Menyiksa?

Jadwal anak-anak yang sedang belajar ini sungguh padat. Betapa tidak, seiring dengan matahari terbit, mereka pergi sekolah hingga siang. Setelah istirahat sejenak di rumahnya, mereka lanjut lagi berangkat mengaji hingga jelang Maghrib. Otak dan fisik mereka pasti lelah.

Malam hari, mereka ikut Bahasa Inggris. Terlebih lagi, mulai 2 Juni 2026 ini, mereka menghadapi ujian akhir semester di sekolah untuk naik kelas di SD.

Bagaimana mengelola anak-anak seperti ini?

Oleh karena itu, guru Bahasa Inggris di RBB (Rumah Belajar Bersama) memperlakukan murid-murid ini seperti kawan dekat agar mereka lebih rileks belajar. Karena kawan, mereka sering kali protes dengan alasan bahwa pelajaran mereka terlalu berat atau banyak. Padahal, sebenarnya pelajarannya sama saja dengan pelajar Inggris di sore hari di RBB. Karenanya, memberikan dua kali waktu istirahat dalam 90 menit belajar terasa fair. Ini dalam rangka menciptakan bahagia belajar.

Dari anak-anak ini, para guru belajar bagaimana menciptakan metode belajar yang dalam bentuk permainan. Lagu, games, gerakan tubuh disertai praktik bicara dan beragam permainan lainnya dikemas yang isinya Bahasa Inggris. Ini diselingi dengan literasi, membaca buku berbahasa Inggris sebagai inti pelajarannya. Bila otak guru gagal berpikir kreatif, kelasnya pasti membosankan.

Jalan terakhir yang kita tempuh adalah memberikan pujian yang tulus tiap kali anak-anak ini memperoleh kemajuan belajar. Pujian itulah yang membuat mereka tetap bersemangat, merasa dihargai dan bernilai dari setiap usahanya. Mereka bangga dan entah mengapa, mereka terlihat punya energi baru, menganggap bahwa belajar itu bukan lagi sebagai beban, melainkan pembuktian bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *