Sakkar adalah the young sailor man (sang pelaut muda) dari Turungan Beru, Herlang, Kab. Bulukumba. Ia menghabiskan hidupnya selama bertahun-tahun bekerja di kapal tugboat untuk mengangkut barang dari satu pulau ke pulau lain. Dia bukan lagi ‘makan garam’, tetapi ia hampir tiap hari ‘minum air garam’ karena selain ia terlahir dan dibesarkan di dekat laut, sejak kecil ia sudah melaut.
Sekarang, Sakkar adalah manusia darat untuk sesaat. Ia mempunyai impian yang indah. Ia ingin bekerja di kapal pesiar pinisi. Untuk menggapai impiannya, dia berkendara satu jam setiap hari dari desanya ke kota Bulukumba hanya untuk belajar bahasa Inggris.
Sekitar dua tahun lalu ketika belajar bahasa Inggris, Sakkar menamatkan satu bacaan buku dasar-dasar berbahasa Inggris. Menurut pengakuannya sendiri, buku asing itulah yang pertama kali ia tamatkan dalam kehidupannya. Ia sama sekali belum pernah menamatkan satu buku pun dalam bahasa Indonesia.
Dari pengalaman berharga itu, Sakkar mulai tertarik membaca buku-buku lainnya. Agar logika berpikirnya lebih terarah, buku Rekayasa Sosial karya Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) menjadi rekomendasi buatnya karena selain penjelasan Kang Jalal sangat mudah dimengerti karena penulisnya itu sedapat mungkin menghindari istilah ilmiah yang rumit, buku itu juga berisi tentang materi logika yang membahas kesesatan berpikir. Paling tidak, Sakkar diajak terlatih berpikir membaca kesalahan berpikirnya sendiri dan tidak menjadi semacam mesin fotokopi atau burung beo pada apa pun yang ia baca. Buku itu telah tuntas ia baca dan diskusikan kepada orang-orang yang ia anggap tepat untuk diajak berbagi wawasan.
Hal yang cukup mengagetkan ialah sekarang di dalam tasnya, ia sudah membawa dua buku yang ia beli sendiri. Satu buku berjudul The Psychology of Money karya Morgan Housel dan satunya lagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) karya Tan Malaka. Wah! Dari mana ia dapat rujukan Madilog? Itu kan bukan bacaan biasa. Sakkar telah mengalami perubahan yang luar biasa. Kebiasaan membacanya semakin tumbuh. Tapi, logika buku Madilog itu kan berat. Ah! Berani amat melompat pada bacaan yang tinggi. Ia memang terbiasa mengarungi samudera luas diterpa ombak besar dan badai serta tenggelam, tetapi ia tetap hidup. Kemungkinan, pelaut ulung muda ini ingin juga ulung di darat. Ini logika yang berbeda, tetapi tantangan yang mirip bisa ia ciptakan.
Karena sudah agak akrab dengan bacaan, Sakkar ingin mencoba kelas speaking (berbicara). Karena ia menyukai cara Kang Jalal yang menjelaskan sesuatu lewat cerita, ia pun diminta untuk mengisahkan pengalamannya melaut. Kumpulan kalimat yang ia buat dalam bahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan kemudian dibuatkan pertanyaan yang jawaban-jawabannya terdapat dalam kisah hidupnya sendiri.
Dari bahan itu, dibuatlah percakapan dalam bentuk tanya jawab. Otaknya diajak bekerja sedikit lebih canggih. Berbekal Basic Grammar (tata bahasa dasar) pada tenses yang ia telah cukup mengerti, ia pun sesekali diminta untuk membuat sendiri pertanyaan dalam bahasa Inggris. Hal ini dimaksudkan agar di kemudian hari, ia mampu membuat pertanyaan sendiri yang sesuai standar saat berkomunikasi dengan orang lain. Siapa tahu ia juga minat membeli buku-buku bacaan berbahasa Inggris.
Sebelum ia pulang, Sakkar berbagi pemahaman kepada anak-anak yang sedang belajar tenses. Ia telah melewati pelajaran ini. Ia melayani pertanyaan dan berusaha semaksimal mungkin untuk mampu menjelaskan dengan bahasa yang semudah mungkin dimengerti anak-anak. Bila ia mampu menjelaskan dan memahamkan pada anak-anak berarti ia bukan hanya mengerti ilmu yang ia telah pelajari, tetapi juga ia berhasil menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa yang sederhana. Itulah ciri khas orang pintar. Sakkar berhasil melakukannya dengan baik. Ah! Sakkar bisa besar kepala bila ia sempat membaca pujian pada tulisan ini. Terus terang, memang demikianlah adanya. Logika dan wawasan Sakkar terus berkembang.
Pada akhirnya, berjalan di atas muka bumi, entah itu di laut atau di darat, mestilah dibarengi dengan impian agar manusia mempunyai semangat untuk belajar dan bekerja untuk mewujudkan impian itu. Berhasil atau tidak, itu urusan di masa yang akan datang. Satu hal yang paling penting adalah mempersiapkan segala hal untuk memenuhi syarat terjadinya sesuatu dalam hal ini impian. Jika syarat-syaratnya terpenuhi, impian itu pasti terwujud.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 21 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan