Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Mengakhiri Pemborosan Waktu Belajar Bahasa Inggris

    Mengakhiri Pemborosan Waktu Belajar Bahasa Inggris

    Ini bukan cerita khayalan melainkan kenyataan yang diceritakan. Tenses di luar kepala adalah materi biasa diajarkan kepada anak SD di Rumah Belajar Bersama (RBB). Anak-anak dibiasakan membaca perubahan tenses dalam kotak yang berisi kalimat dan kemudian praktik dengan kotak kosong, tanpa kalimat.

    Kenapa tenses sangat penting? Bayangkan saja, pelajar SMP, SMA dan bahkan di perkuliahan pun, materi ini masih diajarkan. Sungguh begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia bila kita tidak memulai pengajaran ini sejak SD. Seharusnya, para pelajar itu sudah mempelajari hal lainnya, tetapi karena inti perubahan kalimat ini belum tuntas, itu diulang lagi pada pendidikan lanjutan. Ini namanya pemborosan waktu.

    Saat menjadi mahasiswa dan belajar di Kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, penulis menemukan di berbagai macam tempat kursus di mana para pelajar sekolah, mahasiswa dan bahkan S-2 sekalipun masih berantakan memahami tenses.

    Beruntung, ada beberapa tempat kursus yang sangat peduli penguatan materi ini sehingga penyelamatan dapat dilakukan. Penulis dan pelajar lainnya sadar bahwa tanpa tenses, kami akan sangat kesulitan mengerti teks berbahasa Inggris dan tertatih-tatih dan bahkan bisa stres mendalami materi lanjutan. Misal, bagaimana mungkin memahamkan conditional sentences atau question tag tanpa dasar tenses?

    Sebenarnya, materi ini sederhana. Satu kata kerja semisal “go” sudah dapat menerapkannya. Subjek I, you, they, we, he, she, dan it dimainkan untuk mengasah otak. Beragam subjek menimbulkan variasi kalimat sehingga merangsang ketajaman berpikir untuk mengolah perubahan kalimat yang subjeknya tunggal atau jamak.

    Cara memahamkan bisa dengan membaca berulang-ulang hingga melekat di luar kepala. Membaca meskipun dengan teks yang sama, itu menambah pemahaman baru dari pengetahuan yang sebelumnya. Peran guru untuk mendidik secara konsisten serta penjelasan seperlunya pada tiap-tiap perubahan kalimat dibutuhkan agar pelajar sedikit demi sedikit mengetahui fungsinya. Jalan inilah yang mengantarkan para pelajar mengerti di luar kepala dengan membuktikan praktik kalimat dengan kotak kosong saja.

    Selanjutnya, kebiasaan literasi berbahasa Inggris itu harus selalu dihadirkan agar pelajar bisa sering melihat struktur kalimat. Mereka akan sadar bahwa betapa berharganya tenses itu karena tidak ada kalimat tidak berpola tenses. Dari sini, pelajar juga akan merasa lebih nyaman, percaya diri dan lancar membaca karena arti bacaan dan struktur saling terkait, tidak bisa dipisahkan.

    Namun, sebagian pendapat beranggapan bahwa tidak perlu tenses; pembiasaan membaca dan bicara saja sudah cukup. Banyak orang Barat berbahasa Inggris tanpa mengerti tata bahasa dan mampu membaca dengan baik. Kritik ini ada benarnya juga. Pertanyaannya, apakah keseharian kita berbahasa Inggris? Apakah literatur yang kita baca selama ini berbahasa Inggris?

    Penulis sendiri sejak kelas 4 SD sudah diajarkan oleh (alm.) ayah untuk berbicara dengan dirinya dan diajak berbicara dengan orang asing di Pantai Bira, membaca majalah dan buku-buku berbahasa Inggris. Banyak hal diketahui tanpa lewat hafalan, pembiasaan saja.

    Persoalannya, ketika dihadapkan pada persoalan makna yang mendalam dari struktur kalimat pada bacaan, penulis tidak mampu menemukannya. Justru, anak-anak sekarang ini bisa melakukannya karena selain membaca dan bicara, mereka belajar tata bahasa. Ini berkebalikan dengan penulis yang nanti setelah mahasiswa baru bisa mengerti lebih baik. Di sinilah penulis merasa menyesal mengabaikan tata bahasa sewaktu masih anak-anak dan penyesalan itu sebaiknya tidak terulang pada pelajar lainnya, setidaknya kepada pelajar yang berada di lingkungan terdekat.

    Tenses di luar kepala berikut dengan fungsi-fungsinya bagi anak SD sebagai strategi menghemat waktu belajar ini bukanlah hal yang luar biasa. Biasa saja. Ia menjadi luar biasa karena sedikit orang yang mau dan berani melakukannya.

    Apakah kita mau menjadi bagian dari sedikit itu dan menjadikan luar biasa itu menjadi hal biasa?

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 21 Juli 2026

  • Rahasia Sukses Juara Bahasa Inggris

    Rahasia Sukses Juara Bahasa Inggris

    Generasi penerus tenses di luar kepala sedang dimassifikasi. Rumah Belajar Bersama (RBB) telah membuktikan para pelajarnya mulai dari pelajar kelas 3 SD hingga orang dewasa mampu memahami tenses di luar kepala. Untuk kenyataan yang terbaru pada 2026 ini, contoh pada Faika Qhinara Putri Ridwan, kelas 3 SD, dan Adeeva Syaqila Zulfikar, kelas 4 SD, sama-sama meraih emas olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional dan Andi Widya Maulidyah, mahasiswa baru angkatan 2025, juara 1 kejuaraan grammar tingkat mahasiswa di Universitas Negeri Makassar (UNM) adalah bukti para pelajar berprestasi yang dibangun dari pondasi tenses untuk memudahkannya pada pembelajaran tingkat tinggi lainnya.

    Ketika melihat prestasi atas, hal ini menandakan bahwa tenses bukan hal yang mustahil untuk dibumikan bagi pelajar SD hingga dewasa. Oleh karena itu, para guru di RBB pun berpikir untuk mencetak lebih banyak lagi pelajar yang menguasai tenses. Tak heran bila pada bahasa Inggris kelas malam yang hampir semuanya anak-anak SD berlatih kini tenses di luar kepala.

    Anak-anak SD di RBB sekarang ini semarak belajar tenses. Ini bukanlah hal yang sulit diterapkan karena terdapat trik penyederhanaan materi. Trik tersebut membuat anak-anak berlomba-lomba menyetor perubahan kalimat pada tenses secara individual, bukan dengan pendekatan rumus. Terbangun sebuah persepsi kompetisi yang positif: Bila Faika dan Adeeva bisa melakukan hal yang luar biasa, mereka juga tertantang untuk melakukan hal yang sama. Menariknya, kedua anak berprestasi itu selalu mau membantu berbagi trik menguasai tenses.

    Fenomena ini berbanding terbalik dengan arah pembelajaran bahasa Inggris umum di Indonesia yang tidak lagi memasukkan seluruh tenses dengan segala perubahannya sebagai bahan utama dalam membangun fondasi bahasa Inggris karena mereka ingin menumbuhkan kemampuan skill, aktif berbicara. Keaktifan berbicara dalam bahasa Inggris daripada grammar seringkali disampaikan oleh Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendiknasmen). Grammar memang masih ada tetapi itu bukan lagi perhatian utama. Padahal, menjawab ujian sekolah atau soal olimpiade sangat membutuhkan pemahaman grammar.

    Berbeda dengan RBB. Ia menerapkan keaktifan berbicara dalam mengajarkan tenses. Speaking dan grammar (bicara dan tata bahasa) adalah satu kesatuan yang tidak dibenturkan atau menganaktirikan satu diantara keduanya. Pelajar yang aktif speaking biasanya lemah dalam ujian tulis, sementara pelajar yang aktif dalam penguasaan grammar biasanya kaku dalam speaking.

    Selain itu, para pelajar diwajibkan membaca buku berbahasa Inggris. Dengan rancangan literasi ini, mereka mengetahui struktur tenses, ragam pembelajaran grammar dan penambahan wawasan karena bacaan buku mereka adalah buku asing. Jadi, pembelajaran bahasa Inggris yang demikian ini menyentuh dan memperkaya berbagai macam aspek.

    Pembelajaran bahasa Inggris terus melakukan pembaharuan yang mampu bertahan dan beradaptasi pada perubahan zaman. Kita tidaklah mungkin mencetak pelajar yang mempunyai pemahaman dan pengaplikasian mumpuni bila malas berkreasi atau berinovasi. Apa yang dilakukan RBB semisal mengajarkan tenses di kepala nantinya bukan hal baru lagi. Bila ia tidak melakukan pembaharuan, ia juga akan tertinggal. Namun, apa yang ia terapkan saat ini dalam bentuk pengajaran tenses sebagai gerbang pembuka grammar tingkat lanjut, reading dan speaking sangat bermanfaat untuk melahirkan para juara bahasa Inggris di masa akan datang.

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Senin, 20 Juli 2026

  • Mengabadikan Warisan Perahu Tradisional Lewat Tulisan

    Mengabadikan Warisan Perahu Tradisional Lewat Tulisan

    Bekerja mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Itulah yang saya dapatkan saat bersama Horst Liebner. Beberapa tulisan yang tiap bagiannya jumlahnya tidak lebih dari 200 kata mesti kami bahas selama berjam-jam. Tahulah, gaya bahasanya Horst yang dipengaruhi sastra Melayu klasik sehingga saya harus mencocokkan dengan gaya bahasa Indonesia yang sesuai bahasa percakapan sehari-hari yang tidak terlalu kaku pada tata bahasa Indonesia.

    Perbedaan cara pandang ini memperkaya cara berpikir saya terutama wawasan tentang perahu tradisional. Sebagai bahasa ibu saya, bahasa Konjo untuk istilah perahu ternyata memiliki makna yang jauh lebih luas dan sering kali berbeda dengan bahasa percakapan sehari-hari. Saya makin sadar bahwa banyak hal sederhana namun berharga yang kerap luput dari perhatian, padahal hal-hal tersebut sangat berguna bagi pengembangan pengetahuan yang kini bisa saya dalami dari Horst dan para Panrita Lopi (Ahli Pembuat Perahu).

    Tantangan yang saya hadapi saat Horst meminta saya menulis tentang kayu perahu adalah runtutan alur cerita yang memudahkan pembaca umum tertarik ingin tahu lebih banyak. Ia memberikan segala informasi yang saya butuhkan dan turut menemani saya bertemu dengan beberapa Panrita Lopi besar para bos penyuplai kayu untuk wawancara. Tapi karena alur cerita yang saya buat tidak sesuai dengan alur yang ia inginkan, pada akhirnya, ia menulis sendiri sementara saya menjadi editor sambil berdiskusi atau berdebat.

    Rekan yang menemani, Anjar S. Masiga, seorang jurnalis sekaligus juga pemerhati warisan budaya pembuatan perahu tradisional, membaca narasi. Kami berdua mendengar untuk menganalisa kesesuaian kosakata yang tepat dan nyaman didengar. Saya sering mendukung dan sekaligus mengkritik plus-minus tulisan itu. Ini sesi yang menarik karena dari tulisan yang sedikit nan berkualitas itu, banyak pengetahuan perahu yang diperdebatkan untuk mencapai kesepakatan bersama.


    Setelah merangkum, Horst mengingatkan, “Menulislah tentang kayu ulin.” Kami telah menyelesaikan pembahasan tentang kayu lokal, kayu yang tersedia di Sulawesi. Saya punya cukup wawasan tentang ini karena pernah berkeliling pulau Kalimantan. Beberapa tempat yang saya temui seperti di Kota Baru, Batu Licin dan pulau Sebuku di Kalimantan Selatan, terdapat orang turunan Desa Ara—Desa di Bulukumba—yang menceritakan diri mereka hingga tinggal di Kalimantan karena alasan membuat perahu.

    Data ini diperkuat oleh hasil wawancara saya dengan Daeng Masarro, seorang Panrita Lopi senior asal Ara yang memiliki pengalaman membuat perahu di Kalimantan serta alasan perajin perahu Bulukumba bertebaran bekerja di Kalimantan.

    Saya berencana menulis di hari esok. Karena itu, saya manfaatkan waktu menulis tentang esai ini. Di sisi lain, Anjar yang berada di samping saya menanyakan berbagai hal tentang ulin sembari tangan dan pikirannya sedang fokus di depan laptop mengetik. “Saya ingin urusan tentang kayu selesai hari ini,” kata Anjar. “karena besok saya mau menulis hal lain.” Pikirannya pun sudah terdesain membuat paragraf yang singkat dan padat makna. Saya senang ia selangkah lebih cepat dan berharap ia menyelesaikan beberapa bagian penting tentang ulin tersebut.

    Saya hanya perlu melihat hal-hal lainnya yang belum ia bahas yang membuat saya bisa turut ambil bagian kecil untuk melengkapi dan memperkaya tulisan tentang perahu tradisional Indonesia yang digagas oleh Horst Liebner.

    Pada pembahasan berikutnya, segala hal tentang kayu ulin yang kami susun akan kembali dipermantap dengan memangkas pemborosan kata untuk mempertahankan kualitas tulisan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 Juli 2026

  • Tidak Ada Game di Alam Kubur

    Tidak Ada Game di Alam Kubur

    Manusia lahir, muda, tua, dan mati, kata Ferdowsi. Begitulah kisah intelektual Persia yang mempersingkat jalan perjalanan hidup manusia ketika sang Raja Persia meminta agar intelektual mencatat perjalanan hidup manusia. Sebelumnya, sang raja menginginkan dibuatkan buku untuk ia baca. Ribuan ton buku dibuat. Raja tidak punya cukup waktu, sibuk. Singkat cerita, lahirlah kalimat di atas. Sang Raja terpukau. Menerima. Titik.

    Kisah klasik ini menjadi tamparan keras bagi manusia modern saat ini, yang sering kali gagal menghargai waktu akibat jebakan teknologi. Manusia yang dikaruniai umur panjang banyak yang benar-benar menyia-nyiakan waktu. Di zaman yang serba canggih ini, dunia digital mengubah perilaku manusia yang rambatannya sampai ke anak kecil. Permainan rakyat di mana sosialisasi sesama manusia di lingkungan sekitar yang nyata, kini berubah menjadi permainan game Android di dunia maya. Sialnya, perilaku ini juga menjangkiti orang dewasa—tidak hanya game, tetapi judi juga. Tidak peduli manusia itu pintar atau tidak, kreativitas manusia lumpuh oleh angan-angan kesenangan palsu.

    Bisa dibayangkan, berapa banyak waktu habis percuma mengurusi hal-hal tidak penting itu? Bagaimana kita mengingatkan atau mengecam? Anak-anak masih mungkin kita tegur karena otak dan fisiknya yang masih terbatas. Orang dewasa? Mereka mempunyai otak dan kekuatan untuk menolak. Ya, apa pun itu, kita harus mengingatkan.

    Bagi anak-anak, betapapun mereka disibukkan dengan kegiatan nyata dengan sosialisasi di lingkungan sekitarnya, mereka tetap saja ingin selalu bermain Android. Masalahnya bertambah runyam ketika orang dewasa itu memakai Android setiap hari. Anak-anak itu peniru ulung. Ketika mereka melihat orang dewasa, bagaimana mungkin orang dewasa itu melarang memakai Android? Orang dewasa sebaiknya menjadi contoh agar bisa diikuti oleh anak-anak. Ketika daya ‘hipnotis’ Android tidak bisa dihentikan, maka jam penggunaannya perlu dipersingkat. Oleh karena itu, batasan dengan bijaksana menjadi satu-satunya solusi. Dengan apa? Dengan menyibukkan diri membuat aktivitas lainnya.

    Menemukan Jalur yang Benar
    Kita tentu tidak ingin mati bersama Android. Percaya atau tidak, tidak ada lagi game di alam kubur. Sebelum generasi penerus ini hancur, kita harus bisa memandang bahwa Android itu mempunyai beragam fasilitas yang jauh lebih bermanfaat. Itulah yang perlu dimasifkan untuk mendukung cita-cita, segala minat dan bakat manusia yang luar biasa itu bisa dikorelasikan dengan Android untuk mencari data yang mendukung pemaksimalan potensi diri agar dapat mengisi pengetahuan yang dibutuhkan.

    Ini proses peralihan dari manusia Android yang terninabobokan oleh kecanduan game dan semacamnya ke arah yang lebih positif. Layaknya pisau. Pisau bisa digunakan untuk membunuh manusia atau memotong kue. Jadi, manusialah yang mengatur, bukan diatur oleh Android.

    Apakah kita bagian dari manusia lahir, muda, tua, dan akan mati? Ke arah mana kita akan menggunakan waktu singkat kita yang tersisa? Apakah kita termasuk manusia yang merugi?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 Juli 2026

  • Kreativitas Miss Fathy pada Bacaan dan Percakapan

    Kreativitas Miss Fathy pada Bacaan dan Percakapan

    Mengupayakan kualitas belajar yang berbobot yang menyenangkan adalah langkah konkrit oleh Miss Fathy Cayadi pada pengajaran bahasa Inggris berbasis literasi yang dikombinasikan dengan praktik bicara merupakan harapan yang ia terus gerakkan di Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete. Ia dengan mantap berhasil mengorelasikan bacaan buku dengan praktik langsung bicara di kelas.

    Seperti apa yang Miss Fathy lakukan pada pengajarannya kali ini? Untuk lebih jelas, mari kita simak aktivitasnya:

    1. Membaca isi buku pada lesson 10 dan ditindaklanjuti dengan mengerjakan latihannya. Lalu, praktik tentang lawan kata sifat disertai pembedaan subjek he, she, dan it (dia untuk laki-laki, dia untuk perempuan, dan benda tunggal selain manusia).

    2. Pada lesson 11, para pelajar membaca percakapan yang menanyakan kepemilikan menggunakan “whose” (milik siapa). Setelah itu praktiknya adalah mengambil pulpen milik siswa dan kemudian bertanya, “Whose pen is this?” Jawaban, “I think this is my pen.” Tanya-jawab satu persatu ini dibuat secara bergiliran hingga semuanya berbicara.

    3. Pada lesson 12, penggunaan possessive adjective (kata sifat kepemilikan). Contoh: This is my handbag or this is your handbag (Ini adalah tas jinjingku atau ini adalah tas jinjingmu).

    4. Pada lesson 13 dan 14 kepemilikan menggunakan ‘s. Contoh: This is Malika’s pen or this is Afif’s pen (Ini pulpennya Malika atau ini pulpennya Afif.

    5. Pada lesson 15, pembelajaran tentang warna. Contoh: What colour’s your umbrella? (Warna apa payungmu?).

    6. Pada lesson 16, materinya masih membahas tentang warna dan kepemilikan namun Miss Fathy membuat lesson ini lebih semarak dengan adegan games, memutar musik sambil memindahkan satu benda keliling dan bertanya, “Punya siapa?” Pelajar tutup mata, Miss Fathy tidak terlihat karena para pelajar tutup mata. Dia lalu mengambil satu pulpen pelajar. Mereka bertanya tentang ciri-ciri benda tersebut. Is it blue? Is it long? etcetera ((Apakah itu biru? Apah itu panjang?) dan lainnya.

    Untuk pemula, materi ini terlihat padat. Namun, karena waktu belajar cukup panjang yaitu tiga jam semua itu bisa dipahamkan dan diolah dengan suasana serius tapi santai di mana para pelajar rileks tanpa kehilangan fokus dalam belajar.

    Mengkombinasikan buku bacaan dengan praktik bicara yang sesuai konteks keadaan pelajar memang membutuhkan kreativitas guru. Apa yang diajarkan Miss Fathy adalah
    Literacy-Based Communicative Language Teaching yang
    sangat selaras target capaian pembelajaran bahasa Inggris yang selain menguatkan pembelajaran akademik, itu juga sangat bermanfaat dalam percakapan sehari-hari.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 18 Juli 2026

  • Perulangan yang Mencerahkan

    Perulangan yang Mencerahkan

    Sebagian orang mengatakan bahwa perulangan itu membosankan. Sebagian lagi bilang bahwa perulangan itu pendalaman–inilah yang Rumah Belajar Bersama (RBB) percaya. Merujuk Imam Ali bin Abi Thalib bahwa ilmu yang diajarkan, niscaya bertambah ilmunya bagi yang mengajarkan itu dan bagi yang belajar pun tercerahkan.

    Miss Fathy Cayadi pengampu RBB di Tanete melakukan review pada Basic Reading mulai dari lesson (pelajaran) 1 sampai 8. Pelajarannya mencakup cara bertanya menggunakan yes-no questions (pertanyaan ya atau tidak), percakapan sehari-hari dan sebuah information question (pertanyaan informasi ) menggunakan what (apa). Langkah ini memastikan pelajaran diserap dengan baik sehingga untuk melanjutkan pelajaran pada pertemuan berikutnya, pelajar tidak akan mengalami permasalahan yang berarti, penguatan basic di atas segalanya.

    Selain pembelajaran serius itu, ada juga yang tidak serius. Sebenarnya, materi ini serius karena isinya wawasan tentang bahasa Inggris juga. Cuma saja, kemasannya tidak nampak serius sehingga terkesan begitu mengasyikkan. Pelajar yang anak sekolah zaman now suka games. Miss Fathy memainkan:

    1. Rock, scissors, and paper (Batu, gunting, dan kertas).
    * Mengambil kertas yang berisi pertanyaan. Misal, do you have a pet? (Apakah kamu punya hewan peliharaan?).
    2. Kertas bergambar untuk mengetahui pekerjaan. Permainan mengambil gambar sesuai profesi yang disebut ini disertai kewajiban menjawab pertanyaan pada sebuah profesi.

    Games yang menyenangkan ini sebenarnya bagian dari perulangan yang sebagian materinya terdapat di dalam lesson 1 sampai 8. Jadi, dari beberapa pendekatan belajar ini, terlihat jelas bahwa ada upaya penyederhanaan masalah, membongkar pemahaman bahasa Inggris yang selama ini diklaim susah, padahal mudah, semudah pelajar yang sedang belajar tersebut.

    Bila konsep belajar seperti ini diterapkan, masih sanggupkah kita berpikir bahasa Inggris itu susah?Bila konsep belajar seperti ini diterapkan, Apakah perulangan itu membosankan? Masih sanggupkah kita berpikir bahasa Inggris itu susah? Bisakah kaum terdidik kita melakukan hal yang lebih baik?

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba Jum’at, 17 Juli 2026

  • Ruang Bebas Belajar Sepanjang Hayat

    Ruang Bebas Belajar Sepanjang Hayat

    Kejadian ini cukup mengejutkan. Setelah jam istirahat selesai, anak-anak meminta untuk tidak belajar lagi. Terlihat kompak, satu suara. Penulis yang bertugas mengajar bertanya dalam hati, ada apa gerangan? Mungkin saja, mereka kecapekan atau mau melanjutkan permainannya yang belum selesai.

    Waktu yang tersisa sepuluh menit. “Okelah. Kalian boleh tidak belajar di kelas,” kata penulis. “Silakan buat sesuatu yang menarik menurut kalian.” Tanpa komando, segelintir anak-anak mengisi kursi yang ada di depan ruang kelas. Mereka duduk membicarakan sesuatu dalam bahasa Inggris dicampur dengan bahasa Indonesia.

    Ternyata mereka membuat games dalam bahasa Inggris. Seseorang yang bertanya dan yang lain berpikir dan berlomba menjawab. Orang yang memberikan jawaban yang benar berhak memberikan pertanyaan.

    Mengapa anak-anak itu tidak melibatkan guru? Mereka percaya bahwa mereka bisa membuat sesuatu hal yang menarik. Kreativitas berpikir menciptakan kemandirian, tanpa ketergantungan kepada guru. Guru yang menghargai kreativitas pasti tidak merasa tersinggung bila tidak diajak, tapi malahan bangga dengan upaya kemandirian yang dilakukan para pelajarnya.

    Di sini, kita juga dapat membaca bahwa ada ruang kebebasan yang sengaja diciptakan. Anak-anak tidak merasa sungkan menyampaikan pendapatnya yang cenderung berbeda dengan gurunya. Dari perbedaan tersebut, ternyata mereka membuat sesuatu yang gurunya pun tidak pernah membayangkannya. Itu sungguh menggugah pikiran dan mengejutkan suasana.

    Apa yang kita harapkan lebih jauh dari para pelajar kita adalah bahwa ke depan, mereka bisa menciptakan lingkungan belajar di mana pun berada. Keberadaan mereka di Rumah Belajar Bersama (RBB)—tempat utama mereka Belajar bahasa Inggris dan berpikir bebas—hanyalah sementara. Mereka akan tumbuh dewasa, meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu atau bekerja di suatu tempat, entah di mana. Bekal kreativitas belajar tersebut yang mereka bawa dan dapat diterapkan di wilayah tempat tinggal mereka sehingga dunia belajar itu terus berjalan.

    Apakah kita juga penganut paham pembelajar sepanjang hayat?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 17 Juli 2026

  • Lubang Kecil, Persiapan Pelajar Kelas Dunia

    Lubang Kecil, Persiapan Pelajar Kelas Dunia

    Hilal kelas 6 SD dan Adeeva kelas 5 SD adalah anak yang telah berada pada buku tahap ketiga dengan kualifikasi kemampuan membaca teks Inggris disertai jawaban soal yang sesuai aturan grammar. Betapapun demikian, ini bukan jaminan bahwa mereka cukup andal. Oleh karena itu, mereka diajak untuk me-review materi.

    Hilal membaca buku cerita berbahasa Inggris dan Adeeva membaca terjemahan bacaan cerita tersebut ke dalam bahasa e.

    Pada buku ketiga, kedua anak ini membaca lesson 1 sampai 5. Hilal membaca cerita berbahasa Inggris, sementara Adeeva menterjemahkan tiap bacaan pada kalimat dalam bahasa Indonesia. Pertukaran berbahasa Inggris dan Indonesia ini dilakukan secara bergiliran di setiap lesson.

    Hilal yang membaca soal-soal pada buku cerita berbahasa Inggris.

    Mengenai soal-soal pada cerita, meskipun mereka sudah mengerjakan secara tertulis, hal tersebut belum dibahas karena pembelajaran ini memasuki tahapan menjawab tanpa teks. Sebagai langkah awal, mereka diajak menikmati bacaan tanpa harus berpikir berat.

    Adeeva membaca soal-soal berbahasa Inggris. Hilal mendengar dan berusaha menjawab secara lisan.

    Perlakuan berbeda ketika membahas buku tahap kedua, Questions and Answers. Mereka tidak lagi membahas teks cerita tapi soal-soal cerita secara lisan. Teks bahasa Indonesia dihilangkan. Hilal melihat buku untuk membaca soal-soal cerita, Adeeva tangan kosong, mengandalkan otak saja untuk menjawab. Begitu juga sebaliknya. Mereka sukses menyelesaikan dua lessons:

    1. A Good Book yang berisi 27 soal 2. In the Park yang berisi 25 soal.

    Mereka kemudian istirahat.

    Pembelajaran selanjutnya, Adeeva seorang diri belajar karena Hilal mempunyai urusan lain. Guru kelas turun langsung bertanya, membahas 4 lessons:

    1. He’s not an Artist, 24 soal.
    2. What is the Baby Doing?, 24 soal.
    3. In a Department Store, 25 soal.
    4. A Modern Picture, 26 soal.

    Jadi, total soal cerita yang dijawab secara mandiri dalam satu pertemuan adalah 181 soal. Jumlah yang banyak ini merupakan hal yang biasa saja dan malahan itu akan ditingkatkan karena mereka dirancang untuk persiapan olimpiade bahasa Inggris dan kompetisi internasional nantinya. Sekadar catatan, Adeeva telah meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS) pada 23 Juni 2026.

    Proses review ini sangat berharga. Adeeva yang kualitasnya cukup meyakinkan ternyata ia beberapa kali masih membuat kesalahan kecil. Misal:

    Pertanyaan:
    + Does she paint pictures at school or does she read books?

    Jawaban Adeeva:
    – She does paint pictures.
    – She paint pictures.

    Jawaban sebenarnya
    – She paints pictures.

    Adeeva telah paham kalimat simple present di atas tapi sebagaimana pelajar Indonesia pada umumnya, ia kadang-kadang terjebak kata “does” dan lupa menambahkan “s” pada kata kerja yang subjeknya tunggal. Latihan ini segera menyadarkan hal-hal kecil tapi penting untuk tidak boleh dilupakan.

    Contoh lain pada kalimat present progressive:

    Pertanyaan:
    + What is Mr. Mason doing?

    Jawaban Adeeva:
    – He standing in front of a car.
    – Mr. Mason standing in front of a car.

    Jawaban sebenarnya:
    – He is standing in front of a car.
    – Mr. Mason is standing in front of a car.

    Ia terlalu terburu-buru menjawab. Setelah diingatkan bahwa ada kata yang terlupakan, ia memasukkan “is”, mengoreksi sendiri.

    Kecanggihan itu terletak pada kesederhanaan itu sendiri, kata Steve Jobs pendiri Apple Computer. Kesalahan simple (sederhana) yang dibuat oleh Adeeva adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan, sebab ia adalah segelintir anak yang tergolong memahami seluruh perubahan tenses di luar kepala. Oleh karena itu, review memastikan semua “lubang-lubang” kecil tertutupi dengan sempurna.

    Apakah kita punya kesungguhan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 16 Juli 2026

  • Siri’ (Malu) Belajar dan Angin Lalu

    Siri’ (Malu) Belajar dan Angin Lalu

    Malu. Itulah yang dikatakan para pemuda-pemudi yang ingin belajar bahasa Inggris namun tidak mengikuti kelas. Bahkan, tidak sedikit yang bercita-cita untuk bekerja atau kuliah ke luar negeri. Obrolan ini sekadar angin lalu, tidak ditindaklanjuti dengan belajar mandiri atau mengikuti lingkungan belajar.

    Hayyul Kayyum, pemudi dua puluh satu tahun mengambil langkah yang berbeda. Dipengaruhi oleh pamannya, Nur Anjas, professional guide di Bira, ia bergabung mengikuti dua kelas intensif meliputi Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Dua buku Reading telah ia tuntaskan sementara buku grammar tingkat dasar yang tebalnya hampir 600 halaman hampir ia tamatkan juga.

    Tidak malu. Begitulah perasaan Ayu, nama panggilan Hayyul Kayyum, saat berlatih bahasa Inggris dengan orang yang lebih muda ataupun yang lebih tua darinya. Ia malah terinspirasi melihat pelajar sekolah sangat lancar menjawab soal-soal latihan dan praktik bicara. Dari sini, ia memetik pelajaran bahwa ia dapat belajar kepada sesama pelajar–tanpa peduli umur–pada materi yang ia ingin kuasai. Gurunya juga berpikir bahwa kita semua sedang belajar.

    Penulis terkadang berbagi ilmu dengan Ayu khususnya penguasaan tenses di luar kepala. Saat ini ia telah hampir menguasai nominal and verbal tenses disertai segala bentuk perubahannya. Tak heran, ia mampu mempercepat cara belajarnya di grammar. Sebab, semua kalimat Inggris pasti berpola tenses. Begitupun juga saat ia menyelesaikan soal-soal reading. Jawaban harus berstruktur.

    Dalam satu bulan ke depan, Ayu tampaknya akan menamatkan buku basic grammar-nya. Ia telah sampai bab 13 dari 16 bab. Hal ini karena ia didukung waktu belajar yang padat, sekitar 20 sampai 23 kali pertemuan dalam sebulan dengan durasi 90 menit tiap belajar. Ia juga sudah bisa mengerjakan latihan secara mandiri sehingga ia dapat menggunakan waktu luang di rumah untuk menamatkan buku secepat mungkin. Toh, bila ia salah dalam menjawab dari latihan mandirinya itu, gurunya selalu mengoreksi, mengarahkan pada alur berpikir yang benar.

    Berikutnya, karena Ayu tidak mengikuti kelas speaking, untuk mematangkan kemampuan berbicaranya, ia dianjurkan me-review buku tahap keduanya–Pre-Intermediate Reading. Seorang pelajar atau guru akan membaca soal pada buku sedangkan Ayu diminta menjawab secara lisan, tanpa buku lagi. Dialog semacam ini akan menguatkan pemahaman cerita-cerita berbahasa Inggris karena soal bersumber dari cerita dan sekaligus mengasah kemampuannya berinteraksi dengan orang lain.

    Ide ini sebagai solusi agar kapasitas Ayu multitalenta: reading, speaking, and grammar. Harapannya, ia terus aktif belajar minimal hingga menamatkan diri pada tahap intermediate. Jadi kemampuannya bukan lagi sebatas bahasa Inggris pasaran tetapi juga bisa digunakan dalam dunia akademik. Artinya, dimanapun ia berada, bahasa Inggris dapat ia gunakan untuk bekerja ataupun kuliah.

    Malu dan tidak malu. Ayu mewarisi dan hidup dalam keseharian yang menganut budaya siri’ (malu). Sebenarnya, ia malu duduk belajar bersama pelajar sekolah namun ia berhasil mengelola malu ke arah yang positif. Ia siri’ bila ia tidak sanggup melakukan hal mampu dilakukan oleh orang yang lebih muda darinya. Siri’ inilah yang memotivasinya belajar dengan sungguh-sungguh. Dari usahanya ini, ia pun tidak menyangka dirinya sanggup mengerti pembelajaran basic English secara detail. Ia senang dan bangga.

    Terakhir, ia siri’ kepada pamannya Mr. Anjas yang memberikan fasilitas belajar dengan cara membuktikan bahwa apa yang ia sedang pelajari saat ini mampu ia pertanggungjawabkan dengan kemahiran berbahasa Inggris yang baik.

    Bukankah dunia belajar orang dewasa seperti Ayu ini bukan angin lalu?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 15 Juli 2026

  • Pelajar Kelas 4 SD Siap Kuasai Tenses

    Pelajar Kelas 4 SD Siap Kuasai Tenses

    Bertambah. Nabila Ayudia Varisha pelajar kelas 4 SD juga tertarik mengerti tenses di luar kepala. Pada malam ini, ia berhasil praktik lisan pada simple present dan simple past. Motivasi ini muncul karena ia melihat rekan-rekan SD lainnya di Rumah Belajar Bersama (RBB) bisa mengubah struktur tenses pada 16 kotak kosong.

    Pada dua tenses tersebut, Nabila sudah hampir menguasai materi itu. Ia hanya sesekali melihat catatan, utamanya pada simple past. Sebenarnya, kalimat ini jauh lebih mudah karena kata kerja tidak dipengaruhi oleh subjek, sementara di simple present, subjek berpengaruh. Kesalahan kecil ini terjadi karena intensitas latihannya masih lebih sedikit. Melalui pembiasaan, ia pasti bisa sebagaimana simple present yang telah ia lalui dengan baik.

    Empat belas tenses lainnya dengan segala bentuk perubahannya sedang menanti. Nabila menyatakan siap menghadapi tantangan itu.
    Keinginan yang kuat disertai kesiapan adalah modal utama untuk membuatnya mau mengeluarkan energi lebih untuk belajar. Para guru dan rekan-rekan kelasnya yang telah menguasai tenses juga dengan senang hati berbagi ilmu, memberikan soal-soal untuk mematangkan pemahamannya.

    Karena Nabila mengikuti kelas intensif—Belajar dari Senin sampai Jum’at—ia sangat berpeluang menguasai tenses dalam satu bulan ke depan. Ia anak yang sudah mempunyai perbendaharaan kosakata Inggris yang cukup banyak karena telah menamatkan satu buku dan rajin membaca. Bila ia mau sedikit meluangkan waktu bermainnya lebih sedikit dari biasanya atau datang ke kelas lebih cepat dan berlatih lagi sebelum pulang, ia pasti akan melakukan loncatan belajar yang sangat berarti. Rekannya yang lebih dahulu menguasai tenses melakukan hal demikian.

    Nabila dan pelajar lainnya yang tuntas tenses akan memperoleh pelajaran yang tidak biasa. Mereka, bila berminat, akan didesain untuk bisa mengikuti Olimpiade bahasa Inggris. Itu adalah cara agar pelajaran tingkat tinggi bisa diajarkan dan pelajar pun bersemangat karena apa yang mereka pelajari berfungsi. Ini sengaja diciptakan untuk memicu semangat belajar yang lebih tinggi. Soalnya, bila mengandalkan kurikulum sekolah saja, mereka akan cenderung mengganggap remeh, terlalu mudah bagi anak yang sudah terbiasa menamatkan buku. Lagi pula, tenses secara mendalam tidak diajarkan di sekolah lagi.

    Apakah Nabila bisa tergolong pelajar SD memahami tenses di luar kepala dalam satu bulan ke depan? Waktu yang akan menjawabnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 14 Juli 2026