Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Peradaban Tulis dan Peradaban Mulut

    Peradaban Tulis dan Peradaban Mulut

    Memasuki bulan kedua belajar Bahasa Inggris secara intensif, Lulu telah mengerjakan banyak latihan Reading dan Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Ia bekerja tiada henti untuk menamatkan buku. Ini layak jadi contoh bagi pemuda pemudi yang punya cita-cita tertentu melalui jalur pembelajaran bahasa asing.

    Latihan menjawab soal itu tidak cukup. Karena itu, Lulu mencoba latihan lisan pada grammar, simple present. Praktek tanpa teks membuatnya kewalahan. Ia masih sulit membedakan penggunaan do, does atau am, is, are pada kalimat verbal maupun nominal. Pikirannya masih campur aduk. Guru yang membantu untuk memahami di luar kepala menyarankan agar menulis bahan yang akan dibicarakan agar ia punya bilamana ia salah ucap. Kemudian, ia praktek lagi. Setiap kali ia salah, ia membuka catatannya. Sekitar 20 menit, ia pun akhirnya mengerti.

    Agar Lulu tidak lupa bahwa sebenarnya ia telah melewati pelajaran tersebut, ia ajak untuk membaca buku latihan grammar-nya yang telah ia kerjakan. Semua hal tentang perubahan kalimat pada simple present ia baca lagi untuk menyesuaikan kebenarannya di ‘peradaban tulis’ juga berlaku di ‘peradaban mulut’. Setelah itu, guru kelas pun yakin bahwa ia mengerti. Ia pun puas.

    Sebelum kelas berakhir, Lulu penasaran untuk mengetahui seluruh perubahan tenses di luar kepala. Ia mengatakan, “Saya ingin praktik lisan lagi di pertemuan selanjutnya”. Guru menanggapi, “Belajar di RBB (Rumah Belajar Bersama) itu mewajibkan lulus tulis dan lisan’. Karena itu, inisiatif Lulu untuk praktek lisan sudah tepat.

    Dua kelas intensif tingkat dasar yang Lulu ikuti yaitu Reading dan Grammar mensyaratkan ia lulus dua buku Inggris disertai kemampuan berbicara secara lisan pada materinya. Ia siap menghadapi dan terus belajar menghadapi tantangan tersebut. Dan ini sejalan dengan cita-citanya yang membuahkan pengetahuan Bahasa Inggris yang punya daya saing.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 27 Mei 2026

  • Hebat! Anak Kelas 4 SD Paham Passive

    Hebat! Anak Kelas 4 SD Paham Passive

    Pernahkah kita membayangkan ada anak kelas 4 SD dapat dengan mudah mengerti seluruh struktur perubahan passive—kalimat pada kata kerja “me-” menjadi “di-“? Adeeva dalam sekali penjelasan materi sanggup memahami dan dikuatkan dengan latihan lisan yang disiarkan secara langsung (live) di Facebook sekitar 38.50 menit. Bagi Anda yang mengerti passive, Anda bisa mengecek tingkat keberhasilannya di link ini: https://www.facebook.com/share/v/18mZ6c9HQ4/

    Keputusan mendidik materi lanjutan tersebut hanya dapat kita berikan pada pelajar yang sanggup paham tenses di luar kepala yang bertujuan untuk menghindari kebingungan dalam belajar grammar (tata bahasa). Kita ingin membantah bahwa grammar itu sulit diajarkan. Dan benar, Adeeva mudah dan cepat mengoreksi manakala ia mengalami kesalahan dalam praktik bicaranya.

    Setelah itu, Adeeva istirahat. Ia kemudian berdialog dengan guru kelasnya.

    “Adeeva, mana yang lebih sulit, tenses atau passive?” tanya guru kelas.”Passive,” jawab Adeeva.
    “Mana lebih cepat dimengerti, tenses atau passive?” lanjut gurunya.
    “Lebih lama tenses.” ungkapnya. Materi ini ia pelajari sekitar sebulan.
    “Bisakah pelajar mengerti passive bila tidak mengerti tenses?”
    “Tidak,” katanya lugas.
    “Sudah ada teman kelasmu yang dapat materi ini?”
    “Belum,” terangnya.

    Adeeva sengaja diajak berdialog agar ia makin mengenali potensi dan kualitas dirinya yang sedang berkembang. Sejurus kemudian, ia diminta membuka buku bacaan cerita Inggrisnya yang mengandung materi passive. Beberapa kalimat dianalisis strukturnya dan diterjemahkan. Ternyata struktur passive persis seperti yang baru saja ia pelajari. Hatinya senang.

    Keterhubungan antara reading (bacaan) dengan grammar harus selalu didekatkan untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Ini perlu dilakukan secara terus-menerus hingga sampai pada pemahaman total, minimal 90 persen ke atas. Latihan menjawab soal-soal tulisan passive juga mengikuti sehingga tidak ada lagi keraguan, komprehensif.

    Adeeva bukanlah anak SD yang pertama di RBB (Rumah Belajar Bersama) yang telah mendapatkan materi passive, tetapi bagian dari segelintir anak yang punya loncatan belajar di atas rata-rata. Dalam dua atau tiga minggu ke depan, perubahan active (tenses) ke passive dan passive ke active secara acak mampu ia tuntaskan. Semoga!

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 26 Mei 2026

  • Bangkitkan Energi Positif

    Bangkitkan Energi Positif

    Seorang anak pendiam mengikuti kelas Bahasa Inggris. Bisa? Bisalah. Hal yang pertama kami ingatkan adalah banyak membaca. Ia mengangguk sebagai tanda menerima. Ketikan membaca suara kecil, mungkin masih pemalu dan takut ketahuan salah. Berkali-kali bacaannya diminta diulang hingga ia cukup percaya diri. Volume suaranya mulai beranjak naik.

    Penulis sengaja mengajak Sopan untuk duduk berdua saja, tiada pelajar lain di dekatnya. Ia perlu kenyamanan tanpa ada gangguan dari rekan yang bisa meledek bila ia salah. Sekitar lima belas menit ia membaca dengan suara nyaring. Lalu, suaranya mulaii melemah. Dia pasti capek. “Sopan, bisa terus melanjutkan bacaan tanpa suara saja?” Jawabannya “ya” dengan anggukan kepala. “Okay. Kita sama-sama membaca sampai puasa”, kata penulis.

    Lima belas menit berlalu. Terlihat wajah Sopan lelah.
    “Mau istirahat?” tanya guru.
    Kali ini ia berbicara, “Iya”. Ia menutup bukunya dan tetap duduk di tempatnya.

    Penulis terus membaca sembari sesekali menatapnya. Saat wajahnya sudah mulai terlihat segar kembail,
    “Sopan, intinya rajin membaca saja. Kamu pasti bisa”, kata penulis menyemangati.
    “Cara kamu membaca lebih bagus sekarang dari yang sebelumnya kan?’ pertanyaan ini membuatnya tersenyum.
    “Iya”, jawanya lagi.

    Di sini, Sopan sudah berubah. Ia sudah mulai akrab dan suka membaca karena kepercayaan dirinya terbangun dengan membaca. Ia tahu bahwa ia sanggup membaca dengan benar dan perulangan dilakukan untuk kemahirannya sendiri. Dan yang berkesan, ia tidak protes. Dan haknya untuk istirahat pun terpenuhi.

    Di waktu bersantai, Sopan juga berkesempatan untuk memperhatikan keadaan di lingkungan belajarnya di mana para pelajar sibuk menuntut ilmu. Energi positif sedikit banyak terserap dalam dirinya. Terlebih, ia tidak diperkenankan membawa handphone karena ibunya memberitahu bahwa ia banyak main games android. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain selain melihat keadaan sekelilingnya.

    Kita semua berproses untuk berubah yang penekanannya terletak pada ilmu pengetahuan lewat literasi. Orang yang aktif berbicara akan punya lebih banyak bahan berbobot untuk dibicarakan, tidak asal bunyi . Siapa tahu, orang yang pendiam seperti Sopan dan anak-anak yang senasib dengannya suatu saat akan jadi pembicara yang hebat?

    Overall, keep working hard.

    Zulkarnain Patwa
    Senin, 25 Mei 2026

  • Waktu

    Waktu

    Orang yang datang tepat waktu itu menggembirakan. A. Zafira Aeesyaputri punya cara cerdas untuk tidak terlambat datang belajar. Ia biasanya tiba di RBB (Rumah Belajar Bersama) sebelum jam 19.00 di mana kelasnya mulai 19.15 Wita, Senin sampai Jum’at. Waktu luang itu ia gunakan untuk makan malam dan bermain sembari menanti jam belajar tiba.

    Pada waktu jam belajar, Aeesya tidak terlalu peduli dengan literasi–dunia anak memang begitu. Tapi ia sangat menikmati pelajaran bila saja yang di dekat tempat duduknya adalah rekan yang punya semangat belajar yang bagus. Ia sangat perhatian pada bacaannya tanpa harus diminta. Kebalikannya sudah bisa ditebak. Bila rekan-rekan yang duduk disampingnya suka bermain saja, kelas jadi riuh, penuh canda tawa.

    Strategi lain yang kita gunakan pada Aeesyah yaitu memintanya membaca seorang diri ketika ia terpisah dari rekan kumpulan bermainnya. Awalnya, ia pasti menolak. Penolakannya itu berbuah penerimaan bila kita mengajaknya berdialog dengan elegan.

    “Aeesya, membaca yuk?”,
    “Capekka Mr.”, katanya. “Saya sudah membaca bersama-sama dengan teman-teman tadi”.
    “Mau pintar seperti temanmu Faika atau Adeeva?”, tanya guru.
    “Mau”, jawabnya cepat.
    “Apa yang mereka lakukan?” Pertanyaan ini mengajak Aeesya menemukan jawaban sendiri.
    “Membaca”, balasnya..
    “Kalau begitu, supaya Aeesya tambah pintar juga, ayo membaca”, sang guru menatap serius wajah Aeesya. “Nanti saya bantu kalau ada yang sulit dimengerti”, lanjut gurunya.
    Aeesya berpikir sejenak. “Tapi sedikit saja kubaca?” harapnya.
    “Iya. Yang penting, Aeesya mau membaca. Kalau sudah mau, kamu pasti akan jadi hebat”, kata gurunya meyakinkan.

    Aeesya terkadang lupa bahwa ia sudah banyak membaca dan terus disemangati. Ia akan sadar bila ia melihat rekannya yang lain asyik bermain atau kalau ia sudah merasa capek. Itu waktu tepat untuk membuatnya bersenda gurau dengan teman-temannya.

    Meyakinkan anak-anak bahwa mereka hebat, pintar, cerdas serta segala kosa-kata yang memotivasi semangat belajar harus selalu kita dengungkan disertai usaha mencari cara agar mereka mau berusaha. Tidak boleh hanya motivasi kosong–harus serta merta diikuti dengan pendampingan.

    Tugas guru yang tercerahkan bukan sebatas jam belajar. Jam luang anak-anaknya bisa dimanfaatkan untuk belajar asalkan mereka tidak merasa terpaksa. Guru harus mampu berpikir maksimalkan waktu anak didiknya untuk lebih banyak belajar daripada bermain. Setelah itu, kreativitas berpikir mengelola kelas lebih efektif pasti ditemukan seiring perjalanan waktu.

    Waktu itu sangat berharga. Orang barat bilang, time is money (Waktu adalah uang). Dalam ajaran Islam, Tuhan bersumpah, demi waktu. Kita diwajibkan untuk tidak membuang waktu percuma. Aeesya dan semua anak-anak yang sering datang belajar tepat waktu punya kesempatan lebih besar untuk belajar lebih dari yang lainnya.

    Apakah kita punya alasan yang cukup untuk menyia-nyiakannya waktu?

    Zulkarnain Patwa
    Senin, 25 Mei 2026

  • Bergaul dengan Ahli Perahu

    Bergaul dengan Ahli Perahu

    Menulis bersama Dr. Horst Liebner membuat saya berpikir berat karena apa yang sebenarnya ia minta untuk saya tulis ia sudah ketahui. Orang tahu ia tokoh yang mengetahui secara mendalam tentang seluk beluk perahu Indonesia khususnya Sulawesi Selatan dan Barat, terdokumentasikan lewat buku-bukunya dan thesis kuliahnya.

    Membalas tulisan singkat bersama Dr. Horst Liebner di Bantilang Pak Najib. Foto pada Minggu, 25 Mei 2026

    Beruntung, pertemuan saya di Tanah Beru ini, kami sekedar menambah sedikit tulisan yang telah dibuat dan sedikit berdebat tentang penggunaan kata yang tepat. Ini yang asyik. Pertimbangan yang dipakai adalah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan otak masing-masing yang sesuai cita rasa sendiri yang dirasakan nyaman dan mudah diterima publik. Ini yang lama. Namanya juga rasa, itu sangat personal, tidak ada ukuran yang pas. Namun setelah kami saling bertukar pikiran, ternyata ada juga kesepakatan yang dicapai. Dua bagian tulisan selesai di Bantilang Pak Najib.

    Setelah itu, saya mencari bahan pembuatan kayu pada perahu. Wawancara dengan Pak Najib telah sangat membantu namun saya mesti berkeliling di berbagai Bantilang untuk bisa melihat lebih dekat yang akhirnya itu menganttarkan saya sampai di Kaluku Bodo, dekat pelabuhan Tanah Beru.

    Saya bertemu dengan Pak Pudding dan Fian, anaknya. Kayu lokal dan kayu dari luar pulau disebutkan. Karena ramai. Kemudian, Pak Horst datang juga. Eh, malah berdebat tentang perahu zaman Belanda hingga Sawerigading segala, asal usul manusia dan perahu. Terjadi benturan antara rasionalitas dengan folklor, cerita rakyat. Saya tidak mau terlibat dan memilih sesekali berkomentar bila ada perdebatan yang tajam. Ya, semacam iklan agar suasana lebih santai.

    Diskusi yang kemudian berlanjut dengan debat dengan Horst Liebner, Pak Pudding dan Fian di Kaluku Bodo tepatnya di Bantilang Pak Pudding. Foto pada Minggu, 25 Mei 2026.

    Tapi saya heran juga. Kok saya menikmati perdebatan mereka. Dari sore hingga matahari tenggelam, saya tetap tinggal. Baru setelah menjelang Isya, kami memutuskan untuk bubar. Nampaknya, bila bertemu lagi, perdebatan intelektual akan terulang kembali. Saya pikir itu bagus karena kritisisme memang perlu dibangun. Pembahasannya pun konstruktif, kenapa harus ditolak.

    Saya berharap bila tulisanku nanti tentang kayu yang digunakan pada pembuatan perahu juga mereka perdebatkan sehingga saya tidak memilih lagi jadi penonton tapi pelaku debat yang mempertahankan pendapat.

    Asyik juga bergaul bersama Pak Horst. Saya merasa bisa mengenal lebih dekat cara berpikir kritisnya dan Panrita Lopi (Ahli pembuat perahu) yang berkat ilmunya yang luar biasa dan tenaganya membuat perahu, Indonesia dikenal juga dengan negeri maritim.

    Nanti lanjut lagi. Mau main catur 😀

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 24 Mei 2026

    Bergaul dengan Ahli Perahu

    Menulis bersama Dr. Horst Liebner membuat saya berpikir berat karena apa yang sebenarnya ia minta untuk saya tulis telah ia ketahui. Orang tahu ia tokoh yang mengetahui secara mendalam tentang seluk-beluk perahu Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan dan Barat. Semua itu terdokumentasikan lewat buku-bukunya dan tesis kuliahnya.

    Beruntung, dalam pertemuan kami di Tanah Beru ini, kami sekadar menambah sedikit tulisan yang telah dibuat dan sedikit berdebat tentang penggunaan kata yang tepat. Ini yang asyik. Pertimbangan yang dipakai adalah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan otak masing-masing sesuai cita rasa sendiri yang dirasakan nyaman dan mudah diterima publik. Ini yang lama. Namanya juga rasa. Itu sangat personal dan tidak ada ukuran yang pas. Namun, setelah kami saling bertukar pikiran, ternyata ada juga kesepakatan yang dicapai. Dua bagian tulisan selesai di Bantilang (tempat pembuatan perahu) Pak Najib.

    Setelah itu, saya mencari bahan pembuatan kayu pada perahu. Wawancara dengan Pak Najib telah sangat membantu. Namun, saya mesti berkeliling di berbagai Bantilang untuk bisa melihat lebih dekat–yang akhirnya itu mengantarkan saya sampai di Kaluku Bodo, dekat pelabuhan Tanah Beru.

    Saya bertemu dengan Pak Pudding dan Fian, anaknya. Kayu lokal dan kayu dari luar pulau disebutkan karena ramai. Kemudian, Pak Horst datang juga. Eh, malah berdebat tentang perahu zaman Belanda hingga Sawerigading segala–asal usul manusia dan perahu. Terjadi benturan antara rasionalitas dengan folklor, cerita rakyat. Saya tidak mau terlibat dan memilih sesekali berkomentar bila ada perdebatan yang tajam. Ya, semacam iklan agar suasana lebih santai.

    Tapi saya heran juga: kok saya menikmati perdebatan mereka? Dari sore hingga matahari tenggelam, saya tetap tinggal. Baru setelah menjelang Isya, kami memutuskan untuk bubar. Nampaknya, bila bertemu lagi, perdebatan intelektual akan terulang kembali. Saya pikir itu bagus karena kritisisme memang perlu dibangun. Pembahasannya pun konstruktif: kenapa harus ditolak?

    Saya berharap bahwa tulisan saya nanti tentang kayu yang digunakan pada pembuatan perahu juga mereka perdebatkan. Dengan demikian, saya tidak memilih lagi jadi penonton, tapi pelaku debat yang mempertahankan pendapat.

    Asyik juga bergaul bersama Pak Horst. Saya merasa bisa mengenal lebih dekat cara berpikir kritisnya. Saya juga berterima kasih kepada Panrita Lopi (ahli pembuat perahu), yang berkat ilmu dan tenaganya membuat perahu, Indonesia dikenal dengan negeri maritim.

    Nanti lanjut lagi. Mau main catur. 😀

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 24 Mei 2026

  • Bahagia dan Cerdas Belajar Bhs. Inggris

    Bahagia dan Cerdas Belajar Bhs. Inggris

    Sebuah kebahagiaan mendapatkan kunjungan silaturahmi dari seorang rekan yang aktif mengkampayekan Bahasa Inggris. Fathy Cayadi, guru SMAN 2 Bululumba, kesehariannya menyebarkan kegiatan berbahasa Inggris dan juga sering menulis status di media sosial berbahasa Inggris. Kegiatan itu juga dilakukan oleh RBB (Rumah Belajar Bersama) yang membuat pertemuan terasa akrab, satu frekuensi.

    Miss Fate, panggilan akrab Fathy Cayadi, menindaklanjuti niatnya agar RBB membuka cabang di Kec. Tanete, Bululumba. Kenapa ia berpikir menggandeng RBB? Ia adalah seorang guru yang punya kualitas yang baik juga. Untuk apa? Menurut pembacaannya yang telah lama ia perhatikan di media sosial, RBB mampu menciptakan pembelajaran yang komprehensif meliputi speaking, grammar, reading and pronunciation (bicara, tata bahasa, bacaan dan pengucapan). Yang membuatnya lebih terkesan bagaimana anak anak SD dan bahkan anak TK pun menikmati pelajaran dan punya kemampuan yang di atas rata-rata anak kebanyakan. Penguatannya sangat jelas dengan siaran langsung (live), tidak ada editing.

    Diskusi tentang strategi pembelajaran Bahasa Inggris yang tepat sasaran. Terlihat Zulkarnain Patwa yang sedang menjelaskan, Miss Fathy Cayadi yang berjilbab sedang asyik memperhatikan dan Mr. Fajar Hamzah di tengah juga sedang asyik menikmati pembicaraan tentang pengembangan cara mengajar. Foto pada Kamis, 21 Mei 2025. Foto pada Kamis, 21 Mei 2025.

    Kemudian, pada rapat dikemas suasana santai itu, Miss Fate menambahkan, “Masyarakat Tanete sudah sangat menyadari tentang pentingnya bahasa Inggris” Terangnya. “Dan mereka mencari wadah lembaga yang berkualitas”, ungkap guru yang pernah mengajar di SMA 10 sekitar delapan belas tahun.

    Minat belajar sangat tinggi itu, Miss Fate butuh suatu lembaga benar-benar punya kesanggupan. Dan RBB telah membuktikannya.
    Hal ini ia sampaikan kepada seluruh team pengajar Bahasa Inggris agar sistem pengajaran RBB dapat diterapkan juga di Tanete yang mencakup pelajar SD, SMP, SMA dan umum.

    Mr. Ancha yang mengajarkan reading and speaking dan Mr. Agung yang mengajarkan grammar masing-masing menjelaskan cara pengajaran yang ditetapkan untuk menerobos hal hal yang dianggap mustahil oleh kebanyakan orang. Pada intinya, pembelajaran terstruktur yang sesuai kemampuan otak pelajar diajarkan dan pembuktiannya dites dengan ujian tulis dan lisan, tidak ada KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). “Tidak peduli siapapun orangnya. Kalau lulus, ya lulus. Kalau tidak, ya tidak”, sambung penulis. Dengan hasil penilaian ujian yang sesuai fakta, para pelajar mengukur diri dan termotivasi melakukan hal lebih baik.

    Miss Fathy Cayadi bersama suaminya dan guru-guru Bahasa Inggris Rumah Belajar Bersama. Foto pada Kamis, 21 Mei 2025.

    Kesepahaman dan kesepakatan ini akan ditindaklanjuti oleh team RBB, merencanakan kunjungan ke Tanete untuk merancang format yang lebih tepat dan detail agar apa yang diharapkan oleh Miss Fate, para pelajar, dan masyarakat umum di Tanete. For sure, kualitas RBB di kota Bulukumba dan di Kec. Tanete minimal sama. Bila ada perbedaan, perbedaan itu wajib pada wilayah yang konstruktif (membangun) dan itu pasti tantangan dan tanggungjawab kita semua untuk selalu berkreasi, dan berinovasi.

    Hubungan baik dari awalnya silaturahmi ini bukan sekedar memperkokoh ikatan persaudaraan tetapi juga solusi dari rekan-rekan pemerhati pendidikan khususnya Bahasa Inggris dalam menyebarkan penyederhanaan pelajaran Inggris yang selama ini dianggap rumit. Kita semua tentu akan terus berbagi cerita dan inspirasi di media sosial hingga kita semua sampai pada tahap bahagia belajar Bahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Sabtu, 23 Mei 2026

  • Rekayasa Literasi

    Rekayasa Literasi

    Dengan menanamkan kebiasaan membaca sejak masa anak-anak, niscaya kita tidak perlu khawatir lagi tentang kualitas pendidikan kita. Kebiasaan itulah yang akan melekat di dalam dirinya seiring dengan pertumbuhannya. Inilah rekayasa yang sedang kami jalankan melalui pembelajaran Bahasa Inggris.

    Sekelompok kecil anak-anak ini baru merasa belajar bila mereka telah membaca. “Saya belum membaca lesson Mr. karena saya terlambat datang”, kata Aliza. “Saya mau membaca seorang diri saja”, lanjutnya. Ada rasa “cemburu” positif pada anak yang sudah memperoleh kesempatan. Cara berpikir ini lazim juga terjadi pada anak-anak lainnya yang belakangan mendapatkan jatah membaca didampingi langsung oleh guru kelasnya.

    Melewati Masa Sulit
    Bila mengingat awal-awal memperjuangkan literasi, susahnya minta ampun. Anak-anak berpikir bahwa Bahasa Inggris itu sekedar bicara tanpa harus membaca. Bila ada yang ditunjuk untuk membaca di depan kelas, ia akan berlari meninggalkan ruang belajar, bersembunyi seolah-olah tidak bisa ditemukan. Ah, betapa repotnya urusan ini! Untuk membuatnya bisa kembali di kelas, guru memberikan janji games (bermain) kosakata Inggris. Itu diterima. Dan agar tidak melarikan diri lagi, guru menawarkan bacaan yang mudah baginya.

    Melalui proses perjalanan waktu yang cukup panjang, suasana berubah. Anak-anak mulai terinspirasi dari rekan-rekannya yang rajin membaca dan lancar bicara Inggris. Anak-anak yang tidak mau rajin membaca akan merasa tertinggal. Hal pendukung lainnya, pelajar yang lancar membaca tersebut selalu dengan senang hati mau membantu untuk membetulkan bacaan yang salah. Mereka tidak berkompetisi untuk menjadi yang terbaik di mana yang kalah dipersepsikan tidak baik tapi saling bekerjasama melakukan yang terbaik.

    Tantangan
    RBB (Rumah Belajar Bersama) tidak mau mencetak generasi yang sekedar mampu bicara saja. Okay, mampu berbicara Inggris tanpa tahu tulisan, itu baik saja. Tapi jika kita ingin melangkah lebih jauh, apakah itu berfungsi dalam dunia akademik? Pasti tidak. Kita ingin generasi penerus itu mampu bicara Inggris, membaca buku berbahasa Inggris dan menulis dalam Bahasa Inggris.

    Kalau kita punya pengetahuan tersebut, kenapa tidak diajarkan sekalian saja? Ada yang berpikir bahwa itu rumit. Tidak masalah. Mengutip B. J. Habibie, “Kerumitan adalah kesempatan untuk melakukan hal yang lebih baik”. Lagi pula, setelah rumit, pasti mudah.

    Kemudahan membaca yang disukai anak-anak adalah membaca bersama-sama. Mereka yang belum terlalu fasih pun tidak keberatan, ikut membaca dengan suara yang diperkecil. Pelajar yang bacaannya bagus dan percaya diri akan menyaringkan suaranya sehingga secara tidak langsung mereka yang kurang lancar itu dapat mengetahui langsung cara membaca yang benar. Dan saat terjadi evaluasi (review), selalu terlihat kemajuan berarti.

    Alangkah baiknya bila kebiasaan membaca ini tidak sekedar terjadi di RBB saja tapi juga di rumah masing-masing, sekolah atau lingkungan manapun juga sehingga kita dapat mengatakan setiap tempat adalah membaca.

    Adakah rekayasa pengembangan literasi atau kualitas pendidikan yang lebih canggih?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 22 Mei 2026

  • Keselarasan Ilmu Sejak Usia Dini

    Keselarasan Ilmu Sejak Usia Dini

    Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Pepatah Arab yang diadopsi Melayu mengingatkan betapa berharganya masa anak-anak, fase di mana otaknya berkembang dan daya ingat masih sangat luar biasa. Mereka menjadi peniru ulung pada lingkungan terdekatnya.

    Masyarakat yang mayoritas muslim Indonesia sangat peduli agar anak-anaknya pandai mengaji. Marak di lingkungan kita di mana hari anak-anak mengaji dari siang hingga sore hari. Dan karena Al Qur’an berbahasa Arab, bahasa Arab bukan hal asing meskipun bahasa Indonesia memakai huruf latin.

    Ini adalah tradisi, kekayaan yang telah lama tertanam kuat di masyarakat kita. Ketika anak anak diwajibkan belajar dasar-dasar agama dengan mengaji, orang tua cukup mempertahankan cara berpikir ini dalam ilmu pengetahuan umum agar pelajaran sekolahnya tidak tertinggal. Kita tahu Matematika dan Bahasa Inggris itu pelajaran yang sulit bagi pelajar sekolah. Persoalan ini pasti dengan mudah diselesaikan bila saja berpikir bahwa belajar ilmu pengetahuan umum sama pentingnya dengan belajar agama.

    Muhammadiyah adalah contoh menyejarah yang mengintegrasikan agama dan ilmu umum yang diklaim berasal dari barat. Awalnya organisasi modern ini dituduh kafir namun waktu membuktikan bahwa ide yang ia usung itu sesuai dengan tuntutan zaman. Kesuksesan merubah cara pandang. Sekarang ini sekolah tinggi dan universitas baik negeri maupun swasta memasukkan ilmu umum di fakultas.

    Kita yang telah sadar akan pentingnya keselarasan tersebut di atas perlu membagi waktu tepat buat anak-anak kita agar mereka berkesempatan mempelajari ilmu agama dan ilmu umum. Bila sejak kecil mereka telah akrab dengan beragam ilmu pengetahuan, mereka punya bekal yang lebih banyak untuk menentukan jalan hidup atau cita-cita yang paling tepat buatnya.

    Akankah kita melewatkan masa terbaik “mengukir di atas batu”? Semua kembali pada keluarga dari anak-anak tersebut utamanya orang tua.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 21 Mei 206

  • Kerinduan yang Terbayarkan

    Kerinduan yang Terbayarkan

    Oleh: Aris Irfan
    Bira, Kamis, 21 Mei 202

    Saat ponsel istriku berbunyi, terdengar percakapan yang begitu asyik dan bahagia.
    Istriku berkata “Iya rinduku”. Nama pun terucap yang memastikan kalau yang menelpon adalah sahabatnya semasa kuliah, bernostalgia dan berencana bertemu.

    Keesokan hari, setelah menunggu deringan ponsel sahabatnya tentang kepastian kedatangannya, rasa penasaran itu terjawab setelah tangannya tergerak meraih ponsel dan jari jemarinya pun menekan nomor kontak.
    Sontak istri saya gembira dan bahagia mendengar kalau sahabatnya telah berada di Jeneponto.

    Saya pun turut merasakan kebahagian istriku akan arti dan nilai persahabatanya.

    Lelah dalam perjalanan jauh, akhirnya kerinduan mereka terbayarkan saat tiba dan bertemu di Villa Malomo Bira. Rangkulan hangat dan cipika cipiki tak terhindarkan.

    Villa Malomo adalah pilihan yang bijak yang menginap di Bira

    Nostalgia berlanjut dengan cerita cerita masa lalu sembari menikmati pisang goreng dan seduhan teh panas sampai larut malam. Setelah puas, terdengar suara menguap dan hingga akhirnya mereka sepakat untuk beristirahat, tidur malam di kamar masing masing.

    Kamar Villa Malomo.

    Kicauan burung menyambut pagi terdengar di sela-sela pohon saat kami sedang duduk santai di Lounge Villa Malomo Bira menikmati secangkir teh dan kopi.

    Bira yang terkenal dengan keindahan pantai dan pasir putihnya membuat kaki ingin bergegas melangkah berkeliling. Rencanapun disusun dan pilihan spot pertama yang dikunjungi adalah Titik Nol. Setelah sampai, japretan demi japretan sulit terhenti dengan gaya khas masing masing.

    Setelah menikmati panorama keindahan laut dikelilingi tebing yang lingkungan yang alamnya natural, waktupun harus memisahkan mereka karena kewajiban untuk masuk kantor.

    Kata “Iya, rinduku” terjawab sudah.
    Ini layaknya orang yang kehausan terlepas dahaganya.

    Dan di Villa Malomo Bira menjadi saksi kisah ini kutulis.

  • Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

    Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

    Belva dan Gavino dua orang bersaudara yang selalu menyapa dalam Bahasa Inggris baik saat baru datang ke kelas ataupun mau pulang. Ini mereka lakukan sejak pertama kali bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama) dan terus bertahan sampai sekarang.

    Hebatnya lagi, mereka selalu bertanya hal hal yang baru yang mereka dapatkan di luar kelas. Misalnya, secara tiba-tiba mereka bertanya, ‘What is the English of cicak?’ Kata ‘cicak’ tidak didapatkan dari kelas tapi dari rumahnya. Beragam kosa-kata baru digunakan untuk mengetes rekan kelasnya dan bahkan ke gurunya.

    Ini menandakan bahwa dua orang bersaudara ini belajar di rumahnya. Orang tuanya nampaknya memberikan fasilitas tambahan seperti buku-buku dan mengajarkan hal-hal yang sederhana yang mampu dicerna oleh otak anak-anak.

    Keunggulan lain yang Belva dan Gavino peroleh ialah meskipun keduanya tidak full masuk kelas yaitu lima kali belajar dalam seminggu karena ikut kelas Matematika di mana sebagian jamnya bertabrakan dengan kelas Inggris, mereka tidak ketinggalan materi, bersedia membaca lebih banyak yang membuatnya lekas tamat buku basic Reading (Bacaan Dasar). Cara membacanya pun cukup bagus dan jelas dimengerti. Hal yang wajar ketika gurunya memperkenannya masuk pada buku reading tahap kedua.

    Kendala
    Belva dan Gavino mengikuti kelas mengaji di siang hingga sore hari, jam yang tidak bisa diganggu gugat mengingat orang tua berpikir bahwa mengaji itu wajib. Di sini lain, orang tuanya juga sadar bahwa Bahasa Inggris dan Matematika juga sangat penting agar anak-anaknya nyambung pelajaran sekolah dan
    bekal untuk punya daya saing dalam menempuh cita-citanya.

    Matematika dan Bahasa Inggris pada akhirnya dipelajari di malam hari. Penulis seringkali mengajaknya untuk mengikuti kelas Bahasa Inggris setelah kelas Matematikanya selesai. Belva dan Gavino lebih sering menolak daripada menerima dengan alasan capek. Maklum, anak-anak juga punya keinginan untuk bermain dan haknya itu harus diberikan. Tapi tak jarang juga, saat bermain, mereka tiba-tiba bergabung di kelas Inggris karena melihat pelajarannya seru, seperti bermain.

    Pada pembelajaran ala bermain itu, pengetahuan yang diperoleh sedikit. Bukan masalah, minimal menambah kosa-kata. Pada akhirnya, pemikiran sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit adalah pilihan terbaik.

    Khusus untuk jam pelajaran Bahasa Inggris, tidak ada kendala yang berarti. Ketekunannya dalam membaca disertai menjawab soal-soal cerita bisa diandalkan. Dengan demikian, mereka punya peluang besar untuk tamat pada buku kedua.

    Seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan Belva dan Gavino menyapa di RBB dan di lingkungan orang berbahasa Inggris pasti akan berkembang. Mereka pasti akan bisa bercerita banyak hal, bukan lagi ‘what is the English of …?’ tapi pada hal yang berhubungan dengan pengembangan wawasan. Itulah harapan kita semua.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba,. Rabu 20 Mei 2026