Kemampuan membaca anak-anak SD ini telah sampai pada tahap yang menggembirakan. Sepuluh lessons (pelajaran) mereka berhasil baca secara bersama-sama yang kemudian ditindaklanjuti dengan percakapan secara berpasangan. Pengucapan mereka pun sangat bagus selain karena lessons tersebut adalah review, mereka juga punya semangat untuk menjadi lebih baik dari pertemuan sebelumnya.

Kenapa pelajar diminta membaca seirama secara bersamaan? Ini karena mereka dilatih untuk kompak sebagai satu kesatuan dalam kelas, tidak diperbolehkan saling mendahului. Bagi pelajar yang agak sedikit tidak fasih, rasa takut untuk berbicara tentu ada tapi mereka tetap mengeluarkan suara dengan nada yang lebih rendah. Karena semua praktik, ketakutan itu tenggelam dengan suara riuh. Lagi pula, tidak ada yang menyalahkan saat membaca. Koreksi diberikan setelah bacaan selesai.

Kenapa ada percakapan secara berpasangan? Tiap anak diberikan kebebasan memilih rekan yang mereka suka agar tercipta rasa nyaman saat berkomunikasi—memutus minder untuk bercakap terselesaikan. Mereka dilatih untuk mengandalkan dan mengukur kemampuan diri sendiri. Mereka akan tahu sendiri kosakata yang mana yang sulit diucapkan yang luput dari perhatian. Anak yang mengalami kesulitan biasanya bertanya, “Apa pengucapan typist?” Rekan kelas atau guru selalu dengan senang hati membantu melafalkan dengan benar.
Dibalik dunia belajar anak-anak ini, satu hal yang tidak boleh terlupakan yaitu jadwal bermain. Mereka akan sangat bersemangat berlatih bila diberikan janji jam bermain yang lebih banyak dari biasanya. Agar seimbang, guru meminta mereka untuk selalu bersemangat saat belajar. Kesepakatan yang dibuat tanpa dilanggar itu membuat anak-anak seolah punya tenaga ekstra untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Dengan waktu bermain yang mereka anggap cukup, mereka bahagia.

Penulis yang mengambil bagian untuk turut mendidik tahu bahwa anak-anak tersebut punya jadwal belajar yang sangat padat. Mereka memilih belajar bahasa Inggris di malam hari karena waktu pagi hingga siang dihabiskan di sekolah dan sore hari hingga jelang Maghrib digunakan untuk mengaji. Kehidupan tentu melelahkan, karena jarang istirahat atau tidur siang. Oleh karena itu, kebebasan berekspresi dan berpendapat mereka saat berada kelas Inggris mendapatkan porsi yang lebih tinggi.
Sikap ini mempunyai dampak positif. Anak-anak tidak merasa terpenjara dengan pelajaran bahasa Inggris. Mereka dengan senang hati mau banyak membaca, target yang Rumah Belajar Bersama (RBB) kejar untuk membuat mereka akrab dalam literasi–menjadikan bahasa Inggris sebagai alat untuk berpengetahuan.
Sanggupkah kita mendesain kegiatan membaca itu bukan sebagai beban buat anak-anak? Itu adalah tugas para intelektual untuk menemukan cara belajar yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Zulkarnain Patwa
Rabu, 24 Juni 2026

Tinggalkan Balasan