Saya sesekali berusaha mengingat apa sih judul skripsi saya dulu. Ada ‘Ahmadinejad’ lah. Setelah itu saya nga tahu lagi. Maklum waktu itu Presiden Ahmadinejad lagi pusat perhatian dunia melabrak George W. Bush (Jr.) dan antek ateknya, Israel.
Tanpa sengaja saya menemukan skripsi saya di internet. Saya sangat ingin membaca pikiran saya sendiri. Sayangnya, itu cuma bagian cover saja, kata pengantar sekaligus ucapan terima kasih dan daftar isi yang ditampilkan.
Tapi saya senanglah. Minimal ingat judul, ‘Sikap Kritis Ahmadinejad terhadap Holocaust dan Palestina’. Thank you website UMY.
Saat membaca Kata Pengantar, saya ucapan terima kasihku banyak juga. Ada dosen kampus, keluarga, rekan rekan seperjuangan di HMI dan Rausyan Fikr oleh almarhum Ust. Andi Muhammad Safwan.
Ust. Safwan bertanya,
‘Kamu nga mau sarjana, Patwa?’.
Kujawab cepat, ‘Tentu maulah.’
‘Kenapa belum sarjana juga?’ tanyanya.
‘Saya masih mau menikmati duit orang tua buat nambah nambah uang saku beli buku.’ kataku.
Padahal saya sudah punya beberapa pekerjaan serabutan dan ingin lebih banyak santai dengan tetap menyandang status mahasiswa.
“Tidak kasihan sama orang tuamu?”, tanyanya penasaran.
“Kasihan. Saya malah tidak enak. Ayahku bilang bila saya mau kuliah lebih lama lagi, saya tetap dibiayai.”
“Apa judul skripsimu?”
“Sikap Kritis Ahmadinejad terhadap Holocaust dan Palestina. Tapi itu tidak kukerjakan. Kubiarkan saja”.
“Kenapa?”
“Banyak kegiatan Ust.”, kataku ngeles.
“Udah, kamu tinggal di sini saja (maksudnya di RausyanFikr). Gunakan segala fasilitas yang ada di sini hingga skripsimu selesai. Satu minggu itu bisa tuntas.”
Saya tergugah dengan perhatiannya tapi saya menolak dengan halus untuk tinggal di Rausyan Fikr. Saya tahu saya bisa menyelesaikan skripsi saya dengan cepat karena hampir segala buku yang kubutuhkan telah kumiliki. Masalah utamanya terletak pada setan yang bernama malas.
Yang penting adalah saya sesekali dapat berdiskusi dengan Ust. Safwan untuk menyelesaikan yang sulit kumengerti pada tulisanku. Dan Alhamdulillah, beliau selalu berkenan meluangkan waktunya untukku.
Di Asrama Empat Merapi Sul-Sel di Jalan Sunaryo No. 4 Kota Baru, Yogyakarta, saya duduk di teras asrama sembari menatap pohon rambutan yang rindang. Tiba tiba, selembar daun muda gugur dengan sangat lambat jatuh ke tanah. Kubertanya, “Kenapa bukan daun yang kuning yang gugur, daun lebih tua?” Lama merenung, kutemukan hubungannya dengan diriku.
Ayahku sudah semakin berumur selalu mengatakan kepada seluruh anaknya bahwa doanya tiap hari yaitu ingin melihat ketujuh orang anaknya sarjana sebelum dipanggil kembali ke Pammasena Puangnga (Pangkuan kasih sayang-Nya). Saya adalah anak satu satunya yang belum sarjana. Kalau saya tidak segera sarjana, saya khawatir, saya lah daun hijau itu, gugur. Saya ingin ayahku bahagia di masa tuanya, mewujudkan doa hariannya dalam shalatnya. Daun yang kuning belum gugur.
Pada akhirnya skripsi pun selesai kutulis dalam waktu yang ternyata “cepat juga tapi tiga bulan. Pada akhirnya, ayahku pun berkunjung ke Yogyakarta. Alhamdulillah.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at 24 April 2026
Anak anak akan sangat senang bila mereka belajar sesama rekan akrabnya. Komunikasi dalam bentuk percakapan yang sesuai standar tata bahasa dipraktekkan dengan model tanya jawab berbahasa Inggris dunia menjadikan dunia belajarnya lebih hidup. Itu adalah tindak lanjut dari hasil jawab soal soal percakapan yang telah mereka selesai kerjakan.
Setiap anak akan saling bertanya dan saling menjawab. Pembiasaan ini tidaklah mesti harus dilakukan dengan menghapal. Membaca saja itu sudah cukup asalkan itu sering diulang-ulang. Pada akhirnya, anak anak paham dan dengan sendirinya menghapal pelajarannya tanpa harus menghapal.
Menggunakan kosa-kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari itu mudah. Untuk mendapatkan standar yang lebih tinggi tanpa menghilangkan kosa kata percakapan sehari-hari tersebut dapat dibentuk dengan memberikan pola-pola kalimat yang sesuai standar akademik sehingga pengetahuan tersebut akan sangat berguna di sekolah atau universitas nantinya. Lebih lanjut, pelajar kita otomatis punya bekal dalam menulis dalam Bahasa Inggris.
Tantangan kita selanjutnya adalah bagaimana para pelajar kita terbiasa dengan buku bacaan berbahasa Inggris. Kita memerlukan bahasa asing itu sebagai alat pengetahuan di mana para pelajar mudah mengakses pemikiran orang luar yang kemudian dapat kembangkan sesuai lingkungan dan kebutuhannya. Sebagai alat komunikasi, itu baik saja tapi bukankah kita dapat melakukan yang lebih baik? Untuk itulah kami menempuh gerakan membumikan literasi.
Anak anak yang bahagia belajar sesama rekannya yang akrab akan lebih mudah untuk saling berbagi gagasan dari hasil pembelajaranya. Karena mereka belajar dengan cara yang benar, bukan hal mustahil mereka bisa memperbincangkan pengetahuan hal hal yang baru di luar dari prediksi kita. Karena itu, pembiasaan percakapan yang berisi tanya jawab yang mengembangkan wawasan berpikir sangat penting untuk selalu dimasukkan dalam pembicaraannya.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, 23 April 2026
‘Guten tag’ (Selamat siang). Oh! Itu salah. Guten abend’, (Selamat malam) itu lebih salah lagi. Kalimat yang pertama penulis ucapkan lewat telepon saat Mr. Irfan, manager Cahaya Bone Travel of Kalla Group di Bulukumba, memberikan telponnya kepada untuk berbicara kepada seorang tamu dari Jerman yang hendak ke Makassar. Kontan saja, ucapan disambut tawa oleh gadis muda itu di telepon karena penulis seharusnya mengucapkan, ‘Guten morgen’. Hari memang menjelang siang tapi matahari belum tergelincir, penanda pagi belum berlalu.
Setelah berbicara dalam beberapa kalimat dalam Bahasa Jerman, penulis tidak tahu mau bilang apa lagi. Akhirnya, dengan baik hati, ia menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Yang kami tahu kami akan menjemputnya pada 3.45 sore karena ia terlebih dahulu akan pergi diving (menyelam) di hari terakhir di laut Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Saat bertemu, faktor ‘Wow!’ pun hadir. Seorang gadis bule dengan tinggi 185 cm–sebuah ukuran yang menakjubkan bagi orang Indonesia–punya keramah-tamahan dalam berbicara dilengkapi dengan kecerdasan komunikasi yang memukau dalam mengungkapkan pendapat. Hal ini mengingatkan penulis pada Johann Wolfgang von Goethe, sastrawan kesohor Jerman era Neoklasisme dan Romantisisme Eropa di akhir abad 18 dan awal abad 19.
Namun, kita hidup di abad 21. Orang Jerman yang dalam dunia nyata kami temui adalah Verena Schubert, perwujudan kecerdasan manusia abad modern, berpendidikan dan pandai bergaul. Ia mengungkapkan bahwa keindahan dan kekayaan alam Indonesia layaknya surga yang harus dijaga. Apa bedanya dengan Soerkarno, sang proklamator kita? Soekarno juga pernah bilang, “Indonesia adalah sepotong surga”. Statement mereka sama saja.
A glace for Verena with Indonesian local students practicing English at Rumah Belajar Bersama in Bulukumba District. Picture taken on April 22, 2026.
Selama minggu berada di Bira, selain setiap hari Verena menyalurkan hobby diving-nya menikmati keindahan terumbu karang bawah laut, ia pun turut aktif kegiatan Dego Dego Na Bira dan Tevana yang berkonsentrasi menanam dan merawat terumbu karang. Pada saat yang sama, ia mengkampanyekan stop buang sampah plastik ke laut dan pembakaran sampah plastik sembarangan di biasa ia temui dalam perjalanannya berkeliling dunia. Tak lupa, Verena pun tidak tutup mata bahwa pencemaran akibat industrialisasi di barat juga terjadi.
Ajakan kesadaran bersama ini kemudian ditindaklanjuti dengan mengungkapkan, “Kita akan menghancurkan rumah kita sendiri. Kita akan membuat rumah kita sendiri terbakar api. Pilihan kata yang halus tanpa harus menyalahkan orang lain. Kalau bukan diri kita sendiri yang memulai, siapa lagi?
Ajakan Verana tidak dibatasi oleh timur saja tapi juga barat juga, seluruh ummat manusia. Kepedulian manusia yang tidak dibatasi oleh kutub ini pernah juga disampaikan dalam West-Ostlicher Diwan (Diwan Barat-Timur) oleh Goethe:
Wer sich selbst und andre kennt,
Wird auch hier erkennen:
Orient und Okzident
Sind nicht mehr zu trennen.
Sinnig zwischen beiden Welten
Sich zu wiegen lass’ ich gelten;
Also Zwischen Ost und Westen
Sich bewegen, sei’s zum Besten!
(Zum Diwan, West-Ostlicher Diwan)
Yang kenal diri juga sang lain
Di sini pun kan menyadari:
Timur dan Barat berpilin
Tak terceraikan lagi.
Arif berayun penuh manfaat
Di antara dua dunia;
Melanglang timur dan barat
Mencapai hikmah mulia!
(Mukadimah Diwan Barat-Barat)
Guten morgen, Guten tag dan Guten abend adalah harapan keselamatan sesama manusia dalam menjalani perputaran kehidupan. Kegagalan memaknai “Gooten” dapat diselamatkan dengan menerjemahkan ke bahasa yang kita pahami. Bumi yang luas ini kita tapaki untuk melihat dan membaca prilaku manusia. Tidakkah kita mau merenungkannya dan menyampaikan kepada sesama hal hal yang baik dari negeri yang pernah kita kunjungi?
Pertemuan dengan Horst Liebner
Orang Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut ulung dan pembuatan perahu kayu yang paling populer di Indonesia. Mayoritas perahu dipesan dari Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba yang tersebar di berbagai desa. Dan saat itu, kami berada di pusat galangan perahu, Tanah Beru.
Merupakan suatu keberuntungan di mana kami dapat bertemu Dr. Horst Liebner, seorang pakar perahu tradisional Indonesia khususnya Sulawesi Selatan, Verena dan kami dapat bertemu dengan Pak Horst yang sedang duduk bersantai di salah satu galangan kapal miliknya Pak Najib, teman akrab Pak Horst.
Karena sesama berkebangsaan Jerman, Verena tidak merasa asing dengan Pak Horst. Sebelum berakrab ria, “Tunggu dulu”, sambil berdiri di dekat Verena. “Tinggi kan. Ah! Tingginya orang Jerman seperti ini”, sembari Pak Horst menatap Verena. Pak Horst yang sudah hampir menetap selama 40 tahun di Indonesia sengaja bercanda karena mengerti bahwa tinggi badan hal yang selalu jadi perhatian di Indonesia.
Selebihnya Horst berbicara dalam Bahasa Jerman dengan Verena sembari memperlihatkan beragam foto perahu tradisional Indonesia dari generasi ke generasi. Penulis hanya menikmati betapa asyiknya mereka berbicara. Paling sedikit, Verana tahu ada orang Jerman yang punya dedikasi dan berpengetahuan luas di negeri yang ia kunjungi. Indonesia memang bukan kampung halamannya namun dengan adanya Pak Horst, ia tidak merasa sendiri.
Doctor Horst Liebner showing some boat pictures to Verena.in Tana Beru Sub-District.
Sejurus kemudian, Pak Horst mengalihkan pandangan, “Sudah kamu perlihatkan Perla Anugerah Ilahi?” Itu mengacu perahu tradisional tanpa mesin yang ia buat. “Saya kira perahu itu sedang berlabuh di sini”, jawab penulis. “Tidak. Perahu itu berada di pelabuhan Bira”. Tempat itu telah kami lewati, tidak mungkin untuk kembali. “Di kesempatan lain, perahu itu akan kami tunjukkan ke Verena”, kata penulis. Pak Horst mengerti. Kami kemudian pamit karena Verena mobil yang akan membawanya ke Makassar telah menunggu di Bulukumba.
Kesan yang muncul adalah Verena disambut baik oleh Pak Horst. Jika dia mau dan ada kesempatan, ia tentu bisa ikut berlayar di Pinisi Perla Anugerah Ilahi, satu-satunya perahu layar Indonesia yang hanya mengandalkan angin. Tanpa deru mesin yang ribut dan asap menghitam, Perla menyatu dengan alam. Yang kita dengarkan adalah suara angin berhembus, desiran ombak dan keheningan di malam hari menatap bulan dan bintang penuh kedamaian. Ya, itu sedikit pengalaman yang penulis temukan saat ikut berlayar bersama Pak Horst dari Bulukumba ke Makasar.
Dalam bayangan Verena, itu seperti Yoga. Iya, bila dengan Yogya orang menemukan kedamaian. Verena mengerti Yoga sedangkan penulis adalah pelatih karate, tentu berbeda. Pengalaman itu adalah pengetahuan partikulat di mana ukurannya sangat subjektif, kembali kepada orang yang mengalaminya.
It was the time when we said goodbye to Verena at Cahaya Bone Travel of Kalla Group in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia. Picture taken on April 22, 2026.
Perjalanan kehidupan adalah langkah langkah. Ada pertemuan, ada perpisahan. Aris Irfan, sang manager Cahaya Bone Travel dan Villa Malomo Bira telah menjamu tamunya, Verena Schubert, dengan sangat baik. Orang orang akan terus berjalan di muka bumi. Kita berharap suatu saat kita semua dapat bertemu kembali dalam keadaan lebih baik. Jembatan kehidupan. Guten! 😀
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, 23 April, 2026
“Guten tag” (Good afternoon). Oh! It’s wrong. “Guten abend” (Good evening) it was even worse. Those are the simple phrases the writer said over the phone when Mr. Irfan, manager of Cahaya Bone Travel of the Kalla Group in Bulukumba, handed his phone to me to speak to a guest from Germany who wanted to Makassar. Naturally, the young girl on her handphone line laughed, as the writer should have said, ‘“Guten morgen” (Good morning). It was almost mid-may, but the sun hadn’t moved to the top of our head yet, marking the end of morning.
After speaking a few sentences in German, The writer didn’t know any German at all. Finally, she kindly explained in English. All we knew was that we would pick her up at 3:45 p.m. She was planning to dive on her last day in the sea of Bira, Bulukumba Regency, South Sulawesi, Indonesia.
The moment we met, the ‘wow!’ factor was immediately apparent. A foreigner woman standing with 185 cm tall—an astonishing height for Indonesians—has a friendly demeanor, complemented by a stunning communicative intelligence in expressing her opinions. This reminds me of Johann Wolfgang von Goethe, the famous German writer of the Neoclassicist and Romantic era in Europe in the late 18th and early 19th centuries.
However, we live in the 21st century. The German we met in real life is Verena Schubert, the embodiment of modern intelligence, educated, and sociable. She explained that Indonesia’s beauty and natural wealth are like a paradise that must be preserved. What is the different from Sukarno, our Indonesian founding father? Sukarno also once said, “Indonesia is a piece of heaven.” Their statements were similar.
A glace for Verena with Indonesian local students practicing English at Rumah Belajar Bersama in Bulukumba District. Picture taken on April 22, 2026.
During her week in Bira, in addition to daily diving, Verena enjoyed the beauty of the underwater coral reefs, and also actively participated in the Dego Dego Na Bira and Tevana activities, which focus on planting and maintaining coral reefs. At the same time, she campaigned to stop throwing plastic waste into the ocean and the indiscriminate burning of plastic waste she frequently encountered during her travels around the world. Verena also acknowledged the pollution caused by industrialization in the West.
This call for collective awareness was then followed up by stating, “We will destroy our own home. We will set our own home on fire”, said Verena. A subtle choice of words, without blaming others. If we don’t start it by ourselves, who will?
Verena’s call was not limited to the East, but also to the West, to all of human race. This pole-free human concern was also expressed in Goethe’s West-Ostlicher Diwan (West-East Diwan):
Wer sich selbst und andre kennt, Wird auch hier erkennen: Orient und Okzident Sind nicht mehr zu trennen.
Sinnig zwischen beiden Welten Sich zu wiegen lass’ ich gelten; Also Zwischen Ost und Westen Sich bewegen, sei’s zum Besten! (Zum Diwan, West-Ostlicher Diwan)
The one knowing self is also the other
Here will realise:
East and West are twisted
Inseparable.
Wisely swinging full of merits
Between two worlds;
Wandering East and West
Attaining noble wisdom!
(Preamble to the West-East Diwan)
Guten morgen, guten tag, and gutenabend are the hopes for the safety of fellow human beings as they navigate the cycle of lives. The failure to understand the meaning of “Guten” can be mitigated by translating it into the language we understand. We walk on this vast earth to observe and interpret human behavior. Shouldn’t we want to reflect on it and share with others for the good things we’ve seen in the lands we’ve visited?
Meeting with Dr. Horst Liebner
For centuries, South Sulawesi people, Makassarese and Buginese, have been renowned as skilled sailors and the most popular wooden boat builders in Indonesia. The majority of boats are ordered from Bonto Bahari Sub-District, Bulukumba. On our way from Bira to Bulukumba, we stopped for a while at the boatyard center of the boatbuilding industry in Tanah Beru in Bonto Bahari.
It was fortunate to meet Dr. Horst Liebner, an expert on traditional Indonesian boats, particularly those from South Sulawesi. Verena and we were able to talk to Mr. Horst, who was relaxing in one of the shipyards owned by Mr. Najib, a close friend of Mr. Horst.
Being German, Verena felt familiar with Mr. Horst. Before having conversation, Mr. Horst said, “Wait a minute,” as he stood near Verena. “She is tall, isn’t she? Ah! Germans are like this,” as Mr. Horst looked at Verena. We were all laughted. Mr. Horst, who has lived in Indonesia for almost 40 years, made a point of joking, understanding that height is always a special concern in Indonesia.
For the rest, Horst spoke German with Verena, showing her various photos of traditional Indonesian boats from across the generations. The author simply enjoyed their lively conversation. At least, Verena knew there is a dedicated and knowledgeable German in the country she was visiting. Indonesia may not be her homeland, but with Mr. Horst around, she could see German’s mind in Indonesia.
Doctor Horst Liebner showing some interesting boat pictures to Verena in Tanah Beru Sub-District.
A moment later, Mr. Horst looked away, “Have you shown her Perla Anugerah Ilahi?” He was referring to the traditional, engineless boat he had built. “I thought it was anchored here,” the writer replied. “No. It’s at Bira harbor.” We had passed that area; there was no way we could return. “We’ll show Verena the boat another time,” the writer said. Mr. Horst understood. We then excused ourselves to Mr. Horst and Mr. Najib because Verena’s car, which would take her to Makassar, was waiting in Bulukumba.
The impression we got was that Verena was warmly welcomed by Mr. Horst. If she wanted to and had the opportunity, she could certainly sail on the Pinisi Perla Anugerah Ilahi, Indonesia’s only wind-powered sailing boat, without the roar of noisy engines and black smoke, Perla blends with nature. All we heard was the sound of the wind, the lapping of the waves, and the silence of the night, gazing at the peaceful moon and stars. Yes, that’s a bit of the experience the writer discovered while sailing with Mr. Horst from Bulukumba to Makassar in 2024.
In Verena’s mind, it’s like Yoga. Yes, if one finds peace through Yoga. Verena understands Yoga, while I am a karate instructor, it’s certainly different. Experience is a particular kind of knowledge, the measurement of which is highly subjective, and depends on the individual experiencing it.
It was the time when we said goodbye to Verena at Cahaya Bone Travel of Kalla Group in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia. Picture taken on April 22, 2026.
Life’s journey is a series of steps. There are meetings, there are farewells. Aris Irfan, the manager of Cahaya Bone Travel and Villa Malomo Bira, has hosted his guest, Verena Schubert, very well. People will continue to walk on this earth. We hope that one day we will all meet again under better circumstances. The bridge of life. Guten! 😀
Tanya jawab online untuk kedua kalinya dengan Salma Minasaroh, penggagas lembaga pendidikan GAIA di Pati, Jawa Tengah, dipadati oleh anak-anak SD dan segelintir anak SMP berjumlah 16 peserta dari RBB (Rumah Belajar Bersama) di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Anak-anak semangat dan antri mendapatkan pertanyaan yang jawabannya telah mereka siapkan. Rasa penasaran ini muncul karena pada pertemuan pertama, hanya dua orang pelajar saja, yaitu Adeeva dan Faika, yang mendapatkan kesempatan untuk ngobrol online.
Dalam hal menjawab, anak-anak telah mempersiapkan dengan baik. Hal yang menjadi kendala adalah mereka ingin cepat mendapatkan pertanyaan dan ingin akting bicara. Tanda acungan tangan ✋ banyak muncul di kamera dan teriakan “me” (saya) menandakan mereka ingin segera tampil juga.
Miss Salma berusaha semaksimal mungkin agar semua anak mendapatkan kesempatan untuk bicara. Setelah anak-anak menjawab pertanyaan, ungkapan “Okay” sering muncul dari Miss Salma, pertanda anak-anak sudah menjawab dengan tuntas.
Patut diakui, beberapa orang yang masih kesulitan memahami pertanyaan berusaha mendatangi guru kelasnya di RBB (Rumah Belajar Bersama) agar terlihat mampu berbicara dengan baik seperti teman-temannya yang lain. Sebagian berbisik-bisik kepada teman-temannya tentang kosa kata yang mereka lupakan. Beragam emoji yang lucu sering mereka hadirkan di depan kamera. No one can stop children’s expression (Tidak ada yang dapat menghentikan ekspresi anak-anak).
Keputusan pada kepedulian obrolan online bahasa Inggris ini terjadi karena Miss Salma merasa berkepentingan untuk berbagi ilmu dengan anak-anak Indonesia yang tersebar di berbagai daerah. Pelajar RBB mendapatkan kesempatan bertemu karena selain ada hubungan perkawanan yang baik sewaktu kuliah dengan pengajar RBB, Miss Salma juga melihat ada perkembangan berarti dari para pelajar yang ia amati melalui media sosial.
Berdasarkan pertimbangan di atas, pendidikan akademik Miss Salma di UAD (Universitas Ahmad Dahlan) dan UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta serta non akademik di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur sama sekali tidak membatasi dirinya untuk berakrab ria kepada para pelajar pemula tapi malahan jadi strategi untuk lebih membumi dalam turut mendukung kemajuan pendidikan anak anak Indonesia. Bahasa Inggris semestinya bukan lagi ‘hantu’ bagi para pelajar sekolah kita.
Hal positif lainnya yang dapat dipetik di sini adalah terdapat kesabaran yang tingkat tinggi dalam menghadapi anak anak yang suka bikin suara ramai meskipun belum ditanya. Jam terbang mengajar memang sangat mempengaruhi. Terbukti, dari semua peserta yang bertahan hingga akhir pembelajaran sekitar dua jam, 20 pertanyaan kepada para peserta dapat diselesaikan.
Tentunya, terdapat juga kelemahan dari tanya jawab online tersebut. Dari pengalaman dua pertemuan ini, kami akan mendesain program yang lebih baik lagi sehingga rasa penasaran pelajar yang ingin praktek Inggris lebih banyak dapat terpenuhi.
As a closing statement, “You have to study more and more. Don’t be lazy!” said Salma. That’s right. And you have just given great motivation to our students here, in South Sulawesi. Thank you very much.
Tidak berolahraga itu benar benar menyiksa. Cedera sakit pinggang menyebabkan penulis berhenti latihan karate selama beberapa bulan. Tubuh mengembang seperti bola, malas bergerak semakin menghantui hari hari yang berlalu. Akal sehat memerintahkan untuk aktif lagi latihan.
Di awal-awal kembali latihan, beratnya minta ampun. Sip up yang sudah mencapai 500 kali dalam sehari kini baru 20 kali saja, otot perut tertarik. Pukulan dan tendangan tidak terbentuk, lambat dan nafas pendek menyebabkan pandangan mata berkunang-kunang. Jam istirahat lebih banyak dari jam latihan.
Pengajaran para karate ka untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas, kepala tidak boleh tunduk, jangan jongkok, tetap tegakkan badan agar peredaran darah ke otak tetap lancar. Latihan menggunakan nafas perut diaktifkan untuk menghalau nafas pendek, menormalkan pernafasan. Mudah lelah rasanya seolah kembali berlatih dari awal. Ya, itulah konsekuensi yang harus dihadapi dari orang yang terlalu banyak menunda waktu.
Jalan sehat itu sebenarnya tidak mahal selama konsistensi berolah raga dilaksanakan. Kita harus menemukan alasan yang tepat mengapa kita harus berolahraga. Pendapat yang paling lazim adalah alasan kesehatan. Bagi karate ka yang mau ujian, pasti ia berpikir bahwa bila tidak latihan, ia akan bonyok di ujian. Dan bagi yang lain bisa mengatakan ini stategi memperlambat penuaan.
Memulai kembali olahraga cenderung sulit memulainya lagi setelah beristirahat dalam waktu tertentu. Siapkah kita hidup lebih tersiksa? Makanan yang kita konsumsi sehari-hari mayoritas mengandung zat kimia, pengawet dan semacamnya. Bagaimana cara membakarnya? Konsumsi obat? Bersediakah akal sehat kita memerintahkan untuk berhenti olahraga?
Negara Finlandia menggemparkan dan menjadi rujukan dunia pendidikan karena berhasil menjadi top one melampaui Amerika. Orang Scandinavian itu tidak menerapkan sistem kompetisi melainkan kolaborasi. Kompetisi memang mencetak seseorang menjadi terbaik sedangkan kolaborasi mengajak kerjasama, saling mengisi kelebihan dan kekurangan, pintar bersama.
Azdra (jilbab abu-abu) dan Ifa (jilbab merah ) pelajar kelas 1 SMPN 1 Bulukumba, tidak bisa dipisahkan meskipun mereka suka saling menyalahkan. Azdra anak yang tidak pusing dengan urusan pelajaran. Ia hanya tidak ingin ditafsirkan oleh ibunya tidak belajar. Sedangkan Ifa, ia punya target, kerja tugas dan rajin membaca. Azdra akan rajin bila tahu bahwa pelajarannya tertinggal dari Ifa. Ifa yang meskipun sering marah ke Azdra terlihat senang hati bila Azdra butuh bantuan. Mereka ingin sukses bersama.
Apa yang perlu kita tindak lanjutkan adalah para pelajar yang sudah terbiasa saling membantu tidak diarahkan pada menyontek, kecerdasannya semu. Anak anak yang biasa menyontek akan merasa aman karena mendapatkan nilai rapor yang bagus. Orang tua murid yang sekedar melihat nilai rapor anak-anaknya pasti akan terkecoh. Pada akhirnya, generasi yang tercipta tidak ada bedanya dengan mesin foto copy.
Dari cerita di atas, Ifa berlatih menjelaskan agar Azdra memperoleh proses belajar hingga tahap tahu. Dengan demikian, derajatnya sama sama terangkat. Di kemudian hari, Azdra bisa menolong pelajar lainnya yang pernah senasib dengan dirinya. Dan bagi orang seperti Ifa, ia tidak akan kekurangan ilmu sedikit pun, malahan ilmunya makin bertambah.
Dalam beberapa hal, Azdra sesekali membantu rekan kelasnya untuk membaca dengan atau menjawab soal-soal latihan dengan benar. Di sini, Azdra tanpa ia sadari dirinya telah menerapkan sistem kolaborasi, bukan kompetisi. Ia menjadi bagian orang yang penting di kelas, dibutuhkan oleh rekan-rekannya
Long life education. Pendidikan itu memang investasi jangka panjang. Perubahan dan pengembangan cara pandang itu butuh proses belajar yang berkelanjutan. Kesuksesan sistem kolaborasi belajar yang dibangun oleh Finlandia terjadi karena mereka terus berbenah diri dimana para pelajar, lingkungan, orang tua dan sistem pemerintahan saling mendukung satu sama lain. Terdengar sederhana tapi itulah kenyataan yang mengagetkan dunia pendidikan.
Sebenarnya sih, Indonesia itu juga punya Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan), saling mendukung. Kalau tidak dibilang sama dengan Finlandia, paling sedikit, ada kemiripan. Tapi kenapa hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) literasi membaca, matematika dan sains pada 2022 dari pelajar Indonesia itu masih di bawah standar? Akankah PISA pada 2025 yang rilis terbaru diumumkan 2026 ini mengalami perubahan?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 21 April 2026
Karate bukan sekedar urusan membela diri yang berisi kumite dan Kata (Bertarung dan jurus-jurus untuk bertarung) tapi ia juga ruang kejuaraan untuk pengembangan diri dalam bentuk kejuaraan. Indonesia kemudian ikut serta dalam kejuaraan menggunakan aturan WKF (World Karate Federation) ala Eropa, bulan aturan Jepang, tempat asal kelahiran karate.
Alasannya sederhana. WKF lebih menekankan pada olah raga, bukan lagi bela diri. Ini cukup aman bagi para atlet, tidak ada serangan telak dan keras yang boleh dilakukan. Bila itu terjadi, petarung diskualifikasi. Itu tentu bertolak belakang dengan tradisi kejuaraan karate Jepang masih mengedepankan pertarungan yang saling baku hantam dengan keras, karate tradisional. Skin touch (Sentuhan ringan) pada lawan sama sekali tidak dihitung.
14 April 2026, FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan mengadakan pelatihan dan ujian Wasit-Juri dan Pelatih. Semua itu untuk mengisi ruang ruang kejuaraan di Indonesia. Hanya para peserta yang terdiri sabuk hitam yang berhak mengikuti dan bisa menjadikan bagian dari jenjang karir.
Soal soal WKF menyangkut test tulis dan praktek. Karena asalnya berbahasa Inggris, soal itu terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Transfer penerjemahan Bahasa Inggris ke Indonesia terkadang membuat para peserta terkendala memahami isi soal disebabkan oleh terjemahan yang buruk. Sebagai penyelamatan, mereka harus belajar pada orang yang sebelumnya telah lulus dan benar benar mengerti isi penjelasan saat pelatihan.
Kendala lain, jumlah soal yang sangat banyak. Soal kumite lebih dari 250 lebih dan Kata hampir dua ratus. Namanya juga soal, tipuan soal pasti berlaku. Karena itu, pemahaman disertai logika yang bisa mengatasi tipuan soal tersebut. Beruntung, jumlah soal kumite yang akan diujikan sekitar 70 dan Kata sekitar 50. Tapi kan, soal diacak. Tidak ada pilihan lain selain belajar. Bagi yang cukup waktu belajar, ia dapat mempelajari semua soal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.
Para wasit juri dan pelatih pendamping atlet yang ber-license ini yang banyak mempengaruhi perkembangan kejuaraan karate Indonesia. Menang atau kalah dari para atlet yang berbakat berada dalam keputusannya. Dari sini, atlet atlet terbaik akan lahir mewakili Indonesia di kejuaraan antar negara dan dunia yang memakai sistem WKF.
Ini foto seorang dosen Hubungan Internasional UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) dan doktor muda dari Bulukumba, Sulawesi Selatan yang mau mendidik para mahasiswa untuk belajar menulis. Namanya Dr. Ahmad Sahide. Masa kuliah S 1 di UMY, rekan-rekannya panen juara pidato dan debat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris namun ia satu kali pun tidak pernah minat. Ia hanya mendukung dengan menyediakan kajian pemikiran melalui bedah buku diadakan agar para juara orator dan debator itu pun amunisi yang canggih dalam mengungkapkan gagasannya. Kajian itu diadakan tiap minggu dan terbuka untuk mahasiswa umum.
Baru baru ini kemenakan penulis, Palaguna Patwa–Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, mengirim pesan WA, ‘Saya masuk kelas menulis Ahmad Sahide’, katanya singkat. Penulis langsung mengingat Ahmad yang sering mengayuh sepeda atau meminjam motor dari kosnya di Ontorejo No. 6 Wirobrajan Yogyakarta untuk membawa tulisannya ke Koran Kompas, Jl. Suroto No. 21, Kota Baru, Yogya.
Selama bertahun-tahun tulisan Ahmad tidak pernah diterbitkan Kompas tapi menariknya, ia sekali tidak menyerah. Ia yakin pada waktunya ia pasti bisa tembus koran nasional mengingat dirinya sangat tekun menulis dan paham tata bahasa yang pernah ia pelajari detail selama di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur. Kemampuannya menulis makalah berbahasa Inggris tidak tidak diragukan. Ia adalah segelintir mahasiswa yang lulus kelas internasional dimana pengantar dan tugas-tugas kuliah wajib berbahasa Inggris.
Pengurus Koran Gerakan, koran kampus yang populer pada masanya, berpikir untuk meregenerasi pengurus. Hasil kesepakatan rapat, Pimpinan Redaksi dipercayakan ke Ahmad. Disitulah Ahmad dan teamnya ‘berolahraga’ mengangkat isu kajian berat dan isu remeh temeh sembari sambil belajar dan menganalisa cara penulisan orang handal Indonesia dan orang asing yang ia peroleh dari membaca ribuan buku.
Setelah menyelesaikan S 2, S 3 di UGM (Universitas Gadjah Mada) dan menjadi dosen serta dibalik kapasitas intelektual dan karirnya yang terus menanjak naik, ternyata Ahmad tetap humble (rendah hati). Ia tidak lupa untuk untuk peduli hal hal terkecil semisal mendidik pemuda pemudi belajar menulis. Tapi bukankah perubahan kecil yang memberikan hasil luar biasa? Tulisan Ahmad kini bukan saja biasa dimuat di Kompas tapi media beragam nasional lainnya dan makalahnya tersebar dalam saat ini mengisi seminar di dalam dan luar negeri.
Para juara debator, orator yang merupakan rekan seangkatan Ahmad dan juara lainnya melakukan pembiasaan kegiatan dari hal hal kecil. Ahmad dan James Clear pada buku Atomic Habits yang popular itu memberikan contoh bagaimana dahsyatnya partikel kecil yaitu atom menciptakan ledakan. Para pemuda pemudi yang sedang belajar menulis tersebut diharapkan nantinya melakukan yang sama, sebaiknya sih lebih baik. Toh, kalian itu belajar dari orang-orang hebat.
Mengajar anak anak dengan menargetkan memahami suatu materi tertentu dengan pemahaman yang utuh bukan perkara yang mudah. Saat sedang belajar saja, mereka sering bertanya, ‘Kapan keluar main?’ Mereka suka cepat-cepat menyelesaikan tugas hanya karena ingin keluar main, bermain main.
Istilah ‘main-main’ yang merupakan kesenangan anak anak yang tidak bisa diganggu gugat itu dapat disetel untuk memenuhi target belajarnya. Bagi anak-anak yang lebih dahulu menyelesaikan tugas, mereka memperoleh keluar main lebih awal. Mereka pun akan berlomba.
Tapi ada juga anak anak yang tidak suka pendekatan ini sehingga jurus yang kita gunakan adalah sedikit ancaman dengan mengatakan tidak ada keluar main bagi yang tidak menyelesaikan tugas. Karena tidak ingin kesempatan bermain hilang, mereka segera mengerjakan tugasnya dengan cara bertanya ke teman-temannya dengan maksud menjawab latihan dengan cepat.
Kendala yang sering muncul adalah keakraban antara guru dan anak-anak seringkali membuat guru tidak diperhatikan. Hal ini dipengaruhi oleh sikap guru yang memberikan kebebasan berekspresi pada muridnya. Ketika guru sedang menjelaskan, sebagian murid akan berbicara yang menyebabkan penjelasan guru tidak mereka dengar. Kebisingan kelas terjadi, ruang belajar tidak kondusif, suara bertabrakan.
Sekali waktu, penulis pernah tidak mau mengajar satu kelas anak anak. Mereka berusaha datang merayu tapi penulis tidak menggubris. ‘Silahkan keluar main sepuasnya. Anggap saja waktu belajar itu waktu keluar main’, kata penulis. ‘Saya tidak mau mengajar kalian lagi’. Gertakan ini sengaja diberikan agar mereka bisa berpikir serius mencari akal menemukan solusi.
Solusi Cerdas Anak anak
Anak-anak terdiam dan berkumpul berdiskusi dan kemudian menemukan solusi sendiri. Mereka sepakat membaca materi pelajarannya secara bersama-sama tanpa guru. Bila ada yang bikin gaduh, mereka saling menegur untuk kembali fokus pada pelajaran. Sebagai penguat, rekaman video dibuat sebagai bukti bahwa mereka telah berubah. Setelah selesai, video tersebut diperlihatkan ke penulis.
Negosiasi anak-anak berjalan sukses. Karena senang dengan trik rayuannya, penulis Kembali mendidik malam itu juga. Sebagai balasannya, mereka dapat games. Mereka bergembira karena guru kelasnya bersedia kembali mengadakan dan games adalah kesukaannya yang selalu dinantikan setelah belajar.
Kesulitan dalam mendidik anak-anak dapat terselesaikan dengan tidak semata-mata menargetkan mereka untuk paham materi dalam waktu yang singkat mengingat ada ruang bermain yang harus dipenuhi. Percepatan dalam dilakukan dengan cara mengemas kelas belajar dalam suasana bermain dan menjawab waktu keluar main dapat diisi dengan permainan yang mengembangkan otak anak dan berpikir.