Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • 17 Agustus dan Wajah Culas Pendidikan Indonesia

    17 Agustus dan Wajah Culas Pendidikan Indonesia

    Pada 1901, benih ide kemerdekaan Indonesia lahir. Ratu Wilhelmina mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan Politik Etis: Irigasi, Pendidikan, Transmigrasi. Politik Etis dikenal juga dengan Politik Balas Budi atas tingginya penderitaan rakyat Indonesia pada waktu itu. Ini tak lepas dari kritik berbagai pihak, termasuk orang-orang Belanda.

    Pertama, Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker (1820–1887), menulis Max Havelaar pada tahun 1860 untuk mengkritik Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Kedua, Van Deventer (1857–1915) memaparkan data bahwa Belanda telah mengeruk keuntungan sekitar 187 juta gulden dari keringat rakyat Hindia Belanda. Gagasannya ini kelak dirangkum menjadi Trias Van Deventer (Edukasi, Irigasi, Transmigrasi). Ketiga, Pieter Brooshooft (1845–1921) mendesak pemerintah kolonial membentuk partai atau haluan politik yang beretika guna menyelamatkan rakyat bumiputera dari kepunahan ekonomi. Sebenarnya masih banyak tokoh sosial yang mengkritisi, tetapi cukup tiga orang itu sebagai representasinya.

    Awalnya, maksud pendidikan itu adalah untuk mencetak pegawai kelas rendahan (pennelikker; secara harfiah, artinya adalah “penjilat pena”) yang dikhususkan untuk para bangsawan dan orang kaya.

    Ada yang menarik. Belanda menciptakan gelar ‘Andi’ bagi pelajar di Sulawesi–waktu itu belum ada Sulawesi Selatan. Menurut Andi Mattalatta, istilah ‘Andi’ itu digunakan untuk memudahkan membedakan orang yang mendapatkan pendidikan ala Belanda dengan yang tidak dan mengenali dalam merekrut pegawai. Ide ‘Andi’ ini digagas oleh B.F. Matthes yang mempelopori pengumpulan manuskrip terpanjang dunia, I La Galigo.

    Sebagian kelompok yang tidak mau kompromi dengan Belanda memilih jalur lain. Kajang di Tana Toa–mengutip pemikiran Abdul Kahar Muslim yang saat ini ketua SI (Syarikat Islam) Bulukumba 2026: orang Kajang (khususnya kawasan adat wilayah Amma Toa) jangankan sekolah, bicara dengan orang Belanda saja tidak mau. Mereka tidak rela menjadi kaki tangan Belanda. Isolasi total ini demi menjaga kedaulatan spiritual dan kulturalnya. Sekolah ala Belanda itu adalah perpanjangan tangan keserakahan penjajah, eksploitasi manusia, dan sumber daya alam. Itu sangat bertentangan dengan prinsip hidup orang Kajang, yaitu kamase-masea (hidup bersahaja atau sederhana).

    Di Yogyakarta beda lagi. Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa. Gelar feodalisme tidak berlaku di Taman Siswa. Untuk laki-laki dipanggil ‘Ki’ dan perempuan dipanggil ‘Nyi’ atau ‘Ni’ demi kesetaraan dengan rakyat. Itu counter-culture politik yang radikal terhadap strata sosial kaku buatan kolonial dan keraton yang sama-sama berpaham feodal. Ia mulai dari dirinya sendiri. Gelar kebangsawanan sebagai ‘Raden’ dari Ki Hadjar pun ia tanggalkan.

    Pribumi di Pulau Jawa dan Sumatra banyak yang lolos dari jebakan ‘pegawai rendahan’, bukan jongos yang sedikit dipoles dengan istilah pendidikan karena mereka mampu sekolah hingga sarjana. Mereka inilah yang menggagas ide republik. Di dada mereka ditanamkan persatuan kepada rakyat dan cita-cita Indonesia merdeka adil dan makmur.

    Di balik dahsyatnya tokoh-tokoh di Jawa dan Sumatra itu, ada satu tokoh yang berpendidikan tinggi dari Sulawesi bernama Dr. Sam Ratulangi dari Manado, gubernur pertama Sulawesi pasca Indonesia merdeka. Ia adalah rekan baik Doktor Mohamad Hatta yang dikenal lewat tulisan-tulisannya. Bahkan, dalam tulisan Hatta, Ir. Soekarno mengaku kepada Hatta bahwa nama Indonesia pertama kali Bung Karno kenali dari tulisan Ratulangi–ini mesti dicek lebih jauh.

    Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 mengakhiri zaman feodalisme. Republik Indonesia berdiri. Ki Hadjar Dewantara ditunjuk oleh Soekarno di dalam Kabinet Presidensial menjadi Menteri Pengajaran (Pendidikan) Pertama pada 19 Agustus 1945 sampai 14 Nopember 1945. Di sinilah letak rintisan pendidikan Indonesia. Di kemudian hari, tepatnya 6 September 1977, lahirlah Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan atau semangat). Maksudnya, guru atau orang tua harus berdiri di belakang untuk mengawasi, memberi kebebasan, dan mendorong mereka agar berani maju. Ide yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara itu secara resmi ditetapkan sebagai logo Kementerian Pendidikan Indonesia dan masih berlaku hingga saat ini.

    Ditilik dari landasan filosofis, pendidikan Indonesia itu seharusnya tidak mundur. Pada 8 Juni 2003, pemerintah bersama DPR menetapkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) di mana 20 persen dana pendidikan harus dialokasikan di luar gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan.

    Di atas kertas, perlindungan ini semestinya tidak membuat pendidikan Indonesia jauh tertinggal. Pembiayaan pendidikan yang dominan ke arah pembangunan fisik yang duitnya dikorupsi menjadi pangkal masalah. Fokus pada pembiayaan pembangunan non fisik, yaitu pada pencerdasan anak bangsa, yang menjadi inti pendidikan itu kurang disentuh. Wajar Indonesia selalu tertinggal, kalah dengan negara-negara tetangga.

    Pendidikan kita mencetak ‘buruh bersertifikat’. Fokus utamanya memproduksi kebutuhan pasar untuk memenuhi kebutuhan industri. Pendidikan tercerabut dari akarnya yang hendak memanusiakan manusia.

    Nilai mentereng di atas kertas untuk pemenuhan dokumen administratif. Guru menghabiskan waktunya mengisi aplikasi dan laporan yang dituntut sukses. Ini banyak menyita pekerjaan yang seharusnya Tut Wuri Handayani: mengamati perkembangan anak didik.

    Komersialisasi pendidikan makin nampak di depan mata. Sekolah internasional dengan segala fasilitasnya yang serba mewah menjanjikan kualitas pendidikan menjadi barang mewah. Orang yang berduit mendapatkan fasilitas pendidikan yang terbaik. Apakah ini bukan reproduksi sistem pendidikan dan reproduksi sistem kasta feodal dalam bentuk kapital ekonomi atau kapitalisme pendidikan?

    Apakah feodalisme terselubung dalam bentuk upeti dari pemberian proyek masih berlaku? Pendidikan model apa yang telah dicetak Indonesia pasca kemerdekaan? Apakah kemerdekaan Indonesia itu memerdekakan pendidikan Indonesia?

    Apakah pada tanggal 17 Agustus 2026, orang-orang mengingat bahwa pendidikan adalah jalan utama lahirnya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 17 Agustus 2026

  • Seputar Kemerdekaan

    Seputar Kemerdekaan

    Dwi Tunggal antara Sukarno dan Hatta sungguh dahsyat, Indonesia merdeka–tanpa menaikkan peran toko-tokoh lainnya. Dari dua kepala jadi satu ini, benarkah mereka bersatu? Hatta mundur sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956, tanda pemikiran mereka berbeda, Dwi Tunggal masuk dalam kotak sejarah selagi keduanya masih hidup

    Bersambung….
    Makassar, Minggu, 16 Agustus 2027

  • Persoalan Matematika Dasar

    Persoalan Matematika Dasar

    Matematika selalu menjadi momok mengerikan bagi pelajar SD. Penyebabnya sederhana. Sejak kelas 1 sampai kelas 3 SD, perhitungan dasar sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian tidak dimatangkan dengan baik. Akibatnya, ketika anak kelas 4 sampai 6 SD, materi lanjutan seperti pecahan, persen kuadrat dll. tidak bisa diolah.

    Fakta demikian bertaburan di sekitar kita. Untuk menguji apakah anak-anak bisa mengerjakan pelajaran Matematika sekolah, cukup cek saja dasar-dasar Aritmatika di atas. Bila hal itu belum tuntas, hampir dapat dipastikan bahwa Matematika-nya bermasalah.

    Bersambung….

    Zulkarnain Patwa
    Palopo, Sabtu, 15 Agustus 2026

  • Kehebohan Berkelanjutan: Garis Panjang Belajar Bahasa Inggris RBB

    Kehebohan Berkelanjutan: Garis Panjang Belajar Bahasa Inggris RBB

    Heboh mereka. Ungkapan kegembiraan belajar yang digambarkan Miss Fathy. Literasi berbahasa Inggris dikemas dalam bentuk permainan. Potongan kertas yang berisi kosakata dibuat. Tugas tiap kelompok yang bersaing adalah membuat kalimat sesuai permintaan guru. Literasi berbahasa Inggris ini berdasarkan teks yang ada dalam buku Basic Reading dari lesson (pelajaran) 25 sampai 28. Agar lebih semarak, ada juga kalimat yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

    Metode mengajar yang terstruktur dan tidak membosankan ini menjadi impian setiap pelajar. Kadangkala, permainan sering dibuat untuk mengesankan kegiatan belajar itu bombastis, inti pelajaran tidak kesampaian. Kelas Miss Fathy ini justru tidak memisahkan antara belajar dengan bermain. Permainan para pelajar adalah belajar.

    Kekayaan belajar berikutnya adalah grammar (tata bahasa). Kalimat yang digunakan adalah simple present pada nominal tense untuk penguatan penggunaan kata kerja be: am, is, are. Materi ini sengaja berkali-kali diulang dalam berbagai pertemuan agar anak-anak tahu dan tidak kewalahan saat membandingkan dengan simple present pada verbal tense. Beberapa contoh kalimat verbal tense juga diberikan, namun belum diberikan penjelasan yang lebih mendalam sebagaimana detailnya pada nominal tense.

    Kegiatan belajar yang terakhir adalah membangun mental percaya diri. Buku Basic Reading dibaca dengan suara nyaring tiap individu dan direkam. Setiap anak berpikir untuk berusaha tampil dengan baik karena video tersebut akan ditonton oleh orang tua pelajar dan publik—disebarkan di media sosial. Anak-anak secara otomatis telah belajar mempersiapkan diri sendiri tanpa harus diceramahi. Tidak seorang pun yang ingin tampil di depan kamera video dengan penampilan dan pembicaraan yang buruk.

    Pekerjaan membuat video pelajar secara perorangan memang paling banyak menyita waktu. Kesalahan dalam berbicara untuk pemula pasti terjadi sehingga guru memberikan perbaikan yang membuat durasi belajar bertambah. Namun, semua itu bukanlah keluhan bagi Miss Fathy. Dia sadar bahwa untuk menghasilkan kualitas yang mumpuni, kreativitas berpikir dibarengi dengan bekerja ekstra adalah konsekuensi. Pilihan ini dilakukan secara sadar, bukan paksaan.

    Gerakan literasi berbahasa Inggris.

    Capaian yang berharga dari pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete di atas suatu saat akan disandingkan dengan RBB Bulukumba. Selain aktivitas bersama seperti yang telah dijelaskan, para pelajar tersebut akan diajak ke tempat wisata seperti Bira, Kajang, atau Tanah Beru untuk berkomunikasi dengan para wisatawan mancanegara. Segala pengetahuan yang telah diperoleh akan lebih cepat berkembang dan memicu keinginan untuk belajar lebih giat bila bertemu dengan orang yang tepat, dalam hal ini bule yang tidak bisa berbahasa Indonesia, melainkan Inggris.

    Mengantisipasi gagap bicara, kehabisan ide, atau kendala yang di luar prediksi, para pelajar akan berlatih membuat pertanyaan. Berdasarkan pengalaman lapangan, mengetahui 40 soal pertanyaan adalah angka yang sudah cukup untuk membuat obrolan dengan bule tidak terhenti. Sebaiknya pertanyaan tersebut mampu dihafal di luar kepala. Kalaupun tidak, mereka bisa membawa kertas catatan pertanyaan demi mengefektifkan obrolan berbahasa Inggris tersebut. Bila memungkinkan, pembicaraan direkam untuk bahan evaluasi lebih lanjut yang dapat dibahas di kelas.

    Jadi, kehebohan belajar itu tidak berhenti di satu titik. Titik tanda berhenti sebuah kalimat. Titik bisa juga dimanfaatkan untuk membuat garis panjang. Nah, garis panjang dalam belajar inilah yang direncanakan menciptakan kehebohan berkelanjutan.

    Zulkarnain Patwa
    Palopo, Jum’at 14 Agustus 2026

  • Saat Membaca Kehilangan Makna

    Saat Membaca Kehilangan Makna

    Pelajar kelas Reading (Membaca) biasanya membaca tanpa perlu tahu banyak tentang unsur yang membentuk suatu kalimat. Sesuai namanya, Reading aktivitasnya adalah terus membaca dari satu buku ke buku yang lain secara berkelanjutan.

    Bacaan berbahasa Inggris itu terasa hambar bagi pelajar bila mereka tidak mengerti makna. Makna mendalam ditemukan dari proses pembelajaran struktur. Alika Mumtazah Al Hakim adalah pelajar kelas Reading. Setelah cukup akrab dengan buku asing, perlahan-lahan ia dilatih tidak mengandalkan modul terjemahan buku Reading-nya. Ia mendapatkan materi Passive — pembalikan kalimat aktif ke pasif.

    Ini karena gurunya itu pernah berjanji. “Bila kamu mengerti tenses (kalimat aktif), belajar kalimat apa pun pasti bisa,” sang guru berkata. Alika anak kelas 1 SMP telah memahami dasar-dasar tenses. Janji itu pun diwujudkan.

    Berikut ini kalimat yang Alika pelajari.Misalnya pada passive. I speak English (Saya berbicara bahasa Inggris).Kalimat aktif itu diubah ke pasif menjadi English is spoken by me (Bahasa Inggris dibicarakan oleh saya).

    Kuncinya terletak pada be + V3. Rumus itulah yang diolah dalam bentuk perubahan kalimat dengan bantuan kotak kosong passive. Karena Alika telah mengerti cara memainkan be dalam hal ini “is” saat belajar tenses, maka perubahan dan perpindahan kalimat dengan mudah ia lakukan—hal lebih detail tidak dijelaskan di sini untuk menghindari pembahasan yang terlalu teoretis. Hebatnya, ia mampu mempraktikkan secara lisan ke sepuluh kotak passive—bukan enam belas sebagaimana tenses. Enam passive yang tersisa tidak diajarkan karena itu tidak dipakai dalam kebiasaan native speakers (penutur asli) baik dalam bahasa pergaulan sehari-hari maupun dalam bahasa resmi.

    Alika tersenyum puas atas capaiannya ini, yang hanya dalam sekali pertemuan memahami pasif. “Saya tidak menyangka, Mister. Ternyata, saya bisa. Dulu, saya berpikirnya cuma ha ho ha ho,” kata Alika.”Apa itu ha ho?” tanya guru yang heran dengan istilah baru anak remaja itu.”Item maksudnya, saya merasa otak saya tidak bisa pelajaran seperti ini. Saya bangga bisa melakukannya,” terang Alika dengan senyum merekah.

    Pada pertemuan pembelajaran yang mendatang, Alika akan melakukan review pada dua buku bacaan cerita berbahasa Inggris. Tugasnya adalah mencari kalimat passive dan berlatih menerjemahkan bacaan yang sesuai dengan konteks cerita. Variasi bentuk passive semacam stative passive dan lainnya dengan serta merta mengikuti.

    Para pembelajar bahasa di era modern ini lebih menekankan pada kemampuan berbicara dan membaca. Fokus pembahasan tentang kaidah tata bahasa tidak menjadi perhatian utama lagi. Begitulah yang terjadi di Indonesia. Akibatnya, tingkat pemahaman terhadap bacaan lebih rendah meskipun banyak membaca. Memahami bacaan lewat terjemahan itu memang membantu, tetapi itu pengantar saja. Kedalaman makna dari bahasa dalam mengungkap hal-hal terselubung ditemukan dalam tata bahasa itu sendiri. Dalam bahasa Inggris, itu disebut grammar.

    Kesadaran pelajar kita masih dominan pada keaktifan berbicara, mengamankan pelajaran sekolah atau kuliah. Kepentingan ini sebenarnya baik saja, ada alasan mengapa orang harus berbahasa Inggris. Kita perlu selangkah lebih maju dengan menjadikan bahasa itu sebagai alat pengetahuan. Bacaan buku kurikulum sekolah bukan karena mengejar nilai bagus. Mereka bisa diajak berpikir bahwa itu cara menemukan hal yang baru. Para mahasiswa yang telah lulus TOEFL pun biasanya tidak belajar bahasa lebih lanjut lagi. Buku yang direkomendasikan dosen untuk kebutuhan kuliah hampir tidak pernah dibaca—sebuah tanda miskin literasi.

    Agar kebuntuan ini teratasi, pelajar zaman sekarang sangat perlu diajak untuk mau belajar secara komprehensif. Memulai dari speaking, reading, atau grammar etc. (bicara, bacaan, atau tata bahasa dll.), tergantung kesukaan saja. Minimal tiga elemen dasar ini sebaiknya mampu dipelajari—tidak saling dibenturkan—agar pelajar bisa menggunakan pengetahuan bahasanya lebih efisien dan multi fungsi.

    Zulkarnain Patwa
    Palopo, 13 Agustus 2026

  • Menembus Kemustahilan Bahasa Inggris

    Menembus Kemustahilan Bahasa Inggris

    Dua orang anak kembali berhasil menyetor perubahan verbal tenses di luar kepala secara teratur (11/08/2026). Mereka punya daya juang yang tinggi menyicil setoran dari hari demi hari. Saat tuntas, mereka seakan tidak percaya bisa melakukannya.

    Faika Nada Salfa yang baru saja selesai setoran tenses dengan kotak kosong tenses di tangannya sebagai alat bantunya.n

    Tidak ada piala kemenangan atau pesta gegap gempita. Sesaat setelah menyelesaikan setoran terakhir yaitu past future perfect progressive or continuous, Faika Nada Salfa berkata, “Saya sangat senang bisa lulus.” Lalu, anak kelas 4 SD ini melanjutkan, “Saya mau tenses acak dan latihan tulisnya juga seperti teman-temanku yang lain tapi itu besok saja.” Guru kelas menanggapi, “Iya. Besok saja. Latihanmu malam ini sangat banyak. Selamat ya dan sampai ketemu di pelajaran tenses acak.” Guru tahu bahwa setoran tenses teratur telah menguras banyak tenaga dan pikiran Faika. Ia butuh waktu untuk siap menghadapi materi baru yang ia sudah tahu bahwa itu lebih variatif dari yang ia pelajari sebelumnya.

    Sementara itu, A. Althaf Adam Al Arkhan punya langkah cerdas untuk bisa segera tamat. Ia melihat di papan pengumuman di mana Audrey, saingan terdekatnya, sudah hampir tamat, dua kotak setoran tenses yang belum diselesaikan. Saat jam kelas belajar telah selesai, Adam memohon agar diberikan waktu untuk menyetor latihannya sambil menanti jemputan. Guru yang tidak sedang sibuk, tidak keberatan. Dengan sigap, Adam yang juga masih menyisakan dua setoran tenses yang belum selesai menuntaskan semuanya. Total 16 verbal tenses, 958 perubahan kalimat sanggup ia praktikkan tanpa teks catatan.

    Ucapan selamat pun juga tertuju pada Adam. “Saya bisa melambungi Audrey,” katanya bangga sambil tersenyum. “Saya tidak menyangka saya bisa menyelesaikan tenses. Padahal, saya itu banyak main. Cuma, sebelum saya main, saya perhatikan kalimat yang mau saya setor. Saya coba hapal sedikit dan kemudian pergi bermain,” katanya dengan suasana hati yang senang.

     A. Althaf Adam Al Arkhan sukses juga sukses pada tenses di luar kepala.

    Adam memang termasuk anak yang suka telat, telat datang ke kelas dan telat pulang karena jemputannya sering terlambat datang. Beruntung, ia memiliki strategi tersendiri dan rajin bertanya pada hal yang ingin ia ketahui. Karena itu, ia merasa bangga bisa melambungi Audrey. Sedangkan Audrey, pada pertemuan belajar semalam, ia berada di kelas Matematika hingga kelas jam belajar bahasa Inggris selesai, tidak sempat menyetor hapalan. Karena itu, kesempatan terbaik ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Adam.

    Faika dan Adam memperhatikan lembaran kertas latihan tenses acak. “Wah, ini susah sekali. Saya tidak tahu cara mengerjakannya,” kata Adam ke gurunya.

    “Ya? Itu hasil pekerjaan teman kelasmu: Adeeva, Nabila dan Nisa. Pada awalnya, mereka juga tidak bisa. Lihat jawaban mereka, itu semua selesai dan dijawab dengan benar.”

    “Coba saya baca lagi soalnya,” kata Adam. Adam kebingungan membaca perintah perpindahan kalimat. “Saya benar-benar tidak tahu, Mister,” ungkapnya dengan yakin.

    “Dulu kamu tidak tahu tenses teratur, tidak tahu bicara dan membaca. Sekarang kamu bisa,” balas guru yang berusaha mendobrak rasa takut Adam. “Sekarang kamu tidak tahu tenses acak. Kalau teman-teman kelasmu bisa, apakah kamu tidak bisa?” tanya guru menyentil emosi dan pikiran Adam.

    “Bisa. Besok malam saya latihan,” balas anak kelas 5 SD itu. Sesaat kemudian, ia pun pamit pulang, jemputannya telah datang.

    Kekhawatiran Adam dan Faika ini beralasan. Jangankan anak SD, pelajar orang dewasa pun masih banyak tidak sanggup menyelesaikan tenses di luar kepala. Metode dan kreativitas dari guru-guru Rumah Belajar Bersama (RBB) yang telah membongkar hal yang tidak lazim ini, hampir tidak pernah dikerjakan.

    Ini terlihat istimewa karena terobosan ini tidak dikerjakan oleh kurikulum pendidikan Indonesia. Bagi RBB dan lembaga yang sealiran dengannya, desain ini hal yang biasa saja. Sederhana. Bila tenses mampu diajarkan kepada anak SD, apakah orang dewasa yang kapasitas berpikirnya lebih matang itu tidak bisa? Cemburu yang baik itu memicu daya juang untuk belajar hingga tuntas, minimal tenses seperti pembahasan kali ini untuk mencapai sukses belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 12 Agustus 2026

  • Inspirasi Paman di Glasgow bagi Ashimah di RBB

    Inspirasi Paman di Glasgow bagi Ashimah di RBB

    Ashimah Nusaibah Shiddiqah seorang anak berwajah polos dan rasa ingin tahu yang tinggi serta bertekad kuat yang terbaca dari pancaran matanya baru saja bergabung di kelas Bahasa Inggris dan Matematika. Pada saat itu, ia diantar langsung oleh ibu kandungnya, drg. Yuni Afriani Salim, mendaftar di Rumah Belajar Bersama (RBB). Kami cukup terkesan karena biasanya seorang pemula, terlebih yang belum akrab dengan metode RBB, memilih satu kelas saja.

    Ada apa gerangan? Sudah jelas, kesadaran terhadap pendidikan dari dokter ini juga tinggi. Pasti ada sesuatu yang berharga di balik pilihan menyibukkan anak belajar di sore hari. Belum sempat pertanyaan itu diajukan, Dokter Yuni berkata, “Saya dulu pernah ke sini, mau memasukkan Ashimah untuk persiapan kelas Olimpiade Bahasa Inggris,” katanya lugas.

    Penulis berusaha mengumpulkan ingatan yang terlupakan. “Oh iya, ingat,” kata penulis, “kami mohon maaf tidak bisa melayani anaknya Bu Dokter waktu itu karena jadwal kejuaraannya sudah terlalu mepet,” terang penulis. Dokter muda yang mengabdi di Puskesmas Gantarang itu pun maklum. Ia sangat paham bahwa untuk sebuah kualitas, itu butuh proses yang panjang.

    Fondasi Kokoh Menuju Olimpiade
    Untuk desain olimpiade, RBB menetapkan beberapa syarat harus dipenuhi semisal pelajar wajib minimal menamatkan buku Basic Reading (Bacaan Dasar) yang berisi tentang mengakrabkan diri dari keterasingan bahasa asing, membangun kepercayaan diri, dan merobohkan asumsi bahasa Inggris itu susah. Bahan materinya kosakata dan percakapan sehari-hari. Ini tidak repot, cukup rajin membaca dengan suara nyaring dan mengetahui arti bacaan hingga 144 lesson (pelajaran). Tuntas.

    Sesuatu hal yang biasa bagi RBB melatih pelajarnya memahami materi tenses di luar kepala tanpa rumus, melainkan modal kotak kosong seperti yang tepat ada di hadapan Ashimah.

    Reading tahap kedua bernama Preface to Pre-Intermediate Reading (Pengantar untuk Bacaan Persiapan Pre Intermediate). Ada bahan percakapan dan paling banyak cerita yang masih sederhana. Itu setingkat pelajar SMP dan SMA di Indonesia. Bedanya, pembaca disuguhkan puluhan soal dalam setiap lesson yang mengajak pembaca mengetahui secara mendalam isi cerita. Total soal 1.236 dalam 48 lesson.

    Tidak ada konsep membaca sepintas lalu di sini karena semua hal penting, bukan sekadar kumpulan untaian kata yang indah dan terstruktur, melainkan juga bagian dari wawasan tentang dunia luar. Pembaca diajak berimajinasi dan berpikir tentang kejadian di berbagai belahan dunia yang disajikan dalam bentuk kisah yang kosakatanya masih agak lazim ditemukan. Pemahaman dibuktikan dengan jawaban benar pada soal.

    Tahapan ini seharusnya beriringan dengan grammar (tata bahasa). Tiap pertanyaan tidak bisa dijawab dengan gaya speaking (berbicara). Karena itulah, meskipun pelajar tidak mengikuti kelas grammar, mereka dibekali bonus pelajaran tenses agar mudah mengetahui arah alur cerita bacaan, bentuk soal, dan menjawab dengan struktur yang rapi dan tepat. Mengantisipasi kewalahan, strategi yang matang telah dibuat melalui pelatihan tenses sejak pelajar itu masih di Basic Reading agar mereka lebih siap ketika memasuki buku tahap kedua.

    Sebanyak 1.436 perubahan kalimat yang diucapkan pelajar di luar kepala meliputi verbal tense dan nominal tense—kalimat yang diucapkan sebenarnya jauh lebih banyak karena pelajar berlatih secara berulang-ulang hingga pemahamannya merekat kuat dalam kepala. 5.000 kali? 10.000 kali? Jawaban bisa beragam, tergantung daya serap otak pelajar itu sendir. Berapa kali diulang bukan hitungan utama. Bila pelajar lebih banyak praktik, proses belajarnya jauh lebih banyak, lebih baik. Tapi, apa pun itu, intinya mereka mampu paham tenses di luar kepala secara teratur dan acak.

    Wajarlah bila pelajar yang selesai basic tenses ini, buku Reading tahap keduanya agak mudah diselesaikan. Kemudian, mereka pun siap diolah lebih lanjut. Begitulah gambaran kecil dari perjuangan para pelajar SD yang berguru di RBB hingga para pelajarnya meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris tingkat nasional.

    Warisan Inspirasi sang Paman
    Diskusi santai bersama Bu Dokter pun kemudian berlanjut.

    “Apakah ibu berkenan mempersiapkan Ashimah untuk olimpiade di masa akan datang?” tanya penulis.

    Dokter Yuni menjawab, “Iya, mau.”

    Sejurus kemudian, ia bercerita, “Adik saya, Fajar Hidayat, pernah kuliah S-2 Universitas Glasgow, Inggris Raya.” Ia pun tak.lupa memperlihatkan gambarnya dengan toga sarjananya yang mengagumkan itu.

    Dokter Fajar peraih beasiswa bergengsi Chevening Award dari Inggris Raya yang menyaring calon pemimpin masa depan dunia. University of Glasgow di Skotlandia itu institusi kedokteran yang mendunia dengan jejak rekam di bidang kardiovaskular, peredaran darah manusia—Fajar memilih jurusan tersebut. Gerakan sosialnya selama di Glasgow adalah relawan di Glasgow Central Mosque (Masjid Jami’ Glasgow) di mana ia banyak meluangkan waktunya mengorganisasi dan menyalurkan makanan halal, rakyat yang ekonomi lemah dan pengungsi yang hidupnya serba susah.

    Dokter Fajar Hidayat. Adik kandung Dokter Yuni yang kuliah di Inggris. Sumber gambar: drg. Yuni Afriani Salim.

    Lebih lanjut, penulis menyambung. “Itu sangat bagus. Ada pamannya Ashimah yang bisa membantu mengajarkan untuk mempercepat kecerdasan anak Anda,” sambut penulis.

    “Sayangnya umurnya pendek,” lanjutnya.

    “Maksudnya sudah almarhum?” Pertanyaan ini memotong pembicaraan karena kaget dan hendak memastikan.

    “Iya,” balasnya singkat.

    “Oh! Sungguh sangat disayangkan. Saya turut berduka cita. Paling tidak, Ashimah mempunyai inspirasi dari keluarga terdekatnya,” balas penulis.

    “Iya. Itulah mengapa saya sangat ingin Ashimah menjadi penerusnya,” respon Dokter Yuni.

    Sebagai penguat, penulis mengatakan, “Insya Allah, itu bisa. Kalau saya perhatikan anak-anak RBB yang berprestasi,” raut wajah dokter itu terlihat bersemangat setelah mendengarkan klausa tersebut, “orang tuanya rata-rata mempunyai kesadaran pendidikan yang tinggi seperti Bu Dokter. Pada saatnya nanti, guru-guru dan saya pun akan memberikan pelatihan olimpiade buat Ashimah. Semoga ia mampu mengikuti jejak pamannya yang pintar itu.”

    “Amin,” balas dokter Yuni.

    Memicu Kompetisi demi Penguatan Fondasi Ilmu
    Beberapa hari kemudian, Ashimah masuk kelas di RBB. Dalam tiga hari, ia telah menyelesaikan 65 lesson pada buku Basic Reading. Guru kelasnya, Mr. Ancha berkomentar, “Ashimah dianggap remeh oleh Valerio, teman kelasnya. Vale mengatakan bahwa Ashimah itu lemah. Ashimah tersinggung dan ingin melambung bacaannya Vale.” Mr. Ancha berhasil menanamkan kompetisi terselubung dalam pembelajarannya. “Itu bagus Mr. Ancha. Usahakan Vale juga banyak membaca agar kompetisinya terus terjaga dan tetap mengarah pada hal positif—menjadikan keduanya lebih baik.”

    Capaian pembelajaran Ashimah dalam diagram batang.

    Sedangkan dalam pembelajaran tenses secara lisan, anak sembilan tahun ini telah berlatih empat tense: Simple present, simple past, simple future, dan simple past future meliputi 240 perubahan kalimat dalam tiga hari juga. Penulis tidak akan terburu-buru memindahkannya pada perfect tense karena selain itu agak rumit untuk pemula, Ashimah perlu meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia pelajari di luar kepala itu sudah yakin ia kuasai dengan baik atau mastery learning (penguatan fondasi). Video belajarnya pun diunggah ke channel YouTube dan Facebook sebagai data sejarah, ditonton ibunya dan netizen yang berselancar di dunia maya.

    Dengan menggunakan kotak kosong tenses, Ashimah sedang menjalani proses belajar latihan tenses di luar kepala.

    Mengenai Matematika, penulis belum menelusuri lebih jauh. Penulis berakrab ria dengan permainan kartu untuk mengetahui kemampuannya dalam dasar aritmatika pada bagian penjumlahan dan perkalian. Ia bisa menjawab dengan benar, baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Dalam penjumlahan, ia lumayan cepat, tetapi dalam perkalian, ia butuh waktu sedikit lebih lama. Karena itu, modul Perkalian dan Pembagian ala Metode 40—semacam perulangan latihan sebagaimana bahasa Inggris—diberikan kepadanya untuk berlatih di rumah.

    Proses belajar yang berkualitas memang membutuhkan waktu yang panjang, tekad yang kuat dan kesabaran menjalani proses guna menuntaskan akar-akar ilmu pengetahuan. Layaknya rumpun bambu, tahun-tahun pertama, fokusnya pada penguatan akar. Setelah itu, bambu akan menjulang tinggi hingga 20 sampai 25 meter dalam beberapa minggu saja. Ia sangat tinggi dan tidak mudah tumbang.

    Ashimah berlatih tenses bersama Ken. Mereka berdua setara dalam hal materi ini.

    Dokter Yuni melakukan hal hal sama. Di pagi hari, Ashimah beranjak ke sekolah hingga siang. Setelah itu, ia lanjut belajar hingga sore menjelang Maghrib, matahari tenggelam. Sebuah proses perjalanan yang panjang yang membutuhkan energi yang luar biasa. Sang Dokter telah menanamkan makna perjuangan jauh sebelum anaknya mengerti apa itu perjuangan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 11 Nopember 2026

  • Menemukan Jalan Pintas Berbahasa Inggris

    Menemukan Jalan Pintas Berbahasa Inggris

    Tenses adalah pintu gerbang untuk memasuki cabang pembelajaran bahasa Inggris yang luas. Lalu, apa itu tenses? Tenses adalah kalimat yang menghubungkan antara waktu dan kejadian atau kondisi. Sederhana, ia memperjelas kejadian di masa lampau, sekarang, dan akan datang.

    Orang yang buta huruf, fasih bicara tetapi tidak pandai membaca dan menulis tidak butuh tenses. Orang yang fasih bicara itu sudah lumayan bagus karena pada intinya bahasa itu alat komunikasi. Mereka sudah bisa memenuhi satu bagian terpenting dari bahasa. Tetapi, apakah manusia hanya puas sampai tahap Speaking (Berbicara) saja? Tentu tidak. Masih ada Reading, Pronunciation, Grammar, dan Writing (Membaca, Pengucapan, Tata Bahasa dan Menulis).

    Mengapa tenses sebagai solusi jalan pintas tercepat untuk semua cabang bahasa Inggris di atas? Beberapa argumentasi di bawah ini yang dihimpun dari pengalaman mengajar sepertinya layak menjadi bahan pertimbangan untuk diterima. Kalau pun tidak, itu bisa menjadi bahan dasar membangun kritisisme yang akan lebih memperkaya kemampuan kita belajar bahasa asing, khususnya Inggris.

    Pertama, ketika mengajarkan perubahan kalimat dalam tense, pelajar diminta bersuara nyaring. Itu jelas, membangkitkan kepercayaan diri untuk berani berbicara (speaking). Ini mirip dengan Audio-Lingual Method (Metode Audio-Lingual). Persamaannya terletak pada pengulangan struktur kalimat untuk membangun memori otot lidah dan percaya diri.

    Kedua, dari suara yang dihasilkan, pronunciation (pengucapan) benar atau salah dapat diketahui dan diperbaiki. Ini yang sangat membutuhkan perhatian yang tinggi mengingat pelafalan kata dalam bahasa Inggris sungguh jauh berbeda dengan bahasa Indonesia.

    Ketiga, tense adalah bagian dari pembelajaran grammar (tata bahasa). Otomatis apa yang diucapkan sesuai standar tata bahasa itu sendiri. Pelajar akan tahu perubahan kelas kata, minimal verb (kata kerja) dan subjek dalam bentuk noun or pronoun (kata benda atau kata ganti) karena perubahan verb dipengaruhi oleh subjek.

    Keempat, buku resmi untuk kebutuhan Reading menggunakan aturan grammar. Tulisan tidak resmi yang bertebaran di media sosial, betapapun tidak sepenuhnya sesuai kaidah grammar, mayoritas masih sesuai dengan alur grammar. Justru dengan mengetahui tenses, pembaca mempunyai sedikit wawasan untuk mengetahui celah kesalahan teks. Language Awareness (Kesadaran Bahasa) ini mengantarkan orang yang paham tata bahasa memiliki kepekaan instingtif untuk mendeteksi mana yang formal dan mana yang berupa bahasa gaul.

    Kelima, setiap kalimat berpola tense. Jadi apapun yang ditulis, pasti berpola tense. Dalam penulisan formal, hanya orang yang mengerti tata bahasa yang mempunyai kemampuan menulis secara akademis.

    Mungkin saja, ada yang berpikir bahwa memilih jalur mempelajari tense di atas bukan jalan pintas, melainkan jalan rumit. Orang yang baru belajar bahasa Inggris sudah dicecoki logika berpikir untuk mencocokkan kata yang tepat. Itu memperlambat kemampuan berbicara. Cukup memperbanyak kosakata saja dan kemudian dipakai berkomunikasi.

    Pendapat tersebut mengandung kebenaran. Tetapi, bagaimana saat hendak menggabungkan kosakata yang telah dihafal itu menjadi kalimat? Apakah itu tidak membutuhkan logika sederhana juga?

    Kosakata memang perlu. Tanpa kata, kalimat tidak mungkin terbentuk. Menggabungkan kata, itu butuh logika. Alangkah lebih baik bila logika sederhana tersebut diarahkan pada tense saja sembari terus mengajarkan hafalan kosakata baru. Kosakata yang baru itu dipakai dalam tense. Hal ini senada dengan teori lexical approach yang pernah digagas Michael Lewis. Dari grammar atau tenses, kalimat logis dan bermakna.

    Sejujurnya, mengajarkan tenses kepada pelajar pemula dan anak-anak bukan perkara yang mudah. Kita akan menemukan penghalang besar di mana kemampuan berpikir logis dalam berbahasa dari setiap pelajar berbeda-beda. Tetapi, dengan terus menyuguhkan kalimat yang terstruktur, pelajar tersebut terbiasa menyampaikan hal yang benar. Waktu yang menyadarkan mereka bahwa apa yang mereka pelajari itu sesungguhnya jalan pintas terbaik untuk memenuhi kebutuhan berbahasa Inggris yang lebih kompleks dan komprehensif.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin 10 Agustus 2026

  • Menjinakkan “Hantu” Bahasa Inggris

    Menjinakkan “Hantu” Bahasa Inggris

    Kids zaman now (Anak zaman sekarang) meme yang meledak pada 2017. Lidah orang Indonesia mudah menyebutnya dan enak didengar. Warganet pun ramai menggunakannya, lisan dan tulisan. Tapi, tahukah kita bahwa sepenggal kalimat ini sebenarnya sindiran pada anak-anak yang dewasa sebelum waktunya. Mereka lebih tampil beda di ruang publik. Pengaruhnya jelas, dunia digital sejak usia dini.

    oppo_34

    Menggunakan Android adalah permainan anak-anak. Buku dianggap pelajaran. Padahal, bacaan begitu banyak bertebaran di dunia maya. Namanya juga anak-anak, mereka tidak peduli semua itu. Target utama mereka bermain games.

    Fathy Cayadi tidak membenturkan antara dunia belajar zaman old dengan zaman now, tetapi menggabungkannya. Dengan handphone dan laptop sederhana, ia bermain online games membahas tentang adjective (kata sifat). Seperti yang bisa kita tebak, anak-anak girang. Senangnya bukan main, kayak bermain.

    Setelah semangat belajar sangat hidup, Miss Fathy kemudian mengajak para pelajarnya membuka buku Basic Reading membahas lesson 23 sampai 27. Anak-anak belajar meletakkan sebuah kata benda yang tepat pada adjective. Pembahasan tentang penggunaan a or an (sebuah) diberikan karena dalam aturan grammar (tata bahasa), a or an—meskipun dikategorikan sebagai article (kata sandang)—bisa berfungsi sebagai adjective. Misal, a book. Kata “a” bisa disebut sebagai kata sandang dan bisa juga disebut sebagai adjective–karena menjelaskan ke “book”, kata benda. Setiap kata yang menjelaskan benda disebut adjective.

    Struktur itu sebenarnya membentuk noun phrase (frasa benda). Namun, agar tidak bingung, penjelasan mendalam tentang frasa sengaja tidak dibahas secara mendalam. Yang terpenting, peletakan adjective-nya sudah benar. Secara tidak langsung mereka telah belajar frasa. Nanti pada waktu yang tepat, argumentasi mengapa dikatakan frasa akan dijelaskan.

    Pembelajaran lainnya tentang penggunaan objek pronoun (kata ganti) pada kalimat. Ini juga sangat penting dipahamkan karena objek pronoun dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris. Kata saya, mereka, kami dll. (I, they, we etc.) tidak berubah dalam tata bahasa Indonesia ketika berposisi sebagai subjek atau objek, sementara dalam bahasa Inggris, subjek I, they, we, etc. tatkala diletakkan di objek menjadi me, them, us, etc.

    Materi yang tidak kalah menariknya adalah percakapan pada lesson 23 dan 24 yang dibuat sesuai konteks bacaan. Misal, dalam percakapan terdapat kalimat “give me a glass” (berikan saya sebuah gelas). Guru, dalam hal ini Miss Fathy, mengajarkan, “give me a book or give me a pen.” Benda-benda yang berada dalam jangkauan pelajar menjadi bahan perbincangan.

    Dari sini, kita dapat membaca pembelajaran Miss Fathy kali ini menggabungkan dunia digital lewat online games, literasi dengan buku, dan lingkungan sekitar yang membuat anak-anak dapat melihat benda pada kosakata Inggris yang digunakan.

    Kombinasi tiga pilar dalam pembelajaran ini berhasil menciptakan suasana kelas yang hidup dan menyenangkan. Pendekatan komprehensif tersebut terbukti ampuh mengikis bayangan “hantu” menakutkan tentang bahasa Inggris sehingga ketakutan serupa yang dulu menghantui pelajar generasi zaman old tidak terjadi lagi di zaman now pada para pelajar di kelas ini. Kita tahu pelajar sekolah zaman old itu terpaksa belajar bahasa Inggris hanya demi memenuhi tuntutan kurikulum sekolah.

    Zaman terus bergerak. Sindiran meme kids zaman now yang lahir pada 2017 itu di ruang kelas Miss Fathy di Belajar Bersama (RBB) Tanete pada 2026 ini mengalami perubahan makna ke arah positif. Buktinya, kelas berakhir dengan setoran tenses di luar kepala yang disiarkan secara live (langsung) pada materi simple tenses di mana setiap anak tampil perorangan menyetor perubahan kalimat tanpa melihat teks buku.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 9 Agustus 2026

  • Melawan Lupa di Jendela Kelas

    Melawan Lupa di Jendela Kelas

    Satu kata yang ampuh untuk melahirkan kemahiran. Perulangan namanya. Kata ini mengingatkan apa pun yang terlupakan. Dari perulangan itu pula, kita bisa lebih mahir dari sebelumnya.

    Untuk sebuah ingatan, Milan Kundera mempunyai kalimat magis, “perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingat melawan lupa.” Kalimat di dalam The Book of Laughter and Forgetting (Kitab Tawa dan Lupa) bermakna bahwa kekuasaan otoriter melanggengkan kendali mereka dengan cara menghapus sejarah dan memanipulasi memori kolektif masyarakat. Tipuan maut ini membuat orang kesulitan menemukan kebenaran sejarah.

    Fathy Cayadi bukanlah seorang kritikus sejarah. Ia pendidik, menumpahkan segenap ilmu pengetahuannya untuk mendidik generasi. Ia pun tidak sedahsyat sastrawan Ceko-Prancis itu, tetapi ia mempunyai langkah yang sama dalam “melawan lupa”.

    Guru bahasa Inggris ini paling sering mengadakan review pembelajaran. Buku-buku pelajaran yang telah dibaca pelajarnya dianggapnya tidak cukup. Ia berkreasi mencetak lembaran kertas bergambar yang menarik sesuai dengan bacaan yang telah dipelajari. Cara pandang pun menjadi lebih kaya.

    Apa saja yang Miss Fathy review (revieu)? Penggunaan article a or an (kata sandang bermakna sebuah, seorang, sebiji dll.), verb be: am, is, are (kata kerja be: am, is, are) yang berhubungan dengan pekerjaan dan preposition in, on, under etc. (kata depan bermakna di dalam, di atas, di bawah dll.).

    Bagi Miss Fathy dan orang yang biasanya berkecimpung dalam pelajaran itu pasti menganggapnya mudah. Bagi pelajar pemula, pasti tidak semudah itu, Fergusso. Itu sulit, butuh latihan berulang-ulang. Kesadaran itulah yang dihantarkan Miss Fathy ke dalam alam pikiran pelajarannya.

    Kemudian, apa manfaat lain yang diperoleh? Selain mengikat makna pada lesson (pelajaran) 1 sampai 20 pada buku Basic Reading (Bacaan Dasar), itu juga meyakinkan bahwa lesson berikutnya siap dipelajari. Terbukti, lesson 21 sampai 24 yang berisi percakapan dan penjelasan kosakata melalui gambar berjalan lebih mulus.

    Jadi, pembelajaran itu bukan hanya menyenangkan karena adanya permainan, tetapi materinya berhasil dibuat semenarik mungkin. Tetsuko Kuroyanagi dalam novel otobiografi fenomenalnya menggambarkan dirinya sebagai Totto Chan lebih menyukai memperhatikan pengamen di jalan melalui jendela sekolah daripada pelajaran yang diajarkan di dalam kelas. Gadis cilik di jendela itu harus angkat kaki–pindah sekolah karena guru menganggap perilaku Totto Chan bermasalah. Padahal, bisa jadi karena kelas tidak dikreasikan sehingga alunan musik rakyat lebih enak didengar daripada suara guru.

    Tidak perlu kaget, kemampuan berbicara pelajar Miss Fathy di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete ini akan berbanding lurus dengan kemampuan pelajar di RBB Bulukumba. Keduanya sama-sama menggunakan the law of repetition (hukum perulangan) yang digerakkan dengan kreativitas demi menepis perulangan yang membosankan. Hal yang membosankan itu tidak pernah menarik untuk diingat sebagaimana tidak menariknya para penguasa yang cuma berpura-pura peduli pada pendidikan.

    Dalam konteks bernegara, bukanlah peringatan kemerdekaan 17 Agustus itu perulangan? Indonesia melawan lupa untuk tidak mau dijajah lagi. Dalam dunia pendidikan, dari perulangan yang dimasifikasi, kemahiran apa yang tidak bisa diciptakan? Apakah pemerintah masih ingat bahwa untuk menjadi bangsa yang besar, kualitas pendidikan harus diutamakan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu 8 Agustus 2026