Kategori: Uncategorized

  • Jurus Belajar

    Jurus Belajar

    Jurus Kung Fu mabuk sangat cocok bagi para pelajar yang sebenarnya tidak kurang perhatian dalam belajar. Mereka datang ke kelas untuk sekedar menutupi tuntutan orang tuanya. Tidak perlu banyak hal yang harus dibebankan padanya. Yang penting, mereka membaca dan praktek. Paham atau tidak, itu urusan belakangan. Berada di lingkungan belajar itu sudah cukup membantu mereka mengurangi bermain android–Masalah besar yang dihadapi kids zaman now. Kita doakan saja agar mereka bisa paham dengan pembiasaan belajar.

    Sementara itu, para pelajar yang sudah punya sedikit lebih bagus dari yang dijelaskan di atas cocok pakai jurus Kung Fu Master–Keahlian diperoleh dari ketekuna, disiplin dan waktu yang lama. Mereka mendapatkan pelajaran yang lebih terstruktur dan punya jam tambahan di luar jam belajar wajibnya. Ada waktu bermain tapi relatif lebih sedikit. Sebelum jemputan orang tuanya datang, sedapat mungkin belajar.

    Afifah dan Zhah adalah pelajar kelas Reading (Bacaan) tapi ia tertarik belajar Grammar (tata Bahasa. Melihat para pelajar grammar punya kemampuan berbeda dengan dirinya, mereka penasaran. Untuk setelah jam belajar reading-nya selesai, kami pun memintanya mencatat beberapa hal penting pada Tenses. Kemudian, mereka pun berlatih lisan pada tenses luar kepala dengan target bukan sebatas tahu tahu paham.

    Ah, yes! Faktor kebiasaan membaca
    pasti sangat mempengaruhi kecepatan berpikir. Para pelajar ini sudah sering menemukan kalimat yang sama atau minimal mirip tapi belum tahu kenapa ditulis seperti demikian–Tentu karena tidak tahu grammar. Jadi, dengan mendapatkan dasar dasar grammar, mereka lebih girang dan bersemangat mencari tahu lebih jauh. Hal ini kami lihat dari kebiasaannya bertanya, Apa maksudnya ini dan itu? Kenapa bisa begitu dan begitu? Rasa ingin tahu tersebut memotivasinya untuk memenuhi target yang ingin dicapai.

    Jurus Kung Fu Mabuk atau Jurus Kung Fu Master, itu adalah istilah atau klasifikasi saja. Yang utama adalah kesediaan menghadapi proses belajar. Dalam menjalaninya, tentu ada kemudahan, ada kesulitan saling silih berganti. Mari terus melangkah memperbaiki cara belajar kita. Siapa tahu, ada jurus Kung Fu Belajar lainnya yang ditemukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukimba, Sabtu, 25 April 2025

  • Ingat Judul

    Ingat Judul

    Saya sesekali berusaha mengingat apa sih judul skripsi saya dulu. Ada ‘Ahmadinejad’ lah. Setelah itu saya nga tahu lagi. Maklum waktu itu Presiden Ahmadinejad lagi pusat perhatian dunia melabrak George W. Bush (Jr.) dan antek ateknya, Israel.

    Tanpa sengaja saya menemukan skripsi saya di internet. Saya sangat ingin membaca pikiran saya sendiri. Sayangnya, itu cuma bagian cover saja, kata pengantar sekaligus ucapan terima kasih dan daftar isi yang ditampilkan.
    Tapi saya senanglah. Minimal ingat judul, ‘Sikap Kritis Ahmadinejad terhadap Holocaust dan Palestina’. Thank you website UMY.

    Saat membaca Kata Pengantar, saya ucapan terima kasihku banyak juga. Ada dosen kampus, keluarga, rekan rekan seperjuangan di HMI dan Rausyan Fikr oleh almarhum Ust. Andi Muhammad Safwan.

    Ust. Safwan bertanya,
    ‘Kamu nga mau sarjana, Patwa?’.

    Kujawab cepat, ‘Tentu maulah.’

    ‘Kenapa belum sarjana juga?’ tanyanya.

    ‘Saya masih mau menikmati duit orang tua buat nambah nambah uang saku beli buku.’ kataku.
    Padahal saya sudah punya beberapa pekerjaan serabutan dan ingin lebih banyak santai dengan tetap menyandang status mahasiswa.

    “Tidak kasihan sama orang tuamu?”, tanyanya penasaran.

    “Kasihan. Saya malah tidak enak. Ayahku bilang bila saya mau kuliah lebih lama lagi, saya tetap dibiayai.”

    “Apa judul skripsimu?”

    “Sikap Kritis Ahmadinejad terhadap Holocaust dan Palestina. Tapi itu tidak kukerjakan. Kubiarkan saja”.

    “Kenapa?”

    “Banyak kegiatan Ust.”, kataku ngeles.

    “Udah, kamu tinggal di sini saja (maksudnya di RausyanFikr). Gunakan segala fasilitas yang ada di sini hingga skripsimu selesai. Satu minggu itu bisa tuntas.”

    Saya tergugah dengan perhatiannya tapi saya menolak dengan halus untuk tinggal di Rausyan Fikr. Saya tahu saya bisa menyelesaikan skripsi saya dengan cepat karena hampir segala buku yang kubutuhkan telah kumiliki. Masalah utamanya terletak pada setan yang bernama malas.

    Yang penting adalah saya sesekali dapat berdiskusi dengan Ust. Safwan untuk menyelesaikan yang sulit kumengerti pada tulisanku. Dan Alhamdulillah, beliau selalu berkenan meluangkan waktunya untukku.

    Di Asrama Empat Merapi Sul-Sel di Jalan Sunaryo No. 4 Kota Baru, Yogyakarta, saya duduk di teras asrama sembari menatap pohon rambutan yang rindang. Tiba tiba, selembar daun muda gugur dengan sangat lambat jatuh ke tanah. Kubertanya, “Kenapa bukan daun yang kuning yang gugur, daun lebih tua?” Lama merenung, kutemukan hubungannya dengan diriku.

    Ayahku sudah semakin berumur selalu mengatakan kepada seluruh anaknya bahwa doanya tiap hari yaitu ingin melihat ketujuh orang anaknya sarjana sebelum dipanggil kembali ke Pammasena Puangnga (Pangkuan kasih sayang-Nya). Saya adalah anak satu satunya yang belum sarjana. Kalau saya tidak segera sarjana, saya khawatir, saya lah daun hijau itu, gugur. Saya ingin ayahku bahagia di masa tuanya, mewujudkan doa hariannya dalam shalatnya. Daun yang kuning belum gugur.

    Pada akhirnya skripsi pun selesai kutulis dalam waktu yang ternyata “cepat juga tapi tiga bulan. Pada akhirnya, ayahku pun berkunjung ke Yogyakarta. Alhamdulillah.

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Jum’at 24 April 2026

  • Kenapa Harus Olahraga?

    Kenapa Harus Olahraga?

    Tidak berolahraga itu benar benar menyiksa. Cedera sakit pinggang menyebabkan penulis berhenti latihan karate selama beberapa bulan. Tubuh mengembang seperti bola, malas bergerak semakin menghantui hari hari yang berlalu. Akal sehat memerintahkan untuk aktif lagi latihan.

    Di awal-awal kembali latihan, beratnya minta ampun. Sip up yang sudah mencapai 500 kali dalam sehari kini baru 20 kali saja, otot perut tertarik. Pukulan dan tendangan tidak terbentuk, lambat dan nafas pendek menyebabkan pandangan mata berkunang-kunang. Jam istirahat lebih banyak dari jam latihan.

    Pengajaran para karate ka untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas, kepala tidak boleh tunduk, jangan jongkok, tetap tegakkan badan agar peredaran darah ke otak tetap lancar. Latihan menggunakan nafas perut diaktifkan untuk menghalau nafas pendek, menormalkan pernafasan. Mudah lelah rasanya seolah kembali berlatih dari awal. Ya, itulah konsekuensi yang harus dihadapi dari orang yang terlalu banyak menunda waktu.

    Jalan sehat itu sebenarnya tidak mahal selama konsistensi berolah raga dilaksanakan. Kita harus menemukan alasan yang tepat mengapa kita harus berolahraga. Pendapat yang paling lazim adalah alasan kesehatan. Bagi karate ka yang mau ujian, pasti ia berpikir bahwa bila tidak latihan, ia akan bonyok di ujian. Dan bagi yang lain bisa mengatakan ini stategi memperlambat penuaan.

    Memulai kembali olahraga cenderung sulit memulainya lagi setelah beristirahat dalam waktu tertentu. Siapkah kita hidup lebih tersiksa? Makanan yang kita konsumsi sehari-hari mayoritas mengandung zat kimia, pengawet dan semacamnya. Bagaimana cara membakarnya? Konsumsi obat? Bersediakah akal sehat kita memerintahkan untuk berhenti olahraga?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 21 April 2026

  • Wasit Juri Karate Indonesia

    Wasit Juri Karate Indonesia

    Karate bukan sekedar urusan membela diri yang berisi kumite dan Kata (Bertarung dan jurus-jurus untuk bertarung) tapi ia juga ruang kejuaraan untuk pengembangan diri dalam bentuk kejuaraan. Indonesia kemudian ikut serta dalam kejuaraan menggunakan aturan WKF (World Karate Federation) ala Eropa, bulan aturan Jepang, tempat asal kelahiran karate.

    Alasannya sederhana. WKF lebih menekankan pada olah raga, bukan lagi bela diri. Ini cukup aman bagi para atlet, tidak ada serangan telak dan keras yang boleh dilakukan. Bila itu terjadi, petarung diskualifikasi. Itu tentu bertolak belakang dengan tradisi kejuaraan karate Jepang masih mengedepankan pertarungan yang saling baku hantam dengan keras, karate tradisional. Skin touch (Sentuhan ringan) pada lawan sama sekali tidak dihitung.

    14 April 2026, FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan mengadakan pelatihan dan ujian Wasit-Juri dan Pelatih. Semua itu untuk mengisi ruang ruang kejuaraan di Indonesia. Hanya para peserta yang terdiri sabuk hitam yang berhak mengikuti dan bisa menjadikan bagian dari jenjang karir.

    Soal soal WKF menyangkut test tulis dan praktek. Karena asalnya berbahasa Inggris, soal itu terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Transfer penerjemahan Bahasa Inggris ke Indonesia terkadang membuat para peserta terkendala memahami isi soal disebabkan oleh terjemahan yang buruk. Sebagai penyelamatan, mereka harus belajar pada orang yang sebelumnya telah lulus dan benar benar mengerti isi penjelasan saat pelatihan.

    Kendala lain, jumlah soal yang sangat banyak. Soal kumite lebih dari 250 lebih dan Kata hampir dua ratus. Namanya juga soal, tipuan soal pasti berlaku. Karena itu, pemahaman disertai logika yang bisa mengatasi tipuan soal tersebut. Beruntung, jumlah soal kumite yang akan diujikan sekitar 70 dan Kata sekitar 50. Tapi kan, soal diacak. Tidak ada pilihan lain selain belajar. Bagi yang cukup waktu belajar, ia dapat mempelajari semua soal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

    Para wasit juri dan pelatih pendamping atlet yang ber-license ini yang banyak mempengaruhi perkembangan kejuaraan karate Indonesia. Menang atau kalah dari para atlet yang berbakat berada dalam keputusannya. Dari sini, atlet atlet terbaik akan lahir mewakili Indonesia di kejuaraan antar negara dan dunia yang memakai sistem WKF.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Minggu 10 April 2026

  • Mengembangkan Otak Anak

    Mengembangkan Otak Anak

    Mengajar anak anak dengan menargetkan memahami suatu materi tertentu dengan pemahaman yang utuh bukan perkara yang mudah. Saat sedang belajar saja, mereka sering bertanya, ‘Kapan keluar main?’ Mereka suka cepat-cepat menyelesaikan tugas hanya karena ingin keluar main, bermain main.

    Istilah ‘main-main’ yang merupakan kesenangan anak anak yang tidak bisa diganggu gugat itu dapat disetel untuk memenuhi target belajarnya. Bagi anak-anak yang lebih dahulu menyelesaikan tugas, mereka memperoleh keluar main lebih awal. Mereka pun akan berlomba.

    Tapi ada juga anak anak yang tidak suka pendekatan ini sehingga jurus yang kita gunakan adalah sedikit ancaman dengan mengatakan tidak ada keluar main bagi yang tidak menyelesaikan tugas. Karena tidak ingin kesempatan bermain hilang, mereka segera mengerjakan tugasnya dengan cara bertanya ke teman-temannya dengan maksud menjawab latihan dengan cepat.

    Kendala yang sering muncul adalah keakraban antara guru dan anak-anak seringkali membuat guru tidak diperhatikan. Hal ini dipengaruhi oleh sikap guru yang memberikan kebebasan berekspresi pada muridnya. Ketika guru sedang menjelaskan, sebagian murid akan berbicara yang menyebabkan penjelasan guru tidak mereka dengar. Kebisingan kelas terjadi, ruang belajar tidak kondusif, suara bertabrakan.

    Sekali waktu, penulis pernah tidak mau mengajar satu kelas anak anak. Mereka berusaha datang merayu tapi penulis tidak menggubris. ‘Silahkan keluar main sepuasnya. Anggap saja waktu belajar itu waktu keluar main’, kata penulis. ‘Saya tidak mau mengajar kalian lagi’. Gertakan ini sengaja diberikan agar mereka bisa berpikir serius mencari akal menemukan solusi.

    Solusi Cerdas Anak anak
    Anak-anak terdiam dan berkumpul berdiskusi dan kemudian menemukan solusi sendiri. Mereka sepakat membaca materi pelajarannya secara bersama-sama tanpa guru. Bila ada yang bikin gaduh, mereka saling menegur untuk kembali fokus pada pelajaran. Sebagai penguat, rekaman video dibuat sebagai bukti bahwa mereka telah berubah. Setelah selesai, video tersebut diperlihatkan ke penulis.

    Negosiasi anak-anak berjalan sukses. Karena senang dengan trik rayuannya, penulis Kembali mendidik malam itu juga. Sebagai balasannya, mereka dapat games. Mereka bergembira karena guru kelasnya bersedia kembali mengadakan dan games adalah kesukaannya yang selalu dinantikan setelah belajar.

    Kesulitan dalam mendidik anak-anak dapat terselesaikan dengan tidak semata-mata menargetkan mereka untuk paham materi dalam waktu yang singkat mengingat ada ruang bermain yang harus dipenuhi. Percepatan dalam dilakukan dengan cara mengemas kelas belajar dalam suasana bermain dan menjawab waktu keluar main dapat diisi dengan permainan yang mengembangkan otak anak dan berpikir.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 April 2026

  • Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

    Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

    Apakah anda pernah belajar ke kampung Inggris, Pare, Kediri di Jawa Timur? Mungkin anda akan heran pelajar sekolah mahasiswa dan dosen berada di dalam satu kelas belajar. Tidak ada pemikiran perbedaan umur, apalagi kebanggaan status. Para guru-gurunya pun relatif yang masih muda. Bahkan, banyak diantara mereka yang tamat SMA tapi ilmu Inggrisnya bertaraf internasional.

    Lingkungan seperti itu sangat kondusif untuk tidak memikirkan status. Para anak muda itu tidak akan sungkan bertanya pada anak remaja yang telah paham materi tertentu. Dan karena saling tolong menolong dalam hal berbagi ilmu itu kejadian biasa yang kita temukan dalam keseharian, dala. suasana santai pun dapat belajar.

    RBB (Rumah Belajar Bersama) pun menerapkan hal yang sama. Adeeva, seorang anak yang telah menamatkan buku cerita Inggris, membantu Lulu, seorang pelajar pemula yang telah tamat SMA. Lulu terkesan dengan kemampuan Adeeva yang memahami isi cerita dengan baik dan cara menjawab menjawab soal-soal dengan benar. Karena keduanya saling terbuka untuk belajar tanpa memikirkan status, dalam waktu yang singkat, sebuah cerita berbahasa Inggris dapat Lulu selesaikan.

    Lulu kini tahu bahwa ia tidak semata-mata bertumpu pada guru kelas. Dengan bergaul kepada sesama pelajar RBB, ia bisa bertanya dan menyelesaikan persoalan Inggris yang ia sedang pelajari. Dan bagi Adeeva dan pelajar lainnya yang telah tamat beberapa buku, itu semacam micro teaching untuk mengasah kemampuan berbagi ilmu yang membuatnya lebih paham pada materi yang ia telah pelajari. Keakraban sesama pelajar pun terbina dimana obrolan mereka bukan lagi sekedar gosip tapi pengetahuan.

    Ketika proses belajar di atas sedang berlangsung, guru kelas sebaiknya tidak berada di dekat para pelajar agar sang guru tidak menjadi rujukan utama. Biarkan saja mereka saling berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahannya. Bila terdapat masalah yang tidak dapat dipecahkan, guru bisa turun tangan membantu memberikan arahan cara menjawab, bukan memberitahu jawaban agar eksplorasi berpikir lebih terasah.

    Perkembangan belajar secara kultural ini sangat kuat membangun tradisi belajar dimanapun kita berada. Dengan meleburkan status sebagai orang penting, ego otomatis terkikis. Para pelajar tidak akan sungkan lagi untuk belajar kepada siapapun juga termasuk bertanya kepada anak anak yang berilmu. Ketika kita berada di lingkungan seperti itu, maka dimanapun kita berada atau dalam kondisi santai sekalipun, belajar tetap bisa dilakukan. Dan para guru yang dicap punya kemampuan mengelola kelas seperti di atas adalah rekan belajar. Semua meleburkan diri jadi satu kesatuan, belajar bersama.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu 19 April 2026

  • Tanya Jawab Inggris secara Online

    Tanya Jawab Inggris secara Online

    Dua gadis cilik memperoleh kesempatan berharga bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris lewat zoom. Pilihan Miss Salma Minasaroh pada Adeeva kelas 4 SD dan Faika kelas 3 SD ini dari hasil pengamatan belajar anak anak di media sosial RBB (Rumah Belajar Bersama). Adeeva anak yang lancar berbicara, tamat dua cerita buku Inggris dan paham perundang-undangan tenses luar kepala dan Faika selain tamat juga dua buku berbahasa Inggris, jika juga peraih medali emas olimpiade Bahasa Inggris pada National Olympiad.

    Salma yang merupakan alumni Bahasa Inggris di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta dan UAD di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta serta BEC (Basic English Course) di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur tahu betul cara melakukan pendekatan pada anak anak agar suasana perkenalan tidak kaku. Ia terlebih dahulu mengirimkan dua puluh pertanyaan sederhana sebagai pembuka untuk dipelajari anak anak.

    Berikut pernyataannya:

    1. What is your full name?
    2. Spell your name, please.
    3. Where and when were you born?
    4. What is your father’s name?
    5. What is he? Or what is his job?
    6. What is your mother’s name?
    7. What is she? Or what is her job?
    8. What is your favourite drink? Why?
    9. What is your favourite food? Why?
    10. What are your hobbies?
    11. Who is your idol?
    12. What do you want to be?
    13. What favourite vegetable do you like?
    14. What favourite fruit do you like?
    15. Can you tell me about your last birthday?
    16. How many siblings do you have?
    17. What is the most important thing in your living room?
    18. What is the most important thing in your kitchen?
    19. What is your favourite spot at your home?
    20. What do you want to eat and drink (now)?

    Adeeva dan Faika terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk bertanya hingga tuntas. Setelah itu, Miss Salma balik bertanya. Anak-anak yang selama tiga hari dilatih cara menjawab soal oleh Mr..Ancha, pengajar RBB, berekspresi mengungkapkan gagasannya sebisa mungkin tidak menjawab dalam satu kalimat saja melainkan minimal dua atau tiga kalimat. Kedua anak tersebut pun puas.

    Sebagai pengembangan, anak-anak kembali bertanya :

    1. What is your job?
    2. Where do you study?
    3. What games do you like?
    4. What is your favorite color?
    5. Where do you live?
    6. What books do you like?
    7. What countries do you want to visit?
    8. How old are you?
    9. What kind of music do you like?

    Tentu saja Miss Salma menjawab dengan perlahan agar anak anak mengerti penjelasannya. Di sela-sela pertanyaan itu, Miss Salma juga memberikan pertanyaan lain. Sesekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar anak anak mampu menyusun jawaban dengan benar. Itulah tahap di mana tanpa disadari, anak anak Sulawesi Selatan memperoleh informasi tentang kehidupan di Jawa Tengah. Obrolan ini berjalan selama tujuh puluh menit.

    Inisiatif Miss Salma untuk terhubung dengan para pelajar berbakat secara online sangat membantu pelajar di berbagai daerah untuk mengenal dunia luar. Segelintir anak yang terpilih merasa menjadi istimewa dan termotivasi belajar lebih giat untuk bisa tampil lebih meyakinkan. Sedangkan anak anak yang belum memperoleh kesempatan ingin juga mendapatkan tiket untuk bisa juga tampil bicara dengan orang luar. Mereka makin tahu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk ngobrol Inggris dengan orang luar. Intinya semua itu memicu semangat belajar yang lebih tinggi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 10 April 2026

  • Membuat Pertanyaan

    Membuat Pertanyaan

    Apakah kita terbiasa melatih para pelajar kita membuat pertanyaan? Biasanya mereka dilatih menjawab pertanyaan-pertanyaan. Mereka yang terbiasa bertanya selalu berupaya menemukan jawaban. Para filosof bahkan malahan masih mempertanyakan jawaban. Dengan demikian pengetahuan terus bergerak.

    Dalam Bahasa Inggris, cara membuat pertanyaan disebut Information Question (pertanyaan informasi) yang berisi segala bentuk model pertanyaan. What, who, whom, why, where dan how (apa, siapa untuk subjek, siapa untuk objek, kenapa dan bagaimana) adalah materi inti yang harus diketahui polanya dengan baik sebelum melangkah pada ragam variasi pengembangannya. Pelajar yang sanggup mempertanyakan setiap kata yang mengandung seluruh Information Question dalam satu kalimat dapat dipercaya bahwa ia mengerti materi tersebut.

    Bagaimana cara mencapainya? Tahap utama adalah mengerti tenses. Ini tidak bisa ditawar-tawar karena terdapat pola pertanyaan positive interrogative yang menjadi pengantar masuk ke information question. Tahap kedua langkah lebih baik bila pelajar tersebut part of speech (kelas kata). Tapi karena materi ini terlalu panjang untuk dipahamkan, ada baiknya cara membuat pertanyaan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sehingga meskipun pemahaman part of speech dari pelajar terbatas, information question tetap dapat dibuat karena pelajar bisa menggunakan logikanya sendiri untuk menempatkan pertanyaan yang sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.

    Mungkinkah ini diterapkan pada anak-anak? Patut diakui bahwa hanya segelintir saja anak anak SD yang bisa mempelajarinya. Hal ini bisa saja disebut banyak asalkan memenuhi syarat tahap pertama, memahami tenses. Kami sedang mengembangkan pembelajaran ini untuk dimengerti oleh anak SD. Seorang pelajar berbakat bernama Adeeva, kelas 4 SD, sedang mempelajari information question ini, berlatih tanpa secara lisan dengan harapan dapat dipergunakan dalam komunikasi, percakapan. Dalam dua hari, ia sanggup membuat pertanyaan menggunakan what, whom dan where (apa, siapa untuk objek dan dimana) pada seluruh struktur tenses.

    Untuk lebih jelas, kita hadirkan contoh.

    + You study English at school.
    + Kamu belajar Bahasa Inggris di sekolah
    +? Do you study English at school?
    +? Apakah kamu belajar Bahasa Inggris di sekolah

    Information Question menggunakan What dan where. Dari kalimat simple present pada pola +? (Positive Interrogative) tersebut yang diolah dengan menghilangkan hal yang ditanyakan.

    Menanyakan ‘English’ menggunakan ‘what’.

    What do study at school?
    Apa yang kamu pelajari di sekolah?
    Jawaban: English (Bahasa Inggris).

    Menanyakan ‘at school’ menggunakan ‘where’.

    Where do you study English?
    Dimana kamu belajar Bahasa Inggris?
    Jawaban: at school (di sekolah).

    Karena kita mengajarkan pada anak SD, penggunaan contoh pertanyaan ‘whom’ (siapa) dibuatkan kalimat baru.

    + Adeeva meets Adam at school.
    + Adeeva bertemu Adam di sekolah.
    +? Does Adeeva meet Adam at school?
    +? Apakah Adeeva bertemu Adam di sekolah?

    Menanyakan ‘Adam’. Karena kata ‘Adam’ berada pada posisi objek, menggunakan ‘whom’ bermakna ‘siapa’, bukan ‘who’ yang artinya juga ‘siapa’.

    Whom does Adeeva meet at school?
    Siapa yang Adeeva temui di sekolah?
    Jawaban: Adam.

    Pola perubahan ini berlaku untuk seluruh tenses sehingga relatif mudah untuk membuatnya asalkan tahu pola kalimat +? (positive interrogative). Contoh pemahaman yang baik yang dilakukan oleh Adeeva adalah bukti bahwa hal ini mampu diterapkan pada anak anak. Ya, memang ada kendala pada cara membuat pertanyaan yang menanyakan subjek tapi itu bisa dijelaskan di akhir agar tidak campur aduk alias membingungkan dengan materi di atas.

    Melatih cara membuat pertanyaan dengan struktur yang benar sebagaimana pembelajaran bahasa juga dibahas secara detail dalam materi logika dimana premis (peryataan) dijadikan pertanyaan. Keduanya saling berkaitan selain sama-sama suka bertanya, mereka menuntut kaidah (aturan)! yang benar. Bukankah membuat pertanyaan demikian adalah cara menemukan informasi yang benar? Biarkan pengetahuan terus bergerak maju.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 3 April 2026

  • Menemukan Cara Belajar Efektif

    Menemukan Cara Belajar Efektif

    Dunia pendidikan mesti akrab dengan bacaan buku. Tugas para guru bukan sebatas mampu mentransfer pengetahuannya tapi juga mengajak anak didiknya mencari pengetahuan dengan caranya sendiri. Dari buku inilah mereka bisa mengenal pemikiran dunia yang tidak hadir langsung di hadapannya.

    Pekerjaan ini memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kita tahu bahwa tradisi kita lebih kuat dengan pembelajaran verbal, seperti orang Afrika, kata Kang Jalal. Bila kita teliti lebih dalam, anak anak Indonesia itu akrab juga kok dengan literasi. Mayoritas anak yang bergama Islam tiap hari mengaji dan diusahakan hingga tamat Al Quran. Dahsyat kan! Sayangnya, motivasi ini cenderung tidak didorong pada pengetahuan umum. Padahal setiap hari mereka menghadapi pelajaran sekolah.

    Dari dulu sampai sekarang, pelajaran yang paling menakutkan di sekolah adalah Bahasa Inggris dan Matematika. Coba deh, kita minta anak anak tiap hari membaca buku pelajaran Inggris dan Matematika, tidak mesti seketat mengaji. Buat mereka penasaran dengan mempertanyakan mengapa bisa begini atau begitu. Jawaban yang tidak memuaskan pikirannya akan membuatnya terus bertanya pada orang-orang di sekitarnya. Mereka pasti dengan sendirinya melakukan pengembaraan ilmu pengetahuan.

    Sebagian kecil dari kalangan keluarga terdidik menerapkan hal di atas. Ada juga yang berpikiran lebih praktis dengan mengirimkan anak anaknya masuk ke lembaga pendidikan alternatif semacam LKP (Lembaga Kursus Pelatihan)–Istilah pemerintah di Kementerian Pendidikan–les atau kursus istilah masyarakat umum. Mereka sadar betul bahwa ke depan pengetahuan agama dan pengetahuan umum harus mampu berjalan seiring menghadapi tuntutan zaman di era serba modern dan terbuka ini sangat dipengaruhi oleh pengembangan teknologi. Untuk jangka pendek, sedikitnya anak-anak tidak takut lagi pada pelajaran Matematika sekolahnya karena mereka tahu cara menjawab soal-soal, bukan menyontek. Untuk jangka panjang, mereka bisa mengikuti jejak B. J. Habibie atau ahli teknologi seperti pemuda pemudi Iran yang sedang berkembang pesat saat ini.

    Kita tahu bahwa ilmu pengetahuan itu tidak hanya pada Mengaji, Matematika dan Bahasa Inggris. Ada ilmu pengetahuan sosial, alam seni dan masih banyak lagi. Manusia pun punya bakat yang berbeda beda. Kita perlu mengenalkan mereka semua itu agar dapat menemukan ketertarikan yang tepat yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pembiasaan pada bacaan buku akan memudahkannya tahu apa apa yang telah terjadi yang pernah dilakukan oleh orang orang besar dunia dan kemudian, mereka bisa memilih jalan pemikiran yang sesuai pilihannya atau malahan mereka bisa mengkritisi dan menciptakan sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.

    At last, anak anak pada foto ini adalah pelajar Bahasa Inggris di malam hari. Pada sore hari.hingga jelang Maghrib, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengaji. Banyak diantara mereka juga mengambil dua kelas mengikuti kelas Matematika dengan cara belajar secara selang seling. Jadwal memang padat dan terkesan melelahkan, seolah merampas dunia bermain anak. Untuk mengatasi masalah tersebut, kita menjadikan belajar dengan suasana bermain. Membaca buku sering dilakukan secara bersama-sama terkesan seru dan riuh. Mereka juga punya banyak tawaran ide semisal membuat kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah dan berakting dalam menyampaikan satu gagasan dari tugas yang diberikan. Cara belajar yang mereka usulkan itu seringkali diterima oleh guru-guru kelas yang menjadikannya merasa dihargai. Suasana hatinya senang dan tak jarang diikuti suara bersorak ria, hore. Pada intinya, mereka menemukan cara belajar yang membuatnya bahagia.

    Zulkarnain Patwa 
    Senin, 30 Maret 2026

  • Dukungan Keluarga

    Dukungan Keluarga

    Orang yang jauh dari pusat pendidikan tapi punya keinginan kuat untuk belajar dapat mengikuti cara yang dilakukan Naura. Ia anak dari bukit Kindang yang tidaklah mungkin baginya untuk mengikuti lembaga ekstrakurikuler untuk kebutuhannya pada Bahasa Inggris dan Matematika. Tahun lalu pada 2025 tepat setelah tamat SD, ia menggunakan waktunya secara penuh belajar dan tinggal di kota Bulukumba. Pada liburan sekolah pada Ramadhan 2026, ia pun kembali belajar dari siang hingga jelang buka puasa.

    Tindakan pelajar seperti ini agak jarang kita temui dan menimbulkan rasa ingin tahu. Penulis pun berusaha menggali informasi dari ayah Naura. Ayahnya berpikir untuk hendak menyekolahkan anaknya di Pesantren Ummul Mu’minin, sekolah binaan Muhammadiyah di Kab. Maros, Sulawesi Selatan. Selain usaha lulus ujian, ia berharap Naura tidak ketinggalan dalam hal pelajaran. Hal itu pun didiskusikan dalam keluarganya sendiri dan menghasilkan keputusan untuk menggunakan waktu liburan dengan bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama). Karena bermanfaat, keputusan untuk kembali belajar pada 2026 bukanlah hal yang membosankan.

    Rekan-rekan pengajar di RBB pun punya kesan yang mendalam kepada ayah Naura. Setiap mengantar ke RBB, ayahnya tidak langsung pulang. Ia suka duduk di pagar sembari memperhatikan anaknya yang sedang belajar di ruang teras rumah. Ya, itu untuk Bahasa Inggris. Hal itu membuatnya bisa menyaksikan atmosfer belajar yang sedang berlangsung. Ia tentu dapat membaca apakah anaknya menikmati atau mengerti pelajaran atau tidak. Perhatian ini berlangsung bukan dalam sehari saja tapi setiap hari. Ternyata ia adalah anak semata wayang (anak satu satunya dalam keluarga). Naura merasa nyaman bila ayahnya tidak jauh dari sisinya ketika ia sedang beraktifitas.

    Sang ayah yang berpikir mengedepankan pendidikan sama sekali tidak terusik, tak merasa membuang waktu percuma. Ini karena ia tidak harus serba sibuk di lahan pertaniannya di kampung karena ia telah menanam cengkeh dan tanaman sejenis lainnya yang tidak mengharuskan hadir di ladang tiap hari. Kami pun jadi lebih akrab dengan orang tua pelajar.
    Kelas Belajar Naura
    Naura adalah anak yang pendiam. Ia lebih suka memperhatikan rekan kelasnya daripada berbicara. Kesan sabar ini menjadikannya tidak banyak bermain, lebih banyak fokus pada lembaran kertas latihan. Pendek kata, full belajar, minus bermain. Istirahatnya dengan duduk santai tanpa mengganggu atau diganggu oleh siapapun.

    Dalam hal pelajaran Bahasa Inggris, sebenarnya berbagai macam materi Basic English telah ia pelajari dan pahami tahun lalu. Pada kedatangan keduanya ini, kami agak kaget. Ia tidak lupa tapi beberapa pelajaran inti nampaknya tersimpan di alam bawah sadarnya. Padahal kami percaya bahwa apa yang ia telah pelajari erat kaitannya dengan pelajaran sekolahnya. Tanpa harus menyalahkan siapapun, kami mengambil sikap me-review materi yang lalu dan menambahkan bahan-bahan yang kemungkinan ia pelajari untuk anak SMP seumurannya.

    Sedangkan pelajaran Matematika yang baru ia pilih tahun ini, guru kelasnya tentu banyak mengajarkan menyeimbangkan dengan pelajaran sekolahnya dan memberikan penguatan pemahaman matematika dasar agar pondasinya kokoh dalam mempelajari Matematika tingkat lanjut di SMP. Ia menikmati proses belajar ini karena merasa cukup terbantu mengetahui materi yang belum sempat ia tuntaskan di sekolah.

    Sebagai penutup, belajar itu tidaklah mesti dibatasi oleh ruang dan waktu. Keinginan yang kuat akan mendekatkan kita pada pada tempat-tempat pendidikan yang dipercaya sesuai dengan kebutuhan dan cita-cita. Naura meskipun kampung halamannya masih kurang menawarkan pendidikan ekstrakurikuler, berkat dukungan keluarga bisa menembus batas tersebut dan telah berhasil menambah bekal dan meningkatkan kwalitas diri untuk menggapai masa depan yang cerah. Sampai ketemu lagi pada liburan berikutnya!

    Zulkarnain Patwa