Apakah perjuangan membumikan literasi telah membuahkan hasil? Mari kita simak pendapat anak-anak yang mengikuti kelas reading (membaca) pada kelas Bahasa Inggris.
Untuk mengecek, seorang guru memberikan pertanyaan sederhana. “Apakah membaca itu perintah Mr. atau bukan?”
Dengan cepat Faika menjawab, “Perintah Allah”.
“Apa buktinya Faika?”, guru mengajak muridnya untuk berpikir.
“Iqra itu artinya membaca” jawab Faika lugas. Sebenarnya sih, kata “iqra” adalah kalimat perintah yang berarti bacalah. Faika mengutip ajaran agama Islam yang ia hubungkan dengan pelajaran Inggrisnya.
Anak-anak yang lainnya tahu arti iqra dan sepakat, tidak ada protes.
“Okay, kalau begitu anak-anak”, guru melanjutkan. “Lalu, kenapa kita diperintahkan membaca?”
Tiap anak punya pendapat sendiri. Alasan mereka adalah agar pintar, berilmu, bisa speaking (bicara) dengan orang asing dan reading text (teks bacaan).
Ketika ditanya mengenai pengalaman pribadi, Nisa paling awal angkat tangan untuk mengutarakan pikirannya,
“Saya pintar membaca Inggris dan Matematika di sekolah”, ungkapnya bangga.
Faika, kelas 3 SD, berpendapat, “Kalau mau belajar Bahasa Inggris, orang harus pintar membaca dalam Bahasa Indonesia supaya tidak susah membaca dalam Bahasa Inggris”. Ia mengingat dirinya sewaktu TK sudah ingin belajar Bahasa Inggris. Itu pulalah yang membuatnya cepat lancar membaca.
Nabila, kelas 3 SD, menyambung. “Saya jadi pintar. Sebelum saya masuk RBB (Rumah Belajar Bersama), kalau saya membaca kata “standing”, saya membacanya dengan standing, padahal, yang benar adalah stending”. Kata “good” saya baca “god”, terangnya sambil tertawa mengingat masa lalunya.
Belva, kelas 4 SD, “Saya makin pintar di sekolah. Saya membaca dengan tidak mengeja lagi, tidak terbata-bata. Sekarang saya bisa membaca yang susah disebut.
Gavino, kelas 3 SD, “Saya mendapatkan ilmu Inggris. Saya bisa membaca yang susah dibilang. Contohnya xzdxxdghb. Sekarang, Mrs. Robinson is in her garden”, katanya dengan penuh percaya diri.
Penulis sadar bahwa literasi itu bukan urusan mudah karena iqra adalah perintah, hal yang wajib. Kenapa diwajibkan? Merujuk Cak Nun, karena Allah tahu bahwa manusia itu tidak suka. Dan ketika telah menjadi sebuah kewajiban, manusia mau tidak mau harus melakukannya.
Beruntung, anak-anak ini sudah terbiasa membaca dan telah merasakan manfaatnya. Terkadang mereka bosan juga membaca tapi betapapun demikian, program ini tetap dijalankan. Kecerdasan mengelola kelas saja dalam mengemas kegiatan literasi ini melalui games (permainan) dibutuhkan agar semangat belajarnya tetap terjaga. Dan yang terpenting, games yang diberikan mesti mengandung edukasi, bukan sekedar permainan untuk menghabiskan waktu jam belajar.
Sebenarnya, iqra bukan sebatas teks tertulis saja tetapi juga yang tidak tertulis. Iqra terhadap keadaan sosial manusia, alam semesta dan lain-lain Namun hal itu belum sempat dicerna baik oleh otak anak-anak. Karena mereka anak sekolah yang erat kaitannya dengan akademik, tidak ada salahnya menguatkan iqra pada pemahaman yang tertulis. Seiring waktu disertai perkembangan pemikiran, makna iqra secara lebih luas akan mereka mengerti. Sebab, pada akhirnya perjuangan membumikan literasi tidak berhenti setelah membuahkan hasil karena perjalanan belajar manusia itu sepanjang hayat hingga akhir masa.
Zulkarnain Patwa
Jum’at, 29 Mei 2026

Tinggalkan Balasan