Saya ingin terus jadi anak-anak saja, tidak mau besar (baca:dewasa)”, kata seorang anak. “Kenapa?”, tanya guru. “Orang besar suka marah-marah”, jawabnya sambil bermain. “Kalau saya besar nanti, saya nanti marah-marah juga”, tambahnya.
Penolakan ini karena ia bahagia dengan dunianya. Kita pun tidak perlu menghakimi, menyalahkan pikirannya. Itulah kemampuan berpikirnya. Ketika mereka sudah mampu membaca keadaan di sekitarnya, itu tanda bahwa Mereka menggunakan otaknya untuk berkembang.
Yang perlu kita tindak lanjuti adalah mengikuti alur berpikirnya dan memberikan pertanyaan yang mampu mereka cerna. Misal, pernah lihat orang besar tidak marah marah? Atau memberikan contoh orang dewasa yang mereka kenali yang tidak suka marah-marah. Selangkah lebih maju, kita buat mereka bertanya, bukan menjawab karena dengan rajin bertanya,.mereka bisa belajar sepanjang hidupnya.
B. J. Habibie, penemu keseimbangan pesawat terbang, mengkisahkan masa kecilnya yang ingin tahu banyak hal. Ia sangat rajin bertanya kepada keluarga dan orang-orang yang dikenalnya hingga orang-orang bosan. Pada akhirnya ia diberikan buku-buku untuk menjawab rasa penasarannya. Di kemudian hari, Habibie dikenal dunia internasional sebagai manusia jenius dan sekaligus mantan Presiden Indonesia yang berhasil menyelesaikan krisis ekonomi dan perpecahan bangsa pasca reformasi 1998.
Contoh lain yang dapat kita jadikan inspirasi adalah Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela. Novel Jepang ini mengkisahkan anak kecil yang ditafsirkan nakal sehingga harus pindah sekolah. Di sekolah yang barunya yang memanfaatkan gerbong kereta bekas sebagai kelas, Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi sangat perhatian, bersedia mendengarkan cerita Totto Chan selama berjam-jam. Totto Chan sangat bahagia bersekolah. Novel diangkat dari kisah nyata kehidupan sang penulis, Tetsuko Kuroyanagi mendunia dan menjadi rujukan tentang sekolah yang menyenangkan.
Anak-anak sejatinya tidak bisa menolak untuk tumbuh menjadi dewasa. Itu ungkapan protes saja atas dunianya yang tidak bisa berbuat apa-apa atas ketidaknyamanan yang pernah dialaminya. Yang mereka inginkan adalah dunia masa kecilnya yang penuh keceriaan dipahami dan tidak diganggu oleh orang dewasa. Mari kita menyayangi mereka seperti kehidupan Totto Chan, Habibie, atau cara kita sendiri yang membuatnya bangga tumbuh menjadi dewasa.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 1 Juni 2026

Tinggalkan Balasan