Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Karate, Bahasa Inggris dan Intelektualitas

    Karate, Bahasa Inggris dan Intelektualitas

    Soal ujian Kumite dan Kata (Pertarungan dan Jurus) standar WKF (World Karate Federation) yang diikuti Indonesia memang bikin pening kepala para peserta yang ikut ujian. Beruntung, di Sulawesi Selatan ada sosok Prof. Muzakkir yang telah malang melintang di dunia internasional dan punya kecerdasan menyederhanakan dengan Bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh peserta pelatihan FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan yang penulis ikuti pada 2023 dan 2026.

    Dari modul pembelajaran yang tersebar versi Bahasa Indonesia, orang orang yang tidak mengerti dasar-dasar Bahasa Inggris pasti sangat kewalahan memahaminya. Misal, kata ‘tongkat kegembiraan’ sebenarnya berasal dari kata ‘joy sticks’, alat elektronik yang dipegang oleh juri untuk menilai poin. Kemungkinan besar proses penerjemahan sekedar menggunakan terjemahan google atau semacamnya tanpa melibatkan manusia mengeditnya.

    Karena terlanjur mengikuti WKF, Bahasa Inggris menjadi alat komunikasi yang penting, minimal dasar-dasarnya. Bila tidak, Wasit Juri kita hanya mampu sampai level nasional saja, sulit bersaing di tingkat internasional. Soal soal ujian tindak lanjut pun tidak pakai bahasa Indonesia lagi, pasti Inggris. Itu saja sudah repot. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya wasit juri Indonesia berkomunikasi dengan sesama juri yang berbeda negara bila terdapat protes yang sulit dipecahkan dalam suatu pertandingan.

    Penulis mengajukan beberapa penjelasan dan pertanyaan pada pembahasan aturan WKF (World Karate Federation) yang disosiasikan melalui FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan. Seminar ini dipandu  langsung oleh Sensei Uceng sebagai MC (Master of Ceremony) dan Prof. Muzakkir sebagai pembicara utama di Universitas Kristen Indonesia Paulus. Makassar, Senin 13 April 2026.

    Kapasitas lain yang dibutuhkan adalah kecerdasan intelektual. Wasit Juri bukanlah atlet yang harus menampilkan keahliannya dalam bela diri. Mereka adalah orang-orang dituntut menganalisa gerakan yang sesuai dengan standar WKF, termasuk kesalahan yang diperbuat. Persoalan yang tidak tercatat dalam aturan pun biasanya muncul. Misal, dalam aturan 10 detik, tiba tiba seorang atlet pingsan. Apa guna menghitung 10 detik bagi orang pingsan? Dan bagaimana bila ia sadar dan siap lagi bertarung sebelum atau setelah tiga menit ditangani dokter? Keputusan mesti dibuat dan itu tidak boleh bertentangan dasar aturan. Itu butuh nalar intelektual.

    Intelektual yang bisa berbahasa Inggris–Bahasa Jepang juga perlu juga agar tahu asal usul kata dari istilah yang dipakai dalam karate–perlu dicetak lebih banyak guna membantu menerjemahkan dan menjelaskan kepada pelajar karate tahap awal. Sosok Prof. Muzakkir yang juga Dosen UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar berhasil mengkombinasikan pengetahuan berbasis akademik dengan pengetahuan karate patut dicontoh karena punya peranan besar dalam membuat karate itu mudah dimengerti oleh orang orang yang menggeluti dunia karate.

    Zulkarnain Patwa
    * Peserta Ujian Wasit Juri FORKI Sulawesi Selatan.
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan.
    * Direktur dan Pengajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama.

    Makassar, Senin 13 April 2026

  • Teman

    Teman

    Menjalin silaturahmi dengan teman-teman itu wow banget deh. Kita bisa ngobrol apa saja, tidak perlu menentukan tema, tanpa alur sistematika berpikir dan tanpa menang atau kalah kayak debat. Obrolan bebas sebagaimana air yang mengalir. Dan yang paling asyik, canda tawa bikin bahagia.

    Memang sih, hidup itu butuh serius dalam menempuh cita cita. Tapi apa iya hidup kita ini lebih banyak serius dari pada santai? Dengan memperbanyak kawan, kita bisa lebih santai membicarakan hal hal yang serius. Bahkan, hampir tiada beban bertanya hal hal remeh temeh.

    Rekan di foto ini adalah Senpai Sardi Sar. Saat ujian sabuk hitam DAN 3 karate, penulis satu kamar hotel dengannya. Penulis minta tolong agar berkenan memperagakan beberapa Kata (Jurus) bahan ujian. Sembari baring, penulis nonton dan begitu pun sebaliknya hingga ada keyakinan bahwa Kata tersebut bisa dipraktekkan dengan baik saat ujian.

    Yang satu lagi Senpai Wama Andi Patawari. Senior kami satu ini orangnya periang dan suka terus terang. Apa yang ingin dikatakannya tidak dicicil, kontan saja tanpa ada beban. Humoris? Iya. Kritis? Iya juga. Ia punya kemauan yang kuat dan berjuang sekuat tenaga.

    Hasil ujian tulis Senpai Wama pada Wasit Juri Karate yang kami ikuti di FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan yang baru-baru kami ikuti juga bagus. Itu berkat hasil belajarnya disertai keramahtamahannya, beberapa orang dari daerah berkumpul di rumahnya di Makassar membahas soal-soal ujian. Untuk memimpin Wasit Juri Karate di atas Tatami (matras tanding), dengan memperbanyak praktek, ia pasti akan jadi lebih baik.

    Silaturahmi memperkuat ikatan persaudaraan, menepis prasangka. Kita jadi lebih mengerti mengapa teman kita seperti ini dan itu. Saling menghargai perbedaan pun terbangun. Pada saat yang sama, kita tetap bisa ngobrol santai yang sesekali diselingi candaan tawa tanpa beban melepaskan kepenatan berpikir dan hidup. Tidakkah itu membahagiakan?

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Rabu 15 April 2026.

  • Ragam Kekayaan Karate

    Ragam Kekayaan Karate

    Di luar dari perkiraan, penulis pun tidak pernah menyangka akan terlibat aktif dalam dunia Wasit Juri Karate. Pengetahuan yang selama ini dibangun menuntut ilmu dan urusan kesehatan dengan bela diri. Itu semuanya membangun mental kepercayaan diri, Eh, tahunya ada ujian Wasit Juri yang mana orang-orang bisa berkarir hingga ke tahap internasional.

    Memang sih, perancang ujian tulis standar WKF (World Karate Federation) cerdas. Mengutip istilah Prof. Muzakkir, pemateri saat kami pelatihan, mengatakan, ‘Yang bikin soal ini (maksudnya soal WKF) otaknya di atas Professor’.

    Penulis hanya tersenyum dan menganggap bahwa itu cara saja agar orang lebih serius. Pada akhirnya, penulis harus mengakui tingkat kerumitan soalnya karena meskipun lolos standar pada Ujian Tulis Kumite dan Kata (pertarungan dan jurus), penulis tidak mampu mencapai yang terbaik, kena jebakan juga.

    Berangkat dari pengalaman ‘menganggap enteng’ tersebut, Refleksi yang kemudian muncul adalah sekedar membaca dan memahami tidak cukup. Semestinya, penulis menerjemahkan sendiri modul materi berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Dengan demikian, pemahaman tentu lebih mendalam dan teliti.

    Sebelumnya, penulis merasa cukup puas dengan bahan modul Bahasa Indonesia yang diberikan padahal tahu bahwa banyak terjemahannya yang kacau. Pantas saja banyak peserta yang berwajah tegang menghadapi ujian. Beruntung, penjelasan Prof. Muzakkir saat seminar yang sangat baik sehingga banyak masalah terselesaikan.

    FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan berniat mengadakan pelatihan Wasit Juri Karate minimal sekali dalam enam bulan. Itu ide sangat bagus karena selain dapat menghemat biaya peserta yang tempat tinggalnya jauh dari pusat, pemahaman orang di daerah tentang aturan karate dapat berkembang pesat.

    Pertimbangan lainnya terletak iuran bulanan atlet karate itu super terjangkau yang efek ekonominya ke para pelatih sudah pasti biasa saja. Kapitalisme pada karate akan membuat para pelatih itu otomatis keok yang dampak besarnya menimpa prestasi atlet karate itu sendiri.

    FORKI adalah penghimpun seluruh perguruan karate dan tulang punggung dalam membumikan karate di Indonesia dan poros utama untuk mendorong atlet, pelatih dan wasit juri karate mampu bersaing di tatami (matras tanding) internasional. Siapa sangka, Advent Bangun (Alm) yang dikenal sebagai artis laga film Indonesia yang populer pada zamannya adalah seorang karate ka yang mengharumkan nama Indonesia di berbagai kejuaraan dunia. Prof. Muzakkir yang dosen Hukum UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar adalah Wasit Juri Karate di berbagai negara. Siapa lagi? Berikutnya adalah Anda.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan
    * Pelatih INKAI Bulukumba

    Pada foto adalah kumpulan pelatih INKAI Sulawesi Selatan yang mengikuti Ujian Wasit Juri Karate oleh FORKI Sulawesi Selatan di Makassar

    Makassar, Selasa 14 April 2026

  • Percakapan Inggris Anak Anak

    Percakapan Inggris Anak Anak

    Melatih keaktifan anak anak berbicara Inggris itu gampang gampang susah. Mereka yang suka berpasangan dengan teman dekatnya dijadikan teman bicaranya. Mula-mula kita siapkan bahan pertanyaan dimana mereka menjawab sesuai dengan keinginannya. Kemudian, bahan tersebut dijadikan tanya jawab.

    Anak anak yang belum lancar alias mengerti luar kepala diperkenankan untuk membaca lembaran kertas percakapan sedangkan anak yang sudah lancar dengan sendirinya tidak butuh kertas lagi untuk menjawab. Ia akan berekspresi dalam mengungkapkan gagasannya.

    Kebiasaan berbicara Inggris tersebut perlu dibarengi dengan gerakan literasi. Hal ini bertujuan untuk membantu para pelajar kita berwawasan luas sehingga mereka tidak sekedar bicara. Ada bahan bahan obrolan yang terbaru untuk membuat pembicaraan mereka jadi lebih menarik.

    Membaca realistis sangat berperan menentukan metode belajar yang efektif. Ketika anak anak asyik berbicara Inggris dengan teman dekatnya, kita memulai saja dari hal hal yang disukainya. Berikutnya, rancangan pengembangan metode belajar lainnya dapat dengan serta merta mengikuti.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Sabtu 11 April 2026

  • Tidak Bandel

    Tidak Bandel

    Palaguna Patwa yang masa kecil dan remajanya terkenal bandel dan suka berantem kini berubah. Pilihan lanjut kuliah dan lulus masuk di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta membuatnya punya lingkungan kondusif yang baru. Beruntung, kebiasaan membaca buku yang perhatian dari kedua orang tuanya, Syamsu Alam Patwa (Alm.) dan Andi Rachmawati, menurun padanya sehingga otaknya dapat memilah milah hal yang baik ia lakukan.

    Pulang kampung sejenak, Palaguna banyak mengisi waktu di RBB (Rumah Belajar Bersama). Ia tidak berkeliaran lagi sebagaimana waktu sekolah tapi terlibat aktif mendidik anak anak RBB. Berbekal pengalaman masa kecilnya, ternyata ia tahu cara mengatasi anak-anak yang bandel dan tidak mau belajar.

    Anak anak yang satu persatu berlatih menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam Bahasa Inggris oleh Palaguna.

    Pertama, mereka sepakat bermain sambil belajar tapi tidak membuat kegaduhan selama belajar. Kedua, semua anak anak boleh keluar main bila bacaannya selesai. Karena enjoy (senang), anak anak berkata, ‘Pecat mi (saja) itu Mr. Nain’. Maksudnya, Mr. Nain yang menjadi guru utama diganti saja dengan Mr. Palaguna. Palaguna tertawa melihat keberanian dan kebebasan anak anak berekspresi di RBB.

    Setiap anak melatih kepercayaan diri dengan mengekspresikan pendapatnya sendiri. Palaguna mendengarkan dengan penuh perhatian dan menindaklanjuti usulan anak anak tersebut.

    Palaguna sebenarnya juga pelajar Bahasa Inggris di RBB semasa SMA. Setelah kuliah di Jawa, memperdalam ilmunya di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur adalah langkah yang sangat tepat. Menjelang sarjana sekarang ini, ia juga ingin lanjut lagi kuliah S 2 sehingga kembali ke RBB mempelajari dasar dasar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Test System). Dari hal tersebut, ada kesempatan berbagi ilmu kepada anak-anak di kampung halamannya.

    Tawar menawar materi yang akan dipelajari dengan anak anak. Anak anak tetap ingin waktu belajar itu dikemas dalam suasana bermain agar tidak membosankan. Dan Palaguna sepakat.

    Palaguna bersyukur menempuh jalur pendidikan akademik karena hal itu membuatnya lebih sadar bahwa banyak waktu yang berlalu telah ia sia-siakan. Masa lalu tidak mungkin berulang kembali. Ia berharap jangan sampai generasi kids zaman now menjalani masa kecil seperti dirinya sehingga sehingga sangat termotivasi mengajar anak anak. Dalam urusan literasi, semua anak anak yang ia didik mampu menyelesaikan tugas bacaan yang ia berikan. Dahsyat kan! Tidak ada lagi anak bandel dan berantem sedikitpun saat ia mengisi kelas.

    Selamat jelang sarjana, Palaguna dan semoga dapat menempuh S 2 di kampus yang dicita-citakan yang didasarkan oleh ilmu pengetahuan untuk berkembang pesat.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 10 April 2026

  • Tanya Jawab Inggris secara Online

    Tanya Jawab Inggris secara Online

    Dua gadis cilik memperoleh kesempatan berharga bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris lewat zoom. Pilihan Miss Salma Minasaroh pada Adeeva kelas 4 SD dan Faika kelas 3 SD ini dari hasil pengamatan belajar anak anak di media sosial RBB (Rumah Belajar Bersama). Adeeva anak yang lancar berbicara, tamat dua cerita buku Inggris dan paham perundang-undangan tenses luar kepala dan Faika selain tamat juga dua buku berbahasa Inggris, jika juga peraih medali emas olimpiade Bahasa Inggris pada National Olympiad.

    Salma yang merupakan alumni Bahasa Inggris di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta dan UAD di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta serta BEC (Basic English Course) di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur tahu betul cara melakukan pendekatan pada anak anak agar suasana perkenalan tidak kaku. Ia terlebih dahulu mengirimkan dua puluh pertanyaan sederhana sebagai pembuka untuk dipelajari anak anak.

    Berikut pernyataannya:

    1. What is your full name?
    2. Spell your name, please.
    3. Where and when were you born?
    4. What is your father’s name?
    5. What is he? Or what is his job?
    6. What is your mother’s name?
    7. What is she? Or what is her job?
    8. What is your favourite drink? Why?
    9. What is your favourite food? Why?
    10. What are your hobbies?
    11. Who is your idol?
    12. What do you want to be?
    13. What favourite vegetable do you like?
    14. What favourite fruit do you like?
    15. Can you tell me about your last birthday?
    16. How many siblings do you have?
    17. What is the most important thing in your living room?
    18. What is the most important thing in your kitchen?
    19. What is your favourite spot at your home?
    20. What do you want to eat and drink (now)?

    Adeeva dan Faika terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk bertanya hingga tuntas. Setelah itu, Miss Salma balik bertanya. Anak-anak yang selama tiga hari dilatih cara menjawab soal oleh Mr..Ancha, pengajar RBB, berekspresi mengungkapkan gagasannya sebisa mungkin tidak menjawab dalam satu kalimat saja melainkan minimal dua atau tiga kalimat. Kedua anak tersebut pun puas.

    Sebagai pengembangan, anak-anak kembali bertanya :

    1. What is your job?
    2. Where do you study?
    3. What games do you like?
    4. What is your favorite color?
    5. Where do you live?
    6. What books do you like?
    7. What countries do you want to visit?
    8. How old are you?
    9. What kind of music do you like?

    Tentu saja Miss Salma menjawab dengan perlahan agar anak anak mengerti penjelasannya. Di sela-sela pertanyaan itu, Miss Salma juga memberikan pertanyaan lain. Sesekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar anak anak mampu menyusun jawaban dengan benar. Itulah tahap di mana tanpa disadari, anak anak Sulawesi Selatan memperoleh informasi tentang kehidupan di Jawa Tengah. Obrolan ini berjalan selama tujuh puluh menit.

    Inisiatif Miss Salma untuk terhubung dengan para pelajar berbakat secara online sangat membantu pelajar di berbagai daerah untuk mengenal dunia luar. Segelintir anak yang terpilih merasa menjadi istimewa dan termotivasi belajar lebih giat untuk bisa tampil lebih meyakinkan. Sedangkan anak anak yang belum memperoleh kesempatan ingin juga mendapatkan tiket untuk bisa juga tampil bicara dengan orang luar. Mereka makin tahu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk ngobrol Inggris dengan orang luar. Intinya semua itu memicu semangat belajar yang lebih tinggi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 10 April 2026

  • Teladan Kepemimpinan, Pendidikan dan Alam

    Teladan Kepemimpinan, Pendidikan dan Alam

    Ayatullah Ali Khamenei terkenal dengan sosok pemimpin Islam di Iran dengan kesederhanaannya. Di Indonesia juga ada tapi itu bukan presiden atau pejabat negara tapi pemimpin adat yang bernama Amma Toa, pimpinan ada di Kajang yang kehidupan masyarakatnya murni menyatu dengan alam. Kehidupan Amma Toa dan rakyatnya sungguh sederhana. Jangankan listrik, semua hal-hal yang berbau modernitas tidak boleh masuk di kawasan adat, Kajang Dalam. Bagi masyarakatnya yang ingin bersandingan dengan modernitas, silahkan saja tinggal luar kawasan adat, Kajang Luar.

    Pada Minggu (5/04/2026), penulis menghadiri pesta pernikahan anak kandung Amma Toa bernama Jaja Ramlah di Kajang Luar. Saat bersalaman dengan pengantin, Ramlah mengatakan, “Terima kasih Pung Nain’. Tentu penulis kaget. Dari mana ia mengenalku? Kan bukan orang terkenal. Penulis memang sering berkunjung ke rumah Amma Toa menemani tamu wisatawan mancanegara dan tokoh tokoh nasional termasuk Dina Sulaeman, pakar Timur Tengah (Tinur Barat) yang konsentrasi pada pembebasan rakyat Palestina dari penjajahan Israel tapi tidak pernah bertemu Ramlah. Tak ingin kikuk, segera setelah Ramlah bicara, ucapan “Semoga pernikahan kalian bahagia dunia hingga akhirat’ untuk membuat suasana tetap terasa akrab. Sejurus kemudian, sesi foro bersama rombongan kami dengan pasangan pengantin pun terjadi.

    Karena tidak banyak bisa terhubung dengan Ramlah, memori penulis langsung menghubungkan masa tiga belas tahun yang lalu, 2012 ketika memilih mengabdi untuk berbagi ilmu dengan rakyat Kajang berpusat di rumah Abdul Kahar Muslim dan SD (Sekolah Dasar) 115 Balagana — tempat Daeng Kamsuri Muslim, adik Daeng Kahar mengajar. Tepat setelah shalat subuh, anak-anak belajar di rumah Daeng Kahar dan di pagi, di sekolah. Waktu itu, belajar wajib sekolah mulai jam delapan pagi. Karena kegiatan ini hanya inisiatif dan tidak terdaftar di sekolah, jam mengajar yang penulis peroleh yaitu jam tujuh sampai delapan pagi. Wah, seru banget. Tidak menyangka, ruangan kelas selalu saja penuh karena anak-anak mau datang lebih awal. Mungkin, mereka menganggap pelajaran Bahasa Inggris itu hal baru dan menyenangkan . Ya, percakapan sehari hari dalam dalam permainan dan diterjemahkan ke dalam bahasa kaum, konjo. Sore hingga malam hari kegiatan belajar dilaksanakan lagi di rumah Daeng Kahar. Itulah yang terjadi dalam sebulan.

    Keinginan untuk berbagi ilmu ke Kajang muncul ketika masih kecil dan sering berlibur panjang di rumah Daeng Kahar di tahun 90-an. Beberapa waktu sebelum acara pernikahan Daeng Kahar dengan Andi Nurlindah, penulis menyaksikan belum ada sekolah didirikan di sana. Pemandangan sehari-hari adalah anak anak dan orang dewasa terang-terangan pakai badik di pinggang sambil beraktivitas, berjalan kaki atau naik kuda menuju suatu tempat. Jalanan aspal belum ada, apalagi sekolah. Malam hari menggunakan sulo (pelita). Sesuatu hal yang sangat berbeda di kampungku di Kalumpang, Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Itu adalah masa di mana penulis berniat melakukan sesuatu untuk rakyat Kajang, sekecil apapun itu. Dan alhamdulillah niat itu dapat terwujud dengan menemui Daeng Kahar setelah menyelesaikan kuliah Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

    Dari pengabdian tahun 2012 itu, gerakan pembaharuan yang digerakkan Daeng Kahar dkk tampak. Jalanan telah beraspal, listrik dan yang paling penting sekolah mulai dari TK hingga SMA telah tersedia. Kehidupan ekonomi rakyat tumbuh dengan banyaknya rumah-rumah kayu yang baru dibangun dan para muda-mudi banyak
    melanjutkan kuliah di universitas. Ini memang bukanlah Restorasi Meiji sebagaimana Jepang oleh Kaisar Meiji dengan nama asli Mutsuhito yang harus berperang menumpahkan darah para samurai untuk membuat modernitas masuk tapi sebuah jalan tengah agar rakyat Kajang tidak terhimpit dari kepungan modernisasi. Ramlah anak anak muda-mudi generasi zaman sekarang telah banyak yang sarjana dan punya beragam gagasan berkembang untuk memajukan Kajang yang tidak berbenturan dengan adat istiadatnya.

    Menjaga adat-istiadat mengantarkan Kajang sebagai penjaga hutan paling lestari dunia. Para sarjana kehutanan, intelektual, pengambil kebijakan dapat bercermin dari pengetahuan dan kearifan lokal Kajang dalam menahan laju para kapitalis super rakus yang merusak dan mengeruk bumi dan memproduksi cerobong asap mencemari udara yang membuat pemanasan global. Ini juga tanda bahwa betapapun manusia jadi serba modern, ia tidak boleh tercerabut dari rumpunnya, nilai nilai luhur yang tumbuh di masyarakatnya. Bila lupa, tutup mata atau pura-pura lupa, bencana besar pasti datang mengikuti. Modernitas juga harus terkontrol, tidak boleh membiarkan keuntungan ekonomi untuk segelintir orang semata karena hal itu semakin memperparah ketimpangan sosial masyarakat.

    Ayatullah Ali Khamenei, sosok pemimpin tertinggi Republik Islam Iran adalah simbol tokoh agama yang konsisten membela kaum tertindas di Palestina dan pengembangan ilmu pengetahuan rakyatnya di Iran telah mampu menunjukkan kemandirian kepada dunia, tidak bisa didikte oleh Amerika Serikat dan Israel*hell dan Amma Toa hutannya seluas sekitar 313, 99 hektar tetap bagian dari paru paru bumi tetap lestari sebagai pemimpin adat sama-sama hidup dalam kesederhanaan. Spirit agama dan budaya dapat hidup selaras yang tercermin dari sikap dan kehidupan kedua pemimpin tersebut. Kita tahu, kesederhanaan sosok teladan dari para pemimpin yang sudah begitu sulit ditemukan sekarang ini masih dapat kita temukan dari kedua tokoh ini. Mereka adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya.

    Selamat mengarungi hidup baru buat Jaja Ramlah, S. I. P. dan Zulkifli T., S.Kom. Semoga kedua pasangan mendapatkan ketenangan kehidupan dan saling menyayangi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 8 April 2026

  • Memori Kampung Inggris Pare

    Memori Kampung Inggris Pare

    Empat orang Bulukumba ini termasuk penulis pernah berguru di Kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Kec. Pare, Kab. Kediri, Jawa Timur. Kami bertiga Gusti Zainal alias Mr. Agung, Mr. Ancha dan Zulkarnain Patwa alias Mr. Patwa hadir di sana di awal tahun 2000-an ke atas dan belajar bertahun-tahun tapi yang paling lama adalah Agung Pratama Salassa alias Mr. Agung (junior) yang menghabiskan tujuh tahun karena ia memutuskan untuk tinggal sambil kuliah jurusan management.

    Gusti Zainal alias Mr. Agung yang menyelesaikan seluruh tahanan belajar grammar di SMART. Ia juga turut menggagas lahirnya Kresna di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur.

    Kampung Inggris Pare itu bukanlah kumpulan universitas tapi sekedar kursus-kursus yang masing-masing berdiri sendiri dengan ciri khas pengajarannya yang kaya dengan kajian segala hal tentang Bahasa Inggris. Ada speaking, listening, pronunciation reading, and writing (bicara, mendengarkan, pengucapan, membaca dan menulis) untuk segala tingkatan. Kekayaan pengetahuan yang disertai lingkungan yang sangat kondusif plus biaya yang terjangkau menjadi daya tarik kebanyakan masyarakat Indonesia untuk datang. Dan kami adalah orang-orang yang mengakui kwalitasnya karena telah menjalani proses belajar pada pengetahuan yang ditawarkan di berbagai tempat kursus. Bahkan, Mr. Ancha yang pernah tinggal selama dua tahun mengaku ia hampir memasuki semua lembaga kursus di Pare hanya untuk mengenal metode pengajarannya dan hiburan.

    Dari berbagai sudut daerah, anak Sulawesi tergolong sangat banyak dan paling terkenal karena mendirikan perkumpulan bernama Asset (Association of Sulawesi Students). Pada masa kami, kegandrungannya adalah belajar di SMART, satu satunya lembaga kursus yang memakai sistem ujian kelulusan untuk bisa naik tingkat. Bagi anak Asset, itu sungguh menarik karena terdapat tantangan untuk menaklukkan soal soal ujian SMART yang penuh dengan jebakan. Kami adalah kumpulan orang-orang yang tidak mau kalah dan untuk menang, kami harus belajar. Jelang ujian, kami dari Assets sering kali berkumpul membahas soal soal yang memungkinkan keluar. Mereka yang berada di level lebih tinggi yang membantu orang-orang yang berada di level bawah. Semua itu dilaksanakan secara gratis. Sebenarnya sih, ada budaya siri (malu yang erat kaitannya dengan harga diri) juga kalau tidak lulus. Ledekan meskipun dalam bentuk candaan menurunkan harga diri juga, sungguh tidak enak didengarkan.

    Silaturahmi Gusti Zainal ke penulis di Rumah Belajar Bersama di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selain membahas Bahasa Inggris kami saling memotivasi untuk menulis buku.

    Patut diakui, soal soal SMART itu sungguh luar biasa, jebakannya cerdas. Meskipun sudah pontang panting belajar, hanya segelintir saja anak Asset yang lulus. Tapi namanya juga turunan pelaut dan petarung, Assets tetap saja terus mengadakan pelatihan hingga anggotanya banyak lulus. Miss Agustina Dewi, salah satu pengajar pintar di SMART dan selalu digosipin kecantikannya pada waktu itu, terheran-heran dan kagum dengan spirit belajar anak-anak Asset.

    Dari hasil obrolan pada nostalgia yang terpampang di foto, daya tarik SMART dan Kampung Inggris secara umum adalah orang orang yang punya pemikiran kritis atau pernah belajar dasar dasar pembelajaran filsafat, materi Bahasa Inggris asyik dipanah panah dengan pertanyaan. Misal kenapa ‘an ant bites a sugar’ (Seekor semut menggigit sebutir gula) tidak boleh pakai kata ‘a’ bermakna sebutir. Kenapa ‘a’ atau ‘I’ adalah kata padahal itu huruf. Kenapa ‘We are being stupid’ (Kami sedang goblok) itu juga tidak boleh. Mungkin jawabannya karena kami pintar ya. 😀 Narsis. Kenapa, kenapa dan kenapa? Pertanyaan tiada henti.

    Zaman terus bergerak. Kampung Inggris Pare telah menjadi semakin booming ditambah lagi dengan penetapan Pemerintah Daerah Kab. Kediri yang menjadikan Kampung Inggris itu sebagai Wisata Pendidikan. Frase ‘Wisata Pendidikan’ itu mendapat kritik dari Miss Uun Nurcahyanti, pendiri SMART. Mana mungkin orang belajar sekedar liburan sekolah dalam dua minggu atau sebulan atau dua bulan itu bisa menghasilkan kwalitas yang baik? Secara ekonomi itu bagus saja meningkatkan penghasilan masyarakat setempat dan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Manusia memang tumpah ruah ke Pare tapi patut diingat bahwa yang paling penting dikedepankan adalah proses belajar yang tersistematis dan itu prosesnya pasti tidak bisa instan, butuh waktu. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan harus mengedepankan kwalitas, bukan jumlah betapapun jumlah itu tetap penting untuk menggerakkan lembaga. Pendidikan itu bukan pasar.

    Kami berempat dari Bulukumba, ujung Sulawesi Selatan pada peta berhuruf K merupakan sekumpulan kecil manusia yang tanpa pernah bersepakat untuk bertemu dan hidup selama bertahun-tahun di Kampung Inggris telah menikmati, memperoleh dan sedikit banyak mengerti spirit pendidikan yang diusung di sana tentu akan berupaya untuk menjaga dan mengembangkan proses belajar yang bertahap dan terukur. Kita ingin turut terlibat mencetak generasi yang dengan pengetahuannya mampu menjawab tuntutan perubahan zaman.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 7 April 2026

    Note:
    1. Special to Mr. S Lainin Nafis di Kampung Inggris sana, dapat salam dari Mr. Agung. Semoga lembaga yang anda buat terus maju.

    2. Matematika
    Di Kampung Inggris Pare itu juga menyediakan kursus Matematika. Salah satu yang menjadi rekomendasi adalah Math Master yang membuat penyempurnaan dari kelemahan Sempoa Cina, Rusia dan Jepang. Namanya sempoa 99 yang ditemukan oleh Mr. Saefuddin. Anda bisa mengenal lebih jauh dengan menghubungi akun FB Mariyanti Yanti

  • Bahasa

    Bahasa

    Temukan cara belajar yang membuat dirimu bahagia. Itulah yang gencar diterapkan oleh guru-guru di Finlandia yang dikenal sebagai pendidik terbaik di dunia. Anak-anak mereka lancar berbicara sampai empat sampai lima bahasa asing adalah hal biasa. Di negeri kita, satu bahasa saja sulitnya minta ampun. Padahal Bahasa Inggris telah menjadi kurikulum sekolah diterapkan di SD.

    Di lembaga pendidikan alternatif, cara belajar orang tidaklah mesti seragam. Para pelajar bisa duduk di atas balon sambil membaca. Ekspresi mereka tidak boleh dikekang, harus bebas agar mereka bisa menikmati apa yang mereka pelajari. Yang perlu dikekang adalah jika merasa datang untuk sekedar bermain saja, bukan belajar. Dan agar mereka tidak merasa terpaksa, lingkungan suasana belajar memang perlu diciptakan. Yang kita lakukan adalah menyediakan alat permainan semisal balon besar untuk duduk dan buku-buku sebagaimana di foto ini. Mereka senang bermain sambil membaca.

    Setelah bacaan selesai, kami mengajak mereka bercerita dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang erat kaitannya dengan bacaannya hingga pada tahap mengungkapkan sendiri pandangannya. Apakah mereka sepakat dengan hal-hal yang dijelaskan di buku atau tidak? Tidak peduli benar atau salah, yang penting mereka berani mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Salah dan benar bahkan dapat dijadikan pertanyaan lanjutan. Dengan demikian, mereka tidak sekedar bercerita tapi juga belajar berargumentasi.

    Pendidikan yang membebaskan menanamkan benih kemandirian berpikir. Membaca buku itu bagus saja tapi itu bisa jadi sangat berbahaya jika sekedar mengutip pemikiran di buku. Apa bedanya bedanya manusia seperti dengan mesin foto copy? Untuk apa sekolah bila para pelajar hanya menyontek? Membaca harus mampu mengembangkan cakrawala berpikir, mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi.

    Bahasa internasional sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan yang digerakkan dengan literasi membuka akses untuk mengenal lebih dekat pada pemikiran dan peristiwa dunia. Pendidikan di Finlandia yang membuat pelajar SD aktif beberapa bahasa asing patut dipelajari cara menerapkannya secara efektif di sekolah. Indonesia juga kaya dengan ratusan bahasa daerah tapi mengapa belajar bahasa Inggris di sekolah sangat susah dipelajari? Keaktifan berbicara dan membaca buku buku berbahasa Inggris yang perlu diterapkan secara massif minimal bahasa Inggris itu dibiasakan seperti Bahasa Daerah. Itu jlalan kemudahan bagi pelajar untuk tidak takut membaca teks Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 5 April 2026

  • Berprestasi untuk Apa?

    Berprestasi untuk Apa?

    “Eh, tawwa. Juara Bahasa Inggris se-Indonesia’, kata A. Zafira Aeesyah Putri. Sapaan senang itu disampaikan Aeesyah di kumpulan teman-teman kelas Bahasa Inggris saat Faika Qinara Putri Ridwan tiba di RBB (Rumah Belajar Bersama). Maklum, mereka baru saja bertemu setelah liburan Ramadhan dan Idul Fitri. Kekaguman Aeesyah itu ungkapkan karena ia mendapatkan informasi bahwa Faika telah meraih emas pada kejuaraan Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Academic Olympiad);yang dilaksanakan sebelum Ramadhan. Rekan-rekan Aeesyah pun turut mengucapkan selamat dengan ucapan berbeda-beda. Membahagiakan deh. Faika tersenyum bergembira disertai senyum dengan wajah malu.

    Kelas Faika berbeda dengan Aeesyah namun bila pelajaran Faika telah selesai, ia selalu datang ke kelasnya Aeesyah dengan maksud bermain tapi penulis selalu memanfaatkan kehadiran Faika untuk membantu teman-temannya agar lancar membaca sebagaimana dirinya. Aeesyah yang tidak tertarik mengulang bacaannya tapi bila diajak berlatih bersama Faika, ia tergerak hati untuk membuka bukunya lagi, membaca untuk kedua kalinya. Faika tidak terburu-buru dalam membaca agar Aeesyah bisa mengikuti dan bila terjadi kesalahan, Faika bersedia mengulang ulang kumpulan kosa kata yang sulit hingga Aeesyah mengucapkan dengan benar. Kadangkala,. keduanya tertawa lepas bila Aeesyah tidak sanggup mengucapkan dengan benar. Itu hal yang lucu, bukan memalukan.

    Mengakrabkan kedua anak kelas 3 SD ini adalah trik yang jitu dalam memotivasi semangat dan ketekunan belajar. Aeesyah bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama) sekitar tiga bulan lalu. Wajarlah bila dalam pikirannya lebih banyak didominasi bermain. Sedangkan Faika, ia telah bergabung sejak TK. Tapi namanya juga anak anak, Faika merasa lebih nyaman bergabung bermain di kelasnya Aeesyah karena di kelasnya, terdapat anak SMP dan SMA yang cara bermainnya berbeda dengannya.

    Di luar jam belajar atau saat anak anak sedang keluar main, penulis perlahan menerangkan proses belajar Faika hingga bisa juara. Itu terjadi karena Faika rajin mau rajin membaca, menamatkan beberapa buku dan praktek bicara menjelaskan kehidupan sehari-hari di depan kamera video dalam Bahasa Inggris. ‘Iya ji Mister’, kata seorang anak bernama Nabila yang tidak ingin waktu bermainnya diusik. 😀

    Penulis tahu, tugas membaca memang hal membosankan namun jalan ini harus ditempuh. Masa yang terbaik menanamkan kebiasaan membaca adalah masa anak-anak yang diharapkan terus terbawa hingga dewasa.
    Dalam Al Qur’an, terdapat iqra (bacalah!). Itu adalah kalimat perintah. Perintah itu adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan. Sekilas mengutip argumentasi Cak Nun, mengapa diwajibkan? Karena Tuhan tahu manusia tidak menyukainya. Dan agar manusia punya pengetahuan luas yang membedakannya dengan makhluk yang lainnya, ia harus membaca. Tidak bisa tidak. Bila ada kritik bahwa membaca itu bukan sekedar teks, itu benar juga. Tulisan ini bermaksud untuk turut membumikan literasi.

    Mendesain para pelajar sejak anak-anak mengikuti kompetisi hingga meraih juara adalah salah satu strategi yang baik untuk membangkitkan semangat dan ketekunan belajar yang lebih tinggi. Mereka bisa mengukur kwalitas dirinya dan membangun kepercayaan diri menghadapi tantangan. Persoalannya adalah tidak boleh menyerah karena dalam kompetisi ada kalah dan menang. Bila kalah, harus segera bangkit dan mempersiapkan diri lebih baik lagi. Mental demikian yang berkembang dalam diri Faika dan disebarkan kepada sahabatnya Aeesyah dan pelajar pelajar lainnya agar dapat berprestasi, mendapatkan hadiah dan berbahagia.

    Zulkarnain Patwa
    Bullukumba, Sabtu, 4 April 2026