Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

    Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

    Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi sekali atau dua kali saja tidak cukup untuk membuat pelajar fasih mengucapkan. Di sinilah kesabaran pelajar dan guru dipuji. Pelajar harus rajin mengulang dan guru yang bijak perlu mendampingi untuk mengoreksi kesalahan dan memberikan contoh yang benar.

    Setelah guru melakukan pendampingan, penggunaan kaset atau rekaman MP3 akan sangat membantu. Kemampuan mendengarkan juga terasah lebih tajam: perspektif guru kelas dan suara native speaker dari MP3. Para pelajar cukup mendengarkan ulang dan kemudian bertanya kepada guru pada kosakata yang sulit diucapkan.

    Setelah merasa cukup baik dalam berbicara, setiap pelajar divideo. Meskipun ini telah menjadi kebiasaan pada lembaga pendidikan yang mewajibkan kegiatan ini, tentu saja hal mempunyai daya kejut; tidak ada yang mau tampil buruk karena mereka tahu bahwa video itu akan disebarkan di media soal sehingga mereka melakukan persiapan lebih baik sebelum tampil. Oleh karena itu, wajar bila keseriusan dalam belajar lebih tinggi. Mereka yang ‘ketakutan’ biasanya bertanya pada pelajar yang telah melewati tahapan tersebut.

    Agar strategi ini benar-benar efektif, tiap pelajar yang tingkat kemahirannya di bawah 90 persen diminta untuk mengulangi bacaan pada pertemuan berikutnya. Materi selanjutnya tidak dipercepat karena waktu digunakan untuk review. Selain itu, mereka pasti lebih kewalahan bila melanjutkan materi karena pada bacaan lanjutan itu, terdapat banyak kosakata yang berhubungan dengan materi sebelumnya dihadirkan kembali. Mempermantap bacaan pada tiap lembaran pada buku adalah terbaik. Apakah ini tergolong lambat? Hal itu sangat tergantung dari keaktifan para pelajar itu sendiri. Bila mereka rajin, satu buku dapat segera tuntas. Bila malas mengulang, pasti terlambat. Dibalik itu, mereka diajak untuk mau lebih aktif belajar agar mampu melewati standar 90 persen.

    Untuk memperkaya kemampuan pronunciation, para pelajar sebaiknya juga membaca buku yang di luar dari bacaan wajib seperti percakapan atau teks bacaan. Ini sangat berguna untuk menguji sejauh mana kemampuan mereka telah mengerti teori yang telah dipelajari. Bagi yang masih kewalahan, mereka akan bertanya dan bagi yang sudah mengerti, mereka akan langsung merasakan manfaat mengikuti kelas pronunciation. Selain itu, mereka pun dipertemukan dengan pelajar lainnya yang tidak mengikuti kelas pronunciation agar dapat mengetahui kelebihan dari belajar pronunciation.

    Terdapat satu hal yang lebih penting lagi. Waktu belajar di tempat bimbingan belajar itu beberapa jam saja. MP3 sangat memungkinkan untuk lebih banyak dipelajari di rumah. Belajar dengan berselancar di internet dengan mengecek menghubungkan dengan materi yang sedang dipelajari akan sangat membantu. Peluang untuk mendapatkan hal-hal baru yang belum diajarkan sangat besar. Kelemahannya, terkadang pengetahuan yang diperoleh di dunia maya itu seringkali acak, namun hal itu bisa diatasi diatasi dengan cara berkonsultasi dengan guru saat berada di kelas belajar.

    Para pelajar yang mempunyai inisiatif seperti ini dapat lebih aktif dalam dunia nyata dengan jalan mengajak rekan-rekannya lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Inggris saja saat bertemu: menciptakan lingkungan belajar. Terkhusus daerah yang wilayahnya berada kawasan wisata yang seringkali dikunjungi oleh turis mancanegara seperti Bulukumba itu adalah kekayaan, bukan dalam bentuk uang, melainkan sumber daya manusia yang dapat diakses dengan menghubungi guide lokal yang aktif di kawasan wisata. Sebagian para turis itu tentu ingin mendapatkan mengetahui informasi dari masyarakat lokal tentang daerah yang mereka kunjungi. Inilah yang dimanfaatkan sebagai pembuka untuk menjalin komunikasi dengan orang luar.

    Keterasingan terhadap bahasa asing itu terjadi karena tidak terjadi pembiasaan saja. Belajar lewat guru, buku, dunia maya, dan dunia nyata adalah alat pengetahuan untuk mengatasi keterasingan. Kesalahan dalam berbicara itu adalah hal biasa. Selama itu diniatkan untuk mengembangkan diri, kesalahan tersebut akan menjadi pengingat untuk menjadikan diri lebih baik; lancar berbahasa Inggris dengan fasih.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 1 Oktober 2026

  • Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

    Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

    Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia internasional. Ahli hitung ini berhasil membuat keseimbangan sayap pesawat. Kesalahan berpikir orang kemudian adalah mengidentikkan bahwa orang-orang Indonesia itu cerdas. Bahkan orang Jerman pun percaya ketika Habibie mencoba meyakinkan tempat di mana ia bekerja sehingga banyak sarjana Indonesia diterima bekerja di Jerman. Aneh tapi nyata.

    Menghindari jebakan over-generalization (melebih-lebihkan) itu, video kunjungan ke SMK Taruna dari Kang Dedi Mulyadi (KDM). Gubernur Jawa Barat (Jabar) menarik dijadikan contoh. Ia tidak menyembunyikan rendahnya kemampuan numerasi pelajar sekolah. Pelajar SMK Taruna itu mayoritas tidak mampu menjawab dengan benar ketika KDM menanyakan 8 x 3 Ini sungguh tamparan yang sangat menyakitkan bagi para pelajar, sekolah dan para pemangku kebijakan pada pendidikan Indonesia.

    oplus_0

    Sesungguhnya, persoalan berhitung sederhana ini tidak perlu isu booming, separah ini. Cukup dengan permainan kartu joker—dilakukan oleh Ust. Saefuddin dan Mariyanti Yanti di Math Master Pare, Kediri, Jawa Timur—itu bisa menyelesaikan dasar-dasar aritmatika: perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan. Misal, angka 7 dan 5 pada dua lembar joker bisa dibuat jadi penjumlahan 7 + 5, pengurangan 7 – 5, dan perkalian 7 x 5. Untuk pengurangan, angka 7 dapat dikreasikan dengan membayangkan angka 70. Soalnya, 70 : 5. Untuk lebih kontekstual, orang atau guru yang mendampingi membuat cerita yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya, ada 7 kue. 5 kue dimakan. Berapa kue tersisa? Segampang itu. Permainan ini dibiasakan dalam kesehariannya. Pasti jadi jauh lebih mudah.

    oplus_0

    Sedikit lebih mendalam, Rumah Belajar Bersama (RBB) membuat modul Metode 40, semacam latihan tulis sebanyak 40 kali, berisikan aritmatika. Pelajar yang daya tangkapnya lambat, mereka cukup diminta menyelesaikan soal-soal tulis itu, sementara pelajar yang daya tangkapnya cepat, mereka mencatat waktu tercepat dalam menyelesaikan soal. Tak heran, anak kelas 1 dan 2 SD bisa mengerjakan dengan baik. Intinya terletak pada fokus kerajinan dalam melakukan latihan saja.

    Dalam beberapa tahun mendatang, kita tidak perlu lagi melihat pelajar tingkat SMK/SMA yang tidak sanggup menjawab dasar aritmatika. Tokoh birokrat seperti KDM atau tokoh publik lainnya bisa saja datang lagi ke sekolah menanyakan trigonometri di mana pelajar itu dengan cepat mampu menjawab soal-soal secara lisan. Sedangkan soal-soal aritmatika itu semestinya cocok diberikan kepada anak maksimal kelas 3 SD. Realitas demikian ini—semoga saja terjadi—sedikitnya mengikis ketertinggalan, meskipun belum dapat dijadikan patokan untuk sanggup bersaing karena kita tahu, di Asia sendiri, Jepang dan Cina sudah sejak lama terkenal mempunyai sempoa. Para pelajar SD mereka sudah mampu menghitung banyak digit dalam hitungan detik. Itu bukti bahwa para pelajar mereka sejak usia dini menjadikan matematika bukan lagi sekadar hafalan, melainkan penguatan mental yang refleksif (spontan).

    Jejak Habibie sebenarnya dapat kita ikuti. Menurutnya, untuk menjadi seperti dirinya, itu membutuhkan konsistensi dan disiplin. Itulah yang ia sebut “anak dan cucu intelektual Habibie.” Tentunya, itu dapat terwujud bila terdapat kreativitas yang lebih canggih lagi selain dari permainan kartu joker dan metode 40. Para matematikawan, pemerhati pendidikan kita dan para pembuat kebijakan pendidikan perlu saling bahu-membahu mencarikan solusi yang tepat sasaran yang sesuai dengan perubahan zaman.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 30 September 2026

  • Menghapus Sekat Belajar

    Menghapus Sekat Belajar

    Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran speaking (berbicara). Orang yang pandai speaking itu seringkali mengalami kendala saat menghadapi pengucapan kata yang cara bacanya mirip. Misal eat vs it, bad vs bed, dan land vs lend. Salah ucap pada kata itu menyebabkan salah tafsir.

    Jawaban untuk mengatasi masalah krusial tersebut berada pada pronunciation (pengucapan). Ini bukan hanya mengatasi salah tafsir tetapi juga memperindah suara karena terdapat penekanan terhadap tinggi rendahnya suara, terdengar indah. terdapat juga cara pemotongan atau penggabungan kata sehingga frase atau kalimat lebih ringkas, tanpa mengurangi makna. Selain itu, oang yang pandai pronunciation tidak mudah ragu berbicara, maksud tersampaikan dengan tepat.

    Terkhusus bagi pelajar yang sudah terbiasa speaking atau membaca buku dengan suara nyaring, mereka sebenarnya tidak butuh waktu yang lama untuk belajar. Hal ini karena mereka telah mempunyai perbendaharaan kosakata yang sudah cukup banyak dan biasa diucapkan. Mereka hanya perlu tahu beberapa teknik pengucapan dan jumlah Syllable (Suku Kata) dan Vowel Length: Panjang pendeknya pelafalan huruf vokal.

    Bagi pelajar yang masih sangat pemula, mereka sebaiknya terlebih dahulu belajar speaking atau membaca dengan suara nyaring. Bila energinya cukup–waktu dan kapasitas otak mampu menyerap lebih banyak—sebaiknya speaking disertai pronunciation dipelajari dalam waktu yang bersamaan. Di sinilah yang membedakan kemampuan pelajar yang hanya mengandalkan speaking vs speaking dan pronunciation.

    Futri Syam, seorang dosen universitas Teuku Umar di Aceh, malah mempunyai pemikiran yang berbeda. Ia terlebih dahulu mengikuti kelas pronunciation secara intensif, hampir setiap hari belajar. Sebagai seorang yang terlibat aktif dalam dunia akademik, ia merasa membutuhkan literatur bacaan yang lebih banyak. Ia pun memilih kelas Reading (Membaca) di mana ia aktif membaca buku percakapan dan membaca buku dengan suara nyaring. Akselerasi belajar pun menjadi lebih efektif karena terdapat keterhubungan erat diantara dua kelas yang ia ikuti itu.

    Faika peraih emas pada olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional 2026 turut bergabung di kelas pronunciation yang diikuti Futri. Gadis cilik yang saat ini kelas 4 SD tidak merasa sungkan lagi bergaul dengan orang dewasa karena sejak masih masih TK ia sudah belajar bahasa Inggris dan sering sekelas dengan orang dewasa. Ia malah merasa senang selalu berkenalan dengan orang baru dan tetap rajin mengulangi pelajaran yang telah ia tamatkan. Futri terhibur karena ada anak yang cerdas yang menjadi rekan belajarnya.

    Pembelajaran di Rumah Belajar Bersama (RBB) ini mengkoneksikan antara anak-anak dengan orang dewasa dalam satu ruang belajar menghapus sekat tingkatan umur sebagaimana yang juga terjadi di kampung Inggris Pare, Jawa Timur. Tidak ada sekat umur. Pikiran para pelajarnya bergaul untuk berbicara dengan siapa pun juga untuk kemahiran berbahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 29 September 2026

  • Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

    Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

    Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa mereka paham tenses di luar kepala. Hal ini karena mereka hanya mempraktikkan satu contoh kalimat dan diubah ke seluruh tenses. Ketika mendapatkan kalimat yang berbeda, mereka sangat kesulitan, hampir selevel dengan pelajar pemula.

    Menyadari hal tersebut, para guru memberikan pelatihan dalam bentuk beragam kalimat: Metode 40, soal latihan berjumlah 40. Materi yang dibahas adalah simple present pada kalimat positif (afirmatif atau pernyataan). Para pelajar ini terlebih dahulu dipandu untuk mampu menjawab dengan benar. Kemudian, lembaran kertas latihan itu ditukar untuk dibahas dan dicek kebenarannya. Setelah itu, membaca setiap kalimat disertai dengan terjemahan.

    Untuk menjadikan suasana kelas lebih semarak dan menambah tingkat daya paham, dibuatlah game di mana para pelajar itu sendiri bertindak sebagai pemberi soal dan penilai. Kalimat yang disebut dalam bahasa Indonesia. Tugas peserta adalah menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Siapa yang lebih dahulu angkat tangan, dialah yang berhak menjawab. Setiap kali mampu menjawab dengan benar mendapatkan satu poin. Juara 1, 2, dan 3 jatuh pada pelajar yang berhasil meraih 10 poin. Mereka pun berlomba-lomba menjadi yang terbaik.

    Semua proses belajar di atas adalah review, strategi untuk melawan lupa. Bahasa asing tidak menjadi asing lagi ketika otak terbiasa mengingat, terlebih lagi mempraktikkan dalam bentuk berbicara, menulis, dan bermain. Apakah ini sudah menjamin bahwa pelajar akan memahami dengan baik? Tidak juga karena setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memahami pelajaran. Namun, sedikitnya mereka terbiasa melakukan praktik lebih banyak dan itulah cara yang efektif menaklukkan lupa.

    Mengenai pelajar yang lebih lambat menguasai kalimat yang beragam pada kalimat positif itu, mereka mendapatkan perhatian yang lebih tinggi. Mereka akan dididik lagi melalui pendekatan pengajaran per individu. Tiap anak akan dipanggil oleh guru dan menuntaskan hal yang sulit dimengerti. Biasanya, strategi ini efektif karena guru hanya berfokus pada satu orang pelajar dan pelajar itu pun mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk menanyakan segala hal yang ingin ia mengerti.

    Oleh karena itu, Rumah Belajar Bersama (RBB) yang menjalankan model pendidikan yang diterangkan di atas percaya bahwa proses belajar itu harus dilalui secara bertahap, bukan instan. Oleh sebagian orang utamanya para pemerhati bahasa Inggris, para pelajar yang mampu menguasai tenses di luar kepala dengan mengubah satu kalimat ke seluruh struktur tenses memang memunculkan decak kagum karena hanya sedikit pelajar yang sanggup melakukannya. Namun, setelah itu, mereka pun diberitahu bahwa itu baru pembuka, masih banyak hal yang belum mereka ketahui yang perlu ditekuni untuk tahu, lebih tepatnya mengerti. Itulah mengapa Metode 40 akan terus diajarkan yang melingkupi semua bagian tenses hingga ke akar-akarnya sebelum melangkah pada materi yang lebih tinggi.

    Lifelong education, perjalanan manusia di muka bumi ini adalah belajar, tiada henti. Mengutip Nabi Muhammad SAW, “Belajar sejak dari buaian ibu hingga ke liang lahat.”

    Zulkarnain Patwa
    Senin, 28 September 2026

  • Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

    Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

    Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an, saya mengenalnya sebagai senior di Wisma Merapi Empat (WME)—asrama mahasiswa Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jl. Sunaryo No. 4 Kota Baru, Yogyakarta. Mobil kuning 3000 CC miliknya menandakan ia orang mapan atau minimal pernah sukses. Masa itu, semua mahasiswa di WME hanya bersepeda, belum ada pakai motor ke kampus.

    Seperti halnya para senior asrama lainnya, Kak Madi selalu mengingatkan bahwa betapa pun adik-adiknya itu bandel, sebaiknya sarjana. Itu pengingat. Orang tua di kampung tidak menuntut banyak hal, cukup sarjana. Para senior asrama WME memang bukan orang tua, tetapi ide mulianya mereka itu sama dengan orang tua kita.

    Saya termasuk orang yang sungkan ke Kak Madi karena betatapun ramah, ia orang yang mempunyai ketajaman logika dalam mengkritik. Namun, ia senang bergaul dengan saya. Sesekali ia membaca buku yang saya suka dan bermain catur bersama.

    Setelah akrab, ia berkata, “Nain, saya sudah tahu kamu. Kamu itu bukan mahasiswa pintar tapi orang yang suka mengutip pikiran orang lain. Kamu baca buku, lalu kamu kutip dan gabungkan pikiran orang menjadi pikiranmu.”

    Saya bertanya, “Bagaimana bisa tahu seperti itu?”

    Ia dengan santai menjawab, “Beberapa bukumu telah saya baca. Sudahlah! Kamu tidak bisa mengelak sekarang.”

    “Oh, iya. Biarlah, Kak Madi. Itu kan masih lebih baik daripada tidak mempunya pikiran. Mahasiswa di kampus juga menyontek pemikiran dosen,” kataku membela.

    Dari raut wajahnya, Kak Madi nampaknya tidak sepakat dengan pikiran saya itu. Ia kemudian menjelaskan hal yang tidak saya mengerti karena itu erat kaitannya dengan rumus kimia. Pada intinya, ia mempunyai pemikiran sendiri yang berbeda dengan dosennya. Saya mengerti maksudnya. Apalah daya, saya masih mahasiswa baru yang terpesona dengan pemikiran orang-orang besar, masih dalam tahap berproses.

    Di lain kesempatan Kak Madi bercerita, “Nain, tadi pagi saya mau makan pepaya. Saya lihat ada pepaya yang matang di samping kamar. Saya jolok yang kuning itu. Anehnya, buah yang jatuh adalah buah yang besar dan muda. Saya berpikir, semestinya buah yang kuning jatuh karena tangkai buahnya lebih lemah. Ah, sudahlah! Saya jolok lagi. Eh, yang jatuh buah yang kecil dan muda. Saya tambah heran. Pada jolokan terakhir, barulah pepaya kuning itu jatuh. Saya merenung. Ini pasti ada maksudnya.”

    Ia pun menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya, “Oh! Saya kan paling tua di asrama ini. Lihatlah, rambut saya sudah putih tapi bisa jadi saya yang paling terakhir mati di asrama ini.” Saya dan rekan-rekan yang mendengar kisah ini tertawa.

    Kata ‘bisa jadi’ atau mungkin adalah hiburan Kak Madi. Meskipun itu bukan hal yang tidak pasti, ia telah mengajarkan kami untuk berani berpikir sendiri. Ia mengharapkan bahwa adik-adik mahasiswa membaca buku tidak mesti membebek karena fakta tidak selamanya sesuai dengan teori. Ya, seperti halnya yang ia alami pada pohon pepaya.

    Di lain kesempatan, Kak Madi pernah meminta saya mengantarnya dengan motor mengunjungi rumah saudaranya. Di tengah jalan, tiba-tiba ia menangis dengan suara yang keras. Pastilah saya kaget.

    “Kenapa Kak?” tanyaku.

    “Ibuku meninggal. Padahal, saya selalu membacakan doa Al Fatihah seribu kali. Sekali saya tidak berdoa. Dari perjalanan Jakarta ke Yogyakarta kemarin, saya memang tidak berdoa. Saya merasa terlalu sibuk dalam perjalanan.”

    Saya juga larut dalam kesedihan sembari terus menyetir motor dengan perlahan. Saya hanya terdiam dan menyembunyikan air mataku agar terlihat tetap normal berkendara. Saya tahu pedihnya kehilangan orang tercinta karena ibuku juga telah tiada. Saya terus menyetir untuk menyelesaikan tugas agar ia dapat bertemu dengan keluarganya sesegera mungkin. Setelah tiba, Kak Madi terhibur berjumpa dengan keluarganya.

    Sekitar satu bulan yang lalu, Kak Madi dan saya masih sempat saling menyapa di Facebook dan menanyakan di mana ia sekarang. Seingatku ia bilang bahwa dirinya berada di Daya, Makassar, rumah yang ia huni sewaktu saya bersilaturahmi kepadanya.

    Kemarin di grup WA Kamps–alumni rekan-rekan Sulsel Yogyakarta—saya membaca kabar yang mengharukan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah kakanda kami Ahmadi Hatta, Jum’at, 25 September 2026, Pukul 22.00 Wita di Pare-Pare.” Instagram syarifahandieka juga menyampaikan bela sungkawa.

    Selamat jalan Kak Ahmadi Hatta. Canda tawa dari hasil pemikiran mandiri darimu takkan pernah terdengar lagi. Sewaktu saya menulis skripsi tentang Ahmadinejad, Anda berkelakar bahwa Ahmadinejad itu Ahmadihatta. Itu genuine, menghibur pikiran.

    Masa di mana kakak bersama adik-adik di WME adalah kenangan terindah yang semoga segala buah pemikiran dan kebaikan hati kakak menjadi amal jariyah, melapangkan alam kubur serta dosa-dosa diampuni oleh Allah SWT. Doa keselamatan menyertai kakak.

    Al Fatihah.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 27 September 2026

    Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia, Universitas Gadjah Mada (UGM), angkatan 87. Pada tahun 2000-an, saya mengenalnya sebagai senior di Wisma Merapi Empat (WME)—asrama mahasiswa Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jl. Sunaryo No. 4 Kota Baru, Yogyakarta, asrama kawasan elit terletak di jantung kota. Mobil kuning 3000 CC miliknya menandakan ia orang mapan atau minimal pernah sukses. Masa itu, semua mahasiswa di WME hanya bersepeda, belum ada pakai motor ke kampus.

    Seperti halnya para senior asrama lainnya, Kak Madi selalu mengingatkan bahwa betapa pun adik-adiknya itu bandel, sebaiknya sarjana. Itu pengingat. Orang tua di kampung tidak menuntut banyak hal, cukup sarjana. Para senior asrama WME memang bukan orang tua, tetapi ide mulianya mereka itu sama dengan orang tua kita.

    Saya termasuk orang yang sungkan ke Kak Madi karena betatapun ramah, ia orang yang mempunyai ketajaman logika dalam mengkritik. Namun, ia senang bergaul denganku. Sesekali ia membaca buku yang saya suka dan bermain catur bersama di kamar 1, kamar yang sangat luas di bagian depan dekat ruang tamu. Di kamar terbaik itu, terdapat dua jendela setinggi tiga meter serta dua pohon rindang di masing-masing dekat jendela. Bangunan arsitektur peninggalan Belanda itu sungguh nyaman.

    Setelah akrab, ia berkata, “Nain, saya sudah tahu kamu. Kamu itu bukan mahasiswa pintar tapi orang yang suka mengutip pikiran orang lain. Kamu baca buku, lalu kamu kutip dan gabungkan pikiran orang menjadi pikiranmu.”

    Saya bertanya, “Bagaimana bisa tahu seperti itu?”

    Ia dengan santai menjawab, “Beberapa bukumu telah saya baca. Sudahlah! Kamu tidak bisa mengelak sekarang.”

    “Oh, iya. Biarlah, Kak Madi. Itu kan masih lebih baik daripada tidak mempunya pikiran. Membaca pemikiran orang-orang besar kan, bagus. Mahasiswa di kampus juga menyontek pemikiran dosen,” kataku membela.

    Dari raut wajahnya, Kak Madi nampaknya tidak sepakat dengan pikiran saya itu. Ia kemudian menjelaskan hal yang tidak saya mengerti karena itu erat kaitannya dengan rumus kimia. Pada intinya, ia mempunyai pemikiran sendiri yang berbeda dengan dosennya. Saya mengerti pun maksudnya. Apalah daya, saya masih mahasiswa baru yang terpesona dengan pemikiran orang-orang besar, masih dalam tahap berproses.

    Di lain kesempatan, Kak Madi bercerita. “Nain, tadi pagi saya mau makan pepaya. Saya lihat ada pepaya yang matang di samping kamar 1. Saya jolok pepaya yang kuning itu. Anehnya, buah yang jatuh adalah buah yang besar dan muda. Saya berpikir, semestinya buah yang kuning jatuh karena secara ilmu anatomi tumbuhan, tangkai buahnya lebih lemah atau apalah. Itu urusannya mahasiswa pertanian atau biologi. Ah, sudahlah! Saya jolok lagi. Eh, yang jatuh buah yang kecil dan lebih muda. Saya tambah heran. Pada jolokan terakhir, barulah pepaya kuning itu jatuh. Saya merenung. Ini pasti ada maksudnya,” terangnya.

    Kak Madi pun menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya, “Oh! Saya kan paling tua di asrama ini. Lihatlah, rambut saya sudah putih tapi bisa jadi saya yang paling terakhir mati di asrama ini.” Saya dan rekan-rekan yang mendengar kisah ini tertawa.

    Kata ‘bisa jadi’ atau mungkin adalah hiburan Kak Madi. Meskipun ia tahu itu bukan hal yang pasti, ia telah mengajarkan kami untuk berani berpikir sendiri. Ia mengharapkan bahwa adik-adik mahasiswa membaca buku tidak mesti membebek karena fakta tidak selamanya sesuai dengan teori. Ya, seperti halnya yang ia alami pada pohon pepaya.

    Di lain kesempatan, Kak Madi pernah meminta saya mengantarnya dengan motor mengunjungi rumah saudaranya. Di tengah jalan, tiba-tiba ia menangis yang awalnya terisak-isak dan kemudian diikuti dengan suara yang keras. Pastilah saya kaget.

    “Kenapa Kak?” tanyaku.

    “Ibuku meninggal. Padahal, saya selalu membacakan doa Al Fatihah seribu kali setiap hari. Sekali saya tidak berdoa. Dari perjalanan Jakarta ke Yogyakarta kemarin, saya memang tidak berdoa. Saya merasa terlalu sibuk dalam perjalanan,” jawab Kak Madi sambil terus mencucurkan air matanya.

    Saya juga larut dalam kesedihan sembari tetap menyetir motor dengan perlahan. Saya hanya terdiam dan menyembunyikan air mataku agar terlihat tetap normal berkendara. Saya tahu pedihnya kehilangan orang tercinta karena ibuku juga telah tiada. Saya menyetir tanpa henti untuk menyelesaikan tugas agar ia dapat bertemu dengan keluarganya sesegera mungkin. Setelah tiba, Kak Madi terhibur berjumpa dengan keluarganya.

    Sekitar satu bulan yang lalu, Kak Madi dan saya masih sempat saling menyapa di Facebook dan menanyakan di mana ia sekarang. Seingatku ia bilang bahwa dirinya berada di Daya, Makassar, rumah yang ia huni sewaktu saya bersilaturahmi kepadanya.

    Kemarin di grup WA Kamps—alumni rekan-rekan Sulsel Yogyakarta—saya membaca kabar yang mengharukan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah kakanda kami Ahmadi Hatta, Jum’at, 25 September 2026, pukul 22.00 Wita di Pare-Pare.” Instagram syarifahandieka juga menyampaikan bela sungkawa kepada pendiri Group Bugis sedunia itu.

    Canda tawa dari hasil pemikiran mandiri darimu takkan pernah terdengar lagi. Sewaktu saya menulis skripsi tentang Ahmadinejad, Anda berkelakar bahwa Ahmadinejad itu Ahmadihatta. Itu genuine, menghibur pikiran.

    Selamat jalan Kak Ahmadi Hatta. B. J. Habibie pun yang ahli hitung berpikir bahwa dirinya lebih dahulu meninggal dibandingkan dengan istrinya. Kematian mempunyai rahasia hitungan tersendiri.

    Masa di mana kakak bersama adik-adik di WME adalah kenangan terindah yang semoga segala buah pemikiran dan kebaikan hati kakak menjadi amal jariyah, melapangkan alam kubur serta dosa-dosa diampuni oleh Allah SWT. Doa keselamatan menyertai kakak.

    Al Fatihah.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 27 September 2026

  • Terbaik: Setiap Tempat Adalah  Belajar

    Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

    Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan mereka. Lingkungan itu adalah keluarga. “Apa yang ayah suka? Apa yang ibu suka? Dan apa saudara lakimu dan kakak perempuanmu suka?” Itu adalah beberapa contoh dari sekian banyak pertanyaan yang Miss Fathy Cayadi buat. Sebuah inisiatif cerdas yang sangat kontekstual bagi anak-anak.

    Karena pertanyaan-pertanyaan itu mempunyai daya tarik, para pelajar dengan sangat cepat menyatakan pendapat. Jawaban mereka beragam karena tiap anak dalam keluarga memiliki kesukaan yang cenderung tidak sama, tidak seragam. Tidak ada sistem meniru atau ikut-ikutan saja sesama rekan sekelas. Perbedaan itu mengajarkan mereka untuk berpikir lebih mandiri dan mengajak untuk mau bertanya lebih banyak. Kenapa ayah si A suka kopi daripada susu, tetapi ibu si A suka susu, bukan kopi? Kenapa ayahku suka teh? Hal ini membangun komunikasi dua arah kepada sesama pelajar, sekaligus mengubah kebiasaan bergosip menjadi pembicaraan yang terarah dan sedikit lebih intelek.

    Ide ini bukan berdiri sendiri, melainkan berbasis literasi. Ini adalah bagian dari pelajaran review (tinjauan) yang tercantum dalam buku Basic Reading (Bacaan Dasar), lesson (pelajaran) 51 sampai 56. Jadi, mengasah kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris dengan serta-merta diikuti dengan bacaan, sehingga pendekatan pola belajar ini jauh lebih lengkap.

    Apa yang hendak dikokohkan? Pengulangan pelajaran akan mengingatkan pada hal-hal yang terlupakan dan menguatkan pemahaman yang lebih mendalam. Kenapa? Karena bacaan memberikan struktur, contoh tata bahasa, dan modal kosakata. Membaca dengan suara nyaring juga mempermahir kemampuan berbicara dan pengucapan. Keselarasan pun tercipta, jauh dari klaim buta huruf atau sekadar pandai bicara, tetapi tidak pandai membaca.

    Kosakata, pertanyaan, dan jawaban yang dihadirkan sesuai dengan fakta kehidupan sehari-hari tidak memaksa otak pelajar untuk berpikir berat, sehingga pelajaran itu bukan menjadi beban. Otak mereka malahan dengan cepat mencerna segala istilah asing itu karena ada rasa ingin tahu; mereka penasaran mencari apa arti bahasa Inggrisnya. Hal ini berbanding terbalik dengan menjejali istilah asing yang sama sekali tidak terhubung dengan kehidupan mereka; hafalan yang membosankan hanya akan membuat otak bekerja lebih berat dan memaksakan pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan.

    Dengan pendekatan menceritakan tentang keluarga, aspek emosional dan keragaman anak menjadi lebih mudah dikenali. Pelajar tidak perlu diajarkan untuk bercerita, mereka sendiri yang antusias dan berinisiatif bercerita. Ya, benar. Beberapa pelajar ada yang pendiam. Guru bertanya untuk mencari tahu. Oh! Mereka sedih karena ada keluarga dekat yang telah meninggal: ayah, ibu, atau saudara kandung telah kembali ke pangkuan ilahi. Ini menjadi sumber data yang sangat berharga. Guru dapat lebih mengerti keadaan dan tentunya mencari solusi yang efektif agar para pelajar yang rentan itu tetap mempunyai semangat belajar yang tinggi. Empati membuat mereka merasa dihargai dan tidak kehilangan spirit belajar sebagaimana rekan-rekan kelasnya.

    Kisah ini sangat memungkinkan untuk dibawa pulang ke rumah. Anak-anak akan bertanya, “Apa lagi yang ayah dan ibu suka? Nanti kalau guru atau teman bertanya, saya sudah punya jawaban.” Atau, “Ayah tahu nggak, apa itu bahasa Inggrisnya, ‘Saya suka kopi?’” Orang tua di rumah pasti akan senang terhadap antusiasme anak-anak mereka dalam belajar, sehingga memungkinkan untuk menyuruh anak-anak itu membaca buku agar menemukan jawaban yang dicari. Literasi pun pada akhirnya aktif di tempat belajar dan di rumah.

    Niat dan usaha penyebaran pencerdasan dari Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete ini adalah untuk menciptakan lingkungan belajar di berbagai tempat. Memulai dari hal-hal yang mudah dan sederhana, rajin bertanya, dan menjadikan belajar sebagai aktivitas harian dalam menjalani kehidupan. Jadi, di mana pun mereka berada, setiap tempat adalah belajar. Kita turut menciptakan

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 26 September 2026

  • Memerdekakan Pikiran Pelajar

    Memerdekakan Pikiran Pelajar

    Seorang anak remaja mengumpulkan pikiran untuk mengekspresikan kesan pembelajaran Inggris yang ia peroleh di sore hari. Hampir satu menit berlalu. Lalu ia tersenyum dengan mata berbinar. “Saya tidak takut lagi divideo,” kata Afifah Rayya Az Zahra. Ia selalu takut video siaran langsung karena takut salah. Namun, kali ini ia bebas. Sebuah kalimat baru untuk semua perubahan tenses mampu ia lakukan, hampir sempurna.

    Sebagai seorang pelajar pemula, Afifah, anak dua belas tahun, terhenyak kaget (shock) berkenalan dengan Faika, sembilan tahun, dan Adeeva, sepuluh tahun, yang bukan hanya jauh lebih mahir darinya, tetapi juga telah meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional. Ia sangat minder dan berusaha menjauh.

    Guru kelas selalu mencari cara agar Afifah bisa akrab dengan kedua anak itu dan mengikuti sistem belajar yang menciptakan kualitas pelajar yang berdaya saing tinggi. Hati Afifah tergerak. Di bawah bimbingan Fajar Hamzah (Mr. Ancha), ia pun menamatkan satu buku bacaan berbahasa Inggris dan menguasai tenses di luar kepala. Ia pun jadi bangga.

    Penulis yang juga turut terlibat mendidik pun berusaha menambah keyakinan diri Afifah dengan mengajaknya berdialog.

    “Kenapa kamu merasa takut?”

    Dengan jujur ia menjawab, “Saya merasa tidak mampu.”

    Penulis bertanya lagi, “Sekarang kamu sudah tidak takut, kan. Seandainya kamu tidak melawan rasa takutmu, bisakah kamu jadi seperti ini?”

    Ia menjawab, “Tidak.”

    Lalu, penulis memberikan pertanyaan pamungkas, “Apakah sekarang kamu sudah berani bergaul dengan Faika dan Adeeva?”

    “Iya,” jawabnya mantap.

    “Ya, harus begitu. Kamu harus banyak menuntut ilmu untuk bisa lebih percaya diri,” tutup sang guru.

    Afifah dan anak-anak pelajar pemula lainnya dilatih untuk tidak menjadi orang biasa saja. Mental rendah diri, merasa tidak mampu, dan tidak memaksimalkan waktu belajar dihancurkan, sehancur-hancurnya karena hal itu bertolak belakang dengan kemerdekaan berpikir yang bertanggung jawab. Ilmu pengetahuan itu mencerahkan, bukan sekadar mengisi kepala. Mereka diajak untuk terlebih dahulu berani mengubah diri mereka sendiri sebelum mampu mengubah orang lain dan lingkungan terdekatnya.

    Pendidikan dengan spirit yang telah dijelaskan di atas ada pada Rumah Belajar Bersama (RBB) di Bulukumba. Lembaga yang berpikir merdeka ini sangat percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik dari yang terbaik untuk menjadikan kualitas manusia lebih baik dan terus berperan aktif mencari jalan terbarukan untuk selalu bermanfaat bagi sesama.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jumat, 25 September 2026

  • Kurikulum Sakit Perut Salah Obat

    Kurikulum Sakit Perut Salah Obat

    Kunjungan Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, ke sebuah SMK benar-benar menelanjangi kemampuan dasar berhitung pendidikan kita. KDM bertanya perkalian dan pembagian dasar, “14 x 2? 24 : 2?, 12 x 3? Taruna, 12 x 3, berapa Taruna?” Pakaian seragam yang rapi nan menawan itu seolah menampakkan wajah terlihat cerdas, namun itu sama sekali tidak dapat membantu. Ya, pakaian memang tidak mencerminkan isi kepala. Hampir semua pelajar di sekolah itu yang mendapatkan pertanyaan tidak sanggup mengucapkan dua angka puluhan dengan benar. Segelintir pelajar yang mampu menjawab dengan benar pun membutuhkan waktu yang lama. “Kaget, Pak,” kata seorang pelajar. “Bukan kaget. Tidak biasa,” balas KDM. “Masa kalah sama anak-anak Nabire,” lanjutnya. Anak SD dari Papua dibenturkan dengan SMK.

    Satu contoh pelajar SMK yang tidak bisa matematika dijadikan landasan untuk menganggap semua SMK atau SMA tidak bisa matematika disebut overgeneralization (baca:melebih-lebihkan). Apakah contoh dari KDM ini overgeneralization? Hanya orang yang mempunyai pengaruh besar seperti KDM yang bebas memvideokan secara langsung. Maukah pemerintah membuka keran lebih luas untuk diteliti atau, paling tepatnya, memberikan nilai rapor matematika sesuai dengan capaian pelajar yang sesungguhnya?

    Sebagai bagian dari pejabat pemerintah, KDM tidak sedang ingin mempermalukan pelajar SMK itu, tetapi ia sedang membuka mata kita lebih luas bahwa betapa akut persoalan pendidikan: matematika SD tidak bisa dijawab oleh SMK. Ia tidak menyebut secara langsung bahwa kurikulum pendidikan Indonesia telah salah urus. Ketika fakta bicara, 1001 pembelaan pembenaran tak berkutik.

    Sejak tahun ajaran 2025-2026, Koding (Coding) dan Kecerdasan Artifisial (AI) telah diperkenalkan secara bertahap kepada sekolah. Itu mengesankan. Tapi, bagaimana mungkin anak-anak bisa menguasai logika algoritma dan teknologi digital masa depan bila mereka lumpuh pada persoalan-persoalan berhitung paling dasar? Memperkenalkan tantangan penguasaan teknologi masa depan adalah hal penting dan mendesak agar tidak terus menjadi konsumen teknologi. Namun, hal yang paling penting dan paling mendesak ada pada menuntaskan numerasi agar pelajar bisa koding. Janganlah kita jatuh pada lubang yang sama. Bila masih terperosok, mereka akan menggunakan komputer atau HP untuk bermain game dengan alasan belajar koding.

    Hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) 2025 dari pelajar kita di bawah 15 tahun, media Kompas merilis bahwa Indonesia berada di urutan terbawah (peringkat ke-8) di ASEAN dalam domain matematika, berada di bawah Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Filipina, bahkan Kamboja yang mencatatkan lompatan skor yang cukup ekstrem.

    Singapura: 563 poin, Kamboja: 366 poin, dan Indonesia: 364 poin, turun 2 poin dari 366 poin pada 2022. Indonesia tertinggal hampir 200 poin dan Kamboja yang nilainya rendah, negeri kecil itu masih menang dua poin dari Indonesia. Poin tertinggi jatuh pada China: 612 poin. Dari 90 negara, Indonesia menduduki peringkat 78. Untuk dapat dihitung bisa berkompetisi secara global, poin yang Indonesia harus capai adalah 472. Indonesia yang masih berada pada 364 poin harus bisa mengejar minimal 111 poin, hal yang belum pernah diraih selama menjadi anggota PISA sejak tahun 2000.

    Bagaimana dengan realitas anak-anak SD tahun 2026? “Saya pusing dengan murid-muridku,” kata Miss Uci, penggiat pendidikan. “Anak-anak yang dua bulan saja beristirahat les, mereka sepertinya lupa perkalian dan pembagian. Jadi, saya harus meluangkan waktu lagi untuk mengulangi pelajaran mereka. Padahal, sebelum istirahat les, mereka sudah bisa sedikit menalar, bukan menghafal.” Anak-anak itu tetap aktif bersekolah, namun kemampuan berhitung  mereka turun drastis. Kemungkinan besar, mereka kembali pada model pembelajaran yang usang: menghafal saja tanpa konsep proses berpikir tentang cara mendapatkan jawaban.

    Karena itu, rekan-rekan pemerhati matematika di lingkungan belajar pendidikan alternatif itu turut serta mendidik anak-anak agar kemampuan bernalar lebih kuat melekat dalam pikiran anak-anak. Masalah kasuistik kecil merepotkan ini pun teratasi.

    Para pemerhati pendidikan alternatif itu sadar betul bahwa sandaran terakhir dari harapan orang tua dari pelajar ada pada mereka. Selain kerja tim (teamwork), mereka pun selalu mengecek tingkat kemampuan para pelajar agar materi yang diberikan sesuai dengan kapasitas otak mereka. Mengajarkan aljabar pada anak SD itu sangat bisa. Mengajarkan perkalian kepada pelajar SMP dan SMA pun itu wajib ketika aritmatika dasar mereka belum beres.

    Kurikulum bukan didasarkan pada tingkat umur atau tingkat kelas di sekolah, melainkan ukuran kemampuan otak mencerna pelajaran. Untuk apa mengajarkan trigonometri pada anak SMA yang masih belum tahu perkalian dasar tingkat SD? Itu sungguh menghabiskan waktu, anggaran, dan tenaga secara percuma saja. Obat sakit perut janganlah diberikan kepada pasien yang sakit gigi. Meskipun tidak mati, pasien itu bisa sakit hati.

    Sebelum pendidikan Indonesia tertinggal dari Malaysia, para pelajar Malaysia dengan bangga dapat kuliah ke Indonesia. Indonesia mengirim guru dan dosen untuk membantu kurikulum Malaysia. Masa keemasan Indonesia yang digelari “Abang Tua” pada 70-an hingga 80-an ini berakhir ketika Malaysia pada akhirnya membangun kemandiriannya. Sekarang, pelajar Indonesia yang menjadi bangga kuliah ke Malaysia. Bahkan, Indonesia mengirim (Tenaga Kerja Indonesia) TKI, pekerja kasar dalam jumlah besar.

    Komedian Cak Lontong menghibur dengan nada satire. Menurutnya, sumber daya manusia (SDM) Indonesia kualitasnya menurun. Data tidak bisa dibantah, tapi kesimpulan mereka seratus persen salah. Tahun 90-an dan 2000-an, pembantu yang diimpor dari Indonesia. Bukan kualitas SDM Indonesia yang turun, kita tetap hebat. Yang turun adalah selera mereka yang turun. Dulu mereka suka guru, sekarang mereka suka pembantu.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 24 September 2026

  • Ilusi Pendidikan Gotong Royong

    Ilusi Pendidikan Gotong Royong

    Seorang anak bertanya, “Mister, kenapa pelajaran bahasa Inggris di sini berbeda dengan di sekolah?” Pertanyaan ini bagus karena ia telah membandingkan meskipun belum tahu bahwa apa yang ia pelajari sebenarnya menyelesaikan pelajaran sekolahnya. Untuk apa orang tuanya mengirim anaknya untuk menambah jam belajar di lembaga nonformal bila mereka yakin pada pelajaran sekolah? Sang guru kemudian menjawab, “Pelajaran kalian di sini sama sekali tidak mengikuti kurikulum sekolah. Buku-buku yang kamu pelajari dari literatur Inggris dari Amerika Serikat, standar internasional. Jadi, kalau kamu mengerti materinya, kemungkinan besar pelajaran sekolahmu jauh lebih mudah.”

    Seorang anak yang lain mendengar obrolan itu menambahkan, “Iya, Mister. Gampang sekali pelajaran sekolah.” Guru mencoba mengkritik, “Jangan menganggap remeh. Coba buktikan bahwa itu gampang?” Bocah itu tersenyum lalu berkata, “Pelajaran cuma apa itu bahasa Inggris dari meja, papan tulis, buku serta lainnya.” Guru menanggapi, “Iya. Itu memang mudah. Cuma, kalau kamu mau tidak belajar lebih bisa tidak mengerti?” “Iya juga sih. Teman-teman banyak yang tidak bisa bahasa Inggris,” jawabnya tanda sepakat.

    Cerita ini adalah gambaran dari realitas pendidikan kita di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk fasilitas yang serba canggih. Kurikulum bahasa Inggris sekolah itu bagus. Guru-guru sekolah tidak boleh disalahkan. Mendidik adalah tanggung jawab guru, kenapa tidak boleh disalahkan atas rendahnya kualitas mengajar mereka? Karena sejatinya, mereka bukan guru bahasa Inggris yang “terpaksa” mengajar bahasa Inggris. Ini adalah efek dari keputusan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang tidak merekrut sarjana bahasa Inggris sebagai guru sekolah. Kemendikdasmen lebih mendidik guru sekolah yang sudah ada untuk belajar bahasa Inggris.

    Persoalan yang muncul adalah guru-guru tersebut belum tentu minat bahasa Inggris dan meskipun mengikuti pelatihan, waktu untuk menjadi cukup mahir pasti panjang. Belum lagi masalah jatah mendapatkan pelatihan gratis itu bertahap. Sekolah yang terlambat mendapatkan pelatihan pasti lebih jauh tertinggal. Kesenjangan pendidikan menganga dengan sangat lebar. Banyak hal jadi terlambat, telat (bukan telak). Dinas Pendidikan di daerah yang sesungguhnya tahu masalah ini, tetapi tidak mengambil inisiatif membuat solusi melengkapi kegagalan pendekatan struktural ini. Fungsi otonomi daerah yang seharusnya bisa melahirkan solusi lokal berada di garis merah, gagal. Menunggu instruksi pusat dan keterbatasan anggaran adalah jalur paling aman. Tidak ada kegagalan dan tidak ada yang dilanggar.

    Kita beruntung karena di tengah maraknya kapitalisasi pendidikan, masih banyak lembaga pendidikan nonformal yang masih mempunyai spirit Ki Hadjar Dewantara atau tokoh intelektual lainnya, memanusiakan manusia dengan menawarkan pendidikan dengan harga terjangkau. Tetapi ingat, itu tetap berbayar karena minimal lembaga itu masih harus membiayai denyut nadi napas lembaga dan berjuang untuk para guru yang berkualitas dan berdedikasi yang tinggi untuk bisa hidup lumayan layak. Anak-anak yang kehidupan orang tuanya berada pada kehidupan ekonomi lemah—dalam piramida, ini adalah basis paling bawah dan terbanyak. Mayoritas dari mereka tidak dapat tertampung meskipun terdapat beasiswa. Mereka harus puas dengan mengandalkan pelajaran sekolah saja.

    Lembaga nonformal ini bergerak bukan atas dasar mencari keuntungan kapitalis semata, melainkan manifestasi nyata dari Sila Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Paham sosialis ala Indonesia itu masih hidup tidak pernah dihapus. Menurut B. J. Habibie, basis kelas menengah itu sebenarnya mempunyai peranan penting untuk membantu gerakan sosialis tersebut. Ya, itu semacam strategi untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

    Ide ini bagus karena terjadi kolaborasi untuk saling bahu-membahu—gotong royong bila mengikuti istilah budaya orang Indonesia. Lembaga-lembaga yang membangun kemandirian dan mempunyai kreativitas tersendiri, meskipun mengalami krisis kepercayaan pada sistem pendidikan, semestinya bersedia untuk mau bergandengan tangan. Sejatinya, kesadaran dan persatuanlah yang akan membuat rakyat dan negeri tercinta kita ini jadi maju.

    Cap “berbeda” dan “terlalu gampang” yang dengan gamblang disebutkan anak-anak adalah jurang pemisah dari sistem pendidikan yang saling bertolak belakang perlu diubah untuk saling tarik-menarik ke depan memajukan pendidikan Indonesia. Betapapun ini hampir mustahil, setidaknya kita tidak boleh kehilangan harapan. Apakah ini ilusi atau nyata? Nanti waktu menjawabnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 23 September 2026

  • Menyelamatkan “Saudara-Saudara” Pinisi

    Menyelamatkan “Saudara-Saudara” Pinisi

    Membuat tulisan tentang perahu tradisional bersama Dr. Horst H. Liebner tidak butuh banyak kata, sebisa mungkin sedikit saja dengan makna yang padat. Yang banyak adalah pembahasannya. Membahas 50, 100 sampai 200 kata saja menghabiskan lebih dari empat jam. Terlebih lagi, pembahasan yang sama akan diulang lagi di hari berikutnya.

    Ah! Bagi kita orang Indonesia, itu mungkin terasa sangat melelahkan termasuk saya. Sesuatu yang sudah tersusun rapi masih saja didiskusikan atau diperdebatkan. Apakah memang begini cara otak orang Jerman yang cerdas itu bekerja? Kami—Horst, Anjar dan saya—pun harus menginap dua hari di Bira untuk memperluas waktu saling bersilat lidah untuk mencari penempatan kalimat yang benar dan mudah dipahami pada tulisan itu.

    Kertas tulisan yang menjadi bahan pembahasan 

    Kok masih diperdebatkan ya? Itu berarti masih ada masalah. Dari sini saya mendapatkan pelajaran bahwa sesuatu yang sungguh berkualitas baik mesti selalu siap dikoreksi dan mau menerima perubahan untuk mendapatkan hasil yang semudah dan sepraktis mungkin bagi pembaca.

     

    Dr. Horst Liebner terus menerus berusaha memperbaiki tulisan dari hasil kajian bersama.

    Setelah puluhan lembar dari kumpulan tulisan yang sangat pendek itu dihamparkan di atas meja, semakin jelas segala kelemahan yang telah dibuat. Kami pun terus merevisi dan mencari solusi agar setiap satu tulisan terhubung dengan lainnya, saling kait mengait. Karena bekerja dengan sebuah team yang meskipun sedikit, beragam solusi dihadirkan dan kemudian solusi terbaik dari hasil bermusyawarah–bukan debat lagi–disepakati.

    Sekadar info tambahan, apa yang kami sedang kerjakan ini adalah hal yang sama berharga karena kami mengabadikan berbagai macam model perahu tradisional dengan segala bagian-bagiannya serta bagaimana para Panrita Lopi membuat perahu. Bila tidak dicatat, khazanah kekayaan ilmu pengetahuan yang luar biasa ini akan tenggelam oleh zaman, tidak meninggalkan jejak abadi. Lagi pula, bahasa yang digunakan diupayakan sebisa mungkin dipahami oleh generasi gen Z dan Alfa. Misalnya, halo cess atau gitu kan? Itulah mengapa struktur tata bahasa yang rapi digabungkan dengan gaya bahasa anak-anak zaman sekarang.

    Di sela-sela kesibukan. Kami sempat berfoto. Ada rekan Nur Anjas, seorang guide profesional di Bira dan manager Nusa Bira Indah Hotel, bersilaturahmi ke tempat kami sedang bekerja di Bira Dive Camp.

    Ke depan, orang akan lebih mengerti bahwa pengetahuan perahu tradisional Indonesia dari Bulukumba yang pembuatannya menyebar di kecamatan Bonto Bahari: Tanah Beru, Lemo-Lemo, Bira, dan Ara serta sekarang di Samboang Kecamatan Bonto Tiro dapat terwariskan kepada generasi berikutnya. Perahu Pinisi yang mendunia itu mempunyai banyak ‘saudara’ yang disiap diperkenankan kepada dunia minimal dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bira, 21 September 2026