Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Kecerdikan Fauzan Belajar-Mengajar

    Kecerdikan Fauzan Belajar-Mengajar

    Fauzan Saputra anak yang cerdas tapi punya banyak trik untuk tidak banyak belajar. Sekali waktu, Fauzan pulang jam 04.30 sore padahal jadwal pulangnya seharusnya sampai jam 06.00 sore. Guru kelas tak melarang karena ia beralasan kurir sudah menunggu.

    Segera setelah itu, guru mengabarkan ke ibunya Fauzan. Ibunya sangat kaget. Kenapa ia pulang secepat itu? Kelas siang hingga sore di Kampung Belajar yang berpusat di Rumah Belajar Bersama (RBB)
    yang Fauzan ikuti mulai dari 01.30 siang sampai 06.00 sore. Setelah mengerti persoalan, ibunya turun tangan langsung, pulang ke rumahnya dari tempat kerja dan mengantarnya kembali ke RBB. Fauzan disambut dengan tawa oleh rekan-rekannya.

    Perilaku cerdik mengakali kelas di atas tidak pernah diulangi Fauzan lagi. Pada sore ini, ia ditunjuk untuk memimpin dua orang anak yang masih sangat pemula dan reading (bacaan). Mengetahui dirinya sebagai “penguasa kecil”, ia langsung memilih lesson (pelajaran) 143, satu lesson menuju lembaran terakhir pada buku. Dua orang muridnya, Heri dan Aul, pun tertatih-tatih, tidak bisa membaca dengan benar. Ia tertawa saja dan membiarkan bacaan dibaca apa adanya. Sesekali ia membantu memperbaiki bacaan. Hal ini beberapa kali ia lakukan pada lesson bacaan sulit.

    Setelah itu, Fauzan berkata, “Sekarang kalian bebas memilih lesson.” Nampaknya ia sendiri merasa tidak nyaman dan kewalahan memimpin anak yang tidak bisa mengikuti bacaannya. Anak-anak itu meminta lesson 4, bacaan yang sangat gampang. Ia menolak dan memutuskan untuk membaca lesson 19. Keadaan ini membuat muridnya sedikit lega. Lumayanlah, ini lebih baik daripada lesson 100 ke atas, pikir anak-anak itu. Fauzan pun senang, bacaannya bisa diikuti.

    Namun, bukan Fauzan tidak serta merta membuat segala urusan jadi mudah. “Saya tidak bisa terlalu baik,” katanya. Ia kembali menaikkan bacaan pada lesson 40-an ke atas. Ini ia lakukan hingga lesson 49. Melihat dua muridnya tidak terlalu fasih, ia berbaik hati menurunkan ke lesson 7 dan bacaan mudah lainnya.

    Dari cerita di atas, terlihat jelas bahwa Fauzan memahami seluruh isi bacaan karena ia bisa mengacak bacaan sesuka hatinya. Ia pun memainkan emosi pelajarnya dengan memberikan bacaan mudah dan sulit, mengulangi bacaan agar dapat diikuti dengan benar: suatu tanda bahwa di balik kesulitan yang ia berikan, ia ingin membahagiakan rekannya juga. Dan satu hal lagi, ia tidak pernah memarahi muridnya yang tidak bisa mengikutinya. Selama pelajaran berlangsung, ia memandu dengan sabar dan tenang. Suasana kelas terasa akrab dan ia tidak dipersepsikan sebagai pemimpin kelas yang menyiksa rekan kelasnya.

    Kecerdasan Fauzan dari mencari ide meninggalkan kelas kini diubah menjadi ide mengelola kelas. Ilmunya pun yang sudah lumayan bagus dapat ia review dengan mengajar sembari terus melakukan pendalaman belajar selama ia berada di Kampung Belajar semasa liburan. Semoga kepemimpinan kecil yang ia dapatkan ini dapat ia terapkan saat ini kembali bersekolah di pesantren.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 6 Juli 2026

  • Daya Ledak Kebiasaan

    Daya Ledak Kebiasaan

    Kebiasaan yang punya daya ledak yang tinggi butuh konsistensi. Kenapa seorang penulis memilih menulis setiap hari?

    Menurut Anjar, rekan perjalanan dari kota Bulukumba ke Tanah Beru, menulis seperti obat yang bisa membantu menguraikan permasalahan di diri sendiri yang barangkali tidak bisa didiskusikan dengan orang lain.

    Rakyat di pulau Liukang yang membutuhkan listrik.

    Anjar bercerita. Menurutnya, kemarahan disampaikan ke orang lain, itu malah membuat hubungan menjadi buruk. Tetapi dengan menguraikan kemarahan melalui tulisan, kemarahan tersalurkan tanpa harus memperburuk hubungan. “Dan ketika saya kembali membacanya, saya merasa punya sisi kebijaksinian dalam hidup–bukan kebijaksanaan” terang Anjar.

    Anda boleh sepakat atau tidak. Yang jelas, dengan alasan yang ia jelaskan di atas, ia terbiasa menulis. Konsistennya dalam menyuarakan kebutuhan listrik yang berkeadilan yang akses 24 jam untuk rakyat di Pulau Liukang di Bulukumba mendapatkan respon positif. PLN telah menyalurkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Ini karena ia tidak hanya turun langsung ke lapangan tetapi juga karena narasi kampanye yang ia sebarkan di media sosial secara masif.

    Sementara itu, penulis sendiri masih dalam tahap dalam upaya mencari daya ledak. Dengan cara menulis, proses perjalanan hidup dicatat setiap hari. Dari sini, penulis dapat mengecek apakah perpindahan dari hari ke hari tersebut mengalami perkembangan atau penurunan. Itu adalah data sejarah yang dapat digunakan membaca masa depan.

    Beberapa hal penting juga yang dipikirkan pada hari menulis, entah terwujud atau tidak dituangkan. Pembaca dapat mengambil manfaat dari ide-ide yang dianggap cocok untuk diterapkan. Yang tidak cocok dikritisi yang memungkinkan untuk diubah. Dengan demikian gagasan yang lebih baik bisa lahir.

    Namanya juga menulis hal-hal sederhana, semacam catatan harian. Orang bilang, itu biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Cuma saja, patut diingat bahwa catatan harian pernah punya daya ledak di Indonesia. Ingat buku Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib? Buku yang terbit pada 1981 punya daya ledak yang luar biasa. Kejaksaan Agung memang tidak melarangnya tapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan buku itu berbahaya dan sesat.

    Apakah Anda punya daya ledak yang tidak sesat?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu 5 Juli 2026

  • Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Ketelitian dan musyawarah itu penting untuk membuat sesuatu hal berharga. Apa sulitnya Doktor Horst Liebner menulis tentang perahu? Karyanya bertaburan di mana-mana dan ia memang hidup di tengah masyarakat perajin perahu selama berpuluh-puluh tahun. Antropolog yang juga pecinta sastra ini kaya dengan struktur tata bahasa dan cita rasa bahasa dalam menulis.

    Beberapa tulisan pendek telah Pak Horst sodorkan untuk saya baca, kami diskusikan, dan kami kritisi. Ia suka manambahkan kata tunjuk atau artikel (demonstrative adjective or article) seperti kata “itu” dan kata keterangan (adverb) yang membuat tulisannya lebih menarik. Menurutnya, ia sering menggunakan artikel karena dipengaruhi oleh bahasa Jerman, bahasa ibunya—memperjelas kata yang sebelumnya telah disebutkan. Saya mengakui penggunaannya pada kata keterangan untuk memperindah tulisannya.

    Bagi saya, semuanya benar. Cuma saja, untuk sebuah tulisan yang harus pendek, sebaiknya itu dihapus saja. Diskusi kami kadang-kadang jadi tajam dalam mempertahankan pendapat masing-masing yang dianggap benar.

    Dalam beberapa hal, ia bersedia mengubah pendapatnya, “Hapus saja,” katanya. Tapi, bagian lain, “Tidak. Itu penting,” lanjutnya.

    Saya paham bahwa kekhasan dan gaya bahasa seorang penulis perlu tetap dijaga. Karena itu, saya tidak mendebat lagi.

    Toh, menghapus kata atau tidak sama sekali tidak mengubah inti tulisan. Bila dihapus, tulisan lebih pendek, dan bila tidak dihapus, tulisan itu sudah pendek. Kami hanya sekadar berusaha mencari kosakata yang nyaman untuk pembaca. Itulah yang kami diskusikan panjang lebar selama berjam-jam untuk mendapatkan kualitas bahasa yang terbaik.

    Secara pribadi, saya merasa sangat bersyukur bisa mengakrabkan pemikiran secara intelektual dengan Pak Horst. Layaknya diskusi akademik, tidak ada rasa sungkan untuk berbeda pendapat. Mendebatnya bukanlah sesuatu yang dipersepsikan merendahkan orang, tapi itu malah menjadi perhatian lebih untuk mengetahui sejauh mana ketajaman argumentasi. Kultur seperti inilah yang harus dibangun bila kita ingin memajukan ilmu pengetahuan.

    Kebebasan Berpendapat di Indonesia

    Kultur akademis yang mapan ini mengingatkan saya pada warisan intelektual terbesar yang pernah dibawa pulang oleh B.J. Habibie dari Jerman ke Indonesia. Ia menginspirasi bahwa manusia Indonesia harus punya kemerdekaan berpikir yang bertanggungjawab. Pernyataannya itu bukan sebatas slogan. Saat menjadi presiden, ia memerintahkan untuk melepaskan tahanan politik, termasuk orang-orang yang bertentangan dengannya.

    Keberanian dan konsistensi Habibie tidak hanya berhenti sampai di situ saja. “I will never, never tolerate that the Indonesian government will interfere with the freedom of the press,” kata Habibie kepada Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists). Terjemahan bebasnya adalah: “Saya tidak akan pernah, tidak akan pernah mentoleransi bahwa pemerintah Indonesia akan mengintervensi kebebasan pers.”

    Kebebasan pers lama dibredel oleh pemerintahan Soekarno dan dibuka oleh Soeharto selebar-lebarnya dengan mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

    Bagaimana Anda mau mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unggul kalau diberikan kendala-kendala yang tidak bisa bergerak? Pertanyaan Habibie ini kemudian Pak Horst lanjutkan dengan menyatakan bahwa ia selalu merencanakan dan membantu agar supaya Indonesia mandiri. Pembuatan proses nilai tambah suatu produk bisa dilaksanakan meskipun susah.

    Doktor Kita Berani Didebat?
    Indonesia dan Jerman pernah sama-sama melewati otoritarianisme. Jerman trauma dengan rezim Nazi dan Komunis di Eropa Timur, serta Indonesia di masa Orde Lama dan Orde Baru masih menganut paham feodalisme.

    Zaman terus bergerak dan kita tentu tidak ingin kembali ke masa lalu itu. Mikrokultur dari potret pada budaya akademis seperti yang tergambarkan pada diskusi dengan Dr. Horst Liebner adalah kultur Jerman yang menghargai ketajaman argumentasi, lugas tanpa tedeng aling-aling, dan objektif. Berbeda pendapat bukanlah serangan personal dan merendahkan derajat orang lain. Berdebat dengan seorang doktor yang namanya sudah sangat terkenal sebagai pakar maritim, khususnya perahu tradisional Indonesia di Sulawesi Selatan, adalah hal biasa dan perlu dibiasakan.

    Apakah doktor-doktor di Indonesia juga berpikir seperti itu juga? Masihkah Indonesia terjebak pada feodalisme intelektual?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 4 Juli 2026

  • Metode Lintas Usia: Kotak Kosong dan Batu

    Metode Lintas Usia: Kotak Kosong dan Batu

    Berangkat dari sebuah pertanyaan berani, “Saya sudah hafal Tenses,” kata Fifi, pelajar di Kampung Belajar. Novi, rekan kelas Fifi, mengatakan hal yang sama. Tersirat makna bahwa materi tersebut sebagai hal biasa saja. Mereka butuh tantangan baru.

    Guru kelas tahu bahwa kedua pelajar tersebut butuh istirahat sejenak. Setelah itu, mereka kembali berlatih berbekal kotak-kotak kosong tenses. Apa yang mereka katakan tadi benar—mampu praktik lisan tenses secara teratur di luar kepala. Ayla, Fauzan, dan Faika yang cukup bagus pemahamannya diajak memberikan soal secara acak.

    Saat mereka berlatih bersama, terdapat sedikit hambatan. Soal yang diberikan tidak cukup variatif, tetapi sebagai pengantar, itu sudah lumayan. Guru kelas tidak puas. Ia menargetkan para muridnya punya kecepatan dalam menjawab.

    Di hari berikutnya, Adeeva, anak kelas IV Sekolah Dasar yang juga peraih emas Olimpiade bahasa Inggris pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS), diajak bergabung. Ia terlihat sungkan dan masih agak kewalahan juga membuat soal lisan secara acak. Sebagai alternatif, mereka sama-sama berlatih secara bergantian saling memberikan soal untuk dijawab. Perlahan-lahan, mereka tahu cara membuat soal acak yang memancing adrenalin untuk menjawab soal dengan cepat.

    Anak-anak ini juga mendapatkan pelatihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan), sebuah pengantar agar mereka tidak kewalahan mempelajari tenses nantinya.

    Keakraban pun tumbuh secara alami. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri, keenam pelajar tersebut memimpin kelas secara bergantian—satu orang menyebut kalimat. Misal: She was catching a ball, past progressive tense (Dia sedang menangkap sebuah bola, tenses pada past progressive). Kemudian, yang memimpin meletakkan sebuah batu di atas kotak kosong. Bila batu itu berada di kotak kosong present perfect progressive dengan perintah negative interrogative, mereka pun berlomba-lomba mengubah kalimatnya menjadi “hasn’t she been catching a ball?”. Perpindahan kalimat ini terus dilakukan hingga seluruh perubahan kalimat tenses tuntas.

    Kumpulan pelajar di Kampung Belajar.

    Latihan bersama ini menutup celah dalam kelambanan menjawab. Selain itu, yang memimpin kelas sudah berpikir membuat soal yang sulit dijawab—mereka sudah sama-sama tahu bahwa soal yang tidak menjebak dengan mudah ditaklukkan. Kualitas pelajaran meningkat berkat kreativitas mereka sendiri.

    Perlombaan menjawab soal latihan.

    Itu desain Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB). Mengolah dan berbagi pengetahuan sesama rekan untuk memperdalam pemahaman. Setiap kali pelajar merasa pemahamannya meningkat seperti yang disampaikan Fifi dan Novi, maka tingkatan materi pun dengan sendirinya ditambah—materi disampaikan secara bertahap, terukur, dan sistematis agar mereka mampu menyerapnya dengan baik dan disebarkan kepada sesama.

    Bukankah orang menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat itu tidak akan mengurangi ilmu pengetahuannya?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 3 Juli 2026

  • Wawasan Dunia dan Jalangkote Menyatu

    Wawasan Dunia dan Jalangkote Menyatu

    Pembelajaran pagi hari di Kampung Belajar adalah kelanjutan tentang kota-kota besar. Bila pada sehari sebelumnya membahas kota di Eropa, Afrika dan Amerika, kali ini pembahasannya mencakup Asia. Terdapat 17 nama kota yang mewakili tiap negara. Islamabad, Jakarta. Untuk meringkas, Phnom Penh adalah contoh yang dapat disebut di sini. “Will you go to Islamabad?” (Akankah kamu pergi ke Islamabad?) dan “Where is Islamabad?” (Dimana Islamabad?). Kalimat tersebut digunakan untuk menyebut semua kota yang menjadi bahan pelajaran.

    Para pelajar meminta waktu sekitar sepuluh menit untuk mampu menguatkan pemahaman guna menjawab soal-soal yang dibuat secara acak oleh teman kelasnya sendiri saat pelajaran tanya jawab dibuat dalam bentuk games.

    Ketika game dimulai, permainan terlihat seru karena semuanya berusaha menjawab dengan benar guna memperoleh kesempatan memimpin kelas dan membuat soal lisan. Peserta terlihat saling bergantian memimpin dan bahkan, soal lisan agak terlambat dikeluarkan hanya karena mencari pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

    Setelah pelajaran tersebut dipahami dengan baik, para pelajar keluar main, istirahat sejenak.

    Pada pelajaran berikutnya, mereka masuk pada gerakan literasi, berlatih membaca percakapan dalam bahasa Inggris. Setiap selesai satu lesson, mereka berpasangan praktik bicara. Materi ini tiap hari dilakukan sehingga wajar bila mereka tidak lagi terlihat kaku dalam membaca dan berbicara.

    Hal positif lainnya yang memunculkan decak kagum adalah tiga pelajar yang bukan lagi pelajar SD mampu melakukan perubahan kalimat secara acak pada seluruh tenses. Percepatan ini terjadi disebabkan mereka mau berlatih di waktu-waktu senggang. Saat mereka bermain smartphone pada jam istirahat, mereka diminta berlatih kepada sesama rekan yang ingin menguasai tenses.

    Guru kelas memang mendampingi tapi ia sengaja tidak terlibat langsung. Buku catatan dijadikan acuan tatkala mereka menghadapi kesulitan. Mereka saling berdiskusi menemukan jawaban yang benar, ada upaya penajaman pemikiran, tidak mengandalkan jawaban guru lagi. Lagi pula, guru yang sudah tahu kualitas muridnya yang telah berkembang pesat dalam tiga minggu biasanya menunjukkan cara menjawab, bukan jawaban.

    Ketika kelas belajar telah selesai, Miss Fathy Cayadi yang dalam waktu dekat akan membuka cabang Rumah Belajar Bersama datang bersilaturahmi ke pelajar di Kampung Belajar. Kemampuan speaking (bicara) Miss Fathy yang bagus menarik perhatian, hampir semuanya tidak mau pulang ke rumahnya, memilih berdialog dalam bahasa Inggris. Para pelajar senang mendapat berbagai macam pertanyaan. Lagi pula, bila ada yang tidak dimengerti, Miss Fathy membantu menerjemahkan dan selalu memotivasi semua yang hadir untuk aktif berbicara. Tiada seorangpun terlihat lelah, padahal selain pelajar baru saja belajar selama tiga jam, terhitung jam 09.00 pagi sampai 12.00 siang, cuaca yang panas terik di siang hari, tidak menjadi alasan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing untuk istirahat sejenak sebelum memasuki pelajaran berikutnya pada 13.30.

    Miss Fathy Cayadi yang senang berakrab ria dengan para pelajar bahasa Inggris di Kampung Belajar.

    Faktor pendukung yang nampaknya mempengaruhi pelajar tersebut tidak pulang adalah Jalangkote yang sangat enak dalam jumlah besar dibawa Miss Fathy. Makanan itu dinikmati oleh semua: para pelajar dan guru. Ini sudah seperti pengganti makan siang. Rasa lapar berlalu. Tak heran, mereka semua betah berdiskusi santai dan riang gembira selama lebih dari satu jam dan disiarkan secara live (langsung) di Facebook.

    Aktif berbicara dengan Miss Fathy adalah wujud tindak lanjut dari pelajaran yang diperoleh di kelas meliputi reading, conversation dan tenses. Mereka semua merasa bernilai karena apa yang mereka sampaikan dalam bahasa Inggris dapat dimengerti oleh Miss Fathy.

    Lalu, bagaimana dengan wawasan kota-kota dan negara-negara di dunia? bahasa Inggris yang mereka pelajari di Kampung Belajar ini akan menjadi pendukung utama ketika suatu saat berkunjung ke tempat tersebut.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 2 April 2026

  • Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

    Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

    Kisah Mr. Hill yang seorang pilot yang pernah bekerja di Royal Air Force (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) terbang dari satu negara ke negara lainnya hingga hampir berkeliling ke seluruh dunia digambarkan sebagai seorang lelaki yang beruntung. Tetapi, istrinya dianggap tidak beruntung, hanya tinggal di rumah.

    Para pelajar di Kampung Belajar seperti senasib dengan istri Mr. Hill. Semuanya tidak pernah ke luar negeri. Perbedaannya mereka anak sekolah dan pemuda-pemudi, belum menikah dan masih punya waktu yang cukup panjang untuk berproses. Penulis lantas tertarik mengenalkan mereka kota-kota besar yang cukup populer di dunia.

    Karena kelas tersebut tentang bahasa Inggris, dibuatlah kalimat,
    “Will you go to Accra?” (Akankah kamu pergi ke Accra?).

    Kata “Accra” kemudian di ganti dengan Bombay, Athena, Berlin, Geneva, London, Madrid, Moscow, New York, Paris, Rome, Stockholm, Sydney, Teheran dan Tokyo.

    Nama-nama tersebut memancing rasa ingin tahu di negeri mana kota tersebut. Pertanyaan berikutnya pun hadir.

    “Where is Accra?” Dimana Accra?
    Jawabannya, “Accra is in Ghana.” Accra di Ghana, sebuah negara di Afrika. Seperti halnya yang di atas, kata “Accra” diganti dengan nama-nama kota lainnya. Para pelajar mengenal kota-kota dan negara-negara di dunia yang luas ini. Wawasan tentang geografi bertambah.

    Agar tidak mudah lupa, games dibuat, menanyakan kembali materi, tiap orang mendapatkan soal secara bergiliran secara acak. Games ini sepenuhnya dirancang oleh pelajar di mana guru tidak terlibat langsung agar tidak ada tekanan dan kreatif mengembangkan pola games yang sedang dijalankan. Imajinasi berkembang dan materi tersebut dapat dihapal bukan lewat hapalan tapi pemahaman dengan cara bermain.

    Sebagian anak tertarik untuk mengenal lebih jauh. Apakah kota Stockholm itu di Swedia di benua Eropa atau Amerika? Pelajar yang tahu langsung menyebut Eropa. Ada juga yang kemudian bercita-cita untuk keliling dunia seperti Mr. Hill dan ada pula yang ingin tahu apa istimewanya kota-kota dan negara-negara tersebut.

    Model pembelajaran bahasa Inggris ini sangat efektif meningkatkan rasa ingin tahu. Seorang guru yang berwawasan dapat memberikan sekilas pengantar dengan memberikan penjelasan langsung tentang negara-negara tersebut. Selanjutnya, para pelajar bisa diajak menggunakan smartphone-nya untuk berselancar lebih jauh di internet tentang berbagai hal yang ditanyakan. Jadi, mereka memanfaatkan smartphone bukan lagi sebatas main games.

    Selain itu, buku-buku perlu disiapkan yang berhubungan dengan hal di atas sehingga literasi digital dan dunia nyata berimbang. Bila perlu, pelajar diajak membaca buku-buku yang sederhana dalam bahasa Inggris. Niat hati belajar bahasa Inggris dihubungkan langsung dengan ilmu pengetahuan.

    Pelajar kita memang tidak seberuntung pelajar di negeri-negeri jauh seperti di Eropa dan Amerika yang berkeliling dunia. Bukan hanya Mr. Mill yang beruntung itu, para pemuda-pemudi mereka berkeliling dunia. Ini sangat mudah mendeteksinya. Kunjungi saja pusat-pusat wisata seperti Bira, Bali, Borobudur dan lainnya. Tanyakan saja negara-negara mana saja yang mereka pernah kunjungi. Tidak perlu kaget bila jawaban mereka ialah tidak terhitung.

    Lalu, bagaimana caranya bisa beruntung juga? Bila menjadi bukan keturunan orang yang sangat kaya raya, sebaiknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya saja dan bercita-cita beruntung, keliling dunia juga layaknya Mr. Hill atau mencontoh orang-orang sukses lainnya.

    Apakah Anda ingin juga seperti Mr. Hill atau istri Mr. Hill?

    Lalu, pilihan mana yang Anda ambil? Menjadi penjelajah dunia seperti Mr. Hill, atau seperti istrinya?

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 2 Juli 2026

    Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

    Kisah Mr. Hill, seorang pilot yang pernah bekerja di Royal Air Force (Angkatan Udara Kerajaan Inggris), terbang dari satu negara ke negara lainnya hingga hampir berkeliling ke seluruh dunia digambarkan sebagai seorang lelaki yang beruntung. Tetapi, istrinya dianggap tidak beruntung karena hanya tinggal di rumah.

    Para pelajar di Kampung Belajar seperti senasib dengan istri Mr. Hill. Semuanya tidak pernah ke luar negeri. Perbedaannya adalah bahwa mereka anak sekolah dan pemuda-pemudi, belum menikah, dan masih punya waktu yang cukup panjang untuk berproses. Penulis lantas tertarik mengenalkan kepada mereka kota-kota besar yang cukup populer di dunia.

    Karena kelas tersebut tentang bahasa Inggris, dibuatlah kalimat, “Will you go to Accra?” (Akankah kamu pergi ke Accra?).

    Kata “Accra” kemudian diganti dengan Bombay, Athena, Berlin, Geneva, London, Madrid, Moscow, New York, Paris, Rome, Stockholm, Sydney, Teheran, dan Tokyo.

    Nama-nama tersebut memancing rasa ingin tahu di negeri mana kota tersebut. Pertanyaan berikutnya pun hadir.

    “Where is Accra?” (Di mana Accra?) Jawabannya, “Accra is in Ghana.” Accra di Ghana, sebuah negara di Afrika. Seperti halnya yang di atas, kata “Accra” diganti dengan nama-nama kota lainnya. Para pelajar mengenal kota-kota dan negara-negara di dunia yang luas ini. Wawasan tentang geografi bertambah.

    Agar tidak mudah lupa, games dibuat, guru menanyakan kembali materi, dan tiap orang mendapatkan soal secara bergiliran secara acak. Games ini sepenuhnya dirancang oleh pelajar di mana guru tidak terlibat langsung agar tidak ada tekanan dan kreatif mengembangkan pola games yang sedang dijalankan. Imajinasi berkembang dan materi tersebut dapat dihafal bukan lewat hafalan, tapi pemahaman dengan cara bermain.

    Sebagian anak tertarik untuk mengenal lebih jauh. Apakah kota Stockholm itu di Swedia di benua Eropa atau Amerika? Pelajar yang tahu langsung menyebut Eropa. Ada juga yang kemudian bercita-cita untuk keliling dunia seperti Mr. Hill dan ada pula yang ingin tahu apa istimewanya kota-kota dan negara-negara tersebut.

    Model pembelajaran bahasa Inggris ini sangat efektif meningkatkan rasa ingin tahu. Seorang guru yang berwawasan dapat memberikan sekilas pengantar dengan melontarkan penjelasan langsung tentang negara-negara tersebut. Selanjutnya, para pelajar bisa diajak menggunakan smartphone-nya untuk berselancar lebih jauh di internet tentang berbagai hal yang ditanyakan. Jadi, mereka memanfaatkan smartphone bukan lagi sebatas main games.

    Selain itu, buku-buku yang berhubungan dengan hal di atas perlu disiapkan sehingga literasi digital dan dunia nyata berimbang. Bila perlu, pelajar diajak membaca buku-buku yang sederhana dalam bahasa Inggris. Niat hati belajar bahasa Inggris dihubungkan langsung dengan ilmu pengetahuan.

    Pelajar kita memang tidak seberuntung pelajar di negeri-negeri jauh seperti di Eropa dan Amerika yang berkeliling dunia. Bukan hanya Mr. Hill yang beruntung itu, para pemuda-pemudi mereka juga berkeliling dunia. Ini sangat mudah mendeteksinya. Kunjungi saja pusat-pusat wisata seperti Bira, Bali, Borobudur, dan lainnya. Tanyakan saja negara-negara mana yang pernah mereka kunjungi. Tidak perlu kaget bila jawaban mereka ialah tidak terhitung.

    Lalu, bagaimana caranya bisa beruntung juga? Bila menjadi bukan keturunan orang yang sangat kaya raya, sebaiknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya saja dan bercita-cita beruntung: keliling dunia juga layaknya Mr. Hill atau mencontoh orang-orang sukses lainnya.

    Apakah Anda ingin juga seperti Mr. Hill atau istri Mr. Hill?

    Lalu, pilihan mana yang Anda ambil? Menjadi penjelajah dunia seperti Mr. Hill, atau seperti istrinya?

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 1 Juli 2026

  • Pos tanpa judul 2604

    “Apa pelajaran, Mister?” tanya Faika saat baru saja tiba di kelas pagi Kampung Belajar.

    “Kamu pimpin saja kelas anak-anak SD,” kata guru. “Pelajarannya bebas. Mau membaca bersama atau bercakap, atur sajalah”.

    Faika terlihat senang. Sejurus kemudian, ia pun meminta lima orang anak SD membuka buku Basic Reading (Bacaan Dasar) yang berisi conversation (percakapan). Faika mendisiplinkan rekan-rekannya dengan “menyita” handphone agar penjelasannya diperhatikan. Selanjutnya, ia meminta membuka lesson (pelajaran) yang agak sulit dibaca. Listen and repeat (Mendengarkan dan mengulangi) dimulai. Setiap Faika selesai bicara, seluruh peserta mengulang kalimat yang baru saja didengarkan.

    Aul, kelas 3 SD, kesulitan mengikuti bacaan.

    “Faika lesson 1 (pelajaran 1) saja,” harapnya.

    Heri, rekan duduk Aul, menyambung, “Iya. Lesson 2 juga.”

    Faika tertawa. “Tidak! Semakin kalian minta lesson 1 dan 2, semakin kalian tidak saya berikan lesson yang gampang itu.”

    “Ayolah, Faika. Saya janji saya akan buatkan kamu satu gedung mengatasnamakan namamu.”
    Faika hanya mendengarkan, tidak menanggapi.

    Kemudian, pelajaran terus berlanjut. Faika menentukan lesson baru meminta tiap pelajar berpasangan bercakap. Percakapan berjalan normal, tidak ada kendala yang berarti karena semua kosakata yang sulit diucapkan diperbaiki oleh rekan bicaranya sendiri atau Faika yang bertindak mengawasi secara langsung memberi tahu tiap kesalahan.

    Saat materi kembali lagi ke listen and repeat, Aul sesekali mendahului bacaan Faika sehingga suasana kelas terlihat tidak kompak.

    “Hei, jangan melambung. Saya kasih nanti pelajaran yang sulit,” protes Faika ke Aul. Aul terdiam sejenak, takut dengan ancaman Faika. Dia tidak berani lagi menentang.

    Tidak lama kemudian, Aul berhasil memutar otaknya. Ia pun kembali menebar janji.

    “Faika, lesson yang gampang saja,” terang Aul. “Betul ini. Nanti, saya buatkan dua gedung atas namamu,” lanjutnya.

    Kali ini Faika tertawa. “Tidak usah. Nanti kamu menghilang,” balas Faika.

    Aul tidak berkutik. Ia harus rela mulutnya komat-kamit tanpa pengucapan yang baik pada isi bacaan lesson yang serba sulit.

    Aul menampakkan wajah yang hampir tak berdaya, namun Faika tetap fokus pada lesson yang hampir berada di tengah halaman buku. Tidak ada tanda-tanda ia akan mengarahkan lesson 1 sampai 10.

    Namun, setelah pelajaran sudah cukup lama berlangsung, keadaan tiba-tiba berubah–tanpa alasan, tanpa iming-iming janji yang bertambah. Faika memperkenankan agar lesson 1 dan 2 dibaca. Aul dan Heri dan semua anak-anak senang. It bacaan paling mudah. Semuanya unjuk kebolehan juga, terlihat fasih melafalkan tiap kata.

    Lalu, pelajaran beralih ke lesson 20, bacaan andalan untuk semua. Kalimat pada lesson tersebut, dapat dibuat seperti games, diikuti dengan gerakan akting gerakan tubuh, terlihat seru dan menggembirakan.

    “Aul,” kata Faika. “Kamu yang pimpin mengucapkan look at them (lihatlah mereka).” Pelajar yang lain akan menindaklanjuti dengan pernyataan disertai gerakan tubuh tiap kali “look at them” disebut.

    Betapa girang hatinya Aul. Ia tidak menyangka mendapatkan kesempatan untuk jadi pusat perhatian teman kelas meskipun itu hanya sesaat.

    “Terima kasih banyak, Faika,” ungkap Aul. Pada bacaan tersebut, Aul sangat lancar berbicara, seolah-olah ia bukan pelajar pemula lagi. Ia bangga, tersenyum, dan menepuk dada.

    Setelah itu, Faika kembali memimpin kelas dan meminta rekan-rekannya membaca beberapa lessons lagi. Sebelum lanjut, ada beberapa peserta mengusulkan keluar main tapi itu tidak ditanggapi karena menurut Faika, beberapa bacaan penting belum selesai. Lembaran buku kembali dibuka.

    “Ulangi! Ulangi lagi! Saya belum puas,” kata Faika. Cara membaca rekan kelasnya dianggap tidak sesuai standar, tidak enak pula didengar. Semua pun berusaha sebaik-baiknya dengan harapan usulan untuk istirahat yang dari tadi mereka usulkan segera diberikan. Beberapa perbaikan diberikan dan diucapkan lagi secara bersamaan. Irama suara terdengar kompak dan sesuai standar pengucapan. Istirahat pun diberikan.

    Faika, anak 9 tahun, telah memperoleh pengalaman dalam hal cara mengelola kelas dengan baik dan berhasil membangun kepercayaan dirinya lewat micro teaching. Ia kini tahu bahwa menjadi pemimpin itu harus berilmu pengetahuan dan pandai membuat management kelas agar orang yang dipimpin tersebut dapat diarahkan dengan benar guna mencapai tujuan bersama.

    Aul yang meskipun mendapatkan banyak lesson yang sulit, ia tidak menyerah. Ia menerapkan cara berpikirnya sendiri, negosiasi. Biarpun segala iming-imingnya tidak mempan, pada akhirnya ia memperoleh lesson yang ia inginkan tanpa harus berjanji menambah jumlah gedung yang ia akan buat atas nama Faika.

    Dari cerita di atas, Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) tersebut memang berisi pelajaran bahasa Inggris, tapi di situ tergambarkan bahwa banyak hal dicapai memanfaatkan ketertarikan pelajar mempelajari bahasa. Bahasa dijadikan alat untuk membangun mental kepemimpinan, literasi dan kreativitas lainnya.

    Apakah pendidikan kita berani dan siap membuka kebebasan berpikir dan berekspresi? Bukankah pendidikan itu membebaskan?

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 30 Juni 2026

  • Keajaiban Lidah dan Logika dalam Bahasa Inggris

    Keajaiban Lidah dan Logika dalam Bahasa Inggris

    Ketika melihat atau mendidik orang dewasa belajar bahasa Inggris yang tidak tahu alasan penempatan verb (kata kerja) dengan benar, itu mengingatkan masa penulis belajar bahasa Inggris. Meskipun waktu itu tidak tahu banyak tentang seluk-beluk penamaan  kata, penulis sedikit lebih beruntung karena pembicaraan Inggris itu sudah terbiasa dilakukan di rumah dan ditambah lagi majalah bulanan berbahasa Inggris dari Jerman dan buku-buku dari ayah penulis baca. No matter what it means, tanpa memedulikan artinya. Yang menarik adalah cara membuat irama naik turunnya suara dan cara pengucapan yang terdengar keren.

    Kebiasaan tersebut ternyata membuat penulis lumayan fasih bercakap-cakap dengan orang asing. Zaman dahulu, banyak turis yang mau ke pantai Bira kesasar di kota Bulukumba di Sulawesi Selatan karena tidak mendapatkan mobil pete-pete (angkot) di sore hari. Mereka kebanyakan berdiri di pinggir jalan raya arah ke Bira, dekat Masjid Borong Kalukue di kota Bulukumba. Ayah penulis–(Alm.) Drs. H. Patiroi, yang biasanya shalat Magrib di Masjid Borong Kalukue seringkali bertemu para turis yang tidak tahu di mana harus menginap diajak bermalam di rumah, tanpa pernah bayar–kebiasaan masyarakat setempat.

    Dari sini, terjadi keakraban dengan orang-orang penjuru dunia dan ayah saling kirim surat–awal tahun 90-an belum ada handphone. Bila turis itu mengirimkan hadiah, umumnya dalam bentuk buku. Mereka tahu ayah adalah pembaca dan rumah kami pun berisi banyak buku. Penulis kecipratan dapat bacaan, layaknya Dunia dalam Berita yang membahas isu internasional, tayang malam hari di TVRI. Otomatis bahasa Inggris itu akrab dalam pergaulan di rumah. Ayah pun menyediakan masing-masing satu koper kaset lengkap dengan bukunya–lupa judulnya–untuk bahasa Inggris dan Arab. Sayangnya, penulis hanya mau peduli Inggris saja.

    Dibalik kemudahan tersebut, penulis abai pada satu hal, grammar (tata bahasa). Orang Indonesia lancar bicara Indonesia tapi tidak tahu struktur. Begitulah nasib. Jawaban ujian Inggris sekolah di SMP dan SMA bukan karena pintar, tapi karena merasa ini cocok di lidah–efek kebiasaan membaca teks berbahasa Inggris–atau tidak. Untungnya sih, mayoritas benar, tidak tahu alasannya apa.

    Kebuntuan grammar tersebut membuat penulis mengunjungi Kampung Inggris di Pare. Ini bermula ketika gagal masuk kelas internasional di kuliah, tidak bisa menulis dengan struktur yang benar. Padahal syarat untuk mendaftar terpenuhi, dua semester mendapatkan minimal satu ada nilai A dan B pada bahasa Inggris. Mendapatkan nilai double A pada dua semester tidak cukup memghadapi ujian menulis esai dalam bahasa Inggris yang wajib memasukkan gerund, tiga bentuk clause dan lainnya untuk bisa lulus di kelas mentereng itu. Singkat kata, keok.

    Kegagalan itu mendorong rasa ingin tahu. Kampung Inggris di Pare, Kediri Jawa Timur jadi pilihan. Dari basis pendidikan kerakyatan dengan pengetahuan super itulah yang menyadarkan bahwa betapa pentingnya memahami dasar-dasar grammar (tata bahasa). Bayangkan, pembagian kelas kata saja tidak dimengerti. Clause dan materi rumit lainnya sebenarnya itu biasa hadir dalam teks bacaan tapi karena tidak tahu asal pembentukannya, itu rumitnya luar biasa. Tapi enjoy aja. Pelajar Indonesia lainnya juga yang ada di sana kebanyakan tidak mengerti juga. Setelah paham dasar-dasar tersebut, penulis bisa sedikit melaju agak cepat, diuntungkan kebiasaan membaca teks Inggris semasa sejak kecil.

    Setelah mempelajari banyak hal di berbagai macam kursus, barulah penulis punya kepercayaan diri yang cukup untuk menulis. Bekal itulah yang kemudian penulis rancang untuk turut terlibat mendesain para aktivis mahasiswa untuk ikut kejuaraan pidato dan debat antar mahasiswa dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Karena tradisi membaca dibangun, banyak rekan-rekan yang menyabet juara.

    Dari pengalaman tersebut, jalan pintas pun diambil. Setiap pelajar yang belajar bahasa Inggris sebaiknya tidak hanya pandai bicara saja tetapi juga pandai grammar. Siapa tahu, pelajar tersebut aktif dalam dunia akademik. Jika itu terjadi, mereka tidak perlu lagi mengalami nasib yang seperti penulis alami. Jika tidak, minimal kemampuan berkomunikasi tertata baik, tidak terbalik-balik dan mudah dipahami orang lain. Kepercayaan diri berbicara pun lebih tinggi karena ada keyakinan bahwa apa yang disampaikan sudah tersusun dengan benar.

    Mengkondisikan percakapan dan grammar bagi pemula itu tidak mudah. Terlebih, ada pemahaman bahwa ketika belajar bicara, bicara saja. Tidak perlu peduli grammar agar lekas lancar bercakap. Ketika belajar grammar, tidak usah mengurus percakapan. Grammar itu menjawab soal-soal tertulis, bukan bicara.

    Tapi, bukankah orang bisa berbicara dengan tata bahasa yang baik? Itu dapat dipelajari sejak menjadi pelajar pemula dengan meniru kalimat baku (pattern drilling) atau lewat cerita pendek. Bila pembiasaan itu dimulai sejak awal belajar, itu akan terus terbawa hingga berada di tingkat atas. Agar lebih kokoh, semua itu semestinya diikuti dengan penjelasan argumentatif, ditujukan pada orang dewasa atau pelajar yang dianggap sudah mampu diajak berpikir logis. Penulis memilih jalan tersebut, tapi tidak menyalahkan pada orang lain yang memilih jalan yang berbeda.

    Pengalaman perjalanan hidup sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir dalam menentukan suatu jalan yang ditempuh. Apa yang diyakini terbaik, itulah yang semestinya dijalani dan diterapkan pada diri sendiri dan disebarkan pelajar yang lainnya. Sukses atau tidak atau mengalami perubahan metode atau tidak, perjalanan waktu yang akan membuktikannya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 29 Juni 2026

  • Ruang Kreatif Aul di Kampung Belajar

    Ruang Kreatif Aul di Kampung Belajar

    Andi Kalimbara Aulian AF. alias Aul seorang anak kelas 3 di SDN 193 dari Kec. Herlang, jauh-jauh datang ke kota Bulukumba khusus bergabung di Kampung Belajar untuk bisa berbahasa Inggris. Saat tiba di Rumah Belajar Bersama (RBB) raut wajahnya terlihat mau belajar diselimuti rasa khawatir–tumpukan pemikiran bahwa Inggris sulit mengendap baik dalam kepalanya. Ayahnya, Andi Alamsyah, yang menemaninya ke RBB mengatakan, “Bagus di sini. Para gurunya hebat mengajar.”

    Andi Alamsyah ketika pertama kali mengajak Aul, anak laki-lakinya, bergabung di Kampung Belajar. Foto pada 15 Juni 2026 di Rumah Belajar Bersama.

    Agar Aul tidak tegang, guru kelas terlebih dahulu menemaninya berbicara santai. Ia diajak bercerita tentang kesukaannya main di kampung. Kemudian, untuk urusan bahasa guru menjelaskan bahwa bahasa Inggris itu gampang, mirip bahasa Konjo–bahasa kesehariannya di kampung. Aul kaget dan penasaran, seakan tidak percaya. Dalam keadaan seperti itu, guru berpikir bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk memulai pelajaran Inggris tanpa harus menulis.

    Mereka pun belajar Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) tanpa tulisan di papan tulis dan buku catatan. Mereka praktik bicara sambil memegang bagian tubuh yang disebut dalam bahasa Inggris. Terjemahan dibuat dalam bahasa Konjo dan Indonesia. Ia terlihat terbata-bata menyebut hair, head, forehead (rambut, kepala dan dahi) dan lainnya tapi ia suka sesuatu hal yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Terlebih, ia merasa bahwa itu semacam permainan saja.

    Saat memasuki kegiatan membaca teks, Aul menjadi lebih heran. Ia menemukan bacaan yang serba lain tulisan, lain pula cara bacanya. Gurunya pun berkali-kali mengulang sampai pengucapan Aul sesuai. Beberapa lessons (pelajaran) Aul ulangi hingga mampu diucapkan dengan benar. Wajahnya kemudian berkeringat, tanda ia butuh istirahat

    Pada pelajaran selanjutnya, Aul bertemu dengan Faika, anak kelas 3 SD. Bacaan teks dan percakapan Inggris Faika terlihat sangat lancar. Maklum, Faika telah mengikuti Kampung Belajar di liburan sekolah semester lalu dan pernah juara olimpiade Inggris se-Indonesia pada Februari 2026, dan pelajar aktif belajar di RBB. Aul tidak minder. Malahan, ia mencari cara akrab dengan Faika. Faika pun senang karena ada tambahan anak yang seumurannya menjadi teman bermain dan belajar.

    Hari demi hari berjalan normal hingga memasuki akhir minggu kedua. Tiba-tiba Aul menyampaikan sesuatu kepada seorang guru kelasnya.

    “Saya sudah tahu siapa anak yang paling pintar di kelas,” katanya memancing.
    “Siapa?” tanya guru.
    “Faika,” jawab Aul sigap.
    “Kenapa bisa?” lanjut guru yang ingin tahu alasan.
    “Karena Faika paling lancar membaca. Dia juga pintar menulis dalam bahasa Inggris,” terang Aul berdasarkan hasil pengamatannya.

    Beberapa waktu kemudian, Aul melanjutkan, “Saya sudah tahu rahasianya kenapa Faika pintar.”
    “Bagus, Aul,” kata guru yang senang memperoleh dampak positif dari lingkungan Kampung Belajar.
    “Apa itu rahasianya?”

    “Dia sangat rajin membaca,” jawab Aul dengan bangga menemukan sesuatu yang ia anggap berharga. Faika itu memang anak yang jarang menolak ketika ia diminta membaca dengan suara nyaring. Kalaupun ia punya alasan untuk menolak, ujung-ujungnya ia tetap bersedia.

    “Lalu, kamu mau pintar seperti Faika?” tanya guru lagi.
    “Mau lah,” jawab Aul dengan cepat.
    “Bagaimana caranya?”
    “Rajin membaca dan bicara.” Maksud Aul adalah Faika sering membaca nyaring pada buku bacaan–sebuah kebiasaan yang dibangun tiap belajar.

    Cara berpikir Aul disambut hangat. Tak heran, ketika istirahat, Aul seringkali meminta kepada guru untuk dipandu membaca buku percakapan dan buku grammar (tata bahasa). Ia tidak terburu-buru untuk pindah lesson sebelum ia lancar. Bahkan, ia takkan mau berhenti membaca hingga wajahnya penuh dengan berkeringat. Bila kondisinya sudah demikian, ia minta istirahat.

    Di lain sisi, Faika juga bercerita ke guru.
    “Mister, saya punya fans sekarang.”
    “Siapa itu Faika?” tanya guru seolah tidak tahu.
    “Aul. Dia bilang dia nge-fans sama saya,” jawab Faika sambil tersenyum.
    “Kenapa bisa?” pertanyaan lanjutan mengikuti.
    “Saya tidak tahu,” balas Faika dengan nada santai.
    “Coba cari tahu alasannya,” tambah guru agar Faika mengerti kenapa sebuah pernyataan dibuat.
    Ia sepakat saja.

    Faika kemudian tidak ditanya lagi. Gurunya yakin bahwa kedua anak mungil tersebut akan kembali bercerita bila ada sesuatu yang menarik.

    Kisah mereka sengaja dicatat di sini untuk mengetahui sejauh mana dampak positif dari pembicaraan dan pergaulan mereka di lingkungan Kampung Belajar.

    Kampung Belajar yang mempertemukan pelajar desa seperti Aul dengan pelajar kota seperti Faika semasa liburan sekolah bukan sekadar mengajak para pelajar pandai berbahasa Inggris tetapi juga memberikan ruang agar mereka bisa berpikir kreatif, menemukan jalan sendiri dalam menumbuhkan dan menjawab rasa ingin tahunya dalam menuntut ilmu.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 28 Juni 2026

  • Serpihan Surga dalam Kepungan Plastik

    Serpihan Surga dalam Kepungan Plastik

    Indonesia adalah serpihan surga yang diturunkan ke bumi (qit’atun min al-jannah), ungkap Syekh Mahmud Syaltut (mantan Grand Syekh Al-Azhar, Mesir) kepada Bung Karno. Sebagai seorang orator ulung, Bung Karno pun seringkali mengutip ungkapan indah tersebut untuk menggemakan keindahan alam Indonesia ke dunia internasional—singkat, padat, dan jelas.

    Tapi, apakah serpihan keindahan alam di Bulukumba, Sulawesi Selatan, terawat dengan benar? Alam ini layaknya manusia: tubuh lelaki yang kekar atau atletis dan kecantikan perempuan akan pudar bila tidak diperhatikan. Seiring pertambahan umur manusia, keindahan tersebut luntur sedikit demi sedikit.

    Mencoba menarik plastik yang panjang yang terkubur di pantai. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Bagaimana dengan alam tempat kita hidup ini?

    Baru-baru ini, penulis bergabung dengan kegiatan pembersihan sampah plastik di Pantai Marumasa, Desa Darubia, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dengan 28 orang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode II 2026 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang live di Tik Tok dengan akun Kareba Kumba bersama Dego-Dego Na Bira, Indo Ocean, dan Rumah Belajar Bersama (RBB). Keindahan Pantai Marumasa yang airnya sangat jernih itu sangat mirip dengan Pantai Bira—awalnya Desa Darubia bagian dari Desa Bira yang kemudian dipecah jadi desa baru. Nasibnya begitu memprihatinkan. Terlihat tidak ada perawatan sama sekali di sana. Sepanjang pantai penuh dengan sampah plastik, sampah kiriman kayu, botol, dan lainnya dari laut. Marumasa terlihat indah di iklan, tapi mengenaskan di dunia nyata.

    Semua pemerhati lingkungan berkumpul di depan tumpukan plastik yang telah dimasukkan dalam karung dan siang angkut Denga mobil pick up. Sumber Foto: Mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada pada Sabtu, 27 Juni 2026.

    Itu ulah siapa? Siklus angin timur atau barat dianggap membawa sampah ke pantai. Penulis yang pernah bolak-balik dari Sulawesi Selatan ke Jawa semasa mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) seringkali melihat sampah di atas kapal laut dalam jumlah besar dibuang ke laut begitu saja. Itulah yang terhempas mengotori berbagai pantai di Indonesia. Sebagian melilit terumbu karang yang merusak alam bawah laut atau dimakan hewan laut dan yang kemudian hewan itu dikonsumsi oleh manusia. Tanpa sadar, manusia makan hewan sakit atau hewan campuran plastik.

    Kondisi pantai saat belum dibersihkan. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Manusia di darat juga berperilaku sama. Mereka memilih pantai yang indah dan sekaligus menjadikan pantai tersebut tempat sampah dengan membuang plastik sesukanya. Sepanjang pantai penuh dengan plastik bekas minuman serta makanan, botol, sandal, dan masih banyak lagi yang tak terhitung. Apakah itu semua kiriman dari laut? Plastik yang terlihat baru disertai sisa makanan tidak mungkin dari laut yang ditinggalkan begitu saja. Pasti semua itu berasal dari ulah manusia di darat.

    Gerakan membersihkan pantai dari para pemuda-pemudi pecinta lingkungan itu adalah seruan moral untuk melestarikan alam ini. Pekerjaan utama mereka bukan membersihkan sampah dan itu tidak bisa dilakukan setiap hari. Mereka adalah tamu yang tidak menetap, namun kehadiran mereka membekas: tidak sekadar berpolemik atau melempar kritik di media sosial—melakukan aksi nyata.

    Setelah menimbang sampah plastik yang lebih dari 140 kg, sekarang ini Pantai Marumasa terlihat indah kembali untuk sekejap. Menurut seorang relawan, sampah plastik yang mereka berhasil kumpulkan telah mencapai lebih dari satu ton: hasil dari berkali-kali kunjungan ke pantai. Angka tersebut cukup mengagetkan dan seringkali luput dari perhatian kita. Ini akan terus bertambah hingga sampai pada angka yang tidak pernah dibayangkan.

    Selain kampanye kesadaran, penyediaan tempat sampah di sekitar pantai itu sangat penting ditaruh di tempat tertentu. Desa juga dapat menghidupkan kembali semangat gotong-royong, mengajak masyarakat setempat untuk kerja bakti di hari-hari tertentu yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.

    Indiz dari Dego Dego Na Bira dan relawan dari Indo Ocean di pantai Marumasa.

    Selangkah lebih jauh, Nur Anjas, pelaku wisata yang namanya tercatat di buku Lonely Planet—buku panduan wisata dunia, mengharapkan agar Indiz sebagai penggiat lingkungan dan juga anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Darubia bisa intens berkordinasi dengan Kepala Desa guna merumuskan langkah terbaik untuk membuat program kebersihan mulai jalan setelah Tana Beru sampai penurunan Lahongka yang dipenuhi sampah berserakan di pinggir jalan. Keresahan Anjas ini bersumber dari para tamu penginapannya di Nusa Bira Indah dikombinasikan hasil pengamatan lapangannya.

    Sampah plastik dimasukkan ke dalam karung.

    Bila langkah tersebut di atas gagal, pemilik membuat aturan atau pemerintah desa ataupun pemerintah daerah melakukan penegakan hukum yang ketat kepada para wisatawan minimal di kawasan wisata bila membuang sampah sembarangan. Bila aturan ini dianggap mustahil, kenapa di Bali bisa terjadi pembatasan plastik sekali pakai dan Singapura mampu menerapkan denda yang ketat? Romi, relawan Indo Ocean asal Jerman yang turut memungut sampah, memberikan keterangan bahwa ada denda sebesar 200 Euro bila buang sampah sembarangan. Itu setara dengan empat juta empat puluh ribu rupiah dengan kurs dua puluh ribu dua ratus rupiah.

    Anjar S. Masiga, relawan yang mengajak penulis untuk bergabung membersihkan pantai.

    Kalau tidak, siapa yang menjamin bahwa berbagai macam pantai yang telah dibersihkan tidak akan kotor pada minggu berikutnya? Berbeda dengan manusia yang pasti menua, pantai dan alam semesta beserta isinya akan tetap indah selama beribu-ribu tahun bila manusia mempunyai kesadaran untuk menjaganya.

    Penulis bersama Romi, relawan dari Jerman yang aktif kegiatan diving di Bira.

    Setiap dari kita mesti mampu merawat alam—atau lebih sedikitnya turut merasa bertanggung jawab terhadap tanah air Indonesia—dan pada batas paling sedikit, tidak membuang plastik di sembarang tempat terutama pantai dan laut. Bila kita menjadikan alam ini sebagai rumah, kemudian rumah itu dirusak, adakah rumah yang lain untuk tinggal? Adakah kita mau mengubah serpihan surga menjadi serpihan neraka?

    Zulkarnain Patwa
    Pantai Bira di Bulukumba pada Sabtu, 27 Juli 2026