Indonesia adalah serpihan surga yang diturunkan ke bumi (qit’atun min al-jannah), ungkap Syekh Mahmud Syaltut (mantan Grand Syekh Al-Azhar, Mesir) kepada Bung Karno. Sebagai seorang orator ulung, Bung Karno pun seringkali mengutip ungkapan indah tersebut untuk menggemakan keindahan alam Indonesia ke dunia internasional—singkat, padat, dan jelas.
Tapi, apakah serpihan keindahan alam di Bulukumba, Sulawesi Selatan, terawat dengan benar? Alam ini layaknya manusia: tubuh lelaki yang kekar atau atletis dan kecantikan perempuan akan pudar bila tidak diperhatikan. Seiring pertambahan umur manusia, keindahan tersebut luntur sedikit demi sedikit.
Bagaimana dengan alam tempat kita hidup ini?
Baru-baru ini, penulis bergabung dengan kegiatan pembersihan sampah plastik di Pantai Marumasa, Desa Darubia, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dengan 28 orang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode II 2026 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Dego-Dego Na Bira, Indo Ocean, dan Rumah Belajar Bersama (RBB). Keindahan Pantai Marumasa yang airnya sangat jernih itu sangat mirip dengan Pantai Bira—awalnya Desa Darubia bagian dari Desa Bira yang kemudian dipecah jadi desa baru. Nasibnya begitu memprihatinkan. Terlihat tidak ada perawatan sama sekali di sana. Sepanjang pantai penuh dengan sampah plastik, sampah kiriman kayu, botol, dan lainnya dari laut. Marumasa terlihat indah di iklan, tapi mengenaskan di dunia nyata.

Itu ulah siapa? Siklus angin timur atau barat dianggap membawa sampah ke pantai. Penulis yang pernah bolak-balik dari Sulawesi Selatan ke Jawa semasa mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) seringkali melihat sampah di atas kapal laut dalam jumlah besar dibuang ke laut begitu saja. Itulah yang terhempas mengotori berbagai pantai di Indonesia. Sebagian melilit terumbu karang yang merusak alam bawah laut atau dimakan hewan laut dan yang kemudian hewan itu dikonsumsi oleh manusia. Tanpa sadar, manusia makan hewan sakit atau hewan campuran plastik.
Manusia di darat juga berperilaku sama. Mereka memilih pantai yang indah dan sekaligus menjadikan pantai tersebut tempat sampah dengan membuang plastik sesukanya. Sepanjang pantai penuh dengan plastik bekas minuman serta makanan, botol, sandal, dan masih banyak lagi yang tak terhitung. Apakah itu semua kiriman dari laut? Plastik yang terlihat baru disertai sisa makanan tidak mungkin dari laut yang ditinggalkan begitu saja. Pasti semua itu berasal dari ulah manusia di darat.
Gerakan membersihkan pantai dari para pemuda-pemudi pecinta lingkungan itu adalah seruan moral untuk melestarikan alam ini. Pekerjaan utama mereka bukan membersihkan sampah dan itu tidak bisa dilakukan setiap hari. Mereka adalah tamu yang tidak menetap, namun kehadiran mereka membekas: tidak sekadar berpolemik atau melempar kritik di media sosial—melakukan aksi nyata.
Setelah menimbang sampah plastik yang lebih dari 140 kg, sekarang ini Pantai Marumasa terlihat indah kembali untuk sekejap. Menurut seorang relawan, sampah plastik yang mereka berhasil kumpulkan telah mencapai lebih dari satu ton: hasil dari berkali-kali kunjungan ke pantai. Angka tersebut cukup mengagetkan dan seringkali luput dari perhatian kita. Ini akan terus bertambah hingga sampai pada angka yang tidak pernah dibayangkan.
Selain kampanye kesadaran, penyediaan tempat sampah di sekitar pantai itu sangat penting ditaruh di tempat tertentu. Desa juga dapat menghidupkan kembali semangat gotong-royong, mengajak masyarakat setempat untuk kerja bakti di hari-hari tertentu yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.
Selangkah lebih jauh, Nur Anjas, pelaku wisata yang namanya tercatat di buku Lonely Planet—buku panduan wisata dunia, mengharapkan agar Indiz sebagai penggiat lingkungan dan juga anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Darubia bisa intens berkordinasi dengan Kepala Desa guna merumuskan langkah terbaik untuk membuat program kebersihan mulai jalan setelah Tana Beru sampai penurunan Lahongka yang dipenuhi sampah berserakan di pinggir jalan. Keresahan Anjas ini bersumber dari para tamu penginapannya di Nusa Bira Indah dikombinasikan hasil pengamatan lapangannya.
Bila langkah tersebut di atas gagal, pemilik membuat aturan atau pemerintah desa ataupun pemerintah daerah melakukan penegakan hukum yang ketat kepada para wisatawan minimal di kawasan wisata bila membuang sampah sembarangan. Bila aturan ini dianggap mustahil, kenapa di Bali bisa terjadi pembatasan plastik sekali pakai dan Singapura mampu menerapkan denda yang ketat? Romi, relawan Indo Ocean asal Jerman yang turut memungut sampah, memberikan keterangan bahwa ada denda sebesar 200 Euro bila buang sampah sembarangan. Itu setara dengan empat juta empat puluh ribu rupiah dengan kurs dua puluh ribu dua ratus rupiah.
Kalau tidak, siapa yang menjamin bahwa berbagai macam pantai yang telah dibersihkan tidak akan kotor pada minggu berikutnya? Berbeda dengan manusia yang pasti menua, pantai dan alam semesta beserta isinya akan tetap indah selama beribu-ribu tahun bila manusia mempunyai kesadaran untuk menjaganya.
Setiap dari kita mesti mampu merawat alam—atau lebih sedikitnya turut merasa bertanggung jawab terhadap tanah air Indonesia—dan pada batas paling sedikit, tidak membuang plastik di sembarang tempat terutama pantai dan laut. Bila kita menjadikan alam ini sebagai rumah, kemudian rumah itu dirusak, adakah rumah yang lain untuk tinggal? Adakah kita mau mengubah serpihan surga menjadi serpihan neraka?
Zulkarnain Patwa
Pantai Bira di Bulukumba pada Sabtu, 27 Juli 2026

Tinggalkan Balasan