Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Mendobrak Malu Belajar demi Kuliah ke Cina

    Mendobrak Malu Belajar demi Kuliah ke Cina

    Seorang pemudi tamatan SMA tertarik belajar bahasa Inggris. Ia mencari informasi di media sosial, menemukan Rumah Belajar Bersama (RBB) mengadakan kegiatan belajar selama liburan sekolah, satu bulan. Kontan saja ini menarik perhatian karena jarang ada muda-mudi yang mau belajar bahasa Inggris. Alasan paling umum, malu.

    “Saya mau kuliah di Cina,” kata Novi Amelia. Ide yang cukup berani. Para guru mengira Novi ingin lanjut kuliah di Indonesia. “Baiklah,” kata guru, “Kampung Belajar yang kamu pilih ini menyediakan sembilan jam sehari,” kata seorang guru RBB, “kita bisa lihat nanti sejauh mana capaianmu menyelesaikan materi dasar. Bila kamu cepat memahami, kami para guru bisa membuatnya lebih cepat lagi.” Novi menganggukkan kepala sebagai tanda menyanggupi ajakan itu.

    Hari-hari belajar berlalu dengan baik. Novi memang cukup rajin datang ke kelas, menyimak pelajaran dengan baik dan praktik bicara. Sayangnya, kondisi fisiknya yang kadang kurang fit membuatnya sesekali tidak hadir di kelas. Sekali waktu ia berkata, “Apakah saya bisa ke luar negeri?” Pertanyaan itu ia ajukan pada dirinya sendiri, namun dengan suara agak nyaring. Penulis menanggapi, “Sangat bisa. Pertahankan dan kalau perlu, tingkatkan semangat dan kualitas belajarmu. Kamu masih muda dan mempunyai banyak waktu. Cita-cita yang tinggi itu harus diikuti dengan belajar ekstra giat.” Ia kembali menganggukkan kepala.

    Novi menyelesaikan pelajarannya di Kampung Belajar dengan kualitas sedang. Ia pun mengambil jeda istirahat, sekitar hampir satu bulan. Tiba-tiba, ia kembali lagi belajar di RBB mendaftar dua kelas: Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Kehadirannya di kelas jauh lebih efektif dari sebelumnya. Tingkat fokus belajarnya pun jauh lebih baik, aktif mengerjakan latihan Grammar dan Reading serta rajin tampil di depan video live (siaran langsung) untuk menerangkan hasil kerjanya dalam bahasa Inggris. Mr. Fajar Hamzah, guru kelas Reading, mengapresiasi usahanya itu dengan memberikan bonus kelas tambahan di malam hari. Ia bebas memilih materi yang ia suka.

    Saat penulis sesekali memperhatikan kelas malam, Novi sering mengerjakan latihan pada buku Grammar-nya. Pilihannya itu sangat sejalan dengan dunia akademik yang menjadi cita-citanya. Tidak lama lagi, ia akan menamatkan Basic English Grammar—lebih dari sepuluh bab ia telah tuntaskan dari enam belas bab. Kecepatannya dalam mengerjakan latihan didukung oleh pemahamannya yang sudah lumayan baik pada latihan tenses di luar kepala. Ia tidak begitu kebingungan lagi menganalisis perubahan kalimat tingkat dasar.

    Sementara itu, buku Reading yang ia pelajari itu sudah hampir tamat. Buku itu memang tidak terlalu tebal, mungkin seperempat dari Basic English Grammar. Namun, pada tiap lesson (pelajaran), Novi dituntut untuk memahami arti bacaan cerita karena ia harus mampu menjawab isi dari soal-soal cerita tersebut yang sesuai kaidah grammar. Di sini, literasi berbahasa Inggris tertanam dengan baik.

    Prediksinya, dalam satu atau dua minggu, Novi bisa menamatkan buku Reading. Ini karena ia sudah punya cukup bekal grammar untuk bisa menjawab soal-soal, tanpa harus banyak bertanya lagi. Bila ia tidak berhenti, ia berhak lanjut ke tahap Pre-Intermediate Reading. Prediksi penulis tidak sepenuhnya dibenarkan oleh Mr. Fajar Hamzah. “Kalau Novi tidak datang terlambat ke kelas, itu bisa,” kata Mr. Fajar, “Pada beberapa pertemuan terakhir ini, ia agak telat karena ada urusan penting lainnya yang harus ia selesaikan.”

    Sementara itu, buku Basic English Grammar membutuhkan waktu sedikit lebih lama, satu bulan karena selain jumlah soalnya yang sangat banyak, kemampuan untuk menganalisis soal pada bab yang baru membutuhkan waktu dan energi lebih. Otak benar-benar diperas untuk mampu membaca tipuan atau jebakan soal. Namun, ini bukan persoalan. Justru, pelajaran ini akan membuatnya lebih matang bila ke depan, ia bertemu dengan materi tingkat tinggi seperti TOEFL dan IELTS.

    Terlepas berhasil atau tidaknya dari proses belajar Novi untuk kuliah di luar negeri—semoga saja berhasil—ia telah menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh, pemudi yang tidak hanya berkhayal, tetapi juga berusaha mewujudkan cita-cita yang tinggi. Selama ia belajar, ia sama sekali tidak malu untuk bertanya kepada pelajar yang lebih muda darinya, terlebih kepada pelajar yang lebih dewasa dan itu adalah tanda-tanda kesuksesan bagi penuntut ilmu.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 5 Agustus 2026

  • Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

    Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

    Izzatunnisa dan Nabila dua orang pelajar kelas 4 SD baru saja (03/08/2026) membuktikan kefasihannya mendemonstrasikan seluruh struktur perubahan verbal tenses di luar kepala secara teratur. Seberapa besar kalkulasi matematis capaian mereka?

    Bayangkan saja, ada 16 tenses.
    Dalam setiap tense, terdapat 6 perubahan kalimat dengan satu subjek, kecuali subjek “I” hanya 4 perubahan kalimat karena pada present progressive tense, “I am not” dan “Am I not” tidak punya singkatan sehingga itu dihitung 4 perubahan kalimat saja meliputi kalimat positif, pertanyaan, negatif, dan pertanyaan negatif.

    Subjek yang mereka praktikkan pada tiap tenses sebanyak 10: I, you, they, we, He (Adam), She (Hawa), dan It (A cat). Itu berarti:

    * 1 subjek, 6 perubahan kalimat.
    Keterangan:
    1 kalimat pada positif.
    2 kalimat pada negatif.
    1 kalimat pada pertanyaan positif.
    2 kalimat pada pertanyaan negatif.
    Total = 6 kalimat.

    * 10 subjek, 60 perubahan kalimat dalam satu kotak tense.
    * 16 kotak tenses, 960 perubahan kalimat.

    60 x 16 = 960.
    960 – 2 = 958. Pengurangan 2 itu bersumber dari “I am not going? and Am I not going?“, tidak bisa dihitung 6, tetapi 4.
    Total seluruh kalimat tenses = 958

    958 kalimat itulah diucapkan tanpa melihat buku catatan, live (siaran langsung) di akun Facebook Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Izzatunnisa. Pelajar ini pada awalnya belajar bahasa Inggris “suka-suka” saja. Ia termasuk anak yang tidak mau menjawab soal-soal pada bacaan berbahasa Inggris. Melihat teman-temannya bertambah lancar, tiba-tiba ia mengatakan, “saya mau menguasai tenses.” Niatnya itu kini terbukti. Hanya dalam dua minggu, ia menuntaskannya. Semoga spirit belajarnya semakin meningkat.

    Langkah berikutnya adalah menguasai tenses tersebut secara acak. 958 kalimat akan ditanyakan ulang menggunakan kalimat yang berbeda-beda pula. Inilah saatnya di mana setoran irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) yang mereka telah pelajari sebelumnya berfungsi. Mereka akan menemukan jawaban mengapa terjadi perubahan verb 1, 2, dan 3 dalam bahasa Inggris, tetapi tidak dalam bahasa Indonesia.

    Pelajaran dasar lainnya, Izzatunnisa dan Nabila diwajibkan juga menyetor nominal tenses—ordinary verb (kata kerja utama) menggunakan be—yang prosesnya sama sewaktu mereka belajar verbal tenses. Meskipun nominal tense jauh lebih mudah, materi ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena itu adalah pembandingnya verbal tenses. Bila pelajar tidak mampu membedakan dasar-dasar verbal tenses vs nominal tense, mereka dianggap masih belum mengerti tenses dengan baik.

    Nabila. Anak ini cerdas, cepat memahami pelajaran,.namun seperti halnya kebanyakan anak-anak, ia ingin lebih banyak bermain. Dalam beberapa waktu terakhir, ia diingatkan bahwa potensi kecerdasannya sangat besa. Sayang sekali bila ia sendiri sengaja memperlambatnya. Perubahan kemudian terjadi dengan dengan meminta untuk selalu di-video terutama pada setoran tenses. Akhirnya, ia pun tuntas.

    Metode belajar ini memang sungguh berbeda, tidak lazim. Jangankan institusi formal seperti sekolah, lembaga nonformal seperti kursus jarang yang berani menerapkannya. Permasalahannya terletak pada konsep waktu dan kejadian pada kalimat dari tata bahasa Indonesia sangat jauh berbeda dengan bahasa Inggris. Selain itu, dalam frasa semisal noun phrase (frasa benda), struktur sintaksis bahasa menganut pola DM (Diterangkan-Menerangkan), sementara Inggris menganut pola MD (Menerangkan-Diterangkan).

    Indonesia
    Wanita (D) + Cantik (M) = Wanita Cantik.

    Inggris
    Beautiful (M) + Girl (D) = Beautiful girl.

    Frasa yang berada dalam kalimat dalam bahasa Inggris dianggap terbolak-balik dalam pikiran pelajar Indonesia. Lebih parah lagi pada verb (kata kerja). Indonesia tidak mengalami perubahan pada kata “pergi”, tetapi bahasa Inggris berubah menjadi “to go, go, goes, went, gone, going“.

    Bahasa Indonesia:
    Saya pergi ke sekolah setiap hari.
    Saya pergi ke sekolah kemarin.

    Di sini, “pergi” tidak mengalami perubahan.

    Bahasa Inggris:
    I go to school every day.
    I went to school yesterday.

    Di sini, “go” berubah menjadi “went“. Bahasa Inggris mengalami banyak perubahan kata kerja.

    Demikian sekilas kerumitan sederhana yang ditampilkan di sini. Wajar saja jika sebagian besar orang yang tidak mengerti alur berpikir seperti ini menganggap itu tidak penting, bikin pusing kepala. Padahal, bahasa besar lainnya seperti bahasa Arab juga mengalami perubahan yang mirip dan bahkan lebih kompleks daripada bahasa Inggris.

    Mengingat beratnya tantangan linguistik tersebut, di Indonesia sendiri lembaga seperti SMART, BEC, dan ELFAST di Kampung Inggris Pare di Jawa Timur yang mempunyai kapasitas mumpuni bersedia menerapkannya. Perbedaannya, para pelajar mereka dominan remaja dan dewasa yang ingin bekerja atau kuliah S-1, S-2, dan S-3 di dalam dan luar negeri, bukan anak SD sebagaimana yang di RBB.

    Lalu, apa keistimewaan tenses di luar kepala ini? Pertama, para pelajar akan terbiasa menggunakan kalimat yang benar saat berinteraksi dengan orang lain. Kedua, membaca teks dalam bahasa Inggris akan lebih mudah dipahami. Ketiga, mampu menjawab soal-soal esai. Pembelajaran untuk tujuan akademis dan non-akademis tercapai.

    Let’s make a better place for our next generation.

    Kesiapan pencapaian akademis inilah yang menjadi modal utama bagi para pelajar SD RBB termotivasi menguasai tenses. Mereka bersiap menghadapi tantangan besar, mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris. Bercermin dari realitas, para pelajar yang diberikan pelatihan olimpiade adalah mereka yang telah menguasai tenses. Hal ini sengaja dibuat demikian agar terdapat alasan untuk mau belajar lebih giat. Tentu saja, bagi pelajar yang berminat dan memenuhi syarat yang ditetapkan, mereka tentu akan mendapatkan pelatihan olimpiade. Tetapi, makna yang sebenarnya yang hendak dibangun adalah penguasaan dasar-dasar bahasa Inggris sebagai kunci utama untuk bisa melejit, berkembang dengan sangat pesat sehingga pengetahuan mereka bisa digunakan untuk kepentingan olimpiade dan berbagai macam kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan cita-cita pelajar itu sendiri. Pekerjaan ini memang ekstra, namun setelahnya, percepatan pencerdasan lebih mudah tercapai. Kesulitan pelajaran pada materi tingkat lanjut akan tampak lebih sederhana di mata para pelajar.

    Manifestasi nyata dari kemudahan memahami materi ini langsung diterapkan pada aspek penting berikutnya, yaitu speaking (bicara). Para pelajar ini perlu diajak saling bercakap-cakap secara berpasangan. Izzatunnisa dan Nabila telah menamatkan satu buku Basic Reading (Bacaan Dasar) secara otomatis mempunyai perbendaharaan kosakata yang cukup banyak. Kosakata yang mereka miliki itu yang akan diolah dalam bentuk dialog untuk memudahkannya memahami makna dan arah pembicaraan. Bahan percakapan lain dengan mengikutkan kosakata yang baru pasti ikut serta—pengembangan lain pun harus terus berjalan.

    Dari proses belajar yang baik dari kedua anak berbakat ini, kecerdasan mereka tidak boleh dinikmati sendiri, menang sendiri. Bila dibiarkan, tanpa sadar kita telah menanamkan paham individualisme, egoisme menang sendiri kepada anak-anak kita yang itu bertentangan dengan ajaran agama khususnya Islam dan negara kita menganut yang paham “keadilan sosial” yang tertera jelas pada sila kelima di Pancasila.

    Oleh karena itu, tiap anak yang telah berhasil mencapai kemampuan di atas rata-rata dari rekan sesama pelajarnya dilatih untuk mengamalkan ilmunya minimal kepada rekan-rekan terdekatnya. Konsep peer tutoring (belajar sebaya) ini menciptakan keseimbangan pemahaman dalam kelas belajar, tidak menciptakan jurang pemisah yang menganga lebar antara pelajar yang bodoh dan pintar. Semuanya berlatih untuk pintar. Sistem kerja sama di kelas inilah yang menghapus kesenjangan. Lagi pula, pelajar yang mendapatkan kepercayaan untuk berbagi ilmu, ilmunya pasti bertambah, tidak pernah berkurang sedikit pun.

    Berangkat dari contoh kecil dari keberhasilan Izzatunnisa dan Nabila yang masih SD itu, apakah kita mau lebih berani dan lebih siap melakukan terobosan yang lebih besar? Apakah omong kosong kesuksesan di laporan lembaran kertas akan terus dipertahankan? Apakah kita bersedia berkorban mengerahkan seluruh potensi kecerdasan dan tenaga untuk masa depan generasi yang lebih baik?

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Selasa, 4 Agustus 2026

  • Tulisan Gadis Cilik Mengejutkan Para Intelektual

    Tulisan Gadis Cilik Mengejutkan Para Intelektual

    Mengejutkan! Seorang anak dua belas tahun bernama Fathiyah Syabila Nur Faisyal telah menulis sebuah buku berbahasa Inggris berjudul 10 Months of Hardwork. Faisyal, ayahnya, memperkenalkan buku itu. Setelah membaca sekilas, isinya tentang short story collections (Koleksi cerita pendek) yang lumayan tebal, 192 halaman. Bahasanya cukup sederhana, cocok ditawarkan buat para pelajar yang suka olimpiade bahasa Inggris sebagai penguatan pada teks reading (bacaan).

    “Saya baru mau menulis seperti ini, Fathiyah sudah melakukannya,” ungkap penulis yang menyangka ada anak yang mampu melakukan hal tidak lazim dan luar biasa. Penulis kemudian berbagi cerita tentang pelajar Sekolah Dasar (SD) yang mempunyai daya saing seperti beberapa pelajar SD di Bulukumba yang telah meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris.

    Buku Ten Months of Hardwork karya Fathiyah Syabila Nur Faysal, terbit tahun 2026.

    Adapun sang ayah bercerita bahwa setiap anak di sekolah anaknya, Al Biruni di Makassar, wajib membuat karya. Sedangkan penulis, menekankan penguatan grammar (tata bahasa) bila Fathiyah ingin berkompetisi olimpiade dan penguatan yang lebih kokoh dalam menulis.

    Sebagai bentuk apresiasi kepada Fathiyah, penulis meminta agar buku yang jumlahnya sangat terbatas itu berkenan dijual. Ini sebagai bukti konkret untuk memotivasi pelajar yang berada di lingkungan penulis untuk melakukan hal yang sama seperti Fathiyah: menulis bukanlah kemustahilan bagi pelajar SD lainnya.

    Lalu, Faisyal berbicara dengan Fathiyah, Fathiyah bersedia menjual bukunya. Alhamdulillah! Ada data sejarah yang bisa dibedah.

    “Tolong tanda tangani,” kata penulis. “Ini untuk kedua kalinya saya meminta tanda tangan. Pertama adalah Yudi Latif pada buku Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20.”

    Tanda tangan Fathiyah pada karya bukunya.

    Fathiyah tidak tahu siapa itu Yudi Latif dan tokoh-tokoh besar lainnya yang penulis hadiri bedah bukunya. Ia pun tidak perlu tahu. Yang ia perlu ketahui bahwa apa yang ia lakukan itu sangat berharga.

    Sebagai bentuk dukungan lanjutan kepada Fathiyah, penulis menanyakan kepada Faisyal agar menyediakan papan tulis. Bila ada kesempatan, mengkaji struktur penulisan Fathyah dan sekaligus pendalaman grammar dapat dilakukan. Ini dapat dilaksanakan lagi pada pertemuan berikutnya saat penulis berkunjung ke Makassar lagi. Faisyal mengangguk.

    Begitulah! Di balik kesuksesan anak itu, orang tua memiliki peranan yang sangat vital karena ia sadar akan pengetahuan yang dibutuhkan oleh anaknya yang sesuai tuntunan perubahan zaman. Pada titik ini, Faisyal mampu membaca dengan sangat baik terhadap bakat anaknya dalam dunia komunikasi dan memberikan energi penuh agar anaknya mampu mengerti bahasa asing.

    Sehubungan dengan hal itu, ketertarikan kepada Fathiyah muncul untuk mendukung faktor wow pada potensi pelajar yang berbakat. Penulis teringat pada Andi Widya Maulidyah, pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB), mahasiswa baru di Universitas Negeri Makassar (UNM), yang pada 2026 ini baru saja meraih juara 1 Kompetisi Grammar di universitas. Fathyah bisa melakukan hal yang sama dan mempersiapkan diri untuk kompetisi yang lebih tinggi hingga ke tahap internasional.

    Bisakah para intelektual kita turut aktif berpikir mencetak pelajar yang “mengejutkan?”

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Minggu, 12 Juli 2026.

  • Rahasia Kelas Bahasa Inggris Seru dan Interaktif

    Rahasia Kelas Bahasa Inggris Seru dan Interaktif

    Far, far, far and near, near, near (jauh, jauh ,jauh dan dekat, dekat, dekat) adalah permainan mengenalkan kosakata dasar bagi para pemula yang diterapkan oleh Fathy Cayadi dalam menyederhanakan pelajaran bahasa Inggris. Total Physical Response Respon Fisik (Respons Fisik Total) melalui ucapan kata atau perintah dengan gerakan tubuh secara langsung adalah metode belajar bagi anak-anak dan remaja di Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete ini memudahkan untuk mengerti arti kata, tentunya terlebih dahulu dipahamkan dengan penerjemahan dalam bahasa Indonesia. Kemudian, permainan seru-seruan pun mengikuti.

    Patut diingat bahwa betapapun permainan menyenangkan, itu sama sekali tidak cukup. Pembelajaran yang lebih kaya kosakata mengikuti. Miss Fathy dan Mr. Ancha memberikan pengenalan pekerjaan secara bergantian dalam bentuk percakapan sesama pelajar.

    1. Pekerjaan. “What’s your job?” (Apa pekerjaanmu?). Pertanyaan ini otomatis membuat mereka merasa perlu tahu berbagai macam pekerjaan. Doctor, engineer, teacher dan sebagainya menjadi bahan jawaban percakapan.
    2. Kepemilikan. Misal, My book atau Ahmad’s book (bukuku atau bukunya Ahmad).
    3. Kata kerja. Misal go, went, gone (pergi) atau be (am, is, are). Ini baru pengenalan saja tanpa perlu mengaji lebih jauh. Setelah mereka cukup akrab, ini berfungsi untuk mengenal tenses, konsep tentang kejadian pada waktu tertentu.

    Tiga jam belajar adalah waktu yang cukup panjang sehingga beberapa kali review sangat efektif memahamkan materi. Penguatan lebih mendalam dilakukan dengan literasi, membaca buku Inggris disertai modul terjemahan bahasa Indonesia.

    Materi itu terlihat banyak. Agar pelajar tidak jenuh, terdapat beberapa kali waktu keluar main plus istirahat karena shalat Ashar. Ini membuat para pelajar terlihat fresh (segar), siap menerima pelajaran baru.

    Betapapun masih pemula, kondisi kelas mulai diupayakan lebih banyak berbicara dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesia masih digunakan untuk memahamkan maksud dari materi yang diajarkan.

    Kemungkinan dua sampai tiga bulan untuk membuat pelajar akrab dengan dasar-dasar bahasa Inggris dengan maksud memperoleh perbendaharaan kata sudah cukup banyak. Kemudian, guru dapat mengelolanya lebih mendalam dengan mengombinasikan antara speaking, reading dan pronunciation (bicara, bacaan dan pengucapan).

    Semangat dan konsistensi belajar akan mewujudkan harapan indah tersebut menjadi nyata.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Sabtu 11 Juli 2026

  • RBB: Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    RBB: Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    Jangan mengandalkan sumber daya alam (SDA). Andalkanlah sumber daya manusia (SDM) yang terbarukan. Itulah pengingat B. J. Habibie kepada Indonesia yang selalu mendengungkan SDA. SDA tanpa SDM, nilainya sangat rendah. Dan untuk menciptakan daya saing global, Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), mendorong pelajar Indonesia menguasai bahasa Inggris.

    Kemampuan berbahasa Inggris di Indonesia sangat banyak dipengaruhi oleh pendidikan alternatif karena kurangnya jam belajar bahasa Inggris dan pembiasaan bahasa Inggris di sekolah. Kemudian, muncullah beragam ide. Dalam skala mikro, Fathy Cayadi, guru bahasa Inggris di SMA 2 Tanete di Bulukumba, membaca dengan baik peluang ini. Ia mengadakan penelitian tidak resmi dengan menjejajaki lembaga pendidikan yang dianggapnya mempunyai kualitas yang punya daya saing. Pilihannya jatuh pada Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Oleh RBB, Fathy dipercaya punya kemampuan praktik bahasa Inggris yang bagus untuk menangani pelajar sekolah. Namun, ia tidak serta merta bangga. Berbekal pengetahuan Inggrisnya, ia mampu membaca bahwa RBB menerobos pembelajaran yang tidak lazim dilakukan. Karena itu Ia ingin kurikulum RBB yang meliputi Reading, Speaking, Grammar dan Pronunciation (Bacaan, Bicara, Tata Bahasa dan Pengucapan) diterapkan juga di Tanete.

    Ditilik dari kejadian terbaru, tahun 2026 ini, pelajar RBB yang baru saja kuliah bernama Andi Widya Maulidyah meraih emas pada grammar (tata bahasa) di Universitas Negeri Makassar dan bahkan, dua pelajar SD meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional: Faiqa Qhinara Putri Ridwan pada National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO) dan Adeeva Syakila Zulfikar pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS).

    Capaian pada orang dewasa hingga anak-anak ini memberikan sinyal bahwa RBB mengendepankan SDM—inspirasi B. J. Habibie—dan turut mempersiapkan dan memperbanyak para pelajarnya pada kompetisi tingkat nasional dan internasional nantinya. Untuk itu pelebaran sayap lembaga seperti cabang di Tanete perlu diperluas dalam rangka merekrut dan membina pelajar berbakat.

    Tanete Menjawab Tantangan Zaman
    Penulis yang mengunjungi kelas perdana RBB di Tanete melihat potensi yang sangat besar dari para pelajar Miss Fathy. Spirit belajar mereka hampir sama dengan pelajar RBB di Kota Bulukumba. Mereka mampu mengikuti pelajaran, mendengar dengan baik dan berbicara dengan benar. Mereka hanya perlu mendapatkan pelajaran yang tersistematis.

    Setelah mengetahui peluang pencerdasan yang sangat potensial dari pelajar di Tanete ini, yang dibutuhkan saat ini adalah konsistensi jam belajar yang melebihi jam belajar sekolah dan pendampingan pemahaman pelajaran yang berkelanjutan–inilah posisi yang paling penting dari Miss Fathy.

    Kombinasi yang apik antar guru dan para pelajar akan terwujud dengan dukungan orang tua pelajar. Kita tahu tantangan terberat pelajar zaman sekarang ini adalah gadget yang membunuh kreatifitas pelajar. Orang tua sadar bahwa mengikutkan anak pelajaran bahasa Inggris dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif, solusi pengetahuan dari kebuntuan menghabiskan waktu dengan percuma bermain games.

    Ini adalah kunci menuju tangga keberhasilan. “Kebanyakan pelajar yang bergabung,” kata Fathy, “karena orang tuanya yang menganjurkan. Ini adalah suatu bukti bahwa masyarakat Tanete juga punya kesadaran akan pentingnya bahasa Inggris di zaman sekarang.”

    oplus_0

    Guru, pelajar dan orang tua saling kait mengait sehingga perlu terus terkoordinasi dengan baik agar percepatan pencerdasan itu dapat dibumikan di lingkungan terdekat, tempat di mana kegiatan belajar tersebut berlangsung. Saatnya berpikir bahwa sumber daya alam adalah pendukung pengembangan SDM.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 10 Juli 2026

  • Taman Kebebasan di Kampung Belajar

    Taman Kebebasan di Kampung Belajar

    Siapa yang datang lebih dahulu, dialah yang mendapatkan pelayanan. Seperti itulah gambaran sederhana bagi Aul yang terbiasa paling cepat datang di kelas pagi Kampung Belajar. Guru kelas yang senang melihat spirit dan disiplin belajar yang luar biasa ini pun senang dan memberikan pelajaran yang terbaik
    —fokus perhatian tertuju pada satu orang saja, Aul itu sendiri.

    Aul, pelajar SD dari Kecamatan Herlang yang jauh-jauh datang ke Bulukumba untuk ikut Kampung Belajar.

    “Aul, kamu bebas memilih. Mau belajar pronunciation, speaking atau reading?” tanya guru. “Saya sangat suka irregular verbs, Mister,” balas Aul. “Baiklah. Baca saja 70 perubahan irregular verbs itu beserta artinya,” respon guru yang mencoba masuk dari hal yang Aul senangi. Karena Aul seringkali mengulangi latihan ini, anak kelas 2 SD ini hanya melakukan kesalahan kecil dalam membaca dengan suara nyaring. Ia menuntaskan bacaannya dengan hati yang gembira.

    Fifi, pelajar berasal dari Desa Caramming, Kec. Bonto Tito, bersekolah di SMA Bonto Bahari dan liburan di Kampung Belajar di Kota Bulukumba

    “Saya sudah lulus kan, Mister?” tanya Aul. Guru tertawa dan menjawab, “Belum. Materinya harus kamu pahami di luar kepala. Kemudahan diberikan dengan cara kamu boleh melihat verb 1. verb 2 dan verb 3 harus kamu endapkan baik dalam pikiranmu karena hal itu tidak boleh kamu lihat,” ungkap gurunya. Aul terheran-heran tapi tidak menanggapi. Ia mungkin sadar karena ia melihat rekan lainnya yang hampir seumuran dengannya mampu memahami irregular verbs dengan aturan yang menurutnya agak ketat tersebut. Dengan pemahaman itu, ia selalu berusaha untuk bisa selevel dengan pelajar lainnya.

    Fauzan, pelajar DDI Bantaeng berlibur di Kampung Belajar, Bulukumba.

    Ketika pelajar Kampung Belajar yang lain datang, mereka pun ikut arus–membaca irregular verbs hingga tuntas. Satu persatu tampil di depan kamera melalui siaran langsung di Facebook. Kemajuan mereka juga menggembirakan. Mereka sudah sama memungkinkan untuk dikelola pada pelajaran tenses di luar kepala, sebuah pengantar untuk membuka pintu gerbang pemahaman kalimat dalam bahasa Inggris.

    Heri yang baru saja tamat SD dan akan masuk pesantren.

    Setelah urusan irregular verbs ini selesai, semua orang tahu bahwa ini adalah hari terakhir mereka berada di Kampung Belajar. Agar ada kenangan, guru meminta semua pelajar menuliskan pengalamannya selama berada di Kampung Belajar. Ada yang sekedar mencatat poin-poin saja yang hendak disampaikan dan ada juga yang membuat karangan esai. Mereka belajar mengungkapkan hal-hal yang berkesan baik mengenai pelajaran dan atau bermain.

    Zalfa, anak SD di kota Bulukumba.

    Kebebasan berekspresi dan mengutamakan pendapat ini adalah jalan untuk mengembangkan pola pikir dan kepercayaan diri menyampaikan pendapat sendiri. Segera setelah setiap orang selesai berbicara, sesi tanya jawab dibuka. Semua rekan yang mendengarkan penjelasan berhak bertanya, apapun itu, tiada sekat kepada sesama rekan belajar. Pertanyaan serius seperti pelajaran yang sulit dan santai seperti makanan kesukaan saat keluar main jadi bahan pembicaraan yang menarik. Pembicaraannya mengalir apa adanya.

    Fatihah, pelajar SMPN 2 Bulukumba

    Momentum menjelang perpisahan ini dijadikan pengingat bahwa pendidikan itu sebenarnya adalah kebebasan itu sendiri. Hal ini selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia, yang percaya bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia secara utuh, baik secara lahir, batin, maupun tenaganya. Semua orang diperlakukan dan diberikan kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah tingkat usaha dari pelajar itu sendiri.

    Untuk itu, para pelajar dan manusia pada umumnya memang harus menghargai waktu sebaik-baiknya. Orang yang menghargai waktu adalah orang yang disiplin dan bisa diandalkan. Orang yang tidak menghargai waktu meskipun pintar, tidak disiplin, akan tenggelam. “Tidak ada yang bertahan di tangan orang yang tidak disiplin,” kata Imam Ali bin Abi Thalib.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 10 Juli 2026

  • Pengetahuan Inggris dan Keadilan dalam Belajar

    Pengetahuan Inggris dan Keadilan dalam Belajar

    Kelas pagi langsung dibuka dengan Irregular Verbs (kata kerja tidak beraturan) lagi, sebuah usulan dari Aul yang paling cepat datang. Ia praktik seorang diri. Mendengar cara bicara dan pronunciation (pengucapan) yang cukup baik dari anak kelas 2 SD ini, penulis tertarik memvideokan pelajarannya. Ia meningkatkan kemampuan bicaranya, seolah-olah terlihat seorang ahli. Ia diberi kebebasan membaca dengan caranya sendiri.

    Tatkala Aul sudah mulai kewalahan pada pengucapan yang salah, bantuan diberikan. Penerapan listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) diaplikasikan lagi. 70 perubahan irregular verbs mampu ia lakukan dengan baik. Saat ia mengulangi, tingkat kesalahannya makin sedikit.

    Kemudian, Fifi dan Zalfa pun datang. Seorang anak Rumah Belajar Bersama (RBB) kelas malam juga turut hadir di program Kampung Belajar ini agar ia dapat terpengaruh belajar lebih banyak. Dan pelajar yang terakhir datang adalah Fauzan dan Heri, rekan akrab Aul.

    Karena sudah cukup ramai, maka permainan dibuat. Seseorang memimpin kelas memberikan pertanyaan Irregular Verbs secara acak. Ketika Aul yang memimpin, ia ditafsirkan curang oleh Zalfa karena meskipun dirinya dan pelajar lainnya lebih cepat angkat tangan, Fauzan yang selalu diberikan kesempatan. Begitupun ketika Fauzan memimpin—kesempatan menjawab selalu diberikan kepada Aul.

    Fifi dan Zalfa protes. Ketika Fifi menjadi pemimpin, ia tetap bisa bersikap adil, tidak membeda-bedakan. Ini karena anak SMA ini sudah berpikir dewasa dan menganggap ini sekadar permainan, seru-seruan saja.

    Kehebatan Fauzan dan Aul mulai berkurang ketika Zalfa memimpin kelas. Fauzan dan Aul tidak diberikan kesempatan menjawab, tidak peduli mereka lebih dahulu angkat tangan atau tidak. Perlahan tapi pasti, kedua anak itu akhirnya tidak tahan dan melayangkan protes. “Curang,” kata Aul. “Iya, saya tidak diberikan kesempatan,” sambung Fauzan. Zalfa yang sudah lama memendam rasa jengkelnya mengatakan, “Kalian tidak memberikan saya kesempatan saat kalian memimpin.” Aul dan Fauzan tidak bisa membantah. Mereka menerima kritik Zalfa.

    Setelah beberapa menit, kejengkelan Zalfa mereda karena beberapa kejadian semisal kosakata yang disebut salah dalam pengucapan dan hal lain ditanyakan lain pula jawaban menciptakan tawa. Suasana kembali ceria. “Bermusuhan” ala anak-anak itu tidak lama, terlupakan. Semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjawab soal.

    Suasana semakin akrab saat Nisa dan Heri memimpin. Tidak ada lagi sekarang membatasi rekan kelas menjawab. Siapa yang tercepat angkat tangan, dialah yang mendapatkan kesempatan.

    Pada materi berikutnya yaitu Reading dan Conversation (Membaca dan Percakapan), penulis membantu cara pengucapan yang benar dan kemudian mereka praktik bacaan dan beberapa percakapan sederhana. Reading mengasah kemampuan diri berbicara sendiri dan Conversation adalah tindak lanjut berbicara dengan orang lain.

    Pemahaman Irregular Verbs, Reading dan Conversation serta perbaikan pengucapan dengan Pronunciation di kelas pagi adalah capaian yang cukup menggembirakan bagi para pelajar yang berhasil diperoleh di Kampung Belajar selama empat minggu (satu bulan). Bekal tersebut yang akan menjadi kenangan dan menjadi modal untuk bisa mengembangkan diri lebih luas termasuk menyelesaikan persoalan kecil seperti pelajaran bahasa Inggris di sekolah masing-masing.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 9 Juli 2026

  • Pemimpin Kecil, Belajar Serasa Bermain

    Pemimpin Kecil, Belajar Serasa Bermain

    Keseruan anak-anak yang bermain tidak kalah menarik dengan belajar sebaya. Enam orang pelajar dipasangkan: tiga orang yang paham pelajaran irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) mengajarkan kepada tiga orang rekannya yang belum paham. Dua orang dalam satu pasang ini ditentukan berdasarkan pilihan mereka masing-masing sehingga keakraban rekan tetap terjaga.

    Saat sedang belajar, mereka tertawa, saling memarahi, dan menggurui. Mereka juga bebas untuk tidak saling sepakat, tetapi bagaimanapun, yang berilmu tetap yang memimpin pelajaran hingga target puluhan irregular verbs tersebut tercapai. Anak yang merasa yakin memahami pelajaran menyetor hafalan kepada pemimpinnya.

    Kehadiran guru hanya sebatas membuat metode belajar sebaya ini berjalan normal. Kadang-kadang anak-anak berperilaku yang dapat membuat suasana kelas kacau. Guru tidak langsung menegur, tetapi meminta sang pemimpin kecil itu untuk menangani rekannya dan mencari cara agar dapat kembali berkonsentrasi pada pelajaran. Jadi, ada kesan bahwa yang memutuskan kelanjutan pelajaran adalah kelompok mereka sendiri, bukan tekanan guru.

    Untuk memacu semangat belajar lebih tinggi, guru memberikan tantangan kepada masing-masing pemimpin itu. “Jangan sampai murid kalian kalah dengan murid lainnya,” kata guru. Mereka pun berlomba-lomba untuk mencerdaskan pelajar yang menjadi tanggung jawabnya.

    Mari menciptakan dunia belajar yang menyenangkan.

    Pada akhirnya, tiap pemimpin ini menyampaikan bahwa muridnya sudah menguasai puluhan irregular verbs. Belajar ala bermain ini telah memenuhi target pada pertemuan tersebut. Momen ini bertepatan dengan jam pulang. Beberapa orang tua pelajar telah menanti di depan pagar Rumah Belajar Bersama (RBB) untuk menjemput anaknya pulang. Kelas pun selesai.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 8 Juli 2026

  • Inggris, Konjo dan Bugis di Bawah Matahari Bulukumba

    Inggris, Konjo dan Bugis di Bawah Matahari Bulukumba

    Bermula dari Irregular Verbs (kata kerja yang tidak beraturan) pada kelas Bahasa Inggris yang diusulkan oleh Aul, pelajar yang paling cepat datang di pagi hari. Anak kecil ini ingin menunjukkan kemampuannya menghapal beberapa perubahan kata dengan mantap. Dengan penuh semangat, ia pun berhasil membuktikannya.

    Aul yang paling cepat datang dan langsung mendapatkan pelajaran seorang diri.

    Anak kampung dari Herlang dan Kindang ini berbahasa Konjo–mirip dengan bahasa Makassar–setiap hari karena ia bersekolah di Herlang. Selama liburan sekolah, ia berada di kegiatan di Kampung Belajar di kota Bulukumba yang menyebabkan harus berbahasa Indonesia.

    Aul, Zalfa (tengah), dan Fifi.
    Aul, Zalfa (tengah) dan Fifi.

    Tiba-tiba penulis teringat dengan sepenggal kata Ali Syariati, “… menggunakan bahasa kaum.” Menurut intelektual Iran itu, bahasa kaumlah yang paling cocok untuk memudahkan dalam memahamkan, mencerdaskan dan menggerakkan rakyat. Ketika usulan untuk menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa lokal mulai muncul, itu segera diterima. Aul sungguh senang, bahasa kesehariannya di kampung dipakai di kota. Fifi, pelajar dari Bonto Tiro yang campuran suku Banjar di Kalimantan dan Konjo memilih menerjemahkan ke bahasa Konjo. Sesaat kemudian, Zalfa yang berasal dari keluarga Ujung Loe, keturunan Bugis, diminta berbicara dalam bahasa Bugis. Zalfa protes, mengaku tidak bisa. “Ibuku saja tidak bisa berbahasa Bugis,” katanya. Jurus yang ampuh untuk menghindar.

    Faizan dan Heri yang berbahasa Bugis bergabung.

    Beruntung, Fauzan dan Heri yang juga berbahasa Bugis datang, tiba di kelas. Fauzan yang meskipun tidak lagi berbahasa daerah di rumahnya mengatakan, “Saya bisa sedikit bahasa Bugis karena sering ke rumah nenekku.” Karena itu, ia betapapun tidak begitu mahir, ia menerima tantangan menerjemahkan Inggris ke Bugis. Sedangkan Heri, ia ikut dengan jawabannya Fauzan karena ia juga tidak berbahasa Bugis lagi di rumahnya.

    Dari 40 irregular verbs plus 30 tambahan setelah Faika datang, suasana relatif berbeda dari yang sebelumnya. Para pelajar ini yang sudah lumayan akrab dengan perubahan kosakata Inggris kembali berpikir lebih dalam lagi karena mereka harus menemukan padanan kata dalam bahasa daerahnya masing-masing. Penulis juga senasib dengan mereka. Arti dalam bahasa daerah yang mereka tidak tahu ditanyakan, sebagian mampu dijawab. Itu berarti, sebagian tidak bisa. Ampoa Alborongi–Institut Konjologi Nusantara (IKN) yang dipanggil “Om” oleh anak anak yang hadir di tempat saat pelajaran sedang berlangsung menjadi sumber utama untuk membantu menyelematkan kebuntuan terhadap bahasa lokal tersebut.

    Faika, jilbab putih, juga datang dan memimpin kelas pada Irregular Verbs.

    Aul dan Fifi relatif lebih banyak tahu karena mereka tinggal di desa yang kehidupannya berbahasa Konjo. Sedangkan Fauzan, Zalfa dan Heri, nanti setelah materi menjelang selesai, mereka bisa mengungkapkan arti dalam bahasa Bugis. Ini karena kehidupannya sudah (hampir) tidak berbahasa Bugis lagi. Semuanya mengaku bahwa mereka berbahasa Indonesia terkecuali kalau pergi ke kampung.

    Dari hasil pembelajaran di atas, para pelajar ini berpendapat bahwa bahasa Inggris yang disandingkan dengan bahasa daerah masing-masing pelajar mempunyai beragam manfaat. Diantaranya:

    1. Seru.
    2. Menambah kosakata.
    3. Menggantikan bahasa Indonesia. Ide ini terlalu berani tapi namanya pendapat, ditulis saja sebagai referensi pemikiran dari pelajar itu sendiri.
    4. Lebih mudah diingat.
    5. Mengetahui bahasa lain.
    6. Mengingat bahasa zaman dulu.
    7. Bahasa Indonesia dibantu dengan Bugis dan Konjo supaya lebih mudah paham pelajaran.

    Usulan Aul dan pelajar lainnya sangat penting untuk didengarkan agar pembelajaran dapat lebih membumi, sesuai dengan konteks. Proses belajar pun terlihat sangat natural, tanpa ada beban dan duduk santai sambil belajar. Sinar matahari pagi yang cerah seolah menyatu dalam lingkungan membuka jalan pencerahan lewat pengetahuan bahasa.

    Akankah kita mau lebih mendengarkan usulan pelajar kita?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 8 Juli 2026

  • Seni Berbicara Inggris di Kampung Belajar

    Seni Berbicara Inggris di Kampung Belajar

    Penyederhanaan pada kerumitan berbicara dalam bahasa Inggris terletak pada materi pronunciation (pengucapan). Materi ini sengaja diberikan pada minggu terakhir, minggu keempat di Kampung Belajar karena para pelajar yang kebanyakan masih pemula terlebih dahulu praktik speaking and reading (bicara dan bacaan) yang berguna memperbanyak pemahaman kosakata.

    Melalui pola pembelajaran Exercising Spoken English, pronunciation tingkat dasar yang diajarkan adalah perbedaan:

    1. i: vs i
    Seat vs sit
    Feel vs fill
    Sheep vs ship

    2. e vs ae
    Bed vs bad
    Bend vs band
    Dead vs dad.

    3. e vs ei
    Ate vs eight
    Debt vs date
    Get vs gate

    Pengajaran pemahaman penyebutan kata dengan benar ini ditindaklanjuti dengan bacaan paragraf yang berisi tentang materi tersebut di atas. Guru juga menyederhanakan masalah dengan memberikan terjemahan sehingga para pelajar tahu arti isi bacaan. Mereka juga akan sadar bahwa bila mereka salah dalam membaca, arti bacaan akan melenceng jauh.

    Bacaan dilakukan secara berulang-ulang agar terdapat kesempatan yang cukup untuk merasakan, mengetahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan. Keindahan irama suara juga dibuat sedemikian rupa agar Pengucapan dari tiap kata pada kalimat dinikmati. Perlahan tapi pasti, para pelajar mampu melakukannya dengan serempak, nada suara yang bersemangat dan menyenangkan didengarkan.

    Karena penekanan pronunciation ini pada British English (Bahasa Inggris orang Inggris), sebagian kata terkesan agak aneh bagi peserta semisal kata Sunday, private dan lainnya. Hal yang dianggap aneh dan menjadi bahan pertanyaan adalah kesempatan yang baik untuk menjelaskan bahwa pengucapan British English itu punya perbedaan—betapapun mempunyai banyak kesamaan—dengan American English (Bahasa Inggris orang Amerika). Itu juga waktu yang tepat untuk memberikan beberapa contoh lainnya sehingga mereka dapat membandingkan dengan baik di antara keduanya.

    Penulis yang mendidik para pelajar itu merasa bahagia menyaksikan mereka menikmati pelajaran. Strategi penguatan pada literasi dengan suara nyaring selama tiga minggu di Kampung Belajar yang kemudian dikunci dengan pronunciation di minggu keempat berdampak besar pada kenyamanan dan kemudahan dalam melafalkan bahasa Inggris lebih tepat. Namun, bukan berarti pengetahuan yang diperoleh ini dianggap cukup. Justru, ini adalah jalan pembuka untuk memberikan pelajaran yang lebih mendalam hingga kelas selesai pada Jum’at, 10 Juli 2026.

    Zulkarnain Patwa
    Rumah Belajar Bersama di Bulukumba pada Selasa, 7 Juli 2026