Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Taman Kebebasan di Kampung Belajar

    Taman Kebebasan di Kampung Belajar

    Siapa yang datang lebih dahulu, dialah yang mendapatkan pelayanan. Seperti itulah gambaran sederhana bagi Aul yang terbiasa paling cepat datang di kelas pagi Kampung Belajar. Guru kelas yang senang melihat spirit dan disiplin belajar yang luar biasa ini pun senang dan memberikan pelajaran yang terbaik
    —fokus perhatian tertuju pada satu orang saja, Aul itu sendiri.

    Aul, pelajar SD dari Kecamatan Herlang yang jauh-jauh datang ke Bulukumba untuk ikut Kampung Belajar.

    “Aul, kamu bebas memilih. Mau belajar pronunciation, speaking atau reading?” tanya guru. “Saya sangat suka irregular verbs, Mister,” balas Aul. “Baiklah. Baca saja 70 perubahan irregular verbs itu beserta artinya,” respon guru yang mencoba masuk dari hal yang Aul senangi. Karena Aul seringkali mengulangi latihan ini, anak kelas 2 SD ini hanya melakukan kesalahan kecil dalam membaca dengan suara nyaring. Ia menuntaskan bacaannya dengan hati yang gembira.

    Fifi, pelajar berasal dari Desa Caramming, Kec. Bonto Tito, bersekolah di SMA Bonto Bahari dan liburan di Kampung Belajar di Kota Bulukumba

    “Saya sudah lulus kan, Mister?” tanya Aul. Guru tertawa dan menjawab, “Belum. Materinya harus kamu pahami di luar kepala. Kemudahan diberikan dengan cara kamu boleh melihat verb 1. verb 2 dan verb 3 harus kamu endapkan baik dalam pikiranmu karena hal itu tidak boleh kamu lihat,” ungkap gurunya. Aul terheran-heran tapi tidak menanggapi. Ia mungkin sadar karena ia melihat rekan lainnya yang hampir seumuran dengannya mampu memahami irregular verbs dengan aturan yang menurutnya agak ketat tersebut. Dengan pemahaman itu, ia selalu berusaha untuk bisa selevel dengan pelajar lainnya.

    Fauzan, pelajar DDI Bantaeng berlibur di Kampung Belajar, Bulukumba.

    Ketika pelajar Kampung Belajar yang lain datang, mereka pun ikut arus–membaca irregular verbs hingga tuntas. Satu persatu tampil di depan kamera melalui siaran langsung di Facebook. Kemajuan mereka juga menggembirakan. Mereka sudah sama memungkinkan untuk dikelola pada pelajaran tenses di luar kepala, sebuah pengantar untuk membuka pintu gerbang pemahaman kalimat dalam bahasa Inggris.

    Heri yang baru saja tamat SD dan akan masuk pesantren.

    Setelah urusan irregular verbs ini selesai, semua orang tahu bahwa ini adalah hari terakhir mereka berada di Kampung Belajar. Agar ada kenangan, guru meminta semua pelajar menuliskan pengalamannya selama berada di Kampung Belajar. Ada yang sekedar mencatat poin-poin saja yang hendak disampaikan dan ada juga yang membuat karangan esai. Mereka belajar mengungkapkan hal-hal yang berkesan baik mengenai pelajaran dan atau bermain.

    Zalfa, anak SD di kota Bulukumba.

    Kebebasan berekspresi dan mengutamakan pendapat ini adalah jalan untuk mengembangkan pola pikir dan kepercayaan diri menyampaikan pendapat sendiri. Segera setelah setiap orang selesai berbicara, sesi tanya jawab dibuka. Semua rekan yang mendengarkan penjelasan berhak bertanya, apapun itu, tiada sekat kepada sesama rekan belajar. Pertanyaan serius seperti pelajaran yang sulit dan santai seperti makanan kesukaan saat keluar main jadi bahan pembicaraan yang menarik. Pembicaraannya mengalir apa adanya.

    Fatihah, pelajar SMPN 2 Bulukumba

    Momentum menjelang perpisahan ini dijadikan pengingat bahwa pendidikan itu sebenarnya adalah kebebasan itu sendiri. Hal ini selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia, yang percaya bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia secara utuh, baik secara lahir, batin, maupun tenaganya. Semua orang diperlakukan dan diberikan kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah tingkat usaha dari pelajar itu sendiri.

    Untuk itu, para pelajar dan manusia pada umumnya memang harus menghargai waktu sebaik-baiknya. Orang yang menghargai waktu adalah orang yang disiplin dan bisa diandalkan. Orang yang tidak menghargai waktu meskipun pintar, tidak disiplin, akan tenggelam. “Tidak ada yang bertahan di tangan orang yang tidak disiplin,” kata Imam Ali bin Abi Thalib.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 10 Juli 2026

  • Pengetahuan Inggris dan Keadilan dalam Belajar

    Pengetahuan Inggris dan Keadilan dalam Belajar

    Kelas pagi langsung dibuka dengan Irregular Verbs (kata kerja tidak beraturan) lagi, sebuah usulan dari Aul yang paling cepat datang. Ia praktik seorang diri. Mendengar cara bicara dan pronunciation (pengucapan) yang cukup baik dari anak kelas 2 SD ini, penulis tertarik memvideokan pelajarannya. Ia meningkatkan kemampuan bicaranya, seolah-olah terlihat seorang ahli. Ia diberi kebebasan membaca dengan caranya sendiri.

    Tatkala Aul sudah mulai kewalahan pada pengucapan yang salah, bantuan diberikan. Penerapan listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) diaplikasikan lagi. 70 perubahan irregular verbs mampu ia lakukan dengan baik. Saat ia mengulangi, tingkat kesalahannya makin sedikit.

    Kemudian, Fifi dan Zalfa pun datang. Seorang anak Rumah Belajar Bersama (RBB) kelas malam juga turut hadir di program Kampung Belajar ini agar ia dapat terpengaruh belajar lebih banyak. Dan pelajar yang terakhir datang adalah Fauzan dan Heri, rekan akrab Aul.

    Karena sudah cukup ramai, maka permainan dibuat. Seseorang memimpin kelas memberikan pertanyaan Irregular Verbs secara acak. Ketika Aul yang memimpin, ia ditafsirkan curang oleh Zalfa karena meskipun dirinya dan pelajar lainnya lebih cepat angkat tangan, Fauzan yang selalu diberikan kesempatan. Begitupun ketika Fauzan memimpin—kesempatan menjawab selalu diberikan kepada Aul.

    Fifi dan Zalfa protes. Ketika Fifi menjadi pemimpin, ia tetap bisa bersikap adil, tidak membeda-bedakan. Ini karena anak SMA ini sudah berpikir dewasa dan menganggap ini sekadar permainan, seru-seruan saja.

    Kehebatan Fauzan dan Aul mulai berkurang ketika Zalfa memimpin kelas. Fauzan dan Aul tidak diberikan kesempatan menjawab, tidak peduli mereka lebih dahulu angkat tangan atau tidak. Perlahan tapi pasti, kedua anak itu akhirnya tidak tahan dan melayangkan protes. “Curang,” kata Aul. “Iya, saya tidak diberikan kesempatan,” sambung Fauzan. Zalfa yang sudah lama memendam rasa jengkelnya mengatakan, “Kalian tidak memberikan saya kesempatan saat kalian memimpin.” Aul dan Fauzan tidak bisa membantah. Mereka menerima kritik Zalfa.

    Setelah beberapa menit, kejengkelan Zalfa mereda karena beberapa kejadian semisal kosakata yang disebut salah dalam pengucapan dan hal lain ditanyakan lain pula jawaban menciptakan tawa. Suasana kembali ceria. “Bermusuhan” ala anak-anak itu tidak lama, terlupakan. Semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjawab soal.

    Suasana semakin akrab saat Nisa dan Heri memimpin. Tidak ada lagi sekarang membatasi rekan kelas menjawab. Siapa yang tercepat angkat tangan, dialah yang mendapatkan kesempatan.

    Pada materi berikutnya yaitu Reading dan Conversation (Membaca dan Percakapan), penulis membantu cara pengucapan yang benar dan kemudian mereka praktik bacaan dan beberapa percakapan sederhana. Reading mengasah kemampuan diri berbicara sendiri dan Conversation adalah tindak lanjut berbicara dengan orang lain.

    Pemahaman Irregular Verbs, Reading dan Conversation serta perbaikan pengucapan dengan Pronunciation di kelas pagi adalah capaian yang cukup menggembirakan bagi para pelajar yang berhasil diperoleh di Kampung Belajar selama empat minggu (satu bulan). Bekal tersebut yang akan menjadi kenangan dan menjadi modal untuk bisa mengembangkan diri lebih luas termasuk menyelesaikan persoalan kecil seperti pelajaran bahasa Inggris di sekolah masing-masing.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 9 Juli 2026

  • Pemimpin Kecil, Belajar Serasa Bermain

    Pemimpin Kecil, Belajar Serasa Bermain

    Keseruan anak-anak yang bermain tidak kalah menarik dengan belajar sebaya. Enam orang pelajar dipasangkan: tiga orang yang paham pelajaran irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) mengajarkan kepada tiga orang rekannya yang belum paham. Dua orang dalam satu pasang ini ditentukan berdasarkan pilihan mereka masing-masing sehingga keakraban rekan tetap terjaga.

    Saat sedang belajar, mereka tertawa, saling memarahi, dan menggurui. Mereka juga bebas untuk tidak saling sepakat, tetapi bagaimanapun, yang berilmu tetap yang memimpin pelajaran hingga target puluhan irregular verbs tersebut tercapai. Anak yang merasa yakin memahami pelajaran menyetor hafalan kepada pemimpinnya.

    Kehadiran guru hanya sebatas membuat metode belajar sebaya ini berjalan normal. Kadang-kadang anak-anak berperilaku yang dapat membuat suasana kelas kacau. Guru tidak langsung menegur, tetapi meminta sang pemimpin kecil itu untuk menangani rekannya dan mencari cara agar dapat kembali berkonsentrasi pada pelajaran. Jadi, ada kesan bahwa yang memutuskan kelanjutan pelajaran adalah kelompok mereka sendiri, bukan tekanan guru.

    Untuk memacu semangat belajar lebih tinggi, guru memberikan tantangan kepada masing-masing pemimpin itu. “Jangan sampai murid kalian kalah dengan murid lainnya,” kata guru. Mereka pun berlomba-lomba untuk mencerdaskan pelajar yang menjadi tanggung jawabnya.

    Mari menciptakan dunia belajar yang menyenangkan.

    Pada akhirnya, tiap pemimpin ini menyampaikan bahwa muridnya sudah menguasai puluhan irregular verbs. Belajar ala bermain ini telah memenuhi target pada pertemuan tersebut. Momen ini bertepatan dengan jam pulang. Beberapa orang tua pelajar telah menanti di depan pagar Rumah Belajar Bersama (RBB) untuk menjemput anaknya pulang. Kelas pun selesai.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 8 Juli 2026

  • Inggris, Konjo dan Bugis di Bawah Matahari Bulukumba

    Inggris, Konjo dan Bugis di Bawah Matahari Bulukumba

    Bermula dari Irregular Verbs (kata kerja yang tidak beraturan) pada kelas Bahasa Inggris yang diusulkan oleh Aul, pelajar yang paling cepat datang di pagi hari. Anak kecil ini ingin menunjukkan kemampuannya menghapal beberapa perubahan kata dengan mantap. Dengan penuh semangat, ia pun berhasil membuktikannya.

    Aul yang paling cepat datang dan langsung mendapatkan pelajaran seorang diri.

    Anak kampung dari Herlang dan Kindang ini berbahasa Konjo–mirip dengan bahasa Makassar–setiap hari karena ia bersekolah di Herlang. Selama liburan sekolah, ia berada di kegiatan di Kampung Belajar di kota Bulukumba yang menyebabkan harus berbahasa Indonesia.

    Aul, Zalfa (tengah), dan Fifi.
    Aul, Zalfa (tengah) dan Fifi.

    Tiba-tiba penulis teringat dengan sepenggal kata Ali Syariati, “… menggunakan bahasa kaum.” Menurut intelektual Iran itu, bahasa kaumlah yang paling cocok untuk memudahkan dalam memahamkan, mencerdaskan dan menggerakkan rakyat. Ketika usulan untuk menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa lokal mulai muncul, itu segera diterima. Aul sungguh senang, bahasa kesehariannya di kampung dipakai di kota. Fifi, pelajar dari Bonto Tiro yang campuran suku Banjar di Kalimantan dan Konjo memilih menerjemahkan ke bahasa Konjo. Sesaat kemudian, Zalfa yang berasal dari keluarga Ujung Loe, keturunan Bugis, diminta berbicara dalam bahasa Bugis. Zalfa protes, mengaku tidak bisa. “Ibuku saja tidak bisa berbahasa Bugis,” katanya. Jurus yang ampuh untuk menghindar.

    Faizan dan Heri yang berbahasa Bugis bergabung.

    Beruntung, Fauzan dan Heri yang juga berbahasa Bugis datang, tiba di kelas. Fauzan yang meskipun tidak lagi berbahasa daerah di rumahnya mengatakan, “Saya bisa sedikit bahasa Bugis karena sering ke rumah nenekku.” Karena itu, ia betapapun tidak begitu mahir, ia menerima tantangan menerjemahkan Inggris ke Bugis. Sedangkan Heri, ia ikut dengan jawabannya Fauzan karena ia juga tidak berbahasa Bugis lagi di rumahnya.

    Dari 40 irregular verbs plus 30 tambahan setelah Faika datang, suasana relatif berbeda dari yang sebelumnya. Para pelajar ini yang sudah lumayan akrab dengan perubahan kosakata Inggris kembali berpikir lebih dalam lagi karena mereka harus menemukan padanan kata dalam bahasa daerahnya masing-masing. Penulis juga senasib dengan mereka. Arti dalam bahasa daerah yang mereka tidak tahu ditanyakan, sebagian mampu dijawab. Itu berarti, sebagian tidak bisa. Ampoa Alborongi–Institut Konjologi Nusantara (IKN) yang dipanggil “Om” oleh anak anak yang hadir di tempat saat pelajaran sedang berlangsung menjadi sumber utama untuk membantu menyelematkan kebuntuan terhadap bahasa lokal tersebut.

    Faika, jilbab putih, juga datang dan memimpin kelas pada Irregular Verbs.

    Aul dan Fifi relatif lebih banyak tahu karena mereka tinggal di desa yang kehidupannya berbahasa Konjo. Sedangkan Fauzan, Zalfa dan Heri, nanti setelah materi menjelang selesai, mereka bisa mengungkapkan arti dalam bahasa Bugis. Ini karena kehidupannya sudah (hampir) tidak berbahasa Bugis lagi. Semuanya mengaku bahwa mereka berbahasa Indonesia terkecuali kalau pergi ke kampung.

    Dari hasil pembelajaran di atas, para pelajar ini berpendapat bahwa bahasa Inggris yang disandingkan dengan bahasa daerah masing-masing pelajar mempunyai beragam manfaat. Diantaranya:

    1. Seru.
    2. Menambah kosakata.
    3. Menggantikan bahasa Indonesia. Ide ini terlalu berani tapi namanya pendapat, ditulis saja sebagai referensi pemikiran dari pelajar itu sendiri.
    4. Lebih mudah diingat.
    5. Mengetahui bahasa lain.
    6. Mengingat bahasa zaman dulu.
    7. Bahasa Indonesia dibantu dengan Bugis dan Konjo supaya lebih mudah paham pelajaran.

    Usulan Aul dan pelajar lainnya sangat penting untuk didengarkan agar pembelajaran dapat lebih membumi, sesuai dengan konteks. Proses belajar pun terlihat sangat natural, tanpa ada beban dan duduk santai sambil belajar. Sinar matahari pagi yang cerah seolah menyatu dalam lingkungan membuka jalan pencerahan lewat pengetahuan bahasa.

    Akankah kita mau lebih mendengarkan usulan pelajar kita?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 8 Juli 2026

  • Seni Berbicara Inggris di Kampung Belajar

    Seni Berbicara Inggris di Kampung Belajar

    Penyederhanaan pada kerumitan berbicara dalam bahasa Inggris terletak pada materi pronunciation (pengucapan). Materi ini sengaja diberikan pada minggu terakhir, minggu keempat di Kampung Belajar karena para pelajar yang kebanyakan masih pemula terlebih dahulu praktik speaking and reading (bicara dan bacaan) yang berguna memperbanyak pemahaman kosakata.

    Melalui pola pembelajaran Exercising Spoken English, pronunciation tingkat dasar yang diajarkan adalah perbedaan:

    1. i: vs i
    Seat vs sit
    Feel vs fill
    Sheep vs ship

    2. e vs ae
    Bed vs bad
    Bend vs band
    Dead vs dad.

    3. e vs ei
    Ate vs eight
    Debt vs date
    Get vs gate

    Pengajaran pemahaman penyebutan kata dengan benar ini ditindaklanjuti dengan bacaan paragraf yang berisi tentang materi tersebut di atas. Guru juga menyederhanakan masalah dengan memberikan terjemahan sehingga para pelajar tahu arti isi bacaan. Mereka juga akan sadar bahwa bila mereka salah dalam membaca, arti bacaan akan melenceng jauh.

    Bacaan dilakukan secara berulang-ulang agar terdapat kesempatan yang cukup untuk merasakan, mengetahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan. Keindahan irama suara juga dibuat sedemikian rupa agar Pengucapan dari tiap kata pada kalimat dinikmati. Perlahan tapi pasti, para pelajar mampu melakukannya dengan serempak, nada suara yang bersemangat dan menyenangkan didengarkan.

    Karena penekanan pronunciation ini pada British English (Bahasa Inggris orang Inggris), sebagian kata terkesan agak aneh bagi peserta semisal kata Sunday, private dan lainnya. Hal yang dianggap aneh dan menjadi bahan pertanyaan adalah kesempatan yang baik untuk menjelaskan bahwa pengucapan British English itu punya perbedaan—betapapun mempunyai banyak kesamaan—dengan American English (Bahasa Inggris orang Amerika). Itu juga waktu yang tepat untuk memberikan beberapa contoh lainnya sehingga mereka dapat membandingkan dengan baik di antara keduanya.

    Penulis yang mendidik para pelajar itu merasa bahagia menyaksikan mereka menikmati pelajaran. Strategi penguatan pada literasi dengan suara nyaring selama tiga minggu di Kampung Belajar yang kemudian dikunci dengan pronunciation di minggu keempat berdampak besar pada kenyamanan dan kemudahan dalam melafalkan bahasa Inggris lebih tepat. Namun, bukan berarti pengetahuan yang diperoleh ini dianggap cukup. Justru, ini adalah jalan pembuka untuk memberikan pelajaran yang lebih mendalam hingga kelas selesai pada Jum’at, 10 Juli 2026.

    Zulkarnain Patwa
    Rumah Belajar Bersama di Bulukumba pada Selasa, 7 Juli 2026

  • Kelas 3 SD, Faika Lolos Lagi Olimpiade Inggris Nasional

    Faika Qhinara Putri Ridwan kembali lolos Olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional di Sigma Sains Student Olympiad (SSSO) pada ujian online pada Minggu, 5 Juli 2026. Faika berpeluang kembali mengulangi kesuksesannya yang pada Februari 2026 meraih emas pada bahasa Inggris di National Science and Mathematics Olympiad (NSMAO).

    Pengumuman kelolosan Faiika ke tahap nasional pada Olimpiade Inggris.

    Keputusan mengikutkan kejuaraan besar bagi anak kelas 3 di SDN 2 Terang-Terang Bulukumba ini berdasarkan kualitas pengetahuan yang terus berkembang yang Faika miliki, dukungan penuh dari orang tua, dan kebiasaan mengikuti kejuaraan karate sejak TK—sekitar 15 medali yang telah ia peroleh meliputi kejuaraan tingkat provinsi dan nasional: Piala Presiden RI dan Kemenpora RI.

    Tantangan memang sangat perlu diberikan pada pelajar yang punya kemampuan di atas rata-rata. Bila tidak, ia akan bosan. Bila Faika belajar bahasa Inggris untuk mengatasi pelajaran sekolah, itu terlalu mudah—memungkinkannya untuk bersantai-santai saja. Kalau ia bertarung dengan pelajar terbaik se-Indonesia, tentu daya juga dan semangat belajar lebih maju mesti tumbuh. Hal inilah yang sedang berjalan pada Faika dan beberapa rekan-rekannya di Rumah Belajar Bersama (RBB), tempat ia berguru bahasa Inggris.

    Peluang Faika untuk menjadi pandai berbahasa Inggris terbuka lebar. Ukurannya bukan saja karena ia ikut olimpiade tapi karena ada keberlanjutan dalam belajar. Pada liburan sekolah tahun ini, ia bergabung di Kampung Belajar—mulai pagi, siang dan sore hingga malam—dan di luar waktu liburan, ia tetap aktif pada kelas intensif di RBB. Karena intensitas belajar yang sangat tinggi disertai kualitas pembelajaran yang detail, wajarlah bila guru-guru di RBB merekomendasikannya untuk mengikuti olimpiade. Soal-soal yang tidak lazim akan selalu ia temui yang membantu membuatnya mengerti mengapa guru-gurunya memberikan materi yang berbeda dari kebanyakan anak-anak SD seumurannya.

    Olimpiade memang memicu semangat belajar yang tinggi dan memunculkan rasa bangga saat meraih posisi yang terbaik. Namun, di balik itu, kita sedang mempersiapkan pelajar Indonesia yang mempunyai daya saing yang unggul sebagaimana harapan B. J. Habibie yang percaya bahwa dengan ilmu pengetahuan, Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lainnya.

    Selamat berjuang melakukan yang terbaik dan meraih yang terbaik, Faika. Semoga dirimu juga suatu saat menjadi bagian dari cucu intelektual Habibie.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 6 Juli 2026

  • Kecerdikan Fauzan Belajar-Mengajar

    Kecerdikan Fauzan Belajar-Mengajar

    Fauzan Saputra anak yang cerdas tapi punya banyak trik untuk tidak banyak belajar. Sekali waktu, Fauzan pulang jam 04.30 sore padahal jadwal pulangnya seharusnya sampai jam 06.00 sore. Guru kelas tak melarang karena ia beralasan kurir sudah menunggu.

    Segera setelah itu, guru mengabarkan ke ibunya Fauzan. Ibunya sangat kaget. Kenapa ia pulang secepat itu? Kelas siang hingga sore di Kampung Belajar yang berpusat di Rumah Belajar Bersama (RBB)
    yang Fauzan ikuti mulai dari 01.30 siang sampai 06.00 sore. Setelah mengerti persoalan, ibunya turun tangan langsung, pulang ke rumahnya dari tempat kerja dan mengantarnya kembali ke RBB. Fauzan disambut dengan tawa oleh rekan-rekannya.

    Perilaku cerdik mengakali kelas di atas tidak pernah diulangi Fauzan lagi. Pada sore ini, ia ditunjuk untuk memimpin dua orang anak yang masih sangat pemula dan reading (bacaan). Mengetahui dirinya sebagai “penguasa kecil”, ia langsung memilih lesson (pelajaran) 143, satu lesson menuju lembaran terakhir pada buku. Dua orang muridnya, Heri dan Aul, pun tertatih-tatih, tidak bisa membaca dengan benar. Ia tertawa saja dan membiarkan bacaan dibaca apa adanya. Sesekali ia membantu memperbaiki bacaan. Hal ini beberapa kali ia lakukan pada lesson bacaan sulit.

    Setelah itu, Fauzan berkata, “Sekarang kalian bebas memilih lesson.” Nampaknya ia sendiri merasa tidak nyaman dan kewalahan memimpin anak yang tidak bisa mengikuti bacaannya. Anak-anak itu meminta lesson 4, bacaan yang sangat gampang. Ia menolak dan memutuskan untuk membaca lesson 19. Keadaan ini membuat muridnya sedikit lega. Lumayanlah, ini lebih baik daripada lesson 100 ke atas, pikir anak-anak itu. Fauzan pun senang, bacaannya bisa diikuti.

    Namun, bukan Fauzan tidak serta merta membuat segala urusan jadi mudah. “Saya tidak bisa terlalu baik,” katanya. Ia kembali menaikkan bacaan pada lesson 40-an ke atas. Ini ia lakukan hingga lesson 49. Melihat dua muridnya tidak terlalu fasih, ia berbaik hati menurunkan ke lesson 7 dan bacaan mudah lainnya.

    Dari cerita di atas, terlihat jelas bahwa Fauzan memahami seluruh isi bacaan karena ia bisa mengacak bacaan sesuka hatinya. Ia pun memainkan emosi pelajarnya dengan memberikan bacaan mudah dan sulit, mengulangi bacaan agar dapat diikuti dengan benar: suatu tanda bahwa di balik kesulitan yang ia berikan, ia ingin membahagiakan rekannya juga. Dan satu hal lagi, ia tidak pernah memarahi muridnya yang tidak bisa mengikutinya. Selama pelajaran berlangsung, ia memandu dengan sabar dan tenang. Suasana kelas terasa akrab dan ia tidak dipersepsikan sebagai pemimpin kelas yang menyiksa rekan kelasnya.

    Kecerdasan Fauzan dari mencari ide meninggalkan kelas kini diubah menjadi ide mengelola kelas. Ilmunya pun yang sudah lumayan bagus dapat ia review dengan mengajar sembari terus melakukan pendalaman belajar selama ia berada di Kampung Belajar semasa liburan. Semoga kepemimpinan kecil yang ia dapatkan ini dapat ia terapkan saat ini kembali bersekolah di pesantren.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 6 Juli 2026

  • Daya Ledak Kebiasaan

    Daya Ledak Kebiasaan

    Kebiasaan yang punya daya ledak yang tinggi butuh konsistensi. Kenapa seorang penulis memilih menulis setiap hari?

    Menurut Anjar, rekan perjalanan dari kota Bulukumba ke Tanah Beru, menulis seperti obat yang bisa membantu menguraikan permasalahan di diri sendiri yang barangkali tidak bisa didiskusikan dengan orang lain.

    Rakyat di pulau Liukang yang membutuhkan listrik.

    Anjar bercerita. Menurutnya, kemarahan disampaikan ke orang lain, itu malah membuat hubungan menjadi buruk. Tetapi dengan menguraikan kemarahan melalui tulisan, kemarahan tersalurkan tanpa harus memperburuk hubungan. “Dan ketika saya kembali membacanya, saya merasa punya sisi kebijaksinian dalam hidup–bukan kebijaksanaan” terang Anjar.

    Anda boleh sepakat atau tidak. Yang jelas, dengan alasan yang ia jelaskan di atas, ia terbiasa menulis. Konsistennya dalam menyuarakan kebutuhan listrik yang berkeadilan yang akses 24 jam untuk rakyat di Pulau Liukang di Bulukumba mendapatkan respon positif. PLN telah menyalurkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Ini karena ia tidak hanya turun langsung ke lapangan tetapi juga karena narasi kampanye yang ia sebarkan di media sosial secara masif.

    Sementara itu, penulis sendiri masih dalam tahap dalam upaya mencari daya ledak. Dengan cara menulis, proses perjalanan hidup dicatat setiap hari. Dari sini, penulis dapat mengecek apakah perpindahan dari hari ke hari tersebut mengalami perkembangan atau penurunan. Itu adalah data sejarah yang dapat digunakan membaca masa depan.

    Beberapa hal penting juga yang dipikirkan pada hari menulis, entah terwujud atau tidak dituangkan. Pembaca dapat mengambil manfaat dari ide-ide yang dianggap cocok untuk diterapkan. Yang tidak cocok dikritisi yang memungkinkan untuk diubah. Dengan demikian gagasan yang lebih baik bisa lahir.

    Namanya juga menulis hal-hal sederhana, semacam catatan harian. Orang bilang, itu biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Cuma saja, patut diingat bahwa catatan harian pernah punya daya ledak di Indonesia. Ingat buku Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib? Buku yang terbit pada 1981 punya daya ledak yang luar biasa. Kejaksaan Agung memang tidak melarangnya tapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan buku itu berbahaya dan sesat.

    Apakah Anda punya daya ledak yang tidak sesat?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu 5 Juli 2026

  • Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

    Ketelitian dan musyawarah itu penting untuk membuat sesuatu hal berharga. Apa sulitnya Doktor Horst Liebner menulis tentang perahu? Karyanya bertaburan di mana-mana dan ia memang hidup di tengah masyarakat perajin perahu selama berpuluh-puluh tahun. Antropolog yang juga pecinta sastra ini kaya dengan struktur tata bahasa dan cita rasa bahasa dalam menulis.

    Beberapa tulisan pendek telah Pak Horst sodorkan untuk saya baca, kami diskusikan, dan kami kritisi. Ia suka manambahkan kata tunjuk atau artikel (demonstrative adjective or article) seperti kata “itu” dan kata keterangan (adverb) yang membuat tulisannya lebih menarik. Menurutnya, ia sering menggunakan artikel karena dipengaruhi oleh bahasa Jerman, bahasa ibunya—memperjelas kata yang sebelumnya telah disebutkan. Saya mengakui penggunaannya pada kata keterangan untuk memperindah tulisannya.

    Bagi saya, semuanya benar. Cuma saja, untuk sebuah tulisan yang harus pendek, sebaiknya itu dihapus saja. Diskusi kami kadang-kadang jadi tajam dalam mempertahankan pendapat masing-masing yang dianggap benar.

    Dalam beberapa hal, ia bersedia mengubah pendapatnya, “Hapus saja,” katanya. Tapi, bagian lain, “Tidak. Itu penting,” lanjutnya.

    Saya paham bahwa kekhasan dan gaya bahasa seorang penulis perlu tetap dijaga. Karena itu, saya tidak mendebat lagi.

    Toh, menghapus kata atau tidak sama sekali tidak mengubah inti tulisan. Bila dihapus, tulisan lebih pendek, dan bila tidak dihapus, tulisan itu sudah pendek. Kami hanya sekadar berusaha mencari kosakata yang nyaman untuk pembaca. Itulah yang kami diskusikan panjang lebar selama berjam-jam untuk mendapatkan kualitas bahasa yang terbaik.

    Secara pribadi, saya merasa sangat bersyukur bisa mengakrabkan pemikiran secara intelektual dengan Pak Horst. Layaknya diskusi akademik, tidak ada rasa sungkan untuk berbeda pendapat. Mendebatnya bukanlah sesuatu yang dipersepsikan merendahkan orang, tapi itu malah menjadi perhatian lebih untuk mengetahui sejauh mana ketajaman argumentasi. Kultur seperti inilah yang harus dibangun bila kita ingin memajukan ilmu pengetahuan.

    Kebebasan Berpendapat di Indonesia

    Kultur akademis yang mapan ini mengingatkan saya pada warisan intelektual terbesar yang pernah dibawa pulang oleh B.J. Habibie dari Jerman ke Indonesia. Ia menginspirasi bahwa manusia Indonesia harus punya kemerdekaan berpikir yang bertanggungjawab. Pernyataannya itu bukan sebatas slogan. Saat menjadi presiden, ia memerintahkan untuk melepaskan tahanan politik, termasuk orang-orang yang bertentangan dengannya.

    Keberanian dan konsistensi Habibie tidak hanya berhenti sampai di situ saja. “I will never, never tolerate that the Indonesian government will interfere with the freedom of the press,” kata Habibie kepada Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists). Terjemahan bebasnya adalah: “Saya tidak akan pernah, tidak akan pernah mentoleransi bahwa pemerintah Indonesia akan mengintervensi kebebasan pers.”

    Kebebasan pers lama dibredel oleh pemerintahan Soekarno dan dibuka oleh Soeharto selebar-lebarnya dengan mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

    Bagaimana Anda mau mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unggul kalau diberikan kendala-kendala yang tidak bisa bergerak? Pertanyaan Habibie ini kemudian Pak Horst lanjutkan dengan menyatakan bahwa ia selalu merencanakan dan membantu agar supaya Indonesia mandiri. Pembuatan proses nilai tambah suatu produk bisa dilaksanakan meskipun susah.

    Doktor Kita Berani Didebat?
    Indonesia dan Jerman pernah sama-sama melewati otoritarianisme. Jerman trauma dengan rezim Nazi dan Komunis di Eropa Timur, serta Indonesia di masa Orde Lama dan Orde Baru masih menganut paham feodalisme.

    Zaman terus bergerak dan kita tentu tidak ingin kembali ke masa lalu itu. Mikrokultur dari potret pada budaya akademis seperti yang tergambarkan pada diskusi dengan Dr. Horst Liebner adalah kultur Jerman yang menghargai ketajaman argumentasi, lugas tanpa tedeng aling-aling, dan objektif. Berbeda pendapat bukanlah serangan personal dan merendahkan derajat orang lain. Berdebat dengan seorang doktor yang namanya sudah sangat terkenal sebagai pakar maritim, khususnya perahu tradisional Indonesia di Sulawesi Selatan, adalah hal biasa dan perlu dibiasakan.

    Apakah doktor-doktor di Indonesia juga berpikir seperti itu juga? Masihkah Indonesia terjebak pada feodalisme intelektual?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 4 Juli 2026

  • Metode Lintas Usia: Kotak Kosong dan Batu

    Metode Lintas Usia: Kotak Kosong dan Batu

    Berangkat dari sebuah pertanyaan berani, “Saya sudah hafal Tenses,” kata Fifi, pelajar di Kampung Belajar. Novi, rekan kelas Fifi, mengatakan hal yang sama. Tersirat makna bahwa materi tersebut sebagai hal biasa saja. Mereka butuh tantangan baru.

    Guru kelas tahu bahwa kedua pelajar tersebut butuh istirahat sejenak. Setelah itu, mereka kembali berlatih berbekal kotak-kotak kosong tenses. Apa yang mereka katakan tadi benar—mampu praktik lisan tenses secara teratur di luar kepala. Ayla, Fauzan, dan Faika yang cukup bagus pemahamannya diajak memberikan soal secara acak.

    Saat mereka berlatih bersama, terdapat sedikit hambatan. Soal yang diberikan tidak cukup variatif, tetapi sebagai pengantar, itu sudah lumayan. Guru kelas tidak puas. Ia menargetkan para muridnya punya kecepatan dalam menjawab.

    Di hari berikutnya, Adeeva, anak kelas IV Sekolah Dasar yang juga peraih emas Olimpiade bahasa Inggris pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS), diajak bergabung. Ia terlihat sungkan dan masih agak kewalahan juga membuat soal lisan secara acak. Sebagai alternatif, mereka sama-sama berlatih secara bergantian saling memberikan soal untuk dijawab. Perlahan-lahan, mereka tahu cara membuat soal acak yang memancing adrenalin untuk menjawab soal dengan cepat.

    Anak-anak ini juga mendapatkan pelatihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan), sebuah pengantar agar mereka tidak kewalahan mempelajari tenses nantinya.

    Keakraban pun tumbuh secara alami. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri, keenam pelajar tersebut memimpin kelas secara bergantian—satu orang menyebut kalimat. Misal: She was catching a ball, past progressive tense (Dia sedang menangkap sebuah bola, tenses pada past progressive). Kemudian, yang memimpin meletakkan sebuah batu di atas kotak kosong. Bila batu itu berada di kotak kosong present perfect progressive dengan perintah negative interrogative, mereka pun berlomba-lomba mengubah kalimatnya menjadi “hasn’t she been catching a ball?”. Perpindahan kalimat ini terus dilakukan hingga seluruh perubahan kalimat tenses tuntas.

    Kumpulan pelajar di Kampung Belajar.

    Latihan bersama ini menutup celah dalam kelambanan menjawab. Selain itu, yang memimpin kelas sudah berpikir membuat soal yang sulit dijawab—mereka sudah sama-sama tahu bahwa soal yang tidak menjebak dengan mudah ditaklukkan. Kualitas pelajaran meningkat berkat kreativitas mereka sendiri.

    Perlombaan menjawab soal latihan.

    Itu desain Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB). Mengolah dan berbagi pengetahuan sesama rekan untuk memperdalam pemahaman. Setiap kali pelajar merasa pemahamannya meningkat seperti yang disampaikan Fifi dan Novi, maka tingkatan materi pun dengan sendirinya ditambah—materi disampaikan secara bertahap, terukur, dan sistematis agar mereka mampu menyerapnya dengan baik dan disebarkan kepada sesama.

    Bukankah orang menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat itu tidak akan mengurangi ilmu pengetahuannya?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 3 Juli 2026