Kendala yang paling sering mengganggu para pelajar grammar (tata bahasa) adalah kemampuan berbicara. Waktu mereka habis digunakan untuk menganalisis soal-soal. Kecerdasan memang bertambah karena grammar itu meskipun ada perbedaan dengan logika, namun mempunyai kemiripan karena materinya sangat tersusun logis. Tuntutan utamanya berpikir, bukan bicara.

Para grammarian (penganut tata bahasa) ini sangat lihai mengerjakan pelajaran sekolah. Nilai mereka tidak selalu sempurna, tetapi bila saja nilai ujian sekolahnya di bawah 90 poin, itu mengecewakan karena pelajaran mereka di luar sekolah mengikuti pembelajaran yang sangat detail yang rujukannya pada buku-buku penulis asing yang materinya jauh melampaui pelajaran sekolah. Pola pikir unggul ini hadir karena mereka dididik untuk selalu melakukan yang terbaik. Ini membanggakan. Lalu, apa yang mengecewakan? Masalah sudah sangat jelas. Mereka tidak mempunyai waktu untuk latihan berbicara. Mereka hampir tidak mempunyai keaktifan berkomunikasi di sekolah ataupun di lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, untuk menyiasati para pelajar yang total grammar ini alias tidak mengikuti kelas speaking, reading, atau pronunciation (berbicara, membaca, atau pengucapan), sebagian waktu belajar mereka digunakan untuk latihan berbicara melalui pelajaran membaca dengan suara nyaring. Agar tetap sejalan dengan pilihan kelas belajarnya, buku latihan grammar yang telah dikerjakan dijadikan bahan berbicara. Apabila latihannya itu berisi dialog, maka praktik percakapan secara berpasangan dilakukan. Bila tidak, membaca dengan suara nyaring menjadi pilihan terbaik.

Karena menyita waktu, apakah ini memperlambat pelajaran grammar? Waktu mereka memang sedikit tertunda untuk membahas soal-soal yang baru. Itu adalah konsekuensi yang logis. Tetapi, kalau kita meneliti lebih mendalam, para pelajar ini dapat mengoreksi langsung apa yang salah dari jawaban tulisan tangan mereka sendiri dan melakukan pendalaman ulang dari pelajaran yang telah berlalu. Review pelajaran merupakan bagian dari proses penyempurnaan pemahaman.

Fenomena yang cukup unik terjadi juga pada kelas reading yang para pesertanya semuanya anak-anak SD. Mereka juga mendapatkan pelatihan basic grammar (tata bahasa dasar) seperti tenses sebagai pengetahuan tambahan yang tidak diajarkan di sekolah secara mendalam. Investasi ini dengan sengaja diberikan agar mereka sudah mempunyai bekal untuk menjawab soal-soal SD, SMP, dan SMA. Entah mengapa, kurikulum bahasa Inggris di Indonesia tidak berpikir praktis saja dengan menuntaskannya di SD sehingga tidak harus repot lagi setelahnya. Kalaupun tidak bisa menuntaskan semuanya, paling sedikit fondasi utama harus benar-benar kokoh.
Pembiaran tata bahasa dasar akan berdampak fatal pada kemampuan anak-anak dalam menghadapi ujian tulis. Ujian semester bahasa Inggris di sekolah sampai sekarang masih mengandalkan ujian tulis, sementara kurikulumnya mengedepankan kemampuan bicara—ini pun masih sulit terlaksana dengan baik karena pelajarannya dominan kosakata saja disebabkan oleh kurangnya ketersediaan guru alumni jurusan bahasa Inggris.
Untuk membongkar kebuntuan berbahasa Inggris ini, Metode 40 dihadirkan untuk mengatasi segala kerumitan tersebut. Para pelajar memperoleh latihan soal secara tertulis. Dengan menulis, otomatis membaca. Menulis membuka kemungkinan untuk mengikat makna lebih kuat daripada sekadar membaca. Sebaliknya, membaca tidak melibatkan kegiatan menulis. Anda pun tidak perlu terbebani hafalan kosakata satu per satu secara kaku karena yang ditawarkan bukan kosakata, melainkan kalimat yang berisi seluruh kelas kata disertai dengan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia untuk memperkuat pemahaman.
Bagaimana dengan orang yang daya ingatnya agak rendah? Itu sama sekali bukan masalah. Metode 40 telah didesain semudah mungkin melalui latihan perubahan kalimat minimal sebanyak 40 kali pada satu materi. Setiap orang akan praktik bicara dengan suara nyaring sehingga kemampuan berbicara berkembang seiring dengan tata bahasa. Melalui perulangan yang lebih banyak, tanpa terasa, Anda akan menghafalnya, lebih tepatnya memahami karena analisis masalah akan serta-merta mengikuti. Layaknya air yang menetes di atas batu akan melengkung akibat dari tetesan air yang terus-menerus menerpa dan membasahi batu. Akan tetapi, otak manusia bukanlah batu, meskipun tidak dapat dipungkiri terdapat istilah kepala batu. Otak manusia yang seharusnya tidak ‘berkepala batu’ mampu memproses bahasa secara aktif-kreatif sehingga peluang untuk bisa mengerti jauh lebih cepat daripada analogi batu.
Praktik ini dapat dilakukan sendiri, berpasangan dengan seorang rekan, ataupun dengan guru. Kualitas bahasa yang diucapkan pun akan jauh lebih berbobot karena apa yang diucapkan telah terverifikasi dari latihan yang Anda kerjakan sendiri di dalam lembaran Metode 40 itu. Ke depan, kreativitas menciptakan kalimat baru yang sistematis ataupun spontan dapat dibuat sendiri secara lebih refleks.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 14 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan