Kategori: Uncategorized

  • Pendapat Dewan Juri pada Juara Duta Wisata Bulukumba (2)

    Pendapat Dewan Juri pada Juara Duta Wisata Bulukumba (2)

    Bulukumba, RBB (25/8)—Kekayaan destinasi wisata menjadikan Bulukumba menjadi menarik perhatian publik. Hal yang sama pun terjadi pada lomba Duta Wisata Bulukumba 2020 yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Setelah melalui ujian yang panjang, para peserta finalis sampai pada tahapan akhir, penentuan juara. Dewan Juri yang mengetahui sosok dan sumber daya manusia seperti apa yang dibutuhkan menjatuhkan pilihan pada Muhammad Arsan dan Nur Aliyah Patwa sebagai Duta Wisata Bulukumba.

    Berikut ini pendapat 5 (lima) Dewan Juri sesaat setelah lomba di GOR (Gedung Olah Raga) Bulukumba (22/7). Mari kita simak petikannya:

    Tomy Satria Yulianto
    Wakil Bupati Bulukumba

    “Ini ajang komptesi yang sehat. Anak anak millenial Bulukumba kita harapkan membicarakan hal hal baik tentang Bulukumba nantinya. Kita ini sebagai dewan juri hanya menjadi bagian yang menegaskan talenta (Baca: bakat) yang mereka miliki. Mereka telah perlihatkan bahwa mereka mengetahui tentang pariwisata Bulukumba. Bagi saya, ini modal luar biasa bagi masa depan Bulukumba di akan datang.”

    Rezky Hutama Putra
    Ketua Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba

    “Sebagai ketua Adwindo, saya sangat merasa bersyukur bisa melaksanakan Duta Wisata ini meskipun sekarang kita berada di tengah pandemi. Kita juga mengingat bahwa pariwisata di Kab. Bulukumba sangat banyak sehingga perlu diadakan lomba Duta Wisata. Kita butuh sumber daya manusia yang khusus mempromosikan wisata-wisata yang ada di Kab. Bulukumba. Harapan buat yang terpilih, mereka bisa berdedikasi di Bulukumba, bisa melaksanakan dan mengemban tugas sehingga apa yang diharapkan bisa terlaksana.”

    Andi Ayu Cahyani
    Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata di Dinas Pariwisata Bulukumba

    “Grand final ini kita adakan sebagai salah satu cara untuk bagaimana mengapresiasi bakat-bakat mereka, khususnya dalam promosi pariwisata di Kab. Bulukumba yang kita tahu memiliki banyak potensi wisata. Harapannya, dengan mengemban dan memegang predikat sebagai juara, mereka tentunya kita ajak bersama-sama Dinas Pariwisata untuk promosi wisata di seluruh Indonesia dan bahkan ke luar negeri.”

    Saat Dewan Juri melakukan penilaian pada Grand Final Duta Wisata Bulukumba.
    Sumber foto: Rumah Belajar Bersama.

    Andi Minie Patongai
    Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata di Dinas Pariwisata Bulukumba

    “Grand Finalis kali ini berjalan dengan lancar. Kita melihat adik-adik dari Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba mengadakan acara meskipun tanpa bantuan anggaran dari Dinas Pariwisata Bulukumba tapi mereka tetap mengadakan pemilihan Duta Wisata Bulukumba dengan baik. Saya harapkan pada yang juara mudah-mudahan bisa mempromosikan objek destinasi wisata Bulukumba, baik ke dalam maupun ke luar negeri. Dan semoga tahun tahun ke depan lebih baik dari tahun ini.”

    Resky Permatasari
    Dara 2011 Bulukumba dan Supervisor Program Keluarga Harapan di Dinas Sosial Bulukumba

    “Sebagai dewan juri, Duta Wisata yang terpilih betul-betul bisa membawa nama baik Bulukumba ke depan. Mereka ini benar-benar memenuhi kriteria dalam penilaian. Mulai dari masalah fisik, keilmuan, penguasaan panggung, mereka semua mantap.”

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Games pada Anak-Anak dan Buku

    Games pada Anak-Anak dan Buku

    Bulukumba, RBB (25/8)—Bila berkunjung ke Rumah Belajar Bersama, Anda akan sulit menemukan anak-anak sibuk bermain handphone dengan segala permainan gamesnya. Sebagai pengganti, ribuan buku telah disiapkan mulai dari buku anak-anak hingga dewasa.

    Larangan bermain games hp ini berdasarkan pengalaman. Seringkali guru menemukan pelajar kategori anak anak pura-pura menunduk saat jam belajar. Saat dicek, bukan belajar tapi bermain games. Pantas saja tidak mereka tidak mengerti karena perhatian bukan pada pelajaran. Ada juga yang berpura-pura izin keluar ruangan dan bermain games di teras. Banyaklah cara “kreatif” mereka. Kreatif sih boleh tapi tujuan kedatangan untuk belajar harus tercapai juga kan.

    Sedangkan pada kasus anak-anak yang telah kecanduan games, pandangan matanya sangat berbeda, tidak bisa fokus. Ada pepatah mengatakan, “Masuk dari telinga kanan, keluar di telinga kiri”. Itu mungkin masih baik karena ada yang singgah. Tapi bila masuk di telinga kanan, mantul keluar, tidak ada yang singgah. Sebagai langkah penyelamatan, guru berkoordinasi dengan orang tuanya agar ada tindakan di rumah untuk mengalihkan perhatian dari games. Minimal membatasi bila tidak bisa dihentikan secara langsung.

    Menanti jemputan orang tua dengan bermain catur di Rumah Belajar Bersama. Foto pada 2 Agustus 2020

    Lalu, apa yang dilakukan saat anak anak berada di Rumah Belajar? Memanfaatkan waktu luang.  Di sela-sela waktu luang seperti terlalu cepat datang, keluar main atau menunggu jemputan pulang dari orang tua masing-masing, kami mengajak anak anak mengambil buku kesukaannya di rak perpustakaan dan mencari tempat duduk yang membuatnya nyaman membaca. Bila ada yang tidak mau membaca, tidak dipaksakan tapi dibiarkan bermain dengan teman-temannya. Hal yang terbaru yang mereka senangi adalah bermain catur. Itu malah baik untuk mengasah logika dan kecerdasan otak.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Terpilihnya Duta Wisata Bulukumba 2020 (1) Bersambung…

    Terpilihnya Duta Wisata Bulukumba 2020 (1) Bersambung…

    Bulukumba, RBB (24/8)—Kepopuleran pariwisata Bulukumba telah sampai pada tingkat dunia. Ini bisa dilihat dari icon Bulukumba yaitu Pinisi telah ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Scientific and Cultural Organization) sabagai bagian dari warisan dunia pada 2017. Dinas Pariwisata (Dispar) Bulukumba dari tahun ke tahun terus melakukan eksplorasi lebih jauh agar potensi pariwisata yang lainnya terus tergali dan turut terkenal ke dunia internasional.

    Dan untuk pengembangan sumber daya pariwisata pemuda dan pemudi, Dispar Bulukumba mengadakan acara tahunan lomba Duta Wisata. Tahun 2020 ini, Dispar menggandeng Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba sebagai panitia dan mengangkat tema “Peran Millenial Bulukumba menuju Era Industri 4.0”.

    Terdapat 24 peserta dengan komposisi 12 putra dan 12 putri. Untuk memperoleh kwalitas yang terbaik, ditetapkanlah 3 kategori penilaian yaitu:

    1. Attitude (sikap)
    2. Knowledge (Pengetahuan)
    3. Performance (Penampilan).

    Menurut Rezky Hutama Putra, Ketua Adwindo Bulukumba, “Sikap yang kami utamakan dalam penilaian ini. Selama kurang lebih 1 minggu, kami memperhatikan sikap peserta dalam menghadapi beberapa moment. Sedangkan mengenai pengetahuan, tentunya semua sudah tahu kalau menjadi duta membutuhkan pengetahuan yang baik. Dan penampilan, kami menilai postur tubuh yang proporsional serta penampilan yang menarik”, terangnya.

    Babak penyisihan hingga Grand Final Duta Wisata ini dilaksanakan di GOR (Gelanggang Olah Raga), berakhir pada 22 Agustus 2020. Pada Grand Final, 5 (lima) orang juri yang telah matang pengalaman yaitu Tomy Satria Yulianto (Wakil Bupati), Rezky Hutama Putra (Ketua Adwindo), Andi Ayu Cahyani (Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata Dispar), Andi Minie Patongai (Kepala Bidang Destinasi Dispar), dan Rezky Purnamasari masing-masing memberikan penilaian terbaiknya.

    Keputusan team juri yang diumumkan oleh pembawa acara menetapkan bahwa juara 1 putra jatuh pada Muhammad Arsal, Mahasiswa Politeknik Pariwisata Makassar. Adapun Juara Putri jatuh pada Nur Aliyah Patwa, Mahasiswi Universitas Negeri Makassar. Suara musik menggema diirigi tepuk tangan meriah dan ucapan selamat pun menyambut.

    Sebagai juara Duta Wisata Bulukumba, mereka diharapkan mampu berpikir, berkreasi dan memanfaatkan Era Industri 4.0 sebagai alat percepatan promosi pariwisata Bulukumba yang ber-tagline Pesona Tanpa Batas.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Nurmala Usman: Mensukseskan Pendidikan pada Anak-Anak

    Nurmala Usman: Mensukseskan Pendidikan pada Anak-Anak

    Bulukumba, RBB (21/8)—Nurmala Usman adalah seorang ibu yang mengikuti pesan bahwa belajar di waktu kecil bagaikan menulis di atas batu. Hal inilah yang ia tiap hari terapkan pada kedua orang anaknya yang masih di bawah 10 tahun.

    Karena kebiasaannya memberi perhatian pendidikan yang tinggi di rumah, anak-anaknya sudah lancar membaca sejak kelas 1 SD (Sekolah Dasar). Kemudian, rekannya sewaktu sekolah di Pesantren Babul Khaer bernama Bu Risma yang mengajak agar anak anaknya turut bergabung di Rumah Belajar. “Karena saya tidak sembarang ikutkan anakku,  saya lebih dahulu ikuti akunnya di media sosial. Saya cek, ini bagus. Saya pun meminta izin pada suami. Suami meminta agar saya mendidik anak-anak di rumah saja tapi saya berpikir,  siapa tahu ada metode lain”, kata Nurmala.

    Saat berkunjung, Nurmala melanjutkan, “Kesan pertama saya temukan di Rumah Belajar yaitu cara guru menyapa yang sangat ramah anak-anak saat bertemu guru Baca Tulis, Siti Satriana. Anakku tiba-tiba bilang bahwa dia mau belajar di sini sampai kelas 6”, katanya.

    Saat mengikuti perkembangan pelajaran, Nurmala yang juga guru SMK 2 Borong Rappoa Kindang ini melanjutkan, “Di sini lebih fokus karena ada pendekatan langsung ke individu. Karena tiap kelas itu tidak boleh ramai, satu persatu dapat dididik menyelesaikan masalah sehingga anak bisa lebih bisa mandiri. Terdapat cara menghitung di save (disimpan) di kepala. Kini, anakku malah mengajar saya. Anakku biasa berkata, begini kata Bu Siti. Saya tanyakan, Nak, kalau penjumlahan puluhan dan ratusan bagaimana caranya yang naik satu itu? Anakku menjawab, Ibu, 2 disimpan di kepala, 10 di tangan. Contoh 12 – 5 = … jawabnya 10 di tangan, 2 di kepala. Kurangi 5 di tangan. Jadi sisanya 5. Lalu, sisa 5 di tangan tambah 2 di kepala, sama dengan 7”, Kata Nurmala sambil mencontohkan dengan gerakan tangan.

    Lebih lanjut ia menjelaskan kemajuan belajar anaknya. Umratul Qadsa yang berumur 8 tahun sudah bisa penjumlahan ratusan. Ia sudah tahu simbol kurang dari, lebih dari dan sama banyak. Perkalian juga sudah paham. Adapun Qiran yang masih 7 tahun, belajar cara menyelesaikan penjumahan bersusun, pengurangan dari buku paket sekolah. Ia telah bisa menyelesaikan penjumlahan sederhana. Guru Siti mampu membuat cara agar soal-soal pelajaran sekolah yang dalam bentuk cerita yang masih sulit dipahami anak anak kelas 1 SD. metode jarimatikanya menarik memudahkan Qiran menyelasaikan tiap soal. Perkenalan dasar perkalian juga diberikan.

    Agar anak anak bertambah rajin, “Waktu mau lebaran Idul Adha, libur, saya beritahukan ke Bu Siti agar  anak anak diberi banyak PR (Pekerjaan Rumah) supaya waktu yang kosong di rumah bisa terisi. Anak anak diajar bertanggung jawab dengan tugasnya”, terang Nurmala.

    “Cara ini memicu semangat belajar anak-anak. Ketika belajar tatap muka tidak ada, ini moment bagus. Kalau sekedar belajar daring di hp, anak anak mengnga mengnga (termangu-mangu) saja. Inisiatif sangat perlu karena saya takut semangat belajar anak hilang karena terlalu banyak bermain”, ungkap Nurmala

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Pengaruh Pendidikan pada Kemerdekaan Indonesia

    Pengaruh Pendidikan pada Kemerdekaan Indonesia

    Bulukumba, RBB (19/8)—Penderitaan rakyat Indonesia yang sangat tinggi membuat Ratu Wilhelmina mengeluarkan kebijakan Politik Etis pada 1901 yang berisi 3 (tiga) hal:

    1. Irigasi (pengairan). Membangun dan memperbaiki bendungan untuk pertanian
    2. Transmigrasi. Perpindahan penduduk dari daerah yang padat ke daerah sedikit penduduk.
    3. Pendidikan bagi pribumi.

    Tulisan kali ini hendak membahas poin nomor 3 yaitu pendidikan. Untuk itulah, Belanda mendirikan:

    1. SD terdapat HIS (Hollandsche Inlandsche School) dikhususkan bagi pribumi yang kaya.
    2. SD terdapat ELS (Europesche Lager School) dikhususkan bagi warga Belanda dan anak pembesar pribumi.
    3. SMP bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).
    4. SMA bernama AMS (Algemeene Middelbare School).

    (lebih…)

  • Kunjungan Pegiat Media

    Kunjungan teman-teman media
  • Bhs. Isyarat dan Bhs. Inggris

    Bhs. Isyarat dan Bhs. Inggris

    Bulukumba, RBB (18/8)—Ita Mufrita adalah seorang juru Bahasa Isyarat yang telah banyak bergaul dengan penyandang disabilitas di Makassar untuk pandai membaca dan berbicara menggunakan Bahasa Isyarat kini mengikuti kelas Bahasa Inggris di Bulukumba.

    Alasanya sederhana, “Saya ia ingin up grade skill (menambah keahlian) untuk menopang pekerjaan saya sebagai juru Bahasa Isyarat. Kalau bisa, saya ingin menjadi penerjemah Bahasa Inggris ke Bahasa Isyarat”,

    Menurutnya, perkenalannya dengan Rumah Belajar dimulai ketika PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia) Bulukumba yang diketuai oleh Herman Suherman pada Maret 2020 mengadakan pertemuan pembelajaran Bahasa Isyarat di Rumah Belajar. Ita turut berbagi ilmu dengan rekan rekan orang tuli dan bisu. Ia juga merasa ada chemistry (kecocokan) dengan suasasa yang terbuka. Ita mengatakan “Pertama kali datang ke sini orangnya welcome (menyambut) dan tidak membeda-bedakan orang, termasuk penyandang disabilitas sekali pun. Setelah beberapa kali kunjungan, “Saya melihat banyak anak-anak belajar. Sebuah pertanda bahwa ada keceriaan di situ”, lanjutnya.

    Mengenai kemampuan belajar pada Bahasa Inggris, Ita adalah pelajar yang sangat tekun. Dalam 4 x pertemuan, ia telah mampu menyelesaikan 32 cerita pendek dari buku Question and Answer karya L. G. Alexander. Bila ada kesulitan dalam memahami arti, ia cari sendiri dengan memanfaatkan kamus terjemahan handphone. Ia telah banyak mengerti dan memasang target untuk menambatkan buku tersebut cukup dengan 6 x pertemuan saja. Tidak lebih.

    Selain itu, pelajaran yang sangat menyenangkan baginya yaitu pronounciation (pengucapan). Ita kemudian menjelaskan, “Di sini saya mendapat cara pengembangan cara membaca yang tepat dalam menyambung kata, frase dan kalimat. Misal:

    1. The young man took a bundle of notes out of this pocket.
        Cara bacanya: de yang meen tuke bandelof nouts oudof dis pocket.
    2. You must have this suit cleaned.
        Cara bacanya: You mastev dis suit clind.

    Ternyata ada cara mudah membaca cepat tanpa harus terburu-buru dan tetap terdengar jelas. Itu menarik! Saya target sampai mahir sehingga orang bisa mengerti apa yang orang bilang dan apa yang saya bilang”, tutupnya.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

     

  • HUT RI ke 75: Pengibaran Bendera Bawah Laut di Bulukumba

    HUT RI ke 75: Pengibaran Bendera Bawah Laut di Bulukumba

    Bulukumba, RBB (17/8)—Genarasi 45 hanya mengenal hidup atau mati. Mereka berjuang dan merebut semua sehingga kita merdeka. Mereka lahirkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Jiwanya ini kita harus pelihara.

    Generasi 2020—khususnya para divers (penyelam)—di  Bulukumba merayakan HUT RI (Hari Ulang Tahun Republik Indonesia) ke 75 melalui pengibaran bendera di bawah laut pada kedalaman 12 meter oleh 13 orang divers di Bulukumba, tepatnya di laut Bira. Bagi mereka, HUT RI adalah momentum yang tepat untuk mengingatkan dan mengkampanyekan agar rakyat Indonesia tetap peduli menjaga keseimbangan alam bumi Indonesia.

    Para divers yang sedang berusaha membuat tiang bendera tegak meskipun dihempas oleh arus bawah laut. Sumber foto: Syamsul Jihad

    Menurut Syamsul Jihad, Tink Tank Diver Skansa (SMK 1) Bulukumba, “Kita membawa misi konservasi lingkungan; Tidak buang sampah ke laut, tidak menggunakan bomb ikan, illegal fishing dan tidak merusak terumbu karang. Begini cara kita membuktikan cinta tanah air kepada bangsa dan negara.”

    Ketika bendera merah putih bersiap siap untuk dikibarkan. Sumber Foto: Syamsul Jihad

    Sosialisasi peyadaran bersama ini sebenarnya bukan hanya untuk masyarakat di sekitar pantai tetapi juga buat semua karena sampah-sampah di gunung sekalipun berpotensi ke laut melalui aliran sungai.

    Adapun kelompok yang terlibat pada pengibaran bendera bawah laut ini adalah UPT SMKN 1 Bulukumba, Skansa Diving Club, Pinisi Diving Club, Panrita Lopi Diver dan Sonshoot Studio. Ke depan, haparannya lebih banyak lagi kelompok yang dapat terlibat.

    Survey Lokasi untuk menyambut Hari Pariwisata Dunia pada September 2020

    Setelah ritual pengibaran selesai, para divers ini menyempatkan survey lokasi untuk rencana penurunan “Barang Bekas” ke dasar laut di depan pulau Liukang. Andi Aryono yang juga Panitia Hari Pariwisata Dunia untuk 27 September nanti menjelaskan bahwa lokasi tersebut airnya jernih sehingga pasir terlihat dari atas perahu. Aryono mengatakan, “Air laut tanpa terumbu karang terlihat lebih jernih dan begitu pun sebaliknya terjadi pada air laut yang ditumbuhi terumbu karang”, jelasnya. Ia melanjutkan, “Kami pun melihat orang orang bersnokeling. Cocoklah untuk pengembangan pariwisata bawah laut”, katanya.

    Adapun Imbang Perdana Sair, Ketua Panitia Hari Pariwisata Dunia, yang menyaksikan langsung lokasi menjelaskan. “lokasi beberapa titik telah ditandai dan mengerucut pada penentuan satu titik spot. Untuk memastikan penetapannya, panitia akan mengadakan survey lebih lanjut dan traning camp yang diharapkan menghasilkan rekomendasi”, ungkapnya.

    Saat mereka tiba di darat, beberapa panitia ini bertemu dengan Marco dan Noori guna membahas tindak lanjut transplantasi terumbu karang. Terjadi kesepakatan berupa membuat artifisial buatan sebagai tempat menambat karang, membuat workshop dan praktek.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • HUT RI ke 75; Rencana Dialog Calon Bupati & Wakil Bupati Bulukumba 2020

    HUT RI ke 75; Rencana Dialog Calon Bupati & Wakil Bupati Bulukumba 2020

    Bulukumba, RBB (17/8)—HUT RI (Hari Ulang Tahun Republik Indonesia) ke 75 pada 2020 ini masih diselimuti teror Covid 19 membuat rekan-rekan di Rumah Belajar Bersama tidak melaksanakan agenda yang mengundang keramaian. Rekan rekan malam menuju 17 Agustus mendiskusikan tentang rencana Dialog Calon Bupati 2020. Surat undangan disertai TOR (Term of Reference)—gambaran wacana—disampaikan kepada pada tiap calon yang telah ditetapkan KPU (Komisi Pemilihan Umum) Bulukumba pada September nanti.

    Ini ide bermula bahwa setiap orang tua mempunyai hak suara dan tentu menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang layak dan berkwalitas. Untuk itu, setiap kandidat diharapkan perlu menjelaskan terobosannya jika ingin menarik hati orang tua pelajar (baca: pemilih) dalam menyikapi:

    1. Apa solusi belajar jika Bulukumba pada 2021 nanti masih dalam suasana Covid 19?
    2. Bagaimana membaca mutu kwalitas pendidikan Bulukumba saat ini?
    3. Bagaimana keberpihakan calon Bupati dan Wakil Bupati terhadap peningkatan kwalitas SDM (Sumber Daya Manusia) guru dan pelajar?
    4. Bagaimana cara mengukur bahwa Kadis (Kepala Dinas) Pendidikan yang akan ditunjuk itu benar-benar mengerti kurikulum pendidikan?
    5. Bagaimana mengatasi kesenjangan guru, terutama guru honorer yang gajinya 250 ribu/tri wulan?
    6. Bagaimana calon Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih bisa menghilangkan like dan dislike (suka dan tidak suka) dimana tiba-tiba guru biasanya dimutasi?
    7. Bulukumba terkenal dengan pariwisatanya. Bagaimana calon Bupati dan Wakil Bupati mendesain pengembangan SDM Pariwisata?
    8. Pelajaran muatan lokal apa yang cocok dikembangkan di Bulukumba?
    9. Bagaimana calon Bupati dan Wakil Bupati memberikan perhatian pendidikan pada penyandang disabilitas?
    10. Setiap calon punya isu sentral dalam kampanye. Pada posisi nomor berapa kah isu pendidikan?

    Sekelumit pertanyaan ini masih bisa berkurang atau bertambah, tergantung usulan dari masyarakat dan kajian yang dilakukan secara mendalam. Tangal dan tempat pelaksanaan debat ini masih dalam pembahasan.

    Dialog ini nantinya tidak diperkenankan mengerahkan massa pendukung. Kita akan menayangkan secara live di berbagai macam media elektronik dan media sosial sehingga dapat ditonton secara langsung oleh rakyat Bulukumba dan juga akan diterbitkan di media cetak online dan surat kabar.

    Segera setelah sosialisasi kegiatan ini terbit, rekan rekan Rumah Belajar Bersama akan melakukan koordinasi dengan KPU dan Panwas (Pengawas Pemilu) Bulukumba untuk kelayakan acara.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama