Kampung Belajar Menembus Kemustahilan

Mendidik segelintir manusia sangat efektif menggunakan personalized learning (pendekatan per individu). Terdapat cukup waktu untuk mengelola potensi manusia yang daya serapnya berbeda-beda. Pelajar yang pelajarannya tertinggal dapat bertanya lebih banyak dan guru langsung punya kesempatan . Guru langsung dapat mengetahui kendala pelajar tanpa menunggu waktu lama untuk segera mengatasi masalah. Alhasil , proses interaksi dan feedback (umpan balik tercipta dengan intens.

Bila kita membandingkan dengan sekolah umum, personalized learning ini sangat sulit diterapkan disebabkan jumlah pelajar bisa mencapai lebih dari 40 orang dalam satu kelas. Namun ada yang menarik yang penulis temukan tatkala berkunjung ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Insan Cendekia, sekolah yang.didirikan B. J. Habibie, di Gorontalo pada 2011. Gurunya menerangkan bahwa dalam satu kelas jumlah maksimal 20 sampai 24 orang saja. Ini bukan berarti peminat sekolah itu sedikit, tapi kebalikannya–peminat tumpah ruah se-Indonesia dengan kuota yang sangat terbatas.

Rasa kaget tidak terhenti sampai di situ saja. Guru itu melanjutkan bahwa pelajar yang kelas 2 sudah mempelajari soal-soal ujian persiapan masuk perguruan tinggi. Banyak alumninya mendapatkan tawaran beasiswa dari luar negeri seperti Jerman dan Amerika namun sayang sekali, sebagian kecil saja memanfaatkan peluang tersebut karena selain beasiswa yang kadang tidak penuh, orang tua pelajar khawatir anaknya kuliah di tempat yang jauh utamanya perempuan.

Potret pendidikan di MAN Insan Cendekia Gorontalo sangat sejalan dengan Rumah Belajar Bersama (RBB). Setelah pembelajaran teori yang dikuatkan dengan praktik, satu per satu pelajar tampil di depan kamera, siaran langsung di media sosial tanpa editing. Efeknya, tiap orang orang berpikir tidak mau terlihat bodoh disaksikan oleh publik. Karena itu, sebelum memperoleh kesempatan, mereka memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memahami materi yang akan disampaikan.

Sekarang ini RBB sedang menjalankan Kampung Belajar—program berbahasa Inggris selama liburan sekolah selama satu bulan dengan sembilan jam belajar sehari. Memasuki hari keempat, pelajar dan telah tampil berkali-kali yang dimulai dari kosakata, percakapan dan tata bahasa. Perkembangan luar biasa terlihat pada kelas mengarang. Hasil karangan tersebut diterjemahkan oleh guru kelas dan kemudian pelajar berlatih bicara dalam bahasa Inggris. Tiga orang telah berhasil tampil menceritakan impian masa depannya dalam bahasa Inggris dan disiarkan secara langsung di Facebook. Itu lumayan mengagetkan bagi banyak orang.

Bagaimana mungkin pemula secepat itu?

Jawabnya terjelaskan pada jam belajar yang padat disertai kualitas materi. Pelajar diminta untuk menjadi dirinya sendiri sehingga tidaklah sulit untuk menemukan bahan yang hendak dikisahkan. Bagaimana dengan pelajar yang masih takut? Itu hanyalah ketakutan semu. Di Kampung Belajar, semua orang diberikan kebebasan berekspresi: selama ekspresi tersebut tidak mengganggu kegiatan belajar, dilarang melarang berlaku.

Pendekatan personalized learning di Kampung Belajar—yang hanya diikuti oleh kurang dari sepuluh peserta dan dibimbing oleh tiga guru berbakat alumni Kampung Inggris Kediri, Jawa Timur—sangat berpotensi menciptakan “faktor wow”. Di sinilah para pelajar menciptakan terobosan baru yang diharapkan mampu menginspirasi pelajar lainnya, sekaligus membuktikan bahwa hal-hal yang dianggap mustahil sebenarnya sangat bisa diwujudkan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 18 Juni 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *