Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Ketagihan Belajar Tercipta

    Ketagihan Belajar Tercipta

    Tepat sesuai jadwal, pada jam 19.15 Wita kelas Reading (Membaca ) mulai. Anak-anak mengikuti listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) pada cerita “Help!”. Selain cara mendapatkan cara mengatur tinggi rendahnya suara, mereka juga tahu kapan menggunakannya pada kalimat yang tepat. Kemudian, mereka mengulangi praktik bacaan yang sama dengan bantuan guru. Suara mereka terdengar lebih kompak dan semarak.

    Sebenarnya, meskipun mereka sangat bersemangat, ternyata bacaan tersebut agak sulit dibaca dengan sempurna. Penulis yang bertindak sebagai pengajar langsung mengalihkan pelajaran pada lesson (pelajaran) yang lebih mudah, lesson 1 sampai 5. Mereka senang dan merasa tidak perlu bantuan sama sekali. Namun beberapa kesalahan kecil tetap penulis perbaiki di sela sela bacaannya. Misalnya, kata “with” mereka sebut “waith” dan “murderer’s” mereka sebut marderers.

    Pembiasaan reading ini akan punya pengaruh besar dalam speaking (bicara). Soalnya, salah ucap bisa salah makna, tafsir. Penguatannya mesti dilakukan sedini mungkin melalui pendekatan literasi agar mempunyai efek ganda: mampu mengenal tulisan Inggris dan bicara dengan benar. Itulah yang dibangun dalam dunia akademik.

    Karena pelajaran di atas cukup menyita energi yang besar, anak-anak diberikan kesenangan dengan keluar main. Saat masuk kelas lagi, pelajarannya tentang Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) sekitar 25 kotakata mulai dari neck (leher) sampai two thumbs up (dua jempol). Mereka suka mengunakan tubuhnya sendiri sebagai alat peraga.

    Kemudian, waktu keluar main diberikan lagi. “Hore”, sorak anak-anak.

    Pada akhir pelajaran, anak-anak mengusulkan games. Karena ingatan tentang Parts of the Body masih segar, soal tebakan dengan siapapun yang angkat tangan paling awal, dialah yang berhak menjawab. Games ini sangat seru sehingga guru sulit menentukan siapa yang paling cepat angkat tangan. Guru sering diprotes oleh anak yang merasa lebih dahulu angkat tangan tapi tidak mendapatkan kesempatan.

    Menghindari perdebatan lebih lanjut, guru meminta seorang sukarelawan yang khusus mengamati pelajar yang lebih dahulu angkat tangan sekaligus mengecek kebenaran jawaban. Faika bersedia mengambil peran tersebut dan diterima. Bagi anak-anak, itu lebih baik karena Faika sudah tahu jawaban, saingan berkurang. Games ini terus dimainkan hingga waktu jam belajar selesai, 20.45 Wita.

    Kombinasi belajar dengan pendekatan bermain dan literasi buku ini mempunyai daya tarik yang kuat. Anak-anak tidak bosan dan bahkan merasa belajar adalah dunia bermainnya. Wah, betapa indahnya kehidupan anak-anak yang kesehariannya belajar. Itu adalah lifestyle, bukan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 3 Juni 2026

  • Waktu dan Seni Menang dalam Kehidupan

    Waktu dan Seni Menang dalam Kehidupan

    Dalam kehidupan, manusia menjalani kehidupan seiring dengan perjalanan waktu. Manusia yang memanfaatkan waktu dengan baik akan jadi pemenang. Bagiamana cara memanfaatkan? Dengan cara menentukan cita-cita dalam hidup dan menggunakan waktu sebanyak mungkin dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

    Dilema Durasi dan Fokus Belajar
    Mari kita telaah sedikit lebih lanjut dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan alternatif, para guru dan pelajar belajar dalam waktu tertentu. Misal 90 menit dalam satu pertemuan. Kebanyakan orang biasanya bosan bila belajar penuh selama 90 menit tersebut. Itulah mengapa ada yang disebut jam istirahat sekitar 15 menit. Jadi waktu yang efektif belajar selama 75 menit. Sedangkan bagi para pelajar yang dewasa, mereka cenderung memanfaatkan waktu 90 menit tersebut dengan belajar tanpa istirahat.

    Pelajar sekolah yang cenderung mendapatkan perhatian yang lebih tinggi agar waktu belajarnya maksimal. Mereka datang belajar dengan membawa smartphone untuk bermain games. Waktu istirahatnya digunakan bermain games dan bila memasuki jam belajar, mereka masih saja bermain sambil pura-pura memperhatikan pelajaran, menaruh smartphone di bawah meja agar tidak dilihat oleh gurunya. Membiarkan kejadian seperti ini, itu sama saja menyia-nyiakan waktu. Mustahil mencetak pelajar yang punya pemahaman yang baik bila perhatian di games lebih banyak daripada pelajaran. Karena itu, tidak boleh ada smartphone selama jam belajar kecuali guru yang menganjurkan untuk penggunaan fasilitas belajar.

    Tantangan Gadget di Meja Belajar
    Yang perlu menjadi titik perhatian lainnya adalah waktu jam istirahat harus bisa konsisten. Pelajar yang anak-anak itu selalu ingin punya waktu bermain melebihi waktu yang diberikan. Guru perlu membuat beragam trik untuk mengajak mereka mau kembali ke dalam kelas agar jam belajar lebih banyak daripada jam bermain. Hal ini karena anak-anak masih belum terlalu mengerti pentingnya belajar sehingga mereka harus selalu diarahkan dan didampingi secara langsung.

    Menyangkut pemahaman terhadap suatu materi juga membutuhkan jangka waktu tertentu. Kendalanya terletak pada tingkat pemahaman pelajar, ada yang cepat dan ada juga yang lambat paham. Wajar saja bila tidak semua pelajar yang bisa tepat waktu. Untuk mengakali pelajar yang lambat memahami pelajaran, motivasi dan pendampingan yang lebih intens sebaiknya diberikan melalui review hingga benar-benar mengerti. Rekan pelajar yang lebih dahulu paham dapat diminta membantu. Semua orang yang berada di lingkungan belajar tersebut saling bahu-membahu memaksimalkan kecerdasannya terbagi kepada pelajar yang membutuhkan bantuan. Dengan demikian, semua bisa selesai sesuai waktu yang ditetapkan.

    Pilihan di Tangan Kita
    Kehidupan manusia itu singkat, berakhir dengan kematian. Perjalanannya dihiasi oleh warna-warni. Kita harus cerdas memilih warna yang tepat. Kesalahan dalam memilih melahirkan penyesalan. Masa yang telah berlalu tidak mungkin kembali lagi. Selama kita masih punya kesempatan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, itu adalah kesempatan terbaik memanfaatkan waktu yang tersisa.

    Apakah kita akan keluar sebagai pemenang atau pecundang? Biarlah waktu yang menjawabnya.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 3 Juni 2026

  • Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Anak-anak yang ujian akhir semester sekolah tidak menurunkan semangat mereka untuk tetap datang belajar Bahasa Inggris. Kami para pengajar mengerti bahwa belajar dalam bentuk bermain mesti lebih dominan agar tidak ada perasaan terbebani.

    Ketika kelas baru dimulai, materi yang anak-anak mempelajari adalah Parts of the body (bagian-bagian dari tubuh). Mereka bergembira mengucapkan kosa-kata yang disebut sambil menyentuh anggota tubuhnya. Misal, menyebut mustache, nostril and nose (kumis, lobang hidung dan hidung) diucapkan secara bersamaan saat memegang anggota tubuh yang disebutkan. Metode ini disebut Total Physical Response (Respon Fisik Menyeluruh).

    Pelajar yang lebih cepat mengerti menjadi pemimpin. Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya) diterapkan. Sirin dan Nabila yang terpilih menjadi melatih rekan-rekannya dengan cara membentuk dua kelompok. Setelah lima menit, kedua kelompok tersebut secara bergiliran praktik siaran langsung di Facebook.

    Pada sesi berikutnya, pelajaran mengarah pada literasi. Terdapat delapan lesson diselesaikan dan dibaca bersama-sama. Yang tidak lancar sekedar memperhatikan bacaan dan yang lancar bersuara nyaring. Tidak ada teguran dari guru pada pelajar yang tidak lancar membaca. Selama mereka memperhatikan bacaan, itu sudah cukup. Perhatian sudah cukup untuk membuatnya mengerti. Dalam hatinya, mereka pasti juga ingin lancar sebagaimana teman-temannya.

    Pelajaran akhir diisi dengan bernyanyi Make a Circle (Membuat sebuah Lingkaran) dan If You’re Happy (Jika Kamu Bahagia). Ini dilakukan dengan suara yang semarak dan gerakan tubuh yang energik. Dan setelahnya, mereka meminta bebas bermain sesukanya, lima menit sebelum jam pelajaran berakhir.

    Sebelum pulang, anak-anak bercerita bahwa ujian sekolahnya tidak susah. Apa buktinya? Mereka mengatakan bahwa soal-soal ujian gampang. Penulis tidak memberikan pertanyaan lanjutan yang berat dan membiarkan mereka percaya bahwa menghadapi ujian sekolahnya selama seminggu yang sedang berlangsung dari 2 Juni hingga minggu depan dapat mereka hadapi dengan Positive Mindset (Pemikiran Positif).

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026

  • Menerobos Kemustahilan Kurikulum Bahasa Inggris

    Menerobos Kemustahilan Kurikulum Bahasa Inggris

    Ini adalah sekilas kisah anak-anak yang sangat jarang terjadi dalam dunia pendidikan. Kemampuan Faika Qinara Putri Ridwan, kelas 3 SDN 2 Terang-Terang Bulukumba, memahami seluruh perubahan struktur tenses di luar kepala mengingatkan penulis dengan Asse Icha (Asse Nur Izza Maharani) yang mampu melakukan hal yang sama sewaktu dia juga masih kelas 3 SDN 10 Ela-Ela Bulukumba. Ini terkesan istimewa karena ini sangat langka anak anak berumur sembilan tahun bisa praktik lisan tenses tanpa melihat buku catatan.

    Bila Faika meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Academic Olympiad) 2026, Icha dipercaya menjadi guru Bahasa Inggris di pesantren Gontor 5 Jawa-Timur sejak masa sekolah hingga tamat kuliah di Unida (Universitas Darussalam), Kampus Gontor. Karena pengabdian mengajar itulah, ia dapat potongan pembayaran. Bahkan, Icha yang lingkungan kesehariannya akrab berbahasa arab selama mengaku bahwa tenses memudahkannya mempelajari struktur tata bahasa Arab ketika ia masih kelas 1 Tsanawiyah (SMP).

    Kesamaan Masa Kecil
    Faika dan Icha sama-sama atlet karate di INKAI Bulukumba dilatih oleh Sensei Sarif (Pasele Mattaro Mattaro) dan Senpai Rauf. Faika juga dilatih oleh Senpai Riri. Di sini mereka mendapatkan pelatihan fisik untuk kesehatan, penguatan mental untuk berani menghadapi tantangan berat dan membangun kepercayaan diri dan kedisiplinan memperkokoh fisik dan mentalnya.

    Dalam hal Matematika, Kalau Faika terlatih berhitung dari orang tuanya–Nurlaelah dan suaminya yang sarjana teknik. Icha berlatih pada ibunya Fatmawati Fatwa, dan penulis dimana saat masih kelas 2 SD, ia sudah paham perkalian 1 sampai 9. Ada bekal untuk agak agak abstrak dan logis. Dan dalam hal literasi, masing-masing orang tua membiasakannya membaca buku di rumah. Dukungan tambahan literasi mereka dapatkan ketika berada di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Faika sedang praktik lisan tenses dengan sekedar mengandalkan otaknya saja untuk bisa merubah seluruh struktur tenses di Rumah Belajar Bersama. Foto pada Senin, 1 April 2026.

    Dari karate, Matematika dan literasi yang telah tertanam sejak kecil, semua itu adalah modal yang memberanikan para pengajar RBB untuk menerobos kemustahilan. Fisik yang sehat, mental pejuang dan rajin membaca adalah bukti bahwa anak-anak tersebut siap mendapatkan materi tenses yang penuh dengan tantangan berpikir kreatif dan logis untuk sampai pada tingkat pemahaman yang baik.

    Asse Nur Izza Maharani yang sempat bertemu B. J. Habibie, Presiden RI ke 3, di Taman Pintar Yogyakarta pada 15 Agustus 2012. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Sebagai pembanding, anda bisa bayangkan, para mahasiswa pun masih harus belajar tenses hanya karena materi dasar ini tidak tuntas di kurikulum SD, SMP dan SMA. Para dosen tahu bahwa mereka kesulitan mengajarkan perubahan kalimat sederhana dan memahamkan materi lanjutan bila para mahasiswa tidak punya pemahaman dasar yang kokoh.

    Tantangan Kita
    Penerapan tenses pada anak-anak bukanlah hal mustahil. Dua contoh dari anak kelas 3 SD bukanlah generalisasi tapi sebuah tanda bahwa kita mesti mampu mendeteksi potensi kecerdasan yang dimiliki anak-anak untuk dimaksimalkan sesegera mungkin. Penulis yakin masih banyak anak-anak Indonesia yang punya bakat seperti Faika dan Icha. Bagi pemerhati pendidikan, ini adalah tantangan kita semua untuk mendeteksi dan mendidiknya dengan penuh rasa tanggungjawab agar tercipta pelajar Indonesia yang punya daya saing global seperti yang diharapkan Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 April 2026

    Catatan tambahan:
    Anda bisa menonton siaran langsung (live) dari Faika praktik tenses di link FB ini:

    Part 1
    https://www.facebook.com/share/v/1BVhPAyVDX/

    Part 2
    https://www.facebook.com/share/v/1DJ67oMZHT/

  • Menyiksa?

    Menyiksa?

    Jadwal anak-anak yang sedang belajar ini sungguh padat. Betapa tidak, seiring dengan matahari terbit, mereka pergi sekolah hingga siang. Setelah istirahat sejenak di rumahnya, mereka lanjut lagi berangkat mengaji hingga jelang Maghrib. Otak dan fisik mereka pasti lelah.

    Malam hari, mereka ikut Bahasa Inggris. Terlebih lagi, mulai 2 Juni 2026 ini, mereka menghadapi ujian akhir semester di sekolah untuk naik kelas di SD.

    Bagaimana mengelola anak-anak seperti ini?

    Oleh karena itu, guru Bahasa Inggris di RBB (Rumah Belajar Bersama) memperlakukan murid-murid ini seperti kawan dekat agar mereka lebih rileks belajar. Karena kawan, mereka sering kali protes dengan alasan bahwa pelajaran mereka terlalu berat atau banyak. Padahal, sebenarnya pelajarannya sama saja dengan pelajar Inggris di sore hari di RBB. Karenanya, memberikan dua kali waktu istirahat dalam 90 menit belajar terasa fair. Ini dalam rangka menciptakan bahagia belajar.

    Dari anak-anak ini, para guru belajar bagaimana menciptakan metode belajar yang dalam bentuk permainan. Lagu, games, gerakan tubuh disertai praktik bicara dan beragam permainan lainnya dikemas yang isinya Bahasa Inggris. Ini diselingi dengan literasi, membaca buku berbahasa Inggris sebagai inti pelajarannya. Bila otak guru gagal berpikir kreatif, kelasnya pasti membosankan.

    Jalan terakhir yang kita tempuh adalah memberikan pujian yang tulus tiap kali anak-anak ini memperoleh kemajuan belajar. Pujian itulah yang membuat mereka tetap bersemangat, merasa dihargai dan bernilai dari setiap usahanya. Mereka bangga dan entah mengapa, mereka terlihat punya energi baru, menganggap bahwa belajar itu bukan lagi sebagai beban, melainkan pembuktian bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026

  • (Tidak) Takut

    (Tidak) Takut

    Saya ingin terus jadi anak-anak saja, tidak mau besar (baca:dewasa)”, kata seorang anak. “Kenapa?”, tanya guru. “Orang besar suka marah-marah”, jawabnya sambil bermain. “Kalau saya besar nanti, saya nanti marah-marah juga”, tambahnya.

    Penolakan ini karena ia bahagia dengan dunianya. Kita pun tidak perlu menghakimi, menyalahkan pikirannya. Itulah kemampuan berpikirnya. Ketika mereka sudah mampu membaca keadaan di sekitarnya, itu tanda bahwa Mereka menggunakan otaknya untuk berkembang.

    Yang perlu kita tindak lanjuti adalah mengikuti alur berpikirnya dan memberikan pertanyaan yang mampu mereka cerna. Misal, pernah lihat orang besar tidak marah marah? Atau memberikan contoh orang dewasa yang mereka kenali yang tidak suka marah-marah. Selangkah lebih maju, kita buat mereka bertanya, bukan menjawab karena dengan rajin bertanya,.mereka bisa belajar sepanjang hidupnya.

    B. J. Habibie, penemu keseimbangan pesawat terbang, mengkisahkan masa kecilnya yang ingin tahu banyak hal. Ia sangat rajin bertanya kepada keluarga dan orang-orang yang dikenalnya hingga orang-orang bosan. Pada akhirnya ia diberikan buku-buku untuk menjawab rasa penasarannya. Di kemudian hari, Habibie dikenal dunia internasional sebagai manusia jenius dan sekaligus mantan Presiden Indonesia yang berhasil menyelesaikan krisis ekonomi dan perpecahan bangsa pasca reformasi 1998.

    Contoh lain yang dapat kita jadikan inspirasi adalah Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela. Novel Jepang ini mengkisahkan anak kecil yang ditafsirkan nakal sehingga harus pindah sekolah. Di sekolah yang barunya yang memanfaatkan gerbong kereta bekas sebagai kelas, Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi sangat perhatian, bersedia mendengarkan cerita Totto Chan selama berjam-jam. Totto Chan sangat bahagia bersekolah. Novel diangkat dari kisah nyata kehidupan sang penulis, Tetsuko Kuroyanagi mendunia dan menjadi rujukan tentang sekolah yang menyenangkan.

    Anak-anak sejatinya tidak bisa menolak untuk tumbuh menjadi dewasa. Itu ungkapan protes saja atas dunianya yang tidak bisa berbuat apa-apa atas ketidaknyamanan yang pernah dialaminya. Yang mereka inginkan adalah dunia masa kecilnya yang penuh keceriaan dipahami dan tidak diganggu oleh orang dewasa. Mari kita menyayangi mereka seperti kehidupan Totto Chan, Habibie, atau cara kita sendiri yang membuatnya bangga tumbuh menjadi dewasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 1 Juni 2026

  • Bahasa Asing Lumpuh di Kawasan Wisata Bulukumba?

    Bahasa Asing Lumpuh di Kawasan Wisata Bulukumba?

    Bulukumba itu sangat kaya akan potensi sumber daya manusia. Anak anak ramai di RBB (Rumah Belajar Bersama) ini bergembira belajar Bahasa Inggris dengan wisatawan mancanegara. Ratusan tamu asing dari berbagai macam latar belakang telah sering berkunjung ke RBB. Kenapa mereka mau ke kota Bulukumba? Alasan yang paling berkesan adalah karena mereka peduli pada pendidikan dan ingin mengenal dan berkomunikasi dengan penduduk lokal.

    Lalu, kenapa di daerah wisata Bulukumba seperti Tanah Beru, Lemo-Lemo, Ara, Dato Tiro di Hila-Hila dan Amma Toa di Kajang dan lainnya tidak dibangun pusat pembelajaran bahasa asing? Wisatawan mancanegara itu
    seringkali mengeluhkan kurangnya kemampuan orang lokal yang bisa berbicara bahasa internasional sedikitnya Bahasa Inggris. Mereka tidak tahu bertanya kepada siapa terhadap informasi lebih lanjut pada tempat yang mereka ketahui dari media sosial.

    Coba perhatikan Borobudur, Prambanan dan Bali. Wow kan! Masyarakat di kawasan wisata melayani tamu dengan bahasa asing, lapangan kerja tercipta. Kemampuannya bukan hanya Bahasa Inggris tapi Perancis, Belanda, Jerman dan banyak lagi. Para turis itu jadi nyaman menanyakan banyak hal dan memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Nuansa wisatanya benar-benar hidup.

    Ya, itu karena pemerintahnya punya perhatian ditambah anak muda-mudinya sadar, mau belajar diberikan fasilitas. Kombinasi yang apik antara pemerintah dan pelaku wisata. Penduduk lokal kemudian itu punya perhatian lebih ke pariwisata karena mereka juga memperoleh dampak ekonomi, tidak sekedar jadi penonton.

    Para pemuda-pemudi yang mengerti asing yang berada di kawasan wisata sebaiknya membuat pelatihan, kursus, atau apalah namanya untuk mendidik orang-orang di sekitarnya. Tidak usah menunggu bantuan dari X, Y dan Z. Mulai saja. Itu pasti berkembang mengingat selain pembelajaran dari guru lokal, wisatawan mancanegara yang silih berganti datang sepanjang tahun bisa dimanfaatkan untuk diundang mengajar sehari berbagi ilmu kepada para pelajar.

    Kalau kalian yang pintar-pintar itu tidak memulai, siapa lagi yang mau diharapkan? Jika punya jawaban, silahkan tindak lanjuti. Bila, tidak, berbuatlah. Intinya, kemajuan itu harus berdasarkan kualitas sumber daya manusia karena hanya otak yang cerdas dapat mengelola sumber daya alam untuk kemakmuran masyarakat di daerah wisata tersebut.

    Apa yang ada, sudah cukup untuk memulai, kata Mohamad Natsir. Mulailah dari hal yang terkecil. Apa lagi pepatah orang dulu itu? Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Asalkan konsisten, pasti bisa sukses. Lagi pula, kalian tidak sendiri. Silahkan menggandeng RBB atau lembaga apapun yang terpercaya untuk melakukan percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia khususnya di Bulukumba.

    Atau apakah kita sudah lumpuh?

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 31 Mei 2026

  • Ide Mulia, Waktu Sekarat

    Ide Mulia, Waktu Sekarat

    Bisakah seluruh tenses itu diajarkan dan dipahamkan di luar kepala pada anak SD dan SMP? Pasti bisa. Sekolah punya sejumlah besar guru sarjana yang berkualitas lolos verifikasi standar pemerintah. Kenapa tenses penting? Karena tenses adalah hal yang paling mendasar untuk mengetahui perubahan kalimat berdasarkan waktu dan kejadian atau kondisi. Tanpanya, para pelajar tidak tahu apa itu kalimat dalam Bahasa Inggris.

    Lalu, kalau itu penting, kenapa tidak diajarkan secara detail saja? Karena kurikulum sekolah baik Merdeka ataupun K 13 tidak lagi mengarah ke situ. Abdul Mu’ti, Kemendignasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah), memberikan penekanan ke speaking (bicara) yang menurutnya sebagai persiapan untuk mencetak generasi produktif, adaptif dan berdaya saing global.

    Dua orang anak sekolah yang sedang berjuang memahami tenses di luar kepala.

    Tetapi ingat, Bahasa Inggris itu cuma diajarkan sekali dalam seminggu: SD sebanyak 70 menit dan SMP sebanyak 120 menit. Waktu yang sungguh tidak seimbang untuk membumikan ide besar yang mulia itu.

    Inilah letak persoalannya. Pemerintah mau mencetak pelajar Indonesia punya daya saing tapi waktu belajar yang sangat terbatas. Untuk anak SD, membuang tenses mungkin dapat diterima dengan alasan untuk membangun keberanian berbicara dan pronunciation (pengucapan). Tapi kenapa di SMP dan SMA tidak diterapkan? Secara tidak langsung, pemerintah membiarkan pelajar tidak mampu menjawab soal-soal esai yang membutuhkan pemahaman akurasi struktur grammar (tata bahasa). Pada tahapan inilah, tenses wajib dimengerti untuk bisa menjawab kalimat.

    Praktik penguasaan tenses di luar kepala menggunakan kotak kosong oleh Titania Noor Ilmi, pelajar kelas 1 SMP. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama, Jum’at 29 Mei 2026.

    Teori Piaget mengatakan kapasitas anak SD berusia 7 sampai 12 tahun masih dalam tahap operasional kongkrit. Dalam artian, tenses yang penuh dengan rumus-rumus memaksa pelajar berpikir abstrak, logis atau matematis beresiko membuat bahasa Inggris jadi kaku, menakutkan dan benci Bahasa Inggris sejak masa kecil. Ini sungguh meremehkan kapasitas murid berbakat dan kreativitas guru. Pembelajaran tenses itu bisa sangat menyenangkan dengan alat peraga kotak kosong tenses tanpa rumus yang diajarkan dalam bentuk permainan, tulisan untuk mengikat makna dan percakapan. Ini malahan memperkuat anak-anak mampu berlogika melalui pendekatan bahasa.

    Zhah Noor Aisyah kelas 4 SD sedang berusaha memahami cara memahami tenses di luar kepala dengan memperhatikan kotak kosong tenses. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama pada Jum’at 29 Mei 2026.

    Zhah Noor Aisyah anak kelas 4 SD dan Titania Noor Ilmi kelas 1 SMP adalah bukti potensi pelajar Indonesia di daerah yang sanggup melakukan itu. Anak anak SD dan SMP lainnya yang sudah punya vocabularies (kosa-kata) dan akrab dengan Bahasa Inggris justru lebih bisa berbicara lebih teratur dan terarah. Mereka tahu kapan menggunakan kalimat present past dan future (saat ini, lampau dan akan datang). Kemampuannya tidak berhenti sampai di situ saja. Seluruh perubahan kalimat mencakup pernyataan positif, pertanyaan positif, pernyataan negatif dan pertanyaan negatif mampu dipraktekkan. Hasilnya, mereka jauh lebih mudah membaca dan mengerti teks buku kurikulum sekolah.

    Ayahnya Tita dan Zhah yang sedang menjamu tamu asing dari NGO Belanda membahas tentang penanganan penyakit lepra. Dari kesadaran orang tua, kedua anak bersaudara tersebut dapat meluangkan banyak waktunya untuk ikut belajar Bahasa Inggris di pendidikan alternatif.

    Akibat pembiaran semasa SD dan SMP, pelajar SMA harus menanggung beban lebih berat karena pelajarannya pasti lebih rumit.Mereka seharusnya tidak lagi belajar tenses tapi pada kenyataannya, tidak demikian. Tidak ada penambahan jam belajar, 120 menit pada Kurikulum Merdeka seperti di SMP dengan sekali pertemuan per minggu.

    Dengan memahami bahasa asing, mari menciptakan pergaulan dunia.

    Tanpa tenses, apakah ini cukup untuk menciptakan pelajar yang punya daya saing global? Apakah pemerintah perlu menambah jam belajar Bahasa Inggris sekolah? Bisakah soal beasiswa kuliah ke luar negeri yang isinya TOEFL atau IELTS itu didapatkan tanpa mengerti grammar? Silahkan menjawabnya.

    Zulkarnain Patwa
    Sabtu, 30 Mei 2026

  • Iqra Wajib Karena Manusia Malas?

    Iqra Wajib Karena Manusia Malas?

    Apakah perjuangan membumikan literasi telah membuahkan hasil? Mari kita simak pendapat anak-anak yang mengikuti kelas reading (membaca) pada kelas Bahasa Inggris.

    Untuk mengecek, seorang guru memberikan pertanyaan sederhana. “Apakah membaca itu perintah Mr. atau bukan?”

    Dengan cepat Faika menjawab, “Perintah Allah”.
    “Apa buktinya Faika?”, guru mengajak muridnya untuk berpikir.
    “Iqra itu artinya membaca” jawab Faika lugas. Sebenarnya sih, kata “iqra” adalah kalimat perintah yang berarti bacalah. Faika mengutip ajaran agama Islam yang ia hubungkan dengan pelajaran Inggrisnya.

    Anak-anak yang lainnya tahu arti iqra dan sepakat, tidak ada protes.

    “Okay, kalau begitu anak-anak”, guru melanjutkan. “Lalu, kenapa kita diperintahkan membaca?”

    Tiap anak punya pendapat sendiri. Alasan mereka adalah agar pintar, berilmu, bisa speaking (bicara) dengan orang asing dan reading text (teks bacaan).

    Ketika ditanya mengenai pengalaman pribadi, Nisa paling awal angkat tangan untuk mengutarakan pikirannya,
    “Saya pintar membaca Inggris dan Matematika di sekolah”, ungkapnya bangga.

    Faika, kelas 3 SD, berpendapat, “Kalau mau belajar Bahasa Inggris, orang harus pintar membaca dalam Bahasa Indonesia supaya tidak susah membaca dalam Bahasa Inggris”. Ia mengingat dirinya sewaktu TK sudah ingin belajar Bahasa Inggris. Itu pulalah yang membuatnya cepat lancar membaca.

    Nabila, kelas 3 SD, menyambung. “Saya jadi pintar. Sebelum saya masuk RBB (Rumah Belajar Bersama), kalau saya membaca kata “standing”, saya membacanya dengan standing, padahal, yang benar adalah stending”. Kata “good” saya baca “god”, terangnya sambil tertawa mengingat masa lalunya.

    Belva, kelas 4 SD, “Saya makin pintar di sekolah. Saya membaca dengan tidak mengeja lagi, tidak terbata-bata. Sekarang saya bisa membaca yang susah disebut.

    Gavino, kelas 3 SD, “Saya mendapatkan ilmu Inggris. Saya bisa membaca yang susah dibilang. Contohnya xzdxxdghb. Sekarang, Mrs. Robinson is in her garden”, katanya dengan penuh percaya diri.

    Penulis sadar bahwa literasi itu bukan urusan mudah karena iqra adalah perintah, hal yang wajib. Kenapa diwajibkan? Merujuk Cak Nun, karena Allah tahu bahwa manusia itu tidak suka. Dan ketika telah menjadi sebuah kewajiban, manusia mau tidak mau harus melakukannya.

    Beruntung, anak-anak ini sudah terbiasa membaca dan telah merasakan manfaatnya. Terkadang mereka bosan juga membaca tapi betapapun demikian, program ini tetap dijalankan. Kecerdasan mengelola kelas saja dalam mengemas kegiatan literasi ini melalui games (permainan) dibutuhkan agar semangat belajarnya tetap terjaga. Dan yang terpenting, games yang diberikan mesti mengandung edukasi, bukan sekedar permainan untuk menghabiskan waktu jam belajar.

    Sebenarnya, iqra bukan sebatas teks tertulis saja tetapi juga yang tidak tertulis. Iqra terhadap keadaan sosial manusia, alam semesta dan lain-lain Namun hal itu belum sempat dicerna baik oleh otak anak-anak. Karena mereka anak sekolah yang erat kaitannya dengan akademik, tidak ada salahnya menguatkan iqra pada pemahaman yang tertulis. Seiring waktu disertai perkembangan pemikiran, makna iqra secara lebih luas akan mereka mengerti. Sebab, pada akhirnya perjuangan membumikan literasi tidak berhenti setelah membuahkan hasil karena perjalanan belajar manusia itu sepanjang hayat hingga akhir masa.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 29 Mei 2026

  • Keliling Dunia dari Tempat Duduk

    Keliling Dunia dari Tempat Duduk

    Bisakah manusia mengenal dunia yang luas ini tanpa harus keliling dunia? Bisa. Tanamkan literasi, kebiasaan membaca. Cara paling mudah adalah memberikan bacaan yang berhubungan dengan kehidupan pembaca. Dengan demikian, ia pun akan menjelajah, mengetahui dunia luar.

    Seorang anak kelas 3 SD, Nabila, telah beberapa bulan belajar Bahasa Inggris. Keakrabannya dengan kosakata asing mengantarkannya pada buku berbahasa Inggris karya orang asing. Kisah-kisah yang diangkat pada buku itu menceritakan kejadian manusia di berbagai macam benua dengan menyebut negara-negara tempat terjadinya peristiwa. Wawasan Nabila terbuka lebar, tidak terbatas di Indonesia, dan pada saat yang sama, pemahaman bahasa Inggrisnya berkembang.

    Melalui literasi ini, pengetahuan akademik juga terasah. Terdapat pola pembelajaran tentang cara menjawab pada pola soal yang berbeda yang sesuai standar Bahasa Inggris, grammar (tata bahasa). Dari jawaban yang diberikan, guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman pelajar dan melakukan pembimbingan lebih lanjut terhadap kelebihan dan kekurangan dari anak didiknya.

    Nabila baru saja menyelesaikan latihan cerita pada “He’s not an Artist” (Dia bukan seorang Pelukis). Pemetaan pada bentuk soal-soal Yes or No Questions, Choices, and Information Questions (Jawaban ya atau tidak, Pilihan, dan Pertanyaan informasi) telah tergambar baik dalam pikirannya karena ia mempraktikkan bacaan dengan suara nyaring segera setelah menjawab secara tertulis. Itu adalah strategi penggabungan kekuatan dari tulisan ke lisan.

    Kemudian, Nabila akan dipertemukan dengan orang-orang asing yang tidak berbahasa Indonesia. Percakapannya pasti menggunakan bahasa Inggris. Nabila punya kesempatan untuk memverifikasi hasil bacaannya tentang dunia luar, dan orang asing akan membutuhkan informasi tentang Indonesia. Hubungan timbal-balik positif ini akan terwujud. Pergaulan lintas negara dan benua pun tercipta di lingkungan belajarnya di Rumah Belajar Bersama.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 29 Mei 2026