Education is not just about studying. Let’s the children relax and playing at class.
Picture take at Kelas Baca Tulis Hitung.
Zulkarnain Patwa

Education is not just about studying. Let’s the children relax and playing at class.
Picture take at Kelas Baca Tulis Hitung.
Zulkarnain Patwa

No matter how hard it is, we always believe that sharing positive energy builds the quality of our students.
Zulkarnain Patwa

Students should not be afraid of studying. They need to care about their exercises to have good understanding. Beside that, we have to give great attention and support.
Picture taken at Math Class.
Zulkarnain Patwa
August 13, 2024

IQ (intelligence quotient) is important. Something which is more important is studying hard and good method in teaching should be followed.
Picture taken at Math Class.
Zulkarnain Patwa
August 13, 2024

Have you ever imagined that a kindargarten kid in Indonesia can read English book? Yes, we have.
That’s why we can prove it. The name of this cute girl is Afwa who loves to read Indonesian and English books.
Zulkarnain Patwa
August 13, 2024

To answer the exercises is not enough here. You have to read them all and translate into Indonesian.
Practiced by Andi Muhammad Fardan when reading Basic English Grammar, Progressive Verbsl versus Simple Verbs.
Zulkarnain Patwa
August 13, 2025

Mohammad Rudy Salahuddin, Pelaksana Tugas Gubernur Sulawesi Barat secara khusus mengajak diskusi Dr. Horst Liebner pada acara penutupan Festival Sandeq. Gubernur menyampaikan beberapa ide tentang pengembangan Sandeq untuk ditempatkan di Mamuju juga dan banyak lagi tentang maritim kepada Horst.
Salah satu, Gubernur menyampaikan kepada rekan rekan tamu di meja kehormatan bahwa Horst adalah orang yang pertama kali mengadakan Sandeq. Dan apa yang dikatakan Gubernur itu benar. Masyarakat umum pun mengatakan demikian.
Pada pertemuan ini, Horst didampingi oleh Ridwan Alimuddin dkk yang menjadi Tink Tank Sandeq 2024 di Mamuju ini.
Zulkarnain Patwa
Minggu, 22 September 2024

Festival kemaritiman Indonesia yang paling berhubungan dengan laut dan secara konsisten dilaksanakan adalah Sandeq. Gagasan lomba Sandeq ini telah mulai terlaksana sejak tahun 1995 oleh Horst Liebner, pakar maritim Indonesia hingga 2024 ini oleh Muhammad Ridwan Alimuddin. Pada festival kali ini, Menteri Pariwisata, Sandiaga Uno memberikan informasi berharga tentang keunggulan Sandeq dengan mengatakan Sandeq adalah perahu layar tercepat di dunia.
Ada rasa syukur yang tiada terkira bertemu dan berdiskusi panjang lebar dengan Kak Ridwan. Soalnya selain sebagai tink tank Sandeq, Ridwan kakak senior Asrama Merapi Sul-Sel–Yogyakarta. Segar dalam ingatanku, Ia adalah orang pertama di asrama kukenal yang punya koleksi segudang buku pribadi yang membuatku senang berdiskusi dengannya. Hubungan kami akrab karena sering saling ‘sindir’ tentang Sandeq dan Pinisi. Tapi betapa pun berdebat, saya sangat senang bersamanya dan menghormatinya karena ia adalah mahasiswa perikanan yang selalu punya alasan cerdas berbantah bantahan. Pendek kata, berilmu.
Kak Ridwan konsisten dengan ide Sandeq. Sejak mahasiswa, dia telah membuat terobosan dengan menerbitkan buku, Mengapa Kita Belum Cinta Laut? Sebuah bahasan tentang Sandeq yang kemudian diresensi di koran Kompas oleh intelektual muda terkenal pada masa itu, Muhidin M. Dahlan.
Dayung bersambut, Ridwan pun menerbitkan banyak buku tentang laut. Menariknya, ia tidak menjadi intelektual menara gading yang tahunya tentang kumpulan teori dengan membungkus diri di dalam kampus. Ia melaut keliling Indonesia dan luar negeri dan menggerakkan kesadaran masyarakat di sekitarnya tentang peran-peran penting yang perlu dikerjakan oleh para pelaut. Tak lupa, ia pun membuka perpustakaan agar masyarakat kalangan pesisir punya kesadaran dalam dunia pendidikan.
Pada obrolan warung kopi ini, Ridwan dan kawan kawannya dari Sulawesi Barat dan saya dengan Sakkar AR dari Sulawesi Selatan membahas tentang pentingnya pelatihan kelautan buat para pelajar SMA, SMK, para mahasiswa dan pemuda pemudi agar mereka punya bekal pengetahuan yang cukup untuk bisa memberdayakan benua maritim Indonesia yang luas ini.
Di samping itu, kekayaan pengetahuan nenek dan kakek moyang harus terus digali agar generasi zaman now ini tidak lupa siapa dirinya dan darimana mereka berasal. Dan hal tersebut perlu untuk terus dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman.
Dengan demikian, festival kemaritiman yang dahsyat seperti Sandeq ini dapat bertambah luas dan dapat diadakan di daerahnya masing-masing sesuai dengan khas perahu dan budayanya masing-masing. Bila hari ini Sandeq perahu tercepat dunia, bisa jadi kedahsyatan perahu perahu lainnya di Indonesia juga bermuculan sati persatu. Dan bukankah beribu-ribu pulau di Indonesia ini masih efektif menggunakan perahu? Jawab ‘ya’ saja.
Zulkarnain Patwa
Senin 23 September 2024 pada perjalanan Menuju-Makassar, 21.55 Wita

Setiap orang punya cita cita besar dan butuh perjuangan tiada henti untuk mewujudkan. Keterhubungan gagasan, minat dan bakat mempertemukan.
Tapi bagaimana pun juga, ada pertemuan, ada perpisahan. Terus melangkah, kita akan bertemu kembali dalam keadaan lebih baik. Begitulah penyebaran energi positif.
Zulkarnain Patwa
Terminal Mamuju, Sulawesi Barat pada 23 September 2024

Muhammad Ridwan Alimuddin pakar perahu Sandeq Indonesia dan tink tank Festival Sandeq 2024 ini dan Sakkar AR kru Pinisi Perla Anugerah Ilahi yang turut bergabung di Festival Sandeq di Mamuju berfoto dengan simbol Sandeq di tangan.
Karena percaya pada kapasitas intelektual dan pengalaman Ridwan mengarungi samudra, penulis meminta kesediaan hati Ridwan agar ia turut mendidik Sakkar mengingat pemuda pelaut Bulukumba tergolong tekun belajar dan bekerja. Hal ini berdasarkan pengamatan penulis selama mendidik Sakkar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama. Ia juga sudah mulai tekun membaca buku buku rekayasa sosial dan berlatih menulis.
Ridwan mengerti spirit intelektual yang penulis bawa sehingga ia menerangkan bahwa pelatihan teori dan praktek perahu Sandeq telah sering berjalan di tingkat pelajar SMA/SMK, mahasiswa dan umum dan bahkan orang orang asing dari luar negeri di Sulawesi Barat. Beberapa pelayaran dengan layar saja pun bekerja sama dengan swasta dan pemerintah ia jalankan. Dan Sakkar diperkenankan untuk bergabung. Menurutnya, hal itu juga bisa dilaksanakan di Bulukumba karena terdapat perahu Pinisi yang namanya telah mendunia.
Para pemuda pemudi kita yang punya minat dan bakat dalam dunia bahari dapat mencontoh jejak Sakkar dengan terlebih dahulu mengenali dan melayarkan perahu Pinisi dan Sandeq yang merupakan perahu yang ada di daerahnya. Sakkar kru Pinisi Perla Anugerah Ilahi telah punya bekal melayarkan tanpa mesin telah bekerja dengan baik. Kemudian inilah yang membukakan kemudahan jalannya sendiri yang mana para intelektual handal seperti Horst, Ridwan dan lainnya.
Selamat belajar Sakkar. Sebagai anak pelaut, semoga harapanmu tentang Festival Pinisi yang punya kepedulian terhadap kehidupan para pelaut sebagaimana yang kamu bayangkan terwujud. Dengan berguru kepada Ridwan, kamu bisa mengerti cara kerja Festival Sandeq dan keberlanjutannya dan nantinya dapat kamu menerapkan dalam kehidupanmu dan kampung halamanmu dan seterusnya sesuai kesanggupan berpikirmu.
Zulkarnain Patwa
Makassar, 24 September 2024.
Foto pada 23 September 2024 di Mamuju, Sulawesi Barat.