Kategori: Uncategorized

  • Kesuksesan Transplantasi Coral untuk World Tourism Day 2020 di Bulukumba

    Kesuksesan Transplantasi Coral untuk World Tourism Day 2020 di Bulukumba

    Panitia World Tourism day mengadakan final mission (misi terakhir) berupa transplantasi coral (terumbu karang) di Bira. Air laut yang arusnya yang tenang disertai dengan tiupan angin yang bersahabat membuat kegiatan ini berjalan lancar.

    Pada sekitar pukul 10.00 Wita, panitia terlebih dahulu melakukan penyelaman di Bira untuk mengambil fod –besi berbentuk kubah untuk tempat pemasangan terumbu karang—guna dipindahkan ke Ruku-Ruku, tepatnya di dekat replika Pinisi. Hanya 3 (tiga) orang saja divers (penyelam) yang turun ke dasar laut dengan kedalaman 13 meter untuk memasang tali agar panitia yang berada di atas perahu mudah menariknya untuk dinaikkan ke atas perahu. Sekitar 10 menit, misi ini sukses.

    Selanjutnya, perjalanan menuju Ruku-Ruku. Tiba di lokasi, sebuah botol plastik yang telah dipasang sebagai penanda letak Pinisi hilang. Para divers pun harus menyusuri Ruku-Ruku, bersnokeling ke segala arah mencari titiknya. Adalah Birsal, panggilan akrab Muh. Irsal dan Marco, bule sukarelawan, berhasil menemukannya. Intruktur Abdul Rahman, senior diver, dari Warung Bambu turut mengirimkan titik kordinat; 5036.255’ S 120024.947’ E.
    7 orang divers bekerja. 2 Pod tersebut diturunkan. Setelah itu, pembersihan alga pada Pinisi dilakukan dengan menggunakan sikat cuci dan sikat gigi agar coral dapat hinggap dan berkembang di Pinisi. Lalu, secara hati-hati, para divers memasang artifisial coral di Pinisi dan Pod. Terdapat 36 set coral yang terdiri dari soft coral (terumbu karang yang mudah patah) dan hard coral (terumbu karang yang mudah patah) berhasil dipasang.

    Saat misi sedang berlangsung, para panitia pun yang belum pandai menyelam berkesempatan snorkeling untuk melihat segala aktifitas di bawah laut. Air laut yang sangat jernih membuat semua orang yang berenang dapat menikmati pamandangan Pinisi tetap terlihat anggun di bawah laut berpasir putih.

    Setelah transplantasi Coral, panitia yang pandai diving melakukan penyelaman juga. Mereka menyelam di daerah yang ditumbuhi terumbu karang. Ruku-Ruku masih sangat kaya dengan ragam terumbu karang. Pembuktian ini dapat menjadi hipotesa (kesimpulan sementara) bahwa transplantasi karang di Pinisi yang berpasir tanpa karang tersebut dapat sukses di masa akan datang. Terlebih, penetapan Ruku-Ruku sebagai daerah transplantasi coral dilakukan melalui uji laboratorium dan dinyatakan layak.

    Replika Pinisi dan transplantasi coral guna menyambut World Tourism Day 2020 di Bulukumba ini dapat menjadi pengingat kepada dunia untuk melestarikan budaya bahari dan menjaga keseimbangan bawah laut. Bulukumba pun dapat berbangga karena para pemuda-pemudinya dapat turut aktif melakukan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

    Zulkarnain Patwa
    Panitia World Tourism Day di Bulukumba
    Anggota Pinis Diving Club

  • Briefing Penanaman Terumbu Karang

    Briefing Penanaman Terumbu Karang

    Bulukumba, RBB (26/09)—Sebelum transplantasi coral (terumbu karang ), panitia World Tourism Day (WTD), khususnya para divers (penyelam) melakukan briefing untuk memudahkan cara memasang coral pada replika layar Pinisi yang telah sukses diletakkan di Ruku-Ruku. Selain itu akan diturunkan juga 2 (dua) buah pod (tempat pemasangan coral) untuk menambah jumlah coral di daerah dekat pinisi.

    Teknik yang digunakan artificial structure (struktur tidak alami) karena dipasang di replika. Adapun jenis coral yang dipasang adalah soft coral (terumbu karang yang mudah patah) dan hard coral (terumbu karang yang tidak mudah patah). Beberapa cara membersihkan coral juga dibahas agar coral yang nantinya telah dipasang tidak mudah terkena penyakit.

    Setelah semuanya jelas, terdapat 7 orang divers yang akan turun menyelam di Ruku-Ruku dengan tugas masing-masing. Harapannya, di masa akan datang, daerah Ruku-Ruku yang mempunyai wilayah berpasir tersebut dapat dikunjungi ragam ikan berwarna warni sehingga spot diving daerah tersebut semakin menarik.

    Zulkarnain Patwa
    Panitia World Tourism Day
    Anggota Pinisi Diving Club

  • Kesuksesan Penurunan Replika Pinisi ke Dasar Laut untuk Menyambut Hari Pariwisata Sedunia

    Kesuksesan Penurunan Replika Pinisi ke Dasar Laut untuk Menyambut Hari Pariwisata Sedunia

    Panitia World Tourism Day (WTD) di Bulukumba membawa miniatur Pinisi dan Cor Flat (baca: landasan perahu) yang total beratnya lebih 1 ton dengan 2 perahu kayu tradisional. Titik berangkat dari pantai Bira sekitar pukul 14.30 Wita menuju Ruku-Ruku. Perjalanan sekitar satu jam untuk tiba di lokasi (22/09).

    Saat
    Replika Pinisi sedang dibawa ke laut untuk ditarik dengan perahu ke Ruku Ruku
    Foto drone dari Saiful–Ade Project

    Untuk menjaga keseimbangan daya apung dalam perjalanan, cor plat yang beratnya sekitar lebih 850 kilo didampingi 2 ponton dan Jergen 12 jeregen. Di tengah perjalanan, sebuah tali pengikat ponton putus namun hal itu dengan sigap diatasi para divers dengan menyambung tali kembali. Dibuatlah keputusan dengan memperpanjang jarak perahu dengan Cor Flat yang awalnya 5 meter menjadi 30 meter. Sedangkan replika Pinisi yang beratnya sekitar 250 kilo diikat dengan 2 drum plastik besar dan tetap dalam keadaaan seimbang hingga tiba di lokasi dengan jarak sekitar 10 meter dari perahu.

    Persiapan penurunan replika Pinisi di Ruku Ruku.
    Foto drone dari Syaeful–Ade Project.

    Saat prosesi penurunan dimulai, Abdul Rahman yang merupakan senior dan sekaligus intruktur divers yang memimpin para divers. Cor Flat terlebih dahulu diturunkan dengan cara melepas ponton tapi tidak melepas jeregen agar Cor Flat dapat turun secara perlahan. Divers (penyelam) tetap mengawasi Cor Flat hingga sampai ke dasar laut dengan kedalaman 13, 6 meter.

    Adapun penurunan berikutnya yaitu replika Pinisi menyerap metode lift bag dengan melepas udara yang terperangkap drum secara teratur. Drum telah didesain sedemikian rupa sehingga para divers dapat mudah mengontrol pelepasan dan pemasukan udara pada drum sehingga divers dapat membawa replika tersebut tepat di area Cor Flat.

    Perjuangan divers menempatkan replika Pinisi agar terpasang tepat di Cor Flat (landasan perahu) saat berada di dasar laut.
    Foto dari Jihad–Skansa

    Ketua panitia WTD, Imbang Perdana Sair menjelaskan bahwa para divers telah dibekali Training Camp untuk meminimalisir anggaran. Bila kita menggunakan teknologi lift bag, harganya mahal. Oleh karena itu panitia mempelajari segala hal prinsip yang ada pada lift bag. Lalu panitia memodifikasi jegeren sehingga prinsipnya sama dengan lift bag. Setelah Training Camp ini sukses, metode ini diterapkan. penyelam pun telah dibekali perfect buoyancy (mengapung saat menyelam) sehingga penyelam leluasa bergerak di dalam air dan tetap aman.

    Ketika replika Pinisi terpasang dengan sempurna di Cor Flat di dasar laut pada kedalaman 13.6 meter

    Sementara itu, Syamsul Jihad dan Andi Tije dkk menjelaskan bahwa yang agak sulit dikerjakan divers yaitu mengontrol Cor Flat yang turun agak cepat karena seharusnya butuh 20 jeregen untuk memperlambat kecepatan menuju dasar laut. Dan yang paling rumit adalah menggeser Cor Flat yang telah rapat di dasar laut ke tempat yang tepat dan datar. Sedangkan Replika Pinisi itu bebannya ringan, sedikit saja repotnya yaitu saat memasang Pinisi di tepat landasan.

    Jihad menambahkan bahwa ini moment untuk belajar bagaimana menurunkan barang yang berat ke dalam air dengan cara yang tradisional. Ketika tidak ada alat yang canggih dan mahal, kita dapat menggunakan apa yang ada. Segala hal mungkin. Ibarat pepatah, tidak ada tali, rotan pun jadi.

    Kegembiraan panitia World Tourism

    Acara ini diharapkan mampu memajukan ekonomi pendapat ekonomi masyarakat khususnya di kawasan wisata dan secara umum dapat menambah APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Bulukumba karena hal ini akan meningkatkan kunjungan wisata ke Bira serta pengembangan spot diving yang berkelanjutan.

    Kesuksesan ini berkat dukungan segala pihak; masyarakat setempat, Sponsorship dari berbagai kalangan, Dinas Pariwisata Bulukumba, Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Daerah Bulukumba, Divers, dan semua rekan rekan relawan dan relawati yang begitu banyaknya sehingga tidak dapat disebut satu persatu.

    Zulkarnain Patwa
    1. A member of World Tourism Day in Bulukumba
    2. Anggota Pinisi Diving Club

  • Pendapat Dewan Juri pada Juara Duta Wisata Bulukumba (2)

    Pendapat Dewan Juri pada Juara Duta Wisata Bulukumba (2)

    Bulukumba, RBB (25/8)—Kekayaan destinasi wisata menjadikan Bulukumba menjadi menarik perhatian publik. Hal yang sama pun terjadi pada lomba Duta Wisata Bulukumba 2020 yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Setelah melalui ujian yang panjang, para peserta finalis sampai pada tahapan akhir, penentuan juara. Dewan Juri yang mengetahui sosok dan sumber daya manusia seperti apa yang dibutuhkan menjatuhkan pilihan pada Muhammad Arsan dan Nur Aliyah Patwa sebagai Duta Wisata Bulukumba.

    Berikut ini pendapat 5 (lima) Dewan Juri sesaat setelah lomba di GOR (Gedung Olah Raga) Bulukumba (22/7). Mari kita simak petikannya:

    Tomy Satria Yulianto
    Wakil Bupati Bulukumba

    “Ini ajang komptesi yang sehat. Anak anak millenial Bulukumba kita harapkan membicarakan hal hal baik tentang Bulukumba nantinya. Kita ini sebagai dewan juri hanya menjadi bagian yang menegaskan talenta (Baca: bakat) yang mereka miliki. Mereka telah perlihatkan bahwa mereka mengetahui tentang pariwisata Bulukumba. Bagi saya, ini modal luar biasa bagi masa depan Bulukumba di akan datang.”

    Rezky Hutama Putra
    Ketua Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba

    “Sebagai ketua Adwindo, saya sangat merasa bersyukur bisa melaksanakan Duta Wisata ini meskipun sekarang kita berada di tengah pandemi. Kita juga mengingat bahwa pariwisata di Kab. Bulukumba sangat banyak sehingga perlu diadakan lomba Duta Wisata. Kita butuh sumber daya manusia yang khusus mempromosikan wisata-wisata yang ada di Kab. Bulukumba. Harapan buat yang terpilih, mereka bisa berdedikasi di Bulukumba, bisa melaksanakan dan mengemban tugas sehingga apa yang diharapkan bisa terlaksana.”

    Andi Ayu Cahyani
    Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata di Dinas Pariwisata Bulukumba

    “Grand final ini kita adakan sebagai salah satu cara untuk bagaimana mengapresiasi bakat-bakat mereka, khususnya dalam promosi pariwisata di Kab. Bulukumba yang kita tahu memiliki banyak potensi wisata. Harapannya, dengan mengemban dan memegang predikat sebagai juara, mereka tentunya kita ajak bersama-sama Dinas Pariwisata untuk promosi wisata di seluruh Indonesia dan bahkan ke luar negeri.”

    Saat Dewan Juri melakukan penilaian pada Grand Final Duta Wisata Bulukumba.
    Sumber foto: Rumah Belajar Bersama.

    Andi Minie Patongai
    Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata di Dinas Pariwisata Bulukumba

    “Grand Finalis kali ini berjalan dengan lancar. Kita melihat adik-adik dari Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba mengadakan acara meskipun tanpa bantuan anggaran dari Dinas Pariwisata Bulukumba tapi mereka tetap mengadakan pemilihan Duta Wisata Bulukumba dengan baik. Saya harapkan pada yang juara mudah-mudahan bisa mempromosikan objek destinasi wisata Bulukumba, baik ke dalam maupun ke luar negeri. Dan semoga tahun tahun ke depan lebih baik dari tahun ini.”

    Resky Permatasari
    Dara 2011 Bulukumba dan Supervisor Program Keluarga Harapan di Dinas Sosial Bulukumba

    “Sebagai dewan juri, Duta Wisata yang terpilih betul-betul bisa membawa nama baik Bulukumba ke depan. Mereka ini benar-benar memenuhi kriteria dalam penilaian. Mulai dari masalah fisik, keilmuan, penguasaan panggung, mereka semua mantap.”

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Games pada Anak-Anak dan Buku

    Games pada Anak-Anak dan Buku

    Bulukumba, RBB (25/8)—Bila berkunjung ke Rumah Belajar Bersama, Anda akan sulit menemukan anak-anak sibuk bermain handphone dengan segala permainan gamesnya. Sebagai pengganti, ribuan buku telah disiapkan mulai dari buku anak-anak hingga dewasa.

    Larangan bermain games hp ini berdasarkan pengalaman. Seringkali guru menemukan pelajar kategori anak anak pura-pura menunduk saat jam belajar. Saat dicek, bukan belajar tapi bermain games. Pantas saja tidak mereka tidak mengerti karena perhatian bukan pada pelajaran. Ada juga yang berpura-pura izin keluar ruangan dan bermain games di teras. Banyaklah cara “kreatif” mereka. Kreatif sih boleh tapi tujuan kedatangan untuk belajar harus tercapai juga kan.

    Sedangkan pada kasus anak-anak yang telah kecanduan games, pandangan matanya sangat berbeda, tidak bisa fokus. Ada pepatah mengatakan, “Masuk dari telinga kanan, keluar di telinga kiri”. Itu mungkin masih baik karena ada yang singgah. Tapi bila masuk di telinga kanan, mantul keluar, tidak ada yang singgah. Sebagai langkah penyelamatan, guru berkoordinasi dengan orang tuanya agar ada tindakan di rumah untuk mengalihkan perhatian dari games. Minimal membatasi bila tidak bisa dihentikan secara langsung.

    Menanti jemputan orang tua dengan bermain catur di Rumah Belajar Bersama. Foto pada 2 Agustus 2020

    Lalu, apa yang dilakukan saat anak anak berada di Rumah Belajar? Memanfaatkan waktu luang.  Di sela-sela waktu luang seperti terlalu cepat datang, keluar main atau menunggu jemputan pulang dari orang tua masing-masing, kami mengajak anak anak mengambil buku kesukaannya di rak perpustakaan dan mencari tempat duduk yang membuatnya nyaman membaca. Bila ada yang tidak mau membaca, tidak dipaksakan tapi dibiarkan bermain dengan teman-temannya. Hal yang terbaru yang mereka senangi adalah bermain catur. Itu malah baik untuk mengasah logika dan kecerdasan otak.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Terpilihnya Duta Wisata Bulukumba 2020 (1) Bersambung…

    Terpilihnya Duta Wisata Bulukumba 2020 (1) Bersambung…

    Bulukumba, RBB (24/8)—Kepopuleran pariwisata Bulukumba telah sampai pada tingkat dunia. Ini bisa dilihat dari icon Bulukumba yaitu Pinisi telah ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Scientific and Cultural Organization) sabagai bagian dari warisan dunia pada 2017. Dinas Pariwisata (Dispar) Bulukumba dari tahun ke tahun terus melakukan eksplorasi lebih jauh agar potensi pariwisata yang lainnya terus tergali dan turut terkenal ke dunia internasional.

    Dan untuk pengembangan sumber daya pariwisata pemuda dan pemudi, Dispar Bulukumba mengadakan acara tahunan lomba Duta Wisata. Tahun 2020 ini, Dispar menggandeng Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba sebagai panitia dan mengangkat tema “Peran Millenial Bulukumba menuju Era Industri 4.0”.

    Terdapat 24 peserta dengan komposisi 12 putra dan 12 putri. Untuk memperoleh kwalitas yang terbaik, ditetapkanlah 3 kategori penilaian yaitu:

    1. Attitude (sikap)
    2. Knowledge (Pengetahuan)
    3. Performance (Penampilan).

    Menurut Rezky Hutama Putra, Ketua Adwindo Bulukumba, “Sikap yang kami utamakan dalam penilaian ini. Selama kurang lebih 1 minggu, kami memperhatikan sikap peserta dalam menghadapi beberapa moment. Sedangkan mengenai pengetahuan, tentunya semua sudah tahu kalau menjadi duta membutuhkan pengetahuan yang baik. Dan penampilan, kami menilai postur tubuh yang proporsional serta penampilan yang menarik”, terangnya.

    Babak penyisihan hingga Grand Final Duta Wisata ini dilaksanakan di GOR (Gelanggang Olah Raga), berakhir pada 22 Agustus 2020. Pada Grand Final, 5 (lima) orang juri yang telah matang pengalaman yaitu Tomy Satria Yulianto (Wakil Bupati), Rezky Hutama Putra (Ketua Adwindo), Andi Ayu Cahyani (Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata Dispar), Andi Minie Patongai (Kepala Bidang Destinasi Dispar), dan Rezky Purnamasari masing-masing memberikan penilaian terbaiknya.

    Keputusan team juri yang diumumkan oleh pembawa acara menetapkan bahwa juara 1 putra jatuh pada Muhammad Arsal, Mahasiswa Politeknik Pariwisata Makassar. Adapun Juara Putri jatuh pada Nur Aliyah Patwa, Mahasiswi Universitas Negeri Makassar. Suara musik menggema diirigi tepuk tangan meriah dan ucapan selamat pun menyambut.

    Sebagai juara Duta Wisata Bulukumba, mereka diharapkan mampu berpikir, berkreasi dan memanfaatkan Era Industri 4.0 sebagai alat percepatan promosi pariwisata Bulukumba yang ber-tagline Pesona Tanpa Batas.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Nurmala Usman: Mensukseskan Pendidikan pada Anak-Anak

    Nurmala Usman: Mensukseskan Pendidikan pada Anak-Anak

    Bulukumba, RBB (21/8)—Nurmala Usman adalah seorang ibu yang mengikuti pesan bahwa belajar di waktu kecil bagaikan menulis di atas batu. Hal inilah yang ia tiap hari terapkan pada kedua orang anaknya yang masih di bawah 10 tahun.

    Karena kebiasaannya memberi perhatian pendidikan yang tinggi di rumah, anak-anaknya sudah lancar membaca sejak kelas 1 SD (Sekolah Dasar). Kemudian, rekannya sewaktu sekolah di Pesantren Babul Khaer bernama Bu Risma yang mengajak agar anak anaknya turut bergabung di Rumah Belajar. “Karena saya tidak sembarang ikutkan anakku,  saya lebih dahulu ikuti akunnya di media sosial. Saya cek, ini bagus. Saya pun meminta izin pada suami. Suami meminta agar saya mendidik anak-anak di rumah saja tapi saya berpikir,  siapa tahu ada metode lain”, kata Nurmala.

    Saat berkunjung, Nurmala melanjutkan, “Kesan pertama saya temukan di Rumah Belajar yaitu cara guru menyapa yang sangat ramah anak-anak saat bertemu guru Baca Tulis, Siti Satriana. Anakku tiba-tiba bilang bahwa dia mau belajar di sini sampai kelas 6”, katanya.

    Saat mengikuti perkembangan pelajaran, Nurmala yang juga guru SMK 2 Borong Rappoa Kindang ini melanjutkan, “Di sini lebih fokus karena ada pendekatan langsung ke individu. Karena tiap kelas itu tidak boleh ramai, satu persatu dapat dididik menyelesaikan masalah sehingga anak bisa lebih bisa mandiri. Terdapat cara menghitung di save (disimpan) di kepala. Kini, anakku malah mengajar saya. Anakku biasa berkata, begini kata Bu Siti. Saya tanyakan, Nak, kalau penjumlahan puluhan dan ratusan bagaimana caranya yang naik satu itu? Anakku menjawab, Ibu, 2 disimpan di kepala, 10 di tangan. Contoh 12 – 5 = … jawabnya 10 di tangan, 2 di kepala. Kurangi 5 di tangan. Jadi sisanya 5. Lalu, sisa 5 di tangan tambah 2 di kepala, sama dengan 7”, Kata Nurmala sambil mencontohkan dengan gerakan tangan.

    Lebih lanjut ia menjelaskan kemajuan belajar anaknya. Umratul Qadsa yang berumur 8 tahun sudah bisa penjumlahan ratusan. Ia sudah tahu simbol kurang dari, lebih dari dan sama banyak. Perkalian juga sudah paham. Adapun Qiran yang masih 7 tahun, belajar cara menyelesaikan penjumahan bersusun, pengurangan dari buku paket sekolah. Ia telah bisa menyelesaikan penjumlahan sederhana. Guru Siti mampu membuat cara agar soal-soal pelajaran sekolah yang dalam bentuk cerita yang masih sulit dipahami anak anak kelas 1 SD. metode jarimatikanya menarik memudahkan Qiran menyelasaikan tiap soal. Perkenalan dasar perkalian juga diberikan.

    Agar anak anak bertambah rajin, “Waktu mau lebaran Idul Adha, libur, saya beritahukan ke Bu Siti agar  anak anak diberi banyak PR (Pekerjaan Rumah) supaya waktu yang kosong di rumah bisa terisi. Anak anak diajar bertanggung jawab dengan tugasnya”, terang Nurmala.

    “Cara ini memicu semangat belajar anak-anak. Ketika belajar tatap muka tidak ada, ini moment bagus. Kalau sekedar belajar daring di hp, anak anak mengnga mengnga (termangu-mangu) saja. Inisiatif sangat perlu karena saya takut semangat belajar anak hilang karena terlalu banyak bermain”, ungkap Nurmala

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Pengaruh Pendidikan pada Kemerdekaan Indonesia

    Pengaruh Pendidikan pada Kemerdekaan Indonesia

    Bulukumba, RBB (19/8)—Penderitaan rakyat Indonesia yang sangat tinggi membuat Ratu Wilhelmina mengeluarkan kebijakan Politik Etis pada 1901 yang berisi 3 (tiga) hal:

    1. Irigasi (pengairan). Membangun dan memperbaiki bendungan untuk pertanian
    2. Transmigrasi. Perpindahan penduduk dari daerah yang padat ke daerah sedikit penduduk.
    3. Pendidikan bagi pribumi.

    Tulisan kali ini hendak membahas poin nomor 3 yaitu pendidikan. Untuk itulah, Belanda mendirikan:

    1. SD terdapat HIS (Hollandsche Inlandsche School) dikhususkan bagi pribumi yang kaya.
    2. SD terdapat ELS (Europesche Lager School) dikhususkan bagi warga Belanda dan anak pembesar pribumi.
    3. SMP bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).
    4. SMA bernama AMS (Algemeene Middelbare School).

    (lebih…)

  • Kunjungan Pegiat Media

    Kunjungan teman-teman media