Salah Kaprah tentang Pinisi

Silaturahmi Dr. Horst Liebner ke Rumah Belajar Bersama (RBB) tak lepas dari pembicaraan tentang pelestarian perahu tradisional Indonesia khususnya Sulawesi Selatan di mana ia mengajak penulis bergabung menuliskan isu-isu penting yang perlu diperkenalkan kepada khalayak umum. Terus-terang, peneliti yang sekaliber Horst membuat penulis merasa tidak punya kapasitas yang cukup untuk berdampingan dengannya, tapi ia meyakinkan bahwa apa yang penulis nantinya tuangkan bukanlah hal yang rumit sebagaimana yang ia kerjakan selama ini.

Kami pun membahas beberapa tulisannya untuk mencari padanan kata yang lazim dan tepat untuk konsumsi publik. Terjadilah perbedaan paham yang saling menguatkan dengan argumentasi. Ah! Asyik juga. Pertemuan kami terletak pada pemahaman grammar (tata bahasa) sehingga jalan tengah dapat disepakati. Sedangkan istilah kosakata, kami mencari secara bersama hingga menemukan kosakata yang paling tepat dan nyaman dibaca pada paragraf.

Penulis terheran-heran, Pak Horst banyak menghabiskan waktu meneliti dunia maritim tapi pengetahuan bahasanya sangat bagus, mengerti perubahan kata yang sesuai dengan standar baku. Rasa heran penulis terjawab karena Pak Horst memang dikenal luas sebagai seorang pakar antropologi maritim sekaligus pemerhati sastra Melayu. Mengenai kemampuannya berbahasa Indonesia, ia menempuh S 2 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Sebuah buku kuliahnya berjudul Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori bernama N. F. Alieva dkk. karya orang Rusia sempat ia rekomendasikan untuk penulis baca.

Seandainya penulis bukan penutur asli Indonesia dan tidak memahami struktur bahasa Inggris–yang memberikan modal logika untuk menghubungkannya dengan struktur–bahasa Indonesia, pastilah penulis tertinggal jauh darinya. Untuk itu, beberapa istilah yang tidak nyambung dengan Indonesia, istilah Inggris sangat membantu menjembatani konsep-konsep yang sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Bagi Horst, bahasa Inggris itu hal biasa karena mayoritas hasil penelitiannya dipublikasikan dalam bahasa tersebut.

Setelah membahas tentang tulisan, kami mengajak dua orang pelajar RBB yang masih SMP untuk membaca esai yang setiap laman berisi sekitar 150 sampai 200 kata. Itu sengaja dibuat sependek dengan makna yang padat karena berdasarkan hasil penelitian, mayoritas pembaca di depan layar hp tidak sanggup membaca banyak kata. Hasilnya terlihat menggembirakan. Kedua anak remaja itu penasaran untuk tahu lebih banyak tentang perahu dan dunia maritim.

Namun itu bukan sebuah kesimpulan. Horst mengatakan, “Mereka mau membaca karena ada gurunya yang meminta,”. Kami tertawa. “Jadi mereka takut kalau tidak melaksanakan perintah guru,” tambahnya. Karena penulis yang meminta pelajar itu membaca, pembelaan pun dibuat. “Tidak Pak Horst. Mereka ini datang ke RBB karena mau belajar. Arahan membaca itu sekadar pengantar saja. Lagi pula, saya bukan guru kelasnya.” Horst tersenyum dan menganggukkan kepala. “Okelah,” kata Horst.

Kemudian Horst berbincang-bincang dengan pelajar tersebut untuk mengetahui sejauh mana ketertarikannya dengan dunia pembuatan perahu. Ternyata yang mereka kenal adalah perahu Pinisi, lainnya tidak. Mereka mengira semua perahu yang dibuat di Kecamatan Bonto Bahari yaitu Tanah Beru, Ara, Bira serta di Samboang di Kecamatan Bonto Tiro adalah Pinisi. Padahal, Pinisi itu hanyalah istilah layar. Inilah salah satu alasan kenapa website dibuat di samping untuk menelaah tradisi folklor yang berkembang di masyarakat yang perlu dibandingkan dan diterangkan secara logis.

Para pelajar generasi sekarang ini memang kurang mengetahui tentang perahu, tapi Bulukumba cukup punya perhatian karena kedua anak ini mengaku kepada Horst bahwa mereka pernah diberikan sedikit pembekalan tentang Pinisi di sekolah di SMPN 2 Bulukumba melalui pemutaran video tentang Pinisi. Video tentu tidak cukup namun itu membuka rasa penasarannya sehingga mau membaca.

Dari eksperimen kecil dari kedua anak tersebut, kami mendapat gambaran yang lumayan jelas tentang bagaimana cara merancang tulisan yang lebih familiar dengan pelajar sekolah yang tentunya mudah dimengerti oleh khalayak umum. Pengetahuan dan istilah perahu tradisional dalam bahasa Konjo memang sangat rumit dijelaskan dan itu bagian dari tugas kami untuk turut menyederhanakannya.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 14 Juni 2026

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *