Jadwal:
15 Juni sampai 10 Juli 2026
6 x belajar dalam sehari
180 jam dalam sebulan
Belajar tiap Senin – Jum’at
Materi:
* Speaking (Bicara)
* Reading (Bacaan)
* Grammar (Tata Bahasa)
* Pronunciation (Pengucapan)
Note:
Pelajaran disesuaikan tingkat kemampuan pelajar mencakup materi basic hingga advance (dasar hingga tingkat tinggi).
Jam Belajar:
Pagi
09.00 – 10.30
10.30 – 12.00
Siang/Sore
13.30 – 15.00
15.00 – 16.30
16.30 – 18.00
Malam
19.15 – 20.45
Total: 180 jam belajar.
Hari Belajar:
Tiap Senin – Jum’at. Sabtu dan Minggu libur.
Fasilitas
* Buku Grammar
* Buku Reading dan modul terjemahan
* Kamus Inggris – Inggris
* Modul Pronunciation
Biaya:
Rp. 1.300.000,- (Satu Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah).
Pilihan Tinggal di Camp
Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah).
Sertifikat bagi pelajar yang lulus.
Telp./WA:
* 0821-9716-3489
* 0877-5534-6689
Penyelenggara:
Rumah Belajar Bersama
Jl. Teratai No. 16, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan
Jadwal:
15 Juni sampai 10 Juli 2026
6 x belajar dalam sehari
180 jam dalam sebulan
Belajar tiap Senin – Jum’at
Materi:
* Speaking (Bicara)
* Reading (Bacaan)
* Grammar (Tata Bahasa)
* Pronunciation (Pengucapan)
Note:
Pelajaran disesuaikan tingkat kemampuan pelajar mencakup materi basic hingga advance (dasar hingga tingkat tinggi).
Jam Belajar:
Pagi
09.00 – 10.30
10.30 – 12.00
Siang/Sore
13.30 – 15.00
15.00 – 16.30
16.30 – 18.00
Malam
19.15 – 20.45
Total: 180 jam belajar.
Hari Belajar:
Tiap Senin – Jum’at. Sabtu dan Minggu libur.
Fasilitas
* Buku Grammar
* Buku Reading dan modul terjemahan
* Kamus Inggris – Inggris
* Modul Pronunciation
Biaya:
Rp. 1.300.000,- (Satu Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah).
Pilihan Tinggal di Camp
Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah).
Sertifikat bagi pelajar yang lulus.
Telp./WA:
* 0821-9716-3489
* 0877-5534-6689
Penyelenggara:
Rumah Belajar Bersama
Jl. Teratai No. 16, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan
Sebuah kenyataan tak terbantahkan ketika Adeeva, anak kelas 4 SD, mampu praktik lisan pada active and passive voices (kalimat aktif dan pasif) dengan beragam bentuk perubahan berbekal kotak kosong tanpa melihat catatan sama sekali dan disiarkan secara live (siaran langsung) di Facebook. Orang bisa mengamati dan menyaksikan apakah Adeeva menyontek atau tidak. Penulis yang memandu secara terus-terang menyatakan bahwa Adeeva mengerti perubahan tersebut di luar kepala.
Karena latihan tersebut disertai dengan praktik lisan, ini adalah bukti bahwa belajar grammar (tata bahasa) tidak membuat anak-anak SD gagap berbicara Inggris. Justru ini bekal berharga untuk speaking (bicara) sesuai standar bahasa yang sangat berguna dalam percakapan dan pembelajaran akademik. Mengajarkan speaking tanpa perlu perhatian yang sama pentingnya dengan grammar dengan alasan belum waktunya anak-anak SD belajar grammar adalah bayang-bayang ketakutan saja atau sebuah simplifikasi (penyederhanaan) untuk menghindari kompleksitas pengajaran yang berbobot.
Orang bisa berpikir bahwa ini adalah generalisasi–satu contoh yang sukses dijadikan klaim untuk banyak orang. Itu benar. Tapi apa salahnya satu contoh yang baik tersebut dijadikan acuan untuk diterapkan kepada para pelajar dalam skala yang lebih luas? Dengan metode belajar yang tepat, itu adalah peluang untuk membantah generalisasi. Apakah anak-anak SD yang mayoritas bisa seperti Adeeva masih dapat disebut generalisasi? Keadaan pasti akan berbalik. Justru anak-anak SD yang tidak mampu itulah yang disebut generalisasi.
Para intelektual yang bergelut dalam dunia pendidikan sudah saatnya melakukan terobosan dengan mematahkan argumentasi para pendesain kurikulum bahasa Inggris sekolah yang hanya menitikberatkan pada speaking. Mana lah mungkin membaca teks dan menjawab pelajaran sekolah dengan baik bila tidak mengerti grammar? Terlebih, bahasa Indonesia mengunakan hukum D-M (Diterangkan-Menerangkan), sedangkan bahasa Inggris menggunakan hukum M-D (Menerangkan-Diterangkan). Terbalik, kan? Bisakah itu dipahamkan dengan mayoritas speaking saja? Mau tidak mau, dasar-dasar grammar pasti berlaku. Dan itu minimal dijelaskan pada frase dan paling efektif di kalimat dengan menggunakan tenses–orang berkomunikasi paling sering memakai kalimat.
Patut diingat, selain pendalaman grammar pada tenses dan passive yang dituduh tidak relevan bagi anak-anak, apa yang dilakukan Adeeva sejalan dengan kurikulum melalui cara pembiasaan literasi pada buku reading (bacaan) yang mempunyai tuntutan menjawab soal-soal sebagai pembuktian pemahaman terhadap bacaan. Nah, dalam menjawab soal, grammar mutlak perlunya, tidak cukup dengan modal speaking. Misal: Does Anita go to school? Jawaban yang tepat: Yes, she does. Anitagoes to school. Anak-anak yang sekedar belajar speaking biasanya menjawab: Yes. Anita go to school. Pendengar bisa paham dan mengerti maksudnya, tapi jawaban itu salah.
Kemudian, untuk apa pula pemerintah mengizinkan Olimpiade Bahasa Inggris yang soalnya jauh lebih rumit? Pelajar yang mengandalkan speaking dari sekolah–itu yang dominan diajarkan–tanpa pembelajaran grammar yang baik, mereka pasti tersingkir. Pembelajaran ala sekolah tidak akan mencetak para juara. Tugas kurikulum pemerintah memang bukan mencetak para juara, tapi di sisi lain, pemerintah memberikan jalan lebar bagi penyelenggara untuk membuat soal yang melampaui kurikulum. Kan itu tidak fair bagi pelajar.
Pada akhirnya, kombinasi praktik lisan, reading, dan grammar harus mampu berjalan seiring untuk menutup celah kelemahan pembelajaran bahasa Inggris dalam dunia akademik.
Have they read books or have books been read by them? (Sudahkah mereka membaca buku-buku atau apakah buku-buku telah dibaca oleh mereka?) adalah hal biasa untuk Adeeva pahami dan dipraktekkan olehnya baik dalam bentuk active atau passive.
“Mr. jangan beri tahu saya. Tolong perhatian saja!”, kata Faika ketika sedang berlatih pengantar 88 perubahan kalimat tenses secara acak di luar kepala. Saat itu, ia sedang kesulitan menjawab sehingga guru memberikan sedikit bantuan, namun bantuan itu ditolaknya karena ia percaya diri sanggup melakukannya tanpa bantuan siapa pun. Kepercayaan dirinya tumbuh karena ia sudah memahami seluruh perubahan tersebut secara teratur.
Anak berumur sembilan tahun ini sungguh mempunyai daya juang yang jarang dimiliki anak seumurannya. Hal ini terlihat dari permintaannya untuk praktik kalimat pada setiap subjek: I, you, they, we, he, she, dan it. Coba bayangkan, dari setiap subjek tersebut, terdapat 88 perubahan kalimat kecuali subjek I hanya 86. Itu berarti 614 perubahan kalimat yang ia praktikkan tanpa melihat catatan, sebuah tantangan yang memang ia inginkan disiarkan secara langsung (live) di Facebook. Tiap pertemuan belajar, ia pun suka mengganti verb (kata kerja), membuat kalimat baru, membuktikan bahwa ia memahami perubahan verb dan praktik sedikitnya 128 perubahan kalimat.
Alasan paling kuat mengapa Faika jauh lebih tekun belajar Inggris dari sebelumnya ialah ajang Olimpiade Bahasa Inggris di masa mendatang. “Meskipun pernah meraih emas se-Indonesia, kamu pasti kalah jika tidak lebih tekun belajar”, ungkap gurunya mengingatkan. “Iye, pale“, (pale: baiklah), balas Faika. Beberapa contoh soal-soal rumit olimpiade terbaru untuk kelas 3 dan 4 SD sengaja diperlihatkan kepadanya agar semangat belajarnya tetap membara. Strategi ini efektif membuatnya fokus, terlebih kedua orang tuanya di rumah aktif mencari informasi olimpiade yang diadakan di Indonesia.
Tapi jangan kira Faika ini memanfaatkan seluruh waktu jam belajarnya saat berada di kelas Bahasa Inggrisnya di Rumah Belajar Bersama (RBB). Di samping sifatnya suka bergaul dan suka bermain sebagaimana anak-anak lainnya, ia juga dikenal sebagai anak periang dan berani berpendapat. Ia selalu meminta jam keluar mainnya ditambah, termasuk berani protes bila tidak diberikan jam tambahan untuk bermain. Otaknya tidak tertekan pada sebuah sistem yang kaku. Usulannya itu kadang-kadang diterima dan ditolak oleh gurunya dengan mempertimbangkan apakah anak-anak masih fit (segar dan fokus) belajar atau tidak.
Faika dan anak-anak lainnya sengaja diberikan kebebasan berpendapat agar kreativitas berpikirnya tidak terpenjara. Apa pun pendapatnya perlu kita dengarkan agar mereka terbiasa mengungkapkan ide-idenya secara terbuka. Bila terdapat perbedaan, itu tidak serta-merta dikunci dengan aturan, melainkan dibahas bersama hingga pada tahap tertentu anak-anak mengerti kenapa idenya diterima atau ditolak. Dengan demikian, mereka merasa dihargai dan berusaha mencari alasan lebih bagus jika suatu saat mempunyai usulan baru.
Dunia belajar tidak semata-mata penguasaan materi akademis atau angka superioritas di atas kertas, melainkan juga ruang pertumbuhan karakter, daya juang dan kebebasan berekspresi anak. Biarkan anak-anak berkembang menjadi dirinya sendiri minimal seperti halnya Faika yang menemukan kemandiriannya sendiri dalam menjawab soal.
Keputusan para pelajar sekolah mengikuti kelas grammar (tata bahasa) di Rumah Belajar Bersama (RBB) cukup mengagetkan karena kurikulum sekolah sekarang tidak membahas materi tersebut secara mendalam. Pada awal kedatangan, mereka tidak tahu sama sekali pembagian Bahasa Inggris mencakup speaking, listening, reading and pronunciation (Bicara, Mendengarkan, Membaca, dan Pengucapan). Alasan utama memilih kelas grammar karena mereka ingin pandai menjawab soal-soal sekolah.
“Gampang sekali ujian semester sekolah”, kata seorang pelajar SMP yang didukung oleh pelajar SMA yang baru saja ujian kenaikan kelas. Mereka tahu cara menjawab sesuai kaidah tata bahasa. Lalu, bagaimana mereka mengerti soal-soal bacaan? Grammar yang diajarkan RBB juga membantu menjawab soal-soal dalam bentuk bacaan. Malahan, pelajar juga dilatih menjawab persoalan grammar menjadi suatu teks cerita panjang atau artikel sederhana.
Fenomena serupa juga dialami pelajar lainnya. Di RBB, beberapa orang pelajar SMP dan SMA yang telah tamat Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar) melanjutkan ke buku Pre-Intermediate. Itu berarti mereka memperoleh manfaat sehingga mendalami grammar lebih detail. Pelajaran sekolah diangggap biasa karena tidak sering dibahas. Justru, pembahasan yang sering mereka diskusikan adalah tantangan soal-soal yang diberikan oleh Agung Pratama Salassa, guru grammar di RBB.
Tapi, menjadi penganut grammar punya masalah juga. Mereka yang keasyikan ribuan soal tanpa rajin praktik speaking (bicara) kewalahan berkomunikasi. Itu adalah konsekuensi karena pilihannya hanya kelas grammar saja. Strategi penyelamatan dibuat dengan mengajak mereka membaca dengan suara nyaring pada hasil latihannya. Dengan demikian, meskipun sedikit, setidaknya mereka dapat pengantar pelajaran Reading dan Pronunciation serta beberapa bagian pada speaking yang berpola grammar. Kemampuannya dalam hal ini relatif biasa saja karena itu memang bukan tujuan utama mereka.
Bila menggali lebih jauh, para grammarian yang juga ikut kelas Reading dan Speaking, memiliki kemampuan berbicara sesuai standar internasional. Penyampaiannya tidak hanya tertata rapi dan hemat kata tapi juga padat makna dan mudah dimengerti. Otak mereka sudah terlatih untuk mengungkapkan pernyataan yang benar agar lawan bicaranya dapat dengan cepat tahu maksudnya.
Keunggulan lain yang diperoleh adalah bekal untuk menjadi penulis. Pelajar yang mengetahui grammar pasti bisa menyusun kalimat yang rapi dan teratur. Tingkat kesalahannya relatif lebih rendah dibandingkan pelajar speaking dan lainnya karena mereka telah terlatih menggunakan logika dalam membolak-balik kata. Ini sangat berguna bagi orang yang aktif dalam dunia akademik.
Di balik kelebihan dan kelemahan pelajar grammar, semua itu dapat dijadikan peluang untuk lebih ahli berbahasa Inggris dengan cara tetap menekuni grammar sembari mempelajari bagian lain dari pengetahuan tersedia pada Bahasa Inggris: speaking, listening, reading and pronunciation. Itu dapat dilakukan secara mandiri ataupun ikut bergabung di kelas belajar.
When nothing is impossible, impossibility is nothing. That is a thing without not (Ketika tidak ada yang mustahil, kemustahilan itu tidak ada. Begitulah kenyataannya, tanpa pengecualian). Ungkapan filosofis ini terpahat dalam pikiran saat penulis berdiskusi dengan Fathy Cayadi, guru Bahasa Inggris tingkat SMA, mengingatkan akan kebutuhan paling mendasar yang dihadapi para pelajar sekolah. Sebagai seorang pengajar berpengalaman, ia menjelaskan keunggulan dan kelemahan kurikulum yang berlaku saat ini.
Penulis tertarik tidak membenturkan pemahaman Bahasa Inggris sekolah vs luar sekolah (pendidikan alternatif), melainkan mencari hal-hal yang belum atau tidak dikerjakan. Menurut Fathy, kurikulum SMA sudah tidak lagi mencantumkan listening (mendengarkan) pada UAN (Ujian Akhir Nasional), grammar (tata bahasa) sekadarnya saja, dan pronunciation (pengucapan) sama sekali tidak digubris. Malahan, jam belajar dipangkas empat jam menjadi tiga jam, sekali belajar dalam seminggu. Orang bisa melihat hal-hal tersebut masalah, namun diskusi itu bersepakat memanfaatkannya sebagai peluang untuk menggarapnya karena hal tersebut tetap penting dan bermanfaat.
Pembicaraan kemudian mengarah pada strategi yang efektif untuk memahamkan pelajaran. Ciri khas yang menjadi keunggulan guru tetap dipertahankan sembari terus memperbarui dan mempertajam materi yang akan diajarkan. Berbagai literatur dari penulis asing yang diterapkan di universitas di luar negeri dibedah dan dibandingkan dengan kurikulum Indonesia dan kemudian disesuaikan dengan pelajaran yang sesuai konteks pelajar Indonesia. Prediksinya, materi tentu lebih padat ketika Fathy membumikan kegiatan mengajarnya di luar jam sekolah di Tanete.
Pelajar SD, SMP, dan SMA akan dipersiapkan punya daya saing dengan memotivasi mereka mengikuti berbagai lomba pidato, debat, storytelling, dan lainnya, termasuk olimpiade Bahasa Inggris tingkat lokal, provinsi dan nasional. Dan bagi pelajar dan umum yang belum minat kompetisi, mereka dididik sesuai kebutuhannya hingga mempunyai skill (keterampilan) yang cukup untuk menghadapi dunia kerja yang mereka cita-citakan. Jadi keberagaman motivasi orang belajar bahasa Inggris dapat difasilitasi.
Pikiran dan aksi untuk bergerak lebih cepat, maju dan terarah sesuai target tidaklah sulit bila hasil kesepakatan diskusi dikerjakan secara bersama-sama. Jam terbang pengajar pasti berpengaruh besar. Fathy telah lama mengajar di sekolah dan akrab dengan plus-minus kurikulum sekolah di Indonesia, kini akan menjadi bagian dari Rumah Belajar Bersama (RBB)–dikenal sebagai lembaga yang mengedepankan kualitas. Dengan modal tersebut, ia pasti punya “ramuan” mengajar yang lebih terbarukan.
Apa guna sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah? Untuk mengubah dan mengembangkan cara pandang. Apakah mengubah cara pandang bisa didapatkan tanpa sekolah? Bisa. Dengan apa? Dengan literasi.
Bagaimana menggandengkan sekolah dengan literasi? Penulis pernah menyediakan ribuan buku dalam bentuk perpustakaan mini untuk mengajak para pemuda-pemudi untuk rajin membaca dan mendiskusikan hasil bacaan. Beberapa waktu gerakan ini dapat berjalan lancar namun seiring waktu, komunitas kecil tersebut bubar karena ada urusan yang dianggap lebih penting daripada kegiatan berwacana. Kendala yang ditemukan, buku yang menjadi kesepakatan bersama untuk dibahas tidak dibaca sehingga enggan untuk terlibat dalam diskusi yang mengharuskan mereka menjelaskan isi bacaan.
Penulis berpikir bahwa menggerakkan pemuda-pemudi mengurusi persoalan intelektual memang berat, sedikit peminatnya atau tidak menemukan peminat yang tepat. Penulis mencoba beralih ke pelajar SMA dan SMP. Sama saja. Alasan tumpukan tugas sekolah membuat mereka tidak punya cukup waktu untuk membaca.
Pilihan terakhir jatuh pada anak SD dan TK. Mereka yang suka bermain itu diajak duduk sejenak membaca buku cerita bergambar sambil bermain didampingi oleh guru. Ternyata, banyak anak-anak cilik yang antusias. Bagi mereka yang belum suka membaca diminta duduk dengan anak-anak lainnya yang sedang asyik membaca. Perlahan-lahan tapi pasti, mereka turut terpengaruh untuk mengambil dan membuka buku.
Menyaksikan secara langsung minat baca yang hidup ini, penulis dan rekan-rekan pemerhati literasi mencoba menyediakan buku-buku anak-anak yang lebih lengkap dengan cara meminjam buku dari Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bulukumba. Perpusda tahu betul perjuangan Perpustakaan Rumah Belajar Bersama (RBB) dan meyakinkan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan untuk menyumbangkan buku ke RBB.
Selain itu, RBB juga terdaftar di Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) lembaga non-profit didirikan oleh (Alm.) Kak Nirwan Ahmad Arsuka. Penulis ingat dimana Kak Nirwan yang langsung menghubungi penulis agar RBB masuk daftar PBI. Itu adalah sebuah kehormatan dan kenangan manis tersendiri diajak oleh tokoh utama literasi Indonesia yang mengabadikan hidupnya pada literasi.
Penulis berterima kasih kepada Kakak senior Muhammad Ridwan Alimuddin, rekan akrab Kak Nirwan dan pendiri Perahu Pustaka yang menurut pengakuan Kak Nirwan bahwa karena berkat jasa Perahu Pustaka mengantarkan buku ke pulau-pulau terpencil, dirinya diundang oleh Presiden RI, menguatkan jejaring ini sekaligus merekatkan ingatan penulis sebagai sesama alumni mahasiswa Yogyakarta yang berada pada frekuensi yang sama.
Agar tradisi literasi mengakar kuat, RBB membuka kelas Reading (Bacaan) pada kelas Bahasa Inggris. Secara otomatis, setiap kali pelajar datang, tugasnya adalah membaca. Setelah itu, mereka ditawarkan membaca dalam bahasa Indonesia.
Karena peminat Bahasa Inggris mencakup SD, SMP, SMA, mahasiswa dan Umum, mereka mau tidak mau membaca buku cerita berbahasa Inggris. Bagaimana dengan pelajar yang memilih kelas Grammar and Speaking (Tata Bahasa dan Bicara)? Sama saja. Mereka semua punya buku yang wajib dibaca, dikerjakan latihannya dan dipraktekkan dalam bentuk bicara. Bahasa Inggris menjadi gerbang utama membuka literasi dan memperkenalkan perpustakaan yang lumayan kaya dengan beragam buku berbahasa Indonesia dan asing.
Ayo isi liburan di Kampung Belajar. Belajar Bahasa Inggris secara intensif: 6 x pertemuan tiap hari, 180 jam dalam sebulan dari 15 Juni – 10 Juli 2026.
Tantangan super berat mengatasi kebuntuan menghidupkan gerakan literasi terjawab dengan terus menghadapi masalah hingga pada satu titik sebuah sistem seperti di atas dapat diwujudkan. Pada akhirnya, berbagai macam kalangan baik yang sekolah ataupun sudah tidak sekolah dapat memperkaya khazanah pemikiran untuk mengembangkan dan mengubah cara pandang yang membuatnya bisa memilih jalan yang tepat sesuai dengan alur kehidupannya.
It was a very surprising day for the students. Victor from Spain and Jessica from France visited an English class. The students whispered to each other because they were curious to know. Then, they sat at the same table with Victor and Jessica.
In the classroom, Mr. Agung Pratama Salassa, the English teacher, welcomed the guests warmly. He told the guests that most of his students were children and teenagers. After that, they all started a simple conversation. Apart from a few words, most students hoped to get questions, and the two foreigners thought the same. The room was quiet for a moment. Then, Jessica broke the silence with her friendly personality. She greeted some students, and they answered in the same. The atmosphere became closer and warmer.
Soon after that, Lulu, a recent high school graduate got some questions. She used this valuable chance to speak as best as she could. She talked about her dream to study in the United States or Japan. To study at a top university and join the world community, Lulu is learning English and Japanese. She also learned Mandarin before. Some of her family members are also learning foreign languages at Rumah RBB (Rumah Belajar Bersama) where she is learning English now. Her elder cousin, Lala, is teaching at an international school in Bali now. Lala is the close family example that Lulu wants to follow. Lala is one of the important persons who has inspired her to learn foreign languages.
“Wow, that is amazing family”, Jessica said and Victor agreed. Jessica asked more questions. “Is Japanese language difficult?”, Jessica asked. “No”, Lulu answered. “I have learned Mandarin before. It is similar to Japanese”, she added confidently.
Jessica and Lulu
In short, from this good understanding, Jessica and Victor saw that the 19-year-old girl did not just have big dreams but also made a real effort. This meeting made Lulu very happy. She smiled because the guests could understand her words, even though she is still at the Basic English level at RBB.
Try to talk with children
Other students at the same level also wanted to speak. However, they understood that the two kind foreign guests were the visitors of Kak Aris Irfan—the Head of Cahaya Bone of Kalla Travel and the Owner of Villa Malomo. It was time for them to leave Bulukumba and go to Bira, their main destination. Moreover, Kak Irfan and his beloved wife had been waiting patiently for a long time. Therefore, the students quickly took some pictures together as memories of this inspiring meeting which almost ended.
Kak Rani, a teacher of learning to read, write and Math for kids and Mademoiselle Jessica.
Kak Irfan did a great thing. He supported local Indonesian students to be brave and speak English with foreigners. To Kak Irfan, Mademoiselle Jessica, and Señor Victor, all of us in informal education thank you very much for your kindness. Because of you all, this unpredictable, unimaginable and valuable meeting came true.
Sebuah pertemuan yang cukup mengagetkan bagi para pelajar ketika Victor dari Spanyol dan Jessica dari Prancis mengunjungi kelas belajar. Para pelajar saling berbisik untuk menjawab rasa penasarannya. Mereka semua kemudian diajak duduk satu meja bersama Victor dan Jessica.
Saat berada di dalam ruang kelas, Mr. Agung Pratama Salassa, guru Bahasa Inggris, menyambut dengan penuh ramah tamah dan memberikan pengantar tentang para pelajarnya yang mayoritas oleh anak anak dan remaja itu. Setelah itu para pelajar diajak untuk berdialog. Wah! Sebagian besar berharap mendapatkan pertanyaan dan dua orang bule itu pun berpikir sama. Diam sejenak. Keheningan terpecahkan melalui kepandaian bergaul Jessica. Ia menyapa beberapa orang dan mendapatkan balasan dalam Bahasa Inggris. Suasana terlihat lebih akrab.
Tak berselang lama, Lulu yang telah tamat SMA mendapatkan beberapa pertanyaan. Ia yang kesempatan berharga tersebut memanfaatkan diri untuk berbicara sebaik yang ia bisa dengan menceritakan keinginannya berkuliah di Amerika Serikat atau Jepang.
Untuk bisa kuliah di universitas terbaik dan turut aktif dalam pergaulan dunia, Lulu sedang belajar Bahasa Inggris dan Jepang. Ia juga pernah belajar Bahasa Mandarin. Beberapa orang keluarganya pun belajar bahasa asing di RBB, tempat dimana ia belajar Bahasa Inggris. Tak lupa, Lala, sepupunya Lulu, yang kini mengajar di sekolah Internasional di Bali adalah contoh keluarga dekat yang ia ingin ikuti jejaknya. Dari Lala, ia terinspirasi belajar bahasa asing.
‘Wow, keluarga yang luar biasa!”, ekspresi Jessica dalam Bahasa Inggris dan pernyataan itu didukung oleh Victor. Jessica mencoba mengecek lebih jauh. “Apakah Bahasa Jepang itu sulit?” tanya Jessica dalam Bahasa Inggris. “Tidak”, jawab Lulu. “Saya pernah belajar Bahasa Mandarin. Itu ada kemiripan dengan Bahasa Jepang”, tambahnya meyakinkan.
Singkat kisah, dari obrolan santai tersebut, Jessica dan Victor membaca bahwa anak mudi sembilan belas tahun itu tidak sekedar punya mimpi dan cita-cita yang tinggi tapi juga usaha yang nyata. Mereka bertemu di kelas Bahasa Inggris. Terlihat dari ekspresi wajah Lulu senang mendapatkan sambutan hangat karena pembicaraannya dapat dimengerti betapapun ia masih di level Basic English di RBB (Rumah Belajar Bersama).
Pelajar yang lain yang setara kemampuannya dengan Lulu tentu juga ingin ikut berbicara. Namun, mereka mengerti bahwa keduanya merupakan tamu Kak Aris Irfan–Pimpinan Cahaya Bone of Kalla Travel dan Owner Villa Malomo–yang sudah waktunya harus meninggalkan kota Bulukumba menuju Bira yang menjadi tujuan utama mereka. Terlebih lagi, Kak Irfan ditemani istrinya tercinta sudah cukup lama sabar menanti. Rekan-rekan pun sesegera mungkin berfoto bersama sebagai tanda akhir dan sekaligus kenangan dari pertemuan yang mencerdaskan ini.
Apa yang dilakukan Kak Irfan sudah memberikan kontribusi besar mendukung kemajuan pelajar Indonesia di daerah untuk lebih berani dan aktif berbahasa Inggris dengan penutur asing. Kepada Kak Irfan, Mademoiselle Jessica dan Señor Victor, kami semua yang terlibat aktif dalam dunia pendidikan berterima kasih sedalam-dalamnya atas kebaikan hati kalian semua. Karena anda semua, pertemuan berharga yang tidak terbayangkan ini terlaksana.
Pelajaran Parts of the body (Bagian-Bagian dari Tubuh) adalah games yang sangat disukai anak-anak. Mereka tidak terlihat bosan dan terus membuat pertanyaan secara bergantian. Seorang pemimpin yang berdiri paling depan membuat pertanyaan, “What is theEnglish word for nadi?” (Apa bahasa Inggris dari nadi?). Yang sanggup menjawab dengan benar berhak jadi pemimpin, sedangkan yang salah mundur ke baris paling belakang. Setiap orang berusaha menjawab benar, ingin memimpin.
Anak-anak yang berada di dalam barisan juga saling berbisik. “Saya lupa Bahasa Inggrismya siku”. Rekannya memberitahukan, “elbow“, katanya. Dan ada pula yang mendatangi guru kelas menanyakan kosakata yang ia lupa.
Cara belajar yang ini sangat efektif membuat anak-anak rajin bertanya tanpa diminta untuk bertanya. Diri mereka sendiri merasa butuh untuk mengetahui, bukan guru. Yang membuat games lebih seru adalah beberapa anak yang memimpin memberikan pertanyaan sulit agar mereka mempunyai kesempatan memimpin permainan lebih lama. Anak yang tidak mampu menjawab mempunyai rasa ingin tahu yang lebih tinggi dan berharap bisa menjawab untuk memimpin.
Memperkenalkan kosakata dipraktekkan secara bersama-sama di kelas terlihat mengesankan. Tapi untuk membuat anak-anak lebih bergembira, games pilihan yang menyenangkan. Terdapat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan secara individu membuat anak tersebut sadar akan tingkat kemampuannya sendiri. Dan tentu saja, mereka tidak ingin selalu gagal dalam menjawab.
Selain itu, ada kondisi dimana mereka bertindak selangkah lebih maju. Mereka bisa berkreasi sendiri membuat aturan permainan. Guru sekedar memperhatikan saja agar kelas berjalan efektif sambil tetap menyemangati dan mengingatkan kosakata yang membuat mereka gagal dalam menjawab.
Games tentang Parts of the Body adalah contoh percakapan sederhana dalam mengasah keberanian berbicara Inggris. Ada tanya-jawab, rasa ingin tahu dan pelatihan kepemimpinan ala anak-anak.
Apakah anak-anak bagian dari games belajar tersebut?