Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Karate Ka Bulukumba Tetap Raih Juara di FORKI Sul-Sel

    Karate Ka Bulukumba Tetap Raih Juara di FORKI Sul-Sel

    Bulukumba, RBB (26/03/2022)–Kejuaraan karate FORKI (Federasi Olahraga Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan dan Barat (Sul-Sel dan Bar) pada 17 sampai 20 Maret 2022 di Sudiang, Makassar telah berhasil menyedot perhatian karate ka Sul-Sel. Betapa tidak, dari sekitar lebih dari 1.200 peserta, bukan hanya atlet-atlet juara berbagai macam perguruan yang turun gunung tetapi juga atlet nasional dan atlet yang pernah tanding di luar negeri pun turun tatami (Baca: matras tanding) untuk level provinsi ini. Ini yang membuat pertandingan terlihat mengagumkan dan perolehan medali pun semakin ketat.

    Sengitnya perdanginan ini sama sekali tidak membuat atlet karate ka yang berasal dari Bulukumba tidak ciut nyali. Mereka malah menjadikan ajang ini sebagai peluang yang bagus karena pada dasarnya mereka adalah atlet yang sedang berkembang level Sul Sel Bar tapi telah dapat bertemu dan bertanding karate ka terbaik.  Dan beberapa diantaranya mampu memperoleh medali. Mereka adalah:

    PERAK

    1. Siti Nurfatiha Azzahrini Sarif S.

    Atlet INKAI  (Institut Karate Do Indonesia) Kodim Bulukumba yang meraih Juara 2 pada Kata Usia Dini Putri yang merupakan pelajar SDN 322 Ela-Ela, Bulukumba. Fatiha mewakili INKAI Bulukumba.

    Sesaat setelah Siti Nurfatiha Azzahrini Sarif S. yang baru saja meraih juara 2 pada Kata Usia Dini Putri. Sebelumnya, Fatiha juga telah meraih Juara 1 Kumite pada Open Turnamen Intern INKAI di Kostrad Julu Siri, Maros, Januari 2022. Ia juga merupakan anak dari Senpai Sarifuddin (sabuk hitam, DAN 3) yang merupakan pelatih INKAI Bulukumba. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama

    PERUNGGU

    1. Afika Lutfia Shiddiq

    Atlet INKANAS SDN 171 Loka Bulukumba yang merupakan pelajar SDN 223 Garanta, Desa Balong, Bulukumba yang meraih juara 3 pada Kata Pra Pemula Putri. Afika mewakili INKANAS (Institut Karate Do Nasional) Makassar. Sebelumnya, Afika juga telah meraih juara Tingkat Sul Sel Bar.

    Afika Lutfia Shiddiq. Atlet INKANAS Makassar berasal dari Dojo SDN 171 Loka Bulukumba yang meraih juara 2 pada Kata Pra Pemula Putri. ia juga merupakan anak dari Senpai Ammar (Sabuk Hitam, DAN 3), pelatih INKANAS Bulukumba. Sumber Foto: Senpai Ammar.
    1. Arraya Aulia

    Atlet INKAI Kodim Bulukumba yang merupakan pelajar SMA 8 Bulukumba yang meraih Juara 3 pada Kata Junior Putri. Arraya mewakili INKAI Makassar.

    Arraya Aulia. Atlet INKAI Bulukumba yang karena telah meraih banyak prestasi terbaik di Provinsi Sul Sel dan juara 1 pada Kata pada Kejuaraan Terbuka Se Indonesia di Sulawesi Tengah, 2021. Ia dipercaya mewakili INKAI Makassar. Pada Kejuraan ini, ia meraih juara 3 pada Kata Junior Putri. Sumber foto: Rumah Belajar Bersama
    1. Tri Rezki Adiakbar Rauf.
    2. Muh. Raihan Atallah B.
    3. Muh. Ariel Qushai.

    Juara Kata Beregu Putra Junior. Tri adalah mahasiswa Raihan adalah pelajar Pesantren Babul Khaer, Kalumeme, Bulukumba. Ariel adalah pelajar SMA 1 Bulukumba.

    Raihan, Tri dan Ariel sesaat setelah bertanding dan meraih juara 3 pada Kata Beregu Junior Putra. Mereka adalah team kata terbaik INKAI Sul Sel yang selalu meraih juara. pda foto ini, mereka didampingi langsung oleh Senpai Rauf (Sabuk hitam, DAN 3), pelatih INKAI Bulukumba. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    7. Nabila Alamanda

    Atlet INKAI Kodim Bulukumba yang merupakan pelajar SDN 10 Ela-Ela Bulukumba yang meraih Juara 3 pada Kumite Pemula Putri +45 Kg. Nabila mewakili INKAI Makassar.

    Nabila Alamanda meraih juara 3 pada Kumite Pemula Putri. Ia satu-satunya atlet karate asal Bulukumba yang meraih juara di kumite. Pada kejuaraan INKADO FORKI di Bone (Februari 2022), ia juga telah meraih juara 1 Kata Beregu Putri Senior dan juara 2 Kumite Usia Pemula Putri . Dalam 8 bulan, ia telah meraih 7 kali juara.

    Kesuksesan ini bukan hanya karena perjuangan atlet sendiri tetapi juga berkat dukungan berbagai macam pihak. Terima kasih banyak kepada :

    1. Letkol Czi Dendi Rahmat Subekti, S.I.P, sebagai Komandan Kodim Bulukumba yang selalu memberikan fasilitas terbaik di Kodim kepada INKAI Bulukumba. Dengan izin ini berkelanjutan dari generasi ke generasi ini, keluarga TNI dan masyarakat umum dapat dengan mudah bergabung karate.
    2. Muhammad Anshar, S. Pd., MM., Kepala Sekolah SDN 171 Loka Bulukumba yang menyediakan ruang latihan karate di halaman sekolah kepada INKANAS.
    3. Abbas, S.Pd., sebagai Kepala Sekolah SDN 322 Ela-Ela Bulukumba yang mengizinkan Siti Nurfatiha bertanding saat menghadapi ujian sekolah.
    4. Kepala Sekolah SDN 223 Garanta, Desa Balong yang mengizinkan Fika untuk latihan TC (Training Center) di Makassar.
    5. Kepala Sekolah SMA 8 Bulukumba yang memberi keluasan kepada Arraya Aulia untuk selalu dapat mengikuti kejuaraan.
    6. Nurbaeda, S.Pd., Kepala Sekolah SDN 10 Ela-Ela Bulukumba yang juga selalu mensupport Nabila untuk aktif di berbagai kejuaraan.
    7. Kepala Sekolah Pesantren Babul Khaer yang selalu mendukung Raihan aktif karate.
    8. Kepala Sekolah SMAN 1 Bulukumba yang mengizinkan Ariel untuk hadir di berbagai kejuaraan karate.
    9. Pihak X SMA PGRI yang memberikan fasilitas TC (Training Center) buat karate ka Bulukumba.

    Dan tentunya perjuangan para pelatih yang tidak pernah bosan dalam membina atlet. Di INKAI, terdapat Senpai Sarifuddin dan Senpai Rauf dan di INKANAS, terdapat Senpai Ammar Shiddiq. Tidak terbayangkan bahwa tanpa  kehadiran mereka yang meskipun dengan segala keterbatasan, tidaklah mungkin Bulukumba mampu mengukir prestasi di tengah kompetisi yang super ketat ini.

    Sebagai  saran, Pemerintah Daerah (PEMDA) Bulukumba perlu memberikan perhatian terhadap karate karena karate telah terbukti mengharumkan nama baik Bulukumba. Dalam 8 bulan terakhir, Atlet Bulukumba telah 7 kali mengikuti kejuaraan dan selalu meraih medali. Dan hanya pada kejuaraan FORKI Sul Sel kali ini, inilah medali yang paling sedikit dicapai. Sebelumnya, panen medali.

    Kendala klasik fasilitas peralatan karate yang harus segera diselesaikan. Pengorbanan orang tua atlet dalam mendukung karate ka mengikuti padatnya kegiatan turnamen karate tentu juga terbatas. Kehadiran PEMDA Bulukumba tentu akan membuat karate ka kita akan lebih berprestasi. Bulukumba bukan hanya dapat dikenal karena wisata tetapi juga karena prestasi olahraga.

    Dukungan RBB pada Atlet Berprestasi
    Apa gunanya sertifikat juara? Rumah Belajar Bersama (RBB) berpendapat bahwa atlet berprestasi selayaknya dapat mengakses pendidikan ektrakurikuler dengan mudah dan berkwalitas. Untuk itu RBB memberikan pilihan beasisiswa belajar Matematika, Bahasa Inggris, Baca Tulis dan Mengaji kepada tiap pelajar berprestasi minimal tingkat Sul Sel Bar selama 3 bulan. Ini adalah wujud penghargaan dan sekaligus juga sebagai strategi agar atlet berprestasi tersebut dapat tetap mengikuti pelajaran sekolah dengan baik. RBB percaya bahwa bahwa prestasi dalam bidang olahraga dan pendidikan mampu berjalan salaras sehingga cita cita masa depan dari atlet lebih mudah tercapai.

    Zulkarnain Patwa
    * Direktur Rumah Belajar Bersama

  • Dukungan Dinas Perpustakaan Provinsi Sul-Sel pada Literasi di Rumah Belajar Bersama

    Dukungan Dinas Perpustakaan Provinsi Sul-Sel pada Literasi di Rumah Belajar Bersama

    RBB, Bulukumba (10/02)–Gerakan literasi di Rumah Belajar Bersama (RBB) di Bulukumba minimal 5 kali dalam seminggu. Hal ini karena RBB menyediakan fasilitas belajar dari Senin sampai Jum’at yang mencakup Bahasa Inggris, Matematika, Baca Tulis, Mengaji, Bahasa Jepang dan latihan soal-soal Olimpiade Fisika. Selain buku-buku pelajaran sekolah yang tersedia, terdapat juga banyak buku buku yang menunjang kemajuan belajar mereka.

    Kunjungan team Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan ke Rumah Belajar Bersama. Team ini berhasil menggugah perhatian para pelajar dengan mengadakan berbagai macam kegiatan seperti bernyanyi bersama, games, dan membaca.
    Foto pada Jum’at 16 Juni 2021

    Para pelajar tersebut disediakan ruang perpustakaan untuk membaca. Mereka bisa mengakses buku bacaan tanpa harus ribet dengan urusan administrasi. Biasanya, sebelum kelas belajar mulai, kami mempengaruhi para pelajar untuk membaca buku kesukaannya yang bisa berhubungan dengan sekolahnya atau pun tidak dalam waktu 10 sampai 15 menit. Setelah kelas belajar selesai, para pelajar yang menanti jemputan orang tua sebagian memanfaatkan waktunya dengan membaca atau melanjutkan bacaannya yang belum selesai. Bahkan ada di antara mereka meminjam buku untuk di bawa pulang ke rumah masing-masing. Hal tersebut dibolehkan oleh RBB.

    Ketika anak anak dilatih agar senang membaca tulisan. Buku yang ditawarkan adalah buku buku yang bergambar dan punya keterangan tentang gambar. Ini dapat memancing minat anak-anak untuk membaca.

    Untuk menambah khazanah kekayaan intelektual,  pada 2018 RBB telah meminjam buku pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Bulukumba. Hal ini selalu disambut hangat karena RBB telah dikenal aktif dan dapat dipercaya oleh Dinas sehingga RBB mudah mengakses pinjaman 100 buku tiap bulannya. Hal ini sangat membantu karena buku cerita anak dan buku-buku pelajaran sekolah yang berkwalitas dapat diakses lebih banyak dan lebih beragam. Singkatnya lebih baik lah.

    Pada Jum’at tepatnya 16 Juni 2021, Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan menghibahkan 300 buku, 2 rak buku dan 2 komputer. Wah, sungguh ini luar biasa dan di luar dugaan. RBB dapat juga hibah. Sumbangan buku-bukunya kebanyakan cerita anak yang merupakan hal paling diminati oleh pelajar SD dan SMP. Buku-buku baru yang sudah lama dinanti. Maklum, buku-buku yang lama kebanyakan telah selesai dibaca. Oh iya. Rak buku juga sangat bermanfaat. Buku dapat tertata rapi, tidak berserakan di sembarang tempat.

    Sementara itu, penggunan sumbangan komputer sangat membantu RBB dalam mengadakan zoom diskusi berbahasa Inggris dengan para pelajar Indonesia yang sedang berkuliah di luar negeri atau pun yang telah kuliah di luar negeri dan tidak tingggal di Bulukumba. Sebelumnya, kami hanya menggunakan Handphone seadanya. Kami dapat lebih leluasa berkomunikasi dan membangun jaringan dengan adanya komputer tersebut.

    Kami telah melakukan kegiatan diskusi dengan intelektual muda Indonesia yang alumni German, Inggris, Amerika Serikat dan orang-orang Indonesia lainnya yang punya kapasitas bagus dalam bahasa inggris yang menyebar di berbagai penjuru Indonesia. Komputer tersebut lebih memudahkan diri untuk berselancar ke dunia luar. Selain itu, data digital dapat tersimpan dan terkelola dengan efektif.

    Cita Denni, alumni European Studies di Europa–Universitat Viadrina, German yang melakukan dialog Berbahsa Inggris dengan pelajar RBB. Komputer yang dipakai adalah sumbangan dari Dinas Provinsi Sulawesi Selatan, 2011

    Pada 2021, terdapat kunjungan dari team Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan pada 17 Maret 2021 yang dipimpin oleh Ibu Hartini dan didampingi oleh Andi Muhammad Sayuti untuk membuktikan apakah barang hibah tersebut tepat sasaran atau tidak. Setelah melakukan pengecekan dan menyaksikan secara langsung kegiatan literasi yang sedang berjalan, Suhartini memuji dengan mengatakan, “Saya melihat hasilnya”. Kemudian, Andi Muhammad Sayuti menambahkan, “Setelah melihat kondisi di sini khususnya minat bacanya, bagus sekali. Saya kira ini perlu didukung baik oleh daerah atau provinsi”, terangnya dengan meyakinkan.

    Kunjungan rombongan Inspektorat Sulawesi Selatan oleh Ibu Hartini dkk untuk melihat efektifitas hibah buku, rak buku dan komputer di Rumah Belajar Bersama

    Sementara itu pada September 2021 , terdapat kunjungan team Dinas Perpustakaan Provinsi Sul Sel ke RBB yang dipimpin oleh Ibu Aliyah. Ia bersama teamnya yang melakukan interaksi langsung kepada para pelajar RBB. Setelah itu, ia menerangkan bahwa sebenarnya ia akrab dengan kegiatan RBB karena ia telah sering memantau aktifitasnya di media sosial. Aliyah melanjutkan, “Saya berpikir buku-buku yang disumbangkan itu sangat bermanfaat. Kemudian, kita jarang kita melihat taman baca serperti ini bisa mengumpulkan anak anak sebanyak ini”, ungkapnya di hadapan puluhan anak anak yang antusias mendengarkan penjelasannya.

    Ibu Aliyah dari team Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang sedang menyimak  bacaan anak-anak di Rumah Belajar Bersama. Ia pun memberi beberapa arahan penting agar anak anak sekarang tetap rajin membaca. Hal ini semarak karena tiap anak yang berani tampil diberi hadiah oleh beliau. Foto pada Jum’at, 16 Juni 2021

    Gerakan literasi perlu terus digalakkan ke seluruh pelosok negeri. Kita sadari bersama bahwa di era modern ini, anroid telah banyak merampas masa bermain anak-anak. Untuk dapat mengalihkan perhatian anak anak tersebut, menawarkan bacaan buku yang menyenangkan merupakan solusi yang terbaik.

    Rencana diskusi Berbahasa Inggris tentang Life in Bloomington, Indiana, USA (Kehidupan di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Pembicara: Nurlaeli Hidayanti yang saat ini tinggal di Amerika. Moderator: Andi Ayu Cahyani, Ketua English Practice Club di Bulukumba. Pada kegiatan seperti ini, RBB sering menggunakan hibah komputer dari Dinas Perpustakaan Provinsi Sul-Sel.
    Penyelenggara: English Practice Club dan Rumah Belajar Bersama

    Terima kasih banyak kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bulukumba dan Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi yang telah banyak membantu pengembangan literasi yang menyebar di berbagai daerah Sulawesi Selatan, termasuk Bulukumba.

    Zulkarnain Patwa
    Direktur Rumah Belajar Bersama

  • Refleksi Karete Ka INKAI Kodim 1411/Bulukumba Juara Umum

    Refleksi Karete Ka INKAI Kodim 1411/Bulukumba Juara Umum

    Bulukumba, RBB (4/2/2022)—Layaknya balaghah (kata hikmah) yang mengatakan Man jadda wa jada (Siapa yang yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia). Seperti itulah perjuangan karate ka INKAI (Institut Karate Do Indonesia) Kodim 1411/Bulukumba sehingga mampu mengukir prestasi yang membangakan dengan meraih juara Umum 3 pada Open Turnamen Intern INKAI Sul-Sel Bar (Sulawesi Selatan dan Barat) di Balai Prajurit Julu Siri Yonif Para Raider 433 Sambueja, Maros (29-30/01/2022).

    Capaian ini karena adanya kerja team dan dukungan dari Komandan Kodim Bulukumba yaitu Letkol Czi Dendi Rahmat Subekti, S.I.P., yang tetap memberi kepercayaan kepada Senpai Sarifuddin dkk agar kegiatan karate di Kodim dapat terus berjalan dengan tetap merekrut para keluarga tentara dan masyarakat sipil. Kolaborasi yang dahsyat pun berkembang dengan efektif.

    Dalam hal usaha meningkatkan prestasi, atlet yang benar-benar akan ikut kompetisi diberi bekal TC (Training Center) di Bulukumba dengan jadwal yang sangat padat sekitar 7 sampai 8 kali seminggu meliputi training Kata (jurus) dan Kumite (pertarungan). TC diadakan di 3 tempat: Kodim, X PGRI dan Puri. Dan beberapa di antara atlet Bulukumba yang mendapat tiket TC di Zipur dan Lifiyura di Makassar karena dianggap telah berprestasi pun turut menambah porsi latihan dengan sekali dalam 2 minggu bergabung ke Makassar. Ini untuk menambah kekayaan dari perbedaan variasi model latihan di tiap Dojo (tempat latihan).  Terlebih lagi, ada kesempatan bagi atlet besilaturahmi dengan atlet dari berbagai penjuru daerah, atlet andalan Sel-Sel dan mengenal para pelatih dari MSH (Majelis Sabuk Hitam) Sul-Sel yang matang pengalaman dan prestasi.

    Sedangkan dalam hal mengatasi masalah atlet, hal yang paling sulit yang kita hadapi adalah persoalan mental. Banyak para atlet yang telah mendapatkan kemajuan berarti selama TC dan diprediksikan meraih emas masih gugup berada di atas tatami (matras pertandingan). Inilah adalah salah satu penyebab yang menurunkan jumlah perolehan medali emas Bulukumba. Namun kendala ini kini dapat kita tangani. Peneknan pada kepercayaan diri saat latihan semakin ditingkatkan dan memberi ruang yang lebih besar pada para atlet yang berbakat tersebut untuk mengikuti berbabagai macam kejuaraan di masa akan datang.

    Potensi ke depan karete ka Bulukumba dapat kita baca dari dominasi juara adalah pelajar anak anak dan remaja. Ini berarti mereka punya waktu untuk berproses lebih panjang. Dengan pelatihan yang tepat, kita memungkinkan mendesain mereka untuk menjadi atlet nasional dan internasional. Intinya don’t stop training hard (jangan pernah berhenti berlatih dengan giat).

    Dari 30 atlet karate ka INKAI Kodim Bulukumba yang dikirim, 26 kategori yang berhasil diraih juara; 7 emas, 9 perak dan 7 perunggu. Berikut ini daftarnya:

    Emas

    1. Kata Perorangan Usia Dini : A. Aditya Rifqi
    2. Kata Cadet Perorangan Putra : Muh. Farhan Syahrir
    3. Kata Under 21 Putri : Arraya Aulia
    4. Kata Beregu Senior Putra : Prayudha Azzikra Asdar, Muh. Farhan Syahrir dan Abi Perisay Putra
    5. Kumite Putri : Arraya Aulia
    6. Kata Beregu Putri : Arraya Aulia, Rahmi Sulistiyah dan Andi Khofifah
    7. Kumite Putri : Siti Nurfatihah Azzahrini

    Perak

    1. Kata Pra Usia Dini : Ahmad Altasim Pratama
    2. Kata Perorangan Pra Pemula     : Andi Parawansyah
    3. Kata Cadet Putri :  Andi Khofifah
    4. Kata Perorangan Junior Putra : Muh. Raihan Atallah B.
    5. Kata Beregu Putri : Ashila Qurrata Syifa, Nabila Alamanda dan Andi Bunga Nur Azizah
    6. Kata Perorangan Putra Under 21: Tri Rezki Adiakbar Rauf
    7. Kumite Usia Dini Putra : Daffa Ibnu Ramadhan
    8. Kumite Putra + 30 Kg : Muhammad Al Fatih
    9. Kumite Perorangan Cadet – 57 Kg: Muh. Farhan Syahrir

    Perunggu                                   

    1. Kata Perorangan Putra Usia Dini : Prayudha Azzikra Asdar
    2. Kata Cadet Perorangan Putri : Rahmi Sulistiyah
    3. Kata Junior Perorangan Putra :  Abi Perisay Putra
    4. Kumite Usia Dini : A. Aditya Rifqi
    5. Kumite Pra Pemula Putra : Zahri Ahmad Tamzil
    6. Kumite Pemula Putri + 40 Kg : Nabila Alamanda
    7. Kata Pemula Peorangan Putri : Ashila Qurrata Syifa

    Sedangkan yang meraih juara umum 1 adalah Julu Siri dari Maros: 17 emas, 8 perak dan 5 perunggu. Juara umum 2 adalah Zipur dari Makassar: 12 emas, 5 Perak, 5 perunggu. Dan juara umum 4 dari Gowa: 6 emas, 10 perak dan 3 perunggu.

    Last but not the least, terima kasih banyak kepada dukungan seluruh orang tua atlet dan para pelatih yang selalu mensupport dalam segala hal dan mendampingi anak-anaknya hingga pertandingan selesai. Tak terkira waktu dan biaya yang Anda keluarkan untuk meningkatkan prestasi anak anak sehingga nama Bulukumba harum di atas panggung karate Sul-Sel pada khususnya dan cabang olah raga pada umumnya. Di awal 2022 ini, karate mengukir diri penyumbang peraih medali terbesar di Bulukumba. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi cabang olah raga lainnya.

    Zulkarnain Patwa
    * Karate Ka INKAI Kodim 1411/Bulukumba
    * Direktur Rumah Belajar Bersama

  • Berilmu dan Berbagi Ilmu di Pesantren Gontor

    Berilmu dan Berbagi Ilmu di Pesantren Gontor

    Ilmu lebih baik daripada harta
    Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta
    Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum
    Harta itu akan berkurang jika dibelanjakan tapi ilmu akan bertambah jika dibelanjakan

    — Ali bin Abi Thalib

    Mengajar merupakan suatu hal yang dahulu sangat tidak menarik dan sangat tidak saya sukai. Membosankan! Tetapi ternyata pemahaman saya itu salah. Setelah melalui beberapa pengalaman, ternyata mengajar menjadi sangat menyenangkan, bukan hal yang membosankan sama sekali.

    Sebagai alumni pondok pesantren Gontor di Jawa Timur, kami diwajibkan untuk mengabdikan diri kami terlebih dahulu dengan cara mengajar agar ilmu yang telah kami pelajari dapat bermanfaat bagi yang lain karena dalam hadits telah tertulis bahwa sesuatu yang tidak akan terputus atau amalan yang tidak akan terputus walaupun kita sudah meninggalkan dunia salah satunya adalah ilmu  yang bermanfaat. Dan itu adalah mengajar.

    Dari mengajar, kami mendapat sangat banyak pelajaran terlebih lagi untuk pelajaran kehidupan kami terus dididik untuk menjadi orang yang paham akan semua murid yang diajar termasuk latarbelakang seorang murid. Kami dididik agar bisa memahamkan murid masalah pelajaran baik kepada para pelajar yang berbahasa Arab maupun yang berbahasa Inggris.

    Inilah yang meningkatkan kemampuan berbahasa arab dan Bahasa inggris kami. Kami menjelaskan semua hal dalam dua bahasa tersebut. Kami sangat dilarang untuk menggunakan Bahasa Indonesia di saat menjelaskan pelajaran agar semua murid terbiasa menggunakan asing ini dalam kehidupan sehari hari.

    Kami memulai mengajar dari jam 07.00 Wita hingga jam 15.00 Wita setiap hari. Karena telah menjadi aktivitas harian dan menjadi kesenangan, mengajar itu ternyata tanpa henti dan tanpa kenal lelah. Kehadiran kami di depan kelas bukan tanpa persiapan. Sebelum memulai pelajaran, kami semua diwajibkan untuk membuat persiapan mengajar yang mencakup seperti tujuan umum dan tujuan khusus untuk mengajar. Lalu, materi yang yang telah dijelaskan harus ditanyakan para murid kami tentang pelajaran yang telah kami jelaskan pada hari itu juga dan semua itu harus ditulis di dalam buku yang biasanya kami sebut I’dadtadris atau preparation book yang mana semua kami tulis dalam Bahasa Arab ataupun Bahasa Inggris.

    Begitu pun juga ketika kami hendak memulai pelajaran, kami diharuskan untuk menanyakan murid kami tentang pelajaran yang lalu agar mereka akan selalu ingat dan untuk memastikan apakah mereka benar-benar paham atau tidak. Begitulah cara belajar dan mengajar di pondok pesantren kami.

    Kami pun telah terdidik untuk mengajar tanpa mengharapkan pamrih atau gaji karena semua yang ada di pesantren kami berlandaskan atas Panca Jiwa yang ada di pesantren kami yang mana merupakan hal yang paling pertama daripada yang lain yaitu keikhlasan. Semua yang kita lakukan di pondok ini berlandaskan atas asa tersebut.

    Walaupun jadwal kami mengajar sangat padat, urusan kuliah tidak terbengkalai. Karena itu semua penting dan kami memang sudah dilatih dari santri agar bisa membagi waktu. Sejnak menjadi santri, kami sudah diberi tanggungjawab sebagai panitia ini dan panitia itu. Jadi kami tidak hanya mengurus diri sendiri saja tetapi juga dilatih agar bisa menjadi orang yang dapat mengatur semuanya, sebanyak apapun pekerjaan tersebut.

    Selain itu, kami juga diwajibkan untuk selalu mendampingi dan membimbing anak anak didik kami setiap malam mulai setelah shalat Isya sampai jam 21.30 Wita.  Setelah itu, Kami baru boleh melakukan urusan pribadi masing-masing. Begitulah kira kira kegiatan belajar dan mengajar kami yang sebenarnya masih banyak lagi tetapi ringkasn demikian. Manakala kami melanjutkan tulisan ini, maka tidak akan habis untuk diceritakan. Mungkin di lain waktu akan saya ceritakan ceritakan secara detailnya. Terima kasih.

    Asse Nur Izza Maharani
    * Mahawiswi Unida (Universitas Darussalam), Gontor
    * Alumnus Rumah Belajar Bersama di Bulukumba

  • Latihan Karate Bersama; INKANAS Do Jo Balong Dan INKAI Kodim 1411/Bulukumba

    Latihan Karate Bersama; INKANAS Do Jo Balong Dan INKAI Kodim 1411/Bulukumba

    Bulukumba, RBB, (6/9)—Sekitar 36 orang dari 2 perguruan besar yaitu INKANAS (Institut Karatedo Nasional) Dojo Balong Bulukumba dan INKAI (Institut Karate Do Indonesia) Kodim 1411/Bulukumba melakukan kegiatan latihan karate bersama di pantai Bara di Bira pada hari Minggu (5/9). Inisiasi ini dilakukan oleh pelatih Senpai Sarif dan  Senpai Rauf dari INKAI dan Senpai Ammar dari INKANAS yang bertujuan untuk mempererat hubungan persaudaraan sesama perguruan karate dan sekaligus sebagai memotivasi karate ka lebih semangat mempertinggi prestasinya.

    Senpai Ammar Shidiq, pendiri INKANAS Dojo Balong, adalah salah satu pelatih terbaik pada Kata. Masa mudanya banyak menjuarai pertandingan baik di Kumite maupun Kata. Sumber foto: Rumah Belajar Bersama

    Senpai Sarif menilai bahwa suasana latihan yang serasa rekriasi itu digemari. Atelet karate  pun Bulukumba perlu refreshing setelah sukses melewati latihan intensif selama berbulan bulan dan meraih juara di berbagai tingkatan. Dan pilihan pantai berdasarkan keinginan sebagai besar peserta di group WA (WhatsApp). Seorang anggota WA menyatakan Sandra Sanchez, juara Kata Olimpiade 2020 sering berlatih di laut. Joe Friezer yang merupakan lawan terberat Muhammad Ali  berlatih di laut untuk memperkuat dirinya agar mampu  menahan pukulan sang legenda tinju dunia tersebut. Dan Muhammad Ali juga banyak berlatih di dalam air.

    Senpai Rauf (kanan) dan Senpai Sarif (kiri) saat memberikan contoh sederhana berlatih di atas air. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama

    Sedangkan Senpai Ammar dari INKANAS Dojo Balong berpendapat bahwa latihan di pasir pantai itu sangat berguna. Para atlet sekarang sudah terbiasa dengan matras sehingga biasanya kakinya diseret meskipun dilarang melakukan hal demikian. Padahal, untuk bermain karate tidak boleh seperti itu. Dengan pasir pantai, mereka takkan mungkin menyeret lagi kakinya. Bila tetap dilakukan, kakinya tentu akan tenggelam.

    Fika, salah satu atlet terbaik INKANAS Dojo Balong yang telah beberapa kali menjuarai pertandingan tingkat Sulawesi Selatan. Sumber foto: Rumah Belajar Bersama

    Pada sesi latihan, Senpai Rauf yang lebih banyak menginstruksikan gerakan. Setelah agak cukup waktu latihan dasar di pantai, perlahan lahan seluruh anggota karate tersebut diturunkan ke laut. Ini latihan yang tidak mudah karena mereka harus mampu melakukan gerakan karate yang tepat dimana pada saat yang sama harus berhadapan dengan gelombang laut. Beberapa jurus dalam bentuk variasi pukulan dan tendangan kembali dipraktekkan di bawah air.

    Senpai Sarif yang juga turut melatih di air  menjelaskan bahwa Kegunaan latihan di air adalah melatih otot-otot paha, betis dan termasuk seluruh persendian akan lebih kuat. Anak-anak pun antusias dan berusaha bertahan di dalam air meskipun gulungan ombak menggoyahkannya. Alhamdulillah, mereka bertahan.

    Memasuki tahapan permainan Kata (jurus), hujan deras turun namun hal ini sama sekali bukan penghalang. Senpai Ammar yang dikenal sebagai ahli pendidik Kata mengatur seluruh atlet berbakat . Sekitar 11 orang juara Kata Tingkat Sul Sel dan Barat dan pemain Kata Pemula dari kedua perguruan tersebut menampilkan keanggunan gerakannya. Senpai Ammar menjelaskan bahwa para karateka ka Kata memang agak sedikit kewalahan karena medannya yang sulit, tidak terbiasa di atas pasir dan memang perlu dibiasakan. Satu persatu maju menunjukkan kebolehannya dan sukses menyelesaikan gerakan Kata-nya dengan baik. Para pengunjung yang berada di sekitar pantai pun terkesan dan merekam momentum yang berharga dan jarang terjadi ini.

    Prayudha Azzikra Asdar. Salah satu pemain Kata untuk putra yang juga telah menjuarai berbagai macam kompetisi Kata pada karate. Sumber foto: Rumah Belajar Bersama

    Last but not the least, Kesuksesan acara ini berkat dukungan penuh dari orang tua para anggota karate. Mereka yang menyediakan kendaraan termasuk mendampingi anaknya langsung hingga tiba di Bira dan patungan (kumpul uang bersama) untuk persediaan makanan dan minuman dan lain lain sebagainya.

    Zulkarnain Patwa
    * Anggota Karate INKAI Kodim 1411/Bulukumba

  • Atlet Berkwalitas Pantang Menyerah

    Atlet Berkwalitas Pantang Menyerah

    Kejuaraan karate ka INKAI (Institut Karate Do Indonesia) tingkat Sulawesi Selatan dan Barat di Kostrad Kariango, Maros pada 28 dan 29 Agustus 2021 telah selesai. Para peserta dari pun telah kembali ke daerahnya dengan membawa prestasi masing-masing. Bulukumba sendiri telah meraih 11 medali; 3 emas, 1 perak dan 7 perunggu.

    Setelah meraih kesuksesan, bagaimana kita menyikapi para atlet kita yang telah mengharumkan nama kabupatennya? Kebanggaan yang mereka peroleh seharusnya tidak sekedar nama saja. Tentu kita mengharapkan ada perhatian lebih agar mereka lebih mampu mempertinggi prestasinya. Pemerintah Daerah Bulukumba khususnya Dinas Pemuda dan Olahraga Bulukumba tentu mengetahui cara cara yang terbaik agar karir mereka lebih mudah memasuki panggung nasional dan bahkan bila perlu di panggung internasional.

    Sekedar catatan saja. 6 + 1 orang atlet karate INKAI Bulukumba yang meraih juara 1 layak memasuki kompetisi pentas nasional. Mereka diantaranya:

    Juara Kata Beregu Putra;

    1. Tri Reski Adi Akbar
    2. Muh Raihan Athallah
    3. Muhammad Ariel Qushai.

    Juara 1 Kata Perorangan Putri:

    1. Arraya Aulia.

    Juara 1 Kata Beregu Putri:
    1. Arraya Aulia
    2. Rahmi Sulistia
    3. Andi Balele Batari.

    Dan 1 orang lagi yaitu Prayudha Azzikra Asdar telah meraih juara 1 Kata Virtual antar perguruan karate Se-Indonesia pada Mei 2021.

    Para juara 2 dan 3 dari Bulukumba yang jumlahnya juga banyak juga merupakan kandidat untuk dapat menjadi atlet nasional karena selain memiliki bekal pengalaman baik menginjak tatami (matras pertandingan) mereka pun mengerti hal hal penting yang harus dibenahi.

    Juara 1 Kata Beregu Putri: Arraya Aulia, Rahmi Sulistia dan Andi Belele Batari pada Kejuaraan INKAI SUL-Sel dan Barat di Kostrad Kariango.
    Sumber Foto: INKAI Kodim 1411/Bulukumba

    Untuk itu, beberapa catatan penting yang patut menjadi perhatian. Diantaranya yaitu ketika memasuki tahapan pelatihan khusus, para atlet membutuhkan ruangan yang layak yang tidak harus lagi berpindah-pindah. Peralatan olahraga yang dimiliki oleh atlet karate ka masih super minim. Biasanya mereka patungan (mengumpulkan uang secara bersama) untuk membeli peralatan. Selain itu, suplai gizi untuk para atlet dan para pelatih perlu dijaga agar stamina mereka tetap terjamin hingga memasuki tahapan kejuaraan. Latihannya hampir tiap hari terhitung sore dan malam. Belum lagi transportasi yang dibutuhkan menuju tempat kejuaraan diadakan sering menjadi kendala klasik buat para atlet. Pada intinya, mereka tidak boleh berjuang sendiri dalam mempertinggi prestasinya.

    Prayudha Azzikra Asdar. Juara 1 Kata Perorangan Pra Pemula Putra pada Kata Virtual Se Indonesia, Direktur Cup PNUP, 2021
    Sumber Foto: INKAI Kodim 1411 Bulukumba

    Para atlet termasuk atlet olahraga lainnya sebenarnya tidak perlu repot mengurusi hal tersebut sehingga mereka dapat fokus berlatih. Untuk mengatasi masalah ini, sebenarnya mudah saja bagi Pemerintah Daerah dengan menetapkan kebijakan anggaran yang pro terhadap pengembangan olahraga dan menyalurkan anggaran tetap sasaran.

    Alangkah eloknya jika para atlet daerah kita mampu berkomentar seperti Irene Kharisma Sukandar,  pecatur Indonesia pertama yang berhasil menyandang gelar Grand Master Internasional Wanita (GMIW) yang membantah pernyataan Dewa Kipas (Dewa Kipas pernah menjadi polemik internasional karena disyinyalir menggunakan mesin pada catur online) bahwa catur itu tidak ada uangnya. Menurut Irene, “Bila stigma ini didengar oleh generasi penerus…, ini menjadikan mereka tidak motivasi lagi…” lebih lanjut, “Saya digaji oleh negara. Saya diberikan uang. Sebelum main saya sudah berikan uang”, katanya. Dalam dunia pendidikan, ia mendapatkan beasiswa penuh untuk S 1 di Indonesia dan S 2 di Amerika Serikat. itu karena dari catur.

    Dibalik semua itu, ayo terus melangkah dalam menghadapi segala kesulitan. Orang yang kalah hanya bagi orang yang menyerah. Ossu Shinobu: pantang mundur, pantang menyerah. Osss!

    Zulkarnain Patwa
    * Anggota INKAI Kodim 1411/Bulukumba
    * Direktur Rumah Belajar Bersama

  • Siapa Yang Bersungguh Sungguh Pasti Dapat

    Siapa Yang Bersungguh Sungguh Pasti Dapat

    Penulis: Fatmawati Patwa

    “Harus konsisten dalam menekuni bidang disiplin ilmu yang anda pelajari,
    anda bisa menjadi konsisten seperti saya.”

    (Bacharuddin Jusuf Habibie)

    “Ummi, belikan saya baju karate. Saya mau ikut karate di Kodim”, kata Ayla saat itu.

    Kan banyak baju karate peninggalan kakak. Pilih saja mana yang cocok. Ada bajunya Daeng Ica, Daeng Lala dan Daeng Caca. Semua kakakmu dulu ikut karate sampai sabuk biru. Bahkan, Daeng Ica sampai sabuk coklat”, balasku.

    “Tapi Ummi, izinkan saya masuk karate kan?”

    “Iyalah, makanya baju karate kakaknya saya simpan baik-baik supaya kalau Ayla berminat, langsung saja pilih mana yang pas. ”

    Begitulah percakapan diantara kami awal mulai berniat masuk karate.

    Dia Ayla alias Nabila Alamanda, sudah lama ingin mengikuti jejak kakak-kakaknya yang sekarang sudah nyantri di Pesantren Gontor, Jawa Timur. Sayangnya, beberapa perguruan karate yang ada di Bulukumba sempat vacum bahkan mati suri selama bertahun-tahun.

    Sebenarnya sejak kelas 2 SD selalu merajuk untuk didaftarkan masuk karate. Namun niatnya itu tidak kesampaian berhubung tidak ada perguruan yang aktif kala itu. Entah apa penyebabnya. Ia sempat bergabung diantar oleh Mama Lia—Ibu angkat Ayla—tapi setelah beberapa waktu, ia tidak aktif kembali.

    Dan pada akhir tahun lalu, INKAI (Institut Karate Do Indonesia) KODIM 1411/Bulukumba mulai bangkit kembali. Ayla tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bergabung. Latihan pun aktif berjalan setiap Senin dan Kamis, 16.00 – 18.00 Wita. Suasana pandemi mewajibkan tiap peserta karate mengkuti protokol kesehatan; pakai masker dan cuci tangan.

    Awalnya, rekannya hanya beberapa orang. Namun seiring berjalannya waktu, banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya dan berbaur dalam latihan karate. Mungkin ini akibat pandemi yang membuat sekolah ditutup dan anak anak hanya tinggal di rumah menghabiskan waktunya bermain HP (handphone) sehingga Karate menjadi pilihan yang menarik.

    Semangat berlatih yang membara membuat Ayla tidak mau alpa mengikuti latihan. Apapun alasannya. Bahkan ketika ada acara di kampung atau di tempat lain, ia tidak mau ketinggalan. Sekarang malah sebaliknya. Ia sama sekali sudah tidak minat lagi. Daya tarik karate lebih mempesona dari yang lain. Dia sangat bangga memakai baju karate meskipun masih sabuk putih.

    Dan saat ujian penaikan sabuk pada bulan April 2021 yang lalu, Ayla dan 5 orang temannya yang diuji oleh Sensei Achmad Sjairodji dan Senpai Asri langsung menyabet sabuk hijau 🟢, sementara kebanyakan dari temannya harus puas dengan sabuk kuning 🟡.

    Kebahagiaan Nabila Alamanda berfoto dengan penguji Sensei Achmad Sjairodji (Sabuk hitam DAN 5) setelah ia berhasil meraih kenaikan sabuk putih ke hijau di Bulukumba. Prestasi kecil ini membuatnya menjadikanya sangat tekun berlatih meraih prestasi di karate. Sumber foto: Nabila Alamanda pada 11 April 2021

    Loncatan ini yang membesarkan hatinya untuk terus berlatih lebih giat lagi. Ada limpahan energi yang tinggi dalam memperbaiki gerakannya.

    Namun pernah suatu waktu pulang latihan tiba-tiba menangis dan ingin mundur.

    “Ummi, saya tidak mau lagi latihan”, katanya sambil sesegukan meneteskan air mata.

    Lah kenapa?”, tanyaku.

    “Tadi waktu latihan, saya dikembalikan dan bergabung dengan anak anak yang latihan massal karena gerakanku katanya tidak bagus. Teman-teman meledek saya. Aihhhh dikembalikan ki. Kasian deh luh. Saya jadi malu”, Begitu ungkapnya.

    Emang latihannya dipisah?”, saya bertanya lebih lanjut.

    “Iya. Saya dilatih khusus bersama beberapa orang senior yang sabuk coklat dan hitam. Terus, tadi ada senior suruh saya balik ke barisan yang banyak itu”, terangnya.

    Ada rasa iba melihatnya menangis membuat saya menyeka air matanya yang mengalir di pipi tembemnya sambil sesekali mencium dan memeluknya. Lalu, saya duduk mensejajarkan posisi dengan wajahnya dan memegang kedua bahunya.

    Saya membesarkan hatinya dengan berkata, “Ooooo begitu masalahnya toh. Tidak apa apalah. Saat latihan, memang begitu nak. Kalau sudah beberapa kali dikasi tahu dan belum berubah itu karena dianggap apatis alias cuek dan tidak mau menerima arahan. Makanya, kalau diberi petunuk, cepatlah menyesuaikan. Kakak senior juga dulu begitu sewaktu masih kayak Ayla. Bahkan, bukan cuma sekali dua kali mereka bolak balik. Dulu latihan mereka lebih keras nak. Kalau ditegur pake tendangan sama pukulan. Sekarang sih enak, cuma bolak balik barisan. Masa baru begitu sudah putus asa. Semangat dong! Mana jiwa bushido-nya (Bushido berasal dari nilai-nilai moral samurai, sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati). Nanti kalau gerakannya sudah berubah pasti dilatih khusus lagi. Ingat tidak boleh bermental kerupuk. Digigit sedikit saja langsung patah-patah.”

    Setelah itu dia menikmati lagi latihannya dengan baik dan penuh semangat. Telebih setelah  pelatih mengumumkan akan ada lomba, Ayla dipilih oleh Senpai Sarif. Dan saat Senpai Ammar ke Kodim melihat Kata dari Ayla, Senpai Ammar mengatakan bahwa anak ini punya bakat. Karenanya, ia pun dilatih secara intensif. Dalam masa pelatihan, Senpai Rauf pun selalu memberinya motivasi bahwa Ayla bisa berprestasi.

    Intensitas latihan dari 2 kali seminggu ditambah menjadi 8 kali seminggu dengan jadwal sore dan malam hari; Kodim, Puri Asri dan di SMA PGRI. Dan setiap hari jum’at, Ayla latihan di Balong Kec. Ujung Loe, Bulukumba yang Jaraknya sekitar 10 km dari rumah di kota Bulukumba. Intesitas latihan semakin meningkat 2 minggu menjelang lomba. Ia latihan tiap hari. Dengan penuh semangat (sebenarnya ia sedikit sakit karena flu tapi tidak ia hiraukan. Saya menyuruhnya minum madu agar tetap prima), ia terus hadir karena bertekad tampil maksimal untuk meraih medali.

    Senior senior Ayla yang menjuarai berbagai turnamen memakai pakaian yang super mahal.  Bahkan ada yang harganya sampai 3.6 juta. Ia mulai terpengaruh dan berkata, “Ummi, belikan baju untuk lomba. ”

    “Kan itu bajunya sudah ada”, kataku.

    “Kalau pake baju bagus dan mahal, sudah pastikah jadi juara?” tanyaku.

    “Yah tidaklah. Pasti tergantung gerakan tapi kan baju mempengaruhi gerakan. Ummi, kalau baju yang mahal itu, gerakan terlihat lebih memukau.”, jawabnya

    “Terus, kalau gerakan bagus tapi pakai bajunya yang lebih murah, apa gerakannya jadi jelek?” tanyaku mengajak ia sedikit berpikir kritis.

    “Tidaklah. Tapi enak tong itu kalau pakai baju mahal. Percaya diri gitu loh Ummiiii”, jelasnya.

    “Ooo Kalau begitu pakai baju yang sudah ada. Perbaiki gerakanmu dengan latihan terus menerus. Jangan gugup saat bertanding. Insya Allah pulang bawa medali. Oke? Tidak perlu ikut-ikutan pakai baju mahal. Cuci bajunya bersih-bersih. Pasti sudah bagus dilihat”, kataku menjelaskan.

    Percakapan ini alot karena dia kecenderungan memaksakan kehendak untuk memakai baju mahal. Sementara saya tidak menginginkan dia mengikuti arus atau trend yang sifatnya hedonis. Hanya ingin mengajarkan kepadanya bahwa membeli sesuatu itu tidak atas keinginan semata, bukan ikut-ikutan tapi atas dasar kebutuhan. Dan tidak semua hal yang dia inginkan harus terwujud. Saya mendidiknya untuk pandai bersabar.

    Alhamdulillah, akhirnya ini bisa Ayla mengerti dan berangkat dengan baju yang selama ini dipakai latihan. kemudiaan ia punya ide cerdas dengan menghubungi pamannya yang juga karate ka, Saiful Patwa, agar membelikannya baju khusus Kata yang harganya ratusan ribu. Hal itu cukup membesarkan hatinya.

    Kemudian, perhatiannya bukan lagi ke baju tapi bagaimana berusaha maksimal untuk bisa memperbaiki gerakan meskipun tidak memiliki baju mahal. Hasilnya, saat Kejuaraan INKAI tingkat Sul-Sel dan Barat di Kostrad Kariango, Maros pada 28 dan 29 Agustus 2021, Ayla pulang dengan meraih medali perunggu (juara 3) pada kelas Pra Pemula Kata Perorangan Putri dan posisi ke 4 untuk tim beregu.

    Nabila Alamanda sesaat setelah meraih juara 3 pada Kata Pra Pemula Putri tingkat Sul-Sel dan Barat di Kostrad Kariango.
    Sumber Foto: Fatmawati Patwa

    Selamat buat anakku Ayla, Nabila Alamanda….
    Sukses selalu dan semoga kejuaraan yang akan datang bisa meningkatkan medalinya.

    Sebagai ibu, saya memperhatikan bahwa banyak hal positif yang Ayla dapatkan sejak menjadi karate ka. Diantaranya:

    1. Ayla sudah bisa mempersiapkan sendiri perlengkapannya; Mulai dari mencuci sampai menyeterika, minimal baju karate.
    2. Rasa takutnya terhadap orang-orang atau teman-temannya yang sering mengganggu sudah hilang.
    3. Ayla sudah bisa mengatur waktunya sedikit demi sedikit
    4. Waktu bermain HP-nya berkurang karena pulang latihan capek biasanya langsung istirahat.
    5. Mentalnya semakin bagus.
    6. Salah satu syarat untuk menjadi sukses telah ia ketahui yaitu bersungguh-sungguh. Ayla konsisten menjalani pilihannya menjadi karate ka.
    Nabila Alamanda didampingi ibunya, Fatmawati Patwa saat penganugrahan medali dan sertifikat juara 3 tingkat Sul-Sel dan Barat di Kostrad Kariango, Maros. Sumber Foto: Fatmawati Patwa

    Dibalik semua kesibukan di karate, saya tetap mengatur jadwal agar Ayla tetap mengikuti kelas Mengaji, Bahasa Inggris dan Matematika. ya! Masa  kecil adalah masa terbaik untuk belajar banyak hal. layaknya pepatah, belajar di waktu kecil, bagaikan menulis di atas batu. Menurut saya, ia ada waktu yang terbaik mempersiapkan masa depannya yang lebih baik. Alhamdulillah, semua pelajaran tersebut dapat ia ikuti dimana aktifitas karatenya dapat terus berjalan. Terima kasih banyak. Osss!

     

  • Karate Ka Kodim  1411/Bulukumba Raih 11 Medali di Kejuaraan INKAI Sul Sel Bar

    Karate Ka Kodim 1411/Bulukumba Raih 11 Medali di Kejuaraan INKAI Sul Sel Bar

    Bulukumba, RBB (31/8)—Kejuaraan Antar Do Jo pada 28 dan 29 Agusutus 2021 di Gor Sapta Marga Kostrad Asmil Brigid Para Raider 3 tingkat Sulawesi Selatan dan Barat disambut hangat oleh para atlet karate ka (ka: ahli). Dari ratusan atlet yang hadir yang tersebar di berbagai macam Do Jo, terdapat 33 orang dari  INKAI (Institut Karate Do Indonesia) Kodim 1411/Bulukumba berperan serta untuk bertanding pada Kumite dan Kata.  Ini tambah semarak karena banyaknya orang tua para atlet juga turut hadir untuk menyaksikan anak-anaknya bertanding.

    Melalui proses perjuangan yang panjang, pada akhirnya atlet Bulukumba sanggup menunjukkan keahliannya dengan menyumbangkan 3 emas, 1 perak dan 7 perunggu. Berikut nama nama atlet yang meraih prestasi:

    1. Juara 1 Kata Beregu Putra : Tri Reski Adi Akbar, Muh. Raihan Athallah B. dan Muhammad Ariel Qushai
    2. Juara 1 Kata Beregu Putri: Arraya Aulia, Rahmi Sulistia dan Andi Belele Batari
    3. Juara 1 Kata Perorangan Putri (Cadet): Arraya Aulia
    4. Juara 2 Kata Perorangan Putra (Cadet): Muh. Farhan Syahrir
    5. Juara 3 Kata Perorangan Putri Pra Pemula : Nabila Alamanda
    6. Juara 3 Kumite Usia 6 – 7 Tahun (Pra Usia Dini): Muh. Alfatih S. Dase
    7. Juara 3 Kategori Kumite Usia 14 – 15 Tahun (Cadet):  Arraya Aulia
    8. Juara 3 Kata Perorangan Putra Pra Pemula : Prayuda Azzikra Asdar
    9. Juara 3 Kata Perorangan Putra Pemula : Abi Perisay Putra
    10. Juara 3 Kata Perorangan Putra (Cadet): Muhammad Ariel Qushai
    11. Juara 3 Kata Perorangan Putra (Yunior) : Muh. Raihan Athallah B.

    Keberhasilan ini berkat usaha yang sangat panjang disertai dari dukungan internal dan eksternal. Letkol Arm Joko Triyanto, S.Pd—Dandim Kodim 1411/Bulukumba yang juga pembina INKAI Ranting Kodim 1411/Bulukumba— mendukung secara penuh kemajuan dan prestasi karate ka Bulukumba dengan memfasilitasi sarana dan prasarana latihan, khususnya Aula tempat latihan dan berbagai kebutuhan latihan lainnya. Bisa dibayangkan, prestasi akan sulit muncul jika tanpa latihan selama pandemi. Untunglah, latihan di Kodim dapat terus berjalan lancar dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

    Selain itu, terdapat 3 orang pelatih yaitu Senpai Sarifuddin, Senpai Ammar dan Senpai Rauf mendesain khusus agar terdapat latihan ekstra buat para atlet siap tanding. Pada tahapan ini, mental tidak kenal menyerah dan mental juara ditanamkan dengan baik.

    Hal yang menarik lainnya, para pelatih memberi kesempatan anggota karate pemula untuk ikut kejuaraan. Senpai Sarif mengatakan, “Untuk pemula, tidak perlu pikir juara. Yang penting kenal matras sehingga pada kejuaraan berikutnya mereka tidak tegang lagi bertanding dan lebih siap untuk meraih juara.” Kebijakan tersebut langsung disambut meriah. Terbukti, lebih 20 orang peserta pemula yang masih anak anak kecil bergabung dan diantar langsung oleh orang tuanya. Para orang tua yang memiliki mobil inilah yang membantu semua atlet untuk berangkat hingga sampai tujuan.

    Saat berada di ‘arena’ tatami (Baca: matras arena tanding. “Tatami” berasal dari bahasa jepang yang berarti tikar yang dibuat dari jerami dan empuk). Penampilan atlet Bulukumba memukau dan menyita perhatian. Hal ini dijelaskan oleh Fatma mewakili orang tua, ibu dari Nabila Alamanda yang meraih medali perunggu, mengatakan, “Tim Kata Bulukumba mempertontonkan gerakan yang paling indah karena  memadukan antara seni dan power (kekuatan).  Sangat nampak keindahan gerakannya apalagi saat perpindahan gerakan satu ke gerakan yang lainnya. Gerakan tangan, gerakan pinggul dan gerakan kakinya sangat berseni sehingga menarik untuk disaksikan. Adapun tim lain, gerakannya didominasi dengan power.

    Sementara itu, Muhammad Zabir Ikbal, Ketua INKAI Bulukumba, setelah menyampaikan kebanggaannya dan ucapan selamat kepada para atlet yang telah mengangkat nama baik Bulukumba. Iqbal kemudian melayangkan kritik pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba terutama dalam perhatian pemerintah pada para atlet. “Saya kecewa dengan Pemkab Bulukumba  karena kurangnya perhatian terhadap atlet. Sampai sekarang ucapan selamat saja dari pemerintah belum ada.”, katanya. Ia melanjutkan, “INKAI pun dipersulit ketika membutuhkan kendaraan milik Dinas Perhubungan”, terangnya. “Begitu banyak anggaran yang menghabiskan dana program yang tidak tepat sasaran yang akhirnya dana habis tidak tepat sasaran” jelasnya. “Para atlet itu semestinya punya biaya pembinaan agar lebih semangat mempertinggi prestasinya”, tutupnya.

    Dibalik semua itu, atlet karate Bulukumba tetap fokus, kembali bekerja lebih giat dengan terus mengintensifkan latihan. Melihat bakat atlet pemula banyak berminat di Kumite, latihan atlet khusus kumite juga akan dibuat dengan jadwal latihan yang lebih padat sebagai persiapan menghadapi beberapa kejuaraan agar semakin banyak lagi medali yang bisa diraih para karate ka Bulukumba. Osss!

    Zulkarnain Patwa

  • Punya Ide Kreatif Wisata Bulukumba? Program Lintas Negara

    Punya Ide Kreatif Wisata Bulukumba? Program Lintas Negara

    Andi Junila Aulia

    “Mempersiapkan Masyarakat Basis Pariwisata di Kawasan Pesisir Kabupaten Bulukumba untuk Mengembalikan Sektor Wisata yang Lebih Regeneratif”

    Perkenalkan saya Junila, Putri Daerah dari Kabupaten Bulukumba. Sejak lahir sampai SMA tinggal dan berproses di kota Butta Panrita Lopi ini. Saya merupakan lulusan Sarjana Pertanian di Universitas Hasanuddin, Makasssar.

    Saya berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa untuk belajar ke Amerika Serikat melalui program YSEALI Academic Fellowship Program 2020 dalam bidang Environmental Issues and Natural Resources Management. Program ini merupakan inisiasi dari Barrack Obama untuk pemuda-pemudi se-Asia Tenggara agar memperoleh pengalaman belajar dengan para ahli di Amerika Serikat.

    Pada pertengahan tahun 2020, saya memperoleh kesempatan untuk bekerja di salah satu NGO Jepang yang berlokasi di Ubud, Bali. Earth Company, merupakan NGO yang berfokus pada isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Earth Company memiliki satu inisiatif dalam bidang pariwisata yang berkelanjutan dengan mendirikan sebuah eco-villa bernama Mana Earthly Paradise. Melalui beberapa pengalaman tadi, ini mengantarkan saya untuk menginisiasi sebuah program lingkungan yang fokusannya kepariwisata dan masyarakat desa wisata di kota kelahiran yaitu Kabupaten Bulukumba.

    Sosialisasi dalam bahasa Inggris terhadap orang orang yang berminat pada pengembangan pariwisata di Bulukumba di komunitas English Practice Club pada Rabu, 11 Agustus 2021.
    Sumber foto: Rumah Belajar Bersama

    Re-tour Academy atau Regenerative Tourism Academi adalah sebuah program yang dirancang untuk membantu pemuda pemudi di lokal dalam membangun kembali sektor pariwisata di desa melalui konsep pariwisata yang regeneratif. Program ini dibentuk oleh tim Panrita dari Sulawesi Selatan yang berhasil mendapatkan pendanaan dari YSEALI Small Grant Competition 2021 yang diselenggarakan oleh East West Center Hawai’i bekerja sama dengan The Maureen and Mike Mansfield Center University of Montana, Missoula, Amerika Serikat.

    Ide program
    Ini berangkat dari kepedulian terhadap masalah lingkungan dalam kawasan pariwisata khususnya pesisir Kabupaten Bulukumba. Berdasarkan pengalaman pribadi, cukup banyak tempat wisata yang rusak akibat ulah warga dan wisatawan yang tidak bertanggungjawab. Selain itu, tidak hanya wilayah pesisir yang banyak tercemar sampah dari para wisatawan dan penduduk setempat, tetapi juga sampah yang terbawa arus.

    Untuk mengkonfirmasi hipotesis tersebut, saya dan tim memutuskan untuk mengadakan diskusi terbuka dengan beberapa komunitas berbasis pariwisata, para pakar dan aktivis di bidang pariwisata, jugadari pemerintahan.

    Setelah melakukan riset, kami akhirnya bisa mengambil kesimpulan dan fakta bahwa apa yang mereka alami sebelumnya juga dirasakan secara luas oleh semua pihak. Selain itu, tim juga menemukan banyak komunitas berbasi pariwisata yang ternyata bergelut dalam menjaga dan mengelola situs untuk menciptakan pariwisata yang berkelanjutan. Belum lagi, pandemic juga berdampak pada pendapatan masyarakat yang menjadikannya semakin tidak stabil dan tidak tahu bagaimana cara untuk pulih. Melihat isu-isu yang melingkupi komunitas berbasis pariwisata di Bulukumba ini, kami sebagai tim termotivasi untuk mendorong pemuda setempat dalam membuat perubahan di komunitas mereka dengan membuat program Re-Tour Academy.

    Program ini memiliki dua agenda utama. Yang pertama adalah Innovation Challenge Day dimana 5 tim terpilih akan mengikuti proses pelatihan melalui workshop dengan para ahli dalam bidang pariwisata, mengembangkan ide-ide yang mereka usulkan, dan melakukan presentasi di hari terakhir. Hanya 3 tim yang akan didanai dan dipilih untuk lolos ke tahap selanjutnya yaitu Program Akselerator. Dalam program lanjutan ini, 3 tim akan memiliki waktu 3 bulan untuk mengimplementasikan proyek mereka dengan pendampingan dari para mentor. Di akhir program, 3 tim ini akan diberikan kesempatan untukmempresentasikan hasil proyek mereka kepada calon sponsor dan mitra di masa mendatang. Pendaftaran program ini akan dibuka dari tanggal 17 sampai tanggal 24 Agustus 2021 dengan mengambil tema besar, “Mempersiapkan Masyarakat Basis Pariwisata di Kawasan Pesisir Kabupaten Bulukumba untuk Mengembalikan Sektor Wisata yang Lebih Regeneratif”. Berikut beberapa pilihan sub tema dalam program ini:

    • Pendidikan
    • EkonomiKreatif
    • PemberdayaanMasyarakat

    Untuk informasi lebih lanjut, silakan cek ke media sosial kami di IG (@retour_academy) dan halaman FB (retouracademy). Program ini diharapkan dapat mengatasi masalah lingkungan dan pariwisatadi Kabupaten Bulukumba dan juga untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) khususnya poin nomor 8 (Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan), 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan 13 (Aksi Iklim).

    Semoga inisiatif ini mampu memicu pemuda-pemu di Bulukumba untuk lebih peka terhadap permasalahan sekitar serta lebih berani berinovasi untuk pengembangan daerah. Seperti kata Bung Hatta, “Indonesia tidak akan nyala terang hanya karena obor di ibu kota, justru karena lilin-lilin kecil yang tersebar di seluruh desa”.

  • Re-Tour Academy

    Re-Tour Academy

    Preparing Community-based Tourism in the Coastal Area of Bulukumba to Build Back Tourism in Regenerative Ways

    By Andi Junila Aulia

    Re-tour Academy or Regenerative Tourism Academy is a program that aims to help the youth rebuild their tourism-based community in Bulukumba through a regenerative concept of tourism. This program is established by Team PANRITA from South Sulawesi, Indonesia who successfully secured funds from the YSEALI Small Grant Competition 2021 held by East West Center Hawai’I collaborated with The Maureen and Mike Mansfield Center University of Montana, Missoula, USA.

    The idea of the program itself was first designed out of the team’s own concern for the unsettling tourism in some coastal areas in Bulukumba. Based on their personal experiences, there are quite a number of damaged tourism sites that come as a result of the irresponsible activities of both the locals and the tourists. Also, many coastal areas are polluted with waste, not only from the ones left by the locals and the tourists but also waste brought by the currents. To confirm their hypothesis, the team decided to hold an open discussion with some tourism-based communities as well as expertise and activists in the tourism field.

    At the end of the forum, the team was finally able to draw a conclusion and that was the fact that what they have experienced before is also broadly felt by every parties. In addition, the team also found out that many tourism-based communities turn out to be struggling in maintaining and managing sites to create sustainable tourism. Not to mention, the pandemic has also impacted their irregular income to be even more unstable and they happened to not know how to recover from this situation. Looking at these issues surrounding the tourism-based communities in Bulukumba, the team is motivated to encourage the local youth to make a change among their community by creating Re-Tour Academy program.

    This program has two main agendas. The first one is the Innovation Challenge Day where 5 selected teams will spend 5 days in training and developing their proposed ideas. Only 3 teams will be funded and selected to get to the next phase that is the Accelerator Program. In this specific step, the 3 teams will have 3 months to implement their projects while still receiving intensive training and monthly mentoring. At the end of the program, the 3 teams will be given the opportunity to present the result of their projects to the future potential sponsors and partners. The application will be opened on 17th – 24th August 2021. It will take a big theme, “Preparing Community-based Tourism in the Coastal Area of Bulukumba to Build Back Tourism in Regenerative Ways” with the following sub theme:

    • Creative Economy
    • Educational Programs
    • Social Experiences

    For more information, please kindly check to our social media on IG (@retour_academy) and FB page (retouracademy).

    The program is expected to address the environmental and tourism issues among the tourism sites in Bulukumba and also to support the Sustainable Development Goals (SDGs) particularly SDG point number 8 (Decent Work and Economic Growth), 11 (Sustainable Cities and Communities), 12 (Responsible Consumption and Production), and 13 (Climate Action).