Dua orang pelajar SD asal Bulukumba yang meraih emas olimpiade bahasa Inggris membuktikan bahwa anak-anak daerah memiliki daya saing di tingkat nasional. Tidak mudah mempercayai kenyataan ini. Betapapun Bulukumba terkenal dengan destinasi wisata internasional dikunjungi banyak wisatawan mancanegara, masyarakatnya belum punya kultur berbahasa asing seperti di Bali atau membangun pelatihan bahasa asing seperti di Borobudur, Jawa Tengah.
Untuk urusan sekolah, belum ada seorang pun guru SD di Bulukumba yang mendapatkan jatah Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI), program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI. Tak mengherankan, meskipun ada bahasa Inggris di sekolah, pembelajarannya ala kadarnya saja, sama sekali tidak menciptakan keakraban berbahasa asing—benar-benar asing.
Itu bukan kesalahan sekolah, tapi karena pemerintah pusat dan daerah belum melirik potensi pelajar Bulukumba yang sesungguhnya luar biasa.
Dari realitas yang memprihatinkan tersebut, kita dikagetkan oleh Adeeva Syakila Zulfikar, kelas 4 di SDN 230 Palambarae Bulukumba, pada Juni 2026 pada olimpiade bahasa Inggris meraih emas di Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS). Sebelum ledakan tersebut, Faika Qinara Putri Ridwan, kelas 3 SDN 2 Terang-Terang pada Februari 2026 meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris di National Science and Mathematics Academic Olympiad (NSMAO). Ini pasti bukan hal biasa karena mereka mampu menggetarkan dan menjadi bagian pelajar bahasa Inggris terbaik di Indonesia, sama dengan pendidikan yang maju di kota-kota besar.
Jalur Alternatif
Kesadaran berbahasa Inggris ini terbangun berkat kesadaran orang tua pelajar yang mempengaruhi anak-anaknya di lembaga pendidikan alternatif. Sebab, jika mereka menanti program pencerdasan lewat sekolah, anak-anaknya pasti tertinggal jauh, jangankan berbicara Inggris, tidak akan ada keberanian untuk mengikuti olimpiade.
Lembaga pendidikan alternatif yang mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas berkesempatan luas membuka berbagai macam kelas seperti speaking, reading, pronunciation, grammar, and writing (bicara, membaca, pengucapan, tata bahasa, dan menulis). Waktu belajar yang ditawarkan pun umumnya lebih banyak dari sekolah karena sekolah mewajibkan pelajaran lainnya untuk dipelajari. Oleh karena itu, pelajar bisa memilih sesuai kebutuhannya.
Menangkap Peluang
Kekayaan alam Bulukumba yang menarik kunjungan mancanegara adalah potensi sumber daya manusia yang bisa dikelola untuk pemberdayaan bahasa Inggris bagi pelajar dan masyarakat umum. Lembaga pendidikan alternatif dan komunitas dapat mengunjungi pusat wisata mancanegara untuk praktik Inggris atau mengajak wisatawan tersebut untuk hadir perkumpulan berbahasa Inggris. Langkah ini sangat berguna untuk membangun keaktifan dalam berkomunikasi dan menumbuhkan kepercayaan diri. Speaking dan pronunciation dapat berkembang dengan baik.
Namun untuk urusan akademis semisal olimpiade komunikasi di atas tidak cukup. Kemampuan reading disertai pemahaman grammar sangat dibutuhkan untuk mengerti alur teks cerita bacaan sehingga dapat memberikan jawaban yang tepat. Pembiasaan ini mutlak selalu dilakukan karena soal-soal olimpiade itu terdesain rumit bagi kalangan umum. Oleh karena itu, semakin banyak membaca, alurnya lebih mudah dikenali.
Menyambut Masa Depan
Adeeva, Faika dan calon-calon peraih juara olimpiade lainnya diakrabkan dengan komunikasi dan pembelajaran akademik. Anak-anak SD dan pelajar sekolah lainnya relatif punya waktu yang lebih panjang untuk belajar sehingga pembelajaran speaking, reading, pronunciation, grammar, and writing sangat memungkinkan diajarkan kepada mereka. Bahasa Inggris bukan sebatas pergaulan di dunia internasional tetapi juga alat untuk membaca pengetahuan yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Zulkarnain Patwa
Dego-Dego Na Bira di Bulukumba,
Sabtu, 27 Juni 2026

Tinggalkan Balasan