang mempunyai keluhan yang sama juga mendapatkan motivasi untuk mau berusaha lebih giat mengubah keluhan mereka menjadi tekad. Berlakulah, where there is a will, there is a way (di mana ada kemauan, di situ ada jalan).

    Niat untuk berlomba-lomba menguasai tenses semakin tumbuh ketika selembar “kertas sakti” dipasang di papan pengumuman. Lembaran itu berisi nama-nama pelajar disertai dengan 16 kotak kosong yang diisi dengan tanda centang (✓) dari tiap setoran tenses yang telah selesai. Mereka bisa mengukur capaian dirinya dan berusaha untuk bisa menyetor lebih banyak.

    Hal yang berkesan adalah tanda centang itu diisi oleh pelajar itu sendiri. Mereka sebenarnya bisa mencentang lebih banyak dari apa yang mereka setor demi terkesan lebih pintar tapi itu tidak dilakukan. Guru sengaja memberikan kepercayaan demikian untuk membiasakan berperilaku jujur. Lagi pula, pada dasarnya anak-anak itu prilakunya jujur. Kejujuran itulah menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri, tidak membohongi diri sendiri.

    Patut diingat, setoran tenses itu per individu. Anak-anak yang lain harus antre menunggu, membosankan. Agar lebih aktif, tiap anak yang mempunyai setoran tenses lebih banyak berhak menguji rekannya, sedangkan yang tidak ingin menguji membantu cara menguasai segala perubahan kalimat dalam satu tense. Waktu berjalan efektif, tidak terbuang percuma. Guru dapat mendidik pelajar yang lain yang tidak bisa di-handle oleh teman sebayanya. Kelas ini terlihat sangat hidup meskipun dalam setiap kelompok kecil yang dibuat secara natural itu mempunyai tingkatan yang berbeda-beda, tetapi dapat dirangkum hanya dalam satu kelas.

    Di balik kesuksesan model belajar ini, ada juga kelemahannya. Berdasarkan fakta yang ditemukan, anak-anak telah menguras sebagian besar energinya untuk menyetor satu, dua dan bahkan tiga tenses: tergantung dari kemampuannya. Setelah itu, mereka keluar main, bermain sepuasnya melepaskan kepenatan berpikir. Saat mereka kembali diajak belajar, guru memberikan pelajaran ringan dalam bentuk bahan percakapan, speaking. Biasanya, itu dimulai dengan membaca bersama-sama bahan percakapan itu untuk memperbaiki pengucapan. Pada tahap ini, suara anak-anak lebih rendah. Ketika mereka berdialog secara berpasangan, mayoritas sudah tidak bisa fokus lagi. Otak dan fisiknya benar-benar lelah dan butuh istirahat.

    Menghadapi kondisi itu, guru berkata, “Baiklah anak-anak. Waktu belajar kalian tinggal lima menit. Kalian boleh pulang.” Anak-anak sangat bergembira, “Hore”. Suara riuh itu layaknya low battery pada handphone yang telah di-charge penuh. “Bagi anak-anak yang mau tinggal sejenak, bisa melanjutkan pelajaran yang disukai hingga jam belajar berakhir.”

    Sebelumnya, proses belajarnya dalam bentuk reading aloud (membaca dengan suara nyaring), kemudian diikuti dengan tenses. Reading sukses, tenses tidak sukses. Sekarang, tenses diikuti dengan percakapan. Tenses kemungkinan besar sukses, percakapan tidak sukses. Pertemuan berikutnya guru akan mencoba membalik, percakapan yang kemudian diikuti tenses. Kreativitas mencari model belajar untuk anak 7 sampai 10 tahun ini akan terus dicari hingga mereka bisa minimal tiga hal: Reading, grammar, and conversation or speaking (Membaca, tata bahasa, dan percakapan atau berbicara).

    Sekarang, kita bisa membayangkan cara belajar yang lebih membumi. Kesuksesan menanamkan pengetahuan berbahasa Inggris kepada anak sejak usia dini ini tidak sekadar mengandalkan ilmu pengetahuan yang dikreasikan, tetapi juga imajinasi untuk membuat sesuatu hal yang terbarukan.

    Terakhir, apakah pendidikan formal di sekolah kita di Indonesia juga mempunyai “surat sakti” yang jujur dan real (nyata) untuk membuktikan efektivitas pada penerapan kewajiban belajar bahasa Inggris sejak kelas 3 SD?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 6 Agustus 2026

  • Mendobrak Malu Belajar demi Kuliah ke Cina

    Mendobrak Malu Belajar demi Kuliah ke Cina

    Seorang pemudi tamatan SMA tertarik belajar bahasa Inggris. Ia mencari informasi di media sosial, menemukan Rumah Belajar Bersama (RBB) mengadakan kegiatan belajar selama liburan sekolah, satu bulan. Kontan saja ini menarik perhatian karena jarang ada muda-mudi yang mau belajar bahasa Inggris. Alasan paling umum, malu.

    “Saya mau kuliah di Cina,” kata Novi Amelia. Ide yang cukup berani. Para guru mengira Novi ingin lanjut kuliah di Indonesia. “Baiklah,” kata guru, “Kampung Belajar yang kamu pilih ini menyediakan sembilan jam sehari,” kata seorang guru RBB, “kita bisa lihat nanti sejauh mana capaianmu menyelesaikan materi dasar. Bila kamu cepat memahami, kami para guru bisa membuatnya lebih cepat lagi.” Novi menganggukkan kepala sebagai tanda menyanggupi ajakan itu.

    Hari-hari belajar berlalu dengan baik. Novi memang cukup rajin datang ke kelas, menyimak pelajaran dengan baik dan praktik bicara. Sayangnya, kondisi fisiknya yang kadang kurang fit membuatnya sesekali tidak hadir di kelas. Sekali waktu ia berkata, “Apakah saya bisa ke luar negeri?” Pertanyaan itu ia ajukan pada dirinya sendiri, namun dengan suara agak nyaring. Penulis menanggapi, “Sangat bisa. Pertahankan dan kalau perlu, tingkatkan semangat dan kualitas belajarmu. Kamu masih muda dan mempunyai banyak waktu. Cita-cita yang tinggi itu harus diikuti dengan belajar ekstra giat.” Ia kembali menganggukkan kepala.

    Novi menyelesaikan pelajarannya di Kampung Belajar dengan kualitas sedang. Ia pun mengambil jeda istirahat, sekitar hampir satu bulan. Tiba-tiba, ia kembali lagi belajar di RBB mendaftar dua kelas: Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Kehadirannya di kelas jauh lebih efektif dari sebelumnya. Tingkat fokus belajarnya pun jauh lebih baik, aktif mengerjakan latihan Grammar dan Reading serta rajin tampil di depan video live (siaran langsung) untuk menerangkan hasil kerjanya dalam bahasa Inggris. Mr. Fajar Hamzah, guru kelas Reading, mengapresiasi usahanya itu dengan memberikan bonus kelas tambahan di malam hari. Ia bebas memilih materi yang ia suka.

    Saat penulis sesekali memperhatikan kelas malam, Novi sering mengerjakan latihan pada buku Grammar-nya. Pilihannya itu sangat sejalan dengan dunia akademik yang menjadi cita-citanya. Tidak lama lagi, ia akan menamatkan Basic English Grammar—lebih dari sepuluh bab ia telah tuntaskan dari enam belas bab. Kecepatannya dalam mengerjakan latihan didukung oleh pemahamannya yang sudah lumayan baik pada latihan tenses di luar kepala. Ia tidak begitu kebingungan lagi menganalisis perubahan kalimat tingkat dasar.

    Sementara itu, buku Reading yang ia pelajari itu sudah hampir tamat. Buku itu memang tidak terlalu tebal, mungkin seperempat dari Basic English Grammar. Namun, pada tiap lesson (pelajaran), Novi dituntut untuk memahami arti bacaan cerita karena ia harus mampu menjawab isi dari soal-soal cerita tersebut yang sesuai kaidah grammar. Di sini, literasi berbahasa Inggris tertanam dengan baik.

    Prediksinya, dalam satu atau dua minggu, Novi bisa menamatkan buku Reading. Ini karena ia sudah punya cukup bekal grammar untuk bisa menjawab soal-soal, tanpa harus banyak bertanya lagi. Bila ia tidak berhenti, ia berhak lanjut ke tahap Pre-Intermediate Reading. Prediksi penulis tidak sepenuhnya dibenarkan oleh Mr. Fajar Hamzah. “Kalau Novi tidak datang terlambat ke kelas, itu bisa,” kata Mr. Fajar, “Pada beberapa pertemuan terakhir ini, ia agak telat karena ada urusan penting lainnya yang harus ia selesaikan.”

    Sementara itu, buku Basic English Grammar membutuhkan waktu sedikit lebih lama, satu bulan karena selain jumlah soalnya yang sangat banyak, kemampuan untuk menganalisis soal pada bab yang baru membutuhkan waktu dan energi lebih. Otak benar-benar diperas untuk mampu membaca tipuan atau jebakan soal. Namun, ini bukan persoalan. Justru, pelajaran ini akan membuatnya lebih matang bila ke depan, ia bertemu dengan materi tingkat tinggi seperti TOEFL dan IELTS.

    Terlepas berhasil atau tidaknya dari proses belajar Novi untuk kuliah di luar negeri—semoga saja berhasil—ia telah menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh, pemudi yang tidak hanya berkhayal, tetapi juga berusaha mewujudkan cita-cita yang tinggi. Selama ia belajar, ia sama sekali tidak malu untuk bertanya kepada pelajar yang lebih muda darinya, terlebih kepada pelajar yang lebih dewasa dan itu adalah tanda-tanda kesuksesan bagi penuntut ilmu.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 5 Agustus 2026

  • Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

    Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

    Izzatunnisa dan Nabila dua orang pelajar kelas 4 SD baru saja (03/08/2026) membuktikan kefasihannya mendemonstrasikan seluruh struktur perubahan verbal tenses di luar kepala secara teratur. Seberapa besar kalkulasi matematis capaian mereka?

    Bayangkan saja, ada 16 tenses.
    Dalam setiap tense, terdapat 6 perubahan kalimat dengan satu subjek, kecuali subjek “I” hanya 4 perubahan kalimat karena pada present progressive tense, “I am not” dan “Am I not” tidak punya singkatan sehingga itu dihitung 4 perubahan kalimat saja meliputi kalimat positif, pertanyaan, negatif, dan pertanyaan negatif.

    Subjek yang mereka praktikkan pada tiap tenses sebanyak 10: I, you, they, we, He (Adam), She (Hawa), dan It (A cat). Itu berarti:

    * 1 subjek, 6 perubahan kalimat.
    Keterangan:
    1 kalimat pada positif.
    2 kalimat pada negatif.
    1 kalimat pada pertanyaan positif.
    2 kalimat pada pertanyaan negatif.
    Total = 6 kalimat.

    * 10 subjek, 60 perubahan kalimat dalam satu kotak tense.
    * 16 kotak tenses, 960 perubahan kalimat.

    60 x 16 = 960.
    960 – 2 = 958. Pengurangan 2 itu bersumber dari “I am not going? and Am I not going?“, tidak bisa dihitung 6, tetapi 4.
    Total seluruh kalimat tenses = 958

    958 kalimat itulah diucapkan tanpa melihat buku catatan, live (siaran langsung) di akun Facebook Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Izzatunnisa. Pelajar ini pada awalnya belajar bahasa Inggris “suka-suka” saja. Ia termasuk anak yang tidak mau menjawab soal-soal pada bacaan berbahasa Inggris. Melihat teman-temannya bertambah lancar, tiba-tiba ia mengatakan, “saya mau menguasai tenses.” Niatnya itu kini terbukti. Hanya dalam dua minggu, ia menuntaskannya. Semoga spirit belajarnya semakin meningkat.

    Langkah berikutnya adalah menguasai tenses tersebut secara acak. 958 kalimat akan ditanyakan ulang menggunakan kalimat yang berbeda-beda pula. Inilah saatnya di mana setoran irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) yang mereka telah pelajari sebelumnya berfungsi. Mereka akan menemukan jawaban mengapa terjadi perubahan verb 1, 2, dan 3 dalam bahasa Inggris, tetapi tidak dalam bahasa Indonesia.

    Pelajaran dasar lainnya, Izzatunnisa dan Nabila diwajibkan juga menyetor nominal tenses—ordinary verb (kata kerja utama) menggunakan be—yang prosesnya sama sewaktu mereka belajar verbal tenses. Meskipun nominal tense jauh lebih mudah, materi ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena itu adalah pembandingnya verbal tenses. Bila pelajar tidak mampu membedakan dasar-dasar verbal tenses vs nominal tense, mereka dianggap masih belum mengerti tenses dengan baik.

    Nabila. Anak ini cerdas, cepat memahami pelajaran,.namun seperti halnya kebanyakan anak-anak, ia ingin lebih banyak bermain. Dalam beberapa waktu terakhir, ia diingatkan bahwa potensi kecerdasannya sangat besa. Sayang sekali bila ia sendiri sengaja memperlambatnya. Perubahan kemudian terjadi dengan dengan meminta untuk selalu di-video terutama pada setoran tenses. Akhirnya, ia pun tuntas.

    Metode belajar ini memang sungguh berbeda, tidak lazim. Jangankan institusi formal seperti sekolah, lembaga nonformal seperti kursus jarang yang berani menerapkannya. Permasalahannya terletak pada konsep waktu dan kejadian pada kalimat dari tata bahasa Indonesia sangat jauh berbeda dengan bahasa Inggris. Selain itu, dalam frasa semisal noun phrase (frasa benda), struktur sintaksis bahasa menganut pola DM (Diterangkan-Menerangkan), sementara Inggris menganut pola MD (Menerangkan-Diterangkan).

    Indonesia
    Wanita (D) + Cantik (M) = Wanita Cantik.

    Inggris
    Beautiful (M) + Girl (D) = Beautiful girl.

    Frasa yang berada dalam kalimat dalam bahasa Inggris dianggap terbolak-balik dalam pikiran pelajar Indonesia. Lebih parah lagi pada verb (kata kerja). Indonesia tidak mengalami perubahan pada kata “pergi”, tetapi bahasa Inggris berubah menjadi “to go, go, goes, went, gone, going“.

    Bahasa Indonesia:
    Saya pergi ke sekolah setiap hari.
    Saya pergi ke sekolah kemarin.

    Di sini, “pergi” tidak mengalami perubahan.

    Bahasa Inggris:
    I go to school every day.
    I went to school yesterday.

    Di sini, “go” berubah menjadi “went“. Bahasa Inggris mengalami banyak perubahan kata kerja.

    Demikian sekilas kerumitan sederhana yang ditampilkan di sini. Wajar saja jika sebagian besar orang yang tidak mengerti alur berpikir seperti ini menganggap itu tidak penting, bikin pusing kepala. Padahal, bahasa besar lainnya seperti bahasa Arab juga mengalami perubahan yang mirip dan bahkan lebih kompleks daripada bahasa Inggris.

    Mengingat beratnya tantangan linguistik tersebut, di Indonesia sendiri lembaga seperti SMART, BEC, dan ELFAST di Kampung Inggris Pare di Jawa Timur yang mempunyai kapasitas mumpuni bersedia menerapkannya. Perbedaannya, para pelajar mereka dominan remaja dan dewasa yang ingin bekerja atau kuliah S-1, S-2, dan S-3 di dalam dan luar negeri, bukan anak SD sebagaimana yang di RBB.

    Lalu, apa keistimewaan tenses di luar kepala ini? Pertama, para pelajar akan terbiasa menggunakan kalimat yang benar saat berinteraksi dengan orang lain. Kedua, membaca teks dalam bahasa Inggris akan lebih mudah dipahami. Ketiga, mampu menjawab soal-soal esai. Pembelajaran untuk tujuan akademis dan non-akademis tercapai.

    Let’s make a better place for our next generation.

    Kesiapan pencapaian akademis inilah yang menjadi modal utama bagi para pelajar SD RBB termotivasi menguasai tenses. Mereka bersiap menghadapi tantangan besar, mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris. Bercermin dari realitas, para pelajar yang diberikan pelatihan olimpiade adalah mereka yang telah menguasai tenses. Hal ini sengaja dibuat demikian agar terdapat alasan untuk mau belajar lebih giat. Tentu saja, bagi pelajar yang berminat dan memenuhi syarat yang ditetapkan, mereka tentu akan mendapatkan pelatihan olimpiade. Tetapi, makna yang sebenarnya yang hendak dibangun adalah penguasaan dasar-dasar bahasa Inggris sebagai kunci utama untuk bisa melejit, berkembang dengan sangat pesat sehingga pengetahuan mereka bisa digunakan untuk kepentingan olimpiade dan berbagai macam kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan cita-cita pelajar itu sendiri. Pekerjaan ini memang ekstra, namun setelahnya, percepatan pencerdasan lebih mudah tercapai. Kesulitan pelajaran pada materi tingkat lanjut akan tampak lebih sederhana di mata para pelajar.

    Manifestasi nyata dari kemudahan memahami materi ini langsung diterapkan pada aspek penting berikutnya, yaitu speaking (bicara). Para pelajar ini perlu diajak saling bercakap-cakap secara berpasangan. Izzatunnisa dan Nabila telah menamatkan satu buku Basic Reading (Bacaan Dasar) secara otomatis mempunyai perbendaharaan kosakata yang cukup banyak. Kosakata yang mereka miliki itu yang akan diolah dalam bentuk dialog untuk memudahkannya memahami makna dan arah pembicaraan. Bahan percakapan lain dengan mengikutkan kosakata yang baru pasti ikut serta—pengembangan lain pun harus terus berjalan.

    Dari proses belajar yang baik dari kedua anak berbakat ini, kecerdasan mereka tidak boleh dinikmati sendiri, menang sendiri. Bila dibiarkan, tanpa sadar kita telah menanamkan paham individualisme, egoisme menang sendiri kepada anak-anak kita yang itu bertentangan dengan ajaran agama khususnya Islam dan negara kita menganut yang paham “keadilan sosial” yang tertera jelas pada sila kelima di Pancasila.

    Oleh karena itu, tiap anak yang telah berhasil mencapai kemampuan di atas rata-rata dari rekan sesama pelajarnya dilatih untuk mengamalkan ilmunya minimal kepada rekan-rekan terdekatnya. Konsep peer tutoring (belajar sebaya) ini menciptakan keseimbangan pemahaman dalam kelas belajar, tidak menciptakan jurang pemisah yang menganga lebar antara pelajar yang bodoh dan pintar. Semuanya berlatih untuk pintar. Sistem kerja sama di kelas inilah yang menghapus kesenjangan. Lagi pula, pelajar yang mendapatkan kepercayaan untuk berbagi ilmu, ilmunya pasti bertambah, tidak pernah berkurang sedikit pun.

    Berangkat dari contoh kecil dari keberhasilan Izzatunnisa dan Nabila yang masih SD itu, apakah kita mau lebih berani dan lebih siap melakukan terobosan yang lebih besar? Apakah omong kosong kesuksesan di laporan lembaran kertas akan terus dipertahankan? Apakah kita bersedia berkorban mengerahkan seluruh potensi kecerdasan dan tenaga untuk masa depan generasi yang lebih baik?

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Selasa, 4 Agustus 2026

  • Khayalan yang Masuk Akal

    Khayalan yang Masuk Akal

    Conditional sentences (kalimat pengandaian) biasa penulis sebut dengan kalimat mengkhayal. Namanya juga khayalan: pasti bertentangan dengan realitas. Biarpun kalimat dibolak-balik, faktanya bukan pada kalimat tersebut. Itu karena kemasukan satu kata: if (jika).

    Pada grammar, kalimat mengkhayal itu berada dalam pembahasan adverbial clause (klausa keterangan), tergolong materi intermediate. Merujuk literatur Betty Schrampfer Azar dan Marcella Frank, guru dan ahli tata bahasa Inggris, mereka menjelaskan materi ini setelah menuntaskan materi adjective clause (klausa sifat) dan noun clause (klausa benda). Kemungkinan besar, ini karena begitu luasnya cakupan adverbial clause sehingga kalimat mengkhayal tersebut ditaruh pada bagian akhir dan untuk menghindari kerumitan berpikir bagi pelajar asing yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris.

    Apakah adverbial clause bisa diajarkan tanpa terlebih dahulu mengenal adjective clause dan noun clause? Pertanyaan ini hadir setelah penulis memperhatikan soal-soal olimpiade bahasa Inggris yang menghadirkan “kalimat mengkhayal” tipe 1.

    Untuk lebih aplikatif, dua orang peraih emas pada olimpiade SD bernama Adeeva, kelas 5 SD, dan Faika, kelas 4 SD, diajak “mengkhayal”. Mereka diminta membuat dua kalimat yang mereka suka. Sebuah contoh kita hadirkan di sini.

    Saya menjadi seorang dokter. Saya akan menolong banyak orang. (I become a doctor. I will help many people.)

    Kemudian, mereka diminta memasukkan conjunction (kata sambung) “if” (jika) di awal kalimat–menggabungkan kedua kalimat di atas menjadi satu. Terbentuklah: If I become a doctor, I will help many people. (Jika saya menjadi seorang dokter, saya akan menolong banyak orang.)

    Lalu, mereka membalik kalimat. I will help many people if I become a doctor. (Saya akan menolong banyak orang jika saya menjadi seorang dokter.)

    Luar biasa! Kedua anak itu dapat melakukannya dengan sangat mudah. Faktanya, itu berada di masa yang akan datang: belum terjadi atau belum menjadi dokter. Itulah yang disebut kalimat mengkhayal tipe 1 yang hadir dalam olimpiade SD.

    Bagaimana dengan tipe 2 dan 3 serta mixed 1 and 2 (campuran 1 dan 2)? Semua bisa saja diajarkan karena itu dapat diajarkan melalui pendekatan tenses yang telah mereka kuasai di luar kepala. Namun, penulis berpikir untuk tidak membuat anak-anak kesulitan mencari fakta pada kalimat. Pada akhirnya, tipe 2 dan 3 dipelajari bersama.

    Penulis terlebih dahulu me-review, “Jika simple present bertemu dengan simple future, maka simple past bertemu dengan apa?” tanya penulis.

    Mereka menjawab, “Kalau simple past, itu bertemu dengan simple past future, lah,” jawab mereka dengan santai.

    Soal ini hanya boleh diberikan pada pelajar yang paham struktur tenses. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kedua anak ini telah mengerti. Terlebih, kotak kosong tenses ditaruh di hadapan mereka agar “khayalan” mereka masuk akal.

    Khayalan kok masuk akal? Maksudnya, sesuai dengan kaidah tata-bahasa.

    Pembahasan pun terus berjalan. “Kalau begitu, silakan tindak lanjuti dengan membuat kalimatnya. Itu disebut kalimat mengkhayal tipe 2,” kata penulis.

    Adeeva dan Faika saling menanyakan kata kerja kedua dari “become.” Mereka sepakat menyebut “became”. Mereka membaca verb 2 (kata kerja kedua) itu dengan sebutan “bikam”, tidak ada bedanya dengan become di verb 1. Penulis membantu (pronunciation) pengucapan, “Verb 1 dibaca ‘bɪˈkʌm, lidah Indonesia, bikam’ dan verb 2 dibaca ‘bɪˈkeɪm, lidah Indonesia, bikeim’.” Ini penting untuk bahan percakapan, bukan hanya pandai jawab soal tulisan.

    Berikut ini kalimat yang berhasil mereka pikirkan.

    Type 2
    If I became a doctor, I would help many people; or, I would help many people if I became a doctor.
    (Jika saya menjadi seorang dokter, saya akan menolong banyak orang; atau, saya akan menolong banyak orang jika saya menjadi dokter.)

    Dalam bahasa Indonesia, tipe 1 dan 2 terlihat sama saja: tidak ada perubahan kata. Dalam bahasa Inggris, terdapat perubahan kata di mana “become” menjadi “became” dan “will” menjadi “would”. Artinya waktu dan kejadiannya berubah ke masa past (lampau); fakta ke present (saat ini).

    Untuk lebih sederhana, sewaktu Adeeva dan Faika masih di kelas 2 SD, mereka bukan dokter. Saat ini, mereka bukan kelas 2, tetapi kelas 4 dan 5 SD. Jadi, faktanya, saat ini keduanya bukan dokter.

    Pengantar tipe 2 yang ringan diterima otak anak-anak ini lebih baik dilanjutkan ke tipe 3. Logikanya pun sama.

    Penulis memberikan pancingan, “Ingat tipe 2 tadi. Jika ada kalimat past, kalimat yang mengikutinya pasti past juga. Buktinya adalah simple past bertemu dengan simple past future.” Penulis menghela napas sejenak untuk memberikan ruang berpikir.

    “Pertanyaannya sekarang: jika past perfect, itu bertemu dengan past apa?” tanya penulis.

    Anak-anak langsung menatap kotak kosong tenses-nya dan menyadari pasangannya pasti berada di kotak perfect juga. Hanya ada satu past yang tersisa setelah past perfect disebut. Dengan enteng mereka menjawab, “Tentu past future perfect”.

    Penulis membenarkan. Itulah yang disebut tipe 3.

    “Sekarang, kalian buat kalimatnya. Perfect menggunakan verb 3,” kata penulis tanpa perlu lagi menjelaskan rumus. Mereka tahu perubahan become-became-become (menjadi) dan help-help-helped (menolong).

    Dengan santai mereka menjawab, “If I had become a doctor, I would have helped many people; or, I would have helped many people if I had become a doctor.” (Jika saya [dulu] sudah menjadi seorang dokter, saya akan sudah menolong banyak orang.)

    Kalimat ini sedikit membingungkan dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak usah khawatir karena penjelasan mengikuti. Simple past adalah kejadian masa lampau yang sederhana, sedangkan past perfect adalah kejadian yang lebih lampau dari simple past.

    Jika analoginya pada Adeeva dan Faika, saat ini mereka kelas 5 dan 4 SD. Bagi mereka, masa kelas 2 SD adalah simple past (masa lampau), sedangkan masa TK adalah past perfect (lebih lampau lagi).

    Ketika mereka masih kelas 2 SD, itu adalah simple past. Nah, kejadian lebih lampaunya adalah sewaktu mereka masih TK. Itulah past perfect. Faktanya, berada di simple past atau saat mereka masih kelas 2 SD bukan saat ini di mana mereka sudah tidak kelas 2 SD lagi.

    Nah, kalimat tipe 3 ini mengkhayalkan andai saja status “sudah menjadi dokter” itu sudah terjadi sejak TK (past perfect), maka dampaknya mereka sudah menolong banyak orang sepanjang masa lalu mereka, termasuk saat mereka kelas 2 SD.

    Lalu, bagaimana dengan faktanya? Faktanya ditarik ke seluruh realitas masa lalu mereka (simple past): nyatanya, sejak TK sampai kelas 2 SD dulu, mereka bukanlah dokter, melainkan anak-anak sekolah biasa. Karena faktanya di masa lalu mereka bukan dokter, maka khayalan tipe 3 ini murni penyesalan atau pengandaian atas masa lalu yang sudah selesai dan tidak bisa diubah lagi.

    Jadi, kalimat tipe 1, 2, dan 3 itu bukan kejadian sebenarnya, melainkan murni khayalan saja. Penulis sengaja menunda materi mixed 1 dan 2 karena masih perlu waktu untuk memastikan bahwa struktur kalimat yang mereka telah berhasil buat tersebut harus diikuti dengan pemahaman makna yang utuh. Mereka tahu gambaran umum, tetapi belum paham makna secara detail. Lagi pula, beberapa variasi kalimat conditional belum dijelaskan. Bila mereka mahir jebakan soal atau pemahamannya matang, materi mixed–terus terang sangat rumit dipahamkan pada anak SD–itu pasti akan jauh lebih mudah diajarkan bila makna dari tipe 1, 2, dan 3 tuntas.

    Beginilah realitas kalimat mengkhayal. Apakah Anda ingin menuntaskan realitas yang dikhayalkan, atau mengkhayalkan realitas?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 3 Agustus 2026

  • Logika Cerdas Mengolah Kata

    Logika Cerdas Mengolah Kata

    Mengenal kosakata itu mudah, tetapi mengenalkan kelas kata pada kosakata tidak mudah. Kenapa? Orang Indonesia bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar tanpa perlu kelas kata. Persoalannya, ketika bahasa masuk dalam pembelajaran akademis, menyusun kalimat dengan benar akan menjadi masalah yang besar.

    Bahasa Indonesia dan Inggris mempunyai kesamaan, menggunakan huruf latin. Istilah kelas kata (parts of speech) pada satu kata masih sangat mirip, bisa dicocokkan betapapun pengembangannya sangat berbeda. Memanfaatkan kesamaan tersebut, Miss Fathy Cayadi pada kelas bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete mengenalkan a student sebagai noun (kata benda), smart sebagai adjective (kata sifat), and there sebagai adverb (kata keterangan) yang umum dipakai sebagai pengatur untuk memperkuat pemahaman nominal tense (kalimat nomina). Kata kerja utamanya adalah Be: am, is, are untuk kalimat present dan was, were untuk kalimat past (lampau) biasanya diikuti oleh noun, adjective, and adverb.

    Pada penggunaan am, is, are di kalimat present, para pelajar sudah cukup akrab mengenalnya melalui game, praktik lisan dan bacaan. Hal yang sama pun kini diberlakukan pada was dan were di simple past. Fajar Hamzah yang berkesempatan hadir di RBB Tanete memberikan contoh sederhana:

    (+) I was there.
    (+) You were a student.
    (+) He was smart.

    Subjek yang dipakai pada kalimat adalah I, you, they, we, He (Adam), She (Hawa), dan It (A dog). Cakupannya meliputi kalimat positive, positive interrogative, negative, and negative interrogative.
    Dari sini, kita dapat membaca, dalam satu kalimat, terdapat empat perubahan. Karena terdapat sepuluh subjek, perubahan minimal empat puluh kalimat. Jika diacak, itu tentu akan jauh lebih banyak.

    Selanjutnya, mari kita ikuti ungkapan pepatah Arab: sekali ditulis seribu kali diulang. Dari segi jumlah, perubahan contoh di atas terlihat banyak. Ini bukan kelemahan melainkan keunggulan. Kuantitas yang banyak memungkinkan kualitas yang lebih baik. Para pelajar lebih banyak melakukan praktik pengulangan kalimat. Proses perulangan yang mempunyai banyak variasi kalimat meringankan otak untuk lebih mudah memahami.

    Patut diingat, karena begitu pentingnya materi ini dan agar selalu mudah diingat, metode oral exercise (latihan lisan) sebelum para pelajar pulang, mereka diwajibkan menyetor simple present dan tambahan satu hal, lawan kata dari adjective. Misalnya, hot vs cold, beautiful vs ugly dan old vs new untuk memperkaya perbendaharaan kata dan dapat digunakan pada kalimat nominal. Mr. Ancha menangkap kesan bahwa hal ini menumbuhkan keberanian berbicara sedikit lebihnya banyak, tidak terpaku pada hafalan rumus tense, betapapun rumus merupakan bagian dari cara memudahkan pembelajaran.

    Kekayaan pembelajaran ini terus berjalan. Selingan listening to a dialogue (menyimak percakapan). Ini adalah rekaman suara yang mengasah ketajaman telinga mendengarkan percakapan tanpa teks. Rekaman suara dari native speaker berkali-kali diulang untuk memperjelas apa yang dibicarakan. Guru kemudian memberikan jalan kemudahan dengan cara menanyakan sekaligus menjelaskan apapun yang sulit dimengerti, termasuk artinya ke dalam bahasa Indonesia.

    Dengan pemahaman dasar-dasar kelas kata dan simple present dan simple past pada nominal tense ini, masalah terumit pada pembagian kata kerja “be” hampir tuntas. Hal yang tersisa adalah penggunaan “be” pada future (akan datang), dan perfect (sempurna) yaitu been. Itu berarti, nominal tenses dengan segala perubahan kalimatnya dapat dipahamkan di luar kepala maksimal satu bulan ke depan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 2 Agustus 2026