Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Standar Juara Olimpiade Inggris di RBB

    Standar Juara Olimpiade Inggris di RBB

    Ketika guru sedang asyik duduk santai menyaksikan seorang pelajar bernama Nabila menyetor pemahaman tenses di luar kepala pada materi perfect progressive, Audrey, anak yang baru saja tiba di kelas tiba-tiba berkata, “Mister, saya juga mau ikut olimpiade bahasa Inggris.” Guru menyambut, “Itu bagus, Audrey,” balas guru, “tapi ada syaratnya, kuasai tenses di luar kepala lebih dahulu. Setelah itu, kamu bisa dapat materi olimpiade.”

    Audrey yang dengan terus terang mau ikut olimpiade bahasa Inggris juga. Ia kini lebih siap untuk belajar lebih tekun lagi.

    Audrey kemudian mendekati Adeeva yang pernah meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris KOMPAS pada Juni 2026. “Apa yang perlu dipelajari kalau mau ikut olimpiade?” tanya Audrey ke Adeeva. “Kuasai saja tenses,” jawab Adeeva. Adeeva, yang saat ini baru naik kelas 5 SD, telah memahami seluruh struktur tenses sewaktu kelas 4 SD.

    Sebenarnya, tenses itu hanyalah syarat yang dibuat agar pelajar lebih peduli pada akar-akar pengetahuan yang paling mendasar. Ini adalah standar aman untuk memudahkan memahami teks bacaan dan soal jebakan grammar (tata bahasa). Tenses tentu saja tidak cukup tetapi itu adalah pengantar utama untuk mengerti materi lainnya. Misal, bagaimana memahamkan conditional sentences, question tag atau dasar-dasar clauses yang menjadi bahan soal olimpiade bila tidak mengerti tenses? Itu pasti sangat sulit.

    Nabila, Audrey dan rekan-rekan kelasnya pun fokus pada materi tenses. Adeeva bertindak membantu pelajar yang kesulitan menyusun perubahan kalimat. Hal ini memudahkan guru dalam mengajar karena tidak semua kebingungan pelajar ditimpakan ke guru. Sebagian anak bertanya ke Adeeva sehingga pelajaran berjalan lebih efektif.

    Dari sekitar sepuluh orang, mayoritas saat ini masih berada pada setoran pemahaman materi simple. Melihat kondisi kelas yang sedang kondusif karena semuanya tertarik berlatih tenses, dibuatlah langkah percepatan di mana tiap pelajar menyetor minimal dua tenses. Cara ini efektif membuat mereka lebih banyak belajar daripada bermain. Waktu mereka lebih banyak digunakan untuk mengejar target yang diberikan.

    Dengan berbekal kotak kosong tenses, tiap anak menyetor tenses di luar kepada dan disiarkan secara live (siaran langsung). Pada foto adalah Izzatunnisa, kelas 4 SD.

    Karena tenses bukanlah hal yang mudah bagi pelajar SD, guru memberikan pilihan: setoran dapat dilakukan secara perorangan atau berpasangan. Maksudnya, anak-anak yang masih sulit membayangkan perubahan kalimat dengan benar dapat berlatih dengan pasangannya. Strategi ini cukup jitu. Sebagian kecil memilih belajar sendiri, percaya diri bisa tanpa bantuan orang lain. Anak-anak yang merasa belum lancar memilih rekan yang mereka anggap lebih pintar agar bisa mengikuti atau mengajak best friend-nya untuk belajar bersama karena merasa lebih nyaman. Belajar sesama rekan sebaya pun berlaku.

    Latihan bersama sebelum tampil di depan kamera.

    Dalam lima belas menit, mereka berlomba-lomba mengacungkan tangan untuk tampil lebih awal di depan kamera live (siaran langsung) di akun Facebook RBB. Alasannya, mereka ingin cepat keluar main dan menyatakan diri sebagai bagian dari anak yang sanggup mengerti satu bagian tense. Mereka lupa bahwa mereka masih harus menyetor satu tenses berikutnya. Tapi paling tidak, mereka mempunyai spirit, kemauan, dan bukti kemajuan belajar. Anak-anak SD sekarang ini berpeluang besar memahami tenses.

    Keyakinan terhadap pembelajaran ala RBB ini bukan sekadar cara mengamankan agar para pelajarnya lebih banyak berprestasi di tingkat nasional melainkan sebuah cara agar terdapat pondasi yang kokoh sehingga bekal bahasa Inggris yang mereka pelajari dapat digunakan di berbagai macam dimensi kehidupan sesuai kebutuhan dari pelajar tersebut. Dari tenses, itu bisa, pengetahuannya bertanggung-jawab. Percayalah!

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 29 Juli 2026

  • Seni Mengajar dan Belajar Bahasa Inggris

    Seni Mengajar dan Belajar Bahasa Inggris

    Anak-anak baru saja mendapatkan pelajaran serius berupa simple present pada verbal tense dengan menggunakan subjek I, you, they, we dan he, she, it. Pelajaran ini cukup menguras energi karena kedua penggolongan subjek tersebut mempunyai struktur kalimat yang berbeda. Terlebih, mereka diminta tampil satu per satu setelah melakukan praktik secara bersama-sama.

    Begitu materi melelahkan itu usai, permintaan keluar main pun bergema. Guru menanggapi dengan sangat baik, memberikan waktu istirahat selama lima belas menit. Cuma saja, mereka tidak dibolehkan lagi bermain-main sambil berlari ke mana-mana. Selain bisa mengganggu kelas lain yang sedang belajar, mereka seringkali berlari sambil berteriak-teriak. Mereka sepakat dan membuat permainan yang tidak menciptakan kebisingan berlebihan.

    Sewaktu jam bermain selesai, guru bertanya, “Apakah kalian masih mau belajar tenses?” Dengan serentak, anak-anak menjawab, “Tidak.” Pertanyaan lain menyusul, “Kalian mau membaca?” Jawaban mereka tidak berubah, “Tidak.”
    “Baiklah kalau begitu,” balas guru yang tidak ingin memberikan beban pelajaran. “Apa yang kalian inginkan?”
    “Main games,” ungkap anak-anak itu dengan semangat.
    “Boleh,” kata guru menanggapi. “Kalian bermain kartu. Belajar penjumlahan dalam bahasa Inggris.”
    Anak-anak sepakat.
    Aturannya, “Dua kartu ditaruh di meja. Orang yang menaruh di meja wajib menyebut tiap angka di kartu itu. Peserta yang ingin menjawab harus menjumlahkan kedua kartu itu dan wajib menyebut jawabannya dalam bahasa Inggris.”
    Singkat cerita, aturan ini disepakati.

    Tanpa terasa, mereka kembali belajar angka dalam bahasa Inggris. Kemampuan dasar-dasar berhitung sederhana pun lebih terasah. Terkadang anak-anak menjawab dalam bahasa Indonesia. Sang pemberi soal menolak untuk membenarkan meskipun jawabannya benar. Ini adalah kelas bahasa Inggris, bukan kelas Matematika.

    Seiring berjalannya waktu, menyaksikan keseruan bermain ini, guru tidak terlibat secara langsung lagi. Semua yang bermain sudah mengetahui aturan permainan dan saling mengingatkan atau menegur bila terjadi kesalahan. Kelas ini berjalan lancar.

    Sekelompok kecil pelajar lain yang masih sangat pemula turut menonton dan penasaran. “Mau ikut bermain?” tanya guru. “Tidak, Mister.” Guru mengerti bahwa anak-anak itu kurang bisa mengikuti ritme permainan karena mereka melihat kakak-kakak kelasnya itu menjawab soal dengan cepat, sementara mereka sendiri belum terlalu menguasai angka satu sampai dua puluh dalam bahasa Inggris.

    Ide membuat kelompok baru pun lahir. Para penonton itu diajak membuat kumpulan baru dan guru itu langsung turun tangan melakukan pendampingan. “Kalian sebut saja angka yang saya taruh di atas meja.” Mereka mengerti. Saat bermain, ternyata, mereka tidak butuh waktu yang lama untuk mengerti angka satu sampai sepuluh.

    Kemudian, permainan sedikit ditingkatkan. Dua buah kartu ditaruh di atas meja dan harus disebut dalam bahasa Inggris juga. Jawaban mereka lumayan bagus. Seorang pelajar yang paling cepat dalam menjawab diminta memimpin kelas. Ia setuju, memegang kartu dan menirukan cara menurunkan kartu di atas meja seperti yang dilakukan guru sebelumnya. Anak-anak pun berlomba-lomba menjawab.

    Dari dua kelas yang berbeda tersebut, semuanya mampu membuat ruang bermain dan belajar di mana mereka sendiri yang mengelolanya. Guru hanya sesekali menjadi penengah manakala terjadi keributan atau persoalan yang sulit mereka selesaikan. Karena keasyikan bermain dan tidak mau mengganti permainan ataupun pelajaran yang lain, mereka terus bermain hingga jam belajar selesai.

    Dari kejadian di atas, pembelajaran serius seperti tenses itu memang banyak menguras otak atau energi namun tidak boleh ditinggalkan karena itu adalah bahan dasar percakapan yang terstruktur serta sangat berguna untuk bacaan. Pembelajaran “tidak serius” dalam bentuk bermain telah berhasil didesain bukan sebatas bermain. Konsep yang diberikan memang dalam bentuk bermain agar belajar itu terasa lebih dinikmati, tetapi isinya adalah pelajaran bahasa Inggris plus berpikir logis yang ujungnya diucapkan dalam bahasa Inggris.

    Pada akhirnya, semuanya adalah belajar. Apakah Anda termasuk pelajar serius atau “tidak serius” alias bermain? Temukanlah cara belajar yang membahagiakan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 28 Juli 2026

  • Melampaui Kurikulum Sekolah Lewat “Kotak Kosong”

    Melampaui Kurikulum Sekolah Lewat “Kotak Kosong”

    Passive di luar kepala adalah konsekuensi logis bagi pelajar yang telah mengerti tenses di luar kepala. Alat peraga pun sama, kotak kosong. Yang membedakannya dengan tenses, kalimat pada future progressive, past future progressive, dan seluruh perfect progressive tidak dipakai dalam passive. Bahkan, dalam penjelasan karya Betty Scrampfer Azar, hanya present perfect yang digunakan.

    Rumah Rumah Belajar Bersama (RBB) memasukkan past perfect, future perfect dan past future perfect karena hal ini akan sangat berguna pada materi tindak lanjut yaitu adverbial clause khususnya conditional sentences: type 3 di mana if past perfect bertemu dengan past future perfect.

    Untuk membuktikan efektivitas kurikulum ini, RBB menerapkannya pada kelas penguatan lisan. Salah satu pelajar yang mendapatkan kesempatan ini adalah Muhammad Sandy Junandra dengan nama panggilan Andra. Ia diperkenankan berlatih pada penguatan seluruh perubahan passive karena ia telah memenuhi syarat, mengerti tenses secara utuh.

    Andra dengan sigap menyelesaikan perubahan passive secara lisan. Puas dengan capaian itu, obrolan santai antara guru dengan pelajar pun terjadi.

    Guru kelas bertanya, “Apakah Andra mau mengerti passive sepotong-potong atau seluruhnya?” Anak remaja tiga belas tahun ini berpikir sejenak. Sejurus kemudian ia menjawab, “Sepotong-potong saja Mister.” Guru mengerti bahwa anak ini sebenarnya mau istirahat. Guru lalu mengecek tingkat kelelahannya. “Apakah kamu masih sanggup melanjutkan materi?” Andra dengan jujur menjawab, “bisa.”

    Tingkat kesulitan pelajaran dinaikkan. Andra terlebih dahulu mengucapkan satu kalimat aktif (baca: tenses) dan kemudian diubah ke passive. Begitulah yang ia harus lakukan hingga seluruh kalimat aktif dan passive pada kotak kosong diselesaikan. Awalnya, ia agak kewalahan karena logika pembalikan kalimat di mana subjek menjadi objek dan objek menjadi subjek dipikirkan pada setiap pergantian kalimat, namun seiring waktu ia dengan cepat beradaptasi, mampu mempraktikkan semua kalimat. Sesekali ia salah mengucapkan beberapa kata tetapi dengan cepat ia sadar dan memperbaikinya sendiri.

    Strategi penguasaan materi di luar kepala ini berfungsi untuk dipakai dalam speaking (berbicara). Biasanya, orang yang hanya belajar grammar (tata bahasa ) tidak lancar dalam berbicara. Dengan memberlakukan tenses dan passive sebagai bagian dari praktik lisan, pelajar seperti Andra yang hanya memilih mengikuti kelas grammar ini mempunyai bekal yang baik dalam pengembangan speaking atau conversation (percakapan). Jadi, ia tidak hanya mempunyai bekal yang bagus dalam pembelajaran akademik dalam menjawab soal-soal tulisan tetapi juga mampu menggunakan struktur yang rapi dalam pergaulan berbahasa Inggris sehari-hari.

    Andra dan pelajar lainnya di RBB yang mempunyai kapasitas seperti yang dijelaskan di atas sudah punya modal besar mendalami materi Pre-Intermediate Grammar. Tenses itu semacam kunci untuk memasuki pintu depan dari sebuah rumah. Setelah membuka pintu, pelajar akan mudah mengelilingi seisi rumah, termasuk sudut-sudutnya. Salah satu bukti kemudahannya ialah Andra dengan cepat memahami passive di luar kepala. Materi yang lainnya yang meskipun mungkin tidak semudah passive akan mengikuti.

    Keberhasilan Andra membuka “pintu depan” grammar ini menjadi bukti nyata bahwa batasan usia bukanlah hambatan dalam belajar. Mampukah kita mencetak anak-anak Indonesia yang bisa mempelajari materi yang melebihi pelajaran sekolah? Andra anak kelas 1 SMP yang menurut kurikulum sekolah, passive nanti dipelajari di kelas 3 SMP.

    Catatan:
    Anda bisa menonton live (siaran langsung) Andra pada pelatihan passive di link:

    http://Melampaui Kurikulum Sekolah Lewat “Kotak Kosong”

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 27 Juli 2026

  • Spirit “Kampung Inggris” di Jalan Sunyi Bulukumba

    Spirit “Kampung Inggris” di Jalan Sunyi Bulukumba

    Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah Kampung Inggris untuk menarik perhatian publik. Berbagai lembaga pendidikan dengan sengaja menggunakan frasa ini untuk meyakinkan publik bahwa apa yang mereka tawarkan itu sepertinya sama dengan Kampung Inggris yang telah teramat populer itu.

    Tapi, tahukah kita spirit Kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Kec. Pare, Kab. Kediri di Jawa Timur dibangun? Itu adalah pendidikan berbasis kerakyatan. Karena harga yang terjangkau dengan kualitas yang sangat bagus, orang dari berbagai macam kalangan datang belajar. Ada yang sekali, dua dan bahkan sampai lima kali belajar dalam sehari. Waktu belajar mulai dari Senin sampai Jum’at, Sabtu dan Minggu libur. Mengenai materi, itu sudah lengkap—segala tingkatan pelajaran tersedia.

    Salah seorang perantau ilmu yang pernah ke Pare adalah Fajar Hamzah alias Mr. Ancha. Pemuda terdidik ini sebelum menamatkan kuliahnya di UIN (Universitas Islam Negeri) jidan Muhammadiyah Makassar, ia pernah tinggal di Kampung Inggris itu di Jawa Timur selama dua tahun di sekitar tahun 2000-an ke atas. Ia berguru mulai dari nol hingga tahapan terumit seperti TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Testing System). Ilmu itulah yang ia gunakan untuk lulus TOEFL saat mengikuti kuliah S-2 di UGM Yogyakarta serta memberikan bantuan pelatihan TOEFL kepada rekan-rekan kuliahnya yang terkendala pada TOEFL.

    Setelah meraih gelar master di jurusan Filsafat, Mr. Ancha kembali ke Sulawesi Selatan. Saat ini, ia sedang mengajar di Bulukumba, tepatnya di Rumah Belajar Bersama (RBB) di kota Bulukumba bersama rekan-rekannya yang juga alumni Pare. Seperti halnya di Pare, ia mengajar dari Senin sampai Jum’at. Di sela-sela waktu libur yaitu Sabtu dan Minggu, ia pulang ke kampung halamannya di Barugae di Kec. Tanete, Kab. Bulukumba untuk mengunjungi keluarga dan berbagi ilmu kepada anak-anak.

    Memori ketika ia sekolah di kampung masih terekam baik dalam ingatannya. Mr. Ancha sadar bahwa masih sangat banyak anak di pelosok desa yang tidak mempunyai akses belajar yang berkualitas mumpuni. Bermodalkan papan tulis dan spidol, ia mengumpulkan anak-anak kampung untuk diajak belajar. Bagaimana dengan tempat belajar? Layaknya Pare, semua tempat adalah belajar. Ancha mengajak mereka belajar di sebuah teras rumah dikelilingi pohon yang rindang di mana tiap anak membawa sendiri kursi dari rumahnya masing-masing. Kelas belajar ini menyatu dengan alam.

    Anak-anak yang di bawah umur seperti TK dan kelas 1 SD menyanyikan lagu ABC dalam bahasa Inggris. Karena anak-anak SD lainnya juga suka dan belum mahir alphabet bahasa Inggris, mereka semua bernyanyi dengan riang gembira. Ini terdengar seperti paduan suara, tetapi orang tahu bahwa ini pelajaran bahasa Inggris. Menyenangkan, kan?

    Anak-anak yang sedikit lebih besar kemudian berlatih simple present sebagai bekal untuk bahan percakapan. Nama-nama hari dan kejadian berhubungan dengan kehidupan sehari-hari lainnya juga dikenalkan. Melalui pendekatan sederhana ini, bahasa Inggris terasa tidak asing, tidak memusingkan kepala sebagaimana yang mereka dapatkan di pendidikan formal.

    Materi sederhana yang disukai anak-anak Barugae di kampung halamannya Mr. Ancha.

    Setelah beberapa kali latihan, anak-anak itu merasa sanggup mengucapkan dengan baik. Mereka pun terlihat percaya diri tampil di depan rekaman video siaran langsung di akun Facebooknya RBB. Wajah, senyum dan nada suara mereka sangat menggemaskan. Penonton tersentuh dengan semangat belajarnya. Pembelajaran ini seakan menjawab akan kebutuhan mereka terhadap hadirnya pendidikan alternatif yang telah lama mereka nantikan di kampung halamannya.

    Di balik senyum ceria anak-anak di layar kaca media sosial tersebut, tersimpan sebuah ironi besar tentang ketimpangan pendidikan formal kita. Kita tahu, tindakan kecil yang sangat berharga dari Mr. Ancha ini adalah tindak lanjut dari pendidikan kerakyatan ala Kampung Inggris; ada kesadaran untuk membantu orang lain. Ia tahu kampungnya tidak pernah tersentuh pelajaran seperti yang ia ajarkan. Ia juga mengerti bahwa pelajaran bahasa Inggris di SD tidak bisa diandalkan karena kebanyakan guru yang diminta mengajar di sekolah itu bukan berlatar belakang jurusan bahasa Inggris. Buktinya, anak-anak menyebut alphabet saja masih sangat kewalahan. Ini adalah akibat dari keputusan pemerintah untuk tidak merekrut sarjana bahasa Inggris mengajar di SD.

    Spirit berbagi pengetahuan ala Kampung Inggris inilah yang mesti perlu terus hidup di hati di kalangan orang terpelajar kita sekaligus mengambil langkah nyata agar dapat memberikan manfaat di lingkungan terdekatnya. Kesederhanaan, semangat belajar yang tidak pernah padam, dan kualitas pengetahuan yang handal mesti terus dijaga. Para alumninya yang mengerti spirit ini pasti tidak melupakan sisi humanisme yang mereka telah dapatkan, sebisa mungkin tidak berjarak dengan rakyatnya dengan jalan turut aktif mencerdaskan.

    Nah, siapa yang akan peduli pada rakyat yang mempunyai kemampuan ekonomi terbatas untuk mengakses pendidikan alternatif yang berkualitas itu? Siapa yang bertugas bila pendidikan itu bila hanya dapat diakses oleh orang yang berduit saja? Ke mana rakyat itu mengadu? Mengutip pemikiran Ali Syariati, itu adalah tugas dan tanggung jawab kaum intelektual yang tercerahkan. Mr. Ancha adalah salah seorang yang mengambil jalan sunyi tersebut.

    Akankah Kampung Inggris itu tetap melekat di hati rakyat?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 26 Juli 2026

  • Peluang Emas Pelajar RBB Tanete Menuju Prestasi Nasional

    Peluang Emas Pelajar RBB Tanete Menuju Prestasi Nasional

    Dalam sebuah diskusi, Fathy Cayadi menginginkan para pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete berprestasi tingkat nasional juga. “Saya ingin anak-anak saya juara olimpiade bahasa Inggris juga,” katanya dengan nada bersemangat. Pernyataan ini adalah tanda bahwa ia mempunyai spirit yang luar biasa dan kesiapan memberikan pelajaran di atas rata-rata kepada para pelajarnya.

    RBB di Tanete baru mulai 10 Juli 2026. Pembelajaran yang terstruktur rapi dan terukur dibuktikan dengan pemahaman Reading (Bacaan) telah mencapai lesson 20 disertai pemahaman yang baik dari para pelajarnya membuat rekan-rekan pengajar RBB di Kota Bulukumba tertarik untuk mengecek secara langsung.

    Pada pertemuan belajar kali ini (25/07), Fajar Hamzah dikenal dengan Mr. Ancha dan Mr. Agung Pratama Salassa pengajar RBB di kota Bulukumba, secara khusus mengunjungi RBB di Tanete untuk mendukung ide Miss Fathy. Target awal yang hendak dicapai adalah penguasaan tenses di luar kepala. Sesuai dengan buku Reading, lesson 20 berkutat pada simple present menggunakan be (am, is, are) yang orang Indonesia menyebutnya nominal tense. Segala bentuk perubahan simple present tersebut diajarkan dan diusahakan mampu dipraktikkan tanpa harus melihat buku catatan lagi.

    Praktik Reading dan speaking yang dilakukan pada minggu-minggu sebelumnya sangat membantu menguatkan pelajaran simple present tense ini. Ini bukan berarti materi ini tanpa kendala, tetapi kendala pada kerumitan memahamkan tense menjadi lebih mudah karena sebenarnya, para pelajar telah sering menggunakan “be” dalam kalimat. Kini, pengetahuan mereka disusun lebih tertata. Singkatnya, mereka tahu kapan dan mengapa menggunakan am, is, are dalam kalimat.

    Menurut hasil pengajaran Mr. Ancha, para pelajar cepat beradaptasi pada pembelajaran tenses dari bahasa Indonesia ke Inggris. Kelas pun kelas atraktif, terdapat kreativitas meng-explore kosakata.

    Standar Kualitas RBB
    Optimisme Miss Fathy di Tanete memiliki landasan yang kuat karena metode yang diterapkan di sana sudah teruji di RBB Kota Bulukumba.
    Karena itu, di masa akan datang, RBB di Tanete bisa melakukan hal yang sama seperti RBB di kota Bulukumba karena menggunakan kurikulum dan metode pengajaran yang sama. Sebagai gambaran dalam mencetak generasi unggul, kita dapat melihat rekam jejak para pelajar RBB terdahulu yang telah melalui proses pematangan belajar secara matang dan konsisten.

    Titik awal di mana pelajar punya peluang besar dalam bahasa Inggris tingkat akademik adalah memahami tenses di luar kepala yang tentunya disertai dengan pemahaman parts of speech (kelas kata) agar mengetahui jebakan kata pada kalimat yang dihadirkan dalam soal. Kemudian, pembelajaran rumit lainnya akan jauh lebih mudah disedekahkan.

    Andi Widya Maulidyah, alumni RBB, pada 9 Mei 2026 meraih juara 1 pada kompetisi pada Grammar Hack Competition at English Fair 2026 di Universitas Negeri Makassar (UNM).

    Seorang pelajar mahasiswa semester dua bernama Andi Widya Maulidyah, alumni RBB, pada 9 Mei 2026 meraih juara 1 pada kompetisi pada Grammar Hack Competition at English Fair 2026 di Universitas Negeri Makassar (UNM). Merujuk ayahnya Widya, dari ratusan peserta yang ikut, saingan anaknya sangat ketat karena harus berhadapan angkatan senior; 2024, 2023, dan bahkan 2022 jumlahnya hampir 300 orang. Terlebih kompetisi dilakukan hanya dengan modal tangan kosong, tidak boleh melibatkan kecerdasan AI (Artificial Intelligence). Ini murni mengandalkan kemampuan pribadi.

    Karena pondasi Widya yang kokoh dengan menamatkan beragam buku mulai dari tingkat dasar hingga intermediate dan pengantar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) selama belajar di RBB, kompetisi “tangan kosong” itu menjadi keunggulan bagi Widya. Sejak SD hingga tamat SMA, ia telah terbiasa dengan ribuan soal mulai yang mudah sampai yang sulit sekalipun. Ia telah sampai pada tahap kematangan berpikir.

    Jadi, kompetisi bahasa Inggris itu bukanlah hal yang mengagetkan. Menjadi juara 1 adalah konsekuensi logis dari hasil perjuangannya selama bertahun-tahun. Kekagetan UNM dan publik mungkin karena umurnya yang masih terlalu muda tetapi pengetahuannya sudah melampaui pembelajaran yang dipelajari di kampusnya, semester dua.

    kesuksesan metode RBB di Bulukumba tidak hanya melahirkan juara tingkat mahasiswa, tetapi juga tingkat SD, dan keberhasilan di Bulukumba itulah yang kini sedang dibumikan juga oleh RBB Tanete.

    Beberapa anak-anak RBB di kota Bulukumba yang telah menguasai tenses dan dasar-dasar grammar lainnya reading dan sering latihan soal mengikuti olimpiade bahasa Inggris. Dari proses belajar yang memenuhi standar itu, pelajar RBB bisa merebut emas pada kompetisi tingkat nasional.

    Dari sini kita dapat memetik suatu pelajaran bahwa untuk menjadi yang terbaik, kita mesti mempersiapkan materi yang berkualitas agar anak didik kita mempunyai kepercayaan diri bersaing dengan siapapun juga. Spirit yang dimiliki oleh Miss Fathy dengan mendorong anak didiknya mengikuti olimpiade sangat baik ditanamkan kepada para pelajarnya agar motivasi belajar semakin meningkat. Mereka bukan lagi sekadar belajar, melainkan membangun impian yang tinggi juga.

    Cuma saja, proses ini tidak instant. Pengetahuan yang unggul itu harus diikuti dengan ketekunan, kesabaran dan belajar mencintai apa yang sedang dipelajari. Ketika terjatuh, harus segera bangkit. Jangan meratapi kejatuhan. Jatuh adalah pembelajaran untuk tidak jatuh. Orang-orang yang seperti itulah yang bisa meraih kesuksesan.

    Widya semasa sekolah pernah beberapa kali mengikuti kejuaraan dan gagal. Ia tidak berhenti, terus berbenah diri dengan mencari titik dan menyelesaikan kelemahan dirinya. Dari perbaikan kelemahan itu, ia menjadi kuat dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik.

    Anak-anak SD juara olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional di RBB pun demikian. Mereka bertahun-tahun belajar. Meskipun telah juara, mereka tetap selalu update soal-soal olimpiade yang baru. Mereka sadar, bila tidak terus melakukan perkembangan pada diri, mereka akan tertinggal dan posisi yang terbaik itu tinggal jadi kenangan saja.

    Diskusi pengajar RBB tentang kendala yang dihadapi pelajar sekolah dalam belajar berbahasa Inggris. Mereka pun menemukan solusi.

    Para pelajar RBB di Tanete mempunyai peluang yang sama untuk berprestasi dengan RBB di Bulukumba. Ilmu dan metode pembelajarannya sama. Daya juang dan daya tahan dalam proses belajar yang berkelanjutan akan diuji melalui perjalanan waktu yang akan membuktikan segalanya.

    Menjadi juara olimpiade bahasa Inggris atau juara apapun juga itu baik namun yang lebih baik adalah ilmu pengetahuannya karena itulah yang mengantarkan pelajar kita menjadi juara dan berbuat hal-hal penting lainnya yang erat kaitannya dalam menjalani kehidupan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 25 Juli 2026

  • Sentuhan Magis Miss Fathy Menghadapi Kebuntuan Berbahasa Inggris

    Sentuhan Magis Miss Fathy Menghadapi Kebuntuan Berbahasa Inggris

    Miss Fathy Cayadi yang mendidik pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete mengombinasikan pembelajaran bahasa Inggris dengan sangat fun. Speaking, Pronunciation, and Reading (bicara, pengucapan, dan bacaan) terasa sangat mengalir seolah-olah pelajaran itu semacam permainan saja.

    Ketika kelas mulai dibuka dengan games ular tangga, para pelajar yang didominasi anak SD girang. Rasa gembira itu langsung ditindaklanjuti dengan percakapan sehari-hari berbahasa Inggris dari guru yang erat kaitannya dengan ular tangga. Otak mereka dengan serta-merta terkoneksi dengan istilah asing, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerti karena ini praktik review dari pembelajaran minggu lalu.

    Kesenangan belajar tidak berhenti sampai di situ saja. Anak-anak menyanyikan lagu English Alphabet (huruf berbahasa Inggris) dan Days of the Week (nama-nama hari dalam seminggu). Days of the week itu yang dieja dalam bahasa Inggris. Jadi, mereka mendapatkan Basic Pronunciation (dasar pengucapan) dan memori tentang hari yang lebih lama diingat karena mereka diminta mampu mengucapkan tiap huruf secara perorangan.

    Mengubah Citra Buruk Literasi Indonesia
    Pengantar di atas adalah pembuka jalan menuju pembelajaran selanjutnya, “Reading”. Ini adalah momok menakutkan. Penelitian PISA (Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional) menyatakan pelajar Indonesia termasuk bagian dari pelajar yang minat bacanya sangat rendah. Kita tidak bisa membantah penelitian itu tetapi RBB walaupun dengan sumber daya yang terbatas turut mengambil bagian untuk mengubah fakta dan citra buruk tersebut.

    Pada buku basic Reading, Miss Fathy melanjutkan lesson (pelajaran) 18, 19, dan 20. Terdapat praktik bicara dengan suara nyaring dalam bentuk bacaan percakapan. Tahap ini, materi Reading, Speaking, dan Pronunciation menyatu. Terlebih lagi, mereka belajar dasar-dasar grammar pada penggunaan be (am, is dan are) yang hadir dalam buku materi “Reading” dan cara menggunakan possessive adjective (kata sifat kepemilikan) my, her, your, etc.

    Kenapa materi “Reading” yang berisi banyak ragam pembelajaran itu tidak dianggap beban? Itu karena kecerdasan Miss Fathy yang berhasil memberikan pengantar pembuka pelajaran yang menarik perhatian. Para pelajarnya tanpa sadar masuk pada pembelajaran yang sedikit rumit, tetapi tidak dianggap rumit oleh pelajar itu sendiri. Kelas belajar sealami mungkin sehingga perkembangan tingkatan materi bukan hal yang mengagetkan lagi, biasa saja. Seperti itulah rangkuman gambaran belajar selama tiga jam pada Jum’at, 24 Juli 2026.

    Ironi Guru Formal dan Kebuntuan Pemerintah
    Penyelamatan terhadap kebuntuan dan kebutuhan berbahasa Inggris yang jauh dari pusat pendidikan atau kota seperti yang dilakukan Miss Fathy semestinya layak dicontoh. Orang-orang terdidik kita jika tidak mengambil inisiatif atau langkah cerdas, niscaya tidak akan ada perubahan yang berarti. Kalaupun ada, pasti lambat.

    Pemerintah menerapkan pembelajaran bahasa Inggris mulai di kelas 3 SD. Guru-guru sekolah di Bulukumba belum pernah mendapatkan pelatihan pengajaran bahasa Inggris dari Kementerian Pendidikan. Dinas Pendidikan Bulukumba pun belum pernah terdengar bersuara menawarkan solusi. Pada akhirnya guru sekolah yang tidak tahu bahasa Inggris diberikan beban untuk mengajar. Ketika pekerjaan diserahkan bukan pada ahlinya, hasilnya sudah pasti dapat ditebak, berantakan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Bulukumba tetapi di berbagai macam daerah di Indonesia.

    Oleh karena itu, pendidikan alternatiflah saat ini yang bisa mengambil alih peluang tersebut. Namun, ini juga masih menyisakan pertanyaan. Apakah orang-orang terdidik kita mau turun langsung mendidik generasi penerus yang ada di lingkungan terdekatnya?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 25 Juli 2026

  • RBB Meruntuhkan Kemustahilan Tenses Sejak SD

    RBB Meruntuhkan Kemustahilan Tenses Sejak SD

    Sebuah kelas yang terdiri dari pelajar kelas 3 sampai 6 SD sedang didesain menguasai struktur nominal dan verbal tenses di luar kepala. Ini langkah yang sangat berani, jarang atau mungkin saja tidak pernah dilakukan di pendidikan formal. Berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget, para akademisi yang sealiran dengannya pasti akan berargumen anak-anak SD belum waktunya belajar materi tenses dengan alasan bahwa mereka belum bisa berpikir abstrak. Hal ini diperkuat dengan kurikulum bahasa Inggris untuk SD di Indonesia tidak membahasnya secara khusus—hanya memasukkan tenses dalam bentuk bacaan.

    Apa yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu bagus sebagai langkah pembuka tetapi itu tidak cukup. Kenapa? Karena tenses tidak selesai dibahas hingga tamat SD. Wajarlah bila kemampuan pelajar menjawab soal-soal sangat rendah; pondasi dasar tidak kokoh.

    Mengatasi masalah tersebut, rekan-rekan pengajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) memberikan solusi. Sekitar 10 orang anak SD di kelas malam dari berbagai tingkatan kelas di sekolah sekarang sedang giat-giatnya saling bahu-membahu untuk menguasai tenses di luar kepala dengan segala bentuk perubahannya. Subject-verb agreement (Kesesuaian subjek dan kata kerja) melibatkan subjek tunggal dan jamak: I, you, they, we, he, she and it.

    Patut diingat, anak-anak tersebut sebelumnya telah dibiasakan membaca buku berbahasa Inggris di RBB sebagai strategi mengakrabkan diri pada bacaan dan wawasan luar. Mereka pasti mengenal beragam kalimat. Dengan menghadirkan subjek tunggal dan jamak, mereka tidak akan dengan mudah menganggap remeh pelajaran tenses. Mereka secara tidak langsung dilatih untuk mampu berpikir lebih dalam mengucapkan kalimat yang benar. Oleh karena itu, saat guru meminta setoran simple present pada nominal atau verbal tenses yang berisi empat perubahan kalimat pada setiap subjek, mereka tidak langsung menyatakan sanggup melainkan berlatih lebih dahulu. Barulah setelah beberapa waktu, mereka akan berani tampil di depan kamera rekaman video live (siaran langsung) di akun Facebook RBB.

    Untuk melihat kualitas pelajar, setoran tenses dilakukan per individu. Agar terlihat lebih menarik, tantangannya adalah hanya pelajar yang bisa menyetor tenses diizinkan keluar main. Semua anak pasti suka keluar main sehingga mereka berusaha. Bagaimana dengan anak yang tidak bisa menyetor? Setoran ini diperkenankan untuk dipraktikkan secara berpasangan (peer tutoring) agar seorang pelajar yang belum terlalu lancar bisa mengikuti rekannya dalam berbicara dengan benar. Jadi, semua orang di kelompok kecil ini merasa berusaha sehingga keluar main itu dianggap hal yang berharga, bukan karena ada jam tertentu yang diberikan untuk keluar main.

    Kemungkinan untuk menghadapi materi yang berat seperti perfect dan perfect progressive sudah diantisipasi. Sejak awal, anak-anak ini telah dibekali latihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) di hampir tiap pertemuan belajar. Mereka diakrabkan pada puluhan perubahan verb 1, 2 and 3 (kata kerja 1, 2, dan 3) yang disertai dengan artinya dalam bahasa Indonesia. Ini dibaca secara bersama-sama dengan pendampingan guru dan kemudian, diulang per individu hingga paham, bukan hapal. Kalaupun hapal, itu efek dari pemahaman saja.

    Ketika mereka sampai pada materi perfect, verb 3 secara otomatis berfungsi dan diberikan penjelasan tentang cara memasukkan dalam kalimat. Pendekatan melalui rumus tentu mengikuti agar terdapat kekayaan penjelasan dalam memahamkan tenses yang dianggap super rumit ini.

    Pada kenyataannya, RBB memandang tenses itu adalah pelajaran yang mudah diajarkan. Jauh sebelum anak-anak ini berlatih secara berkelompok, ada banyak anak-anak SD di RBB yang telah sanggup menguasai tenses di luar kepala. Bahkan ada yang bisa menjawab tanpa bantuan kotak kosong tenses (hanya berisi nama tenses, tanpa rumus dan kalimat) sama sekali. Linknya dapat Anda tonton di sini:

    Lagi pula, anak-anak ini terinspirasi belajar tenses karena melihat rekan sebayanya mampu berbahasa Inggris lebih baik dalam menjawab soal-soal tertulis dan berbicara lebih tertata. Selain itu, terdapat kesadaran dari guru-guru RBB dalam mempersiapkan para pelajarnya untuk mampu bersaing di tingkat internasional nantinya.

    Perbandingan lainnya adalah dunia pendidikan Islam sejak berabad-abad yang lalu telah mentradisikan kebiasaan anak-anak bukan hanya SD tetapi TK untuk mempelajari dan menghapal Al Qur’an. Teori Jean Piaget yang meskipun berkontribusi besar dalam dunia pendidikan tidak selamanya sesuai. Ada banyak hal yang berbeda dan mampu terbukti tanpa harus mengikuti Piaget.

    Ini adalah bukti bahwa otak anak kecil sebenarnya sanggup menerima materi yang dianggap berat oleh orang dewasa. Untuk bisa berjalan efektif, kita bisa berkaca dari RBB pada jangkauan yang lebih kecil dan pendidikan dunia Islam pada cakupan yang lebih luas.

    Lifelong education (Pendidikan sepanjang masa). Pendidikan yang berkualitas yang mampu menjawab tantangan zaman harus dimulai sejak usia ini. Beranikah kita mendorong anak-anak kita mengikuti pembelajaran seperti ini?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 24 Juli 2026

  • Perjalanan Alika Menembus Kotak Kosong Tenses

    Perjalanan Alika Menembus Kotak Kosong Tenses

    Mumtazah Al Hakim anak yang telah lama belajar Reading (bacaan) di Rumah Belajar Bersama (RBB) dengan kemampuan menamatkan dua buku bacaan berbahasa Inggris lengkap dengan latihan soal ceritanya. Pada buku ketiga, Pre-Intermediate, ia pun sudah hampir tamat. Karena referensi buku-bukunya itu terbitan asing dan juga dipelajari oleh mahasiswa jurusan bahasa Inggris di Sulawesi Selatan, anak kelas 1 SMP ini relatif tidak punya kendala berarti di pelajaran bahasa Inggris sekolah. Ia terlihat santai saja belajar.

    Penulis yang bagian dari pengajar bahasa Inggris di RBB yang merasa gregetan karena Alika yang sudah hampir tamat tiga buku baru tahu tenses, bukan paham di luar kepala. Beberapa kali penulis turut mendidiknya untuk memahamkan. Namun, penulis heran kenapa ia belum tuntas materi tenses itu.

    Kedekatan penulis dengan Alika memang agak berjarak. Penulis bukan guru utamanya Alika. Ia berada di bawah tanggung jawab Mr. Ancha dan ia betah berguru ke guru kelasnya itu. Penulis hanya guru pembantu yang bertugas mengecek capaian kemampuan pelajar dan mengajarkan materi-materi yang diperlukan.

    Hal lain yang sangat memberatkan adalah sesekali penulis menegur Alika karena kebiasaannya bermain game di kelas. Kesenangan yang diganggu pastilah memunculkan rasa jengkel di dalam hati. Ia merasa tidak etis saja memprotes guru. Penulis sadar akan persoalan itu dan selalu berusaha mencari cara menemukan waktu yang tepat untuk mengkomunikasikannya dengan baik.

    Hari ini, ada momentum yang baik. Alika, nama panggilan Mumtazah Al Hakim, sedang menanti guru matematikanya, Miss Uci, belum datang mengajar “Ayo, Alika. Kita belajar tenses,” ajak penulis. Ia tersenyum tapi tidak kuasa menolak. “Tidak perlu khawatir. Saya tidak pernah membencimu,” kata penulis. “Yang saya benci adalah sikapmu yang kebanyakan main, bukan dirimu,” terang penulis dengan nada meyakinkan. Ia berpikir, menimbang-nimbang pernyataan itu. Kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya menuju meja pelatihan yang berisi kotak kosong tenses yang berisi seluruh nama tenses tanpa rumus dan contoh kalimat.

    Alika memulai kalimat positive (pernyataan) pada 16 perubahan kalimat. Di setiap perpindahan kalimat positive tense, ia menunjuk kotak kosong itu sebagai tanda bahwa ia melakukan perpindahan kalimat secara lisan. Setelah lancar, ia masuk pada kalimat positive interrogative (pertanyaan positif). Lalu, kalimat negative (negatif atau penolakan) dan negative interrogative (pertanyaan negatif).

    Seperti apa hasilnya? Alika mampu melakukannya dengan baik. Pada kalimat yang ia praktikkan itu, kemampuannya di atas 90 persen. Ini sudah cukup untuk mengantarkannya pada latihan tenses secara acak pada pertemuan berikutnya.

    Hampir bersamaan dengan selesainya latihan, guru Matematika-nya Alika pun datang. Penulis dan Alika sama-sama puas dengan capaian ini. Modal berharga ini akan sangat berguna membantunya menuntaskan latihan buku reading-nya pada tingkat Pre-Intermediate dan sekaligus juga memperkuatnya memahami tenses di luar kepala baik secara teratur ataupun acak.

    Dari proses belajar yang dijelaskan di atas, ketika Alika yang berumur 13 ini mampu menuntaskan tiga atau bahkan sampai lima buku reading berbahasa Inggris dan tenses serta berbagai basic Grammar lainnya, ia adalah bagian dari pelajar yang layak menjadi contoh yang layak diikuti pada pengembangan berbahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis 23 Juli 2026

  • Sampah Plastik Merusak Keindahan Pantai Bulukumba

    Sampah Plastik Merusak Keindahan Pantai Bulukumba

    Kebersihan pantai adalah masalah utama yang dihadapi Bulukumba yang kaya dengan beragam keindahan pantai. Persoalan ini tidak ada habisnya. Sampah plastik kiriman dari laut dan sampah dari darat menutup pasir putih Bira yang telah terkenal di mana mana.

    Kesadaran kita memang sedang diuji. Uang yang begitu besar mengalir dari sektor wisata dan pantai yang indah yang menjadikan nama Bulukumba populer masih saja terkepung dengan persoalan klasik ini.

    Sebagai langkah konkret, para pemerhati lingkunganlah yang turun langsung mengadakan agenda rutin membersihkan pantai

    Untuk mengetahui jumlah sampah plastik yang dikumpulkan, mari kita sejenak melirik capaian pemerhati lingkungan ini dalam bentuk ukuran berat.

    Bulan April, 1.400 kg
    Mei, 169,3 kg
    Juni, 245 kg
    Juli, 37,2 kg

    Total : 1.848,2 kg.

    Sekadar catatan, jumlah plastik terkumpul pada bulan Juli lebih sedikit bukan karena plastik sudah jarang ditemukan di pantai tetapi karena keterbatasan jumlah relawan yang sempat turun ke lapangan secara langsung.

    Dalam waktu dekat, 2 ton plastik akan dikumpulkan. Jumlah sampah ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan plastik yang tidur pulas di sepanjang pantai merusak kenyamanan semua orang yang berada di pantai termasuk para bule senang bermandikan matahari.

    Data ini diperoleh dari Sudar, seorang pelatih penyelam di Indo Ocean, berkonsentrasi di Pantai Bira dan Marumasa. Sudar tidak sendirian. Beberapa pemerhati lingkungan dari masyarakat setempat yang biasa turut ambil bagian kerja bakti sosial ini adalah mahasiswa KKN UGM di Desa Bira, Dego-Dego Na Bira, Nusa Bira Indah, dan termasuk Pemerintah Desa Bira juga menggalakkan gerakan ini dengan mengajak rakyatnya membersihkan area dekat pelabuhan dan Pantai Panrang Luhu.

    Sewaktu baru saja selesai membersihkan pantai di Bira (22/07), penulis berbicara santai dengan beberapa wisatawan yang berada di sekitar pantai. Beberapa orang Belanda yang penulis temani berbicara terkesan dengan aktivitas yang dilakukan. Penulis menyatakan hadir untuk mendukung dengan mencatatkan kegiatan ini, menyebarkannya di media sosial agar lebih banyak orang tergugah dan peduli hal-hal kecil yang berdampak besar.

    Membangkitkan kesadaran sosial itu memang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sangat panjang; lebih panjang dari hamparan pasir putih di Bulukumba. Dari dahulu hingga sekarang persoalan plastik belum selesai. Bahkan, Pemerintah Daerah Bulukumba pun yang mempunyai kekuatan yang memaksa melalui aturan regulasi masih belum punya tenaga yang cukup untuk menuntaskannya. Mereka memang berbuat, tetapi kenyataannya, sebaran plastik masih sangat melimpah. Artinya, tenaga yang mereka miliki masih sangat terbatas dibandingkan dengan plastik yang melintas batas.

    Tapi bukan berarti bahwa kita harus menyerah. Seorang relawan plastik dari Jepang yang tinggal selama dua tahun di Bulukumba pernah menjadi relawan di Dinas Lingkungan Hidup Bulukumba menyatakan bahwa Jepang saja butuh 40 tahun mengkampanyekan diri agar plastik tidak dibuang di sembarang tempat. Indonesia khususnya di Bulukumba selama berpuluh-puluh tahun masih sedang menghadapi hari-hari yang panjang bertarung kewalahan sampah plastik yang belum tahu kapan bisa tuntas.

    Yang jelas, ini adalah tantangan pemerhati lingkungan dan pemerintah untuk terus-menerus berusaha tiada henti. Hanya dengan tindakan ini kita dapat yakin bahwa suatu saat, pantai kita ini terbebas dari plastik.

    Apakah kita membutuhkan jumlah relawan yang lebih banyak dari jumlah plastik atau apakah Pemerintah Daerah mempunyai langkah strategis yang membuat orang yang buang plastik di sembarang tempat itu mengangkat kedua tangan untuk menyerah? Atau, apakah plastik itu bagian dari keindahan sehingga harus dipertahankan keberadaannya di pantai?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu 22 Juli 2026

  • Siasat Cerdik Belajar Irregular Verbs

    Siasat Cerdik Belajar Irregular Verbs

    Irregular Verbs (Kata kerja yang tidak beraturan) adalah kelas kata yang menarik, sesuatu yang tidak hadir dalam bahasa Indonesia. Berlari, berpikir, dan makan tidak mengalami perubahan kata bila dikerjakan masa lampau, sekarang, dan masa akan datang. Bahasa Inggris tidak demikian.

    Makan
    To eat, eat, eats, ate, eaten, eating.
    Berpikir
    To think, think, thinks, thought, thought, thinking.
    Berlari
    To run, run, runs, ran, run, running.

    Ini semua wajib dikenalkan Lantas bagaimana cara menyederhanakannya? Mudah. Kita mengajak dengan istilah bermain kosakata. Kata “bermain” itu disukai anak-anak. Satu dua perubahan kosakata semisal eat, ate, eaten dan think, thought, thought cukup mereka kenali sebagai langkah pembuka dengan jalan membaca bersama dengan pelafalan yang benar. Perubahan lainnya seperti to eat, eats, eating dan to think, thinks, thinking nanti diajarkan saat membuat kalimat agar bahan pelajaran tidak bertumpuk dalam satu waktu. Setelah paham dua perubahan kosakata kata, tambahkan dua atau tiga kosakata lagi. Begitu seterusnya hingga puluhan dan bahkan ratusan kata mereka kuasai.

    Anak-anak yang cepat memahami pelajaran membantu rekan terdekatnya. Tentu, mereka takkan mengelak karena senang selalu bersama best friend-nya. Pelajar yang tidak punya best friend diajak bergaul. Bila gagal, guru kelas yang turun langsung mengadakan pendampingan kepada anak tersebut. Terkadang juga, beberapa anak yang meskipun bersama best friend-nya belajar bersama, mereka terlambat mengerti. Ini juga bagian dari tugas guru untuk memberikan pengarahan lebih lanjut.

    Ketika kelas seperti ini berjalan, dalam beberapa waktu, anak-anak akan selalu mengangkat tangan untuk menyatakan “saya sudah hapal.” Guru menyambut, “Silahkan setor hapalan.” Ia pun menunjukkan kemampuannya. Dengan memberikan pujian yang tulus capaiannya itu membuat anak-anak akan meminta lagi kosakata yang baru. Tiap dari mereka akan berhenti manakala sudah merasa capek.

    Pada pertemuan berikutnya, anak-anak tidak akan kaget lagi melihat perubahan kata kerja pada kalimat simple present atau simple past. Mereka akan tahu apa manfaat “permainan” kosakata. Bagi guru yang kreatif, mereka biasanya memanfaatkan untuk mengajarkan tenses–perubahan kalimat berdasarkan waktu dan kejadian atau kondisi–secara keseluruhan. Ini karena kata kerja merupakan inti pada perubahan kalimat.

    Ketika inti telah berada dalam genggaman, yang lain dengan serta merta mengikut asalkan disertai dengan penjelasan yang masuk akal sesuai kemampuan daya serap pelajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 22 Juli 2026