Menembus Batas Kecerdasan Pelajar Bhs. Inggris di RBB Tanete

Kalau Anda menjawab satu pertanyaan, Anda menemukan satu jawaban. Tetapi, kalau Anda rajin bertanya, Anda akan belajar seumur hidup. Jalan ini sangat penting untuk memunculkan rasa ingin tahu. Ketika ini menginternalisasi dalam diri pelajar, siapa yang dapat menghalangi faktor internal perkembangan kecerdasan?

Sehubungan dengan hal itu, Miss Fathy Cayadi mengajarkan speaking (berbicara) menggunakan dummy subject (subjek semu) menggunakan ‘there’ (di sana bermakna ada atau adakah). Miss Fathy mengatakan, “Hari ini Rumah Belajar Bersama (RBB) khusus membahas lesson 41–43. Contoh: ‘is there any…?’, ‘is there a…?’, ‘are there any…?’, dan ‘are there some…?’. Ini gampang dan saya yakin kalian bisa.”

Agar tidak terlihat rumit, kalimat pertanyaan itu diolah dalam bentuk percakapan, tanya jawab. Bahan bercakapnya adalah contoh-contoh yang sudah benar, merujuk pada buku. Kemudian, benda-benda yang ada di sekeliling dijadikan pembelajaran lanjutan. Awalnya, mereka dipandu guru untuk mengungkapkan pikiran mereka dengan benar dan terus dimotivasi untuk mampu berpikir mandiri.

Setelah puas berbicara, barulah penjelasan tata bahasa mengikuti. Begitulah strategi jitu dari Miss Fathy menumbuhkan keberanian berbicara kepada anak didiknya di RBB Tanete.

Apakah usaha pemahaman materi berhenti sampai di situ? Tidak. Pelajar tidak hanya perlu tahu bertanya dan menjawab secara lisan. Hal penting lainnya adalah menjawab soal secara tertulis. Saat pembahasan materi, setiap pelajar tidak pernah dihalangi untuk bertanya mengapa suatu jawaban salah dan mereka bebas mengutarakan pembelaan pada jawaban yang dipilih. Ini adalah proses membangun kesadaran metakognitif—mereka belajar memahami bagaimana cara mereka berpikir. Efeknya, suasana kelas belajar terasa sangat demokratis. Tidak ada larangan dalam menyampaikan pendapat: dilarang melarang. Rasa takut salah berbicara dalam bahasa Inggris menjadi berkurang dan berubah menjadi berani berbicara.

Pembelajaran ini memberikan kita pelajaran bahwa guru yang cerdas itu tidak sekadar mengajarkan pengetahuannya, tetapi juga para pelajarnya mengetahui cara mengembangkan cara berpikir mereka. Bahasa Inggris di RBB Tanete telah menjadi alat untuk membuka kemerdekaan berpikir dalam belajar yang mana ini sangat berguna untuk menemukan cara berpikir yang sangat efektif dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.

Pembelajaran di RBB Tanete itu sedikit banyak mempunyai kesamaan dengan keterampilan abad 21 mendengungkan 4C: Critical Thinking, Communication, Collaboration, Creativity (Pemikiran Kritis, Komunikasi, Kolaborasi, dan Kreativitas). Hal ini sangat jelas bahwa RBB Tanete tidak sedang menargetkan para pelajar mereka untuk menyelesaikan pelajaran sekolah saja, melainkan merancang para pelajar mereka untuk setara dengan para pelajar kelas dunia.

Karena itu, bertanyalah. Siapa yang tahu bahwasanya keterampilan abad 22 nanti sudah dapat dipikirkan dan ditemukan di abad 21? Itu adalah tugas RBB dan kita semua.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 12 September 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *