Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Kenapa Harus Olahraga?

    Kenapa Harus Olahraga?

    Tidak berolahraga itu benar benar menyiksa. Cedera sakit pinggang menyebabkan penulis berhenti latihan karate selama beberapa bulan. Tubuh mengembang seperti bola, malas bergerak semakin menghantui hari hari yang berlalu. Akal sehat memerintahkan untuk aktif lagi latihan.

    Di awal-awal kembali latihan, beratnya minta ampun. Sip up yang sudah mencapai 500 kali dalam sehari kini baru 20 kali saja, otot perut tertarik. Pukulan dan tendangan tidak terbentuk, lambat dan nafas pendek menyebabkan pandangan mata berkunang-kunang. Jam istirahat lebih banyak dari jam latihan.

    Pengajaran para karate ka untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas, kepala tidak boleh tunduk, jangan jongkok, tetap tegakkan badan agar peredaran darah ke otak tetap lancar. Latihan menggunakan nafas perut diaktifkan untuk menghalau nafas pendek, menormalkan pernafasan. Mudah lelah rasanya seolah kembali berlatih dari awal. Ya, itulah konsekuensi yang harus dihadapi dari orang yang terlalu banyak menunda waktu.

    Jalan sehat itu sebenarnya tidak mahal selama konsistensi berolah raga dilaksanakan. Kita harus menemukan alasan yang tepat mengapa kita harus berolahraga. Pendapat yang paling lazim adalah alasan kesehatan. Bagi karate ka yang mau ujian, pasti ia berpikir bahwa bila tidak latihan, ia akan bonyok di ujian. Dan bagi yang lain bisa mengatakan ini stategi memperlambat penuaan.

    Memulai kembali olahraga cenderung sulit memulainya lagi setelah beristirahat dalam waktu tertentu. Siapkah kita hidup lebih tersiksa? Makanan yang kita konsumsi sehari-hari mayoritas mengandung zat kimia, pengawet dan semacamnya. Bagaimana cara membakarnya? Konsumsi obat? Bersediakah akal sehat kita memerintahkan untuk berhenti olahraga?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 21 April 2026

  • Kolaborasi

    Kolaborasi

    Negara Finlandia menggemparkan dan menjadi rujukan dunia pendidikan karena berhasil menjadi top one melampaui Amerika. Orang Scandinavian itu tidak menerapkan sistem kompetisi melainkan kolaborasi. Kompetisi memang mencetak seseorang menjadi terbaik sedangkan kolaborasi mengajak kerjasama, saling mengisi kelebihan dan kekurangan, pintar bersama.

    Azdra (jilbab abu-abu) dan Ifa (jilbab merah ) pelajar kelas 1 SMPN 1 Bulukumba, tidak bisa dipisahkan meskipun mereka suka saling menyalahkan. Azdra anak yang tidak pusing dengan urusan pelajaran. Ia hanya tidak ingin ditafsirkan oleh ibunya tidak belajar. Sedangkan Ifa, ia punya target, kerja tugas dan rajin membaca. Azdra akan rajin bila tahu bahwa pelajarannya tertinggal dari Ifa. Ifa yang meskipun sering marah ke Azdra terlihat senang hati bila Azdra butuh bantuan. Mereka ingin sukses bersama.

    Apa yang perlu kita tindak lanjutkan adalah para pelajar yang sudah terbiasa saling membantu tidak diarahkan pada menyontek, kecerdasannya semu. Anak anak yang biasa menyontek akan merasa aman karena mendapatkan nilai rapor yang bagus. Orang tua murid yang sekedar melihat nilai rapor anak-anaknya pasti akan terkecoh. Pada akhirnya, generasi yang tercipta tidak ada bedanya dengan mesin foto copy.

    Dari cerita di atas, Ifa berlatih menjelaskan agar Azdra memperoleh proses belajar hingga tahap tahu. Dengan demikian, derajatnya sama sama terangkat. Di kemudian hari, Azdra bisa menolong pelajar lainnya yang pernah senasib dengan dirinya. Dan bagi orang seperti Ifa, ia tidak akan kekurangan ilmu sedikit pun, malahan ilmunya makin bertambah.

    Dalam beberapa hal, Azdra sesekali membantu rekan kelasnya untuk membaca dengan atau menjawab soal-soal latihan dengan benar. Di sini, Azdra tanpa ia sadari dirinya telah menerapkan sistem kolaborasi, bukan kompetisi. Ia menjadi bagian orang yang penting di kelas, dibutuhkan oleh rekan-rekannya

    Long life education. Pendidikan itu memang investasi jangka panjang. Perubahan dan pengembangan cara pandang itu butuh proses belajar yang berkelanjutan. Kesuksesan sistem kolaborasi belajar yang dibangun oleh Finlandia terjadi karena mereka terus berbenah diri dimana para pelajar, lingkungan, orang tua dan sistem pemerintahan saling mendukung satu sama lain. Terdengar sederhana tapi itulah kenyataan yang mengagetkan dunia pendidikan.

    Sebenarnya sih, Indonesia itu juga punya Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan), saling mendukung. Kalau tidak dibilang sama dengan Finlandia, paling sedikit, ada kemiripan. Tapi kenapa hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) literasi membaca, matematika dan sains pada 2022 dari pelajar Indonesia itu masih di bawah standar? Akankah PISA pada 2025 yang rilis terbaru diumumkan 2026 ini mengalami perubahan?

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Senin, 21 April 2026

  • Wasit Juri Karate Indonesia

    Wasit Juri Karate Indonesia

    Karate bukan sekedar urusan membela diri yang berisi kumite dan Kata (Bertarung dan jurus-jurus untuk bertarung) tapi ia juga ruang kejuaraan untuk pengembangan diri dalam bentuk kejuaraan. Indonesia kemudian ikut serta dalam kejuaraan menggunakan aturan WKF (World Karate Federation) ala Eropa, bulan aturan Jepang, tempat asal kelahiran karate.

    Alasannya sederhana. WKF lebih menekankan pada olah raga, bukan lagi bela diri. Ini cukup aman bagi para atlet, tidak ada serangan telak dan keras yang boleh dilakukan. Bila itu terjadi, petarung diskualifikasi. Itu tentu bertolak belakang dengan tradisi kejuaraan karate Jepang masih mengedepankan pertarungan yang saling baku hantam dengan keras, karate tradisional. Skin touch (Sentuhan ringan) pada lawan sama sekali tidak dihitung.

    14 April 2026, FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan mengadakan pelatihan dan ujian Wasit-Juri dan Pelatih. Semua itu untuk mengisi ruang ruang kejuaraan di Indonesia. Hanya para peserta yang terdiri sabuk hitam yang berhak mengikuti dan bisa menjadikan bagian dari jenjang karir.

    Soal soal WKF menyangkut test tulis dan praktek. Karena asalnya berbahasa Inggris, soal itu terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Transfer penerjemahan Bahasa Inggris ke Indonesia terkadang membuat para peserta terkendala memahami isi soal disebabkan oleh terjemahan yang buruk. Sebagai penyelamatan, mereka harus belajar pada orang yang sebelumnya telah lulus dan benar benar mengerti isi penjelasan saat pelatihan.

    Kendala lain, jumlah soal yang sangat banyak. Soal kumite lebih dari 250 lebih dan Kata hampir dua ratus. Namanya juga soal, tipuan soal pasti berlaku. Karena itu, pemahaman disertai logika yang bisa mengatasi tipuan soal tersebut. Beruntung, jumlah soal kumite yang akan diujikan sekitar 70 dan Kata sekitar 50. Tapi kan, soal diacak. Tidak ada pilihan lain selain belajar. Bagi yang cukup waktu belajar, ia dapat mempelajari semua soal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

    Para wasit juri dan pelatih pendamping atlet yang ber-license ini yang banyak mempengaruhi perkembangan kejuaraan karate Indonesia. Menang atau kalah dari para atlet yang berbakat berada dalam keputusannya. Dari sini, atlet atlet terbaik akan lahir mewakili Indonesia di kejuaraan antar negara dan dunia yang memakai sistem WKF.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Minggu 10 April 2026

  • Pembiasaan adalah Atom

    Pembiasaan adalah Atom

    Ini foto seorang dosen Hubungan Internasional UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) dan doktor muda dari Bulukumba, Sulawesi Selatan yang mau mendidik para mahasiswa untuk belajar menulis. Namanya Dr. Ahmad Sahide. Masa kuliah S 1 di UMY, rekan-rekannya panen juara pidato dan debat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris namun ia satu kali pun tidak pernah minat. Ia hanya mendukung dengan menyediakan kajian pemikiran melalui bedah buku diadakan agar para juara orator dan debator itu pun amunisi yang canggih dalam mengungkapkan gagasannya. Kajian itu diadakan tiap minggu dan terbuka untuk mahasiswa umum.

    Baru baru ini kemenakan penulis, Palaguna Patwa–Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, mengirim pesan WA, ‘Saya masuk kelas menulis Ahmad Sahide’, katanya singkat. Penulis langsung mengingat Ahmad yang sering mengayuh sepeda atau meminjam motor dari kosnya di Ontorejo No. 6 Wirobrajan Yogyakarta untuk membawa tulisannya ke Koran Kompas, Jl. Suroto No. 21, Kota Baru, Yogya.

    Selama bertahun-tahun tulisan Ahmad tidak pernah diterbitkan Kompas tapi menariknya, ia sekali tidak menyerah. Ia yakin pada waktunya ia pasti bisa tembus koran nasional mengingat dirinya sangat tekun menulis dan paham tata bahasa yang pernah ia pelajari detail selama di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur. Kemampuannya menulis makalah berbahasa Inggris tidak tidak diragukan. Ia adalah segelintir mahasiswa yang lulus kelas internasional dimana pengantar dan tugas-tugas kuliah wajib berbahasa Inggris.

    Pengurus Koran Gerakan, koran kampus yang populer pada masanya, berpikir untuk meregenerasi pengurus. Hasil kesepakatan rapat, Pimpinan Redaksi dipercayakan ke Ahmad. Disitulah Ahmad dan teamnya ‘berolahraga’ mengangkat isu kajian berat dan isu remeh temeh sembari sambil belajar dan menganalisa cara penulisan orang handal Indonesia dan orang asing yang ia peroleh dari membaca ribuan buku.

    Setelah menyelesaikan S 2, S 3 di UGM (Universitas Gadjah Mada) dan menjadi dosen serta dibalik kapasitas intelektual dan karirnya yang terus menanjak naik, ternyata Ahmad tetap humble (rendah hati). Ia tidak lupa untuk untuk peduli hal hal terkecil semisal mendidik pemuda pemudi belajar menulis. Tapi bukankah perubahan kecil yang memberikan hasil luar biasa? Tulisan Ahmad kini bukan saja biasa dimuat di Kompas tapi media beragam nasional lainnya dan makalahnya tersebar dalam saat ini mengisi seminar di dalam dan luar negeri.

    Para juara debator, orator yang merupakan rekan seangkatan Ahmad dan juara lainnya melakukan pembiasaan kegiatan dari hal hal kecil. Ahmad dan James Clear pada buku Atomic Habits yang popular itu memberikan contoh bagaimana dahsyatnya partikel kecil yaitu atom menciptakan ledakan. Para pemuda pemudi yang sedang belajar menulis tersebut diharapkan nantinya melakukan yang sama, sebaiknya sih lebih baik. Toh, kalian itu belajar dari orang-orang hebat.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin 20 April 2026

  • Mengembangkan Otak Anak

    Mengembangkan Otak Anak

    Mengajar anak anak dengan menargetkan memahami suatu materi tertentu dengan pemahaman yang utuh bukan perkara yang mudah. Saat sedang belajar saja, mereka sering bertanya, ‘Kapan keluar main?’ Mereka suka cepat-cepat menyelesaikan tugas hanya karena ingin keluar main, bermain main.

    Istilah ‘main-main’ yang merupakan kesenangan anak anak yang tidak bisa diganggu gugat itu dapat disetel untuk memenuhi target belajarnya. Bagi anak-anak yang lebih dahulu menyelesaikan tugas, mereka memperoleh keluar main lebih awal. Mereka pun akan berlomba.

    Tapi ada juga anak anak yang tidak suka pendekatan ini sehingga jurus yang kita gunakan adalah sedikit ancaman dengan mengatakan tidak ada keluar main bagi yang tidak menyelesaikan tugas. Karena tidak ingin kesempatan bermain hilang, mereka segera mengerjakan tugasnya dengan cara bertanya ke teman-temannya dengan maksud menjawab latihan dengan cepat.

    Kendala yang sering muncul adalah keakraban antara guru dan anak-anak seringkali membuat guru tidak diperhatikan. Hal ini dipengaruhi oleh sikap guru yang memberikan kebebasan berekspresi pada muridnya. Ketika guru sedang menjelaskan, sebagian murid akan berbicara yang menyebabkan penjelasan guru tidak mereka dengar. Kebisingan kelas terjadi, ruang belajar tidak kondusif, suara bertabrakan.

    Sekali waktu, penulis pernah tidak mau mengajar satu kelas anak anak. Mereka berusaha datang merayu tapi penulis tidak menggubris. ‘Silahkan keluar main sepuasnya. Anggap saja waktu belajar itu waktu keluar main’, kata penulis. ‘Saya tidak mau mengajar kalian lagi’. Gertakan ini sengaja diberikan agar mereka bisa berpikir serius mencari akal menemukan solusi.

    Solusi Cerdas Anak anak
    Anak-anak terdiam dan berkumpul berdiskusi dan kemudian menemukan solusi sendiri. Mereka sepakat membaca materi pelajarannya secara bersama-sama tanpa guru. Bila ada yang bikin gaduh, mereka saling menegur untuk kembali fokus pada pelajaran. Sebagai penguat, rekaman video dibuat sebagai bukti bahwa mereka telah berubah. Setelah selesai, video tersebut diperlihatkan ke penulis.

    Negosiasi anak-anak berjalan sukses. Karena senang dengan trik rayuannya, penulis Kembali mendidik malam itu juga. Sebagai balasannya, mereka dapat games. Mereka bergembira karena guru kelasnya bersedia kembali mengadakan dan games adalah kesukaannya yang selalu dinantikan setelah belajar.

    Kesulitan dalam mendidik anak-anak dapat terselesaikan dengan tidak semata-mata menargetkan mereka untuk paham materi dalam waktu yang singkat mengingat ada ruang bermain yang harus dipenuhi. Percepatan dalam dilakukan dengan cara mengemas kelas belajar dalam suasana bermain dan menjawab waktu keluar main dapat diisi dengan permainan yang mengembangkan otak anak dan berpikir.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 April 2026

  • Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

    Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

    Apakah anda pernah belajar ke kampung Inggris, Pare, Kediri di Jawa Timur? Mungkin anda akan heran pelajar sekolah mahasiswa dan dosen berada di dalam satu kelas belajar. Tidak ada pemikiran perbedaan umur, apalagi kebanggaan status. Para guru-gurunya pun relatif yang masih muda. Bahkan, banyak diantara mereka yang tamat SMA tapi ilmu Inggrisnya bertaraf internasional.

    Lingkungan seperti itu sangat kondusif untuk tidak memikirkan status. Para anak muda itu tidak akan sungkan bertanya pada anak remaja yang telah paham materi tertentu. Dan karena saling tolong menolong dalam hal berbagi ilmu itu kejadian biasa yang kita temukan dalam keseharian, dala. suasana santai pun dapat belajar.

    RBB (Rumah Belajar Bersama) pun menerapkan hal yang sama. Adeeva, seorang anak yang telah menamatkan buku cerita Inggris, membantu Lulu, seorang pelajar pemula yang telah tamat SMA. Lulu terkesan dengan kemampuan Adeeva yang memahami isi cerita dengan baik dan cara menjawab menjawab soal-soal dengan benar. Karena keduanya saling terbuka untuk belajar tanpa memikirkan status, dalam waktu yang singkat, sebuah cerita berbahasa Inggris dapat Lulu selesaikan.

    Lulu kini tahu bahwa ia tidak semata-mata bertumpu pada guru kelas. Dengan bergaul kepada sesama pelajar RBB, ia bisa bertanya dan menyelesaikan persoalan Inggris yang ia sedang pelajari. Dan bagi Adeeva dan pelajar lainnya yang telah tamat beberapa buku, itu semacam micro teaching untuk mengasah kemampuan berbagi ilmu yang membuatnya lebih paham pada materi yang ia telah pelajari. Keakraban sesama pelajar pun terbina dimana obrolan mereka bukan lagi sekedar gosip tapi pengetahuan.

    Ketika proses belajar di atas sedang berlangsung, guru kelas sebaiknya tidak berada di dekat para pelajar agar sang guru tidak menjadi rujukan utama. Biarkan saja mereka saling berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahannya. Bila terdapat masalah yang tidak dapat dipecahkan, guru bisa turun tangan membantu memberikan arahan cara menjawab, bukan memberitahu jawaban agar eksplorasi berpikir lebih terasah.

    Perkembangan belajar secara kultural ini sangat kuat membangun tradisi belajar dimanapun kita berada. Dengan meleburkan status sebagai orang penting, ego otomatis terkikis. Para pelajar tidak akan sungkan lagi untuk belajar kepada siapapun juga termasuk bertanya kepada anak anak yang berilmu. Ketika kita berada di lingkungan seperti itu, maka dimanapun kita berada atau dalam kondisi santai sekalipun, belajar tetap bisa dilakukan. Dan para guru yang dicap punya kemampuan mengelola kelas seperti di atas adalah rekan belajar. Semua meleburkan diri jadi satu kesatuan, belajar bersama.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu 19 April 2026

  • Karate: Bela Diri dan Olahraga

    Karate: Bela Diri dan Olahraga

    Andrew Bertel seorang ahli bela diri yang menganggap karate itu seperti universitas. Dialah yang mempertahankan karate dengan jurus-jurus yang mematikan, bukan olahraga sebagaimana yang kita kenal di kejuaraan dunia.

    Sewaktu Achmad Sjairodji ke Bulukumba pada 2012 memberikan ujian Kenaikan Sabuk Penurunan Kyu di INKAI (Institut Karate Do Indonesia) untuk ranting INKAI Kodim 1411 Bulukumba, penulis terhenyak kaget dengan gerakan Uchi Uke, Chudan Tsuki dan Giyaku Tsuki–Istilah gerakan tangan dalam karate. Bahasa Jepang. Terdapat kecepatan gerakan, enerjik dan powerful. Ada hentakan di ujung gerakannya. Belakangan penulis tahu bahwa untuk menciptakan gerakan seperti itu harus bisa seringan mungkin di awal bergerak, tanpa mengunci tenaga dan diakhiri dengan kekuatan penuh. Tak heran bila gerakan tangan bergetar disebabkan adanya ledakan kekuatan.

    ‘Wah, ini mirip Andrew Bertel’, pikir penulis dalam hati. Sebagian orang mungkin menganggap berlebihan tapi setidaknya teknik yang dipakai sama dan keahlian diperoleh dari hasil latihan selama berpuluh-puluh tahun. Andrew Bertel dan Achmad Sjairodji keduanya berlatih sejak masa kecil dan terus ditekuni hingga dewasa dengan membuka do jo (tempat latihan). Ijazah kelulusan ‘kuliah di universitas’ karate diperoleh dengan ujian kenaikan DAN di sabuk hitam.

    Seiring waktu, penulis akrab dengan Sensei Odji (Sensei: Guru. Dalam karate kata Sensei dipakai bagi orang yang minimal di DAN IV) membuat penulis menanyakan berbagai macam hal tentang karate. Maka berlakulah istilah populer, karate itu seperti air yang dipanaskan. Bila tidak berlatih, dingin kembali. Tidak pernah berhenti latihan dan kesabaran adalah kuncinya. Orang yang demikian akan menemukan gaya khas bertarungnya.

    Hal yang melengkapi adalah Sensei Odji juga mengerti Kata (Jurus-jurus karate). Bahkan, ia tidak hanya dapat membuat anak di bawah lima tahun menghapal Kata yang rumit tapi juga mampu membuat anak itu bergerak secara memukau mengikuti prinsip dasar hukum gerakan karate. Tidakkah mengherankan bila banyak atletnya jadi juara dalam berbagai kompetisi di Kata dan terlebih lagi Kumite (pertarungan).

    Pada kegiatan di foto 13 April 2026 ini, kami bertemu kembali dalam rangka Ujian Wasit Juri Karate FORKI (Federasi Olahraga Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan untuk menguji kecerdasan otak para pelatih karate dengan tes ragam aturan kejuaraan karate, kecendrungan sih karate mengarah ke olahraga. Ujian mencakup Kumite dan Kata.

    Ujian rumit itu tidaklah begitu sulit bagi Sensei Odji karena sebagai seorang pelatih dan praktisi bela diri, ia tahu mana gerakan karate yang tidak dikategorikan sebagai olahraga. Ia juga telah banyak membaca teori karate yang berhubungan dengan olahraga yang dikeluarkan oleh aturan WKF (World Karate Federation) yang memudahkannya menghadapi ujian tulis dan praktek. Hasil sudah tentu dapat ditebak, lulus dengan nilai meyakinkan.

    Modernitas memang berhasil merubah arah bela diri karate menjadi olahraga yang dipertontonkan dengan bumbu juara. Segi positifnya, banyak orang terpengaruh ikut kejuaraan sehingga karate makin mudah dikenal di dunia. Dari sini, para karate ka (ka: ahli. Ahli karate) juga dapat mengukur seragannya untuk tidak merusak, mencerai lawan. Sistem keamanan lebih diperketat.

    Tapi jangan lupa, karate itu pada dasarnya bukan olahraga tapi sejatinya adalah bela diri. Bila anda berselancar di internet menonton video Andrew Bertel, anda akan menemukan gerakan yang mematikan, jauh dari kesan olahraga. Dan jurus jurus tersebut tetap diajarkan di Do Jo karate. Dan bila anda ingin menikmati bela diri dan olahraga karate, anda bisa bergabung berlatih bersama Sensei Odji di Indonesia, tepatnya di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan
    * Pelatih INKAI Bulukumba

    Bulukumba, Sabtu, 18 April 2026.

  • Zoom Inggris untuk Pelajar Indonesia

    Zoom Inggris untuk Pelajar Indonesia

    Diskusi lewat zoom video merupakan gagasan cerdas dalam mempertemukan orang orang yang berbakat dalam pengembangan Bahasa Inggris yang sedang kami gerakkan. Jauh sebelum virus Corona mengamuk, RBB (Rumah Belajar Bersama) dan EPC (English Practice Club) telah menjalankan ini dengan mengundang berbagai alumni pelajar luar negeri Indonesia dengan berdialog dengan pelajar dan khalayak umum yang berminat praktek Bahasa Inggris. Sayangnya, pertemuan zoom ini hanya delapan kali saja.

    Pada April 2026, setelah zoom pertemuan pertama dengan Salma Minasaroh–lulusan Universitas Gadjah Mada, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Kampung Inggris Pare, Jawa Timur, penulis mendapatkan usulan dari Mr. Ancha, pengajar RBB, lulusan UIN Alauddin, Muhammadiyah Makassar dan UGM Yogyakarta plus Kampung Inggris Pare agar RBB menjalin komunikasi yang erat dengan pengiat Bahasa Inggris super aktif di Bulukumba. Miss Sindar English dan Miss Fathy Cayadi kami ajak agar para pelajarnya bisa berkenalan dan bertukar gagasan dengan orang-orang baru di Sulawesi Selatan dan Jawa meskipun mereka tidak pernah bertatap muka langsung.

    Miss Sindar yang sukses merancang murid-muridnya di SMA 6 Kec. Herlang Bulukumba membuat buku Tenses menyambut gembira gagasan tersebut tentu punya stok pelajar yang siap untuk menindaklanjutinya. Untuk tahap awal, diskusi akan lebih banyak pada mengasah kemampuan berbicara dimana para pelajar yang masih pemula speaking pun diperkenankan bergabung. Grammar dan Pronunciation (tata bahasa dan pengucapan) juga bisa dibahas bila peserta zoom membutuhkan nantinya.

    Tahap berikutnya, ketika para peserta zoom ini telah aktif berbahasa Inggris, kita akan kembali mengundang alumni Indonesia yang pernah kuliah di luar negeri dan termasuk bule, para orang asing yang aktif atau pemerhati dunia pendidikan.

    Oh iya, sekedar info. Suasana makan siang bersama keluarga Sindar ini ditemani oleh Edi Iswandi Mallihorang, sang suami tercintanya
    Edi adalah rekan bermain penulis semasa kecil di Kalumpang dan menganggap penulis anak yang nakal. Setelah dewasa dan bertemu kembali, pemahamannya terhadap penulis berubah dan malahan mendorong anaknya di desa untuk ke kota Bulukumba belajar Inggris untuk masuk sekolah pelayaran, target Kapten. Dia pun sangat mendukung gerakan yang sedang diagendakan ini. Ia pun yakin bahwa banyak pelajar akan termudahkan dalam belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, April 2026

  • Mengenang Ust. Safwan di HMI

    Mengenang Ust. Safwan di HMI

    Membaca kabar dari Muhammad Irfandi, seorang kawan baik semasa aktivis tentang kembalinya Ust. Andi Muhammad Safwan ke pangkuan ilahi membuat saya terpaku, diam dalam keheningan malam pada Kamis, 16 April 2026. Saya coba mengecek, ternyata Irfan memperolehnya dari sebaran info media sosial Ust. Muhsin Labib. Tanpa sadar, air mata menetes mengenang masa-masa berguru ke beliau. HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) Yogyakarta memperkenalkanku pemikiran tokoh-tokoh intelektual dunia termasuk penggerak Revolusi Islam Iran, 1979. Dan dari Ust. Safwan, kami di HMI pun belajar mengenal lebih jauh pemikiran Imam Khomaeni, Murtadha Muthahhari, Ali Syariati dan lainnya.

    Saat kami Intermediate Training (Latihan Kepemimpinan 2) HMI di Yogyakarta, ada sesi pengantar oleh pemandu (semacam Mater of Ceremony Plus karena mengacak otak peserta) yang membuat kami secara alami bikin kubu-kubuan dalam berdebat, pro kontra dan saling tidak percaya pada kubu lawan. Kemudian, setelah perdebatan sangat tajam, pemateri utama Ust. Safwan masuk. Beliau mengatakan, ‘Jangankan Al Qur’an, semua realitas harus diragukan’.

    Sebagai anak muda yang belasan tahun yang masih lugu, pernyataan itu wow banget! Para peserta terdiam. ‘Kenapa mesti takut mengkritik Al Qur’an? Toh kalau Al Qur’an itu sebuah kebenaran, semakin dikritisi, kebenarannya makin tampak’ Kata Ust. Safwan. Rekan rekan peserta tergugah. Ya, aktivis HMI itu memang mendidik kadernya tidak doktrinal.

    Saya pun bergabung di RausyanFikr mengikuti kajian kajian Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan tokoh tokoh intelektual Islam. Kegandrungan membaca buku tentang pemikiran intelektual Islam di Iran lebih terarah karena ada tempat untuk bertanya dan mengkaji lebih lanjut. Bahkan, para mahasiswa bisa memilih program kajian pemikiran yang mendalam dibahas khusus selama berbulan bulan. Saya ikut menikmati beberapa programnya dan belajar selama bertahun tahun. Skripsiku tentang Pemikiran Politik Ahmadinejad, Presiden Iran.

    Seminar
    FAI UMY (Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) mengundang Ulil Abshar Abdalla, jaringan Islam Liberal. Rekan saya di HMI, Abdul Wahab Nasaru menyarankan kepada penyelenggara agar Ulil panel dengan Safwan mengingat 24 premis kesalahan berpikir Ulil telah dikritisi di berbagai macam forum. Saat seminar, Ulil tidak dapat membantah satu pun kritik dari Safwan. Betapapun demikian, Safwan tetap mengapresiasi keberanian berpikir Ulil dan ia tetap menghormatinya sebagaimana layaknya seorang manusia. Ada kedewasaan dalam perbedaan.

    Sebenarnya Ust. Safwan tidak suka popularitas tapi karena kami terus meminta agar beliau berkenan menanggapi isu booming masa itu pada buku Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur!, akhirnya beliau berkenan jadi pembicara panel dengan Ust. Yunahar Ilyas (Tokoh Muhammadiyah, Alm.) dan Muhidin M. Dahlan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Seluruh sudut ruang seminar terbesar kampus dipenuhi manusia, hampir tidak jarak antara pembicara dengan peserta. Seperti biasa, Ust. Safwan mengkritik Muhidin, sang penulis buku, yang menggunakan kecerdasannya membuat roman dalam membaca kebutuhan pasar. Adapun pembelaan yang diberikan, buku itu adalah novel fiksi, tak bisa dikriminalisasi.

    Secara pribadi, satu kesyukuran yang hampir terlupakan atas pemahaman saya dalam Bahasa Inggris adalah Ust. Safwan pernah menunjuk saya jadi MC saat saudara kandung Ayatullah Ali Khamenei (maaf, saya lupa namanya) berkunjung ke Indonesia dan mengadakan seminar internasional di UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang Peradaban Besar Dunia diselenggarakan oleh Rausyan Fikr. Posisi MC membuat saya hati saya girang karena mendengarkan dan melihat lebih dekat tokoh besar yang punya aura intelektual dan spiritual yang dahsyat. Dan saya benar-benar menikmati dan bahagia.

    Beragam seminar yang kami buat selalu Ust. Safwan hadiri baik itu kegiatan kecil atau besar. Selama punya kesempatan, beliau tidak pernah menolak. Semua itu tanpa bayaran. Malahan, Komisariat dan Korkom (Koordinator Komisariat) HMI UMY dalam berusaha mendapatkan dana kegiatan hanya cukup dengan selembar kertas berstempel saja dapat membawa buku-buku Rausyan Fikr untuk dijual. Beliau mengerti betapa beratnya para aktivis HMI dalam mempertahankan independensinya.

    Selamat jalan Ust. Andi Muhammad Safwan. Kami sungguh kehilangan sosok yang berjihad di jalur intelektual. Kami tahu bahwa kami tidak mungkin lagi duduk untuk mendengarkan ceramah sang guru yang tersistematis yang sangat menyentuh pikiran dan hati. Semoga ilmu yang telah diajarkan kepada kami dapat terus kami sebarkan dan memberikan manfaat kepada sesama. You are our beloved teacher. Al Fatihah.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 18 April 2026

  • Perseturuan

    Perseturuan

    Sejak kecil kami berdua sudah sering berantem karena perbedaan paham. Tidak ada yang mengalah dan mau kalah. Ia hebat dalam berhitung dan menganalisa masalah dengan terstruktur. Bakat itu ia peroleh dari Ummi (ibu, terjemahan khas Indonesia) kami. Sedangkan penulis terbiasa membaca buku yang diperoleh dari kebiasaan ayah kami.

    Karena Saiful Patwa adalah kakak dan badan lebih tinggi dan besar, penulis lebih banyak tertindas semasa kecil. Penulis cuma pernah memberinya tendangan Mawashi Geri (istilah karate yang berarti roundhouse kick, tendangan melingkar) ke arah punggungnya dengan keras dan ia tidak sempat membalas karena ayah dan ibuku segera melerai. Ia tidak pernah membalasnya dan menganggapnya persoalan itu sudah lama berlalu, marahnya sudah kadaluarsa.

    Sebenarnya sih, perkelahian itu tidak berhenti. Benturan fisik tidak pernah terjadi lagi tapi berlanjut ke perang pemikiran. Kecerdasan Kak Iful telah dikenal sejak SD 234 Kalumpang, Kec. Bonto Tiro, Bulukumba. Ia selalu saja dapat nilai sepuluh dan akrab dengan panggilan Sampulo (sepuluh)–Itu pujian tapi dirinya sepertinya kurang tertarik. Penulis pernah memanggilnya ‘Sampulo’ dan dibalas ‘Kujaguruko intu’, (Kutinju kamu) balasnya. Mungkin saja itu ditafsirkan ejekan karena ia punya nama panggilan, Iful. Heran juga. Orang lain yang bicara, tidak diapa apain namun kalau ke penulis kena ancaman.

    Di SMPN 1 Bulukumba, sebagian guru memanggil penulis dengan nama Iful padahal nama panggilan penulis Nain. Di SMAN 1 Bulukumba, ia pelajar terbaik lagi, mewakili Bulukumba untuk sekolah khusus di Makassar. Lagi lagi nama Iful pun melekat pada penulis padahal saya kurang tertarik dengan pelajaran sekolah sebagaimana Kak Iful. Bacaan penulis kebanyakan bukan buku sekolah. Pelajaran sekolah itu penting dipelajari kalau mau ujian saja.

    Wasit Juri Karate
    Kak Iful lebih dahulu masuk karate di INKAI Kodim 1411 Bulukumba. Berkat dirinya, penulis tertarik.gabung. Kebiasaan sipatappasa (Saling membanting semacam gulat,) kalau berkelahi di kampung berubah pada kecepatan pukulan dan tendangan. Namun kebersamaan tidaklah berlangsung lama karena ia sudah harus sekolah di Makassar sebagaimana disebutkan di atas.

    Saling tes kecerdasan di karate mulai muncul sejak kami ikut Ujian Wasit Juri Karate, 2023 di FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan. Ia lulus sebagai bagian dari peserta ujian tulis terbaik pada Kumite dan poinnya sedikit lebih tinggi dari penulis. Kak Iful bilang, ‘Tidak usah lawan saya. Kamu kalah’, katanya sambil tertawa. ‘Saya bisa membalas pada ujian berikutnya’. Pada 2024, kami sama-sama telah belajar serius ke Jakarta untuk ujian Wasit Juri Nasional INKAI. Sayangnya, entah karena apa, hasil tidak keluar. Tidak ada pemenang.

    13 sampai 15 April 2026, FORKI Sulawesi Selatan kembali mengadakan ujian Wasit Juri Karate. Pada ujian tulis Kumite (Pertarungan), Kak Iful menang angka, penulis kalah angka tapi pada Kata (Jurus), penulis menang angka, Kak Iful Kalah angka. Skor berimbang, satu sama.

    Selanjutnya, kesialan mulai tampak. Pada praktek Kumite, kami sama sama lulus. Pada ujian praktek praktek Kata, Kak Iful lulus, penulis tidak lulus. Lagi lagi ia memang satu. Ujian lain yaitu Sertifikasi Pelatih, kami sama sama lulus. Penilaiannya hanya bersandar pada ujian tulis Kumite atau Kata.

    Penulis dengan lapang hati memberinya selamat sembari mengingatkan bahwa untuk ujian tingkat Daerah sampai Nasional, dirinya bolehlah tersenyum lebar, soal soalnya masih dalam Bahasa Indonesia. Kalau sudah luar Indonesia, nah kusarankan agar ia mau belajar ke penulis menghadapi trik soal soal berbahasa Inggris. Dengan percaya diri ia mengatakan, ‘Saya bisa Bahasa Inggris’. Maksudnya, ia tidak aktif komunikasi Inggris di rumah semasa ayah kami masih hidup namun ia cukup punya pemahaman saat membaca teks Inggris. Apa iya? Pada waktunya nanti, ia pasti akan bertanya.

    Perseturuan ini asyik untuk dipelihara. Kami suka dan terbiasa perbedaan ‘berantem pendapat’ dan berjuang dengan cara sendiri. Dari perseturuan positif ini, kami malahan tambah semangat belajar untuk menambah pengetahuan dan untuk saling meledek.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Kamis, 16 April 2026