Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Tanya Jawab Inggris secara Online

    Tanya Jawab Inggris secara Online

    Dua gadis cilik memperoleh kesempatan berharga bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris lewat zoom. Pilihan Miss Salma Minasaroh pada Adeeva kelas 4 SD dan Faika kelas 3 SD ini dari hasil pengamatan belajar anak anak di media sosial RBB (Rumah Belajar Bersama). Adeeva anak yang lancar berbicara, tamat dua cerita buku Inggris dan paham perundang-undangan tenses luar kepala dan Faika selain tamat juga dua buku berbahasa Inggris, jika juga peraih medali emas olimpiade Bahasa Inggris pada National Olympiad.

    Salma yang merupakan alumni Bahasa Inggris di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta dan UAD di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta serta BEC (Basic English Course) di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur tahu betul cara melakukan pendekatan pada anak anak agar suasana perkenalan tidak kaku. Ia terlebih dahulu mengirimkan dua puluh pertanyaan sederhana sebagai pembuka untuk dipelajari anak anak.

    Berikut pernyataannya:

    1. What is your full name?
    2. Spell your name, please.
    3. Where and when were you born?
    4. What is your father’s name?
    5. What is he? Or what is his job?
    6. What is your mother’s name?
    7. What is she? Or what is her job?
    8. What is your favourite drink? Why?
    9. What is your favourite food? Why?
    10. What are your hobbies?
    11. Who is your idol?
    12. What do you want to be?
    13. What favourite vegetable do you like?
    14. What favourite fruit do you like?
    15. Can you tell me about your last birthday?
    16. How many siblings do you have?
    17. What is the most important thing in your living room?
    18. What is the most important thing in your kitchen?
    19. What is your favourite spot at your home?
    20. What do you want to eat and drink (now)?

    Adeeva dan Faika terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk bertanya hingga tuntas. Setelah itu, Miss Salma balik bertanya. Anak-anak yang selama tiga hari dilatih cara menjawab soal oleh Mr..Ancha, pengajar RBB, berekspresi mengungkapkan gagasannya sebisa mungkin tidak menjawab dalam satu kalimat saja melainkan minimal dua atau tiga kalimat. Kedua anak tersebut pun puas.

    Sebagai pengembangan, anak-anak kembali bertanya :

    1. What is your job?
    2. Where do you study?
    3. What games do you like?
    4. What is your favorite color?
    5. Where do you live?
    6. What books do you like?
    7. What countries do you want to visit?
    8. How old are you?
    9. What kind of music do you like?

    Tentu saja Miss Salma menjawab dengan perlahan agar anak anak mengerti penjelasannya. Di sela-sela pertanyaan itu, Miss Salma juga memberikan pertanyaan lain. Sesekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar anak anak mampu menyusun jawaban dengan benar. Itulah tahap di mana tanpa disadari, anak anak Sulawesi Selatan memperoleh informasi tentang kehidupan di Jawa Tengah. Obrolan ini berjalan selama tujuh puluh menit.

    Inisiatif Miss Salma untuk terhubung dengan para pelajar berbakat secara online sangat membantu pelajar di berbagai daerah untuk mengenal dunia luar. Segelintir anak yang terpilih merasa menjadi istimewa dan termotivasi belajar lebih giat untuk bisa tampil lebih meyakinkan. Sedangkan anak anak yang belum memperoleh kesempatan ingin juga mendapatkan tiket untuk bisa juga tampil bicara dengan orang luar. Mereka makin tahu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk ngobrol Inggris dengan orang luar. Intinya semua itu memicu semangat belajar yang lebih tinggi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 10 April 2026

  • Teladan Kepemimpinan, Pendidikan dan Alam

    Teladan Kepemimpinan, Pendidikan dan Alam

    Ayatullah Ali Khamenei terkenal dengan sosok pemimpin Islam di Iran dengan kesederhanaannya. Di Indonesia juga ada tapi itu bukan presiden atau pejabat negara tapi pemimpin adat yang bernama Amma Toa, pimpinan ada di Kajang yang kehidupan masyarakatnya murni menyatu dengan alam. Kehidupan Amma Toa dan rakyatnya sungguh sederhana. Jangankan listrik, semua hal-hal yang berbau modernitas tidak boleh masuk di kawasan adat, Kajang Dalam. Bagi masyarakatnya yang ingin bersandingan dengan modernitas, silahkan saja tinggal luar kawasan adat, Kajang Luar.

    Pada Minggu (5/04/2026), penulis menghadiri pesta pernikahan anak kandung Amma Toa bernama Jaja Ramlah di Kajang Luar. Saat bersalaman dengan pengantin, Ramlah mengatakan, “Terima kasih Pung Nain’. Tentu penulis kaget. Dari mana ia mengenalku? Kan bukan orang terkenal. Penulis memang sering berkunjung ke rumah Amma Toa menemani tamu wisatawan mancanegara dan tokoh tokoh nasional termasuk Dina Sulaeman, pakar Timur Tengah (Tinur Barat) yang konsentrasi pada pembebasan rakyat Palestina dari penjajahan Israel tapi tidak pernah bertemu Ramlah. Tak ingin kikuk, segera setelah Ramlah bicara, ucapan “Semoga pernikahan kalian bahagia dunia hingga akhirat’ untuk membuat suasana tetap terasa akrab. Sejurus kemudian, sesi foro bersama rombongan kami dengan pasangan pengantin pun terjadi.

    Karena tidak banyak bisa terhubung dengan Ramlah, memori penulis langsung menghubungkan masa tiga belas tahun yang lalu, 2012 ketika memilih mengabdi untuk berbagi ilmu dengan rakyat Kajang berpusat di rumah Abdul Kahar Muslim dan SD (Sekolah Dasar) 115 Balagana — tempat Daeng Kamsuri Muslim, adik Daeng Kahar mengajar. Tepat setelah shalat subuh, anak-anak belajar di rumah Daeng Kahar dan di pagi, di sekolah. Waktu itu, belajar wajib sekolah mulai jam delapan pagi. Karena kegiatan ini hanya inisiatif dan tidak terdaftar di sekolah, jam mengajar yang penulis peroleh yaitu jam tujuh sampai delapan pagi. Wah, seru banget. Tidak menyangka, ruangan kelas selalu saja penuh karena anak-anak mau datang lebih awal. Mungkin, mereka menganggap pelajaran Bahasa Inggris itu hal baru dan menyenangkan . Ya, percakapan sehari hari dalam dalam permainan dan diterjemahkan ke dalam bahasa kaum, konjo. Sore hingga malam hari kegiatan belajar dilaksanakan lagi di rumah Daeng Kahar. Itulah yang terjadi dalam sebulan.

    Keinginan untuk berbagi ilmu ke Kajang muncul ketika masih kecil dan sering berlibur panjang di rumah Daeng Kahar di tahun 90-an. Beberapa waktu sebelum acara pernikahan Daeng Kahar dengan Andi Nurlindah, penulis menyaksikan belum ada sekolah didirikan di sana. Pemandangan sehari-hari adalah anak anak dan orang dewasa terang-terangan pakai badik di pinggang sambil beraktivitas, berjalan kaki atau naik kuda menuju suatu tempat. Jalanan aspal belum ada, apalagi sekolah. Malam hari menggunakan sulo (pelita). Sesuatu hal yang sangat berbeda di kampungku di Kalumpang, Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Itu adalah masa di mana penulis berniat melakukan sesuatu untuk rakyat Kajang, sekecil apapun itu. Dan alhamdulillah niat itu dapat terwujud dengan menemui Daeng Kahar setelah menyelesaikan kuliah Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

    Dari pengabdian tahun 2012 itu, gerakan pembaharuan yang digerakkan Daeng Kahar dkk tampak. Jalanan telah beraspal, listrik dan yang paling penting sekolah mulai dari TK hingga SMA telah tersedia. Kehidupan ekonomi rakyat tumbuh dengan banyaknya rumah-rumah kayu yang baru dibangun dan para muda-mudi banyak
    melanjutkan kuliah di universitas. Ini memang bukanlah Restorasi Meiji sebagaimana Jepang oleh Kaisar Meiji dengan nama asli Mutsuhito yang harus berperang menumpahkan darah para samurai untuk membuat modernitas masuk tapi sebuah jalan tengah agar rakyat Kajang tidak terhimpit dari kepungan modernisasi. Ramlah anak anak muda-mudi generasi zaman sekarang telah banyak yang sarjana dan punya beragam gagasan berkembang untuk memajukan Kajang yang tidak berbenturan dengan adat istiadatnya.

    Menjaga adat-istiadat mengantarkan Kajang sebagai penjaga hutan paling lestari dunia. Para sarjana kehutanan, intelektual, pengambil kebijakan dapat bercermin dari pengetahuan dan kearifan lokal Kajang dalam menahan laju para kapitalis super rakus yang merusak dan mengeruk bumi dan memproduksi cerobong asap mencemari udara yang membuat pemanasan global. Ini juga tanda bahwa betapapun manusia jadi serba modern, ia tidak boleh tercerabut dari rumpunnya, nilai nilai luhur yang tumbuh di masyarakatnya. Bila lupa, tutup mata atau pura-pura lupa, bencana besar pasti datang mengikuti. Modernitas juga harus terkontrol, tidak boleh membiarkan keuntungan ekonomi untuk segelintir orang semata karena hal itu semakin memperparah ketimpangan sosial masyarakat.

    Ayatullah Ali Khamenei, sosok pemimpin tertinggi Republik Islam Iran adalah simbol tokoh agama yang konsisten membela kaum tertindas di Palestina dan pengembangan ilmu pengetahuan rakyatnya di Iran telah mampu menunjukkan kemandirian kepada dunia, tidak bisa didikte oleh Amerika Serikat dan Israel*hell dan Amma Toa hutannya seluas sekitar 313, 99 hektar tetap bagian dari paru paru bumi tetap lestari sebagai pemimpin adat sama-sama hidup dalam kesederhanaan. Spirit agama dan budaya dapat hidup selaras yang tercermin dari sikap dan kehidupan kedua pemimpin tersebut. Kita tahu, kesederhanaan sosok teladan dari para pemimpin yang sudah begitu sulit ditemukan sekarang ini masih dapat kita temukan dari kedua tokoh ini. Mereka adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya.

    Selamat mengarungi hidup baru buat Jaja Ramlah, S. I. P. dan Zulkifli T., S.Kom. Semoga kedua pasangan mendapatkan ketenangan kehidupan dan saling menyayangi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 8 April 2026

  • Memori Kampung Inggris Pare

    Memori Kampung Inggris Pare

    Empat orang Bulukumba ini termasuk penulis pernah berguru di Kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Kec. Pare, Kab. Kediri, Jawa Timur. Kami bertiga Gusti Zainal alias Mr. Agung, Mr. Ancha dan Zulkarnain Patwa alias Mr. Patwa hadir di sana di awal tahun 2000-an ke atas dan belajar bertahun-tahun tapi yang paling lama adalah Agung Pratama Salassa alias Mr. Agung (junior) yang menghabiskan tujuh tahun karena ia memutuskan untuk tinggal sambil kuliah jurusan management.

    Gusti Zainal alias Mr. Agung yang menyelesaikan seluruh tahanan belajar grammar di SMART. Ia juga turut menggagas lahirnya Kresna di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur.

    Kampung Inggris Pare itu bukanlah kumpulan universitas tapi sekedar kursus-kursus yang masing-masing berdiri sendiri dengan ciri khas pengajarannya yang kaya dengan kajian segala hal tentang Bahasa Inggris. Ada speaking, listening, pronunciation reading, and writing (bicara, mendengarkan, pengucapan, membaca dan menulis) untuk segala tingkatan. Kekayaan pengetahuan yang disertai lingkungan yang sangat kondusif plus biaya yang terjangkau menjadi daya tarik kebanyakan masyarakat Indonesia untuk datang. Dan kami adalah orang-orang yang mengakui kwalitasnya karena telah menjalani proses belajar pada pengetahuan yang ditawarkan di berbagai tempat kursus. Bahkan, Mr. Ancha yang pernah tinggal selama dua tahun mengaku ia hampir memasuki semua lembaga kursus di Pare hanya untuk mengenal metode pengajarannya dan hiburan.

    Dari berbagai sudut daerah, anak Sulawesi tergolong sangat banyak dan paling terkenal karena mendirikan perkumpulan bernama Asset (Association of Sulawesi Students). Pada masa kami, kegandrungannya adalah belajar di SMART, satu satunya lembaga kursus yang memakai sistem ujian kelulusan untuk bisa naik tingkat. Bagi anak Asset, itu sungguh menarik karena terdapat tantangan untuk menaklukkan soal soal ujian SMART yang penuh dengan jebakan. Kami adalah kumpulan orang-orang yang tidak mau kalah dan untuk menang, kami harus belajar. Jelang ujian, kami dari Assets sering kali berkumpul membahas soal soal yang memungkinkan keluar. Mereka yang berada di level lebih tinggi yang membantu orang-orang yang berada di level bawah. Semua itu dilaksanakan secara gratis. Sebenarnya sih, ada budaya siri (malu yang erat kaitannya dengan harga diri) juga kalau tidak lulus. Ledekan meskipun dalam bentuk candaan menurunkan harga diri juga, sungguh tidak enak didengarkan.

    Silaturahmi Gusti Zainal ke penulis di Rumah Belajar Bersama di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selain membahas Bahasa Inggris kami saling memotivasi untuk menulis buku.

    Patut diakui, soal soal SMART itu sungguh luar biasa, jebakannya cerdas. Meskipun sudah pontang panting belajar, hanya segelintir saja anak Asset yang lulus. Tapi namanya juga turunan pelaut dan petarung, Assets tetap saja terus mengadakan pelatihan hingga anggotanya banyak lulus. Miss Agustina Dewi, salah satu pengajar pintar di SMART dan selalu digosipin kecantikannya pada waktu itu, terheran-heran dan kagum dengan spirit belajar anak-anak Asset.

    Dari hasil obrolan pada nostalgia yang terpampang di foto, daya tarik SMART dan Kampung Inggris secara umum adalah orang orang yang punya pemikiran kritis atau pernah belajar dasar dasar pembelajaran filsafat, materi Bahasa Inggris asyik dipanah panah dengan pertanyaan. Misal kenapa ‘an ant bites a sugar’ (Seekor semut menggigit sebutir gula) tidak boleh pakai kata ‘a’ bermakna sebutir. Kenapa ‘a’ atau ‘I’ adalah kata padahal itu huruf. Kenapa ‘We are being stupid’ (Kami sedang goblok) itu juga tidak boleh. Mungkin jawabannya karena kami pintar ya. ๐Ÿ˜€ Narsis. Kenapa, kenapa dan kenapa? Pertanyaan tiada henti.

    Zaman terus bergerak. Kampung Inggris Pare telah menjadi semakin booming ditambah lagi dengan penetapan Pemerintah Daerah Kab. Kediri yang menjadikan Kampung Inggris itu sebagai Wisata Pendidikan. Frase ‘Wisata Pendidikan’ itu mendapat kritik dari Miss Uun Nurcahyanti, pendiri SMART. Mana mungkin orang belajar sekedar liburan sekolah dalam dua minggu atau sebulan atau dua bulan itu bisa menghasilkan kwalitas yang baik? Secara ekonomi itu bagus saja meningkatkan penghasilan masyarakat setempat dan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Manusia memang tumpah ruah ke Pare tapi patut diingat bahwa yang paling penting dikedepankan adalah proses belajar yang tersistematis dan itu prosesnya pasti tidak bisa instan, butuh waktu. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan harus mengedepankan kwalitas, bukan jumlah betapapun jumlah itu tetap penting untuk menggerakkan lembaga. Pendidikan itu bukan pasar.

    Kami berempat dari Bulukumba, ujung Sulawesi Selatan pada peta berhuruf K merupakan sekumpulan kecil manusia yang tanpa pernah bersepakat untuk bertemu dan hidup selama bertahun-tahun di Kampung Inggris telah menikmati, memperoleh dan sedikit banyak mengerti spirit pendidikan yang diusung di sana tentu akan berupaya untuk menjaga dan mengembangkan proses belajar yang bertahap dan terukur. Kita ingin turut terlibat mencetak generasi yang dengan pengetahuannya mampu menjawab tuntutan perubahan zaman.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 7 April 2026

    Note:
    1. Special to Mr. S Lainin Nafis di Kampung Inggris sana, dapat salam dari Mr. Agung. Semoga lembaga yang anda buat terus maju.

    2. Matematika
    Di Kampung Inggris Pare itu juga menyediakan kursus Matematika. Salah satu yang menjadi rekomendasi adalah Math Master yang membuat penyempurnaan dari kelemahan Sempoa Cina, Rusia dan Jepang. Namanya sempoa 99 yang ditemukan oleh Mr. Saefuddin. Anda bisa mengenal lebih jauh dengan menghubungi akun FB Mariyanti Yanti

  • Bahasa

    Bahasa

    Temukan cara belajar yang membuat dirimu bahagia. Itulah yang gencar diterapkan oleh guru-guru di Finlandia yang dikenal sebagai pendidik terbaik di dunia. Anak-anak mereka lancar berbicara sampai empat sampai lima bahasa asing adalah hal biasa. Di negeri kita, satu bahasa saja sulitnya minta ampun. Padahal Bahasa Inggris telah menjadi kurikulum sekolah diterapkan di SD.

    Di lembaga pendidikan alternatif, cara belajar orang tidaklah mesti seragam. Para pelajar bisa duduk di atas balon sambil membaca. Ekspresi mereka tidak boleh dikekang, harus bebas agar mereka bisa menikmati apa yang mereka pelajari. Yang perlu dikekang adalah jika merasa datang untuk sekedar bermain saja, bukan belajar. Dan agar mereka tidak merasa terpaksa, lingkungan suasana belajar memang perlu diciptakan. Yang kita lakukan adalah menyediakan alat permainan semisal balon besar untuk duduk dan buku-buku sebagaimana di foto ini. Mereka senang bermain sambil membaca.

    Setelah bacaan selesai, kami mengajak mereka bercerita dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang erat kaitannya dengan bacaannya hingga pada tahap mengungkapkan sendiri pandangannya. Apakah mereka sepakat dengan hal-hal yang dijelaskan di buku atau tidak? Tidak peduli benar atau salah, yang penting mereka berani mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Salah dan benar bahkan dapat dijadikan pertanyaan lanjutan. Dengan demikian, mereka tidak sekedar bercerita tapi juga belajar berargumentasi.

    Pendidikan yang membebaskan menanamkan benih kemandirian berpikir. Membaca buku itu bagus saja tapi itu bisa jadi sangat berbahaya jika sekedar mengutip pemikiran di buku. Apa bedanya bedanya manusia seperti dengan mesin foto copy? Untuk apa sekolah bila para pelajar hanya menyontek? Membaca harus mampu mengembangkan cakrawala berpikir, mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi.

    Bahasa internasional sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan yang digerakkan dengan literasi membuka akses untuk mengenal lebih dekat pada pemikiran dan peristiwa dunia. Pendidikan di Finlandia yang membuat pelajar SD aktif beberapa bahasa asing patut dipelajari cara menerapkannya secara efektif di sekolah. Indonesia juga kaya dengan ratusan bahasa daerah tapi mengapa belajar bahasa Inggris di sekolah sangat susah dipelajari? Keaktifan berbicara dan membaca buku buku berbahasa Inggris yang perlu diterapkan secara massif minimal bahasa Inggris itu dibiasakan seperti Bahasa Daerah. Itu jlalan kemudahan bagi pelajar untuk tidak takut membaca teks Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 5 April 2026

  • Berprestasi untuk Apa?

    Berprestasi untuk Apa?

    “Eh, tawwa. Juara Bahasa Inggris se-Indonesia’, kata A. Zafira Aeesyah Putri. Sapaan senang itu disampaikan Aeesyah di kumpulan teman-teman kelas Bahasa Inggris saat Faika Qinara Putri Ridwan tiba di RBB (Rumah Belajar Bersama). Maklum, mereka baru saja bertemu setelah liburan Ramadhan dan Idul Fitri. Kekaguman Aeesyah itu ungkapkan karena ia mendapatkan informasi bahwa Faika telah meraih emas pada kejuaraan Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Academic Olympiad);yang dilaksanakan sebelum Ramadhan. Rekan-rekan Aeesyah pun turut mengucapkan selamat dengan ucapan berbeda-beda. Membahagiakan deh. Faika tersenyum bergembira disertai senyum dengan wajah malu.

    Kelas Faika berbeda dengan Aeesyah namun bila pelajaran Faika telah selesai, ia selalu datang ke kelasnya Aeesyah dengan maksud bermain tapi penulis selalu memanfaatkan kehadiran Faika untuk membantu teman-temannya agar lancar membaca sebagaimana dirinya. Aeesyah yang tidak tertarik mengulang bacaannya tapi bila diajak berlatih bersama Faika, ia tergerak hati untuk membuka bukunya lagi, membaca untuk kedua kalinya. Faika tidak terburu-buru dalam membaca agar Aeesyah bisa mengikuti dan bila terjadi kesalahan, Faika bersedia mengulang ulang kumpulan kosa kata yang sulit hingga Aeesyah mengucapkan dengan benar. Kadangkala,. keduanya tertawa lepas bila Aeesyah tidak sanggup mengucapkan dengan benar. Itu hal yang lucu, bukan memalukan.

    Mengakrabkan kedua anak kelas 3 SD ini adalah trik yang jitu dalam memotivasi semangat dan ketekunan belajar. Aeesyah bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama) sekitar tiga bulan lalu. Wajarlah bila dalam pikirannya lebih banyak didominasi bermain. Sedangkan Faika, ia telah bergabung sejak TK. Tapi namanya juga anak anak, Faika merasa lebih nyaman bergabung bermain di kelasnya Aeesyah karena di kelasnya, terdapat anak SMP dan SMA yang cara bermainnya berbeda dengannya.

    Di luar jam belajar atau saat anak anak sedang keluar main, penulis perlahan menerangkan proses belajar Faika hingga bisa juara. Itu terjadi karena Faika rajin mau rajin membaca, menamatkan beberapa buku dan praktek bicara menjelaskan kehidupan sehari-hari di depan kamera video dalam Bahasa Inggris. ‘Iya ji Mister’, kata seorang anak bernama Nabila yang tidak ingin waktu bermainnya diusik. ๐Ÿ˜€

    Penulis tahu, tugas membaca memang hal membosankan namun jalan ini harus ditempuh. Masa yang terbaik menanamkan kebiasaan membaca adalah masa anak-anak yang diharapkan terus terbawa hingga dewasa.
    Dalam Al Qur’an, terdapat iqra (bacalah!). Itu adalah kalimat perintah. Perintah itu adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan. Sekilas mengutip argumentasi Cak Nun, mengapa diwajibkan? Karena Tuhan tahu manusia tidak menyukainya. Dan agar manusia punya pengetahuan luas yang membedakannya dengan makhluk yang lainnya, ia harus membaca. Tidak bisa tidak. Bila ada kritik bahwa membaca itu bukan sekedar teks, itu benar juga. Tulisan ini bermaksud untuk turut membumikan literasi.

    Mendesain para pelajar sejak anak-anak mengikuti kompetisi hingga meraih juara adalah salah satu strategi yang baik untuk membangkitkan semangat dan ketekunan belajar yang lebih tinggi. Mereka bisa mengukur kwalitas dirinya dan membangun kepercayaan diri menghadapi tantangan. Persoalannya adalah tidak boleh menyerah karena dalam kompetisi ada kalah dan menang. Bila kalah, harus segera bangkit dan mempersiapkan diri lebih baik lagi. Mental demikian yang berkembang dalam diri Faika dan disebarkan kepada sahabatnya Aeesyah dan pelajar pelajar lainnya agar dapat berprestasi, mendapatkan hadiah dan berbahagia.

    Zulkarnain Patwa
    Bullukumba, Sabtu, 4 April 2026

  • Membuat Pertanyaan

    Membuat Pertanyaan

    Apakah kita terbiasa melatih para pelajar kita membuat pertanyaan? Biasanya mereka dilatih menjawab pertanyaan-pertanyaan. Mereka yang terbiasa bertanya selalu berupaya menemukan jawaban. Para filosof bahkan malahan masih mempertanyakan jawaban. Dengan demikian pengetahuan terus bergerak.

    Dalam Bahasa Inggris, cara membuat pertanyaan disebut Information Question (pertanyaan informasi) yang berisi segala bentuk model pertanyaan. What, who, whom, why, where dan how (apa, siapa untuk subjek, siapa untuk objek, kenapa dan bagaimana) adalah materi inti yang harus diketahui polanya dengan baik sebelum melangkah pada ragam variasi pengembangannya. Pelajar yang sanggup mempertanyakan setiap kata yang mengandung seluruh Information Question dalam satu kalimat dapat dipercaya bahwa ia mengerti materi tersebut.

    Bagaimana cara mencapainya? Tahap utama adalah mengerti tenses. Ini tidak bisa ditawar-tawar karena terdapat pola pertanyaan positive interrogative yang menjadi pengantar masuk ke information question. Tahap kedua langkah lebih baik bila pelajar tersebut part of speech (kelas kata). Tapi karena materi ini terlalu panjang untuk dipahamkan, ada baiknya cara membuat pertanyaan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sehingga meskipun pemahaman part of speech dari pelajar terbatas, information question tetap dapat dibuat karena pelajar bisa menggunakan logikanya sendiri untuk menempatkan pertanyaan yang sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.

    Mungkinkah ini diterapkan pada anak-anak? Patut diakui bahwa hanya segelintir saja anak anak SD yang bisa mempelajarinya. Hal ini bisa saja disebut banyak asalkan memenuhi syarat tahap pertama, memahami tenses. Kami sedang mengembangkan pembelajaran ini untuk dimengerti oleh anak SD. Seorang pelajar berbakat bernama Adeeva, kelas 4 SD, sedang mempelajari information question ini, berlatih tanpa secara lisan dengan harapan dapat dipergunakan dalam komunikasi, percakapan. Dalam dua hari, ia sanggup membuat pertanyaan menggunakan what, whom dan where (apa, siapa untuk objek dan dimana) pada seluruh struktur tenses.

    Untuk lebih jelas, kita hadirkan contoh.

    + You study English at school.
    + Kamu belajar Bahasa Inggris di sekolah
    +? Do you study English at school?
    +? Apakah kamu belajar Bahasa Inggris di sekolah

    Information Question menggunakan What dan where. Dari kalimat simple present pada pola +? (Positive Interrogative) tersebut yang diolah dengan menghilangkan hal yang ditanyakan.

    Menanyakan ‘English’ menggunakan ‘what’.

    What do study at school?
    Apa yang kamu pelajari di sekolah?
    Jawaban: English (Bahasa Inggris).

    Menanyakan ‘at school’ menggunakan ‘where’.

    Where do you study English?
    Dimana kamu belajar Bahasa Inggris?
    Jawaban: at school (di sekolah).

    Karena kita mengajarkan pada anak SD, penggunaan contoh pertanyaan ‘whom’ (siapa) dibuatkan kalimat baru.

    + Adeeva meets Adam at school.
    + Adeeva bertemu Adam di sekolah.
    +? Does Adeeva meet Adam at school?
    +? Apakah Adeeva bertemu Adam di sekolah?

    Menanyakan ‘Adam’. Karena kata ‘Adam’ berada pada posisi objek, menggunakan ‘whom’ bermakna ‘siapa’, bukan ‘who’ yang artinya juga ‘siapa’.

    Whom does Adeeva meet at school?
    Siapa yang Adeeva temui di sekolah?
    Jawaban: Adam.

    Pola perubahan ini berlaku untuk seluruh tenses sehingga relatif mudah untuk membuatnya asalkan tahu pola kalimat +? (positive interrogative). Contoh pemahaman yang baik yang dilakukan oleh Adeeva adalah bukti bahwa hal ini mampu diterapkan pada anak anak. Ya, memang ada kendala pada cara membuat pertanyaan yang menanyakan subjek tapi itu bisa dijelaskan di akhir agar tidak campur aduk alias membingungkan dengan materi di atas.

    Melatih cara membuat pertanyaan dengan struktur yang benar sebagaimana pembelajaran bahasa juga dibahas secara detail dalam materi logika dimana premis (peryataan) dijadikan pertanyaan. Keduanya saling berkaitan selain sama-sama suka bertanya, mereka menuntut kaidah (aturan)! yang benar. Bukankah membuat pertanyaan demikian adalah cara menemukan informasi yang benar? Biarkan pengetahuan terus bergerak maju.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 3 April 2026

  • Hemat Waktu

    Hemat Waktu

    Satu-satunya pelajar yang setelah pulang sekolah langsung belajar lagi adalah Rhenald Karuna Tanzil. Sekolah Rhenald di SMPN 1 Bulukumba, sekitar 100 meter dari RBB (Rumah Belajar Bersama). Jarak yang dekat ini membuatnya menghemat waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhannya mahir berbahasa Inggris. Ganti pakaian seragam sekolah dengan pakaian harian, itu tidak perlu baginya.
     
    Rhenald terkadang terlihat sangat kelelahan dan mengantuk. Mungkin itu efek tugas atau kegiatan sekolah yang padat. Bila itu terjadi, ia akan duduk saja tanpa mengerjakan latihannya. Mr. Ancha, guru utama kelasnya, pun maklum dan membiarkannya hingga rasa capeknya hilang. Ia menentukan sendiri kapan waktu yang tepat untuk belajar.
     
    Perlahan tapi pasti, pelajar kelas 1 SMP ini ternyata telah tamat buku Basic English Grammar (tata bahasa Inggris dasar) yang tebalnya hampir 600 halaman. Wajar bila ia jarang sekali menanyakan persoalan pelajaran sekolah. Yang ia pikirkan adalah bagaimana cara menamatkan buku grammar tahap kedua yang akan memudahkannya menghadapi pelajaran sekolah tingkat SMA.
     
    Untuk urusan reading (bacaan), ia telah mampu mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Inggris dengan lumayan fasih dan relatif tidak ada kendala yang berarti memahami cerita cerita bacaan Inggris sederhana. Hal ini ia peroleh dari kebiasaannya praktek membaca setelah ia menjawab soal-soal cerita. Latihan seperti ini perlu terus ia lanjutkan agar tercipta keselarasan antara grammar dan reading yang akan sangat berpengaruh pada speaking-nya.
     
    Dibalik kemajuan Rhenald ini, bukan berarti ia tidak punya masalah dalam proses belajar. Sikapnya yang pendiam membuatnya jarang bertanya. Ia cukup percaya diri dengan jawaban-jawaban yang ia buat pada latihannya. Konsekuensinya, takkala dicek, ia harus banyak melakukan perbaikan. Beruntung, ia telah mengerti Basic Grammar sehingga dengan segera, ia dapat menyadari kenapa ia salah dan melakukan perbaikan sendiri.
     
    Keunggulan cara belajar Rhenald terletak pada ketekunannya yang terus bergerak maju. Sebagian orang enggan melanjutkan latihannya karena salah dalam menjawab atau tidak tahu. Pemikiran tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Rhenald. Justru karena ia membuat kesalahan, ada jalan perbaikan Dari kesalahan-kesalahan pada jawabannya, para guru yang membantunya jadi lebih tahu materi apa yang Rhenald belum pahami secara utuh. Itulah yang didiskusikan bersama sampai ia benar-benar mengerti.
     
    Seragam sekolah yang terus melekat di tubuhselama di RBB dan cara belajar belajar Rhenald ini menghemat banyak waktu. Ia tampil dengan caranya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya mahir berbahasa Inggris yang menurutnya akan ia gunakan untuk lulus bersekolah di salah satu SMA terbaik pilihannya nanti dan cita-cita yang lebih tinggi lainnya di masa mudanya kelak.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 3 April 2026

  • Matematika Tidak Menakutkan

    Matematika Tidak Menakutkan

    Pernahkah anda membayangkan anak kelas 1 atau 2 SD mengerti perkalian 1 sampai 9 di luar kepala? Patta Tiro Daeng Malaja anak yang tergolong pandai berhitung dan diakui oleh teman teman sekolahnya. Sejak TK, Tiro telah ikut pelajaran matematika dimana setelah kelas belajar selesai, Hermayanto Daeng Malaja, ayahnya Tiro, tidak langsung membawanya pulang ke rumah melainkan mengambil papan tulis dan spidol dan melakukan pengulangan penjumlahan, perkalian dan pengurangan.

    Kebiasaan berhitung ini tertanam dengan baik dalam diri Tro. Ia telah terbiasa dengan penjumlahan angka puluhan dan perkalian. Penguatannya terletak pada Modul Perkalian dan Pembagian Metode 40. Berbagai macam jurus dilakukan agar ia mau menjawab soal soal sebanyak 40 kali untuk satu tahapan materi. Anak TK ini bukan lagi belajar menulis angka tapi menjawab angka-angka dengan benar menggunakan pikirannya sendiri.

    Merasa cukup aman, Tiro pun kemudian ‘menghilang’ dari RBB (Rumah Belajar Bersama) dalam waktu cukup lama. Lalu ia masuk kelas 1 di SDN 2 Terang-Terang Bulukumba, Sulawesi Selatan–Salah satu sekolah terbaik. Setelah kelas 2 SD, ia baru kembali ke RBB. Ayahnya menyampaikan kabar gembira bahwa Tiro terkenal pintar berhitung berbagai pelajaran lainnya kecuali seni. Pendeknya. Ia anak berprestasi di sekolah. Itu kami dapat percaya karena Tiro punya pemahaman dasar-dasar berhitung dan wajah polosnya juga mengiyakan pernyataan ayahnya

    Pada pertemuan pertama, kami mencoba mengecek ulang pemahaman Tiro pada perkalian secara lisan. Ia lancar dan cepat menjawab pada soal perkalian acak 1 sampai 5. Pada perkalian 6 sampai 9, ia juga mampu melakukannya dengan baik tanpa sekalipun melihat catatan. Cuma saja, ia masih butuh waktu yang cukup luang untuk bisa menjawab dengan benar. Ia masih membutuhkan beberapa pertemuan untuk paham seluruh perkalian secara acak sebelum masuk materi pembagian secara acak juga. Setelah itu, ia akan mempelajari kuadrat, pecahan, persen dan sebagainya.

    Kecerdasan anak seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa, biasa saja. Tapi karena realitas di lingkungan sekitar kita, banyak anak anak sekolah yang hingga kelas 4 SD belum mampu menjawab dengan cepat penjumlahan sederhana, terlebih lagi perkalian, Tiro terlihat istimewa di sekolahnya. Masalah ini sebenarnya mudah terselesaikan. Cukup mengikuti cara yang dilakukan Tiro sebagaimana yang dijelaskan di atas atau menjadikan kegiatan berhitung itu sebagai aktivitas anak sehari-hari di rumah masing-masing.

    Dengan demikian, bayangan kita kepada anak anak kelas 1 atau 2 SD lancar perkalian ataupun sederetan aritmatika sederhana dapat terwujud sehingga Matematika yang sering dianggap pelajaran menakutkan itu bukan lagi masalah bagi anak-anak kita. Mereka akan senang berhitung sebagaimana Tiro dan anak anak pintar lainnya.

    Zulkarnain Patwa

  • Kepentingan Kuliah

    Kepentingan Kuliah

    Belajar sejak buaian ibu hingga ke liang lahat. Pengingat yang disampaikan Nabi Muhammad SAW ini mengajak manusia untuk tidak berhenti belajar. Ada kalanya orang dewasa mengatakan bahwa dirinya sudah tua, tidak sanggup lagi menerima pelajaran atau alasan kesibukan dan yang paling berat adalah malas. Pada hal ia tahu bahwa untuk mewujudkan hal yang ingin diraihnya, ia harus menuntut suatu bidang ilmu tertentu.

    Khadijah, berkacamata, mahasiswa yang hampir tamat S 2 (strata dua) sedangkan Nilam telah tamat S 1 (strata satu). Mereka belajar Bahasa Inggris untuk mengejar beasiswa karena berencana untuk kuliah lagi. Target yang ingin dicapai adalah lulus TOEFL (Test of English as a Foreign Language), sebuah standar akademik yang telah lama diterapkan di universitas ternama di Indonesia. Sebelum mereka sepakat belajar, kami terlebih dahulu memberikan gambaran bahwa untuk sampai pada pembelajaran TOEFL itu butuh proses yang panjang. Soal-soalnya mencakup grammar, reading dan listening (tata bahasa, bacaan dan mendengarkan percakapan). Namanya juga tes standar internasional, kosa-kata yang dipakai adalah yang tidak lazim digunakan.

    Rekan-rekan di RBB (Rumah Belajar Bersama) sekarang diisi oleh guru-guru Bahasa Inggris yang bertahun-tahun fokus belajar di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Mereka meyakinkan Khadijah dan Nilam bahwa TOEFL itu bukanlah pelajaran yang sulit asalkan para pelajar mau peduli pada akar-akar pengetahuan alias basic. Kebanyakan orang gagal karena mereka langsung ikut pelatihan TOEFL tanpa punya pondasi dasar. Hasilnya pastilah berantakan.

    Kita ingin para pelajar kita tidak hanya mampu menggunakan Bahasa Inggris tersebut untuk kepentingan pragmatis semisal lulus TOEFL untuk memperoleh beasiswa tetapi juga mampu menjadikan bahasa sebagai alat memperoleh pengetahuan dengan kemampuan membaca jurnal-jurnal dan buku-buku berbahasa Inggris. Bela perlu, mereka bisa menulis dalam Bahasa Inggris.

    Untuk itu, para pelajar tidak perlu terburu-buru. Ya, itu memang membutuhkan waktu lebih banyak tapi hasilnya tentu berbeda. Kami pun sedikit berbagi pengalaman. Mr. Ancha, Mr. Agung dan penulis yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Kampung Inggris belajar membangun basis pengetahuan dari dasar meliputi reading, speaking, grammar dan listening di berbagai macam tempat sebelum sampai pada TOEFL. Pengalaman ini tidak mesti sama ke Khadijah dan Nilam dan pelajar lainnya tapi pada intinya, proses belajar secara terstuktur itu sangat penting untuk mencapai hasil yang maksimal.

    Khadijah dan Nilam yang terdidik itu tentu sepakat dengan tawaran kami. Mereka pun menjalani proses belajar pada Reading, grammar dan pronunciation (pengucapan). Mereka pun tidak canggung bergaul dengan para pelajar sekolah yang lebih muda darinya. Para pelajar SD (Sekolah Dasar) malahan selalu mencari Miss Nilam, panggilan akrab anak-anak, saat tidak melihat Nilam berada di kelas. Ya, layaknya kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, tidak ada sekat antara para pelajar anak-anak dan orang dewasa. Semua kalangan menikmati dunia belajar dengan riang gembira.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 1 April 2026

  • Permainan Serius

    Permainan Serius

    Belajar dengan suasana bermain adalah pilihan yang diberikan pada anak anak setelah pembelajaran serius selesai. Para anak-anak telah menyelesaikan beberapa lesson (pelajaran) Bahasa Inggris dan telah merasa capek membaca. Guna memanfaatkan waktu yang tersisa, mereka bermain kartu joker untuk belajar penjumlahan menggunakan penyebutan Bahasa Inggris.

    Syarat yang diberikan sederhana. Yang boleh menjawab soal adalah yang menyebutkan angka misal 5 + 7. Mereka terlebih dahulu harus menyebut five times seven. Itulah yang berhak menjawab. Bila tidak, meskipun jawaban benar, yang menjawab tidak mendapatkan poin. Pada akhirnya, tiap anak yang ikut lomba, berpikir dalam kosa-kata Inggris dan kemampuan berhitung sederhana juga terasah.

    Bagi anak-anak yang merasa lancar dalam berhitung selalu mau tampil pertama dan mencari lawan yang sepadan. Para pelajar ang lainnya tidak mau kalah. Mereka pun melakukan yang sama sembari menunggu yang sedang bertanding selesai sembari berpikir pikir siapa orang yang seimbang untuk dihadapi. Cara ini cukup adil. Poin yang diperoleh tidak melambung jauh, poin bersaing dengan ketat yang membuat mereka selalu semangat dalam menjawab lebih cepat.

    Kendala yang paling sering mereka temui adalah mengetahui jawaban benar dalam bahasa Indonesia tapi salah penyebutan atau bahkan tidak tahu mengungkapkan dalam Bahasa Inggris. Bila ini terjadi, orang-orang akan tertawa bersama. Para penonton yang tahu jawaban biasanya ikut membantu menjawab baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Bila demikian, biarpun peserta menjawab benar, soal dianggap batal. Tidak ada poin.

    Sedemikian serunya permainan ini, meskipun jam belajar telah berakhir, para pelajar tetap ingin melanjutkan permainannya. Orang tua pelajar yang telah datang menjemput mesti sabar menanti hingga permainannya selesai karena mereka tidak mau pulang. Guru pun harus meminta kepada orang tua pelajar agar berkenan sedikit menanti. Dan agar tidak kelamaan, dicarilah trik agar permainan segera selesai dengan jalan mengurangi jumlah kartu yang akan dijadikan soal.

    Dalam mendidik, kita pasti ingin agar materi yang diberikan itu mampu dikuasai oleh pelajar kita. Ini memang harus serius dikerjakan tapi kita juga tidak lupa bahwa santai dalam belajar itu penting. Bagi anak-anak, santai itu lebih penting daripada serius. Betapapun mereka berada dalam lingkungan belajar, mereka ingin bermain. Oleh karena itu, kita mesti cerdas merancang kegiatan belajar yang dunia bermain yang serius dapat menyemangati dan mendukung kemajuan dalam belajar.

    Zulkarnain Patwaย 
    Bulukumba Selasa, 31 Maret 2026