Adam was the star that night .
He has gained the trust to lead two of his classmates, Abizar and Sirin. When asked by the teacher to freely choose a lesson, Adam said, “Lesson 1 to 10.” The teacher responded, “You’re overdoing it, Adam. You know your friends have understood those lessons.” He thought for a moment, “Lesson 11 to 20.” That was also too easy, but because Adam was the one we were training to lead, whatever he determined was simply agreed upon.
At the beginning of reading lesson 11, he immediately read several sentences. His reading speed was difficult to follow. For that, he received a suggestion to read slowly so that his classmates could follow correctly. If there was a mistake in reading, Adam only laughed without making any correction. They all seemed to want to finish their reading quickly to get playtime.
Adam’s desire to speed up the reading did not go smoothly. He was the one who received the reprimand, not the students who made the mistakes. A leader must be able to direct the people they lead, but for Adam, that had no effect at all. He was merely proud to be appointed as a leader with the consideration of being more fluent and having finished the Basic Reading book. If someone is not fluent in reading, that is each person’s private business, that’s not Adam’s responsibility.
When it was time to break, Adam played on an Android. Not long after, he studied a storybook, the second book which was his main task. It was a bit difficult for him to switch back to the book. With a bit of firmness, he put the Android into his bag. The story title ‘In a Department Store’ he completed well with his same-level classmates. After that, all students asked for a rest. It turned out, all the children who brought Androids wanted to play games again.
This was actually quite fair. There was a time for study, there was a time for Android. Unfortunately, if most children bring Androids, the social interaction among them would decrease because they all focused on their Androids. They usually suggested making a game, but with the Androids in their hands, they had no more suggestions and even though the teacher gave a review, it was rejected. The children who did not bring Androids gathered to follow Adam. Here, Adam felt like he truly became a leader.
Leadership can be designed in a learning environment started from the smallest things like what Adam experienced. Children indeed do not yet understand the duties and responsibilities of a leader and still need to be under supervision while leading. It is the time in the process that will make him understand why he is chosen to be a leader. And when they grow up later, they will understand the importance of leadership training that is taught culturally at class.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Thursday, April 30, 2026
Dua orang bersaudara yang waktu pulang sekolahnya aktif dengan kegiatan. Tita dan Zhah telah mengikuti dua kelas sekaligus; Bahasa Inggris dan Matematika. Itu adalah cara praktis yang membantunya menyelesaikan persoalan sekolah. Orang tuanya tidak repot lagi memikirkan PR (Pekerjaan Rumah).
Miss Ulfi, guru kelas Matematika, terlebih dahulu menekankan Matematika Dasar sembari membantu menyelesaikan pelajaran sekolah. Dengan kesabaran dan ketekunan, hal itu mengantarkannya Tita sampai pada pembelajaran tingkat Persamaan Liniar, Aljabar dan Garis dan Sudut, pelajaran SMP. Sedangkan Zhah, anak kelas 4 SD tidak kerepotan lagi materi KPK, Pecahan, Panjang dan Berat. Kendala mereka terletak pada cara menjawab pembagian puluhan dengan cepat namun Miss Ulfi percaya hal ini bisa diatasi dengan sering memberikan latihan di sela-sela pembelajaran, waktu yang relatif santai.
Pada Bahasa Inggris, Tita memilih Grammar (Tata Bahasa) yang berguna untuk jawab-jawab soal sekolah. Sedangkan Zhah memilih Reading (Bacaan) untuk mengasah kemampuan berbicara dan cerita cerita berbahasa Inggris. Perbedaan pilihan ini sebenarnya dapat mereka gunakan untuk saling mengisi di rumah. Tapi ya, namanya juga anak anak, keduanya masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri sehingga kami di RBB (Rumah Belajar Bersama) mengajak mereka untuk saling support dalam berbahasa Inggris.
Karena waktu belajar mereka hingga dari siang hingga jelang Maghrib, sebelum pulang, kami meminta waktunya sejenak untuk pendalaman pembelajaran. Beruntung orang tuanya yang menjemput bersedia menanti sedikit lebih lama dan kedua anak ini juga mau untuk mendapatkan pelajaran tambahan. Mereka tahu bahwa target belajar yang dicapai adalah kapasitas ilmu yang berguna melebihi pelajaran sekolah. Untuk itu, beberapa pelajaran yang belum berhubungan dengan pelajaran sekolahnya diberikan.
Mempelajari Matematika dan Bahasa Inggris oleh kedua orang bersaudara ini adalah pilihan yang tepat. Kita tahu, itu momok menakutkan bagi kebanyakan pelajar sekolah. Mereka biasanya membawa setumpuk persoalan sekolah dan selesaikan dengan banyak berdialog dengan guru guru kelas. Selebihnya, waktu dunia anak yaitu bermain mereka dapatkan untuk melepaskan rasa lelah selama berada di RBB.
Adam jadi bintang malam ini. Ia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dua orang rekannya Abizar dan Sirin. Ketika diminta oleh guru bebas memilih lesson (pelajaran),
Adam mengatakan, “Lesson 1 sampai 10”. Guru merespon “Kelewatan kau Adam. Kamu tahu teman-temanmu itu telah paham materi itu”. Ia pun berpikir sejenak, “Lesson 11 sampai 20”. Itu juga juga terlalu mudah tapi karena Adam yang sedang kita latih memimpin, apa yang ia tentukan, disepakati saja.
Pada awal bacaan lesson 11, ia langsung membaca beberapa kalimat. Kecepatan membacanya sulit diikuti. Untuk itu, ia mendapat saran untuk membaca perlahan saja agar rekan rekannya bisa mengikuti dengan benar. Bila ada yang salah dalam membaca, Adam hanya tertawa tanpa melakukan pembenaran. Mereka semua terlihat ingin segera menyelesaikan bacaannya untuk mendapatkan waktu bermain.
Keinginan Adam untuk mempercepat bacaan tidak berjalan mulus. Dia yang mendapat teguran, bukan pelajar yang membuat kesalahan. Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan orang yang dipimpinnya tapi bagi Adam, itu tidak berpengaruh sama sekali. Ia cuma bangga ditunjuk jadi pemimpin dengan pertimbangan lebih lancar dan tamat bacaan Basic Reading. Kalau tidak lancar membaca, itu urusan pribadi tiap orang.
Waktu keluar main, Adam bermain android. Tidak berapa lama berselang, ia mempelajari buku cerita, buku kedua yang menjadi tugas utamanya. Ia agak susah beralih ke buku lagi. Dengan sedikit ketegasan, ia menaruh android fam tas. Judul cerita ‘In a Department Store’ ia selesaikan dengan baik bersama rekan-rekan selevelnya. Setelah itu, semuanya minta istirahat. Ternyata, semua anak yang bawa android ingin bermain games lagi.
Ini sebenarnya cukup adil. Ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk android. Sayangnya, bila kebanyakan anak-anak yang bawa android, sosialisasi bermain sesama mereka akan berkurang karena mereka semua akan fokus pada androidnya. Mereka biasanya mengusulkan untuk membuat permainan tapi dengan adanya android, mereka tidak punya usulan lagi dan meskipun guru memberikan ulasan, itu ditolak. Anak anak yang tidak bawa android berkumpul mengikuti Adam. Di sini, Adam merasa benar benar jadi pemimpin.
Kepemimpinan dapat didesain dalam lingkungan belajar dimulai dari hal hal terkecil seperti yang dialami oleh Adam. Anak anak memang belum mengerti tugas dan tanggungjawab seorang pemimpin dan perlu tetap dalam pendampingan ketika memimpin. Waktu berproses yang akan membuatnya mengerti mengapa ia dipilih jadi pemimpin. Dan saat mereka dewasa nanti, mereka akan paham pentingnya latihan kepemimpinan yang diajarkan secara kultural di kelas belajar.
“Better” (Lebih baik). Itulah ekspresi pengembangan dikatakan oleh Miss Salma Minasaroh dari Lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah saat menutup pembelajaran Bahasa Inggris online tahap ketiga (29/04). Lima orang anak anak RBB (Rumah Belajar Bersama) di Bulukumba , Sulawesi Selatan hadir dari sembilan yang lolos klasifikasi. Peserta memang sengaja dibuat terbatas agar kelas pembelajaran lebih efektif, tidak boros waktu.
Keterikatan belajar tanya-jawab online ini semakin meningkat karena
berkenalan dengan orang baru dan mendapat perhatian dari orang pintar melahirkan kebanggaan tersendiri baginya. Para pelajar ingin agar ekspresi mereka dapat didengarkan dan diakui. Dan bagi penulis, ini mampu memberikan cara pandang baru dari kebiasaan anak-anak menggunakan android untuk bermain games menjadi sarana belajar. Aturan ketat dibuat agar mereka berjuang dan merasa menjadi istimewa ketika terpilih.
Sehari sebelum pertemuan, ada usaha di mana beberapa pelajar yang tidak termasuk kategori diperjuangkan oleh rekan-rekannya untuk tetap bisa ikut.
“Dua sampai tiga orang belum boleh gabung karena belum lancar bicara”, kata guru RBB.
“Kasi ikut saja Mr.. nanti saya bantu” kata Adam.
“Please, Mr.”, kata yang lainnya.
Mereka pun mengurangi jatah keluar main dan saling praktek tanya-jawab lebih serius. Melihat usaha ala “gotong royong” itu, usulan mereka diterima.
Sebagai konsekuensi, kemampuan akselerasi dalam menyampaikan pendapat lebih terlihat jelas: bicara lancar dan tidak terlihat grogi lagi. Anak anak tidak saling berebutan lagi untuk dapat kesempatan berbicara dan menanti dengan sabar mendapatkan giliran karena mereka tahu bahwa dengan jumlah peserta yang sedikit, kesempatan untuk dapat bicara jauh lebih banyak.
Dalam hal materi pembelajaran, kemajuan yang berarti ini dipengaruhi oleh 20 model soal yang dibuat Salma dengan memasukkan information Question (Pertanyaan Informasi) seperti what, where, why dan who (Apa, di mana, kenapa dan siapa), bukan lagi soal yang mayoritas yes no questions seperti pembelajaran online Part 1. Otomatis, setiap pelajar diajak membuat argumentasi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.Bahasa Inggris telah berfungsi sebagai alat untuk membangun kemandirian anak untuk punya pendapat sendiri.
Kemana Arah Pendidikan Kita?
Sebagaimana yang kita sering dengar, Indonesia itu tidak kekurangan intelektual, bertaburan di mana mana. Sebagian orang yang cerdas kita malahan memilih berkarir di luar negeri karena merasa tidak dihargai di Indonesia. Sebagian tetap tinggal di dalam negeri dan melakukan perubahan secara kultural, di luar sistem pemerintahan.
Dengan menemukan pelajar pelajar berbakat mulai dari anak anak hingga dewasa, kita dapat membangun koneksi yang tidak dibatasi oleh dengan siapapun, kalangan intelektual baik dalam dan luar negeri. Mereka dapat diundang mengisi pembelajaran secara online kepada para pelajar berbakat tersebut. Dari situ, kita dapat membaca pemikiran-pemikiran yang brilian yang kemudian kita tulis dan sebarkan untuk dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.
Sedangkan dalam pendekatan struktural, kementrian Pendidikan RI telah menerapkan wajib belajar Bahasa Inggris di SD sejak 2025, sebuah solusi menghadapi lemahnya pelajar Indonesia berbahasa asing selama puluhan tahun Bahasa Inggris mulai di di SMP.
Sayang sekali, langkahnya pembenahan di SD masih terseok-seok. Ada kurikulum dalam bentuk buku sebagai bahan pelajaran. Masalahnya, kebanyakan guru yang mengajar tidak tahu berbahasa Inggris. Itu salah siapa? Bukan salah guru, salah sistem yang tidak merekrut guru-guru yang tepat mengisi pos tersebut. Alasan klasik adalah keterbatasan anggaran.
Sebenarnya sih, selama ada niat dan usaha yang sungguh-sungguh, pasti ada jalan. “Bukankah kesulitan itu adalah kesempatan untuk melakukan yang lebih baik (better)?”, kata B. J. Habibie. Seribu langkah dimulai dari satu langkah. Sekecil apapun langkah kita, we just want to make something (Kita hanya ingin membuat sesuatu), mengutip Salma, “Better”.
Kesan yang sangat menggembirakan. Pada waktu sedang istirahat, Zhah Noor Aisyah, pelajar kelas Malam Reading (Bacaan) yang telah tamat dua buku, tiba-tiba duduk di depan penulis dan membuka buku catatan grammar-nya. Ia langsung praktek bicara pada simple future menggunakan “be” sebagai kata kerja utama, nominal tenses istilah orang Indonesia. Di hari hari sebelumnya, ia mesti dirayu agar mau belajar simple present dan simple past hingga paham luar kepala. Sekarang, ia berinisiatif sendiri.
Berbekal buku catatan, ia praktek lisan. Kewalahan menyusun kata pada perubahan simple future pasti Zhah temukan.
Karena itu, ia lebih banyak bicara sambil melihat peta yang ia buat. Ilmu memang tidak secepat kilat bisa dipahami, butuh proses. Hukum perulangan menjadikan pelajaran melekat dengan baik di kepala.
Seluruh proses perubahan kalimat termasuk pada penggunaan shall untuk British English pada subjek I dan We telah Zhah praktekkan. Variasi ini sengaja diajarkan karena ia tidak hanya membaca buku buku karya orang Amerika tetapi juga karya orang Inggris. Buku catatan sangat berguna untuk merujuk pada tiap kesalahan bicara yang ia praktekkan di depan gurunya.
Setelah merasa cukup yakin, Zhah tidak memilih untuk beristirahat. Ia pun kembali mengerakkan pena, membuat catatan terbaru. Agar tidak kesulitan, ia menulis materi simple present, simple Past dan simple future pada verbal tenses sebagai pembanding dari simple pada nominal tenses. Pelajar Indonesia sering kali gagal membedakan ini, apakah menggunakan “do, does atau did” atau am, is atau are saat bertanya.
Kemungkinan besar, Zhah tidak membutuhkan banyak penjelasan lagi dalam merangkai kata pada latihan berikutnya. Pemahaman penting yang akan disampaikan kepadanya yaitu mengapa “do” atau does” dipakai, bukan “am, is atau are” pada simple present untuk bertanya. Hal yang sama juga terjadi pada simple past. Mengapa “did” bukan “was, were” dan seterusnya.
Apakah ini sulit dipahami oleh anak kelas 4 SD seperti Zhah? Tidak sama sekali. Zhah tergerak hari untuk mempelajari materi ini karena melihat beberapa teman seumurannya telah mengerti tenses dengan sangat baik. Berdasarkan proses belajar yang ia lakukan,
ia dan guru guru di RBB (Rumah Belajar Bersama) yakin ia sanggup paham tenses luar kepala juga. Prediksi dalam dua atau tiga minggu ke depan, ia akan mendapatkan live (siaran langsung) disaksikan oleh publik untuk praktek perubahan seluruh kalimat tenses di luar kepala.
Percepatan tersebut kuncinya terletak pada Zhah sendiri. Ketika ia mau menggunakan sebagian jam istirahatnya dengan duduk di depan guru, membuka buku catatan grammar-nya dan praktek, ia tidak hanya menyelesaikan tenses tapi pembelajaran Basic Grammar lainnya akan jauh lebih banyak ia mengerti yang sangat berguna memahami teks reading, speaking dan writing bila ia tertarik menulis dalam Bahasa Inggris.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 29 yang April 2026
Simple and engaging. That’s what we found when Steven Riley, a senior teacher from Australia, taught for a day at RBB (Rumah Belajar Bersama) in Bulukumba District, South Sulawesi, Indonesia. In communication, he taught intonation, which closely relates to question and answer exchanges. First, he asked about all the participants’ well-being and names while observing how they responded. Then, the students were asked to make statements addressed to him.
Starting from that brief conversation, Steven who has traveled far and wide, even to Japan immediately understood the students’ capacities. Soon after that, he approached those who lacked confidence in speaking and greeted them using every day conversational vocabularies. The atmosphere then became more relaxed and more prepared. After that, he gave examples of how to control pitch. “If you want to ask a question, raise the pitch at the end of the sentence. On the other hand, if you want to answer, just lower the pitch at the end,” he said. It’s that simple.
The lesson continued. Because Steven spoke entirely in English, he also used body language so that his explanations could be understood. The writer occasionally stepped in to help translate only the more complex parts to help students grasp more quickly. Otherwise, they were encouraged to try to interprete everything Steven explained on their own.
Controlling pitch may seem trivial, but most students did not yet know how to raise or lower their voices properly with a pleasant tone. Steven did not give up. This seasoned the teacher knew exactly how to handle it. Each student who failed to speak correctly was asked to repeat. And if they still failed, even at the age of 72, he showed no signs of fatigue and did not hesitate to actively walk around, approaching each student one by one to help them follow what he said until they reached a level of voice he considered comfortable to listen.
After that, Steven trained speaking skills further. To teach directions, he first drew arrows for north, south, east, and west. Then, he created winding roads with three juctions and four juctions. He also drew houses, schools, offices, and more. “Where is the school?” Steven asked. The answer was not just pointing at the drawing but explaining it. Students had to say things like “Go straight to the west, turn left, then right at the intersection” and so on. The answers varied because different locations were being asked about.
Steven’s Teaching Outcomes
Steven’s interactive two-way learning approach successfully stimulated thinking, encouraged active speaking, and directly ensured students’ level of understanding. Even passive students began to think and prepare themselves, anticipating that they might be asked questions. Meanwhile, those who were already confident in speaking became more creative and critical in expressing their opinions.
The learning atmosphere also became livelier because communication was built among students and between students and the teacher. A teacher with an open mindset like Steven is appropriate to this method. He was prepared for the possibility of unexpected critical questions. Steven’s experience, insight, and mental readiness in managing the class made the learning process very enjoyable from start to finish, which lasted about 90 minutes.
Steven Riley is actually no longer working as a teacher but as a contractor in France. He met Anjas, a guide who understands maps and the needs of his guests, which allowed Steven to channel his passion for teaching by coming to RBB. Steven’s teaching method is closely related to pronunciation, speaking, and intonation was excellent and became a valuable reference to be followed up in supporting the acceleration of students’ learning abilities.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Tuesday, April 28, 2026
Menarik dan sederhana. Itulah yang kita temukan ketika Steven Riley, seorang guru senior dari Australia, mengajar sehari di RBB (Rumah Belajar Bersama). Dalam berkomunikasi, ia mengajarkan intonasi yang erat kaitannya dalam tanya jawab. Pertama, ia menanyakan kabar dan nama peserta sembari memperhatikan cara menjawab. Kemudian, para pelajar diminta membuat pernyataan yang ditujukan kepadanya.
Berangkat obrolan singkat tersebut, Steven yang sudah melanglang buana ke negeri terjauh sampai ke Jepang ini langsung tahu kapasitas pelajar. Dengan segera, ia mendekati pelajar yang kurang PD (percaya diri) bicara dan menyapanya menggunakan kosa-kata percakapan sehari-hari. Lalu, suasana jadi cair. Para pelajar jadi lebih siap. Setelah itu, ia memberikan contoh pengaturan tinggi rendah suara. “Kalau mau bertanya, naikkan nada suara di akhir kata pada kalimat. Sebaliknya, kalau mau menjawab, turunkan saja suara nada suara di akhir kata”, katanya. Sederhana itu.
Pelajaran berlanjut. Karena Steven total berbahasa Inggris, ia pun menggunakan gerakan tubuh agar maksud penjelasannya bisa dimengerti. Penulis kadang-kadang hadir membantu menerjemahkan pada hal-hal yang rumit saja untuk membuat pelajar lebih cepat mengerti. Selebihnya, mereka diajak untuk berusaha menafsirkan sendiri segala hal yang dijelaskan Steven.
Mengatur tinggi rendah suara terlihat remeh-temeh tapi mayoritas pelajar belum tahu cara menaikkan atau menurunkan suara dengan tepat dengan nada yang enak didengar. Steven tidak menyerah. Guru yang telah makan garam ini tahu betul cara mengatasinya. Pada setiap pelajar yang gagal berbicara dengan benar, ia diminta untuk membuat pengulangan. Dan bila mereka masih tetap gagal, meskipun umurnya mencapai 72 tahun, ia tidak terlihat lelah dan malahan tidak segan-segan aktif berjalan mendekati untuk membantu satu persatu pelajar mengikuti apa yang ia katakan hingga sampai pada ukuran suara yang menurutnya nyaman untuk didengarkan.
Setelah itu, Steven melatih kemampuan berbicara lebih banyak. Untuk pemahaman tentang arah, Steven terlebih dahulu membuat tanda panah untuk arah utara, selatan, timur dan barat. Kemudian, membuat jalan berkelok-kelok mempunyai pertigaan dan perempatan. Ia juga menggambar rumah, sekolah, kantor dan lainnya. “Dimana sekolah?”, tanya Steven. Jawaban tidak sekedar menunjuk pada gambar tapi bercerita. Pelajar harus bisa mengatakan jalan terus ke arah barat, belok kiri dan kemudian kanan pada pertigaan dan seterusnya. Jawaban akan beragam karena yang ditanyakan adalah berbagai macam tempat yang berbeda.
Capaian Pengajaran Steven
Pembelajaran interaktif dua arah dari Steven berhasil merangsang cara berpikir, aktif berbicara dan memastikan tingkat pemahaman siswa secara langsung. Bahkan, para pelajar yang pasif pun berpikir dan mempersiapkan diri karena memprediksi dirinya akan mendapatkan pertanyaan. Dan bagi pelajar yang telah berani bicara, mereka akan lebih kreatif dan kritis dalam berpendapat.
Suasana belajar juga terlihat lebih semarak karena terjalin hubungan komunikasi sesama pelajar dan pelajar dengan guru. Seorang guru yang berpemikiran terbuka seperti Steven tepat melakukan metode pembelajaran ini. Ia telah siap akan kemungkinan munculnya pertanyaan kritis yang tidak terduga. Pengalaman, wawasan dan mental Steven dalam mengelola kelas belajar membuat pembelajaran terlihat sangat menyenangkan dari awal hingga akhir yang berlangsung sekitar 90 menit.
Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis. Ia bertemu dengan Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamunya, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan menguji RBB. Metode pengajaran Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi)
Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis di mana sebelumnya ia mengajar di Jepang. Ia bertemu dengan Nur Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamu di Bira, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan mengunjugi RBB. Pengajaran sehari Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi) sangat bagus dan menjadi kekayaan referensi untuk ditindaklanjuti dalam mendukung percepatan kecerdasan para pelajar.
Jurus Kung Fu mabuk sangat cocok bagi para pelajar yang sebenarnya tidak kurang perhatian dalam belajar. Mereka datang ke kelas untuk sekedar menutupi tuntutan orang tuanya. Tidak perlu banyak hal yang harus dibebankan padanya. Yang penting, mereka membaca dan praktek. Paham atau tidak, itu urusan belakangan. Berada di lingkungan belajar itu sudah cukup membantu mereka mengurangi bermain android–Masalah besar yang dihadapi kids zaman now. Kita doakan saja agar mereka bisa paham dengan pembiasaan belajar.
Sementara itu, para pelajar yang sudah punya sedikit lebih bagus dari yang dijelaskan di atas cocok pakai jurus Kung Fu Master–Keahlian diperoleh dari ketekuna, disiplin dan waktu yang lama. Mereka mendapatkan pelajaran yang lebih terstruktur dan punya jam tambahan di luar jam belajar wajibnya. Ada waktu bermain tapi relatif lebih sedikit. Sebelum jemputan orang tuanya datang, sedapat mungkin belajar.
Afifah dan Zhah adalah pelajar kelas Reading (Bacaan) tapi ia tertarik belajar Grammar (tata Bahasa. Melihat para pelajar grammar punya kemampuan berbeda dengan dirinya, mereka penasaran. Untuk setelah jam belajar reading-nya selesai, kami pun memintanya mencatat beberapa hal penting pada Tenses. Kemudian, mereka pun berlatih lisan pada tenses luar kepala dengan target bukan sebatas tahu tahu paham.
Ah, yes! Faktor kebiasaan membaca
pasti sangat mempengaruhi kecepatan berpikir. Para pelajar ini sudah sering menemukan kalimat yang sama atau minimal mirip tapi belum tahu kenapa ditulis seperti demikian–Tentu karena tidak tahu grammar. Jadi, dengan mendapatkan dasar dasar grammar, mereka lebih girang dan bersemangat mencari tahu lebih jauh. Hal ini kami lihat dari kebiasaannya bertanya, Apa maksudnya ini dan itu? Kenapa bisa begitu dan begitu? Rasa ingin tahu tersebut memotivasinya untuk memenuhi target yang ingin dicapai.
Jurus Kung Fu Mabuk atau Jurus Kung Fu Master, itu adalah istilah atau klasifikasi saja. Yang utama adalah kesediaan menghadapi proses belajar. Dalam menjalaninya, tentu ada kemudahan, ada kesulitan saling silih berganti. Mari terus melangkah memperbaiki cara belajar kita. Siapa tahu, ada jurus Kung Fu Belajar lainnya yang ditemukan.
Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, the third President of Indonesia, introduced us to the idea that education in Germany is highly rational, disciplined, and fosters student independence. Habibie’s super-intelligent mind is also known by the slogan “German Mind, Medina Heart.” “German Mind” refers to the highly rational knowledge of Germans, and “Medina Heart” refers to the city of Medina (civilization) in Saudi Arabia, a safe city where the Prophet Muhammad (peace be upon him) was protected from attacks by the Meccans during his time. In an effort to keep up with technological developments, This understanding we got from Cak Maksun became a book by Kristian Morville. Habibie is remembered for sending many students to study in Germany. In fact, several leading schools in Indonesia, including those in Makassar, offer German language lessons in the second grade of high school.
The writer once met Habibie and felt fortunate to also meet Verena Schubert, a well-educated German in Bulukumba. “If you don’t study, you don’t have to be a student.” A simple, meaningful quote from Verena describing education in Germany. Anyone who is diligent and highly motivated deserves a decent education at a fully government-funded university. For some majors, such as health and engineering, prospective students will take additional exams to prove their eligibility. Once enrolled, they have the opportunity to retake the exam several times, but if they still fail, they will definitely be dropped out. So, being a student in Germany requires a high level of mental fortitude and a strong mentality. That’s how Verena explained when the writer asked. In the minds of Indonesians, ” it is not surprising, German-made equipment and machinery available in Indonesia are renowned for high quality,” the writer thought.
Asse Nur Izza Maharani, pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama) met B. J. Habibie di Yogyakarta, 2013. Picture Source: Zulkarnain Patwa.
But, studying isn’t just about that, Fergusso! (Indonesian expression).Cita Deny, A friend from Muhammadiyah University of Yogyakarta in Indonesia, who continued her studies at the Universität Viadrina Frankfurt in Germany, once complained about the very high cost of living in Germany. This was undoubtedly because the Rupiah was still struggling to compete with the Euro. She was fortunate, born into a well-off family and with a strong passion for learning, which enabled her to complete her master’s degree there. After returning to Indonesia, he even helped promote studying in Germany by actively working at one of the German language development centers in Jakarta.
Cita Deny explains studying in Germany via Zoom to our students in Bulukumba. Photo source: Rumah Belajar Bersama.
So, what about those with limited financial resources? Verena explained that the high cost of home, food, and other living expenses led the government to consider borrowing a small amount of money, which students could repay in installments after working. And when someone wants to earn extra money, Verena, now a manager at a large company, doesn’t hesitate to share her past. “I work as a waitress at the restaurant,” she said with her sweet smile. Studying for her undergraduate degree at the prestigious BWL Bachelor (Business) at The Johann Goethe University in Frankfurt Am Main in Germany didn’t make her feel ashamed or embarrassed to do jobs considered menial. In fact, there are no menial jobs. Every job is noble, as long as it’s halal (permissible or lawful). Independence in Germany is cultivated from a young age, with parents no longer supporting their children’s living expenses when they reach adulthood. In Indonesia, parents are responsible for supporting their children until they get married. However, this creative idea of earning money by working part-time is also widely done by Indonesian students in Yogyakarta—the heart of the city of students and tourism—by opening book stalls or selling drink and food from a cart in the busy afternoons. Some students also choose to work for others, as Verena ever did. The amount of money earned is certainly not much, but at least it can overcome the financial constraints commonly faced by students. Similar activities certainly occur in other cities in Indonesia, but not as widely as in Yogyakarta.
Verena Schubert made a visit to informal education at the Rumah Belajar Bersama, Bulukumba, South Sulawesi. Photo Source: Aris Irfan, 2026.
Nature and Hospitality in Indonesia
A beautiful and healthy body is a logical consequence of consistent exercise. Verena traveled the world and spent five months in Indonesia, pursuing her passion for sports in places she found interesting. She seemed agile in her movements. She chose two weeks to snorkel, dive, and sun bathe in Bira. People who stay in a place have their own reasons. According to Verena, the beauty of white sand beach, clear sea water, well-maintained coral reefs, and the uncrowded and friendly people complement her desire for a quiet and peaceful life.
Love and peace greetings from Bira sea. Photo source: Verena Schubert, 2026
Another story Verena really likes is religious differences. In her view, people use religions for the wrong purposes. There are wars, and they fight based on religious beliefs. Here (meaning Bulukumba) and in East Nusa Tenggara, where she has visited, Muslims and Christians live side by side. We can see mosques and churches everywhere. There is no conflict. They believe in a good faith and respect each other. Meanwhile, in Germany, there are issues that people are afraid. There are wars going on right now, and a lot of bad things are happening. And people are at odds with each other. No matter which culture we belong to, it doesn’t matter.. At the end, we’re all human who need peaceful lives.
Dolphins greet and complete Verena’s happiness by swimming right behind her while diving in the Bira sea. Photo Source: Verena Schubert, 2026.
The writer was impressed by Verena’s explanation and gave sweet praise for her intelligence in simplifying her extensive experience into sentences that were not wordy and easy to understand. She replied, ‘Thank you. I am a manager.’ We laughed freely. The term ‘manager’ refers to her ability to lead, explain, and direct accurately for a large group of people she manages at a company whose name is deliberately not mentioned here. Later, the writer learned that she graduated with a master’s degree in International Innovation Strategy from Católica University in Lisbon, one of the best educational institutions in Portugal.
What makes a university student happy is a graduation. photo of Verena Schubert after completing her Master Degree in International Innovation Strategy at Universidade Católica in Lisbon, Portugal. Photo source: Verena Schubert on Instagram.
Verena’s choice to travel for a considerable period with only two very small bags has made her aware of her belongings. At home in Germany, she has a lot of stuff. With her traveling experience, she now believes she doesn’t actually need much. She can easily move wherever she likes without burden and happily.
A Visit to Rumah Belajar Bersama
It was a special pleasure for the writer when Verena stopped by to speak English with our informal students at RBB (Rumah Belajar Bersama). “Yes. That’s not a problem at all, if time permits,” Verena said as we traveled by private car from Bira to Bulukumba. Aris Irfan, manager of Cahaya Bone of Kalla Travel, said, “There’s still a little time before the travel car in Bulukumba takes Verena to Makassar.”
Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.
It was almost 5 p.m. Many of the RBB students had gone home, but fortunately, there were still a handful of students at the intensive class still busy working on Grammar and Reading. Verana greeted them warmly and joked with them, like a familiar teacher with her students. Suddenly, she became the center of attention. Several questions and answers were held, fostering ongoing communication, but unfortunately, the nice meeting was too short.
A really nice and friendly discussion with Verana and the student learning English. Photo Source: Zulkarnain Patwa, 2026.
Verena’s visit was brief, but it left a lasting impression on the students. They have become more aware and motivated to learn. They realized that there was no opportunity to speak Indonesian with a foreigner to confirm things they wanted to know. They also need to have the insight or knowledge to ask questions in order to make the conversation more interesting. And because meeting strangers is something unfamiliar, it was a valuable experience that built confidence in meeting new people.
A very tall young lady tried to be as tall as a child that makes Zhah look shy but happy. Photo Source: Zulkarnain Patwa, 2026.
Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, Presiden Indonesia ketiga, memperkenalkan kepada kita bahwa pendidikan di Jerman itu sangat rasional, disiplin dan melatih kemandirian pelajar. Otak Habibie yang super cerdas itu juga dikenal dengan slogan German’s Mind, Medina Heart.“German’s mind” merujuk pada pengetahuan yang sangat rasional dari orang Jerman dan “Medina Heart” merujuk pada kota Madinah (peradaban) di Arab Saudi, sebuah kota yang aman di mana Nabi Muhammad SAW mendapat perlindungan dari serangan orang-orang Mekah pada masanya. Pemahaman ini pertama kali penulis dapatkan dari Cak Maksun dan kemudian jadi judul buku oleh Kristian Morville. Dalam usaha mengikuti perkembangan teknologi, Habibie dikenang banyak mengirim pelajar untuk kuliah ke Jerman. Bahkan, beberapa sekolah unggulan di Indonesia termasuk di Makassar memasukkan pelajaran Bahasa Jerman di kelas 2 SMA.
Penulis pernah sekali bertemu dengan Habibie dan merasa beruntung juga berkenalan dengan orang Jerman terdidik yang berkunjung ke Bulukumba, Verena Schubert. “Jika anda tidak belajar, anda sebaiknya tidak usah jadi pelajar”. Sebuah kalimat sederhana yang mempunyai makna yang padat dari Verena ketika menggambarkan pendidikan di Jerman. Siapapun juga tekun, dan punya motivasi yang tinggi berhak mendapatkan pendidikan layak di universitas dibiayai penuh oleh pemerintah. Untuk beberapa jurusan seperti kesehatan dan teknik, para calon pelajar akan mendapatkan beberapa ujian tambahan untuk membuktikan bahwa mereka layak di jurusan tersebut. Dan bila sudah kuliah, ada kesempatan beberapa kali untuk mengulangi ujian namun bila tetap gagal, mereka pasti DO (Drop Out). Jadi, menjadi mahasiswa di Jerman harus mempersiapkan otak bekerja maksimal dan bermental baja. Begitulah penjelasan Verena sewaktu penulis bertanya padanya. Dalam pikiran orang Indonesia, ” Wajar ya, peralatan dan mesin buatan Jerman yang ada di Indonesia terkenal bagus kwalitasnya”, pikir penulis.
Asse Nur Izza Maharani, pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama) yang pernah bertemu Bapak B. J. Habibie di Yogyakarta, 2013. Sumber Foto: Zulkarnain Patwa
Tapi, kuliah tidak sebatas itu saja, Fergusso! Seorang rekan semasa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Indonesia bernama Cita Deny melanjutkan kuliahnya Universität Viadrina Frankfurt di Jerman pernah mengeluhkan biaya hidup yang sangat tinggi di Jerman. Itu sudah pasti karena nilai mata uang Rupiah masih sulit bersaing dengan mata uang Euro. Dia beruntung, terlahir dari keluarga yang cukup mapan dan punya semangat belajar yang tinggi hingga mampu menyelesaikan S 2 master-nya di sana. Setelah kembali ke Indonesia, ia malah turut mempromosikan kuliah ke Jerman dengan aktif bekerja ke salah satu pusat pengembangan bahasa Jerman di Jakarta.
Cita Deny mengisi penjelasan tentang kuliah di Jerman via zoom kepada para pelajar di Bulukumba; Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.
Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mempunyai keterbatasan ekonomi? Verena menjelaskan bahwa biaya tempat tinggal, makanan dan kebutuhan hidup lainnya yang mahal tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk meminjam sejumlah uang yang tidak terlalu besar di mana para mahasiswa dapat membayarnya kembali secara mencicil setelah bekerja.
Dan bila ingin mendapatkan uang tambahan, Verena yang kini seorang manager di sebuah perusahaan besar tidak merasa sungkan menceriterakan masa lalunya. “I works a waitress at the restaurant” (saya bekerja sebagai pelayan di restoran), ungkapnya sembari tersenyum manis. Kuliah S 1 di kampus bergengsi jurusan BWL Bachelor (Business) at The Johann Goethe University in Frankfurt Am Main di Jerman sama sekali tidaklah membuatnya malu atau gengsi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dianggap rendahan. Sebenarnya, tidak ada pekerjaan rendahan. Setiap pekerjaan itu mulia, asalkan halal.
Kemandirian hidup di Jerman telah dilatih sejak masa muda di mana orang tua tidak lagi membiayai kehidupan anak-anaknya ketika beranjak dewasa. Di Indonesia, orang tua bertanggungjawab membiayai anak-anaknya hingga menikah. Namun, ide kreatifitas cari duit dengan bekerja di paruh waktu ini juga banyak dilakukan oleh pelajar Indonesia di Yogyakarta—jantung kota pelajar dan wisata—dengan membuka lapak buku atau jual minuman dan makanan bermodalkan gerobak pusat keramaian di sore hari. Sebagian mahasiswa juga memilih masuk bekerja pada orang lain seperti yang dilakukan Verena. Jumlah uang tentu yang dihasilkan tidak banyak tapi sedikitnya mampu mengakali keterbatasan uang yang lazim ditemui oleh para mahasiswa. Kegiatan yang sama juga tentu terjadi di kota-kota lain di Indonesia tapi tidak sebanyak di Yogyakarta.
Alam dan Keramahtamahan di Indonesia
Tubuh yang menawan dan sehat adalah konsekuensi logis yang diperoleh bagi olahragawan yang konsisten. Verena berkeliling dunia dan berada di Indonesia selama lima bulan menyalurkan hobinya dengan olahraga pada tempat-tempat yang menurutnya menarik. Ia terlihat lincah dalam bergerak. Ia memilih dua minggu untuk snorkeling, diving dan bermandikan matahari di Bira. Orang yang betah di suatu tempat pastilah punya alasan. Menurutnya, pantai pasir putih menawan, air laut jernih, perawatan terumbu karang dan manusia yang tidak ramai dan ramah melengkapi kehidupannya yang ingin hidup tenang dan damai.
Lumba-lumba menyambut dan melengkapi kebahagiaan Verena dengan berenang tepat di belakang saat diving di laut Bira. Sumber Foto: Verena Schubert, 2026.
Kisah yang lain yang sangat Verena suka adalah pebedaan agama. Dalam pandangannya, orang-orang menggunakan agama untuk tujuan yang salah. Ada peperangan dan mereka berperang atas dasar keyakinan agama. Di sini (maksudnya di Bulukumba) dan Nusa Tenggara Timur tempat yang ia pernah kunjungi orang-orang Islam dan Kristen hidup berdampingan. Kita bisa melihat masjid dan gereja dimana-mana. Tidak ada konfik. Mereka percaya pada suatu keyakinan yang baik, saling menghargai. Sedangkan di Jerman, ada masalah di mana orang-orang khawatir. Ada perang yang terjadi sekarang ini dan banyak hal buruk terjadi. Dan orang berlawanan satu sama lain. Tidak peduli budaya mana yang Anda miliki, itu tidak masalah. Pada akhirnya, kita semua adalah manusia.
Salam cinta damai dari laut Bira. Sumber Foto: Verena Schubert, 2026
Penulis tergugah dengan penjelasan Verena dan memberikan pujian manis terhadap kecerdasannya menyederhanakan pengalamannya yang luas dalam kalimat tidak boros kata, mudah dipahami. Ia menjawab, “Thank you. I am a manager”. Kami tertawa lepas. Istilah “manager” mangacu pada kemampuannya yang memimpin, memahamkan dan mengarahkan secara tepat pada sekumpulan banyak orang yang ia pimpin pada perusahaan yang sengaja tidak disebut namanya di sini. Belakangan penulis tahu ia lulusan S 2 (master) di International Innovation Strategy, Católica University in Lisbon, salah satu institusi pendidikan terbaik di Portugal.
Pilihan Verena traveling dalam waktu yang cukup lama dengan sekedar membawa dua tas yang sangat kecil menyadarkannya pada barang. Di rumahnya di Jerman, dia punya banyak barang. Dengan pengalaman berkeliling, kini ia percaya bahwa sebenarnya ia tidak butuh banyak barang. Ia mudah bergerak kemanapun dia suka tanpa beban dan bahagia.
Kunjungan ke Rumah Belajar Bersama
Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi penulis ketika Verena berkenan mampir sejenak untuk berbicara dalam bahasa Inggris depan pelajar nonformal kami di RBB (Rumah Belajar Bersama). “Ya. Itu sama sekali bukan masalah bila waktu memungkinkan”, kata Verena ketika kami dalam perjalanan dengan mobil pribadi dari Bira menuju kota Bulukumba. Aris Irfan, manager Cahaya Bone of Kalla Travel berkata, “Masih ada sedikit waktu sebelum mobil travel di Bulukumba mengantar Verena ke Makassar”.
Waktu telah menunjukkan hampir jam 5 sore. Para pelajar RBB telah banyak pulang namun beruntung masih ada segelintir pelajar di kelas intensif masih sibuk otak atik pelajaran grammar (tata bahasa) dan reading (bacaan). Dengan ramah Verana menyapa dan bersenda gurau layaknya seorang guru yang akrab dengan muridnya. Ia pun jadi pusat perhatian. Beberapa tanya jawab yang membangun komunikasi berkelanjutan terlaksana namun sayangnya, waktu sangat terbatas.
Kunjungan Verena memang sangat singkat tapi ini memberikan kesan mendalam bagi para pelajar. Mereka jadi lebih termotivasi untuk belajar. Mereka jadi lebih tahu tidak ada kesempatan untuk berbahasa Indonesia dengan orang asing untuk mengkonfirmasi hal-hal yang ingin diketahui. Mereka juga harus punya wawasan untuk menanyakan sesuatu untuk membuat pembicaraan jadi lebih menarik. Dan karena bertemu dengan orang asing adalah hal yang belum lazim mereka dapatkan, itu adalah pengalaman berharga yang membangun kepercayaan diri bertemu dengan orang-orang baru.
Sekilas tentang Perspektif Penulis
Apa yang penulis gambarkan tidaklah mengambarkan secara utuh apa itu German’s Mind, terlebih lagi “Medina Heart” karena itu memang tidak disinggung mendalam di sini. Kalau pun ada gambaran, hanya secuil saja. Itupun berkat kesediaan Verena yang berkenan hati untuk wawancara dalam bentuk percakapan tidak resmi tentang pendidikan di Jerman. Hanya saja, patut disayangkan bila ada cerita atau pemikiran yang mungkin yang bisa saja berguna bagi orang lain. Karena itu penting bagi penulis untuk merangkai ulang dalam bentuk tulisan. Oh, iya. Dalam dua jam dua puluh menit bersama Verana, ia bertemu berbagai macam orang, ia selalu disambut hangat. Ia merasa sangat dihargai layaknya seorang supertar. That’s all.