Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Desain Global dalam Pendidikan Non-Formal

    Desain Global dalam Pendidikan Non-Formal

    Dunia belajar adalah bermain, belajar dengan suasana bermain atau permainan adalah belajar. Begitulah awal kondisi belajar anak-anak ini. Ini awal sebuah desain besar yang akan dijadikan fondasi kompetisi global. Mereka sama sekali belum tahu apa pentingnya berilmu pengetahuan. Yang mereka tahu adalah belajar itu harus menyenangkan. Bila tidak, pelajaran dan guru yang mengajar menjadi musuh bersama dari para pelajar.

    Asumsi ini kemudian mengalami perkembangan setelah anak-anak SD di kelas malam ini menamatkan tenses di luar kepala secara teratur. Memasuki tahap selanjutnya, mereka merasa bahwa mengerjakan latihan tulis pada perubahan kalimat berbahasa Inggris itu tidak harus lagi dengan suara yang ramai dengan permainan. Mereka ingin ketenangan agar dapat berpikir dengan jernih dalam menjawab soal-soal tenses secara acak. Sesekali ada beberapa anak yang membutuhkan bantuan guru dalam menyelesaikan soal yang dirasa sulit, namun setelah mengerti, mengerjakan latihan secara mandiri lebih mereka suka daripada didampingi guru.

    Setelah melihat hasil kerja latihan itu, mayoritas pelajar memperoleh nilai di atas 90 dari 52 jumlah soal tenses acak. Ini tidak lazim dilakukan oleh pelajar SD di Bulukumba karena di sekolah, anak-anak sekadar belajar kosakata dan kalimat sederhana dengan waktu yang sangat terbatas, sekali seminggu. Tetapi, target yang ingin dicapai bukan sebatas itu saja. Anak-anak ini juga berminat untuk menguasai tenses acak karena beberapa rekan sebayanya telah sanggup melakukannya dengan sangat baik.

    Perubahan pola belajar dari yang biasa saja menjadi luar biasa ini adalah perjuangan yang panjang. Kesadaran itu muncul secara bertahap yang dibarengi dengan kesabaran dalam mendidik. Semua masa sulit dihadapi dengan tabah sehingga tiap anak yang tertinggal tidak ditinggalkan, tetapi terus disemangati dan dididik semaksimal mungkin. Singkat penjelasan, tidak boleh ada pelajar yang bodoh. Guru dan semua pelajar saling membantu dan bertanggung jawab mencerdaskan setiap pelajar yang ada.

    Disadari atau tidak, kelas malam di Rumah Belajar Bersama (RBB) ini telah menerapkan suatu model pembelajaran yang baru tanpa merasa khawatir bahwa kualitas materi yang diasumsikan agak berat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelajar mereka. Mereka tertantang dan mendobrak, menguatkan dasar-dasar demi sebuah cita-cita besar. Kenapa RBB sangat berani melakukannya? Karena terdapat sumber daya manusia yang cukup, bukan sumber daya materi. RBB berusaha menjadikan belajar itu lifestyle (gaya hidup), setiap tempat adalah belajar.

    RBB merancang para pelajarnya untuk persiapan kompetisi global. Para pengajarnya mengetahui hal-hal terpenting yang sangat perlu dikuatkan untuk membangun budaya literasi dan kemampuan berbicara secara akademis sehingga ke depan, para pelajarnya siap menghadapi tantangan yang berat termasuk menulis dalam bahasa Inggris. Apa lagi? Bekal itu sudah cukup bila para pelajarnya nanti bercita-cita kerja atau kuliah di luar negeri termasuk mendapatkan beasiswa belajar.

    Anak-anak kita yang masih pada tahap belajar dengan suasana bermain sama sekali bukanlah masalah bagi RBB. Itu malahan suatu jalan yang baik untuk menuju ke dunia belajar tingkat tinggi, yang sesungguhnya. Sebab, pada akhirnya, pendidikan itu akan diukur dari sumber daya manusia yang berkualitas yang dihasilkan. RBB berada di garis tersebut.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 7 September 2026

  • Rasa Penasaran Membongkar Kemustahilan Belajar

    Rasa Penasaran Membongkar Kemustahilan Belajar

    Perjalanan belajar yang sunyi dan panjang. A. St. Alilatulbariza, panggilan Aliza, anak kelas 4 SD yang sungguh mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran bahasa Inggris. Tiap kali ia membaca, bacaannya lebih banyak salah daripada benar. Rekan-rekan kelasnya tidak mengalami nasib sulit seperti dirinya. Karena itu, ia menjadi penasaran. “Kalau orang lain bisa, kenapa ia tidak?” Pertanyaan itu memotivasinya untuk maju, tidak patah semangat.

    Rasa penasaran itu mengantarkannya belajar lebih ekstra daripada yang lainnya. Aliza suka mengulangi bacaannya dan meminta guru untuk memandunya memperbaiki kesalahannya. Inisiatif sering me-review pelajaran membuat lidahnya lebih cepat dan lincah dalam melafalkan kosakata dan kalimat hingga pada akhirnya ia lancar pada buku Basic Reading (Bacaan Dasar).

    Dari kemajuan belajar itu, Aliza berkata kepada ibunya, “Bahasa Inggris di sekolah gampang.” Pernyataan itu wajar karena di sekolah ia hanya belajar sekali dalam seminggu, sementara di Rumah Belajar Bersama (RBB), ia belajar lima kali dalam seminggu. Namun, guru RBB mengingatkan, “Di mana pun berada, Aliza tidak boleh menganggap remeh pelajaran. Di setiap tempat belajar, itu pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Apa pun yang diajarkan, pelajarilah dengan sungguh-sungguh.” Pesan ini dimaksudkan agar semangat belajarnya tidak menurun, tetap terjaga.

    Aliza siaran langsung tenses di luar kepala bersama seorang rekan kelasnya, Audree.

    Di RBB, tantangan belajar Aliza meningkat. Ia sangat bersemangat mengikuti pembelajaran penguasaan tenses di luar kepala. Melihat jumlah kalimat yang harus disetor tanpa melihat rujukan, keningnya berkerut, tanda pelajaran itu sangat sulit baginya. Ia berpikir sejenak dan kemudian tersenyum. Tampaknya ia menemukan solusi. Benar! Ia menggunakan pola review dengan mengulangi pelajaran lebih rajin lagi dari yang lalu. Akhirnya, anak sembilan tahun ini sanggup menyetor ratusan perubahan kalimat tenses secara teratur dengan percaya diri.

    Foto tanda menamatkan materi tense di luar kepala.

    Aliza menaikkan lagi status belajarnya. “Mana soal tulis pada tenses acak?” Aliza bertanya, “Saya mau juga seperti teman-temanku.” Guru kelasnya memberikan lembaran kertas yang Aliza minta disertai cara mengerjakan. Aliza girang karena tidak pernah menyangka bahwa ia akan sanggup melangkah sejauh itu. Ia bangga dan merasa selevel dengan anak-anak pintar di kelas RBB itu.

    RBB Menghasilkan Lingkungan Belajar yang Hebat
    Strategi pembelajaran RBB adalah membongkar kemustahilan. Pada dasarnya, manusia itu seperti lembaran kertas putih. Lingkungan belajar yang akan mengisi kertas kosong itu dengan pena pengetahuan. Anak-anak didesain agar mereka merasa berinisiatif sendiri untuk maju betapapun sebenarnya, ini adalah rekayasa yang sengaja dibuat oleh RBB agar anak-anak merasa tidak diarahkan, melainkan merasa butuh mengarahkan diri mereka sendiri untuk pintar.

    Puluhan anak seperti Aliza telah melewati pembelajaran seperti ini. Klaim anak-anak tidak berbakat berbahasa Inggris dengan sendirinya terpatahkan, minimal di lingkungan RBB. Untuk bisa sukses, anak-anak kita butuh lingkungan belajar yang membangkitkan rasa ingin tahu dengan pengarahan yang tepat serta pengetahuan dan guru yang berkualitas dan bertanggung jawab. Itulah yang perlu kita tingkatkan dalam dunia pendidikan kita.

    Menghancurleburkan kesulitan belajar yang dialami anak-anak Indonesia di daerah seperti di Bulukumba adalah cita-cita besar yang ingin diwujudkan oleh RBB Bulukumba. Tentu, masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak yang dapat meningkatkan kepercayaan diri seperti yang dialami oleh Aliza. Oleh karena itu, dengan niat untuk mengangkat derajat pelajar, RBB hadir untuk mereka.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 7 September 2026

  • Menepis Kebohongan Wajah Pendidikan

    Menepis Kebohongan Wajah Pendidikan

    Nilai bohong. Itulah yang sering kita temui untuk mengamankan nama baik institusi pendidikan. Para pelajar pun akhirnya berotak bulus dengan mengikuti pelajaran hanya untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah sebagai tanda pernah belajar. Tokoh publik semacam Rocky Gerung melengkapi citra buruk ini dengan mengatakan, “Ijazah adalah tanda seseorang pernah sekolah, bukan tanda ia pernah berpikir.” Rocky biasanya menambahkan sindirannya itu dengan istilah “dungu”.

    Dengan adanya swastanisasi pendidikan saat ini, sertifikat atau ijazah menjadi lahan bisnis yang dapat meraup keuntungan besar. Dari situ pula, lahirlah orang-orang pengejar sertifikat untuk kebutuhan kerja tanpa mengedepankan ilmu pengetahuan atau keahlian. Peluang buruk ini terbuka lebar bila institusi atau lembaga yang terkait tidak lagi mengepankan kualitas sumber daya manusia. Apakah masalah pelik ini juga terjadi dalam pendidikan formal? Jika ya, maka kita akan menciptakan generasi yang memanipulasi data. Pemberian nilai tinggi untuk menaikkan reputasi dan statistik kelulusan institusi, bukan kompensasi pelajarnya.

    Disiplin RBB Tanete dan Jerman
    Pengajaran di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete yang meskipun tidak mempunyai kuasa dalam pendidikan formal menolak itu semua. Lembaga ini berjuang di jalur pendidikan rakyat. Para pelajarnya yang mayoritas SD itu diberikan ujian grammar yang hasilnya sesuai dengan fakta sebenarnya. Anak-anak dididik untuk berperilaku dan mengukur kemampuannya secara jujur. Pelajar yang memperoleh nilai rendah tahu bahwa dirinya butuh belajar lebih giat agar dapat meraih nilai tinggi, sedangkan pelajar yang memperoleh nilai tinggi derajatnya secara otomatis terangkat, kapasitasnya teruji. Begitulah ujian tulis yang diterapkan oleh Mr. Agung Pratama Salassa saat menguji simple present dan simple past tenses pada anak anak RBB Tanete pada ujian tenses.

    Sementara itu, untuk melatih kemampuan berbicara yang sesuai kaidah tenses, Fajar Hamzah (Mr. Ancha) memberikan pelatihan lisan pada simple present dan simple past tenses juga. Karena setiap anak akan divideo secara live (siaran langsung), mereka terlebih dahulu mempersiapkan diri berlatih agar tidak mau tampil bodoh ditonton. Bila ada pelajar yang telah selesai menyetor, pelajar lain merasa tidak ingin tertinggal. Jadinya, satu per satu menyetor tugas hingga semuanya tuntas. Strategi ini sangat efektif memajukan semangat dan kualitas belajar.

    Bila kita melirik negeri nun jauh di sana, model pendidikan seperti di atas juga berlaku di Jerman. Bahkan, sistem tersebut berlaku di pendidikan formal. Tamatan pelajar SMA yang nilainya tidak memenuhi standar tidak diperbolehkan kuliah: lebih layak bekerja. Saat kuliah pun, mahasiswa yang tidak bisa menyelesaikan mata kuliahnya akan terkena Drop Out (DO) tanpa kompromi, meskipun itu bukan satu-satunya standar ukuran. Tak mengherankan bila produk barang dari Jerman kualitasnya terkenal bagus. Itu karena tak lepas dari sistem pendidikan yang bertanggung-jawab.

    RBB hanyalah lembaga kecil, bukan sesuatu yang sama sekali layak diperbandingkan dengan Jerman, tetapi lembaga ini bergerak dalam wilayah kultural dan mempunyai cita-cita besar turut berperan aktif mengubah wajah pendidikan kita dimulai dari hal-hal sederhana tanpa harus menanti wilayah struktural berubah: nilai tidak bohong dan membalikkan istilah ‘dungu’ menjadi cendekia. Semestinya, pendidikan formal dan nonformal berani merombaknya, bukan tugas RBB semata sehingga pada akhirnya kemajuan itu menjadi milik bersama.

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 6 September 2026

  • RBB Tanete Mematahkan Mitos Ketertinggalan

    RBB Tanete Mematahkan Mitos Ketertinggalan

    Rendahnya kualitas sumber daya manusia yang menggerogoti anak-anak daerah karena kita tidak mengambil sikap serius dan tepat sasaran untuk memperbaikinya. Kita tahu bahwa ada masalah besar yang selama beberapa generasi belum tuntas, tetapi itu dibiarkan saja, diam. Masalah itu adalah para pelajar kita tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Ini tidak dihiraukan sehingga anak-anak kita tidak tahu mau mengadu ke siapa dan diarahkan ke mana.

    Membaca buku disertai gerakan tubuh yang sesuai dengan isi bacaan agar pelajar lebih mudah memahami isi cerita.

    Padahal, pelajar daerah itu sebenarnya mempunyai potensi kecerdasan yang sama dengan pelajar di kota-kota besar. Minat belajar mereka juga sangat tinggi. Yang membedakannya adalah kebijakan, akses pengetahuan, dan duit.

    Praktik berbicara secara berpasangan.

    Pertemuan penulis selama tiga jam belajar dengan para pelajar di Tanete, Bulukumba, Sulawesi Selatan sangatlah berkesan. Ternyata, kemampuan mereka dalam berbicara dan membaca sudah terbentuk setelah belajar selama hampir dua bulan. Mereka bangga karena merasa lebih maju dibandingkan pelajar yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan berpikir bahwa pelajaran sekolah itu jauh lebih mudah. Ada rasa percaya diri dan kebanggaan dari hasil usaha belajar.

    Percakapan berdasarkan teks buku.

    Hal yang paling dahsyat yang sangat terasa melekat di hati adalah review materi. Tiap lembaran kertas di buku dikenali dengan sangat baik, dibaca dengan suara nyaring dengan tingkat kesalahan pengucapan yang sangat minim. Ini bukti bahwa mereka belajar dengan benar: modal bercakap yang sangat bagus dan gerakan literasi sungguh berfungsi, generasi anak bangsa ini suatu saat akan turut mengharumkan nama baik Indonesia membantah bahwa literasi anak Indonesia itu di bawah standar dunia.

    Melatih kemampuan berbicara dengan bahan percakapan.

    Kedahsyatan ini terjadi karena tiap anak hanya boleh naik tingkat dan mendapatkan buku terbaru setelah menamatkan satu buku. Jadi, mereka wajib menuntaskan bacaan pada bukunya dengan pemahaman baik dan dibuktikan dengan review. Dengan demikian, ini adalah literasi berkelanjutan, tiada henti.

    Dengan literasi, mari kita membuat ruang kecil yang lebih baik untuk masa depan generasi penerus kita.

    Sisi lain yang cukup unik adalah pengaruh buruk gempuran teknologi gadget yang telah memusingkan kepala orang sedunia tidak terpengaruh kuat di kelas Rumah Belajar Bersama (RBB) ini. Saat keluar main, tidak ada satu pun anak bermain gadget. Mereka semua bermain ala permainan rakyat: kejar-kejaran, lompat, dan duduk mengobrol santai. Jangan pula berpikir bahwa mereka ini tidak punya gadget. Kemungkinan besar, guru utamanya Miss Fathy Cayadi telah merancang kelas ini steril dari gadget untuk urusan game. Gadget hanya digunakan saat urusan belajar.

    Membangun kepercayaan diri anak dengan menekankan pada ilmu pengetahuan agar mereka nantinya memiliki daya saing.

    Tantangan terakhir dan terberat adalah grammar (tata bahasa) karena materi ini menuntut kemampuan berpikir Kurikulum sekolah malahan mengecilkan posisi grammar dengan tidak lagi membahas secara detail. Bagi RBB Tanete, itu bukan beban, guru-guru yang berkualitas dengan kelebihan masing-masing selalu berkreasi. Miss Fathy biasanya memberikan pelatihan tenses dalam bentuk percakapan, sedangkan dalam grammar murni, Mr. Ancha dan Mr. Agung dari RBB Bulukumba seringkali hadir menjelaskan teori untuk penguatan argumentasi dan praktik lisan untuk menyelaraskan teori dan praktik yang disiarkan secara langsung di media sosial untuk validitas kegiatan dan membangun keberanian serta kepercayaan diri pelajar berbicara.

    Wafika pelajar SMA dipercaya untuk mengecek pemahaman anak-anak SD pada materi simple present tense. Terdapat juga rekaman video untuk publikasi pembuktian kemajuan belajar.

    Jadi, klaim kerumitan grammar dapat diajarkan dengan berbagai pendekatan, bukan dengan mengesampingkannya sebagai pelajaran tambahan karena ini sangat berguna dalam percakapan sehari-hari tidak salah tafsir dan kebutuhan pendidikan akademis.

    Temukan cara belajar yang membuat diri kalian bahagia.

    Gebrakan RBB menyelamatkan ketertinggalan pendidikan di daerah memang masih sangat kecil, ruang lingkupnya sebatas kota Bulukumba dan Tanete. Ia tidak sedang menyelesaikan persoalan bahasa Inggris yang di setiap sudut daerah. Satu hal yang pasti, ia sadar dengan masalah, tidak diam, melainkan berjuang dengan segenap ide dan tenaganya mencerdaskan generasi penerus bangsa yang berada di lingkungan terdekatnya. Untuk jangkauan lebih luas, mari kita bergandengan tangan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu 5 September 2026

  • RBB: Menumbangkan Kepongahan Superioritas Pendidikan

    RBB: Menumbangkan Kepongahan Superioritas Pendidikan

    Sirin dan Halisa adalah dua anak sahabat dekat. Di ruang kelas, mereka selalu duduk berdampingan. Ini karena irama hidupnya sama: suka tidak memperhatikan pelajaran, selalu paling terlambat menyetor tugas, dan bermain saja di kelas. Teman-teman sekelasnya yang lain baru bermain ketika waktu keluar main. Tertinggal dari materi pelajaran sama sekali bukan masalah bagi kedua anak ini. Tidak ada perasaan bersalah. Hebat, kan!

    Justru, orang yang pusing adalah tutor kelas. Masalahnya, pelajaran tidak selaras bila beberapa anak tertinggal. Perhatian pengajaran akan terpecah. Pelajar yang tertinggal akan semakin sulit mengejar, sehingga tingkat perhatian mereka pada pelajaran bertambah rendah. Mengeliminasi Sirin dan Halisa juga bukan keputusan bijak, bahkan sama sekali tidak dibenarkan. Orang tua mengirim mereka les bukan hanya agar bisa berbahasa Inggris, tetapi juga agar bisa lebih baik dalam belajar. Sebagai konsekuensi, tutor yang bertanggung jawab tidak boleh lepas tangan begitu saja. Spirit belajar harus bisa ditanamkan kepada mereka.

    Solusi kecil pun dibuat. Setiap kali jam belajar, Sirin dan Halisa dipisah agar tidak saling bergosip. Rekan sekelas yang akrab dengan kedua anak itu menjadi pasangan belajarnya. Mereka bertugas memahamkan materi yang telah berlalu, semacam tutor sebaya. Beruntung, rekan-rekan kelasnya itu peduli dan dengan senang hati selalu mau membantu. Langkah ini cukup berfungsi. Kebiasaan mereka berbicara tanpa arah—yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelajaran—mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Mereka bisa memahami pelajaran dengan baik. Semua rekan yang memandu tidak pernah mengalami kendala berat dalam memahamkan pelajaran. Otak Sirin dan Halisa ternyata mampu sebagaimana pelajar yang lainnya.

    Kebanggaan pertama yang Sirin dan Halisa capai adalah menyetor seluruh perubahan kalimat tenses secara teratur di luar kepala pada Kamis, 3 September 2026 lalu. Di kelas malam Rumah Belajar Bersama (RBB) itu, mereka memang paling terakhir. Namun, anak SD mana yang bisa tenses di luar kepala? Banyak pelajar SMP dan SMA sama sekali tidak tahu tenses, meskipun bertahun-tahun belajar bahasa Inggris di sekolah. Tugas berikutnya adalah memahami tenses secara acak di luar kepala.

    Titik perhatian selanjutnya adalah memahamkan dengan baik jam belajar dan bermain. Tutor selalu mengingatkan, “Di RBB, kalian tidak dilarang bermain karena sebagai anak-anak, dunia kalian memang dunia bermain. Yang perlu kalian ingat, selesaikan tugas dengan baik sebelum keluar main.” Sirin dan Halisa mendengarkan. Mereka tidak protes, meskipun diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat yang berbeda. Hubungan persahabatan erat mereka sama sekali tidak diganggu. Jadi, mereka merasa nyaman saja.

    Sebenarnya, RBB bisa saja dengan mudah mempercepat materi untuk menunjukkan superioritasnya dalam mencetak pelajar berkualitas di atas rata-rata dengan berfokus pada anak-anak yang memenuhi target belajar saja. Namun, itu adalah sikap individualis, mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada yang lainnya. Pendidikan akan terasing dari sisi humanisme. Padahal, akar semboyan pendidikan Indonesia adalah di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat/kemauan, dan di belakang memberi dorongan (Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani).

    Konsep yang sama, paling tidak mirip, juga diterapkan di Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, keterbukaan, dan kerja sama dalam meraih kesuksesan belajar. Mereka tidak menciptakan kompetisi ketat seperti di Amerika dan Inggris yang membuat jurang pemisah lebar antara yang pintar dan yang bodoh. RBB tidak menjadikan cita-cita mulia Ki Hadjar Dewantara itu sebagai slogan, tetapi menerapkannya dari ruang kecil sebaik yang ia mampu.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 4 September 2026

  • Juara Instan vs Juara Kehormatan: Ilusi Prestasi dalam Pendidikan Kita

    Juara Instan vs Juara Kehormatan: Ilusi Prestasi dalam Pendidikan Kita

    “Seseorang yang naik ke kekuasaan tanpa perjuangan akan turun tanpa kehormatan.” Perkataan singkat Aristoteles, sang filosof pertama, itu menekankan pentingnya akan usaha manusia untuk meraih sesuatu. Manusia harus berjuang. Jalan instan akan berakhir dengan tragis.

    Jika dihubungkan dengan pendidikan, orang akan mudah terhipnotis dengan capaian orang yang meraih juara dalam sebuah kompetisi. Juara 1 akan melahirkan kebanggaan, dielu-elukan layaknya pahlawan. Orang-orang pun mengikuti sang pahlawan itu. Model rambut, cara bicara dan berjalan hingga aktivitas yang remeh-temehnya ditiru. Padahal, itu hanya bagian kulit luarnya saja. Sedikit sekali orang yang mau menukik lebih dalam mengapa sang juara itu sukses.

    Adeeva Syakila Zulfikar dan Faika Qhinara Putri Ridwan adalah anak paling sukses tingkat SD di Bulukumba dalam hal kejuaraan bahasa Inggris. Keduanya meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional. Tentu saja, anak SD lainnya di Bulukumba yang juga ikut berkompetisi, namun sejauh pemahaman penulis, belum ada yang meraih emas sebagaimana kedua anak itu. Singkatnya, mereka ini bukan belum ada duanya, tetapi belum ada tiganya.

    Bagaimana bisa itu terjadi? Rumah Belajar Bersama (RBB) mendidik Adeeva dan Faika dengan membiasakan budaya literasi, hal tidak menarik di mana Indonesia memang terkenal literasi yang terbelakang di antara negara-negara berkembang. Buku-buku bacaan dan percakapan dibaca hingga tuntas secara teratur. Tidak boleh ada selembar pun yang terlewatkan. Ini adalah proses pembelajaran yang tersistematis, berdisiplin, bertanggung jawab pada tugas yang diberikan. Penguatannya selanjutnya pada tata bahasa yang titik tekannya pada tenses agar mengetahui perubahan kalimat secara tepat. Tenses diajarkan hingga dikuasai di luar kepala, bukan sebatas tahu. Semua bacaan berpola tenses. Literasi tanpa tenses hanya mencetak pelajar pandai membaca tanpa tahu makna mendalam dari isi bacaan.

    Ada beberapa kritik yang muncul. Di RBB itu sekadar membaca dan percakapan singkat saja. Yang lain mengatakan, belajar tata bahasa—dalam hal ini tenses—tidak terlalu dibutuhkan dalam percakapan. Inilah letak perbedaannya. RBB mengajarkan fondasi terlebih dahulu, fokus pada bagian yang paling mendasar dan butuh kesabaran dan pemahaman yang mendalam untuk bisa mengerti. Waktunya memang cukup lama sehingga dengan mudah, orang bisa berasumsi bahwa pembelajaran di RBB biasa saja. RBB tidak bergeser. Ia percaya bahwa jalan yang ia tempuh akan menghasilkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terbaik. Lembaga pendidikan harus mampu membuktikan bahwa SDM itu harus berada di garis terdepan, sebesar apa pun risikonya.

    Sekarang ini, RBB sedang gencar-gencarnya memahamkan materi tenses kepada semua pelajarnya termasuk kelas pemula yang belum tamat satu buku. Tujuannya agar pelajarnya lebih siap untuk mampu berbicara secara teratur, membaca dengan benar dan menjawab soal-soal secara tertulis. Sekilas, ini terlihat mustahil, tetapi kenyataannya anak kelas 3 SD sekali pun sanggup mempelajari dan menguasai di luar kepala. Biarlah kemustahilan itu tinggal sebuah kosakata saja.

    Oleh karena itu, perjuangan belajar yang ulet itu semestinya dibarengi dengan strategi pengajaran yang andal juga agar terdapat sinergi yang berkelanjutan. Sejatinya, nilai A+ yang terpampang di sertifikat juara olimpiade dari kedua anak itu hanyalah efek. Mereka terlebih dahulu bersungguh-sungguh berjuang meraih A+ di RBB yang kemudian membuatnya lebih percaya diri bertarung di tingkat nasional. Selain itu, mereka juga yakin bahwa pelajaran yang diajarkan di RBB itu berstandar internasional. Buat apa ragu berkompetisi? Kehormatan yang diperoleh di atas lembaran sertifikat dibuktikan dalam dunia nyata. Sebaliknya, para peraih sertifikat A+ yang tidak diikuti dengan perjuangan atau lewat jalur instan sudah pasti tidak mempunyai keberanian bertarung di tempat yang lebih luas. Tragis.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 3 September 2026

  • Upaya Nakes Menembus Timur Tengah

    Upaya Nakes Menembus Timur Tengah

    Aneh tapi nyata. Itulah yang terjadi bagi para Tenaga Kesehatan (Nakes) Indonesia yang melamar pekerjaan di Timur Tengah. Mereka wajib wawancara dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Arab. Kata calon peserta, itu karena mereka akan melayani manusia dari seluruh penjuru dunia di mana bahasa Inggris sebagai penghubung.

    Memperhatikan model tes wawancara, soal-soalnya relatif mudah, seputar alasan mengapa mereka memilih kerja di Arab dan tentang keahlian yang mereka miliki. Itu semacam obrolan santai untuk mengakrabkan diri saat berkenalan dengan orang asing. Namun, urusan ini bukan perkara mudah bagi sarjana kesehatan itu betapa pun mereka telah belajar bahasa Inggris di SMP, SMA dan kampus perkuliahan.

    Dua orang dewasa, Nurdillah, alumni STIKES Muhammadiyah Sidrap dan Nirfiani, alumni AKBID Thahira Al Baeti Bulukumba tidak punya pilihan lain selain belajar bahasa Inggris. Rumah Belajar Bersama (RBB) menerima karena lembaga ini sudah terbiasa mendidik nakes yang mencari rezeki di negeri jauh. Keduanya belajar cara menghadapi wawancara dimulai cara berkenalan hingga urusan penting menangani pasien. Seperti kebanyakan orang, lidah mereka kaku, seakan semua pelajaran bahasa Inggris semasa menuntut ilmu menguap. Kejadian ini hal biasa. Lembaga nonformal sudah terbiasa menangani masalah klasik ini dan selalu mempunyai jurus untuk menangani gagap bicara. Lagi pula, buat apa mereka datang ke RBB jika bahasa Inggris pada pendidikan formal sudah tuntas?

    Para pelajar itu diajak untuk memikirkan segala pembicaraan yang ingin mereka katakan. Tugas utamanya adalah mengungkapkan dalam bahasa Indonesia. Fajar Hamzah (Mr. Ancha) menerjemahkan semua kalimat mereka ke dalam bahasa Inggris. Kemudian, mereka praktik bicara. Percakapan sederhana berbahasa Inggris pun mulai sedikit terlihat. Selanjutnya, mereka bersama-sama memetakan kemungkinan soal yang akan keluar pada tes wawancara nanti. Setelah mencapai kesepakatan, mereka membuat tanya jawab di mana seseorang menjadi pewawancara dan seorang lagi diwawancarai. Simulasi tes wawancara ini dirancang sesantai mungkin agar kalimat-kalimat yang telah dipelajari mudah diucapkan kembali. Sebagai antisipasi, ketika lupa, mereka boleh melihat buku catatan. Praktik ini terus dikembangkan hingga mereka merasa tidak perlu merujuk pada buku catatannya lagi.

    Setelah melewati tiga pertemuan belajar, keduanya sudah tidak lagi ketakutan berbahasa Inggris. Perlahan tapi pasti, mereka pun bergaul dengan pelajar sekolah di lingkungan RBB dan saling bertanya dalam bahasa Inggris. Bahkan, sesekali semuanya berkumpul membaca buku berbahasa Inggris dengan suara nyaring secara bersama-sama dengan tujuan melatih pengucapan, menghilangkan kekakuan lidah. Keakraban pun terjalin.

    Kini, perlahan tapi pasti, asumsi ketakutan berbahasa Inggris itu terkikis. Bergaul dengan pelajar sekolah membuat mereka bisa belajar sembari bermain. Menariknya lagi, mereka saling berbagi bahan pelajaran yang telah didapatkan. Ternyata, pergaulan tanpa memandang jarak umur di lingkungan belajar itu menambah wawasan.

    Dengan kondisi belajar di atas, dua atau tiga bulan adalah waktu yang sudah sangat ideal menghadapi tes ujian nakes yang hendak ke luar negeri. Mereka tidak harus belajar bahasa Inggris sebagaimana anak muda-mudi yang hendak lanjut S-2 yang menuntut pembelajaran tingkat tinggi karena wajib menghadapi tes TOEFL atau IELTS.

    Juara Olimpiade Bahasa Inggris SD tingkat Nasional dari pelajar RBB.

    Jadi, bagi para nakes yang terobsesi melihat negeri jauh dan tentu saja ingin mendapatkan gaji yang jauh lebih layak dibandingkan di dalam negeri tidak perlu khawatir. Ketakutan berbahasa Inggris tetap mengendap abadi dalam pikiran itu hanya karena tidak mencoba saja mencari pengalaman belajar yang baru. Perjalanan belajar Nurdillah dan Nirfiani yang sedang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik patut ditiru dalam memajukan kualitas diri. Mereka bermimpi ke luar negeri disertai dengan aksi nyata.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 2 September 2026

  • Dari Bulukumba untuk Dunia: Mengikis Batas Belajar

    Dari Bulukumba untuk Dunia: Mengikis Batas Belajar

    Sebagai pelajar dan guru, kita tidak perlu sungkan, terlebih lagi malu belajar. Penulis baru saja belajar dan memperoleh inspirasi dari seorang anak yang bernama Athirah Salsabila Nur Faisyal di Makassar. Anak kecil imut ini berumur sembilan tahun, lancar berbahasa Inggris. Penulis yang sejak kecil sudah akrab berbahasa Inggris sangat tertarik berbicara dengannya dan bahkan membuat dokumentasi video.

    Athirah suka berbahasa Inggris karena ia bercita-cita untuk menjadi seorang pramugari. Dengan cara itu, keinginannya berkeliling dunia dapat terwujud. Ia juga ingin belajar bahasa Arab, Korea, dan Jepang—negeri yang ingin ia kunjungi yang ia kenal dari hasil berselancar informasi di internet. Selain itu, ia juga sangat antusias menjelaskan tentang hobinya dan teman terbaiknya yang meninggalkannya. Obrolan kami sangat lancar dan mengalir apa adanya. Tanpa sadar, pembicaraan santai nan akrab ini berlangsung sekitar lima belas menit. Selesai.

    Penulis berpikir, bisakah anak-anak daerah mempunyai kemampuan seperti Athirah? Tentu saja bisa. Penulis adalah anak desa dari Bulukumba yang sejak kecil sudah bisa berbahasa Inggris seperti Athirah. Bedanya, Athirah mendapatkan fasilitas sekolah internasional, sedangkan penulis SD Negeri saja. Beruntung, di Bulukumba ada Rumah Belajar Bersama (RBB) di mana anak-anak daerah yang meskipun fasilitas belajarnya biasa saja, para pelajarnya bisa mendapatkan pelajaran berstandar internasional juga.

    Saat pulang kampung ke Bulukumba, penulis langsung melirik Faika, anak berumur sembilan tahun juga. Awalnya, materi yang ingin penulis ajarkan adalah materi olimpiade bahasa Inggris mengingat ia ingin lagi meraih emas tingkat nasional, tetapi karena pengalaman berkesan bersama Athirah di Makassar, penulis mengajaknya untuk berbicara Inggris. Ia sepakat, sama sekali bukan masalah berarti baginya. Diskusi berjalan selama hampir delapan belas menit.

    Faika yang ingin menjadi dokter mempunyai kesamaan dengan Athirah, keliling dunia. Impian yang indah itu tidak dibiarkan sebatas mimpi, melainkan diwujudkan dengan belajar bahasa Inggris sejak usia belia. Memperhatikan spirit belajarnya yang luar biasa, kemungkinan besar, kedua anak berbakat yang belum saling kenal ini akan belajar bahasa asing lainnya. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk dapat mewujudkannya.

    Sebagaimana halnya Athirah dan Faika, berpuluh-puluh juta anak Indonesia pasti juga mempunyai impian yang indah juga. Kita tidak mengenalnya saja. Mereka tentu ingin mempunyai masa depan yang cerah. Anak-anak di daerah banyak yang berpotensi untuk pintar, masih banyak yang belum kita ketahui. Kita perlu langkah untuk lebih dekat kepada mereka. Suatu keberuntungan, atas inisiatif Miss Fathy Cayadi, kini RBB di Kecamatan Tanete, Bulukumba telah dibuka sekitar dua bulan lalu. Anak-anak Tanete pun mempelajari segala hal yang dahulu dipelajari oleh Faika. Itu berarti, selama mereka tekun belajar, mereka sangat berpeluang untuk menjadi generasi penerus anak-anak hebat.

    Kini saatnya kita menyerap inspirasi, menyerap energi positif dari siapa pun tanpa perlu sungkan dan malu untuk membangun kualitas sumber daya manusia pelajar Indonesia hingga sampai ke pelosok desa. Kita ubah nasib bangsa kita dengan pendidikan. Mengutip B. J. Habibie, “Hanya dengan ilmu pengetahuan, kita sanggup sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya.”

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 1 September 2026

    Link video Athirah:
    https://youtu.be/F4fkLvRg3RQ?si=0D7B6V8pQHI1VRvo

    Link video Faika:
    https://youtu.be/HqOoy1uAKfQ?si=7diiB6i5tV7D-uwW

  • Seni Mengemas Bahasa Inggris

    Seni Mengemas Bahasa Inggris

    Kalimat-kalimat berbahasa Inggris diucapkan anak-anak dengan kaidah yang benar. Dengan memanfaatkan hari Senin ini, mereka mengucapkan tiga hal. Pertama, saya pergi ke sekolah hari ini (I go to school today). Kedua, saya tidak pergi ke sekolah kemarin (I did not to school yesterday). Ketiga, saya pergi ke sekolah besok (I will go to school tomorrow). Semua kalimat itu diucapkan dalam bahasa Inggris.

    Materi berbicara ini diberikan sesuai konteks kehidupan mereka. Pada Senin, mereka pergi ke sekolah. Kemarin tepatnya hari Minggu, mereka tidak sekolah. Besok pada Selasa, mereka akan pergi ke sekolah. Begitulah alam pikiran bersama yang terbangun sehingga tidak perlu repot menjelaskan banyak hal.

    Patut diakui, beberapa anak agak kesulitan membedakan hari ini (today) dengan kemarin (yesterday), terbalik dalam menerjemahkan. Ini menghadirkan gelak tawa riuh di kelas. Namun, anak-anak yang menjadi bahan tertawaan tersebut tidak merasa tersinggung. Malahan, mereka turut tertawa. Tahu kenapa? Karena mereka semua sudah akrab dan ada bantuan dari rekan untuk membenarkan penerjemahan sederhana yang salah.

    Inilah pentingnya review yang dilakukan secara serentak. Kegiatan ini bukan saja memperdalam materi, tetapi juga mengikis rasa tidak percaya diri dalam berbicara. Tiada seorang pun yang tidak mendapatkan giliran dalam berbicara, meskipun anak yang masih ragu selalu memilih paling akhir berbicara. Mereka mendengarkan review rekan-rekannya untuk dipahami hingga pada akhirnya berani berbicara.

    Pada tata bahasa (grammar), materi di atas adalah simple tense (kalimat sederhana yang berhubungan dengan waktu). Karena dianggap seru, pelajaran berlanjut ke continuous atau progressive (kejadian yang sedang berlangsung). Pertama, saya sedang pergi ke RBB sekarang (I am going to RBB now). Kedua, saya tidak sedang pergi ke RBB kemarin (I was not going to RBB kemarin). Ketiga, saya akan sedang pergi ke RBB besok (I will be going to RBB tomorrow).

    Secara sederhana, cara pengajaran ini sama seperti sebelumnya, review juga. Apakah perulangan ini membosankan? Tidak juga karena cara ini disukai anak-anak, tidak membingungkan dan menyelaraskan pemahaman di kelas. Target capaian belajar dalam sekali pertemuan pun tercapai.

    Para pendidik dan orang-orang yang bergelut dalam bahasa Inggris pasti tahu bahwa rancangan Rumah Belajar Bersama (RBB) sedang menggabungkan kemampuan berbicara dengan grammar. Ini menghemat waktu dan akan sangat berguna untuk pergaulan sehari-hari dan kebutuhan akademik karena bahannya mengikuti struktur tata bahasa yang dikemas seperti tidak sedang belajar tata bahasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 31 Agustus 2026

  • Mendobrak Batas Logika Berbahasa Inggris

    Mendobrak Batas Logika Berbahasa Inggris

    Membayangkan anak-anak SD belajar tata bahasa dalam bahasa Indonesia itu hampir tidak mungkin, terlebih lagi dalam bahasa Inggris. Kemampuan logika berpikir anak yang dianggap belum mampu berpikir demikian. Memang seperti itulah bahasa. Ia alat komunikasi yang paling umum berguna untuk percakapan sehari-hari.

    Mengapa kita tidak mendorong bahasa percakapan sehari-hari itu sebagai bagian pelajaran tata bahasa? Banyak argumentasi yang memberikan jawaban dengan alasan yang logis. Namun, bila ada argumentasi yang logis yang mendukung bahwa tata bahasa itu bisa diajarkan ke anak-anak, kenapa kita harus menolak?

    Pada dasarnya manusia menyukai terobosan ke arah hidup yang lebih baik. Karena mengajarkan tata bahasa Inggris kepada anak-anak SD di Rumah Belajar Bersama (RBB) telah terbukti efektif di Bulukumba itu dan itu kemudian ditindaklanjuti di RBB Tanete, kelas bimbingan Miss Fathy Cayadi.

    Mr. Agung Pratama Salassa adalah guru handal RBB Bulukumba yang spesifikasi keahliannya adalah mengajar tata bahasa Inggris. Dibantu dengan guru-guru RBB yang lain yang juga mempunyai pemikiran yang sama dengan Mr. Agung, kelas grammar mulai dari anak SD hingga orang dewasa dapat dikelola dengan sangat baik. Kecerdasan per individu dari guru digabungkan menjadi kekuatan team sehingga daya ledaknya lebih dahsyat.

    Dari sinergi inilah, para pelajar RBB meraih juara Olimpiade Bahasa Inggris SD, 2026 dan Juara 1 Kompetisi Grammar tingkat mahasiswa jurusan bahasa Inggris di Universitas Negeri Makassar (UNM), 2026. Juara terbarukan lainnya sedang diperjuangkan untuk dicetak lebih banyak lagi di tahun-tahun mendatang.

    Mencerdaskan, Bukan Slogan
    Kehadiran Mr. Agung di RBB Tanete didikan Miss Fathy berbagi materi dasar seperti tenses di luar kepala—hal yang dianggap bukan materi dasar oleh banyak lembaga pendidikan dan kurikulum pendidikan—rumit dipikiran banyak orang itu menjadi sangat ringan. Pengajaran dibangun berdasarkan berdiri kokoh karena kerja sama team itu diniatkan untuk mencerdaskan, bukan slogan.

    Segala hal yang pernah dipelajari sebelumnya dicek ulang dan dikembangkan lebih lanjut. Anak-anak RBB membuktikan kesanggupannya. Namun, patut ingat, untuk mencapai kebanggaan itu, para pelajar pemula harus mengikuti proses pembelajaran yang telah disediakan: teguh dalam berjuang, sabar dan tidak kenal menyerah.

    Satu hal poin penting lainnya yang diperoleh pada pembelajaran standar internasional di lembaga yang merakyat ini adalah anak-anak memperoleh pelajaran jujur, teliti, dan disiplin ditanamkan dengan baik sejak usia dini. Jadi, terdapat capaian berbahasa Inggris yang sekaligus menambah nilai kualitas pribadi pelajar yang dapat dijadikan panduan untuk menjalani kehidupan menuju kesuksesan.

    Zulkarnain Patwa
    Gowa, Minggu, 30 Agustus 2026