Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Diving: Horee sajalah!

    Diving: Horee sajalah!

    Tadi pagi ada pelatihan diving untuk tingkatan advance. Tantangannya adalah divers harus tidak memasang alat selam di permukaan air. Seluruh peralatan harus dipasang di dalam/bawah air. Memasang semua bagian regulator diantaranya first and second stages, submersible pressure gauge (SPG). Mask, Fin dan mask dan lainnya. Rumitnya lagi, untuk bisa mengapung, kantong udara harus diisi secara manual, ditiup dengan mulut. Wah! rumit kan. Memasang di atas perahu saja, butuh waktu yang lumayan lama. Lebih lebih di dalam air. Divers harus mampu lebih tenang dan lebih jernih memutuskan alat apa yang lebih dahulu di pasang di tubuh. Dan benar benar terbukti alat alat dipasang di bawah air, kepala tidak boleh muncul di permukaan.

    Sebagai manusia yang terlatih, sang guru Darmawan Didit Didot memberi contoh. Sulit mengetahui bagaimana ia melakukannya dengan mudah karena dari atas perahu, kami tidak bisa melihat jelas durinya di bawah air. Namun kemustahilan bahwa hal itu tidak bisa dengan segera terbantahkan. Saya pun tertarik melakukannya tapi karena belum waktunya, saya hanya berpikir bagaimana cara mensukseskan diri sebagaimana Kak Didit nantinya.

    Menurutku, yang paling utama adalah memasang alat pernapasan agar tidak segera lemas. Lalu, mask agar bisa melihat dalam air. Bila kedua hal tersebut tuntas, atur saja mana yang lebih dianggap penting dan lebih mudah dikerjakan.

    Divers tingkat advance pun ujian. Kebanyakan dari mereka mengapung. Sembari berusaha menganalisa, saya mencari masalahnya. Kendala mendasar mereka adalah menahan nafas, bukan, membuang nafas. Menahan nafas membuatnya mengapung karena ruang udara dalam tubuh lebih banyak. Bila sedikit udara, lebih mudah tenggelam. Lalu saya tersadar bahwa ilmu sederhana nan ampuh ini pernah dijelaskan oleh kawanku Yaser Muhammad Arafat sewaktu kami berlatih duduk seperti ala Budha di dasar kolam yang airnya dari aliran sungai.

    Adapun tim kami sebagai diver pemula, saya juga mengalami kendala. Awalnya saya masih sulit mencapai dasar laut karena saya hanya mengingat dua diantara tiga jalan untuk membuang udara. Jalan pembuang udara pertama sukses, tapi masih saja ada udara. Say mencari pelepas udara di belakang pinggang, sebelah kanan. Ketemu tapi talinya nga ada. Saya cukup mempertahankan diri untuk tidak sampai ke permukaan dan memperhatikan alat selam orang lain. Nah, ketemu juga. Tempatnya sebelah kanan belakang punggung. Tarik dan beres. Kantong udara benar benar kempes. Terumbu karang tepat di depan mataku.

    Begitu asyiknya, saya tidak memperhatikan bahwa ada bahaya dan memang kondisi putaran air laut kuanggap tidak berbahaya karena saya masih dapat mengendalikan cara menyelam. Tabung udaraku pun masih cukup banyak, 160 psi. Pelatih menunjuk ke atas, pertanda naik ke permukaan. Saya beri kode OK tapi ia tidak ke atas membuatku tetap berada di dasar laut. Beberapa orang mendekati dan memberi tanda yang sama. Saya semakin heran tapi karena ini kerja tim, saya ikuti sajalah arah tim.

    Tiba di permukaan, Kak Didit mengingatkan dari atas kapal meminta agar semua naik ke kapal segera. Arus perputaran air laut sangat kuat. Berbahaya! Penyelamatan ditunda dan dilanjutkan besok pagi. Horeee! Saya senang saja karena tim kami dapat jatah double untuk diving.

    Bira, 26 Juli 2020

    Bersambung…..

    Zulkarnain Patwa
    Peserta Pinisi Diving Club.
    Staff Pengajar Rumah Belajar Bersama

  • Rencana Menyambut Hari Wisata Sedunia

    Rencana Menyambut Hari Wisata Sedunia

    RBB (9/8)—Dalam menindaklanjuti kegiatan menyambut hari pariwisata dunia pada 27 September 2020 melalui rancangan Rekayasa Spot Diving Bulukumba, para divers (penyelam), intansi pemerintah, dan lembaga non formal berkumpul untuk menyatukan ide. Peserta yang hadir sekitar 40 orang, bertempat di Dego Dego Na Bira. (lebih…)

  • Rekayasa Spot Diving Bulukumba dalam Menyambut Hari Pariwisata Dunia

    Rekayasa Spot Diving Bulukumba dalam Menyambut Hari Pariwisata Dunia

    Segera setelah Pelatihan Pemandu Selam Dinas Pariwisata Bulukumba ditutup, para peserta dari Pinisi Diving Club (PDC) berkumpul untuk mengevaluasi kemampuan diving masing-masing sambil berdialog dan kemudian mengusulkan bahwa pengalaman berharga pelatihan ini adalah bekal yang utama untuk turut terlibat dalam mengembangkan potensi wisata bawah laut Bira.

    Lahirlah ide dalam Merekayasa Spot (tempat/titik) Diving. Memasang beragam barang bekas kendaraan di dasar laut berupa sepeda, Motor roda 2, motor roda 3, mobil dan lainnya pada kedalaman 5 Meter. Darmawan Didit Didoot, guru menyelam kami yang juga sempat hadir pada pertemuan informal ini, menyarankan kedalaman 10 meter. Ia menjelaskan bahwa pada kedalaman tersebut, barang bekas tidak terpengaruh oleh surutnya air laut sehingga nantinya akan dipenuhi oleh terumbu karang. Bila karang muncul ke permukaan laut, karang akan mati. Tiap perahu pun yang lewat pun tidak akan terganggu. Selain itu, ini titik yang aman bagi seluruh penyelam pemula (open water). Dan bagi tingkat advance, mereka juga dapat lebih mudah memandu dan mengawasi divers (para penyelam) tingkat open water.

    Diskusi berlanjut. Anggota PDC berencana menyumbangkan sepeda. Seorang peserta menawarkan perahunya dipakai secara gratis, termasuk bersedia membuat rompong untuk mempermudah barang yang agak berat seperti mobil untuk diangkut di laut. Seorang lagi berkenan menyiapkan kompressor bila kondisi terburuk terjadi. Dinas Pariwisata (Dispar) Bulukumba berencana menyumbangkan motor roda 3—sangat baik untuk dipakai berfoto selfie. Terdapat usulan agar mobil bekas tidak bertuan sitaan Polantas (Polisi Lalu Lintas) dilobi oleh Dinas Pariwisata Bulukumba. Andi Ayu Cahyani berkenan menindaklanjuti usulan ini ke Kadis (Kepala Dinas) Pariwisata. Orang-orang yang ingin barang bekas tidak terpakai pun akan diterima. Semua sumbangan akan lebih dahulu diperbaiki ala kadarnya oleh tim PDC agar tetap terlihat menawan di dasar laut.

    Lalu di dasar laut mana yang paling tepat untuk spot itu? Yang mengenal baik laut Bira berpendapat bahwa di depan penangkaran penyu di pulau Liukang, terdapat dasar laut berpasir putih yang telah lama tidak ditumbuhi karang. Masyarakat (Baca; Nelayan) sekitar Liukang tentu akan senang karena akan semakin banyak ikan dan manusia akan datang di sekitar perairan ini yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Untuk mendapatkan efek tersebut, mereka diajak turut serta merawat dan sekaligus memantau agar pengoboman tidak terjadi.

    Agar dapat melegenda, dipikirkanlah nama yang paling tepat untuk mengabadikan spot diving ini. Beberapa pendapat diantaranya :
    1. Babe Spot (Babe; Barang Bekas). Dalam Bahasa Inggris, Babe (baca: beib) berarti sayang. Tafsir lainnya akan banyak ikan kecil warna warni yang akan menjadikannya ‘rumah’.
    2. Bibir Tubir. Tubir adalah kemiringan di dasar laut.
    3. Atlantis Spot (mengembalikan ‘kampung’ bawah laut yang hilang dengan memasang barang bekas)
    4. Garasi Spot atau Under Water Garage (Garasi bawah laut). Barang yang diturunkan adalah kendaraan makan ditafsirkan sebagai garasi bawah laut.

    Beragam usulan terbaru masih dinanti. Penamaan itu sebaiknya mudah dilafalkan, dimengerti, frase tidak panjang dan terpenting punya argumentasi logis yang dapat diterima dan dipertanggung-jawabkan.

    Lalu, kapan waktu pelaksanaan? Karena kegiatan ini erat kaitannya dengan pariwisata, maka usulan menyambut perayaan hari Pariwisata Dunia pada 27 September 2020 sebagai momentum yang terbaik. Waktu yang cukup untuk membenahi berbagai macam kekurangan.

    Karena PDC ini adalah perkumpulan nirlaba (tidak mencari keuntungan) maka untuk mempermudah mewujudkan gagasan yang serius ini, pengurus PDC akan membuat proposal agar instansi pemerintah dan swasta dapat menyumbang secara resmi. Sumbangan perorangan yang tidak mengikat pun tentu dinantikan.

    PDC telah bersepakat bekerja sama dengan GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Bulukumba, Adwindo (Asosiasi Duta Wisata Indonesia), HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bulukumba, PHRI (Perhimpunan Hotel dan restaurant Indonesia. Kita tentu menanti rekan-rekan lembaga lain untuk turut serta bergabung mensukseskan acara pengambangan pariwisata bawah laut ini. Adapun Skansa (SMK 1) Diver Bulukumba yang memiliki peralatan selam yang lengkap masih sedang melakukan koordinasi dengan teamnya sebelum memtuskkan kata sepakat. Kran kerja sama lebih luas akan terus dibuka.

    Selanjutnya, media adalah salah satu kunci utama mempromosikan wisata agar mampu go internasional. Kegiatan terbaik apapun bila tidak diliput media akan mengalami keterlambatan penyebaran informasi. Itulah mengapa usulan mengundang kehadiran Metro TV, TVRI, TV One, Radar Selatan, Lidik Pro dan media lainnya yang belum sempat disebut menjadi bagian dari pusat perhatian PDC.

    Seperti inilah kesepakatan sementara yang telah dibuat. Pertemuan berikutnya direncanakan pada Minggu, 9 Agustus 2020, Pukul 13.00 Wita di Dego Dego Na Bira—Sebuah tempat wisata alam dikelilingi oleh tebing tinggi yang kokoh dan mempunyai gua yang disukai para petualang telah bertahun tahun dibuka oleh Indiz Essa Rutepar, Ketua Umum PDC saat ini. Sebagai tambahan, setelah shalat dluhur, pemandangan indah yang mengarah ke laut disertai dengan hembusan angin yang seringkali bertiup lembut akan membuat suasana makan siang dengan menu ikan segar di Dego-Dego Na Bira terasa bertambah nikmat. Untuk itu, kita menanti ikan hasil panah rekan-rekan divers (para penyelam) level open water.

    * Disadur dari diskusi pada Senin malam, 25 Juli 2020 di Bira.
    * Foto diambil dari group WhatsApp PDC

    Zullkarnain Patwa
    Peserta Pemandu Selam Dispar Bulukumba
    Anggota PDC (Pinisi Diving Club)
    Staf Rumah Belajar Bersama